Friday, February 5, 2016

RENUNGAN MINGGU BIASA KE-5 TAHUN C/2



Minggu Biasa ke-5 Tahun C/2 Sabtu,6 Februari 2016 
Yes.6,1-2a.3-8;  1Kor.14,1-11;  Luk.5,1-11
Paroki Kristus Raja, Mbaumuku

Pembaruan: Bertoak ke tempat yang Dalam

Buka

Ada banyak alasan dan kemungkinan yang membuat seseorang gagal. Setiap kegagalan melahirkan kekecewaan dan putus asa. Manusia bisa gagal dalam usaha dan kehidupan kalau ia hanya mau mencari gampang dan tidak mau mengambil risiko. Orang seperti itu dapat dibandingkan dengan orang yang mencari sesuatu di tempat yang salah. Orang seperti itu seperti orang yang ingin memancing ikan di tempat yang dangkal, atau memancing di tengah deburan gelombang. 
Panggilan hidup para pengikut Kristus menurut bacaan hari ini, harus dijiwai oleh semangat untuk rela bertolak ke tempat yang dalam meski penuh tantangan dan risiko. Kalau kita jujur, mungkin kita akan menyadari diri sebagai orang yang lebih suka mencari sesuatu di tempat yang salah.  Yesus menghendaki kita untuk menjadi penjala manusia. Tentu saja ada tuntutan dan risikonya. Kita mohonkan agar kita dijauhkan dari mentalitas hidup yang serba dangkal

Renungan
Merasa kecewa dan putus asa adalah penyakit yang menimpa semua orang. Apalagi manusia yang hidup pada zaman seperti kita sekarang ini. Di mana-mana kita bertemu dengan orang yang berpenampilan kusut. Kita dapat bertemu dengan manusia-manusia yang tampaknya kecewa. Kita bisa bertemu dengan orangtua yang kecewa terhadap anak-anak mereka. Kita bisa bertemu dengan guru dan pendidik yang kecewa terhadap para siswa mereka. Kita bertemu dengan rakyat yang kecewa terhadap pemerintah dan para pemimpin. Kita bisa bertemu dengan pelanggan listrik dan air yang kecewa karena listri  sering padam dan air macet. Kita bertemu dengan masyarakat yang kecewa terhadap penegak hukum yang bisa dibeli dengan uang. Kita bisa bertemu dengan pemimpin agama karena umatnya kurang menghayati iman mereka. Kita bertemu dengan rakyat yang kecewa terhadap praktik ketidakadilan dalam kehidupan bersama. Banyak orang kecewa karena tidak mengalami kemajuan dalam hidup. Tuntutan pembaruan sering kali macet karena pelbagai kebijakan publik terlilit dalam jebakan kepentingan politik. Begitulah, di mana-mana dan kapan saja, kita bisa bertemu dengan orang kecewa karena apa yang mereka harapkan tidak terwujud. Banyak orang kecewa seperti para nelayan yang sepanjang malam melaut tetapi tidak benangkap apa-apa.   Kekecewaan dapat menggerogoti manusia dalam pelbagai situasi dan pelbagai bidang kehidupan. Kekecewaan dapat terjadi dalam kehidupan berkeluarga, dalam kehidupan bermasyarakat, dalam menjalankan tugas dan pekerjaan.  Pendek kata, rasa kecewa muncul dengan seribu satu macam alasan.
Bacaan-bacaan yang diperdengarkan kepada kita hari ini pada intinya menggambarkan kekecewaan itu. Dalam bacaan pertama Nabi Yesaya menggambarkan suatu pengelihatan yang mempesonakan. Ia melihat gambaran Tuhan yang dilingkupi rombongan para malaikat. Dalam pengelihatan itu, Nabi Yesaya mengungkapkan rasa kecewanya terhadap dirinya sendiri. Ia kecewa karena menyadari diri sebagai orang yang najis bibir dan juga hidup di antara bangsa yang najis bibir. Katanya: Celakalah aku, sebab aku orang yang najis bibir dna hidup di tengah bangsa yang najis bibir. Inilah ungkapan rasa kecewa gaya nabi Yesaya, yang tidak berhasil secara maksimal dalam tugas kenabiannya. Ia kecewa karena belum menjalankan misinya sebagai nabi secara sempurna. Meskipun demikian, dalam situasi kecewa seperti itu Tuhan berinisiatif untuk mentahirkan kenajisan sang nabi. Bibir nabi Yesaya disentuh bara api yang merupakan kuasa pembersihan atas diri dan hidupnya. Tuhan berinisiatif mentahirkan orang pilihan-Nya. Inisiatif Allah itulah yang memungkinkan Yesaya menyatakan sikapnya. Tuhan masih mencari orang yang hendak menjalankan misi perutusan. Melalui malaikat, Yesaya mendengar pertanyaan Tuhan sendiri: Siapakah yang akan diutus dan siapakah yang mau pergi untuk Aku? Tanpa berpikir panjang Yesaya menyatakan komitmen dan niatnya yang tulus. Ia menunjukkan dirinya sendiri dan siap untuk diutus. Ia mengatakan: Inilah, dan Utusalah aku…
Melalui bacaan pertama, digambarkan bahwa Yesaya mengalami proses perubahan pola, cara dan gaya hidupnya. Ia  melakukan reformasi pembaharuan total dalam menjalankan apa yang dikehendaki Tuhan. Ia mau menjadikan dirinya sebagai orang yang rela diutus. Inilah gambaran singkat tentang panggilan Yesaya yang berawal dari rasa kecewa, tetapi berakhir dengan menerima perutusan. Suatu kekecewaan mengawali kesuksesannya sebagai nabi, utusan Tuhan.
Gambaran tentang rasa kecewa bukan hanya menimpa Yesaya.  Rasa kecewa juga dialami para pengikut Yesus seperti yang digambarkan dalam penggalan Injil Lukas. Simon sebagai seorang nelayan merasa kecewa karena semalam suntuk ia bersama teman-temannya membentangkan jalanya, menebarkan jala untuk mendapatkan sesuatu tetapi tidak seekor pun ikan yang mereka dapat. Tentu saja sebagai nelayan mereka merasa gagal dan harus kecewa. Dalam situasi seperti itulah Yesus muncul dalam rangka mengajarkan ribuan orang yang mengikut Dia. Pada saat itulah Yesus melihat bahwa Simon dan teman-temannya tidak bekerja secara profesional sebagai para nelayan.  Mereka belum berhasil menjaring seekor ikan pun. Mereka semua terancam stres dan kecewa. Menghadapi situasi seperti itu tentu muncul pertanyaan: mengapa mereka tidak mendapat ikan? Jawabannya sederhana saja.
Mereka memang sudah bekerja sepanjang malam, tetapi sayangnya mereka bekerja  dengan cara yang tidak cerdas, cari gampang, tidak mau berkorban. Mereka menjala ikan di tempat yang dangkal. Mereka mau menjala ikan di pinggir danau, di tempat yang kotor. Bagi Yesus, cara Simon dan temannya itu merupakan contoh cara kerja yang tidak profesional, cara kerja yang tidak efektif, hanya mencari aman. Mengapa? Karena sebagai orang yang berprofesi  nelayan mereka seharusnya mengetahui bahwa ikan tidak mungkin hidup di tempat yang dangkal. Sebagai nelayan mereka seharusnya sudah mengetahui bahwa ikan itu ada dan biasa hidup di tempat yang tenang dan dalam. Yang mereka lakukan justru kebalikannya. Kegagalan mereka terkait pada keingian mereka untuk tetap berada di tempat yang dangkal, tepi danau.
Tidak mengherankan kebodohan seperti itu membuahkan kekecewaan. Pada saat itulah Yesus melihat titik lemah mereka. Mereka mencari ikan ditempat yang salah. Mereka bekerja tanpa perhitungan yang cermat sebagi nelayan. Mereka gagal karena mengail ditempat yang dangkal, di tempat yang kotor, di tempat yang bergelombang. Untuk membuktikan ketidakcerdsan Simon dan temannya, Yesus menyuruh mereka bertolak ke tempat yang dalam  membuang, menebarkan jala jauh dari tepi pantai, jauh dari deburan ombak, jauh dari air yang keruh, jauh dari tempat kotor. Hasilnya sungguh terbukti ketika jala mereka koyak karena banyaknya ikan yang terjaring. Kecewaan semalam suntuk terobati ketika Yesus menunjukkan sikap yang baru, cara kerja baru, mental kerja baru, strategi baru, tempat yang baru. Pembaruan mental disertai kemauan untuk melakukan pembaruan adalah kata kunci untuk suatu perubahan yang membawa kebaikan.  Musuh kemajuan dalam hidup bersama adalah manusia yang bermental dangkal, ingin bertahan di tempat yang dangkal, di tempat yang kotor. Orang yang bertahan lama di tempat yang kotor akan kehilangan rasa kebersihan. Orang yang lama tinggal dan berada di tempat yang berbau tidak akan merasa bau itu sebagai hal yang mengganggu.  Manusia bermental dangkal, kotor biasanya alergi terhadap gerakan pembaruan.  Karena itu, pelbagai macam instrumen dan cara bisa digunakan melawan siapa saja yang berniat melakukan pembaharuan. Musuh para reformator adalah kemapanan para penguasa yang ingin bertahan di tempat.
Panggilan dan perutusan para nabi dalam berbagai kisah dalam berbagai agama  selalu berkaitan dengan gerakan dan perlawanan  terhadap penguasa ingin berkuasa selama mungkin.  Yesus sendiri melawan mental yang hanya berada di tepi pantai, hanya tinggal di tempat yang dangkal, tempat yang nyaman. Yesus melawan mental Petrus  dan temannya yang bermental dangkal dan  dan bertahan di tempat yang kotor. Petrus dan temannya tidak mungkin menangkap ikan yang banyak kalau mereka masih berada di tempat dangkal, tempat kotor. Mereka mendapatkan ikan yang banyak justru setelah mereka beralih dari tempat dangkal  dan kotor itu. Mental bertahan dan memprtahankan segala cara kerja yang lama, bertahan di tempat yang kotor  tidak akan memberi hasil dan tidak akan membawa perubahan. Hanya orang yang bermental dangkal bertahan di tempat yang dangkal. Hanya aorang yang bermental kotor yang tetap bertahan di tempat yang kotor. Para pengikut Kristus adalah manusia yang sudah dibarui mentalnya dari mental yang dangkal dan kotor menuju mental yang dalam dan bersih. Yesu tahu bahwa perubahan dan pembaruan itu harus diawali dengan kemauman untuk berpindah dari cara lama ke cara baru, dari tempat tempat dangkal ke tempat dalam, dari tempat kotor ke tempat bersih. Pengikut Kristus harus bermendal dalam dan bersih. Mengapa? Karena Yesus sudah membayar kedangkalan dan kekotoan itu dengan darahnya di kayu salib. Orang beriman seperti nabi yang najir bibir telah dibah dan dibarui Tuhan. Kalau ada pengikut Kristus yang bermental dangkal dan kotor sama artinya ia ingin menyalibkan  Tuhan dengan cara yang lebih keji.
 Kisah injil tadi penuh dengan gambaran yang masih berkaitan dengan kehidupan manusia masa kini. Dari bacan tadi, ada tiga hal penting yang perlu kita renungkan:
Pertama, kekecewaaan itu adalah perasaan yang biasa  untuk semua manusia. Tetapi, bagi orang yang beriman kegagalan dalam kehidupan bukanlah kata akhir karena pada waktunya Tuhan akan turun tangan. Dalam situasi seperti itu manusia hanya dituntut untuk membiarkan dirinya dibimbing dalam kuasa dan kehendak Tuhan. Yesaya telah mengalami sendiri hal tersebut. Sejauh manausia berada dalam kondisi hidup yang jujur dan benar, maka jalan Tuhan tetap terbuka baginya. Sebaliknya, sehebat apa pun hidup manusia bila dibangun di atas kepalsuan akan runtuh juga karena orang seperti itu akan selalu berusaha menutupi ketidakjujuran mereka.
Kedua, Injil hari ini sebenarnya mau membahasakan kebiasaan hidup manusia, yang kadang-kadang tidak mengetahui bagaimana ia bekerja, dan tidak tahu di mana ia harus bekerja untuk mendapatkan sesuatu. Sebelum mendapat perintah Yesus, Simon dan temannya menjadi contoh manusia yang bekerja asal kerja, yang penting datang, dan menunggu tanpa mengubah cara dan mental. Tidak tahu bagaimana mereka menjala ikan dan di mana mereka harus membentangkan jala. Orang tentu kecewa kalau berhadapan dengan manusia seperti ini.
Ketiga, Simon dan temannya yang membuang jalan di tempat yang dangkal, di tepi pantai yang berobak dan kotor, adalah gambaran tentang kehidupan manusia. Dengan cerita itu, mau digambarkan kepada kita bahwa memang ada manusia yang bermental enak. Tidak mau basah, tidak mau repot, tidak mau mencari tempat yang tenang untuk mendapatkan apa yang diperlukan bagi hidup. Pada masa sekarang ini masih banyak orang yang mencari sesuatu dengan gayanya Simon sebelum diubah Yesus. Masih ada Simon lain di zaman kita. Mereka itu bisa hadir dalam diri manusia-manusia yang mencari gampang, tidak mau mengambil risiko, tetapi ingin bertahan dan mempertahan posisinya.
Bagi Yesus hari ini, setiap orang yang mau menjadi pengikut-Nya harus bersedia untuk berjuang, bersedia untuk basah, bersedia untuk bertolak ke tempat yang lebih dalameralih ke tempat yang baru. Terapi dan obat untuk mengatasi rasa kecewa manusia, bagi Yesus hanya satu yaitu rela bertolak ketempat yang dalam, di lautan yang tenang dan penuh ikan. Mudah-mudahan kita menjadi pengikut Kristus yang rela bertolak dan mencari sesuatu pada kedalaman dan ketenangan Tuhan sendiri.  Bukan patuh dan setia pada sikap dan mental yang bertahan di tempat dangkal dan kotor. Kita tentu sepakat, bahwa hanya pada Tuhanlah kita akan mendapatkan ketenangan… Amin



Saturday, January 30, 2016

RENUNGAN MINGGU BIASA KE-4 TAHUN C2



Minggu Biasa ke‑4 Th.C2.31 Januari 2016
Yer.1,4‑5.17‑19; 1Kor.13,4‑13;  Luk.4,21‑30
Kapela STKIP St.Paulus Ruteng

Buka
Predikat kita sebagai orang beriman, orang Kristen, pengikut Kristus memungkinkan kita terpanggil untuk tiga tugas pokok yaitu sebagai imam nabi dan raja. Bacaan hari ini menekankan sekaligus mengingatkan kita untuk menjalankan peran kenabian kita di tengah situasi hidup yang tidak mengenal keadilan, kejujuran, penindasan, dan praktik hidup yang serakah dan korup. Predikat kenabian mengisyaratkankita untuk melakukan segalanya sesuai dengan kehendak Allah. Menyatakan apa yang benar tanpa takut risiko adalah panggilan kenabian. Kita dituntut untuk menyatakan yang benar, mengkritik segala bentuk penipuan, maniplasi, permainan kotor dalam berbagai ranah kehidupan. Pada awal perayaan ini baiklah kita melihat kembali perjalanan hidup kita. Mungkin kita telah mengabaikan panggilan kenabian kita ketika kita ter­jerat dalam pelbagai keinginan untuk memuliakan diri kita sendiri.  
Renungan
Takut dan cemas ada dan dialami semua manusia. Apa yang membuat orang takut dan cemas atau apa dasarnya manusia merasa takut dan cemas.  Jawabannya karena manusia mempunyai keinginan. Ketakutan dan kecemasan adalah dua rasa yang menghinggapi semua manusia karena banyak keinginan dalam diri. Ketika seseorang menduduki jabatan dan kekuasaan tertentu, nafsu dan keinginan primitifnya  memaksanya untuk mengamankan kekuasaan itu agar tidak dipindahtangankan. Ketika seorang mahasiswa punya keinginan untuk lulus dengan baik pada waktunya ia cemas dan takut kalau ada masalah yang menghadangnya. Ketika orangtua penya keinginan anak-anaknya menjadi orang pintar dan baik, orangtua bisa  cemas dan takut jika anak mereka gagal. Ketika sesorang ingin menjadi pejabat, penguasa ia cemas dan takut kalau ada orang yang ingin menggagalkannya. Begitu seterusnya, ketakutan dan kecemasan sesungguhnya menjadi efek samping, dampak ikutan dari adanya keinginan pada manusia. Jika tidak ada keinginan maka tidak ada ketakutan dan kecemasan.
Hal yang menjadi masalah dalam kehidupan biasanya ketika orang membiarkan keinginan itu menjadi nafsu liar yang tidak terkendali. Menginginkan segala-galanya menjadi milik adalah nafsu liar yang memungkinkan seseorang bertindak dan berperilaku liar tidak terkendali. Manusia yang dikuasai nafsu liar akan kekayaan, kekuasaan, jabatan, prestise akan bertindak sesukanya dan menganggap dunia ini menjadi miliknya dan seakan-akan hidupnya tidak berakhir. Manusia-manusia seperti itu, ada dan hidup dalam setiap zaman termasuk untuk zaman kita ini. Hadirnya manusia-manusia bermental serakah biasanya diimbangi dengan adanya manusia tandingan. Kehadiran tokoh tandingan umumnya dirasakannya sebagai duri dan rumput liar yang harus dimusnahkan orang serakah, tamak dan loba. Manusia yang terkurung dalam nafsu akan melihat orang lain sebagai saingan yang harus dilindas. Bentuk pelindasan itu dengan pelbagi cara baik cara pribadi maupun dalam persekongkolan jahat. Menghadapi kondisi seperti itu diperlukan adanya suara kritis untuk mengerem prilaku manusia yang merasa diri paling super.
Kisah oknum penguasa yang berlaku lalim, korup, tidak adil, sewenang-wenang itu dalam kisah perjanjian lama melahirkan para nabi yang kritis yang selalu mengendus setiap kebusukan para penguasa yang mau memang sendiri, membuat aturan dan hukum pembenaran diri. Nubuat nabi Yeremia dalam bacaan pertama hari ini menegaskan dan menerangjelaskan kepada kita tentang bagaimana Tuhan membentengi para nabi untuk meruntuhkan dan menghancurkan para penguasa dan para raja yang lalim. Para nabi diutus Tuhan untuk mengkritisi para penguasa yang telah dikuasai nafsu untuk kepentingan diri, mengabaikan kepenting banyak orang. Pemimpin-pemimpin dalam perjanjian lama dikuasai nafsu akan kuasa, jabatan, dan kenikmatan. Mereka mengakui Yahwe dengan bibir mereka tetapi perialakunya justru membelakangi Yahwe. Suara kritis para nabi yang berteriak di jalanan menuntut keadilan dan kebenaran hanya dianggap angin lalu. Persekongkolan oknum yang saling memuaskan nafsu mereka membuat mereka menjadi manusia yang tanpa hati dan rasa.  Yeremia hidup dan diutus Yahwe untuk mempertobatkan para penguasa dan komplotan yang lalim dan bernafsu seperti itu. 
 Aktivitas pewartaan tentang kerajaan Allah berhadpan dengan pelbagai ancaman yang menakutan dan mencemasan.  Panggilan para nabi semenjak perjan­jian Lama diwarnai ancaman. Kisah yang dangkat dalam bacaan pertama tentang panggilan dan masalah yang dihadapi nabi Yeremia adalah satu gambaran ten­tang tantangan seorang nabi yang di­panggil Tuhan. Yeremia dipanggil dan ditugaskan Yahwe melakukan pembaharuan dan mewartakan kebesaran Tuhan di tengah kehidupan masyarakat yang tidak adil. Nabi diutus ke tengah bangsa yang haus kuasa dan penuh kelaliman dan pemerasan. Nabi harus berhadapan dengan penguasa yang bertindak sebagai harimau dan singa yang buas. Yeremia berhadapan dengan para pejabat yang lalim yang lebih mengutamakan kepen­tingan diri sendiri dan komplotannya.  
Kebijaksanaan Tuhan ternyata melampaui segala macam kecemasan dan ketakutan manusia. Kebijaksanaan Tuhan juga tidak dapat dikalahkan oleh kekuasaan para peja­bat. Kebijaksanaan Tuhan melampai segala kehebatan manusia. Kebijaksanaan Tuhan itu ada dalam satu kata yaitu Kasih. Kasih Allah mengalahkan segalanya, Kasih Allah mengalahkan ketakutan dan kecemasan yang menimpa orang pilihan-Nya. Kasih Allah mengalahkan kesombongan dan kecongkakan manusia. Kasih Allah menembusi batas antara bangsa. Yeremia diutus bagi bangsa‑bangsa dan Kasih Allah menjadi jaminan perutusannya. Allah mem­bekali Yeremia dengan sabdaNya:Janganlah engkau gentar di hadapan siapa saja agar Aku tidak mengentar engkau di hadapan mereka. Aku menjadikan engkau sebagai kota yang berkubu, menjadi tiag besi dan tembok tembaga dalam menentang semua raja, penguasa dan pejabat. Mereka akan memerangi engkau tetapi mereka tidak akan mampu mengalahkan engkau, sebab Aku akan menyertai engkau dan melepaskan engkau. Orang yang benar di hadapan Tuhan tetapi kalah di depan penguasa dunia selalu dibenarkan dan dibela. Pembenaran dan pembelaaan itu akan diterima pada dunia akhirat.
Pengalam dan perutus Yeremia memang merupakan perutu­san yang sangat berat karena pada masa itu kelaliman raja meraja mela dan pemerasan terhadap masyara­kat kecil menjadi kerja pokok para penguasa. Namun Yeremia berhasil secara gemilang dalam misinya. Keber­hasilannya menentang kebijkan pen­guasa masa itu tidak lain karena itu beriman kepada Allah. Dalam imannya ia berharap sepenuhnya pada Allah. Iman yang melahirkan pengharapan  dan pengharapan  melahirkan Kasih akan mengatasi segalanya. Iman harap dan Kasih menurut Paulus merupakan kekuatan dalam misi pewartaan. Iman, harap, dan kasih hanyalah milik manusia yang takut akan Allah. Takut akan Allah itu nyata dalam hidup yang sederhana, rendah hati, adil, dan jujur. Kalau orang mengaku berimann berpengharapan, dan berkasih tetapi bernafsu menguasai itu berarti ia hadir sebagai singa berbulu domba. Perlu diwaspadai.
Tantangan dalam misi perutusan tidak saja dialami para nabi. Penggalan Injil tadi menggambarkan bahwa Yesus juga meski sebagai Putra Allah berhadapan dengan tantangan bangsa-Nya sendiri. Yesus yang diutus kepada segala bangsa ditolak seperti para nabi perjanjian Lama. Yesus datang dan memberikan kesaksian dan kebenaran tentang kerajaan Allah namun tidak diterima manusia. Yesus yang mulai mengajar di Sinagoga dilihat sebagai saingan dan bakal mengganggu kemapanan para pejabat masa itu. Mereka yang tidak senang pada ajaran-Nya berusaha menangkap Dia dan hendak melemparkan Dia ke jurang.  
Tugas serta Misi yang diemban Yeremia serta yang mau diwartakan Yesus adalah misi yang ditujukan kepada segala bangsa. Yeremia dan Yesus mewartakan kebenaran Allah kepada segala bangsa. Dan misi itu mereka emban dengan contoh dan cara hidup mereka.  Ia memperhatikan yang haus dan lapar, yang disisihkan dalam masyarakat, yang menderita akibat pelbagai kebijakkan para pejabat. Yesus membela hak mereka yang diperlakukan secara tidak adil. Yesus mengkritik para penguasa dengan cara hidupnya. Yesus tidak menggelar demostrasi meski pada masa itu kehidu­pan dilanda pelbagai Krisis. Contoh dan teladan hidup Yesus justru dirasakan para lawan-Nya sebagai demostra­si yang hasilnya sangat revolusioner. Yesus ingin merombak tatanan masyarakat bukan dengan kekerasan senjata. Dia kelihatannya diam namun tetap aktif dengan tindakan yang kecil dan biasa. Yesus menjadi orang yang luar biasa justru karena kemampuannya menja­lankan hidup yang biasa‑biasa saja.
Apakah yang menjadi bahan relevan untuk kehidupan kita berkaitan dengan firman Tuhan yang kita dengar hari ini? Mungkin yang perlu kita renungkan adalah bagaima­na kita sebagai orang beriman menjalankan misi kenabian kita dalam kehidupan. Kita bisa menjadi nabi yang mengkritik ketidak adilan dan ketidak jujuran dalam hidup dengan mualai hidup dalam keadilan dan kejujuran. Kalau kita  sendiri hidup adil, jujur, rendah hati, sederhana, menghargai orang lain maka kita beralasan untuk menolak perilaku oknum yang tidak adil, tidak jujur, congkak, serakah, dan merendahkan yang lain. Hidup dan dunia kita sampai saat ini masih banayk dikuasai manusia yang menuntut kita untuk berperan sebagai nabi.
Suatu saat seorang saleh meninggal dan jiwanya lansung meluncur masuk surga. Dia begitu terkejut ketika masuk surga karena di sana ia bertemu dengan orang-orang yang dulu semasa hidup mereka pernah dipenjara karena korupsi, judi, dan perbuatan tercela lainnya. Dia bertemu dengan hakim, jaksa, kepala desa, kepala dinas, DPR, bupati, gubernur yang pernah masuk penjara karena pelbagai kejahatan yang mereka lakukan. Jiwa orang saleh itu bertanya kepada malaikat dan santu Petrus. Mengapa, mereka ini dibiarkan masuk ke tempat ini? Dengan enteng maliakat itu menjawab. Saudara, jangan cemas mereka ini berada di sini hanya 20 menit saja. Tempat mereka sebenarnya bukan di sini. Mereka ke sini sekadar melanjutkan kebiasaan mereka selama hidup. Saat hidup mereka membuat studi banding ke tempat yang lebih baik, tetapi dengan itu mereka membuat pemalsuan banyak hal sehingga mereka masuk neraka. Setelah mati mereka juga masih meneruskan kebiasaan itu. Mereka studi banding ke surga tetapi sebentar lagi mereka kembali ke neraka.



Rm.Bone Rampung, Pr

Sunday, November 29, 2015

RENUNGAN MINGGU PERTAMA ADVENT



HARI MINGGU ADVEN I THN C/2 29 NOV 2015

Yer 33:14‑16; 1Tes 3:12‑4:2; Luk 21:25‑28.34‑36
Paroki Kristus Raja Mbaumuku
Buka
Hari ini kita mulai memasuki Masa Advent. Masa Advent ditetapkan Gereja untuk mengingatkan sekaligus mengajak segenap umat beriman agar senantiasa sungguh-sungguh mempersiapkan diri menyambut Hari Penyelamatan, hari kedatangan Tuhan Yesus Kristus untuk kedua kalinya. Kita memasuki masa kedatangan Tuhan dalam cara yang baru yang mempersiapkan kita memasuki kehidupan yang penuh kebebasan tanpa tekanan dan penuh keadilan tanpa kecurangan.
Tuhan mau datang dan akan mendatangi setiap kita untuk melakukan pembaruan secara total cara dan gaya hidup manusia lama kita. Tuhan mau datang dan kita dituntut menyiapkan diri untuk suatu gerakan pembaruan. Kita berdoa agar Tuhan sunggguh membarui diri dan kehidupan kita sehingga kita menjadi manusia baru yang  berkenan kepada Tuhan. Seraya memohonkan semangat pembaharuan itu, baiklah kita awali perayaan ini dengan mengakui salah dan dosa kita. Mungkin kita telanjur merasa mapan dalam cara hidup yang lama lalu  enggan melakukan pembaharuan. Di hadapan Tuhan dan sesama baiklah kita akui dan sesali salah dan dosa.  
Renungan
Satu dua minggu belakangan ini, warga kota Ruteng dan sekitarnya merasa senang dan gembira bukan karena banyaknya hiburan dan atraksi yang dipertontonkan pada panggung kampanye pilkada tetapi karena hujan mulai rajin mengunjungi dan menyegarkan warga. Di sana sini rumput dan tanaman mulai bertunas, tampak hijau dan segar. Rumput-rumput tua dan kering tampak mulai lapuk dan menyuburkan tunas-tunas baru yang menjanjikan dan menyegarkan. Itulah dinamika dan siklus semesta yang tidak dapat dilawan manusia. Itulah pergantian musim yang menjanjikan sesuatu yang baru. Itulah bahasa alam yang mengungkapkan bahwa tidak ada yang bertahan tetap di dunia ini. Itulah bahasa semesta yang menyadarkan kita untuk bersikap rendah hati di hadapan kehidupan karena segalanya bisa berubah. Perubahan dan pergantian adalah bahasa kehidupan.
Hari ini kita dan gereja semesta telah melepaskan satu masa liturgi yang lama dan mulai menerima satu masa liturgi yang baru. Kita tinggalkan masa-masa biasa untuk menerima satu masa baru yaitu masa Advent, masa kedatangan Tuhan. Advent sebagai masa kedatangan Tuhan tidak dimaksudkan agar kita bersikap pasif dalam penantian melainkan sebaliknya menuntut kita untuk aktif dalam menyambut masa baru kedatangan Tuhan yang membebaskan. Advent, kedatangan Tuhan itu menjanjikan dan memberikan kita harapan baru. Mengapa? Karena kedatangan Tuhan selalu menghidupkan mengubah segalanya.
Nabi Yeremia dalam bacaan pertama hari ini menubuatkan kebenaran akan adanya harapan baru itu. Dalam bentuk perbandingan, sang nabi menggambarkan harapan baru itu sebagai tunas baru yang akan menggantikan dahan dan cabang lama yang telah lapuk dan rusak dimakan waktu. Nabi mencatat secara tegas dan jelas: “Beginilah firman Tuhan, sungguh, waktunya akan datang, bahwa Aku menepati janji yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda. Pada waktu itu, Aku akan menumbuhkan Tunas Keadilan bagi Daud. Ia akan melaksanakan keadilan dan kebenaran di negeri. Pada waktu itu Yehuda akan dibebaskan dan Yerusalem akan hidup dengan tenteram. Dan dengan nama inilah mereka akan dipanggil: “Tuhan keadilan-Kita.”
Nubuat sang nabi ini menjelaskan bahwa Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya kepada Israel. Tuhan menjanjikan munculnya Tunas muda, tunas baru, dan diberinya nama sebagai Tunas Keadilan. Mengapa Tuhan mengutus Tunas muda, tunas keadilan? Itu tidak lain karena Israel hidup dalam praktik ketidakadilan yang melahirkan kekacauan yang berujung pada  disharmoni tatanan kehidupan. Ketidakadilan biasanya menginduk pada keserakahan memiliki segalanya untuk kepentingan diri sendiri sambil menguasai orang lain. Penumpukan harta, kuasa, dan jabatan selalu melahirkan keributan karena di sana tidak ada lagi keadilan. Tunas keadilan itu menurut nabi ditumbuhkan Tuhan dalam diri Daud. Keadilan, Tuhan tumbuhkan dalam diri Daud, dan hanya karena keadilan itulah Yahwe menyertai Daud yang pada akhirnya melumpuhkan regim Filistin pimpinan Goliat yang terkenal serakah ingin menguasai semua wilayah.
Tunas baru, tunas muda pejuang keadilan yang hadir dalam diri Daud sesungguhnya dipilih Tuhan untuk memperjuangkan kerajaan kasih. Nuansa dan wacana kasih inilah yang dibahasakan Paulus dalam surat kepada orang Tesalonika hari ini. Kepada orang Tesalonika Paulus dengan tegas mengimbau agar mengedepankan budaya kasih untuk mengalahkan budaya kematian. Kata Paulus dalam teks tadi, ”Semoga Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah, dan berkelimpahan dalam kasih satu sama lain, dan dalam kasih terhadap semua orang seperti kami pun menaruh kasih kepadamu. Kelimphan kasih  menjadi jaminan kesempurnaan di hadapan Allah sehingga sekali lagi Paulus menegaskan, Baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi”. Ini artinya jika tidak sungguh-sungguh maka ketakutan dan kecemasan akan menghantui manusia.
Injil hari ini berbicara tentang kecemasan,  ketakutan manusia.  "Di  bumi bangsa‑bangsa  akan  takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan  berhubungan dengan segala apa yang menimpa  bumi  ini, sebab kuasa‑kuasa langit akan goncang." Itulah  lukisan  kondisi konkret  kehidupan manusia  di   dunia  ini.  Ada  ketakutan dan kebingungan,  kecemasan  dan kegoncangan. Manusia takut dan bingung menghadapi situasi kehidupan yang penuh masalah. Dan masalah utama  yang dihadapi manusia adalah ketidakadilan.
Dalam ketakutan, kebingungan, kecemasan, dan kegoncangan  karena ketidakadilan itulah Tuhan menampakkan diri. Tuhan tampak untuk mengubah kondisi lama dengan kondisi yang baru.  "Pada waktu itu orang  akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan‑Nya” untuk melakukan apa yang adil terhadap manusia. Manusia dituntut untuk melihat, merespon kedatangan Tuhan itu dengan perihidup yang baik. Lukas mengingatkan, “Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah  dan  angkatlah  mukamu,  sebab penyelamatanmu sudah dekat." Manusia harus mengangkat muka melihat hal baru yang ditawarkan Allah. Manusia harus mengangkat muka, berpaling dari cara hidup lama yang dikuasai nafsu duniawi. Manusia dan kita semua dituntut untuk meninggalkan cara-cara dan kebiasaan lama, menggantinya dengan cara baru karena Tuhan menawarkan sesuatu yang baru yaitu sang Keadilan.
Mengangkat muka adalah bahasa perubahan cara pandang, mental, sikap dan perilaku hidup.  Di  dalam ketakutan dan kebingungan, kecemasan dan  kegoncangan, lihatlah  Anak Manusia! Apabila semuanya terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, pandanglah Tuhan! Kebingungan,  kecemasan, dan kegoncangan terjadi karena kita kurang melihat Tuhan. Kita kurang memandang  Tuhan karena kita lebih banyak berkonsentrasi pada diri sendiri, melihat  diri  dan kemampuan sendiri, kehebatan sendiri. Harta, kuasa, jabatan, nama besar seringkali menghalangi mata manusia untuk memandang dan menegenal Tuhan.  Ketika kita berpaling dari Tuhan,  pada saat itulah kita kehilangan pegangan dan  arah, sehingga kita mudah terjebak dalam hal-hal  yang  membuat kita sendiri takut dan bingung, cemas dan goncang. 
Hari ini, dalam minggu pertama Advent kedatangan Tuhan ini kita semua, Anda dan saya diajak untuk menghilangkan ketakutan, kecemasan, kebingungan, dan kegoncangan dengan cara kembali melihat  Tuhan, mengangkat muka  dan  memandang  Dia. Ketakutan dan kebingungan, kecemasan dan kegoncangan adalah suatu tanda bahwa dunia dan diri kita sendiri saja tidaklah cukup untuk memaknai hidup ini. Kita masih memerlukan Tuhan yang penuh "dengan  segala kekuasaan dan kemuliaan‑Nya".
Karena  itu,  selain menjadi tanda, setiap bentuk  ketakutan  dan kebingungan, kecemasan dan kegoncangan adalah juga sebuah  undangan untuk kembali melihat Tuhan, dan menaruh harapan  kepada‑Nya. Alasannya jelas dikatakan injil, sebab  di dalam Dialah "penyelamatanmu". Keselamatan kita ada  di dalam  Tuhan yang datang mendekati kita. Harapan kita  ada  di dalam  Dia yang menepati janji keselamatan kepada bangsa  Israel, dan melaksanakan keadilan serta kebenaran bagi mereka.  Kekuatan kita ada di dalam Dia sehingga kita luput dari semua  yang  akan terjadi, dan menjadi mampu bertahan menghadapi segala  ketakutan dan kecemasan yang ada. Sebab  itu,  bangkitlah dan lihatlah Tuhanmu. Hendaklah  hidupmu tetap "berkenan kepada Allah, tidak bercacat dan kudus" di hadapan‑Nya. Tuhan menjanjikan lahir dan hadirnya Tunas Baru, Tunas Keadilan dan kita hanya akan mengalami keadilan itu kalau kita melihat, menerimanya dengan meninggalkan semua yang lama dari cara hidup kita. Semoga.

                                                            foto: rm@bone rampung