Hari ini kita merayakan pesta santu Ignasius dari
Loyola. Ia dilahirkan tahun 1491 di Spanyol Utara. Ignasius adalah keturunan
bangsawan yang sejak kecil hidup dalam kelimpahan sebagai putra bangsawan.
Tahun 1517 ia mendaftarkan diri sebagai tentara kerajaan Spanyol dan empat
tahun kemudian tepatnya tahun 1521
Ignasius mengalami penderitaan karena ditembak pasukan musuh ketika
mempertahankan benteng Pamplona yang hendak dikuasai pasukan Prancis. Dia
dirawat intensif dan cukup lama di salah satu rumah sakit setempat. Dalam masa
perawatannya ia mengisi waktunya dengan membaca buku-buku tentang kehidupan
Yesus dan kehidupan orang kudus. Buku-buku yang dibacanya sungguh meneguhkan
dan menguatkan dia dalam perjuangannya. Dari buku-buku yang dibacanya itu ia
merasa tergerak untuk mengikuti jejak Kristus. Dari sana ia merasakan adanya
sesuatu yang mendoronganya untuk terus mendalami relasi pribadinya dengan
Tuhan. Ignatius akhirnya memutuskan untuk hidup hanya mengadi kepada Tuhan.
Prinsip hidupnya sampai saat ini menjadi moto para pengikutnya yaitu para imam
Jesuit: Ad Maiorem Dei Gloriam atau
segala sesuatu hanya demi Kemuliaan Tuhan. Prinsip inilah yang mendasari
segala perjuangannya. Sikap Santo Igatius ini amat nyata dalam doa penyerahan
dirinya dan doa itulah yang sering kita nyayikan sebagai lagu persembahan. Ambillah ya Tuhan kebebasanku, kehendakku
budi ingatanku . Pimpinlah diriku dan Kau kuasai. Perintahlah akan kutaati.
Hanya rahmat dan kasih dari-Mu, yang kumohon menjadi milikku. Berikanlah
menjadi milikku. Lihatlah semua yang ada padaku, kuhaturkan menjadi milikMu.
Pimpinlah diriku dan Kau kuasai, perintahlah akan kutaati.(Ignatius Loyola).
Kita berdoa semoga kita dapat belajar untuk melakukan
segalanya demi kemuliaan Tuhan. Lebih dari itu semoga kita dapat belajar dari
santo Ignasius yang mengenal dan mencintai Tuhan hanya karena akrab dan rajin
membaca kisah kehidupan Yesus dan para kudus. Marilah kita akui segala salah
dan dosa kita, terutama salah dosa karena kurang memanfaatkan waktu untuk
membaca dan mengenal Tuhan dalam bacaan Kitab Suci dan bacaan rohani.
Bicara tentang mukjizat, kerap orang memahami
mukjizat sebagai sesuatu yang luar biasa yang terjadi dalam hidup: misalnya
orang yang sudah divonis dokter, bahwa penyakitnya tidak akan sembuh, setelah
berupaya ternyata sembuh. Atau peristiwa-peristiwa hidup yang luar biasa. Maka
tidak mengherankan kalau dalam bacaan Injil dikisahkan bahwa orang
berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka ingin mukjizat-mukjizat
penyembuhan, yang diadakanNya. Pada kesempatan ini, Yesus mengadakan mukjizat
penggandaan roti.
Mukjizat ini bukanlah mukjizat yang pertama.
Artinya, orang-orang pada jaman itu tentu akan ingat bahwa sebelum Yesus juga
pernah ada mukjizat ini. Dalam bacaan pertama (2Raja-raja 4:42-44) dikisahkan
bahwa Elisa juga mengadakan mukjizat penggandaan roti, tapi dalam jumlah yang
lebih kecil dari yang dibuat oleh Yesus. Elisa menggandakan roti untuk memberi
makan seratus orang, sementara Yesus menggandakan roti untuk memberi makan lima
ribu orang. Dari situ, pernyataannya adalah: apa yang ingin Yesus sampaikan
dengan tindakan mengadakan mukjizat itu? Mengapa yang digunakan untuk
mengadakan mukjizat adalah roti dan bukan yang lain?
Dengan mukjizat diharapkan orang menjadi
semakin percaya dan semakin dekat dengan Tuhan. Bahkan Yesus ingin menegaskan
bahwa Tuhan tidak hanya dekat tapi sungguh menyatu dalam hidup manusia. Yesus
ingin bahwa apa yang Ia wartakan yakni Kerajaan Allah, sungguh hadir secara
nyata. Kecuali itu, mukjizat penggandaan roti mencerminkan Ekaristi. Mengapa
roti? Roti adalah makanan pokok orang Yahudi. Roti adalah sumber kehidupan.
Sehingga, dengan mengadakan mukjizat penggandaan roti mengingat Yesus semudah
mengingat roti. Artinya, dengan mukjizat ini lalu orang menyadari bahwa Yesus
adalah sumber kehidupan. Yesus terus memberikan kehidupan itu kepada manusia.
Itulah yang terjadi dalam Ekaristi. Yesus bukan hanya menggandakan roti, tapi
memberikan diriNya sebagai makanan yang meneguhkan, menyelamatkan. Dalam
Ekaristi pemberian diri yang sempurna terjadi.
Maka dari itu, beberapa inspirasi iman bisa
kita petik. Kita bisa belajar dari tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa
itu: Yesus, para murid, orang banyak, seorang anak yang mempunyai lima roti dan
dua ikan. Belajar dari Yesus; Yesus begitu memperhatikan kebutuhan sesama
(dalam hal ini kebutuhan orang banyak akan makanan). Yesus sungguh hadir
sebagai Allah yang menyelenggarakan kehidupan. Yesus adalah sumber keselamatan.
Seberapa besar rasa syukur kita haturkan atas rahmat kehidupan dan
penyelenggaraan hidup yang telah kita terima? Apakah rasa syukur itu juga
mendorong diriku untuk dengan jeli memperhatikan kebutuhan sesama? Dari orang
banyak yang berbondong-bondong, kita belajar untuk bertanya motivasi dasar
apakah yang melatar belakangi kita untuk mengikuti Yesus? Apakah terpesona oleh
mukjizat yang dibuat Yesus atau karena sadar bahwa Yesus adalah sumber
kehidupan sejati? Masihkah kita ragu bahwa setiap merayakan Ekaristi, kita
menyaksikan mukjizat yang sangat agung, yakni Yesus yang hadir secara nyata.
Bukan hanya menyaksikan tapi juga menerima dan bersatu dengan Yesus Sang Sumber
kehidupan? Masihkah kita mencari mukjizat-mukjizat lain?
Belajar dari Filipus: apakah kita juga
bersikap seperti Filipus yang mempertanyakan permintaan Yesus sebagai sebuah
kemustahilan: memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan? Ada
banyak keterbatasan dalam kehidupan kita, apakah keterbatasan itu lalu
menghambat kita untuk berkembang, untuk maju? Belajar dari anak kecil: ia rela
memberikan lima roti dan dua ikan kepada Yesus, lalu Yesus mengambil, mengucap
syukur dan membagi-bagikan roti itu. Relakah kita seperti anak kecil itu,
memberikan sesuatu yang kecil, terbatas kepada Yesus? Kalau sikap ini ada, maka
segala keterbatasan, ketidak berdayaan bila diserahkan kepada Yesus, akan
menghasilkan sebuah perubahan yang luar biasa. Kita bisa membandingkan dengan
lima roti dan dua ikan untuk lima ribu orang, bahkan masih sisa.
Kita juga bisa belajar, apa yang sebenarnya
terjadi kalau kita mau berbagi seperti anak kecil itu? Tuhan sendirilah yang
berbagi melalui kita. Ketika saya berbagi, Allah melakukan atau mengerjakan
untuk orang lain. Tuhan menciptakan jauh lebih banyak daripada yang dipikirkan
oleh manusia. Maka kita belajar: 1. Tidak perlu takut berbagi, karena Tuhan
sendiri yang melakukan. 2. Berbagi membuat orang terbebas dari kesombongan
rohani. 3. Berbagi membuat hidup kita berkelimpahan.
Baik dan buruk adalah
fakta kehidupan. Kehidupan manusia sepanjang zaman diwarnai hal baik dan hal
buruk. Kebaikan dan keburukan adalah dialektika kehidupan yang menuntut manusia
menentukan pilihan dalam memaknai kehidupannya. Kehidupan manusia sejak awal
hanyalah kebaikan karena manusia dari semula diciptakan sebagai yang terbaik.
Manusia ibarat tanaman gandum yang Tuhan tempatkan di ladang kehidupan dengan
harapan pada waktunya akan menghasilkan panen yang berlimpah.
Injil hari ini berkisah
tentang perumpamaan rumput lalang di antara gandum. Gandum itu benih yang baik
dan sengaja ditanam agar tumbuh dan menghasilkan sesuatu bagi kehidupan. Sementara
itu ilalang seperti yang kita ketahui merupakan tanaman perusak yang menghalangi pertumbuhan gandum. Jika ilalang dibiarkan
hidup lama bersama dengan gandum, maka pertumbuhan gandum tidak akan sempurna.
Gandum tidak akan menghasilkan bulir yang bisa memberikan harapan bagi petani
yang menanamnya. Itulah sebabnya pengagrap lahan gandum itu mengusulkan agar ilalang
itu segera dicabut.
Sayangnya, pemilik lahan
garapan tidak menanggapai usulan yang logis dan praktis itu. Sikap
pemilik lahan amat cermat. Ia tahu apa akibatnya kalau ilalang
pengganggu gandum itu dicabut segera. Ia takut jangan-jangan gandum itu ikut
tercabut. Bagi pemilik lahan upaya pengenalan akan ilalang di antara gandum itu
membutuhkan proses yang panjang. Bagi pemilik lahan rumput akan diketahui
dengan sendirinya ketika sampai pada musim panen. Si tuan lahan menunggu waktu
panen tiba.
Kalau saja kehidupan kita
dengan orang lain itu ibarat sebuah lahan maka tentu saja kita inginkan lahan
kehidupan ditumbuhi tanaman yang baik dan berguna. Tendensi pada kebaikan adalah
kodrat manusia, karena manusia berasal dari kebaikan dan berjalan menuju
kebaikan. Arah hidup menuju kebaikan itu dalam kenyataannya terganggu karena
ada yang berlaku ibarat rumput liar. Kenyataan seperti itu, bisa saja membuat kita
seperti si penggarap lahan yang berpikir logis, praktis untuk segera mencabut rumput
liar itu. Injil hari ini memberikan kita pesan penting tentang perlunya dan
pentingan proses perjenernihan sikap dan pandangan terhadap hal yang mengganggu
hidup kita. Tuhan mengajarkan kita tentang pentingnya kesabaran menghadapi hal
dianggap mengganggu hidup kita. Kita bukanlah pemilik lahan. Kita hanyalah
orang upahan. Karena itu eksekusi itu hak prerogatif Tuhan pemilik lahan. Kalau
kita sudah tergolong gandum, Tuhan menghendaki agar kita tetap bertahan sebagai
gandum sampai hari Tuhan tiba. Dengan demikian, Tuhan akan sama-sama merangkul
kita untuk hidup abadi. Rumput liar itu urusan Tuhan pemilik kehidupan.
Anna dan Yoakim, orang
tua St.Perawan Maria yang kita rayakan hari ini adalah dua tokoh yang berasal
dari keturunan raja Daud, dan dikenal karena kesetiaan mereka dalam menjalankan
kewajiban keagamaan serta mengabdi dan mengasihi Allah dan sesama dengan ikhlas.
Dan karena itu keduanya dianggap layak untuk ikut ambil bagian dalam rencana
keselamatan Allah atas dunia. Anna dan Yoyakim tergolong orang kecil ang
kemudian terkenal. Keduanuanya termasuk tokoh yang mewariskan nilai abadi bagi
kehidupan manusia. Kita tidak bisa memahami Yesus tanpa kehadiran Bunda Maria.
Memahami Maria juga tidak bisa tanpa melibatkan kedua orangtuanya. Kehoidupan Maria banyak membahasakan cara
hidup Anna dan Yoyakim.
Dikatakan bahwa sejak
perkawinannya dengan Yoakim, Anna tidak henti-hentinya mengharapkan karunia
Tuhan berupa seorang anak. Sebab bagi orang Yahudi, wanita yang tidak dapat
melahirkan anak dianggap sebagai kutukan Tuhan. Sehingga keduanya tanpa putus asa berdoa kepada Allah agar
kenyataan pahit yang dialami bisa terhindarkan. Oleh karena itu, kelahiran Maria, apalagi di saat
usia mereka yang sudah tua itu, mereka anggap lebih sebagai buah rahmat Allah,
hasil campur tangan Allah sendiri,
daripada sesuatu yang kodrati-manusiawi. Hal yang perlu kita belajar
dari kedua tokoh tersebut adalah:
Pertama: kesabaran dan ketekunan mereka dalam mengharapkan bantuan Allah. Bagi keduanya,
anggapan orang atau usia tua TIDAK MENGHALANGI ALLAH untuk menunjukkan
kemahakuasaan-Nya, bila kita tetap bersabar dan bertekun. Dalam diri mereka,
ada semacam prinsip hidup: Tidak ada
usaha yang tidak ada hasilnya, tidak ada doa yang tidak terkabulkan, asalkan
kita bersabar dan bertekun.
Kedua: Sikap tahu diri dari
keduanya. Bahwa apa yang mereka capai/peroleh itu adalah pertama-tama karena
campur tangan Allah, bukan semata usaha mereka sendiri.
Kesabaran ketekunan serta
sikap tahu diri itu oleh injil dikatakan sebagai orang yang mempunyai mata dan
melihat, mempunyai telinga dan mendengarkan. Apakah kitatergolong sebagai cukup sabar, tekun dan
tahu diri? Yesus memberikan awasan untuk
kita hari ini: “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena
mendengar. Kita memohon agar
Tuhanmembuka mata dan telinga hati kita. Untuk itu kita sesali salah dan
dosa kita….
Hari ini kita merayakan
pesta Santo Yakobus Rasul. Dia digelar kudus karena telah melakukan segala
perkara yang baik selama hidupnya. Dia mendapatkan posisi yang memang kepadanya
Tuhan sudah menyediakan posisi itu. Dia mendapatkan posisi karena ia telah menjalankan
misi pelayanan yang menjadi inti karya dan perwartaan Yesus. Mendengarkan kisah
injil hari ini kita akan dikejutkan karena Yesus berhadapan dengan seseorang
yang meminta tetapi orang itu dicap sebagai orang yang tidak tahu apa yang
diminta dan cara meminta yang benar. Jawaban Yesus sungguh mematikan
langkah ibu Zebedeus.
Dari Dialog para tokoh
injil hari ini kita diingatkan bahwa pengikut
Kristus tidak boleh berpikir untuk menjadi besar dan termasyur. Pengikut Kristus
hanya diminta mendedikasikan diri secara total yang diringkas dalam kata pelayan. Pelayanan
itu mencakup dua konsep yang bertolak belakang yaitu dilayani dan melayani.
Bagi Yesus opsi atau pilihan strategis pengikut Kristus yang menjaminan
mendapatkan posisi adalah pilihan kata layan berawalan me- dan bukan pilihan
layan beraawalan di- Jenis pilihan itu
membahasakan dimensi pasivitas dan dimensi aktivitas. Dilayani berarti aku
sebagai subjek berada dalam konsisi pasif dan statis. Sebaliknya, melayani
berarti aku sebagai subjek berada dalam kondisi aktif dinamis. Aktif dinamis
adalah bahasa kehidupan, Aktif dinamis itu tanda orang hidup dalam spirit
mencapai sesuatu. Mendapatkan tempat strategis menurut Yesus harus bermula dari
kedalaman lembah kerendahan hati yang disertai dengan tindakan aksi yang bernuansa kelemahlembutan. Melayani berarti
mengasihi dan bukannya menguasai seperti halnya penguasa yang memerintah dengan
tangan besi.
Kita, sebagai pengikut
Kristus tentu penya kerinduan mendapatkan apa yang kita inginkan. Tetapi, bagaimana
rasanya kalau hari ini kita berperan sebagai ibu Zebedus dan berhadapan dengan
jawaban dan kata-kata Yesus. Sebagai orang yang berperasaan tentu kata-kata
Yesus merupakan pukulan yang mematikan langkah kita. Tidak ada cara lain bagi
kita selain merefleksikan kembali kerinduan dan segala impian kita dalam
kaitannya dengan aksi kehidupan yang kita mainkan. Jawaban Yesus hari ini
membenarkan ungkapan bahwa manusia boleh merencanakan dan menginginkan tetapi
Tuhan yang menentukan. Yang terjadi kadang-kadang terbalik Tuhan merencanakan
kita menentukan. Dan ini jelas dalam sikap dan mental ibu Zebedeus. Kita
mengakui kelemahan kita, andai kata kita mewarisi semangat Ibu Zebedeus …
Injil hari
ini mengingatkan kita adanya dua model persaudaraan yaitu persaudaraan rohani
dan persaudaraan jasmani. Persaudaraan rohani melebihi persaudaraan jasmani. Orang-orang
yang hidup dalam persaudaraan rohani ini dengan cara khusus ataupun menjadi
religius akan lebih akrab dengan saudara rohani ketimbang persaudaraan jasmani.
Mengapa demikian? Sebab persaudaraan rohani memiliki tugas dan tanggung jawab
lebih penting yang harus diutamakan daripada hal lainnya.
Yesus sangat tegas
mengenai hal ini. Yesus sadar bahwa Ia mesti melaksanakan panggilan khusus yang
diterima-Nya dari Bapa. Yesus berusaha melaksanakan panggilan-Nya melayani umat
dan tanpa bermaksud menyangkal keberadaan keluarga-Nya. Yesus memahami dan
mengajarkan apa yang harus diprioritaskan dalam hidup-Nya. Untuk itu, Yesus
sangat mengharapkan pengertian dari keluarga. Hal ini nyata ketika Ia berkata:
"Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?" Dalam hal ini, Yesus
mau menegaskan bahwa sekarang dan di sini prioritas adalah melayani umat
sementara urusan keluarga itu ada waktunya. Melaksanakan kehendak Bapa itulah
urusan pertama dan terutama yang dilakukan Yesusu. Mereka yang melaksanakan
kehendak Bapa mereka itulah ibu dan saudara-saudari Yesus.
Kita semua menajdi
saudara Yesus. Kita akan menjadi prioritas bagi-Nya apabila kita mau dan selalu
melaksanakan kehendak Bapa sebagaimana dilakoni-Nya. Kita berdoa agar kita juga
dikuatkan dalam tugas kita mewujudkan kehendak Bapa dalam karya pelayanan kita.
Semoga kita lebih mengutamakan tugas
panggilan kita tanpa terhalang oleh apa pun juga. Untuk itu marilah kita akui
kelemahan kita. Saya mengaku...
Sebagai pengikut Kristus semua kita dalam dalam cara
yang berbeda dipanggil untuk menjadi gembala bukan saja untuk diri sendiri
tetapi terlebih lagi untuk orang lain. Panggilan menjadi gembala dalam konteks
ini berarti pula kita menjadikan Yesus sebagai acuan atau rujukan utama.
Kegembalaan dan kepemimpinan Yesus bermuara pada terciptaknya persaudaraan,
perdamaian dan keadilan. Persaudaraan, perdamaian, dan keadilan merupakan buah
yang paling nyata dari iman kita akan Kristus sebagai gembala agung kita.
Sebagai manusia, kita mungkin alpa dalam mewujudkan persaudaraan karena lebih
mengutamakan diri. Mungkin kita alpa mewujudkan perdamian karena terlibat dalam
perselihan dan salah paham. Mungkin kita alpa karena berlaku kurang adil. Kita
sesali semuanya mengawali perayaan yang menyelamatkan ini.
Renungan
Media
massa kita dalam aneka kemasan dan tampilannya hampir pasti mengangkat masalah
berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Pelbagai masalah yang diangkat juga
biasanya dikaitkan dengan figur pemimpin. Karena itu, apa pun masalah yang
ditemukan dalam kehidupan baik sebagai warga negara, maupun sebagai warga
gereja orang dengan mudahnya merumuskan dalil ini: “Kalau masalah ada itu sama artinya pemimpinnya bermasalah”. Dengan
kata lain, ada tidaknya masalah bergantung pada pemimpinnya. Pemimpin yang
tidak bermasalah tidak akan menghadirkan masalah pada warga yang dipimpinnya.
Firman Tuhan untuk kita hari ini tampaknya masih dan
tetap aktual dan relevan dengan situasi kita sampai saat ini. Bacaan-bacaan
tadi pada dasarnya berbicara soal dinamika
dan kinerja orang-orang yang dipercayakan sebagai pemimpin. Masalah kepemimpinan menjadi kata kunci yang kiranya perlu dan
penting untuk kita maknai dalam terang
ketiga bacaan tadi. Istilah, kata kepemimpinan itu memang tidak dibahasakan secara
eksplisit tetapi dibahasakan dalam sebuah analogi. Pemimpin dan kepemimpinan
dalam penggalan bacaan tadi menggunakan kata gembala dan kegembalaan. Seorang
pemimpin itu analog dengan seorang gembala. Analogi seperti ini terutama dalam
kaitannya dengan kualifikasi dan dinamika perannya.
Yeremia dalam nubuatnya hari ini memaparkan pelbagai
penyelewengan para pemimpin masa itu yang dipercayakan untuk memimpin bangsa
terpilih. .Para gembala yang diangkat tidak lagi melihat perannya sebagai
amanat Tuhan. Para pemimpin mengkianati kepercayaan yang diberikan untuk
memimpin dan mempersatukan. Pemimpim saat itu
bukannya mempersatukan massa yang dipimpinnya tetapi semuanya justru
menjadi provokator, pememecah belah. Melalui Yeremia Tuhan tidak lagi
menawarkan pilihan atau negosiasi tertentu melainkan membawa keputusan yang
bersifat tetap yaitu mengambil dan mengalihkan peran kepemimpinan itu kepada
pemimpin lain yang akan menjamin keadilan, perdamian. Yeremia dalam
kapasitasnya sebagai seorang nabi meneruskan keputusan itu. Pemimpin yang
bertindak lalim harus menerima hukuman setimpal. Yeremia menubuatkan bahwa
Tuhan akan mengambilalih dan mengalihkan
kekuasaan para gembala yang tidak tidak menjalankan perannya secara
benar. Tuhan mengalihkan peran itu karena dalam masa kepemimpinan sebelumnya
rakyat tidak merasakan keadilan, kedamaian, kebebasan, kebijaksanaan.
Tuhan menghendaki agar dunia ini berkeadilan karena
hakikat Allah itu adil. Pengalihan peran yang digambarkan Nabi membawa
implikasi luar biasa dalam mengubah tatatan kehidupan yang dikehendaki Tuhan.
Pengalihan itu juga membahasakan adanya pergeseran paradigma kepemimpinan dari
kepemimpinan yang cenderung lalim menjadi kepemimpinan yang mengedepankan
dimensi kebersamaan yang mendamaikan. Pemimpin itulah yang diramalkan nabi yang
kepenuhannya nyata dalam diri Yesus sang raja damai yang kelak akan menjadi
hakim yang adil.
Kondisi kehidupan yang digambarkan nabi Yeremia masih
mewarnai kehidupan manusia semasa Paulus. Penggalan surat Paulus
menginformasikan kepada kita tentang kondisi kehidupan jemaat Efesus. Paulus
dalam suratnya menegaskan dan meyakinkan jemaat Efesus untuk hidup dalam dalam
perdamaian dan persaudaraan dengan semua orang dari segala bangsa. Pada masa
itu orang Efesus membangun tembok pemisah dengan bangsa lain dan menganggap
Yesus adalah figur eksklusif mereka. Paulus menentang sikap mereka karena Yesus
itu menjadi pintu yang terbuka untuk setiap orang yang percaya. Paulus
mengingatkana mereka bahwa kedatangan Yesus telah meruntuhkan tembok pemisah,
dan mendamaikan setiap perseteruan manusia. Bagi Paulus Yesus adalah pemimpin
sejati yang mendamaikan segala bangsa. Mendekatkan yang jauh.
Yesus sebagai manusia tidak pernah mengikuti pendidikan
formal. Tidak ada catatan di mana Yesus mengikuti kuliah atau catatanh fakultas
Sosial Politik yang mempersiapkan dirinya sebagai pemimpin atau politisi.
Meskipun demikian Yesus tetap menjadi figur tipikal dalam hal kepemimpinan.
Sebagai seorang gembala Yesus menempatkan dirinya pada posisi yang strategis.
Sebagai gembala ia berada di belakang kawanan domba-Nya menuntun domba-Nya ke
padang rumput dan sumber air yang segar. Sebagai gembala ia juga berada di
tengah kawanan-Nya untuk memberikan teladan hidup, dan ketika mengakhiri
misi-Nya di dunia Yesus mengambil posisi terdepan untuk menunjukkan manusia
jalan kepada Bapa. Apa yang kemudian digagaskan tokoh pendidikan Kihajar
Dewantoro jauh sebelumnya telah diterapkan dalam kepemimpinan Yesus.
Penginjil Markus memberi penjelasan dan informasi
tentang kepemimpinan Yesus. Yesus
sungguh sukes sebagai seorang pemimpin. Ia adalah pemimpin atau gembala sejati.
Apa yang menjadi kunci keberhasilan Yesus dalam hal kepemimpinan itu? Ada
beberapa hal penting yang mungkin perlu kita renungkan dari pola kepemimpinan
Yesus sampai ia berhasil.
Pertama, Yesus memaknai
kepemimpinan itu lebih sebagai tindakan daripada status, jabatan dan
posisi. Bagi Yesus kepemimpinan itu adalah aksi bukan posisi (Leadership is
Action not position). Secara spiritual kepemimpinan Yesus adalah pelayanan). Kedua,
kepemimpinan Yesus unggul dan berhasil karena ia mampu mengintegrasikan dua
kutub kehidupan manusia yaitu aksi dan kontemplasi. Dalam menjalankan tugas-Nya
Yesus selalu menjaga keseimbangan antara vita
aktiva dengan vita kontemplativa.
Dia sibuk dalam aktivitas pewartaan-Nya tetapi selalu diimbangi dengan
mengambil waktu untuk berdiam diri dan melakukan refleksi. Setelah bergulat
dalam pelbagai kesibukan Yesus menyiapkan waktu untuk mencari kehendak Tuhan. Catatan:Lokasi
terjadinya kisah injil tadi terjadi di dua tempat. Lokasi pertama Yesus sibuk melayani di Daerah Tiberias salah
satu sisi danau yang oleh orang Galilea menyebutnya danau Galilea, dan orang
Tiberias menyebutnya danau Tiberias. Bulan Juli tahun lalu saya dengan
rombongan peziarah berlayar dengan perahu dari Kota Tiberias ke kota
Galilea sekitas 45 menit mengikuti alur
yang dilayari Yesus dalam injil tadi. Untuk sampai ke tempat yang sepi itu harus jalan darat
dari Galilea. Yang mengherankan orang banyak yang sebelumnya ada di Tiberias
tiba duluan di tempat yang sunyi itu padahal jalan darat lebih jauh daripada
menggunakan perahu. Itu artinya mereka sungguh berjuang menjumpai Yesus sebagai
satu-satunya harapan. Tempat Yesus menyepi yang dikatakan dalam injil tadi
berada di kota Kafernaum tepatnya berdekatan dengan gereja Delapan Sabda
Bahagia dan Gereja Pengangkatan Petrus. Di tempat Yesus menyepi itu sekarang
banyak rahib dan ahli kitab suci yang menjalankan refleksi dan meditasi
pribadi. Aksi dan refleksi bagi orang
beriman termasuk bagi pemimpin harus dijaga keseimbangannya. Orang banyak juga
mengikuti Yesus yang mau menyepi.
Ketiga, kepemimpinan Yesus berhasil karena Ia
mengutamakan kecerdasan emosional daripada kecerdasan intelektual. Temuan para
ahli pada abad ini tentang kecerdasan emosional sudah dipraktikkan Yesus 21
abad silam. Yesus berhasil dalam pewartaannya karena ia unggul secara
emosional. Kecerdasan emosional itulah yang mewarnai pewartaan Yesus.
Pendekatan kemanusiaan yang menjadi ciri pewartaaan-Nya merupakan ekspresi kecerdasan
emosional-Nya. Ia tidak bergelar akademis sebagai barometer kapasitas
kecerdasan inteletual-Nya. Injil tadi menggambarkan bagaimana Hati Yesus
tergerak oleh belas kasih. Hati yang tergerak karena belaskasih adalah ungkapan
kecerdasan emosional yang selalu digunakan Yesus dalam pewartaanNya. Jelaslah
bagi kita bahwa menjadi pemimpin yang baik tidak mesti dan tidak harus memiliki
kecerdasan intelektual yang tinggi. Yang harus dimiliki adalah kecerdasan
emosional yang tinggi karena kecerdasan emosional secara otomatis mengendalikan
kecerdasan inteletual.
Dalam konteks kehidupan dunia mungkin tidak semua kita
bisa menjadi pemimpin, tetapi sebagai orang beriman, pengikut Kristus kita
semua adalah pemimpin. Kita semua dalam cara dan melalui bidang tugas kita
masing-masing dapat menjadi pemimpin. Pemimpin di dalam keluarga, di dalam
komunitas, di dalam lingkungan kerja, dll. Sebagai pemimpin kita mau tidak mau
harus mengacu pada pola kepemimpinan Yesus sendiri melihat kepemimpinan sebagai
pelayanan, yang menjaga keseimbangan antara aktivitas dengan refleksi dan yang
mengedepankan hati nurani untuk melahirkan pola pendekatan manusiawi daripada
pertimbangan akal semata. Kita semua telah mengakui diri sebagai pengikut
Kristus maka marialh kita menjadi gembala dalam konteks tugas karya pelayanan
kita. Semoga..