Wednesday, April 29, 2015

HUT PERNIKAHAN MARKUS PORAT

Renungan Misa Syukur HUT Nikah
Sirak 51,1-12; Markus 4,35-41
Borong, 21 Juni 2010

Buka
Malam ini kita semua diundang keluarga ini untuk bersama mereka mensyukuri rahmat dan cinta Tuhan yang telah mengaarahkan dan menyertai panggilan mereka sebagai suami istri. Kita besyukur karena Tuhan telah meneguhkan dan menguatkan mereka dalam aneka tantangan dan perjuangan hidup. Seraya mengucapkan syukur kita juga memohon rahmat peryertaan Tuhan untuk anak-anak yang akan pergi mencari kebijaksanaan, menuntut ilmu. Kita berdoa agar Tuhan menolong mereka sekaligus agar mereka senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan. Agar syukur dan doa kita berkenan kepada Tuhan baiklah kita akui salah dan dosa kita

Renungan
Manusia biasanya mudah sekali mencari alasan untuk melakukan sesuatu. Karena itu, logislah bagi kita kalau setiap kegiatan, aktivitas, tindakan manusia memiliki dasar atan alasan. Alasan yang dipakai itu bisa dicari atau dicari-cari, bisa dibuat atau dibuat-buat, bisa ada atau diada-adakan.Hari Jumat yang lalu Pak Markus menjumpai saya di Kisol dan meminta untuk memimpin perayaan ekaristi di rumah ini dengan ujud syukur atas HUT pernikahan yang ke-22 dan sekaligus memohon doa restu bagi anak-anak mereka yang akan mengadu nasib dan mempersiapkan masa depan pada lembaga pendidikan. Syukur dan memohon doa restu itulah alasan utama mengapa kita ada bersama di tempat ini saat ini. Pernikahan antara Pak Markus dan Ibu adalah kenyataan. Anak-anak akan  berangkat ke tempat studi juga kenyataan. Karena itu keberadaan kita di sini bukanlah karena dicari-cari, diada-adakan, dibuat-buat. Memang waktu Pak Markus menyampaikan hal ini kepada saya, pikiran saya langsung mengingat pengalaman pribadi saya tahun 2005. Lima tahun lalu Oktober 2005 pastor Paroki Iteng meminta saya untuk merayakan misa di kampung dan saya spontan menerima tawaran itu. Di luar dugaan saya misa itu ternyata dibuat besar-besaran. Saya terkejut saat tiba di kampung ada kemah besar hampir sama dengan kemah saat misa sulung saya tahun 1995. Ternyata Pastor paroki dan panitia dan keluarga mau membuat kejutan mau merayakan syukur 10 tahun imamat saya. Kalau waktu misa sulung koor dari SMA Fransiskus, pada misa 10 tahun koor dari SMA St.Maria Iteng. Yang menarik lagi bagi saya saat itu adalah: panitia misa sulung dulu tetap menjadi panitia misa syukur 10 tahun itu. Ternyata dulu panitianya belum dibubarkan dan bertahan sampai 10 tahun. Saya cemas panitia itu juga belum dibubarkan. Saya tidak menduga dan saya tidak pernah merencanakan hal seperti itu. Karena itu saya ingat dalam sambutan, saya sampaikan bahwa acara itu tampaknya dibuat-buat, dicari-cari karena biasanya orang tunggu 25 (perak) tahun, 40 (pancawindu) tahun, 50 (emas) tahun. Saya tidak tahu kita beri nama apa pesta untuk 10 tahun seperti itu.Mungkin pesta kayu jati saja. Ini kenyataan dan mungkin cara khas orang Pocoleok yang membuat saya harus melihatnya dengan cara yang lain.
Pada akhirnya saya menyadari bahwa mereka melakukan itu sebagai bentuk dukungan terhadap pilihan hidup saya. Intinya mereka mau mengungkapkan syukur dan saya yakin selama 10 tahun mereka ingat dan mendoakan saya kalau tidak semua paling kurang panitia yang belum dibuarkan itu. Semula saya berpikir mereka hanya mau mencari alasan untuk perbaikan gizi karena babi dan sapi harus jadi taruhan untuk menghiasi meja hidangan.  Pikiran saya seperti itu tergeser ketika nilai ucapan syukur itu diperhadapkan pada inti kehidupan kita sebagai orang beriman. Bahwa Binatang darat, laut, udara babi dan sapi, ayam ikan harus melintang itu hanya efek samping yang tidak bisa dibandingkan ekspresi iman dalam bentuk syukur. Nilai kebersamaan, kekeluargaan, persaudaraan, untuk salaing mendukung dan menguatkan dalam mengungkapkan syukur ternyata bernilai melampaui hal material. Karena itu saya dan mudah-mudahan kita juga disadarkan bahwa syukur itu harus menjadi bagian dari perjalanan hidup kita dari saat-ke saat. Tidak mesti menunggu 25 tahun, 40 tahun, 50 tahun, 75 tahun atau seratus tahun karena kita semua bukanlah ahli ilmu pasti yang menentukan. Tuhan yang menentukan karena itu hari ini kita bersykur. Kalau masih diberi waktu untuk besok, besok juga  begitu seterusnya syukur menyertai kehidupan kita. Karena itu kiranya kalau pak Markus mengundang kita untuk merayakan syukur HUT pernikahan ke-22 tahun bukanlah hal aneh atau dicari-cari dan dibuat-buat. Saya tidak tahu sebagai orang Pocoleok apakah panitia pernikahan Pak Markus 22 tahun lalu masih menjadi panitia dalam acara malam ini?
Mengapa syukur itu harus menjadi bagian dari gerak hidup kita? Jawabannya karena hidup kita di dunia ini merupakan perjuangan. Kita semua hidup di dunia ibarat pemain  bola piala dunia yang dilepaskan trio 3 pelatih andalan kita yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus. Kita dilepaskan di arena untuk bermain dalam prosedur standar sebagai orang beriman, memanfaatkan setiap peluang untuk mengumpulkan nilai dan mencetak goal-goal indah. Dalam konteks perjuangan seperti itulah syukur harus menjadi muara gerak hidup kita.
Gambaran tentang suka duka perjunagan hidup manusia analogis dibahasakan Kitab Putra Sirakh dalam bacaan pertama tadi. Cukup jelas kiranya bagi kita bahwa penggalan teks Putra Sirakh tadi mewacanakan dinamika perjuangan manusia dalam kehdiupan ini. Ekspresi syukur dan dan nyanyian pujian Putra Sirakh  secara tidak lansung  menggambarkan secara konkret situasi keseharian hidup manusia. Ibarat pemain bola Putra Sirakh menyadari diri sebagai pribadi yang berada dalam kepungan lingkungan yang bisa menghancurkan semua rencana dan cita-citanya.  Situasi Sirakh juga menjadi situasi kita dan semua manusia sepanjang zaman. Rahmat, kebaikan, perlindungan, penyertaan Tuhan itulah yang bisa ia temukan dalam setiap pengalaman pahit yan dihadapinya dan itulah yang diolahnya sebagai bahan untuk bermadah memudi Tuhan.
Saya yakin, dan boleh kita semua yakin bahwa keluarga Pak Markus juga tidak luput dari situasi dan pengalaman Putra Sirakh. Hidup bersama selama 22 tahun sebagai suami istri jelas banyak tantangan dan cobaannya. Berjalan bersama selama 22 tahun tentu banyak krikil tajamnya. Memasuki rimba kehidupan bersama selama 22 tahun pasti banyak duri yang melukai. Tetapi semua hal itu terlewatkan dengan baik itulah yang harus disyukuri. Dan itulah membuat kita semua berada dalam perayaan malam ini.
Dalam setiap pesta pernikahan  entah itu terjadi di gunung, pedalaman jauh dari laut, entah itu di dekat laun biasanya orang menggunakan kata dan simbol yang berkaitan dengan laut. Sambutan dan ucapan, simbol  saat pesta nikah hampir pasti penuh dengan kata, istilah yang berhubungan dengan laut. Kita dengan ucapan selamat mengarungi samudera rumah tangga. Selamat memasuki bahtera rumah tangga. Bagi mereka yang belajar bahasa arab tidak akan menngunakan kata laut dan bahtera sekaligus karena bahtera itu bukan berarti sampan atau perahu. Bahtera itu sesungguhnya berarti laut karena laut bahasa arabnya bahrun (jenis masklin). Mengapa orang yang jauh dari pantai juga pakai kata laut, bahtera, bahrun. Pilihan kata itu tentu ada alasannya dan itu berkaitan dengan perbandingan suasna laut dengan kehidupan bermah tangga. Pelbagai tantangan dan cobaan dalam hidup berkeluarga diparalelkan dengan ancaman badai, gelombang. Suka duka kehidupan berkeluarga biasanya sudah tergambar dalam pilihan kata dan simbol seperti itu.
Pilihan apa saja termasuk pilihan hidup berkeluarga dalam konteks iman kita dilihat sebagai bentuk jawaban manusia atas ajakan dan panggilan Tuhan. Ajakan dan panggilan Tuhan itu menuntut manusia untuk memilihnya secara bebas dan bertanggungjawab. Tuhan senantias amengajak manusia untuk sesuatu yang memungkinkannya selamat. Dan menarik sekali injil tadi memuat kata-kata ajakan Yesus: Marilah kita bertolak ke seberang. Mengapa Yesus mengajak ke seberang? Ada apa di seberang, dan bagimana harus ke seberang? Pertanyaan-pertanyaan ini mendapat jawaband alam injil tadi. Yesus mengajak ke seberang  karena hari sudah petang. Itu artinya tidak lama lagi kegelapan alam tiba. Itulah gambaran situasi yang tidak menguntungkan yang bakal menimpa manusia. Itu artinya di seberang sana ada satu kondisi yang lebih baik dari yang ada saat itu. Mereka ke seberang dengan menggunakan kapal fery penyeberangan dan bersama-sama dengan Yesus. Yesus mengajak sekaligus menyertai penyeberangan itu. Itu artinya ada jaminan pelayaran itu berlangsung aman karena penanggungjawabnya ada bersama mereka. Bagi Yesus  penyeberangan itu dijamin aman dan akan tiba di seberang karena itu ia membentangkan tikar lalu tidur nyanyak.
Sikap dan pandangan Yesus ternyata lain dengan pengalaman para penumpang. Mereka merasakan adanya badai yang mengancam dan Yesus dinilai sebagai orang yang masa bodoh, tidak peduli. Cara mereka membangungkan Yesus menjadi bumerang karena Yesus membaca bahwa mereka takut dan tidak percaya kepada pemimpin rombongan. Krena mereka tidak percaya maka Yesus dengan mudah memberi perintah agar angin redah dan itu memang terjadi. Setelah angin redah mereka masih juga belum mengenal Yesus sehingga bertanya tentang siapa sebenarnya Yesus itu. Dari dinamika penyerangan bersama Yesus ini jelas mereka tiba dengan selamat bersama Yesus di seberang.
Kalau perkaawinan dianalogikan sebayai suatu upaya menajawab ajakan Tuhan dan bersedia ikut dalam penyebrangan bersama Tuhan maka pasti perkawinan itu akan berjalan aman. Kuncinya Yesus harus selalu diyakini hadir dalam dan bersama ada dalam peyeberangan. Kalau Yesus selalu dirasakan kehadirannya, maka manusia harus selalu berinisiatif datang mendekati dia dan memohon pertlindungannya. Kisah injil tadi dengan seluruh dinamika yang terjadi di dalamnya erat kaitannya dengan panggilan hidup kita sebagai apa saja. Kalau kita yakin pilihan hidup kita sebagai jawaban atas ajakan dan panggilan Tuhan, maka kita harus yakin pula bahwa Yesus akan ada bersama-sama dengan kita.
Dalam misa ini kita juga berdoa untuk perjalanan anak-anak dari keluarga ini untuk  melanjutkan studi. Itu juga harus dilihat sebagai jawaban atas panggilan Tuhan untuk ke seberarng mencari ilmu yang membuat masa depan lebih baik. Bagi adik-adik yang hendak berangkat, berangkatlah bersama Yesus, dan manakala ada tantangan dalam perjalanan mencari ilmu jangan lupa dekati Yesus karena Dia akan menolong pada waktunya yang tepat. Mudah-mudahan acara seperti ini menyadarkan dan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur kepada Tuhan yang senantiasa menyertai kita dalam cara yang cocok dan pas untuk kita. Amin


PERNIKAHAN KARLO DAN MEI

Renungan Pernikahan
Elias Karllo Wajong & Alberta Parinters Makur
Kej.2,18-24;  Ef.5,22-33; Yoh.15
Paroki Maria Asumpta Katedral Ruteng
Jumat, 24 April 2015

Buka
Hari ini kita semua yang hadir ingin mensyukuri karya Tuhan, karya Kasih-Nya yang dinyatakan kita semua dan terutama kepada kedua mempelai, Karlo dan Mei, yang memungkinkan keduanya bersepakat membentuk dan memangun persekutuan Kasih dalam hidup berkeluarga. Kita mendukung niat baik kedua mempelai ini dengan kehadiran kita dalam doa bersama dan doa pribadi melaluio perayaan ekaristi ini sebagai perayaan pernyataan Kasih Tuhan yang sempurna untuk kita. Agar semua doa dan harapan kita berkenan kepada TUhan, baiklah kita akui kelemahan dan dosa-dosa kita.

Renungan   

Sepasang remaja yang hendak menikah mendatangi seorang guru kebijaksanaan. Keduanya meminta nasihat dan penjelasan tentang persoalan cinta dan perkawinan. Pasangan itu meminta penjelasan sang guru tentang arti cinta  dan cara menemukan  cinta? Sambil menunjuk ke arah ladang bunga milikinya, sang guru berkata, "Karena kalian ingin mengerti tentang cinta dan bagaimana menemukan cinta maka lihatlah, ada ladang bunga yang luas di depan sana. Pergilah, berjalan majulah kalian berdua secara bersama-sama di ladang bunga milikku dan kalian tidak boleh mundur lagi. Cari dan petiklah sekuntum bunga  yang menurut Anda berdua merupakan kuntum terindah dan terharum. Kalau kalian berdua  temukan kutum bunga terindah dan terharum itu, petiklah dan bawa bunga itu kepadaku karena itu pratanda bahwa kalian telah berhasil mengerti dan menemukan cinta yang kalian cari".
 Pasangan itu pun berjalan menuju  ladang bunga yang luas, milik sang guru. Setelah memasuki ladang bunga itu keduanya mengamati sambil mencari sekuntum bunga yang harum dan indah. Keduanya hampir memetik sekuntum bunga, tetapi masih ada keraguan pada diri mereka karena mereka masih bayangkan di depan mereka masih ada bunga yang lebih harum dan lebih indah lagi. Begitulah, berulang-ulang mereka hampir memetik sekuntum bunga di ladang itu tetapi selalu ada keraguan bahwa di depan mereka kemungkinan masih ada kuntum terharum dan terindah. Keduanya tenggelam dalam pencarian sekuntum bunga terharum dan terindah itu. Keduanya asyik dan terus maju dan maju terus  sehingga tanpa mereka sadari keduanya telah sampai di ujung ladang bunga itu. Betapa terkejutnya mereka karena keduanya tiba di ujung ladang tanpa memetik sekutum bunga pun. Keduanya tidak mungkin berjalan mundur lagi sekadar memetik sekuntum bunga lagi.
Keduanya kembali kepada sang guru tanpa membawa apa-apa. Sang guru bertanya,”Mengapa kalian tidak membawa sekuntum bunga kepadaku?" Mereka menjawab:” Yang mulia, kami hanya diizinkan memetik sekutum, dan kami tidak boleh mundur. Sebenarnya dalam perjalanan kami, kami telah menemukan kumtum bunga yang indah dan harum pada awal perjalanan kami di ladang bunga itu, tetapi kami berpikir masih ada bunga yang lebih indah dan harum di depan kami. Karena itu, kami terus maju, maju terus dan tanpa sadar kami tiba di ujung ladang, sementara tidak satu pun bunga yang kami petik. Inginnya kami memetik yang di belakang, tetapi aturan tidak membolehkan kami untuk mundur lagi. Beginilah jadinya,  kami pulang tanpa membawa sekutum bunga. Sang Guru kemudian berkata " Benar dan tepat sekali, begitulah arti dan hakikat cinta yang ingin kalian cari dan ingin kalian dapatkan.
 Tiga hari kemudian pasangan itu kembali mendatangi sang guru untuk meminta penjelasan tentang hakikat perkawinan, dan bagaimana menjalani hidup perkawinan. "Apa itu perkawinan? Bagaimana kami  bisa menjalaninya?”, tanya mereka kepada sang guru.  Gurunya pun menjawab sambil menunjuk ke arah hutan miliknya. "Ada hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah kalian tanpa boleh mundur. Cari, pilih, dan tebanglah satu pohon yang menurut Anda berdua merupakan pohon yang paling lurus dan paling tinggi dari semua yang ada hutan itu. Kalau kamu temukan itu, itulah dan begitulah makna perkawinan untuk Anda berdua.
Keduanya  pun berjalan menuju hutan milik sang guru, tetapi tidak seberapa lama kemudian, keduanya kembali. Keduanya membawa sebiji buah pohon yang baru berkecambah. Mereka membawanya di dalam satu polibag kecil. Guru agak terkejut karena keduanya kembali begitu cepat dan tidak membawa pohon yang diminta. "Mengapa kalian begitu cepat kembali dan tidak membawa pohon yang kuminta?”
Sambil menunjukkan biji pohon yang baru berkecambah itu, keduanya berkata: "Guru yang bijaksana, berdasarkan pengalaman kami tiga hari lalu, setelah menjelajah seluruh ladang bunga kami  pulang dengan tangan kosong. Kami tidak menemukan cinta yang kami cari. Jadi, pada kesempatan ini, kami berdua menemukan sebiji buah pohon yang mulai bertumbuh ini. Kami berdua sama-sama yakin bahwa pohon yang tampaknya tidak lurus dan belum terlalu tinggi ini bila kami pelihara dengan pupuk yang baik pasti akan menjadi sebatang pohon yang lurus  tinggi.  Kami berdua sepakat mengambilnya. Guru, mungkin tidak bisa melihat bagaimana lurus dan tingginya sekarang tetapi kami berdua sepakat akan berusaha memelihara benih yang baru mulai tumbuh ini agar menjadi pohon yang paling lurus dan pohon yang paling tinggi bukan di ladang ladang tuan tetapi di ladang milik kami. Kami tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya". Setelah mendengar penjelasan pasangan itu, sang  guru bijak itu mengangguk-anggukan kepala dan berkata: "Dan benar itulah hakikat perkawinan yang kalian tanyakan dan perkawinan yang hendak kalian masuki "
Bertanya-tanya dan pertanyaan-pertanyaan selalu mengandaikan adanya masalah. Masalah yang dipertanyakan itu banyak, bervariasi, dan tak terhitung pada setiap orang. Ketika kita berhadapan dengan pertanyaan atau masalah, kita merindukan jalan keluar atau jawaban yang tepat mengatasinya. Untuk menemukan jalan keluar dan jawaban atas masalah, kita membutuhkan cara dan kekuatan tertentu.
Pertanyaan, masalah, dua remaja dalam cerita ini boleh jadi menjadi pertanyaan dan masalah pasangan Karlo dan Mei selama ini dan sampai saat ini. Hari ini mereka berdua mengukuhkan, meresmikan, menandatangi komitmen dan pilihan mereka untuk membentuk institusi yang kita sebut keluarga, rumah tangga. Pergelutan dan pergulatan sepasang tokoh dalam cerita tadi boleh jadi juga merupakan pergulatan dan pergelutan pasangan Karlo dan Mei dalam membayangkan masa depan rumah tangga yang mereka bentuk hari ini. Sebagai pasangan baru, kemungkinan besar keduanya akan banyak bertanya perihal cinta, bertanya tentang perkawinan, dan bertanya segala hal yang terkait di dalamnya. Tentu saja keduanya mengharapkan ada banyak guru kebijaksanaan, guru kehidupan yang bisa didatangi untuk dimintai nasihat dan penjelasan atas masalah mereka.  Kalau kedua pasangan ini mengundang kita semua untuk menghadiri pengukuhan pernikahan mereka, itu bisa dimaknai sebagai cara mereka untuk mendapatkan banyak guru kebijaksanaan. Semua yang hadir dalam perayaan ini tentu saja berdoa agar kedua pasangan ini mendapatkan kebijaksanaan itu dalam diri semua yang hadir terutama dalam diri psagan suami istri yang direpresentasikan dalam diri Bapa Mama Saksi.
Sehebat apa pun dan sebijaksana bagaimana pun orang yang akan didatangi dan ditanyai tentang cinta, tentang kehidupan perkawinan hampir pasti tidak akan ada orang yang memberi jawaban secara memuaskan. Mengpa? Jawabannya karena perkawinan atau kehidupan keluarga itu bukan suatu kondisi statis sekali jadi melainkan suatu ziarah yang diwarnai dengan dinamika.  Ziarah hidup berkeluarga diwarnai dengan kemungkinan-kemungkinan dan pilihan-pilihan yang menuntut pasangan untuk menentukan pilihan secara bersama dan secara tepat. Kehidupan berkeluarga ibarat memasuki taman bunga dan hutan rimba yang menuntut pelakunya terus maju dan maju terus memilih yang terindah, terharum dan tinggi dan terlurus. Semua orang merindukan sesuatu yang indah, harum, lurus dan tinggi. Itulah gambaran idealisme masa depan yang mendasari setiap gerak langkah untuk menjadikan diri dan kehidupan itu semakin baik dan berkualitas.
Dari cerita tadi nyata sekali bahwa jawaban atas persoalan cinta, jalan keluar untuk masalah perkawinan harus dapat ditemukan sendiri oleh pasangan itu. Mengapa hanya bisa ditemukan sendiri oleh pasangan itu? Jawabannya, karena pengalaman akan cinta, susana hidup perkawinan untuk setiap orang itu tidak mungkin sama. Yang bisa dan yang biasa orang lakukan hanyalah berusaha mencari dan mengumpulkan segala yang baik dari model penghayatan cinta dan model pemaknaan perkawinan orang lain.  Ikatan cinta dan perkawinan setiap pasangan itu unik karena Tuhan sendiri sudah menghendaki hal itu. Program cinta dan kehidupan perkawinan seseorang sudah direncanakan dalam agenda karya Allah dan akan dilaksanakan manusia. Cinta dan perkawinan direncanakan Tuhan di surga dan dilaksanakan manusia di bumi. Proyek Cinta Karlo dan Mey sudah ada dalam program kerja Tuhan. Kini  keduanya harus menandatangi komitmen untuk melaksanakan proyek Cinta yang Tuhan rancang itu.  Komitmen kedua mempelai bukan sekadar memenuhi tuntutan pranata dan status sosial kemasyarkatan, peralihan status tetapi lebih dari itu komitmen keduanya merupakan jawaban atas rencana Allah untuk menyempurnakan cinta dan dan memperkaya hidup dalam Kasih. Hari ini Karlo dan Mei dalam kebebasan dan dalam kesadaran yang penuh mendeklarasikan diri sebagai satu paket lebih dari paket calon bupati dan wakil bupati. Paket ini tidak perlu pasang baliho di perempatan atau tikungan jalan, tidak perlu tim sukses, tidak perlu pintu masuk partai politik. Paket dan pasangan pengantin ini juga lebih dari paket independen karena ikatan mereka tidak harus mengumpulkan banyak KTP orang lain. Paket ini tidak membutuhkan banyak  pemilih. Hanya satu pribadi yang memilih mereka yaitu Tuhan. Tuhan memanggil dan memilih mereka untuk memenangi tender pelaksanaan proyek Kasih. Konsekuensinya, keduanya harus dapat mempertanggungjawabkan seluruh komitmen mereka kepada Tuhan sebagai pemilik proyek Kasih itu.
Yesus sendiri adalah wujud dan kehadiran Allah yang adalah Kasih. Allah yang adalah Kasih menjelma dalam diri Yesus yang memberi jaminan bagi masa depan kehidupan manusia. Semua orang merindukan masa depan jiwa yang membahagiakan. Masa depan jiwa itu ditentukan dan dirajut dalam kehidupan di dunia masa kini. Dalam konteks seperti itulah kita memahami mengapa orang Saduki dan ahli Taurat bertanya kepada Yesus tentang hukum utama. Orang Saduki dan ahli Taurat sesungguhnya juga merindukan masa depan yang kekal. Dalam kerinduan dan dalam  terminologi hukum  mereka bertanya tentang hukum utama yang bakal menggaransi jiwa mereka. Pertanyaan mereka bukan persoalan sepele yang sifatnya elementer tetapi menukik pada persoalan hukum utama. "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus:  “Kasihilah Tuhan, Allahmu”. Mengasihi Tuhan sebagai hukum utama yang dikatakan Yesus berkualifikasi standar. Kualifikasi standar hukum utama itu  harus utuh, bulat, genap, tidak terbagi-bagi, tidak terpecah-belah, tidak bercabang-cabang. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Kualitas Kasih manusia akan Tuhan yang diwacanakan Yesus harus ditopang dan dinyatakan dalam pilihan untuk mengasihi sesama. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini." Bagi Yesus manusia yang memiliki kasih yang utuh, total, kepada Tuhan dan sesama adalah manusia-manusia yang sudah berjalan mendekati kerajaan Allah. "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Jawaban Yesus itu final dan tuntas. Penginjil membahasaknnya,” seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus”. Artinya, Kasih itu mengalahkan segalanya.
Semua kita yang hadir dalam perayaan ini baik kami yang dipanggil menjadi imam maupun yang dipanggil untuk hiudp berkeluarga sama-sama dipanggil dalam cara berbeda untuk memilki Kasih yang segenap, seutuh, sepenuh, selengkap, yang Yesus sabdakan. Panggilan dan pilihan hidup apa saja termasuk hidup berkeluarga adalah panggilan dan pilihan untuk mengasihi Tuhan yang hadir dalam diri pasangan sebagai citra Allah. Karena itu, kualifikasi satandar Kasih yang dikatakan Yesus harus menjadi  pilihan pasangan suami  istri baik pasangan Karlo-Mei ini maupun pasangan-pasangan lama. Mengapa Yesus menuntut Kasih yang utuh, genap, bulat, lengkap.  Karena Tuhan sendiri telah mengasihi kita manusia secara penuh, utuh dan total.
Cita-cita dan kerinduan Tuhan hanya satu yaitu agar kita manusia memiliki Kasih yang utuh terhadap Tuhan dan Sesama. Cita-cita dan kerinduan manusia juga hanya satu yaitu agar manusia mampu mengasihi Tuhan dan sesama secara utuh. Bedanya, Kasih Tuhan tidak pernah berubah karena kondisi dan keterbatasan manusia. Sebaliknya, kasih manusia sering terbagi, terbelah, terpencar, dan bercabang. Mengapa? Karena kata orang bijak manusia itu hakikatnya adalah nafsu yang berjalan. Nafsu itu bermacam-macam (kuasa, harta, jabatan). Kalau semua itu menguasai manusia maka  Kasihnya pasti akan terbagi-bagi dan berkeping-keping.
Jawaban Yesus terhadap pertanyaan ahli taurat dan orang Saduki dalam injil merupakan bentuk perintah atau imperasi untuk mewujudkan kasih yang utuh. Hal itu sejalan dengan apa yang diharapkan Paulus dalam suratnya untuk jemaat Filipi. Paulus pada dasarnya menekankan pentingnya keutuhan kasih itu. Dia merumuskannya dalam resep panca S- atau resep 5s yaitu  sehati (satu hati), sepikiran (satu pikiran), sekasih  (satu kasih), sejiwa (satu jiwa) dan setujuan (satu tujuan). Konsep panca S atau 5S yang digagaskan Paulus ini justru dipilih pasangan Karlo-Mei sebagai landasan pacu perjalanan hidup rumah tangga mereka.  Untuk mewujudkan panca S atau 5S ini tentu tidaklah  mudah karena Karlo dan Mei tetaplah dua pribadi yang memiliki karakter yang berbeda. Saya tahu adik Mei ini sejak kecil sangat kritis dan berpikir matematis karena banyak berguru pada Pater Flori Laot (almarhum). Tidak heran ia menekuni dunia angka matematika. Karlo saya menduga berkepribadian tenang dan ini tentu tepat dan menunjang pangilannya menjadi seorang dokter. Tidak gegabah menangani orang sakit. Perbedaan dua karakter ini bukannya untuk dipertentangkan tetapi sebaliknya harus saling melengkapi.
Orang Manggarai asal Pocoleok berinisial RIS (Romo Ino Sutam) senang bersemiotika atas angka atau bilangan. Dalam berbagai kesempatan ia selalu berusaha menghubungkan aneka hal termasuk kehidupan manusia sejak lahir hingga mati dalam permainan angka. Romo Ino dalam beberapa kesempatan mengangkat dan memaknai angka lima dalam kehidupan orang Maggarai sebagai angka yang bermuatan filosofi orang Manggarai. Demikianlah angka lima itu menggambarkan kesempurnaan.  Tadi ada lima s untuk dituntut untuk keutuhan Kasih kehidupan orang percaya termasuk keluarga baru ini. Kasih yang utuh dalam lima S itu hanya akan abadi kalau pasangan Karlo dan Mei terpaut dan memiliki pancaada atau 5ada. Yesus berbicara tentang dua hukum utama, Paulus menawarkan panca/lima ada yang harus menjadi milik pasangan ini. Dalam melanggengkan Kasih sebagai hukum utama Paulus mengingatkan agar manusia tetap berpaut pada Kristus. Mengapa? Karena pada Yesus ada lima hal penting. Pasangan Karlo-Mei memilih bacaan pertama yang memuat lima hal penting itu bagi kelanggengan hidup keluarga mereka.  Pasangan ini mau mendengarkan arahan santu Paulus tadi. Jadikan Yesus sebagai andalan karena dalam Kristus ada lima hal pokok  yaitu ada nasihat,   ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih, dan ada belas kasihan. Paulus mengingatkan bahwa segalanya adalah dalam Kristus. Nasihat, penghiburan, persekutuan, kasih, dan belas kasihan itu dapat ditemukan di dalam Kitab suci yang kiranya diakrabi keluarga baru ini. Kelima hal itu kiranya juga ada dalam diri pasangan Karlo-Mei sehingga bisa saling menasihati, saling menghibur, saling mempersatukan, saling mengasihi dan berbelas kasih satu sama lain di dalam keluarga. Kelima hal ini penting dimiliki untuk membebaskan pasangan ini dari sikap mementingkan diri. Kelima hal itu penting agar setiap kita bersikap rendah hati, mengutamakan orang lain, dan mengosongkan diri sendiri.
Kehidupan keluarga  zaman ini penuh tantangan baik dari dalam diri pasangan maupun dari luar. Tanpa bermaksud menakut-nakuti Karlo dan Mei saya mengangkat pengalaman seorang ibu namanya Nancy Anderson. Melalui bukunya berjudul Avoiding The Greener Grass Syndrome (Menghindari Sindrom Rumput yang Lebih Hijau) ia  berkisah tentang rumah tangganya yang nyaris hancur berantakan.  Di dalam buku itu ia membuat perbandingan atau metafor tentang kehidupan perkawinannya yang terancam karena ia menderita simdrom rumput lebih hijau. Kata rumput hijau di sini merupakan metafor untuk orang-orang (perempuan) yang muda. Anderson mengakui bahwa ia selalu mengalami kesulitan dalam hidup berkeluarga karena masing-masing ingin mencintai orang yang lebih muda. Dalam bahasa populer keluarga mereka terancam bubar karena masaing-masing berprinsip  “tua di rumah muda di jalan” di rumah mengaku sebagai bapak, suami, ibu/istri tetapi di jalan di luar rumah mengakui bujangan. Sikap seperti masih ada sampai masa sekarang. Zaman sekarang mungkin lebih gila lagi karena bukan hanya sindrom rumput hijau, tetapi juga ada sindrom rumput kering. Kakacauan hidup perkawinan zaman ini bukan hanya karena pasangan tertarik pada ‘daun’ yang muda-muda tetapi juga karena orang tertarik pada ‘daun’ kering yang bertatus kakek/nenek, opa/oma.. “Daun-daun tua dan kering zaman ini, juga mengecohkan banyak orang karena ada semacam teknologi penghijauan manusia yang orang bilang upaya awet muda dengan segala macam bentuknya. Sindrom daun muada dan daun tua zaman ini bukan hanya berlaku pada kaum pria tetapi juga bersaing dengan kaum perempuan. Kata selingkuh adalah kata baru yang muncul ketika lembaga keluarga terserang sindrom rumput kering dan rumput hijau. Anderson tak ingin banyak orang terjebak dalam sindrom rumput hijau itu. Karena itu dalam bukunya Menghindari Sindrom Rumput lebih Hijau itu Anderson menyarankan pasangan suami istri untuk senantiasa merenungkan Kasih Tuhan yang mengalahkan segalanya, kasih yang utuh dan total.
Hari ini Karlo-Mei menandatangai portofolio kehidupan Adik dalam jabatan sebagai suami dan istri. Hari ini Adik berdua mulai menulis lembaran pertama buku kehidupan perkawinanmu. Hanya Karlo dan Mei yang bisa menentukan tebal tipisnya dan isi buku kehidupan rumah tanggamu. Hari ini kalian mendatangi Tuhan sebagai guru kebijaksanaan Sejati. Tuhan hanya menyiapkan kondisi kehidupan ibarat ladang bunga yang indah tempat kalian menentukan pilihan. Tuhan hanya menyiapkan hutan yang luas tempat kalian membuat pilihan-pilihan. Hari ini kalian berdua ibaratnya baru mendapatkan biji pohon yang baru mau bertumbuh. Lurus tidaknya dan tinggi rendahnya pohon yang Anda pelihara dalam hidup berumah tangga ada dalam kuasa adik berdua. Untuk itu jadikalah Kasihmu itu utuh untuk pasanganmu. Kasih yang utuh dan sempurna akan mengalahkan segalanya. Proficiat dan selamat berbahagia.

Ruteng, 24 April 2015

Rm.Bone Rampung, Pr

Monday, August 4, 2014

RENUNGAN MIDODARENI

Renungan Ibadat/Misa Midodareni
Pasutri Marsel Maring & Lusinta Sianturi
Teks Bacaan: Tob.8,5-10; Yoh.2,1-11
Malang, Jumat 8 Agustus 2014   
Buka
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, pada malam yang kudus, menjelang pernikahan Bapak Marsel dengan Ibu Lusi, kita diundang ke rumah ini untuk bersama-sama memohon berkat kepada Tuhan agar semua persiapan yang telah direncanakan dalam rangka pelaksanaan pernikahan dapat terlaksana dengan baik, lancar dan sesuai dengan rencana. Pernikahan adalah hal yang sangat kudus, oleh karenanya marilah kita dukung dengan sepenuh hati ibadat pada malam hari ini dengan terlebih dahulu memohon ampun atas kesalahan dan dosa kita.
                                    
Renungan
Sebagai catatan awal, saya harus mengatakan bahwa khotbah, renungan yang bernada nasihat tidak mungkin saya sampaikan kepada pasangan bapak Marsel dan Ibu Lusi. Alasannya, sederhana keduanyanya sudah mengalami suka duka, pahit manisnya hidup berkeluarga dan umur saya kurang pas untuk memberi petuah. Saya kira petuah yang tepat akan didapatkan besok dari imam yang akan meneguhkan pernikahan. Karena itu, yang saya sampaikan mungkin lebih tepat sebagai cerita saja dan penjelasan tentang latar belakang peristiwa malam ini.
Harian Kompas Minggu, 2012 memuat sebuah cerita pendek berjudul Pemanggil Bidadari. Cerita pendek itu mengisahkan kebiasaan seorang nenek yang membangunkan cucunya yang masih remaja tengah malam dan mengajaknya keluar dari rumah. Pada saat semua warga terlelap dalam tidur sang nenek mengadakan rutual memanggil bidadari. Semula sang cucu tidak memahamai apa yang dilakukan sang nenek. Lama-lama ia mendapat penjelasan dari neneknya bahwa warga kampungnya membutuhkan suasana hidup yang rukun dan damai. Suasana rukun dan damai untuk warga kampung hanya akan terjadi kalau semua keluarga di kampung itu diberi damai.
Menurut sang nenek, damai itu hanya bisa diturunkan dari langit melalui bidadari, dan untuk itu mereka harus dipanggil dalam upacara yang disebut upaca memanggil bidadari. Sang cucu menjadi sangat percaya karena setelah upcara dibuat tampak ribuan kunang-kunang terbang dari langit dan tampak turun di setiap rumah di kampung mereka. Sang nenek, menjelaskan bahwa saat bidadari turun dalam rupa kunang-kunang bidadari menyiram serbuk kedamian dalam mimpi setiap orang yang tertidur lelap. Terlebih lagi serbuk kedamaian itu dimasukkan ke dalam semua janin yang tengah dikandung warga di kampung itu. Sebelum sang nenek meninggal itu berpesan kepada cucunya agar melanjutkan ritual memanggil bidadari itu biar kehidupan warga terjamin aman dan damai. Dalam waktu enam bulan setelah nenek meninggal sang cucu merasa putus asa karena kehilangan neneknya sehingga upacara tidak dibuat. Akibatnya, warga kampung terlibat dalam berbagai masalah dan saling bermusuhan. Ketika upacara dibuat lagi, serentak warga kampung rukun kembali.
Itu sebuah kisah kerinduan manusia akan rasa damai dan damai itu harus selalu diusahakan, diperjuangkan. Pembawa damai dalam konteks cerita pendek tadi adalah para bidadari.
Tema dan ujud perjumpaan kita malam ini adalah midodareni. Sejauh yang dapat saya pelajari dalam ilmu bahasa dan sastra, kata modidareni adalah kata bahasa Jawa yang berarti serangkaian upacara bagi calon pengantin perempuan menjelang upacara pernikahan. Kata midodareni yang dipakai masyarakat Jawa sesungguhnya diambil dari kata bahasa Sansekerta yaitu kata  Widyadhara yang terbentuk dari tiga unsur yaitu Wid (yang mengetahui), ya (yang harus) dan dhara (yang membawa). Jadi, Widyadhara berarti membawa sesuatu yang harus diketahui, membawa pengetahuan. Dalam perkembangan kata itu widayadhara mengalami perubahan menjadi widodari atau widadari (Jawa). Dari bentuk widodari/widadari muncul kata bidodari atau bidadari. Pergantian huruf w menjadi b mengikuti hukum pertukaran bunyi dalam ilmu bahasa (hukum b-m-w) seperti kata watu/batu; wiwir/bibir; waja/baja. Bidadari berarti putri, dewi dari khayangan, perempuan jelita.  Dengan demikian upacara midadareni, widadareni, bidadareni malam ini berkaitan dengan kata bidadari. Lalu bagaimana konsep ini masuk dalam upacara.
 Dalam berbagai kajian tentang sastra yang berbicara tentang dunia mitologi dikenal kisah-kisah mitis magis dalam bentuk mitos-mitos yang berbicara perihal kehidupan para dewa dan dewi. Midodareni adalah upacara yang berlatarkan mitos masyakarat Jawa. Upacara midodareni berkaitan dengan mitos Dewi Nawangwulan dan Joko Tarub. Dalam mitos itu digambarkan bahwa pernikahan Joko Tarub dengan Dewi Nawangwulan berakhir dengan perpisahan karena kebohongan Joko Tarub diketahui Dewi Nawangwulan. Sang dewi yang merasa dibohongi memutuskan untuk kembali ke kahyangan dan berjanji akan  turun ke bumi saat putrinya, Dewi Nawangsih menikah. Dengan demikian, upacara midodareni sesungguhnya diambil dari cerita tentang turunnya Dewi Nawangwulan dengan rombongan para dewi untuk menemui putrinya, Dewi Nawangsih yang menikah. Dalam perkembangannya midodareni dimaknai dan diartikan sebagai upacara menyambut rombongan bidadari dari khayangan  yang datang memberi kekuatan kepada pengantin perempuan sekaligus datang merias, mempercantik, dan  menyempurnakan calon pengantin perempuan.
Dalam bacaan pertama kita mendengarkan kisah perkawinan Tobia putra tunggal pasangan Tobit dan Hana. Keluarga Tobit adalah salah satu keluarga yang di tawan ke Babel dan  mendapat banyak cobaan: sakit, matanya buta, dan hidup serba kekurangan. Dalam perjalanan Tobia didampingi malaikat Rafael yang menampakkan diri sebagai seorang pemuda bernama Azariya.  Atas nasihat malaikat Rafael yang menyamar sebagai Azariya  Tobia diminta agar menyimpan empedu dan hati ikan yang ditangkap Tobia saat menyebrang sungai Tigris. Empedu ikan dapat menjadi obat berbagai penyakit dan hati ikan bisa digunakan untuk mengusir setan.  
Dalam perjalanan itulah Tobia bertemu dengan Sara putri tunggal Raguel. Tobia  jatuh cinta pada Sara tetapi takut mati karena Sara memang sudah pernah diperistri oleh 7 laki-laki, tetapi semua mati sebelum menghampiri Sara karena Sara dikuasai Asmodeus, setan pembunuh. Atas nasihat malaikat Rafael Tobia menjadikan Sara  sebagi istrinya. Tobia diminta agar  membakar hati ikan biar selamat dari serangan setan Asmodeus. Doa Tobia dan Sara tidak lain memhonkan ketenangan dan kedamaian hidup sebagai suami istri seperti yang kita dengarkan tadi. Di sini kita melihat bahwa pasangan Tobia dan Sara diselamatkan karena Tuhan yang hadir dalam diri malaikat Rfael senantiasa memberikana pertolongan pada waktunya. Berjalan bersama Tuhan selalu menguatkan dan membebaskan.
Kisah kehadiran Tuhan dalam kehidupan yang membebaskan dalam bahasa yang lain disampikan penginjil Yohanes dalam episode pernikahan di Kana. Kemelut yang membayangi tuan pesta nikah di kota Kana teratasi karena Yesus hadir di sana. Persediaan anggur sebagai menu utama perjamuan nikah menipis, kecemasan mendera tuan pesta. Tidak ada orang yang mencari jalan keluar. Untung ada dan hadir seorang Ibu yaitu Maria. Tidak bisa dibanyangkan kisah akhir pesta seandainya Maria tidak hadir di sana. Tidak bisa dibanyangkan bagaimana malunya tuan pesta di hadapan para tamu yang datang. Sekali lagi untung ada seorang Ibu, Maria. Kata-kata Maria, singkat sederhana, tetapi ksta-katanya merupakan rumusan inti masalah saat itu. ”Mereka kehabisan Anggur”. Kata-kata Maria ini tanpa penjelasan panjang lebar. Yesus menangkap signal dan pesan hati seorang ibu. Alhasil mukjizat pertama ditunjukkan dalam konteks kekurangan dalam perjamuan nikah. Di sinilah kita harus dan mesti peran pengantara Maria antara manusia dengan Tuhan, melalui Maria kepada Yesus (per Mariam ad Jesum). Bahwa kita bisa meminta langsung kepada Yesus itu tidak perlu dipersoalkan tetapi kisah di kota Kana jelas mematahkan setiap argumentasi yang menolak kehadiran Maria. Menolak Maria, ibarat orang mengakui dan menerima beras tetapi menolak padi sebagai asal beras. Karena itu, kehadiran Maria dalam hidup berkeluarga dengan segala persoalannya menjadi sangat penting.
Dua tahun lalu ketika saya memimpin perayaan Ekaristi di gereja Kana bersama rombongan peziarah ada hal istimewa yang saya rasakan. Pertama, bahagia karena berkesempatan merayakan Misa di tempat Yesus melakukan Mukjizat yang pertama. Kedua, saat pasutri membaharui janji pernikahan mereka di gereja Kana suasana haru dan tangis skacita terjadi di sana. Ketika suami-istri saling menyerahkan bunga kepada pasangannya tampak wajah yang ceria seakan memancarkan tekad untuk terus mengabadikan cinta mereka dan saksinya adalah Altar gereja Kana. Semuanya tampak enggan meninggalkan gereja Kana yang menjadi tempat Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya.
Kita semua berharap bahwa pasangan Marsel dan Lusi mengalami sukacita dan kegembiraan karena senantiasa ditemani rombongan bidadari, malaikat Rafael, dan Maria, dan Yesus sendiri. Semoga.



Tobit .8,5-10

Pada malam perkawinannya, Tobia berkata kepada Sara: “Kita ini keturunan orang suci. Kita tidak boleh kawin seperti orang yang tak mengenal Allah”. Maka mereka berdoa, agar tetap sehat walafiat. Kata Tobia: “Terpujilah Engkau, Allah leluhur kami. Hendaknya langit dan bumi memuji Engkau: mata air, sungai dan laut beserta segala makhluk yang hidup di dalamnya. Engkau telah membentuk Adam dari tanah dan memberikan Hawa kepadanya sebagai teman hidup. Engkau tahu, ya Tuhan, bahwa aku tidak mengawini Sara ini karena dorongan hawa nafsu. Aku mengawini dia untuk memperoleh keturunan, agar nama-Mu terpuji untuk selama-lamanya.” Lalu Sara juga berdoa: “Kasihanilah kami, ya Tuhan, kasihanilah kami. Semoga kami tetap sehat walafiat dan bersama-sama mencapai umur panjang.” Demikianlah sabda Tuhan.
U: Syukur kepada Allah.

 Injil Yohanes 2,1-11

Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur." Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba." Tetapi Iibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan mereka pun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu -- dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya -- ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang." Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

RENUNGAN 1 TAHUN ARWAH AGUST. D.HARATANTO

Misa Peringatan Setahun Agustinus Daniel Hartanto
Pkh. 3,1-11; Yoh. 6,37-44
Kapel Frateran BHK Oro-Oro Dhowo Malang 4 Agustus 2014

 Buka

Sore hari ini kita berkumpul dalam perayaan Ekaristi dengan ujud khusus memohon kerahiman Tuhan untuk Agustinus Daniel Hartanto. Kita memperingati setahun almarhum dipangggil Tuhan, bukan untuk membuka dan memperdalam rasa duka dan kecemasan kita tetapi justru kita mengenangkannya sebagai pijakan bagi kita untuk tetap bersemangat. Bersemangat karena percaya akan janji Tuhan yang berkuasa mengatur segalanya termasuk mengatur kelahiran dan kematian manusia. 
Kita yang masih hidup tentu memhonkan agar mereka yang dipanggil Tuhan beristirahat dalam kemuliaan dan kedamian. Sebaliknya, mereka yang kita doakan, yang telah berpulang tentu mengharapkan agar kita tetap berjuang mengisi waktu kehidupan, terbebas dari rasa putus asa. Kita berdoa semoga semangat kita dan semangat keluarga, pengharapan kita dan pengharapan keluarga tetap teguh. Kita bawa semuanya dalam perayaan kematian dan kebangkitan Tuhan ini. Kita akui salah dan dosa kita...  

Renungan
Dalam mengenang kepergian almahum Agustinus Daniel Hartanto  ini, saya mengajak kita semua dan teristimewa keluarga yang ditinggalkan untuk memaknai dan menerima dalam iman rencana Tuhan berkaitan dengan kepergian Almahum. Mengawali renungan ini saya mengajak kita semua untuk menyimak dan merasakan beberapa fakta seputar kematian yang menjadi berita utama dalam beberapa mingggu belakangan ini.
Harian Kompas dan berbagai media sosial lainnya, kemarin menurunkan berita dengan judul yang menyedihkan,  516 pemudik tewas karena kecelakaan lalulintas selama dalam rentang waktu 22 Juli hingga 2 Agustus 2014.  Itu laporan resmi secara nasional dari Mabes Polri.
Dari sekian banyak berita kecelakaan saya ambil dua berita yang paling tragis yang terjadi di Muntilan dan Situbondo. Di Muntilan sebuah mobil  Suzuki Carry bertabrakan dan terbakar menewaskan empat orang penumpang yang merupakan satu keluarga: suami, istri dan 2 anak. Di Situbondo mobil Daihatsu Xenia B 1768 KFQ  milik satu keluarga asal Bojong Malang terguling di Jalan Raya Baluran. Mobil yang memuat satu keluarga berjumlah 7 orang itu terguling dan menewaskan 3 dari 7 anggota  keluarga  itu.
Berita lain tentang fakta kematian  yang menyedot perhatian dunia berkaitan dengan kecelakaan pesawat terbang. Tanggal 17 hingga 25 Juli 2014 boleh dikatakan sebagai pekan paling mengerikan untuk dunia penerbangan. Setelah pesawat MH-170 milik Malaysia hilang bersama 238 penumpannya,lagi-lagi pesawat Malaysia Airlines MH-17 tertembak dan jatuh di Ukraina, merenggut 298 jiwa penumpang. Menyusul pesawat Trans Asia  Airway jatuh saat mendarat darurat di Taiwan menewaskan  47 penumpangnya dan menyusul lagi tragedi yang menimpa maskapai Air Algerie, yang menewaskan 119 penumpangnya.
Pengamat penerbangan mengklaim 2014 adalah tahun yang paling aman dalam sejarah tranportasi udara, tetapi kenyataannya jumlah korban jiwa justru meningkat 300 persen sejak 2013. Tercatat 763 penumpang dan awak kabin tewas dalam kecelakaan pesawat sepanjang 2014. Jumlah tersebut 498 lebih tinggi, dibandingkan tahun 2013 hanya 265 jiwa. Juli 2014 boleh dikatakan sebagai bulan terburuk dalam sejarah penerbangan dilihat dari jumlah penumpang yang meninggal. Dalam kasus jatuhnya pesawat di Ukraina tercatat ada 12 orang WNI. Dan yang mengerikan, satu keluarga 4 orang yaitu Yuli Hastini asal Solo yang mau berlibur ke Solo bersama suaminya John Paulisen dan dua anak mereka Arjuna Martin Paulisen dan Srikandi Paulisen tewas dalam kecelakaan itu.
Bagaimana reaksi dan perasaaan kita, sandainya kisah-kisah kematian massal keluarga seperti ini menimpa keluarga-keluarga  kita? Satu anggota keluarga meninggal saja kita merasa sedih, apalagi kalau satu keluarga meninggal sekaligus. Tidak terbayangkan bagaimana susana dan reaksi keluarga besar yang ditinggalkan. Lebih dari itu, mengapa saya mengangkat fakta kematian massal, yang menimpa satu keluarga? Saya sama sekali tidak bermaksud membangkitkan rasa sedih berkepanjangan dalam diri kita tetapi justru saya mau mengatakan kepada kita bahwa cobaaan dan derita, apalagi kematian itu dialami semua orang, semua keluarga.
Saat ini kita boleh ingat anggota keluarga kita yang telah meninggal  tetapi coba bayangkan kalau saat ini kita menjadi salah satu anggota keluarga dari satu keluarga (4 orang) yang terbakar dalam kecelakaan di Muntilan, atau keluarga (3 orang) yang tewas di Situbondo, atau keluarga Ibu Yuli yang tewas bersama suami dan dua anak mereka? Saya kira kita akan menyadari bahwa cobaan dan  derita kita masih jauh lebih ringan daripada yang dialami keluarga-keluarga lainnya ini. Dengan membandingkan seperti ini kita harapkan bahwa kita tidak tenggelam dalam perasaan duka berkepanjangan apalagi putus dan kehilangan harapan. Tuhan mencobai kita dalam batas kemampauan kita untuk mengukur kekuatan iman kita dan sekaligus mengukur kualitas harapan kita.
Apa artinya cobaan dan derita sebagai pengukur iman dan harapan kita? Jawabannya ada dalam firman Tuhan yang kita dengarkan dalam bacaan-bacaan yang kita gunakan. Sungguh menarik membaca dan merenungkan kitab Pengkhotbah karena segalanya berada dalam keteraturan dan keseimbangan ang dikaitkan dengan waktu. Kitab Pengkhotbah dengan tegas mengatakan bahwa segala sesuatu di kolong langit ada waktu dan masanya. Itu artinya apa saja dan siapa saja yang ada di bumi ini tidak ada yang kekal atau abadi. Dunia adalah perubahan, dunia diwarnai perubahan dan pergantian dan itulah  yang menjadikan kehidupan menarik dan penuh dinamika.
Hal yang menarik untuk kita renungkan dari kitab Pengkhotbah adalah persolan lahir dan meninggal. Ada waktu lahir dan ada waktu meninggal. Pada ayat 2 ada kata lahir-meninggal dan pada ayat 4 ada kata menangis-tertawa; meratap-menari. Kalau ayat 2 dan ayat 4 ini kita sejajarkan maka kita akan temukan pasangan kata lahir-menangis; meninggal-tertawa atau lahir-meratap, meninggal-menari. Pasangan kata seperti ini tentu tidak biasa untuk kita. Saat orang lahir biasanya kita bergembira, senang, tertawa dan saat orang meninggal kita menangis, sedih, dan meratap. Apakah penulis kitab suci tidak keliru? 
Kitab suci sama sekali tidak keliru dan tidak salah karena yang tertawa dan menangis itu adalah orang yang lahir dan yang meninggal. Saat seorang bayi dilahirkan semua orang lain senang tetapi tetapi bayi harus menangis dan jika tidak menangis harus dibuat agar menangis. Sebaliknya, ketika seseorang meninggal semua yang lain menangis dan bersedih tetapi yang meninggal senang, tertawa, dan menari karena dibebaskan dari beban kehidupan di dunia.
Konsep ini sesuai dengan ajaran iman kita bahwa kematian adalah awal suatu kehidupan kekal penuh sukacita. Dalam konteks ini pula maka kita yang ditinggalkan diharapkan tidak tengelam dalam duka berkepanjangan apalagi berputus asa. Kita yang masih hidup diharapan mengisi waktu sesuai rencana Tuhan. Segala sesuatu yang terjadi dan kita alami dalam hidup hanyalah seringan dan variasi di jalan yang kita lewati bermula dari kelahiran hingga kematian. Hidup kita terentang antara dua waktu yaitu lahir dan mati?
Yesus memlaui penginjil Yohanes juga meneguhkan dan menguatkan  kita bahwa dengan janjiinya yang tidak terbatalkan akan setiap orang yang datang kepada-Nya. Almahum Agustinus Daniel Hartanto merupakan pemberian dan hadiah gratis dari Tuhan untuk dititipkan sementara kepada keluarga dan orangtua. Sebagai orangtua tentu keluarga telah memelihara dan merawat titipan itu dan setahun lalu titipan itu diambil kembali oleh Tuhan sebagai pemiliknya. Ada waktunya Tuhan memberikan itu kepada keluarga dan setahun lalu Tuhan mengambilnya kembali. Sebagai orang yang percaya kita hanya bisa bersyukur karena pernah dipercayakan untuk menerima dan memelihara pemberian Tuhan.
Dalam iman kita tentu yakin bahwa Tuhan memanggilnya untuk menikmati sukcita abadi. Semua yang Tuhan berikan akan diambilnya dan Tuhan tidak membiarkan pemeberiannya hilang. Setahun lalu Agustinus Daniel Hartanto hilang dari pandangan fisik kita dan keluarga tetapi ada dan hidup secara rohani di hadapan Tuhan sang pemilik kehidupan itu. Yesus dalam injil menegaskan bahwa Dia akan menjemput setiap orang yang datang kepada-Nya. Dalam keyakinan seperti inilah kita menerima kenyataan ini dalam ketegaran semangat, dalam keteguhan iman dan harapan.
Almarhum Agustinus sudah diselamatkan Tuhan, dan tentu alharhum lebih berbagia lagi jika semua keluarga yang ditinggalkan tetap menjalani kehidupan secara lebih bersemangat lagi, terutama dalam mengembangkan amal dan kebaikan kepada orang lain. Masih ada Agutinus Daniel Hartanto memang telah dipanggil pulang tetapi TUhan pasti mengirim Agustinus-Agustinus yang lain kepada keluarga yang ditinggalkan. Jika keluarga tetap hidup bersemangat membantu orang apalagi memperlakukan orang lain seperti yang pernah dilakukan untuk Agustinus maka kepergian Almarhum bukannya mematahkan semangat kita melainkan justru memacu semangat dan meneguhkan iman dan pengharapan kita dalam kerinduan sampai janji Tuhan terlaksana. Yesus sebagai yang pertama bangkit sudah berjanji bukan hanya kepada Agustinus yang telah dipanggilanya setahun lalu, tetapi juga untuk kita yang masih. Tidak ada jalan lain selain kita terus berjuang sampai tiba waktunya kita juga dipangggil. Semoga Tuhan terus memberi kita semua  semangat iman dan harapan. Amin


Pengkhotbah 3,1-11
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai. Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah? Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.


Yohanes 6,37–44

Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman." Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga." Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?" Jawab Yesus kepada mereka: "Jangan kamu bersungut-sungut. Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.

Saturday, August 2, 2014

MISA ARWAH YOHANES M.BADRI

Misa Peringatan 100 Hari Almarhum Yohanes M.Badri
Yesaya 35,1-10; Matius 21,18-22
Lingkungan St.Petrus Celaket Malang 30 Juli 2014
=============================================

 Buka

Saat ibadat rosario kita sering mengucapkan doa ini: ” Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami. Selamatkanlah kami dari api neraka, dan hantarlah jiwa-jiwa ke surga, terlebih jiwa-jiwa yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu”
Dalam dan melalui doa yang singkat ini sebenarnya tergambar kayakinan dasar kita sebagai orang percaya. Doa ini menggambarkan iman , kasih dan pengharapan kita akan suatu kehidupan setelah kematian. Dalam doa ini manusia mengakui kebaikan dan kerahiman Tuhan akan nasib manusia. Kita yang masih hidup memohon dibebaskan dari neraka dan bagi yang telah meningal mengharapkan kerahiman dan belas kasih Tuhan untuk mengantar jiwa  sesama kita yang terpaksa transit sementara di bandara api penyucian.  
Dalam konteks itulah malam ini kita diundang untuk mendoakan keselamatan jiwa almahum... dalam perayaan ekaristi. Merayakan ekaristi bagi kedamaian jiwa umat beriman berkaitan dengan keyakinan kita akan api penyucian. Kita percaya bahwa jika seseorang meninggal dunia dengan iman kepada Tuhan, tetapi dengan menanggung dosa-dosa ringan dan luka akibat dosa, maka Tuhan dalam kasih dan Kerahiman Ilahi-Nya akan terlebih dahulu memurnikan jiwa. Setelah pemurnian dilakukan sempurna, maka jiwa akan mendapatkan kekudusan dan kemurnian yang diperlukan agar dapat ikut ambil bagian dalam kebahagiaan abadi di surga.
Dalam iman marilah kita mengawali doa harapan kita bagi keselamatan jiwa almahum... dengan mengakui  kesalahan dan dosa-dosa kita.

Renungan
Harian Kompas Januari 2012  memuat  cerita Pendek berjudul ”Pohon Hayat”. Pohon Hayat (pohon hidup) yang menjadi judul cerpen itu adalah sebatang pohon tua yang tumbuh di alun-alun sebuah kota. Seorang kakek bercerita kepada cucunya tentang pohon yang besar, tinggi, dan tua yang ada di tengah kota itu.  Suatu hari sang cucu meminta kakeknya untuk bersama-sama ke alun-alun kota untuk melihat pohon yang diceritakan itu. Setiba di alun-alun kota keduanya langsung menuju pohon yang besar, tinggi dan rindang itu. Kakek menceritakan kepada cucunya bahwa pohon sudah ada sejak dahulu kala dan tidak ada yang tahu siapa yang menanamnya di alun-alun kota. Setelah keduanya berteduh, sang kakek mengajak cucunya untuk mengangkat kepala, menengadah  mengamati dahan, ranting, dan daun-daun pohon itu. Sambil mengamati bagian pohon itu, sang kakek berkata kepada cucunya, lihat dan tahukah kamu bahwa ada banyak misteri terungkap dari dahan, ranting, dan daun pohon ini? Setelah lelah mengamati bagian pohon raksasa itu sang kakek melanjutkan pembicaraannya kepada cucunya, katanya: kehidupan setiap penduduk di kota ini tersemat pada setiap lembaran daun yang bertengger di cabang dan ranting pohon ini. Setiap kali ada satu daun yang gugur itu artinya ada seseorang di kota ini telah lepas dari kehidupan. Satu daun artinya satu kehidupan, begitu kisah sang kakek.
Setelah mendengarkan penjelasan sang kekek, mata sang cucunya mengamati begitu banyak daun kering berserakan dan terinjak-injak orang yang datang ke alaun-alun kota. Lalu terjadilah dialog antara sang kakek dan cucunya.
”Apakah daun-daun kering yang berserakan ini adalah jasad orang-orang yang sudah mati?” tanya sang cucu sambil memperlihatan daun-daun kering. ”Ya, daun-daun itu adalah sisa jasad mereka dari pohon kehidupan.” ”Berarti  termasuk bekas jasad ayah ada di antara daun-daun kering itu?”lanjut sang cucu. ”Mungkin. Tetapi kakek kira, jasad ayahmu kini sudah menyatu kembali dengan tanah.” Mengapa daun-daun kering itu tidak dibersihkan atau dibakar saja.” ”Tak perlu, karena lambat laun mereka juga akan kembali ke muasalnya, tanah, melebur menjadi tanah. Dari tanah kembali ke tanah.”
”Kalau daun-daun yang mulai tampak kuning yang ada di atas sana itu milik siapa?” tanya sang cucu ” Itu semua milik orang-orang tua yang masih hidup di kota ini, mereka-mereka yang sudah lama bertengger di atas pohon kehidupan.” ”Apakah mereka akan segera gugur.” Ya,”Tentu saja, karena gugur itu adalah nasib dan takdir mereka.” ”Apa kakek ada di antara salah satu daun kuning yang ada di atas sana, yang siap gugur itu?” ”Aku tidak tahu. Itu rahasia yang di atas, tidak seorang pun berhak tahu.”
Sang cucu kembali  menengadahkan kepala sambil mengamati, mencari-cari di mana letak daun milik kakeknya, daun miliknya, daun milik ibunya, dan daun dari sanak keluarganya.”
Apakah ”Tunas-tunas daun yang tersemat di pucuk pohon itu, adalah bayi-bayi yang baru lahir di kota ini?” ”Ya. Benar, memang kenapa?” Ya, ”Berarti, sekarang, aku berada di antara daun-daun muda yang bertengger di atas sana?” ”Ya. Tentu saja lanjut kakek.” ”Wah itu artinya, masa gugurku masih sangat lama.”  ”Siapa bilang? Setiap lembar daun kehidupan yang ada di atas sana adalah rahasia. Tak ada seorang pun yang tahu. Gugur adalah hak semua daun, dari yang kuning, yang masih segar dan hijau, bahkan yang masih tunas pun bisa saja patah dan gugur.”
Seminggu setelah kembali dari alun-alun kota, sang kakek menderita sakit. Makin hari kesehatannya memburuk. Sang cucu teringat akan kata-kata sang kakek sewaktu mereka berteduh di bawah pohon di tengah kota. Dia pun lari ke pohon itu untuk mengamati apakah ada daun kuning yang akan gugur ditiup angin. Setelah satu jam menunggu di bawah pohon itu, sang cucu merasakan datangnya terpaan angin menghempas pohon itu. Tampak  olehnya beberapa daun kuning, daun segar, dan pucuk muda dari pohon itu gugur beterbangan sampai akhirnya rebah ke tanah. Dia pulang, dan dalam perjalanan ia mendengar tangisan karena ada anak kecil, orang dewasa yang meninggal. Lebih dari itu setiba di rumah ia menyaksikan kakeknya telah meninggal.
Kisah kakek dan cucu dalam Cerpen Pohon Hayat (pohon hidup)  ini adalah kisah yang sungguh bersentuhan langsung dengan dimensi terdalam atau hal pokok tentang kehidupan kita. Penulis cerpen ini secara amat mengesankan mencoba menganalogikan, membandingkan hidup dan kehidupan kita dengan sebatang pohon yang ditanam di tengah alun-alun kota. Dialog tokoh kakek dan cucunya dalam cerpen ini sudah menjadi renungan dan bahan refleksi untuk kita. Diri dan hidup kita bukanlah apa-apa. Diri dan hidup kita hanyalah selembar daun yang tumbuh pada salah satu ranting pohon hidup. Daun itu cepat atau lambat akan menguning dan tua. Kapan gugurnya, kapan agin menerpa dan menerbangkannya tidak ada yang tahu. Itu rahasia yang Tuhan sembunyikan bagi semua kita manusia. Kita hanya bisa membaca gelaja alam  ketika daun mulai kuning kita bisa pastikan daun itu akan gugur. Daun kehidupan manusia menjadi kuning tidak bisa diartikan seperti warna lampu lalulintas, kuning siap berubah menjadi hijau. Warna kuning daun kehidupan manusia menjadi pratanda saat pulang dan saat mudik abadi akan segera tiba.
Selembar daun pohon kehidupan telah gugur 100 hari lalu dalam diri almarhum..... Dia gugur ibarat dau yang lepas diterpa angin setelah melewati proses panjang dalam usia yang ia lewati. Dia telah gugur setelah sekian tahun bertengger pada dahan pohon kehidupan. Dia mengisi hari hidupanya bersama keluarga, keluarga besar, dan bersama semua orang yang telah mengenalnya. Dalam keluarga dan oleh keluarga almarhum bukan hanya sekadar selembar daun tetapi lebih dari itu ia telah menjadi sebatang pohon tempat sandaran dan berteduhnya semua anak dan cucunya.
Sejak kepergian almarhum 100 hari lalu kita semua disadarkan bahwa almarhum resmi kembali mengakrabi bumi asal. Dia datang dari tanah dan kembali ke tanah. Seratus hari lalu almarhum ibarat selembar daun yang ggur diterpa angin. Ia gugur sebagai daun tetapi ia tinggalkan segala hal yang baik bagi anak-anak sebagai sebatang pohon. Karena itu, meski secara fisik ia telah hilang dari pandangan kita tetapi secara rohani ia tetap menjadi penyubur pohon kehidupan keluarga oleh teladan dan cara hidupnya yang baik
Daun kehidupan yang gugur dan kita kenangkan malam ini bukanlah daun tanpa arti untuk kehidupan kita dan keleuarga yang ditinggalkan. Almarhum mudik abadi 100 lalu bukanlah pengembara tanpa tujuan. Bukan lembaran daun tanpa makna. Bagi kita yang mengenanya, dan dan terutama bagi keluarga, kepergian almarhum, lepasnya daun kehidupan nya dari pohon kehidupan, membuat kita sedih sebagai mansia,  tetapi kita yakin Tuhan mempunyai rencana yang lebih untuk almarhum dan untuk kita. Mungkin kita merasa seperti hidup tanpa harapan tetapi nubuat Yesaya dalam bacaan pertama sungguh menguatkan kita. Janji Tuhan senantiasa ditepati karena Tuhan itu setia. Dalam kesetiaan itulah TUhan Tuhan berkuasa mengubah segalanya, mengubah pucuk daun menjadi daun yang hijau, terus menguning, lalu gugur.
Tuhan yang sama digambarkan Yesaya sebagai Tuhan yang berkuasa mengubah situasi gurun menjadi situasi yang membawa sukacita. Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Lebih dari itu Tuhan sendiri datang membawa pembalasan dan ganjaran. Tuhan yang setia membuka jalan bahkan menjadi jalan  bagi Kudus bagi orang benar. Di jalan kudus itulah tidak akan ada singa, binatang buas, orang-orang yang diselamatkan akan berjalan di situ, dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai.
Gambaran sukacita padang gurun seperti yang dinubuatkan Yesaya malam ini jelas menjadi harapan kita semua bagi almarhum. Sukacita dan sorak sorai kemenangan itu tentu kita yakin didapat almarhum karena selama hidupnya almarhum telah menjadi pohon ara yang berbuah lebat dan manis dalam berbagai kebajikan dan kebaikan yang pernah ia lakukan. Kita manusia mungkin dan boleh melupakan semua kebaikan yang dibuat almarhum terhadap kitsa dan terhadap siapa saja tetapi Tuhan tidak melupakan segala kebaikan itu. Apa yang baik dan segala sesuatu yang baik yang manusia lakukan  selama hidup tidak akan dilupakan Tuhan. Tuhan mengingat segala kebaikan dan melupakan semua keburukan karena Tuhan  menghendaki agar manusia hidup ibarat pohon ara yang bisa menghasilkan kebaikan dan kebajikan. Pohon ara yang diancam Yesus adalah pohon ara tanpa kebaikan, pohon ara tanpa kebajikan.
Kisah  tentang daun gugur dalam  Cerpen Pohon Hayat semestinya mengharuskan kita untuk memaknai perjalanan hidup kita. Dan kisah pohon ara dalam injil seharusnya mewajibkan kita untuk berkehidupan dengan buah-buah kebaikan dan kebajikan. Dalam perayaan misa arwah seperti ini kiranya menjadi saat rahmat yang membawa kita pada permenungan akan kualitas pohon kehidupan kita. Kisah daun gugur pada cerpen Pohon Hayat adalah kisah hidup dan akhir kehidupan kita.  Setiap kita bisa menilai apakah daun pada pohon kehidupan kita baru bertumbuh ataukah sudah hijau ataukah sudah mulai berwana kuning. Ingat misteri daun gugur,  pada pohon kehidupan tidak memandang  umur. Bahwa daun kehidupan kita akan gugur itu sudah pasti tetapi bagaimana kita menyiapkan kepastian itu, itulah yang perlu kita antisipasi dengan selalu mau menjadi pohon ara yang berbuahkan kebaikan dan kebajikan.
 Akhirnya, saya mengajak kita semua  agar sekembali dari tempat ini kita menata pohon kehidupan kita. Mumpung kita masih diberi waktu untuk bisa memupuk dan membenahinya. Dalam iman kita percaya Tuhan mampu mengubah segalanya, mengubah hidup kita dan teristimewa mengubah almahum kehidupan almahum untuk menikmati sukacita yang kekal... Amin.

Keselamatan bagi Umat Tuhan
Pembacaan dari Nubuat Yesaya 35,1-10

Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN, semarak Allah kita. Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: "Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!" Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara; tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah kersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan. Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebutkan Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya. Di situ tidak akan ada singa, binatang buas tidak akan menjalaninya dan tidak akan terdapat di sana; orang-orang yang diselamatkan akan berjalan di situ, dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh.
Demikianlah Sabda Tuhan


Yesus mengutuk Pohon Ara (Matius, 21,18-22)
Pada pagi-pagi hari dalam perjalanan-Nya kembali ke kota, Yesus merasa lapar. Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu: "Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!" Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu. Melihat kejadian itu tercenganglah murid-murid-Nya, lalu berkata: "Bagaimana mungkin pohon ara itu sekonyong-konyong menjadi kering?" Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi. Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.

Doa Pembukaan

Ya Allah, awal dan akhir kehidupan orang percaya, kami brsyukur kepada-Mu atas anugerah  dan  rahmat-Mu  bagi kami umat-Mu. Dalam bimbingan kasih-Mu Engkau telah menuntun kami semua untuk  berdoa bersama mengenangkan dan mendoakan keselamatan jiwa hamba-Mu ..... yang telah kami kembali ke rumah-Mu yang abadi. Kami memohon, ampunilah segala dosanya agar dia pantas dikutsertkan ke dalam sukacita abadi bersama para kudus. Kuatkanlah kami semua dan keluarga yang ditinggalkan  dengan anugerah penghiburan iman dan semoga kamba-Mu yang kami kenangkan dalam perayaan ini menjadi pendoa bagi kami. Tuntunlah kami dalam terang kuasa Roh Kudus-Mu agar kami mampu merenungkan Sabda-Mu dan mengamalkannya dalam kehidupan kami. Demi Kristus Pengantara  kami. Amin