Wednesday, August 7, 2013

SEMUA ORANG KUDUS

Pesta Semua Orang Kudus 1 November 1998

Mahasiswa/i UKM Kerohanian USD

Warat Minggu, 1 November 1998

=======================================

Why.23,1-6; 1Yoh.3,1-3; Mat.5,1-12a

Buka

Hari ini kita merayakan pesta untuk semua orang kudus. Mereka menjadi kudus karena telah mengisi kehidupan dan hari-hari hidup mereka dengan segala perbuatan yang baik. Dalam perayaan ini kita berdoa memohonkan secara khusus kepada santo dan santa pelindung kita masing-masing agar kehidupan kita selanjutnya disemangati oleh kebajikan dan segala kebiasaan baik mereka. Agar doa dan harapan kita berkenan pada Tuhan mari kita akui segala kelemahan dan dosa kita. Dosa terhadap diri sendiri, terhadap orang lain dan terhadap Tuhan sendiri.



Renungan

Ada sebuah cerita. Benjol adalah bocah cilik yang senang bermaian lompat-lompatan pada batu-batu besar di halaman rumahnya. Dasar anak kecil. Benjol bercakap-cakap dengan batu-batu itu. Dan katanya waktu itu semasa kehidupan si Benjol itu, batu-batu bisa berbicara dengan manusia. Dialog antara si Benjol dan batu itu terekam sebagai berikut: Benjol bertanya kepada batu itu. Hai batu batu besar, saya melihat anda tidak pernah berpindah-pindah tempat. Apa yang ada kerja di sini? Saya berbaring di atas tanah, jawab batu itu. Kalau musim hujan turun Anda buat apa? Saya berbaring di sini, jawab batu singkat. Kalau musim panas tiba anda berteduh di mana? Saya berbaring di sini. Kalau hari gelap anda mencari terang di mana? Saya tetap berbaring di sini, jawab batu lagi. Kemudian si Benjol berkata: sungguh malang nasib sebagi batu. Engkau hanya tahu berbaring di tempat yang sama. Engkau adalah barang yang paling malang di dunia ini. Lalu batu menimpal si Benjol dengan berkata. Maaf, saudara. Saya tidak pernah merasa sudah di sini. Saya sungguh berbahagia selama saya tetap berbaring di sini. Dan yang paling membahagiakan saya adalah saat saya menyaksikan kamu dengan gembira melompat-lompat di atas diriku. Aku Bahagia karena engkau mendapatkan kegembiraan. Sedih dan malang itu adalah pikiranmu. Saya sendiri tetap berbahagia dengan caraku seperti ini. Si Benjol malu karena dinasihati batu yang semula dianggapnya malang itu.

Kegembiraan, kebahagiaan, kesenangan, kesuksesan itu sebenarnya merupakan gambaran situasi atau keadaan yang sulit diukur. Kegembiraan, kebahagiaan dan kesenangan itu memiliki mutu dan kadar yang relatif seubjektif sifatnya. Seorang yang hidup sederhana dan tidak memiliki apa-apa dalam mata seorang kaya raya mungkin melihatnya sebagai hal yang menyedihkan. Kemalangan. Demikian pula sebaliknya. Seorang yang kaya raya dalam pandangan orang yang sederhana mungkin menilainya sebagai hidup yang menggembirakan. Tetapi apakah hal itu benar, sulit dibuktikan. Orang yang tidak memiliki apa-apa mungkin dia merasa bahagia dengan cara seperti itu atau seorang yang memiliki segalanya belum tentu juga merasa bahagia dalam hidupnya. Batu untuk seorang anak seperti si benjo tadi dinilai sebagai hal yang menyedihkan. tetapi batu sendiri merasa senang dan bahagia. Yang menentukan kita bahagia atau tidak bahagia secara tepat dan pasti cumalah diri kita sendiri.

Hari ini kita merayakan pesta semua orang Kudus. Semua orang yang telah mendapatkan kebahagiaan yang kita yakini sebagai orang beriman telah hidup dalam persekutuan dengan Allah sendiri. Dan gambaran tentang kehidupan orang kudus itu tampak jelas digambarkan dalam bacaan yang kita dengar tadi. Dalam bacaan pertama kita mendengar tentang kisah pengalaman berupa pengelihatan Yohanes. Dalam pengelihatan itu Yohanes menyaksikan sejumlah besar manusia yang tak terhitung jumlahnya. Jumlah yang besar itu didatangi seorang malaikat dengan membawa stempel besar untuk ditempelkan kepada mereka semua. Mungkin meterai yang dibawa malaikat itu bisa dibayangkan seperti kain-kain yang bertuliskan pro refomasi yang kita ikatkan di kepala kita saat kita berdemostrasi ke alun-alun bulan Mei silam. Yohanes menampilkan satu gaya simbolisme aritmatis dengan penyebutan angka atau bilangan yang mempunyai arti khusus. Angka seribu dalam tafsiran kitab suci berarti sangat banyak dan 12 itu mengacu pada jumlah suku israel dan juga 12 rasul. Dan yang mengherankan adalah manusia dalam jumlah yang besar itu setelah dimeterai, diberi identitas menghadap ke sebuah singgasana (alun-alun surga) di mana Anak Domba duduk. Orang banyak itu bukan ke sana untuk berdemonstrasi dan membaca maklumat atau tuntutan agar presiden turun melainkan ke sana untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Semua mereka tertiarap karena marasa kecil di depan Anak Domba. Dan Yohanes menyebut ribuan manusia itu sebagai orang yang baru keluar dari kesusahan dan telah mencuci jubah mereka dengan darah Anak Domba. Mencuci dengan darah artinya mencuci kehidupan dengan perjuangan yang besar dalam tantangan yang maha dahsyat. itu artinya orang yang menghadap singgasana itu adalah orang yang telah menang dalam perjuangan hidupnya. Orang yang telah merayakan keidupannya sesuai dengan tuntutan Kristus. karena dalam bacaan kedua Yohanes sekali lagi menegaskan bahwa orang yang telah mengisi dan merayakan kehidupannya dengan baik dia itulah yang akan melihat Kristus dalam keadaan yang sebenarnya. Orang yang dapat mengadap Tahta Anak Domba bagi Yohanes adalah mereka telah menaruh harapan sepenuhnya kepada Kristus dan hidup dalam tuntunan kehendak Kristus itu. Yang menaruh harapan kepada Kristus menguduskan dirinya dan dijamin ada bersama Kristus.

Apa yang disampaikan atau digambarkan Yohanes baik dalam bacaan pertama maupun bacaan kedua pada dasarnya mau mengatakan bahwa hidup itu perjuangan yang harus dimenangkan. Orang kudus yang kita peringati hari ini adalah mereka yang berhak dan sepantasnya mendapatkan ganjaran karena mereka telah melakukan sesuatu yang baik, yang sesuai dengan tuntutan Tuhan sendiri. Tuhan memperhitungkan dan meperhatikan setiap derita dan kecemasan, bahkan setiap tetes air manusia yang berjuang dalam kehendak Tuhan. Tuhan akan rela setiap saat menolong orang yang mau berjuang dalam hidup. Orang paling bahagia saya kira adalah orang yang tahu apa yang dibuatnya dan merasa senang dengan perbuatan itu karena ia yakin perbuatan itu sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan orang yang paling menyedihkan adalah orang yang tahu apa yang dibuatnya, senang membuatnya tetapi perbuatan itu bertentangan dengan kehendak Tuhan. Itu artinya tahu berbuat tetapi tidak tahu mempertanggungjawabkan perbuatan. Contoh kecil saja. Berpacaran itu orang tahu baik dan menyenangkan tetapi kalau masa berpacaran dipakai sebagai kesempatan melakukan perbuatan untuk menyenangkan diri sendiri dengan mengabaikan norma susila dan sopan santun, itu artinya kita berjalan dalam kehendak kita sendiri. Orang yang hidup menurut kehendak sendiri pada umumnya pandai membuat rekayasa. Dan rekayasa dalam konteks ini sama dengan menggali lobang menguburkan diri sendiri. Berpacaran yang tak tahu batas bisa melahirkan rekayasa yang mengorbankan kehidupan, mengorbankan adat istiadat, mengorban hati nurani.

Kita senang merayakan pesta semua orang kudus hari ini. Dan tentu kita juga punya cita-cita untuk menjadi orang yang berbahagia paling kurang dimulai dalam kehidupan sekarang ini. Dan untuk mencapai kebahagiaan itu ada banyak jalan. Penggalan Injil tadi memberikan gambaran kepada kita bahwa dalam pandangan Yesus orang akan mendapatkan ganjaran berpakan kebahagiaan itu dengan pelbagai macam cara. Ada yang bahagia dengan jalan melepaskan diri dari segala sesuatu yang mengikat dirinya. Yesus memuji dan mengganjari mereka karena menghayati kemiskinan dalam Roh. Perjuangan dalam hidup juga berharga di mata Allah dengan penghiburanNya. Kebahagiaan diperuntukan yang berdukacita. Kebahagiaan juga dibangun dalam sikap yang lemah lembut dan dalam upaya menghadirkan kebenaran. Tuhan memperhitungkan kelemahlembutan yang dibagikan kepada orang lain. Kebahagiaan dapat ditemukan ketika orang rela berbagi derita dengan orang lain. Kebahagiaan dapat dipetik ketika orang mengusahakan perdamaian dalam hidup. Juga kebahagiaan dapat ditemukan dalam derita dan perjuangan karena nama Tuhan. Jadi ucapan bahagia yang disampaikan Yesus tadi merupakan alternatif yang dapat kita pilih. Bisa pilih lebih dari satu dan juga tidak dilarang kalau mau melilih semuanya. Mereka atau para kudus yang kita rayakan hari ini adalah mereka yang telah mendapat ganjaran karena telah memilih apa yang ditawarkan Yesus tadi.

Saudara/i. Kebahagiaan itu tidak ditentukan oleh apa dan bagaimana model hidup kita tetapi leih ditentukan oleh bagaaimana kita merayakan dan mengisi kehidupan kita dengan hal yang berguna untuk orang lain. Batu yang yang berbaring di halaman yang berdialog dengan si benjol dalam ilustrasi awal tadi tetap merasa bahagia sebagai batu. Ia bahagia bukan karena tercipta sebagai batu melainkan karena ia mampu membuat sibenjol itu gembira dan senang menjalani kehidupannya sebagai seorang anak. Kebahagiaan batu itu terletak dalam kemampuannya memberikan kegembiraan kepada Si Benjol. Mudah-mudahan kita semua merasa bahagia dalam kehidupan kita karena kita mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Kalau kita mampu berbuat sesuatu yang baik dengan cara kita maka pasti Yesus selalu berbisik dalam kehidupan kita: berbahagialah engkau karena telah membahgiakan orang lain. Semoga.





Pringwulung, 31-10-’98

Rm. Bone Rampung Pr

MINGGU BIASA KE-28A

Minggu Biasa ke 28 Tahun A/2 13 10 2002

Yes.25,6 10a Fil.4,12 14,19 20 Mat.22,1 14

Paroki St.Yosef Kisol

Buka

Ciri khas kehidupan kita manusia saat ini adalah selalu sibuk. Di mana-mana kita bertemu dengan orang yang sibuk. Alasan untuk sibuk itu tentu saja bermacam-macam. Ada yang sibuk di kebun. Ada yang sibuk di jalan. Ada yang sibuk di pasar. Ada yang sibuk di sekolah. Ada yang sibuk di kantor. Pokoknya sipa saja dan di mana saja dan kapan saja orang sibuk. Akibat kesibukan yang demikian orang lalu mengarahkan seluruh perhatiannya pada kepentingan dan keperluan dirinya sendiri. Dalam kesibukan seperti itu manusia sering lupa untuk sibuk memperhatikan orang lain. Dunia yang sibuk biasanya diwaranai pula dengan persaingan yang tidak sehat. Dunia dan kehidpan manusia yang sibuk sudah dengan sendirinya menutup kemungkinan untuk menaruh perhatian kepada sesamanya. Dan kesibukan manusia itu pada akhirnya menjauhkan dia dari jalan yang Tuhan tentukan. Kesibukan dengan segala jenisnya telah menghilangkan suara Tuhan dan telah menutup mata dan telinga manusia untuk berada pada jalan Tuhan. Kisah injil hari ini, rupa-rupanya ingin menilai secara kritis kehidupan manusia yang sibuk. Yesus membandingkan ajakan keselamatan buat manusia dalam perumpamaan pesta nikah. Kerajaan Allah, perjamuan Tuhan sepi karena banyak yang tak mau datang. Banyak orang yang sibuk dengan perkaranya masing-masing. Kalau toh ada yang mau mendengar undangan Tuhan, orang itu juga tidak tidak sepenuh hati. Banyak dari kita manusia masa kini yang mau mendengar undangan Tuhan tetapi kita seperti orang yang datang ke pesta tanpa pakaian yang pantas. Marilah kita berpantas diri di hadapan Tuhan dan sesama kita pada awal perayaan ini. Menyesali segala kesibukan kita dengan diri kita sendiri sehingga undangan Tuhan tidak kita perhatikan.





Renungan

Saya yakin hampir semua kita yang hadir dalam perayaan Ekaristi pagi hari ini, pernah mengikuti salah satu pesta entah itu pesta nikah atau pesta apa saja. Kalau kita mencoba memperhatikan setiap pesta yang kita ikuti maka pada akhirnya kita bisa menilai soal keberhasilan sebuah pesta itu. Kita semua yakin bahwa mengadakan pesta itu bernyata tidak mudah. Setiap pesta besar biasanya ada panitia dan kepengurusan yang lengkap dengan semua seksinya. Setiap perencanaan pesta sejak awal kepanitiaannya akan bertekad supaya pestanya sukses dan memuaskan semua orang yang diundang. Karena itu pelbagai cara dan strategi coba dipakai demi keberhasilan pesta itu. Penerapan pelbagai cara dan strategi itu menjadikan pesta itu sebagai suatu seni tersendiri. Dan jika kita berbicara soal pesta maka perkara makan minum mau tak mau harus mendapat perhatiaan pertama. Mengapa karena persiapan makan minum amat menentukan jumlah orang yang akan diundang. Jumlah undangan harus disesuaikan dengan besarnya sapi atau kerbau yang dipotong. Orang kita biasanya mengukur keberhasilan sebuah pesta dengan berapa banyak jenis menu maka¬nan, hidangan serta jenis minuman yang disu¬guhkan kepada para undangan. Kepuasan para undangan akan makanan dan minuman itulah ukuran pertama yang menentukan apakah pesta itu berhasil atau tidak. Jika sampai terjadi ada undnagan tidak mendapat makanan dan minuman maka pesta itu akan dinilai kurang berhasil. Lebih bagus lagi jika sebuah pesta dengan makanan minum yang cukup ditambah lagi dengan suguhan acara yang menarik dan memikat. Orang akan pulang membaca cerita yang menyenangkankarena makanannya enak. Hal yang lain biasanya tidak banyak dibicarakan.

Tidak ada satu pesta pun yang bebas dari kecemasan dan ketakutan mengalami kegagalan. Masalah cukup tidak persediaan makanan dan minuman selalu menjadi masalah yang mencemaskan. Dan hal itu bukan hanya berlaku pada zaman kita saat ini. Berdasarkan apa yang disampaikan melalui ketiga bacaan hari ini, paling kurang kita rahu bahwa masalah itu juga berlaku pada masa kehidupan para nabi Perjanjian Lama. Penggalan Nubuat Yesaya yang kita dengar dalam bacaan pertama hari ini memberikan gambaran kepada kita tentang perjamuan atau pesta akbar, pesta besar yang sukses. Gambaran Nabi Yesaya tadi amat menarik dan mengesankaan. Ia menggambarkan satu pesta yang sukses luar biasa. Pesta yang menyenangkan dan menggembirakan. Pesta akbar atau pesta besar yang dikisah¬kan Yesaya tadi terbuka untuk umum. Tidak perlu ada surat undangan segala. Setiap orang boleh datang. Jenis masakannnya juga sangat istimewa. Daging yang disiapkan istimewa. Bukan sapi atau babi yang kurus karena kering seperti sekarang ini. Daging yang disipakan itu daging berlemak dan bersum sum. Tempat pestanya bukan di tenda yang beratap terbal dan berdinding daun kelapa. tempat pesta itu di puncak gunung Sion. Minuman yang disiapkan bukan moke putih atau sopi tetapi anggur paling enak. Wajah wajah orang yang hadir juga menampakkan kegembiraan yang sempurna. Dalam pesta itu mereka merasakan adanya pembe¬basan dan merasa selalu aman. Mereka tidak takut hujan. Mereka merasa aman karena tangan Tuhan sendiri yang melin¬dungi tempat pesta di unung Sion itu.

Betapa senangnya kalau orang, kalau kita berhasil masuk ke dalam tempat pesta seperti yang digam¬barkan Yesaya tadi. Tetapi dalam hidup ini selalau saja da kekecualian. Dalam bacaan kedua kita menden-garkan bagaimana Santu paulus mengangkat satu cerita yang persis berlawanan dengan apa yang digambarkan Yesaya. Surat Santo Paulus kepada jemaat Filipi tadi mengggambarkan kesulitan yang dialami Paulus sebagai orang yang dipilih dan diutus Allah untuk mewarta¬kan kebenaran tentang Kristus. Paulus menga¬lami kekurangan setelah sebelumnya ia menga¬lami kelimpahan. Keluhan Paulus sekaligus meminta bantuan jemaat Filipi. Perjuangan Paulus ternyata tidak mudah. Ia ditolak dan ajarannya tidak sampai mengubah cara hidup jemaat. Ia menerima tantangan itu dengan tabah. Karena itu ia hanya mampu berkata: segala perkara dan kesulitan akan kutanggung dalam Dia, yang telah memberikan kekuatan kepadaku. Ketergantungan Paulus sepenuhnya pada Allah sungguh luar biasa. Ia yakin sepe¬nuhnya bahwa Allah akan membebaskan dia dari kesulitan pewartaaanya. Ia yakin sepenuhnya bahwa Allah akan memenuhi segala keperluannya dalam kelimpahan. Kebi¬jaksanaan yang terungkap lewat perkataan Paulus lahir dari rasa solidaritasnya pada pengalaman Kristus yang menderita dan ditolak. Sikap solider Paulus sebenarnya mau menegaskan bahwa makanan dan minuman itu telah disediakan Allah bagi mereka yang hidup oleh kebenaran dan dalam kebenaran Allah. Paulus yakin bahwa ia juga diperkenankan menik¬mati perjamuan akbar, pesta besar sebagaimana dilukiskan Yesaya dalam bacaan pertama tadi. Iman dan harapan Paulus sudah menjadi jaminan bagi semua yang diharapkannya.

Santo Mateus dalam Injil hari ini mengisahkan tentang penyelenggaraan sebuah pesta perkawinan yang dilakukan sang raja. Pesta yang digambarkan Mateus mirip pula dengan apa yang diangkat Yesaya tadi. Kedua perjamuan itu memiliki kesamaan antara lain: sama sama terbuka untuk semua orang; menu yang disiapkan juga pasti enak karena ini dibuat seorang raja. Namun ada perbedaan yang mendasar antara pesta yang diangkat Yesaya dan perjamuan sang Raja yang diangkat Yesus dalam Injil tadi. Perbedaan itu terjadi berkaitan dengan kese¬luruhan situasi dan suasana yang meliputii pesta itu. Dalam kisah Yesaya pesta itu tidak terlalu banyak mengalami kesulitan tetapi dalam Injil justru terjadi kesulitan besar. Kesuli¬tannya bukan kurang makan minum tetapi kesulitan karena ketidakhadiran orang-rang diundang. Situasi itu mencemaskan si tuan pesta, mencemaskan sang raja. Semua makanan dan minuman telah tersedia tetapi tidak ada orang yang mau menghabiskan semuanya itu. Si tuan pesta menggunakan segala cara. Ia mencoba mengundang lagi secara lisan lisan, secara langsung dengan mengutus para hamban¬ya. Undangan lisan ini pun tanpa hasil karena banyak orang sibuk diri sendiri, sibuk dengan urusan pribadi, sibuk ke ladang, sibuk dengan bisnisnya. Semua yang diundang untuk makan minum gratis itu sibuk dan tidak mau meluangkana waktu sejenak. Lebih dari itu mereka yang diundang tidak hanya sibuk, tidak hanya menolak undangan itu tetapi malahan menangkap para hamba yang datang mengundang dan membunuh mereka. Kita tentu bisa membayangkan bagaimana reaksi sang raja terhadap tindakan brutal seperti itu. Jelas hal itu menyulut murka sang raja. Raja kecewa dobel dan berlipat ganda. Orang tidak datang ke pesta dan hamba-hambanya mati di tangan manusia yang tidak mendengar undangan. Tidak ada cara lain lagi bagi raja selain membinasakan manusia seperti itu dan membakar tempat tinggal mereka. Dua langkah pertama sang raja gagal. Langkah yang terakhir masih ditempun sang Raja. Ia sekali lagi mengutus para hambanya untuk bertindak seperti Polantas di persimpangan jalan. Di perempatan jalan itu mereka mencegat sekaligus mengajak semua yang lewat untuk segera datang menikmati perjamuan bersama sang Raja. Cara ketiga dinilai sukses. Dalam waktu singkat banyak orang memenuhi ruangan pesta. Terjaring pula seorang yang rupanya lapar dan lalu mampir ke ruang pesta. Kehadirannya dilihat meng¬ganggu situasi pesta karena ia tak mengenakan pakaian pesta. Nasib malang menimpa orang itu. Ia terpaksa diikat dan dibuang ke tempat paling gelap. Orang ini dikatakan tidak terpilih dalam proses panggilan. Memang banyak yang dipang¬gil dari persimpangan jalan namun cuma sedi¬kit yang dipilih.

Kisah Injil tadi cukup sulit untuk kita pahami. Kita sulit mema¬hami bahwa orang yang semula dipanggil akhirnya harus diusir. Jika kita melihat apa yang mau disampaikan penginjil ini maka kita bisa mengerti mengapa yang tidak berpakaian pesta diusir dan dibuang. Dengan kisah seperti ini sebenarnya penginjil mau mengatakan bahwa untuk masuk bisa ikut dalam perjamuan kerajaan Allah itu membutuhkan persiapan. Undengan itu memang terbuka tetapi tidak berarti manusia tidak perlu mempersiapkan segalanya. Semua kita manusia diundang. Namun, untuk masuk dan tidak itu sangat bergantung pada pertimbangan pribadi kita. Tak ada unsur paksaan. Manusia bebas memberikan alasan sebanyak-banyak untuk menolak undangan Allah. Undangan Allah itu ada tuntutan minimalnya. Berpakaian pesta dalam injil tadi maksudnya adalah persipan hidup manusia selama di dunia ini. Orang yang diusir adalah manusia yang tidak memenuhi tuntutan dasar untuk masuk kerajaan Allah. Hukum dan perintah Tuhan adalah perlengkapan atau pakaian bagi kita orang beriman. Kalau hidup kita lebih banyak sibuk dengan diri sendiri lalu menmgabaikan hukum dan perintah Tuhan, itu sama artinya kita tidak mau menghadiri pesta tanpa pakaian yang pantas. Hukum dan segala perintah, serta ajaran iman yang kita terima, itulah pakaian yang harus kita miliki dan kita pakai memasuki kerajaan Allah.

Lalu apa yang perlu kita ambil dari semua kisah kitab suci hari ini untuk hidup kita selanjutnya? Pertama kita harus menyadari bahwa Tuhan selalu mengundang kita untuk memasuki kerajaan Allah. Undangan itu harus ditanggapi. Undangan itu harus dijawab dengan tindakan konkret. Tuhan mengundang kita untuk masuk ke dalam cara hidup yang benar. Bukan membiarkan kita sibuk terus dengan urusan kita. Tuhan mengundang untuk dijawab bukan untuk ditolak. Manusia yang selalu sibuk dengan diri sendiri, sibuk dengan urusan dan kepentingan pribadi akan sulit memberikan jawaban atas panggilan Tuhan.

Kedua, Panggilan Tuhan adalah panggilan kebenaran yang membebaskan. Menjawabi panggilan Tuhan sama artinya manusia kembali ke jalan yang benar. Tuhan terus mengundang karena manusia sering mencari jalan sendiri. Manusia sering tersesat. Tuhan memanggil karena manusia sering mencari dan mengejar kekayaan dengan segala cara. Tuhan terus mengundang manusia yang masih sibuk bermimpi tentang tentang angka-angka keramat. Tuhan mengundang manusia yang pikirannya sudah menjadi kebun binatang tempat menemukan shio-shio. Tuhan mengudang manusia yang bermental enak, ingin kaya hanya dengan berkayal, bermimpi tanpa memeras keringat.

Ketiga, Hidup kita manusia ada aturan dan normanya. Aturan dan norma kehidupan itulah yang menjadi panduan yang mengarahkan manusia pada jalan hidup yang benar. Manusia yang mengabaikan tata atauran dan norma dalam kehidupan bersama biasanya akan hidup sesuka hatinya sendiri. Orang seperti itu tidak akan mampu melihat kebenaran dalam diri orang lain. Orang seperti itu akan membawa kesulitan bagi orang lain seperti apa yang dialami paulus berhadapan dengan orang Filipi.

Pakaian pesta kita, pakaian kebesaran kita memasuki kerajaan Allah adalah kebajikan-kebajikan kristiani. Singkatnya apa pun kita dan bagaimanapun kita, kita harus mampu tampil dengan pakaian pesta sebagai orang beriman artinya hidup sesuai dengan iman. Sebagai orang tua kita berpakaian pesta jika kita sungguh memperha¬tikan kebutuhan hidup keluarga dan anak anak kita. Sebagai pendidik kita berpakaian pesta jika kita mampu membagikan ilmu kita kepada pada peserta didik kita. Kita sebagai warga gereja kita berpakaian pesta dalam partispasi dan pelayanan kita yang penuh pengorbanan dan ketulusan. Sebagai remaja kita berpakaian pesta jika kita patuh pada tata cara pergaulan yang layak sebagai orang beriman. Sebagai orang beriman kita berpakaian pesta hanya jika kita hidup berda¬sarkan iman, pengharapan dan kasih akan Tuhan dari hari ke hari

Tuhan terus memanggil kita manusia. Masih kah kita terus menolak undangan Nya? Masihkah kita terus sibuk dengan diri dan kepentingan kita sendiri? Masihkah kita terus berpaling dari Dia? Satu hal yang pasti dan harus kita ingat, Tuhan masih terus berseru. Tuhan masih terus dan setia memanggil dan menanti kita. Kasih setia Tuhan seperti sungai yang mengalir. Tiada pernah mengenal lelah, dan tiada mengenal henti. Tuhan selalu bebas memanggil.Tetapi tidak pernah mau memaksa kita untuk menjawab. Tetapi kalau kita menjawab dengan iman dan praktik hidup yang baik tentu Tuhan akan menyertakan kita pada pesta perjamuan surga-Nya. Amin



Rm. Bone Rampung, Pr

MINGGU BIASA KE-24 TAHUN A


Minggu Biasa ke-24 Th.A2 15 September 2002

Sir.27,33-28,9 Rm.14,7-9; Mat.18,21-35

Seminari Pius XII Kisol

Buka

Mencermati kehidupan dunia manusia milenium ketiga ini, rupa-rupanya sulit bagi kita untuk berbicara soal pengampunan dan sikap saling memaafkan. Di mana-mana dan kapan saja di berbagai belahan dunia ini terjadi aneka tindak kekerasan yang sering melanggar kehidupan. Hukum rimba memang tidak tertulis sebagai hal yang legal dalam hukum kemasyarakat manusia, tetapi yang paling banyak dipraktikkan justru hukum rimba itu. Hukum rimba selalu menganulir konsep pengampunan dan memaafkan. Pengampunan dan memaafkan terkikis habis ketika manusia ingin mempertahankan wibawanya. Pertanyaan tentang berapa banyak pengampunan yang harus diberikan kepada orang lain dinilai tidak relevan lagi karena manusia sudah meletakkan perjalan hidupnya di atas rasa permusuhan dan balas dendam. Manusia terlampau cepat untuk setiap tindakan pembenaran diri tanpa dasar. Manusia sudah terjebat pada spirit hidup untuk dirinya sendiri dan juga mati untuk dirinya sendiri. Inilah dosa manusia dan kita zaman ini. Agar perayaan ini berkanan kepada Tuhan marilah kita memohonkan pengampunan dari Tuhan dan sesama kita sambil belajar untuk mengapuni dan memafkan.



Renungan

Konon dikisahkan, raja langit merayakan pesta ulang tahun kelahirannya yang ke-47. Untuk itu pihak istana langit mengundang semua binatang yang bisa terbang diundang. Sementara bianatang yang tidak bisa terbang hanya diwakili oleh salah satu jenis binatang. Utusan binatang yang tidak dapat terbang diharpkan menumpang atau meminjam sayap binatang udara yang tidak bersedia hadir. Binatang laut mengutus seekor penyu jantan yang besar. Penyu meminjam sayap dari elang betina yang berhalangan hadir. Pada saat memulai perjamuan semuanya mulai mengambil sop. Pada menikmati sop itu sebagian dari sop terpercik keluar dari mulut elang dan menyebut menyirami tubuh penyu. Penyu itu merasa sangat malu karena itu penyu menuntut elang untuk memulihkan kehormatan penyu itu dengan membayar uang terbusan 1 juta rupiah. Karena takut mengacaukan situasi pesta elang terpaksa harus segera membayar 1 juta kepada penyu itu. Kemudian, ketika penyu itu hendak membuka botol bir, minuman itu tertumpah dan buih-buih bir membasahi seluruh bulu elang itu. Elang merasa dipermalukan di hadapan raja dan semua binatang lainnya. Lalu penyu cepat-cepat meminta maaf dan menawarkan kepada elang untuk menerima kembali uang 1 juta yang telah diterima penyu. Elang tidak mau menerima. Elang tidak menuntut uang tebusan rasa malu. Elang langsung mengambil sayap milik istrinya yang dipinjangkan kepada penyu itu. Penyu tidak berdaya. Kini pesta telah usai. Semua mereka harus segera kembali ke tempat masing-masing. Tidak ada lagi binatang lain yang bersedia menerbangkan penyu kemabli ke bumi. Ketika hari mulai gelap penyu itu mengambil ancang-ancang dan hendak mebuang dirinya ke darat. Tentu dengan harapan ia bisa jatuh pas di laut atau paling kurang di danau. Malang bagi si penyu. Ia jatuh dan punggungnya membentur karang. Semua tulang punggungnya remuk dan kulit tubuhnya tercabik dan tersececer. Sebelum penyu itu menghembuskan napasnya yang terakhir, seorang pemuda yang kebetulan melihat penyu itu mencoba mengumpulkan semua kepingan kulit penyu itu dan menyusunnya kembali biar bentuk penyu itu mendekati aslinya. Tetapi karena memang kulit penyu sudah pecah berantakan maka pecahan-pecahan itu ditumpuk begitu saja. Konon itulah sebabnya mengapa kulit penyu sampai saat ini terdiri dari kepingan-kepingan kecil.

Tragedi yang menghancurkan penyu dalam cerita tadi muncul karena ketidakrelaan untuk saling memaafkan di antara elang dan penyu. Cerita ini tentu saja dengan mudah kita kaitkan dengan apa yang disampaikan di dalam ketiga bacaan suci hari ini. Kitab Putra Sirakh dalam bacaan pertama secara eksplisit memberikan perintah agar manusia memaafkan sesamanya. Hal yang sama disampaikan Yesus dalam injil Matius hari ini. Yesus menuntut sikap manusia untuk memaafkan bukan sekadar basa basi. Memaafkan dalam konteks Yesus adalah tindakan yang memiliki tingkat kualitas tertentu. Kualitas sikap memaafkan itu dibuktikan dengan hitungan praktik memaafkan tanpa batas. Dan tindakan memaafkan orang lain dalam konteks Yesus itu selalu membawa perbaikan kualitas hidup seseorang. Mengapa? Karena setiap bentuk maaf yang kita berikan kepada orang lain sekaligus menjadi jaminan bagi kita untuk dimaafkan. Prinsipnya kita menerima apa yang pernah kita berikan. Bagi Yesus sikap saling memafkan itu harus terjadi sepanjang hidup manusia. Karena itu, tidak ada batasnya. Tentu hal ini ada alasannya yaitu selama hidup manusia selalu jatuh ke dalam aneka kelemahan.

Perkara saling memaafkan atau saling mengampuni seperti disarankan dalam bacaan hari ini bukanlah barang baru atau tuntutan baru untuk kita. Kita sudah sering mendengarnya. Yang jarang untuk kita adalah mempraktikan sikap memafkan itu dalam kehidupan kita. Dalam dialog dengan Petrus, tampak Petrus tahu baik sekali tentang pengampunan orang Yahudi. Orang Yahudi mengampuni orang sampai tiga kali saja. Namun Petrus masih lebih dari itu, dan malahan berbuat, bertindak mengampuni lebih dari itu: sampai tujuh kali. Petrus berpikir bahwa mengampuni sampai tujuh kali itu sudah hebat sekali, serta pas untuk mendapat predikat terpuji dari Kristus, sebab lebih dari kebiasaan masyarakat Yahudi. Namun ternyata jumlah itu sama sekali tidak cukup dalam tuntutan Yesus. Yang dikemukakan dan dilaksanakan oleh Petrus itu belum sempurna, belum tuntas. Katakan, masih terbatas. Karena itu Yesus tambahkan: "Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali". Suatu jumlah tak terbatas, angka sempurna di atas sempurna. Tujuh dan sepuluh itu angka sempurna dalam kebiasaan Yahudi. Bayangkan kesempurnaan di balik angka 70 kali 7 kali. Dengan ini mau ditunjukkan kualitas pengampunan itu. Tak terbatas, sampai habis, tuntas, bulat, utuh, dan menyeluruh.

Dalam cerita perumpamaan tentang Kerajaan Allah juga demikian. Hamba yang berutang 10.000 talenta itu sebenarnya tidak punya apa apa lagi. Karena untuk membayar utangnya itu, ia sendiri, anak, istri dan segala miliknya mesti dijual habis. Namun apa yang terjadi? Raja itu membebaskan dia dan menghapuskan utangnya. 10.000 talenta itu tidak dibayar sedikit pun. Dengan ucapan terima kasih saja tidak apalagi dengan hal lain. Demikianlah semestinya kualitas pengampunan yang dikehendaki Tuhan. Mengampuni orang yang bersalah tanpa syarat, sampai tuntas, sampai selesai. Mengampuni orang hanya di atas bibir bukanlah pengampunan tanpa batas. Meminta maaf sambil dendam dalam hati bukan pengampunan tanpa batas. Memberi maaf kepada orang sambil menanti saat balas dendam bukanlah pengampunan tanpa batas. Mengampuni orang sambil menghindarkan diri bukan pengampunan tanpa batas. Pengampunan tanpa batas menuntut suatu kesadaran batin. Kesadaran dari dalam atau kesadaran dari inti diri. Dari sanalah keluar suatu pengampunan yang utuh, sempurna, sampai tuntas, sampai selesai, di sini dan sekarang juga. Tanpa itu, kita hanya main sandiwara.

Hambatan paling besar bagi manusia dalam tindakan memafkan dan mengampuni ini adalah sikap yang tergesa-gesa. Sikap yang tidak sabar. Dalam injil tadi kita mendengar bagaimana pihak yang berutang itu meminta kesabaran pihak yang ingin menagih utangnya. Hamba yang telah dilepaskan itu tidak bersabar terhadap hamba yang lain. Sikap yang demikian telah menodai niat baik tuan yang menghapus segala utangnya. Karena kurang sabar orang itu kemudian diberi gelar sebagi penjahat yang hanya cocok dijebloskan ke dalam penjara.

Kisah tragis antara penyu dan elang yang pada akhirnya harus bermusuhan seperti dalam ilustrasi awal tadi, terjadi karena mereka kurang bersabar menetukan sikap terhadap satu sama lain. Keduanya menyambil keputusan secara gegabah, tidak matang. Mereka mengorbankan kebersamaan hanya karena mau menjaga gensi dan wibawa. Keduanya tidak mau saling memaafkan. Mereka masing-masing menjaga wibawa dan mempertaruhkan kewibawaan itu. Alhasil elang mengambil sayap yang dipijamkan kepada penyu. Lalu penyu justru hancur berkeping-keping. Tentu kita tidak mau mengalami nasib seperti penyu itu. Untuk itu, kita perlu bersabar, kritis terhadap segala penyimpangan, kelemahan, kesalahan pihak lain. Bersikap kritis dan selektif adalah dasar pengampunan yang berkualitas. Marilah kita belajar untuk lebih bersabar biar diri dan hidup kita menjadi lebih subur sebelum disebarkan sebagai pengikuti Kristus yang sejati. Amin.



Rm. Bone Rampung, Pr

KRISTUS RAJA ALAM SEMESTA

Pesta Kritus Raja Alam Semesta Thn.A/2 21 November1999

Yeh.34,11-12.15-17; 1Kor.15,20-26.28; Mat.25,31-46

Buka

Hari ini Gereja merayakan Pesta Kristus Raja Semesta Alam. Pesta Yesus Kristus Raja juga menandakan berakhirnya tahun liturgi dalam Gereja. Mulai minggu besok kita akan memasuki tahun liturgi yang baru. Pada pesta Kristus Raja Semesta alam ini, kita semua diajak untuk menjadikan Kristus Raja semesta alam sebagai satu-satunya raja atas diri dan hidup kita. Kita diajak untuk menyerahkan diri kita untuk dipimpin dan dikuasai hanya oleh Kristus Raja semesta alam. Kita diajak untuk hanya menyembah Raja semesta Alam dan tidak menyembah raja-raja lainnya.

Dengan membiarkan diri dipimpin, dikuasai dan diatur oleh Raja semesta alam, maka dapat diharapkan Hidup kita akan mencapai tujuan hidup kita. Menyadari bahwa belum semua kita sudah menyerahkan dirinya untuk dikuasai, dipimpin dan diatur oleh Allah tetapi sebaliknya menyerahkan diri, dikuasai, dipimpin dan diatur oleh allah-allah yang lain maka marilah kita mohon ampun pada Tuhan. Dengan demikian kita menjadi layak untuk mengikuti perayaan ekaristsi pada pesta Kristus Raja Semesta Alam ini.

Renungan

Kristus Meyerahkan Kerajaan Kepada Bapa Supaya Allah Menjadi Segalanya Bagi Semua Orang

Firman Tuhan pada hari ini mengajak kita semua untuk menyembah hanya kepada Allah saja; untuk tidak membiarkan diri kita dikuasai oleh kekuatan-kekuatan duniawi, melainkan membiarkan diri kita dipmpin dan dikuasai oleh Allah raja semesta alam. Hari ini kita diajak untuk menempatkan Allah sebagai yang paling penting dan utama dalam hidup kita.

Mengapa Kitab Suci mengajak kita untuk menyembah hanya kepada Allah? Mengapa kita diajak untuk membiarkan diri kita hanya boleh dipimpin dan dikuasai oleh raja semesta alam? Mengapa kita diajak untuk menjadikan Allah raja semesta alam sebagai yang paling utama dan paling penting dalam kehidupan kita?

Jawabannya adalah karena raja semesta alam adalah raja yang dapat menjamin hidup kita, raja semesta alam adalah raja yang akan membantu kita untuk mencapai tujuan hidup kita. Raja semesta alam adalah raja yang selalu terlibat dalam seluruh kehidupan kita. Kita harus menyerahkan diri hanya kepada raja semesta alam karena Ia adalah raja yang dapat dipercayai. Raja yang dapat diandalkan. Ia adalah raja yang berbeda dengan raja-raja dari kerajaan dunia.

Kalau raja-raja dari kerajaan dunia bisa dan biasa mengharapkan kesetiaan rakyatnya untuk mati demi kepentingan rajanya dan bangsanya, tidak demikianlah dengan raja semesta alam. Raja semesta alam adalah raja yang rela mengorbankan diri dan menderita sengsara untuk kepentingan orang-orang lain; untuk kepentingan orang-orang yang dipimpinnya. Kalau raja-raja dunia bisa dan biasa menyesatkan dan menghilangkan rakyatnya sendiri demi kepentingan kekuasaan, maka raja semesta alam adalah raja yang berusaha menemukan domba yang hilang, raja semesta alam adalah raja yang berusaha membawa pulang domba yang tersesat. Kalau raja dunia sering mengadili rakyatnya secara tidak adil dengan kriteria yang samar-samar dan hanya ditafsir secara benar oleh raja sendiri, maka Raja semesta alam akan mengadili setiap orang secara adil dengan kriteria hukum yang sudah jelas dan diketahui oleh semua orang. Dalam pengadilan terakhir Ia tidak akan memisahkan kita berdasarkan ukuran agama yang kita anut, tetapi ia akan mengadili kita berdasarkan ukuran “apakah kita melaksanakan perintah cintakasih atau tidak”.

Kitab Suci hari ini melukiskan dengan sangat baik tentang pemerintahan raja semesta alam itu. Yehesekiel dalam bacaan pertama melukiskan bahwa raja semesta alam adalah raja yang memerintah dengan sangat bijaksana. Ia sangat konsern dan penuh perhatian terhadap domba-dombanya. Ia mengenal mereka satu persatu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ia tahu suka duka mereka. Ia tahu untung malang, bahagia dan derita umatNya. Ia memperhatikan semua dombanya baik yang gemuk maupun yang kurus. Ia akan mencari dan menyelamatkan mereka. Yang hilang dicari. Yang tersesat dibawa pulang. Yang luka dibalut. Yang sakit disembuhkan. Ia akan memimpin sendiri kawanannya sebagaimana seharusnya.

Oleh karena raja semesta alam adalah raja yang dapat diandalkan, raja yang dapat dipercayai, raja yang dapat menjamin kehidupan manusia, maka semua orang diajak untuk membiarkan/membuka diri untuk diperintah dan diatur oleh Raja Semesta alam seperti itu.

Saudara-saudara, yang menjadi dasar pemerintahan raja semesta alam adalah cintakasih. Ia memerintah dalam terang cintakasih. Maka kalau kita membiarkan Allah memerintah atas diri kita, membiarkan Allah memerintah atas keluarga dan masyarakat kita maka itu berarti kita membiarkan diri kita diperintah dan dikuasi oleh cintakasih, kita membiarkan keluarga dan masyarkat kita diperintah dan dikuasai oleh cintakasih. Kalau cintakasih yang memerintah dan menguasai kita, kalau cintakasih yang memerintah dan menguasai keluarga dan masyarakat kita maka orang lapar tentu akan diberi makan, orang asing akan diberi tumpangan, orang sakit tentu dibesuk, orang dalam penjara akan dikunjungi, orang telanjang diberi pakaian. Kalau cintakasih yang menguasai kita maka tentu kekerasan dalam masyarakat berkurang, penyakit-penyakit sosial kemasyarakatan juga pelan-pelan hilang. Ketidakadilan akan hilang dan keadilan akan tumbuh. Kekacauan akan meredah sedangkan kedamaian akan menampakkan diri. Lalu, apakah hal seperti itulah yang terjadi selama ini?

Kalau kita memperhatikan dengan teliti berbagai gejala yang terjadi dalam kehidupan manusia zaman ini, maka kita akan menemukan banyak tanda yang menunjukkan bahwa tidak semua orang telah menyerahkan dirinya kepada raja semesta alam. Tidak semua orang telah dikuasai oleh cintakasih dalam hidupnya. Tidak semua orang telah mengutamakan Allah dalam hidupnya. Tidak semua orang yang merasa perlu untuk menyembah hanya kepada Allah. Masih ada banyak orang lain yang tidak dikuasai oleh raja semesta alam. Tetapi dikuasai oleh raja-raja lain. Masih ada banyak orang lain yang hidupnya tidak kuasai oleh cintakasih, keadilan, perdamaian yang merupakan kekasan gaya pemerintahan Allah.

Ada manusia yang seluruh hidupnya dikuasi oleh kesibukan. Orang macam ini telah menyerahkan diri untuk dikuasai dan dipimpin oleh raja kesibukan. Ada yang telah menyerahkan dirinya kepada raja kekerasan sehingga seluruh tindakannya diwarnai oleh kekerasan. Akhir-akhir ini banyak orang yang mulai dikuasai dan menyerahkan diri kepada raja narkoba sehingga kasus penjualan dan pemakaian narkoba menjadi begitu mewabah di tanah air kita dan menjadi begitu sulit untuk diberantas; ada lagi yang hidupnya lebih dikuasai oleh raja perampokan, raja pembunuhan, raja ketidaksetiaan, raja ketidakjujuran, raja cinta diri raja raja lainnya yang tidak menguntungkan.. Dan sering kali raja-raja baru ini begitu kuat pengaruhnya bagi manusia sehingga banyak orang tidak kuasa untuk menolaknya. Banyak orang dengan begitu tekun dan taat melayani keinginan raja-raja baru itu. Akibatnya dunia kita jadi begitu memprihatinkan. Dunia kita jadi tempat yang kurang nyaman untuk didiami.

Hari ini kita diingatkan bahwa menyerahkan diri di bawah kekuasaan raja semesta alam adalah sesuatu yang sungguh mendesak bagi manusia zaman ini, agar segala bentuk kejahatan, segala bentuk ketidakberesan bisa teratasi. Kalau kita menyerahkan diri kepada kuasa raja semesta alam, maka diri kita akan diliputi dan dikuasai oleh cintakasih, sehingga kita mampu mengasihi orang-orang lain di sekitar kita terutama orang-orang kecil dan menderita. Hanya dengan demikian, kita akan mendapat kesempatan untuk berada di sebelah kanan Yesus dan dinyatakan sebagai orang-orang yang tidak berguna dan dicampakkan ke dalam tempat siksaan kekal.



MINGGU TRINITAS

HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS

Kel.4b-6-6.8-9 2Kor.13,11-13 Yoh.3,16-18

Paroki Yoh. Rasul Pringwulung - Yogya, 30-5-‘99



Buka

Umat beriman sekalian yang terkasih

Hari ini kita sebagai gereja merayakan pesta tiga kekuatan yang menghancurkan kekuatan status quo yang dibangun manusia sejak kejatuhannya ke dalam dosa. Hari raya Tritunggal Maha Kudus adalah kesempatan berahmat untuk kita dalam rangka belajar untuk menciptakan kerja sama dan perlunya persekutuan dalam menghadapi pelbagai kekuatan yang mengancam keselamatan kita. Allah yang berperan dalam tiga pribadi telah secara bersama menyelamatkan manusia dari perbudakan dosa. Kita berdoa semoga semangat Tritunggal menafasi kehidupan kita dalam kehidupan berbangsa bernegara dan bergereja. Agar doa dan harapan ini berkenan pada Tuhan marilah kita akui kelamhan dan dosa kita..



Renungan

Saya kira kita semua sepakat bahwa hidup kita seluruhnya diarahkan pada usaha mencari kebaikan. Kebaikan demi kebaikan yang kita cari untuk ditata menjadikan kehidupan ini menyenangkan. Karena itu, konsekuensinya kita akan merasa terganggu dan terusik kalau kebaikan yang mau dicapai itu dirusak oleh hal lain. Gangguan terhadap usaha mencapai kebaikan itu dalam bahasa reformasinya adalah keabikan yang terprovokasi. Dan provokatornya bisa bermacam-macam tetapi yang pasti itu adalah manusia-manusia. Kita manusia beriman diciptakan oleh kebaikan dan dalam kebaikan Allah yang menjadi sumber kebaikan itu. Ketika Allah memberadakan manusia, manusia dilengkapi dengan yaitu kebaikan dan cinta Allah sendiri. Kebaikan yang meliputi dunia manusia dari semula terprovokasi ketika manusia pertama terlibat dalam suatu rekayasa dan melakukan koalisi dengan kekuatan setan. Iblis itulah sang provokator pertama yang tercatat dalam sejarah agama-agama. Ular menjadi provokator buat Hawa dan Hawa menjadi provokator untuk Adam. Jadi boleh dibilang tindakan merekayasa dan aktivitas bernuansa provokatif adalah tindakan yang telah menyatu dengan kehidupan manusia, meskipun tidak disebut provokasi dan provokator seperti sekarang.

Kalau kita membaca kisah-kisah dalam perjanjian lama dan selanjutnya perjanjian Baru maka di sana terbentang deretan kisah di mana manusia bertindak sebagai dalang dalam pelbagai tindakan provokatif terhadap platform atau agenda kerja Allah. Ketika manusia membelot dari rencana Allah, saat itulah manusia terdorong untuk mencari pelbagai peluang untuk membenarkan dirinya. Dan manusia semakin jauh dari kebaikan yang menjadi napas kehidupannya. Allah yang pengasih dan penyayang hilang perhatian manusia. Gambaran pembelotan manusia itu dikatakan Musa dalam kitab keluaran tadi. Musa sebagai pemimpim Partai Keselamatan Manusia (PKM) mengakui dengan terus terang bahwa masa pendukung dan para simpatisannya menjadi orang yang bertegar tengkuk. Tengkuk yang tegar adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan manusia yang sulit untuk kembali ke jalan yang benar dan baik. Musa sebagi pemimpim jelas bertanggung jawab terhadap keselamatan bangsanya. Tuntutan reformasi pimpinan Musa bertujuan agar Israel sebagai bangsa yang bertegar tengkuk dapat kembali ke jalan yang benar. Dalam konteks kita sekarang ini kelompok reformis harus berhadapan dengan pendukung status quo yang bukan cuma bertegar tengkuk tetapi bertegar hati.

Sikap manusia yang digambarkan dalam bacaan pertama tadi adalah gambaran tentang situasi status quo yang mau dipertahankan manusia. Dan Allah sejak kejatuhan manusia pertama memang telah merancang suatu proyek raksasa yang diarahkan untuk meruntuhkan keuatan status quo manusia. Kondisi keberdosaan yang melahirkan pelbagai tindakan kejahatan lainnya adalah musuh Allah. Allah membangun kekuatan dengan melakukan konsolidasi dan koalisi yang menjamin adanya pembagian peran melawan status quo itu. Maka Allah membentuk tiga komisi independen yang bisa memantau pelbagai tindakan provokasi yang dilakukan manusia. Komisi pertama dipimpin sendiri oleh Allah Bapa dengan nama Komisi Penyelamatan Universal (KPU). Komisi kedua namanya Komisi Pembebasan Manusia (KPM) di bawah pimpinan Yesus, dan komisi ketiga adalah Komisi Pencerahan (PK) yang diketuai oleh Roh Kudus. Ketiga komisi ini ternyata memiliki platform, program, visi dan misi yang sama sehingga membentuk satu koalisi yang solid dalam rangka menghancurkan status quonya manusia. Dan Koalisi yang solid Antara Bapa, Putra dan Roh Kudus itulah yang kita rayakan hari ini sebagai hari raya Tritunggal Mahakudus. Menguraikan misteri Tritunggal memang tidak mudah meskipun muncul pelbagai ulasan teologis tentang hakikat misteri Tritunggal Mahakudus itu. Sebagai misteri tentu sulit sekali mendapatkan rumusan yang pasti dan tetap. Kita tidak bisa membuktikannya secara indrewi namun daya kerjnya tampak dalam kehidupan kita. Karena itu, saya coba menganalogikan prinsip kerja tiga pribadi Allah seperti dalam negara kita. Allah Bapa kira-kira menjalankan fungsi legislatif yang merencanakan konsep keselamatan, Allah Putra menjalankan fungsi eksekutif dengan menjabarkan rencana keselamatan, dan Roh Kudus menjalankan fungsi Yudikatif yang memantau proses pelaksanaan proyek keselamatan itu. Dan Yesus sebagai pelaksana telah menjalankan peranNya dalam menyelamatkan manusia dari kehidupan status quonya yang penuh dosa.

Tuntutan adanya reformasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini terus menggema. Pelbagai partai politik berusaha membeberkan segala bentuk program mereka sekadar mendulang suara rakyat. Dan musuh bersama para paratai politik saat ini cuma satu hal yaitu menghancurkan kekuatan status quo dengan sederetan embel-embelnya. Dan status quo yang dimaksudkan tidak lain adalah pelbagai bentuk cara kerja dan cara tindak manusia yang telah menjauhkan manusia dari itu dari jalan yang benar. Kalau kita mencermati pelbagai program yang dipaparkan dalam pelbagai kesempatan kampanye para partai politik melalui televisi maka di sana jelas sekali bahwa orang mau melakukan perbaikan pola kehidupan berbangsa dan bernegara. Mendambakan suatu tatanan baru yang memberikan peluang bagi setiap warga untuk mencari dan mendapatkan kebaikan itu dalam kehidupanya. Cita-cita manusia mirip dengan apa yang diharapkan St. Paulus dalam bacaan kedua tadi. Paulus menghendaki suatu bentuk tatanan kemasyarakatan yang baru yang diwarnai kasih dan kedamaian. Kasih dan kedamian itu hanya bisa diwujudkan dalam semangat kebersamaan. Paulus menghimbau: hendaklah kamu bersalam-salaman dalam cinta kasih persaudaraan yang tulus. Paulus menghendaki kita untuk membentuk koalisi dalam memperjuangkan cinta, dan kedamaian. Tuhan sudah memberikan contoh suatu persekutuan dan kebersamaan yang solid dalam merombak cara hidup manusia yang lama yang membelakangi Allah dan segala kebenarannya.

Sebagai warga negara dan gereja kita juga punya tanggung jawab dalam menciptakan kedamaian berlandaskan kasih. Tuhan dalam persekutuan Tritunggal Mahakudus mampu memulihkan kehidupan dunia manusia. Persekutuan tritunggal adalah persekutuan kasih, persatuan cinta. Kasih dan cinta mampu meruntuhkan pelbagai tindakan yang menghalangi rencana Allah. Tuhan sudah sejak semula mencanangkan satu gerakan reformasi untuk kehidupan kita umat manusia. Dalam konteks politik negara kita yang lagi hangat menyongsong pemilu tentu saja kita punya cita-cita yang sama menghapus pelbagai bentuk ketidakadilan dan penindasan dari kehidupan kita yang dilakukan oleh orang yang senang dengan rekayasa demi kepentingan kelompok tertentu. Tuhan memberikan kita kekuatan untuk melumpuhkan pelbagai tindakan manusia lama yang mau tinggal dalam kegelapan. Masa menjelang pemilu adalah saat yang tepat buat kita menentukan pilihan yang kiranya bisa membawa banyak orang pada suatu persekutuan dan kebersamaan yang menyegarkan. Kalau kita bersukut, bersatu dalam kebenaran untuk memperjuangkan kebenaran maka kebenaran itu akan tampil cemerlang dan tak mungkin terbendungkan. Tuhan sudah membuktikan telah melakukan reformasi total kepada dunia dengan perutusan Putranya yang dilengkapi dengan kekuatan Roh Kudus. PutraNya telah mendatangi kita dan rohnya telah menafasi kita karena itu tentu tak ada alasan bagi kita untuk membolak balikkan kebenaran. Tak ada lagi alasan bagi kita untuk melakukan rekayasa untuk membenarkan diri dan tindakan kita. Mudah-mudahan pesta Tritunggal Mahakudus hari ini sungguh menguatkan kita semua dalam memperjuangkan kebenaran dalam pelbagai dimensi kehidupan kita. Pilihan politik yang selaras dengan nurani demi kebenaran yang diarahkan pada terwujudnya pedarmaian dan cinta adalah pilihan tepat. Marilah kita amelakukan reformasi mulai dari diri kita dengan menyatukan pelbagai kekuatan yang ada dalam diri kita. Tuhan selalu berpihak kepada yang mencari dan memperjuangkan kebenaran. Perjuangan itu adalah bahasa kebenaran dan kalau kita berjuang bersama Tuhan pasti kemenangan ada ditangan kita. Kalau Tuhan di pihak kita siapakah yang bisa melawan kita? Amin..



Pringwulung, 30 Mei 1999

Rm.Bone Rampung Pr

MINGGU KITAB SUCI NASIONAL

Minggu Biasa ke-23 Th.A1 5 September 1999

Yeh 33:7-9; Rm 13:8-10; Mt. 18:15-20

Minggu Kitab Suci Nasional



Buka

Hari Minggu ini oleh gereja ditetapkan sebagai hari Minggu Kitab Suci Nasional. Gereja sengaja menetapkan sepanjang bulan September sebagai bulan Kitab Suci agar umat beriman menggali dan mendalami makna Kitab Suci. Lebih dari itu, umat beriman diharapkan dapat menjabarkan sabda Kitab Suci itu dalam kehidupan yang nyata. Diharapkan waktu sebulan ini menjadi kesempatan bagi kita membaca surat cinta Allah yang membahasakan kehidupan kita secara penuh melalui Kitab Suci. Kita berdoa semoga kita dilengkapi semngat untuk mencintai sabda Allah bukan hanya dengan mendengar tetapi membaca, merenungkan dan berusaha menjabarkannya dalam hidup. Untuk itu marilah kita akui segala dosa dan salah kita. Mungkin kita kurang akrab dengan Tuhan dalam pergumulan kita dengan Kitab Suci. Mungkin kita hanya terlibat sebagai pendengar firman dan bukan menjadi pencari dan pelaku firman. Mungkin telinga kita tertutup mendengarkan apa yang dibisikan Tuhan melalui sabda-Nya.



Renungan

Tono dan Tini adalah nama pasangan suami istri yang paling rukun di sebuah perkampungan. Banyak orang iri menyaksikan keserasian pasangan Tono dan Tini itu. Kehidupan mereka dengan tetangga dan masyarakat sekitarnya berjalan baik dan menyenangkan. Keluarga itu boleh dianggap sebagai model untuk pasangan-pasangan yang baru. Para wartawan mencari kesempatan untuk melakukan investigasi atau wawancara terhadap pasangan itu. Dari wawancara itu terungkap rahasia yang membuat pasangan itu hidup rukun. Rahasianya terletak pada dua lembar surat yang berbingkai rapi dan digantungkan di dinding rumah mereka. Surat pada bingkai pertama adalah surat cinta yang ditulis Tono untuk Tini. Surat itu penuh dengan kata yang indah, serta pelbagai janji yang harus Tono tepati bila Tini menerima cinta Tono. Surat pada bingkai kedua adalah tulisan Tini dengan kata yang indah berisi jawaban serta niatnya terhadap tawaran cinta Tono. Setiap tamu yang datang ke rumah itu, mereka membacakan dua surat dalam bingkai itu. Setiap kali mengalami benturan dan perselisihan dalam kehidupan berumah tangga, Tono dan Tini selalu kembali membaca isi surat cinta mereka. Surat cinta itu mereka baca dan terus membacanya. Sebelum menjalankan kegiatan setiap hari mereka selalu meluangkan waktu untuk membaca surat itu. Demikian pula sepulang melaksanakan pekerjaan pada sore hari mereka membaca surat itu. Mereka membaca kembali sekadar mencocokan apa yang tertulis di sana dengan apa yang akan dan telah mereka lakukan. Surat cinta itu tidak mereka sembunyikan di dasar peti melainkan dibiarkan dibaca oleh banyak orang agar orang bisa mendapatkan sesuatu dari cara yang mereka lakukan.

Apakah bapak ibu yang sudah berkeluarga masih menyimpan surat cinta yang penuh dengan kata-kata indah dan janji-janji yang dulu itu? Adakah surat cinta yang pernah ditulis itu terus dibaca dalam menjalani kehidupan berumah tangga? Kalau ada yang telah membuang surat cinta itu memang perlu disayangkan. Tetapi, untuk saudara/i yang masih muda saya anjurkan kalau nanti membuat atau menerima surat cinta dari calon pasangan Anda, silakan menyimpan surat itu dan terus membacanya dalam kehidupan setiap hari. Siapa tahu isi surat itu akan membuat hidup itu rukun dan harmonis.

Surat cinta yang paling lama bertahan dalam kehidupan manusia tidak lain adalah Kitab Suci yang berisi pernyataan cinta Allah yang total untuk dunia dan manusia. Kitab Suci sebagai surat cinta Allah untuk manusia memuat pelbagai situasi dan pengalaman keseharian manusia. Kitab Suci sebagai surat cinta Allah untuk manusia memuat sederetan suka duka kehidupan. Apa yang dikatakana dan tertulis di sana itulah hakikat hidup manusia. Kitab Suci merekam dan mencatat semuanya, segalanya dan seluruhnya dari hidup manusia dan untuk hidup manusia. Segala sesuatu yang dialami, dihadapi manusia sampai hari ini bahkan sampai kapan pun telah termuat dalam surat cinta Allah itu. Karena Kitab Suci berisi situasi dan pengalaman manusia maka semestinya dan seharusnya Kitab Suci itu terus dibaca untuk merintis jalan yang lurus menuju pusat cinta itu sendiri. Untuk memahami dan menangkap isi hati seorang yang jatuh cinta, orang mau tidak mau harus berusaha membaca dan menafsirkan kata-kata yang ada dalam surat cinta itu. Allah telah jatuh cinta kepada manusia. Ia menyatakan cinta-Nya kepada manusia lewat sabda-Nya dan tentu saja manusia diminta memberikan jawaban atas tawaran cinta itu. Dan, jawaban yang benar dan pasti akan muncul kalau orang berusaha memahami bahasa cinta Allah itu dalam kehidupan nyata sehari-hari. Isi surat cinta telah dijabarkan melalui perutusan Yesus untuk membebaskan manusia dari segala pengalaman yang menjauhkan dia dari Allah. Yesus sebagai isi surat cinta Allah untuk manusia telah merukunkan dan mendamaikan kembali relasi antara Allah sebagai asal dan sumber cinta dengan manusia yang telah meninggalkan cinta itu ketika manusia tersesat dan terbenam dalam jalan yang dibangunnya sendiri.

Penggalan surat cinta Allah untuk kita semua disampaikan melalui ketiga bacaan hari ini. Apa yang disampikan dalam ketiga bacaan tadi jelas merupakan situasi gambaran pengalaman dan hidup manusia yang konkret. Kekerasan, penindasan, peperangan, pelbagi kejahatan yang dialami Yehezkiel adalah situasi hidup manusia yang nyata. Hal itu pun masih terus berlangsung sampai saat ini. Ketidakadilan, permusuhan, pemerasan dialami Paulus ketika berhadapan dengan Jemaat di Roma. Hal serupa juga merupakan gambaran hidup manusia yang berlangsung sampai saat ini. Yehezkiel dan Paulus berhadapan dengan kondisi kehidupan yang tidak menguntungkan. Pada masa itu terjadi krisis besar. Pelbagai penyimpangan dan kehajatan merebak pada semua tataran kehidupan masyarakat. Dalam situasi seperti itulah manusia menemui jalan buntu. Apa yang bisa dan harus manusia lakukan kalau situasinya sudah seperti itu?

Dalam menghadapi pelbagai situasi kehidupan yang sulit, yang dibutuhkan manusia hanyalah bahasa dan ungkapan cinta. Ungkapan dan bahasa cinta itu merupakan penjabaran atau perpanjangan cinta Allah. Bahasa dan ungkapn cinta adalah bahasa dan ungkapan yang terkadang jelas; tetapi terkadang tidak jelas. Bahasa dan ungkapan cinta menuntut adanya kepekaan yang tinggi. Menafsir dan menangkap bahasa cinta memang tidak mudah. Mengungkap bahasa cinta menuntut manusia untuk keluar dari dirinya sendiri. Keluar dari batas dan tembok yang dibangun untuk keselamatan dirinya sendiri. Melepaskan keamanan diri demi mereka yang sepantasnya dicintai. Yehezkiel harus berhadapan dengan pelbagai kejahatan dan di dituntut untuk menyatakan yang benar, yang baik. Yehezkiel diangkat untuk membawa dan menerjemahkan cinta Yahwe kepada mereka yang terperangkap dalam tindak kejahatan. Tugas Yehezkiel adalah mengarahkan para penjahat supaya bila penjahat mati Yehezkiel tidak dipersalahkan. Yehezkiel memulis: orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut petanggunganjawab atas nyawanya dari padamu. Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu (Yeh.33:9).

Dalam konteks Paulus mengarahkan penjahat itu sama dengan membagikan kasih. Kalau orang berani membantu membebaskan orang dari kejahatan maka orang itu telah melakukan hukum yang utama yaitu kasih. Kasih itu adalah kepekaan terhadap apa yang dialami orang lain. Kasih itu adalah kerelaan untuk membantu. Kasih itu harus tumbuh dan mengalir pertama dan terutama untuk orang lain sebelum ditakarkan untuk diri sendiri. Dan bagi Yesus kasih itu terjabar dalam sikap kerelaan berjalan bersama orang lain dalam situasi orang itu. Kepekaan dan kesabaran adalah kunci kesuksesan membawa kembali orang yang tersesat ke jalan yang benar. Kasih adalah tindakan dan perbuatan yang tidak gegabah. Yesus adalah tokoh yang berjuang selalu menghargai proses. Ia tidak mementingkan hasil yang cepat. Ia tidak senang dengan segala yang serba instan. Memulihkan orang jahat ke jalan yang benar harus melalu tahap-tahap yang teliti dan harus dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu kerelaan mendengar, melihat menjadi sangat penting. Batu karang yang keras membutuhkan tetesan hujan bertahun-tahun untuk menghancurkannya. Menghadapi orang bermasalah memang perlu proses.

Hidup kita sampai kapan pun tidak akan bebas dari masalah. Hidup kita diuji dan diasah dalam pelbagai tantangan. Namun, kita semua mendambakan hidup yang baik, tenang, damai, dan harmonis seperti pengalaman pasangan Tini dan Tono dalam cerita awal tadi. Surat cinta yang selalu mereka baca itulah kunci kedamian dan keharmonisan keluarga mereka. Kita memiliki surat Cinta yang tidak bisa tersaingi oleh surat cinta mana pun yang pernah dibuat oleh para penyair dan pujangga. Allah adalah penyair kehidupan kita. Allah adalah pujangga yang menulis sejarah cinta dan kehidupan manusia. Bumi tidak mampu memuat sejarah cinta Allah untuk manusia. Laut tidak mampu menampung aliran cinta Tuhan untuk manusia. Cakrawala tidak mampu mengukir bertapa agungnya cinta Tuhan untuk kita. Hidup kita pun tidak mampu mengungkapkan secara lengkap cinta Allah itu. Kita hanya dituntut untuk mengenal dan memahami cinta Tuhan dalam langkah dan penggalan hidup kita.

Bulan Kitab Suci mengajak kita untuk membaca dan merenungkan Cinta Allah, mengambil manfaatnya untuk hidup kita, menyelaraskan hidup kita dengan Sabda Allah itu, dan hidup menurut Sabda Allah. Mudah-mudahan sabda Tuhan dan pernyataan cinta-Nya yang tertulis dalam Kitab Suci menguatkan kita setelah, selama dan sebelum kita berlangkah dalam hidup kita. Amin.



Pringwulung, 5 September 1999

Rm.Bonefasius Rampung Pr



MINGGU BIASA KE-28 TAHUN A

Minggu Biasa ke 28 Tahun A/2

Yes.25,6 10a Fil.4,12 14,19 20 Mat.22,1 14



Buka

Allah dari semula sampai kekal tetap memang¬gil dan mengundang manusia untuk menikmati kebahagiaan kekal bersama Nya. Suara-Nya terus menggema mengundang semua manusia. Reaksi dan tanggapan manusia sendiri yang menentukan apakah ia layak diterima atau tidak. Undangan Allah memang terbuka untuk semua manusia namun untuk menjawabi panggilan itu manusia dituntut untuk memenuhi syarat yang minimal berupa iman akan Allah. Segala perbuatan baik yang digelar manusia dalam kehidupannya untuk Tuhan dan sesama merupakan pakaian pesta yang memungkinkan ia layak masuk perjamuan bersama Tuhan.

Pelbagai bidang tugas dan pelayanan manusia itulah tempat yang tepat baginya mendandani diri dengan pakaian yang pantas. Marilah kita bertanya diri kita apa¬kah kita sungguh menjadikan tugas pelayanan kita sebagai kesempatan kita menyiapkan diri masuk perjamuan kekal bersama Tuhan? Kita hening sejenak menyadari segala kelemahan dan dosa kita biar kita dilayakkan menerima Tuhan dalam perja¬muan keselamatan ini....



Renungan

Saya yakin dan percaya bahwa hampir semua kita yang hadir dalam perayaan hari ini, pernah menghadiri salah satu pesta entah itu pesta nikah atau pesta apa saja. Kalau kita mencoba mencermati setiap pesta yang kita ikuti dan saksikan maka kita akan sampai pada penilaian bahwa menyelenggara¬kan pesta itu bernyata tidak mudah. Setiap pesta yang besar harus ada panitia dan kepengurusan yang lengkap dengan semua seksinya. Setiap perencanaan pesta sejak awal kepanitiaannya akan bertekad agar pestanya sukses dan memuaskan. Karena itu, strategi juga perlu diterapkan demi keberhasilan pesta itu.

Penerapan pelbagai cara dan strategi, menjadikan pesta itu sebagai suatu seni tersendiri. Dan jika kita berbicara soal pesta maka perkara makan minum mau tidak mau harus mendapat perhatiaan karena biasanya keberhasilan sebuah pesta ditentukan dan diukur dengan berapa banyak jenis menu maka¬nan, hidangan serta jenis minuman yang disu-guhkan kepada para undangan. Kepuasan para undangan akan makanan dan minuman itulah timbangan yang menentukan apakah pesta itu berhasil atau tidak. Jika sampai terjadi bahwa ada sebagian kecil orang tidak mendapat makanan dan minuman maka pesta itu akan dinilai kurang berhasil. Lebih bagus lagi jika sebuah pesta dengan makanan minum yang cukup ditambah lagi dengan suguhan acara yang menarik dan memikat. Orang akan pulang dengan pembicaraan utama tentang bagaimana makanannya enak atau tidak. Hal yang lain tidak dibicarakan dan sengaja dilupakan.

Tak ada satu pesta yang bebas dari kecemasan dan ketakutan akan mengalami kegagalan. Masalah cukup tidak persediaan makanan dan minuman selalu menjadi masalah yang perlu dicemaskan. Hal itu bukan hanya berlaku pada zaman kita dewasa ini. Paling kurang setelah kita mendengarkan apa yang disampai¬kan ketiga bacaan hari ini kita bisa mengenal bahwa hal yang sama juga berlaku pada masa kehidupan para nabi Perjanjian Lama. Penggalan Nubuat Yesaya yang kita dengar dalam bacaan pertama memberikan kita satu gambaran tentang sebuah perjamuan akbar dan sungguh sukses.

Pelukisan Yesaya yang amat menarik dan mengesankan itu membuat kita membayangkan betapa menyenangkan perjamuan itu. Perjamuan akbar yang dikisah¬kan Yesaya itu terbuka untuk umum. Menu masakannnya juga sangat khas. Jika di setiap daerah itu ada makanan khasnya maka dalam perja¬muan yang diangkat Yesaya ada menu yang khas yaitu daging berlemak dan bersum sum. Lokasi perayaan menyenangkan karena dibuat di atas puncak gunung Sion. Minumannya juga cocok untuk suasana gunung berupa anggur paling enak. Wajah wajah yang hadir dalam pesta itu menampakkan kegembiraan yang sempurna. Dalam pesta itu mereka amat merasakan adanya pembe¬basan dan merasa selalu aman. Mereka merasa aman karena tangan Tuhan sendiri yang melin¬dungi tempat itu yaitu Gunung Sion. Tentu kita bisa bayangkan bagaimana orang berebutan untuk bisa diperkenankan masuk dalam perja¬muan demikian.

Betapa senangnya kalau orang berhasil masuk ke dalam perjamuan yang digam¬barkan Yesaya ini. Tetapi kekecualian itu selalu ada. Dalam bacaan kedua kita menden¬garkan satu kisah yang persis berlawanan dengan apa yang diangkat Yesaya. Surat Santo Paulus yang ditujukan kepada jemaat Filipi dalam bacaaan kedua tadi mengggambarkan kesulitan yang dialami Paulus sebagai orang yang dipilih dan diutus Allah untuk mewarta¬kan kebenaran tentang Kristus. Paulus menga¬lami kekurangan setelah sebelumnya ia menga¬lami kelimpahan. Keluhan Paulus sekaligus meminta bantuan pada jemaatnya. Meski Paaulus muncul yang nyata dalam kalimatnya yang berbunyi: Dalam segala hal dan dalam segala perkara dan kesulitan akan kutanggung dalam Dia, yang telah memberikan kekuatan kepadaku.

Ketergantungan Paulus sepenuhnya pada Allah sungguh luar biasa. Ia yakin sepe¬nuhnya bahwa Allah sungguh luar biasa. Ia yakin sepenuhnya bahwa Allah akan memenuhi segala keperluannya dalam kelimpahan. Kebi¬jaksanaan yang terungkap lewat perkataan Paulus lahir dari rasa solidaritasnya pada pengalaman Kristus yang sedang diwartakannya. Paulus sebenarnya mau menegaskan bahwa maka¬nan dan minuman itu telah disediakan Allah bagi mereka yang membela kebenaran dan mewartakan kebe naran tentang Allah. Paulus yakin bahwa ia pun akan diperkenankan menik¬mati perjamuan akbar sebagaimana dilukiskan Yesaya dalam bacaan pertama tadi. Iman dan harapan Paulus sudah menjadi jaminan bagi semua yang diharapkannya.

Selanjutnya, Santo Matius lewat penggalan Injil tadi mengisahkan perihal penyelenggaraan sebuah pesta perkawinan yang dilakukan sang raja. Pesta yang digambarkan Matius mirip pula dengan apa yang diangkat Yesaya tadi. Kedua perjamuan itu memiliki kesamaan antara lain: sama sama terbuka untuk semua orang; menu yang disiapkan juga pasti enak karena ini dibuat seorang raja. Namun, ada perbedaan yang mendasar antara pesta akbar yang diangkat Yesaya dan perjamuan sang Raja yang diangkat Yesus dalam Injil tadi. Perbedaan itu terjadi berkaitan dengan kese¬luruhan situasi dan suasana yang meliputi pesta itu.

Dalam kisah Yesaya pesta itu tidak terlalu banyak mengalami ke sulitan tetapi dalam Injil justru terjadi kesulitan. Kesuli¬tannya adalah ketidakhadiran mereka mereka yang telah diundang. Situasi itu mencemaskan si tuan pesta atau sang raja. Semua makanan dan minuman telah tersedia tetapi tidak ada orang yang mau menghabiskan semuanya itu. Si tuan pesta coba dengan cara lain yaitu dengan undangan lisan dengan mengutus para hamban¬ya. Undangan lisan ini pun ditepis oleh orang yang harus sibuk dengan ladangnya, ditepis oleh orang yang lagi sibuk dengan bisnisnya. Lebih dari itu mereka yang diundang untuk makan itu malah menangkap para hamba itu dan membunuh mereka. Dan tentu saja hal itu menyulut murka dan raja.

Raja yang lagi kecewa karena undangannya tidak diindahkan kini harus berhadapan dengan masalah kematian para hambanya. Dan mereka yang membunuh hamba hamba itu dibinasakan dengan kota mereka yang dihancurkan dan dibakar habis habisan. Dan langkah yang terakhir masih ditempun sang Raja itu dengan sekali lagi mengutus para hambanya untuk berlaku sebagai Polantas di persimpangan jalan yang mencegat sekaligus mengajak semua yang lewat untuk segera datang menikmati perjamuan bersama sang Raja. Tern¬yata cara ini paling tepat karena dalam waktu singkat banyak orang memenuhi ruangan pesta.

Pada saat itu tidak terduga terjaring pula seorang yang rupanya lapar dan sempat mempir ke ruang pesta. Kehadirannya dilihat meng¬ganggu situasi pesta karena ia tidak mengenakan pakaian pantas untuk berpesta. Nasib malang menimpa orang itu, karena ia terpaksa harus diikat dan dibuang ke tempat paling gelap. Orang ini dikatakan tidak terpilih dalam proses panggilan. Memang banyak yang dipang¬gil dari persimpangan jalan namun cuma sedi¬kit yang dipilih.

Kisah Injil yang ditampilkan tadi itu memang cukup sulit untuk dipahami. Kita sulit mema¬hami bahwa orang yang semua dipanggil mau tidak mau harus diusir. Tetapi jika kita melihat apa yang menjadi sasaran penulis Injil ini maka kita bisa mengerti mengapa yang tidak berpakaian pesta diusir dan dibuang. Dan kisah Injil ini jelas menggambarkan tentang perjamuan kerajaan Allah itu bersifat terbuka untuk semua orang dari segala bangsa. Semua diundang.

Namun, untuk masuk dan tidak itu sangat bergantung pada pertimbangan pribadi orang. Tak ada unsur paksaan dan kepada manusia bebas memberikan alasan untuk menolak undangan Allah. Undangan Allah yang bercorak universal dan terbuka itu tidak juga berarti bahwa orang bisa masuk tanpa memperhatikan tuntutan dasar yang harus dipatuhi. Orang yang diusir dari ruangan pesta tadi adalah seorang pribadi yang tidak mampu memenuhi tuntutan dasar bagi kelayakan untuk masuk pesta. Tuntutan minimal tidak ia patuhi apalagi tuntutan yang lainnya.

Lalu akhirnya kita perlu bertanya tentang aktualitas dan relevansi ketiga bacaan hari ini dengan kehidupan kita. Untuk menjawabi pertanyaan itu maka kita perlu menyadari dua hal pokok ini yaitu : Pertama undangan Allah dan tanggapan manusia; kedua apa yang ditun¬tut untuk dipenuhi manusia? Undangan Allah untuk manusia itu setiap saat. Perjamuannya terbuka terus. Tinggal saja tanggapan manu¬sia. Apakah manusia berusahan menjauhkan ddiri dari pelbagai alasan hanya demi diri sendiri atau tidak. Dan kalu kita sudah merelakan waktu untuk memberikan tanggapan maka langkah berikutnya adalah apa syarat yang harus ditaati? Masuk tanpa aturan itu jelas mencelakakan diri kita.

Orang yang mau masuk itu harus berpakaian pesta artinya orang memenuhi kriteria kelayakan. Dan seba¬gai orang beriman kita hendaknya berpakaian¬kan kebajikan iman kita. Perbu atan baik yang kita tunjukkan adalah pakaian yang melayakkan kita masuk dalam pesta Allah. Kita bisa berdandan de ngan pakaian pesta untuk dapat masuk ruangan pesta abadi dalam dan melalui bidang tugas pelayanan kita. Semua kita sebagai orang beriman berkemampuan untuk mendandani diri kita dengan segala yang pantas untuk Allah.

Singkatnya, apa pun kita dan bagaimana pun kita, kita harus mampu tampil dengan pakaian pesta sebagai orang beriman. Kita sebagai orang tua, dikatakan berpakaian pesta jika kita sungguh memperha¬tikan kebutuhan hidup keluarga dan anak anak kita. Kita sebagai pendidik akan berpakaian pesta jika kita mampu membagikan ilmu kita kepada pada peserta didik kita. Kita sebagai perawat juga dapat berpakaian pesta dengan segala bentuk pelayanan kita yang penuh pengorbanan dan ketulusan kepada mereka yang sakit dan menderita.

Kita sebagai remaja dikatakan berpakaian pesta jika kita sungguh patuh pada tata tertib pergaulan yang layak sebagai orang beriman, kita sebagai biarawan/wati dikatakan berpakaian pesta jika kita setia pada tugas dan panggilan kita, dan akhirnya kita sebagai orang beriman dikatakan berpakaian pesta hanya jika kita hidup berda¬sarkan iman, pengharapan dan kasih akan Tuhan dari hari ke hari yang sampai saat ini masih memanggil kita untuk masuk dalam perja¬muannya. Semoga kita masuk sebagai orang yang berpakaian pantas karena iman pengharapan dan kasih.. SEMOGA