Friday, June 21, 2013

RENUNGAN PERNIKAHAN


Renungan Pemberkatan Nikah
JOEL SINAGA & VIRGINIA R PASKALIANA
Efesus 5,1-2,22-33; Matius 19,1-9
Paroki Maria Diangkat ke Surga Malang Minggu, 23 Juni 2013

Buka
Hari ini kita datang ke hadapan Tuhan untuk mengucapkan syukur karena Tuhan, dari saat ke saat, terus mengalirkan cinta-Nya dalam seluruh perjalanan kehidupan kita. Secara lebih istemewa kita bersyukur sekaligus memohon kelimpahan rahmat Tuhan bagi pasangan Joel dan Irin yang akan mengukuhkan niat dan komitmen cinta mereka dalam ikatan perkawinan. Hari ini Joel dan Irin menjadi pemenang Tender Proyek Pembangunan jembatan Cinta yang menghubungkan Joel dan Irin; menghubungkan dua rumpun keluarga besar. Kita berdoa semoga Joel dan Irin menjadi pelaksana proyek pembangunan jembatan cinta yang kuat, cinta yang berkualitas sebagai keluarga Kristiani yang ditandai Kasih dan kesetiaan satu sama lain. Sambil mengakui kelemahan dan segala dosa kita di hadapan Tuhan dan sesama, kita memohonkan rahmat Kasih dan Kesetiaan bagi kedua mempelai agar jembatan cinta, keluarga yang dibentuk hari ini sungguh menjadi lambang cinta Tuhan terhadap umat-Nya.

Renungan
Masih segar dalam ingatan kita, sebulan lalu warga Malang Kota mengikuti pesta demokrasi pemilihan Wali Kota. Di tempat lain ada pemilihan Bupati dan Gubernur. Tahun depan kita akan memilih Presiden yang baru. Fenomena yang menarik perhatian kita dalam setiap pesta politik seperti itu berkaitan pasangan calon yang kita sebut paket-paket Calon Walikota dengan paket wakil mereka. Lebih menarik lagi, biasanya nama Paket itu ditentukan secara cermat, menarik, dan memiliki nilai politik, nilai jual artinya harus mampu meyakinkan pemilih untuk memilih paket itu. Pada umumnya nama paket itu diampbil dari nama calon walikota atau bupati dengan nama calon wakil mereka.

Jika pasangan pengantin Joel dan Irin ini kita analogikan dengan paket politik seperti dalam pemilihan bupati atau walikota maka tentu tidak salah kalau saat ini saya boleh bertanya kepada pasangan suami istri yang hadir dalam pemberkatan pernikahan ini. Pertanyaan yang sama tentu harus dijawab juga oleh pasangan mempelai Joel dan Irin. Pertanyaannya: Kalau pasangan suami istri dan pasangan mempelai ini diberi nama sebagai paket maka apa nama paket Anda? Saya meminta satu paket yang mewakili umat, satu paket untuk Bapa mama saksi, dan paket yang terakhir adalah paket untuk pengantin ini. Saya beri waktu bagi Anda berunding menentukan nama paket Anda. Bagi keluarga yang belum bisa merumuskan paketnya bisa nanti dikerjakan di rumah sebagai pr saja. Kita ingin dengarkan nama paket dari pasangan yang menjadi saksi dalam pernikanan ini. Bapak Alo dan Mama Maria menamakan paket mereka adalah ALMA. Alma itu kata bahasa Latin yang berarti yang memberi makan, yang menghidupi, yang membesarkan, yang memberi berkat, yang melimpahkan karunia, yang lemah lembut, yang menyegarkan, yang terhormat. Dari kata ini terbentuk ungkapan alma mater artinya ibu yang memberi makan, yang memelihara. Dari arti kata Alma sebagai nama paket untuk Bapa mama saksi ini kita bisa lihat bahwa lebih 90 persen makna kata itu mereka wujudkan dalam perjalanan hidup berkeluarga.

Saya kira sungguh sangatlah tepat jika Joel dan Irin telah memilih paket Alma itu sebagai saksi ikatan pernikahan Anda berdua. Karena itu, kita dengarkan apa nama Paket calon keluarga baru ini yang akan mereka umumkan saat ini. Jika pasangan ini belum bisa menemukan nama paketnya maka saya tawarkan nama paket mereka adalah paket JOIN (JOel-irIN). Join itu berarti bergabung, bersatu, bekerja sama. Paket JOIN adalah paket yang Indah karena dibentuk dari kata Joel dan Irin. Joel adalah satu kata dengan empat aksara. Irin adalah satu kata juga dengan empat aksara. JOIN itu menjadi satu kata, dan menjadi nama paket pengantin ini. JOIN lahir dan terbentuk hanya karena Joel melepaskan sebagian dari nama dirinya untuk diisi dengan setengah dari nama diri Irin. JOIN juga lahir dan terbentuk karena Irin melepaskan sebagian dari nama dirinya juga untuk diisi dengan sebagain diri Joel. Nama paket JOIN yang saya tawarkan ini adalah nama yang kaya arti dan sarat makna. Keyakaan arti dan kesaratan makna tentu harus bisa dibuktikan dalam usaha Joel dan Irin menjalani kehidupan berumah tangga yang mengutamakan Kesatuan dalam Kasih dan kesetiaan.

Menemukan pasangan ideal untuk menentukan satu Paket dalam konteks politik pemilihan bupati, walikota, dll. bukanlah perkara mudah. Ada begitu banyak faktor dipertimbangkan dan diperhitungkan ketika dua orang dicalonkan menjadi satu paket politik. Pemilihinan dan penentuan PAKET calon bupati dan wakilnya biasanya didasarkan atas berbagai pertimbangan. Ada pertimbangan geografis, ada pertimbanhgan sosiologis, ada pertimbangan agama, ada pertimbangan kekerabatan, ada pertimbangan kesamaan visi dan misi. Karena dasar pertimbangan begitu banyak maka kita bisa katakan bahwa Paket itu berarti Pasangan Ketat. Paket yang ideal pada akhirnya harus dideklarasikan kepada seluruh masyarakat calon pemilih. Paket itu kemudian diverifikasi sebelum dinyatakan sebagai pasangan yang sah. Regulasi, main untuk itu dibuat dengan harapan dipatuhi sehingga pada akhirnya muncul paket jadi yang diusung dalam kebenaran, karena kebenaran, dan untuk memperjuangkan kebenaran.

Joel dan Irin hari ini telah menjadi paket jadi dan sudah dinyatakan lolos dalam tahap verifikasi. Nama mereka telah diumumkan kepada publik tentang kelayakandan kepatutan mereka untuk membentuk paket yang tadi saya namakan paket JOIN. Joel dan Irin adalah paket jadi yang hari ini dilantik bukan menjadi walikota dan wakil wali kota melainkan menjadi Keluarga Kristiani yang baru. Proses pengukuhan mereka bukan oleh KPU tetapi Komisi Penyebaran Cinta (KPC). Keduanya lolos verifikasi karena Tuhan memberi kemampuan saling mencinta di antara mereka. Joel dan Irin adalah Paket (pasangan Ketat) yang akan menjalankan visi dan misi cinta secara bersama selama dan sepanjang hidup mereka dalam sebuah institusi yaitu keluarga.

Upacara pemberkatan nikah seperti ini sudah biasa kita saksikan dari tempat ke tempat, dari waktu ke waktu. Sudah banyak kita ikuti dan saksikan pasangan pengantin yang dengan gagah berani mengikrarkan sumpah setia sehidup semati. Meskipun peristiwa seperti ini terkesan biasa, tetapi untuk Joel dan Irin peristiwa seperti ini merupakan peristiwa bersejarah, peristiwa penting. Mengapa? Karena pengalaman ini merupakan peristiwa pernyataan kebesaran Allah. Misteri Allah ditampakkan, dinyatakan, dibahasakan kepada manusia lewat kerinduan membagi cinta, keingin untuk membangun serta mengembangkan cinta antara dua pribadi. Persatuan dua pribadi yang berbeda bukanlah hal sederhana. Hal besar serupa ini hanya terjadi karena rahmat dan cinta Allah telah merasuki dan menjiwai kedua mempelai sehingga memutuskan untuk hidup bersama dan bersatu sebagai paket abadi. Persatuan yang telah, sedang dan terus dibangun kedua mempelai dalam paket JOIN adalah persatuan cinta dalam Allah dan karena Allah yang merupakan sumber cinta. Hal sebesar ini terjadi karena manusia termasuk kedua mempelai telah menjadi orang pilihan Allah.

Dari segi cakupan dan luas wilayah dukungan paket Joel Irin (JOIN) ini termasuk ideal dan bisa diandalkan karena satunya dari pulau Sumatra, satunya dari Pulau Flores lalu hidup di pulau Jawa. Sebagai paket jadi tentu saja Joel dan Irin sudah merundingkan bersama tentang strategi masa depan berkaitan dengan pengukuhan paket mereka hari ini di sini. Pasti banyak pertimbangan yang digunakan Joel untuk menentukan pasangan paket hidupnya. Juga tentu banyak alasan dan pertimbangan yang Irin pakai untuk menerima tawaran Joel bersama keluarga besarnya untuk menjadi pasangan paket ini. Kami semua yakin bahwa kedua rumpun keluarga telah melihat visi dan misi pasangan ini sehingga pada akhirnya merestui paket ini untuk disahkan hari ini.

Sebagai paket jadi, paket JOIN ini tentu menginginkan dan merindukan agar paket ini langgeng hingga ajal menjemput. Kerinduan seperti ini membutuhkan alat perekat yang menjamin kelangggengan persatuan itu. Apa sesungguhnya alat perekat yang melanggengkan paket JOIN ini ke depan? Tuhan dalam sabda dan Firman-Nya yang Kudus yang diperdengarkan kepada kita melalui dua bacaan tadi memberikan jawaban yang pasti. Alat perekat yang menjamin kelanggeng hidup berkuarga itu adalah KASIH dan KESETIAAN. Kasih dan Kesetiaan adalah dua tiang utama yang menopang bangunan keluarga Kristiani termasuk penopang keluarga baru yang dibentuk paket JOIN ini. Logika kehidupan suami istri menurut santo Paulus harus selalu berjalan dalam Kasih. Model kasih itu telah Yesus tunjukkan dalam misi menyelamatkan manusia. Itulah sebabnya Paulus dalam bacaan pertama menegaskan: hiduplah dalam Kasih, sebagaimana Kristus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan dirinya bagi manusia sebagai korban yang harum dan berkenan kepada Allah. Penyerahan diri Yesus merupakan bukti kesetiaan-Nya pada kehendak Bapa. Kasih dan kesetiaan seperti itulah yang hendaknya memberi warna, cintra, nuansa pada kehidupan umat dan keluarga-keluarga Kristiani. Kalau kehidupan berkeluarga telah ditopang oleh Kasih dan Kesetiaan maka di sana akan ada saling mengerti, saling melayani, saling memahami, saling mendengarkan, saling menguduskan, saling melengkapi. Hidup sebagai suami istri Kristiani dalam konteks bacaan pertama mengharuskan pasangan suami istri untuk mewujudkan kewajiban terhadap pasangannya, sebagai kewajiban yang ditunjukkan kepada Kristus. Tuntutan agar Istri tunduk kepada Suami, bukan berarti istri berada pada posisi lemah atau harus selalu kalah terhadap sang suami. Tunduk kepada suami lebih diartikan sebagai keataan karena kasih bukan bukan pepatuhan dalam ketakutan. Itulah sebabnya pada ayat lain dalam bacaan pertama Paulus menegaskan kewajiban suami untuk mengasihi istri seperti dia mengasihi dirinya sendiri. Siapa yang mengashi istrinya ia mengasihi dirinya sendiri. Dengan ini mau dikatakan kepada kita bahwa Kasih dan Kesetiaan suami istri merupakan wujud nyata dari Kasih Kristus terhadap gereja-Nya. Kita semua adalah gereja yang dikasihi, dicintai, ditebus, diselamatkan Kristus melalui korbannya di kayu salib. Kasih dan kesetiaan suami terhadap istri dan kasih istri terhadap suami menjadi tanda dan bentuk pengambibagianan, partisipasi manusia terhadap Kasih dan kesetiaan Kristus yang diwariskannya sebagai rahasia agung bagi manusia. Misteri, rahasia kasih dan kesetiaan Kristus secara konkret hidup dan berlangsung dalam persekutuan hidup berkeluarga.

Kasih dan kesetiaan yang menopang dan membentengi kehidupan keluarga Kristiani dari masa ke masa selalu menghadapi aneka tantangan dan kesulitan. Penggalan Injil Matius tadi memberikan kita gambaran betapa usaha mewujudkan kasih itu menghadapi tantangan. Yesus berkeliling di Galilea untuk menyatakan kasih Allah dalam bentuk menyembuhkan orang sakit. Yesus dihadang sekelompok orang farisi yang bertanya bukan karena mereka tidak tahu tetapi sekadar mencobai Yesus. Pertanyaan mereka: bolehkah orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja? Rumusan pertayaan seperti ini menunjukkan bahwa bagi mereka para suami bisa menceraikan istri dengan segala macam alasan termasuk alasan yang dibuat-buat, dicari-cari. Yesus mematahkan pikiran sesat orang farisi itu dengan bertanya: apakah kamu tidak membaca kitab suci yang menegaskan bahwa persekutuan suami istri itu terjadi atas rencana dan kehendak Allah. Yang telah diperstuan Allah jangan diceraikan manusia. Untuk membela diri, orang farisi itu mencoba berdalih dan merujuk nabi Musa yang memberi surat cerai. Argmentasi inipun dipatahkan Yesus. Jawaban Yesus tidak lagi merujuk pengalaman pasangan suami istri perjajanjian Lama tetapi langsung ditujukan kepada orang farisi itu. Bagi Yesus orang farisi itu bertanya, karena mereka ingin menceraikan istri mereka tetapi dengan cara mencari-cari dan mencuri-curi alasan. Kepada mereka pun Yesus menegaskan bahwa Perceraian adalah gambaran ketegaran hati manusia. Kata Yesus berkata kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu, Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian”. Pesan injil ini tegas dan jelas bagi kita, bagi kelaurga Kristiani, dan terutama bagi paket JOIN bahwa keinginan, niat, rencana untuk meninggalkan pasangan dengan mencari-cari, apalagi mencuri-ciri, merekayasa alasan seperti orang farisi tidak akan pernah dibenarkan di hadapan Tuhan. Niat-niat seperti itu adalah gambaran Ketegaran hati, gambaran ketidaktaan, bentuk ketidaksetiaan, model pengkhianatan terhadap janji yang telah diucapkan. Mungkin pernyataan saya ini penting untk diinga: Sebuah janji, ikrar, sumpah yang diucapkan atas nama Tuhan melahirkan seribu mata pedang. Sekali orang mengingkarinya, seribu mata pedang itu akan mengiris jiwanya, tetapi selama orang setia pada janjinya ia akan dikawal seribu pasukan berpedang untuk melawan musuh yang membongkar semangat kasih dan kesetiaan itu.

Kedua mempelai Joel dan Irin, Paket JOIN milik Anda berdua diresmikan hari ini dan didukung oleh dua rumpun keluarga besar. Paket Anda bukanlah paket jabatan politik yang hanya bertahan sejauh rakyat mempercayai Anda. Paket Anda bukan paket politik, bukan paket bupati/walikota hasil pilkada. Paket Anda diverifikasi bukan oleh partai politik. Paket Anda didukung oleh partai Tunggal yakni partai Kasih. Apa konsekuensinya? Paket Anda bukan untuk masa dan periode lima tahun saja tetapi paket yang kekal sampai mati. Anda berdua memasuki jabatan Kehidupan, bukan jabatan politik. Karena itu cara kerja, cara hidup, cara pandang yang bernuansa politis harus dijauhkan dari kehidupan suami istri. Suami bukanlah lawan politik istri atau sebaliknya istri bukanlah lawan politiknya suami. Kalau keluarga dijadikan sebagai arena politik maka setiap hari orang akan berbenturan dengan kepentingannya. Hari ini Anda berdua menjadi satu paket Abadi yang dikukuhkan Allah sendiri dan Anda telah menjadi Satu dan Cuma Satu. Joel yang satu dan Cuma satu hanya untuk Irin yang Satu dan Cuma satu. Irin yang satu dan Cuma satu hanya untuk Joel yang satu dan Cuma satu. Mengakhiri renungan ini saya bacakan sepenggal puisi yang kutulis khusus buat paket JOIN.


“JOIN CUMA SATU”

Jika JOIN ingin melepas rindumu
angkatlah matamu ke langit biru
Di sanalah JOIN akan bertemu
karena angkasamu cuma satu
padanya JOIN gantungkan cita dan cinta yang satu

Kalau JOIN ingin memekarkan kenanganmu
tataptlah bulan purnama di jagat raya
karena bulanmu tunggal adanya
dialah saksimu yang satu dan setia
tatkala JOIN menjalin mimpi bersama

Kalau JOIN ingin membaca kisah-kisahmu
rangkullah bumi di bawah kakimu
karena pada bumi yang satu
awetlah rekaman kebersamaanmu

tetapi
bila JOIN ingin menulis sejarah bersama
pandanglah tapak-tapak Tuhan dalam semesta
karena seluruh hidupmu terpahat abadi di sana

Proficiat dan selamat berbahagia semoga Paket JOIN satu untuk selamanya. Tuhan memberkati. Amin



Sunday, June 9, 2013

MINGGU BIASA X THN C2

HARI MINGGU BIASA X Th.C/2 9 Juni 2013
1Raj 17:17 24; Gal 1:11 19; Luk 7:11 17
Paroki Lawang


Buka
Hari ini Tuhan melalui Firman-Nya menampilkan sederetan kisah kebaikan Tuhan untuk manusia. Mukjizat yang digambarkan dalam bacaan hari ini mau menengaskan kepada kita betapa Tuhan peduli terhadap nasih hidup dan kehidupan manusia. Kalau Tuhan sudah peduli terhadap nasib hidup dan kehodupan kita, maka sebagai pengikut Kristus kita dituntut untuk peduli terhadap masalah dan kebutuhan sesama kita. Dalam kenyataan munkgin kita sering menutup mata, menutup telinga, menutup hati, terhadap masalah sesama bahkan menjauh dari sesama yang bermasalah. Kita memohon pengampunan Tuhan seraya memohon kekuatan agar kita belajar pada Yesus yang memiliki Hati yang berbelas kasih.

Renungan
Gerak, bergerak, gerakan adalah bahasa kehidupan. Makhluk dikatakan hidup kalau dia bisa bergerak. Mati, kematian adalah gambaran kondisi atau keadaan tanpa gerakan. Tidak bisa bergerak adalah tanda kematian. Firman Tuhan dalam tiga bacaan hari ini berkaitan dengan dua dimensi pokok kehidupan kita. Hidup dan mati, merupakan dua kenyataan yang mewarnai ziarah hidup kita manusia. Ketika menyadari bahwa kita hidup, sesungguhnya kita mengamini kematian kita. Sebaliknya, ketika kita membayangkan kematian kita sesungguhnya kita menyadari diri sebagai sesuatu yang hidup. Hidup dan mati merupakan dua titik yang dilalui setiap makhluk hidup. Meskipun manusia mengalami nasib seperti hewan dan tumbuhan kehidupan dan kematian kita manusia jelas berbeda dengan hidup dan kematian hewan dan tumbuhan. Kehidupan dan kematian manusia sebagai cintra Allah adalah kehidupan dan kematian yang pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan sebagai asal dan sekaligus tujuan hidup manusia.

Tuntutan akan adanya pertanggungjawaban kita akan hidup dan kehidupan sebagai citra Allah pada titik akhir mengharuskan kita memaknai dan memberi arti pada kehidupan kita. Ketiga bacaan hari ini mau menyadarkan sekaligus mengingatkan kita bahwa kehidupan kita akan berakhir, kehidupan kita ini hanyalah sementara. Kesadaran akan kesementaraan hidup seperti ini, harus ada dan mewarnai cara hidup kita. Bahwa kematian akan menjemput itu pasti tetapi yang kita inginkan adalah kematian secara baik. Kerinduan dan dambaan setiap orang akan kematian secara baik hanya bisa dicapai melalui cara hidup yang baik. Kematian yang baik adalah buah dari kehidupan yang baik. Santu Agustinus pernah berkata: Barang siapa yang hidup baik akan mengalami kematian yang baik tetapi siapa yang menjalani kehidupan secara buruk jangan pernah mengharapkan kematian yang baik.

Kesadaran akan cara hidup yang buruk seperti ini diungkapkan seorang ibu kost tempat Elia menumpang dalam bacaan pertama. Ibu kost itu menyadari bahwa Elia adalah utusan Allah yang singgah dan menginap di rumahnya. Saat Elia menetap di sana putri sang ibu kost sakit lalu mati. Kematian sang putri itu menyadarkan sang ibu akan kesalahannya dalam hidup. Kesadaran itu muncul dalam pertanyaannya untuk Elia: Apakah engkau menumpang di rumahku untuk mengingatkan kesalahanku dan menyebabkan kematian putriku? Elia meneruskan pertanyaan itu kepada Yahwe yang mengutusnya sekaligus berdoa agar Tuhan menunjukkan kuasa membangkitkan putri yang meninggal itu. Doa dan harapan sang Ibu yang diteruskan Elia mendapat jawaban dari Yahwe sehingga sang putri hidup kembali. Peristiwa dramatis itu berakhir dengan pengakuan sang ibu akan kuasa dan kebenaran Firman Tuhan yang disampaikan nabi.

Mukjizat yang dilakukan Elia dalam bacaan pertama dimaksudkan agar orang yang mendengarkan dan menyaksikan peristiwa itu termasuk sang ibu yang menyadari kesalahan yang dialkukan sebelumnya yakin bahwa Tuhan berkuasa atas kehidupan dan kematian. Kesadaran itu harus diwartakan terutama kebenaran bahwa Allah itu bukan Allah orang Mati melainkan Allah orang hidup. Pewartaaan tentang kuasa Tuhan seperti ini secara nyata terjadi dalam pewartaan Paulus. Dalam suratnya kepada Jemaat Galatia hari ini Paulus menegaskan kepada kita tentang bagaimana Allah menjadikan Paulus sebagai pewarta Firman Tuhan kepada segala bangsa. Paulus sungguh yakin bahwa Allah telah menyatakan sang Putra kepadanya dan sang Putra itulah yang diwartakannya kepada segala bangsa.

Bagi Paulus apa yang diwartakannya adalah benar. Baginya berita gembira yang disebarkannya bukanlah berita bohong. “Injil yang kuberitakan bukanlan injil manusia dan ajaran buatan manusia melainkan injil dan ajaran yang diterima dari Yesus sendiri”. Dengan kata lain, kata-kata dan tindakan Paulus adalah kata-kata dan tindakan atas nama Tuhan yang menggunakan dirinya. Pengalaman pertobatan diri Paulus telah menjadi pemicu dan pemacu semangat pewartaannya kepada segala bangsa. Dalam bacaan pertama mukjizat yang dilakukan Elia membangkitkan iman seorang ibu, dan dalam bacaan kedua Mukjizat yang dialami Paulus telah menggerakkan dan menjiwai seluruh dinamika pewartaannya di berbagai tempat dengan segala situasinya.

Kalau kita mencermati pelbagai kisah tentang mukjizat di dalam kitab suci baik yang terjadi dalam perjanjian lama maupun yang terjadi dalam perjanjilan baru seperti yang dikisahkan dalam bacaan-bacaan hari ini pada dasarnya mau menegaskan kepada kita tentang peran, keterlibatan, intervensi Allah terhadap situasi manusia. Mukjizat dihadirkan Allah dalam situasi kekinian dan kesinian (kini dan di sini) yang dialami manusia. Itu artinya, setiap mukjizat selalu terikat pada konteks situasi dan kehidupan manusia. Karena itu logis dan masuk akal setiap mukjizat itu membawa makna dan pesan bagi kehidupan manusia. Dalam bimbingan kuasa Roh Kudus kisah mukjizat yang telah tertulis dalam konteks tertentu itu tetap memberi inspirasi dan pesan bagi kehidupan manusia sepanjang zaman. Sebagai orang beriman kita sungguh yakin bahwa Firman Tuhan yang telah ditulis ribuan tahun lalu itu bukan sekadar kisah sejarah masa lampau. Lebih dari itu Firman Tuhan itu senantiasa terjelma secara baru dalam kehidupan orang beriman, dalam kehidupan kita. Firman Tuhan itu tidak pernah kedaluwarsa, tidak mengenal masa expire. Mengapa? Karena Roh Kudus senantiasa menyertai setiap orang untuk memaknai Firman itu sesuai dengan tingkat pemahaman dan kebutuhannya dalam hidup. Bagi setiap orang Firman Tuhan itu berbicara dan memberi pesan secara baru.

Keyakinan kita akan kuasa Roh Kudus yang menyertai setiap Firman Tuhan membuat kita sadar bahwa setiap kali kita membaca, merenungkan Firman Tuhan, di sana kita akan mendapatkan pesan untuk kehidupan kita. Penggalan Injil Lukas hari ini juga hadir dengan pelbagai pesan bermakna untuk kita. Teks injil ini termasuk teks yang unik dan spesial karena hanya Lukas yang mencatat peristiwa menghidupkan orang mati dan mencatan lokasinya di kota Nain. Kalau kita membaca peta tanah suci kita akan temukan kota Nain itu terletak di Wilayah Galiea Selatan dekat dengan perbatasan Samaria. Dua tahun lalu setelah saya merayakan misa di Gereja Kana bersama rombongan peziarah kami bergerak arah selatan ke kota Nasareth dan masuk ke Basilika Kabar Gembira tempat Maria menerima Kabar Malaikat dan dari sana terus ke selatan agak ke timur kami tiba di tempat yang nama Nain persis di lokasi Yesus menghidupan Purta Nain dalam injil tadi. Nain berada di bagian paling selatan Galilea dan untuk ke sana Yesus datang dari Kafernaum yang terletak bagian utara danau Galiea. Kafernaum menjadi kampung Yesus dan di Kafernaum itu ada gereja delapan Sabda Bahagia, gereja pengangkatn Petrus, dan Gereja Perbanyakan Roti.

Nama Nain menurut pemandu yang membawa kami ke sana berarti “padang rumput hijau” atau tempat yang “menyenangkan”. Kisah yang disuguhkan injil menggambarkan bahwa di dekat pintu gerbang Nain ditampilkan situasi yang sungguh berlawanan dengan arti nama itu. Saat YESUS berada di dekat pintu gerbang kota Nain, terjadi sesuatu yang menyedihkan karena putra tungal seorang janda mati dan diusung ke luar. Dilihat dari banyaknya orang yang mengiringi janda, dapat disimpulkan janda ini adalah seorang yang baik hati dan disayangi tetangga maupun penduduk kota Nain. Di dekat gerbang kota Nain itu terjadi pertemuan dua rombongan besar manusia. Rombongan pertama yang keluar dari kota mengusung orang mati dan rombongan kedua yaitu rombongan yang menyertai Yesus yang bergerak hendak memasuki kota.

Perjumpaan dua rombongan manusia dengan arah tujuan yang berlawanan itu telah menjadikan gerbang kota itu menjadi tempat penting. Gerbang Nain menjadi monumen peringatan pernyataan kasih Allah untuk manusia. Gerbang Nain menjadi tugu peringatan Kasih Allah yang menyelematkan. Di gerbang Nain ada perjumpaan aneka rasa yang membaur. Yang mau masuk kota ingin mendapatkan kegembiraan dan kesenangan sedangkan yang keluar kota justru mengusung duka karena sedang mengusung jenazah. Di antara benturan rasa yang bertentangan itu Yesus menyatakan perasaan-Nya. Untuk itu Yesus melakukan serentetan tindakan yang penting untuk kita maknai dan renungkan. Tindakan penting itu terlihat pada ayat yang berbunyi: Dan ketika TUHAN melihat janda itu, tergeraklah hati-NYA oleh belas kasihan, lalu IA berkata kepadanya: "Jangan menangis!" Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya dan berkata: Hai Anak Muda bangkitlah!”. Dalam ayat ini kita temukan tujuh kata kerja penting yaitu melihat, tergerak, berkata, menangis, menghampiri, menyentuh, bangkit.

Melihat. Hal yang pertama dilakukan Yesus adalah melihat sang janda. Melihat di sini berarti mengamati dalam rangka memahami perasaan sang janda. Ketepatan pengamatan dan pengelihatan Yesus terhadap janda itu menentukan reaksi dan sikap Yesus. Pengelihatan dan pengamatan Yesus adalah memahami secara benar perasaan sang janda. Tanggapan yang tepat dan sesuai terhadap sesuatu masalah sangat ditentukan kualitas pengamatan dan pemahaman akan masalah. Di sini Yesus mau mengajarkan kita bahwa untuk dapat memberikan tanggapan yang tepat terhadap setiap persoalan kita harus bisa melihat secara tepat dan jernih.

Gerak dan Ketergerakan Hati. Setelah Yesus memahami masalah yang menimpa sang janda yang dilihat dan diamati-Nya hati Yesus tergerak oleh peraaan belas kasihan. Tergerak di sini merujuk pada sikap yang spontan memberikan tanggapan terhadap masalah yang dihadapi. Hati Yesus tergerak melihat keadaan janda itu, mau mengajarkan kita secepatnya memberikan tanggapan terhadap masalah yang dihadapi sesama. Dengan kata lain Yesus mengajak kita untuk tanggap dan peka terhadap kebutuhan orang lain. Dasar sikap tanggap itu bukan karena ada pertimbangan lain selain rasa belas kasih. Hati Yesus tergerak karena belas kasihan terhadap sang janda Nain. Berbelaskasihan bukan sekadar simpati tetapi harus sampai pada sikap empati tanpa syarat.

Berkata berkomunikasi. Bagi Yesus masalah Janda Nain itu tidak cukup hanya dengan melihatnya lalu bersikap empati. Bagi Yesus komunikasi verbal dengan kata-kata menjadi penting dalam mengatasi masalah dalam kehidupan. Berkomunikasi untuk mengatasi masalah mengharuskan orang memilih kata yang tepat. Pilihan kata Yesus untuk sang janda sangat tepat yaitu Jangan menangis.

Menangis adalah bahasa universal pengungkap rasa. Janda Nain menangis kesedihan atas kematian putra tunggalnya. Yesus melarang janda itu menangis bukan karena menangis itu buruk, Buktinya Yesus sendiri juga menangisi kematian Lazarus. Lalu mengapa Yesus melarang janda itu menangis? Jawabannya karena air mata membuat pandangan seseorang menjadi kabur, tidak jernih melihat objek. Yesus melarang janda itu menangis dengan tujuan agar dia bisa melihat orang di hadapannya secara benar. Tangisan dan air mata, bisa mengaburkan mata orang untuk melihat Tuhan. Kita, baca pengalaman Maria Magdalena yang menangis di makam Yesus setelah kebangkitan. Ketika dia menangis dia tidak mengenal Yesus yang bangkit, tetapi begitu Yesus meintanya jangan menangis Maria Magdalena mengenal Yesus. Kata-kata larangan menangis ini disampaikan Yesus untuk mengingatkan setiap orang beriman agar dalam menghadapi persoalan hidup kita harus memandang Tuhan dalam pandangan jernih.

Menghampiri, usaha untuk semakin dekat. Yesus yang berpapasan dengan rombongan pengusung jenazah setelah memahami perasaan sang janda berusha untuk mendkati pengusung jenazah. Peti jenazah itu menjadi bagi sang janda. Yesus yang berbelaskasih berusaha mendekati masalah sebelum mengatasi malasah. Tindakan Yesus ini juga menjadi ajakan bagi kita pengikutnya untuk melihat masalah dari dekat sehingga pemcahannya tepat. Hanya orang yang tahu masalah akam mampu mengatasi masalah.

Menyentuhnya melibatkan diri dengan risiko. Yesus bukan hanya mendekati masalah menghampir usungan tetapi lebih dari itu Ia menyentuh peti jenazah. Niat hati Yesus untuk mengatasi masalah sang janda tidak cukup dengan melihat, dengan kata-kata tetapi harus diwujudkan dalam tindakan. Yesus menyentuh berarti Yesus sungguh melibatkan diri dalam masalah itu saebelum mengatasinya. Yesus menyentuh peti jenazah adalah tindakan dengan risiko besar. Dalam adat Yahudi yang menyntuh jenazah dianggap najis selama tujuh hari. Niat dan belaskasih Yesus mengalahkan hukum adat itu dan justru sentuhan Yesus yang diserati dengan kata-kata yang penuh kuasa membangkitkan pemuda Nain itu. Bangkitlah Rentetan tindakan Yesus menghasilkan mukjizat besar sekaligus mengatasi masalah sang janda Nain.

Sebagai pengikut Kristus kita bisa menjadi kelompok yang bergabung dengan Janda Nain keluar kota sambil menangis mengusung masalah kehidupan kita. Kita juga kita menjadi kelompok yang tergabung dengan Yesus yang memaski kota. Jika saat ini kita masuk kelompok janda Nain yang keluar kota dengan masalah kita apa beban hidup yang kita usung supaya bisa ditasai Yesus yang kita jumpai dalam hidup kita? Seandainya saat ini kita menjadi salah seorang yang mamasuki kota Nain boleh jadi kita akan menjumpai begitu banyak orang yang mengalami nasib seperti janda Nain menghadapi masalah kematian anaknya. Untuk zaman kita ada banyak janda Nain dan ada banyak kematian yang dihadapi. Keluarga-keluarga Kristen yang terbelit dan terlilit dalam pelbagai macam masalah adalah janda-Janda Nain zaman kita. Kehidupan yang jauh dari hukum Tuhan adalah jenis kematian zaman kita. Semoga kita belajar meringankan penderitaan sesama seperti yang ditunjukkan Yesus kepada Janda di Kota Nain. Tuhan memberkati kita. Amin



Claket, 9 Juni 2013

Saturday, June 1, 2013

PESTA TUBUH DAN DARAH KRISTUS

Pesta Tubuh dan Darah Kristus 2 Juni 2013
Kej.14,18-20; 1Kor.11,23-26; Luk.9,11b-17
Gereja Paroki Maria Diangkat ke Surga Leli, Malang


Buka

Perayaan Ekaristi itu adalah perayaan perjumpaan kita dengan Tuhan yang telah memberikan diri dan hidup-Nya untuk kita. Perayaan Ekaristi adalah perayaan kerelaan Tuhan untuk berbagi kepada kita manusia. Yesus memberi tubuh dan darah-Nya agar kita belajar memberikan diri kita untuk kepentingan banyak orang. Panggilan kemuridan kita dalam konteks injil hari ini boleh dikatakan sebagai panggilan untuk menjadi sepotong roti atau seekor ikan yang siap digandakan dan dibagikan kepada orang lain. Kita bersoa memohonkan rahmat Tuhan agar kekuatan Tubuh dan Darah-Nya yang diberikan kepada kita dan yang kita terima membantu kita untuk belajar memberi. Sekian sering kita lebih banyak menunggu menerima dan enggan untuk berinisiatif meberi dan berbagi. Itulah kelemahan yang harus kita akui pada awal perayaan misa hari raya Tubuh dan Darah Kristus ini.


Renungan
Kalau kita mencermati kehidupan kita, maka tampak jelas bagi kita bahwa dari dahulu sampai sekarang, bahkan sampai kapun pun manusia selalu sibuk melakukan segala sesuatu. Kesibukan itulah yang membuat ruas-ruas jalan macet, pasar-pasar ramai, supermaket dan pusat-pusat perbelanjaan penuh dengan manusia. Manusia tampaknya selalu bergerak di mana-mana dan bergerak ke mana-mana. Andaikan kita renungan sejenak segala macam kesibukan itu, maka kita akan menemukan alasan yang paling utama dari segala macam kesibukan manusia. Tampaknya ada bagian tubuh kita manusia yang memaksa kita untuk terus sibuk dan sibuk terus. Bagian mana dari tubuh manusia yang membuat kita harus sibuk dari waktu ke waktu bahkan sepanjang waktu? Tanpa kita sadari ternyata pikiran dan otak kita bukan lagi yang mengendalikan kesibukan kita. Bagian tubuh manusia yang mengendalikan kesibukan adalah perut kita. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan akan makan minum tampaknya menjadi asalan utama dan pertama untuk setiap model kesibukan kita manusia.

Orang sibuk di mana-mana dan sibuk ke mana-mana pada akhirnya kalau ditanya mengapa sibuk jawabannya adalah untuk mempertahankan hidup. Upaya mempertahankan hidup untuk manusia pasti merujuk pada pemenuhan kebutuhan perut berkaitan dengan makan minum. Dengan ini jelaslah bagi kita bahwa orang sibuk untuk mendapatkan makan minum, juga jelas bagi kita orang tidak mungkin bisa sibuk tanpa makan minum. Jadi, logika kehidupan manusia bisa dirumuksan demikian: sibuk untuk mendapatkan makan minum dan makan minim untuk menjalankan kesibukan. Sederhananya, orang bisa bekerja supaya mendapatkan makanan dan dengan makanan orang bisa bekerja dengan baik. Dari jalan pikiran seperti ini juga menjadi jelas bagi kita bahwa makanan adalah kehidupan. Tanda orang hidup adalah membutuhkan makanan. Kehidupan ditentukan oleh jenis makanan. Lama atau singkatnya kehidupan seseorang juga ditentukan oleh jenis makanan dan minuman. Diet dan menu makanan itu hanya untuk orang yang masih hidup dan ditentukan dalam rangka mempertahankan dan memperpanjang kehidupan. Dan, kenyataan hidup setiap hari membuktikan kepada kita bahwa dalam pelbagai jenis kegiatan biaya yang paling besar biasanya berkaitan dengan perkara makan minim.

Firman Tuhan yang diperdengarkan untuk kita dalam bacaan hari ini memang tidak secara langsung berbicara tentang pesta yang dilengkapi acara makan minum. Bacaan hari ini mempersoalkan makan minum bukan dalam konteks pesta melainkan makan minum dalam konteks misi perutusan atau misi pewartaan tentang keterlibatan Allah pada dimensi yang paling hakiki dari kehidupan manusia. Perbedaaan konteks inilah yang memungkinkan wacana makan minum itu dibahasakan secara metaforik dalam simbol makan minum yang biasa Dalam konteks kehidupan masyarakat Yahudi. Roti dan anggur yang diwacanakan dalam bacaan-bacaan hari ini mengacu pada konsep makan minum. Melalui bacaan pertama, kita mendengarkan kisah bagaimana Imam Melkisedekh mempersembahkan roti dan anggur sekaligus memberkati Abram. Kisah itu membuktikan secara meyakinkan bahwa Abram dihidupi, dibekali, disemangati, ditenagai kembali oleh kekuatan makanan yang dipersembahkan imam agung Melkisedekh. Tindakan imam Melkisedekh ini membawa konsekuensi yang luar biasa pada dan kehidupan diri Abram. Abram yang dihidupi dan dijamin Allah harus membalas kebaikan keramahtamahan serta kemurahan hati Imam Melkisedekh itu dengan menyerahkan sebagian rampasan dan jarahan kepada imam agung itu.

Perkara makan minum dalam pengertian yang metaforik seperti ini dipertegas lagi dalam pewartaan Santu Paulus dalam Suratnya kepada jemaat Korintus tadi. Paulus mengangkat salah satu segmen kisah perihal aneka peruabahan dan pengalaman pribadinya. Paulus secara pribadi telah mengalami betapa Tuhan telah menghidupinya secara spiritual dalam episode pertobatannya. Pengalaman pribadi itulah yang Paulus teruskan kepada para pengikut Kristus. Karena itu, secara amat drmatis Paulus berkata: Saudara-saudara, apa yang telah kuterima dari Tuhan, kuteruskan kepadamu. Apa yang mau diteruskan Paulus itu? Hal yang mau diteruskan Paulus adalah pengalaman puncak perutusan Putra manusia yang memberi kehidupannya untuk manusia. Memberikan kehidupan bukan lagi dalam pengertian metaforik tetapi memberikan dirinya, tubuh dan darahnya untuk menjamin kelangsungan hidup dan perjuangan manusia. Paulus melandaskan pewartaannya itu dengan menukil episode puncak penyerahan diri Yesus. Ia mengangkat dan mewacanakan kembali segmen kisah perjamuan malam terakhir. Bagi Paulus, segmen puncak penyerahan diri Yesus haruslah menjadi kenangan abadi untuk semua orang yang percaya. Logika berpikir Paulus sederhana saja. Mau mengingat Tuhan berarti harus melaksanakan semua pesannya. Dimensi memorial atau dimensi peringatan akan Tuhan harus dan mesti mewarnai praktik hidup manusia yang rela berbagi tanpa merasa cemas akan kekurangan, rela memberi tanpa merasa cemas akan kehabisan. Memberi tanpa takut akan merasa kurang dan berbagi tanpa takut akan kehabisan adalah cara berbagi dan cara memberi yang harus menjiwai tindakan pemberian manusia. Model berbagi dan model memberi yang Yesus tunjukanadalah model yang mesti dan harus dilanjutkan para pengikut-Nya.

Kerelaan berbagi tanpa merasa kekurangan atau memberi tanpa merasa kehabisan adalah berita besar sekaligus menjadi tugas mulia untuk semua orang yang percaya. Santo Lukas dalam penggalan injil hari ini pada dasarnya mewacanakan suatu konsep yang berkaitan dengan urusan bagi membagi makanan. Perikop injil hari ini secara tegas menyatakan efek yang luar biasa dari tindakan berbagi itu. Ada kondisi yang menyenangkan atau menggembirakan sebagai puncak yang menggambarkan buah dari tindakan memberi dan bergai itu. Merasa kenyang adalah kondisi yang secara analogis mengacu pada keadaan kehidupan seseroang yang berkelimpahan dan berkecukupan. Kenyang adalah bahasa kehidupan karena dalam kondisi kenyang orang bergembira dan memungkinkannya untuk melakukan sesuatu.

Kondisi kenyang sebagai tanda kelimpahan dan kecukupan adalah keadaan yang dibangun atau dirajut oleh aneka tindakan sebelumnya. Kenyang itu adalah keadaan atau kondisi sesaat yang didahului dengan aneka hal sebagai prakondisi. Ribuan orang kenyang seperti yang dinarasikan Lukas dalam injil hari ini, hanyalah satu titik yang dihasilkan dari sederetan aktivitas dan sikap Yesus yang berinteraksi dengan para murid-Nya serta bersama ribuan orang yang mau mendengarkan pewartaan-Nya. Pewartaaan Yesus tergolong sukses luar biasa. Buktinya dalam tempo singkat ribuan orang telah mengikuti Dia. Andaikan waktu itu ada isu tentang pemilihan bupati atau walikota dan Yesus ikut sebagai calon independen, tentu Yesus akan keluar sebagai pemenang tunggal karena lima ribu orang pasti memilih-Nya.

Merasa kenyang biasanya terjadi kalau orang telah mendapat banyak dan makan banyak. Logislah rasanya kalau banyak orang yang kenyang itu artinya persediaaan makanan itu pasti banyak. kalau persediaaanya banyak maka logis pula kalau orang berpikir pasti seksi konsumsi itu banyak orang. Apa yang digambarkan dalam penggalan injil hari ini justru bertolak belakang dengan logika kehidupan biasa. Banyak orang kenyang dalam logika Yesus bukan terutama karena banyaknya persediaan makanan yang membuat orang kenyang. Jumlah atau takaran kuantitatif bagi Yesus bukanlah hal paling penting yang memungkinkan orang kenyang. Hal pokok yang membuat orang merasa kenyang dalam konteks pewartaan Yesus adalah sikap yang rela memberi untuk berbagi dengan orang lain. Sikap yang rela memberi dan mau berbagi dengan orang lain akan membawa dampak yang luar biasa kepada orang yang menerimanya. Kerelaaan berbagi dengan senang hati itulah yang menjadi resep atau kata kunci yang membuat ribuan orang merasa kenyang setelah menerima pembagian roti.

Mukjizat perbanyakan roti dalam injil tadi diajalin dari sederetan sikap rela memberi. Ketika hari sudah malam para murid meminta Yesus supaya segera menyuruh ribuan orang itu pergi mencari penginapan dan makan masing-masing. Mendengar itu, dalam hati Yesus muncul rasa dan keinginan untuk memberi tumpangan dan makanan kepada ribuan orang itu. Hal itu nyata dalam jawaban Yesus katanya: Tidak, tidak perlu mereka disuruh pergi karena kamu harus memberi mereka makan. Yesus menekankan aspek dan kata memberi. Pada saat seperti itu, pikiran dan hati para murid justru tertutup rapat karena mereka membayangkan kesulitan memberi makanan kepada ribuan orang. Dalam kondisi serba terbatas dan kekurangan manusia biasanya cenderung ingat diri. Saat itu kerelaan memberi itu hilang dari para murid.karena mereka masih terikat pada perhitungan matematis, tentang jumlah orang yang harus diberi makanan. Dalam proses itu terjadi kejutan pada diri para murid. Dalam nada datar dan pesimis para murid berkata: yang ada pada kami paling-paling 5 roti dan 2 ekor ikan. Kata-kata para murid itu adalah bahasa putus asa dan sering terjadi dalam hidup kita manusia. Dalam kondisi seperti itu hendak mengajarkan dan menunjukkan kepada mereka cara memberi yang membuat pemberian tidak akan kehabisan. Hal itu memang terbukti luar biasa. Lima roti dan dua ekor ikan yang dalam pandangan manusia itu tidak ada artinya justru bagi Yesus sangat berarti. Roti dan ikan yang terbatas itu dilipagandakan hanya kalau orang membaginya secara tulus dan dalam kerelaaan. Pertama Yesus memberikan roti itu dengan senang hati tanpa merasa kurang kepada para murid. Pengalaman menerima pemberian Yesus yang demikian simpatik itu memberi inspirasi kepada para murid untuk berlaku dan bertindak secara sama kepada siapa saja mereka memberikan roti itu. Semua murid membagi dengan rela tanpa merasa kurang. Situasi seperti itulah yang menguasai ribuan orang untuk membagi, memberi roti itu kepada satu sama lain. Sikap itulah yang menjadikan roti dan ikan itu selalu cukup bahkan berkelebihan. Telapak dan genggaman tangan Yesus yang terbuka secara penuh saat memberi roti kepada para murid untuk dibagikan mengjarkan para murid untuk memberi dengan cara yang sama. Telapak tangan dan para murid yang terbuka saat membagikan roti kepada orang lain memungkinkan mereka menerima lebih banyak lagi dari Tuhan. Saat berziarah ke Israel tahun lalu saya juga sempat berdoa di gereja perbanyakan Roti tadi. Di dalam gereja itu ada tempat yang dipagar dan Tulisan Mensa Christi (Meja Kristus). Tempat itu merupakan tempat lima roti dan dua ikan diletakan sebelum dibagikan. Gereja ituberdekatan dengan gereja delapan Sabda bahagia dan gereja Pengangkatan Petrus menjadi gembali. Tempat itu berada di sebelah utara danau Galiea dan jaraknya 3 km dari kota Kafernaum.

Hari ini kita merayakan Pesta Tubuh dan Darah Kristus. Mengapa harus ada pesta seperti ini? Jawabannya, karena jiwa manusia membutuhkan makanan sebagaimana halnya badan dan fisik kita. Kalau kebutuhan fisk, tubuh jasmani kita dihidupi oleh makanan jasmani, maka jiwa kita membutuhkan makanan rohani yang secara simbolik hadir dalam ekaristi dalamnya kita menyambut tubuh dan darah Kristus. Yesus membagi dan memberi bukan sebatas kebutuhan fisik jasmani kita, melainkan memberi dan membagikan diri-Nya sendiri yang diimani hadir secara sakramental. Kalau dalam kisah perbanyakan Roti Yesus memberi roti dan ikan untuk kebutuhan fisik maka dalam pesta tubuh dan Darahnya hari ini atau dalam Ekaristi Yesus memberi dirinya secara penuh kepada kita yang mengimani dan mengamini-Nya.

Apa balasan kita, balasan Anda semua dan balasan saya terhadap kasih dan kebaikan Tuhan yang memberi hidup dan diri-Nya untuk kita? Jawabannya yang mungkin tepat untuk kita adalah belajar untuk memberi dalam kerelaan dan ketulusan. Tuhan sudah membekali kita semua dengan roti dan ikan dalam pelbagai bentuk talenta dan karunia dengan harapan agar kita bisa membagikannya kepada orang lain. Roti dan ikan kita adalah bakat-bakat kita, ilmu-ilmu kita, kebaikan-kebaikan kita, kelebihan kita. Semuanya itu akan terasa kurang jika kita gunakannya untuk diri kita sendiri. Semuanaya tidak akan berkembang kalau tetap berada dalam kepalan dan gengaman tangan kita.

Seorang Bapa namanya Pak Pelit. Suatu pagi ia melintas di bagian belakang rumah tetangganya. Pak Pelit tiba-tiba menghilang dan ternyata ia jatuh terjerumus ke dalam lubang sampah milik tetangga. Lubang sampah itu cukup dalam. Beberapa orang yang lewat di sana ingin menolong Pak Pelit. Tiga orang pertama meminta Pak Pelit untuk memberikan tangannya agar bisa ditarik keluar. Ayo, Pak BERI tanganmu biar kami menarikmu keluar. Pak Pelit tidak menanggapinya. Kemudian datang orang keempat. Ayo, Pak TERIMA tanganku biar aku manrikmu keluar. Pak Pelit menerima tangan orang itu dan ia berhasil ditarik dari lubang sampah. Ketiga orang sebelumnya heran mengapa Pak Pelit baru bereaksi kepada orang terakhir. Orang keempat itu menjalaskan. Anda bertiga salah memberi perintah kepada Pak Pelit. Anda meminta dia MEMBERI TANGAN KEPADAMU. Anda mesti tahu Pak Pelit itu seorang yang sulit MEMBERI. Karena itu dia tidak rela memberikan tangannya. Saya berhasil karena saya meminta Pak Pelit untuk MENERIMA dan itu cocok dengan sifatnya yang hanya mau MENERIMA.

Mukjizat perbanyakan Roti dalam injil tadi adalah mukjizat berkaitan dengan cara memberi. Bukan soal cara menerima. Yesus telah memberikan seluruh diri dan hidupnya untuk kita sebagai mukjizat tergaung dan termulia yang kita imani. Dia telah memberikan Tubuh dan Darah-Nya dalam ekaristi yang kita rayakan. Tujuannya agar kita belajar untuk memberi dari apa yang Tuhan berikan kepada kita melalui tugas panggilan kita. Sebagai pengikut Kristus hari ini dan di sini kita mendapat perintah dan amanat dari Yesus. Perintah Yesus singkat dan jelas: “KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN”. Sebagai orang beriman yang telah menerima Tubuh dan Darah Tuhan kita dipanggil untuk belajar dan menjadikan diri dan hidup kita sebagai pemberian kepada orang lain. Jika semangat itu ada dalam diri dan hidup kita… maka yakinlah hari ini, besok ,dan sepanjang hidup kita akan menjadi rentetan mukjizat memungkinkan semakin banyak orang mengenal dan mencintai Tuhan. Marilah kita terus belajar untuk memberi dan Tuhan memberkati kita… Amin



cLaKeT, 21 Malang 2 Juni 2013
Rm. Bone Rampung, Pr

Friday, May 31, 2013

MISA SULUNG RM.ALO J & FERDI T

Renungan Misa Pertama

Rm.Aloyisus Jonson, Pr & Rm.Ferdinandus Tahul Pr
Paroki Fransiskus Asisi Karot, Minggu, 15-8-2004


Catatan Awal:
Motto tahbisan dua imam baru yang tercetak pada kartu Undangan perlu dicermati karena ada kesalahan penulisan. Romo Ferdi mengambil motto tahbisan :Rancangan-Ku bukanlah rancangan-MU (Yes.55,8). Huruf M pada rancangan-Mu menggunakan huruf besar. Seharusnya, dan sesuai dengan teks asli menggunakan huruf m kecil karena mengacu kepada manusia. Romo Alo mengambil motto: Bertolaklah ke tempat yang dalam (tertulis: Mat.4,5). Ada dua kesalahan pada kutipan motto ini yaitu penulisan kata depan ke yang salah dan Teks injil yang tertulis salah baik pengarangnya maupun bab dan ayatnya. Kalau kita melihat Mat.4,5 maka kita akan jumpai kalimat yang berbunyi: Kemudian Iblis membawanya ke tempat suci dan menempatkannya di atas bubungan bait Allah. Teks yang pas untuk motto justru dari injil Lukas bab 5 ayat 4. Koreksi ini perlu saya sampaikan agar kita yang membaca teks berdasarkan surat Undangan tidak merasa bahwa apa yang akan saya sampaikan dalam renungan sebenatar tidak sesuai dengan teks.

Renungan
Semalam setelah pulang pentahbisan di Pateng saya bermimpi. Mimpi ini tidak bermaksud membantu para pencandu kupon putih untuk membuat analisis dan interpretasi. Dalam mimpi itu saya sepertinya sedang berjalan ke satu tempat yang ramai. Saya menyaksikan ada begitu banyak orang yang berwajah gembira berjalan ke arah yang sama. Sepertinya ada pesta besar yang hendak mereka ikuti. Masih dalam mimpi saya melintasi sebuah jembatan kecil seebelum ke tempat keramian itu. Pada tembok jembatan yang saya lewati itu saya membaca satu tulisan yang berbunyi: HARI INI, HANYA KATA PENDAHULUAN. Setelah terjaga dari mimpi, saya membayangkan kalimat itu pasti tertulis di jembatan Wae Ces sebelum ke Paroki Karot ini. Saat melintasi jembatan Wae Ces tadi, tulisan HARI INI, HANYA KATA PENDAHULUAN itu tidak saya temukan. Juga tidak saya temukan pada dekorasi misa sulung kedua imam baru kita ini. Meskipun demikian saya merasa amat tertarik untuk mamaknai, menafsir, dan menginterpretasi kalimat: HARI INI, HANYA KATA PENDAHULUAN itu dalam konteks motto tahbisan kedua imam baru ini yang diambil berdasarkan teks Yesaya (55,8) dan Teks Lukas (5,4).

Kalimat” HARI INI, HANYA KATA PENDAHULUAN” bagi saya sungguh menjadi sebuah teks atau wacana yang sarat arti dan kaya makna. Kalimat itu memang terkesan ilmiah,amat teknis bahkan sangat akademis. Tentu saja kalimat itu pas untuk dua imam baru kita yang sudah banyak makan es karena es satu mereka makan dan ada es dua mungkin sedang mereka cari. Kata pendahuluan dalam konteks akademik berkaitan dengan buku, karya tulis ilmiah (skripsi/Tesis). Bagian Pendahuluan sebuah buku, skripsi, tesis biasanya memuat secara singkat pelbagai unsur penting yang harus dijabarkan dalam bab-bab selanjutnya. Apa yang akan dijabarkan dalam bab-bab lanjutan sebagai bab inti atau bab isi tidak boleh menyimpang dari apa yang digambarkan dalam pendahuluan. Isi keseluruhan sebuah karya ilmiah secara singkat dan padat bisa dibaca pada bagaian pendahuluan. Lalu bagaimana kalau kalimat pada tembok jembatan tadi dikaitkan dengan peristiwa pentahbisan dan misa sulung dua imam kita ini? Apakah tahbisan menjadi imam bisa diibaratkan dengan sebuah karya ilmiah? Menurut saya keduanya bisa saja dibandingkan tetapi perbandingannya harus terbalik. Dalam karya ilmiah isi uraian sudah ada bahkan harus jelas, ekspilisit pada bagian pendahuluan sedang dalam penghayatan hidup sebagai seorang imam isinya tidak bisa dilihat langsung pada saat seorang ditahbiskan. Tahbisan itu barulah pendahuluan tetapi isi imamatnya akan terlihat dalam penghayatan lebih kemudian. Kiranya kita semua sepakat bahwa tahbisan hanyalah saat seseorang membuka kemungkinan untuk mengisi, memaknai peristiwa pentahbisan itu. Tahbisan menjadi imam itu hanya berlangsung dua jam tetapi hidup dalam status sebagai imam tidak lagi ada batas waktunya. Sampai di sini kita disadarkan bahwa yang paling penting itu bukan pesta tahbisan tetapi justru bagaimana hidup sebagai imam yang tertahbis. Pendahuluan karya tulis terbatas tetapi penghayatan hidup sebagai imam terjadi dari hari ke hari sepajang hidup. Setiap hari yang baru adalah pendahuluan yang baru dalam memaknai imamat itu. Kalau skripsi jelas tidak mungkin setiap hari kita membuat pendahuluan yang baru. Dalam menghayati hidup sebagai imam kita harus selalu diperbaharui dalam semangat, dalam pola kerja dan pelayanan kita.

Pentahbisan itu bagi saya hanyalah kata pendahuluan untuk seorang imam atau pastor. Mengapa? Karena kualifikasi keimaman dan kepastoran seseorang tidak secara otomatis dan komplit, sempurna terjadi saat ditahbiskan. Tahbisan hanyalah satu titik simpul atau satu titik perhentian sejenak untuk suatu perjalanan yang panjang. Kita sering mendengar ucapan salah kaprah yang mengatakan bahwa Tahbisan adalah puncak dari panggilan menjadi imam. Bagi saya tahbisan hanyalah titik star bagi seseorang untuk membuktikan apakah ia mampu berlari dalam statusnya sebagai seorang imam. Jika tidak, maka tahbisan hanyalah kenangan yang boleh dilupakan dan imamnya akan terkena peraturan eliminasi dari pertarungan kehidupan. Tahbisan adalah ritus yang mengesahkan peralihan status. Bukan isi imamat itu sendiri. Tahbisan itu ibarat proses klarifikasi dan legitimasi publik. Saat seorang ditahbiskan atau caleg dilantik kita tidak dapat membuktikan bahwa mereka sungguh imam atau sungguh wakil rakyat. Kualitas dan integritas keimaman atau status dan jabatan apa saja baru diukur ketika status itu diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan. Ini sudah sangat jelas terbaca dan terdengar dalam aneka harapan banyak orang saat seseorang ditahbiskan atau dilantik. Peristiwa pentahbisan menurut hemat saya justru menjadi saat perang antara harapan dan kecemasan. Ketika seseorang ditahbiskan ribuan umat bahkan seluruh gereja menaruh harapan akan apa yang dapat kita lakukan sebagai imam/pastor. Juga bersamaan muncul ribuan kecemasan yang membayang-bayangi pola tingkah seorang imam/pastor. Imamat kita, di hadapan banyak orang ibarat permen halia yang kadang-kadang terasa manis tetapi kadang-kadang terasa pedis. Manis dan pedis itulah hakikat permen halia; Keindahan puncak tabor dan kekejian golgota itulah gambaran kehidupan imam.

Tahbisan hanyalah kata pendahuluan. Kalimat ini, bagi saya sungguh tepat untuk dikaitkan dengan motto tahbisan dua imam baru ini. Kalau melihat tampang dua imam baru ini mungkin kita keliru karena Rm.Ferdi bertampang seperti insinyur jebolan fakultas teknik sementara Romo Alo kulit mukanya seperti kapten kapal penangkap ikan jebolan sekolah tinggi pelayaran. Tampang mereka yang unik ini mereka kaitkan dengan motto tahbisannya. RangcanganKu bukanlah rancangmu dipilih Rm. Ferdi sebagai titik pijak perziarahan keimaman dan kepastorannya.

Motto seperti ini jelas diambil dari dunia teknik rancang bangun. Motto ini mengisyaratkan kepada kita bahwa Rm.Ferdi melihat Tuhan sebagai arsitek yang merancang bangunan imamatnya. Hari Kamis lalu secara publik ia menerima sebuah gambar/denah bangunan imamat dari Tuhan sebagai arsitek andalannya. Romo Ferdi menerima rancangan/gambar bangunan imamat dari sang arsitek agung untuk dijadikan patokan dan pedoman pembangunan rumah imamatnya. Romo Ferdi ditahbiskan ibarat seorang tukang bangunan yang mendapat tender proyek imamat yang harus ia bangun. Ia menjadi pelaksana sekaligus pemilik proyek itu sementara Tuhan insinyur dan konsultannya. Tahbisannya, barulah awal atau pendahuluan untuk menerima rancangan yang Tuhan kehendaki. Sebagai pelaksana lapangan, Romo Ferdi tentu menyadari sungguh bahwa Anda mau mengabdi kepada Tuhan yang memberi rancangan bangunan imamat itu kepadamu. Yang hendak Anda bangun bukanlah rancangan Anda sendiri melainkan rancangan Tuhan. Mottomu memang bernada pernyataan tetapi berisi perintah. Mottomu bermodus deklaratif tetapi bermakna imperatif. Kalau Tuhan sendiri menegaskan bahwa Rancangan-Nya bukan rancangmu, itu secara implisit mau mengatakan kepadamu bahwa janganlah Anda membuat rancangan tandingan di hadapan Tuhan. Mottomu amat menarik tetapi ingatlah, motto itu mengharuskan Anda untuk mengalah di hadapan Tuhan. Manusia, zaman ini termasuk kita para imam, cenderung mengatur Tuhan menurut format dan rancangan kita. Mottomu mengingatkan saya pada rumusan doa yang diucapkan Uskup pentahbis saat pengenaan stola dan kasula. Di sana di katakan: pada umur mudamu engkau sendiri mengikat pinggangmu dan pergi ke mana saja engkau kehendaki, Tetapi kini engkau mengulurkan tangan dan orang lain mengikat pinggangmu lalu menuntun engkau ke tempat yang tidak kau kehendaki. Doa seperti ini jelas mempertegas identitas dan keterikatan kita setelah kita menjadi imam. Kita tidaklah muda lagi karena sudah terikat. Prinsip tua di rumah muda di jalan atau tuang di rumah om dan pak di jalanan hendaknya dihindari. Tuhan sudah membuat rancangan bagimu. Itu artinya Tuhan telah mengikatmu untuk melakukan apa yang memang dikehendaki Tuhan. Pengabdian dan pelayanan terhadap manusia itulah proyek raksasa yang dirancang Tuhan dan proyek itu diberikan kepadamu. Anda menerima rancangan itu dengan konsekuensi bahwa Anda harus setia dalam pengabdian dan pelayanan terhadap manusia dan kemanusiaan. Norma, ukuran dan patokan pelayanan telah Anda terima dari Tuhan.

Kalau Romo Ferdi menerima gambar bangunan imamatnya seperti yang Tuhan rancang, Romo Alo calon penangkap ikan ini mau menjalankan perintah Tuhan untuk berlayar ke tempat yang lebih dalam. Motto imamatnya: tegas dan jelas. Bertolaklah ke tempat yang dalam. Motto ini bermodus impratif, bernada perintah langsung. Saya sendiri heran mengapa dia memilih motto seperti ini. Alasannya karena saya tahu ia tidak bisa berenang apalagi selama berada di Kisol sebagai Frater TOP dan sebagai Dikon ia tidak pernah bercerita tentang bagaimana ia minum lumpur saat melatih berenang di parit Wae Ces. Berenang di parit saja belum pernah apalagi mau berenang di laut dan nekat mau mencari tempat yang dalam. Ya, bagi saya kalau seorang yang tidak pernah melihat laut tetapi begitu melihat laut langsung mau berenang ke tempat yang dalam, itu adalah tindakan mengusir nyawa tanpa alasan. Sejauh yang saya kenal Alo ini memang tipe manusia yang suka mencari, mengamati segala hal sampai sekecil-kecilnya. Kita bisa bertanya ke Romo Alo berapa jumlah kutu seekor anjing betina di Seminari Kisol.

Romo Alo memposisikan atau mengidentifikasikan diri sebagai seorang nelayan yang siap melakukan sesuatu sesuai dengan perintah yang diterima. Motto yang dipilih merupakan potongan kalimat panjang dan lengkap: Bertolaklah ke tempat yang dalam, dan terbarkanlah jalamu untuk menangkap ikan. Potongan motto itu memang bernada imperatif, perintah untuk bertolak ke tempat yang dalam. Perintah untuk bertolak ke tempat yang dalam saja terkesan belum bertenaga untuk melakukan dan menghasilkan sesuatu. Kita harus melihat keseluruhan konteks perikope injil itu. Kutipan teks yang lengkap sangat membantu kita memahami teks itu secara utuh. Kutipan teks yang seperti tadi akan memberikan banyak informasi untuk kita dan terutama untuk Romo Alo.

Teks Lukas memaparkan sepenggal narasi perihal pengalaman buruk yang menimpa sekelompok nelayan. Narasi versi Lukas ini amat menarik karena narasi itu dirajut dari dua sisi kehidupan antara kegagalan dan kesuksesan manusia yang berprofesi nelayan. Dari teks yang sama kita mendapatkan informasi perihal dinamika, mentalitas, cara kerja, para nelayan. Diceritakan bahwa Yesus datang ke pantai menjumpai nelayan yang tidak lagi melaut. Perahu mereka sudah dihela ke darat. Mereka semua kelihatan kecewa karena semalaman gagal menangkap ikan. Dalam kondisi demikian seorang anak tukang kayu datang dan meminta Simon untuk menghela perahunya ke laut disertai dengan perintah yang tegas: bertolaklah ke tempat yang dalam, dan tebarkanlah jala untuk menangkap ikan. Simon yang merasa diri berpengalaman sebagai nelayan dengan berat hati menerima perintah Yesus itu.

Kalau sampai seorang anak tukang kayu yang tidak pernah melihat laut, memerintah nelayan untuk bertolak ke tempat yang dalam, menebarkan jala dan menangkap ikan itu sungguh memalukan. Perintah seperti itu untuk seorang nelayan yang profesional jelas tidak perlu. Sebagai nelayan Simon sudah harus tahu bahwa kalau mau menangkap ikan maka perahunya harus diapungkan di laut. Kalau mau menangkap ikan jalanya ditebarkan di laut yang dalam. Kalau perahu hanya dibiarkan di darat itu artinya perahunya akan berubah menjadi palungan tempat makanan babi. Kalau jalanya dibentangkan saja di tepi pantai maka jala itu lebih tepat dijadikan net untuk pertandingan bola volly pantai menjelang 17 Agustus. Kalau orang mencari ikan di tempat yang dangkal itu lebih tepat disebut sebagai orang yang mandi bukan mencari ikan. Profesionalitas seorang nelayan diukur berdasarkan kemampuannya untuk menentukan cara, waktu, tempat, dan tujuan setiap kali ia melaut sesuai dengan etika profesi nelayan. Di mata Yesus Simon yang berprofesi nelayan itu, tergolong sebagai nelayan karbitan, nelayan amatiran. Bukan nelayan profesional. Mengapa? Karena ia tidak menjalankan profesinya sebagai seorang yang profesional. Perahunya ia tambat di darat. Jalanya tidak ia tebarkan. Ia takut basah dan tenggelam lalu berada di tempat yang dangkal dan kering. Kalau perahunya dan jalanya diikat di darat dan hanya mau mencari di tempat yang dangkal maka biar orang menunggu sampai kumis bercabang (dangka gipi) atau sampai rambut beruban (muwang sai) tidak mungkin ia mendapatkan ikan. Profesi dan profesinalitas seorang nelayan justru ditandai dengan suatu dinamika yang terlihat pada perahu yang selalu terpung dihempas gelombang, ditandai dengan jala yang yang selalu tertebar di laut yang dalam. Profesionlitas adalah aktivitas, dinamika, gerakan yang selalu menghadapi tantangan. Desakan dan perintah Yesus untuk Simon adalah desakan/perintah demi profesionalitas yang ditandai dinamika perjuangan penuh tantangan. Tidak ada profesi tanpa aktivitas dan tidak ada profesionlitas tanpa tantangan. Yesus sungguh memahami psikologi kehidupan nelayan. Ukuran atau takaran kualifikasi profesionalitas seorang nelayan ada dalam dinamika tantangan hempasan gelombang. Bukan dalam kesantaian bercanda di bibir pantai. Hidup seorang nelayan tidak sekadar menikmati pemandangan pantai yang indah, deburan ombak yang memukau tetapi justru harus berani menceburkan diri ke tempat yang dalam dengan risiko basah, dan mungkin juga sampai minum air garam. Dan inilah obsesi Romo Alo yang harus kita dukung dalam mengisi lembaran imamatnya.

Kita semua berbangga karena seorang manusia yang tidak pernah membuat perahu atas nama Rm.Alo ingin menjadi Simon yang akan menghela perahu imamatnya ke tengah hempasan laut yang dalam. Sebuah pilihan yang berani sekaligus menjanjikan harapan bagi kita bahwa Romo Alo mau menjadi nelayan profesional yang selalu mau mencari tempat yang dalam.

Kedua imam baru ini telah dinyatakan menang, mendapat tender untuk menjadi pelaksana proyek imamat mereka. Satunya akan menjadi pelaksana proyek di darat, dan satunya mau menjalankan proyek di laut. Romo Ferdi telah menerima rancangan dari Tuhan sendiri dan Romo Alo telah mendengar perintah Yesus untuk bertolak terus ke tempat yang dalam. Rm.Ferdi mau membawa rancangan imamatnya ke Paroki Mamba dan Rm.Alo ingin bersama kami berenang dan bertolak ke lautan yang dalam di lembaga pendidikan calon imam seminari Kisol. Itu artinya Romo Ferdi menjadi Pastor di Paroki Mamba bukan pastor Mamba saja. Dan Romo Alo menjadi imam di seminari Kisol bukan imam seminari Kisol saja. Mengapa harus ada rumusan Pastor di Mamba dan bukan Pastor Mamba saja? Imam di Seminari dan bukan Imam seminari saja? Mengapa satunya disebut pastor dan satunya di sebut imam. Saya sengaja menegaskan hal ini, supaya tidak dikritik Pater Flori yang pendek fisik tetapi selalu panjang akal itu. Menurut Pater Flori Pastor adalah sebutan bagi imam yang mempunyai umat di paroki sedangkan imam yang tidak ada umat/paroki atau sudah pensiun seperti Pater Flori harus dipanggil imam Flori dan bukan Pastor Flori. Lalu antara istilah pastor di paroki dan pastor paroki berbeda besar. Kalau pastor paroki itu artinya secara hukum ia ditempatkan di paroki tetapi de facto ia bisa berada di luar paroki lebih banyak atau menjadi pastor pengembara; pastor turis. Alasan mengapa lebih banyak di luar mungkin karena memang merasa diri sebagai pastor yang luar biasa sehingga antara pastor yang luar biasa dan pastor yang biasa di luar dianggap sama saja. Pastor Paroki bisa saja ia lebih banyak di luar parokinya karena ia merasa memang di luar banyak lebihnya untuk dia dibandingkan kalau dia menjadi pastor di parokinya dan di tempat tugasnya. Kalau pastor di paroki itu artinya baik secara de jure maupun secara de facto ia berada di paroki bersama umat yang dipercayakan kepadanya. Begitu juga istilah imam di seminari dan imam seminari. Kami tentu senang kalau Romo Ferdi menjadi pastor di Mamba dan Romo Alo imam di seminari.

Hari ini Anda berdua mulai mengisi lembaran awal ziarah imamatmu. Hari ini hanyalah kata Pendahuluan. Saya tidak berani memberikan banyak nasihat kepada Anda berdua karena takut nanti saya sendiri tidak melaksanakannya. Karena itu mungkin baik saya akhiri renungan ini dengan beberapa butir refleksi atas perjalanan imamat saya selama hampir 10 tahun. Ini sharing persaudaraan karena kebetulan saya menjadi kakakmu dalam imamat.

Anda berdua mempunyai motto tahbisan yang bagus. Motto tahbisan bagi saya sungguh menjadi nafas yang menghidupi ziarah imamat saya dengan segala tantangannya. Motto itu menjadi motor penggerak bagi saya dalam memaknai panggilan dan mengisi panggilan saya. Anda berdua memilih motto yang bagus. Jadikanlah itu sebagai nafas imamat kita.

Banyak orang menaruh harapan pada status kita sebagai imam/pastor. Harapan itu turut membentuk cara hidup kita. Ziarah imamat saya turut dibentuk oleh cara pikir dan cara pandang orang lain berupa nasihat bijak yang tidak perlu saya beli. Saya harus mendengarkan apa kata mereka karena menurut saya orang bijak yang sukses pasti memilki prinsip dalam menjalani kehidupan dengan tantangannya. Tantangan adalah bagian hidup dan panggilan kita. Orang bijak berkata bahwa di dunia ini hanya ada dua kelompok manusia yang bebas tantangan yaitu mereka yang sudah mati dan mereka yang belum lahir. Ziarah imamat kita adalah ziarah kehidupan dengan tantangannya. Yang dperlukan adalah kesabaran dan bukan kepasrahan. Tantangan pasti berlalu.

Imamat itu Prestasi bukan Prestise. Pemahaman saya akan Imamat adalah prestasi karena ternyata tidak semua orang bisa meraihnya. Imamat bagiku mahal harganya, lama proses pencapaiannya, rumit proses mewujudkannya, susah memakanainya. Saya kira bukan hanya saya yang berbangga tetapi banyak orang berbangga atas prestasi seperti ini. Tentu bukan karena saya hebat. Bagiku mau mencapai imamat bagaikan usaha memetik mawar yang ada di antara duri-duri. Mau memetik mawar harus mampu menghindari duri-duri yang menantang. Itu risiko pilihan. Kadang saya menggerutu dan bertanya mengapa Tuhan memekarkan mawar di antara duri? Mengapa imamat selalu ada tantangannya? Pertanyaanku tidak menghilangkan duri kehidupan karena itu tidak ada cara lain bagiku untuk bersyukur karena Tuhan masih memekarkan mawar indah di tengah duri-duri. Konsentarsiku cukup pada mawarnya karena toh tidak ada mawar tanpa duri. Tidak ada panggilan dan pilihan hidup tanpa tantangan.

Hari ini kita bergembira karena dua imam baru mengajak kita semua untuk hidup dalam rancangan Tuhan dan terus bertolak ke tempat yang lebih dalam. Ajakan yang sama hendaknya kita bawa ke dalam tugas dan karya kita di mana dan ke mana saja kita pergi. Kita diajak untuk selalu bercermin kepada Maria yang selalu hidup dalam rancangan Tuhan dan selalu bertolak ke tempat yang dalam. Pesta Maria diangkat ke surga dan dimuliakan Allah adalah bukti betapa Maria telah secara sempurna melaksanakan kehendak Tuhan dalam misi dan tugas panggilannya. Hari ini hanyalah Kata Pendahuluan buat dua imam dan buat kita semua. Bunda Maria doakanlah kami agar mampu mengisi lembaran kehidupan panggilan kami secara baik. Amin

Kisol, 14 Agustus 2004





















































Wednesday, May 15, 2013

HARI MINGGU PASKA VII



ROH KUDUS PEMERSATU
Kis 7:55 60; Why 22:12 14.16 17.20; Yoh 17:20 26
Paroki Blimbing, Malang Sabtu, 11 Mei 2013
GEREJA TEMPAT MENGENAL ROH KUDUS

Buka
Tema perayaan kita sore ini “Gereja Tempat Mengenal Roh Kudus” mengajak kita semua untuk menyadari kembali citra diri kita sebagai sebagai orang tertebus sekaligus terpanggil untuk meneruskan misi cinta Allah yang telah diwariskan Kristus. Gereja yang dimaksudkan dalam tema ini tentu lebih dari sekadar sebuah institusi, apalagi dimaknai sebagai gedung, bangunan fisik. Gereja yang dimaksudkan dalam tema ini tidak lain adalah diri kita. Kalau kita bersetuju dan bersepakat bahwa diri dan hidup kita adalah gereja maka betapa besarnya, betapa agung, dan betapa mulianya diri dan hidup kita. Kalau gereja itu adalah diri dan hidup kita lalu menjadi tempat kita dan orang lain mengenal Roh Kudus itu artinya diri kita memang menjadi kenisah Roh Kudus yang akan memancarkan buah-buah Roh dalam seluruh dinamika hidup kita. Kita berdoa dan menyerahkan diri kita ke dalam tuntunan kuasa Roh Kudus agar diri dan kehidupan kita mampu menumbuh kembangkan dan menumbuh suburkan buah Roh yang Tuhan tanamkan dalam diri kita. Mengawali perayaan ini baiklah kita akui kelamahan kita. Mungkin hidup kita bergerak di luar kuasa Roh Kudus karena kelemahan manusiawi kita.



Renungan

Semoga Mereka Bersatu dengan Sempurna

Kalau kita rajian membaca alkitab maka kita akan termukan berbagai kisah yang menggambarkan tentang aktivitas Yesus berkaitan dengan doa. Kita ambil saja mislanya ketika para murid tidak dapat berdoa dan meminta kepada Yesuscara berdoa yang benar, Yesus mengari mereka doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami diajarkan kepada para murid karena mereka sering salah berdoa dan juga tidak tahu berdoa. Ketidaktahuan para murid berdoa menjadi alasan bagi Yesus untuk mengajarkan dan mewariskan doa Bapa Kami yang menjadi doa yang setiap hari kita gunakan.

Hari ini Yesus berdoa bukan karena adanya desakan atau permintaan dari siapa-siapa. Meskipun tanpa desakan siapa-sia, doa Yesus hari ini bukanlah doa tanpa konteks. Hari ini Yesus berdoa karena Ia mengetahui persis apa yang akan terjadi pada diri para murid dan pengikutnya. Yesus sungguh menyadari peluang dan potensi keretakan, perpecahan yang akan dialami para pengikut-Nya kalau Dia kembali kepada Bapa setelah menjalankan ekspedisi penyelamatan umat manusia. Doa Yesus yang dinarasikan penginjil Yohanes sore ini adalah doa yang selalu dan senantiasa relevan sepanjang kehidupan manusia. Mengapa doa Yesus ini relevan sepanjang hidup- manusia? Jawabannya karena sampai kapan pun manusia itu berbeda satu sama lain dalam pelbagai aspeknya. Perbdaan-perbedaan di antara manusia itulah yang berpeluang menjadi amunisi yang akan meluluhlantakkan dimensi pesatuan dan kesatuan manusia. Yesus jelas tidak menghendaki misi penyelamatan yang telah dilaksankan-Nya secara sempurna ternoda oleh perpecahan di antara manusia.

Yesus berdoa kepada Bapa Nya dengan intensi yang satu, tunggal yaitu agar manusia, satu dan bersatu. Intensi dan kerinduan Yesus agar manusia bersatu itu harus sampai pada tingakatan kuliatas prima. Dia berdoa adagarpersatuan dan kesatuan itu dalam kondisi yang sempurna. Semoga mereka bersatu dengan sempurna. Bersatu dengan sempurna berarti pula persatuan dan kesatuan yang didasarkan kasih, kasih yang dilandasi ketulusan dan keterbukaan. Persatuan dan kesatuan dalam kualifikasi sempurna yang dikehendaki berarti pula mengharuskan dan mewajibkan manusia, kita pra pengikutnya berada dalam proses komunikasi yang utuh. Bukan bersatu dalam komunikasi yang pincang karena pertimbangan untung rugi. Model komunikasi yang utuh itu diungkap secara jelas dalam doa Yesus tadi. Yesus berdoa agar para murid Nya bersatu. Kesatuan yang dirindukan dan diharapkan Yesus adalah kesatuan dalam arti luas. Doa Yesus seperti dinarasikan penginjil tadi adalah doa persatuan dan kesatuan yang ditumpukan pada tiga pilar penting yang berkaitan dengan diri sendiri, berkaitan dengan sesama, dan akhirnya berkaitan dengan Tuhan. Tiga sasaran kerinduan Yesus tidak lain agar manusia bisa bersatu dengan dirinya sendiri, bersatu dengan sesamanya, dan bersatu dengan Tuhannya. Tiga matra ini berada dalam tangga hierarkis artinya. Manusia tidak mungkin menjalin persatuan dengan orang lain kalau belum bisa bersatu dan berdamai dengan dirinya sendiri. Lebih dari itu manusia sebagai pribadi tidak mungkin berdamai dengan Tuhan jika tidak bisa berdamai dan bersatu dengan sesamannya. Tiga tiang topangan ini harus berada dalam posisi yang seimbang agar kita bisa berdiri tegak dihadapan Tuhan ketika menghadapi takhta pengadilan terakhir.

Kita bersyukur karena kita memunyai orang pendoa sepanjang masa dengan intensi yang satu yaitu untuk persatuan di antara manusia. Doa Yesus sungguh meneguhkan sekaligus menuntut kita untuk bersatu ke dalam diri sendiri, bersatu keluar terhadap sesama dan bersatu ke atas terhadap Tuhan. Yesus berdoa untuk para murid agar mereka tidak hanya bersatu ke dalam di antara mereka sen¬diri, tetapi juga mereka bersatu ke luar, dengan orang orang lain, simpatisan Kristus sendiri, dan akhirnya bersatu dengan Tuhan sendiri. "Bapa yang kudus, Aku berdoa bukan untuk mereka saja, melainkan juga untuk orang orang yang percaya kepada Ku oleh pemberitaan mereka, supaya mereka semua menjadi satu sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan AKu di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita." Inilah tiga dimensi persatuan dan kesatuan yang menjadi intesi utama doa Yesus sendiri. Persatuan dan kesatuan di antara para murid sendiri, persatuan dengan orang orang lain dan persatuan, dan kesatuan dengan Tuhan sendiri.

Persatuan dan kesatuan yang utuh seperti yang didoakan dan dihar¬apkan Yesus ini tidak terlalu mudah untuk dicapai. Persatuan ke dalam saja di antara para murid sering sering sulit terpenuhi, karena perbedaan watak, pandangan, pikiran. Ingat saja misalnya Yudas Iskariot, murid yang mengkhianati Yesus, ia keluar dari kelompok keduabelasan para rasul, hanya karena kepentingan uang dan egoisme. Itu persatuan dan kesatuan ke dalam. Belum lagi persatuan ke luar dengan orang orang lain, yang tidak mempunyai dasar hubungan apa pun.

Sejak awal, Gereja yang satu dan sama "memiliki kemajemukan yang luar biasa. Pada satu sisi kemajemukan itu disebabkan perbe¬daan anugerah anugerah Allah, tetapi pada sisi lain kemajemukan itu terjadi karena keanekaan orang yang menerima anugerah Tuhan. Kita sungguh menyadari bahwa dalam gereja Tuhan menganugerahkan pelbagai karunia Roh Kudus dengan buah-buahnya. Perbedaan dalam karunia ini juga berpeluang menjadi pemicu terkikisnya persatuan. Dalam kesatuan umat Allah semua perbedaan itu bukanlah untuk dipertentangkan tetapi untuk diberdayakan dalam rangka menegakkan kerajaan Allah di dunia dan dalam kehidupan kita.

Tentu kita bersyukur kepada Tuhan karena Yesus tetap menjadi pendoa bagi persekutuan dan persatuan di antara kita yang masih hidup di dunia. Yesus yang kembali kepada Bapa tetap menyertai kita dengan kekuatan kuasanya yang tidak dapat dilawan dengan kekuatan apa pun. Yesus membentengi kita dan siapa saja yang percaya kepada-Nya dengan kekuatan Roh Kudus yang dijanjikan-Nya dan kini tengah kita nantikan sampai kita diurapi kuasa Roh Kudus itu pada hari pentakosta. Roh Kudus yang dijanjikan dan yang akan kita terima akan menjadikan kita berada dalam kuasa dan tuntunan Roh dengan harapan untuk menumbuhkembangkan benih-benih Roh yang memungkinkan semakin banyak orang mengenal dan mencintai Tuhan.

Bagimana caranya supaya persatuan dan kesatuan yang Tuhan harapan itu terjadi dalam kehidupan kita? Jawabannya ada dalam kata-kata Yesus tadi. Kalau mau agar persatuan dan kesatuan itu terjadi dan berbuah dalam kehidupan kita maka kita harus berani membuat pilihan kata yang baru. Pilihan kata yang baru seperti dirumuskan Yesu dalam doa-Nya tadi. Yesus mengubah kata aku menjadi kita. Itu artinya, Yesus menghendaki jika kita ingin mewujudkan perstuan dan eksatian dalam kuasa Roh Kudus maka kita harus mengurang bahkan harus menghilangkan kata “AKU” dan menggantinmya dengan kata “KITA”. Sama seperti Engkau ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereja juga di dalam KITA. Rumusan ini merupakan kalimat kunci untuk terbinanya persatuan dalam Roh. Ketika AKU menjadi pusat, orang cenderung ingat diri dan bertindak untuk diri sendiri dan itulah awal perpecahan. Tetapi, ketika semua orang menggunakan kata “KITA” di sana ada tenggang rasa, di sana ada simpati, di sana ada empati. Ketika kata KITA menjadi corak bahasa dan corak perilaku kita maka yang ada adalah damai. Damai adalah tanda adanya komunikasi dan kominikasi dalam arti sebenarnya itu adalah pilihan bahasa untuk menggunkan kata KITA.

Marilah kita mengedepankan pilihan Bahasa dan kata “KITA” dan bukan kata dan bahasa “AKU” agar doa Yesus untuk pesatuan dan kesatuan kita hari ini bermakna bagi perjalanan kita. Ingatlah, kata AKU adalah bahasa pemisahan diri tetapi kata KITA adalah bahasa yang mempersatuan karena dalam kata KITA aku dan Kau melebur untuk bertumbuhnya buah-buah Roh yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, dan kesetiaan. Tuhan memberkati kita….

Saturday, April 6, 2013

MISA PERINGATAN 40 MALAM

Renungan 40 Hari Bpk.Sebastianus Gudat , Jumat, 5 April 2013
Rat.3,22-36; Mat.11,25-30
Lingkungan Sawojajar, Paroki Ksatrian Malang

Kalau saat ini saya meminta semua kita yang hadir dalam perayaan ini mencari sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan kelahiran dan kematian seorang manusia, kita akan menemukan kata apa? Jawaban yang pasti dan benar hanya satu kata yaitu MENANGIS. Dengan dan dalam Menangis inilah kehidupan dan kematian seorang manusia tersimpulkan secara singkat. Mengpa tangisan sebagai ringkasa kehidupan? Alasannya karena ketika seorang manusia lahir dia harus menangis, kalau tidak menangis dipkasakan untuk menangis. Ketika seornag manusia menginggal orang juga menangis biasanya spontan tanpa paksaan seperti halnya saat seorang bayi lahir. Kelahiran ditandai tangisan, kematian pun ditandai tangisan. Bedanya, saat lahir yang menangis adalah yang datang sedangkan pada saat kematian seseorang yang menagis adalah yang ditinggalkan. Saat lahir yang menagis hanyalah yang datang karena orang-orang yang menunggu kelahiran akan bergembira. Saat kematian yang menangis justru orang banyak yang ditinggalkan sementara yang pergi tentu akan bergembira.

Menagis dan air mata adalah bahasa universal karena dialami semua manusia dari segala bangsa tanpa pengecualian. Tangisan dan air mata itu bermakna ganda karena ia membahasa kegembiraan tetapi sekaligus juga membahasakan kesedihan. Tangisan bermakna ganda, karena terjadi pada dua situasi, dua alam kehidupan fana dan alam kehidupan baka.

Malam ini kita semua dan seluruh keluarga mengakhiri masa tangisan bagi kepergian Almahum Bapak Sebastianus Gudat karena kita yakin Kristus sebagai yang pertama bangkit dan masuk kemuliaan kekal akan membawa Almahum menkmati kemiliaan. Doa kita dan korban ekaristi adalah jaminan sukacita baik bagi kita yang ditinggalkan mmaupun bagi almahum yang pergi meninggalkan kita.

Tidak terasa, 40 hari, seorang yang kita kenal, yang kita cintai dan kasihi Bapak Sebast Gudat telah mengikuti panggilan mudik abadi. Peristiwa dan giliran mudik abadi bagi Pak Sebast adalah undangan Tuhan pencipta yang pada waktunya yang pasti dan tepat akan mendatangi kita sesuai dengan agenda kerja Tuhan. Kapan undangan mudik abadi bagi setiap kita akan tiba tidak kita ketahui. Semua kita tahu bahwa pada suatu saat kita juga akan berangkat. Kapan, dengan cara bagaimana dari dari mana kita diundang juga misterius bagi kita. Yang kita tahu hanyalah kita akan manti. Kepastian itulah yang membuat setiap orang terpaku, diam, membisu dihadapan jenazah menangisi kematian seseorang. Karena itu, dalam nada yang terkesan ekstrem penyair Chairil Anwar pernah berkata: Hidup, hanyalah menunda kekalahan. Keterpakuan, keterdiaman, kebisuan kita berhadapan dengan realitas kematian tentu saja harus menjadi sebuah kebisuan, keterpakuan dan keterdiaman yang kreatif. Artinya apa? Artinya pada saat diam, terpaku, diam membisu itu sebagai orang beriman kita tentu membayangkan akhir dari kehidupan kita sendiri. Sebagai orang yang mengimani Tuhan dalam keadaan diam trerpaku, diam membisu seperti itu kita disadarkan untuk yakin bahwa Tuhan sebagai asal kehidupan pada waktunya memanggil pulang setiap orang untuk kembali. Kita Ratapan dalam bacaan pertama menjadi dasar harapan kita. Sebagai orang beriman yang berpengahrapan kita boleh berdoa seperti penulis Kitab Ratapan tadi: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. Adalah baik menantikan pertolongan TUHAN.

Karena semua kita pasti akan menerima undangan eksklusif untuk ikut mudik abadi, maka satu-satunya jalan yang bisa kita lakukan berhadapan dengan kematian adalah menjalani kehidupan sebagai saat yang baik untuk selalu dan senantiasa berkenan kepada Tuhan. Hidup yang berkenan kepada Tuhan itu akan menggaransi atau menjamin keberkenanan Tuhan atas diri dan kehidupan kita. Segmen injil Matius tadi secara eksplisit menuntut manusia untuk hidup berkenan pada Tuhan. Hanya dengan itu, Manusia akan dibawa Yesus kepada Bapa. Hanya hidup yang berkenan kepada Tuhan memungkinkan Yesus yang mengenal Bapa akan memperkenalkan Bapa itu kepada setiap orang beriman. Dengan begitu, undangan Yesus untuk setiap orang adalah undangan tanda perkenanan manusia pada Tuhan. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Kata-kata dan undangan Tuhan, Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu merupakan undangan untuk setiap orang yang hidup dan berkenan kepada Tuhan. Hidup berkenan pada Tuhan adalah hidup dalam kelemahalembutan dan kerendahan hati sebagaimana diteladankan Yesus. “belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Di sini jelas sekali bagi kita bahwa ketengan jiwa adalah buah dari suatu kehiudpan yang berkenan kepada Tuhan.

Harapan dan kerinduan setiap kita manusia beriman adalah ketenagan jiwa ketika undangan mudik itu menghampiri kita. Untuk itu tentu sebagai orang beriman kita dituntut untuk menggunakan strategi penghampiran undangan itu secara tepat. Dalam konteks era digital dan kemajuan komunikasi saat ini, diri dan kehidupan kita harus selalu berada dalam kondisi aktif (on) ibarat telepon genggam (Hand Phone) karena Tuhan pada waktu yang tidak kita ketahui akan melakukan panggilan. Untuk bisa terus aktif HP kehidupan dan diri kita harus selalu diberi tenaga. Kalau kekuatan baterai HP kehidupan kita lemah kita tidak mungkin menjawab panggilan itu secara baik. Dengan kata lain, semua kita diharapkan menyiapkan strategi menjawab panggilan Tuhan. Ketika dipanggil untuk mudik manusia akan melintasi tiga jarur utama. Pilihan jalur itu akan menentukan ke mana dan di mana manusia yang mudik itu tiba.

Semua kita mengetahui dan pernah belajar dalam katekismus bahwa ada tiga pintu terminal kedatangan bagi manusia-manusia yang mudik abadi. Ketiga pintu terminal kedatangan itu berkode S, berkode T, dan pintu N (Surga, Transit+api penyucian, Neraka). Ketiga pintu itu terbuka untuk semua pemudik ketika kematian tiba. Jumlah orang yang mengarah ke pintu-pintu itu amat bervariasi. Ada pintu yang sepi ditunggui, tetapi ada pula pintu yang tidak pernah sepi pengunjung. Pintu pertama berkode S (surga) itu biasanya diperebutkan dan diperjuangkan banyak orang karena di balik pintu ini terdapat kebahagiaan kekal. Pintu ini akan dilewati oleh orang¬-orang yang selama hidupnya berusaha untuk hidup berkenan kepada Allah dan kepada sesama. Pintu kedua (T) adalah api penyucian, yaitu tempat seseorang mengalami proses pemurnian sebelum sampai kepada Allah. Tempat ini boleh dikatakan sebagai pintu bagi mereka yang akan transisit ke pintu berkode S karena mereka dianggap belum membawa kelengkapan adminstrasi secara lengkap. Dokumen mereka itu masih harus dilengkapi. Mereka yang berada di pintu berkode T ibarat orang yang kelengkapan portofolionya belum lengkap dan harus segera dilengkapi.

Bagi mereka yang terpaksa berada pada pintu kedua ini, tidak bisa lagi mengurus sendiri kelengkapan dokumen mereka. Mereka itu harus dibantu oleh kita yang masih hidup. Untuk melengkapi dokumen portofolio mereka itu, kita tidak perlu membuat surat tugas, surat keterangan, surat perjalanan apalagi kalau itu hanya fiktif tetapi diganti dengan Doa-doa kita. Doa-doa kita ibarat pelengkap dokumen portofolio bagi saudara kita yang masih berada di pintu terminal transit. Doa kita yang penuh iman dan pengharapan akan mempercepat proses sertifikasi mereka masuk surga. Dan pintu ketiga adalah pintu neraka, yaitu tempat jiwa-jiwa disiksa karena selama hidupnya di dunia tidak hidup sesuai dengan kehendak Allah. Yang masuk ke sana ibarat orang yang tidak memiliki dokumen apapun yang dipakai sebagai bahan pertimbangan tim asesor di tingkat pengadilan terakhir.

Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk masuk ke tiga pintu tadi. Dan saya kira semua orang tidak mengharapkan untuk masuk pintu kedua, apalagi pintu ketiga. Semua orang menginginkan agar pada waktu kematian, orang bisa memasuki pintu pertama sehingga boleh menikmati kebahagiaan kekal bersama bapa di surga dan bersama mereka yang telah mendahului kita. Kehadiran kita saat ini merupakan cara dan bentuk yang kita pilih untuk melengkapi dokumen portofolio bagi Almarhum Pak Sebast yang mudik 40 hari lalu seandainya dokumen yang dibawanya masih kurang dan perlu dilengkapi. Doa-doa kita dan keluarga adalah dokumen yang melapangkan jalan baginya untuk mendapat sertifkat masuk komunitas Surga. Sebagai orang beriman tentu kita yakin Pak Sebast Lulus tanpa syarat dan memenuhi undangan Kristus untuk menjadikan jiwanya berada dalam ketenangan. Kalau dia lulus tanpa syarat doa-doa kita tentu tidak sia-sia, karena dalam ajaran dan keyakinan kita, doa-doa kita akan dialihkan kepada orang lain yang masih berada di terminal transit itu.

Kalau kita yakin bahwa hidup kita di dunia ini ibarat perjalanan untuk mengumpulkan semua sertifikat dan dokumen portofolio maka tentu kita akan berjuang mengumpulkan sebanyak-banyak. Portofolio jenis ini bukan yang dibuat-buat, dimanipulasi, direkayasa tetapi sungguh-sungguh asli berupa kebaikan, kebajikan yang kita gelarkan selama hidup. Dalam iman kita percaya bahwa 40 hari lalu Pak Sebast menjawab Undangan Yesus ini, “Pak Sebast, Marilah dan datanglah kepada-Ku biar jiwamu mendapatkan ketenangan”. Dalam iman pula kita yakin sejak 40 hari yang lalu sampai kekal Pak Sebast berujar ibarat penulis kitab Ratapan tadi: Tidak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, sungguh besar Kasih Setia-Nya, dan TUHAN adalah BAGIAN JIWAKU karena Aku berharap kepada-Nya.

Semoga kepulangan Pak Sebast memberi inspirasi bagi perjalanan hidup kita untuk selalu berkenan kepada Tuhan dan sesama kita. Tuhan memberkati kita… Amin

Friday, March 29, 2013

RENUNGAN MALAM PASKA

Renungan Malam Paska, 30 Maret 2013
Kej.22,1-18; Ke114,15-15,1; Yes.55,1-11;Rm.6,3-11; Luk.24,1-12
Komunitas Alma, IPI Malang


Ilustrasi
Kalau musim hujan berkepanjangan kodok pun berbunyi. Juga kalau musim hujan berkepanjangan biasanya ada binatang lain yang keluar dari bumi. Kalau binantang itu keluar itu menjadi tanda bahwa hujan sangat lebat. Binatang itu juga biasanya menjadi makanan para kodok. Apa nama binatang itu? Itu namanya LARON (Jawa) atau KELEKATU. Kalau Kodok punya kisah, LARON pun punya Cerita. Mengawali homili ini saya menyampaikan cerita tentang LARON.

Ketika hujan menembusi bumi, air masuk membasahi sarang anai-anai di dalam tanah. Anai-anai yang bersayap yang disebut Laron itu berjuang keluar dari kegelapan sarang di dalam tanah dan ingin terbang. Ketika berhasil keluar dari dalam tanah segerombolan Laron binging dan terkejut karena ternyata dunia ini sangat luas. Yang lebih mengejutkan mereka adalah adanya terang dan cahaya yang sebelumnya tidak mereka alami. Untuk mengatasi kebingungan itu, ketua rombongan laron itu mengumpulkan semua temannya yang baru keluar dari kegelapan. Mereka berkumpul untuk mencari tahu dengan pasti apa sebenarnya terang atau cahaya yang membingungkan itu.

Setelah berkumpul, para laron bersepakat membentuk tiga kelompok masing-masing 5 ekor laron. Ketiga kelompok diutus untuk terbang pergi mencari tempat yang ada cahaya, terang. Setiap kelompok harus meneliti, mencatat, dan melaporkan hasil penelitian kelompoknya kepada laron lain yang menunggu. Kelompok laron pertama terbang ke tempat sebuah api unggun milik pramuka yang lagi berkemah. Anggota kelompok ini terbang mendekati api unggun itu dan merasakan panas yang mengancam keselamatan mereka. Mereka kembali dan melaporkan bahwa cahaya atau terang itu adalah sesuatu yang mengancam kehidupan siapa saja yang mendekatinya. Cahaya dan terang adalah sumber bencana. Kelompok kedua, terbang ke sebuah rumah mewah yang dihiasi lampu-lampu kristal yang membuat laron-laron itu harus menabrak dinding-dinding kaca. Kelompok ini pulang dan melaporkan bahwa cahaya dan terang itu ada perangkap dan jebakan yang dibuat orang kaya.

Kelompok ketiga setelah ditunggu lama, tidak pulang-pulang juga. Semua laron mulai cemas dan gelisah menunggu teman mereka yang belum juga pulang melaporkan hasil penelitian mereka. Karena tidak sabar menunggu semua laron itu terbang mencari cahaya. Dari kejauhkan mereka melihat seberkas cahaya melalui celah dinding sebuah pondok milik petani. Cahaya itu berasal dari lampu sumbuh sebuah lampu pelita. Ternyata benar kelompok ketiga yang dicari melakukan penelitian di tempat itu. Mengapa mereka tidak pulang? Ternyata setiap anggota kelompoknya berusaha terbang dan menempel pada sumbuh pelita milik petani itu. Lima ekor laron, tertempel dan melekat rapi pada sumbuh lampu itu yang menjadikan terangnya lebih besar menerang seluruh ruang pondok itu. Betapa terkejutnya para laron yang datang mencari meraka karena kelima teman mereka telah menyatu dan memperbesar sumbuh sebuah lampu yang kecil. Dalam nada kagum dan penuh rasa bangga mereka berujar: Sesungguhnya kelima Saudara kita inilah yang telah mendapat arti, dan makna terang yang sesungguhnya karena mereka sendiri telah menjadi bagian dari sumber terang itu. Semua laron itu mendapatkan pelajaran yang agung dan mulia melalui lima saudara mereka yang tidak saja mencari arti terang dan cahaya tetapi justru telah menjadi sumber dan cahaya. Lalu semuanya pulang dan terus menceritakan keberanian teman mereka. Berkisah tentang perjuangan menjadi terang dan cahaya.

Malam ini kita menyaksikan dua kenyataan yang mewarnai kehidupan kita. Dua kenyataan itu adalah Kegelapan dan Terang. Situasi gelap dan terang tidak bisa dilepaskan dari pengalaman hidup kita. Upacara kita malam ini sesungguhnya menggambarkan kehidupan kita sebenarnya. Sebelum lilin Paska dinyalakan kita mengalami suasana gelap ibaran Laron-laron yang ada dalam kegelapan. Begitu lilin paska dinyalakan kegelapan tersingkir dan terang bersinar. Ketika kegelapan menyelimuti kita, kita sekan kehilangan harapan. Ketika siang berubah menjadi malam segalanya seakan diam, lumpuh. Sebaliknya, ketika mentari kembali dengan setia mendapati kita waktu fajar, ada harapan bersemi di sana. Ada nuansa kehidupan hendak ditawarkan buat kita setiap kali matahari dengan setia mendatangi kita.

Firman Tuhan yang diperdengarkan kepada kita malam ini mau menggambarkan sejarah perjalanan hidup manusia dengan segala suka dukanya. Bacaan bacaan malam ini memberikan kita gambaran tentang jatuh bangun kehidupan dan perjalanan manusia. Manusia mengalami suka duka, termasuk ketika manusia berhadapan dengan Tuhan sebagai asal dan tujuan hidupnya. Kisah sejarah perjalanan bangsa manusia penuh dengan pelbagai hal yang membingungkan. Bangsa manusia bagaikan sekawanan Laron yang mengalami kebingungan ketika berada dalam dunia yang nyata. Kebingungan manusia itu terjadi sejak perjanjian lama. Dari kisah yang ditampifkan melalui kitab-kitab perjanjian lama tadi kita mengetahui secara pasti bahwa perjalanan manusia itu memang selalu diuji. Iman Abram diuji, kesetiaannya dicoba Allah dengan meminta mengorbankan Ishak putra tunggalnya. Bangsa Israel yang mengalami penindasan oleh kekuasaan di Mesir, dikejar pasukan Firaun. Semuanya menggambarkan betapa perjalanan manusia itu penuh cobaan. Tetapi Tuhan yang menjadi tujuan manusia senantiasa memberikan jalan yang terbaik.

la masih membuka jalan bagi Israel yang setia. Laut menjadi kering dan tiang cahaya senantiasa menuntutun bangsa yang setia pada jalan keselamatan. Allah yang adalah kasih, tetap mencintai manusia yang sering jatuh ke dalam dosa. Ketika manusia berdosa, manusia berada dalam kegelapan. Tetapi, ketika manusia ingin dan berniat untuk keluar dari dosanya di sanalah ia masuk ke dunia yang bercahaya dan terang.

Malam yang gelap adalah gambaran kematian atau hidup tanpa harapan, dan siang yang cerah adalah gambaran kehidupan yang penuh harapan. Kegelapan adalah kematian dan sebaliknya terang adalah gambaran kehidupan. Kenyataan kematian dan kehidupan inilah yang kita rayakan selama pekan suci ini. Kita telah menyaksikan betapa kegelapan menguasai manusia sehingga Yesus Putra Allah disalibkan. Malam ini kita menyaksikan sendiri bagaimana terang sebagai buah kebangkitan menerangi kehidupan kita. Malam ini kita semua menyaksikan Tuhan yang bangkit, Tuhan yang memberikan cahaya buat kehidupan kita, Tuhan yang memberikan semangat baru bagi kehidupan. Karena itu malam ini kita semua dibebaskan dari kebingungan yang sering kita alami karena cahaya Kristus menghalaukan segalanya.

Penginjil Lukas malam ini juga menampilkan kebingungan sekelompok perempuan yang datang ke makam Yesus. Sekelompok perempuan yang berjalan ke makam Yesus bagaikan gerombolan laron yang mau mencari terang pada sumber terang yang sebenarnya. Mereka berziarah ke makam Yesus dengan segala perlengkapan sebagai ungkapan berbela sungkawa. Lebih dari itu kelom[pok perempuan itu datang ke makam untuk mencari sesuatu yang hilang. Mereka mau mencari Tuhan yang diyakini sebagai sumber kehidupan dan harapan. Mereka ke makam untuk mencari tetapi mereka mengalami kebingungan karena tempat pemakaman Yesus sudah terbuka dan kasong. Dalam kebingunan itu mereka mendapat penjelasan Malaikat sehingga sepulang dari sana mereka menceritakan apa yang sebenarnaya, apa yang ssungguhnya terjadi. Kesaksian sekelompok perempuan itulah yang memungkinkan terang kebangkitan Tuhan semakin terpancar luas kepada orang-orang yang mendengarkan kesaksian mereka termasuk kelompok para murid.

Tangggal 26 Juni 2011 saya memipin perayaan ekaristi di gereja taman Getzemani dan tanggal 27 Juni saya bersama rombongan peziarah mengadakan jalan salib ke gereja makam kudus di Golgota. Jalan salib ke Golgota itu dimulai dari Gereja Santa Anna dan Yoyakim dan harus melintasi pasar menuju Gereja Makam Kudus. Jalan salib itu perhentian 1-9 terjadi dilorong-lorng pasar sedangkan perhentian 10-14 berada dalam Gereja Makam Kudus dan umumnya berada dalam keheningan yang luar biasa. Di dalam gereja Golgota setiap peziarah berkesempatan memmaski tempat paling kudus selama setengah menit untuk mencium tempat di mana Yesus mengalirkan darah dan menyerahkan nyawanya di salib. Kita masuk melalui rungan yang sempit menyerupai tirai yang terbelah. Setelah keluar dari tempat itu kita sampai ke tempat di mana banyak orang dari segala bangsa manangis dan meratap, membakar kemenyan dan menabur bunga. Di situ ada batu pualam yang menyerupai tikar yang tebentang dan tempat itu merupkan tempat jezanah Yesus dibaringkan saat diberi rempa-rempa dan dikafani. Dari tempat itu, kita harus menaiki belasan anak tangga dan kita memasuki tempat makam kudus. Di tempat itu setiap peziarah berlutut dan berkesempatan masuk dan mencim makam kudus. Di ata makam kudus itu sebuah salib besar yang diapiti arca Bunda Maria dan Rasul Yohanes. Kiri kanan makam terlihat malaikat-malaikat seperti dikisahkan dalam injil tadi. Sebagai salah seorang yang umat Tuhan yang berkesempatan berziarah ke tanah Suci saya selalu menceritakan apa yang saya lihat dan alami selama 2 minggu berziarah di sana. Maksudnya sama seperti para wanita dalam injil tadi, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan dialami di sana.

Malam ini kita menerima terang Kristus yang bangkit karena kita yakin kebangkitan Yesus sebagai kebenaran yang harus dikatakan, diwartakan dalam kehidupan kita. Itu artinya kita menerima semangat Kristus. Menerima hidup yang diselamatkan dan tertebus karena itu kita semua yang mendapat terang berkewajiban untuk membagikan terang itu kepada sesama kita. Terang yang kita dapatkan dari Tuhan harus kita bawa dan nyalakan dalam kehidupan harian kita.

Sebagai orang beriman kita-saya dan Anda- harus segera menjadi bagian dari terang itu untuk kita bawa dalam seluruh tugas, karya pelayanan kita. Dunia tempat kita hidup, tempat kita bekerja mungkin masih banyak gelapnya. Tugas kita yang telah menerima terang dan telah menjadi bagian dari terang itu adalah mengatasi kegelapan-kegelapan yang terjelma dalam bentuk praktik hidup yang berlawanan dengan kehendak Tuhan. Di mana saja kita hidup, dan kita hidup sebagai apa itu tidak penting. Yang paling penting kita menjadikan diri kita sebagai terang karena sadar bahwa terang kita bukan dari diri kita tetapi bersumber pada Yesus sang Terang sejati.

Kita lebih dari seekor laron. Karena itu kalau kisah tentang laron membuat kita kagum maka betapa lebih mengaumkan lagi kalau kita menjadi terang. Kita telah membawa lilin sebagai simbol terang Kristus. Lebih dari itu malam kita sudah menjadi sepotong lilin yang bernyala. Mudah mudahan kita menjadi lilin hidup di tempat tugas dan karya kita. Orang bijak pernah bilang: tak ada gunanya engkau menggerutu ketika kegelapan menimpa engkau. Adalah lebih bijaksana bagimu kalau dalam kegelapan engkau berusaha menyalakan sebuah lilin. Tak ada gunanya engkau mengutuk kegelapan dunia kalau kamu tak rela tampil sebagai sebatang lilin yang bernyala di tengah kegelapan. Berkat untuk untuk kita… Amin



Tuhan Bangkit Alleluya….