Friday, August 3, 2012

SANTO IGNASIUS LOYOLA


Pesta St.Ignatius Loyola  Selasa, 31 Juli 2012
Yer.14,17-22; Mat.13,36-43
Komunitas Frater BHK Malang
Renungan
Hari ini kita merayakan pesta santu Ignasius dari Loyola. Ia dilahirkan tahun 1491 di Spanyol Utara. Ignasius adalah keturunan bangsawan yang sejak kecil hidup dalam kelimpahan sebagai putra bangsawan. Tahun 1517 ia mendaftarkan diri sebagai tentara kerajaan Spanyol dan empat tahun kemudian  tepatnya tahun 1521 Ignasius mengalami penderitaan karena ditembak pasukan musuh ketika mempertahankan benteng Pamplona yang hendak dikuasai pasukan Prancis. Dia dirawat intensif dan cukup lama di salah satu rumah sakit setempat. Dalam masa perawatannya ia mengisi waktunya dengan membaca buku-buku tentang kehidupan Yesus dan kehidupan orang kudus. Buku-buku yang dibacanya sungguh meneguhkan dan menguatkan dia dalam perjuangannya. Dari buku-buku yang dibacanya itu ia merasa tergerak untuk mengikuti jejak Kristus. Dari sana ia merasakan adanya sesuatu yang mendoronganya untuk terus mendalami relasi pribadinya dengan Tuhan. Ignatius akhirnya memutuskan untuk hidup hanya mengadi kepada Tuhan. Prinsip hidupnya sampai saat ini menjadi moto para pengikutnya yaitu para imam Jesuit: Ad Maiorem Dei Gloriam atau segala sesuatu hanya demi Kemuliaan Tuhan. Prinsip inilah yang mendasari segala perjuangannya. Sikap Santo Igatius ini amat nyata dalam doa penyerahan dirinya dan doa itulah yang sering kita nyayikan sebagai lagu persembahan. Ambillah ya Tuhan kebebasanku, kehendakku budi ingatanku . Pimpinlah diriku dan Kau kuasai. Perintahlah akan kutaati. Hanya rahmat dan kasih dari-Mu, yang kumohon menjadi milikku. Berikanlah menjadi milikku. Lihatlah semua yang ada padaku, kuhaturkan menjadi milikMu. Pimpinlah diriku dan Kau kuasai, perintahlah akan kutaati.(Ignatius Loyola).
Kita berdoa semoga kita dapat belajar untuk melakukan segalanya demi kemuliaan Tuhan. Lebih dari itu semoga kita dapat belajar dari santo Ignasius yang mengenal dan mencintai Tuhan hanya karena akrab dan rajin membaca kisah kehidupan Yesus dan para kudus. Marilah kita akui segala salah dan dosa kita, terutama salah dosa karena kurang memanfaatkan waktu untuk membaca dan mengenal Tuhan dalam bacaan Kitab Suci dan bacaan rohani.

MINGGU BIASA PEKAN XVII THN B


Minggu Biasa ke-17 thn. B2. 29 Juli 2012
2Raj.4,42-44;  Ef.4,1-6; Yoh.6,1-15 
Komunitas Frater BHK Malang
Renungan
Bicara tentang mukjizat, kerap orang memahami mukjizat sebagai sesuatu yang luar biasa yang terjadi dalam hidup: misalnya orang yang sudah divonis dokter, bahwa penyakitnya tidak akan sembuh, setelah berupaya ternyata sembuh. Atau peristiwa-peristiwa hidup yang luar biasa. Maka tidak mengherankan kalau dalam bacaan Injil dikisahkan bahwa orang berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka ingin mukjizat-mukjizat penyembuhan, yang diadakanNya. Pada kesempatan ini, Yesus mengadakan mukjizat penggandaan roti.
Mukjizat ini bukanlah mukjizat yang pertama. Artinya, orang-orang pada jaman itu tentu akan ingat bahwa sebelum Yesus juga pernah ada mukjizat ini. Dalam bacaan pertama (2Raja-raja 4:42-44) dikisahkan bahwa Elisa juga mengadakan mukjizat penggandaan roti, tapi dalam jumlah yang lebih kecil dari yang dibuat oleh Yesus. Elisa menggandakan roti untuk memberi makan seratus orang, sementara Yesus menggandakan roti untuk memberi makan lima ribu orang. Dari situ, pernyataannya adalah: apa yang ingin Yesus sampaikan dengan tindakan mengadakan mukjizat itu? Mengapa yang digunakan untuk mengadakan mukjizat adalah roti dan bukan yang lain?
Dengan mukjizat diharapkan orang menjadi semakin percaya dan semakin dekat dengan Tuhan. Bahkan Yesus ingin menegaskan bahwa Tuhan tidak hanya dekat tapi sungguh menyatu dalam hidup manusia. Yesus ingin bahwa apa yang Ia wartakan yakni Kerajaan Allah, sungguh hadir secara nyata. Kecuali itu, mukjizat penggandaan roti mencerminkan Ekaristi. Mengapa roti? Roti adalah makanan pokok orang Yahudi. Roti adalah sumber kehidupan. Sehingga, dengan mengadakan mukjizat penggandaan roti mengingat Yesus semudah mengingat roti. Artinya, dengan mukjizat ini lalu orang menyadari bahwa Yesus adalah sumber kehidupan. Yesus terus memberikan kehidupan itu kepada manusia. Itulah yang terjadi dalam Ekaristi. Yesus bukan hanya menggandakan roti, tapi memberikan diriNya sebagai makanan yang meneguhkan, menyelamatkan. Dalam Ekaristi pemberian diri yang sempurna terjadi.
Maka dari itu, beberapa inspirasi iman bisa kita petik. Kita bisa belajar dari tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa itu: Yesus, para murid, orang banyak, seorang anak yang mempunyai lima roti dan dua ikan. Belajar dari Yesus; Yesus begitu memperhatikan kebutuhan sesama (dalam hal ini kebutuhan orang banyak akan makanan). Yesus sungguh hadir sebagai Allah yang menyelenggarakan kehidupan. Yesus adalah sumber keselamatan. Seberapa besar rasa syukur kita haturkan atas rahmat kehidupan dan penyelenggaraan hidup yang telah kita terima? Apakah rasa syukur itu juga mendorong diriku untuk dengan jeli memperhatikan kebutuhan sesama? Dari orang banyak yang berbondong-bondong, kita belajar untuk bertanya motivasi dasar apakah yang melatar belakangi kita untuk mengikuti Yesus? Apakah terpesona oleh mukjizat yang dibuat Yesus atau karena sadar bahwa Yesus adalah sumber kehidupan sejati? Masihkah kita ragu bahwa setiap merayakan Ekaristi, kita menyaksikan mukjizat yang sangat agung, yakni Yesus yang hadir secara nyata. Bukan hanya menyaksikan tapi juga menerima dan bersatu dengan Yesus Sang Sumber kehidupan? Masihkah kita mencari mukjizat-mukjizat lain?
Belajar dari Filipus: apakah kita juga bersikap seperti Filipus yang mempertanyakan permintaan Yesus sebagai sebuah kemustahilan: memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan? Ada banyak keterbatasan dalam kehidupan kita, apakah keterbatasan itu lalu menghambat kita untuk berkembang, untuk maju? Belajar dari anak kecil: ia rela memberikan lima roti dan dua ikan kepada Yesus, lalu Yesus mengambil, mengucap syukur dan membagi-bagikan roti itu. Relakah kita seperti anak kecil itu, memberikan sesuatu yang kecil, terbatas kepada Yesus? Kalau sikap ini ada, maka segala keterbatasan, ketidak berdayaan bila diserahkan kepada Yesus, akan menghasilkan sebuah perubahan yang luar biasa. Kita bisa membandingkan dengan lima roti dan dua ikan untuk lima ribu orang, bahkan masih sisa.
Kita juga bisa belajar, apa yang sebenarnya terjadi kalau kita mau berbagi seperti anak kecil itu? Tuhan sendirilah yang berbagi melalui kita. Ketika saya berbagi, Allah melakukan atau mengerjakan untuk orang lain. Tuhan menciptakan jauh lebih banyak daripada yang dipikirkan oleh manusia. Maka kita belajar: 1. Tidak perlu takut berbagi, karena Tuhan sendiri yang melakukan. 2. Berbagi membuat orang terbebas dari kesombongan rohani. 3. Berbagi membuat hidup kita berkelimpahan.

SABTU BIASA PEKAN XVI THN B


Pekan Biasa ke-16 Tahun B2. Sabtu,28 Juli 2012
Yer.7,1-11;  Mat 13:24-30
Frateran BHK Malang
Renungan
Baik dan buruk adalah fakta kehidupan. Kehidupan manusia sepanjang zaman diwarnai hal baik dan hal buruk. Kebaikan dan keburukan adalah dialektika kehidupan yang menuntut manusia menentukan pilihan dalam memaknai kehidupannya. Kehidupan manusia sejak awal hanyalah kebaikan karena manusia dari semula diciptakan sebagai yang terbaik. Manusia ibarat tanaman gandum yang Tuhan tempatkan di ladang kehidupan dengan harapan pada waktunya akan menghasilkan panen yang berlimpah.
Injil hari ini berkisah tentang perumpamaan rumput lalang di antara gandum. Gandum itu benih yang baik dan sengaja ditanam agar tumbuh dan menghasilkan sesuatu bagi kehidupan. Sementara itu ilalang seperti yang kita ketahui  merupakan tanaman perusak yang  menghalangi pertumbuhan gandum. Jika ilalang dibiarkan hidup lama bersama dengan gandum, maka pertumbuhan gandum tidak akan sempurna. Gandum tidak akan menghasilkan bulir yang bisa memberikan harapan bagi petani yang menanamnya. Itulah sebabnya pengagrap lahan gandum itu mengusulkan agar ilalang itu segera dicabut.
Sayangnya, pemilik lahan garapan tidak menanggapai usulan yang logis dan praktis itu.  Sikap  pemilik lahan amat cermat. Ia tahu apa akibatnya kalau ilalang pengganggu gandum itu dicabut segera. Ia takut jangan-jangan gandum itu ikut tercabut. Bagi pemilik lahan upaya pengenalan akan ilalang di antara gandum itu membutuhkan proses yang panjang. Bagi pemilik lahan rumput akan diketahui dengan sendirinya ketika sampai pada musim panen. Si tuan lahan menunggu waktu panen tiba.
Kalau saja kehidupan kita dengan orang lain itu ibarat sebuah lahan maka tentu saja kita inginkan lahan kehidupan ditumbuhi tanaman yang baik dan berguna. Tendensi pada kebaikan adalah kodrat manusia, karena manusia berasal dari kebaikan dan berjalan menuju kebaikan. Arah hidup menuju kebaikan itu dalam kenyataannya terganggu karena ada yang berlaku ibarat rumput liar. Kenyataan seperti itu, bisa saja membuat kita seperti si penggarap lahan yang berpikir logis, praktis untuk segera mencabut rumput liar itu. Injil hari ini memberikan kita pesan penting tentang perlunya dan pentingan proses perjenernihan sikap dan pandangan terhadap hal yang mengganggu hidup kita. Tuhan mengajarkan kita tentang pentingnya kesabaran menghadapi hal dianggap mengganggu hidup kita. Kita bukanlah pemilik lahan. Kita hanyalah orang upahan. Karena itu eksekusi itu hak prerogatif Tuhan pemilik lahan. Kalau kita sudah tergolong gandum, Tuhan menghendaki agar kita tetap bertahan sebagai gandum sampai hari Tuhan tiba. Dengan demikian, Tuhan akan sama-sama merangkul kita untuk hidup abadi. Rumput liar itu urusan Tuhan pemilik kehidupan.

SANTA ANNA DAN YOAKIM


Pekan Biasa ke-16 Tahun B2. Kamis 26 Juli 2012
Sir.44,11,10-15;  Mat 13:16-17
Pesta Santa Anna dan Yoyakim; Frateran BHK Malang

Renungan
Anna dan Yoakim, orang tua St.Perawan Maria yang kita rayakan hari ini adalah dua tokoh yang berasal dari keturunan raja Daud, dan dikenal karena kesetiaan mereka dalam menjalankan kewajiban keagamaan serta mengabdi dan mengasihi Allah dan sesama dengan ikhlas. Dan karena itu keduanya dianggap layak untuk ikut ambil bagian dalam rencana keselamatan Allah atas dunia. Anna dan Yoyakim tergolong orang kecil ang kemudian terkenal. Keduanuanya termasuk tokoh yang mewariskan nilai abadi bagi kehidupan manusia. Kita tidak bisa memahami Yesus tanpa kehadiran Bunda Maria. Memahami Maria juga tidak bisa tanpa melibatkan kedua orangtuanya.  Kehoidupan Maria banyak membahasakan cara hidup Anna dan Yoyakim.
Dikatakan bahwa sejak perkawinannya dengan Yoakim, Anna tidak henti-hentinya mengharapkan karunia Tuhan berupa seorang anak. Sebab bagi orang Yahudi, wanita yang tidak dapat melahirkan anak dianggap sebagai kutukan Tuhan. Sehingga keduanya  tanpa putus asa berdoa kepada Allah agar kenyataan pahit yang dialami bisa terhindarkan.  Oleh karena itu, kelahiran Maria, apalagi di saat usia mereka yang sudah tua itu, mereka anggap lebih sebagai buah rahmat Allah, hasil campur tangan Allah sendiri,  daripada sesuatu yang kodrati-manusiawi. Hal yang perlu kita belajar dari kedua tokoh tersebut adalah:
Pertama: kesabaran dan ketekunan mereka dalam mengharapkan bantuan Allah. Bagi keduanya, anggapan orang atau usia tua TIDAK MENGHALANGI ALLAH untuk menunjukkan kemahakuasaan-Nya, bila kita tetap bersabar dan bertekun. Dalam diri mereka, ada semacam prinsip hidup: Tidak ada usaha yang tidak ada hasilnya, tidak ada doa yang tidak terkabulkan, asalkan kita bersabar dan bertekun. Kedua: Sikap tahu diri dari keduanya. Bahwa apa yang mereka capai/peroleh itu adalah pertama-tama karena campur tangan Allah, bukan semata usaha mereka sendiri.  
Kesabaran ketekunan serta sikap tahu diri itu oleh injil dikatakan sebagai orang yang mempunyai mata dan melihat, mempunyai telinga dan mendengarkan. Apakah  kitatergolong sebagai cukup sabar, tekun dan tahu diri?  Yesus memberikan awasan untuk kita hari ini: “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Kita memohon agar  Tuhanmembuka mata dan telinga hati kita. Untuk itu kita sesali salah dan dosa kita….

SANTO YAKOBUS RASUL


Pekan Biasa ke-16 Tahun B2. Rabu, 25 Juli 2012
Mik.7:14-15.18-20;  Mat 12:46-50
Santo Yakobus Frateran BHK Malang
Renungan
Hari ini kita merayakan pesta Santo Yakobus Rasul. Dia digelar kudus karena telah melakukan segala perkara yang baik selama hidupnya. Dia mendapatkan posisi yang memang kepadanya Tuhan sudah menyediakan posisi itu. Dia mendapatkan posisi karena ia telah menjalankan misi pelayanan yang menjadi inti karya dan perwartaan Yesus. Mendengarkan kisah injil hari ini kita akan dikejutkan karena Yesus berhadapan dengan seseorang yang meminta tetapi orang itu dicap sebagai orang yang tidak tahu apa yang diminta dan cara meminta yang benar. Jawaban Yesus sungguh mematikan langkah  ibu Zebedeus.
Dari Dialog para tokoh injil hari ini kita diingatkan bahwa  pengikut Kristus tidak boleh berpikir untuk menjadi besar dan termasyur. Pengikut Kristus hanya diminta mendedikasikan diri secara total  yang diringkas dalam kata pelayan. Pelayanan itu mencakup dua konsep yang bertolak belakang yaitu dilayani dan melayani. Bagi Yesus opsi atau pilihan strategis pengikut Kristus yang menjaminan mendapatkan posisi adalah pilihan kata layan berawalan me- dan bukan pilihan layan beraawalan di-  Jenis pilihan itu membahasakan dimensi pasivitas dan dimensi aktivitas. Dilayani berarti aku sebagai subjek berada dalam konsisi pasif dan statis. Sebaliknya, melayani berarti aku sebagai subjek berada dalam kondisi aktif dinamis. Aktif dinamis adalah bahasa kehidupan, Aktif dinamis itu tanda orang hidup dalam spirit mencapai sesuatu. Mendapatkan tempat strategis menurut Yesus harus bermula dari kedalaman lembah kerendahan hati yang disertai dengan tindakan aksi yang  bernuansa kelemahlembutan. Melayani berarti mengasihi dan bukannya menguasai seperti halnya penguasa yang memerintah dengan tangan besi.
Kita, sebagai pengikut Kristus tentu penya kerinduan mendapatkan apa yang kita inginkan. Tetapi, bagaimana rasanya kalau hari ini kita berperan sebagai ibu Zebedus dan berhadapan dengan jawaban dan kata-kata Yesus. Sebagai orang yang berperasaan tentu kata-kata Yesus merupakan pukulan yang mematikan langkah kita. Tidak ada cara lain bagi kita selain merefleksikan kembali kerinduan dan segala impian kita dalam kaitannya dengan aksi kehidupan yang kita mainkan. Jawaban Yesus hari ini membenarkan ungkapan bahwa manusia boleh merencanakan dan menginginkan tetapi Tuhan yang menentukan. Yang terjadi kadang-kadang terbalik Tuhan merencanakan kita menentukan. Dan ini jelas dalam sikap dan mental ibu Zebedeus. Kita mengakui kelemahan kita, andai kata kita mewarisi semangat Ibu Zebedeus …

SELASA BIASA PEKAN XVI THN B


Pekan Biasa ke-16 Tahun B2. Selasa, 24 Juli 2012
Mik.7:14-15.18-20;  Mat 12:46-50
Frateran BHK Malang
Renungan
Injil hari ini mengingatkan kita adanya dua model persaudaraan yaitu persaudaraan rohani dan persaudaraan jasmani. Persaudaraan rohani melebihi persaudaraan jasmani. Orang-orang yang hidup dalam persaudaraan rohani ini dengan cara khusus ataupun menjadi religius akan lebih akrab dengan saudara rohani ketimbang persaudaraan jasmani. Mengapa demikian? Sebab persaudaraan rohani memiliki tugas dan tanggung jawab lebih penting yang harus diutamakan daripada hal lainnya.
Yesus sangat tegas mengenai hal ini. Yesus sadar bahwa Ia mesti melaksanakan panggilan khusus yang diterima-Nya dari Bapa. Yesus berusaha melaksanakan panggilan-Nya melayani umat dan tanpa bermaksud menyangkal keberadaan keluarga-Nya. Yesus memahami dan mengajarkan apa yang harus diprioritaskan dalam hidup-Nya. Untuk itu, Yesus sangat mengharapkan pengertian dari keluarga. Hal ini nyata ketika Ia berkata: "Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?" Dalam hal ini, Yesus mau menegaskan bahwa sekarang dan di sini prioritas adalah melayani umat sementara urusan keluarga itu ada waktunya. Melaksanakan kehendak Bapa itulah urusan pertama dan terutama yang dilakukan Yesusu. Mereka yang melaksanakan kehendak Bapa mereka itulah ibu dan saudara-saudari Yesus.
Kita semua menajdi saudara Yesus. Kita akan menjadi prioritas bagi-Nya apabila kita mau dan selalu melaksanakan kehendak Bapa sebagaimana dilakoni-Nya. Kita berdoa agar kita juga dikuatkan dalam tugas kita mewujudkan kehendak Bapa dalam karya pelayanan kita.  Semoga kita lebih mengutamakan tugas panggilan kita tanpa terhalang oleh apa pun juga. Untuk itu marilah kita akui kelemahan kita. Saya mengaku...

MINGGU BIASA PEKAN XVI THN B


Minggu Biasa ke-16 thn. B2. 22 Juli 2012
Yer.23,1-6;  Ef.2,13-18;  Mrk.6,30-34
Kapela Lingkungan Bagas Singasari Malang
Buka
Sebagai pengikut Kristus semua kita dalam dalam cara yang berbeda dipanggil untuk menjadi gembala bukan saja untuk diri sendiri tetapi terlebih lagi untuk orang lain. Panggilan menjadi gembala dalam konteks ini berarti pula kita menjadikan Yesus sebagai acuan atau rujukan utama. Kegembalaan dan kepemimpinan Yesus bermuara pada terciptaknya persaudaraan, perdamaian dan keadilan. Persaudaraan, perdamaian, dan keadilan merupakan buah yang paling nyata dari iman kita akan Kristus sebagai gembala agung kita. Sebagai manusia, kita mungkin alpa dalam mewujudkan persaudaraan karena lebih mengutamakan diri. Mungkin kita alpa mewujudkan perdamian karena terlibat dalam perselihan dan salah paham. Mungkin kita alpa karena berlaku kurang adil. Kita sesali semuanya mengawali perayaan yang menyelamatkan ini.

Renungan
Media massa kita dalam aneka kemasan dan tampilannya hampir pasti mengangkat masalah berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Pelbagai masalah yang diangkat juga biasanya dikaitkan dengan figur pemimpin. Karena itu, apa pun masalah yang ditemukan dalam kehidupan baik sebagai warga negara, maupun sebagai warga gereja orang dengan mudahnya merumuskan dalil ini: “Kalau masalah ada itu sama artinya pemimpinnya bermasalah”. Dengan kata lain, ada tidaknya masalah bergantung pada pemimpinnya. Pemimpin yang tidak bermasalah tidak akan menghadirkan masalah pada warga yang dipimpinnya.
Firman Tuhan untuk kita hari ini tampaknya masih dan tetap aktual dan relevan dengan situasi kita sampai saat ini. Bacaan-bacaan tadi pada dasarnya berbicara soal  dinamika dan kinerja orang-orang yang dipercayakan sebagai pemimpin. Masalah kepemimpinan menjadi kata kunci yang kiranya perlu dan penting untuk  kita maknai dalam terang ketiga bacaan tadi. Istilah, kata kepemimpinan itu memang tidak dibahasakan secara eksplisit tetapi dibahasakan dalam sebuah analogi. Pemimpin dan kepemimpinan dalam penggalan bacaan tadi menggunakan kata gembala dan kegembalaan. Seorang pemimpin itu analog dengan seorang gembala. Analogi seperti ini terutama dalam kaitannya dengan kualifikasi dan dinamika perannya.
Yeremia dalam nubuatnya hari ini memaparkan pelbagai penyelewengan para pemimpin masa itu yang dipercayakan untuk memimpin bangsa terpilih. .Para gembala yang diangkat tidak lagi melihat perannya sebagai amanat Tuhan. Para pemimpin mengkianati kepercayaan yang diberikan untuk memimpin dan mempersatukan. Pemimpim saat itu  bukannya mempersatukan massa yang dipimpinnya tetapi semuanya justru menjadi provokator, pememecah belah. Melalui Yeremia Tuhan tidak lagi menawarkan pilihan atau negosiasi tertentu melainkan membawa keputusan yang bersifat tetap yaitu mengambil dan mengalihkan peran kepemimpinan itu kepada pemimpin lain yang akan menjamin keadilan, perdamian. Yeremia dalam kapasitasnya sebagai seorang nabi meneruskan keputusan itu. Pemimpin yang bertindak lalim harus menerima hukuman setimpal. Yeremia menubuatkan bahwa Tuhan akan mengambilalih dan mengalihkan  kekuasaan para gembala yang tidak tidak menjalankan perannya secara benar. Tuhan mengalihkan peran itu karena dalam masa kepemimpinan sebelumnya rakyat tidak merasakan keadilan, kedamaian, kebebasan, kebijaksanaan.
Tuhan menghendaki agar dunia ini berkeadilan karena hakikat Allah itu adil. Pengalihan peran yang digambarkan Nabi membawa implikasi luar biasa dalam mengubah tatatan kehidupan yang dikehendaki Tuhan. Pengalihan itu juga membahasakan adanya pergeseran paradigma kepemimpinan dari kepemimpinan yang cenderung lalim menjadi kepemimpinan yang mengedepankan dimensi kebersamaan yang mendamaikan. Pemimpin itulah yang diramalkan nabi yang kepenuhannya nyata dalam diri Yesus sang raja damai yang kelak akan menjadi hakim yang adil.
Kondisi kehidupan yang digambarkan nabi Yeremia masih mewarnai kehidupan manusia semasa Paulus. Penggalan surat Paulus menginformasikan kepada kita tentang kondisi kehidupan jemaat Efesus. Paulus dalam suratnya menegaskan dan meyakinkan jemaat Efesus untuk hidup dalam dalam perdamaian dan persaudaraan dengan semua orang dari segala bangsa. Pada masa itu orang Efesus membangun tembok pemisah dengan bangsa lain dan menganggap Yesus adalah figur eksklusif mereka. Paulus menentang sikap mereka karena Yesus itu menjadi pintu yang terbuka untuk setiap orang yang percaya. Paulus mengingatkana mereka bahwa kedatangan Yesus telah meruntuhkan tembok pemisah, dan mendamaikan setiap perseteruan manusia. Bagi Paulus Yesus adalah pemimpin sejati yang mendamaikan segala bangsa. Mendekatkan yang jauh.
Yesus sebagai manusia tidak pernah mengikuti pendidikan formal. Tidak ada catatan di mana Yesus mengikuti kuliah atau catatanh fakultas Sosial Politik yang mempersiapkan dirinya sebagai pemimpin atau politisi. Meskipun demikian Yesus tetap menjadi figur tipikal dalam hal kepemimpinan. Sebagai seorang gembala Yesus menempatkan dirinya pada posisi yang strategis. Sebagai gembala ia berada di belakang kawanan domba-Nya menuntun domba-Nya ke padang rumput dan sumber air yang segar. Sebagai gembala ia juga berada di tengah kawanan-Nya untuk memberikan teladan hidup, dan ketika mengakhiri misi-Nya di dunia Yesus mengambil posisi terdepan untuk menunjukkan manusia jalan kepada Bapa. Apa yang kemudian digagaskan tokoh pendidikan Kihajar Dewantoro jauh sebelumnya telah diterapkan dalam kepemimpinan Yesus.
Penginjil Markus memberi penjelasan dan informasi tentang  kepemimpinan Yesus. Yesus sungguh sukes sebagai seorang pemimpin. Ia adalah pemimpin atau gembala sejati. Apa yang menjadi kunci keberhasilan Yesus dalam hal kepemimpinan itu? Ada beberapa hal penting yang mungkin perlu kita renungkan dari pola kepemimpinan Yesus sampai ia berhasil.
Pertama, Yesus memaknai  kepemimpinan itu lebih sebagai tindakan daripada status, jabatan dan posisi. Bagi Yesus kepemimpinan itu adalah aksi bukan posisi (Leadership is Action not position). Secara spiritual kepemimpinan Yesus adalah pelayanan). Kedua, kepemimpinan Yesus unggul dan berhasil karena ia mampu mengintegrasikan dua kutub kehidupan manusia yaitu aksi dan kontemplasi. Dalam menjalankan tugas-Nya Yesus selalu menjaga keseimbangan antara vita aktiva dengan vita kontemplativa. Dia sibuk dalam aktivitas pewartaan-Nya tetapi selalu diimbangi dengan mengambil waktu untuk berdiam diri dan melakukan refleksi. Setelah bergulat dalam pelbagai kesibukan Yesus menyiapkan waktu untuk mencari kehendak Tuhan. Catatan:Lokasi terjadinya kisah injil tadi terjadi di dua tempat. Lokasi pertama  Yesus sibuk melayani di Daerah Tiberias salah satu sisi danau yang oleh orang Galilea menyebutnya danau Galilea, dan orang Tiberias menyebutnya danau Tiberias. Bulan Juli tahun lalu saya dengan rombongan peziarah berlayar dengan perahu dari Kota Tiberias ke kota Galilea  sekitas 45 menit mengikuti alur yang dilayari Yesus dalam injil tadi. Untuk sampai  ke tempat yang sepi itu harus jalan darat dari Galilea. Yang mengherankan orang banyak yang sebelumnya ada di Tiberias tiba duluan di tempat yang sunyi itu padahal jalan darat lebih jauh daripada menggunakan perahu. Itu artinya mereka sungguh berjuang menjumpai Yesus sebagai satu-satunya harapan. Tempat Yesus menyepi yang dikatakan dalam injil tadi berada di kota Kafernaum tepatnya berdekatan dengan gereja Delapan Sabda Bahagia dan Gereja Pengangkatan Petrus. Di tempat Yesus menyepi itu sekarang banyak rahib dan ahli kitab suci yang menjalankan refleksi dan meditasi pribadi.  Aksi dan refleksi bagi orang beriman termasuk bagi pemimpin harus dijaga keseimbangannya. Orang banyak juga mengikuti Yesus yang mau menyepi.
Ketiga, kepemimpinan Yesus berhasil karena Ia mengutamakan kecerdasan emosional daripada kecerdasan intelektual. Temuan para ahli pada abad ini tentang kecerdasan emosional sudah dipraktikkan Yesus 21 abad silam. Yesus berhasil dalam pewartaannya karena ia unggul secara emosional. Kecerdasan emosional itulah yang mewarnai pewartaan Yesus. Pendekatan kemanusiaan yang menjadi ciri pewartaaan-Nya merupakan ekspresi kecerdasan emosional-Nya. Ia tidak bergelar akademis sebagai barometer kapasitas kecerdasan inteletual-Nya. Injil tadi menggambarkan bagaimana Hati Yesus tergerak oleh belas kasih. Hati yang tergerak karena belaskasih adalah ungkapan kecerdasan emosional yang selalu digunakan Yesus dalam pewartaanNya. Jelaslah bagi kita bahwa menjadi pemimpin yang baik tidak mesti dan tidak harus memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi. Yang harus dimiliki adalah kecerdasan emosional yang tinggi karena kecerdasan emosional secara otomatis mengendalikan kecerdasan inteletual.
Dalam konteks kehidupan dunia mungkin tidak semua kita bisa menjadi pemimpin, tetapi sebagai orang beriman, pengikut Kristus kita semua adalah pemimpin. Kita semua dalam cara dan melalui bidang tugas kita masing-masing dapat menjadi pemimpin. Pemimpin di dalam keluarga, di dalam komunitas, di dalam lingkungan kerja, dll. Sebagai pemimpin kita mau tidak mau harus mengacu pada pola kepemimpinan Yesus sendiri melihat kepemimpinan sebagai pelayanan, yang menjaga keseimbangan antara aktivitas dengan refleksi dan yang mengedepankan hati nurani untuk melahirkan pola pendekatan manusiawi daripada pertimbangan akal semata. Kita semua telah mengakui diri sebagai pengikut Kristus maka marialh kita menjadi gembala dalam konteks tugas karya pelayanan kita. Semoga..