Saturday, August 2, 2014

MISA ARWAH YOHANES M.BADRI

Misa Peringatan 100 Hari Almarhum Yohanes M.Badri
Yesaya 35,1-10; Matius 21,18-22
Lingkungan St.Petrus Celaket Malang 30 Juli 2014
=============================================

 Buka

Saat ibadat rosario kita sering mengucapkan doa ini: ” Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami. Selamatkanlah kami dari api neraka, dan hantarlah jiwa-jiwa ke surga, terlebih jiwa-jiwa yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu”
Dalam dan melalui doa yang singkat ini sebenarnya tergambar kayakinan dasar kita sebagai orang percaya. Doa ini menggambarkan iman , kasih dan pengharapan kita akan suatu kehidupan setelah kematian. Dalam doa ini manusia mengakui kebaikan dan kerahiman Tuhan akan nasib manusia. Kita yang masih hidup memohon dibebaskan dari neraka dan bagi yang telah meningal mengharapkan kerahiman dan belas kasih Tuhan untuk mengantar jiwa  sesama kita yang terpaksa transit sementara di bandara api penyucian.  
Dalam konteks itulah malam ini kita diundang untuk mendoakan keselamatan jiwa almahum... dalam perayaan ekaristi. Merayakan ekaristi bagi kedamaian jiwa umat beriman berkaitan dengan keyakinan kita akan api penyucian. Kita percaya bahwa jika seseorang meninggal dunia dengan iman kepada Tuhan, tetapi dengan menanggung dosa-dosa ringan dan luka akibat dosa, maka Tuhan dalam kasih dan Kerahiman Ilahi-Nya akan terlebih dahulu memurnikan jiwa. Setelah pemurnian dilakukan sempurna, maka jiwa akan mendapatkan kekudusan dan kemurnian yang diperlukan agar dapat ikut ambil bagian dalam kebahagiaan abadi di surga.
Dalam iman marilah kita mengawali doa harapan kita bagi keselamatan jiwa almahum... dengan mengakui  kesalahan dan dosa-dosa kita.

Renungan
Harian Kompas Januari 2012  memuat  cerita Pendek berjudul ”Pohon Hayat”. Pohon Hayat (pohon hidup) yang menjadi judul cerpen itu adalah sebatang pohon tua yang tumbuh di alun-alun sebuah kota. Seorang kakek bercerita kepada cucunya tentang pohon yang besar, tinggi, dan tua yang ada di tengah kota itu.  Suatu hari sang cucu meminta kakeknya untuk bersama-sama ke alun-alun kota untuk melihat pohon yang diceritakan itu. Setiba di alun-alun kota keduanya langsung menuju pohon yang besar, tinggi dan rindang itu. Kakek menceritakan kepada cucunya bahwa pohon sudah ada sejak dahulu kala dan tidak ada yang tahu siapa yang menanamnya di alun-alun kota. Setelah keduanya berteduh, sang kakek mengajak cucunya untuk mengangkat kepala, menengadah  mengamati dahan, ranting, dan daun-daun pohon itu. Sambil mengamati bagian pohon itu, sang kakek berkata kepada cucunya, lihat dan tahukah kamu bahwa ada banyak misteri terungkap dari dahan, ranting, dan daun pohon ini? Setelah lelah mengamati bagian pohon raksasa itu sang kakek melanjutkan pembicaraannya kepada cucunya, katanya: kehidupan setiap penduduk di kota ini tersemat pada setiap lembaran daun yang bertengger di cabang dan ranting pohon ini. Setiap kali ada satu daun yang gugur itu artinya ada seseorang di kota ini telah lepas dari kehidupan. Satu daun artinya satu kehidupan, begitu kisah sang kakek.
Setelah mendengarkan penjelasan sang kekek, mata sang cucunya mengamati begitu banyak daun kering berserakan dan terinjak-injak orang yang datang ke alaun-alun kota. Lalu terjadilah dialog antara sang kakek dan cucunya.
”Apakah daun-daun kering yang berserakan ini adalah jasad orang-orang yang sudah mati?” tanya sang cucu sambil memperlihatan daun-daun kering. ”Ya, daun-daun itu adalah sisa jasad mereka dari pohon kehidupan.” ”Berarti  termasuk bekas jasad ayah ada di antara daun-daun kering itu?”lanjut sang cucu. ”Mungkin. Tetapi kakek kira, jasad ayahmu kini sudah menyatu kembali dengan tanah.” Mengapa daun-daun kering itu tidak dibersihkan atau dibakar saja.” ”Tak perlu, karena lambat laun mereka juga akan kembali ke muasalnya, tanah, melebur menjadi tanah. Dari tanah kembali ke tanah.”
”Kalau daun-daun yang mulai tampak kuning yang ada di atas sana itu milik siapa?” tanya sang cucu ” Itu semua milik orang-orang tua yang masih hidup di kota ini, mereka-mereka yang sudah lama bertengger di atas pohon kehidupan.” ”Apakah mereka akan segera gugur.” Ya,”Tentu saja, karena gugur itu adalah nasib dan takdir mereka.” ”Apa kakek ada di antara salah satu daun kuning yang ada di atas sana, yang siap gugur itu?” ”Aku tidak tahu. Itu rahasia yang di atas, tidak seorang pun berhak tahu.”
Sang cucu kembali  menengadahkan kepala sambil mengamati, mencari-cari di mana letak daun milik kakeknya, daun miliknya, daun milik ibunya, dan daun dari sanak keluarganya.”
Apakah ”Tunas-tunas daun yang tersemat di pucuk pohon itu, adalah bayi-bayi yang baru lahir di kota ini?” ”Ya. Benar, memang kenapa?” Ya, ”Berarti, sekarang, aku berada di antara daun-daun muda yang bertengger di atas sana?” ”Ya. Tentu saja lanjut kakek.” ”Wah itu artinya, masa gugurku masih sangat lama.”  ”Siapa bilang? Setiap lembar daun kehidupan yang ada di atas sana adalah rahasia. Tak ada seorang pun yang tahu. Gugur adalah hak semua daun, dari yang kuning, yang masih segar dan hijau, bahkan yang masih tunas pun bisa saja patah dan gugur.”
Seminggu setelah kembali dari alun-alun kota, sang kakek menderita sakit. Makin hari kesehatannya memburuk. Sang cucu teringat akan kata-kata sang kakek sewaktu mereka berteduh di bawah pohon di tengah kota. Dia pun lari ke pohon itu untuk mengamati apakah ada daun kuning yang akan gugur ditiup angin. Setelah satu jam menunggu di bawah pohon itu, sang cucu merasakan datangnya terpaan angin menghempas pohon itu. Tampak  olehnya beberapa daun kuning, daun segar, dan pucuk muda dari pohon itu gugur beterbangan sampai akhirnya rebah ke tanah. Dia pulang, dan dalam perjalanan ia mendengar tangisan karena ada anak kecil, orang dewasa yang meninggal. Lebih dari itu setiba di rumah ia menyaksikan kakeknya telah meninggal.
Kisah kakek dan cucu dalam Cerpen Pohon Hayat (pohon hidup)  ini adalah kisah yang sungguh bersentuhan langsung dengan dimensi terdalam atau hal pokok tentang kehidupan kita. Penulis cerpen ini secara amat mengesankan mencoba menganalogikan, membandingkan hidup dan kehidupan kita dengan sebatang pohon yang ditanam di tengah alun-alun kota. Dialog tokoh kakek dan cucunya dalam cerpen ini sudah menjadi renungan dan bahan refleksi untuk kita. Diri dan hidup kita bukanlah apa-apa. Diri dan hidup kita hanyalah selembar daun yang tumbuh pada salah satu ranting pohon hidup. Daun itu cepat atau lambat akan menguning dan tua. Kapan gugurnya, kapan agin menerpa dan menerbangkannya tidak ada yang tahu. Itu rahasia yang Tuhan sembunyikan bagi semua kita manusia. Kita hanya bisa membaca gelaja alam  ketika daun mulai kuning kita bisa pastikan daun itu akan gugur. Daun kehidupan manusia menjadi kuning tidak bisa diartikan seperti warna lampu lalulintas, kuning siap berubah menjadi hijau. Warna kuning daun kehidupan manusia menjadi pratanda saat pulang dan saat mudik abadi akan segera tiba.
Selembar daun pohon kehidupan telah gugur 100 hari lalu dalam diri almarhum..... Dia gugur ibarat dau yang lepas diterpa angin setelah melewati proses panjang dalam usia yang ia lewati. Dia telah gugur setelah sekian tahun bertengger pada dahan pohon kehidupan. Dia mengisi hari hidupanya bersama keluarga, keluarga besar, dan bersama semua orang yang telah mengenalnya. Dalam keluarga dan oleh keluarga almarhum bukan hanya sekadar selembar daun tetapi lebih dari itu ia telah menjadi sebatang pohon tempat sandaran dan berteduhnya semua anak dan cucunya.
Sejak kepergian almarhum 100 hari lalu kita semua disadarkan bahwa almarhum resmi kembali mengakrabi bumi asal. Dia datang dari tanah dan kembali ke tanah. Seratus hari lalu almarhum ibarat selembar daun yang ggur diterpa angin. Ia gugur sebagai daun tetapi ia tinggalkan segala hal yang baik bagi anak-anak sebagai sebatang pohon. Karena itu, meski secara fisik ia telah hilang dari pandangan kita tetapi secara rohani ia tetap menjadi penyubur pohon kehidupan keluarga oleh teladan dan cara hidupnya yang baik
Daun kehidupan yang gugur dan kita kenangkan malam ini bukanlah daun tanpa arti untuk kehidupan kita dan keleuarga yang ditinggalkan. Almarhum mudik abadi 100 lalu bukanlah pengembara tanpa tujuan. Bukan lembaran daun tanpa makna. Bagi kita yang mengenanya, dan dan terutama bagi keluarga, kepergian almarhum, lepasnya daun kehidupan nya dari pohon kehidupan, membuat kita sedih sebagai mansia,  tetapi kita yakin Tuhan mempunyai rencana yang lebih untuk almarhum dan untuk kita. Mungkin kita merasa seperti hidup tanpa harapan tetapi nubuat Yesaya dalam bacaan pertama sungguh menguatkan kita. Janji Tuhan senantiasa ditepati karena Tuhan itu setia. Dalam kesetiaan itulah TUhan Tuhan berkuasa mengubah segalanya, mengubah pucuk daun menjadi daun yang hijau, terus menguning, lalu gugur.
Tuhan yang sama digambarkan Yesaya sebagai Tuhan yang berkuasa mengubah situasi gurun menjadi situasi yang membawa sukacita. Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Lebih dari itu Tuhan sendiri datang membawa pembalasan dan ganjaran. Tuhan yang setia membuka jalan bahkan menjadi jalan  bagi Kudus bagi orang benar. Di jalan kudus itulah tidak akan ada singa, binatang buas, orang-orang yang diselamatkan akan berjalan di situ, dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai.
Gambaran sukacita padang gurun seperti yang dinubuatkan Yesaya malam ini jelas menjadi harapan kita semua bagi almarhum. Sukacita dan sorak sorai kemenangan itu tentu kita yakin didapat almarhum karena selama hidupnya almarhum telah menjadi pohon ara yang berbuah lebat dan manis dalam berbagai kebajikan dan kebaikan yang pernah ia lakukan. Kita manusia mungkin dan boleh melupakan semua kebaikan yang dibuat almarhum terhadap kitsa dan terhadap siapa saja tetapi Tuhan tidak melupakan segala kebaikan itu. Apa yang baik dan segala sesuatu yang baik yang manusia lakukan  selama hidup tidak akan dilupakan Tuhan. Tuhan mengingat segala kebaikan dan melupakan semua keburukan karena Tuhan  menghendaki agar manusia hidup ibarat pohon ara yang bisa menghasilkan kebaikan dan kebajikan. Pohon ara yang diancam Yesus adalah pohon ara tanpa kebaikan, pohon ara tanpa kebajikan.
Kisah  tentang daun gugur dalam  Cerpen Pohon Hayat semestinya mengharuskan kita untuk memaknai perjalanan hidup kita. Dan kisah pohon ara dalam injil seharusnya mewajibkan kita untuk berkehidupan dengan buah-buah kebaikan dan kebajikan. Dalam perayaan misa arwah seperti ini kiranya menjadi saat rahmat yang membawa kita pada permenungan akan kualitas pohon kehidupan kita. Kisah daun gugur pada cerpen Pohon Hayat adalah kisah hidup dan akhir kehidupan kita.  Setiap kita bisa menilai apakah daun pada pohon kehidupan kita baru bertumbuh ataukah sudah hijau ataukah sudah mulai berwana kuning. Ingat misteri daun gugur,  pada pohon kehidupan tidak memandang  umur. Bahwa daun kehidupan kita akan gugur itu sudah pasti tetapi bagaimana kita menyiapkan kepastian itu, itulah yang perlu kita antisipasi dengan selalu mau menjadi pohon ara yang berbuahkan kebaikan dan kebajikan.
 Akhirnya, saya mengajak kita semua  agar sekembali dari tempat ini kita menata pohon kehidupan kita. Mumpung kita masih diberi waktu untuk bisa memupuk dan membenahinya. Dalam iman kita percaya Tuhan mampu mengubah segalanya, mengubah hidup kita dan teristimewa mengubah almahum kehidupan almahum untuk menikmati sukacita yang kekal... Amin.

Keselamatan bagi Umat Tuhan
Pembacaan dari Nubuat Yesaya 35,1-10

Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai. Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron; mereka itu akan melihat kemuliaan TUHAN, semarak Allah kita. Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah. Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati: "Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!" Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara; tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah kersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan. Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebutkan Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya. Di situ tidak akan ada singa, binatang buas tidak akan menjalaninya dan tidak akan terdapat di sana; orang-orang yang diselamatkan akan berjalan di situ, dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh.
Demikianlah Sabda Tuhan


Yesus mengutuk Pohon Ara (Matius, 21,18-22)
Pada pagi-pagi hari dalam perjalanan-Nya kembali ke kota, Yesus merasa lapar. Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu: "Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!" Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu. Melihat kejadian itu tercenganglah murid-murid-Nya, lalu berkata: "Bagaimana mungkin pohon ara itu sekonyong-konyong menjadi kering?" Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi. Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.

Doa Pembukaan

Ya Allah, awal dan akhir kehidupan orang percaya, kami brsyukur kepada-Mu atas anugerah  dan  rahmat-Mu  bagi kami umat-Mu. Dalam bimbingan kasih-Mu Engkau telah menuntun kami semua untuk  berdoa bersama mengenangkan dan mendoakan keselamatan jiwa hamba-Mu ..... yang telah kami kembali ke rumah-Mu yang abadi. Kami memohon, ampunilah segala dosanya agar dia pantas dikutsertkan ke dalam sukacita abadi bersama para kudus. Kuatkanlah kami semua dan keluarga yang ditinggalkan  dengan anugerah penghiburan iman dan semoga kamba-Mu yang kami kenangkan dalam perayaan ini menjadi pendoa bagi kami. Tuntunlah kami dalam terang kuasa Roh Kudus-Mu agar kami mampu merenungkan Sabda-Mu dan mengamalkannya dalam kehidupan kami. Demi Kristus Pengantara  kami. Amin










TEKS UPACARA MIDODARENI

Tata Cara Liturgi
Malam Tirakatan Calon Pengantin / Midodareni
Marsel Maring & Lusinta Sianturi
=================================================

Lagu Pembukaan

Tanda Salib dan Salam:
P: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus
U: Amin
P: Semoga Allah yang Maha Kuasa selalu melimpahkan kasih dan berkatnya kepada kita semua,
U: Sekarang dan selama-lamanya

Pengantar & Pernyataan Tobat
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, pada malam yang kudus, menjelang pernikahan Bapak Marsel dengan Ibu Lusi, kita diundang ke rumah ini untuk bersama-sama memohon berkat kepada Tuhan agar semua persiapan yang telah direncanakan dalam rangka pelaksanaan pernikahan dapat terlaksana dengan baik, lancar dan sesuai dengan rencana. Pernikahan adalah hal yang sangat kudus, oleh karenanya marilah kita dukung dengan sepenuh hati ibadat pada malam hari ini dengan terlebih dahulu memohon ampun atas kesalahan dan dosa kita.
                                    
Saya Mengaku ….
P : Semoga Allah yanh Maha Pengasih selalu menuntung dan melindungi kita sampai ke hidup yang kekal..
U : Amin

Marilah berdoa


P: Ya Allah mahapengasih, sumber ketenteraman dan kebahagiaan keluarga, pada malam hari ini kami berkumpul atas Nama-Mu, sambil memohon berkenanlah hadir di antara kami, bersama para malaekat dan para kudus di surga, dan mencurahkan berkatMu yang berlimpah kepada saudara kami  Lusi dan Marsel yang akan mengikrarkan janji pernikahan. Berkenanlah hadir di tengah kami sebagaimana Yesus bersama bunda Maria dan para rasul menghadiri perkawinan di Kana.
Demi Yesus Kristus, Putera-Mu dan Pengantara kami; yang bersama Dikau dan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala masa.
U : Amin.

Litturgi Sabda

Bacaan Pertama (Tob.8,5-10)

L: Pembacaan dari kitab Tobit bab 8, ayat 5 sampai 10:

Pada malam perkawinannya, Tobia berkata kepada Sara: “Kita ini keturunan orang suci. Kita tidak boleh kawin seperti orang yang tak mengenal Allah”. Maka mereka berdoa, agar tetap sehat walafiat. Kata Tobia: “Terpujilah Engkau, Allah leluhur kami. Hendaknya langit dan bumi memuji Engkau: mata air, sungai dan laut beserta segala makhluk yang hidup di dalamnya. Engkau telah membentuk Adam dari tanah dan memberikan Hawa kepadanya sebagai teman hidup. Engkau tahu, ya Tuhan, bahwa aku tidak mengawini Sara ini karena dorongan hawa nafsu. Aku mengawini dia untuk memperoleh keturunan, agar namaMu terpuji untuk selama-lamanya.” Lalu Sara juga berdoa: “Kasihanilah kami, ya Tuhan, kasihanilah kami. Semoga kami tetap sehat walafiat dan bersama-sama mencapai umur panjang.” Demikianlah sabda Tuhan.
U: Syukur kepada Allah.

Lagu Antar Bacaan (?)
Bacaan Injil (Yoh.2,1-11)

P: Tuhan beserta kita
U: Sekarang dan selama lamanya
P: Inilah Injil Yesus Kristus, menurut Santo Yohanes
U: Dimuliakanlah Tuhan

Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur." Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba." Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan mereka pun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu -- dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya -- ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang." Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

P : Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U: Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami

Homili/Renungan
                     
LITURGI MIDODARENI

P: Bapak, Ibu dan Saudara sekalian
Malam ini adalah malam yang suci bagi keluarga,  terlebih bagi bagi calon pengantin Ibu Lusi dan Pak Marsel. Malam ini kita akan bersama-sama memohon berkat dari Tuhan, Raja dari segala bidadari, dan juga memohon restu dari para malaikat, para orang kudus. Marilah kita daraskan Litania Orang Kudus (hening)

Litani Orang Kudus (dipersingkat)
P:Tuhan kasihanilah kami  -  U:Tuhan kasihanilah kami
P:Kristus kasihanilah kami – U:Kristus kasihanilah kami
P:Tuhan kasihanilah kami – U: Tuhan kasihanilah kami
 P: Santa Maria Bunda Allah –  U: doakanlah kami
Para malaikat Allah yang kudus, ...
Santo Yusup,....
Santo Yohanes Pembaptis,
Santo Petrus dan Paulus,
Santa Maria Magdalena,
Santo Ignatius dari Anthiokia,
Santa Agnes,
Santa Perpetua dan Felicitas,
Santo Agustinus,
Santo Fransiscus Xaverius,
Santo Yohanes Maria Vianney,
Santa Theresia,
Santo Benedictus,
Santo Antonius,
Santa Yohana,
Santo Martinus,
Santo Maselinus
Semua orang Kudus Allah,

P: Tuhan Maha rahim, U: bebaskanlah umatmu
Dari segala kejahatan,
Dari segala dosa,
Dari kematian kekal,
Karena penjelmaanMu,
Karena kematian  dan kebangkitan-Mu,
Karena pencurahan Roh Kudus,

P: Kristus dengarkanlah kami, U: Kristus dengarkanlah kami
P: Kristus kabulkanlah doa kami, U: Kristus kabulkanlah doa kami

Doa Pembukaan
Allah yang Maha Pengasih, sumber cinta sejati dan sumber kebahagiaan keluarga, kami bersyukur atas cinta yang telah Kau tumbuhkan dalam hati Lusi dan Marsel. Malam ini kami berkumpul memohon kepada-Mu agar Engkau sudi datang bersama para Kudus dan para malaikat di surga untuk memberkati kedua  hamba-Mu, Lusi dan  Marsel ini, sebagaimana  Engkau dulu datang dan memberkati pengantin di Kana. Kehadiran-Mu bersama para malaikat akan membawa bukan saja sukacita bagi kedua calon pengantin ini, tetapi juga  kegembiraan dan ketenangan batin bagi seluruh keluarga besar, terutama dalam menghadapi dan menjalani peristiwa besar bagi keluarga ini. Demi Yesus Kristus Putra-Mu Tuhan dan Pengantara kiami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala abad. Amin.

Pemberkatan Calon Pengantin:
P: Saudara-saudaraku terkasih, marilah kita mohon berkat dari Allah yang Maha Pengasih bagi calon pengantin Lusi dan Marsel. (Tangan diulurkan kepada  Lusi dan Marsel sambil berdoa)
           
P: Allah yang Maha Pengasih, kami tahu bahwa hidup berkeluarga adalah penggilan yang luhur dan terhormat, karena lewat perkawinan dua orang, Engkau mengangkat mereka menjadi rekan kerja dalam mengalirkan dan menghidupkan Kasih-Mu. Kami mohon sudilah memberkati calon pengantin ini, sehingga besok dapat menjalani semua upacara yang sudah direncanakan. Kuatkalah mereka berdua agar bisa menepati janji yang mereka ucapkan di hadapan-Mu dan kelak bisa menjalani kehidupan suami isteri dengan setia dan penuh kasih serta senantiasa takwa kepada-Mu. Semoga mereka berdua saling memahami dan menghargai dalam upaya mereka membangun keluarga Katolik yang sejati. Semoga para Kudus merestui perjuangan mereka membangun keluarga, dan semoga para malaikat mendampingi serta menjaga langkah-langkah mereka supaya luput dari godaan yang merongrong kehidupan berkeluarga mereka. Semua ini kami mohon dengan perantaraan Yesus Kristus, Tuhan dan Junjungan kami kini dan sepanjang masa. Amin.

Penyerahan Keluarga (Oleh wakil keluarga calon pengantin) 
Ya Allah, Bapa sekalian insan, Engkau menciptakan manusia dan menghimpun mereka menjadi satu keluarga, yakni keluarga-Mu sendiri. Engkau pun telah memberi kami sekeluarga teladan, yakni Keluarga Kudus di Nasaret, yang anggota-angggotanya sangat takwa kepada-Mu dalam penuh kasih satu sama lain. Terima kasih, Bapa, atas teladan yang indah ini.Semoga keluarga kami selalu Kau dorong untuk meneladani keluarga kudus di Nasaret agar tumbuh menjadi keluarga Kristiani yang sejati yang dibangun atas dasar iman dan kasih akan Dikau dan sesama.
Ajari kami untuk hidup menurut InjilMu, rukun, ramah, bijaksana, saling menyayangi, menghormati dan saling membantu dengan ikhlas hati. Hindarkanlah keluarga kami dari mara bahaya dan mala petaka; sertailah kami dalam suka dan duka; tabahkanlah kami bila kami menghadapi masalah. Jadikanlah keluarga kami batu yang hidup untuk membangun jemaat-Mu di lingkungan kami tinggal. 
Berilah kepada keluarga kami rejeki yang cukup. Semoga kami selalu berusaha hidup baik di tengah jemaat dan masyarakat, Jadikanlah kami garam yang berdaya mencegah kebusukan yang merongrong masyarakat, dan terang yang selalu menghalau kegelapan.   
Ya Bapa, kami juga berdoa untuk keluarga-keluarga yang sedang dilanda kesulitan, dampingilah mereka agar jangan patah semangat. Berilah kekuatan kepada para anggotanya untuk kembali membangun keutuhan keluarganya.
Akhirnya ya Bapa, kami menyerahkan semua rencana dan acara penerimaan sakramen pernikahan hamba-Mu Lusi dan Marsel. Kami percaya bahwa Engkau akan menyertai kami semua sehingga semua boleh berjalan dalam limpahan berkatMu.
Semua ini kami mohon kepada-Mu, demi Kritus Tuhan dan pengantara kiami kini dan sepanjang masa. Amin.

Doa Umat:

P: Bapak-Ibu dan Saudara-saudari terkasih, marilah kita lanjutkan dengan doa umat:

K: Ya Tuhan, Engkau berkenan supaya laki-laki dan perempuan bersatu dalam kasihMu. Semoga calon pengantin ini membuka hati menanggapi panggilan suci ini. Marilah kita mohon...
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan

K: Engkaulah tumpuan hidup kaum beriman. Semoga calon pengantin ini dapat membangun keluarga atas dasar iman dan kasih sejati. Kami mohon....
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan
 K: Engkaulah selalu menjaga hidup anak-anakMu. Semoga calon pengantin ini selalu sehat dan kelak dapat melaksanakan kewajibannya membina keluarga, mengabdi kepada gereja dan masyarakat. Kami mohon......
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan

K: Semoga calon pengantin ini selalu dapat berusaha membina hidup berkeluarga sesuai dengan kehendakMu. Kami mohon...
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan

K: Semoga seluruh keluarga besar kedua mempelai senantiasa menopang kehidupan calon keluarga baru ini dengan penuh hormat dan penuh cinta. Kami mohon....
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan

P: Marilah kita hening sejenak untuk menyampaikan doa dan intensi kita masing-masing..... ( Hening sejenak) .........Kami mohon....
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan


LITURGI EKARISTI (teks Tersendiri)
Catatan: jika tidak dilanjutkan dengan Ekaristi maka langsung dilanjutkan dengan doa Bapa Kami berikut ini)

Bapa Kami

P: Bapak-Ibu dan Saudara-Saudara terkasih dalam Kristus, marilah segala permohonan dan pujian kita satukan dengan doa yang telah diajarkan oleh Yesus Kristus sendiri kepada kita.
U: Bapa Kami......

P: Ya Bapa, jadilah selalu kehendakMu, sebab itulah satu-satunya pedoman hidup kami. Semoga kami tak henti-hentinya berusaha supaya kehendakMu benar-benar terlaksana dalam diri kami sendiri, di dalam keluarga dan lingkungan hidup kami, sementara kami menantikan dengan rindu, kedatangan penyelamat kami Yesus Kristus.
Penutup dan Berkat

Marilah berdoa
Allah Bapa, syukur kepada-Mu atas Firman dan cinta-Mu kepada kami dalam ibadat ini. Nyatakanlah berkatmu kepada kedua calon mempelai, semoga berkat melimpah selalu menerangi rumah tangga mereka berdua. Peliharalah dan padukanlah cinta kasihnya agar mereka berdua mampu memaknai kehidupan rumah tangga yang kudus demi Yesus Kristus Tuhan dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa.
U : Amin

P : Tuhan beserta kita
U : Sekarang dan selama lamanya
P : Kita sekalian semua orang yang kita doakan terutama kedua calon mempelai ini dilindungi dan dibimbing olehBerkat Allah yang Mahakuasa + Demi nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus
U : Amin
P : Saudara sekalian Ibadat dan doa kita sudah selesai.
U : Syukur kepada Allah

Lagu Penutup:






Penyusun: Rm.Bone Rampung, Pr


Thursday, July 17, 2014

SAMA-SAMA BEKERJA DALAM KETERBUKAAN

Renungan Misa Pembukaan Tahun Ajaran 2014/2015
Yes.38,1-6,21-22- 39,7-8; Mat.12,1-8
SD, SMP Frateran Claket 21 Malang

MEMASUKI TAHUN SUKSES BERSAMA KRISTUS
Buka
Hari ini kita semua sebagai orang beriman yang mengandalkan kuasa dan bimbingan Tuhan dalam semua gerak hidup kita datang ke hadapan TUhan untuk menyatakan tekad dan niat kita mengawali tahun pembelajaran yang baru ini dalam semangat untuk selalu sukses saat memulai, saat menjalankan, dan saat mengakhiri tahun pembelajaran yang baru ini. Kita memohonkan kerjasama yang baik untuk semua komponen pendidikan di sekolah kita dan semangat keterbukaan dalam menghadapi semua tantangan di sekolah kita. Kita bawa semua harapan bersama dan harapan pribadi kita kepada Tuhan dalam kurban ekaristi pembukaan tahun sekolah ini.
Renungan
Tema yang dipilih untuk misa pembukaan tahun pembelajaran 2014/2015 bagi SD dan SMP Frateran hari ini bagus dan menarik yaitu “Memasuki Tahun Sukses Bersama Kristus” Ada tiga hal yang menarik dari tema ini. Pertama tema ini menyembunyikan subjek karena diawali dengan kata kerja sebagai predikat yaitu memasuki. Pertanyaannya, siapa yang memasuki Tahun sukses itu? Kedua, tema ini memuat satu kata kunci yang penting bagai semua orang.  Kata kunci, inti dan pusat dari tema yang dipilih ini adalah kata “SUKSES” Ketiga, tema ini jelas menggambarkan bahwa semua komponen  mengawali pembelajaran dengan satu keyakinan bahwa sejak awal kata SUKSES harus menjadi pilihan kita. Dengan tema ini kita mau Sukses itu bukan semata-mata yang didapatkan pada akhir proses pembelajaran melainkan harus dimulai dalam setiap kegiatan yang dilakukan di lingkungan sekolah. Keyakinan untuk memulai kesuksesan sejak awal mengungkapkan optimisme sekaligus menguatkan motivasi kita untuk semua sukses. Awalnya sukses dan akhirnya juga harus sukses.
Tema yang menarik ini jika dipenggal akan menghasilkan dua penggalan yang sangat bermakna karena masing-masing penggalan memuat kata SUKSES. Penggalan pertama adalah Memasuki Tahun SUKSES dan penggalan kedua, SUKSES Bersama Kristus”. Dalam konteks perayaan ini, jelas sekali bahwa subjek yang merindukan dan mencari SUKSES adalah dua lembaga pendidikan (SD dan SMP Frateran Claket 21) Dalam konteks yang lebih luas yang mau sukses adalah tarekat para frater Bunda Hati Kudus, Yayasan Mardiwiyata, para guru, pendidikan dan tenaga kependidikan, para pegawai,  para siswa/i, dan orangtua/wali siswa.  Semua komponen ini secara bersama, secara sinergis menyasar atau terarah ke suatu tujuan bersama yaitu kesuksesan. Untuk kesuksesan yang didambakan sebagai idealisme bersama, harus selalu dilakukan dalam dan bersama Kristus. Artinya kita mendambakan dan mau sukses bersama Tuhan dan karena yakin Tuhan melakukan karya besar untuk kita semua.
Sebagai orang beriman kita harus yakin bahwa kesuksesan itu program Tuhan dan kita menjadi pelaksana atau pelaku untuk mewujudkannya. Kesuksesan kita akan nyata dalam semua peran, fungsi, dan tugas kita baik sebagai guru, tenaga kependidikan dan siswa di sekolah maupun peran para pemangku kepentingan lainnya  sesuai dengan visi dan misi tarekat BHK. Kesusksesan dalam konteks dunia pendidikan adalah kesukesan bersama, kesuksesan kolektif. Konsekuensinya, semua bagian, komponen pendidikan harus memiliki rasa tanggungjawab bersama.
Rasa tanggung jawab bersama merupakan kumpulan dari rasa tanggungjawab perorangan atau setiap pribadi. Adanya rasa tanggungjawab bersama memungkinkan dan mengharuskan adanya kemauan untuk kerja sama dan sama-sama bekerja. Tidak cukup kita hanya memiliki semangat bekerja sama tanpa mewujudkan semangat itu dalam praktik sama-sama bekerja untuk suatu kesuksesan bersama. Dalam mencapai kesuksesan bersama kita harus bisa menempatkan diri sebagai bagian yang sama-sama pentingnya. Dalam semangat mewujudkan kesuksesan bersama kepala sekolah tidak lebih penting dari dari seorang satpam. Dalam konteks mewujudkan kesuksesan bersama guru tidak lebih penting dari siswa. Semua unsur dalam posisinya sama-sama penting.
Menyadari bahwa dalam kebersamaan kita menjadi sama-sama pentingnya maka di samping semangat kerja sama dan praktik sama-sama bekerja diperlukan pula sikap yang terbuka. Keterbukaan antarsemua unsur di sebuah lembaga pendidikan akan menjadi jalan yang lapang untuk semua persoalan. Kisah tentang Hizkia dalam bacaan pertama adalah kisah tentang pentingnya sikap jujur dan terbuka dalam menghadapi masalah. Hizkia menderita sakit dan Yesaya datang menyampaikan bahwa sebentar lagi Hizkia akan meninggal.  Dalam masalah itu Yesaya menyampaikan secara terbuka pesan Yahwe kepada Hizkia. Hizkia menanggapinya juga dalam keterbukaan. Hizkia secara terbuka menyampaikan masalahnya kepada Tuhan. Hanya dengan itu Hizkia mengalami peyembuhan dan menerima damai dan keamanan seumur hidupnya.
Injil juga sebenarnya berbicara hal yang sama tentang pentingnya keterbukaan dan kejujuran dalam menghadapi masalah. Para murid Yesus memetik gandum pada hari Sabat menjadi masalah. Dan itu diketahui sebagai masalah ketika orang farisi mempersoalkan perilaku para murid itu kepada Yesus. Dialog yang panjang dan pernyataan penting Yesus seperti yang kita dengarkan dalam injil tentu tidak bisa terungkap jika orang farisi tidak menyampaikannya. Keterbukaan orang farisi menjadi kunci untuk menemukan jawaban yang tepat tentang sikap manusia terhadap hari Sabat. Karena orang farisi terbuka menyampaikan keberatan dan persoalan maka mereka mendapatkan penjelasan yang meyakinkan, dan prinsip kehidupan yang benar dalam menghayati dan memaknai aturan.
Kita tentu sependapat bahwa tidak ada lembaga pendidikan, sekolah yang tidak bermasalah. Masalah harus ada karena kita masih hidup di dunia dan masalah itu akan mendewasakan dan mematangkan kita. Masalah adalah guru terbaik kita, sejauh kita menempatkannya dalam suatu dialog yang terbuka dan bermakna.
Kita telah memilih tema bahwa tahun ini adalah SUKSES kita dan kita mau membuka kegiatan pembelajaran kita dengan SUKSES untuk dijalankan bersama Kristus menuju Kesuksesan yang lebih besar. Untuk itu semua kita harus mau sama-sama bekerja bukan hanya dalam rencana dan semangat. Lebih dari itu kita harus jujur dan terbuka untuk mengatasi semua masalah yang kita jumpai. Tanpa kemauan untuk sama-sama bekerja dan tanpa adanya keterbukaan yang jujur di antara kita, mustahil kesuksesan menjadi milik kita. Hanya dalam praktik sama-sama bekerja dan bekerja sama dalam kejujuran dan keterbukaan kita boleh berbangga meraih kesuksesan. Sama-sama mau bekerja dalam perilaku yang jujur dan terbuka adalah gambaran karakter yang baik. Mari kita berjuang menjadi sukses dalam semua karakter yang baik. Tuhan memberkati…


Malang, 18 Juli 2014

Sunday, July 13, 2014

SYUKUR KARENA KESETIAAN TUHAN

Renungan Misa Syukur 25 Tahun Hidup Membiara
Fr.M.Gregorius, BHK & Fr.M.Monfort, BHK
Yes.55,10-11, Rom.8,18-23, Yoh.15,9-17
Komunitas Claket 21 Malang,  Minggu, 14 Juli 2014

Buka
Sejak kemarin suasana rumah ini menjadi lain dari yang biasa. Di kamar makan ada begitu banyak hiasan yang menampakkan ada sesuatu yang lain. Kapel juga dihiasi dengan aneka kembang yang juga menunjang suasana khusus yang membuat kita harus merasa lain, berkata lain dan bertindak lain. Suasana dan nuansa yang lain ini bukan karena kita yang lain tetapi karena Frater M.Monfort, BHK dan Frater M.Gregorius, BHK menjadi orang yang harus diperlakukan secara lain. Keduanya dikhususkan atau tepatnya diistimewakan karena Tuhan telah menyatakan KESETIAN kepada kedua frater ini. Dalam kesetiaan Tuhan, keduanya telah belajar untuk mengambil bagian dalam kesetiaan dan masa belajar itu telah mereka lewati secara sukses selama 25 tahun. Hanya syukur yang bisa kita ekspresikan atas karya besar Allah ini untuk mereka. Dalam syukur ini pula kita terus mendoakan agar masa belajar untuk tetap setia kepada Tuhan yang memanggil mereka dapat diteruskan pada masa yang akan datang. Harapannya agar kedua yubilaris yang dipilih Tuhan tetap menjadikan hidup dan karya mereka sebagai pujian bagi kebesaran Tuhan.
Mari kita awali syukur kesetiaan ini dengan mengakui salah dan dosa kita. Saya Mengaku…

Renungan
Jumat siang, di kamar makan kami  sempat berbincang tentang banyak topik, mulai dari kemelut data quick count Pilpres hingga topik tentang banyaknya tarekat yang kekurangan dan bahkan ketiadaan calon. Saat itu, yubilaris Fr.M.Gregorius , BHK  spontan menyampaikan kepada saya bahwa angkatan beliau dulunya atau 25 tahun silam termasuk angkatan paling banyak fraternya. Dengan nada yang agak datar beliau menyampaikan bahwa dari jumlah angkatannya yang tinggal hanya 2 orang yaitu Fr.Gregorius dan Fr.Monfort. Sesuai dengan kata kitab suci banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih, begitu Fr.Goris melanjutkan komentarnya. Cerita dan komentar beliau ini menginspirasi saya untuk menemukan sebuah titik api yang kiranya bisa dan perlu dinyalakan dalam renungan peringatan 25 tahun hidup membiara untuk kedua frater ini dalam perayaan ekaristi ini.
Berjalan dan menjalani panggilan selama 25 tahun sampai pada akhirnya hanya menyisakan 2 orang sebagai sisa kecil jelas membahasakan “sesuatu” yang perlu kita gali dan maknai bersama dalam perayaan syukur ini. Apakah “sesuatu” itu yang berkaitan dengan dua frater ini?  Bagi saya, “sesuatu” itu adalah “KESETIAAN”. Kesetiaan, memang hanya satu kata tetapi kata yang satu ini memuat nuansa pesan beragam terkait dan terikat pada rentetan kisah keterpanggilan kedua yubilaris ini.
Perayaan kita hari ini adalah syukur untuk suatu Kesetiaan. Kesetiaan itu milik siapa dan siapakah yang setia itu dalam hal ini? Yang setia itu adalah Tuhan karena Dialah penginisiatif awal yang merancang perjalanan hidup kedua yubilaris. Dia pulalah yang menyertai perjalanan dan pada waktunya akan menuntaskan perjalanan kedua frater ini. Sekali lagi yang setia bukanlah manusia, bukan kedua frater yang berpesta hari ini melainkan Tuhan. Kesetiaan kita manusia, kesetiaan kedua frater hanya bermakna dalam konteks partisipasi pada kesetiaan Tuhan. Kesetiaan manusia, kesetiaan kedua frater dalam mengakrabi panggilan hanyalah kemungkinan, hanyalah potensi. Sebagai kemungkinan atau sebagai potensi, kesetiaan kita, kesetiaan kedua yubilaris hanya bisa terlaksana, direalisasikan sejauh Tuhan dalam kemahasetiaan-Nya  menggerakkan potensi kesetiaan pada diri kita dan kedua frater ini.
Kita bisa setia hanya karena Tuhan setia bukan sebaliknya Tuhan setia karena kita setia. Kita bisa menjadi orang baik karena kita lebih dahulu dilengkapi dengan kebaikan yang hanya ada secara sempurna pada Tuhan. Karena itu kita tidak perlu berbangga ketika dianggap baik, dianggap setia apalagi merasa diri lebih baik dan lebih setia. Hal yang bisa kita banggakan hanyalah kerelasediaan kita untuk selalu dan senantiasa terpaut pada kesetiaan dan kebaikan Tuhan. Kesadaran seperti ini penting dalam rangka lahirnya sikap kerendahan hati dan kejujuran dalam kehidupan. Kesombongan dan ketidakjujuran biasanya berhulu pada sikap menganggap diri baik dan setia. Kualitas keberimanan kita justru ditimbang pada takaran rasa apakah kita merasa  mengharuskan diri untuk selalu menghampiri Tuhan sebagai asal kebaikan dan kesetiaan ataukah kita mengharuskan Tuhan untuk berbaik dan bersetia kepada kita.
Hanya kebaikan dan kesetiaan Tuhanlah yang memungkinkan kita bisa melakukan segalanya secara baik dan setia dalam hidup dan pangggilan kita. Dalam bahasa yang religius kita hidup karena rahmat Tuhan selalu mendahului gerak hidup kita.  Kesetiaan Tuhan tidak ditentukan kondisi manusia sehingga perkara-perkara ajaib terus terjadi selama dan sepanjang hidup manusia. Kesetiaan Tuhan ibarat matahari yang setia terbit, ibarat hujan yang setia mengguyur bumi untuk menghadirkan kehidupan.
Hari ini kita bersyukur bersama kedua frater yubilaris karena mereka telah memaknai kesetiaan dan kebaikan Tuhan sebagai ajakan dan undangan yang telah mereka terima 25 tahun silam. Ajakan dan undangan itu telah mereka tanggapi dan mencoba berjalan di lintasan yang ditetapkan Tuhan untuk mereka. Ajakan dan undangan itu bagi frater Monfort tampak dalam semua hal dan dalam segala sesuatu yang dirasakan sebagai perbuatan ajaib Tuhan. Perbuatan ajaib Tuhan itulah yang harus diberitakan, disebarluaskan, dikabarkan, diakbarkan. Atas dasar itulah frater Monfort mendisposisikan dan mengidentifikasikan diri sebagai Daud yang  membangun tekad dan komitmen dalam mottonya:“perbuatan-perbuatan-Mu yang Ajaib AKAN kunyanyikan (Mzr.145,5).
Motto ini jelas dipilih secara sadar benar, dan benar-benar sadar sebagai rambu-rambu dalam lintasan perjalanan hidup membiara frater Monfort. Hari ini, 25 tahun lalu frater Monfort berjanji  AKAN menyanyikan perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan. Dalam bingkai motto itu, frater Monfort menjalani kehidupan sebagai biarawan Bunda Hati Kudus hingga mengantarnya pada pesta syukur hari ini. Andaikan hari ini kami meminta frater Monfort untuk menghapus satu kata dari motto itu, kata apa yang seharusnya frater hapus? Kata yang semestinya dihapus adalah kata “AKAN”. Kata AKAN seharusnya dihapus sejak hari pertama frater mengikrarkan kaul untuk menyanyikan perbuatan ajaib Tuhan. Kalau selama 25 tahun kata AKAN itu terus dipakai itu sama artinya belum ada perbuatan ajaib Tuhan yang sudah dinyanyikan. Saya kira masih segar dalam ingatan kita proses debat kandidat presiden kita. Dalam debat capres ada kandidat yang selalu menggunakan kata AKAN, sementara kompetitornya mengkritisi penggunaan kata AKAN itu sebagai gambaran betapa mengambangnya visi dan misi seorang calon RI 1 itu. Bagi frater Monfort sampai pada hari perayaan syukur ini kata AKAN itu harus dihapus sehingga menjadi “perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib kunyanyikan”. Selanjutnya, jika nanti pada batas akhir perjuangan hidup membiara kata AKAN itu harus diganti dengan kata SUDAH sehingga pada batas akhir frater Monfort boleh berkata “perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib SUDAH kunyanyikan”.  Jadi ikrar 25 tahun silam, syukur hari ini  merupakan rentang waktu melaksanakan komitmen menyanyikan perbuatan ajaib Tuhan menuju kesudahannya. Dan untuk sampai kesudahan diperlukan kesetiaan untuk bersatu dengan Tuhan sang sumber Kesetiaan.
Sebagai manusia yang memiliki keterbatasan bisa saja dan memang menjadi hal biasa kita manusia kurang setia dalam memaknai komitmen untuk memaknai panggilan kita. Dalam kondisi seperti itu kita disadarkan bahwa Tuhan yang setialah yang berinisiatif memulai karya-Nya dalam panggilan seseorang. Tuhan memulainya dalam diri seorang terpanggil dan terus menyertai orang terpanggil sampai dengan memberi jalan penyelesaian yang terbaik. Keyakinan inilah yang mendasari perjalanan dan penghayatan panggilan hidup membiara frater Greogoris. Frater Gregorius yakin bahwa dirinya hanyalah alat di tangan Tuhan sehingga dalam kerendahan hati ia memilih perkataan Yesus sebagai dasar atau motto hidup membiaranya: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh.15,16). Bukan Gregorius yang memilih mengikuti Yesus tetapi Yesuslah yang memilih Gregorius mengikuti Yesus. Yesus memilih untuk meneruskan Kasih karena  Dia sendiri telah mengalami Kasih dari Bapa.”Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu (Yoh.15:9).
Frater Gregorius telah mendengarkan perkataan Yesus “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu”  Sejak 25 tahun lalu perkataan Yesus ini telah menjadi undangan dan ajakan bagi frater Gregorius untuk hidup dan berada dalam kasih. Hidup dan tinggal dalam kasih bagi Yesus hanya bisa dibuktikan dalam aksi menuruti perintah-Nya. Pola dan model aksinya adalah pola dan model Yesus sendiri yang menjalankan tugas perutusan Bapa. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Sudah 25 tahun kata-kata Yesus ini dimaknai frater Gregorius dalam tugas-tugas perutusan yang dipercayakan tarekat BHK kepadanya dalam spirit sang pendiri untuk mengasihi dengan hati. Dalam konteks ini kita bersyukur karena sudah 25 tahun frater Gregorius menjadi sahabat Yesus. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah.  Yesus memilih dan mengutus untuk menghasilkan sesuatu dan dalam konteks perutusan para murid buah-buah itu merujuk pada buah roh yaitu itu kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Gal.5,22-23).
Tuhan yang setia telah menyatakan kesetiaannya kepada kedua yubilaris dengan harapan keduanya tetap setia. Dewasa ini terlalu banyak orang yang pintar dan hebat tetapi terlalu sedikit orang yang setia. Banyak orang yang meninggalkan panggilan bukan karena mereka bodoh tetapi terutama karena tidak setia. Terlalu mudah bagi orang yang meninggalkan panggilan dan pilihannya, baik itu dalam kehidupan membiara maupun dalam kehidupan berkeluarga, dengan berdalih tidak ada panggilan lagi. Manusia cenderung menyalahkan Tuhan yang seolah-olah lelah memanggil manusia untuk setia. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah berhenti memanggil manusia untuk setia, hanya masalahnya manusia kadang-kadang kehilangan kesabaran dan kesetiaan untuk mendengarkan Tuhan dengan berbagai alasan.
Nabi Yesaya dalam bacaan pertama sesungguhnya mau menegaskan kepada kita tentang kesetiaan Tuhan dalam firman-Nya bagaikan hujan yang menyirami bumi sehingga bumi menumbuhkan kehidupan. Tugas dan perutusan seorang nabi untuk menyampaikan pesan kasih dan kebaikan Tuhan tidak pernah tanpa hasil. Setiap tugas perutusan seseorang dalam bimbingan Tuhan selalu membawa hasil sehingga selalu dirindukan. Keyakinan dan optimisme seperti inilah yang diungkapkan Paulus dalam bacaan kedua tadi. Bagi Paulus keadaan dunia dengan segala persoalannya tidak akan membatalkan kesetiaan Tuhan untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Sekali lagi, disadarkan bahwa kondisi manusia dengan dunianya tidak mengubah kesetiaan Tuhan tetapi sebaliknya, kesetiaan Tuhan justru membangkitkan semangat dalam diri manusia untuk belajar menjadi setia. Itulah salah satu perbuatan ajaib Tuhan-Kesetiaan-Nya- yang harus diakbarkan atau dikabarkan.
Hari kita bersyukur atas kesetiaan Tuhan menyertai kedua yubilaris sekaligus bersyukur untuk kesetiaan kedua yubilaris belajar dan menimba kesetiaan dalam rentang waktu 25 tahun hidup membiara. Seorang filsuf, Otto F.Bollnow pernah berkata:” Hanya manusia yang setialah yang mempunyai masa depan”. Bagi  Bollnow, manusia pertama-tama harus mengenal dan menerima dirinya melalui kesetiaan. Manusia baru akan menemukan identitas diri sesungguhnya dalam kesetiaan. Kesetiaan seseorang dalam mengalami jatuh-bangun akan membawa seseorang sampai pada tahap "mencintai dan mengerti diri"; “mencintai dan mengerti panggilannya” sebagai dasar baginya mencintai dan mengerti orang lain dalam memaknai panggilan. Orang yang setia akan melihat kelebihan dan kekurangannya secara seimbang dan tidak menuntut lebih. Kesetiaan seperti ini banyak dipraktikkan  para mistikus abad pertengahan.
 Belajar untuk setia dan tetap setia pada panggilan Tuhan bukan perkara gampang. Karena itu diperlukan pilar penopang  kesetiaan merupakan Kesadaran yang saya rumuskan dalam delapan Sadar yaitu Sadar Tujuan, Cinta, komitmen, waktu, emosi, komunikasi, perkara kecil, hikmat.
Sadar Tujuan: artinya orang hanya akan belajar setia dan akan terus setia kalau dia menyadari apa tujuan pilihan dan panggilan hidupnya. Panggilan  Tuhan kepada manusia untuk menjadi religius atau hidup berkeluarga adalah panggilan untuk tujuan tertentu.   Manusia yang  menjawab  panggilan itu harus bisa menyesuaikan diri dengan tujuan Tuhan memanggil. Sadar tujuan itu  penting untuk menghindari orang menyimpang jalan lain lalu tiba di tempat yang salah atau tersesat.
Sadar Cinta: Orang terpanggil hendaknya menyadari bahwa modal utama kesetiaan adalah cinta. Kesetiaan itu terasa menyenangkan kalau ada cinta. Mencintai Tuhan, pasangan, pekerjaan , pelayanan menumbuhkan kesetiaan. Ada ungkapan “cinta bisa tumbuh karena kebiasaan”. Hanya kalau kita menyadari cinta adalah modal kesetiaan dalam panggilan maka segala sesuatunya akan dikerjakan sebagai pelayanan yang menyenangkan, membanggakan, dan mengembangkan dan  bukan lagi beban
Sadar Komitmen: Kesetiaan berkorelasi dengan komitmen, ketekunan, dan tanggung jawab. Komitmen membutuhkan tekad dan tanggung jawab atas kepercayaan. Ketekunan merupakan proses yang diperlukan dalam kesetiaan. Ketekunan adalah modal yang diperlukan kesetiaan untuk mencapai tujuan. Dalam konteks panggilan religius komitmen secara eksplisit dan publik dinyatakan dalam kaul-kaul yang menuntut untuk dimaknai dan dan dihayati dengan bantuan regulasi konstitusi.
Sadar Waktu:  Waktu adalah rahmat dan kehidupan  karena itu kesetiaan juga ditentukan dalam kecermatan pemanfaatan waktu. Banyak kekacauan dalam kehidupan terjadi ketika orang tidak sadar waktu sebagai rahmat dan kehidupan. Karena Sadar waktu maka dalam kehidupan manusia membuat pembagian waktu  untuk Tuhan, pekerjaan, keluarga, dan pelayanan secara proporsional sehingga Anda dapat beribadah, berdoa, bekerja, pelayanan, bermasyarakat, serta beristirahat.
Sadar Emosi. Hidup kita merupakan campuran emosi positif dan negatif.  Untuk sebuah kesetiaan seseorang diharapkan  untuk memiliki tabung energi positif lebih banyak untuk menyeimbangkan hal-hal negatif yang dijumpai dalam hidup. Emosi positif tampak dalam cara pikir positif dengan mengenang segala kebaikan yang kita terima dari Tuhan, pasangan, dalam pekerjaan ataupun pelayanan. Semakin banyak tabungan emosi yang Anda miliki akan mampu menjaga deposit kesetiaan kita.).
Sadar Komunikasi: Kesetiaan membutuhkan kerja sama dengan pihak lain. “Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia” (2 Sam. 22:26). Kesetiaan tak cukup menjadi tugas atau kewajiban salah satu anggota tarekat dalam komunitas  atau pasangan dalam keluarga, melainkan tanggung jawab bersama yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu perlu komunikasi yang berkualitas sebagai perekat 
Sadar Perkara kecil: Kesetiaan  bertahan jika didasarkan pada nilai-nilai kehidupan. Belajarlah setia dari hal-hal kecil karena kecil itu indah. Tuhan mengevaluasi kita bukan berdasarkan apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita setia mengelola apa yang dipercayakan kepada kita. Dengan setia dalam hal-hal kecil Tuhan akan mempercayakan hal-hal yang lebih besar. Kita bekerja mencapai tujuan yang merupakan panggilan Tuhan. Pada saat yang sama kita bertanggung jawab atas aset yang dipercayakan.
Sadar Hikmat Tuhan. Kesetiaan merupakan hasil pilihan yang tidak terpengaruh perasaan atau situasi sesaat yang mudah berubah. Ayub memilih setia meski keadaannya makin memburuk (Ayb. 2:9-10). Untuk itu perlu kedewasaan, hikmat, dan pimpinan Tuhan. Hanya dengan kekuatan Tuhan yang memberi keteguhan dan kesanggupan bertahan ketika kita mengalami berbagai ujian dan pencobaan.
Kita yakin dan percaya bahwa kedua yubilaris bertahan dan setia dalam hidup panggilan karena mereka memaknai panggilan mereka di atas topangan delapan pilar kesadaran ini. Waktulah yang akan menyingkap segala-galanya. 25 tahun adalah waktu dalam hitungan tetapi sebagai orang terpanggil waktu 25 tahun adalah rentang penyaluran anugerah dan cinta Tuhan kepada tarekat frater BHK melalui kedua yubilaris sekaligus waktu merajut harapan. Waktu menunjukkan harapan akan pembebasan karena waktu yang dilalui kedua yubilaris bukan sekadar kronos (urutan) tanpa makna melainkan sebagai Khairos (saat-saat Tuhan menganugerahkan rahmat dan kebaikan).

Proficiat buat kedua Yubilaris, Tuhan yang memanggilmu itu SETIA karena  itu hendaklah hidupmu tetap menjadi saat untuk menyanyikan keajaiban perbuatan Tuhan. Selamat berbahagia…… Ad Multos Annos.

Wednesday, July 9, 2014

PERUTUSAN DAN GRATIA

Renungan Kamis Biasa ke-14 Thn.A/2 Cor Jesu Kamis, 10 Juli 2014
Hos 11:1,3-4,8-9; Mat 10:7-15
Buka
Sebagai pengikut dan murid-murid Tuhan kita semua dalam cara yang berbeda diutus untuk melakukan kebaikan bagi orang lain. Dalam iman kita yakin Tuhan  melengkapi semua orang yang berkehendak baik dengan rahmat yang cukup untuk menyempurnakan semua pekerjaan kita. Dalam perayaan hari ini marilah kita menyerahkan semua niat dan rencana baik kita untuk sesama. Biarlah TUhan yang melengkapi  semua  kekurangan kita. Mari kita awali perayaan ini dengan mengakui salah dan dosa kita…
Renungan
Warta kenabian Hosea dalam bacaan pertama menginformasikan kepada kita perihal ketidaksetiaan Israel pada janji dan  komite bangsa itu untuk menaruh kasih, ketaatan, kesetiaan kepada Yahwe.  Keluhan dan ketidakpuasan Yahwe akan perilaku bangsa Israel disampaikan melalui Nabi Hosea. Yahwe sudah menyatakan kasih dan kesetiaan kepada Israel sejak  bangsa Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir. Yahwe sudah menyertai perjalanan Israel menuju tanah terjanji dengan semua suka duka melintasi padang gurun. Melalui Hosea Tuhan bersabda: Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih.  Tali kesetiaan dan ikatan Kasih menggambarkan betapa Yahwe merindukan Israel yang setia kepada Yahwe.
Yahwe mengutus Hosea untuk mengubah perilaku, mental, dan arah hidup Israel ke jalan dan arah yang dikehendaki Yahwe. Perubahan perilaku, mental, dan arah hidup Israel yang dikehendaki Yahwe melalui Hosea bertujuan membebaskan Israel dari bencana dan ancaman. Dari bacaan pertama kita mendapatkan kebenaran bahwa: Langkah, dan pilihan kita untuk mengubah mental dan perilaku akan menepis setiap persoalan bahkan akan memindahkan kita dari persoalan karena Yahwe mempertim,bangkan semua usaha perbagaikan atas cara hidup kita.
Perubahan mental, perilaku, dan cara hidup hanya akan tampak dalam setiap tugas, pekerjaan  yang dipercayakan kepada kita. Injil menarasikan segmen pengutusan para murid untuk tugas yang dianggap mendesak dalam bentuk perintah, imperatif yang memerlukan tanggapan yang cepat dan tepat. Perintah Yesus untuk para murid tegas dan jelas. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Pernyataan Yesus ini mau menegaskan kepada kita bahwa ada banyak peluang dan kemungkinan bagi setiap murid Tuhan untuk melakukan sesuatu yang baik dan berguna.  Bagi, Yesus kerajaan surga diperuntukkan bagai orang yang sehat, orang yang hidup, orang yang bersih secara rohani dan tidak dikuasai pikiran dunia para setan. Perintah Yesus untuk para murid-Nya merupakan tugas  yang harus dilakukan. Para murid harus melakukan semuanya itu secara gratis karena memang memang para murid menerima rahmat pangggilan dan perutusan itu secara gratis.
Dimensi garatia atau Cuma-Cuma inilah yang menjadi alasan mengapa para murid dilarang membawa pelbagai perlengkapan. Hal ini mau menegaskan bahwa fasilitas berupa rahmat senantiasa menyertai setiap orang yang berkehendak baik. Perutusan para murid mau menegaskan sekaligus mengingatkan kita bahwa hidup kita segala segala kemampuan kita  adalah rahmat gratis dari Tuhan untuk setiap kita dengan harapan kita meneruskan pemberian gratis itu kepada siapa saja dalam tugas, karya dan panggilan hidup kita. Marilah kita belajar untuk menjadi murid Tuhan dalam tugas-tugas kita.  Kasih dan berkat Tuhan mendahului semua niat baik kita. Amin


Rm.Bone Rampung, Pr

Wednesday, June 25, 2014

BERPULANG

Reungan Misa Arwah Victoria Heni (61)
2 Kor 5:1.6-10; Yoh. 14,1-6
Sinar Bakti Malang, Rabu 25 Juni 2014
Buka
 Sidang duka yang terkasih dalam Tuhan. Saat ini kita datang ke tempat ini karena diundang oleh Almarhumah Victoria Heni melalui keluarga besar, sesama anggota tarekat untuk mengadakan rekoleksi singkat dengan tema kehidupan. Tema kehidupan merupakan tema pokok yang harus dimaknai dalam setiap peristiwa kematian. Berkumpul dan hadir di rumah duka berdoa untuk yang pergi adalah rekoleksi spontan  yang memungkinkan kita berhenti sejenak memaknai kehidupan kita. Sebagai  orang yang beriman akan Kristus kita sepantasnya bersyukur karena salah seorang yang kita cintai telah dibebaskan Tuhan dari belenggu kehidupan dunia.
Kita bersyukur karena Tuhan yang telah mengutus Victoria ke tengah kita, ke tengah keluarga, ke tengah persaudaraan kumunitas ke tengah masyarakat dipanggil pulang sesuai dengan batas waktu yang dijatahkan kepada almarhumah. Almarhumah dalam perjalanan mudik ke rumah Bapa. Kita berkumpul untuk melancarkan perjalanannya ke rumah Bapa dengan doa-doa kita. Kurban Kristus yang kita rayakan adalah korban yang menjamin keselamatan perjalan jiwa orang beriman. Kita berdoa dan berpengharapan Kristus sendiri menghantarnya ke dalam rumah Bapa. Kita awali doa dan syukur kitadengan mengakui kesalahan kita. Saya mengaku…

Renungan
Ada banyak kata yang kita kenal dan kita gunakan kalau ada orang yang meninggal. Ada kata meninggal, tewas, ada kata, mati, ada mangkat, ada kata gugur, ada kata wafat dan ada kata berpulang. Dalam konteks kita sebagai orang beriman tentu kita bisa dan harus bisa memilih kata yang pas. Kata apa yang lebih tepat? Saya memilih kata ”Berpulang” dan bukan mati atau meninggal. Mengapa? Karena kata-kata itu tidak bisa dikaitkan dengan iman apalagi menggambarkan harapan. Mati bermakna berakhirnya kehidupan, meninggal bermakna tinggalkan dunia.
Lain halnya dengan kata Berpulang, karena dalam kata berpulang ada muatan iman dan harapan. Berpulang berarti orang percaya ia pernah pergi dari suatu tempat dan kepergian itu sifatnya sementara karena pada waktunya akan pulang. Berpulang, bagi orang beriman berarti pula orang memiliki alamat rumah yang jelas. Pulang, berpulang adalah kata yang hanya bisa dipakai oleh orang yang mempunyai rumah. Pulang tidak akan dipakai oleh para gelandangan yang tidak mempunyai rumah. Setelah perayaan ini kita akan pulang dalam pengertian fisik karena tadi kita datang dari rumah kita.
Firman Tuhan yang kita dengarkan dari surat Paulus untuk jemaat Korintus dan penggalan injil Yohanes pada dasarnya berbicara tentang persoalan pulang dan berpuangnya manusia beriman. Mengapa orang beriman berpulang? Jawabannya karena di dunia manusia tidak mempunyai rumah abadi bagi jiwanya. Paulus membahasakannya secaa tepat dengan memilih kata kemah dan bukan rumah. Paulus berbicara tentang kemah sedangkan Yesus berbicara tentang rumah dan bukan kemah. Di sini jelas Paulus membahasakan kesementaraan hidup fisik di dunia sedangkan Yesus membahaskan keabadian hidup jiwa di alam baka.
Kemah dan rumah sama-sama bermakna tempat tinggal tetapi ada perbedaan mendasar antara kemah dan rumah. Kemah gamabran kesementaraan yang tidak sempurna sedangkan rumah menggambarkan keabadian yang sempurna dan tetap. Saya tidak tahu apakah saudara/i yang membeli alkitab edisi paling akhir menemukan rumusan baru untuk surat Paulus tadi. Apakah kata kemah sudah diganti dengan kata biara, rumah, hotel, istana, vila, apartemen? Saya yakin belum ada yang menggantikan itu. Itu artinya semua biara, rumah, hotel, apartemen, istana, vila yang dibangun manusia di bumi semewah dan semahal apa pun itu semua disebut kemah.
Dari sini jelas sekali pesannya untuk kita bahwa hidup dan kehidupan kita hanya kemah bukan rumah. Karena kehidupan kita hanya sebuah kemah, maka kita masih berpengharapan untuk mendapatkan rumah dan rumah itu sudah ada sebelum manusia, kita datang dan mendirikan kemah di dunia. Yesus sendiri meneguhkan pengharapan kita karena Dia menegaskan suatu rahasia besar bahwa di rumah Bapa tersedia tempat kediaman yang kekal bagi yang percaya. Rumah kita yang percaya hanya ada di dunia seberang. Yang kita tempati di dunia sekarang hanyalah kemah. Karena hidup kita hanya sebuah perkemahan maka tidak ada alasan bagi kita untuk menjadikan dunia sebagai istana kita.
Kalau kita berbicara tentang orang pulang maka kita tidak mungkin menghindari penggunaan kata jalan. Ketika manusia berpindah dari kemah di dunia menuju rumah di surga manusia berpeluang tersesat bukan saja karena terlalu lama di dunia tetapi terlebih karena di dunia manusia menggali jalannya sendiri sesuai dengan keinginan duniawinya. Sekali lagi suatu berita besar disampaikan Yohanes dalam injilnya bahwa kita mempunyai seorang penunjuk jalan bahkan sekaligus menjadi satu-satunya jalan yang harus kita lalui. Yesus adalah jalan tol, jalan bebas hambatan  bagi setiap orang percaya. Memilih jalan lain berarti siap menerima risiko tersesat dan tidak akan sampai ke rumah Bapa.
Dalam bahasa populer Pulang kita sebut mudik. Dan kalau kita berbicara tentang mudik maka tentu itu hanya berlaku sementara sedangkan berpulang adalah mudik abadi. Beberapa hari lalu saya mendapat berita dari kampung bahwa sepupu saya meninggal dan keluarga mengharapkan agar anaknya yang berkuliah di Malang secepatnya pulang ke kampung karena itu saya diminta untuk mengurus tiket. Tengah malam saya mencoba menghubungi agen penjualan tiket. Jawaban agen, tiket terjual habis untuk penerbangan esok hari dari Surabaya-Flores. Setengah jam kemudian saya dihubungi agen tiket yang menyampaikan kepada saya bahwa tiket tinggal satu tetapi harganya hampir 3 juta. Saya agak terkejut mendengar harga tiket semahal itu. Alasan mereka satu-satunya karena musim ramai menjelang mudik. Karena tidak ada pilihan lain, apalagi keluarga mendesak agar anaknya secepatnya tiba di Flores maka tiket semahal itu terpaksa diambil.
Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa urusan pulang untuk orang hidup itu mahal. Urusan pulang orang hidup itu merepotkan karena harus mencari tiket, harus berhadapan dengan para calo tiket yang mencari kesempatan untuk memeras calon penumpang terdesak karena ada berita duka. Beda dengan urusan pulang orang yang berpulang. Tiketnya sudah  dan selalu berstatus oke semenjak mulai berkemah di bumi, keberangkatan pasti, tujuannya juga jelas. Tiket untuk orang berpulang itu urusan Tuhan. Yang bisa kita lakukan hanya berdoa agar kepulangan orang yang kita cintai memberi pelajaran bagi kita untuk mengisi masa perkemahan di dunia dengan hal yang baik. Dalam iman kita percaya bahwa almahumah akan dijemput dan diantar Yesus menuju kediaman abadi.  Amin.

 Malang, 25 Juni 2014
Rm.Bone Rampung, Pr