Wednesday, May 13, 2015

RENUNGAN MINGGU PRAPASKA KE-5 THN.B

Hari Minggu Prapaska ke-5 Th.B/1
Kapela STKIP Ruteng Minggu, 22 Maret 2015
Yer.31,31-34; Ibr.5,7-9; Yoh.12,20-33
Buka
Hari ini kita memasuki minggu kelima masa pertobatan kita. Kita diajak untuk menjadikan hidup dan karya kita ibarat benih yang ditanam untuk menghasilkan lebih banyak kebaikan bagi Tuhan dan sesama.Yesus sendiri telah menunjukkan keaataan-Nya dan bersedia berkorban demi mengutuhkan kehidupan manusia. Kita berdoa semoag semangat dan niat kita untuk menjadi benih baik pada akhirnya tumbuh dan mengasilkan segala ssuatu yang baik.
 Renungan
Ada empat pertanyaan tetapi hanya satu jawaban. Di manakah letak tempat paling rahasia dalam kehidupan manusia? Sakit apa yang Paling berbahaya dan mengancam kehidupan manusia? Di manakah tempat tinggalnya cinta antara manusia? Apa yang harus kita berikan agar hidup kita selamat dan aman? Jawaban satu kata saja yaitu HATI. Karena itu kita sering mendengar ungkapan (1) dalamnya laut dapat diduga, tetapi dalamnya HATI tiada yang tahu, (2) lebih baik sakit gigi daripada sakit HATI, (3) Dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke HATI, dan (4) kita sering diminta memberikakan hati atau PERHATIAN, BERKAITAN dengan hal-hal yang penting. Minggu lalu, saat menunggu jadwal penerbangan di bandara Komodo Labuan Bajo, bandara Ngurah Rai Bali, bandara Abdul Rahman Saleh Malang, bandara Adisucipto Jogjakarta, bandara Soekarno Hata, Jakarta saya sempat menyimak pelbagai pengumuman yang disampaikan oleh para petugas Bandara kepada para penumpang pesawat. Semua pengumuman selalui diawali dengan kata: “Perhatian-Perhatian” Misalnya saja: Perhatian-perhatian, pesawat Garuda dari Kupang baru saja mendarat di badara komodo labuan bajo, perhatian-perhatian, pewasat Wings air  tujuan Denpasar Bali, siap diberangkatkan. Para penumpang segera memasuki pesawat. Perhatian-perhatian pesawat Citlink dari Ngurah Raih tujuan Halimperdana Kusumah Jakarta siap diberangkatkan. Para penumpang dipersilahkan naik ke pesawat melalui pintu nomor 3. Hal yang sama juga terjadi di bandara lainnya atau di satasius kereta api. Semua pengumuman selalu meminta perhatian. Yang diminta dan disebutkan adalah perhatian yang di dalam kata itu ada kata HATI. Tidak mungkin orang mengubah atau mengganti kata perhatian itu dengan anggota tubuh lainnya misalnya dengan kata “permataan-permataan atau permulutan-permulutan”.
Sepintas nada dan bunyi pengumuman yang meminta perhatiana itu memang tampak biasa, sederhana tetapi jika dicermati kita akan temukan bahwa di dalam rumusan penguman itu ada satu kata kunci, kata pokok yang berkaitan dengan inti diri dan kehidupan manusia. Dari pilihan kata itu jelas sekali bagi kita bahwa kata “HATI” itu menjadi pusat, sentral, inti dari gerak hidup kita manausia. Hati manusia menjadi pusat pengendali dan sekaligus pusat pengawasan, dan monitoring arah gerak dan hidup setiap kita. Hati kita tanpa kita sadari telah menjadi sebuah instansi penentu keputusan yang kita ambil.  Keutuhan dan kebulatan hati pada gilirannya juga menentukan kebulatan dan keutuhan hidup kita manausia.
Nubuat Yeremia dalam bacaan pertama hari ini membenarkan sekaligus meyakinkan kita bahwa  hati manusia, hati kita menjadi tempat penting yang menentukan nasib kehidupan kita. Nabi Yeremia dalam nubuatnya mengingatkan kita melalui pengalaman bangsa Israel untuk senantiasa hidup dan bergerak dalam tuntunan hati. Kisah yang diwacanakan Yeremia memberikan kita gambaran negatif tentang pola dan arah gerak hidup bangsa Israel yang tidak lagi dikendalikan  hati. Nabi mengalami bahwa bangsa terpilih telah mengubah arah gerak hidup mereka karena hati mereka telah berubah. Hati mereka telah menjadi batu, mereka hidup dan bergerak dalam arah yang salah, dalam arah yang berlawanan dengan kehendak Yahwe. Sebagai utusan Yahwe bagi bangsa Israel nabi  Yeremia dipercayakan untuk mengarahkan kembali hati bangsa itu kepada Yahwe.
Tindakan apa yang harus segera dilakukan agar hati bangsa itu berubah dan kembali kepada Yahwe? Yeremia mengarahkan mereka untuk kembali kepada jalan Yahwe melalui perbaikan kondisi dan kualitas hati mereka. Hati bangsa itu harus dipulihkan, harus diluruskan, harus dibersihkan. Apa yang bisa memulihkan, meluruskan, dan membersihkan hati mereka? Hanya ada satu kekuatan yang bisa memulihkan, meluruskan, dan membersihkan hati bangsa itu yakni Hukum atau Sabda Tuhan. Hukum dan Sabda TUhan harus ditulis pada hati dan batin mereka. Yeremia dengan tegas meneruskan Sabda Tuhan itu:  "Aku akan menaruh Taurat‑Ku dalam batin mereka" (Yer 31:33). Mengapa Taurat, hukum, dan Sabda TUhan ditempatkan di dalam hati dan batin bangsa terpilih? Jawabannya karena hati dan batinlah yang menjadi motor pengegrak dan pengarah hidup bangsa itu.
Pilihan Yahwe untuk memakai jasa Yeremia mengubah arah dan orientasi hidup bangsa terpilih diarahkan pada pengutuhan kembali hati bangsa terpilih.  Keutuhan hati yang membulatkan dan mengutuhkan cara hidup agar semakin berkualitas menjadi target utama dari pilihan untuk menempatkan hukum pada hati dan  batin bangsa Israel. Yahwe menghendaki keutuhan hati bangsa pilihan itu. Mengapa keutuhan itu diperlukan dalam kehidupan? Jawabannya karena hanya dalam keutuhan, hanya dalam kepenuhan manusia bisa hidup, tumbuh dan berkembang, Hati yang utuh haruslah tampil ibarat telur yang bulat dan utuh. Hanya telur yang bulat dan utuh, yang tidak rusak yang berpotensi melahirkan kehidupan. Keutuhan dan kebulatan adalah indkator kehidupan yang bermaratbat dan berkualitas. Hidup bermartabat dan berkualitas harus dibangun dan dilandaskan atas kondisi hati dan batin yang utuh pula.
Seorang sastrawan terkenal, Pramudiya Ananta Toer menegaskan bahwa hanya dalam keutuhan yang sempurna lembaga atau benih kehiudpan itu ada, tumbuh dan berkembang. Melalui karyanya berjudul “Jejak Langkah” (Toer, 1985:13) Paramudiya menggambarkan filosofi kehidupan masyarakat Kasiruta. Pramudiya menulsi.”Orang Kasiruta bilang, telur adalah keutuhan yang sempurna. Dan dalam keutuhan yang sempurna, selamanya terkandung lembaga kehid­upan. Pernyataan Sastrawan ini mau menekankan  bahwa kehidupan itu diukur dengan keutu­han, bergantung kepada kebulatan. Manusia akan hidup baik, sehat dan selamat, jujur, tulus, lurus, hanya kalau hati manusia utuh, bulat dan menyatu secara integral. Tuhan sendirilah yang mengutuhkan, membulatkan hati manusia agar melahirkan kehidupan yang lebih berkualitas dan bermartabat.
Imbauan Nabi bagi bangsa Israel dan upaya menempatkan Sabda dan hukum pada hati dan batin bangsa itu hanya karena bangsa itu tidak lagi taat pada perjanjian mereka dengan Yahwe selepas mereka dibebaskan dari perbudakan di Mesir. Ketidaktaatan lahir dari kondisi hati yang terbelah, hati rusak, dan hati yang tidak utuh dan bulat. Gambaran perilaku dan perihidup bangsa terpilih ini coba ditempatkan dalam perbandingannya dengan kehadiran Yesus. Surat kepada orang Ibrani dalam bacaan kedua secara amat tajam dan kontras menghadirkan model ketidaktaan bangsa terpilih dipertentangkan dengan sikap Yesus sendiri. Yesus digambarkand alam bacaan pertama sebagai kahadiran figur, tokoh dengan kondisi hati, batin yang utuh dan bulat yang membuahkan kehidupan. Gambaran tentang Yesus dalam surat kepada orang Ibrani adalah gambaran model kehidupan yang berkualitas dan bermartabat yang dilnadaskan pada sikap hati dan batin yang  bulat dan utuh, Kehadiran Yesus adalah Sabda yang menjelma dan membawa kehidupan. Yesus bukan saja hadir sebagai Sabda yang menjelma dalam hati dan batin tetapi lebih nyata lagi hidup dan memberi teladan untuk model kehidupan yang berkenan kepada Tuhan.
Wujud jelmaan Allah itu nyata dalam pilihan Yesus untuk rela menjadi biji gandum yang harus mati untuk melahirkan kehidupan yang lebih kaya dan lebih bermakna. Yesus mati sebagai biji gandum hanya karena Ia menginginkan agar manusia mendapatkan hidup yang sesungguhnya. Demi hidup hidup manusia dan dunialah Tuhan sendiri menempatkan Taurat‑Nya, sabda dan kehendak‑Nya di dalam batin bangsa Israel dan menghadirkan Yesus sebagai jaminan kehidupan setiap orang percaya.
Mengapa dan untuk apa Tuhan menempatkan Taurat‑Nya, sabda dan kehendak‑Nya mesti di dalam batin mereka? Sebab hati, batin adalah sebuah pusat monitor seluruh gerak hidup manusia. Gerak hidup manusia berangkat dari hati dan kembali ke hati. Dan justru di pusat inilah Tuhan akan menaruh Taurat, sabda dan kehendak‑Nya itu. Maksudnya supaya setiap sabda, kehendak‑Nya itu masuk betul dalam hati, melebur dan memadu secara integral, utuh serta tumbuh menyatu dengan seluruh hidup mereka, sehingga ke­luarlah dari mereka sebuah diri pribadi dengan bobot dan kualitas yang cukup.
Ada dua kelemahan bangsa Israel yaitu kelemahan verbalis dan kelemahan superfisial.  Kelemahan "kata" (verbalis) menunjukkan mereka tahu banyak, berbicara banyak tentang Tuhan, tetapi sayangnya  kurang terbukti, kurang berbuah. Kelemahan "dangkal" (superfisial) artinya pengetahuan Israel tentang Taurat Tuhan, sabda dan kehendak‑Nya juga banyak, namun tidak menjadi bagian milik pribadi mereka sendiri. Pengetahuan mengenai Tuhan tetap menjadi pengetahuan okulasi, pengetahuan tempelan pada permukaan kulit luar dan pinggir dari diri pribadi mereka. Tidak sampai masuk, memadu, menyatu dan melebur dalam hati dan dengan seluruh gerak hidup mereka. Itu tidak sampai terjadi.
Akibatnya apa? Hidup mereka tidak berubah menjadi baik. Hatinya tetap membatu. Mereka degil seperti lembu degil. Mereka tetap berkeras kepala, sehingga juga dengan gampang mengingkari perjanjian Tuhan (Yer 31:32). Karena itu tidak heran kalau hidup yang baik, sehat dan selamat tidak ada pada mereka. Mereka seperti semak bulus di padang belantara; tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; mereka akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri asing yang tidak berpenduduk.
Hidup yang baik, sehat dan selamat terjadi dalam keutuhan, dalam kebulatan. Maka, penekanan hidup yang segmental‑parsial atas segi‑segi tertentu saja, seperti profan saja atau rohani saja, perasaan saja, atau pikiran saja, atau kehendak saja, akan meru­sak hidup kita. Tingkah laku dan sikap yang miring, keras dan fanatik keluar justru dari pandangan dan perhatian hidup yang segmental‑parsial saja, bagian demi bagian saja. Oleh karena itu, supaya hidup kita menjadi baik, sehat dan sela­mat, perlu kita membina suatu cara hidup, gaya hidup yang terbu­ka, namun utuh dan bulat.
Untuk itu juga, tidak cukup sikap verbalis dan sikap superfisial ada dalam diri pribadi kita. Tidak cukup pengetahuan teologi, atau pengetahuan profan yang cuma menjadi pengetahuan okulasi, pengetahuan tempelan pada kulit luar dan kulit pinggir diri kita. Tidak cukup menjadi buah bibir dan buah telinga saja. Tetapi semuanya itu kiranya masuk di dalam hati kita, memadu dan melebur dalam hidup kita serta tumbuh menyatu dengan seluruh diri pribadi kita. Dengan demikian semua pengetahuan yang kita terima, peroleh dan baca menjadi sungguh masuk secara inspiratif‑kreatif bagi kita; artinya berguna membarui, mengubah dan memperbaiki diri pribadi kita menjadi lebih bermutu dan berbobot, sesuai dengan sabda, Taurat dan kehendak Tuhan sendiri atas diri pribadi kita. Hanya dengan beginilah, sabda, Taurat, kehendak Tuhan yang dita­ruh, dimasukkan ke dalam hati kita lewat mulut siapa saja, serta ditanam dalam hidup kita melalui tangan siapa saja, akan sungguh‑sungguh menghasilkan sebuah hidup yang baik, sehat dan selamat. Semoga Kita memiliki hati yang baru, bulat dan utuh demi kehidupan yang lebih baik, berkualitas dan bermartabat. Semoga hati kita menjadi gudang dan bendahara kebaikan. Amin

Rm. Bone Rampung, Pr

RENUNGAN MISA KENAIKAN TUHAN

RENUNGAN MISA KENAIKAN KRISTUS
Kis., 1,1-11; Ef.4,1-7.11-13; Mrk.16,-15-20
Kapela STKIP St.Paulus Ruteng, 14 Mei 2015
Buka
Hari ini kita merayakan peristiwa iman berkaitan dengan Tuhan yang yang memberikan dan mewariskan proyek besar kepada para murid dan kepada kita untuk mewartakan kerajaan Allah dalam praksis kehidupan harian kita. Tuhan telah memasuki kembali kemuliaan Surgawi melalui peristiwa yang kira rayakan ini, tetapi tugas diserahkan kepada kita untuk melanjutkan karya besar Allah dalam hidup kita. Kita memohonkan agar Rahmat Kasih dan Roh Tuhan sendiri menopang kita dalam hidup dan karya kita mewartakan kerajaan Allah. Kita awali semuanya dengan menyadari serta mengakui keterbatasan, kelemahan dan dosa kita.
Renungan
Kalau kita bandingkan popularitas perayaan Kenaikan dengan perayaan lainnya seperti Natal, Paska, Pentakosta maka perayaan Kenaikan menempati urutan paling ekor. Kisah kenaikan Yesus tidak dilihat sepenting kisah kematian dan kebangkitan-Nya. Perayaan Kenaikan tampaknya sepi dan dianggap biasa-biasa saja. Syukur-syukur kalau peringatan Kenaikan seperti ini dijadikan sebagai hari libur nasional seperti yang kita alami hari ini. Di beberapa negara semisal Singapura hari Kenaikan bukanlah hari libur.  Ada pula sebagian teolog yang meragukan legalitas dan alasan perayaan Kenaikan itu. Bagi mereka kisah Kenaikan ini tidak lebih dari sekadar dongeng warisan gereja purba.
Di tengah-tengah perbedaan pendapat seperti ini apakah pantas kita meragukan legalitas dan ungensi perayaan Kenaikan ini  sebagai orang beriman? Apakah benar perayaan ini tanpa dasar dan alasan yang cukup?  Jawabannya, tidak benar karena kisah kenaikan itu bisa ditemukan dalam Kitab suci. Kalau kita membaca Kitab Suci maka kita akan tahu dan yakin bahwa kisah kenaikan itu memiliki dasar dan referensinya dalam kitab Suci.
Paling kurang ada tiga kisah Kenaikan terkait dengan tiga tokoh dalam Kitab  Suci yang dapat dijadikan rujukan dan landas pijak bagi kita untuk memaknai hari Kenaikan ini. Alkitab mencatat ada 3 peristiwa tentang orang kudus yang diangkat ke sorga dan tinggal bersama dengan Allah. Orang pertama yang dikisahkan adalah Henokh. Ia digambarkan sebagai orang yang bergaul akrab dengan Tuhan selama 300 tahun (Kej.5,21-24). Kitab Ibrani juga mencatat: “Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah (Ibr.  11:5) . Orang kedua ialah Nabi Elia yang dikisahkan dalam Kitab kedua Raja-Raja (2 Raj.2, 9-12). Berkatalah Elia: “Yang kauminta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi.” (2Raja 2:10). Orang ketiga ialah Yesus Kristus. Penginjil  Lukas secara jelas dan rinci menuliskannya dalam  Kisah Para Rasul (Kis.1:6-11). Ia menulis: “Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (Kis.1,9)
Kisah ketiga tokoh ini dalam perkembangannya berbeda. Alkitab tidak lagi menjelaskan apa-apa tentang Henokh dan Elia  setelah keduanya terangkat ke surga. Henokh, Elia, dan Yesus, terangkat ke surga karena tugas mereka selesai.  Alkitab tidak lagi menjelaskan apa-apa  setelah Henok dan Elia pergi. Alkitab justru lebih rinci membicarakan tentang  Yesus. Alkitab mencatat hal-hal yang dikerjakan Yesus setelah Ia terangkat ke surga. Itu bedanya kenaikan Henok dan Elia dibandingkan dengan kenaikan Yesus. Kenaikan Yesus memberikan kita beberapa hal pokok terkait penghayatan iman kita. Bagi kita kisah dan peristiwa kenaikan  menegaskan berbagai hal penting yang harus kita manknai.
Pertama, kenaikan Yesus menegaskan akan fakta kebangkitan-Nya. Dengan sangat jelas  Lukas menuliskan bahwa kenaikan Tuhan merupakan satu kesatuan dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Hal itulah yang ditulisnya sebagai latar belakang  kisah kenaikan tersebut. Menarik sekali bagaimana  Lukas memulai kitab Kisah Para Rasul dengan kalimat indah. Dia menulis: “Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia terangkat (1:1-2). Jadi,  Lukas tidak hanya menulis penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus, tetapi juga sampai pada hari Ia Terangkat. Jelaslah bagi kita bahwa kisah kenaikan Yesus merupakan fakta sejarah, bukan ilusi semata. Hal itu jelas dinyatakan dengan pembuktian Yesus sendiri bahwa Dia hidup. Lukas mengantisipasi hadirnya orang-orang yang meragukan dan menolak kebangkitan. “Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan bahwa Ia hidup. Selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara tentang Kerajaan Allah. Penampakan diri Yesus itu berulang-ulang  selama 40 hari dan kepada orang yang berbeda-beda merupakan cara Tuhan menegaskan bahwa ia sungguh telah bangkit. Dengan demikian,  kenaikan Yesus menjadi Pembuktian bahwa Yesus yang mati itu, benar-benar bangkit. Tanpa kebangkitan tidak akan pernah ada kenaikan. Jadi, Yesus bukan saja bangkit dari kubur, tetapi lebih dari situ, Dia juga telah naik ke surga. Dia naik melampaui segala sesuatu. Dengan demikian, apa yang diberitakan-Nya selama 40 hari secara terus menerus, tentang kerajaan Allah, bukanlah sebuah ilusi atau dongeng semata.
Kedua, kisah kenaikan menunjukkan betapa pentingnya dan mendesaknya tugas memberitakan Injil.  Lukas mencatat bahwa, “Sesudah Ia menyampaikan pesan, terangkatlah Ia, disaksikan para murid-Nya  dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka”. Di sini, jelas bahwa Yesus terangkat “sesudah Ia mengatakan sesuatu”. Apa yang dikatakan-Nya? Hal yang dikatakan-Nya itu berkaitan dengan informasi tentang kuasa sebagai pelengkap dalam misi perutusan. “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi  saksiku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Dengan perkataan lain, pesan atau perintah terakhir yang diberikan Yesus  sebelum kenaikan-Nya adalah agar menjadi saksi kebangkitan-Nya. Hal itu dimulai dari tempat terdekat (Yerusalem), meluas ke seluruh propinsi (Judea) hingga seluruh bumi. Penting untuk dicermati, karena  kota Samaria, yang biasanya dihindari orang-orang Yahudi justru disebut Yesus sebagai sasaran pewartaan tentang kebangkitan. Dengan demikian, tidak ada daerah atau kota tanpa pengenalan akan injil. Injil diberitakan ke mana-mana dan juga di mana-mana.  Dengan demikian jelas bagi kita bahwa penginjilan bukan soal boleh atau boleh tidak. Tugas memberitakan Injil diberikan Yesus menjadi keharusan. Paulus menegaskan dalam nada ekstrem. “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor.9:16b).
Kenyataan seperti ini kiranya cukup bagi kita untuk menyingkirkan segala teori dan usaha mengurangi semangat memberitakan Injil. Kiranya perintah Yesus yang diberikan sebelum kenaikan-Nya ke surga dimaknai dan disikapi secara lebih serius sebagai tugas dan panggilan setiap orang beriman.  Dengan demikian, segala doa, dana dan daya, kita kerahkan untuk merespon perintah itu. Jika kita amati pasal-pasal berikutnya, memang kita melihat bagaimana rasul-rasul dan orang percaya sangat serius melakukan tugas penginjilan. Buah upaya penginjilan itulah yang memungkinkan semakin banyaknya orang  mau dipermandikan. Buah pengnjilan itu memungkinkan pertumbuhan jemaat semakian besar.
 Panggilan kita menjadi pewarta injil dalam konteks status dan tugas kita masing-masing, menuntut kita untuk mewaspadai dua yang dianggap aneh berupa pertanyaan Aneh dan Sikap Aneh. Kisah tadi menggambarkan ada pertanyaan Aneh  yang diarahkan kepada Yesus. "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?"  Pertanyaan ini disamopaikan bukan pada awal pelayanan Yesus, tetapi justru pada akhir, yaitu pada detik-detik terakhir menjelang Yesus take off  dari dunia. Apakah yang ada dalam pikiran orang banyak ketika itu? Yang mereka pikirkan adalah kekuasaan, soal pemulihan kerajaan Israel, bukan soal kerajaan Allah  seperti yang disampaikan dan ditekankan Yesus selama 40 hari Dia tinggal di dunia.  
Hal aneh kedua yang perlu kita waspadai adalah sikap aneh yang diperlihatkan umat. Dikatan “Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Yesus naik, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka”. Apa maksud ayat ini? Firman Tuhan menjelaskan bahwa mereka yang berkumpul ketika itu “sedang menatap ke langit” (kai hos atenizontes esan eis ton ouranon).
“Apa salahnya menatap ke langit? Bukankah itu mencerminkan kekaguman mereka kepada Yesus, Tuhan mereka? Bukankah itu juga mencerminkan kerinduan mereka kepada Yesus, di mana mereka ingin terus bersama-sama Dia? Jika itu yang menjadi pertanyaan kita, maka itu pertanyaan salah menurut Tuhan.   Kita melihat bahwa Tuhan ‘terpaksa’ harus mengutus “dua orang yang berpakaian putih” untuk menegur mereka dan berkata: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."
Saya melihat bahwa yang menjadi masalah adalah ketika mereka terus menerus mengagumi dan merindukan Yesus dengan “menatap ke langit”, sedemikian rupa, sehingga mereka melupakan tugas yang telah diberikan kepada mereka, yaitu untuk segera pergi dan pergi segera. Pergi bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk bersaksi tentang Dia, yang mereka kagumi itu. Bersaksi untuk memberitakan Kerajaan Allah di Yerusalem, seluruh Judea dan Samaria sampai ke ujung bumi. Itulah alasannya mengapa kedua orang utusan itu harus turun dan ‘mengusir’ mereka dari bukit kemuliaan, tempat Yesus transit atau naik ke surga.
Jadi, ada dua hal yang harus kita waspadai berkaitan dengan pertanyaan dan sikap aneh. Pertama, agar kita jangan hidup ‘terlalu’ duniawi, hanya memikirkan kerajaan duniawi, yaitu pemulihan ‘kerajaan-kerajaan’ kita.  Terus berpikir dan bertanya tentang pekerjaan kita, bisnis kita kita, yang memubuat kita lupa akan Kerajaan Allah. Kedua, agar kita jangan hidup ‘terlalu’ rohani, dengan terus menerus memandang ke langit. Terus menerus beribadah, dari satu tempat ibadah ke tempat ibadah yang lain; sedemikian rupa, sehingga kita melupakan tugas kita untuk bersaksi bagi dunia, untuk terlibat di dalam dunia, melakukan segala sesuatu secara konkret, demi pemulihan dunia ini.-
Peristiwa kenaikan yang kita rayakan hari ini sebagai perayaan iman sesunggguh meruapakan perayaan yang membawa banyak implikasi/makna dan berkat untuk kita. Paling kurang ada tujuh implikasi dan tiga berkat yang bisa kita temukan dari perayaan ini berdasarkan pesan Firman Tuhan melalalui tiga bacaan hari ini.
Pertamakenaikan Kristus adalah pelengkap bagi kebangkitan-Nya. Sebagai penakluk maut, Kristus menjadi yang sulung di antara umat-Nya dan sebagai Kristus yang sudah naik, Ia meneruskan kemenangan kebang-kitan-Nya itu sehingga menjadi suatu pelayanan yang mulia demi umat-Nya.  
Keduakenaikan Kristus adalah permulaan pemuliaan dan penobatan-Nya sebagai Raja.   Yesus sangat ditinggikan dan penobatan Kristus sebagai Raja dimaksudkan untuk menunjukkan kedaulatan-Nya atas seluruh ciptaan.  
Ketigakenaikan Kristus adalah permulaan pelayanan-Nya sebagai pengantara kita. Sama seperti halnya dengan imam besar bangsa Yahudi yang pekerjaannya sebagai pengantara bergantung pada diperolehnya kesempatan untuk masuk ke dalam tempat yang mahakudus, demikian pula pekerjaan Kristus sebagai pengantara antara Allah dan manusia bergantung pada masuknya pengantara itu ke surga.
Keempatkenaikan Kristus adalah penggenapan misi-Nya.  Misi Kristus di dunia yang dimulai dengan inkarnasi diakhiri dengan asensi atau kenaikan.  Oleh karena tujuan misi itu adalah penebusan dosa manusia, maka kenaikan Kristus menandakan selesainya misi tersebut.  Dalam inkarnasi Allah menjadi manusia; dalam asensi manusia Ilahi kembali kepada Allah. Kristus bukan hanya menebus dosa manusia melalui kematian-Nya, tetapi dengan kenaikan-Nya Ia membawa bukti penebusan itu ke hadirat Bapa. 
Kelimakenaikan Kristus adalah penentu penganugerahan Roh Kudus.  Yesus sendiri menyatakan  bahwa Roh Kudus, baru diberikan apabila Ia telah dimuliakan karena pemberian-pemberian baru bisa diberikan sesudah kenaikan.  Karena itu, Pentakosta baru dapat terjadi sesudah kenaikan Yesus.
Keenamkenaikan Kristus adalah pembuka jalan masuk bagi orang-orang percaya.  Karena kebangkitan-Nya, Kristus dinyatakan sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.  Dengan demikian Ia melibatkan semua orang percaya dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya sendiri.  Ia yang memperoleh jalan masuk kepada Bapa sudah memperoleh hak itu juga bagi semua orang yang dipersatukan dengan Dia.   
Ketujuh  kenaikan Kristus adalah permulaan zaman baru.  Zaman sekarang ini dibatasi oleh dua peristiwa, yaitu kenaikan Kristus pada mulanya dan kedatangan-Nya kembali ke dunia ini pada akhirnya.  Zaman ini ialah zaman Tuhan yang sudah bangkit dan dinobatkan sebagai Raja. Tuhan yang sedang berkarya sebagai pengantara bagi umat-Nya, Tuhan yang akan datang kembali pada akhir zaman untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.
 Dari tujuh impilikasi dan pesan pokok ini kita yang beriman akan kepadanya-Nya akan menerima berkat.  Ada tiga berkat yang kita dapatkan dari Peristiwa Kenaikan ini.  Pertama,  kita akan menerima Roh Kudus karena Tuhan sendiri menjanjikan itu kepada kita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu (Yoh.16:7).  Yesus memberitahukan murid-murid-Nya, juga kepada semua kita bahwa kepergian-Nya jauh lebih berguna bagi karena Roh Kudus akan diutus dan masuk dalam kehidupan kita.
Kedua, Kita mempunya Seorang Imam Besar dan Rasul.  Seorang Imam besar ialah pribadi yang mewakili kita di hadapan Allah dan duduk disebelah kanan Allah (Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi
Ketiga, Kita mempunyai seorang Pengantara yang menyelamatklan, memberi hidup kekal, dan Pengampunan dosa. Jaminan masa depan jiwa kita hanya ada dalam kebangkitan dan kenaikan Tuhan.
Marilah kita memaknai peristiwa  dan perayaan kenaikan Tuhan ini sebagai momen penyadaran bagi kita dalam mewartakan kerajaan Allah sesuai dengan tugas dan pangggilan kita. Tuhan tidak menginginkan kita hanya sebagai orang yang selalu memandang ke laingit tetapi juga harus segera pergi memberitakan kerajaan kasih dan cinta sebagai Yesus datang hidup dan berkarya sebagai Kasih yang membebaskan. Semoga


Rm.Bone Rampung

Wednesday, April 29, 2015

HUT PERNIKAHAN MARKUS PORAT

Renungan Misa Syukur HUT Nikah
Sirak 51,1-12; Markus 4,35-41
Borong, 21 Juni 2010

Buka
Malam ini kita semua diundang keluarga ini untuk bersama mereka mensyukuri rahmat dan cinta Tuhan yang telah mengaarahkan dan menyertai panggilan mereka sebagai suami istri. Kita besyukur karena Tuhan telah meneguhkan dan menguatkan mereka dalam aneka tantangan dan perjuangan hidup. Seraya mengucapkan syukur kita juga memohon rahmat peryertaan Tuhan untuk anak-anak yang akan pergi mencari kebijaksanaan, menuntut ilmu. Kita berdoa agar Tuhan menolong mereka sekaligus agar mereka senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan. Agar syukur dan doa kita berkenan kepada Tuhan baiklah kita akui salah dan dosa kita

Renungan
Manusia biasanya mudah sekali mencari alasan untuk melakukan sesuatu. Karena itu, logislah bagi kita kalau setiap kegiatan, aktivitas, tindakan manusia memiliki dasar atan alasan. Alasan yang dipakai itu bisa dicari atau dicari-cari, bisa dibuat atau dibuat-buat, bisa ada atau diada-adakan.Hari Jumat yang lalu Pak Markus menjumpai saya di Kisol dan meminta untuk memimpin perayaan ekaristi di rumah ini dengan ujud syukur atas HUT pernikahan yang ke-22 dan sekaligus memohon doa restu bagi anak-anak mereka yang akan mengadu nasib dan mempersiapkan masa depan pada lembaga pendidikan. Syukur dan memohon doa restu itulah alasan utama mengapa kita ada bersama di tempat ini saat ini. Pernikahan antara Pak Markus dan Ibu adalah kenyataan. Anak-anak akan  berangkat ke tempat studi juga kenyataan. Karena itu keberadaan kita di sini bukanlah karena dicari-cari, diada-adakan, dibuat-buat. Memang waktu Pak Markus menyampaikan hal ini kepada saya, pikiran saya langsung mengingat pengalaman pribadi saya tahun 2005. Lima tahun lalu Oktober 2005 pastor Paroki Iteng meminta saya untuk merayakan misa di kampung dan saya spontan menerima tawaran itu. Di luar dugaan saya misa itu ternyata dibuat besar-besaran. Saya terkejut saat tiba di kampung ada kemah besar hampir sama dengan kemah saat misa sulung saya tahun 1995. Ternyata Pastor paroki dan panitia dan keluarga mau membuat kejutan mau merayakan syukur 10 tahun imamat saya. Kalau waktu misa sulung koor dari SMA Fransiskus, pada misa 10 tahun koor dari SMA St.Maria Iteng. Yang menarik lagi bagi saya saat itu adalah: panitia misa sulung dulu tetap menjadi panitia misa syukur 10 tahun itu. Ternyata dulu panitianya belum dibubarkan dan bertahan sampai 10 tahun. Saya cemas panitia itu juga belum dibubarkan. Saya tidak menduga dan saya tidak pernah merencanakan hal seperti itu. Karena itu saya ingat dalam sambutan, saya sampaikan bahwa acara itu tampaknya dibuat-buat, dicari-cari karena biasanya orang tunggu 25 (perak) tahun, 40 (pancawindu) tahun, 50 (emas) tahun. Saya tidak tahu kita beri nama apa pesta untuk 10 tahun seperti itu.Mungkin pesta kayu jati saja. Ini kenyataan dan mungkin cara khas orang Pocoleok yang membuat saya harus melihatnya dengan cara yang lain.
Pada akhirnya saya menyadari bahwa mereka melakukan itu sebagai bentuk dukungan terhadap pilihan hidup saya. Intinya mereka mau mengungkapkan syukur dan saya yakin selama 10 tahun mereka ingat dan mendoakan saya kalau tidak semua paling kurang panitia yang belum dibuarkan itu. Semula saya berpikir mereka hanya mau mencari alasan untuk perbaikan gizi karena babi dan sapi harus jadi taruhan untuk menghiasi meja hidangan.  Pikiran saya seperti itu tergeser ketika nilai ucapan syukur itu diperhadapkan pada inti kehidupan kita sebagai orang beriman. Bahwa Binatang darat, laut, udara babi dan sapi, ayam ikan harus melintang itu hanya efek samping yang tidak bisa dibandingkan ekspresi iman dalam bentuk syukur. Nilai kebersamaan, kekeluargaan, persaudaraan, untuk salaing mendukung dan menguatkan dalam mengungkapkan syukur ternyata bernilai melampaui hal material. Karena itu saya dan mudah-mudahan kita juga disadarkan bahwa syukur itu harus menjadi bagian dari perjalanan hidup kita dari saat-ke saat. Tidak mesti menunggu 25 tahun, 40 tahun, 50 tahun, 75 tahun atau seratus tahun karena kita semua bukanlah ahli ilmu pasti yang menentukan. Tuhan yang menentukan karena itu hari ini kita bersykur. Kalau masih diberi waktu untuk besok, besok juga  begitu seterusnya syukur menyertai kehidupan kita. Karena itu kiranya kalau pak Markus mengundang kita untuk merayakan syukur HUT pernikahan ke-22 tahun bukanlah hal aneh atau dicari-cari dan dibuat-buat. Saya tidak tahu sebagai orang Pocoleok apakah panitia pernikahan Pak Markus 22 tahun lalu masih menjadi panitia dalam acara malam ini?
Mengapa syukur itu harus menjadi bagian dari gerak hidup kita? Jawabannya karena hidup kita di dunia ini merupakan perjuangan. Kita semua hidup di dunia ibarat pemain  bola piala dunia yang dilepaskan trio 3 pelatih andalan kita yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus. Kita dilepaskan di arena untuk bermain dalam prosedur standar sebagai orang beriman, memanfaatkan setiap peluang untuk mengumpulkan nilai dan mencetak goal-goal indah. Dalam konteks perjuangan seperti itulah syukur harus menjadi muara gerak hidup kita.
Gambaran tentang suka duka perjunagan hidup manusia analogis dibahasakan Kitab Putra Sirakh dalam bacaan pertama tadi. Cukup jelas kiranya bagi kita bahwa penggalan teks Putra Sirakh tadi mewacanakan dinamika perjuangan manusia dalam kehdiupan ini. Ekspresi syukur dan dan nyanyian pujian Putra Sirakh  secara tidak lansung  menggambarkan secara konkret situasi keseharian hidup manusia. Ibarat pemain bola Putra Sirakh menyadari diri sebagai pribadi yang berada dalam kepungan lingkungan yang bisa menghancurkan semua rencana dan cita-citanya.  Situasi Sirakh juga menjadi situasi kita dan semua manusia sepanjang zaman. Rahmat, kebaikan, perlindungan, penyertaan Tuhan itulah yang bisa ia temukan dalam setiap pengalaman pahit yan dihadapinya dan itulah yang diolahnya sebagai bahan untuk bermadah memudi Tuhan.
Saya yakin, dan boleh kita semua yakin bahwa keluarga Pak Markus juga tidak luput dari situasi dan pengalaman Putra Sirakh. Hidup bersama selama 22 tahun sebagai suami istri jelas banyak tantangan dan cobaannya. Berjalan bersama selama 22 tahun tentu banyak krikil tajamnya. Memasuki rimba kehidupan bersama selama 22 tahun pasti banyak duri yang melukai. Tetapi semua hal itu terlewatkan dengan baik itulah yang harus disyukuri. Dan itulah membuat kita semua berada dalam perayaan malam ini.
Dalam setiap pesta pernikahan  entah itu terjadi di gunung, pedalaman jauh dari laut, entah itu di dekat laun biasanya orang menggunakan kata dan simbol yang berkaitan dengan laut. Sambutan dan ucapan, simbol  saat pesta nikah hampir pasti penuh dengan kata, istilah yang berhubungan dengan laut. Kita dengan ucapan selamat mengarungi samudera rumah tangga. Selamat memasuki bahtera rumah tangga. Bagi mereka yang belajar bahasa arab tidak akan menngunakan kata laut dan bahtera sekaligus karena bahtera itu bukan berarti sampan atau perahu. Bahtera itu sesungguhnya berarti laut karena laut bahasa arabnya bahrun (jenis masklin). Mengapa orang yang jauh dari pantai juga pakai kata laut, bahtera, bahrun. Pilihan kata itu tentu ada alasannya dan itu berkaitan dengan perbandingan suasna laut dengan kehidupan bermah tangga. Pelbagai tantangan dan cobaan dalam hidup berkeluarga diparalelkan dengan ancaman badai, gelombang. Suka duka kehidupan berkeluarga biasanya sudah tergambar dalam pilihan kata dan simbol seperti itu.
Pilihan apa saja termasuk pilihan hidup berkeluarga dalam konteks iman kita dilihat sebagai bentuk jawaban manusia atas ajakan dan panggilan Tuhan. Ajakan dan panggilan Tuhan itu menuntut manusia untuk memilihnya secara bebas dan bertanggungjawab. Tuhan senantias amengajak manusia untuk sesuatu yang memungkinkannya selamat. Dan menarik sekali injil tadi memuat kata-kata ajakan Yesus: Marilah kita bertolak ke seberang. Mengapa Yesus mengajak ke seberang? Ada apa di seberang, dan bagimana harus ke seberang? Pertanyaan-pertanyaan ini mendapat jawaband alam injil tadi. Yesus mengajak ke seberang  karena hari sudah petang. Itu artinya tidak lama lagi kegelapan alam tiba. Itulah gambaran situasi yang tidak menguntungkan yang bakal menimpa manusia. Itu artinya di seberang sana ada satu kondisi yang lebih baik dari yang ada saat itu. Mereka ke seberang dengan menggunakan kapal fery penyeberangan dan bersama-sama dengan Yesus. Yesus mengajak sekaligus menyertai penyeberangan itu. Itu artinya ada jaminan pelayaran itu berlangsung aman karena penanggungjawabnya ada bersama mereka. Bagi Yesus  penyeberangan itu dijamin aman dan akan tiba di seberang karena itu ia membentangkan tikar lalu tidur nyanyak.
Sikap dan pandangan Yesus ternyata lain dengan pengalaman para penumpang. Mereka merasakan adanya badai yang mengancam dan Yesus dinilai sebagai orang yang masa bodoh, tidak peduli. Cara mereka membangungkan Yesus menjadi bumerang karena Yesus membaca bahwa mereka takut dan tidak percaya kepada pemimpin rombongan. Krena mereka tidak percaya maka Yesus dengan mudah memberi perintah agar angin redah dan itu memang terjadi. Setelah angin redah mereka masih juga belum mengenal Yesus sehingga bertanya tentang siapa sebenarnya Yesus itu. Dari dinamika penyerangan bersama Yesus ini jelas mereka tiba dengan selamat bersama Yesus di seberang.
Kalau perkaawinan dianalogikan sebayai suatu upaya menajawab ajakan Tuhan dan bersedia ikut dalam penyebrangan bersama Tuhan maka pasti perkawinan itu akan berjalan aman. Kuncinya Yesus harus selalu diyakini hadir dalam dan bersama ada dalam peyeberangan. Kalau Yesus selalu dirasakan kehadirannya, maka manusia harus selalu berinisiatif datang mendekati dia dan memohon pertlindungannya. Kisah injil tadi dengan seluruh dinamika yang terjadi di dalamnya erat kaitannya dengan panggilan hidup kita sebagai apa saja. Kalau kita yakin pilihan hidup kita sebagai jawaban atas ajakan dan panggilan Tuhan, maka kita harus yakin pula bahwa Yesus akan ada bersama-sama dengan kita.
Dalam misa ini kita juga berdoa untuk perjalanan anak-anak dari keluarga ini untuk  melanjutkan studi. Itu juga harus dilihat sebagai jawaban atas panggilan Tuhan untuk ke seberarng mencari ilmu yang membuat masa depan lebih baik. Bagi adik-adik yang hendak berangkat, berangkatlah bersama Yesus, dan manakala ada tantangan dalam perjalanan mencari ilmu jangan lupa dekati Yesus karena Dia akan menolong pada waktunya yang tepat. Mudah-mudahan acara seperti ini menyadarkan dan mengingatkan kita untuk selalu bersyukur kepada Tuhan yang senantiasa menyertai kita dalam cara yang cocok dan pas untuk kita. Amin


PERNIKAHAN KARLO DAN MEI

Renungan Pernikahan
Elias Karllo Wajong & Alberta Parinters Makur
Kej.2,18-24;  Ef.5,22-33; Yoh.15
Paroki Maria Asumpta Katedral Ruteng
Jumat, 24 April 2015

Buka
Hari ini kita semua yang hadir ingin mensyukuri karya Tuhan, karya Kasih-Nya yang dinyatakan kita semua dan terutama kepada kedua mempelai, Karlo dan Mei, yang memungkinkan keduanya bersepakat membentuk dan memangun persekutuan Kasih dalam hidup berkeluarga. Kita mendukung niat baik kedua mempelai ini dengan kehadiran kita dalam doa bersama dan doa pribadi melaluio perayaan ekaristi ini sebagai perayaan pernyataan Kasih Tuhan yang sempurna untuk kita. Agar semua doa dan harapan kita berkenan kepada TUhan, baiklah kita akui kelemahan dan dosa-dosa kita.

Renungan   

Sepasang remaja yang hendak menikah mendatangi seorang guru kebijaksanaan. Keduanya meminta nasihat dan penjelasan tentang persoalan cinta dan perkawinan. Pasangan itu meminta penjelasan sang guru tentang arti cinta  dan cara menemukan  cinta? Sambil menunjuk ke arah ladang bunga milikinya, sang guru berkata, "Karena kalian ingin mengerti tentang cinta dan bagaimana menemukan cinta maka lihatlah, ada ladang bunga yang luas di depan sana. Pergilah, berjalan majulah kalian berdua secara bersama-sama di ladang bunga milikku dan kalian tidak boleh mundur lagi. Cari dan petiklah sekuntum bunga  yang menurut Anda berdua merupakan kuntum terindah dan terharum. Kalau kalian berdua  temukan kutum bunga terindah dan terharum itu, petiklah dan bawa bunga itu kepadaku karena itu pratanda bahwa kalian telah berhasil mengerti dan menemukan cinta yang kalian cari".
 Pasangan itu pun berjalan menuju  ladang bunga yang luas, milik sang guru. Setelah memasuki ladang bunga itu keduanya mengamati sambil mencari sekuntum bunga yang harum dan indah. Keduanya hampir memetik sekuntum bunga, tetapi masih ada keraguan pada diri mereka karena mereka masih bayangkan di depan mereka masih ada bunga yang lebih harum dan lebih indah lagi. Begitulah, berulang-ulang mereka hampir memetik sekuntum bunga di ladang itu tetapi selalu ada keraguan bahwa di depan mereka kemungkinan masih ada kuntum terharum dan terindah. Keduanya tenggelam dalam pencarian sekuntum bunga terharum dan terindah itu. Keduanya asyik dan terus maju dan maju terus  sehingga tanpa mereka sadari keduanya telah sampai di ujung ladang bunga itu. Betapa terkejutnya mereka karena keduanya tiba di ujung ladang tanpa memetik sekutum bunga pun. Keduanya tidak mungkin berjalan mundur lagi sekadar memetik sekuntum bunga lagi.
Keduanya kembali kepada sang guru tanpa membawa apa-apa. Sang guru bertanya,”Mengapa kalian tidak membawa sekuntum bunga kepadaku?" Mereka menjawab:” Yang mulia, kami hanya diizinkan memetik sekutum, dan kami tidak boleh mundur. Sebenarnya dalam perjalanan kami, kami telah menemukan kumtum bunga yang indah dan harum pada awal perjalanan kami di ladang bunga itu, tetapi kami berpikir masih ada bunga yang lebih indah dan harum di depan kami. Karena itu, kami terus maju, maju terus dan tanpa sadar kami tiba di ujung ladang, sementara tidak satu pun bunga yang kami petik. Inginnya kami memetik yang di belakang, tetapi aturan tidak membolehkan kami untuk mundur lagi. Beginilah jadinya,  kami pulang tanpa membawa sekutum bunga. Sang Guru kemudian berkata " Benar dan tepat sekali, begitulah arti dan hakikat cinta yang ingin kalian cari dan ingin kalian dapatkan.
 Tiga hari kemudian pasangan itu kembali mendatangi sang guru untuk meminta penjelasan tentang hakikat perkawinan, dan bagaimana menjalani hidup perkawinan. "Apa itu perkawinan? Bagaimana kami  bisa menjalaninya?”, tanya mereka kepada sang guru.  Gurunya pun menjawab sambil menunjuk ke arah hutan miliknya. "Ada hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah kalian tanpa boleh mundur. Cari, pilih, dan tebanglah satu pohon yang menurut Anda berdua merupakan pohon yang paling lurus dan paling tinggi dari semua yang ada hutan itu. Kalau kamu temukan itu, itulah dan begitulah makna perkawinan untuk Anda berdua.
Keduanya  pun berjalan menuju hutan milik sang guru, tetapi tidak seberapa lama kemudian, keduanya kembali. Keduanya membawa sebiji buah pohon yang baru berkecambah. Mereka membawanya di dalam satu polibag kecil. Guru agak terkejut karena keduanya kembali begitu cepat dan tidak membawa pohon yang diminta. "Mengapa kalian begitu cepat kembali dan tidak membawa pohon yang kuminta?”
Sambil menunjukkan biji pohon yang baru berkecambah itu, keduanya berkata: "Guru yang bijaksana, berdasarkan pengalaman kami tiga hari lalu, setelah menjelajah seluruh ladang bunga kami  pulang dengan tangan kosong. Kami tidak menemukan cinta yang kami cari. Jadi, pada kesempatan ini, kami berdua menemukan sebiji buah pohon yang mulai bertumbuh ini. Kami berdua sama-sama yakin bahwa pohon yang tampaknya tidak lurus dan belum terlalu tinggi ini bila kami pelihara dengan pupuk yang baik pasti akan menjadi sebatang pohon yang lurus  tinggi.  Kami berdua sepakat mengambilnya. Guru, mungkin tidak bisa melihat bagaimana lurus dan tingginya sekarang tetapi kami berdua sepakat akan berusaha memelihara benih yang baru mulai tumbuh ini agar menjadi pohon yang paling lurus dan pohon yang paling tinggi bukan di ladang ladang tuan tetapi di ladang milik kami. Kami tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya". Setelah mendengar penjelasan pasangan itu, sang  guru bijak itu mengangguk-anggukan kepala dan berkata: "Dan benar itulah hakikat perkawinan yang kalian tanyakan dan perkawinan yang hendak kalian masuki "
Bertanya-tanya dan pertanyaan-pertanyaan selalu mengandaikan adanya masalah. Masalah yang dipertanyakan itu banyak, bervariasi, dan tak terhitung pada setiap orang. Ketika kita berhadapan dengan pertanyaan atau masalah, kita merindukan jalan keluar atau jawaban yang tepat mengatasinya. Untuk menemukan jalan keluar dan jawaban atas masalah, kita membutuhkan cara dan kekuatan tertentu.
Pertanyaan, masalah, dua remaja dalam cerita ini boleh jadi menjadi pertanyaan dan masalah pasangan Karlo dan Mei selama ini dan sampai saat ini. Hari ini mereka berdua mengukuhkan, meresmikan, menandatangi komitmen dan pilihan mereka untuk membentuk institusi yang kita sebut keluarga, rumah tangga. Pergelutan dan pergulatan sepasang tokoh dalam cerita tadi boleh jadi juga merupakan pergulatan dan pergelutan pasangan Karlo dan Mei dalam membayangkan masa depan rumah tangga yang mereka bentuk hari ini. Sebagai pasangan baru, kemungkinan besar keduanya akan banyak bertanya perihal cinta, bertanya tentang perkawinan, dan bertanya segala hal yang terkait di dalamnya. Tentu saja keduanya mengharapkan ada banyak guru kebijaksanaan, guru kehidupan yang bisa didatangi untuk dimintai nasihat dan penjelasan atas masalah mereka.  Kalau kedua pasangan ini mengundang kita semua untuk menghadiri pengukuhan pernikahan mereka, itu bisa dimaknai sebagai cara mereka untuk mendapatkan banyak guru kebijaksanaan. Semua yang hadir dalam perayaan ini tentu saja berdoa agar kedua pasangan ini mendapatkan kebijaksanaan itu dalam diri semua yang hadir terutama dalam diri psagan suami istri yang direpresentasikan dalam diri Bapa Mama Saksi.
Sehebat apa pun dan sebijaksana bagaimana pun orang yang akan didatangi dan ditanyai tentang cinta, tentang kehidupan perkawinan hampir pasti tidak akan ada orang yang memberi jawaban secara memuaskan. Mengpa? Jawabannya karena perkawinan atau kehidupan keluarga itu bukan suatu kondisi statis sekali jadi melainkan suatu ziarah yang diwarnai dengan dinamika.  Ziarah hidup berkeluarga diwarnai dengan kemungkinan-kemungkinan dan pilihan-pilihan yang menuntut pasangan untuk menentukan pilihan secara bersama dan secara tepat. Kehidupan berkeluarga ibarat memasuki taman bunga dan hutan rimba yang menuntut pelakunya terus maju dan maju terus memilih yang terindah, terharum dan tinggi dan terlurus. Semua orang merindukan sesuatu yang indah, harum, lurus dan tinggi. Itulah gambaran idealisme masa depan yang mendasari setiap gerak langkah untuk menjadikan diri dan kehidupan itu semakin baik dan berkualitas.
Dari cerita tadi nyata sekali bahwa jawaban atas persoalan cinta, jalan keluar untuk masalah perkawinan harus dapat ditemukan sendiri oleh pasangan itu. Mengapa hanya bisa ditemukan sendiri oleh pasangan itu? Jawabannya, karena pengalaman akan cinta, susana hidup perkawinan untuk setiap orang itu tidak mungkin sama. Yang bisa dan yang biasa orang lakukan hanyalah berusaha mencari dan mengumpulkan segala yang baik dari model penghayatan cinta dan model pemaknaan perkawinan orang lain.  Ikatan cinta dan perkawinan setiap pasangan itu unik karena Tuhan sendiri sudah menghendaki hal itu. Program cinta dan kehidupan perkawinan seseorang sudah direncanakan dalam agenda karya Allah dan akan dilaksanakan manusia. Cinta dan perkawinan direncanakan Tuhan di surga dan dilaksanakan manusia di bumi. Proyek Cinta Karlo dan Mey sudah ada dalam program kerja Tuhan. Kini  keduanya harus menandatangi komitmen untuk melaksanakan proyek Cinta yang Tuhan rancang itu.  Komitmen kedua mempelai bukan sekadar memenuhi tuntutan pranata dan status sosial kemasyarkatan, peralihan status tetapi lebih dari itu komitmen keduanya merupakan jawaban atas rencana Allah untuk menyempurnakan cinta dan dan memperkaya hidup dalam Kasih. Hari ini Karlo dan Mei dalam kebebasan dan dalam kesadaran yang penuh mendeklarasikan diri sebagai satu paket lebih dari paket calon bupati dan wakil bupati. Paket ini tidak perlu pasang baliho di perempatan atau tikungan jalan, tidak perlu tim sukses, tidak perlu pintu masuk partai politik. Paket dan pasangan pengantin ini juga lebih dari paket independen karena ikatan mereka tidak harus mengumpulkan banyak KTP orang lain. Paket ini tidak membutuhkan banyak  pemilih. Hanya satu pribadi yang memilih mereka yaitu Tuhan. Tuhan memanggil dan memilih mereka untuk memenangi tender pelaksanaan proyek Kasih. Konsekuensinya, keduanya harus dapat mempertanggungjawabkan seluruh komitmen mereka kepada Tuhan sebagai pemilik proyek Kasih itu.
Yesus sendiri adalah wujud dan kehadiran Allah yang adalah Kasih. Allah yang adalah Kasih menjelma dalam diri Yesus yang memberi jaminan bagi masa depan kehidupan manusia. Semua orang merindukan masa depan jiwa yang membahagiakan. Masa depan jiwa itu ditentukan dan dirajut dalam kehidupan di dunia masa kini. Dalam konteks seperti itulah kita memahami mengapa orang Saduki dan ahli Taurat bertanya kepada Yesus tentang hukum utama. Orang Saduki dan ahli Taurat sesungguhnya juga merindukan masa depan yang kekal. Dalam kerinduan dan dalam  terminologi hukum  mereka bertanya tentang hukum utama yang bakal menggaransi jiwa mereka. Pertanyaan mereka bukan persoalan sepele yang sifatnya elementer tetapi menukik pada persoalan hukum utama. "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus:  “Kasihilah Tuhan, Allahmu”. Mengasihi Tuhan sebagai hukum utama yang dikatakan Yesus berkualifikasi standar. Kualifikasi standar hukum utama itu  harus utuh, bulat, genap, tidak terbagi-bagi, tidak terpecah-belah, tidak bercabang-cabang. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Kualitas Kasih manusia akan Tuhan yang diwacanakan Yesus harus ditopang dan dinyatakan dalam pilihan untuk mengasihi sesama. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini." Bagi Yesus manusia yang memiliki kasih yang utuh, total, kepada Tuhan dan sesama adalah manusia-manusia yang sudah berjalan mendekati kerajaan Allah. "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Jawaban Yesus itu final dan tuntas. Penginjil membahasaknnya,” seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus”. Artinya, Kasih itu mengalahkan segalanya.
Semua kita yang hadir dalam perayaan ini baik kami yang dipanggil menjadi imam maupun yang dipanggil untuk hiudp berkeluarga sama-sama dipanggil dalam cara berbeda untuk memilki Kasih yang segenap, seutuh, sepenuh, selengkap, yang Yesus sabdakan. Panggilan dan pilihan hidup apa saja termasuk hidup berkeluarga adalah panggilan dan pilihan untuk mengasihi Tuhan yang hadir dalam diri pasangan sebagai citra Allah. Karena itu, kualifikasi satandar Kasih yang dikatakan Yesus harus menjadi  pilihan pasangan suami  istri baik pasangan Karlo-Mei ini maupun pasangan-pasangan lama. Mengapa Yesus menuntut Kasih yang utuh, genap, bulat, lengkap.  Karena Tuhan sendiri telah mengasihi kita manusia secara penuh, utuh dan total.
Cita-cita dan kerinduan Tuhan hanya satu yaitu agar kita manusia memiliki Kasih yang utuh terhadap Tuhan dan Sesama. Cita-cita dan kerinduan manusia juga hanya satu yaitu agar manusia mampu mengasihi Tuhan dan sesama secara utuh. Bedanya, Kasih Tuhan tidak pernah berubah karena kondisi dan keterbatasan manusia. Sebaliknya, kasih manusia sering terbagi, terbelah, terpencar, dan bercabang. Mengapa? Karena kata orang bijak manusia itu hakikatnya adalah nafsu yang berjalan. Nafsu itu bermacam-macam (kuasa, harta, jabatan). Kalau semua itu menguasai manusia maka  Kasihnya pasti akan terbagi-bagi dan berkeping-keping.
Jawaban Yesus terhadap pertanyaan ahli taurat dan orang Saduki dalam injil merupakan bentuk perintah atau imperasi untuk mewujudkan kasih yang utuh. Hal itu sejalan dengan apa yang diharapkan Paulus dalam suratnya untuk jemaat Filipi. Paulus pada dasarnya menekankan pentingnya keutuhan kasih itu. Dia merumuskannya dalam resep panca S- atau resep 5s yaitu  sehati (satu hati), sepikiran (satu pikiran), sekasih  (satu kasih), sejiwa (satu jiwa) dan setujuan (satu tujuan). Konsep panca S atau 5S yang digagaskan Paulus ini justru dipilih pasangan Karlo-Mei sebagai landasan pacu perjalanan hidup rumah tangga mereka.  Untuk mewujudkan panca S atau 5S ini tentu tidaklah  mudah karena Karlo dan Mei tetaplah dua pribadi yang memiliki karakter yang berbeda. Saya tahu adik Mei ini sejak kecil sangat kritis dan berpikir matematis karena banyak berguru pada Pater Flori Laot (almarhum). Tidak heran ia menekuni dunia angka matematika. Karlo saya menduga berkepribadian tenang dan ini tentu tepat dan menunjang pangilannya menjadi seorang dokter. Tidak gegabah menangani orang sakit. Perbedaan dua karakter ini bukannya untuk dipertentangkan tetapi sebaliknya harus saling melengkapi.
Orang Manggarai asal Pocoleok berinisial RIS (Romo Ino Sutam) senang bersemiotika atas angka atau bilangan. Dalam berbagai kesempatan ia selalu berusaha menghubungkan aneka hal termasuk kehidupan manusia sejak lahir hingga mati dalam permainan angka. Romo Ino dalam beberapa kesempatan mengangkat dan memaknai angka lima dalam kehidupan orang Maggarai sebagai angka yang bermuatan filosofi orang Manggarai. Demikianlah angka lima itu menggambarkan kesempurnaan.  Tadi ada lima s untuk dituntut untuk keutuhan Kasih kehidupan orang percaya termasuk keluarga baru ini. Kasih yang utuh dalam lima S itu hanya akan abadi kalau pasangan Karlo dan Mei terpaut dan memiliki pancaada atau 5ada. Yesus berbicara tentang dua hukum utama, Paulus menawarkan panca/lima ada yang harus menjadi milik pasangan ini. Dalam melanggengkan Kasih sebagai hukum utama Paulus mengingatkan agar manusia tetap berpaut pada Kristus. Mengapa? Karena pada Yesus ada lima hal penting. Pasangan Karlo-Mei memilih bacaan pertama yang memuat lima hal penting itu bagi kelanggengan hidup keluarga mereka.  Pasangan ini mau mendengarkan arahan santu Paulus tadi. Jadikan Yesus sebagai andalan karena dalam Kristus ada lima hal pokok  yaitu ada nasihat,   ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih, dan ada belas kasihan. Paulus mengingatkan bahwa segalanya adalah dalam Kristus. Nasihat, penghiburan, persekutuan, kasih, dan belas kasihan itu dapat ditemukan di dalam Kitab suci yang kiranya diakrabi keluarga baru ini. Kelima hal itu kiranya juga ada dalam diri pasangan Karlo-Mei sehingga bisa saling menasihati, saling menghibur, saling mempersatukan, saling mengasihi dan berbelas kasih satu sama lain di dalam keluarga. Kelima hal ini penting dimiliki untuk membebaskan pasangan ini dari sikap mementingkan diri. Kelima hal itu penting agar setiap kita bersikap rendah hati, mengutamakan orang lain, dan mengosongkan diri sendiri.
Kehidupan keluarga  zaman ini penuh tantangan baik dari dalam diri pasangan maupun dari luar. Tanpa bermaksud menakut-nakuti Karlo dan Mei saya mengangkat pengalaman seorang ibu namanya Nancy Anderson. Melalui bukunya berjudul Avoiding The Greener Grass Syndrome (Menghindari Sindrom Rumput yang Lebih Hijau) ia  berkisah tentang rumah tangganya yang nyaris hancur berantakan.  Di dalam buku itu ia membuat perbandingan atau metafor tentang kehidupan perkawinannya yang terancam karena ia menderita simdrom rumput lebih hijau. Kata rumput hijau di sini merupakan metafor untuk orang-orang (perempuan) yang muda. Anderson mengakui bahwa ia selalu mengalami kesulitan dalam hidup berkeluarga karena masing-masing ingin mencintai orang yang lebih muda. Dalam bahasa populer keluarga mereka terancam bubar karena masaing-masing berprinsip  “tua di rumah muda di jalan” di rumah mengaku sebagai bapak, suami, ibu/istri tetapi di jalan di luar rumah mengakui bujangan. Sikap seperti masih ada sampai masa sekarang. Zaman sekarang mungkin lebih gila lagi karena bukan hanya sindrom rumput hijau, tetapi juga ada sindrom rumput kering. Kakacauan hidup perkawinan zaman ini bukan hanya karena pasangan tertarik pada ‘daun’ yang muda-muda tetapi juga karena orang tertarik pada ‘daun’ kering yang bertatus kakek/nenek, opa/oma.. “Daun-daun tua dan kering zaman ini, juga mengecohkan banyak orang karena ada semacam teknologi penghijauan manusia yang orang bilang upaya awet muda dengan segala macam bentuknya. Sindrom daun muada dan daun tua zaman ini bukan hanya berlaku pada kaum pria tetapi juga bersaing dengan kaum perempuan. Kata selingkuh adalah kata baru yang muncul ketika lembaga keluarga terserang sindrom rumput kering dan rumput hijau. Anderson tak ingin banyak orang terjebak dalam sindrom rumput hijau itu. Karena itu dalam bukunya Menghindari Sindrom Rumput lebih Hijau itu Anderson menyarankan pasangan suami istri untuk senantiasa merenungkan Kasih Tuhan yang mengalahkan segalanya, kasih yang utuh dan total.
Hari ini Karlo-Mei menandatangai portofolio kehidupan Adik dalam jabatan sebagai suami dan istri. Hari ini Adik berdua mulai menulis lembaran pertama buku kehidupan perkawinanmu. Hanya Karlo dan Mei yang bisa menentukan tebal tipisnya dan isi buku kehidupan rumah tanggamu. Hari ini kalian mendatangi Tuhan sebagai guru kebijaksanaan Sejati. Tuhan hanya menyiapkan kondisi kehidupan ibarat ladang bunga yang indah tempat kalian menentukan pilihan. Tuhan hanya menyiapkan hutan yang luas tempat kalian membuat pilihan-pilihan. Hari ini kalian berdua ibaratnya baru mendapatkan biji pohon yang baru mau bertumbuh. Lurus tidaknya dan tinggi rendahnya pohon yang Anda pelihara dalam hidup berumah tangga ada dalam kuasa adik berdua. Untuk itu jadikalah Kasihmu itu utuh untuk pasanganmu. Kasih yang utuh dan sempurna akan mengalahkan segalanya. Proficiat dan selamat berbahagia.

Ruteng, 24 April 2015

Rm.Bone Rampung, Pr