Saturday, May 7, 2016

MINGGU PASKA KE-7C KOMUNIKASI SEDUNIA KE-50



Minggu Paskah VII/C 8 Mei 2016
Kis. 7,55-60, Why.22,12-20, Yoh 17:20-26)
Hari Minggu Komunikasi Sedunia ke-50
Kapela STKIP Santu Paulus Ruteng

Antifon Pembukaan –bdk.Mazmur 27:7-9
Dengarlah, Tuhan, seruanku kepada-Mu, kasihanilah aku dan jawablah aku! Seturut Sabda-Mu kucari wajah-Mu, wajah-Mu kucari, ya Tuhan. Janganlah menyembunyikan wajah-Mu dari padaku, Alleluya.
Buka 
Setiap tahun, Gereja Katolik semesta merayakan Hari Komunikasi Sosial. Pada tahun 2016, perayaannya memasuki usia ke-50. Inilah usia Emas dari perhatian serta kepedulian Gereja akan persoalan komunikasi sosial. Kemajuan tekhnologi informasi dan komunikasi semakin membangun suatu budaya baru dalam pergaulan hidup manusia. Semua orang terperangah oleh kemajuan tekhnologi ini. Itulah suatu anugerah Tuhan bagi umat manusia. Namun, manusia mempunyai tanggungjawab besar, agar kemajuan ini dapat dipergunakan dengan bijaksana, yakni mengembangkan keadilan, kebenaran, kerukunan dan perdamaian sebagai buah dari perjumpaan komunikasi dan kerahiman. Tema perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia tahun ini: Komunikasi dan kerahaiman: perjumpaan yang memerdekakan”. Tema ini kiran mendorong setiap orang untuk berperan dalam membangun suatu kebersamaan sosial yang sehat, penuh kedamaian dan terbuka untuk berbagi sebagai saudara dan saudari dalam keluarga Allah.
Perayaan Hari Komunikas Sosial sedunia bertujuan untuk mendorong umat, khususnya kaum muda untuk mensyukuri anugerah komunikasi dan menggunakannya dengan penuh tanggung jawab. Komunikasi yang benar dalam semangat cinta kasih akan menciptakan gerakan bersama untuk saling menghormati dan saling melayani sesama sebagai anak-anak dalam Kerajaan Allah. Selamat bersyukur kepada Allah yang menyertai perkembangan media komunikasi serta mendasarkannya pada Kerahiman-Nya!
Seruan Tobat
Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah yang berdoa kepada Bapa di surga, semoga kami murid-murid-Mu bersatu sebagaimana Engkau dalam Bapa. Tuhan, kasihanilah kami.
Engkaulah yang berdoa kepada Bapa di surga, agar semua orang yang diserahkan kepada-Mu, tinggal bersama Engkau di tempat Engkau berada, agar dapat memandang kemuliaan-Mu. Kristus, kasihanilah kami.
Engkaulah yang berdoa kepada Bapa di surga, agar cinta kasih Bapa kepada-mu menetap dalam hati kami, seperti Engkau pun berada dalam diri kami. Tuhan, kasihanilah kami.
Doa Pembukaan
Allah Bapa kami yang mahakuasa, tak ada orang pernah melihat Engkau, tetapi Putera-Mu telah mengajarkan cinta kasih-Mu kepada kami. Kami mohon, peliharalah kami atas nama-Nya. Semoga kami bersatu dan memuliakan Dikau dalam segala tingkah laku kami. Demi Yesus Kristus, Putera-Mu, Tuhan dan pengantara kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan Pertama – Kisah Para Rasul 7:55-60

“Aku melihat Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”

Pembacaan dari Kisah Para Rasul:
Di hadapan mahkamah Agama Yahudi Srefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit; ia melihat kemuliaan Allah, dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Maka katanya, “Sungguh, aku melihat langit terbuka, dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” Maka berteriak-teriaklah para anggota mahkamah, dan sambil menutup telinga serentak menyerbu Stefanus. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus. Sementara dilempari batu, Stefanus berdoa, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku!” Dan sambil berlutut Stefanus berseru dengan suara nyaring, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah Stefanus.
Demikianlah sabda Tuhan.
Syukur kepada Allah.

Tanggapan – Mazmur 97:1.2b.6.7c.9; Ul:1a.9a
Ref. Segala bangsa bertepuk tanganlah berpekiklah untuk Allah Raja Semesta.
Mazmur:
 Tuhan adalah Raja! Biarlah bumi
* bersorak-sorai, biarlah banyak pulau bersukacita! Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya.
 Langit memberitakan keadilan-Nya dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya. Segala dewata sujud menyembah Allah.
*
 Sebab Engkaulah, ya Tuhan, Yang Mahatinggi di atas seluruh bumi. Engka sangat dimuliakan diatas segala dewata.
*

Bacaan Kedua – Wahyu 22:12-14.16-17.20

“Datanglah Tuhan Yesus”

Pembacaan dari Kitab Wahyu:
Aku, Yohanes, mendengar suara yang berkata kepadaku, “Sesungguhnya Aku datang segera, dan Aku membawa upah untuk membalas setiap orang menurut perbuatannya. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.” Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota yang turun dari surga, dari Allah. Aku mendengar pula suara yang berkata, “Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah Tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang gemilang.” Roh dan pengantin perempuan itu berkata, “Marilah!” Barangsiapa haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini berfirman, “Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah, Tuhan Yesus!
Demikianlah Sabda Tuhan.
Syukur kepada Allah.

BAIT PENGANTAR INJIL – Yohanes 14:18

S: Alleluya. U: Alleluya.

S: Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku akan datang kembali kepadamu, dan hatimu akan bersukacita.
U: Alleluya.

Bacaan Injil – Yohanes 17:20-26

“Supaya mereka sempurna menjadi satu”

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:
Dalam perjamuan malam terakhir, Yesus menengadah ke langit dan berdoa bagi para pengikut-Nya, “Bapa yang kudus, bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, ada di dalam Aku, dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga ada di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku, supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku, dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. Ya Bapa, Aku mau supaya di mana pun Aku berada mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, yakni mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka, dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.”
Demikianlah Injil Tuhan.
Terpujilah Kristus
Renungan
Setiap orang senang dengan angka-angka dan suka mencari angka-angka. Mungkin itulah sebabnya orang mau bersekolah untuk mendapatkan angka atau nilai, orang mau bekerja untuk mendapatkan angka rupiah sebagai gaji, orang mau berjudi supaya mendaptkan kemenangan uang dan barang. Kalau saat ini saya meminta setiap kita untuk menentukan dan memlih satu angka, angka berapa yang Anda pilih untuk diri Anda? Coba setiap kita pilih dalam hati satu angka yang bermakna untuk kita. Mungkin ada yang 1, 2, 3, 4, 5, 10, 15, 40, 50 100, 1.000 dst. Andaikan angka yang kita pilih itu menjadi jawaban atas pertanyaan tertentu maka makna dan nilai angka itu menjadi relatif.  Kalau pertanyaannya (1) berapa kali Anda menggosipkan seseorang dalam sehari? (2) Berapa jam Anda tidur setiap hari? (3) Kalau Anda mengikuti perlombaan Anda biasanya ingin mendapat juara berapa? (4) Kalau nanti Anda menjadi  pejabat, Anda mau berkuasa berapa tahun? (5) Kalau Anda ke dokter gigi atau ke kantor bank untuk urusan cabut gigi atau mengirimkan uang, Anda ingin mendaptkan nomor antri angka berapa? (6) Kalau Anda sakit, Anda harapkan dalam berapa hari Anda harus sehat lagi? (7) kalau Anda menjadi orang sukses, Anda ingin memiliki bebrapa rumah, berapa mobil? (8) Seandainya ada jadwal urutan kematian, Anda ingin memilih nomor urut berapa?
Biasanya, kalau berkaitan dengan yang urutan yang menguntungkan semua orang pasti memilih nomor urut pertama. Ingin menjadi juara 1, ingin menjadi orang nomor satu dalam segala hal, Sebaliknya, kalau berkaitan dengan hal yang tidak menguntungkan biasanya orang memilihi urutan terakhir. Termasuk memilih mati yang terakhir meskipun dengan risiko tidak ada yang menguburkannya.
Bacaan-bacaan hari ini memberikan kita gambaran tentang pilihan menjadi orang pertama. Kisah para rasul dalam bacaan pertama menghadirkan tokoh Stefanus yang harus menerima kematian karena menjadi orang pertama mempertahankan iman akan Kristus. Stefanus memilih urutan pertama membela iman dengan taruhan nyawanya. Selanjutnya dalam bacaan kedua kita mendengarkan bagaiamana kitab wahyu menarasikan  tentang Kristus sebagai orang pertama dalam berkebajikan. Yesus menegaskan diri-Nya sebagai yang pertama dan terakhir, sebagai Alfa dan Omega. Kitab Wahyu memberi gambaran bahwa kebahagian hanya diperuntukkan bagi mereka yang menjadi orang pertama mengalami derita. Berbahagialah mereka yang  membasuh jubahnya karena mereka akan mendapat hak yang pertama memasuki gerbang kota keselamatan. Kitab wahyu mengingatkan kita dan siapa saja untuk menjadi orang pertama mendengar ajakan Tuhan.
Lebih lanjut dan lebih tegas lagi, injil mengingatkan siapa saja tentang pentingnya dan makna kata Satu. Bagi Yesus satu itu gambaran keutuhan dan kesempurnaan yang tidak terbagi-bagi atau terpecah-pecah.  Satu itu penting bagi Yesus untuk diwariskan kepada para pengikut-Nya. Kita sendiri mendengar bagaimana Yesus berdoa memohonkan persatuan yang sempurna. Yesus berdoa untuk semua orang agar manusia hanya berada dan berjalan di jalan yang satu dan sama.
Aksi doa Yesus untuk semua manusia itu disampaikan sekaligus mengingatkan pentingnya mengutamakan rasa yang satu. Menyatukan rasa untuk sebuah persatuan. Yesus bukan hanya berbicara tentang nilai kebersaman tetapi lebih dari itu ia berdoa memohonkan persatuan. Doa Yesus yang dinarasika Yohanes hari ini lagi-lagi mau menegaskan penting dan pertlunya rasa bersatu dalam kehidupan orang percaya.
Doa Yesus dalam injil tadi penuh dinamika dan menurunkan pesana abadi tentang nilai persatuan dan kesatuan di antara para pengikut Kristus. Dinamika doa yang didemonstrasikan Yesus ditandai dengan pelbagai hal penting berikut. Pertama subjek  yang didoakan mencakup semua orang baik yang menerima ajakan langsung seperti yang dialami para murid maupun mereka yang menerima ajakan Yesus melalui misi para rasul setelah kebangkitan Yesus. Kedua, isi doa Yesus sederhana tetapi penting yaitu agar manusia ada dalam Allah dan Allah menyata dalam kehidupan manusia. Yesus merindukan kondisi persatuan  yang utuh dan sempurna antara manusia. Bagi yesus hanya mereka yang bersatu erat dengan Allah yang akan mendaptkan penyempurnaan dalam hidup mereka. Ketiga, dampak akhir doa Yesus dalam injil harus bisa melahirkan kemuliaan dan pemerolehan tempat yang menyelamatkan. Yesus berdoa untuk memulikan manusia dan menjamin tersedianya tempat bagi mereka yang percaya. Keempat, Yesus menyadari bahwa usaha menyatukan para pengikut-Nya bukanlah perkara gampang. Potensi perpecahan selalu mungkin terjadi. Untuk itu Yesus menerapkan metode sosialisasi yang benar. Yesus berdoa untuk persatuan manusia sebagai langkah Yesus memperkenalkan Bapa yang mengutus-Nya. Manusia yang belum mengenal Allah pada akhir mengenal dan mencitai Allah.
Doa Yesus yang dinarasikan Yohanes hari ini berusahan menghadirkan Yesus ibarat seorang ibu atau bapak rumah, sebelum berangkat kerja atau bepergian jauh selalu meninggalkan sesuatu untuk anak-anak yang ditinggalkannya, berupa nasihat, pesan-pesan, mungkin juga doa  agar anak-anak mereka tetap rukun tidak berkelahi, tidak mengalami kecelakaan, tetap sehat sampai orangtua mereka kembali. Inilah harapan-harapan yang biasa juga dilakukan oleh seorang atasan terhadap bawahanya, seorang kepala terhadap anak buahnya, seorang presiden terhadap rakyatnya ataupun seorang guru terhadap murid-muridnya.
Demikian juga Yesus yang kita dengar dalam injil tadi. Sebelum naik ke surga, dalam doa-Nya, Dia juga berharap agar mereka tetap menjaga kerukunan dan persatuan di antara mereka. Sebab hanya dengan kerukunan dan persatuan itulah, kelompok para murid itu mampu mempertahankan keberadaannya. Dan dengan persatuan itu pula, mereka sanggup melakukan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab mereka, yakni melanjutkan karya pewartaan injil, Kabar Gembira dari Allah yang sudah dimulai oleh Yesus itu.
Ya Bapa yang kudus, peliharalah dalam nama-Mu mereka yang telah Kauberikan kepada-Ku, agar mereka bersatu seperti kita….lindungilah mereka dari yang jahat….kuduskanlah mereka dalam kebenaran.
Kedasaran utama yang harus ada pada setiap manusia zaman sekarang adalah kesadaran bahwa ia ada dan hidup bersama orang lain. Kesadaran ini penting agar orang tidak melihat orang lain sebagai musuh tetapi justru mempelakukan orang lain sebagai unsur yang menyempurnakan kehidupan. Bersatu itu terjadi hanya karena ada kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendirian. Kalau hari ini injil berkisah tentang Yesus yang berdoa untuk kebersatuan manusia sejagat, maka kita sebagai pengikutnya harus selalu memeliharan kebersatuan itu
Satu, bersatu menjadi kata kunci yang penting dan utama yang diharapkan Yesus kiranya mewarnai kehidupan kita, manusia. Yesus menyadari bahwa bersatu itu menjadi titik awal untuk kesuksesan dalam menghidupi iman. Kita diarahkan untuk itu. Amin
Doa Umat
Saudara-saudari, marilah kita berdoa kepada Allah yang telah memanggil kita untuk mengabdi kepada-Nya. Marilah berseru: Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.
Bagi Bapa Suci, para Uskup dan para Imam yang terpanggil untuk menggembalakan umat.
Semoga mereka berani menghadapi gelombang perubahan zaman dengan tetap menjadi pewarta Injil yang andal. Marilah kita mohon,…Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.
Bagi para pemimpin masyarakat.
Semoga para pemimpin masyarakat mengedepankan dialog dan kepentingan bersama daripada memperjuangkan kepentingan diri sendiri atau kelompok mereka sendiri. Marilah kita mohon,…Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.
Bagi para penggiat komunikasi sosial.
Semoga para penggiat komunikasi sosial dapat menjadi corong pewartaan khabar yang menyejukkan dan membangkitkan harapan baru bagi setiap orang untuk membangun relasi sosial yang berkeadilan dan bermartabat. Marilah kita mohon,… Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.
Bagi persatuan orang-orang Kristen.
Semoga dalam tahun kerahiman suci ini, orang-orang Kristen dapat bersatu hati, saling memaafkan dan terus membangun persaudaraan yang sejati agar warta keselamatan Kristus dapat diterima dan dihayati sungguh-sungguh. Marilah kita mohon,…Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.
Bagi perdamaian di wilayah-wilayah yang sedang bertikai.
Semoga api perdamaian semakin bernyala di tengah-tengah wilayah yang saat ini masih bertikai. Marilah kita mohon,…
Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.
Syukur atas usia emas Hari Komunikasi Sosial Sedunia.
Ya Bapa, semoga dengan merayakan Hari Komunikasi sosial Sedunia ke-50 ini kami semakin dewasa dan matang dalam menggunakan media komunikasi, terutama untuk membangun kerukunan di tengah-tengah keluarga dan masyarakat, memupuk persaudaraan dan keadilan bagi sesama kami yang tertindas. Marilah kita mohon,…Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.
Bagi kita semua yang berkumpul di sekitar altar Tuhan.
Sang Sabda yang tercinta, semoga kami yang berkumpul di sekitar alat-Mu ini dari hari ke hari semakin berhati luhur, selalu memberi tanpa pamrih, berjuang tanpa mengeluh kesakitan, dan bekerja tanpa mengharap upah. Semoga hasrat tulus diri kami semakin bernyala untuk selalu melaksanakan kehendak-mu di dalam segala-galanya.
Marilah kita mohon,…Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
Ya Bapa, dengarkanlah doa-doa permohonan yang kami sampaikan ke hadirat-mu. Kami yakin dan percaya bahwa Engkau senantia memberikan yang terbaik untuk hidup kami. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin
Doa Persembahan
Allah Bapa kami yang maha baik, dengan tangan terbuka kami hunjukkan persembahan ini. Bukalah hati kami agar dapat mengucap syukur dengan jujur atas segala anugerah-mu. Demi Kristus Tuhan, Pengantara kami. Amin
Antifon Komuni
Aku mau memuji kebaikan Tuhan selama-lamanya. Aku juga mau mewartakan kasih setia-Nya kepada segala bangsa, alleluya.
Doa Sesudah Komuni
Bapa di dalam Surga, tiada hentinya kami menyatakan syukur atas segala berkat dan penyertaan-Mu. Engkau telah memberikan kekuatan kepada kami melaui santapan Tubuh dan Darah Kristus dalam perayaan Ekaristi memperingati Hari Komunikasi Sosial Tahun 2016 ini. Engaku telah menyatakan keagungan-Mu dengan menghadirkan berbagai macam saran komunikasi untuk mendukug karya perutusan Putra-mu di dunia. Semoga berkat Ekaristi Kudus yang kami rayakan ini, kami semakin diteguhkan untuk menjadi saksi cinta kasih-Mu. Demi Yesus Kristus Putra-Mu, Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang segala masa. Amin

Saturday, March 5, 2016

RENUNGAN MINGGU KE-4 PRAPASKA THN C/1



HARI MINGGU PRAPASKA IV Thn.C/1
Yos 5:9‑12; 2Kor 5:17‑21; Luk 15:1‑3.11‑32
Paroki  Kristus Raja Mbaumuku 6 Maret 2016
 
Buka
Tuhan melalui bacaan hari ini mengajak kita semua sesuai dengan tugas panggilan kita untuk menjadi pemimpin bagi diri sendiri bagi sesama. Untuk itu kita perlu berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan sesama. Di hadapan Tuhan dan sesama kita adalah pendosa, kita adalah putra bungsu yang menghilang dari hadapan Tuhan karena dosa, kita juga bisa menjadi pendosa sebagai putra sulung yang selalu merasa lebih dari orang lain. Kita juga sering berdosa karena tak mampu menawarkan belas kasihan kepada sesama. Kita akui semuanya agar kita dilayakkan menerima Tuhan dalam prjamuan dan Firmannya hari ini.

Renungan

Ada begitu banyak pesan penting yang Tuhan sampaikan kepada kita melalui tiga bacaan hari ini. Kisah yang ditampilkan Yosua dalam bacaan pertama mengingatkan kita tentang peran seorang pemimpin yang diberi tanggung jawab dan harus bertanggung jawab atas kehidupan dan kesejahteraan rakyatnya. Semua kita tahu Yosua mengambil-alih kepemimpinan dari tangan Musa. Yosua terpilih tidak melalui pemilu yang didahului dengan kampanye politik. Yosua menjadi pemimpin terpilih tanpa ada KPU dan Panwas, tanpa ada Tim sukses, tanpa ada deal-deal politik. Tanpa masalah, tanpa perkara, tanpa MK.
Pemilihan dan kepemimpinan Yosua berlegal standing yang tidak mungkin diragukan karena apa? Karena Yahwe sendiri menjadi otoritas tunggalnya. Yahwe sebagai otoritas menutup kemungkinan adanya pemain yang bisa bermain dalam menentukan pemimpin Israel itu. Kepemimpinan Yosua adalah kemimpinan yang didasarkan pada komitmen memperjuangkan hak hidup bangsa yang dipercayakan kepadanya.
Bukti komitmen Yosua sebagai pemimpin dalam tardisi perjanjian lama ditandai dengan sunat seperti dikatakan dalam bacaan pertama. Yosua adalah pemimpin terpilih untuk Israel. Terpilih di sini berarti sungguh-sungguh dipilih, dan bukan terpilih dalam pengertian kebetulan dipilih. Yosua adalah pemimpin betulan dan bukan pemimpin kebetulan yang sebetulnya hanya karena dibetul-betulkan. Yosua adalah pemimpin yang bersih karena Tuhan sendiri yang mentahirkannya dari perilaku, peritindak dan peribahasa yang berlawanan dengan kehendak Tuhan.
Sebagai pemimpin betulan Yosua membuktikannya dalam tugas kepemimpinannya. Bangsa Israel yang sebelumnya bermental enak, tidak mau bekerja keras telah melakukan revolusi mental. Kalau sebelumnya mereka hanya bergantung pada manna, makanan pemberian Yahwe, semasa  kepemimpinan Yosua mereka makan dari hasil pekerjaan mereka sendiri. Yosua berhasil mengubah mental bangsa Israel dari mental pengemis pekemuran kepada Yahwe menjadi bangsa yang mengolah tanah Kanaan sebagai sumber kehidupan. Yosua berhasil karena dia hanya menaruh komitmen kepada Yahwe untuk melayani kepentingan bangsa Israel.  Yosua yang ditampilkan hari ini menjadi tipikal pemimpin ideal, terplih, bersih, bekerja keras, dan berjuang untuk rakyat bukan untuk  mengumpulkan harta dan melanggengkan kekuasaan dalam aneka permainan di ruang-ruang gelap.
Sebagai warga kita dan siapa saja merindukan pemimpin gaya Yosua yang bersih dari pelbagai praktik dan prilaku yang tidak bermartabat. Sungguh mengejutkan kalau kita membaca dua tulisan di harian Flores Pos Edisi Sabtu kemarin (5/3/2016) halaman 12 dan 14. Dua tulisan itu memuat pernyataan penting dari Petrus Salestinus, seorang Advokad Peradi dan Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia. Dalam tulisan berjudul: “Politik Pencitraan Dominasi tata Kelola Pemerintahan di Flores” dia menegaskan bahwa  budaya dan peradaban di Flores telah dikacaukan oleh sistem tata kelola pemerintahan yang lebih mengutamakan persoalan politik pencitraan diri dan tebar pesona, sementara persoalan budaya dan peradaban diabaikan. Lebih lanjut dikatakannya, “selama bertahun-tahun terlebih-lebih para bupati yang lahir dari pilkada ke pilkada belum satu pun secara sungguh-sungguh menata dan mengurus kota dan masyarakatnya dengan memadukan budaya dan peradaban.” Kebersihan, keindahan, dan keteraturan diabaikan.
Pada bagian lain ia menegaskan, pada tingkat lokal elite politik di Flores lebih dominan menerapkan politik gaya kodok.  Ciri khas politik gaya kodok menurut pakar hukum ini ditandai oleh karakter birokrat yang hanya mengabdi (menjilat ke atas), menyikut ke samping dan menginjak ke bawah. Menjilat ke atas demi jabatan, menyikut ke samping takut disaingi, menginjak ke bawah biar terkesan punya kuasa. Dampak dari politik gaya kodok ini akan melahirkan birokrat yang minim inovasi, miskin kreativitas. Birokrat lebih takut kepada atasannya daripada kepada masyarakat yang harus dilayani.  Krena itu, persoalan keadilan, kejujuran, korupsi, kesejhateraan sosial untuk NTT tergolong masalah akut  yang tidak tersentuh oleh pemerintah karena sering alpa dan tidak hadir dalam masalah konkret rakyat. Tokoh Yosua harus menjadi anutan para pemimpin masa kini.
Kalau budaya dan peradaban yang baik telah dikacabalaukan oleh kepentingan kekuasaan, harta, dan jabatan, maka itu artinya kita tidak bisa berdamai dengan apa saja dan dengan siapa saja. Kalau nafsu akan harta menguasai hidup manusia maka semua kekayaan alam akan dikeruk tanpa mempertimbangkan dampak ekologisnya. Kalau nafsu kuasa menguasai hidup manusia maka sesama akan dieksploitasi diperalat tanpa mepertimbangkan efek sosiologis kemasyarakatannya. Kalau jabatan menjadi harga mati yang harus diperjuangkan maka teriakan-teriakan orang kecil di jalanan yang menuntut kebenaran akan dianggap angin lalu. Kalau semuanya itu menguasai manusia, maka menurut Santu Paulus orang seperti itu telah membangun benteng pemisah dengan Tuhan. Hal serupa menguasai jemaat Korintus sehingga melalui bacaan kedua Paulus mengingatkan agar manusia segera berdamai dengan Allah. Berilah dirimu agar segera didamiakan dengan Allah.
Kelompok orang Farisi dan ahli Taurat dalam injil, selalu diposisikan berseberangan dengan Yesus. Mereka itu tergolong oposan yang sulit berdamai dengan gaya dan kehadiran Yesus. Tampak jelas dalam injil tadi kelompok orang Farisi dan ahli taurat itu bersungut-sungut menyaksikan Yesus membuat terobosan mau berdamai bahkan makan bersama dengan para pendosa.
Yesus melawan cara pikir kelompok itu sekaligus menyadarkan mereka dengan mengangkat sebuah kisah, alegori yang dengan tiga tokoh kunci yaitu anak bungsu, anak sulung, dan sang ayah. Yesus mendidik mereka dengan menyimak pesan sebuah cerita dan berusaha mengindentifasikan diri dengan tokoh-tokah cerita. Ada tiga tokoh yang layak menjadi permenungan kita: (a) anak bungsu yang berfoya-foya karena berkekayaan, (b) anak sulung yang merasa diri paling setia kepada bapa, dan (c) bapa yang baik hati, penuh belas kasih.
Bagi Yesus perilaku para pendosa yang dikunjungi-Nya, dan perlikalu  orang Frisi dan ahli Taurat  yang brsungut-sungut itu terwakilkan dalam diri  anak bungsu dan anak sulung. Dan Yesus sendiri ditampilkan sebagai seorang Ayah yang berbelas kasih. Kita bersyukur karena kita juga dibantu untuk merenungkan diri kita. Masing-masing kita dapat bercermin pada tiga tokoh tersebut:
(1) Anak bungsu/yang hilang: mungkin kita seperti anak bungsu yang telah berfoya-foya memuaskan diri dengan kekayaan yang telah kita miliki misalnya untuk judi, perselingkuhan, mabuk-mabukan, dsb., tetapi mungkin juga telah menghamburkan, boros waktu, tenaga untuk sesuatu yang kurang berguna bagi kesehatan, keselamatan, kesejahteraan atau kebahagiaan sejati hidup kita. 
(2) Anak sulung: rasanya kebanyakan dari kita merasa diri seperti ‘anak sulung’, merasa lebih baik, lebih setia, lebih taat lebih rajin lebih jujur dst. tetapi mungkin dalam hati sebenarnya yang dicari adalah pujian untuk menyombongkan diri bahwa diri kita lebih dari  orang lain. Kalau orang sudah merasa semua lebih dari orang lain maka orang itu cenderung tidak mau bergabung dengan orang lain seperti ‘anak sulung’  Perasaan dan penghayatan macam itulah yang menjadi akar kesombongan atau dosa; orang sombong memang tidak mau ‘menyatu’ dengan teman-teman atau sahabat-sahabat melainkan menyendiri, sebagaimana dalam perumpamaan Injil hari ini ‘anak sulung’ diminta menggabungkan diri dalam pesta pertobatan adiknya. Ia justru memberontak, tidak mau bergabung. Orang yang demikian memang sulit menyadari diri sebagai yang berdosa, padahal ‘cara hidup atau cara bertindaknya’ telah menjadi batu sandungan bagi sesamanya. Cara hidup  model anak sulung ini umumnya mendominasi  cara bertindak   orang yang merasa lebih  dewasa, senior, pemimpin atau atasan, pandai, berkedudukan, berpangkat, kaya.
(3) Bapa yang penuh belas kasih: bapa yang penuh belas kasih, dengan gembira, hati dan tangan terbuka menyambut anaknya yang ‘hilang’ pulang kembali memang merupakan gambaran dari Allah yang Mahapengasih dan Mahapengampun. Sebagai umat beriman, orang yang beriman pada Yesus Kristus, kiranya kita semua dipanggil untuk menjadi ‘gambar Allah Pengasih dan Pengampun’., bukan hanya pada imam yang berada di kamar pengakuan. “Berkat kuasa-Mu juga, cinta mengalahkan kebencian, ampun menaklukkan balas dendam, dan saling kasih mengenyahkan perselisihan” Kasih pengampunan merupakan ciri khas hidup iman Kristiani, iman pada Yesus Kristus.
Kita bangga pada tokoh Yosua sebagai pemimpin. Semua kita dalam cara yang berbeda menjadi pemimpin minimal untuk diri kita sendiri sebelum memimpin orang lain. Pemimpin yang baik adalah yang bisa berdamai dengan Tuhan dan sesama. Semoga kita bisa memetik pesan penting dari Firman Tuhan hari ini. Amin.

                                                                                    
 Rm.Bone Rampung, Pr

Friday, February 5, 2016

RENUNGAN MINGGU BIASA KE-5 TAHUN C/2



Minggu Biasa ke-5 Tahun C/2 Sabtu,6 Februari 2016 
Yes.6,1-2a.3-8;  1Kor.14,1-11;  Luk.5,1-11
Paroki Kristus Raja, Mbaumuku

Pembaruan: Bertoak ke tempat yang Dalam

Buka

Ada banyak alasan dan kemungkinan yang membuat seseorang gagal. Setiap kegagalan melahirkan kekecewaan dan putus asa. Manusia bisa gagal dalam usaha dan kehidupan kalau ia hanya mau mencari gampang dan tidak mau mengambil risiko. Orang seperti itu dapat dibandingkan dengan orang yang mencari sesuatu di tempat yang salah. Orang seperti itu seperti orang yang ingin memancing ikan di tempat yang dangkal, atau memancing di tengah deburan gelombang. 
Panggilan hidup para pengikut Kristus menurut bacaan hari ini, harus dijiwai oleh semangat untuk rela bertolak ke tempat yang dalam meski penuh tantangan dan risiko. Kalau kita jujur, mungkin kita akan menyadari diri sebagai orang yang lebih suka mencari sesuatu di tempat yang salah.  Yesus menghendaki kita untuk menjadi penjala manusia. Tentu saja ada tuntutan dan risikonya. Kita mohonkan agar kita dijauhkan dari mentalitas hidup yang serba dangkal

Renungan
Merasa kecewa dan putus asa adalah penyakit yang menimpa semua orang. Apalagi manusia yang hidup pada zaman seperti kita sekarang ini. Di mana-mana kita bertemu dengan orang yang berpenampilan kusut. Kita dapat bertemu dengan manusia-manusia yang tampaknya kecewa. Kita bisa bertemu dengan orangtua yang kecewa terhadap anak-anak mereka. Kita bisa bertemu dengan guru dan pendidik yang kecewa terhadap para siswa mereka. Kita bertemu dengan rakyat yang kecewa terhadap pemerintah dan para pemimpin. Kita bisa bertemu dengan pelanggan listrik dan air yang kecewa karena listri  sering padam dan air macet. Kita bertemu dengan masyarakat yang kecewa terhadap penegak hukum yang bisa dibeli dengan uang. Kita bisa bertemu dengan pemimpin agama karena umatnya kurang menghayati iman mereka. Kita bertemu dengan rakyat yang kecewa terhadap praktik ketidakadilan dalam kehidupan bersama. Banyak orang kecewa karena tidak mengalami kemajuan dalam hidup. Tuntutan pembaruan sering kali macet karena pelbagai kebijakan publik terlilit dalam jebakan kepentingan politik. Begitulah, di mana-mana dan kapan saja, kita bisa bertemu dengan orang kecewa karena apa yang mereka harapkan tidak terwujud. Banyak orang kecewa seperti para nelayan yang sepanjang malam melaut tetapi tidak benangkap apa-apa.   Kekecewaan dapat menggerogoti manusia dalam pelbagai situasi dan pelbagai bidang kehidupan. Kekecewaan dapat terjadi dalam kehidupan berkeluarga, dalam kehidupan bermasyarakat, dalam menjalankan tugas dan pekerjaan.  Pendek kata, rasa kecewa muncul dengan seribu satu macam alasan.
Bacaan-bacaan yang diperdengarkan kepada kita hari ini pada intinya menggambarkan kekecewaan itu. Dalam bacaan pertama Nabi Yesaya menggambarkan suatu pengelihatan yang mempesonakan. Ia melihat gambaran Tuhan yang dilingkupi rombongan para malaikat. Dalam pengelihatan itu, Nabi Yesaya mengungkapkan rasa kecewanya terhadap dirinya sendiri. Ia kecewa karena menyadari diri sebagai orang yang najis bibir dan juga hidup di antara bangsa yang najis bibir. Katanya: Celakalah aku, sebab aku orang yang najis bibir dna hidup di tengah bangsa yang najis bibir. Inilah ungkapan rasa kecewa gaya nabi Yesaya, yang tidak berhasil secara maksimal dalam tugas kenabiannya. Ia kecewa karena belum menjalankan misinya sebagai nabi secara sempurna. Meskipun demikian, dalam situasi kecewa seperti itu Tuhan berinisiatif untuk mentahirkan kenajisan sang nabi. Bibir nabi Yesaya disentuh bara api yang merupakan kuasa pembersihan atas diri dan hidupnya. Tuhan berinisiatif mentahirkan orang pilihan-Nya. Inisiatif Allah itulah yang memungkinkan Yesaya menyatakan sikapnya. Tuhan masih mencari orang yang hendak menjalankan misi perutusan. Melalui malaikat, Yesaya mendengar pertanyaan Tuhan sendiri: Siapakah yang akan diutus dan siapakah yang mau pergi untuk Aku? Tanpa berpikir panjang Yesaya menyatakan komitmen dan niatnya yang tulus. Ia menunjukkan dirinya sendiri dan siap untuk diutus. Ia mengatakan: Inilah, dan Utusalah aku…
Melalui bacaan pertama, digambarkan bahwa Yesaya mengalami proses perubahan pola, cara dan gaya hidupnya. Ia  melakukan reformasi pembaharuan total dalam menjalankan apa yang dikehendaki Tuhan. Ia mau menjadikan dirinya sebagai orang yang rela diutus. Inilah gambaran singkat tentang panggilan Yesaya yang berawal dari rasa kecewa, tetapi berakhir dengan menerima perutusan. Suatu kekecewaan mengawali kesuksesannya sebagai nabi, utusan Tuhan.
Gambaran tentang rasa kecewa bukan hanya menimpa Yesaya.  Rasa kecewa juga dialami para pengikut Yesus seperti yang digambarkan dalam penggalan Injil Lukas. Simon sebagai seorang nelayan merasa kecewa karena semalam suntuk ia bersama teman-temannya membentangkan jalanya, menebarkan jala untuk mendapatkan sesuatu tetapi tidak seekor pun ikan yang mereka dapat. Tentu saja sebagai nelayan mereka merasa gagal dan harus kecewa. Dalam situasi seperti itulah Yesus muncul dalam rangka mengajarkan ribuan orang yang mengikut Dia. Pada saat itulah Yesus melihat bahwa Simon dan teman-temannya tidak bekerja secara profesional sebagai para nelayan.  Mereka belum berhasil menjaring seekor ikan pun. Mereka semua terancam stres dan kecewa. Menghadapi situasi seperti itu tentu muncul pertanyaan: mengapa mereka tidak mendapat ikan? Jawabannya sederhana saja.
Mereka memang sudah bekerja sepanjang malam, tetapi sayangnya mereka bekerja  dengan cara yang tidak cerdas, cari gampang, tidak mau berkorban. Mereka menjala ikan di tempat yang dangkal. Mereka mau menjala ikan di pinggir danau, di tempat yang kotor. Bagi Yesus, cara Simon dan temannya itu merupakan contoh cara kerja yang tidak profesional, cara kerja yang tidak efektif, hanya mencari aman. Mengapa? Karena sebagai orang yang berprofesi  nelayan mereka seharusnya mengetahui bahwa ikan tidak mungkin hidup di tempat yang dangkal. Sebagai nelayan mereka seharusnya sudah mengetahui bahwa ikan itu ada dan biasa hidup di tempat yang tenang dan dalam. Yang mereka lakukan justru kebalikannya. Kegagalan mereka terkait pada keingian mereka untuk tetap berada di tempat yang dangkal, tepi danau.
Tidak mengherankan kebodohan seperti itu membuahkan kekecewaan. Pada saat itulah Yesus melihat titik lemah mereka. Mereka mencari ikan ditempat yang salah. Mereka bekerja tanpa perhitungan yang cermat sebagi nelayan. Mereka gagal karena mengail ditempat yang dangkal, di tempat yang kotor, di tempat yang bergelombang. Untuk membuktikan ketidakcerdsan Simon dan temannya, Yesus menyuruh mereka bertolak ke tempat yang dalam  membuang, menebarkan jala jauh dari tepi pantai, jauh dari deburan ombak, jauh dari air yang keruh, jauh dari tempat kotor. Hasilnya sungguh terbukti ketika jala mereka koyak karena banyaknya ikan yang terjaring. Kecewaan semalam suntuk terobati ketika Yesus menunjukkan sikap yang baru, cara kerja baru, mental kerja baru, strategi baru, tempat yang baru. Pembaruan mental disertai kemauan untuk melakukan pembaruan adalah kata kunci untuk suatu perubahan yang membawa kebaikan.  Musuh kemajuan dalam hidup bersama adalah manusia yang bermental dangkal, ingin bertahan di tempat yang dangkal, di tempat yang kotor. Orang yang bertahan lama di tempat yang kotor akan kehilangan rasa kebersihan. Orang yang lama tinggal dan berada di tempat yang berbau tidak akan merasa bau itu sebagai hal yang mengganggu.  Manusia bermental dangkal, kotor biasanya alergi terhadap gerakan pembaruan.  Karena itu, pelbagai macam instrumen dan cara bisa digunakan melawan siapa saja yang berniat melakukan pembaharuan. Musuh para reformator adalah kemapanan para penguasa yang ingin bertahan di tempat.
Panggilan dan perutusan para nabi dalam berbagai kisah dalam berbagai agama  selalu berkaitan dengan gerakan dan perlawanan  terhadap penguasa ingin berkuasa selama mungkin.  Yesus sendiri melawan mental yang hanya berada di tepi pantai, hanya tinggal di tempat yang dangkal, tempat yang nyaman. Yesus melawan mental Petrus  dan temannya yang bermental dangkal dan  dan bertahan di tempat yang kotor. Petrus dan temannya tidak mungkin menangkap ikan yang banyak kalau mereka masih berada di tempat dangkal, tempat kotor. Mereka mendapatkan ikan yang banyak justru setelah mereka beralih dari tempat dangkal  dan kotor itu. Mental bertahan dan memprtahankan segala cara kerja yang lama, bertahan di tempat yang kotor  tidak akan memberi hasil dan tidak akan membawa perubahan. Hanya orang yang bermental dangkal bertahan di tempat yang dangkal. Hanya aorang yang bermental kotor yang tetap bertahan di tempat yang kotor. Para pengikut Kristus adalah manusia yang sudah dibarui mentalnya dari mental yang dangkal dan kotor menuju mental yang dalam dan bersih. Yesu tahu bahwa perubahan dan pembaruan itu harus diawali dengan kemauman untuk berpindah dari cara lama ke cara baru, dari tempat tempat dangkal ke tempat dalam, dari tempat kotor ke tempat bersih. Pengikut Kristus harus bermendal dalam dan bersih. Mengapa? Karena Yesus sudah membayar kedangkalan dan kekotoan itu dengan darahnya di kayu salib. Orang beriman seperti nabi yang najir bibir telah dibah dan dibarui Tuhan. Kalau ada pengikut Kristus yang bermental dangkal dan kotor sama artinya ia ingin menyalibkan  Tuhan dengan cara yang lebih keji.
 Kisah injil tadi penuh dengan gambaran yang masih berkaitan dengan kehidupan manusia masa kini. Dari bacan tadi, ada tiga hal penting yang perlu kita renungkan:
Pertama, kekecewaaan itu adalah perasaan yang biasa  untuk semua manusia. Tetapi, bagi orang yang beriman kegagalan dalam kehidupan bukanlah kata akhir karena pada waktunya Tuhan akan turun tangan. Dalam situasi seperti itu manusia hanya dituntut untuk membiarkan dirinya dibimbing dalam kuasa dan kehendak Tuhan. Yesaya telah mengalami sendiri hal tersebut. Sejauh manausia berada dalam kondisi hidup yang jujur dan benar, maka jalan Tuhan tetap terbuka baginya. Sebaliknya, sehebat apa pun hidup manusia bila dibangun di atas kepalsuan akan runtuh juga karena orang seperti itu akan selalu berusaha menutupi ketidakjujuran mereka.
Kedua, Injil hari ini sebenarnya mau membahasakan kebiasaan hidup manusia, yang kadang-kadang tidak mengetahui bagaimana ia bekerja, dan tidak tahu di mana ia harus bekerja untuk mendapatkan sesuatu. Sebelum mendapat perintah Yesus, Simon dan temannya menjadi contoh manusia yang bekerja asal kerja, yang penting datang, dan menunggu tanpa mengubah cara dan mental. Tidak tahu bagaimana mereka menjala ikan dan di mana mereka harus membentangkan jala. Orang tentu kecewa kalau berhadapan dengan manusia seperti ini.
Ketiga, Simon dan temannya yang membuang jalan di tempat yang dangkal, di tepi pantai yang berobak dan kotor, adalah gambaran tentang kehidupan manusia. Dengan cerita itu, mau digambarkan kepada kita bahwa memang ada manusia yang bermental enak. Tidak mau basah, tidak mau repot, tidak mau mencari tempat yang tenang untuk mendapatkan apa yang diperlukan bagi hidup. Pada masa sekarang ini masih banyak orang yang mencari sesuatu dengan gayanya Simon sebelum diubah Yesus. Masih ada Simon lain di zaman kita. Mereka itu bisa hadir dalam diri manusia-manusia yang mencari gampang, tidak mau mengambil risiko, tetapi ingin bertahan dan mempertahan posisinya.
Bagi Yesus hari ini, setiap orang yang mau menjadi pengikut-Nya harus bersedia untuk berjuang, bersedia untuk basah, bersedia untuk bertolak ke tempat yang lebih dalameralih ke tempat yang baru. Terapi dan obat untuk mengatasi rasa kecewa manusia, bagi Yesus hanya satu yaitu rela bertolak ketempat yang dalam, di lautan yang tenang dan penuh ikan. Mudah-mudahan kita menjadi pengikut Kristus yang rela bertolak dan mencari sesuatu pada kedalaman dan ketenangan Tuhan sendiri.  Bukan patuh dan setia pada sikap dan mental yang bertahan di tempat dangkal dan kotor. Kita tentu sepakat, bahwa hanya pada Tuhanlah kita akan mendapatkan ketenangan… Amin