Monday, July 29, 2013

Hati dan Kehendak yang Terjaga

Renungan Pekan I Thn B.2

Samuel 3:1-10.19-20; Markus 1:29-39

Efata, Rabu 11 Januari 2012 (Sidang Pastoral)

Buka

Bacaan yang ditawarkan gereja untuk kita renungkan hari ini pada intinya berbiacara tentang panggilan. Dan, kalau kita berbicara tentang pangggilan maka umumnya kita berbicara tentang pihak yang memanggil dan pihak yang menjawab. Kita sering berpikir tidak proporsional ketika panggilan itu kita maknai masalah bagaimana Tuhan memanggil lalu meremehkan manusia yang menerima panggilan. Dalam konteks bacaan hari ini panggilan itu sesungguhnya berbicara tentang manusia dan sikap serta tanggapannya atas panggilan. Persoalannya bukan karena Tuhan berhenti atau tidak memanggil tetapi teruatama karena manusia tidak mau memberikan jawaban. Tidak mau memberikan jawaban juga terjadi karena kita manusia tidak mau mendengarkan. Samuel terpanggil untuk mendengarkan apa kehendak Tuhan. Kita bersukur telah men jadi orang teranggil. Pertanyaannya apakah kita terus memberikan jawaban dengan terus mendengarkan Tuhan atau sebaliknya kita menilai Tuhan tidal lagi memanggil. Kesetiaan Tuhan tidak bergantung pada jawaban manusia. Lampu rumah Allah belum juga padam dan suara panggilan-Nya terus berkumandang. Kita bedoa semoga kita menjadi orang yang setia mendengarkan Dia bersabda. Kita akuis kesalahan dan dosa kita...

Renungan

Saya tidak tahu apakah ada dari antara kita ini, semalam terjaga beberapa kali hanya karena ada panggilan seperti yang dinarasikan dalam kitab Samuel pagi ini? Yang bisa saya duga semalam mungkin dan bisa saja ada yang terbangun lebih dari tiga kali karena gangguan pencernaan atau karena deringan atau getaran telepon genggamnya. Bacaan pertama hari ini terkesan menarik dan dramatis karena ada dua aksi atau tindakan yang ditampilkan secara seimbang yang akhirnya membingkai sebuah kisah yang bermuatan pesan yang aktual dan relevan bagi kehidupan manusia.

Membaca judul bacaan pertama amat jelas bagi kita berkaitan dengan Panggilan Samuel. Kata panggilan ini mendapat tekanan dan intesitas maknanya sedemikian mendalam justru karena kata panggilan dihubungkan dengan dua model reaksi dalam bentuk aksi Samuel. Dua aksi yang dominan dan relatif ditampilkan seimbang ada dalam kata ”tidur” dan ”bangun”. Tidur dalam teks tadi menjadi sangat penting. Samuel dipanggil dalam keadaan tidur. Tidur adalah gambaran yang menampilkan nuansa pasif. Yang mengherankan kita justru Tuhan memanggil Samuel dalam kondisi yang terkesan pasif seperti itu. Bagi saya cara seperti ini jelas mau menekankan bahwa inisiatif memanggil itu datang dari Allah.

Tiga kali Samuel dipanggil dalam keadaan tidur artinya Allah tak henti-hentinya memanggil. Karena itu, bagi saya kalau ada orang mengatakan bahwa dirinya tidak dipanggil, itu tidak benar. Tuhan selalu memanggil dan panggillan selalu ada dan terjadi. Yang tidak ada adalah jawaban atas panggilan itu. Mengapa tidak ada jawaban? Alasannya karena orang hanya sampai pada tingkat mendengar dan belum sampai pada tingkat mendengarkan. Sepintas kata mendengar dan mendengarkan itu sama karena berkaitan dengan perkara berfungsi tidaknya daun telinga kita, tetapi sesungguhnya ada perbedaan yang amat mendasar antara kata mendengar dan mendengarkan. Mendengar adalah gambaran berfungsinya telinga menangkap bunyi dan suara apa saja. Kita bisa mendengar bunyi sepeda motor yang lalu lalang di jalan. Mendengarkan menggambarkan berfungsinya telinga menangkap bunyi-bunyi dengan tujuan tertentu. Kalau telinga saya menangkap bunyi sepeda motor dan mengatakan bunyi sepeda motor seperti itu adalah bunyi sepeda motornya rm Dion Labur, maka saya bukan sekadar mendengar bunyi sepeda motor tetapi saya telah mendengarkan bunyi sepeda motor.

Imam Eli memberi petunjuk dan kalimat yang benar untuk Samuel: Bersabdalah ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan. Rumusan itu, tidak diubah sedikitpun oleh Samuel. Di sini jelas bagi kita bahwa ada tingkatan dalam respon manusia terhadap panggilan Tuhan. Jawaban Panggilan yang benar harus sampai pada tingkat mendengarkan. Itulah yang terjadi dalam kisah panggilan Samuel. Kita semua juga merupakan orang yang setiap saat dipanggil Tuhan karena Tuhan setia memanggil. Panggilan itu bukan soalnya pada Tuhan, tetapi soalnya ada pada jawaban manusia. Jawaban itu terukur dalam kualitasnya apakah hanya sekadar mendengar atau sudah sampai pada pilihan mendengarkan.

Dalam konteks panggilan Sameul mendengarkan bukan lagi perkara telinga tetapi sudah menyentuh ranah hati untuk menentukan keputusan dan pilihan. Samuel dipanggil dalam kondisi tidur tetapi ia mendengarkan. Itu artinya ada model tidur yang memberi peluang untuk dipanggil Tuhan. Dan itu tidur yang model apa? Tidur sungguhan atau tidur-tiduran? Mata tertutup tidak selalu berarti tidur, mata terbuka tidak selalu berarti terjaga karena ada yang matanya tertutup tetapi hatinya tetap bangun dan ada yang mata terbuka tetapi sesungguhnya ia tidur.

Dalam ungkapan populer ada perbedaan makna antara ungkapan toko wela wa dan wela eta toko wa. Samuel tergolong penganut aliran toko wela wa. Secara fisik tubuhnya melintang mata tertutup tapi telinga dan hati terus terbuka. Lain halnya dengan mereka yang menganut filosofi wela eta toko wa, fisiknya berdiri tegak mata terbuka tetapi telinga dan hatinya tertidur. Para pendukung filosofi wela eta toko wa biasanya mengatakan dirinya tidak pernah dipanggil. Dia mempersoalkan Tuhan yang memanggil dan bukan dirinya yang harus memberi jawaban setelah mendengarkan.

Semauel mendengarkan Panggilan Tuhan dalam keheningan Bait Allah di Yerusalem. Untuk teman yang sudah pulang dari tanah Suci tentu tahu persis berapa lamanya kita berjalan dari Yerusalem ke Kafernaum yang menjadi seting tempat terjadinya kisah injil tadi. Kisah penyembuhan dalam injil tadi terjadi di Kafernaum yang telah menjadi kampung kerja Yesus setelah ditolak dari Nasareth. Injil hari ini sesungguhnya menampilkan siklus hidup Yesus secara lengkap karena disebutkan: Rumah ibadat sebagai gambaran tentang pentingnya doa bersama, pelayanan orang sakit, berdoa di tempat yang sunyi untuk menggambarkan pentingnya doa pribadi, meditasi dan kontemplasi, dan tugas memberitakan Injil.

Kisah injil memang tidak eksplisit berbicara tentang panggilan dan sikap mendengarkan tetapi masalah panggilan dan sikap mendengarkan itu implisit dinyatakan dalam beberapa hal tekait penyembuhan. Saya sudah melihat beberapa tempat di Kafernaum termasuk rentuhan rumah ibadat dan reruntuhan rumah Simon Petrus dan murid lainnya yang disebutkan dalam injil tadi. Kafernaum yang menjadi seting peristiwa injil hari ini sesungguhnya mau menegaskan kepada kita bahwa dalam arti tertentu sebenarnya Kafernaum menjadi awal aktivitas penginjian, evangelisasi, dan tempat strategis bagi orang yang mendengarkan panggilan Tuhan melalui pewartaan Yesus. Ini terbukti, karena banyak murid pertama Yesus berasal dari Kafernaum dan bukan dari Yerusalem.

Kalau dalam injil tadi ada begitu banyak orang mencari Yesus dengan pelbagai macam alasan, sesungguhnya mereka itulah orang yang telah mendengarkan panggilan Tuhan. Kalau di Yerusalem yang mendengarkan itu Samule, di Kafernaum yang mendengarkan itu adalah para murid dan semua saja mereka yang datang mendnegarkan dan mau mengikuti Yesus. Lalu, apa sebenarnya yang perlu kita maknai dari injil terkait tugas panggilan kita?

Injil hari ini pada da¬sarnya menampilkan sikap solidaritas Allah kepada manusia. Simpa¬ti dan perhatian Allah secara nyata digambarkan dalam episode penyembuhan orang-orang sakit. Orang banyak yang disembuhkan Yesus itu diharapkan bisa menjadi tabib bagi orang lain. Kita semua dalam arti terntu juga dipanggil untuk menjadi tabib memerangi pelbagai penyakit yang mendera kehidupan mereka yang kita jumpai dan layani dalam tugas kita. Kehadiran yang menyembuhkan adalah kehadiran yang bermakna bagi orang lain. Kehadiran yang menyem¬buhkan adalah kehadiran manusia yang dirasuki semnagat dan cinta Allah sendiri. Yesus yang digambarkan Injil tadi merupakan sosok cinta Allah yang membutuhkan daya tanggap manusia. Kisah penyembuhan Ibu Mertua Petrus mengisyaratkan dua kebenaran penting ini. Pertama, peristiwa penyembuhan itu merupakan simbol pembebasan dan pemerdekaan yang dibawakan Kristus yang secara sempurna dilaksanakan pada akhir zaman. Kesembuhan dari penyakit adalah simbol pembebasan.

Kedua, proses dan rahmat penyembuhan yang diperoleh haruslah mendorong manusia untuk aktif dan kreatif dalam kehidupan. Wanita yang disembuhkan dalam Injil tadi pada akhirnya bangkit dan langsung melayani. Ia mengalami penyembuhan dan mendorongnya untuk terlibat aktif dalam pelayanan baik itu bagi Allah maupun bagi sesama. Dengan kata lain pengalaman pernah disembuhkan harus membuat seseorang untuk membuktikannya dalam kehidupan nyata. Sebagai manusia jelas kita semua pernah mengala¬mi sakit. Pengalaman rasa sakit kita tidak saja terbatas pada pengertian sakit fisik serangan penyakit, tetapi sebenarnya dalam pelbagai situasi di mana kita merasa tidak aman, tidak tenang, merasakan kekurangan di sana sebenarnya kita juga merasa sakit. Penyembuhan yang dibuat Yesus dalam Injil adalah simbol penyembu¬han situasi dunia. Dunia kita sekarang inipun lagi sakit. Sebagai orang yang dipanggil kita telah disembuhkan untuk dapat menyembuhkan sesama dalam wujud karya bakti dan pelayanan kita masing-masing. Mari kita berusaha bukan hanya agar bisa mendengar suara panggilan Tuhan tetapi lebih dari itu mau mendengarkan Tuhan yang terus memanggil. Semoga

No comments:

Post a Comment

Post a Comment