Saturday, October 13, 2012

MISA PERINGATAN ARWAH

-->
Misa Peringatan Arwah
Yesaya 35,1-10; Matius 21,18-22
Lingkungan Paroki Lawang Malang 9 Oktober 2012

Buka

Tanpa kita sadari seorang yang kita cinta, Almarhum.....hari lalu telah mudik ke rumah Bapa dan meninggalkan kita semua. Yang tertinggal hanyalah aneka kisah dan kenangan tentang segala perbuatan baik dan amalnya selama hidup. Saat ini kita datang untuk mengenangkan kisah mudik almarhum. Bagi kita, Amatlah penting mengenangkan kembali orang pernah hidup bersama kita. Setiap kali kita mengenang kehidupan orang yang telah meninggal, kita mungkin merasa sedih. Sedih  dan menangis bukanlah sesuatu yang buruk. Bahkan dikatakan, itu baik dan bahkan perlu. Kalau kita berusaha untuk menekan perasaan sedih itu maka kita pasti akan merasa sakit.

Kita semua tentu ingin dikenang. Jesus sendiri pun ingin dikenang. Dia meninggalkan bagi kita suatu cara untuk mengenangkan Dia yaitu melalui Ekaristi. Dalam dan melalui Ekaristi Dia  hadir bersama kita. Bukan suatu kehadiran fisik tetapi secara rohani: Suatu kehadiran nyata yang mengatasi ruang dan waktu. Dengan demikian kita masuk dalam suatu relasi dengan Dia lebih dalam daripada relasi melalui kehadiran fisik. Kita tidak hanya berkomunikasi dengan Dia tetapi kita bersatu dengan Dia. Orang-orang yang kita cintai yang telah meninggal dunia, termasuk almarhum.... tidak pernah hilang, tidak pernah dipisahkan dari kita. Dalam konteks itulah malam ini semua kita hadir dan mau bersyukur kepada Allah atas anugerah hidup yang telah Ia berikan kepada almarhum.  Agar syukur dan doa-doa kita berkenan pada Tuhan mari kita akui aneka kealpaan dan kelemahan kita...

 

Renungan

Harian Kompas edisi Minggu 29 Januari 2012 memuat sebuah cerita Pendek berjudul ”Pohon Hayat”. Pohon Hayat yang menjuduli cerpen itu adalah sebatang pohon raksasa yang tumbuh di alun-alun kota. Seorang kakek bercerita kepada cucunya tentang pohon itu. Suatu hari sang cucu meminta kakek membawanya ke alun-alun kota untuk melihat pohon yang diceritakan itu. Setiba di alun-alun keduanya langsung menuju pohon yang besar, tinggi, dan rindang itu. Kakek menceritakan kepada cucunya bahwa pohon itu tidak diketahui kapan ditanam dan juga tidak diketahui siapa yang menanamnya.  Setelah keduanya berteduh, sang kakek mengajak cucunya untuk menengadah mengamati dahan, ranting, dan daun-daun pohon itu. Sambil mengamati bagian pohon itu, sang kakek berkata kepada cucunya, lihat dan tahukah kamu bahwa ada banyak misteri terungkap dari dahan, ranting, dan daun pohon ini? Setelah lelah mengamati bagian-bagian pohon raksasa itu sang kakek melanjutkan pembicaraannya kepada cucunya, katanya:  kehidupan setiap penduduk di kota ini tersemat pada setiap lembaran daun yang bertengger di cabang, ranting, dan tangkai pohon ini. Setiap kali ada satu daun yang gugur itu artinya ada seseorang di kota ini telah lepas dari kehidupan. Satu daun artinya satu kehidupan, Satu daun adalah satu jiwa, begitu kisah sang kakek.

Setelah mendengarkan penjelasan kekeknya, mata sang cucunya mengamati banyak daun kering berserakan dan terinjak-injak orang yang datang ke alaun-alun kota. Lalu terjadilah dialog antara sang kakek dan cucunya. ”Apakah daun-daun kering yang berserakan ini adalah jasad orang-orang yang sudah mati?” tanya sang cucu sambil memperlihatan daun-daun kering. ”Ya, daun-daun itu adalah sisa jasad mereka dari pohon kehidupan.” ”Berarti  termasuk bekas jasad ayah ada di antara daun-daun kering itu?” lanjut sang cucu. ”Mungkin. Tetapi kakek kira, jasad ayahmu kini sudah menyatu kembali dengan tanah.” Mengapa daun-daun kering itu tidak dibersihkan atau dibakar saja.” ”Tak perlu, karena lambat laun mereka juga akan kembali ke muasalnya, tanah, melebur menjadi tanah. Dari tanah kembali ke tanah.”
”Kalau daun-daun yang mulai tampak kuning yang ada di atas sana itu milik siapa?” tanya sang cucu ” Itu semua milik orang-orang tua yang masih hidup di kota ini, mereka-mereka yang sudah lama bertengger di atas pohon kehidupan.” ”Apakah mereka akan segera gugur.” Ya,”Tentu saja, karena gugur itu adalah nasib dan takdir mereka.” ”Apa kakek ada di antara salah satu daun kuning yang siap gugur?” ”Aku tidak tahu. Itu rahasia yang di atas, tidak seorang pun berhak tahu.”
Sang cucu kembali  menengadahkan kepala sambil mengamati, mencari-cari di mana letak daun milik kakeknya, daun miliknya, daun milik ibunya, dan daun dari sanak keluarganya.”
Apakah ”Tunas-tunas daun yang tersemat di pucuk pohon itu, adalah bayi-bayi yang baru lahir di kota ini?” ”Ya. Benar, memang kenapa?” Ya, ”Berarti, sekarang, aku berada di antara daun-daun muda yang bertengger di atas sana?” ”Ya. Tentu saja lanjut kakek.” ”Wah itu artinya, masa gugurku masih sangat lama.”  ”Siapa bilang? Setiap lembar daun kehidupan yang ada di atas sana adalah rahasia. Tak ada seorang pun yang tahu. Gugur adalah hak semua daun, dari yang kuning, yang masih segar dan hijau, bahkan yang masih tunas pun bisa saja patah dan gugur.”
Seminggu setelah kembali dari alun-alun kota, sang kakek menderita sakit. Makin hari kesehatannya memburuk. Sang cucu teringat akan kata-kata sang kakek sewaktu mereka berteduh di bawah pohon di tengah kota. Sang cucu lari ke pohon itu untuk mengamati apakah ada daun kuning yang akan gugur ditiup angin. Setelah satu jam menunggu di bawah pohon itu, sang cucu merasakan datangnya terpaan angin menghempas pohon itu. Tampak  olehnya beberapa daun kuning, daun segar, dan pucuk muda dari pohon itu gugur beterbangan lalu rebah ke tanah. Dia pulang dan dalam perjalanan ia mendengar tangisan karena ada anak kecil, orang dewasa yang meninggal. Lebih dari itu setiba di rumah ia menyaksikan kakeknya telah meninggal.
Kisah kakek dan cucu yang diangkat Mashdar Zainal melalui Cerpen Pohon Hayat (pohon hidup)  yang saya jadikan ilustrasi dalam reunungan ini adalah kisah yang sungguh bersentuhan langsung dengan dimensi terdalam atau hal pokok berkaitan dengan hidup dan kehidupan kita. Penulis cerpen ini mengabstrasikan kehidupan nyata melalui dua tokoh rekaannya yaitu kakek dan cucunya yang secara tepat menganalogikan hidup dan kehidupan kita dengan sebatang pohon di tengah alun-alun kota. Dialog antara kakek dan cucunya dalam cerpen tadi sudah menjadi renungan dan bahan refleksi untuk kita. Diri dan hidup kita bukanlah apa-apa. Kita hanyalah selembar daun yang tumbuh pada salah satu ranting pohon hidup yang juga cepat atau lambat akan menguning dan tua. Kapan gugurnya, kapan agin menerpa, dan menerbangkannya tidak ada yang tahu. Itu misteri yang Tuhan sembunyikan bagi semua kita manusia. Kita hanya bisa membaca gelaja alam  ketika daun mulai kuning kita bisa pastikan daun itu akan gugur. Daun kehidupan manusia menjadi kuning tidak bisa diartikan seperti warna lampu lalulintas, kuning siap berubah menjadi hijau. Warna kuning daun kehidupan manusia menjadi pratanda saat pulang, saat mudik, saat kembali yang bersifat abadi akan segera tiba.
Selembar daun pohon kehidupan telah gugur .... hari lalu dalam diri almarhum..... Dia gugur setelah melewati proses panjang dalam usia yang ia lewati. Dia telah gugur setelah mengisi hari kehidupannya bersama keluarga, keluarga besar, dan bersama semua orang yang telah mengenalnya. Dalam keluarga dan oleh keluarga almarhum bukan hanya sekadar selembar daun tetapi lebih dari itu ia telah menjadi sebatang pohon tempat sandaran dan berteduhnya orang yang dicintainmya. Sejak kepergian almarhum, kita semua disadarkan bahwa almarhum resmi kembali mengakrabi bumi asal. Dia datang dari tanah dan kembali ke tanah. .... hari lalu almarhum ibarat selembar daun yang gugur diterpa angin. Bagi keluarga dan yang sungguh mengenalnya, almarhum  lebih dari selembar daun, dia adalah sebatang pohon yang terus bertumbuh melahirkan pucuk-pucuk daun baru dalam diri anak dan semua kerutunannnya. Ia gugur sebagai daun tetapi ia tinggalkan segala hal yang baik kepada yang ditinggalkan. Karena itu, meski secara fisik ia telah hilang dari pandangan kita tetapi secara rohani ia tetap menjadi penyubur pohon kehidupan keluarga oleh teladan dan cara hidupnya yang baik
Daun kehidupan yang gugur yang kita kenangkan saat ini bukanlah daun tanpa arti untuk kehidupan kita dan keleuarga yang ditinggalkan. Almarhum mudik abadi .... hari lalu bukanlah pengembara tanpa tujuan. Bagi kita kepergiannya membuat kita sedih sebagai mansia,  tetapi kita yakin Tuhan mempunyai rencana indah bagi almarhum dan untuk kita. Mungkin kita merasa seperti hidup tanpa harapan tetapi nubuat Yesaya dalam bacaan pertama sungguh menguatkan kita karena Tuhan berkuasa mengubah segalanya. Tuhan berkuasa mengubah situasi gurun menjadi situasi yang membawa sukacita. Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Lebih dari itu Tuhan sendiri datang membawa pembalasan dan ganjaran dan membuka jalan bagi Kudus bagi orang benar. Di situ tidak akan ada singa, binatang buas karena orang-orang yang diselamatkan akan berjalan di situ, dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai.
Gambaran sukacita padang gurun seperti yang dinubuatkan Yesaya ini jelas menjadi harapan kita semua bagi almarhum. Sukacita dan sorak sorai kemenangan itu tentu kita yakin didapat almarhum karena selama hidupnya almarhum telah menjadi pohon ara yang berbuah lebat dan manis dalam berbagai kebajikan dan kebaikan ia lakukan. Kita manusia boleh melupakan semua kebaikan yang dibuat almarhum terhadap siapa saja tetapi Tuhan tidak melupakan segala kebaikan itu.
Apa yang baik dan segala sesuatu yang baik yang manusia lakukan  selama hidup tidak akan dilupakan Tuhan. Tuhan  menghendaki agar manusia hidup sebagai pohon ara yang bisa menghasilkan buah dan buah itu demi kebaikan orang lain. Injil yang diperdengarkan untuk kita saat ini pada intinya mau mengatakan kepada kita bahwa manusia sebagai ciptaan  Tuhan harus memilki kebaikan atau sesuatu yang berguna untuk orang lain. Kisah dan kasus pohon ara yang diancam Yesus dalam injil tadi terjadi karena pohon ara itu menyalahi hukum musim dan hukum alam untuk berbuah. Pohon ara yang diancam Yesus adalah pohon ara tanpa kebaikan, pohon ara tanpa kebajikan.
Kisah Cerpen Pohon Hayat dalam ilustrasi awal tadi kiranya mendorong kita untuk memaknai perjalanan hidup kita. Dan kisah pohon ara dalam injil seharusnya mewajibkan kita untuk berkehidupan dengan buah-buah kebaikan dan kebajikan. Dan, saat perayaan misa arwah seperti ini kiranya menjadi saat rahmat yang membawa kita pada permenungan akan kualitas diri, pohon kehidupan kita. Kisah pohon ara malam ini menjadi kisah sarat makna untuk kita semua baik yang masih kecil, yang sudah dewasa maupun yang sudah lanjut usia. Setiap kita bisa menilai apakah daun pada pohon kehidupan kita baru bertumbuh ataukah sudah hijau ataukah sudah mulai berwana kuning. Ingat misteri daun gugur pada pohon kehidupan tidak memandang  umur. Bahwa daun kehidupan kita akan gugur itu sudah pasti tetapi bagaimana kita menyiapkan kepastian itu, itulah yang perlu kita antispasi dengan selalu mau menjadi pohon ara yang berbuah.
Kata-kata Yesus dalam injil tadi sebenarnya  biasa dan ringan adanya. Mengapa? Karena Yesus tidak mengatakan agar pohon ara itu kering dan mati. Yesus hanya mengatakan "Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!". Itu artinya pohon ara itu masih dibolehkan hidup hanya tidak berbuah. Hal yang mengherankan kita justru dalam sekejap pohon itu menjadi kering. Pohon ara itu rupanya salah mengerti terhadap kata-kata Yesus. Mungkin juga pohon ara itu terlalu sensitif dan perasaannya sehingga reaksinya terhadap kata-kata Yesus sungguh ekstrem.
Mengapa pohon ara itu justru lebih memilih kering dan mati. Bagi pohon itu mati lebih baik  daripada hidup tanpa berbuah. Pilihan pohon ara itu mau menegaskan bahwa kita manusia ibaratnya pohon ara yang harusi menghasilkan buah kebaikan dan kebajikan selama hidup. Berbuah kebaikan dan kebajikan itulah yang Tuhan inginkan. Bukan sekadar hidup rimbun-rimbunan. Berbuah adalah panggilan kehidupan dan itu terjadi dalam kerja dan usaha. Akhirnya semoga sekembali dari tempat ini kita menata pohon ara kehidupan kita. Amin

Saturday, September 22, 2012

Hari Minggu Biasa ke-25 Thn.B2


Hari Minggu Biasa ke-25 Thn.B2
Keb 2:12.17‑20; Yak 3:16‑4:3; Mrk 9:29‑36
Stasi Singosari Malang
Buka
Hari ini kita semua, kembali diundang Tuhan untuk merenungkan kembali perjalanan hidup kita. Hari ini Tuhan melalui firman-Nya  mau menyadarkan kita akan tugas dan panggilan kita sebagai orang-orang baik karena memang kita diciptakan oleh yang mahabaik dalam kelimpahan kebaikan. Kodrat kita manusia, adalah baik dan Tuhan melengkapi kita dengan segala hal yang baik berupa kesabaran, kelemahlembutan, kerendahan hati. Semua perlengkapan, kesabaran, kelemahlembutan dan kerendahan  ini diberikan kepada setiap kita  bukannya pertama dan terutama supaya kita melakukan perlawanan terhadap kejahatan tetapi pertama dan terutama agar orang  jahat dapat belajar bersikap sabar, lemahlembut, dan rendah hati. Kita berdoa memohonkan rahmat Tuhan agar menjadi orang yang sabar, lemah lembut, dan rendah hati karena kita yakin oleh semangat yang sabar, sikap yang lemah lembut dan rendah hati akan mengubah semua yang merusakan citra kehidupan kita. Kita akui kelemahan dan dosa karena sekians ering kita kurang sabar, kurang bersikap lemah lebuh dan bersikap rendah hati....

Renungan

Saya kira semua kita sepakat bahwa tidak ada kebaikan yang mendatangkan penderitaan. Kebaikan senantiasa membuahkan hidup yang tenang, aman dan tenteram. Sebaliknya kejahatan menaburkan dan menumbuhkan penderitaan. Berdasarkan pengalaman pada umumnya hanya kejahatanlah yang melahirkan penderitaan. Siapa berbuat jahat akan menderita, cepat atau lambat waktunya. "Siapa mengejar kejahatan akan ditimpa kejaha­tan" (Ams 11:27). Siapa mengejar kejahatan akan dikejar oleh kejahatan. Siapa membunuh akan dikejar oleh pembunuhan. Siapa berdosa akan dikejar oleh dosa. "Sungguh, orang jahat tidak akan luput dari hukuman" (Ams 11:21). Dengan ini "kejahatan manusia menelan dirinya" (Pkh 8:6) sendiri.
Dari kebenaran dan kenyataan seperti  ini sesungguhnya logislah hanya orang jahat yang menderita. Kalau orang berdosa sebenarnya hanya dia yang menderita akibat dosa yang ia lakukan. Kalau orang mencuri milik orang lain, dia sendirilah yang dipu­kul, diadili dan dipenjarakan atau mungkin dibunuh karena perbuatannya itu. Ini logika atau hukum kejahatan. Namun dalam pengalaman sering juga penderitaan itu tidak hanya dialami orang jahat, tetapi juga dialami orang baik. Orang jahat melakukan kejahatan apa saja, dan dampak perbuatannya tidak hanya menimpa orang jahat itu tetapi juga menimpa orang lain termasukorang yang baik. Malahan serng terjadi, saat kejahatan dilakukan, orang lainlah yang men­derita dan bukannya si pelaku. Penderitaan orang jahat umumnya muncul lama sesudah kejahatan dilakukan dan itupun kalau berhasil dilacak. Korban pertama dari setiap kejahatan pada saat kejahatan dilakukan adalah orang‑orang baik yang tidak bersalah.
Ketiiga bacaan hari ini meperlihatkan keapda kita bahwa penderi­taan bukan menimpa orang jahat, melainkan menimpa orang‑orang  baik. Dari Kitab Kebijaksanaan Salomo kita mendengar rencana orang jahat terhadap orang baik. Kata-kata orang jahat itu: "Marilah kita menghadang orang baik, sebab orang baik menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita  Mari kita mencobainya dengan menganiaya dan menyiksa agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya. Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan"
Di sini tampak bahwa derita, siksaan dan penga­niayaan yang dialami orang‑orang baik itu datang dari luar, datang dari orang‑orang jahat. Orang baik sendiri tidak pernah merencanakan dan melakukan penderitaan bagi diri dan bagi orang lain. Orang baik tidak pernah menyiksa diri dan sesamanya. Orang baik tidak akan pernah menciptakan beban bagi orang lain. Karena itu apabila orang baik menderita sengsara, penderitaan dan kesengsaraan mereka itu umumnya datang dari luar, dari orang‑orang jahat. Nasib yang sama dialami Yesus. Yesus sebagai "Anak Manusia diserahkan ke tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, tetpai tiga hari sesudah dibunuh Ia bangkit" (Mrk 9:31). Yesus benar‑benar menderita sengsara dan dalam penderitaan‑Nya Ia "merasa terasing dan dikelilingi musuh yang siap membunuhnya. Semua bentuk penderitaan yang dialami Yesus datang dari luar, dari anak‑anak manusia yang jahat dan berdosa.
Apa sebenarnya yang mendorong orang jahat menyerang, mencobai, menyiksa, menganiaya sehingga orang‑orang baik terpaksa harus menderita? Bacaan II hari ini menyebutkan alasannya  bahwa iri hati dan egoisme menjadi dasarnya. "Di mana ada iri hati dan sikap mementingkan diri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Kamu iri hati, namun kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi" (Yak 3:16; 4:2). Kekacauan dan perbuatan jahat lahir dari iri hati dan egoisme. Karena iri hati manusia bertengkar dan berkelahi. Karena iri hati manu­sia senantiasa mengejar sesamanya untuk menyaingi dan bahkan untuk membinasakan sesamanya itu. Kitab Amsal mencatat bahwa "iri hati membusukkan tulang" (Ams 14:30). Sebetulnya iri hati tidak saja membusukkan tulang melainkan juga membusukan hati, dan kalau hati membusuk maka tingkah  laku dan perbuatan juga penuh kebusukan. Hati yang busuk tidak hanya menghasilkan perbuatan busuk, tetapi juga penderitaan yang busuk. Begitulah iri hati membuat orang busuk di dalam hatinya, busuk juga dalam perbuatannya dan akhirnya menciptakan penderitaan yang busuk dalam diri dan hidup orang lain. Iri hati dan egoisme ibarat "tumpukan sampah busuk" yang menyebabkan bau yang busuk bukan saja untuk diri sendiri  tetapi juga bagi orang lain.  
Di samping iri hati dan ingat diri, egoisme, hal lain yang mendorong orang jahat mencoba dan menyerang orang baik adalah hawa nafsu yang saling berjuang. Rasul Yakobus menulis: "Dari manakah da­tangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah da­tangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, namun kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh" (Yak 4:1‑2). Sengketa dan pertengkaran datang dari hawa nafsu. Permusuhan antara manusia juga lahir dari beragamnya nafsu dan keinginan yang "saling bersaing" dalam diri, bersaing merebut keinginan yang tidak tercapai.
Injil menginformasikan bahwa dalam perjalanan bersama Yesus para murid bertengkar satu sama lain karena ada nafsu akan kuasa dan posisi. Di tengah jalan "mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka". Nafsu untuk memperoleh kekuasaan, jabatan, prestise serta nafsu untuk menjadi yang terbesar terbukti melahirkan per­tengkaran, perkelahian dan bahkan pembunuhan di antara manusia. Keinginan dan nafsu yang tidak terkendali dalam mengejar kuasa, jabatan yang menguasai seseorang  membuat orang itu berperang melawan dirinya sendiri dan melawan orang lain. Apabila nafsu sudah menguasai seseorang maka ia akan segera memandang orang lain bukan sebagai "saudara atau sahabat", melainkan sebagai musuh yang harus dilawan, dika­lahkan, dan dimusnahkan. Iri hati, egoisme dan nafsu biasanya bisa dilihat melelaui sikap hidup. Kalau sekarang ini banyak orang yang sudah kalau orang lain senang dan banyak senang kalau orang lain susah itu menjadi pratanda iri hari merusak kehidupan manusia.
Menghadapi orang jahat yang dikuasai iri hati,egoisme, hawa nafsu, bagaimanakah sikap‑sikap kita sebagai orang‑orang baik? Apakah kita harus berhenti menjadi orang baik, sebab dengan kebaikan dan kebajikan yang kita miliki lalu "menjadi gangguan" atau ancaman yang menentang pekerjaan orang‑orang jahat? Apakah kita harus menyerah pada perbuatan jahat, supaya kita menjadi aman dan tidak lagi diganggu atau dicobai oleh orang‑orang jahat seperti dikisahkan dalam bacaan pertama?
Aman dalam kejahatan dan aman bersama kejahatan bukanlah kebajikan yang terpuji. Kebajikan yang terpuji adalah merasa aman dalam kebaikan dan dengan kebaikan, sebab kebajikan seperti itu adalah "suatu kecenderungan yang tetap dan teguh untuk melakukan yang baik. Dengan kebajikan yang baik kita bukan saja bisa melakukan perbuatan baik, tetapi juga harus bisa menghasilkan yang terbaik seturut kemampuan kita. Dengan segala kekuatan moral dan rohani, kita, manusia berkebajikan dan dipanggil untuk melakukan yang baik."2 Sebab itu sekalipun kita menjadi orang berkebaikan dan berkebajikan tertentu "menjadi gangguan" bagi orang jahat, kita tidak boleh mundur dari kebaikan, hanya karena serangan, ancaman dari orang‑orang jahat. Berhadapan dengan ancaman, serangan dan penderitaan yang datang dari orang‑orang jahat, kita diharapkan untuk terus berpaling kepada Kristus yang "menderi­ta dengan sukarela, dihukum tanpa kesalahan. Kerelaan dan ketabahan menanggung penderitaan, penga­niayaan dan penyiksaan yang datang dari luar, dari orang‑orang jahat, adalah suatu bentuk partisipasi kita dalam penderitaan Kristus di kayu salib yang "menghancurkan akar‑akar kejahatan yang tertanam dalam sejarah kehidupan umat manusia dan dalam jiwa manusia."
Kalau kita seperti Kristus menderita dengan sukarela dan menderi­ta walaupun tidak bersalah, apakah kita bersikap diam saja, atau sebaiknya membalas dendam terhadap orang‑orang jahat? Kalau kedua sikap ini ditawarkan kepadamu, maka pilihlah "sikap diam" dan bukannya membalas dendam. Sebab Yesus mengajarkan dan melarang kita mencari pemecahan dalam sikap dendam. Membalas dendam tidak menyelesaikan persoalan, tetapi sebaliknya justru menanamkan, menumbuhkan dan membuah­kan pelbagai persoalan baru yang berkepanjangan. Sebab itu lebih baik mengambil sikap diam daripada memilih rencana balas dendam. Paus Yohanes Paulus pertama pernah menasihatkan begini:  Dalam sikap diam, engkau akan mampu bertobat dan juga untuk mengasihi musuh‑musuhmu. Maka, dengan memilih "diam", "perdamaikanlah mula‑mula dirimu dengan Allah, perbaruilah hatimu, tunjukkanlah cinta untuk menggantikan dengki, gantilah kemarahan dengan kesabaran, gantilah ketamakan yang tak terkendalikan dengan kesederhanaan dan ugahari. Jika engkau telah bertobat dalam batinmu dan membar­ui dirimu, maka engkau akan melihat dunia ini dengan mata yang lain dan engkau menemukan suatu dunia yang berubah."
Yesus sendiri sudah menegaskan kepada kita: "Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuh­mu. Namun Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" Pada bagian lain Ia menyampaikan: "Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Namun Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu".
Orang‑orang di dunia barangkali masih membenci musuh‑musuh mere­ka. Namun pengikut Kristus tentu saja diharapkan  tidak demikian. Pengikut Kristus bukan hanya tidak boleh bermusuhan dengan siapa pun, melainkan juga berusaha menghancurkan permusuhan yang sudah ada. Bagi kita musuh bukanlah orang yang dibenci, melainkan orang yang dikasihi. Kebesaran kita sebagai murid Tuhan justru ditakar oleh kesediaannya untuk mengasihi musuh‑musuhnya. Di dunia ini barangkali orang‑orang masih memberlakukan prinsip "mata ganti mata dan gigi ganti gigi". Namun murid Tuhan tidak boleh demikian. Kalau yang berlaku adalah prinsip "mata ganti mata dan gigi ganti gigi" maka hasilnya bukan hanya satu mata atau dua mata, atau juga satu gigi atau dua gigi yang rusak, melainkan akan ada banyak sekali mata dan gigi lain yang hancur atau roboh. Bahkan lebih fatal dari itu, nyawa atau hidup manusia sendiri bisa melayang atau tewas.
Sebab itu berbeda dengan orang‑orang di dunia ini, murid‑murid Kristus seperti kita semua tidak boleh membalas dendam terhadap siapa pun. Inilah imbauan mendiang Bapa Suci Yohanes Paulus II untuk kita semua. "Jadilah orang yang pertama untuk memberikan dan menerima pengampunan, untuk membebaskan ingatanmu dari kebencian, permusu­han dan keinginan untuk membalas dendam, serta mengakui dan menerima semua orang yang sudah bersalah kepadamu sebagai saudara dan saudari. Janganlah membiarkan dirimu dikalahkan oleh kejaha­tan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan . 'Sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbua­tlah demikian'.

Saturday, September 8, 2012

Minggu Biasa ke-23 Th.B

-->
Minggu Biasa ke-23 Th.B, 9 September 2012
Yes 35:4-7a; Yak 2:1-5; Mrk 31:31-37
Stasi Singosari, Malang

Buka
Hari ini Tuhan kembali mengundang kita untuk berjumpa dan menerima Dia sebagai tabib agung kita. Dialah yang menyembuhkan, melepaskan, membebaskan kita dari pelbagai belenggu dan ikatkan yang membuat kehidupan jiwa kita kerdil. Dalam kerapuhan sebagai manusia mulut kita mungkin membisu ketika dituntut untuk mengatakan sesuatu secara benar. Dalam kerapuhan yang sama mungkin telinga hati kita tertutut untuk segala sesuatu yang membawa kabaikan dalam hidup kita dan sesama kita. Marilah kita datang dan hadir sebagai si bisu dan tuli, berserah diri biar Tuhan membuka mulut dan telinga kita untuk suatu masa depan yang membebaskan kita. Seraya memohon rahmat dan kekuatan untuk membangun komitmen dalam perayaan ini kita akui kelemahan dan dosa kita..
Renungan
Seorang ahli pidato namanya Quintilianus pernah berkata: “Tidak ada anugerah yang Lebih indah yang diberikan oleh para dewa, daripada keluhuran berbicara (Quintilianus). Santu Agusttinus membahasakannya secara lain: “Kepandaian berbicara adalah seni yang mencakup segalanya. Martin Luther King menambahkan: “Siapa yang pandai berbicara dia itu manusia, sebab berbicara adalah kebijaksanaan, dan kebijaksanaan adalah berbicara”. Kutipan-kutipan bijak ini bukan sekadar pemberi motivasi agar orang bisa berbicara tetapi lebih dari itu agar orang memanfaat kemampuan berbicara itu untuk memberikan makna pada kehidupan. Saya kira semua kita sepakat bahwa kemampuan berbicara adalah berkat dan anugerah bagi kita. Memang karena kita tergolong orang normal yang bisa berbicara sehingga kita menganggapnya sebagai hal yang biasa-biasa saja. Bagi seorang yang bisu, kalau satu ketika dia tiba-tiba bisa berbicara, maka dia akan melihat hal itu sebagai anugera dan mukjizat.
Kemampuan berbicara sebagai suatu anugerah bagi kehidupan kita manusia tentu tidak akan bermakna kalau pembicaraan itu tidak didenagrkan atau tidak ada yang mendengarkannya. Kata-kata yang keluar dari mulut seseorang bertapa pun indah dan bermaknanya tetapi kalau tidak ada telinga yang mendengarkannya maka kata indah dan penuh makna itu akan terbang bersama angin. Karena itulah, dalam kehidupan yang nyata persoalan berbicara dan persoalan mendengarkan merupakan dua hal yang hanya bisa dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan. Coba banyangkan kalau di dunia ini hanya ada seorang yang bisa berbicara dan semua orang yang lainnya bisu apa yang akan terjadi? Dunia kita pasti hening dan senyap. Coba bayangkan kalau di dunia ini hanya ada seorang yang bisa mendengarkan apa yang terjadi? Dunia kita juga akan hening dan senyap karena orang tak mungkin berbicara kepada semua orang yang tuli.
Dunia dan kehiduapn kita menjadi indah, penuh dinamika terjadi karena kita dilengkapi mulut untuk bisa berbicara dan dilengkapi telinga untuk mendengarkan. Mulut untuk berbicara dan telinga untuk mendengarkan jika berfungsi maksimal maka terjadilah komunikasi dan interaksi dalam kehidupan. Saya kira semua kita akan kesulitan berkomunikasi ketika berhadapan dengan sesama kita bisu atau yang tuli. Kalau kita bisa berbicara tetapi teman bicara kita itu tuli maka bahasa dan kata-kata kita menjadi tak bermakna. Ketika telinga kita normal bisa mendengarkan tetapi teman bicara kita bisu maka telinga kita menjadi tak bermakna. Sampai di sini, kita disadarkan mulut dan telinga, kemampuan berbicara dan kemampun mendnegarkan itu amat penting dalam hidup. Relasi dan komunikasi dalam kehidupan sepenuhnya dipertaruhkan pada kemampuan berbicara dan kemampuan mendengarkan. Sagala bentuk aksi dan tindakan manusia boleh dikatakan dikendalikan oleh dua kemampuan ini. Itu sama artinya, kalau dua kemampuan ini tidak ada pada seseorang maka maka bagi orang itu hidup menjadi beban dan kematian menjadi kerinduannya.
Firman dan sabda Tuhan yang diwartakan untuk kita melalui tiga penggalan bacaan hari ini pada intinya berbicara tentang perkara mulut dan telinga manusia. Soal praktik berbicara dan praktik mendengarkan di antara sesama dalam kehidupan nyata. Nubuat Yesaya dalam bacaan pertama jelas mewacanakan kepada kita tentang pentingnya telinga untuk mendengarkan dan pentingnya mulut untuk membahasakan kegembiraan. Nabi Yesaya dipilih Yahwe untuk menjadi mulut yang berbicara kepada bangsa Israel yang tawar hati. Nabi diutus untuk mengatakan hal yang penting bagi Israel. Nabi diutus untuk mengabarkan dan menawarkan kehidupan yang membebaskan. Nabi diutus sebagai mulut yang bisa membahasakan dan menjabarkan program Allah bagi bangsa yang nyaris tanpa harapan. Yesaya mengajak Israel untuk kembali meyakini Allah, kembali bersandar pada-Nya karena janji Tuhan akan ditepati. Yesaya mengabarkan berita keselamatan mencelikan mata yang buta membuka telinga yang tuli dan melepaskan belenggu kebisuan, dan menguatkan kaki yang timpang dan lumpuh. Yesaya datang mengabarkan dan menyuarakan tentang sukacita bagi Israel yang akan menikmati sumber air yang memancar di padang yang tandus. Program Allah jelas diteruskan sang Nabi. Agenda pembebasan itu hanya akan terjadi kalau Israel membuka telinga hati mereka untuk kembali pada iman yang benar akan Yahwe.
Markus dalam penggalan injil hari ini menarasikan pengalaman pembebasan yang dialami seorang yang tuli dan kesulitan berbicara. Markus menampilkan kuasa kebesaran Allah yang dinyatakan melalui penyembuhan orang tuli dan setengah bisu itu. Yesus menata kembali organ mulut dan telinga orang itu, memfungsingkan kembali sistem bicara dan sistem pendengaran orang itu. Itu artinya bagi Yesus telinga dan mulut itu harus dibebaskan agar manusia bisa memaknai kehidupannya secara benar sebagai manusia. Pembebasan yang dilakukan Yesus itu sekaligus mau menegaskan bahwa jaminan keselamatan dari Allah itu terlaksana dalam diri Yesus Kristus, bahkan mencapai puncak, kepenuhan, dan kesempurnaannya. Ia menjadikan segala-galanya baik” (Mrk 7:37a).
Tindakan pembebasan yang dilakukan Yesus itu dirumuskan dalam satu kata yaitu Efata yang berarti terbukalah. Kata ini merupakan kata kunci yang sekaligus menuntut orang yang tuli itu melakaukan pembaharuan cara hidup (reformasi) dan pembaruan arah (reorientasi) hidup. Terbukalah merupakan sebuah perintah, amanat, imperatif yang harus dilakukan sebagai buah pembebasan. Perintah terbuka itu merujuk pada mulut untuk mengucapkan seuatu secara tepat dan sesuai dan juga merujuk pada telinga agar tidak tertutup pada segala sesuatu yang membawa makna dalam kehidupan. Efata adalah kata kunci pembaruan peribahasa dan perilaku kehidupan seseorang.
Mentalitas dan model kehidupan bangsa Israel semasa nabi Yesaya tampaknmya masih juga menguasai kehidupan manusia sepanjang zaman. Peribahasa, kata-kata dan perilaku sikap masa bodoh yang mengabaikan hukum Tuhan masih mewarnai kehidupan manusia. Di dunia ini banyak yang mulutnya dan telinganya normal tetapi dalam berbahasa banyak yang salah karena ada hal lain yang membelengu mulut untuk mengatakan apa yang jelas dan yang benar. Di dunia ini banyak yang telinganya normal tetapi sulit mendengarkan apa yang bisa mengubah dan membawa harapan baru bagi hidup. Dalam konteks seperti ini hari ini Yesus juga telah membuka belenggu mulut dan sumbatan telinga kita untuk bisa menjadi nabi yang membawa pembabasan, untuk menjadi seperti orang banyak yang membawa si bisu tuli untuk disentuh dan disembuhkan Tuhan. Sebagai pengikut Kristus dalam cara yang berbeda kita dituntut untuk menjadi mulut yang mewartakan dan telinga yang mendengarkan.
Santo Yakobus meberikan kita resep untuk membuka mulut dan telinga manusia zaman ini dalam sikap yang adil tidak membuat pembedaan dengan alasan apapun. Membuka mulut sesama dan membuka telinga sesama hanya akan terjadi dan bermakna kalau kita memperlakukan orang lain secara adil.
Kalau hari ini Markus mengisahkan Yesus membuka mulut dan telinga orang tuli dan bisu dalam rangka menata perilaku mulut dan perilaku telinga, maka tentu kita bisa melihat diri kita apakah mulut dan telinga kita juga mau dibuka Yesus sebelum kita menjalankan misi kenabian dan kerasulan kita untuk membebaskan orang bisu dan tuli dalam kehidupan kita? Segala sesuatu yang tidak sesuai dalam kehidupan adalah wujud kebisuan dan ketulian yang harus disembuhkan. Pelbagai ketindakberesan ada di mana-mana, di dalam keluarga, di lingkungan kerja, di dalam masyarakat. Semunya itu merupakan wujud kebisuan dan ketulian yang menuntut kita untuk menyembuhkannya. Semoga Tuhan memberi kita kekuatan dan berkat untuk membuka mulut dan telinga kita; mulut dan telinga sesama kita… Amin