Tuesday, October 29, 2013

OPTION FOR THE POOR

Option For The Poor: Pilihan untuk Menolong
Rm.Bone Rampung, Pr
“Kalau kau lahir dalam keadaan miskin, itu bukan salah kamu, tapi kalau kamu mati dalam keadaan miskin, itu salah kamu" (Donald Trump)

1.Persoalan kita
Oikos edisi ini mengusung tema Option for The Poor (selanjutnya disingkat OTP). Tema ini jelas bukan tema yang baru sama sekali atau sama sekali baru. Ini tema lama, hanya mungkin Oikos ingin memaknainya secara baru yang lebih kontekstual sesuai dengan perkembangan dan dinamika kehidupan masa kini. Tulisan ini hanya salah satu kepingan cara pandang dalam memaknai konsep OTP. Itupun tidak dilengkapi dengan  seperangkat teori yang sitematis dengan harapan membuka makna terdalam dan terluas konsep OTP itu.
Kami sungguh menyadari bahwa telah sekian banyak ulasan dan gagasan yang cenderung ilmiah perihal konsep ini. Dalam konteks iseng kami mencoba meminta konfirmasi mesin pintar dunia maya “Google” tentang penyebaran penggunaan istilah tersebut. Sungguh mencengangkan, dalam hitungan 46 detik “otak umum ini” melaporkan bahwa 262 juta alamat situs yang memuat dan membahas tema OTP ini. Artinya, persoalan ini telah menjadi persoalam mondial yang difokusi pelbagai kalangan dari segala bangsa. Tulisan ini memuat  dua pokok penting  yaitu (1) konteks dan hakikat munculnya konsep  OTP (2) Pemaknaan konsep OTP dalam dinamika masa kini.
2. Konteks dan Hakikat Konsep OTP
Option for The Poor sesungguhnya merupakan ungkapan yang menggambarkan kondisi kehidupan sosial suatu masyarakat. Faktanya, setiap masyarakat selalu didisposiskan dikotomi yang melahirkan opsisi biner. Ketika masyarakat diukur secara ekonomis lahirlah oposisi kaya-miskin; ketika diukur berdasarkan kenjamuan peradaban muncul oposisi modern-primitif. Begitu seterusnya muncul deretan oposisi biner tak terbatas sejauh dan sebanyak criteria yang digunakan. Munculnya konsep OTP menggiring pemahaman mayoritas masyakat untuk melokalisasi konsep itu pada oposisi kaya-miskin yang melahirkan  kelompok yang beruntung-kelompok malang (poor). Menghadapai kenyataan seperti ini, biasanya kelompok beruntung dapat menentukan posisinya sekaligus menentukan sikap dan pilihan berkaitan dengan kelompok yang malang.
Situasi seperti ini bukanlah monopoli masyarakat era digital karena sesungguhnya kenyataan kaya-miskin; untung-malang seperti ini telah berlangsung lama ketika manusia mendisposiskan dirinya sebagai homo economicus yang berupaya untuk survival dalam persaingan. Kelompok yang tidak beruntung itulah yang menjadi sasaran konsep OTP.
Pilihan keberpihakan kepada kaum miskin memiliki akarnya dalam Kitab Suci. Dalam kitab Mazmur dan kitab-kitab Perjanjian Lama ditunjukkan Allah yang mendengarkan jeritan kaum miskin dan melindungi mereka. Dalam Perjanjian Baru, teologi kenosis menyatakan pilihan dan keberpihakan Kristus sendiri kepada mereka yang miskin. Ia bukan hanya meninggalkan keallahan-Nya dan menjadi manusia miskin. Ia bahkan mengidentifikasikan diri-Nya dengan mereka yang miskin dan malang (Mat 25:40). Paus Paulus VI melalui Octogesima Adveniens (art.23) mengajak kita untuk berkaca pada Injil, “Dalam mengajarkan cinta kasih, Injil mengajari kita untuk secara istimewa menghormati orang-orang miskin dan situasi khusus mereka di tengah masyarakat….”.  Dengan kata lain, prinsip ini mengalir dari “perintah radikal untuk mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri.” 
“Tujuan utama komitmen spesial kepada orang miskin ini memungkinkan mereka berpartisipasi aktif dalam hidup bermasyarakat. Mereka diberdayakan untuk mampu berbagi dalam dan menyumbang bagi kesejahteraan umum. Karena itu, OTP bukanlah slogan permusuhan yang mengadu satu kelompok atau kelas dengan kelompok atau kelas lain. Prinsip ini menyatakan bahwa ketidakberdayaan kaum miskin melukai keseluruhan komunitas. Tingkat penderitaan mereka adalah ukuran sejauh mana kita telah menjadi sebuah komunitas sejati.
Ujian moral paling dasar bagi sebuah masyarakat adalah bagaimana anggota-anggotanya yang paling lemah diperlakukan. OTP adalah sebuah perspektif yang menguji keputusan-keputusan pribadi, kebijakan lembaga-lembaga publik maupun privat, dan hubungan-hubungan ekonomi dengan melihat bagaimana kaum paling miskin mengalami akibatnya. Apabila kebijakan publik menguntungkan mereka yang paling lemah, kelompok-kelompok lain yang lebih beruntung paling sedikit tidak akan dirugikan. 
Karena pilihannya membantu mereka yang tidak dapat membantu diri sendiri, prinsip ini bertujuan memberdayakan mereka dalam hidup bermasyarakat. Keputusan dan kebijakan publik harus dapat membuat orang miskin mampu membantu diri sendiri. Prinsip ini tidak hanya berkenaan dengan tindakan dan sikap kepada kaum miskin. Mendiang Paus Yohanes Paulus II menekankan bahwa OTP menjadi perwujudan “tanggung jawab sosial, gaya hidup, dan keputusan-keputusan yang kita buat berhubungan dengan kepemilikan dan penggunaan harta benda kita.”  OTP tidak dapat dimaknai sebagai tindakan mengabaikan orang kaya dan kemudian melulu memperhatikan kaum miskin.  OTP bukan prinsip eksklusif, yang meniadakan atau mengabaikan kelompok lain. 
3. Pemaknaan OTP Masa Kini
Melihat  konteks dan hakikat konsep OTP seperti ini, maka secara sederhana OTP itu dapat dirumuskan sebagai sikap dan pilihan untuk menolong. Menolong dalam konteks OTP dapat dipandang sebagai Komunikasi yang melibatkan seseorang atau sekelompok orang untuk membebaskan seseorang atau sekelompok orang dari kondisi yang membatasi dan membelenggunya. Untuk itu perlu dipahami beberapa elemen yang berkaitan pilihan keberpihakan itu dengan segala abentuk penjabarannya. Pilihan untuk berpihak pada kelompok tidak beruntung secara sederhana bermakna memilih untuk Menolong.
3.1 Menolong: Komunikasi kehidupan
Kata menolong biasanya disejajarkan dengan kata membantu. Dua kata itu maknanya hampir sama tetapi sebenarnya bermakna amat berbeda. Orang yang suka menolong biasa disebut penolong dan orang yang suka membantu biasanya disebut pembantu. Orang sering kesulitan membedakan kata penolong dan pembantu secara tepat. Sebenarnya, kalau mau melihat perbedaan dua kata itu, kita cukup melihat dampak dari tindakan itu. Seorang yang membantu dan disebut pembantu biasanya melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Pembantu pasti dan harus diberi imbalan entah sekecil apapun imbalan itu. Membantu, pembantu adalah tindakan memberi (barang atau jasa) dengan harapan mendapat imbalan atau upah. Lain halnya dengan kata menolong dan seorang penolong. Menolong untuk seorang penolong berarti juga tindakan memberi (barang atau jasa) hanya saja tindakan memberi itu bebas atau tanpa harapan mendapat imbalan atau upah balikannya.
Dalam pengalaman konkret manusia lebih banyak berniat baik untuk membantu bukan berniat baik untuk menolong. Manusia dan kita pada umumnya dilengkapi keinginan untuk membantu dan mau menjadi pembantu. Jarang kita mau menunjukkan kemampuan kita untuk menolong sehingga menjadi penolong. Manusia, dan mungkin juga termasuk kita semua, hanya bermental pembantu-pembantu dan bukannya bermental penolong-penolong. Kalau kita melakukan sesuatu supaya kita mendapat sesuatu baik berupa barang material maupun berupa pujian dan komentar, maka yang kita lakukan itu merupakan ekspresi semangat kita sebagai pembantu. Kalau kita melakukan sesuatu tanpa beban atau bebas dari harapan untuk mendaptkan sesuatu maka di sana kita sungguh mau menjadi penolong.
Dalam praktiknya kita justru berbuat terbalik. Kita mengatakan kita mau menolong tetapi yang terjadi justru kita hanya mau membantu. Kita ingin menjadi penolong tetapi yang kita lakukan kita menjadi pembantu. Ya, mungkin hal ini terjadi karena kita kurang menyadari bahwa antara kata menolong dan membantu itu terdapat muatan makna yang sangat berbeda. Kita sering mencampuradukkan dua hal itu sehingga apa yang kita lakukan kadang-kadang tidak sampai pada sasaran yang sesungguhnya. Sampai di sini paling kurang kita sudah bisa membedakan, mengelompokkan semua kegiatan dan aktivitas kita itu apakah termasuk kegiatan membantu ataukah kegiatan menolong.
Kita juga sudah tahu konsekuensi pemakaian masing-masing kata itu. Menolong itu adalah tindakan yang sifatnya lebih spontan dibandingkan dengan tindakan membantu. Menolong bersifat spontan karena memang ia bebas dari beban menuntut untuk mendapatkan sesuatu. Menolong itu lebih dekat artinya dengan pelayanan sedangkan membantu itu lebih dekat artinya dengan pekerjaan. Kalau menolong itu sejenis pelayanan maka jelas kita tahu bahwa kita tidak perlu dan tidak harus mendapatkan sesuatu sebagai imbalannya. Lain halnya membantu sebagai suatu pekerjaan meskipun orang tidak menyatakannya dengan eksplisit tetapi tetap ada harapan untuk mendapatkan sesuatu.
Idealnya kehidupan yang bermakna itu adalah kehidupan yang ditandai dengan adanya gerakan untuk menolong dan bukan sekadar hidup untuk membantu. Panggilan hidup manusia yang paling ideal jelas panggilan untuk menolong sebagai pelayanan bukan untuk membantu sebagai pekerjaan. Sikap kita untuk memilih antara menolong atau membantu itu sangat dipengaruhi oleh siapa kita dan kita sedang berhadapan dengan siapa. Karena itu, kata kedua yang harus kita uraikan berupa pertanyaan Siapa yang harus menolong? Dalam konteks pilihan pada OTP seperti ini, tentu kita sepakat untuk menentukan bahwa diri kita sendirilah yang harus menolong. Kita semua, harus menjadi penolong itu. Mengapa? Karena tindakan menolong itu merupakan bentuk komunikasi kehidupan.
3.2  OTP: Saya Subjek: The Man in Action
Menentukan diri sendiri untuk menolong berarti mau menjadikan diri sendiri sebagai aktor yang hendak melakukan sesuatu. Aktor mengandaikan aksi, tindakan, aktivitas, kreativitas. Panggilan dan komitmen kita pribadi untuk menolong hanya baru bermakna untuk diri kita dan untuk orang lain kalau komitmen itu dibahasakan dalam tindakan. Artinya gagasan dan niat kita untuk menolong itu harus berbuah dalam tindakan. Menolong sebagai bentuk pelayanan terhadap orang lain berarti kerelaan kita untuk secara aktif dan kreatif meninggalkan diri kita dengan segala kepentingannya untuk secara lebih intensif melibatkan diri pada kebutuhan dan kepentingan orang lain yang hendak kita tolong. Diri kita yang menjadi aku yang berperan sebagai subjek artinya aku mau menjadi manusia yang ada selalu dalam tindakan (the man in action). 
Gerakan menolong orang lain pada dasarnya merupakan gerakan meninggalkan diri sendiri dengan segala atribut dan kepentingannya. Itu juga berarti kita menempatkan diri kita lebih rendah dari orang yang hendak kita tolong. Itu juga berarti kita menyadari bahwa orang lain lebih penting dari diri kita sendiri. Dalam konteks seperti ini, usaha menolong orang lain itu sebenarnya merupakan satu cara kita membahasakan kerendahan hati kita. Kita semua sadar bahwa menolong orang itu merupakan tindakan yang sangat mulia di mata orang lain. Tetapi, untuk kita yang bertindak sebagai subjek atau yang harus melakukannya, usaha menolong itu membutuhkan pengorbanan dari pihak kita. Menolong orang lain artinya kerelaan untuk membiarkan orang lain lebih baik. Menolong artinya  berusaha mengubah suatu kondisi yang kurang menguntungkan menjadi kondisi yang lebih baik.
3.3 Sasaran OTP: Siapa yang Ditolong
Kualitas atau mutu pertolongan yang saya lakukan sangat bervariasi bergantung sasarannya. Untuk siapa dan kepada siapa saya memberikan pertolongan turut menentukan mutu dan model pertolongan yang kita berikan. Karena itu, sebelum kita melakukan tindakan menolong, pertama kita harus mampu menentukan sasarannya. Dalam konteks pangggilan kita yang sifatnya universal dan terbuka maka jelas sasaran tindakan menolong yang kita lakukan itu ditujukan dan terbuka untuk semua orang. Semangat dan keinginan untuk memberikan pertolongan itu hendaknya bercorak inklusif artinya tidak dibatasi oleh pertimbangan-pertimbangan tertentu. Menolong dalam artinya yang penuh juga berarti melakukannya dalam ketidakterbatasan sasaran.
Menolong itu memang idealnya terbuka untuk semua orang, tetapi keterbatasan selalu membenarkan manusia untuk menolong secara selektif  berkaitan dengan pertanyaan siapa yang harus ditolong. Dalam konteks orang terpanggil, dengan mudah kita menjawab bahwa orang yang harus kita tolong adalah mereka yang memang memerlukan pertolongan kita. Dalam pengertian yang lebih konkret pada konteks kehidupan berkomunitas, bertarekat orang pertama yang harus kita tolong adalah sama saudara kita yang memang mengalami kesulitan. Tidak terbayangkan bahwa kehidupan bersama dalam satu komunitas apalagi dalam satu tarekat bebas dari kesulitan. Variasi tipe dan corak kepribadian yang membentuk suatu persekutuan sudah dengan sendirinya menuntut kemampuan kita untuk melihat segala macam masalah dan bahkan harus membentur dengan segala masalah. Benturan yang kita hadapi dalam aneka bentuknya bisa saja membuat kita tidak berdaya. Membuat kita seperti bebek penyakitan yang berjalan terseok-seok.
Sehebat apa pun kita, kita masihlah manusia. Belum menyerupai malaikat. Itu artinya kita masih bermasalah dan menuntut pertolongan orang lain. Konsep persaudaraan atau persaudarian mengharuskan kita untuk menolong saudara kita yang memang dilanda kesulitan dalam hidup panggilan dan perjuangan. Saudara kita haruslah menjadi sasaran atau target tindakan menolong yang hendak kita lakukan. Kita harus menolong mulai dari diri kita sendiri, sesama saudara kita sebelum kita menolong dalam konteks yang lebih luas.
3.4 Merebut Urutan Pertama dalam OTP
Tema OTP mengharuskan orang untuk menjalankan pilihan menolong di mana tidak ada yang menolong’. Ungkapan menolong di mana tidak ada yang tolong berarti kita tahu tempatnya kita melakukan pertolongan setelah kita tahu orang kita yang perlu ditolong. Ungkapan menolong di mana tidak ada yang menolong juga berarti kita memposisikan diri kita pada urutan terakhir dalam tindakan menolong. Ungkapan itu berarti kita baru mau menolong kalau memang orang lain sudah tidak dapat menolongnya. Itu juga berarti kita membiarkan orang berjuang sendiri.  Menolong sesama menunggu sampai tidak ada orang lain lagi yang menolongnya adalah sikap yang berlawanan dengan pilihan dan keberpihakan pada OTP.
Komitmen kita untuk menjadi penolong berarti kita menempatkan diri, memposisikan diri sebagai orang pertama, tokoh kunci (key person). Kalau kita baru mau menolong sesama hanya karena tidak ada lagi yang menolong berarti kita melakukannya bukan dalam kerelaan atas dasar spontanitas melainkan dalam keterpaksaan karena situasi. Persudaraan dan tindakan menolong bernuansa persaudaraan  bukanlah aksi momental, tindakan dadakan sesaat karena keterpaksaan situasi. Persaudaraan itu tidak bisa dipenggal-penggal menurut penggalan waktu, jam atau hari. Persaudaraan itu harus terjadi sepanjang hidup bersama dan konsekuensinya pertolongan juga harus berlaku sepanjang hidup kita. 
 Pilihan dan keberpihakan dalam konteks OTP adalah pihan dan komitmen tanpa batas. Savelberg, Pendiri tarekat SMSJ menggambarkan diskontinuitas pertolongan pertolongan itu dengan merujuk pada cara Allah menolong manusia. Baginya, Tuhan menolong tanpa batas waktu. Ia pernah berkata: Tuhan sudah menolong, Tuhan kini menolong, dan Tuhan akan terus menolong. Ungkapan ini bukanlah permainan kata semata penyedap telinga kita. Ungkapan ini merupakan pengendapan atau sedimentasi dari pengalaman sebagai orang yang dicintai Allah.  Tiga dimensni waktu atau tridimensi temporal (masa lalu, masa kini, dan masa depan) adalah gambaran perjalanan panggilan manusia untuk selalu menolong tanpa batas waktu. Bukan menolong hanya dalam situasi darurat. Tuhan menolong purna waktu, bukan penolong darurat.
Itu artinya, konsep dan penjabaran OTP para pengikut Kristus juga harus mampu menolong sesamanya dalam segala situasi sepanjang hidup. Bukan bermental menolong gaya pemberi obat penenang atau bertindak sebagai petugas P3K yang memberikan pertolongan bersifat sesaat dan untuk sementara. Option for the poor atau sekarang option with the poor, bukanlah sebuah tindakan yang tergantung moment. OTP harus menjadi sebuah tindakan yang berkelanjutan. Option with the poor adalah bila kita berani masuk dalam kehidupan mereka dan terlibat dalam masalahnya. Kita menjadi sahabat mereka dan bersama mereka kita berusaha mengubah hidupnya
Kalau kita sungguh berkomitmen pada prinsip OTP, mau menolong hanya menunggu orang lain tidak lagi mampu menolong sesama berarti kita hidup sebagai tenaga darurat dan petugas P3K yang berfungsi pada waktu tertentu saja. OTP harus membebaskan kita dari peran sekadar tenaga P3K bagi saudara kita yang tertindih reruntuhan masalah dalam kehidupan. Tidak ada yang menolong adalah suatu kondisi yang menuntut kita bukan saja menjadi the man in action (manusia yang mau menolong) tetapi lebih dari itu menjadi The first man in action (manusia pertama yang melakukan) tindakan menolong itu.
3.5 Kemiskinan itu Semangat Bukan Takaran Material
Tindakan menolong sesama biasanya orang langsung membayangkan segala hal secara material. Menolong orang miskin membuat orang membanyangkan sejumlah uang dan sejumlah barang yang harus diberikan. Menolong orang lapar membuat orang membayangkan adanya raskin alias beras miskin. Dalam pengertian biasa, kekurangan, kesulitan itu selalu dikaitkan dengan hal material. Persaudaraan itu tidak memiliki standar harga. Persaudaraan bukanlah semangkok bakso yang bisa dibeli dengan seribu perak. Persaduaran itu bukanlah manisan nano-nano yang dijual di kios sekadar penina bobo si kecil. Persaudaraan itu bukan buah pepaya yang dapat dibeli di pasar atau di petik dari halaman rumah tetangga. Persaudaraan itu bukanlah bubur kacang hijau yang bisa dinikmati selepas lelah. Persaudaran itu tidak dapat ditakar secara material. Persaudaraan itu hanyalah sebuah konsep yang amat abstrak. Meskipun abstrak persaudaraan itu dituntut untuk ada sebagai jiwa, semangat, roh, spirit dalam suatu kebersamaan.
Persaudaran itu sama abstraknya dengan kemiskinan. Tidak bisa di pegang tetapi hanya bisa dirasakan. Kemiskinan dan persaudaraan itu memang tidak kelihatan tetapi dirasakan dan amat diperlukan manusia. Kemiskinan dan persaudaraan sebagi semangat bagaikan nafas kita sendiri. Tidak bisa kita pegang, tidak bisa kita ukur tetapi mutlak kita perlukan. Tindakan atau aktivitas menolong sesama demi persaudaraan sama dengan tindakan menyelamatkan nafas kehidupan kita. Menolong sesama dalam semangat kemiskinan yang dipersyaratkan dalam prinsip OTP berarti tindakan menolong sesama saudara itu jauh lebih penting daripada pemenuhan akan kebutuhan matrial.
Menolong sesama demi persaudaraan tidak mesti dan tidak harus diukur secara material. Menolong dalam kemiskinan artinya menolong secara kejiwaan, secara mental. Ucapan selamat yang jujur, pujian yang sederhana, perhatian yang kecil, simpati yang lugas, empati yang tulus, dukungan yang menguatkan, dorongan yang meneguhkan, senyuman yang menggembirakan, humor yang menggelikan bahkan yang menggilakan atau menggalakan, tingkah laku yang sopan, senyuman yang manis, sentuhan yang ramah, sapaan yang lembut, dll. adalah hal-hal nonmaterial. Tak berwujud, tidak mengisi ruang dan tempat tertentu tetapi diperlukan dalam hidup.
Semua  itu tidak perlu dibeli. Bukan karena tidak dijual tetapi semata-mata karena memang mahal dan tidak terbeli oleh konglomerat dari bangsa mana pun. Dalam usaha kita menolong sesama saudara dalam pilihan OTP semua hal itu perlu dan penting. Menolong dalam kemiskinan artinya kita menggeser pengertian bercorak material dengan pengertian yang bercorak spiritual. Tubuh kita adalah barang material itu. Nafas kita adalah barang nonmaterial itu. Tubuh hanya bernilai sejauh nafas masih mendukungnya. Tubuh selepas nafas meninggalkannya hanyalah sebongkah daging santapan cacing dan ulat tanah. Menolong sesama saudara sebagai pilihan OTP artinya kita memprioritaskan semangat yang bersentuhan dengan dimensi kejiwaan daripada kepentingan material. Di sini dan dengan cara seperti inilah konsep menolong dalam kemiskinan sebagai wujud OTP mendapat aktualitas dan relevansinya yang pas atau cocok.
4. Kata Akhir
Baik dulu maupun sekarang kemiskinan itu bukanlah hal yang membahagiakan. Dalam sisi apapun. Sejatinya Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Di mana pun tempatnya, kemiskinan identik dengan kekalahan dan ketertindasan. Hanya orang istimewa dan para nabi yang dikelilingi orang miskin karena para nabi menjadikan mereka tidak tertindas, dan kemudian mengangkat mereka menjadi lebih sejahtera. Itulah pilihan OTP dalam praksis kehidupan.
Jujur, saat kita mendengar kata miskin, kita sangat membenci kemiskinan kemiskinan keluarga berantakan dan permusuhan pun tinggal menunggu waktu. Pengakuan bahwa miskin itu adalah nasib, sebenarnya bentuk penipuan naïf dari jiwa-jiwa kerdil yang merasa kalah dalam menghadapi tsunami kehidupan, padahal jika ditelisik lebih dalam, itu hanya pukulan ombak yang disapu angin sepoi.
Kalau begitu, di mana persoalan kemiskinan sebenarnya? Jawabannya, persoalan kemiskinan diawali dari dinamika psikologis yang berefek jauh terhadap perilaku yang mendorong kepada kemiskinan, terutama pada sikap bahwa kaya itu hal yang jauh di sana dan tidak terjangkau. Sikap ini yang membawa perilaku untuk bersikap biasa, tidak ada ambisi dan tidak ada impian yang menggairahkan. Memilih OTP berarti siap memperkecil jarak yang terentang antara keadaan yang menyesakkan dengan suasana yang membebaskan. Option for The Poor pada hakikatnya adalah gerakan dan pilihan untuk menolong. Harapannya hanya satu adanya perindahan dari sekadar Option for The Poor menjadi Option with The Poor. Itu tak mudah. Ibaratnya kehalirannya yang disertai rasa sakit.

 Malang, 6 Oktober 2013


Saturday, October 26, 2013

Senin Pekan Biasa ke-28 Thn.C1 14 Okt 2013

Renungan
Ada beberapa popkok pikiran penting yang kiranya bisa kita dapatkan dari dua bacaan hari ini.  Melalui bacaan pertama Paulus menjelaskan sekaligus mempertanggungjawabkan  apa yang menjadi dasar aktivitasnya dalam mewartakan  Injil. Paulus meyakinkan jemaat Roma bahwa tugas, panggilan untuk mewartakan Injil sesungguhnya bukanlah hal yang baru karena Injil yang  berisi tentang kabar sukacita tentang Kristus itu sudah lama disampaikan dalam nubuat para nabi. Surat Paulus dalam bacaan pertama ditujukan kepada orang Roma yang sering mempersoalkan asal usul Yesus  dengan segala kuasa yang dimiliki-Nya.  Paulus menegaskan bahwa pengikut Kristus dipanggil untuk tugas penting yaitu menuntun orang sampai pada kepada iman akan Kristus. Jemaat Roma, tampaknya belum menyadari dan juga belum yakin bahwa mereka juga terpanggil untuk tugas pemberitaan Injil sehingga Paulus memberikan mereka peringatan dan awasan. Bagi Paulus panggilan untuk mengambil bagian dalam pewartaan injil itu merupakan panggilan menuju kekudusan. Semua orang dipanggil untuk kekudusan tetapi tidak berarti yang dipnaggil itu sebelumnya telah menjadi kudus. Santu Agustinus menegaskan bahwa kita dipanggil  bukan krena kita sudah menjadi orang kudus tetapi  justru kita akan menjadi kudus karena dipanggil Tuhan. Non Ideo vocati quia sancti setd ideo sancti quia vocati.
Injil Lukas  hari ini menarasikan  tentang interaksi Yesus dalam pewartaaanya berhadapan dengan orang yang tidak beriman kepada-Nya. Dalam nada yang lumayan kasar Yesus menyebut sekelompok orang yang apatis terhadap pesan pewartaan Yesus ebagai orang jahat yang tidak mudah dicarikan tandingannya. Yesus berhadapan dengan satu generasi  yang dikalim-Nya sebagai angkatan jahat. Kualifikasi kejahatan mereka diukur berdasarkan kemampuan mereka memaknai aneka tanda yang menggambarkan pesan-pesan Tuhan. Semua pewartaaan Yesus tentang Bapa tidak sampai masuk  apalagi mersepai perilaku dan cara pandang karena mereka masih menuntut adanya tanda-tanda yang membuktikan identitas Yesus sebagai Allah. Untuk mengubah cara pandang dan sikap angkatan yang jahat itu Yesus mengangkat tokoh perjanjian Lama yaitu Nabi Yunus yang ditugaskan menyelamatkan ornag Niniwe. Yunus  sesungguhnya menjadi tanda besar  bagi manusia.  Selain tokoh Nabi Yunus, Yesus juga mencoba merujuk Salomo sebagai Raja yang bijaksana. Yesus menegaskan dirinya sebagai orang yang melampaui Yunus dan Salomo.
Dari bacaan hari ini kita yang beriman akan Kristus dan merasa terpanggil untuk mewartakan Kristus  Kita disadarkan sebagai orang terpanggil menuju kekudusan. Benih kekudusan itu telah tertanam dalam diri setiap kita sejak kita dipersatukan dengan Kritus.. Pencapaian kekudusan itu dapat diwujudkan dalam usaha mengenal kehadiran Tuhan dengan segala kemuliaannya melalui pengalaman keseharian hidup.  Setiap hari bukannya TUuan tidak memberikan tanda untuk kita maknai tetapi justru karena setiap hari kita selalu merasa semuanya biasa-biasa saja dan tidak ada apa-apanya. Mari kita mengasah ketajaman rasa dan mata batin kita agar merasakankehadiran  kebesaran Tuhan setiap saat dalam runtintas keseharian kita. Amin.

Friday, October 25, 2013

Jumat Biasa Pkn ke-29 thn C1

Renungan Jumat Biasa Pkn ke-29 Thn C1
Rm.7,18-251; Luk.12,54-59
Komunitas Frateran BHK Malang 25 Okt 2013
Renungan
Ketika manusia dihadapkan pada konsep pengetahuan, maka diri manusia seakan-akan terpenggal menjadi tiga kekuatan. Kekuatan pertama ada pada daya nalar. Instrumen utamanya adalah akal yang menggunakan jasa otak. Kekuatan nalar memungkinkan orang berpikir secara benar atau secara salah. Kekuatan pertama adalah kekuatan permainan logika yang melahirkan istilah benar atau salah. Kekuatan kedua adalah kekuatan fisik. Kekuatan ini akan terjelma dalam perilaku dan peritindak atau yang kita kenal sebagai perbuatan. Kekuatan kedua ini melahirkan istilah baik atau buruk. Pola tindak baik atau buruk adalah arena pertarungan etika. Kekuatan ketiga adalah kekuatan rasa dan ini merupakan kekuatan yang dikendalikan oleh hati. Kekuatan rasa yang dikendalikan hati akan melahirkan konsep menyenangkan atau menyusahkan, kedamaian atau kekacauan, ketulusan atau kenafikan. Kekuatan rasa yang dikenalikan hati merupakan arena pergulatan dunia estetika.
Kalau kita renungkan, sesungguhnya kehidupan kita berada dan berlansung dalam tiga kekuatan itu yakni kekuatan logika, etika dan estetika. Keseimbangan dan keharmonisan antara tiga kekuatan ini memungkinkan hidup kita akan mengalir bagaikan air tanpa persoalan. Yang mendatangkan persoalan dalam kehdiupan biasanya ketika ketiga kekuatan ini berada dalam kondisi yang tidak seimbang. Ketika logika mendominasi maka segala sesuatu akan dirasinalisasi dan hanya akan diterima kalau benar sesuai dengan cara kita bernalar atau berpikir. Ketika tindakan dan kekuatan fisik yang mendominasi maka akan muncul tindakan atau cara hidup yang tidak dapat diterima secara akal sehat. Demikian juga ketika orang hanya dikuasai rasa maka yang lain diabaikan begitu saja.
Surat Paulus kepada jemaat Roma tadi pada dasarnya menggambarkan pergulatan Paulus berhadapan dengan dirinya. Pergulatan itu berkaitan dengan bagaimana ia bisa menjaga keseimbangan antara kekuatan nalar dan keinginan fisiknya untuk mendapatkan suatu suasana hati yang menyenangkan. Paulus berada dalam pergulatan menjaga keseimbangan antara logika, etika dan estika pada dirinyanya. Sebgaian besar istilah dan kata-kata yang ada dalam teks tadi merupakan istilah berkaitan dengan etika. Persoalan baik dan jahat.
Selanjutnya tiga persoalan itu, logika, etika, estetika, cara piker, cara tindak, dan cara merasa secara lengkap digambarkan dalam injil. Yesus sesungguhnya sedang berhadapan dengan manusia yang tengah bergulat dalam tiga kekuatan. Yesus berkata: "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Perkataan Yesus ini berkaitan dengan logika.
Tetapi ketika Yesus menyebutkan indetitas orang yang berhadapannya sebagai orang munafik di situ kekuatan etika yang ditonjolkan. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Nilai adalah persoalan etika soal baik dan  buruk.  Persoalan dan pergulan estetikanya terletak pada keinginan untuk merasakan kedamian karena damai itu indah dan menyenangkan. Di sini pun ada pergulatan karena orang ingin berdamai dengan cara yang tidak etis. Suap dan sogok-sogokan ditengah jalan adalah perbuatan tidak etis. Yesus melalui injil ini mau menggambarkan betapa orang-orang yang dihadpinya itu berada dalam ketidak seimbangan logika, etika dan estetika. Akibatnya orang berpikir salah, beritindak buruk, dan merasa tak nyaman berhadapan dengan Yesus.
Mari kita berjuang agar mampu menjaga keseimbangan antara apa yang kita pikirkan dengan apa yang kita kalukan serta yang kita rasakan. Tentu Tuhan menghendai kita berada dalam kondisi yang seimbang.










Wednesday, October 16, 2013

SANTO IGNATIUS DARI ANTIOKHIA

Reunungan Kamis Pekan ke-28 Thn C1; 16 Okt.2013
Rom.3,21-30;Luk.11,47-54
St. Ignasius dari Antiokia  Komunitas Biara CCD, Malang
Buka
Hari ini kita mengenangkan pesta St. Ignasius dari Antiokia, seorang Uskup dan martir. Dikisahkan bahwa dalam masa pemerintahan kaisar Trajanus, banyak orang kristen dikejar, dianiaya dan dibunuh karena menolak perintah untuk menyembah kaisar sebagai dewa. Banyak orang menolak menyembah kaisar termasuk Ignatius yang saat itu menjadi Uskup di Antiokhia.
Ketika Ignasius menjdi uskup Antiokia, datanglah kaisar ke tempat itu untuk menghukum sendiri setiap orang yang berani melawan perintahnya itu. Ketika orang kristen, termasuk Ignasius dihadapkan kepadanya, sang kaisar bertanya kepada Ignasius: “siapakah engkau, hai orang jahat yang tidak menaati perintahku?” “Jangan menyebut jahat orang yang membawa Tuhan dalam dirinya. Akulah Ignasius, pemimpin orang-orang yang sekarang berdiri di hadapanmu. Kami semua pengikut Kristus, yang telah disalibkan bagi keselamatan umat manusia. Kristus itulah Tuhan kami dan Ia tetap tinggal dalam hati kami dan menyertai kami.” Dialah yang paling layak untuk disembah. Jawaban tersebut membuat sang kaisar marah dan menghukum Ignasius dan teman-teman dengan memasukkan mereka ke kandang singa. Satu hal yang perlu kita teladani dari orang kudus ini, bahwa sebelum dihukum, Ignasius menasihati St. Polikarpus dan umatnya yang masih hidup agar: menjadikan iman dan ekaristi sebagai kekuatan utama dalam menghadapi kesulitan apa saja, termasuk hukuman mati sekalipun. 
Renungan
Dalam kehidupan yang biasa setiap hari,  kita menemukan kenyataan  ada banyak alasan dan argmentasi yang membuat seseorang itu berbangga. Ada yang berbangga kalau harta berlimpah. Ada yang berbangga jika berjabatan dan posisi penting dalam instnasi pemerintahan. Ada yang berbangga kalau mendapatkan gelar sebanyak-banyak.. Kebanggaan-kebanggaan serupa itu sering membuat orang memilih jalan pintas.. Itulah sebabnya kita jumpai banyak orang yang menepuh jalan pintas untuk cepat kaya. Menggunakan jalan pintas biar disebut pintar, menempuh jalan pintas untuk mendapatkan kuasa dan jabatan.  Berbangga karena kaya, karena pintar, atau menjadi pejabat dengan jalan pintas adalah kebanggaan semu. Mengapa? Karena  kebanggaan seperti itu dibangun di atas fondasi yang rapuh, mengabaikan perilaku yang didasarkan pada kebenaran.
Surat Paulus yang ditujukan kepada jemaat Roma dan kepada kita hari ini, mengingatkan kita untuk memiliki kebanggan yang kokoh sebagai orang yang mengimani Kristus. Kebanggaan yang didasarkan pada kebenaran iman pada gilirannya melahirkan pelbagai praktik hidup yang menggairahkan. Bagi Paulus, manusia sesungguhnya tidak mempunyai dasar untuk berbangga dan memegahkan diri. Satu-satu dasar pembenaran pemuliaan dan pemeghan diri manusia adalah Iman. Iman dan beriman adalah tonggak penting tempat kita berdiri untuk bermegah dalam Tuhan. Manusia dibenarkan oleh iman akan Tuhan. Yesus menjadi tokoh anutan kita dalam usaha mencapai pembenaran itu.
Iman sebagai dasar pembenaran  memungkinkan orang percaya masuk di dalam kemegahan bersama Tuhan. Injil  memberikan kita gambaran nasib orang Farisi yang berbangga dan bermegah tanpa dasar. Mereka membangkan diri sebagai orang paling baik, paling taat pada hukum dan merasa diri paling hebat. Bagi Yesus orang farisi akan menerima nasib tak lebih dari seorang penjaga kemaaan atau satpam yang hanya bertugas memegang kunci pintu bagi orang  yang percaya kepada Kristus. Kata Yesus, Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan tetapi kamu sendiri tidak masuk ke dalam.
Semua kita merindukan agar pada waktunya dapat bermegah di dalam Tuhan karena kita beriman kepada-Nya. Untuk itu kita dituntut hidup secara benar dalam tuntunan Tuhan. Santo Ignatius dari Antiokhia yang kita rayakan pestanya hari ini adalah contoh dan anutan kita dalam hal membela iman dan kebenaran. Semoga semangat santo Ignatius ini mewarnai dan meresapi seluruh arah gerak dan dinamika kehidupan dan keberimanan kita. Kasih dan rahmat Tuhan akan tetap menyertai kita…
Hal diperlukan dari kita adalah cara hidup yang benar sesuai dengan tuntutan iman kita

Tuesday, October 15, 2013

Berpikir Positif

Reunungan Rabu Pekan ke-28 Thn C1; 16 Okt.2013
Rom.2,1-11;Luk.11,42-46
Komunitas Biara CCD, Malang
Renungan
Firman Tuhan yang disampaikan untuk kita pagi berbicara tentang sikap kita terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain. Sikap terhadap diri sendiri tidak terpisahkan dari sikap kita terhadap orang lain karena kita hidup bersama orang lain. Ketika kita menyadari bahwa ada orang lain di luar diri kita maka bersamaan dengan itu pula kita mulai membandingkan diri kita dengan orang lain. Dalam perbandingan itu0 kita akan menyadari bahwa kita berbeda dari yang lain. Kesadaran akan adanya perbedaan itulah yang membuat kita berpikir tentang diri kita sendiri dan berpikir tentang orang lain.
Dalam proses berpikir itu, biasanya pikiran kita diarahkan pada dua pilihan berpikir. Kita bisa berpikir positif tentang diri kita dan juga berpikir positif tentang orang lain. Cara berpikir sama-sama positif ini biasanya terjadi ketika kita berada dalam posisi yang relatif sama dan seimbang dalam pelabagai hal. Idealnya seperti itu tetapi dalam kenyataan tidak selalu demikian. Selalu saja ada yang kurang pada diri kita dan ada yang lebih pada orang lain. Begitu juga sebaliknya ada yang lebih pada diri kita dan kurang pada orang lain. Dalam kondisi yang tidak berimbang ini, biasanya manusia terjerumus untuk berpikir negatif terhadap dirinya dan juga berpikir negatif terhadap orang lain. Sikap mempersalahkan, menghakimi orang lain yang diwacanakan Paulus dalam bacaan pertama sesungguhnya berbicara tentang efek buruk dari cara berpikir negatif.
Sikap dan perilaku memperslaahkan, mengadili, menghakimi secara sepihak dalam kehidupan kita biasanya terjadi karena diri kita dikuasai model berpikir negatif. JIka kita berpikiran negatif terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain maka hidup kita akan terrsa sebagai beban untuk diri kita dan juga menjadi beban bagi orang lain. Bentuk konkretnya muncul dalam sikap-sikap mempersalahakan, mengadili orang secara tidak adil. Sebaliknya, jika kita berpikiran positif tentang diri kita dan tentang orang lain maka kehidupan kita menjadi modal untuk diri kita dan orang lain. Juga diri orang lain akan menjadi modal bagi perkembangan diri kita. Jawaban yang paling pas yang bisa kita berikan berkaitan dengan apa yang disampaikan Paulus  tadi adalah menata pikiran kita agar selalu dikuasai pikiran yang positif. Berpikir positif tentang diri dan orang lain adalah kunci utama meredam konflik dalam kehidupan bersama. Sikap menghakimi lahir dari cara pikir yang salah terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain. Semua perilaku tidak terpuji  terhadap diri sendiri dan terutama terhadapo rang lain selalu dan hampir pasti menginduk pada cara pikir yang salah.
Penggalan teks injil hari ini secara konkret mengungkapkan efek dari cara berpikir negatif yang mendominasi peilaku kehidupan orang farisi yang berhadapan dengan Yesus. Yesus mengcam orang farisi justru akrena mereka dikuasai pikiran negatif terhadap orang lain. Akibatnya mereka merasa diri paling benar dan paling suci lalu meremehkan orang lain. Orang farisi menilai segala sesuatu secara tidak berimbang karena pikiran mereka dikuasai hal-hal negatif. Prinsip keseimbangan tidak ada lagi pada praksis kehidupan orang farisi sehingga Yesus mengecam mereka bahkan mereka merasa terhina oleh kata-kata Yesus.
Yesus mengajak orang farisi sekaligus mengajak kita untuk berpikir dan hidiup secara seimbang antara kepentingan diri kita dengan kepentingan orang lain lain. Hanya dalam keseimbangan orang bisa menikmati dan memaknai kehidupans ecara lebih berarti dan bermartabat. Prinsip keseimbangan itu dirumuskan dalam kalimat injil ini: Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Artinya kalau kita berusaha agar kehidupan kita menjadi lebih baik, maka usaha orang lain menuju kebaikan jangan dihalang-halangi. Tentu saja kita tidak ingin mengalami nasib seperti orang farisi. Untuk itu kita harus menata prinsip dan cara berpikir kita dari negatif menjadi positif dan memainkan peran kita dari yang tidak seimbang menjadi semakin berimbang. Tuhan membekati kita.

Monday, October 14, 2013

SANTA THERESIA AVILA

Reunungan Misa Pesta St. Theresia Avila 15 Okt.2013
Rom.1,16-25; Luk.11,37-41
Komunitas Biara CCD, Malang

Buka                                                      

Hari ini gereja sejagat merayakan pesta Santa Theresia Avila seorang  kudus dan puangga gereja. St. Theresia  Avila hidup 1515-1582. Ia menjadi  salah satu dari sekian banya santa yang terkenal oleh karena hidupnya yang suci. Dia lahir dalam keluarga berkebangsaan Spanyol yang menekankan pentingnya kejujuran atau kehidupan berkarakter yang baik. Ia adalah seorang pembaharu hidup membiara dan menjadi perempuan pertama yang diangkat menjadi pujangga Gereja. Tulisan-tulisan rohaninya sebagai biarawati Karmelites amat masyhur dan sangat terkenal dan sering menjadi rjukan utama ketika orang mendalami kehidupan spiritual.
Tulisannya luar biasa meskipun dia tidak memiliki latar pendidikan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa dia lebih banyak belajar dari Roh Kudus daripada mengandalkan manusia lain. Keterbukaan hatinya yang sempurna terhadap bimbingan roh kudus memungkinkan  Tuhan memilih Theresia menjadi alat pewartaan kebesaran dan kemuliaan Tuhan. Dalam perayaan kudus ini kita berdoa secara pribadi dan secara bersama memohonkan agar kita disemangati teladan Theresia Avila. Theresia Avila telah memberikan kita contoh untuk lebih terbuka pada bimbingan Roh Kudus dalam dinamika kehidupan kita. Untuk itu kita akui  semua kesalahan dan dosa kita…

Renungan
Ada dua kekuatan utama yang menggerakkan dan menentukan dinamika kehidupan setiap orang. Dua kekuatan itu adalah akal dan hati. Gerakan dan dinamika kehidupan setiap kita dan setiap orang dipengaruhi secara sangat kuat oleh pikiran dan kehendak atau  oleh akal dan rasa. Pikiran dan hati atau akal dan rasa yang digunakan secara tepat dan benar akan membawa seseorang, membawa kita pada kesempurnaan hidup. Kesempurnaan hidup yang diperjuangan itu diarahkan pada pencapaian terget hidup kita yang berkenan kepada Tuhan. Penguasaan hati dan kenhendak untuk berkenan kepada Tuhan ini secara jelas disampaikan Paulus dalam bacaan pertama hari ini. Hidup yang berkenan kepada Tuhan adalah hidup yang menaruh harapan dan iman yang kokoh kepada Allah karena sungguh percaya Tuhan akan mengatur segalanya untuk manusia. Kata Paulus “Orang benar akan hidup oleh Iman”.Hidup yang dimaksudkan di sini bukan sekadar kehidupan fisik yang dipenuhi oleh barang dan hal material melainkan hidup dalam arti jiwa yang merindukan keselamatan. Hidup berkebenaran dan dalam kebenaran adalah hidup yang menjauhkana kefasikan dan kelaliman. Hidup yang menjauhkan diri dari kemunafikan dan membolak balikkan kebenaran. Berkat, rahmat dan keselamatan adalah buah dari harapan yang diarahakan dalam kebenaran oleh akan budi yang baik dan dikenalikan oleh kehendak hati dan batin yang benar.
Ketidakmampuan manusia untuk menata pikirannya dan mengendalikan kehendaknya akan membuat orang bertindak tanpa akal yang jernih dan memutuskan tanpa pertimbangan hati nurani. Perilaku, peri tindak, peri berbahasa yang tidak dapat dijelaskan akal sehat dan berlawanan dengan untutan kejerniah hati akan menjerumuskan manusia dalam sikap dan pola hidup yang serba terbalik, atau dalam kitab suci disebut saja dengan kata munafik.  Segemen injil Lukas pagi ini mengedepankan kepada kita tentangn sekelompok orang yang belum bisa mengendalikan hidupnya dengan piran yang jernih dan dengan hati yang jujur. Yesus meminta manusia untuk selalu melakukan renovasi dan reformasi perilaku dan sikap mulai dari dalam hati dan batins ebagai inti kehidupan kita. Tuhan memuntut hidup yang bersih mulai dari dalam hati dan bukannya hanya penampilan luar yang kesannya penuh kosmetik.
Santa Teresia Avila yang kita rayakan pestanya sebagai orang kudus hari ini merupakan contoh pribadi yang memeiliki keunggulan inti diri yakni hati dan pikiran sehingga perilaku, peri tindak, dan peri berbahasanya menjadi modal pembenarannya di hadapan Tuhan. Persoalan pentingnya hati dan batin ini diungkapkan Tewresia Avila melalui karyanya yang terkenal berjudul Puri Bathin atau Istana Hati dan Jalam Kesempurnaan. Teresia avila telah menjadikah hatinya sebagai istana terindah bagi berkembanganya aneka kebajikan yang menghantarnya pada predikat kekudusan.
Kita berdoa semoga pesta Santa Teresia Avila ini memberi inspirasi dan sekaligus  menyadarkan kita untuk menata kembali inti diri, hati dan batin kita sebagai sebuah istana kebajikan yang akan melahirkan pelbagai peri hidup yang berkenan pada Tuhan dan pada sesama. Pada akhirnya setiap kita merindukan keselamatan dan pembenaran dari Tuhan dan tidak ada jalan lain selain kita mengisi istna bathin kita dengan pelbagai kebajikan dan kebaikan. Tuhan memberkati usaha dan niat baik kita. Amin

Sunday, October 13, 2013

SENIN BIASA KE-28 THN C1

Renungan Senin Pekan Biasa ke-28 Thn.C1 14 Okt 2013
Rom.1,1-7; Lukas 11,  29-32
Komunitas Generalat Frater BHK, Orodowo Malang
Buka
Marilah kita mensyukuri hari yang baru ini dalam perayaan yang menyelamatkan ini seraya membawa segala harapan, niat intense kita kehadpaan Tuhan.  Kita juga berdoa bagi bagi Konftater kita yang telah meninggal dan kita peringati hari ini. Secara istimewa kita bersyukur atas hari ulang tahun terbentuknya  Provinsi Indonesia. Semoga Tuhan memelihara panggilan kita, panggilan taerket untuk kemuliaan  Tuhan dan kemartabatan bagi sesame yang kita layani. Kita awali syukur ini dengan memohon pengampuan Tuhan.

Renungan
Ada beberapa popkok pikiran penting yang kiranya bisa kita dapatkan dari dua bacaan hari ini.  Melalui bacaan pertama Paulus menjelaskan sekaligus mempertanggungjawabkan  apa yang menjadi dasar aktivitasnya dalam mewartakan  Injil. Paulus meyakinkan jemaat Roma bahwa tugas, panggilan untuk mewartakan Injil sesungguhnya bukanlah hal yang baru karena Injil yang  berisi tentang kabar sukacita tentang Kristus itu sudah lama disampaikan dalam nubuat para nabi. Surat Paulus dalam bacaan pertama ditujukan kepada orang Roma yang sering mempersoalkan asal usul Yesus  dengan segala kuasa yang dimiliki-Nya.  Paulus menegaskan bahwa pengikut Kristus dipanggil untuk tugas penting yaitu menuntun orang sampai pada kepada iman akan Kristus. Jemaat Roma, tampaknya belum menyadari dan juga belum yakin bahwa mereka juga terpanggil untuk tugas pemberitaan Injil sehingga Paulus memberikan mereka peringatan dan awasan. Bagi Paulus panggilan untuk mengambil bagian dalam pewartaan injil itu merupakan panggilan menuju kekudusan. Semua orang dipanggil untuk kekudusan tetapi tidak berarti yang dipnaggil itu sebelumnya telah menjadi kudus. Santu Agustinus menegaskan bahwa kita dipanggil  bukan krena kita sudah menjadi orang kudus tetapi  justru kita akan menjadi kudus karena dipanggil Tuhan. Non Ideo vocati quia sancti setd ideo sancti quia vocati.
Injil Lukas  hari ini menarasikan  tentang interaksi Yesus dalam pewartaaanya berhadapan dengan orang yang tidak beriman kepada-Nya. Dalam nada yang lumayan kasar Yesus menyebut sekelompok orang yang apatis terhadap pesan pewartaan Yesus ebagai orang jahat yang tidak mudah dicarikan tandingannya. Yesus berhadapan dengan satu generasi  yang dikalim-Nya sebagai angkatan jahat. Kualifikasi kejahatan mereka diukur berdasarkan kemampuan mereka memaknai aneka tanda yang menggambarkan pesan-pesan Tuhan. Semua pewartaaan Yesus tentang Bapa tidak sampai masuk  apalagi mersepai perilaku dan cara pandang karena mereka masih menuntut adanya tanda-tanda yang membuktikan identitas Yesus sebagai Allah. Untuk mengubah cara pandang dan sikap angkatan yang jahat itu Yesus mengangkat tokoh perjanjian Lama yaitu Nabi Yunus yang ditugaskan menyelamatkan ornag Niniwe. Yunus  sesungguhnya menjadi tanda besar  bagi manusia.  Selain tokoh Nabi Yunus, Yesus juga mencoba merujuk Salomo sebagai Raja yang bijaksana. Yesus menegaskan dirinya sebagai orang yang melampaui Yunus dan Salomo.
Dari bacaan hari ini kita yang beriman akan Kristus dan merasa terpanggil untuk mewartakan Kristus  Kita disadarkan sebagai orang terpanggil menuju kekudusan. Benih kekudusan itu telah tertanam dalam diri setiap kita sejak kita dipersatukan dengan Kritus.. Pencapaian kekudusan itu dapat diwujudkan dalam usaha mengenal kehadiran Tuhan dengan segala kemuliaannya melalui pengalaman keseharian hidup.  Setiap hari bukannya TUuan tidak memberikan tanda untuk kita maknai tetapi justru karena setiap hari kita selalu merasa semuanya biasa-biasa saja dan tidak ada apa-apanya. Mari kita mengasah ketajaman rasa dan mata batin kita agar merasakankehadiran  kebesaran Tuhan setiap saat dalam runtintas keseharian kita. Amin.