Friday, May 31, 2013

MISA SULUNG RM.ALO J & FERDI T

Renungan Misa Pertama

Rm.Aloyisus Jonson, Pr & Rm.Ferdinandus Tahul Pr
Paroki Fransiskus Asisi Karot, Minggu, 15-8-2004


Catatan Awal:
Motto tahbisan dua imam baru yang tercetak pada kartu Undangan perlu dicermati karena ada kesalahan penulisan. Romo Ferdi mengambil motto tahbisan :Rancangan-Ku bukanlah rancangan-MU (Yes.55,8). Huruf M pada rancangan-Mu menggunakan huruf besar. Seharusnya, dan sesuai dengan teks asli menggunakan huruf m kecil karena mengacu kepada manusia. Romo Alo mengambil motto: Bertolaklah ke tempat yang dalam (tertulis: Mat.4,5). Ada dua kesalahan pada kutipan motto ini yaitu penulisan kata depan ke yang salah dan Teks injil yang tertulis salah baik pengarangnya maupun bab dan ayatnya. Kalau kita melihat Mat.4,5 maka kita akan jumpai kalimat yang berbunyi: Kemudian Iblis membawanya ke tempat suci dan menempatkannya di atas bubungan bait Allah. Teks yang pas untuk motto justru dari injil Lukas bab 5 ayat 4. Koreksi ini perlu saya sampaikan agar kita yang membaca teks berdasarkan surat Undangan tidak merasa bahwa apa yang akan saya sampaikan dalam renungan sebenatar tidak sesuai dengan teks.

Renungan
Semalam setelah pulang pentahbisan di Pateng saya bermimpi. Mimpi ini tidak bermaksud membantu para pencandu kupon putih untuk membuat analisis dan interpretasi. Dalam mimpi itu saya sepertinya sedang berjalan ke satu tempat yang ramai. Saya menyaksikan ada begitu banyak orang yang berwajah gembira berjalan ke arah yang sama. Sepertinya ada pesta besar yang hendak mereka ikuti. Masih dalam mimpi saya melintasi sebuah jembatan kecil seebelum ke tempat keramian itu. Pada tembok jembatan yang saya lewati itu saya membaca satu tulisan yang berbunyi: HARI INI, HANYA KATA PENDAHULUAN. Setelah terjaga dari mimpi, saya membayangkan kalimat itu pasti tertulis di jembatan Wae Ces sebelum ke Paroki Karot ini. Saat melintasi jembatan Wae Ces tadi, tulisan HARI INI, HANYA KATA PENDAHULUAN itu tidak saya temukan. Juga tidak saya temukan pada dekorasi misa sulung kedua imam baru kita ini. Meskipun demikian saya merasa amat tertarik untuk mamaknai, menafsir, dan menginterpretasi kalimat: HARI INI, HANYA KATA PENDAHULUAN itu dalam konteks motto tahbisan kedua imam baru ini yang diambil berdasarkan teks Yesaya (55,8) dan Teks Lukas (5,4).

Kalimat” HARI INI, HANYA KATA PENDAHULUAN” bagi saya sungguh menjadi sebuah teks atau wacana yang sarat arti dan kaya makna. Kalimat itu memang terkesan ilmiah,amat teknis bahkan sangat akademis. Tentu saja kalimat itu pas untuk dua imam baru kita yang sudah banyak makan es karena es satu mereka makan dan ada es dua mungkin sedang mereka cari. Kata pendahuluan dalam konteks akademik berkaitan dengan buku, karya tulis ilmiah (skripsi/Tesis). Bagian Pendahuluan sebuah buku, skripsi, tesis biasanya memuat secara singkat pelbagai unsur penting yang harus dijabarkan dalam bab-bab selanjutnya. Apa yang akan dijabarkan dalam bab-bab lanjutan sebagai bab inti atau bab isi tidak boleh menyimpang dari apa yang digambarkan dalam pendahuluan. Isi keseluruhan sebuah karya ilmiah secara singkat dan padat bisa dibaca pada bagaian pendahuluan. Lalu bagaimana kalau kalimat pada tembok jembatan tadi dikaitkan dengan peristiwa pentahbisan dan misa sulung dua imam kita ini? Apakah tahbisan menjadi imam bisa diibaratkan dengan sebuah karya ilmiah? Menurut saya keduanya bisa saja dibandingkan tetapi perbandingannya harus terbalik. Dalam karya ilmiah isi uraian sudah ada bahkan harus jelas, ekspilisit pada bagian pendahuluan sedang dalam penghayatan hidup sebagai seorang imam isinya tidak bisa dilihat langsung pada saat seorang ditahbiskan. Tahbisan itu barulah pendahuluan tetapi isi imamatnya akan terlihat dalam penghayatan lebih kemudian. Kiranya kita semua sepakat bahwa tahbisan hanyalah saat seseorang membuka kemungkinan untuk mengisi, memaknai peristiwa pentahbisan itu. Tahbisan menjadi imam itu hanya berlangsung dua jam tetapi hidup dalam status sebagai imam tidak lagi ada batas waktunya. Sampai di sini kita disadarkan bahwa yang paling penting itu bukan pesta tahbisan tetapi justru bagaimana hidup sebagai imam yang tertahbis. Pendahuluan karya tulis terbatas tetapi penghayatan hidup sebagai imam terjadi dari hari ke hari sepajang hidup. Setiap hari yang baru adalah pendahuluan yang baru dalam memaknai imamat itu. Kalau skripsi jelas tidak mungkin setiap hari kita membuat pendahuluan yang baru. Dalam menghayati hidup sebagai imam kita harus selalu diperbaharui dalam semangat, dalam pola kerja dan pelayanan kita.

Pentahbisan itu bagi saya hanyalah kata pendahuluan untuk seorang imam atau pastor. Mengapa? Karena kualifikasi keimaman dan kepastoran seseorang tidak secara otomatis dan komplit, sempurna terjadi saat ditahbiskan. Tahbisan hanyalah satu titik simpul atau satu titik perhentian sejenak untuk suatu perjalanan yang panjang. Kita sering mendengar ucapan salah kaprah yang mengatakan bahwa Tahbisan adalah puncak dari panggilan menjadi imam. Bagi saya tahbisan hanyalah titik star bagi seseorang untuk membuktikan apakah ia mampu berlari dalam statusnya sebagai seorang imam. Jika tidak, maka tahbisan hanyalah kenangan yang boleh dilupakan dan imamnya akan terkena peraturan eliminasi dari pertarungan kehidupan. Tahbisan adalah ritus yang mengesahkan peralihan status. Bukan isi imamat itu sendiri. Tahbisan itu ibarat proses klarifikasi dan legitimasi publik. Saat seorang ditahbiskan atau caleg dilantik kita tidak dapat membuktikan bahwa mereka sungguh imam atau sungguh wakil rakyat. Kualitas dan integritas keimaman atau status dan jabatan apa saja baru diukur ketika status itu diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan. Ini sudah sangat jelas terbaca dan terdengar dalam aneka harapan banyak orang saat seseorang ditahbiskan atau dilantik. Peristiwa pentahbisan menurut hemat saya justru menjadi saat perang antara harapan dan kecemasan. Ketika seseorang ditahbiskan ribuan umat bahkan seluruh gereja menaruh harapan akan apa yang dapat kita lakukan sebagai imam/pastor. Juga bersamaan muncul ribuan kecemasan yang membayang-bayangi pola tingkah seorang imam/pastor. Imamat kita, di hadapan banyak orang ibarat permen halia yang kadang-kadang terasa manis tetapi kadang-kadang terasa pedis. Manis dan pedis itulah hakikat permen halia; Keindahan puncak tabor dan kekejian golgota itulah gambaran kehidupan imam.

Tahbisan hanyalah kata pendahuluan. Kalimat ini, bagi saya sungguh tepat untuk dikaitkan dengan motto tahbisan dua imam baru ini. Kalau melihat tampang dua imam baru ini mungkin kita keliru karena Rm.Ferdi bertampang seperti insinyur jebolan fakultas teknik sementara Romo Alo kulit mukanya seperti kapten kapal penangkap ikan jebolan sekolah tinggi pelayaran. Tampang mereka yang unik ini mereka kaitkan dengan motto tahbisannya. RangcanganKu bukanlah rancangmu dipilih Rm. Ferdi sebagai titik pijak perziarahan keimaman dan kepastorannya.

Motto seperti ini jelas diambil dari dunia teknik rancang bangun. Motto ini mengisyaratkan kepada kita bahwa Rm.Ferdi melihat Tuhan sebagai arsitek yang merancang bangunan imamatnya. Hari Kamis lalu secara publik ia menerima sebuah gambar/denah bangunan imamat dari Tuhan sebagai arsitek andalannya. Romo Ferdi menerima rancangan/gambar bangunan imamat dari sang arsitek agung untuk dijadikan patokan dan pedoman pembangunan rumah imamatnya. Romo Ferdi ditahbiskan ibarat seorang tukang bangunan yang mendapat tender proyek imamat yang harus ia bangun. Ia menjadi pelaksana sekaligus pemilik proyek itu sementara Tuhan insinyur dan konsultannya. Tahbisannya, barulah awal atau pendahuluan untuk menerima rancangan yang Tuhan kehendaki. Sebagai pelaksana lapangan, Romo Ferdi tentu menyadari sungguh bahwa Anda mau mengabdi kepada Tuhan yang memberi rancangan bangunan imamat itu kepadamu. Yang hendak Anda bangun bukanlah rancangan Anda sendiri melainkan rancangan Tuhan. Mottomu memang bernada pernyataan tetapi berisi perintah. Mottomu bermodus deklaratif tetapi bermakna imperatif. Kalau Tuhan sendiri menegaskan bahwa Rancangan-Nya bukan rancangmu, itu secara implisit mau mengatakan kepadamu bahwa janganlah Anda membuat rancangan tandingan di hadapan Tuhan. Mottomu amat menarik tetapi ingatlah, motto itu mengharuskan Anda untuk mengalah di hadapan Tuhan. Manusia, zaman ini termasuk kita para imam, cenderung mengatur Tuhan menurut format dan rancangan kita. Mottomu mengingatkan saya pada rumusan doa yang diucapkan Uskup pentahbis saat pengenaan stola dan kasula. Di sana di katakan: pada umur mudamu engkau sendiri mengikat pinggangmu dan pergi ke mana saja engkau kehendaki, Tetapi kini engkau mengulurkan tangan dan orang lain mengikat pinggangmu lalu menuntun engkau ke tempat yang tidak kau kehendaki. Doa seperti ini jelas mempertegas identitas dan keterikatan kita setelah kita menjadi imam. Kita tidaklah muda lagi karena sudah terikat. Prinsip tua di rumah muda di jalan atau tuang di rumah om dan pak di jalanan hendaknya dihindari. Tuhan sudah membuat rancangan bagimu. Itu artinya Tuhan telah mengikatmu untuk melakukan apa yang memang dikehendaki Tuhan. Pengabdian dan pelayanan terhadap manusia itulah proyek raksasa yang dirancang Tuhan dan proyek itu diberikan kepadamu. Anda menerima rancangan itu dengan konsekuensi bahwa Anda harus setia dalam pengabdian dan pelayanan terhadap manusia dan kemanusiaan. Norma, ukuran dan patokan pelayanan telah Anda terima dari Tuhan.

Kalau Romo Ferdi menerima gambar bangunan imamatnya seperti yang Tuhan rancang, Romo Alo calon penangkap ikan ini mau menjalankan perintah Tuhan untuk berlayar ke tempat yang lebih dalam. Motto imamatnya: tegas dan jelas. Bertolaklah ke tempat yang dalam. Motto ini bermodus impratif, bernada perintah langsung. Saya sendiri heran mengapa dia memilih motto seperti ini. Alasannya karena saya tahu ia tidak bisa berenang apalagi selama berada di Kisol sebagai Frater TOP dan sebagai Dikon ia tidak pernah bercerita tentang bagaimana ia minum lumpur saat melatih berenang di parit Wae Ces. Berenang di parit saja belum pernah apalagi mau berenang di laut dan nekat mau mencari tempat yang dalam. Ya, bagi saya kalau seorang yang tidak pernah melihat laut tetapi begitu melihat laut langsung mau berenang ke tempat yang dalam, itu adalah tindakan mengusir nyawa tanpa alasan. Sejauh yang saya kenal Alo ini memang tipe manusia yang suka mencari, mengamati segala hal sampai sekecil-kecilnya. Kita bisa bertanya ke Romo Alo berapa jumlah kutu seekor anjing betina di Seminari Kisol.

Romo Alo memposisikan atau mengidentifikasikan diri sebagai seorang nelayan yang siap melakukan sesuatu sesuai dengan perintah yang diterima. Motto yang dipilih merupakan potongan kalimat panjang dan lengkap: Bertolaklah ke tempat yang dalam, dan terbarkanlah jalamu untuk menangkap ikan. Potongan motto itu memang bernada imperatif, perintah untuk bertolak ke tempat yang dalam. Perintah untuk bertolak ke tempat yang dalam saja terkesan belum bertenaga untuk melakukan dan menghasilkan sesuatu. Kita harus melihat keseluruhan konteks perikope injil itu. Kutipan teks yang lengkap sangat membantu kita memahami teks itu secara utuh. Kutipan teks yang seperti tadi akan memberikan banyak informasi untuk kita dan terutama untuk Romo Alo.

Teks Lukas memaparkan sepenggal narasi perihal pengalaman buruk yang menimpa sekelompok nelayan. Narasi versi Lukas ini amat menarik karena narasi itu dirajut dari dua sisi kehidupan antara kegagalan dan kesuksesan manusia yang berprofesi nelayan. Dari teks yang sama kita mendapatkan informasi perihal dinamika, mentalitas, cara kerja, para nelayan. Diceritakan bahwa Yesus datang ke pantai menjumpai nelayan yang tidak lagi melaut. Perahu mereka sudah dihela ke darat. Mereka semua kelihatan kecewa karena semalaman gagal menangkap ikan. Dalam kondisi demikian seorang anak tukang kayu datang dan meminta Simon untuk menghela perahunya ke laut disertai dengan perintah yang tegas: bertolaklah ke tempat yang dalam, dan tebarkanlah jala untuk menangkap ikan. Simon yang merasa diri berpengalaman sebagai nelayan dengan berat hati menerima perintah Yesus itu.

Kalau sampai seorang anak tukang kayu yang tidak pernah melihat laut, memerintah nelayan untuk bertolak ke tempat yang dalam, menebarkan jala dan menangkap ikan itu sungguh memalukan. Perintah seperti itu untuk seorang nelayan yang profesional jelas tidak perlu. Sebagai nelayan Simon sudah harus tahu bahwa kalau mau menangkap ikan maka perahunya harus diapungkan di laut. Kalau mau menangkap ikan jalanya ditebarkan di laut yang dalam. Kalau perahu hanya dibiarkan di darat itu artinya perahunya akan berubah menjadi palungan tempat makanan babi. Kalau jalanya dibentangkan saja di tepi pantai maka jala itu lebih tepat dijadikan net untuk pertandingan bola volly pantai menjelang 17 Agustus. Kalau orang mencari ikan di tempat yang dangkal itu lebih tepat disebut sebagai orang yang mandi bukan mencari ikan. Profesionalitas seorang nelayan diukur berdasarkan kemampuannya untuk menentukan cara, waktu, tempat, dan tujuan setiap kali ia melaut sesuai dengan etika profesi nelayan. Di mata Yesus Simon yang berprofesi nelayan itu, tergolong sebagai nelayan karbitan, nelayan amatiran. Bukan nelayan profesional. Mengapa? Karena ia tidak menjalankan profesinya sebagai seorang yang profesional. Perahunya ia tambat di darat. Jalanya tidak ia tebarkan. Ia takut basah dan tenggelam lalu berada di tempat yang dangkal dan kering. Kalau perahunya dan jalanya diikat di darat dan hanya mau mencari di tempat yang dangkal maka biar orang menunggu sampai kumis bercabang (dangka gipi) atau sampai rambut beruban (muwang sai) tidak mungkin ia mendapatkan ikan. Profesi dan profesinalitas seorang nelayan justru ditandai dengan suatu dinamika yang terlihat pada perahu yang selalu terpung dihempas gelombang, ditandai dengan jala yang yang selalu tertebar di laut yang dalam. Profesionlitas adalah aktivitas, dinamika, gerakan yang selalu menghadapi tantangan. Desakan dan perintah Yesus untuk Simon adalah desakan/perintah demi profesionalitas yang ditandai dinamika perjuangan penuh tantangan. Tidak ada profesi tanpa aktivitas dan tidak ada profesionlitas tanpa tantangan. Yesus sungguh memahami psikologi kehidupan nelayan. Ukuran atau takaran kualifikasi profesionalitas seorang nelayan ada dalam dinamika tantangan hempasan gelombang. Bukan dalam kesantaian bercanda di bibir pantai. Hidup seorang nelayan tidak sekadar menikmati pemandangan pantai yang indah, deburan ombak yang memukau tetapi justru harus berani menceburkan diri ke tempat yang dalam dengan risiko basah, dan mungkin juga sampai minum air garam. Dan inilah obsesi Romo Alo yang harus kita dukung dalam mengisi lembaran imamatnya.

Kita semua berbangga karena seorang manusia yang tidak pernah membuat perahu atas nama Rm.Alo ingin menjadi Simon yang akan menghela perahu imamatnya ke tengah hempasan laut yang dalam. Sebuah pilihan yang berani sekaligus menjanjikan harapan bagi kita bahwa Romo Alo mau menjadi nelayan profesional yang selalu mau mencari tempat yang dalam.

Kedua imam baru ini telah dinyatakan menang, mendapat tender untuk menjadi pelaksana proyek imamat mereka. Satunya akan menjadi pelaksana proyek di darat, dan satunya mau menjalankan proyek di laut. Romo Ferdi telah menerima rancangan dari Tuhan sendiri dan Romo Alo telah mendengar perintah Yesus untuk bertolak terus ke tempat yang dalam. Rm.Ferdi mau membawa rancangan imamatnya ke Paroki Mamba dan Rm.Alo ingin bersama kami berenang dan bertolak ke lautan yang dalam di lembaga pendidikan calon imam seminari Kisol. Itu artinya Romo Ferdi menjadi Pastor di Paroki Mamba bukan pastor Mamba saja. Dan Romo Alo menjadi imam di seminari Kisol bukan imam seminari Kisol saja. Mengapa harus ada rumusan Pastor di Mamba dan bukan Pastor Mamba saja? Imam di Seminari dan bukan Imam seminari saja? Mengapa satunya disebut pastor dan satunya di sebut imam. Saya sengaja menegaskan hal ini, supaya tidak dikritik Pater Flori yang pendek fisik tetapi selalu panjang akal itu. Menurut Pater Flori Pastor adalah sebutan bagi imam yang mempunyai umat di paroki sedangkan imam yang tidak ada umat/paroki atau sudah pensiun seperti Pater Flori harus dipanggil imam Flori dan bukan Pastor Flori. Lalu antara istilah pastor di paroki dan pastor paroki berbeda besar. Kalau pastor paroki itu artinya secara hukum ia ditempatkan di paroki tetapi de facto ia bisa berada di luar paroki lebih banyak atau menjadi pastor pengembara; pastor turis. Alasan mengapa lebih banyak di luar mungkin karena memang merasa diri sebagai pastor yang luar biasa sehingga antara pastor yang luar biasa dan pastor yang biasa di luar dianggap sama saja. Pastor Paroki bisa saja ia lebih banyak di luar parokinya karena ia merasa memang di luar banyak lebihnya untuk dia dibandingkan kalau dia menjadi pastor di parokinya dan di tempat tugasnya. Kalau pastor di paroki itu artinya baik secara de jure maupun secara de facto ia berada di paroki bersama umat yang dipercayakan kepadanya. Begitu juga istilah imam di seminari dan imam seminari. Kami tentu senang kalau Romo Ferdi menjadi pastor di Mamba dan Romo Alo imam di seminari.

Hari ini Anda berdua mulai mengisi lembaran awal ziarah imamatmu. Hari ini hanyalah kata Pendahuluan. Saya tidak berani memberikan banyak nasihat kepada Anda berdua karena takut nanti saya sendiri tidak melaksanakannya. Karena itu mungkin baik saya akhiri renungan ini dengan beberapa butir refleksi atas perjalanan imamat saya selama hampir 10 tahun. Ini sharing persaudaraan karena kebetulan saya menjadi kakakmu dalam imamat.

Anda berdua mempunyai motto tahbisan yang bagus. Motto tahbisan bagi saya sungguh menjadi nafas yang menghidupi ziarah imamat saya dengan segala tantangannya. Motto itu menjadi motor penggerak bagi saya dalam memaknai panggilan dan mengisi panggilan saya. Anda berdua memilih motto yang bagus. Jadikanlah itu sebagai nafas imamat kita.

Banyak orang menaruh harapan pada status kita sebagai imam/pastor. Harapan itu turut membentuk cara hidup kita. Ziarah imamat saya turut dibentuk oleh cara pikir dan cara pandang orang lain berupa nasihat bijak yang tidak perlu saya beli. Saya harus mendengarkan apa kata mereka karena menurut saya orang bijak yang sukses pasti memilki prinsip dalam menjalani kehidupan dengan tantangannya. Tantangan adalah bagian hidup dan panggilan kita. Orang bijak berkata bahwa di dunia ini hanya ada dua kelompok manusia yang bebas tantangan yaitu mereka yang sudah mati dan mereka yang belum lahir. Ziarah imamat kita adalah ziarah kehidupan dengan tantangannya. Yang dperlukan adalah kesabaran dan bukan kepasrahan. Tantangan pasti berlalu.

Imamat itu Prestasi bukan Prestise. Pemahaman saya akan Imamat adalah prestasi karena ternyata tidak semua orang bisa meraihnya. Imamat bagiku mahal harganya, lama proses pencapaiannya, rumit proses mewujudkannya, susah memakanainya. Saya kira bukan hanya saya yang berbangga tetapi banyak orang berbangga atas prestasi seperti ini. Tentu bukan karena saya hebat. Bagiku mau mencapai imamat bagaikan usaha memetik mawar yang ada di antara duri-duri. Mau memetik mawar harus mampu menghindari duri-duri yang menantang. Itu risiko pilihan. Kadang saya menggerutu dan bertanya mengapa Tuhan memekarkan mawar di antara duri? Mengapa imamat selalu ada tantangannya? Pertanyaanku tidak menghilangkan duri kehidupan karena itu tidak ada cara lain bagiku untuk bersyukur karena Tuhan masih memekarkan mawar indah di tengah duri-duri. Konsentarsiku cukup pada mawarnya karena toh tidak ada mawar tanpa duri. Tidak ada panggilan dan pilihan hidup tanpa tantangan.

Hari ini kita bergembira karena dua imam baru mengajak kita semua untuk hidup dalam rancangan Tuhan dan terus bertolak ke tempat yang lebih dalam. Ajakan yang sama hendaknya kita bawa ke dalam tugas dan karya kita di mana dan ke mana saja kita pergi. Kita diajak untuk selalu bercermin kepada Maria yang selalu hidup dalam rancangan Tuhan dan selalu bertolak ke tempat yang dalam. Pesta Maria diangkat ke surga dan dimuliakan Allah adalah bukti betapa Maria telah secara sempurna melaksanakan kehendak Tuhan dalam misi dan tugas panggilannya. Hari ini hanyalah Kata Pendahuluan buat dua imam dan buat kita semua. Bunda Maria doakanlah kami agar mampu mengisi lembaran kehidupan panggilan kami secara baik. Amin

Kisol, 14 Agustus 2004





















































Wednesday, May 15, 2013

HARI MINGGU PASKA VII



ROH KUDUS PEMERSATU
Kis 7:55 60; Why 22:12 14.16 17.20; Yoh 17:20 26
Paroki Blimbing, Malang Sabtu, 11 Mei 2013
GEREJA TEMPAT MENGENAL ROH KUDUS

Buka
Tema perayaan kita sore ini “Gereja Tempat Mengenal Roh Kudus” mengajak kita semua untuk menyadari kembali citra diri kita sebagai sebagai orang tertebus sekaligus terpanggil untuk meneruskan misi cinta Allah yang telah diwariskan Kristus. Gereja yang dimaksudkan dalam tema ini tentu lebih dari sekadar sebuah institusi, apalagi dimaknai sebagai gedung, bangunan fisik. Gereja yang dimaksudkan dalam tema ini tidak lain adalah diri kita. Kalau kita bersetuju dan bersepakat bahwa diri dan hidup kita adalah gereja maka betapa besarnya, betapa agung, dan betapa mulianya diri dan hidup kita. Kalau gereja itu adalah diri dan hidup kita lalu menjadi tempat kita dan orang lain mengenal Roh Kudus itu artinya diri kita memang menjadi kenisah Roh Kudus yang akan memancarkan buah-buah Roh dalam seluruh dinamika hidup kita. Kita berdoa dan menyerahkan diri kita ke dalam tuntunan kuasa Roh Kudus agar diri dan kehidupan kita mampu menumbuh kembangkan dan menumbuh suburkan buah Roh yang Tuhan tanamkan dalam diri kita. Mengawali perayaan ini baiklah kita akui kelamahan kita. Mungkin hidup kita bergerak di luar kuasa Roh Kudus karena kelemahan manusiawi kita.



Renungan

Semoga Mereka Bersatu dengan Sempurna

Kalau kita rajian membaca alkitab maka kita akan termukan berbagai kisah yang menggambarkan tentang aktivitas Yesus berkaitan dengan doa. Kita ambil saja mislanya ketika para murid tidak dapat berdoa dan meminta kepada Yesuscara berdoa yang benar, Yesus mengari mereka doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami diajarkan kepada para murid karena mereka sering salah berdoa dan juga tidak tahu berdoa. Ketidaktahuan para murid berdoa menjadi alasan bagi Yesus untuk mengajarkan dan mewariskan doa Bapa Kami yang menjadi doa yang setiap hari kita gunakan.

Hari ini Yesus berdoa bukan karena adanya desakan atau permintaan dari siapa-siapa. Meskipun tanpa desakan siapa-sia, doa Yesus hari ini bukanlah doa tanpa konteks. Hari ini Yesus berdoa karena Ia mengetahui persis apa yang akan terjadi pada diri para murid dan pengikutnya. Yesus sungguh menyadari peluang dan potensi keretakan, perpecahan yang akan dialami para pengikut-Nya kalau Dia kembali kepada Bapa setelah menjalankan ekspedisi penyelamatan umat manusia. Doa Yesus yang dinarasikan penginjil Yohanes sore ini adalah doa yang selalu dan senantiasa relevan sepanjang kehidupan manusia. Mengapa doa Yesus ini relevan sepanjang hidup- manusia? Jawabannya karena sampai kapan pun manusia itu berbeda satu sama lain dalam pelbagai aspeknya. Perbdaan-perbedaan di antara manusia itulah yang berpeluang menjadi amunisi yang akan meluluhlantakkan dimensi pesatuan dan kesatuan manusia. Yesus jelas tidak menghendaki misi penyelamatan yang telah dilaksankan-Nya secara sempurna ternoda oleh perpecahan di antara manusia.

Yesus berdoa kepada Bapa Nya dengan intensi yang satu, tunggal yaitu agar manusia, satu dan bersatu. Intensi dan kerinduan Yesus agar manusia bersatu itu harus sampai pada tingakatan kuliatas prima. Dia berdoa adagarpersatuan dan kesatuan itu dalam kondisi yang sempurna. Semoga mereka bersatu dengan sempurna. Bersatu dengan sempurna berarti pula persatuan dan kesatuan yang didasarkan kasih, kasih yang dilandasi ketulusan dan keterbukaan. Persatuan dan kesatuan dalam kualifikasi sempurna yang dikehendaki berarti pula mengharuskan dan mewajibkan manusia, kita pra pengikutnya berada dalam proses komunikasi yang utuh. Bukan bersatu dalam komunikasi yang pincang karena pertimbangan untung rugi. Model komunikasi yang utuh itu diungkap secara jelas dalam doa Yesus tadi. Yesus berdoa agar para murid Nya bersatu. Kesatuan yang dirindukan dan diharapkan Yesus adalah kesatuan dalam arti luas. Doa Yesus seperti dinarasikan penginjil tadi adalah doa persatuan dan kesatuan yang ditumpukan pada tiga pilar penting yang berkaitan dengan diri sendiri, berkaitan dengan sesama, dan akhirnya berkaitan dengan Tuhan. Tiga sasaran kerinduan Yesus tidak lain agar manusia bisa bersatu dengan dirinya sendiri, bersatu dengan sesamanya, dan bersatu dengan Tuhannya. Tiga matra ini berada dalam tangga hierarkis artinya. Manusia tidak mungkin menjalin persatuan dengan orang lain kalau belum bisa bersatu dan berdamai dengan dirinya sendiri. Lebih dari itu manusia sebagai pribadi tidak mungkin berdamai dengan Tuhan jika tidak bisa berdamai dan bersatu dengan sesamannya. Tiga tiang topangan ini harus berada dalam posisi yang seimbang agar kita bisa berdiri tegak dihadapan Tuhan ketika menghadapi takhta pengadilan terakhir.

Kita bersyukur karena kita memunyai orang pendoa sepanjang masa dengan intensi yang satu yaitu untuk persatuan di antara manusia. Doa Yesus sungguh meneguhkan sekaligus menuntut kita untuk bersatu ke dalam diri sendiri, bersatu keluar terhadap sesama dan bersatu ke atas terhadap Tuhan. Yesus berdoa untuk para murid agar mereka tidak hanya bersatu ke dalam di antara mereka sen¬diri, tetapi juga mereka bersatu ke luar, dengan orang orang lain, simpatisan Kristus sendiri, dan akhirnya bersatu dengan Tuhan sendiri. "Bapa yang kudus, Aku berdoa bukan untuk mereka saja, melainkan juga untuk orang orang yang percaya kepada Ku oleh pemberitaan mereka, supaya mereka semua menjadi satu sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan AKu di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita." Inilah tiga dimensi persatuan dan kesatuan yang menjadi intesi utama doa Yesus sendiri. Persatuan dan kesatuan di antara para murid sendiri, persatuan dengan orang orang lain dan persatuan, dan kesatuan dengan Tuhan sendiri.

Persatuan dan kesatuan yang utuh seperti yang didoakan dan dihar¬apkan Yesus ini tidak terlalu mudah untuk dicapai. Persatuan ke dalam saja di antara para murid sering sering sulit terpenuhi, karena perbedaan watak, pandangan, pikiran. Ingat saja misalnya Yudas Iskariot, murid yang mengkhianati Yesus, ia keluar dari kelompok keduabelasan para rasul, hanya karena kepentingan uang dan egoisme. Itu persatuan dan kesatuan ke dalam. Belum lagi persatuan ke luar dengan orang orang lain, yang tidak mempunyai dasar hubungan apa pun.

Sejak awal, Gereja yang satu dan sama "memiliki kemajemukan yang luar biasa. Pada satu sisi kemajemukan itu disebabkan perbe¬daan anugerah anugerah Allah, tetapi pada sisi lain kemajemukan itu terjadi karena keanekaan orang yang menerima anugerah Tuhan. Kita sungguh menyadari bahwa dalam gereja Tuhan menganugerahkan pelbagai karunia Roh Kudus dengan buah-buahnya. Perbedaan dalam karunia ini juga berpeluang menjadi pemicu terkikisnya persatuan. Dalam kesatuan umat Allah semua perbedaan itu bukanlah untuk dipertentangkan tetapi untuk diberdayakan dalam rangka menegakkan kerajaan Allah di dunia dan dalam kehidupan kita.

Tentu kita bersyukur kepada Tuhan karena Yesus tetap menjadi pendoa bagi persekutuan dan persatuan di antara kita yang masih hidup di dunia. Yesus yang kembali kepada Bapa tetap menyertai kita dengan kekuatan kuasanya yang tidak dapat dilawan dengan kekuatan apa pun. Yesus membentengi kita dan siapa saja yang percaya kepada-Nya dengan kekuatan Roh Kudus yang dijanjikan-Nya dan kini tengah kita nantikan sampai kita diurapi kuasa Roh Kudus itu pada hari pentakosta. Roh Kudus yang dijanjikan dan yang akan kita terima akan menjadikan kita berada dalam kuasa dan tuntunan Roh dengan harapan untuk menumbuhkembangkan benih-benih Roh yang memungkinkan semakin banyak orang mengenal dan mencintai Tuhan.

Bagimana caranya supaya persatuan dan kesatuan yang Tuhan harapan itu terjadi dalam kehidupan kita? Jawabannya ada dalam kata-kata Yesus tadi. Kalau mau agar persatuan dan kesatuan itu terjadi dan berbuah dalam kehidupan kita maka kita harus berani membuat pilihan kata yang baru. Pilihan kata yang baru seperti dirumuskan Yesu dalam doa-Nya tadi. Yesus mengubah kata aku menjadi kita. Itu artinya, Yesus menghendaki jika kita ingin mewujudkan perstuan dan eksatian dalam kuasa Roh Kudus maka kita harus mengurang bahkan harus menghilangkan kata “AKU” dan menggantinmya dengan kata “KITA”. Sama seperti Engkau ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereja juga di dalam KITA. Rumusan ini merupakan kalimat kunci untuk terbinanya persatuan dalam Roh. Ketika AKU menjadi pusat, orang cenderung ingat diri dan bertindak untuk diri sendiri dan itulah awal perpecahan. Tetapi, ketika semua orang menggunakan kata “KITA” di sana ada tenggang rasa, di sana ada simpati, di sana ada empati. Ketika kata KITA menjadi corak bahasa dan corak perilaku kita maka yang ada adalah damai. Damai adalah tanda adanya komunikasi dan kominikasi dalam arti sebenarnya itu adalah pilihan bahasa untuk menggunkan kata KITA.

Marilah kita mengedepankan pilihan Bahasa dan kata “KITA” dan bukan kata dan bahasa “AKU” agar doa Yesus untuk pesatuan dan kesatuan kita hari ini bermakna bagi perjalanan kita. Ingatlah, kata AKU adalah bahasa pemisahan diri tetapi kata KITA adalah bahasa yang mempersatuan karena dalam kata KITA aku dan Kau melebur untuk bertumbuhnya buah-buah Roh yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, dan kesetiaan. Tuhan memberkati kita….

Saturday, April 6, 2013

MISA PERINGATAN 40 MALAM

Renungan 40 Hari Bpk.Sebastianus Gudat , Jumat, 5 April 2013
Rat.3,22-36; Mat.11,25-30
Lingkungan Sawojajar, Paroki Ksatrian Malang

Kalau saat ini saya meminta semua kita yang hadir dalam perayaan ini mencari sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan kelahiran dan kematian seorang manusia, kita akan menemukan kata apa? Jawaban yang pasti dan benar hanya satu kata yaitu MENANGIS. Dengan dan dalam Menangis inilah kehidupan dan kematian seorang manusia tersimpulkan secara singkat. Mengpa tangisan sebagai ringkasa kehidupan? Alasannya karena ketika seorang manusia lahir dia harus menangis, kalau tidak menangis dipkasakan untuk menangis. Ketika seornag manusia menginggal orang juga menangis biasanya spontan tanpa paksaan seperti halnya saat seorang bayi lahir. Kelahiran ditandai tangisan, kematian pun ditandai tangisan. Bedanya, saat lahir yang menangis adalah yang datang sedangkan pada saat kematian seseorang yang menagis adalah yang ditinggalkan. Saat lahir yang menagis hanyalah yang datang karena orang-orang yang menunggu kelahiran akan bergembira. Saat kematian yang menangis justru orang banyak yang ditinggalkan sementara yang pergi tentu akan bergembira.

Menagis dan air mata adalah bahasa universal karena dialami semua manusia dari segala bangsa tanpa pengecualian. Tangisan dan air mata itu bermakna ganda karena ia membahasa kegembiraan tetapi sekaligus juga membahasakan kesedihan. Tangisan bermakna ganda, karena terjadi pada dua situasi, dua alam kehidupan fana dan alam kehidupan baka.

Malam ini kita semua dan seluruh keluarga mengakhiri masa tangisan bagi kepergian Almahum Bapak Sebastianus Gudat karena kita yakin Kristus sebagai yang pertama bangkit dan masuk kemuliaan kekal akan membawa Almahum menkmati kemiliaan. Doa kita dan korban ekaristi adalah jaminan sukacita baik bagi kita yang ditinggalkan mmaupun bagi almahum yang pergi meninggalkan kita.

Tidak terasa, 40 hari, seorang yang kita kenal, yang kita cintai dan kasihi Bapak Sebast Gudat telah mengikuti panggilan mudik abadi. Peristiwa dan giliran mudik abadi bagi Pak Sebast adalah undangan Tuhan pencipta yang pada waktunya yang pasti dan tepat akan mendatangi kita sesuai dengan agenda kerja Tuhan. Kapan undangan mudik abadi bagi setiap kita akan tiba tidak kita ketahui. Semua kita tahu bahwa pada suatu saat kita juga akan berangkat. Kapan, dengan cara bagaimana dari dari mana kita diundang juga misterius bagi kita. Yang kita tahu hanyalah kita akan manti. Kepastian itulah yang membuat setiap orang terpaku, diam, membisu dihadapan jenazah menangisi kematian seseorang. Karena itu, dalam nada yang terkesan ekstrem penyair Chairil Anwar pernah berkata: Hidup, hanyalah menunda kekalahan. Keterpakuan, keterdiaman, kebisuan kita berhadapan dengan realitas kematian tentu saja harus menjadi sebuah kebisuan, keterpakuan dan keterdiaman yang kreatif. Artinya apa? Artinya pada saat diam, terpaku, diam membisu itu sebagai orang beriman kita tentu membayangkan akhir dari kehidupan kita sendiri. Sebagai orang yang mengimani Tuhan dalam keadaan diam trerpaku, diam membisu seperti itu kita disadarkan untuk yakin bahwa Tuhan sebagai asal kehidupan pada waktunya memanggil pulang setiap orang untuk kembali. Kita Ratapan dalam bacaan pertama menjadi dasar harapan kita. Sebagai orang beriman yang berpengahrapan kita boleh berdoa seperti penulis Kitab Ratapan tadi: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. Adalah baik menantikan pertolongan TUHAN.

Karena semua kita pasti akan menerima undangan eksklusif untuk ikut mudik abadi, maka satu-satunya jalan yang bisa kita lakukan berhadapan dengan kematian adalah menjalani kehidupan sebagai saat yang baik untuk selalu dan senantiasa berkenan kepada Tuhan. Hidup yang berkenan kepada Tuhan itu akan menggaransi atau menjamin keberkenanan Tuhan atas diri dan kehidupan kita. Segmen injil Matius tadi secara eksplisit menuntut manusia untuk hidup berkenan pada Tuhan. Hanya dengan itu, Manusia akan dibawa Yesus kepada Bapa. Hanya hidup yang berkenan kepada Tuhan memungkinkan Yesus yang mengenal Bapa akan memperkenalkan Bapa itu kepada setiap orang beriman. Dengan begitu, undangan Yesus untuk setiap orang adalah undangan tanda perkenanan manusia pada Tuhan. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Kata-kata dan undangan Tuhan, Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu merupakan undangan untuk setiap orang yang hidup dan berkenan kepada Tuhan. Hidup berkenan pada Tuhan adalah hidup dalam kelemahalembutan dan kerendahan hati sebagaimana diteladankan Yesus. “belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Di sini jelas sekali bagi kita bahwa ketengan jiwa adalah buah dari suatu kehiudpan yang berkenan kepada Tuhan.

Harapan dan kerinduan setiap kita manusia beriman adalah ketenagan jiwa ketika undangan mudik itu menghampiri kita. Untuk itu tentu sebagai orang beriman kita dituntut untuk menggunakan strategi penghampiran undangan itu secara tepat. Dalam konteks era digital dan kemajuan komunikasi saat ini, diri dan kehidupan kita harus selalu berada dalam kondisi aktif (on) ibarat telepon genggam (Hand Phone) karena Tuhan pada waktu yang tidak kita ketahui akan melakukan panggilan. Untuk bisa terus aktif HP kehidupan dan diri kita harus selalu diberi tenaga. Kalau kekuatan baterai HP kehidupan kita lemah kita tidak mungkin menjawab panggilan itu secara baik. Dengan kata lain, semua kita diharapkan menyiapkan strategi menjawab panggilan Tuhan. Ketika dipanggil untuk mudik manusia akan melintasi tiga jarur utama. Pilihan jalur itu akan menentukan ke mana dan di mana manusia yang mudik itu tiba.

Semua kita mengetahui dan pernah belajar dalam katekismus bahwa ada tiga pintu terminal kedatangan bagi manusia-manusia yang mudik abadi. Ketiga pintu terminal kedatangan itu berkode S, berkode T, dan pintu N (Surga, Transit+api penyucian, Neraka). Ketiga pintu itu terbuka untuk semua pemudik ketika kematian tiba. Jumlah orang yang mengarah ke pintu-pintu itu amat bervariasi. Ada pintu yang sepi ditunggui, tetapi ada pula pintu yang tidak pernah sepi pengunjung. Pintu pertama berkode S (surga) itu biasanya diperebutkan dan diperjuangkan banyak orang karena di balik pintu ini terdapat kebahagiaan kekal. Pintu ini akan dilewati oleh orang¬-orang yang selama hidupnya berusaha untuk hidup berkenan kepada Allah dan kepada sesama. Pintu kedua (T) adalah api penyucian, yaitu tempat seseorang mengalami proses pemurnian sebelum sampai kepada Allah. Tempat ini boleh dikatakan sebagai pintu bagi mereka yang akan transisit ke pintu berkode S karena mereka dianggap belum membawa kelengkapan adminstrasi secara lengkap. Dokumen mereka itu masih harus dilengkapi. Mereka yang berada di pintu berkode T ibarat orang yang kelengkapan portofolionya belum lengkap dan harus segera dilengkapi.

Bagi mereka yang terpaksa berada pada pintu kedua ini, tidak bisa lagi mengurus sendiri kelengkapan dokumen mereka. Mereka itu harus dibantu oleh kita yang masih hidup. Untuk melengkapi dokumen portofolio mereka itu, kita tidak perlu membuat surat tugas, surat keterangan, surat perjalanan apalagi kalau itu hanya fiktif tetapi diganti dengan Doa-doa kita. Doa-doa kita ibarat pelengkap dokumen portofolio bagi saudara kita yang masih berada di pintu terminal transit. Doa kita yang penuh iman dan pengharapan akan mempercepat proses sertifikasi mereka masuk surga. Dan pintu ketiga adalah pintu neraka, yaitu tempat jiwa-jiwa disiksa karena selama hidupnya di dunia tidak hidup sesuai dengan kehendak Allah. Yang masuk ke sana ibarat orang yang tidak memiliki dokumen apapun yang dipakai sebagai bahan pertimbangan tim asesor di tingkat pengadilan terakhir.

Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk masuk ke tiga pintu tadi. Dan saya kira semua orang tidak mengharapkan untuk masuk pintu kedua, apalagi pintu ketiga. Semua orang menginginkan agar pada waktu kematian, orang bisa memasuki pintu pertama sehingga boleh menikmati kebahagiaan kekal bersama bapa di surga dan bersama mereka yang telah mendahului kita. Kehadiran kita saat ini merupakan cara dan bentuk yang kita pilih untuk melengkapi dokumen portofolio bagi Almarhum Pak Sebast yang mudik 40 hari lalu seandainya dokumen yang dibawanya masih kurang dan perlu dilengkapi. Doa-doa kita dan keluarga adalah dokumen yang melapangkan jalan baginya untuk mendapat sertifkat masuk komunitas Surga. Sebagai orang beriman tentu kita yakin Pak Sebast Lulus tanpa syarat dan memenuhi undangan Kristus untuk menjadikan jiwanya berada dalam ketenangan. Kalau dia lulus tanpa syarat doa-doa kita tentu tidak sia-sia, karena dalam ajaran dan keyakinan kita, doa-doa kita akan dialihkan kepada orang lain yang masih berada di terminal transit itu.

Kalau kita yakin bahwa hidup kita di dunia ini ibarat perjalanan untuk mengumpulkan semua sertifikat dan dokumen portofolio maka tentu kita akan berjuang mengumpulkan sebanyak-banyak. Portofolio jenis ini bukan yang dibuat-buat, dimanipulasi, direkayasa tetapi sungguh-sungguh asli berupa kebaikan, kebajikan yang kita gelarkan selama hidup. Dalam iman kita percaya bahwa 40 hari lalu Pak Sebast menjawab Undangan Yesus ini, “Pak Sebast, Marilah dan datanglah kepada-Ku biar jiwamu mendapatkan ketenangan”. Dalam iman pula kita yakin sejak 40 hari yang lalu sampai kekal Pak Sebast berujar ibarat penulis kitab Ratapan tadi: Tidak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, sungguh besar Kasih Setia-Nya, dan TUHAN adalah BAGIAN JIWAKU karena Aku berharap kepada-Nya.

Semoga kepulangan Pak Sebast memberi inspirasi bagi perjalanan hidup kita untuk selalu berkenan kepada Tuhan dan sesama kita. Tuhan memberkati kita… Amin

Friday, March 29, 2013

RENUNGAN MALAM PASKA

Renungan Malam Paska, 30 Maret 2013
Kej.22,1-18; Ke114,15-15,1; Yes.55,1-11;Rm.6,3-11; Luk.24,1-12
Komunitas Alma, IPI Malang


Ilustrasi
Kalau musim hujan berkepanjangan kodok pun berbunyi. Juga kalau musim hujan berkepanjangan biasanya ada binatang lain yang keluar dari bumi. Kalau binantang itu keluar itu menjadi tanda bahwa hujan sangat lebat. Binatang itu juga biasanya menjadi makanan para kodok. Apa nama binatang itu? Itu namanya LARON (Jawa) atau KELEKATU. Kalau Kodok punya kisah, LARON pun punya Cerita. Mengawali homili ini saya menyampaikan cerita tentang LARON.

Ketika hujan menembusi bumi, air masuk membasahi sarang anai-anai di dalam tanah. Anai-anai yang bersayap yang disebut Laron itu berjuang keluar dari kegelapan sarang di dalam tanah dan ingin terbang. Ketika berhasil keluar dari dalam tanah segerombolan Laron binging dan terkejut karena ternyata dunia ini sangat luas. Yang lebih mengejutkan mereka adalah adanya terang dan cahaya yang sebelumnya tidak mereka alami. Untuk mengatasi kebingungan itu, ketua rombongan laron itu mengumpulkan semua temannya yang baru keluar dari kegelapan. Mereka berkumpul untuk mencari tahu dengan pasti apa sebenarnya terang atau cahaya yang membingungkan itu.

Setelah berkumpul, para laron bersepakat membentuk tiga kelompok masing-masing 5 ekor laron. Ketiga kelompok diutus untuk terbang pergi mencari tempat yang ada cahaya, terang. Setiap kelompok harus meneliti, mencatat, dan melaporkan hasil penelitian kelompoknya kepada laron lain yang menunggu. Kelompok laron pertama terbang ke tempat sebuah api unggun milik pramuka yang lagi berkemah. Anggota kelompok ini terbang mendekati api unggun itu dan merasakan panas yang mengancam keselamatan mereka. Mereka kembali dan melaporkan bahwa cahaya atau terang itu adalah sesuatu yang mengancam kehidupan siapa saja yang mendekatinya. Cahaya dan terang adalah sumber bencana. Kelompok kedua, terbang ke sebuah rumah mewah yang dihiasi lampu-lampu kristal yang membuat laron-laron itu harus menabrak dinding-dinding kaca. Kelompok ini pulang dan melaporkan bahwa cahaya dan terang itu ada perangkap dan jebakan yang dibuat orang kaya.

Kelompok ketiga setelah ditunggu lama, tidak pulang-pulang juga. Semua laron mulai cemas dan gelisah menunggu teman mereka yang belum juga pulang melaporkan hasil penelitian mereka. Karena tidak sabar menunggu semua laron itu terbang mencari cahaya. Dari kejauhkan mereka melihat seberkas cahaya melalui celah dinding sebuah pondok milik petani. Cahaya itu berasal dari lampu sumbuh sebuah lampu pelita. Ternyata benar kelompok ketiga yang dicari melakukan penelitian di tempat itu. Mengapa mereka tidak pulang? Ternyata setiap anggota kelompoknya berusaha terbang dan menempel pada sumbuh pelita milik petani itu. Lima ekor laron, tertempel dan melekat rapi pada sumbuh lampu itu yang menjadikan terangnya lebih besar menerang seluruh ruang pondok itu. Betapa terkejutnya para laron yang datang mencari meraka karena kelima teman mereka telah menyatu dan memperbesar sumbuh sebuah lampu yang kecil. Dalam nada kagum dan penuh rasa bangga mereka berujar: Sesungguhnya kelima Saudara kita inilah yang telah mendapat arti, dan makna terang yang sesungguhnya karena mereka sendiri telah menjadi bagian dari sumber terang itu. Semua laron itu mendapatkan pelajaran yang agung dan mulia melalui lima saudara mereka yang tidak saja mencari arti terang dan cahaya tetapi justru telah menjadi sumber dan cahaya. Lalu semuanya pulang dan terus menceritakan keberanian teman mereka. Berkisah tentang perjuangan menjadi terang dan cahaya.

Malam ini kita menyaksikan dua kenyataan yang mewarnai kehidupan kita. Dua kenyataan itu adalah Kegelapan dan Terang. Situasi gelap dan terang tidak bisa dilepaskan dari pengalaman hidup kita. Upacara kita malam ini sesungguhnya menggambarkan kehidupan kita sebenarnya. Sebelum lilin Paska dinyalakan kita mengalami suasana gelap ibaran Laron-laron yang ada dalam kegelapan. Begitu lilin paska dinyalakan kegelapan tersingkir dan terang bersinar. Ketika kegelapan menyelimuti kita, kita sekan kehilangan harapan. Ketika siang berubah menjadi malam segalanya seakan diam, lumpuh. Sebaliknya, ketika mentari kembali dengan setia mendapati kita waktu fajar, ada harapan bersemi di sana. Ada nuansa kehidupan hendak ditawarkan buat kita setiap kali matahari dengan setia mendatangi kita.

Firman Tuhan yang diperdengarkan kepada kita malam ini mau menggambarkan sejarah perjalanan hidup manusia dengan segala suka dukanya. Bacaan bacaan malam ini memberikan kita gambaran tentang jatuh bangun kehidupan dan perjalanan manusia. Manusia mengalami suka duka, termasuk ketika manusia berhadapan dengan Tuhan sebagai asal dan tujuan hidupnya. Kisah sejarah perjalanan bangsa manusia penuh dengan pelbagai hal yang membingungkan. Bangsa manusia bagaikan sekawanan Laron yang mengalami kebingungan ketika berada dalam dunia yang nyata. Kebingungan manusia itu terjadi sejak perjanjian lama. Dari kisah yang ditampifkan melalui kitab-kitab perjanjian lama tadi kita mengetahui secara pasti bahwa perjalanan manusia itu memang selalu diuji. Iman Abram diuji, kesetiaannya dicoba Allah dengan meminta mengorbankan Ishak putra tunggalnya. Bangsa Israel yang mengalami penindasan oleh kekuasaan di Mesir, dikejar pasukan Firaun. Semuanya menggambarkan betapa perjalanan manusia itu penuh cobaan. Tetapi Tuhan yang menjadi tujuan manusia senantiasa memberikan jalan yang terbaik.

la masih membuka jalan bagi Israel yang setia. Laut menjadi kering dan tiang cahaya senantiasa menuntutun bangsa yang setia pada jalan keselamatan. Allah yang adalah kasih, tetap mencintai manusia yang sering jatuh ke dalam dosa. Ketika manusia berdosa, manusia berada dalam kegelapan. Tetapi, ketika manusia ingin dan berniat untuk keluar dari dosanya di sanalah ia masuk ke dunia yang bercahaya dan terang.

Malam yang gelap adalah gambaran kematian atau hidup tanpa harapan, dan siang yang cerah adalah gambaran kehidupan yang penuh harapan. Kegelapan adalah kematian dan sebaliknya terang adalah gambaran kehidupan. Kenyataan kematian dan kehidupan inilah yang kita rayakan selama pekan suci ini. Kita telah menyaksikan betapa kegelapan menguasai manusia sehingga Yesus Putra Allah disalibkan. Malam ini kita menyaksikan sendiri bagaimana terang sebagai buah kebangkitan menerangi kehidupan kita. Malam ini kita semua menyaksikan Tuhan yang bangkit, Tuhan yang memberikan cahaya buat kehidupan kita, Tuhan yang memberikan semangat baru bagi kehidupan. Karena itu malam ini kita semua dibebaskan dari kebingungan yang sering kita alami karena cahaya Kristus menghalaukan segalanya.

Penginjil Lukas malam ini juga menampilkan kebingungan sekelompok perempuan yang datang ke makam Yesus. Sekelompok perempuan yang berjalan ke makam Yesus bagaikan gerombolan laron yang mau mencari terang pada sumber terang yang sebenarnya. Mereka berziarah ke makam Yesus dengan segala perlengkapan sebagai ungkapan berbela sungkawa. Lebih dari itu kelom[pok perempuan itu datang ke makam untuk mencari sesuatu yang hilang. Mereka mau mencari Tuhan yang diyakini sebagai sumber kehidupan dan harapan. Mereka ke makam untuk mencari tetapi mereka mengalami kebingungan karena tempat pemakaman Yesus sudah terbuka dan kasong. Dalam kebingunan itu mereka mendapat penjelasan Malaikat sehingga sepulang dari sana mereka menceritakan apa yang sebenarnaya, apa yang ssungguhnya terjadi. Kesaksian sekelompok perempuan itulah yang memungkinkan terang kebangkitan Tuhan semakin terpancar luas kepada orang-orang yang mendengarkan kesaksian mereka termasuk kelompok para murid.

Tangggal 26 Juni 2011 saya memipin perayaan ekaristi di gereja taman Getzemani dan tanggal 27 Juni saya bersama rombongan peziarah mengadakan jalan salib ke gereja makam kudus di Golgota. Jalan salib ke Golgota itu dimulai dari Gereja Santa Anna dan Yoyakim dan harus melintasi pasar menuju Gereja Makam Kudus. Jalan salib itu perhentian 1-9 terjadi dilorong-lorng pasar sedangkan perhentian 10-14 berada dalam Gereja Makam Kudus dan umumnya berada dalam keheningan yang luar biasa. Di dalam gereja Golgota setiap peziarah berkesempatan memmaski tempat paling kudus selama setengah menit untuk mencium tempat di mana Yesus mengalirkan darah dan menyerahkan nyawanya di salib. Kita masuk melalui rungan yang sempit menyerupai tirai yang terbelah. Setelah keluar dari tempat itu kita sampai ke tempat di mana banyak orang dari segala bangsa manangis dan meratap, membakar kemenyan dan menabur bunga. Di situ ada batu pualam yang menyerupai tikar yang tebentang dan tempat itu merupkan tempat jezanah Yesus dibaringkan saat diberi rempa-rempa dan dikafani. Dari tempat itu, kita harus menaiki belasan anak tangga dan kita memasuki tempat makam kudus. Di tempat itu setiap peziarah berlutut dan berkesempatan masuk dan mencim makam kudus. Di ata makam kudus itu sebuah salib besar yang diapiti arca Bunda Maria dan Rasul Yohanes. Kiri kanan makam terlihat malaikat-malaikat seperti dikisahkan dalam injil tadi. Sebagai salah seorang yang umat Tuhan yang berkesempatan berziarah ke tanah Suci saya selalu menceritakan apa yang saya lihat dan alami selama 2 minggu berziarah di sana. Maksudnya sama seperti para wanita dalam injil tadi, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan dialami di sana.

Malam ini kita menerima terang Kristus yang bangkit karena kita yakin kebangkitan Yesus sebagai kebenaran yang harus dikatakan, diwartakan dalam kehidupan kita. Itu artinya kita menerima semangat Kristus. Menerima hidup yang diselamatkan dan tertebus karena itu kita semua yang mendapat terang berkewajiban untuk membagikan terang itu kepada sesama kita. Terang yang kita dapatkan dari Tuhan harus kita bawa dan nyalakan dalam kehidupan harian kita.

Sebagai orang beriman kita-saya dan Anda- harus segera menjadi bagian dari terang itu untuk kita bawa dalam seluruh tugas, karya pelayanan kita. Dunia tempat kita hidup, tempat kita bekerja mungkin masih banyak gelapnya. Tugas kita yang telah menerima terang dan telah menjadi bagian dari terang itu adalah mengatasi kegelapan-kegelapan yang terjelma dalam bentuk praktik hidup yang berlawanan dengan kehendak Tuhan. Di mana saja kita hidup, dan kita hidup sebagai apa itu tidak penting. Yang paling penting kita menjadikan diri kita sebagai terang karena sadar bahwa terang kita bukan dari diri kita tetapi bersumber pada Yesus sang Terang sejati.

Kita lebih dari seekor laron. Karena itu kalau kisah tentang laron membuat kita kagum maka betapa lebih mengaumkan lagi kalau kita menjadi terang. Kita telah membawa lilin sebagai simbol terang Kristus. Lebih dari itu malam kita sudah menjadi sepotong lilin yang bernyala. Mudah mudahan kita menjadi lilin hidup di tempat tugas dan karya kita. Orang bijak pernah bilang: tak ada gunanya engkau menggerutu ketika kegelapan menimpa engkau. Adalah lebih bijaksana bagimu kalau dalam kegelapan engkau berusaha menyalakan sebuah lilin. Tak ada gunanya engkau mengutuk kegelapan dunia kalau kamu tak rela tampil sebagai sebatang lilin yang bernyala di tengah kegelapan. Berkat untuk untuk kita… Amin



Tuhan Bangkit Alleluya….

Thursday, March 28, 2013

MISA KAMIS PUTIH 2023

Renungan Hari Kamis Putih, 28 Maret 2013
Kel.12.1-8.11-14 Ikor.11,23-26 Yoh.13,1-15
Komunitas Alma IPI Malang

Buka

Pada sore hari ini kita berkumpul untuk melaksanakana satu pesan penting yang dulu disampaikan Yesus dalam perjamuan terakhir. Setiap kali kita merayakan Ekaristi sebenarnya kita melaksanakan wasiat Yesus. la telah berpesan bahwa satu-satunya cara bagi kita untuk mengenangkan Kristus adalah merayakan apa yang dimintanya sebelum la kembali kepada Bapa-Nya. Pada sore ini Yesus memberikan tanda khusus untuk kita semua. la menjadikan diri-Nya sebagai makanan dan minuman yang menjamin kehidupan jiwa kita. Melalui peristiwa ini kita diminta untuk menyadari kehadiran Yesus secara simbolis dalam perayaan Ekaristi Kamis Putih ini. Kita hendaknya menaruh pengharapan terhadap Ekaristi sebagai wasiat akhir Yesus untuk kita. Yesus memberikan hidupnya untuk kita dengan maksud agar kita juga bisa menyumbangkan sesuatu untuk orang lain. Kita akui kelemahan kita. Kita kosongkan hati dan diri dari dosa agar rahmat Tuhan sore ini mengalir dan menjamah hidup kita



Renungan
Ilustrasi: Kalau Musim hujan berkepanjangan biasanya orang mendengarkan bunyi binatang. Binatang apakah itu? Itu adalah Kodok. Mengapa Kodok berbunyi kalau musim hujan tiba? Ternyata ada sejarahnya, ada cerita. Beginilah kisah dan ceritanya;

Dulu ada satu keluarga kodok dengan dua ekor anak masing-masing namanya Rambo dan Ramba. Rambo sebagai anak sulung termasuk anak yang baik, setia, taat pada orangtuanya. Lain halnya si Ramba. Yang bertingkah laku aneh. Segala sesuatu dibuat dan dilakukannya secara terbalik. Kalau ibunya meminta ramba menimba air maka dia membawa api. Jika disuruh ke utara maka Rampa pasti ke selatan. Karena itu semua perintah yang diberikan kepada Ramba harus dibuat terbalik.

Ketika Rambo masih merantau, ibu mereka menderita sakit. Menyadari ajal mendekat, induk kodok itu memanggil di Ramba untuk mendengarkan pesan penting. Pesan yang disampikan kepada Ramba “Kalau nanti ibu mati, tolong kuburkan ibu di muara sungai. Dengan pesan ini induk kodok berkeyakinan Ramba nanti akan menguburkan jasadnya di daerah pegunungan biar tidak dilanda banjir. Beberapa hari kemudian induk kodok itu mati. Ramba ingat betul pesan agar ibunya dikuburkan di Muara. Pada saat kematian ibunya Ramba menyadari bahwa selama hidup ia selalu berbuat yang berlawanan. Karena itu, Ramba, berpikir untuk pesan yang terakhir itu harus dilakukan secara benar, tidak boleh dibuat terbalik. Karena itu Ramba tidak menguburkan jasab ibunya di pegunungan di muara sungai sesuai yang dipesankan ibunya. Tak lama kemudian hujan lebat turun sungai banjir dan meluap. Banjir itu menerjang kawasan muara sampai kuburan induknya hilang tanpa bekas. Setelah banjir mereda Ramba ke muara dan ia menangis sepanjang hari karena kuburan ibunya telah disapu banjir. Karena itu, setiap kali ada hujan lebat kodok pasti berbunyi untuk mengenangkan kembali pristiwa tragis yang menimpa ibu mereka.

Kata kunci yang perlu kita ambil dari kisah Kodok ini adalah adanya PESAN menjalng Kematian. Dalam berbagai budaya masyarakat, pesan yang disampaiakan seseorang menjelang ajal dianggap menjadi pesan paling penting untuk diingat, dikenang sekaligus akan menuntun perilaku hidup.

Sore dan malam ini kita berkumpul untuk mengenangkan PESAN Yesus yang dahulu pernah disampaikan kepada para Rasul. Pada hari ini, sebelum merayakan Paska, Gereja mengajak kita semua untuk mengenangkan terjadinya sakramen Ekaristi dan Imamat. Kedua Sakramen ini dibuat Yesus pada malam perjamuan terakhir bersama murid-Nya di ruang atas sebuah rumah. Ruang itu disebut “coenaculum”. Tanggal 26 Juni 2011 saya bersama rombongan peziarah masuk dan berdoa di tempat itu. Tempat Yesus merayakan perjamuan terkahir itu berada di tingkat kedua (sehingga disebut ruangan atas) dan kini berada di dalam gereja yang nama Gereja Ayam Berkokok. Di sisi kanan Gereja itu ada patung Petrus yang mengakal Yesus sat ditanyai perempuan dan saat itu ayam berkokok. Ruangan paling bawah gereja itu dahulu dijadikan tempat Yesus dipenjarakan semalam sebelum setelah ditangkap di taman Getzemani. Taman Getzemani berada sekitar 1 km turun dari gereja ayam berkokok. Antara gereja ayam berkokok dan gereja Taman Getzemani ada gereja Air mata tempat Yesus menangis meramalkan keruntuhan kota Yeusalem. Gereja Taman Getzemani berada di lembah Kidron, tempat mengalirnya air dari kawasan kenisah melalui gerbang sampah salah satu dari delapan gerbang Yerualem. Di ruang atas itu kosong dan cukup luas. Di situ saya membaca ada tulisan: tempat perjamuan terkahir, Yesus bersama muridNya. Di tempat itu kami berdoa sebelum turun ke Gereja Getzemani. Kami berdoa di tempat itu memohonkan rahmat cinta kasih. Mengapa demikian?

Kami semua ingat bahwa di situlah Yesus membasuh kaki para murid-Nya, di tempat itu juga Ia mengadakan sakramen ekaristi: roti dan anggur diubah-Nya menjadi tubuh dan darah-Nya sendiri. Saat itu juga Ia mengadakan sakramen imamat: Ia memberi perintah kepada para rasul agar selalu mempersembahkan korban itu dalam perayaan bersama orang lain, dan mereka yang memimpinnya.

Setelah menerungkan pesan dan amanat Yesus di Gereja Ayam berkokok saya bersama rombongan mendapat kesempatan istimewa untuk meyarakan misa di gereja Taman Getzemani. Saya sendiri merasakan sebagai berkat luar biasa karena boleh merayakan ekaristi misa di sebuah altar yang di depannya menjadi tempat Yesus dahulu berdoa dan berkeringat darah sebelum ditangkap. Bagi saya dan rombongan peziarah merayakan misa di beberapa tempat seperti di Gua padang Gembala, di Gereja Kana, di Gerja Nasareth merupakan pengalaman iman yang luar biasa. Pengamalam iman yang sama kita alami malam ini di tempat ini. Kita merayakan apa yang diminta dan dipesankan Yesus untuk kita.

Pertemuan dan kebersamaan kita di sini saat ini adalah satu kebersamaan untuk mendengarkan nasihat dan wasiat, pesan Yesus Kristus. Dalam perjamuan inilah kita sendiri mendengarkan pesan Yesus itu. Dan semua pesan itu terungkap dalam bacaan hari ini. Hari ini kita semua datang untuk mendengarkan pesan akhir Yesus yang pernah disampaikannya 21 abad silam. Jika bangsa Israel selamat berkat darah anak domba maka kita diselamatkan ber¬kat darah Yesus. Yesus meninggalkan tubuh dan darah Nya untuk menjamin kelangsungan kehidupan kita yang percaya kepada Nya. Dalam perjamuan akhir Yesus secara simbolis menjelaskan tentang tugas perutusan-Nya. Tugas perutusan itu kini diteruskan dan diwariskan kepada para rasul, untuk tetap mengenangkan Dia.

Hal inilah yang menjadi inti tekanan Santo Paulus dalam bacaan kedua tadi. Paulus mengingatkan orang Korintus yang melupakan pesan Tuhan. Itulah sebabnya Paulus mengingatkan: Setiap kali manusia makan dan minum dari piala yang pernah dibuat Yesus, mereka mewartakan derita dan kematian Tuhan. Apa yang dikatakan Paulus itu merujuk pada sakramen Ekaristi.

Sakramen Ekaristi adalah sakramen cinta kasih. Dalam ekaristi manusia seiman bersama-sama menerima rahmat Ilahi: kekuatan surgawi, kerja sama, saling mendukung, sama-sama bersyukur dan berdoa serta mendengarkan sabda dalam kebersamaan yang diikat semangat persaudaraan karena kasih. Dalam sakramen Ekaristi: kita mendengarkan sabda Tuhan yang menguatkan, memberi jalan, memberi kesembuhan, memberi terang. Dalam sakramen ekaristi: kita berdoa bersama, menyanyi bersama. Kita mewujudkan persatuan iman. Tanda kita hadir sebagai putera-puteri Allah. Ekaristi menggantikan korban binatang perjanjian lama seperti yang digambarkan bacaan pertama. Ekaristi adalah kurban baru yang sempurna, sebab Tuhan sendiri menjadi kurban-Nya.

Ekaristis kenangan akan Tuhan tidak dapat terjadi tanpa imam. Itulah sebabnya Yesus juga mengadakan sakramen imamat. Tuhan membutuhkan orang khusus untuk meneruskan semangat cinta kasih-Nya secara turun temurun. Imam-imam dibutuhkan untuk memimpin, mengajar, menguduskan atau menruskan misi kegembalaan Yesus.

Apa yang dikatakan Paulus ditegaskan Yohanes dalam injilnya. Ia melukiskan tindakan Yesus merayakan perjamuan terakhir untuk menunjukkan bentuk dan cara mengenangkan kematian Yesus. Yesus memberikan contoh dengan cara yang paling praktis, gampang, sederhana. Nasehat. pesan Yesus disampaikan dalam tindakan nyata. Yesus bertindak praktis. Ia membuat sesuatu yang sangat jelas dan konk¬ret. Ironisnya para rasul justru tidak mengerti. Mereka tidak mengerti akan apa yang Yesus lakukan. Kehera¬nan itu nyata dalam reaksi Petrus sebagai orang nomor satu dalam kelompok para rasul. Petrus saja tidak mengerti apalagi yang lainnya. Yesus harus menjelaskan kepada mereka perihal maksud tindakan-Nya. Kata-kata Yesus tegas dan jelas: Jika kamu melihat aku gurumu berbuat demikian, maka hendaknnya kamu juga berbuat yang sama. Ini berarti Yesus berpe¬san supaya para rasul berbuat seperti yang dibuat Yesus. Para murid dituntut untuk membasuh kaki sesamanya. Aku gurumu telah memberikan teladan supaya kamu juga berbuat demikian. Pesan dan nasehat Yesus ini amat penting dan mendesak. Ia memberikan nasehat dan pesan dengan berbuat. Ia berpesan dengan tangan bukan dengan mulut.

Palam perjamuan perpisahan Yesus memberikan Tubuh dan Darahnya sendiri sebagai jaminan kehidupan. Harapannya kita semua yang telah menjadi pengikutnya bisa memberikan kehidupan kepada orang lain. Memberi¬kan diri bagi orang lain bukan hal mudah. Dibu¬tuhkan kemauan menyangkal diri. Setiap pelayanan yang diberikan kepada sesama adalah wujud pemberian diri kita kepada orang lain. Hari ini juga dalam cara yang sama Yesus mau menyampaikan pesan itu. Kita diminta untuk memba¬suh kaki sesama, menjadi pembersih sesama.

Saat ini masih begitu banyak orang yang perlu dibasuh, dibersihkan. Masyarakat kita masih banyak yang kotor otak dan perasaannya, kotor jiwa dan raganya. Kotor tutur kata dan tindakannya. Yesus memberi teladan membasuh kaki para murid agar para murid melanjutkan kebajikan melayani itu kepada manusia lain. Kita datang ke tempat ini, mendengar, menyaksikan bagaimana Yesus memberi contoh, teladan berbuat baik itu. Kita membantu sesama berarti kita mau membasuh kaki sesama. Setiap keinginan baik untuk menasihati sesama kita yang hidup tidak sesuai dengan kehendak Tuhan juga cara kita membersihkan kaki sesama. Kita semua dipanggil untuk memba¬suh kaki sesama kita yang ditindih beban kehidupan entah karena hidup dalam dosa, kurang diperhatikan, mengalami kesulitan dalam kehidupan keluarga dan lain lain. Kesungguhan kita untuk bertanggungjawab pada tugas panggilan kita adalah tandanyakita mau membasuh kaki sesama dan melayani sesama.

Gereja punya harapan agar semua pengikut Kristus, yang telah mendengarkan prinsip hidup dalam kasih harus menjalankan hidup penuh cinta kasih. Malam ini kita diundang untuk merayakan, mengenangkan perbuatan Yesus itu. Apa yang diharapkan Tuhan dari kita? Yang diharapkan gereja dari kita adalah Hiduplah saling melayani dalam semangat cinta kasih. saling mengampuni. Dan akhirnya cinta kita kepada Tuhan diungkapan dalam Doa dan ekaristi penjamin kehidupan jiwa kita. Paulus mengingatkan kita: setiap kali saudara makan roti ini dan minum dari piala ini, saudara mewartakan Tuhan sampai la datang. Tuhan memberkati kita… Amin

Wednesday, March 6, 2013

RENUNGAN ARWAH


Misa Pemakaman Frater Silvester, BHK
Yesaya 35,1-10; Matius 21,18-22
Provinsialat Frateran BHK Malang, Minggu, 13 Jan. 2013

Buka

Seminggu sebelum Natal kita berkumpul di tempat ini karena salah seorang yang kita kasihi dalam diri Frater Marianus dipanggil pulang. Hari ini kita berkumpul lagi di tempat ini karena seorang yang kita kasihi juga dipangil pulang. Sebagai orang beriman kita boleh yakin bahwa rasa-rasanya Tuhan terlalu mencintai tarekat Bunda Hati Kudus sampai-sampai dua orang penting dari tarekat ini dipanggil Pulang. Frater Sil dipanggil pulang sebelum ia mewujudkan kerinduannya mengabdi Tuhan di tanah misi, mengemban misi Kongregasi. Sajauh yang saya dengar dari pembicaraan para Frater di komunitas Claket 21 Frater Sil sedang mempersiapkan diri untuk berangkat ke tanah misi. Itu rencana manusia dan rencana tarekat tetapi Tuhan menentukan Frater Sil untuk secepatnya menjalankan misi tarekat di alam yang kekal. Dalam iman dan harapan akan kerahiman dan kemurahan Tuhan saat ini kita berdoa untuk perjalanan Frater Sil kembali ke rumah Bapa. Doa-doa kita melapangkan jalan dan membuka pintu perhentinan kekal bagi Frater Sil. Agar doa kita berkenan kepada Tuhan dan berdaya meneyelamatkan bagi  Jiwa saudara kita ini baiklah kita akusi salah dan dosa kita... 

Renungan

Harian Kompas edisi Minggu 29 Januari 2012 memuat sebuah cerita Pendek berjudul ”Pohon Hayat”. Pohon Hayat yang menjuduli cerpen itu adalah sebatang pohon raksasa yang tumbuh di alun-alun sebuah kota. Seorang kakek bercerita kepada cucunya tentang pohon itu. Suatu hari sang cucu meminta kakek membawanya ke alun-alun kota untuk melihat pohon yang diceritakan itu. Setiba di alun-alun keduanya langsung menuju pohon yang besar, tinggi, dan rindang itu. Kakek menceritakan kepada cucunya bahwa pohon itu tidak diketahui kapan ditanam dan juga tidak diketahui siapa yang menanamnya.  Setelah keduanya berteduh, sang kakek mengajak cucunya untuk menengadah mengamati dahan, ranting, dan daun-daun pohon itu. Sambil mengamati bagian pohon itu, sang kakek berkata kepada cucunya, lihat dan tahukah kamu bahwa ada banyak misteri terungkap dari dahan, ranting, dan daun pohon ini? Setelah lelah mengamati bagian-bagian pohon raksasa itu sang kakek melanjutkan pembicaraannya kepada cucunya, katanya:  kehidupan setiap penduduk di kota ini tersemat pada setiap lembaran daun yang bertengger di cabang, ranting, dan tangkai pohon ini. Setiap kali ada satu daun yang gugur itu artinya ada seseorang di kota ini telah lepas dari kehidupan. Satu daun artinya satu kehidupan, Satu daun adalah satu jiwa, begitu kisah sang kakek.

Setelah mendengarkan penjelasan kekeknya, mata sang cucunya mengamati banyak daun kering berserakan dan terinjak-injak orang yang datang ke alaun-alun kota. Lalu terjadilah dialog lanjuutan antara sang kakek dan cucunya. ”Apakah daun-daun kering yang berserakan ini adalah jasad orang-orang yang sudah mati?” tanya sang cucu sambil memperlihatan daun-daun kering. ”Ya, daun-daun itu adalah sisa jasad mereka dari pohon kehidupan.” ”Berarti  termasuk bekas jasad ayah ada di antara daun-daun kering itu?” lanjut sang cucu. ”Mungkin. Tetapi kakek kira, jasad ayahmu kini sudah menyatu kembali dengan tanah.” Mengapa daun-daun kering itu tidak dibersihkan atau dibakar saja.” ”Tak perlu, karena lambat laun mereka juga akan kembali ke muasalnya, tanah, melebur menjadi tanah. Dari tanah kembali ke tanah.”
”Kalau daun-daun yang mulai tampak kuning yang ada di atas sana itu milik siapa?” tanya sang cucu ” Itu semua milik orang-orang tua yang masih hidup di kota ini, mereka-mereka yang sudah lama bertengger di atas pohon kehidupan.” ”Apakah mereka akan segera gugur.” Ya,”Tentu saja, karena gugur itu adalah nasib dan takdir mereka.” ”Apa kakek ada di antara salah satu daun kuning yang siap gugur?” ”Aku tidak tahu. Itu rahasia yang di atas, tidak seorang pun berhak tahu.”
Sang cucu kembali  menengadahkan kepala sambil mengamati, mencari-cari di mana letak daun milik kakeknya, daun miliknya, daun milik ibunya, dan daun dari sanak keluarganya.”
Apakah ”Tunas-tunas daun yang tersemat di pucuk pohon itu, adalah bayi-bayi yang baru lahir di kota ini?” ”Ya. Benar, memang kenapa?” Ya, ”Berarti, sekarang, aku berada di antara daun-daun muda yang bertengger di atas sana?” ”Ya. Tentu saja lanjut kakek.” ”Wah itu artinya, masa gugurku masih sangat lama.”  ”Siapa bilang? Setiap lembar daun kehidupan yang ada di atas sana adalah rahasia. Tak ada seorang pun yang tahu. Gugur adalah hak semua daun, dari yang kuning, yang masih segar dan hijau, bahkan yang masih tunas pun bisa saja patah dan gugur.”
Seminggu setelah kembali dari alun-alun kota, sang kakek menderita sakit. Makin hari kesehatannya memburuk. Sang cucu teringat akan kata-kata sang kakek sewaktu mereka berteduh di bawah pohon di alun-alun kota. Sang cucu lari ke pohon itu untuk mengamati apakah ada daun kuning yang akan gugur ditiup angin. Setelah satu jam menunggu di bawah pohon itu, sang cucu merasakan datangnya angin menghempas pohon itu. Tampak  olehnya beberapa daun kuning, daun segar, dan pucuk muda dari pohon itu gugur beterbangan lalu rebah ke tanah. Setelah menyaksikan itu sang cucu pulang dan dalam perjalanan ia mendengar tangisan karena ada anak kecil, orang dewasa yang meninggal. Lebih dari itu, setiba di rumah ia menyaksikan kakeknya telah meninggal.
Kisah kakek dan cucu yang diangkat Mashdar Zainal melalui Cerpen Pohon Hayat (pohon hidup)  yang saya jadikan ilustrasi dalam reunungan ini adalah kisah yang sungguh bersentuhan langsung dengan dimensi terdalam atau hal pokok berkaitan dengan hidup dan kehidupan kita. Penulis cerpen ini mengabstrasikan kehidupan nyata melalui dua tokoh rekaannya yaitu kakek dan cucunya yang secara tepat menganalogikan hidup dan kehidupan kita dengan sebatang pohon yang tumbuh di tengah alun-alun kota. Dialog antara kakek dan cucunya dalam cerpen tadi sudah menjadi renungan dan bahan refleksi untuk kita. Diri dan hidup kita bukanlah apa-apa. Kita hanyalah selembar daun yang tumbuh pada salah satu ranting pohon hidup yang juga cepat atau lambat akan menguning dan tua. Kapan gugurnya, kapan agin menerpa, dan menerbangkannya tidak ada yang tahu. Itu misteri yang Tuhan sembunyikan bagi semua kita manusia. Kita hanya bisa membaca gelaja alam  ketika daun mulai kuning kita bisa pastikan daun itu akan gugur. Daun kehidupan manusia menjadi kuning tidak bisa diartikan seperti warna lampu lalulintas, kuning siap berubah menjadi hijau. Warna kuning daun kehidupan manusia menjadi pratanda saat pulang, saat mudik abadi, saat kembali akan segera tiba.
Selembar daun pohon kehidupan telah gugur kemarin dalam diri Frater Silvester, BHK. Kemarin sebagai daun dari pohon kehidupan Saudara kita Frater Sil gugur setelah melewati proses panjang dalam perawatan medis. Upaya Tarekat dan para medis untuk merawatnya hanyalah upaya menahan badai yang datang menmguncang dan membuatnya gugur. Badai itu tampaknya amat dahsyat sampai selembar daun yang kita cinta gugur yang membuat kita terhenyak dan sedih. Frater Sil telah gugur setelah mengisi hari dan merekatkan daun kehidupannya dalam kebersamaan dengan sesama anggota keluarga besar frater Bunda Hati Kudus. Keluarga Besar Frater Bunda Hati Kudus tentu merasa kehilangan selembar daun yang turut memberi citarasa pada persaudaraan para frater dengan kehadiran Frater Sil dalam tugas dan pelayanannya. Keluarga-keluarga bearnya  di Flores, kita semua, dan siapa saja yang pernah mengenal Frater Sil tentu merasa kehilangan. Kepergian Frater Sil, gugurnya selembar daun dari pohon kehidupan sungguh menyadarkan kita semua bahwa almarhum resmi kembali mengakrabi bumi asal. Dia datang dari tanah dan kembali ke tanah. Kemarin Frater Sil ibarat selembar daun yang gugur diterpa angin. Bagi Keluraga Bear Tarekat Frater BHK, keluarga dan yang sungguh mengenalnya, almarhum pasti lebih dari selembar daun, dia adalah sebatang pohon yang terus bertumbuh memunculkan pucuk-pucuk daun baru melalui semangat dan teladan hidupnya yang pantas dikisah dan dan dikenangkan Ia gugur sebagai daun tetapi ia tinggalkan segala hal yang baik kepada kita yang ditinggalkannya. Karena itu, meski secara fisik ia telah hilang dari pandangan kita tetapi secara rohani ia tetap menjadi penyubur pohon kehidupan tarekat oleh teladan dan cara hidupnya yang baik.
Daun kehidupan yang gugur kemarin dalam diri Frater Sil bukanlah daun tanpa arti. Kemarin Frater Sil memulai sebuah perjalanan mudik abadi dan menjawabi panggilan sanga Khalik. Karena itu sebagai orang beriman kita percaya Frater Sil bukanlah pengembara tanpa tujuan. Bagi kita kepergiannya membuat kita sedih sebagai mansia,  tetapi kita yakin Tuhan mempunyai rencana indah bagi almarhum, bagi tarekat,  dan bagi kita. Mungkin kita merasa seperti tanpa harapan tetapi nubuat Yesaya dalam bacaan pertama sungguh menguatkan kita karena Tuhan berkuasa mengubah segalanya. Tuhan berkuasa mengubah situasi gurun menjadi situasi yang membawa sukacita. Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Lebih dari itu Tuhan sendiri datang membawa pembalasan dan ganjaran dan membuka jalan bagi Kudus bagi orang benar. Di situ tidak akan ada singa, binatang buas karena orang-orang yang diselamatkan akan berjalan di situ, dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai.
Gambaran sukacita padang gurun seperti yang dinubuatkan Yesaya ini jelas menjadi harapan kita semua bagi almarhum Frater Sil. Sukacita dan sorak sorai kemenangan itu tentu kita yakin didapat almarhum karena selama hidupnya almarhum telah menjadi pohon ara yang berbuah lebat dan manis dalam berbagai kebajikan dan kebaikan ia lakukan baik untuk tarekat maupun untuk gereja. Kalau melihat kehebatan Frater Sil sebagai seorang Organis, maka dalam iman kita boleh percaya bahwa Tuhan memanggilnya untuk mengiringi paduan suara para malaikat di surga. Kita manusia boleh melupakan semua kebaikan yang dibuat almarhum tetapi Tuhan tidak melupakan segala kebaikan itu.
Apa yang baik dan segala sesuatu yang baik yang manusia lakukan  selama hidup tidak akan dilupakan Tuhan. Tuhan  menghendaki agar manusia hidup sebagai pohon ara yang bisa menghasilkan buah dan buah itu demi kebaikan orang lain. Injil yang diperdengarkan untuk kita saat ini pada intinya mau mengatakan bahwa manusia sebagai ciptaan  Tuhan harus memiliki kebaikan yang berguna untuk orang lain. Kisah dan kasus pohon ara yang diancam Yesus dalam injil tadi terjadi karena pohon ara itu menyalahi hukum musim dan hukum alam untuk berbuah. Pohon ara yang diancam Yesus adalah pohon ara tanpa kebaikan, pohon ara tanpa kebajikan.
Kisah Cerpen Pohon Hayat dalam ilustrasi awal tadi kiranya mendorong kita untuk memaknai perjalanan hidup kita. Dan kisah pohon ara dalam injil seharusnya mewajibkan kita untuk berkehidupan dengan buah-buah kebaikan dan kebajikan. Kehadiran kita dalam peristiwa kepergian Frater Sil ini kiranya menjadi saat rahmat yang membawa kita pada permenungan akan kualitas diri, pohon kehidupan kita. Kisah pohon ara  dan kisah pohon hayat menjadi kisah sarat makna untuk kita semua baik yang masih kecil, yang sudah dewasa maupun yang sudah lanjut usia. Setiap kita bisa menilai apakah daun pada pohon kehidupan kita baru bertumbuh ataukah sudah hijau ataukah sudah mulai berwana kuning. Ingat misteri daun gugur pada pohon kehidupan tidak memandang  umur. Bahwa daun kehidupan kita akan gugur itu sudah pasti tetapi bagaimana kita menyiapkan kepastian itu, itulah yang perlu kita antispasi dengan selalu mau menjadi pohon ara yang berbuah.
Berbuah kebaikan dan kebajikan itulah yang Tuhan inginkan. Bukan sekadar hidup rimbun-rimbunan. Berbuah adalah panggilan kehidupan dan itu terjadi dalam kerja dan usaha. Akhirnya semoga sekembali dari tempat ini kita menata pohon kehidupan kita. Berkat Tuhan untuk kita semua! Amin

Claket, 21 Malang, Minggu, 13 Jan.2013







Tuesday, November 13, 2012

REKOLEKSI KELUARGA


MENELADANI
KELUARGA KUDUS NASARETH
MEWUJUDKAN KELUARGA KATOLIK RAJAWALI[*]

RD.Bonefasius Rampung[†]

1. Pengantar
Minggu lalu saya dikontak mellalui sms oleh Pak Doni. Kemudian disusul dengan pembicaraan per telepon. Intinya meminta kesediaan saya untuk memimpin misa bagi keluarga yang mengikti kegiatan rekoleksi dan Ziarah di Tumpang. Pada hari Kamis, 15 November 2012. Saya menerima permintaan itu. Beberapa hari kemudian Jumat, 9 Novemer 2012 saya mendapat sms dari Pak Doni dan isinya berkembang. Dia meminta saya untuk menerima tugas baru lagi selain misa yaitu memberi materi yang berkaitan dengan kehidupan keluarga dengan batas waktu satu jam dari pukul 08.30-09.30.  Permintaaan itu juga saya terima dengan konsekuensi harus menyiapkan bahan rekoleksi itu di tengah kesibukan perkuliahan. Dalam keadaan serba terbatas saya coba berusaha menyiapkan bahan rekoleksi itu yang saat ini akan saya berikan kepada kita semua yang hadir.

2. Penegasan Tema
Tema yang ditawarkan kepada saya melalui pesan singkat atau SMS tadi adalah: “MENELADANI KELUARGA KUDUS NASARETH. Tema ini amat singkat karena hanya terdiri atas 4 kata. Tema ini bukanlah sebuah kalimat karena diawali dengan kata kerja yang dalam ilmu bahasa menduduki fungsi predikat. Tema ini tanpa subjek. Kalau mau dijadikan sebagai kalimat maka harus ada subjeknya. Dan subjek itu harus menjawab pertanyaan tentang siapa yang meneladani keluarga Kudus Nasareth? Dalam konteks rekoleksi ini bapa dan ibulah yang menjadi subjeknya. Dari tema yang singkat dan sederhana ini kita sendiri menjadikan diri sebagai subjek.  
Dari 4 kata yang membentuk tema ini, kata Keluarga ditempatkan sabagai pusatnya. Menarik bahwa kata keluarga diapiti kata kerja meneladani dan kata kudus. Kata meneladani, merupakan kata yang mengacu pada adanya kegiatan, aktivitas. Meneladani adalah tanda aktivitas dan aktivitas adalah bahasa kehidupan. Orang meneladani berarti orang terlibat dan melibatkan diri dalam satu aktivitas dan hal itu hanya dilakukan oleh orang yang hidup. Meneladani adalah gerakan yang membawa konsekuensi adanya perubahan. Perubahan yang muncul dari usaha meneladani bisanya sekaligus mengukur kualitas sang subjek yang melakukan itu.  
Dari tema tadi “Keluarga” dilihat sebagai sasaran atau titik tuju dari kegiatan meneladani. Tema tentang keluarga tentu amat revelan. Gereja sungguh menyadari bahwa keluarga adalah basis gereja sebagai ecclesia domestica. Karena keluarga sebagai basis gereja, perhatian terhadap masalah kehidupan keluarga harus selalu menjadi prioritas dalam kehidupan orang beriman. Dalam konteks itu pula, saya menerima tawaran untuk memberikan rekoleksi ini. Meskipun demikian, para peserta rekoleksi jangan mengharapkan saya akan mengulas masalah keluarga itu secara teoretis ilmiah karena forum ini bukanlah forum ilmiah. Saya berkeyakainan bahwa semua peserta adalah praktisi dalam dunia kehidupan keluarga. Peserta sekalian adalah arsitek kehidupan keluarga. Saya hanyalah orang luar yang coba melihat dan menempatkan keluarga itu dalam perspektif rohani. Agar dimensi dan perspektif rohani ini sungguh mendasari pembicaraan kita dalam konteks tema yang kita rumuskan, izinkanlah saya memberi nuansa rohani pada tema itu dengan memperluas tema itu menjadi: “MENELADANI KELUARGA KUDUS NASARETH MEWUJUDKAN KELUARGA KATOLIK RAJAWALI”.
Tema yang dipeluas ini sengaja saya rumuskan untuk membingkai seluruh pikiran dan pemahaman kita agar pembicaraan kita tentang keluarga tidak membias. Untuk apa kita meneladani Keluarga Kudus? Jawabannya untuk mewujudkan Keluarga Katolik yang kudus yang baik, yyang unggul. Identitas dan atribut  Katolik itu penting ditekankan agar kita selalu memaknai kembali seluruh ziarah kehidupan keluarga kita. Keluarga Katolik model apa dan macam mana yang harus kita bangun? Jawaban terhadap pertanyaan ini harus dan wajib merujuk pada spirit, semangat, mentalitas yang mendasari dan mencitrakan kehidupan keluarga kita yang beridentitas katolik itu. Saya mencoba menawarkan sebuah pola, model, dan spirit keluarga katolik dalam sebuah analogi dengan mengambil spirit seekor burung Rajawali. Itulah sebabnya dalam tema yang diperluas tadi kita temukan kata Rajawali. Baiklah kita diajak untuk berkilas balik  melihat identitas kita sebagai keluarga katolik sebelum kita memaknai Keluarga berspirit Rajawali.

3. Keluarga Katolik dan Perwujudan Identitasnya
Dalam sejarah perkembangan kekristenan, kita menemukan bahwa gereja perdana bermula dari sebuah perkumpulan rumah tangga. Ketika itu belum ada gedung gereja. Orang berkumpul di rumah-rumah, maka disebut pula jemaat rumah. Paulus pernah menulis:  Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus (Roma 16:5). Rumah bukan hanya tempat untuk berkumpul, tetapi dalam rumah itu juga ada keluarga yang membentuk persekutuan berdoa dan belajar. Selain tuan rumah, hadir pula orang-orang yang bekerja di rumah itu, para tetangga dan sanak keluarga lainnya. Intinya adalah keluarga itu sendiri yaitu orang tua dan anak-anak mereka. Siapa yang memimpin dan mengajar persekutuan itu? Ayah dalam keluarga itulah yang memimpin. Hal ini meneruskan kebiasaan keluarga Yahudi, di mana seorang ayah memberikan pendidikan iman kepada anak-anaknya.
Pada waktu itu belum ada komisi keluarga dan komisi  kateketik  seperti sekarang yang menyiapkan bahan katekese tentang kehidupan keluarga. Masa gereja perdana keluargalah yang menjadi komisi kateketik yang melakukan katekese berkaitan dengan iman. Anak-anak belajar tentang segala hal berkaitan dengan iman di rumah mereka. Gurunya adalah ayah dan ibu mereka sendiri. Kehidupan keluarga sehari-hari dijadikan ruangan belajar. Dengan demikian ayah dan ibu memiliki peranan penting dalam pendidikan iman. Ayah dan ibu menjadi ''guru dan imam'' bagi anak-anaknya. Keluarga menjadi wadah utama pendidikan agama. Persekutuan keluarga masa itu juga menjadi wadah bagi orang-orang yang belum Kristen untuk mengenal pokok-pokok dasar ajaran Kristen. Dengan demikian keluarga menjadi sebuah gereja kecil, gereja rumah (ecclesia domestica).
Sejarah menunjukkan kepada kita bahwa keluarga memiliki peran penting dalam kehidupan gereja. Kekristenan berkembang mulai dari gereja dalam keluarga (ecclesia domestica). Dalam rangka mengingatkan kembali betapa pentingnya kehidupan keluarga dalam perkembangan gereja, maka ditetapkanlah  masa khusus bagi  penghayatan panggilan hidup keluarga. Dalam kesadaran seperti inilah kita bisa memahami mengapa gereja mentapkan adanya tahun keluarga
Bagaimanakah identitas keluarga sebagai ''gereja kecil''? Sama seperti hakikat gereja adalah persekutuan orang-orang yang percaya kepada Kristus yang dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia, demikian pulalah hakikat keluarga sebagai sebuah gereja kecil. Dalam penghayatan sebagai gereja kecil, keluarga Katolik seharusnya memiliki identitas. Pertama, melakukan kehendak Allah. Keluarga sebagai gereja kecil memiliki identitas melakukan kehendak Allah, yaitu dengan mendengarkan Firman Allah dan melakukannya. Identitas keluarga yang melakukan kehendak Allah penting untuk dihayati, teristimewa dalam menyikapi perubahan-perubahan zaman. Firman Allah menjadi dasar dalam menyikapi pelbagai tuntutan perubahan. Dalam rangka melakukan kehendak Allah, keluarga perlu meneladani kedekatan relasi dengan Tuhan dan sesama. Rekoleksi seperti ini menjadi bentuk konkretnya.
Keluarga yang melakukan kehendak Allah juga bisa dilihat perwujudannya antara lain dalam komunikasi satu dengan yang lain serta solidaritas. Jika dalam keluarga tidak terjadi komunikasi yang baik, biasanya akan muncul kesalahpahaman, saling mencurigai dan tidak mempercayai hingga terjadilah konflik yang berkepanjangan. Dengan demikian, keluarga sebagai gereja kecil yang melakukan kehendak Allah perlu menerjemahkan kehendak Allah dalam komunikasi yang penuh kasih dan meneladani, sehingga tercipta suasana hidup bersama yang akrab dan rukun. Dengan hidup dalam kehendak Allah, maka setiap anggota saling memahami dan menghargai. Satu dengan yang lain akan dapat merendahkan hati, menempatkan kepentingan orang lain lebih utama daripada kepentingannya sendiri, sehingga semakin hari semakin menyerupai kehidupan Kristus (Filipi 2:1-8).
Dalam rangka melakukan kehendak Allah, maka penting pula keluarga meneladani solidaritas satu dengan yang lain. Solidaritas itu tampak dalam segala peristiwa yang menggembirakan atau menyedihkan. Solidaritas terungkap antara lain dalam sikap empati dan murah hati. Hal ini bukan saja merupakan sikap kepada sesama anggota keluarga tetapi juga berkembang dalam solidaritas kepada semua orang dalam rangka meneladani persaudaraan sejati. Persaudaraan sejati adalah wujud pelaksanaan perintah mengasihi Tuhan dan sesama (Matius 22:34-40).
Keluarga Katolik yang otentik adalah keluarga yang membuka diri dengan penuh cinta kasih dan komitmen baik kepada masyarakat maupun gereja. Dengan demikian, kehangatan kasih dan persaudaraan bukan hanya untuk anggota keluarga tetapi juga bagi masyarakat sekitarnya. Ini berarti keluarga tidak membangun persekutuan yang eksklusif tetapi sebuah persekutuan yang inklusif. Dalam hal ini keluarga terbuka untuk siapa saja yang ingin melakukan kehendak Allah. Keterbukaan mau menerima dan menghargai siapa saja terwujud pula dalam penerimaan, penghargaan bahkan dialog dan kerja sama dengan keluarga-keluarga lain yang ada di masyarakat yang memiliki itikad baik untuk melakukan kehendak Allah dalam meneladani dunia atau masyarakat menuju masa depan yang lebih baik, penuh damai dan sejahtera.
Kedua, berkumpul dan menyebar. Dalam melakukan kehendak Allah, keluarga berada di tengah masyarakat yang sedang mengalami gejolak perubahan zaman yang pesat. Perubahan zaman ini dapat digambarkan seperti persekutuan para murid yang berkumpul sebagai satu keluarga bersama Yesus. Dalam persekutuan itu para murid menikmati kedamaian dan kenyamanan hidup dekat dengan Sang Guru namun sewaktu-waktu juga menghadapi tantangan-tantangan dan kesulitan bahkan ada saatnya mereka harus meninggalkan kenyamanan persekutuan untuk menyebar dalam karya melakukan perintah Sang Guru (Matius 10:5-15). Mereka diutus untuk masuk dalam kehidupan masyarakat, memberitakan kerajaan sorga yang membawa kesembuhan, kebangkitan, pemulihan, dan kedamaian. Mereka diutus untuk berkarya dalam masyarakat yang sedang menghadapi pelbagai persoalan. Mereka mengalami banyak tantangan dan kesulitan bahkan penolakan di perjalanan, namun tidak menghentikan karya membawa kabar baik bagi dunia dan melayani orang lain.
Dalam gambaran kehidupan para murid ini ada dinamika kehidupan yang berkumpul dan menyebar. Hal ini memberikan inspirasi pada dinamika kehidupan keluarga yang berkumpul dan menyebar di dunia. Dalam panggilannya untuk melakukan kehendak Allah, keluarga dipanggil untuk bersekutu dengan Allah namun juga siap menyebar menjadi pelayan masyarakat, menunjukkan kasihnya pada sesama, menjadi garam dan terang dunia (Matius 22:37-39).
Ketiga, solider pada yang lemah. Keluarga tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab untuk hidup solider terhadap orang lain. Solidaritas bukan hanya bagi anggota keluarga yang lemah tapi juga semua kaum lemah di tengah masyarakat. Inilah keluarga yang menyatu dengan sesama. Kalau kita melihat kehidupan Yesus, Ia senantiasa memberikan perhatian dan pelayanannya kepada  yang lemah. Penghayatan identitas keluarga sebagai gereja kecil mestinya menyatu dalam kehidupan keluarga Kristen.  
Jika keluarga kita terbangun dengan baik, maka gereja pun akan maju dengan pesat serta menjadi berkat bagi masyarakat. Itulah hubungan yang erat antara keluarga dan gereja. Keluarga adalah gereja kecil dan gereja adalah keluarga besar. Agar gereja menjadi keluarga besar maka keluarga-keluarga yang menjadi anggotanya harus hidup dalam semangat rajawali.

4. Apa dan Mengapa Rajawali?
Ketika orang menyebut  dan mendengarkan kata rajawali pikiran kita boleh jadi langsung membayangkan sesuatu yang menakutkatkan. Rajawali, atau elang biasanya menjadi musuh para pemelihara ayam. Itulah gambaran negatif yang kuat melekat pada pikiran dan perasaan kita. Yakinlah, hari ini dalam rekoleksi ini saya akan menampilkan citra rajawali yang lain karena rajawali dilihat secara rohani dalam kaitannya dengan ziarah kehidupan keluarga-keluarga katolik.
Rajawali adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sangat indah. Alkitab menuliskan mengenai rajawali sebanyak 27 kali, jauh lebih banyak dibandingkan merpati atau jenis burung lainnya. Seekor rajawali dewasa memiliki tinggi badan sekitar 90 cm, dan bentangan sayap sepanjang 2 meter. Ia membangun sarangnya di puncak-puncak gunung. Sarang itu sangat besar sehingga manusiapun dapat tidur di dalamnya. Sarang itu beratnya bisa mencapai 700 kg dan sangat nyaman. Berdasarkan Firman Tuhan, kita dapat melihat beberapa hal yang dapat kita pelajari dari burung rajawali ini
4.1 Ayat Kitab Suci tentang Rajawali
Alkitab Terjemahan Baru terbitan Lembaga Alkitab Indonesia memuat paling kurang 27 ayat yang menyebutkan kata Rajawali. 
  1. Keluaran  19:4 Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku.
  2. Imamat 11:13 Inilah yang harus kamu jijikkan dari burung-burung, janganlah dimakan, karena semuanya itu adalah kejijikan: burung rajawali, ering janggut dan elang laut;
  3. Ulangan 14:12 Tetapi yang berikut janganlah kamu makan: burung rajawali, ering janggut dan elang laut;
  4. Ulangan  28:49 TUHAN akan mendatangkan kepadamu suatu bangsa dari jauh, dari ujung bumi, seperti rajawali yang datang menyambar; suatu bangsa yang bahasanya engkau tidak mengerti,
  5. Ulangan  32:11 Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya,
  6. II Samuel  1:23 Saul dan Yonatan, orang-orang yang dicintai dan yang ramah, dalam hidup dan matinya tidak terpisah. Mereka lebih cepat dari burung rajawali, mereka lebih kuat dari singa.
  7. Ayub  9:26 meluncur lewat laksana perahu dari pandan, seperti rajawali yang menyambar mangsanya.
  8. Ayub  39:30 Atas perintahmukah rajawali terbang membubung, dan membuat sarangnya di tempat yang tinggi?
  9. Mazmur  103:5 Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.
  10. Amsal  23:5 Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali.
  11. Amsal  30:17 Mata yang mengolok-olok ayah, dan enggan mendengarkan ibu akan dipatuk gagak lembah dan dimakan anak rajawali.
  12. Amsal 30:19 jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis.
  13. Yesaya  40:31 tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.
  14. Yeremia  48:40 Sebab beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, ia datang melayang seperti burung rajawali dan mengembangkan sayapnya ke atas Moab.
  15. Yeremia  49:16 Sikapmu yang menggemetarkan orang memperdayakan engkau, dan keangkuhan hatimu, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, yang menduduki tempat tinggi bukit! Sekalipun engkau membuat sarangmu tinggi seperti burung rajawali, Aku akan menurunkan engkau dari sana, demikianlah firman TUHAN.
  16. Yeremia  49:22 Sesungguhnya, ia naik terbang seperti burung rajawali, melayang dan mengembangkan sayapnya ke atas Bozra. Hati para pahlawan Edom pada waktu itu akan seperti hati perempuan yang sakit beranak."
  17. Yeremia  4:13 Lihat, ia naik seperti awan-awan, keretanya kencang seperti angin badai, kudanya lebih tangkas dari pada burung rajawali. Celakalah kita, sebab kita dibinasakan!
  18. Ratapan  4:19 Pengejar-pengejar kami lebih cepat dari pada burung rajawali di angkasa mereka memburu kami di atas gunung-gunung, menghadang kami di padang gurun.
  19. Yehezkiel  1:10 Muka mereka kelihatan begini: Keempatnya mempunyai muka manusia di depan, muka singa di sebelah kanan, muka lembu di sebelah kiri, dan muka rajawali di belakang.
  20. Yehezkiel  10:14 Masing-masing mempunyai empat muka: muka yang pertama ialah muka kerub, yang kedua ialah muka manusia, yang ketiga ialah muka singa dan yang keempat ialah muka rajawali.
  21. Yehezkiel  17:3 Katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Seekor burung rajawali yang besar dengan sayapnya yang besar dan panjang, penuh dengan bulu yang berwarna-warna datang ke gunung Libanon dan ia mengambil puncak pohon aras.
  22. Yehezkiel  17:7 Dalam pada itu ada juga burung rajawali besar yang lain dengan sayapnya yang besar dan bulu yang lebat. Dan sungguh, pohon anggur ini mengarahkan akar-akarnya ke burung itu dan cabang-cabangnya dijulurkannya kepadanya, supaya burung itu mengairi dia lebih baik dari bedeng di mana ia ditanam.
  23. Daniel  4:33 Pada saat itu juga terlaksanalah perkataan itu atas Nebukadnezar, dan ia dihalau dari antara manusia dan makan rumput seperti lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai rambutnya menjadi panjang seperti bulu burung rajawali dan kukunya seperti kuku burung.
  24. Daniel  7:4 Yang pertama rupanya seperti seekor singa, dan mempunyai sayap burung rajawali; aku terus melihatnya sampai sayapnya tercabut dan ia terangkat dari tanah dan ditegakkan pada dua kaki seperti manusia, dan kepadanya diberikan hati manusia.
  25. Hosea  8:1 Tiuplah sangkakala! Serangan laksana rajawali atas rumah TUHAN! Oleh karena mereka telah melangkahi perjanjian-Ku dan telah mendurhaka terhadap pengajaran-Ku.
  26. Obaja  1:4 Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sana pun Aku akan menurunkan engkau, -- demikianlah firman TUHAN.
  27. Habakuk  1:8 Kudanya lebih cepat dari pada macan tutul, dan lebih ganas dari pada serigala pada waktu malam; pasukan berkudanya datang menderap, dari jauh mereka datang, terbang seperti rajawali yang menyambar mangsa.
4.2 Apa yang Perlu dipelajari dari Rajawali
Dari semua teks yang berbicara tentang Rajawali ini kita bisa temukan beberapa hal pokok atau pelajaran yang bermakna dalam kaitannya dengan tema rekoleksi.  Idealisme dan harapan kita untuk meneladani Keluarga Katolik yang sesuai dengan kehendak Tuhan hanya akan terjadi kalau kita juga memiliki keunggulan seekor Rajawali. Rajawali mengajarkan kita pelbagai nilai, pelajaran, dan keunggulan yang dapat dijadikan semangat dalam meneladani keluarga kudus.
 (1) Gaya Terbang Rajawali itu Unik.
Rajawali Tidak Hanya Terbang, tetapi Juga Melayang. Satu hal yang paling membedakan species rajawali dengan burung yang lain adalah species rajawali lebih banyak terbang dengan cara melayang, dengan membuka lebar kedua sayapnya dan menggunakan tenaga angin sebagai kekuatan pendorong bagi tubuhnya. Rajawali tidak terbang seperti layaknya burung-burung yang lain, yang terbang dengan mengepak-kepakkan sayapnya dengan kekuatan sendiri. Hal yang dilakukan rajawali ialah melayang dengan anggun, membuka lebar-lebar kedua sayapnya dan menggunakan kekuatan angin untuk mendorong tubuhnya. Yang membuat rajawali sangat spesial adalah ia tahu waktu yang tepat untuk meluncur terbang. Ia berdiam di atas puncak gunung karang, membaca keadaan angin, dan pada saat tepat ia mengepakkan sayapnya untuk mendorongnya terbang, lalu membuka sayapnya lebar-lebar kemudian melayang dengan menggunakan kekuatan angin itu. Ini dilakukan rajawali untuk menghemat tenaga yang dikeluarkan mengingat rajawali adalah burung penjelajah yang setiap harinya sanggup menempuh jarak minimal 400 km lebih. Panggilan dan kodratnya untuk terbang jauh, mengharuskannya memilih cara terbang yang lain daripada gaya terbang jenis unggas lainnya. Ia menggunakan kekuatan yang ada di luar kemampuan dirinya untuk bisa terbang tinggi dan menempuh jarak yang jauh.
Angin, juga menggambarkan kesulitan-kesulitandan pergumulan hidup. Bagi rajawali, badai adalah media yang tepat untuk belajar menguatkan sayapnya. Dia terbang menembus badai itu, melayang di dalamnya, melatih sayapnya untuk lebih kuat lagi. Orang "Katolik Rajawali" seharusnya mengucap syukur dalam menghadapi berbagai-bagai pencobaan karena pencobaan sebagai media untuk menguatkan sayap-sayap iman kita.
Dalam bahasa Alkitab angin sering disebutkan sebagai penggambaran Roh Kudus. Kita dapat belajar untuk bekerja sama dengan Roh Kudus dan membiarkan-Nya mengangkat kita lebih tinggi lagi, semakin dekat dengan Tuhan. Seringkali kita 'terbang' dengan kekuatan kita sendiri, hasilnya kita menemui banyak kelelahan, kekecewaan dan kepahitan dalam hidup ini. Kita perlu belajar dari rajawali, kita mau untuk 'terbang' melintasi kehidupan ini dengan mengandalkan Roh Kudus.
Kita ingin keluarga kita bertumbuh dalam semangat seekor Rajawali maka mau tidak mau kita sebagai keluarga Katolik harus mampu menunjukkan gaya terbang, citra diri dan kekhasan kita. Kenyataan  dalam kehidupan menunjukkan bahwa kita manusia seringkali hanya mengandalkan kekuatan sendiri dalam melakukan suatu hal. Maka tidak heran jika manusia sering menemui serta mengalami berbagai macam keputusasaan, kelelahan, banyak membuang waktu dan banyak sekali mengalami kekecewaan di dalam kehidupan. Belajar dari sang rajawali, maka kita perlu juga terbang dengan mengandalkan sumber daya atau kekuatan-kekuatan yang ada di sekitar kita seperti waktu orang lain, tenaga orang lain, modal orang lain, kecakapan, ide atau bahkan kesempatan (opportunity) yang datangnya dari orang lain. Dan sumber kekuatan utama kita adalah kekuatan Allah sendiri.
Dalam perspektif lain, terpaan angin juga bisa kita gambarkan sebagai masalah dan hambatan dalam kehidupan manusia, kehidupan keluarga-keluarga kita. Rajawali selalu belajar untuk memperkuat sayap-sayapnya ketika terbang menerjang badai. Ketika kita manusia dihadapkan pada berbagai masalah dan hambatan dalam hidup hendaknya kita juga selalu bisa belajar menguatkan sayap-sayap mental, karakter serta kepribadian kita. Badai kehidupan dan badai perkembangan zaman siap menerpa keluarga-keluarga kita ketika gempuran global meruntuhkan semua batas pengaman kehidupan keluarga kita. Kemajuan zaman bisa saja mematahkan sayap-sayap idealisme kita untuk terbang tinggi dan jauh membawa anak-anak kita ke tempat yang menjanjikan. Kemajuan teknologi komunikasi saat ini telah menjadikan bumi dan dunia ini tidak lebih dari sebuah kampung global tanpa batas. Kemajuan dunia teknologi di satu sisi amat positif karena telah mendekatkan yang jauh tetapi di sisi lain telah memperlebar jarak yang dekat justru menjauh. Kita sering senang karena bisa berkomunikasi dengan orang di tempat jauh karena bantuan teknologi tetapi kita lupa dan tanpa sadar saat yang sama kita menjauhkan diri dari orang yang paling dekat dengan kita.
Suatu ketika seorang pembantu rumah tangga mendatangi dokter karena pipi dan telinga kanannya luka kena strika panas. Bannyak orang menduga ia mengalami kekerasan dari majikannya. Setelah diselidiki ternyata saat pembantu menyerika pakaian ada deringan handphone masuk. Tanpa sadar ia mengarahkan strika panas ke telinganya. Ia mengira ia sedang menggenggam handphone dan lupa bahwa ia memegang strika panas. Ini contoh dampak teknologi yang menjauhkan orang dari hal paling  dekat dengan dirinya. Sekarang ini orang bisa duduk di satu meja makan, secara fisik dekat, tetapi mereka sebenarnya saling menjauh karena setiap orang sibuk sms dengan orang di seberang lautan. Kemajuan teknologi masa kini menurut saya telah membuat orang hidup dan bertindak setengah-setengah, dan sebagian-sebagian. Dan kalau kita jujur hal ini juga telah mendominasi kehidupan keluarga-keluarga kita. Sulit rasanya sekarang kita temukan orang yang hidup dan bertindak penuh. Kalau misalnya saat misa di gereja masih ada deringan handphone yang membuat orang lain terganggun itu tandanya pemiliknya datang tidak penuh, hadir setengah karena terlepas dari ia lupa mematikan hpnya, orang akan menilai masih ada hal penting lain yang harus ia lakukan. Teknologi berhasil membagi manusia berkeping-keping dan dipetak seakan menjadi kapling-kapling. Hal yang sama juga bisa terjadi dalam keluarga. Bapa bukannya tertawa dengan ibu yang ada bersama di meja makan atau di ruangan tamu tetapi malahan justru tertawa dengan lawan bicara yang berada di tempat jauh. Kalau itu sering terjadi maka yang ada di sana tidak lebih dari orang yang setengah-setengah. Kalau tertawa dan marah sendiri tanpa lawan bicara yang kelihatan, bisa saja membuat orang itu mendapat gelar bukan saja setengah-setengah tetapi ada tambahan yang kurang sedap menjadi setengah gila. Sebagai rajawali kita harus berjuang mengalahkan semua tantangan itu dengan gaya terbang kita yang unik dan khas sebagai orang katolik. Orang-orang yang menantikan TUHAN, mendapat kekuatan baru mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya - Yesaya 40 : 31

(2) Rajawali Berpandangan Tajam dan Terfokus
Rajawali dikarunia sepasang mata yang luar biasa yang memiliki kekuatan atau jarak pandang hingga 10 kali lebih jauh dari mata manusia. Tidak heran dengan kekuatan mata seperti itu seekor rajawali sanggup mengintai mangsanya yang berjarak lebih dari 15 km. Dengan kemampuan luar biasa seperti itu rajawali selalu bisa melihat dan mengintai mangsanya sehingga sangat jarang mangsa bisa lolos dari sergapan sang rajawali. Selain memiliki pandangan yang tajam, jauh, rajawali juga sangat fokus terhadap calon mangsanya. Dengan kata lain pada saat rajawali telah menetapkan seekor buruan, fokus pandangannya akan selalu ditujukan kepada calon mangsanya meskipun ia dihadapkan dengan berbagai halangan dan gangguan yang ada.
Kemampuan rajawali dalam melihat jauh ke depan bisa kita artikan sebagai visi dan tujuan yang jelas. Dalam perjalanan menuju keberhasilan kita manusia atau keluarga  hendaknya membiasakan diri untuk selalu menetapkan tujuan yang ingin dicapai dalam hidup. Banyak orang yang telah menetapkan tujuan dan memiliki impian-impian di masa depan tetapi mengapa sebagian besar dari mereka pada akhirnya gagal untuk mewujudkannya? Karena pada dasarnya sebagian besar orang tidak merumuskan visi dan cara pandang hidupnya secara benar. Ketidaktajaman perumusan visi kehidupan membuat orang gagal mencapai tujuan. Orang yang hidup tanpa visi yang jelas akan melakukan segalanya serba alamiah dan terkesan rutinitas yang membawanya pada kebosanan. Dan kebosanan merupakan ragi yang akan terus berkembang menjadikan roti kehidupan kita tidak dapat berkembang sebagaimana yang kita  harapkan. Rajawali mengajak kita untuk memiliki ketajaman pandangan terhadap rencana dan masalah kehidupan. Rencana kehidupan yang jelas tidak akan memberi peluang untuk mengubahnya di tengah jalan. Rajawali membidik sasaran dalam fokus yang benar dan terus konsisten pada titik sasaran yang mau dicapainya.

(3) Anak Rajawali Harus Belajar Terbang untuk Terbang
Di atas puncak gunung yang tinggi, telur rajawali menetas dan muncullah anak rajawali. Seperti layaknya anak yang lain, hanya ada dua hal yang sangat disukai oleh anak rajawali ini untuk dilakukan, yaitu makan dan tidur. Anak rajawali akan menghabiskan masa-masa pertamanya di dunia di dalam sarangnya yang nyaman. Setiap hari, induk rajawali mencarikan makanan untuk anaknya dan menyuapi mulut anak yang sudah terbuka menerima makanan. Dengan perut kenyang, anak itu tidur kembali. Hal itu berlangsung berulang-ulang dalam hidupnya.
Siklus ini berjalan beberapa minggu, sampai pada suatu hari, induk rajawali ini terbang dan hanya berputar-putar di atas sarangnya memperhatikan anaknya yang ada di dalam sarang itu. Kali ini tanpa makanan. Setelah berputar beberapa kali, induk rajawali akan terbang dengan kecepatan tinggi menuju sarangnya, ditabraknya sarang itu dan digoncang-goncangkannya. Kemudian ia merenggut anaknya dari sarang dan dibawanya terbang tinggi. Kemudian, secara tiba-tiba, ia menjatuhkan anaknya dari ketinggian. Anak ini berusaha terbang, tetapi gagal. Beberapa kemudian,  saat jatuh melayang ke bawah mendekati batu-batu karang, induk rajawali ini dengan cepat meraih anaknya kembali dan dibawa terbang tinggi. Setelah itu dilepaskannya pegangan itu dan anaknya jatuh lagi. Tapi sebelum anaknya menyentuh daratan, ia mengangkatnya kembali. Hal ini dilakukan berulang-ulang, setiap hari. Hanya dalam waktu satu minggu anaknya sudah banyak belajar, dan mulai memperhatikan bagaimana induknya terbang. Dalam jangka waktu itu, sayap anak rajawali sudah kuat dan ia pun mulai bisa terbang.
Kita mau agar keluarga-keluarga kita menjadi keluarga Katolik Rajawali berarti juga kita berniat mengembangkan pola pendidikan gaya induk rajawali terhadap anaknya. Dan kalau direnungkan secara lebih serius saat ini banyak Keluarga Katolik hidup seperti anak rajawali ini. Terlalu nyaman di dalam sarangnya. Kita datang ke gereja seminggu sekali untuk mendapatkan makanan. Kita menunggu pelayan Tuhan untuk memberi mereka "makanan rohani" ke dalam mulutnya. Kemudian setelah ibadah selesai, kita pulang dan "tidur" lagi, tanpa melakukan Firman Tuhan dan hidup tidak berubah. Baru setelah beban-beban berat menindih selama 1 minggu, kita merasakan "lapar" dan butuh asupan makanan, kemudian kita pun pergi lagi ke gereja untuk didrop makanan lagi.
Hal ini berlangsung terus-menerus berulang-ulang tanpa ada pertumbuhan secara rohani dalam hidup kita. Sampai suatu saat, sesuatu pencobaan terjadi dalam hidup kita, sarang digoncangkan dengan keras, dan kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kita mulai menyalahkan Tuhan, "Tuhan jahat! Tuhan tidak adil!..." Benarkan Tuhan tidak adil dan tidak berpihak kepada kita?
Tidak! Tuhan tidak jahat! Jika kita mengalami pencobaan dan goncangan berarti Bapa di surga sedang melatih kita untuk bisa lebih dewasa lagi, agar kita bisa siap untuk terbang. Akan sia-sia menjadi rajawali kalau dia tidak bisa terbang. Berarti akan sia-sia menjadi orang Katolik, menjadi keluarga Katolik kalau kita tidak pernah dewasa dalam iman! Akan tetapi perhatikanlah hal ini: setiap pencobaan datang, Tuhan tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya jatuh tergeletak, tetapi seperti induk rajawali, pada saat kirits, ia menyambar anaknya untuk diangkat kembali. Beban berat boleh datang, tetapi kemudian mulailah untuk berdoa. Mulailah membuka Alkitab dan membaca Firman Tuhan. Kemudian kita akan menyadari bahwa jawaban doa itu telah datang. Masa-masa sukar akan selalu ada di depan kita, tapi kita akan menemukan diri kita selalu penuh dengan pengharapan jika kita tetap berdiri pada kebenaran Firman Allah. Apa yang sedang terjadi? Ternyata kita sedang merentangkan sayap kita! Kita sedang belajar terbang! Tuhan mengangkat dan mempermuliakan kita melalui pencobaan-pencobaan yang kita alami.
Jika induk rajawali melatih anaknya untuk mempergunakan sayapnya, Tuhan melatih kita untuk mempercayai Firman-Nya dan mempergunakan iman kita. Menjadi keluarga Katolik Rajawali berarti pula melihat keterlibatan Tuhan dalam setiap kesukaran hidup kita.
 (4) Rajawali Diciptakan untuk Tinggal di Tempat Tinggi
Berbeda dengan jenis burung lainnya, rajawali diciptakan untuk terbang di tempat-tempat yang tinggi, jauh dari pandangan mata telanjang dan jauh dari jangkauan para pemburu.
Burung rajawali memiliki keunikan, jika ia berada di alam bebas akan menjadi burung yang paling bersih di antara burung lainnya, tetapi jika dia berada di dalam penjara (kandang) dan terikat, ia akan menjadi burung yang paling kotor (hal ini terjadi karena si rajawali mengkonsumsi makanan yang berbeda dengan burung lainnya, ia akan memakan makanan seturut orang yang memeliharanya dalam kandang dan kemungkinan itu makanan yang busuk.
Kita mau menjadi keluarga Katolik rajawali artinya kita diajak untuk berada di tempat yang tinggi dan terbang tingi dalam kebabasan sebagai anak Allah. Tuhan menciptakan kita untuk selalu terbang dan berada di tempat yang tinggi, yaitu selalu berada dalam hadirat-Nya dan bebas dari kontrol dunia. Sekian sering kita memasukkan diri dalam kandang-kandang yang kita buat sendiri. Kita sering memasukan diri kita dalam kandang-kandang dosa yang membuat kita terikat. Kelemahan manusiawi kita akan mengikat kita di tempat yang paling rendah dan kotor  dan hampir pasti dalam keterikatan itu kita akan menikmati segala hal yang berlawanan dengan rencana Tuhan. Menjadi katolik Rajawali adalah pilihan untuk terbang tinggi  menjangkau Hadirat Tuhan yang maha Tinggi.

(5) Rajawali Memiliki Waktu Khusus untuk Pembaharuan
Ketika rajawali berumur 60 tahun, ia memasuki periode pembaharuan. Seekor rajawali pada usia 60 tahun akan mencari tempat tinggi dan tersembunyi di puncak gunung. Ia berdiam di sana, membiarkan bulu-bulunya rontok satu demi satu. Rajawali ini mengalami keadaan yang menyakitkan dan sangat mengenaskan selama kira-kira 1 tahun. Ia menunggu dengan sabar selama proses ini berlangsung, dan setiap hari ia membiarkan sinar matahari menyinari tubuhnya untuk mempercepat proses penyembuhannya. Melalui proses alamiah seperti ini, bulu-bulu barupun tumbuh, dan rajawali menerima kekuatan yang baru sehingga ia mampu bertahan hidup hingga umur 120 tahun, seperti normalnya rajawali hidup.
Menjadi katolik rajawali berarti pula menerima tuntutan pembaharuan diri dan cara hidup dari hari ke hari sepanjang hidup. Kalau rajawali melakukan pembaharuan tunggu usia 60 tahun, kita manusia justru melakukannya secara terus menerus. Mengapa? Karena rahasia kehidupan kita hanya Tuhan yang tahu. Kita mau tunggu 60 tahun dengan pengandaian Tuhan mengizinkan kita tiba pada usia itu. Tetapi jika Tuhan memanggil kita sebelum 60 tahun itu artinya kita kembali tanpa pernah melakukan pembaharuan.
Sebagaimana halnya  rajawali, orang Katolik, keluarga Katolik perlu memiliki waktu-waktu khusus untuk proses pembaharuan dalam hidup ini. Membiarkan hal-hal lama yang tidak berguna lagi 'rontok' dan menanti-nantikan dengan sabar pemulihan dari Tuhan. Pembaharuan adalah prinsip Ilahi, di mana Allah memotong, memangkas, membersihkan ranting dan dahan yang kering dan lapuk membusuk  dan yang tidak menghasilkan buah dalam hidup kita ini agar kita mampu berbuah lebih lebat lagi. Selama kita hidup dan selama kita menantikan Dia, relakan proses pembaharuan itu berlangsung dalam hidup kita. Rekoleksi seperti ini merupakan salah satu model upaya pembaharuan itu.

(6) Rajawali Kadang-kadang Sakit Seperti Manusia
Ketika rajawali mengalami sakit, ia terbang ke suatu tempat yang sangat disukainya, dan di sana ia dengan leluasa menikmati sinar matahari. Karena sinar matahari memainkan peranan sangat penting dalam kehidupan rajawali, dan juga merupakan obat yang paling mujarab baginya. Kekuatan sinar matahari itulah yang memulihkan kondisi fisik sang rajawali. Dia selalu mencari sinar matahari untuk mempercepat proses pemulihan kesehatannya.
Orang katolik Rajawali dan Keluarga Katolik Rajawali tidak akan luput dari pelbagai penyakit baik penyakit yang berkaitan dengan jiwa maupun penyakit fisik. Ketika kita sakit, baik itu sakit secara fisik, ekonomi, rumah tangga, pekerjaan, pelayanan, atau sakit rohani, apakah kita juga mencari sinar pemulihan pada Allah yang memainkan peranan penting dalam hidup kita, yang juga merupakan sumber kesembuhan bagi segala macam 'penyakit'. Kita, lebih dari Rajawali sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk menghindari kedekatan dengan Allah dalam segala situasi kehidupan kita yang tidak menguntungkan.
 (7) Rajawali Menyonsong Akhir Kehidupan
Ketika rajawali berada dalam keadaan mendekati kematiannya, ia akan terbang ke tempat yang paling disukainya, di atas gunung. Di gunung yang tinggi itulah rajawali berusaha menyelimuti tubuhnya dengan kedua sayapnya. Ia akan mengarahkan pandangannya ke arah terbitnya mentari. Ketika mentari beranjak naik di ufuk timur sang rajawali mengarahkan pandangannya ke sinar pagi lalu ia menunduk merengang nyawa, lalu ia mati dalam sorotan sinar matahari pagi.
Orang katolik dan keluarga katolik rajawali tanpa kecuali, pada waktunya akan mengalami nasib seperti rajawali. Sebagai orang beriman kita merindukan sebuah akhir kisah ziarah sambil memanang sinar mentari Ilahi. Sudah sepantasnyalah semua orang beriman mati dengan mata dan hati tetap tertuju pada Yesus sebagai sumber pengharapan dan jaminan di dalam kehidupan kekal.
5. Hambatan menjadi Keluarga Katolik Rajawali
Dalam uraian terdahulu kita mendengarkan bahwa angin badai merupakan tantangan utama bagi rajawali untuk terbang tinggi dan terbang jauh. Saya yakin tidak ada keluarga yang hidup tanpa masalah. Semua kita yang hadir tentu mengetahui secara persis dan secara benar apa yang merupakan masalah dalam keluarga yang membuat kita susah terbang sebagai keluarga katolik rajawali. Kalau mau dideretkan atau dilitaniakan saaat ini tentu waktu kita tidak cukup. Berikut ini saya menyampaikan satu contoh masalah yang menghambat keluarga katolik dalam usaha menjadi keluarga  katolik rajawali itu.
Mungkin ada dari antara kita yang pernah membaca sebuah buku yang ditulis Nancy Anderson berjudul  Avoiding The Greener Grass Syndome. Judul ini kalau dialihkan ke dalam bahasa Indonesia berarti: Menghindari Sindrom Rumput yang Lebih Hijau. Apa sebenarnya yang mau dikatakan di dalam buku itu? Ternyata buku itu itu berisi kisah pengalaman pribadi Nancy Anderson dalam kehidupan keluarganya yang mengalami pasang surut karena banyaknya badai yang menerpa kehidupan rumah tangganya. Salah satu badai yang nyaris merobekkan layar perahu keluarganya berkaitan dengan apa yang dikatakan melalui judul buknya ini. Dia mengisahkan bagimana ia kehilangan harapan untuk merekatkan kembali hubungan dengan pasangannya yang nyaris bubar. Sebabnya, tidak lain karena masing-masing  didera sindrom rumput hijau. Ia menulis: imanku berubah menjadi suam-suam kuku, sehingga aku lebih percaya pada kebohongan-kebohongan dunia: "Saya berhak untuk bahagia." Kebohongan yang kuhadapi membuatku terlibat dalam hubungan cinta gelap yang nyaris mengakhiri perkawinan kami. Aku dengan sengaja menulis buku berjudul Avoiding The Greener Grass Syndome (Menghindari Sindrom Rumput yang Lebih Hijau) agar kisah ketidaksetiaan dalam keluargaku tidak menjadi "kisah kehidupan keluarga lainnya".
Sindrom rumput hijau yang dikatakan Nancy ini bukan tidak mungkin bahkan hampir pasti juga akan menimpa pasangan-pasangan suami istri masa kini. Sindrom rumput hijau seperti ini, kini muncul dalam istilah cinta yang bercabang-cabang, cinta tebagi-bagi, cinta bersegi-segi. Cinta segi tiga, segi empat dan segi-segi lainnya. Dalam bahasa populer zaman ini semuanya terangkum dalam kata kramat yang tidak sedap yaitu fenomena selingkuh.
Sebagai bentuk tanggungjawabnya atas kehidupan dan demi menyelamatkan kehidupan keluarga lainnya yang bermasalah, Nancy menulis bernada mengingatkan: Ingatlah,  Rumput di seberang pagar mungkin selalu tampak lebih hijau, tetapi kesetiaan kepada Allah dan kesetiaan janji kepada pasangan Anda sajalah yang dapat memberikan damai di hati dan kepuasan.  Apabila Anda menghindari sindrom rumput yang lebih hijau dengan mencintai dan menghormati pasangan Anda, pernikahan Anda akan menjadi gambaran tentang hubungan Kristus dan jemaat bagi orang-orang di sekitar Anda  (Ef.5,31-32). Apa yang dinasihatkan Nancy ini juga sebuah rekomendasi buat keluarga katolik untuk terus menjadi keluarga rajawali yang berada di tempat tinggi dan terus mengarahkan padangan kepada Allah sang matahari kehidupan.
Keluarga rajawali adalah keluarga yang menghindari konflik tetapi dalam kenyataan konflik juga menjadi bagian dari kehidupan keluarga karena itu kalau ada konflik baiklah kita ingat dua kata kramat ini: SUAMI-ISTRI. Dalam konteks usaha membebasakan diri dari sindrom rumput hijau baiklah saya coba memaknai setiap huruf pada pasangan kata SUAMI-ISTRI itu. Pasangan kata itu terdiri atas 10 huruf bermakna dan dibagi adil  karena lima huruf milik suami dan lima huruf milik istri. Saya memakani dan melengkapinya dengan teks dari kitab Amsal.
6. Pagar-Pagar Pengaman Keluarga Katolik Rajawali
·         Sadarilah bahwa masing-masing punya andil jikalau konfliks sampai terjadi. (Amsal 14,17: Jauhilah orang bebal, karena pengetahuan tidak kaudapati dari bibirnya)

·         Usahakanlah untuk mengadu atau berbicara terlebih dahulu hanya  kepada  Tuhan (Ams 11:13: Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara).

·         Akuilah dengan jujur dan ekspresif perasaan-perasaan negatifmu di hadapan Tuhan (Ams 5:21: Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya)

·         Mintalah hikmat dan kasih tambahan untuk dapat menyelesaikan konfliks tersebut sesegera  dan setuntas  mungkin (Ams 4:6:  Janganlah meninggalkan hikmat itu, maka engkau akan dipeliharanya, kasihilah dia, maka engkau akan dijaganya).

·         Izinkanlah istri untuk mencurahkan isi hati, termasuk uneg-unegnya, dengan merdeka, tanpa takut dimarahi (Ams 11:2: Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati)

  • Izinkan suami menganalisis masalah tanpa diinterupsi, sehingga pokok masalah dapat disoroti  secara jernih (Ams 10:19 : Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi).
  • Salurkanlah energi senantiasa untuk mencari solusi,  bukan untuk  mencari-cari  kesalahan (Ams 17:9: Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib).
  • Tetapkanlah hati untuk saling meminta maaf satu kepada yang lain  dan memohon  pengampunan Tuhan (Ams 16:6: Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni, karena takut akan TUHAN orang menjauhi kejahatan).
  • Rayakanlah penyelesaian konfliks secara kreatif (Ams 24:10: Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu).
  • Isilah hari-hari selanjutnya dengan curahan kasih sayang yang lebih  konkret demi kesembuhan dan pemulihan hubungan dan keintiman (Ams 27:5: Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi)

7. Penutup
Kita mengidealkan keluarga Katolik Rajawali tetapi kita masih hidup di dunia dengan segala hal yang akan menarik kita  dan boleh jadi membuat kita tidak bisa terbang seperti rajawali. Dalam kerendahan hati tentu kita harus manaruh harapan kepada Tuhan sebagai Induk rajawali dan kita percaya kita akan selalu di bawa terbang di atas kepak sayapnya. Karena itu, kita perlu menyadari bahwa hidup kita, hidup keluarga kita tidak selamanya mulus karena pasti di jalan yang kita lewati itu kita akan menjumpai banyak hal: ada krikil, ada duri, ada persimpangan, ada pentujuk arah, ada masalah, ada pengorbanan, ada air mata, kritikan, ada tawa, ada senyuman, ada orang lain. Semunya itu kita kita butuhkan dalam meneladani mosaik kehidupan keluarga kita menuju keluarga rawajali.
Kita membutuhkan Kerikil yang tajam supaya kita belajar  berhati-hati.  Kita membutuhkan Semak Berduri supaya kita lebih  Waspada. Kita membutuhkan Persimpangan supaya kita memilih secara Bijaksana. Kita membutuhkan Petunjuk Jalan supaya kita punya kepastian tantang masa depan. Kita membutuhkan  Masalah supaya kita tahu kita memiliki Kekuatan. Kita membutuhkan Pengorbanan supaya kita tahu cara Bekerja Keras. Kita membutuhkan Airmata supaya kita tahu merendahkan Hati. Kita membutuhkan Kritikan supaya kita tahu bagaimana Cara Menghargai. Kita membutuhkan Tertawa supaya kita tahu Mengucap Syukur. Kita membutuhkan Senyuman supaya kita tahu kita Punya Cinta. Kita membutuhkan Orang Lain supaya kita tahu kita Tak Sendirian
Akhirnya, saya menutup renungan rekoleksi ini  dengan harapan semoga ada manfaatnya dan untuk hal yang tidak berkenan mohon dilupakan dan dimaafkan. Marilah kita terus berjuang membangun keluarga kita, membangun gereja kita dengan dalam semangat Rajawali. Keluarga adalah gereja kecil dan gereja adalah keluarga besar. Mari kita berjuang untuk menjadi keluarga rajawali. Semoga

Biara Frateran BHK Malang
Rabu, 14 November 2012


RD.Bonefasius Rampung


[*] Bahan Rekoleksi untuk Keluarga, diberikan di Tumpang Kamis, 15 NOvember 2012 
[†] Imam Projo Keuskupan Ruteng, mantan guru Seminari Kisol (2000-2012) kini mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Malang.