Saturday, August 2, 2014

TEKS UPACARA MIDODARENI

Tata Cara Liturgi
Malam Tirakatan Calon Pengantin / Midodareni
Marsel Maring & Lusinta Sianturi
=================================================

Lagu Pembukaan

Tanda Salib dan Salam:
P: Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus
U: Amin
P: Semoga Allah yang Maha Kuasa selalu melimpahkan kasih dan berkatnya kepada kita semua,
U: Sekarang dan selama-lamanya

Pengantar & Pernyataan Tobat
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, pada malam yang kudus, menjelang pernikahan Bapak Marsel dengan Ibu Lusi, kita diundang ke rumah ini untuk bersama-sama memohon berkat kepada Tuhan agar semua persiapan yang telah direncanakan dalam rangka pelaksanaan pernikahan dapat terlaksana dengan baik, lancar dan sesuai dengan rencana. Pernikahan adalah hal yang sangat kudus, oleh karenanya marilah kita dukung dengan sepenuh hati ibadat pada malam hari ini dengan terlebih dahulu memohon ampun atas kesalahan dan dosa kita.
                                    
Saya Mengaku ….
P : Semoga Allah yanh Maha Pengasih selalu menuntung dan melindungi kita sampai ke hidup yang kekal..
U : Amin

Marilah berdoa


P: Ya Allah mahapengasih, sumber ketenteraman dan kebahagiaan keluarga, pada malam hari ini kami berkumpul atas Nama-Mu, sambil memohon berkenanlah hadir di antara kami, bersama para malaekat dan para kudus di surga, dan mencurahkan berkatMu yang berlimpah kepada saudara kami  Lusi dan Marsel yang akan mengikrarkan janji pernikahan. Berkenanlah hadir di tengah kami sebagaimana Yesus bersama bunda Maria dan para rasul menghadiri perkawinan di Kana.
Demi Yesus Kristus, Putera-Mu dan Pengantara kami; yang bersama Dikau dan Roh Kudus, hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala masa.
U : Amin.

Litturgi Sabda

Bacaan Pertama (Tob.8,5-10)

L: Pembacaan dari kitab Tobit bab 8, ayat 5 sampai 10:

Pada malam perkawinannya, Tobia berkata kepada Sara: “Kita ini keturunan orang suci. Kita tidak boleh kawin seperti orang yang tak mengenal Allah”. Maka mereka berdoa, agar tetap sehat walafiat. Kata Tobia: “Terpujilah Engkau, Allah leluhur kami. Hendaknya langit dan bumi memuji Engkau: mata air, sungai dan laut beserta segala makhluk yang hidup di dalamnya. Engkau telah membentuk Adam dari tanah dan memberikan Hawa kepadanya sebagai teman hidup. Engkau tahu, ya Tuhan, bahwa aku tidak mengawini Sara ini karena dorongan hawa nafsu. Aku mengawini dia untuk memperoleh keturunan, agar namaMu terpuji untuk selama-lamanya.” Lalu Sara juga berdoa: “Kasihanilah kami, ya Tuhan, kasihanilah kami. Semoga kami tetap sehat walafiat dan bersama-sama mencapai umur panjang.” Demikianlah sabda Tuhan.
U: Syukur kepada Allah.

Lagu Antar Bacaan (?)
Bacaan Injil (Yoh.2,1-11)

P: Tuhan beserta kita
U: Sekarang dan selama lamanya
P: Inilah Injil Yesus Kristus, menurut Santo Yohanes
U: Dimuliakanlah Tuhan

Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur." Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba." Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan mereka pun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu -- dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya -- ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang." Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

P : Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya
U: Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami

Homili/Renungan
                     
LITURGI MIDODARENI

P: Bapak, Ibu dan Saudara sekalian
Malam ini adalah malam yang suci bagi keluarga,  terlebih bagi bagi calon pengantin Ibu Lusi dan Pak Marsel. Malam ini kita akan bersama-sama memohon berkat dari Tuhan, Raja dari segala bidadari, dan juga memohon restu dari para malaikat, para orang kudus. Marilah kita daraskan Litania Orang Kudus (hening)

Litani Orang Kudus (dipersingkat)
P:Tuhan kasihanilah kami  -  U:Tuhan kasihanilah kami
P:Kristus kasihanilah kami – U:Kristus kasihanilah kami
P:Tuhan kasihanilah kami – U: Tuhan kasihanilah kami
 P: Santa Maria Bunda Allah –  U: doakanlah kami
Para malaikat Allah yang kudus, ...
Santo Yusup,....
Santo Yohanes Pembaptis,
Santo Petrus dan Paulus,
Santa Maria Magdalena,
Santo Ignatius dari Anthiokia,
Santa Agnes,
Santa Perpetua dan Felicitas,
Santo Agustinus,
Santo Fransiscus Xaverius,
Santo Yohanes Maria Vianney,
Santa Theresia,
Santo Benedictus,
Santo Antonius,
Santa Yohana,
Santo Martinus,
Santo Maselinus
Semua orang Kudus Allah,

P: Tuhan Maha rahim, U: bebaskanlah umatmu
Dari segala kejahatan,
Dari segala dosa,
Dari kematian kekal,
Karena penjelmaanMu,
Karena kematian  dan kebangkitan-Mu,
Karena pencurahan Roh Kudus,

P: Kristus dengarkanlah kami, U: Kristus dengarkanlah kami
P: Kristus kabulkanlah doa kami, U: Kristus kabulkanlah doa kami

Doa Pembukaan
Allah yang Maha Pengasih, sumber cinta sejati dan sumber kebahagiaan keluarga, kami bersyukur atas cinta yang telah Kau tumbuhkan dalam hati Lusi dan Marsel. Malam ini kami berkumpul memohon kepada-Mu agar Engkau sudi datang bersama para Kudus dan para malaikat di surga untuk memberkati kedua  hamba-Mu, Lusi dan  Marsel ini, sebagaimana  Engkau dulu datang dan memberkati pengantin di Kana. Kehadiran-Mu bersama para malaikat akan membawa bukan saja sukacita bagi kedua calon pengantin ini, tetapi juga  kegembiraan dan ketenangan batin bagi seluruh keluarga besar, terutama dalam menghadapi dan menjalani peristiwa besar bagi keluarga ini. Demi Yesus Kristus Putra-Mu Tuhan dan Pengantara kiami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang segala abad. Amin.

Pemberkatan Calon Pengantin:
P: Saudara-saudaraku terkasih, marilah kita mohon berkat dari Allah yang Maha Pengasih bagi calon pengantin Lusi dan Marsel. (Tangan diulurkan kepada  Lusi dan Marsel sambil berdoa)
           
P: Allah yang Maha Pengasih, kami tahu bahwa hidup berkeluarga adalah penggilan yang luhur dan terhormat, karena lewat perkawinan dua orang, Engkau mengangkat mereka menjadi rekan kerja dalam mengalirkan dan menghidupkan Kasih-Mu. Kami mohon sudilah memberkati calon pengantin ini, sehingga besok dapat menjalani semua upacara yang sudah direncanakan. Kuatkalah mereka berdua agar bisa menepati janji yang mereka ucapkan di hadapan-Mu dan kelak bisa menjalani kehidupan suami isteri dengan setia dan penuh kasih serta senantiasa takwa kepada-Mu. Semoga mereka berdua saling memahami dan menghargai dalam upaya mereka membangun keluarga Katolik yang sejati. Semoga para Kudus merestui perjuangan mereka membangun keluarga, dan semoga para malaikat mendampingi serta menjaga langkah-langkah mereka supaya luput dari godaan yang merongrong kehidupan berkeluarga mereka. Semua ini kami mohon dengan perantaraan Yesus Kristus, Tuhan dan Junjungan kami kini dan sepanjang masa. Amin.

Penyerahan Keluarga (Oleh wakil keluarga calon pengantin) 
Ya Allah, Bapa sekalian insan, Engkau menciptakan manusia dan menghimpun mereka menjadi satu keluarga, yakni keluarga-Mu sendiri. Engkau pun telah memberi kami sekeluarga teladan, yakni Keluarga Kudus di Nasaret, yang anggota-angggotanya sangat takwa kepada-Mu dalam penuh kasih satu sama lain. Terima kasih, Bapa, atas teladan yang indah ini.Semoga keluarga kami selalu Kau dorong untuk meneladani keluarga kudus di Nasaret agar tumbuh menjadi keluarga Kristiani yang sejati yang dibangun atas dasar iman dan kasih akan Dikau dan sesama.
Ajari kami untuk hidup menurut InjilMu, rukun, ramah, bijaksana, saling menyayangi, menghormati dan saling membantu dengan ikhlas hati. Hindarkanlah keluarga kami dari mara bahaya dan mala petaka; sertailah kami dalam suka dan duka; tabahkanlah kami bila kami menghadapi masalah. Jadikanlah keluarga kami batu yang hidup untuk membangun jemaat-Mu di lingkungan kami tinggal. 
Berilah kepada keluarga kami rejeki yang cukup. Semoga kami selalu berusaha hidup baik di tengah jemaat dan masyarakat, Jadikanlah kami garam yang berdaya mencegah kebusukan yang merongrong masyarakat, dan terang yang selalu menghalau kegelapan.   
Ya Bapa, kami juga berdoa untuk keluarga-keluarga yang sedang dilanda kesulitan, dampingilah mereka agar jangan patah semangat. Berilah kekuatan kepada para anggotanya untuk kembali membangun keutuhan keluarganya.
Akhirnya ya Bapa, kami menyerahkan semua rencana dan acara penerimaan sakramen pernikahan hamba-Mu Lusi dan Marsel. Kami percaya bahwa Engkau akan menyertai kami semua sehingga semua boleh berjalan dalam limpahan berkatMu.
Semua ini kami mohon kepada-Mu, demi Kritus Tuhan dan pengantara kiami kini dan sepanjang masa. Amin.

Doa Umat:

P: Bapak-Ibu dan Saudara-saudari terkasih, marilah kita lanjutkan dengan doa umat:

K: Ya Tuhan, Engkau berkenan supaya laki-laki dan perempuan bersatu dalam kasihMu. Semoga calon pengantin ini membuka hati menanggapi panggilan suci ini. Marilah kita mohon...
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan

K: Engkaulah tumpuan hidup kaum beriman. Semoga calon pengantin ini dapat membangun keluarga atas dasar iman dan kasih sejati. Kami mohon....
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan
 K: Engkaulah selalu menjaga hidup anak-anakMu. Semoga calon pengantin ini selalu sehat dan kelak dapat melaksanakan kewajibannya membina keluarga, mengabdi kepada gereja dan masyarakat. Kami mohon......
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan

K: Semoga calon pengantin ini selalu dapat berusaha membina hidup berkeluarga sesuai dengan kehendakMu. Kami mohon...
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan

K: Semoga seluruh keluarga besar kedua mempelai senantiasa menopang kehidupan calon keluarga baru ini dengan penuh hormat dan penuh cinta. Kami mohon....
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan

P: Marilah kita hening sejenak untuk menyampaikan doa dan intensi kita masing-masing..... ( Hening sejenak) .........Kami mohon....
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan


LITURGI EKARISTI (teks Tersendiri)
Catatan: jika tidak dilanjutkan dengan Ekaristi maka langsung dilanjutkan dengan doa Bapa Kami berikut ini)

Bapa Kami

P: Bapak-Ibu dan Saudara-Saudara terkasih dalam Kristus, marilah segala permohonan dan pujian kita satukan dengan doa yang telah diajarkan oleh Yesus Kristus sendiri kepada kita.
U: Bapa Kami......

P: Ya Bapa, jadilah selalu kehendakMu, sebab itulah satu-satunya pedoman hidup kami. Semoga kami tak henti-hentinya berusaha supaya kehendakMu benar-benar terlaksana dalam diri kami sendiri, di dalam keluarga dan lingkungan hidup kami, sementara kami menantikan dengan rindu, kedatangan penyelamat kami Yesus Kristus.
Penutup dan Berkat

Marilah berdoa
Allah Bapa, syukur kepada-Mu atas Firman dan cinta-Mu kepada kami dalam ibadat ini. Nyatakanlah berkatmu kepada kedua calon mempelai, semoga berkat melimpah selalu menerangi rumah tangga mereka berdua. Peliharalah dan padukanlah cinta kasihnya agar mereka berdua mampu memaknai kehidupan rumah tangga yang kudus demi Yesus Kristus Tuhan dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa.
U : Amin

P : Tuhan beserta kita
U : Sekarang dan selama lamanya
P : Kita sekalian semua orang yang kita doakan terutama kedua calon mempelai ini dilindungi dan dibimbing olehBerkat Allah yang Mahakuasa + Demi nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus
U : Amin
P : Saudara sekalian Ibadat dan doa kita sudah selesai.
U : Syukur kepada Allah

Lagu Penutup:






Penyusun: Rm.Bone Rampung, Pr


Thursday, July 17, 2014

SAMA-SAMA BEKERJA DALAM KETERBUKAAN

Renungan Misa Pembukaan Tahun Ajaran 2014/2015
Yes.38,1-6,21-22- 39,7-8; Mat.12,1-8
SD, SMP Frateran Claket 21 Malang

MEMASUKI TAHUN SUKSES BERSAMA KRISTUS
Buka
Hari ini kita semua sebagai orang beriman yang mengandalkan kuasa dan bimbingan Tuhan dalam semua gerak hidup kita datang ke hadapan TUhan untuk menyatakan tekad dan niat kita mengawali tahun pembelajaran yang baru ini dalam semangat untuk selalu sukses saat memulai, saat menjalankan, dan saat mengakhiri tahun pembelajaran yang baru ini. Kita memohonkan kerjasama yang baik untuk semua komponen pendidikan di sekolah kita dan semangat keterbukaan dalam menghadapi semua tantangan di sekolah kita. Kita bawa semua harapan bersama dan harapan pribadi kita kepada Tuhan dalam kurban ekaristi pembukaan tahun sekolah ini.
Renungan
Tema yang dipilih untuk misa pembukaan tahun pembelajaran 2014/2015 bagi SD dan SMP Frateran hari ini bagus dan menarik yaitu “Memasuki Tahun Sukses Bersama Kristus” Ada tiga hal yang menarik dari tema ini. Pertama tema ini menyembunyikan subjek karena diawali dengan kata kerja sebagai predikat yaitu memasuki. Pertanyaannya, siapa yang memasuki Tahun sukses itu? Kedua, tema ini memuat satu kata kunci yang penting bagai semua orang.  Kata kunci, inti dan pusat dari tema yang dipilih ini adalah kata “SUKSES” Ketiga, tema ini jelas menggambarkan bahwa semua komponen  mengawali pembelajaran dengan satu keyakinan bahwa sejak awal kata SUKSES harus menjadi pilihan kita. Dengan tema ini kita mau Sukses itu bukan semata-mata yang didapatkan pada akhir proses pembelajaran melainkan harus dimulai dalam setiap kegiatan yang dilakukan di lingkungan sekolah. Keyakinan untuk memulai kesuksesan sejak awal mengungkapkan optimisme sekaligus menguatkan motivasi kita untuk semua sukses. Awalnya sukses dan akhirnya juga harus sukses.
Tema yang menarik ini jika dipenggal akan menghasilkan dua penggalan yang sangat bermakna karena masing-masing penggalan memuat kata SUKSES. Penggalan pertama adalah Memasuki Tahun SUKSES dan penggalan kedua, SUKSES Bersama Kristus”. Dalam konteks perayaan ini, jelas sekali bahwa subjek yang merindukan dan mencari SUKSES adalah dua lembaga pendidikan (SD dan SMP Frateran Claket 21) Dalam konteks yang lebih luas yang mau sukses adalah tarekat para frater Bunda Hati Kudus, Yayasan Mardiwiyata, para guru, pendidikan dan tenaga kependidikan, para pegawai,  para siswa/i, dan orangtua/wali siswa.  Semua komponen ini secara bersama, secara sinergis menyasar atau terarah ke suatu tujuan bersama yaitu kesuksesan. Untuk kesuksesan yang didambakan sebagai idealisme bersama, harus selalu dilakukan dalam dan bersama Kristus. Artinya kita mendambakan dan mau sukses bersama Tuhan dan karena yakin Tuhan melakukan karya besar untuk kita semua.
Sebagai orang beriman kita harus yakin bahwa kesuksesan itu program Tuhan dan kita menjadi pelaksana atau pelaku untuk mewujudkannya. Kesuksesan kita akan nyata dalam semua peran, fungsi, dan tugas kita baik sebagai guru, tenaga kependidikan dan siswa di sekolah maupun peran para pemangku kepentingan lainnya  sesuai dengan visi dan misi tarekat BHK. Kesusksesan dalam konteks dunia pendidikan adalah kesukesan bersama, kesuksesan kolektif. Konsekuensinya, semua bagian, komponen pendidikan harus memiliki rasa tanggungjawab bersama.
Rasa tanggung jawab bersama merupakan kumpulan dari rasa tanggungjawab perorangan atau setiap pribadi. Adanya rasa tanggungjawab bersama memungkinkan dan mengharuskan adanya kemauan untuk kerja sama dan sama-sama bekerja. Tidak cukup kita hanya memiliki semangat bekerja sama tanpa mewujudkan semangat itu dalam praktik sama-sama bekerja untuk suatu kesuksesan bersama. Dalam mencapai kesuksesan bersama kita harus bisa menempatkan diri sebagai bagian yang sama-sama pentingnya. Dalam semangat mewujudkan kesuksesan bersama kepala sekolah tidak lebih penting dari dari seorang satpam. Dalam konteks mewujudkan kesuksesan bersama guru tidak lebih penting dari siswa. Semua unsur dalam posisinya sama-sama penting.
Menyadari bahwa dalam kebersamaan kita menjadi sama-sama pentingnya maka di samping semangat kerja sama dan praktik sama-sama bekerja diperlukan pula sikap yang terbuka. Keterbukaan antarsemua unsur di sebuah lembaga pendidikan akan menjadi jalan yang lapang untuk semua persoalan. Kisah tentang Hizkia dalam bacaan pertama adalah kisah tentang pentingnya sikap jujur dan terbuka dalam menghadapi masalah. Hizkia menderita sakit dan Yesaya datang menyampaikan bahwa sebentar lagi Hizkia akan meninggal.  Dalam masalah itu Yesaya menyampaikan secara terbuka pesan Yahwe kepada Hizkia. Hizkia menanggapinya juga dalam keterbukaan. Hizkia secara terbuka menyampaikan masalahnya kepada Tuhan. Hanya dengan itu Hizkia mengalami peyembuhan dan menerima damai dan keamanan seumur hidupnya.
Injil juga sebenarnya berbicara hal yang sama tentang pentingnya keterbukaan dan kejujuran dalam menghadapi masalah. Para murid Yesus memetik gandum pada hari Sabat menjadi masalah. Dan itu diketahui sebagai masalah ketika orang farisi mempersoalkan perilaku para murid itu kepada Yesus. Dialog yang panjang dan pernyataan penting Yesus seperti yang kita dengarkan dalam injil tentu tidak bisa terungkap jika orang farisi tidak menyampaikannya. Keterbukaan orang farisi menjadi kunci untuk menemukan jawaban yang tepat tentang sikap manusia terhadap hari Sabat. Karena orang farisi terbuka menyampaikan keberatan dan persoalan maka mereka mendapatkan penjelasan yang meyakinkan, dan prinsip kehidupan yang benar dalam menghayati dan memaknai aturan.
Kita tentu sependapat bahwa tidak ada lembaga pendidikan, sekolah yang tidak bermasalah. Masalah harus ada karena kita masih hidup di dunia dan masalah itu akan mendewasakan dan mematangkan kita. Masalah adalah guru terbaik kita, sejauh kita menempatkannya dalam suatu dialog yang terbuka dan bermakna.
Kita telah memilih tema bahwa tahun ini adalah SUKSES kita dan kita mau membuka kegiatan pembelajaran kita dengan SUKSES untuk dijalankan bersama Kristus menuju Kesuksesan yang lebih besar. Untuk itu semua kita harus mau sama-sama bekerja bukan hanya dalam rencana dan semangat. Lebih dari itu kita harus jujur dan terbuka untuk mengatasi semua masalah yang kita jumpai. Tanpa kemauan untuk sama-sama bekerja dan tanpa adanya keterbukaan yang jujur di antara kita, mustahil kesuksesan menjadi milik kita. Hanya dalam praktik sama-sama bekerja dan bekerja sama dalam kejujuran dan keterbukaan kita boleh berbangga meraih kesuksesan. Sama-sama mau bekerja dalam perilaku yang jujur dan terbuka adalah gambaran karakter yang baik. Mari kita berjuang menjadi sukses dalam semua karakter yang baik. Tuhan memberkati…


Malang, 18 Juli 2014

Sunday, July 13, 2014

SYUKUR KARENA KESETIAAN TUHAN

Renungan Misa Syukur 25 Tahun Hidup Membiara
Fr.M.Gregorius, BHK & Fr.M.Monfort, BHK
Yes.55,10-11, Rom.8,18-23, Yoh.15,9-17
Komunitas Claket 21 Malang,  Minggu, 14 Juli 2014

Buka
Sejak kemarin suasana rumah ini menjadi lain dari yang biasa. Di kamar makan ada begitu banyak hiasan yang menampakkan ada sesuatu yang lain. Kapel juga dihiasi dengan aneka kembang yang juga menunjang suasana khusus yang membuat kita harus merasa lain, berkata lain dan bertindak lain. Suasana dan nuansa yang lain ini bukan karena kita yang lain tetapi karena Frater M.Monfort, BHK dan Frater M.Gregorius, BHK menjadi orang yang harus diperlakukan secara lain. Keduanya dikhususkan atau tepatnya diistimewakan karena Tuhan telah menyatakan KESETIAN kepada kedua frater ini. Dalam kesetiaan Tuhan, keduanya telah belajar untuk mengambil bagian dalam kesetiaan dan masa belajar itu telah mereka lewati secara sukses selama 25 tahun. Hanya syukur yang bisa kita ekspresikan atas karya besar Allah ini untuk mereka. Dalam syukur ini pula kita terus mendoakan agar masa belajar untuk tetap setia kepada Tuhan yang memanggil mereka dapat diteruskan pada masa yang akan datang. Harapannya agar kedua yubilaris yang dipilih Tuhan tetap menjadikan hidup dan karya mereka sebagai pujian bagi kebesaran Tuhan.
Mari kita awali syukur kesetiaan ini dengan mengakui salah dan dosa kita. Saya Mengaku…

Renungan
Jumat siang, di kamar makan kami  sempat berbincang tentang banyak topik, mulai dari kemelut data quick count Pilpres hingga topik tentang banyaknya tarekat yang kekurangan dan bahkan ketiadaan calon. Saat itu, yubilaris Fr.M.Gregorius , BHK  spontan menyampaikan kepada saya bahwa angkatan beliau dulunya atau 25 tahun silam termasuk angkatan paling banyak fraternya. Dengan nada yang agak datar beliau menyampaikan bahwa dari jumlah angkatannya yang tinggal hanya 2 orang yaitu Fr.Gregorius dan Fr.Monfort. Sesuai dengan kata kitab suci banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih, begitu Fr.Goris melanjutkan komentarnya. Cerita dan komentar beliau ini menginspirasi saya untuk menemukan sebuah titik api yang kiranya bisa dan perlu dinyalakan dalam renungan peringatan 25 tahun hidup membiara untuk kedua frater ini dalam perayaan ekaristi ini.
Berjalan dan menjalani panggilan selama 25 tahun sampai pada akhirnya hanya menyisakan 2 orang sebagai sisa kecil jelas membahasakan “sesuatu” yang perlu kita gali dan maknai bersama dalam perayaan syukur ini. Apakah “sesuatu” itu yang berkaitan dengan dua frater ini?  Bagi saya, “sesuatu” itu adalah “KESETIAAN”. Kesetiaan, memang hanya satu kata tetapi kata yang satu ini memuat nuansa pesan beragam terkait dan terikat pada rentetan kisah keterpanggilan kedua yubilaris ini.
Perayaan kita hari ini adalah syukur untuk suatu Kesetiaan. Kesetiaan itu milik siapa dan siapakah yang setia itu dalam hal ini? Yang setia itu adalah Tuhan karena Dialah penginisiatif awal yang merancang perjalanan hidup kedua yubilaris. Dia pulalah yang menyertai perjalanan dan pada waktunya akan menuntaskan perjalanan kedua frater ini. Sekali lagi yang setia bukanlah manusia, bukan kedua frater yang berpesta hari ini melainkan Tuhan. Kesetiaan kita manusia, kesetiaan kedua frater hanya bermakna dalam konteks partisipasi pada kesetiaan Tuhan. Kesetiaan manusia, kesetiaan kedua frater dalam mengakrabi panggilan hanyalah kemungkinan, hanyalah potensi. Sebagai kemungkinan atau sebagai potensi, kesetiaan kita, kesetiaan kedua yubilaris hanya bisa terlaksana, direalisasikan sejauh Tuhan dalam kemahasetiaan-Nya  menggerakkan potensi kesetiaan pada diri kita dan kedua frater ini.
Kita bisa setia hanya karena Tuhan setia bukan sebaliknya Tuhan setia karena kita setia. Kita bisa menjadi orang baik karena kita lebih dahulu dilengkapi dengan kebaikan yang hanya ada secara sempurna pada Tuhan. Karena itu kita tidak perlu berbangga ketika dianggap baik, dianggap setia apalagi merasa diri lebih baik dan lebih setia. Hal yang bisa kita banggakan hanyalah kerelasediaan kita untuk selalu dan senantiasa terpaut pada kesetiaan dan kebaikan Tuhan. Kesadaran seperti ini penting dalam rangka lahirnya sikap kerendahan hati dan kejujuran dalam kehidupan. Kesombongan dan ketidakjujuran biasanya berhulu pada sikap menganggap diri baik dan setia. Kualitas keberimanan kita justru ditimbang pada takaran rasa apakah kita merasa  mengharuskan diri untuk selalu menghampiri Tuhan sebagai asal kebaikan dan kesetiaan ataukah kita mengharuskan Tuhan untuk berbaik dan bersetia kepada kita.
Hanya kebaikan dan kesetiaan Tuhanlah yang memungkinkan kita bisa melakukan segalanya secara baik dan setia dalam hidup dan pangggilan kita. Dalam bahasa yang religius kita hidup karena rahmat Tuhan selalu mendahului gerak hidup kita.  Kesetiaan Tuhan tidak ditentukan kondisi manusia sehingga perkara-perkara ajaib terus terjadi selama dan sepanjang hidup manusia. Kesetiaan Tuhan ibarat matahari yang setia terbit, ibarat hujan yang setia mengguyur bumi untuk menghadirkan kehidupan.
Hari ini kita bersyukur bersama kedua frater yubilaris karena mereka telah memaknai kesetiaan dan kebaikan Tuhan sebagai ajakan dan undangan yang telah mereka terima 25 tahun silam. Ajakan dan undangan itu telah mereka tanggapi dan mencoba berjalan di lintasan yang ditetapkan Tuhan untuk mereka. Ajakan dan undangan itu bagi frater Monfort tampak dalam semua hal dan dalam segala sesuatu yang dirasakan sebagai perbuatan ajaib Tuhan. Perbuatan ajaib Tuhan itulah yang harus diberitakan, disebarluaskan, dikabarkan, diakbarkan. Atas dasar itulah frater Monfort mendisposisikan dan mengidentifikasikan diri sebagai Daud yang  membangun tekad dan komitmen dalam mottonya:“perbuatan-perbuatan-Mu yang Ajaib AKAN kunyanyikan (Mzr.145,5).
Motto ini jelas dipilih secara sadar benar, dan benar-benar sadar sebagai rambu-rambu dalam lintasan perjalanan hidup membiara frater Monfort. Hari ini, 25 tahun lalu frater Monfort berjanji  AKAN menyanyikan perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan. Dalam bingkai motto itu, frater Monfort menjalani kehidupan sebagai biarawan Bunda Hati Kudus hingga mengantarnya pada pesta syukur hari ini. Andaikan hari ini kami meminta frater Monfort untuk menghapus satu kata dari motto itu, kata apa yang seharusnya frater hapus? Kata yang semestinya dihapus adalah kata “AKAN”. Kata AKAN seharusnya dihapus sejak hari pertama frater mengikrarkan kaul untuk menyanyikan perbuatan ajaib Tuhan. Kalau selama 25 tahun kata AKAN itu terus dipakai itu sama artinya belum ada perbuatan ajaib Tuhan yang sudah dinyanyikan. Saya kira masih segar dalam ingatan kita proses debat kandidat presiden kita. Dalam debat capres ada kandidat yang selalu menggunakan kata AKAN, sementara kompetitornya mengkritisi penggunaan kata AKAN itu sebagai gambaran betapa mengambangnya visi dan misi seorang calon RI 1 itu. Bagi frater Monfort sampai pada hari perayaan syukur ini kata AKAN itu harus dihapus sehingga menjadi “perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib kunyanyikan”. Selanjutnya, jika nanti pada batas akhir perjuangan hidup membiara kata AKAN itu harus diganti dengan kata SUDAH sehingga pada batas akhir frater Monfort boleh berkata “perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib SUDAH kunyanyikan”.  Jadi ikrar 25 tahun silam, syukur hari ini  merupakan rentang waktu melaksanakan komitmen menyanyikan perbuatan ajaib Tuhan menuju kesudahannya. Dan untuk sampai kesudahan diperlukan kesetiaan untuk bersatu dengan Tuhan sang sumber Kesetiaan.
Sebagai manusia yang memiliki keterbatasan bisa saja dan memang menjadi hal biasa kita manusia kurang setia dalam memaknai komitmen untuk memaknai panggilan kita. Dalam kondisi seperti itu kita disadarkan bahwa Tuhan yang setialah yang berinisiatif memulai karya-Nya dalam panggilan seseorang. Tuhan memulainya dalam diri seorang terpanggil dan terus menyertai orang terpanggil sampai dengan memberi jalan penyelesaian yang terbaik. Keyakinan inilah yang mendasari perjalanan dan penghayatan panggilan hidup membiara frater Greogoris. Frater Gregorius yakin bahwa dirinya hanyalah alat di tangan Tuhan sehingga dalam kerendahan hati ia memilih perkataan Yesus sebagai dasar atau motto hidup membiaranya: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh.15,16). Bukan Gregorius yang memilih mengikuti Yesus tetapi Yesuslah yang memilih Gregorius mengikuti Yesus. Yesus memilih untuk meneruskan Kasih karena  Dia sendiri telah mengalami Kasih dari Bapa.”Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu (Yoh.15:9).
Frater Gregorius telah mendengarkan perkataan Yesus “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu”  Sejak 25 tahun lalu perkataan Yesus ini telah menjadi undangan dan ajakan bagi frater Gregorius untuk hidup dan berada dalam kasih. Hidup dan tinggal dalam kasih bagi Yesus hanya bisa dibuktikan dalam aksi menuruti perintah-Nya. Pola dan model aksinya adalah pola dan model Yesus sendiri yang menjalankan tugas perutusan Bapa. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Sudah 25 tahun kata-kata Yesus ini dimaknai frater Gregorius dalam tugas-tugas perutusan yang dipercayakan tarekat BHK kepadanya dalam spirit sang pendiri untuk mengasihi dengan hati. Dalam konteks ini kita bersyukur karena sudah 25 tahun frater Gregorius menjadi sahabat Yesus. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah.  Yesus memilih dan mengutus untuk menghasilkan sesuatu dan dalam konteks perutusan para murid buah-buah itu merujuk pada buah roh yaitu itu kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Gal.5,22-23).
Tuhan yang setia telah menyatakan kesetiaannya kepada kedua yubilaris dengan harapan keduanya tetap setia. Dewasa ini terlalu banyak orang yang pintar dan hebat tetapi terlalu sedikit orang yang setia. Banyak orang yang meninggalkan panggilan bukan karena mereka bodoh tetapi terutama karena tidak setia. Terlalu mudah bagi orang yang meninggalkan panggilan dan pilihannya, baik itu dalam kehidupan membiara maupun dalam kehidupan berkeluarga, dengan berdalih tidak ada panggilan lagi. Manusia cenderung menyalahkan Tuhan yang seolah-olah lelah memanggil manusia untuk setia. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah berhenti memanggil manusia untuk setia, hanya masalahnya manusia kadang-kadang kehilangan kesabaran dan kesetiaan untuk mendengarkan Tuhan dengan berbagai alasan.
Nabi Yesaya dalam bacaan pertama sesungguhnya mau menegaskan kepada kita tentang kesetiaan Tuhan dalam firman-Nya bagaikan hujan yang menyirami bumi sehingga bumi menumbuhkan kehidupan. Tugas dan perutusan seorang nabi untuk menyampaikan pesan kasih dan kebaikan Tuhan tidak pernah tanpa hasil. Setiap tugas perutusan seseorang dalam bimbingan Tuhan selalu membawa hasil sehingga selalu dirindukan. Keyakinan dan optimisme seperti inilah yang diungkapkan Paulus dalam bacaan kedua tadi. Bagi Paulus keadaan dunia dengan segala persoalannya tidak akan membatalkan kesetiaan Tuhan untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Sekali lagi, disadarkan bahwa kondisi manusia dengan dunianya tidak mengubah kesetiaan Tuhan tetapi sebaliknya, kesetiaan Tuhan justru membangkitkan semangat dalam diri manusia untuk belajar menjadi setia. Itulah salah satu perbuatan ajaib Tuhan-Kesetiaan-Nya- yang harus diakbarkan atau dikabarkan.
Hari kita bersyukur atas kesetiaan Tuhan menyertai kedua yubilaris sekaligus bersyukur untuk kesetiaan kedua yubilaris belajar dan menimba kesetiaan dalam rentang waktu 25 tahun hidup membiara. Seorang filsuf, Otto F.Bollnow pernah berkata:” Hanya manusia yang setialah yang mempunyai masa depan”. Bagi  Bollnow, manusia pertama-tama harus mengenal dan menerima dirinya melalui kesetiaan. Manusia baru akan menemukan identitas diri sesungguhnya dalam kesetiaan. Kesetiaan seseorang dalam mengalami jatuh-bangun akan membawa seseorang sampai pada tahap "mencintai dan mengerti diri"; “mencintai dan mengerti panggilannya” sebagai dasar baginya mencintai dan mengerti orang lain dalam memaknai panggilan. Orang yang setia akan melihat kelebihan dan kekurangannya secara seimbang dan tidak menuntut lebih. Kesetiaan seperti ini banyak dipraktikkan  para mistikus abad pertengahan.
 Belajar untuk setia dan tetap setia pada panggilan Tuhan bukan perkara gampang. Karena itu diperlukan pilar penopang  kesetiaan merupakan Kesadaran yang saya rumuskan dalam delapan Sadar yaitu Sadar Tujuan, Cinta, komitmen, waktu, emosi, komunikasi, perkara kecil, hikmat.
Sadar Tujuan: artinya orang hanya akan belajar setia dan akan terus setia kalau dia menyadari apa tujuan pilihan dan panggilan hidupnya. Panggilan  Tuhan kepada manusia untuk menjadi religius atau hidup berkeluarga adalah panggilan untuk tujuan tertentu.   Manusia yang  menjawab  panggilan itu harus bisa menyesuaikan diri dengan tujuan Tuhan memanggil. Sadar tujuan itu  penting untuk menghindari orang menyimpang jalan lain lalu tiba di tempat yang salah atau tersesat.
Sadar Cinta: Orang terpanggil hendaknya menyadari bahwa modal utama kesetiaan adalah cinta. Kesetiaan itu terasa menyenangkan kalau ada cinta. Mencintai Tuhan, pasangan, pekerjaan , pelayanan menumbuhkan kesetiaan. Ada ungkapan “cinta bisa tumbuh karena kebiasaan”. Hanya kalau kita menyadari cinta adalah modal kesetiaan dalam panggilan maka segala sesuatunya akan dikerjakan sebagai pelayanan yang menyenangkan, membanggakan, dan mengembangkan dan  bukan lagi beban
Sadar Komitmen: Kesetiaan berkorelasi dengan komitmen, ketekunan, dan tanggung jawab. Komitmen membutuhkan tekad dan tanggung jawab atas kepercayaan. Ketekunan merupakan proses yang diperlukan dalam kesetiaan. Ketekunan adalah modal yang diperlukan kesetiaan untuk mencapai tujuan. Dalam konteks panggilan religius komitmen secara eksplisit dan publik dinyatakan dalam kaul-kaul yang menuntut untuk dimaknai dan dan dihayati dengan bantuan regulasi konstitusi.
Sadar Waktu:  Waktu adalah rahmat dan kehidupan  karena itu kesetiaan juga ditentukan dalam kecermatan pemanfaatan waktu. Banyak kekacauan dalam kehidupan terjadi ketika orang tidak sadar waktu sebagai rahmat dan kehidupan. Karena Sadar waktu maka dalam kehidupan manusia membuat pembagian waktu  untuk Tuhan, pekerjaan, keluarga, dan pelayanan secara proporsional sehingga Anda dapat beribadah, berdoa, bekerja, pelayanan, bermasyarakat, serta beristirahat.
Sadar Emosi. Hidup kita merupakan campuran emosi positif dan negatif.  Untuk sebuah kesetiaan seseorang diharapkan  untuk memiliki tabung energi positif lebih banyak untuk menyeimbangkan hal-hal negatif yang dijumpai dalam hidup. Emosi positif tampak dalam cara pikir positif dengan mengenang segala kebaikan yang kita terima dari Tuhan, pasangan, dalam pekerjaan ataupun pelayanan. Semakin banyak tabungan emosi yang Anda miliki akan mampu menjaga deposit kesetiaan kita.).
Sadar Komunikasi: Kesetiaan membutuhkan kerja sama dengan pihak lain. “Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia” (2 Sam. 22:26). Kesetiaan tak cukup menjadi tugas atau kewajiban salah satu anggota tarekat dalam komunitas  atau pasangan dalam keluarga, melainkan tanggung jawab bersama yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu perlu komunikasi yang berkualitas sebagai perekat 
Sadar Perkara kecil: Kesetiaan  bertahan jika didasarkan pada nilai-nilai kehidupan. Belajarlah setia dari hal-hal kecil karena kecil itu indah. Tuhan mengevaluasi kita bukan berdasarkan apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita setia mengelola apa yang dipercayakan kepada kita. Dengan setia dalam hal-hal kecil Tuhan akan mempercayakan hal-hal yang lebih besar. Kita bekerja mencapai tujuan yang merupakan panggilan Tuhan. Pada saat yang sama kita bertanggung jawab atas aset yang dipercayakan.
Sadar Hikmat Tuhan. Kesetiaan merupakan hasil pilihan yang tidak terpengaruh perasaan atau situasi sesaat yang mudah berubah. Ayub memilih setia meski keadaannya makin memburuk (Ayb. 2:9-10). Untuk itu perlu kedewasaan, hikmat, dan pimpinan Tuhan. Hanya dengan kekuatan Tuhan yang memberi keteguhan dan kesanggupan bertahan ketika kita mengalami berbagai ujian dan pencobaan.
Kita yakin dan percaya bahwa kedua yubilaris bertahan dan setia dalam hidup panggilan karena mereka memaknai panggilan mereka di atas topangan delapan pilar kesadaran ini. Waktulah yang akan menyingkap segala-galanya. 25 tahun adalah waktu dalam hitungan tetapi sebagai orang terpanggil waktu 25 tahun adalah rentang penyaluran anugerah dan cinta Tuhan kepada tarekat frater BHK melalui kedua yubilaris sekaligus waktu merajut harapan. Waktu menunjukkan harapan akan pembebasan karena waktu yang dilalui kedua yubilaris bukan sekadar kronos (urutan) tanpa makna melainkan sebagai Khairos (saat-saat Tuhan menganugerahkan rahmat dan kebaikan).

Proficiat buat kedua Yubilaris, Tuhan yang memanggilmu itu SETIA karena  itu hendaklah hidupmu tetap menjadi saat untuk menyanyikan keajaiban perbuatan Tuhan. Selamat berbahagia…… Ad Multos Annos.

Wednesday, July 9, 2014

PERUTUSAN DAN GRATIA

Renungan Kamis Biasa ke-14 Thn.A/2 Cor Jesu Kamis, 10 Juli 2014
Hos 11:1,3-4,8-9; Mat 10:7-15
Buka
Sebagai pengikut dan murid-murid Tuhan kita semua dalam cara yang berbeda diutus untuk melakukan kebaikan bagi orang lain. Dalam iman kita yakin Tuhan  melengkapi semua orang yang berkehendak baik dengan rahmat yang cukup untuk menyempurnakan semua pekerjaan kita. Dalam perayaan hari ini marilah kita menyerahkan semua niat dan rencana baik kita untuk sesama. Biarlah TUhan yang melengkapi  semua  kekurangan kita. Mari kita awali perayaan ini dengan mengakui salah dan dosa kita…
Renungan
Warta kenabian Hosea dalam bacaan pertama menginformasikan kepada kita perihal ketidaksetiaan Israel pada janji dan  komite bangsa itu untuk menaruh kasih, ketaatan, kesetiaan kepada Yahwe.  Keluhan dan ketidakpuasan Yahwe akan perilaku bangsa Israel disampaikan melalui Nabi Hosea. Yahwe sudah menyatakan kasih dan kesetiaan kepada Israel sejak  bangsa Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir. Yahwe sudah menyertai perjalanan Israel menuju tanah terjanji dengan semua suka duka melintasi padang gurun. Melalui Hosea Tuhan bersabda: Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih.  Tali kesetiaan dan ikatan Kasih menggambarkan betapa Yahwe merindukan Israel yang setia kepada Yahwe.
Yahwe mengutus Hosea untuk mengubah perilaku, mental, dan arah hidup Israel ke jalan dan arah yang dikehendaki Yahwe. Perubahan perilaku, mental, dan arah hidup Israel yang dikehendaki Yahwe melalui Hosea bertujuan membebaskan Israel dari bencana dan ancaman. Dari bacaan pertama kita mendapatkan kebenaran bahwa: Langkah, dan pilihan kita untuk mengubah mental dan perilaku akan menepis setiap persoalan bahkan akan memindahkan kita dari persoalan karena Yahwe mempertim,bangkan semua usaha perbagaikan atas cara hidup kita.
Perubahan mental, perilaku, dan cara hidup hanya akan tampak dalam setiap tugas, pekerjaan  yang dipercayakan kepada kita. Injil menarasikan segmen pengutusan para murid untuk tugas yang dianggap mendesak dalam bentuk perintah, imperatif yang memerlukan tanggapan yang cepat dan tepat. Perintah Yesus untuk para murid tegas dan jelas. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Pernyataan Yesus ini mau menegaskan kepada kita bahwa ada banyak peluang dan kemungkinan bagi setiap murid Tuhan untuk melakukan sesuatu yang baik dan berguna.  Bagi, Yesus kerajaan surga diperuntukkan bagai orang yang sehat, orang yang hidup, orang yang bersih secara rohani dan tidak dikuasai pikiran dunia para setan. Perintah Yesus untuk para murid-Nya merupakan tugas  yang harus dilakukan. Para murid harus melakukan semuanya itu secara gratis karena memang memang para murid menerima rahmat pangggilan dan perutusan itu secara gratis.
Dimensi garatia atau Cuma-Cuma inilah yang menjadi alasan mengapa para murid dilarang membawa pelbagai perlengkapan. Hal ini mau menegaskan bahwa fasilitas berupa rahmat senantiasa menyertai setiap orang yang berkehendak baik. Perutusan para murid mau menegaskan sekaligus mengingatkan kita bahwa hidup kita segala segala kemampuan kita  adalah rahmat gratis dari Tuhan untuk setiap kita dengan harapan kita meneruskan pemberian gratis itu kepada siapa saja dalam tugas, karya dan panggilan hidup kita. Marilah kita belajar untuk menjadi murid Tuhan dalam tugas-tugas kita.  Kasih dan berkat Tuhan mendahului semua niat baik kita. Amin


Rm.Bone Rampung, Pr

Wednesday, June 25, 2014

BERPULANG

Reungan Misa Arwah Victoria Heni (61)
2 Kor 5:1.6-10; Yoh. 14,1-6
Sinar Bakti Malang, Rabu 25 Juni 2014
Buka
 Sidang duka yang terkasih dalam Tuhan. Saat ini kita datang ke tempat ini karena diundang oleh Almarhumah Victoria Heni melalui keluarga besar, sesama anggota tarekat untuk mengadakan rekoleksi singkat dengan tema kehidupan. Tema kehidupan merupakan tema pokok yang harus dimaknai dalam setiap peristiwa kematian. Berkumpul dan hadir di rumah duka berdoa untuk yang pergi adalah rekoleksi spontan  yang memungkinkan kita berhenti sejenak memaknai kehidupan kita. Sebagai  orang yang beriman akan Kristus kita sepantasnya bersyukur karena salah seorang yang kita cintai telah dibebaskan Tuhan dari belenggu kehidupan dunia.
Kita bersyukur karena Tuhan yang telah mengutus Victoria ke tengah kita, ke tengah keluarga, ke tengah persaudaraan kumunitas ke tengah masyarakat dipanggil pulang sesuai dengan batas waktu yang dijatahkan kepada almarhumah. Almarhumah dalam perjalanan mudik ke rumah Bapa. Kita berkumpul untuk melancarkan perjalanannya ke rumah Bapa dengan doa-doa kita. Kurban Kristus yang kita rayakan adalah korban yang menjamin keselamatan perjalan jiwa orang beriman. Kita berdoa dan berpengharapan Kristus sendiri menghantarnya ke dalam rumah Bapa. Kita awali doa dan syukur kitadengan mengakui kesalahan kita. Saya mengaku…

Renungan
Ada banyak kata yang kita kenal dan kita gunakan kalau ada orang yang meninggal. Ada kata meninggal, tewas, ada kata, mati, ada mangkat, ada kata gugur, ada kata wafat dan ada kata berpulang. Dalam konteks kita sebagai orang beriman tentu kita bisa dan harus bisa memilih kata yang pas. Kata apa yang lebih tepat? Saya memilih kata ”Berpulang” dan bukan mati atau meninggal. Mengapa? Karena kata-kata itu tidak bisa dikaitkan dengan iman apalagi menggambarkan harapan. Mati bermakna berakhirnya kehidupan, meninggal bermakna tinggalkan dunia.
Lain halnya dengan kata Berpulang, karena dalam kata berpulang ada muatan iman dan harapan. Berpulang berarti orang percaya ia pernah pergi dari suatu tempat dan kepergian itu sifatnya sementara karena pada waktunya akan pulang. Berpulang, bagi orang beriman berarti pula orang memiliki alamat rumah yang jelas. Pulang, berpulang adalah kata yang hanya bisa dipakai oleh orang yang mempunyai rumah. Pulang tidak akan dipakai oleh para gelandangan yang tidak mempunyai rumah. Setelah perayaan ini kita akan pulang dalam pengertian fisik karena tadi kita datang dari rumah kita.
Firman Tuhan yang kita dengarkan dari surat Paulus untuk jemaat Korintus dan penggalan injil Yohanes pada dasarnya berbicara tentang persoalan pulang dan berpuangnya manusia beriman. Mengapa orang beriman berpulang? Jawabannya karena di dunia manusia tidak mempunyai rumah abadi bagi jiwanya. Paulus membahasakannya secaa tepat dengan memilih kata kemah dan bukan rumah. Paulus berbicara tentang kemah sedangkan Yesus berbicara tentang rumah dan bukan kemah. Di sini jelas Paulus membahasakan kesementaraan hidup fisik di dunia sedangkan Yesus membahaskan keabadian hidup jiwa di alam baka.
Kemah dan rumah sama-sama bermakna tempat tinggal tetapi ada perbedaan mendasar antara kemah dan rumah. Kemah gamabran kesementaraan yang tidak sempurna sedangkan rumah menggambarkan keabadian yang sempurna dan tetap. Saya tidak tahu apakah saudara/i yang membeli alkitab edisi paling akhir menemukan rumusan baru untuk surat Paulus tadi. Apakah kata kemah sudah diganti dengan kata biara, rumah, hotel, istana, vila, apartemen? Saya yakin belum ada yang menggantikan itu. Itu artinya semua biara, rumah, hotel, apartemen, istana, vila yang dibangun manusia di bumi semewah dan semahal apa pun itu semua disebut kemah.
Dari sini jelas sekali pesannya untuk kita bahwa hidup dan kehidupan kita hanya kemah bukan rumah. Karena kehidupan kita hanya sebuah kemah, maka kita masih berpengharapan untuk mendapatkan rumah dan rumah itu sudah ada sebelum manusia, kita datang dan mendirikan kemah di dunia. Yesus sendiri meneguhkan pengharapan kita karena Dia menegaskan suatu rahasia besar bahwa di rumah Bapa tersedia tempat kediaman yang kekal bagi yang percaya. Rumah kita yang percaya hanya ada di dunia seberang. Yang kita tempati di dunia sekarang hanyalah kemah. Karena hidup kita hanya sebuah perkemahan maka tidak ada alasan bagi kita untuk menjadikan dunia sebagai istana kita.
Kalau kita berbicara tentang orang pulang maka kita tidak mungkin menghindari penggunaan kata jalan. Ketika manusia berpindah dari kemah di dunia menuju rumah di surga manusia berpeluang tersesat bukan saja karena terlalu lama di dunia tetapi terlebih karena di dunia manusia menggali jalannya sendiri sesuai dengan keinginan duniawinya. Sekali lagi suatu berita besar disampaikan Yohanes dalam injilnya bahwa kita mempunyai seorang penunjuk jalan bahkan sekaligus menjadi satu-satunya jalan yang harus kita lalui. Yesus adalah jalan tol, jalan bebas hambatan  bagi setiap orang percaya. Memilih jalan lain berarti siap menerima risiko tersesat dan tidak akan sampai ke rumah Bapa.
Dalam bahasa populer Pulang kita sebut mudik. Dan kalau kita berbicara tentang mudik maka tentu itu hanya berlaku sementara sedangkan berpulang adalah mudik abadi. Beberapa hari lalu saya mendapat berita dari kampung bahwa sepupu saya meninggal dan keluarga mengharapkan agar anaknya yang berkuliah di Malang secepatnya pulang ke kampung karena itu saya diminta untuk mengurus tiket. Tengah malam saya mencoba menghubungi agen penjualan tiket. Jawaban agen, tiket terjual habis untuk penerbangan esok hari dari Surabaya-Flores. Setengah jam kemudian saya dihubungi agen tiket yang menyampaikan kepada saya bahwa tiket tinggal satu tetapi harganya hampir 3 juta. Saya agak terkejut mendengar harga tiket semahal itu. Alasan mereka satu-satunya karena musim ramai menjelang mudik. Karena tidak ada pilihan lain, apalagi keluarga mendesak agar anaknya secepatnya tiba di Flores maka tiket semahal itu terpaksa diambil.
Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa urusan pulang untuk orang hidup itu mahal. Urusan pulang orang hidup itu merepotkan karena harus mencari tiket, harus berhadapan dengan para calo tiket yang mencari kesempatan untuk memeras calon penumpang terdesak karena ada berita duka. Beda dengan urusan pulang orang yang berpulang. Tiketnya sudah  dan selalu berstatus oke semenjak mulai berkemah di bumi, keberangkatan pasti, tujuannya juga jelas. Tiket untuk orang berpulang itu urusan Tuhan. Yang bisa kita lakukan hanya berdoa agar kepulangan orang yang kita cintai memberi pelajaran bagi kita untuk mengisi masa perkemahan di dunia dengan hal yang baik. Dalam iman kita percaya bahwa almahumah akan dijemput dan diantar Yesus menuju kediaman abadi.  Amin.

 Malang, 25 Juni 2014
Rm.Bone Rampung, Pr

Wednesday, May 14, 2014

BAHAN REKOLEKSI FRATER BHK

Bahan Renungan

Peringatan Wafat Pendiri Frater Bunda Hati Kudus

Malang, 20 September 2013



FRATER, BIARAWAN, GURU

MENJADI KELEDAI DI TANGAN TUHAN



1. Pengantar

Hari Kamis 12 September 2013 Frater Vinsen, Oversteh Komunitas Claket bertanya kepada saya. Romo, tanggal 20 ada pergikah? Saya tidak menjawab ya atau tidak tetapi saya malah balik bertanya: memangnya ada ap tanggal itu? “Hari itu ada rencana kegiatan siraman Rohani dalam rangka mengenang kematian sang pendiri Frtar BHK”, begitu, jawaban Fr.Vinsen. Oh kalau begitu saya bisa ikut, lanjut saya. Ya, nanti kami minta Romo juga memberi materi. Setelah itu tidak ada pembicaraan lanjutan. Senin malam, 16 September sambil menuci peralatan makan saya tanyakan kepada Fr.Vinsen apakah acara siraman rohani yang direncanakan itu jadi dilaksanakan? Ya, jadi Romo kata Fr.Vinsen. Lalu saya minta temanya dan kepada saya hanya disampaikan tiga kata yaitu Frater, Biarawan, Guru dengan catatan tambahan harus dikaitkan dengan kitab suci biar dianggap punya dasar biblis.



2. Tiga Kata Biasa yang Diluarbiasakan

Tadi pagi ketika saya mulai duduk di kamar menyiapkan bahan ini saya kesulitan menentukan teks kitab suci yang tepat untuk dijadikan sumber inspirasi. Juga pada saat itu muncul beberapa pertanyaan di dalam hati: apakah ketiga kata: Frater, Biarawan, Guru, yang diberikan kepada saya ini sungguh memiliki keistimewaan sehingga pantas dipilih menjadi payung sebuah kegiatan bertajuk Siraman Rohani? Apakah ketiga kata ini dapat direkayasa untuk menciptakan hujan yang akan menyirami lahan kehidupan para Frater. Apakah ketiga kata ini bisa memberi inspirasi untuk turunnya hujan menyirami lahan rohani para frater? Bukankah ketiga kata ini biasa, sering, selalu kita gunakan? Mengapa harus dijadikan bahan permenungan kita?

Dari pertanyaan-pertanyaan itu saya mencoba merumuskan asumsi dalam pertanyaan: Apakah ketiga kata itu memang punya makna dan penting untuk kita? Apakah karena ketiga kata itu telah mengalami atrisi atau kehilangan makna dan kekuatannya dalam kehidupan para frater? Kalau itu menjadi alasannya: maka dalam konteks pertemuan ini ketiga kata Frater, Biarawan, Guru jelas menjadi tiga kata biasa yang harus dimaknai secara luar biasa atau diluarbiasakan. Jika benar ketiga kata itu telah kehilangan makna, citra, nuansanya dalam keseharian hidup dan panggilan kita maka saat ini harus dijadikan sebagai momen revitalisasi dalamnya kita berusaha mengahadirkan, menyegarkan kembali makna ketiga kata itu.

Jika itu yang kita kehendaki dan jika itu yang terjadi maka perjumpaan ini tepat disebut sebagai peristiwa siraman rohani. Karena konteksnya siraman rohani maka saya percaya semua kita akan membuka lahan hati dan taman jiwa untuk menerima proses pemaknaan tiga kata biasa yang diluarbiasakan ini. Bagaimana kita jadikan tiga kata biasa itu menjadi tiga kata luar biasa? Jawabannya harus kembali pada konteks siapa yang menyebutkan kata-kata itu dan kepada siapa kata-kata itu dialamatkan. Ketiga kata biasa itu diucapkan oleh orang biasa dalam cara yang luar biasa. Orang biasa yang meluarbiasakan kata-kata itu pada akhirnya menjadi orang luar biasa dan dialah Pendiri Tarekat Frater BHK, Ignatius Andreas Schaepman. Tiga kata itu menjadi istimewa karena diucapkan oleh sang pendiri Tarekat Frater BHK dan dialamtkan kepada semua pengikutnya. Saya kira dalam pelajaran tentang sejarah Tarekat para frater telah mempelajari mengapa pendiri menggunakan kata Frater dan bukannya bruder.

Kata Frater, Biarawan dan Guru itu secara istimewa dikatakan pendiri sebagaimana tertulis pada buku doa Kongregasi Frater BHK terbitan tahun 1994 halaman 293 di bawah judul ” Pikiran-pikiran yang Membangun” pada point pertama tertulis kata-kata Pendiri dalam beberapa kalimat ini: (1) Saya memerlukan FRATER-FRATER yang berkeyakinan mendalam tentang pentingnya pendidikan kaum muda. (2) Saya memerlukan BIARAWAN-BIARAWAN yang Rajin yang unggul dalam kebijaksanaan dan kecakapan dijiwai oleh suatu itikat yang murni, pembaktian diri yang besar untuk tugas yang ditunjuk pembesar kepada mereka. (3) Saya memerlukan orang laki-laki yang sanggup mencamkan kebenaran dasariah kepada MURID-MURID yang dipercayakan kepada mereka. Dari kutipan kata-kata pendiri ini kita melihat ada kata Frater, Biarawan, sedangkan kata guru itu disembunyikan atau diandaikan ada dalam kata murid-murid. Kalau kita rumuskan secara singkat kata-kata pendiri tadi menjadi Saya MEMERLUKAN FRATER, BIARAWAN, DAN GURU.

Kata-kata dan kalimat bernada harapan dan membangun yang dikatakan sang pendiri ini tegas dan jelas. Ia MEMERLUKAN FRATAER, BIAARAWAN, DAN GURU. Kata memerlukan yang diletakkan di depan tiga kata itu sangat penting untuk dimaknai. Mengapa? Karena pemilihan untuk menggunakan kata MEMERLUKAN itu oleh pendiri saya kira bukan sebuah kebetulan tetapi memang betul adanya dan itulah yang betul. Pemilihan kata itu sesungguhnya (minimal dalam refleksi saya) merujuk pada satu momen penting dalam misi perutusan Yesus di mana Yesus juga harus menggunakan kata itu. Momen-momen puncak pelaksanaan misi Yesus diwarnai dengan pemakaian kata ”MEMERLUKAN” ini. Kita bisa ambil salah satu momen yaitu ketika Yesus hendak masuk kota Yerusalem Ia ketiadaan fasilitas transportasi. Untuk itu kita akan melihat bagaimana idealisme pendiri ini dikaitkan dengan apa yang menjadi misi Yesus.

Terinspirasi leh kata-kata sebagaipikiran yang membangun dari pendiri ini saya lalu memutuskan mengambil teks Markus tentang kisah Yesus masuk Yerusaelm yang biasanya dipakai pada hari perayaan Minggu Palma. Dalam konteks seperti inilah, saya kemudian merumuskan judul bahan pertemuan menjadi FRATER, BIARAWAN, GURU MENJADI KELEDAI DI TANGAN TUHAN.



3. Harapan Pendiri dalam Konteks Misi Yesus

Ada banyak hal yang menarik yang perlu kita maknai dan renungkan dari teks injil Markus tadi kalau dikaitkan dengan apa yang dikatakan pendiri tadi. Untuk kepentingan dalam pertemuan ini saya mengajak kita semua melihat dan memaknai beberapa kata kunci sebelum kita melihat keseluruhan pesan injil dengan status kita sebagai Frater, Biarawan, dan Guru yang diperlukan pendiri. Dalam teks tadi ada kalimat yang bernada perintah, bermodus imperatif yang sifat mendesak atau emergence. Yesus sudah dalam perjalanan mau ke Yerusalem. Yesus berhadapan dengan masalah biasa yaitu ketiadaan sarana, alat, media yang membawanya ke Yerusalem. Itu kondosinya. Begitu keadaan yang senyatanya. Untuk mengatasi kondisi ril itu Yesus meminta dua orang murid-Nya : "Pergilah ke kampung yang di depanmu itu. Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan segera menemukan seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Lepaskan keledai itu dan bawalah ke mari. Dan jika ada orang mengatakan kepadamu: Mengapa kamu lakukan itu, jawablah: Tuhan memerlukannya.

Dari penggalan teks ini kita coba melihat bahwa Yesus meminta kedua murid itu ke kampung bukan ke kota. Ini jelas bahwa orientasi dan pilihan, opsi Yesus itu diarahkan kepada orang biasa, orang sederhana, orang kampung. Yesus tahu di kota orang tidak mungkin repot memelihara keledai. Perintah Yesus itu tepat, sesuai kenyataan. Ia inginkan agar murid yang disuruh itu tidak kebingungan dan tersesat. Arah dan orientasi pencarian sesuatu itu harus jelas. Dengan cara ini dan dalam model seperti ini Yesus sebagai guru member perintah yang jelas. Perintah Yesus bukan saja jelas tetapi juga bercorak progresif. Yesus tidak menyuruh dua murid itu ke sembarang kampong tetapi kampong yang ada di depan. Dari sini juga jelas bahwa Yesus mau menunjukkan model kehidupan yang terus maju untuk sebuah kejamuan. Yesus memberi arah dan orientasi ke masa depan, dan bukan ke masa lampau karena perjalanan itu harus ke depan bukannya mundur. Sebagai guru yang berhadapan dengan murid-Nya Yesus mengajarkan apa artinya berjalan ke masa depan, berpandangan dan bertindak progresif sekaligus mencegah mentalitas undur-undur yang selalu berjalan mundur.

Kedua murid yang diminta ke kampong di depan itu berhadapan dengan kenyataan seperti yang digambarkan Yesus. Mereka masuk kampong dan mendapatkan keledai yang tertambat. Di sini jelas yang dibutuhkan Yesus dari dua murid itu adalah kerelaaan mereka untuk pergi ke kampong yang ada di depan karena yang dibutuhkan itu sudah dipastikan TUhan. Sampai di sini kita boleh disadarkan bahwa perintah TUhan untuk melakukan sesuatu dan janji-Nya untuk mendapatkan sesuatu itu menjadi sebuah kepastian. Orang yang menjalankan perintah sesuai dengan rencana TUhan pasti mendapatkan apa yang dijanjikan. Dalam kenyataan seringkali orang merasakan bahwa janji-janji Tuhan tidak tergenapi seperti pengalaman dua murid tadi yang mendapatkan keledai yang sudah tertamabat. Kalau kegagalan yang dialami itu bukan karena Tuhan yang tidak menyiapkan tetapi mungkin karena manusia memlih jalan lain, jalan yang lebih panjang dan berliku-liku, mungkin juga karena manusia bukannya ke depan tetapi selalu mau ke belakang. Hal yang sama terjadi dalam soal panggilan. Orang sering mengatakan tidak ada panggilan kalau terpaksa harus meninggalkan biara. Yang benar adalah tidak adanyanya jawaban dari manusia atau orang menunda memberikan jawaban. Yang jarang ada hanya jawaban manusia karena manusia lebih mendengarkan suaranya sendiri, keinginannya sendiri.

Dua murid tadi mendapatkan keledai yang tertambat yang disediakan Tuhan di kampung yang di depan justru karena mereka berada di jalur yang benar dan berjalan maju ke satu sasaran yang tepat. Kedua murid itu dalam bahasa sekarang boleh dikatakan sebagai dua orang yang pandai memanfaatkan momentum. Mereka telah bertindak tepat waktu, tepat arah. Kegagalan yang selalu menimpa manusia bukan pertama-tama karena tidak adanya momentum tetapi terutama karena orang tidak pandai memanfaatkan momentum dalam arti bertindak tepat waktu dan tepat sasaran. Di dunia ini sebenarnya tidak ada orang gagal. Yang ada hanyalah orang yang tidak pandai menciptakan dan memanfaatkan momentum. Dua murid itu mengajarkan kepada kita tentang arti ketaatan dalam menjalankan sebuah amanat untuk mendapatkan apa yang dicari. Ada satu prinsip di kalangan komunitas SVD berkaitan dengan soal momentum ini. Mereka berprinsip dalam melayani, yang paling utama adalah fokus pada rencana dan program pelayanan bukan pada berapa uang yang disiapkan. Bagi mereka, program dan rencana di kantong kita, sedangkan uang Tuhan sudah titipkan di kantong orang. Prinsip ini hanya mau menegaskan bahwa segala kehendak baik pasti ada jalannya.

Keledai yang didapatkan kedua murid Yesus itu sesuai dengan apa yang dikatakan Yesus. Keledai itu didapiti dalam kondisi tertambat, terikat. Keledai yang diperlukan itu ternyata bukan sembarang keledai tetapi keledai memiliki kualifikasi tertentu. Keledai itu umurnya muda, dan juga belum pernah ditunggang orang lain. Kalau kita pikir-pikir sebagai orang kampung, tampaknya Yesus ini mau mencari gara-gara, menacari soal dan masalah. Mengapa? Biasanya kuda tunggangan itu dilatih berulang-ulang sebelum dijadikan kuda tunggangan dan itu membutuhkan keberanian karena kuda yang baru mau ditunggang pasti memberontak. Lalu kuda kampung kalau masuk kota jelas malu. Untuk mengekspresikan rasa malu seekor kuda masuk kota biasanya memberontak dan ingin lari apalagi kalau berhadapan dengan banyak kendaraan. Keledai itu, kalau dilihat mirip dengan kuda. Lalu Yesus mencari masalah: mengambil keledai orang, keledai masih muda, belum pernah dilatih dan ditunggangi, harus bawa masuk kota, harus berhadapan dengan orang banyak yang tidak mengerti perasaan keledai kampung karena mereka bersorak sorai saat keledai ditunggangi Yesus. Bagi kita, aksi Yesus ini tergolong nekad untuk tidak mengatakan gila. Hal yang mengherankan kita justru pemiliknya mengizinkan keledainya pesiar bersama Yesus ke kota Yerusalem. Lebih mengherankan lagi keledai itu tidak merasa asing atau memberontak ketika dibawa dan dipisahkan dari induknya. Keledai itu begitu lugu, tenang, sopan, rela diambil, rela dipisahkan, ditunggang memasuki kota Yerusalem. Tanggal 26 Juni 2011 untuk pertama kalinya saya melintas di jalan minggu palma ini. Setelah melihat kubur nabi Daud kami berjalan dari bukit Sion ke Yerusalem dan harus berjalan turun melewati gereja ayam berkokok, gereja air mata, gereja taman Getzemani di lembah Kidron lalu naik menuju Tembok Ratapan dan masjid Yerusalem. Saat itu saya membayangkan seekor keledai muda dari kampung ditunggang Yesus yang disoraki ribuan manusia seperti yang diksahkan dalam teks tadi.

Kisah keledai muda dengan sederetan kualitasnya yang diplih Yesus dalam teks tadi sesungguhnya juga menjadi bahan permenungan bagi kita. Kalau Yesus memilih keledai muda itu artinya dia akan menjadi pelatih agar keledai itu tidak memberontak saat ditungangi dan saat masuk kota. Terbukti keledai muda itu menjalankan peran dan fungsinya membawa Yesus ke Yerusalem tanpa masalah. Itu artinya, meskipun baru, muda, belum pernah ditunggangi, keledai itu mengikuti, taat pada apa yang dikhendaki Yesus sebagai guru yang menjinakkannya. Sampai di sini kita juga disadarkan bahwa keledai itu memiliki kualifikasi diri yang unggul yang memungkinkan program Yesus itu berjalan sesuai dengan rencana. Sikap keledai yang lugu, tenang, membawa Yesus ke pusat hidup yaitu kenisah Yerusalem masa itu. Juga kita disadarkan bahwa ketika Yesus tiba di Yerusalem karena jasa seekor keledai yakinlah kita bahwa keledai itu memang sudah dilepaskan dari tambatan dan ikatan di kampung asalnya. Suatu model pelepasan dan pembebasan diri untuk dimanfaatkan bagi kepentingan yang lebih besar.

Pertanyaan paling pokok untuk kita adalah: mengapa keledai itu diizinkan diambil, dilepaskan dari ikatan dan tambatannya. Jawabannya hanya satu yaitu “TUHAN MEMERLUKANNYA”. Kisah injil membutktikan bahwa keledai itu telah memenuhi KEPERLUAN TUHAN dengan menjalankan fungsi dan peran yang Tuhan rencanakan.

Dalam terang kata-kata Tuhan ini kita juga percaya bahwa pendiri tarekat frater BHK bukan kebetulan kalau menggunakan rumusan yang sama berkaitan dengan para frater pengikut semangatnya. Sebagai perpanjangan tangan Tuhan yang merindukan keselamatan banyak orang sang pendiri juga melanjutkan kata-kata Tuhan. “Saya MEMERLUKAN” bukan Keledai tetapi pra FRATER, yang berstatus BIARWAN, dengan tugas sebagai GURU. Terus terang sebenarnya saya senang menggunakan teks lain untuk pertemuan ini tetapi ketika saya membaca kata-kata pendiri saya lalu menggantinya dengan teks Tadi. Kata MEMERLUKAN menjadi kata penting sekaligus menghubungkan apa yang dikatakan dalam injil dengan apa yang dirindukan sang pendiri.

Ketiga kalimat yang disampaikan sang pendiri itu memuat tiga kata kunci permenungan kita dan tentu saja kaya arti dan syarat makna. Mengapa? Karena ketiga atribut itu (Frater, Biarawan, Guru). Ketiga kata itu dipilih dan digunakan sebagai atribut yang membedakan dan memisahkan. Pemakaian ketiga kata itu sebagai atribut memberi ciri khas atau pembeda antara apa yang boleh dan tidak boleh, antara apa yang pantas dan tak pantas untuk seorang Frater, biarawan, dan guru. Status kita, tanpa kita sadari telah membenai kita karena ada keharusan yang melekat pada status itu. Ketika kita menyebut diri sebagai frater, biarawan, guru maka sejumlah norma akan diikutsertkan sebagai ciri pembeda. Ciri pembeda berdasarkan status itukemudian terjelma dalam pola perilaku. Dalil dan hukum sosiologis mengatakan bahwa jabatan dan status membuat orang tidak bebas. Mengapa karena setiap jabatan dan status ada keharusan dan kewajibannya. Contoh sederhana: Kalau cara bicara seorang frater tidak itu tidak berbeda dengan cara bicara seorang pemuda yang bukan frater maka di situ status frater tidak lagi memiliki unusr pembeda. Semakin spesisfik dan intens seseorang mengidupi apa yang dipilihnya semakin mudah orang mengafirmasi status orang itu. Maaf sebagai contoh saja: Kalau setiap hari frater Dam mengenakan jubah saat mengikuti misa maka orang yang bukan frater jelas mengakui bahwa dia itu frater karena salah satu identitas pembedanya ia tampakkan. Ketika di warung makan sebelum makan kita membuat tand asalib, maka orang yang bukan katolik yang melihat itu akah mengafirmasi atau menegaskan bahwa kita pasti orang katolik. Persoalan identitas dan unsur pembeda identitas itulah sesungguhnya yang mau dikatakan sang pendiri.

Tiga penggalan kalimat pendiri yang saya kutip tadi disertai dengan unsur yang merujuk pada kondisi dan kualitas tertentu. Kualifikasi itu melekat dan menyatu dengan atribut atau identitas. Identitas FRATER ditandai dengan kedalaman kayakinan akan pentingnya pendidikan. Itu artinya kalau keyakinan akan pentingnya pendidikan kaum muda melemah atau semakin dangkal maka identitas kefrateran itu dipertanyakan. Identias atau status biarawan harus diwarnai dengan kualitas diri yang rajin, unggul dalam kebijaksanaan dan kecakapan, beritikat murni dalam membaktikan diri. Jika kerajinan mengendor kebijaksanaan menipis dan pengabdian tidak total maka sama artinya kita tidak memenuhi harapan dan kerinduan sang pendiri. Atribut guru dikaitkan dengan kualitas interaksi dengan para murid dalam wujud kemampuan menanamkan kebenaran iman.



4. Frater, Biarawan, Guru itu Faktanya

Status Frater, Biarawan, Guru itu sudah menjadi fakta untuk kita. Itu artinya kita adalah orang-orang yang dimaksukan pendiri untuk mengemban misi tertentu (dalam hal ini berkaitan dengan pendidikan) dengan kualifikasi yang standar. Kalau tiga status itu menjadi miliki kita dan melekat pada diri setiap kita para frater maka kita mau tidak mau menyadari atau kalau perlu disadarkan bahwa seiap kita telah memenuhi kriteria standar minimal dalam ukuran sang pendiri. Faktanya kita sudah bergabung dalam persaudaraan frater BHK karena setiap kita telah melepaskan tambatan dan ikatan pada tempat asal dan kampung halaman kita. Karena itu nunasa kebersamaan harus diwarnai semangat pendiri sehingga yang dibicarakan ada wacana bersama dan bukannya wacana dari kampung ke kampung. Keledai yang ditunggang Yesus itu sampai di kota Yerusalem karena telah dilepaskan dari ikatannya di kampung asalnya. Ketika keledai itu dipakai Yesus, pusat perhatian banyak orang bukan lagi pada keledainya melainkan Yesusnya.

Nasib keledai tidak banyak dipersoalkan tetapi yang pasti dia telah melepaskan ikatannya dan berbangga sebagai spesies binantang yang selalu dipilih Yesus. Dalam konteks analogi kita juga telah diambil karena tarekat memerlukan kita, karena itu yang paling utama dan terutama bukan lagi soal diri kita tetapi soal dan misi tarekat. Yang sulit dan sering menjadi masalah dalam kehidupan komunitas religius seperti kita adalah mudah mengucapkan tekad untuk melepaskan tambatan dan ikatan dengan asal kita (kampung, keluarga, dll) tetapi tanpa kita sadari dalam cara berberda kita berlaku seperti laba-laba yang berusaha merajut benang halus yang pada akhirnya justru menjadi tali tambang yang mengikat kita kembali.

Sesungguhnya, jika kita hidup menurut apa yang dikehendaki sang pendiri maka kita akan lebih mudah untuk belajar pada cara sang keledai dalam menjalankan peran dan fungsinya dalam kualifikasi yang tidak diragukan. Keledai itu rela dilepaskan, berjalan jauh, tekun, setia, tabah dan tahan menahan beban karena ditunggangi tetapi dalam semangat yang tak pdam ia terus maju mengantar Tuhan ke tempatnya. Sebagai frater, biarawan, guru kita jelas menerima tugas dan tanggungjawab yang kadang-kadang kita melihatnya sebagai beban. Keledai itu tidak pernah berpikir membawa Yesus itu sebagai beban, Buktinya ia dengan sukses tanpa hambatan ia membawa Yesus ke Yerusalem.

Pendiri dan terekat memerlukan kita karena banyak Yesus muda zaman sekarang yang ketiadaan kendaraan untuk sampai ke pusat kota Yerusalem. Bagi sang pendiri masih banyak Yesus yang hadir dalam diri orang muda yang tidak berpendidikan yang harus diantar untuk menikmati sikacita berupa pengatahuan dan iman yang benar. Pertanyaannya apakah kita masih mau menjadi keledai bagi mereka? Lebih dari itu kalau kita mau menjadi keledai, kualitas apa ygar ang harus kita miliki bisa membawa orang pada kesuksesan?

5. Belajar pada Yesus sebagai Frater, Biarawan dan Guru

Jika kita melihat cara hidup Yesus kita boleh menyebut nya Frater, Biarawan dan Guru. Gelar frater dan biarawan memang tidak pernah dinyatakan di dalam kitab suci tetapi kehidupan para frater dan keberadaan biara zaman ini tidak bisa dilepaskan dari kehidupan dan misi Yesus. Memang banyak gelar yang diberikan kepada Yesus yang ada dalam kitab suci. Gelar guru untuk Yesus muncul justru ketika Ia memiliki pengikut yang kemudian disebut sebagai para murid. Karena yang ada dalam kita suci itu gelar guru baiklah dalam konteks acara ini kita perlu melihat sedikit tentang bagaimana Yesus sebagai guru itu.

Banyak buku atau artikel telah diterbitkan atau dipublikasikan berbicara tentang siapakah Yesus dan karya-Nya. Namun, disayangkan kebanyakan sarjana kurang memperhatikan atau telah mengabaikan potret Yesus sebagai guru.William Barclay menulis sebuah buku berisi empat puluh dua bab dengan masing-masing mengenai gelar Yesus dalam Perjanjian Baru, tetapi tidak satupun yang membahas Yesus sebagai guru (rabi). Demikian juga halnya Frank J. Matera dalam pembahasan tentang Kristologi telah mendaftarkan sejumlah identitas dan gelar Yesus, tetapi tidak memasukkan Yesus sebagai guru, apalagi membahasnya. Pengecualian mungkin R. H. Fuller dalam bukunya berjudul Dasar Kristolgi Perjanjian Baru (The Foundations of New Testament Christology) telah memasukkan Yesus sebagai rabi dalam pembahasannya. Namun, pembahasannya tentang Yesus sebagai rabi juga terlalu singkat hanya sekitar dua halaman penuh dari bukunya.

Gelar Yesus sebagai guru atau rabi berbda dari Rabi Yahudi. Perbdaan itu adalah (1) Ia bukan hanya seorang guru (manusia) seperti para rabi Yahudi, tetapi juga adalah Tuhan dan Mesias (2) Ia tidak pernah belajar pada seorang rabi yang lain seperti kebiasaan para rabi atau guru orang Yahudi pada zaman-Nya (3) Yesus mengajar dengan penuh otoritas dan keberanian. Yesus mengajarkan dengan penuh otoritas. Otoritas Yesus dalam pemberitaan dan pengajaran-Nya jelas terlihat dari instruksi-instruksi-Nya dengan satu pernyataan penekanan “Aku berkata kepadamu.” Bahkan dalam pengajaran-Nya, Yesus sering menunjuk kepada diri-Nya sebagai Anak Manusia, Mesias, Anak Allah. ( 4) Yesus mendapatkan murid-murid dalam satu cara yang sangat berbeda dengan para rabi Yahudi. Pada umumnya murid-murid Yahudi mencari guru-guru mereka, tetapi murid-murid Yesus bukan mencari Dia, melainkan Ia yang mencari dan memanggil mereka di tengah-tengah aktivitas-aktivitas mereka setiap hari (5) Yesus mengajarkan kepada bermacam-macam orang atau pendengar tanpa perbedaan (6) Yesus mengajar bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi diikuti oleh contoh dan teladan-Nya (7) Hubungan di antara Yesus dan murid-murid-Nya juga bersifat permanen dan kekal.

Dari perbedaan itu kita bias merumuskan profil Yesus sebagai guru. Ada beberapa profil Yesus sebagai guru yang menarik yaitu:

1. Yesus menemui orang-orang di mana mereka berada dan dengan demikian memampukan mereka menjadi apa yang mereka ingnkan. Dengan tindakan ini, Ia dapat menemui berbagai jenis orang dan orang-orang ini dapat menerima Dia secara serius karena kasihd an kemurahan-Nya sebagaimana terlihat ketika Ia menolong kesulitan dalam pesta pernikahan, mempedulikan perempuan Samaria yang berdosa, menyembuhkan anak pegawai istana (4:46-54), memberi makan lima ribu orang, menyembuhkan orang-orang sakit, dan membangkitkan Lazarus.

2.Yesus seringkali menggunakan unsur-unsur alam sekitarnya, seperti air, angin, makanan, domba-domba, serigala, gembala, untuk menyampaikan dan mengajarkan kebenaran rohani tentang diri-Nya maupun tentang Bapa, supaya menarik perhatian para pendengar-Nya dan membuat mereka lebih dapat mengerti pesan yang ingin disampaikan-Nya. Dalam masing-masing contoh, apakah melalui perumpamaan, amsal-amsal, atau pelajaran-pelajaran dari alam, Yesus telah menggunakan realita-realita setiap hari untuk mengajak para pendengar-Nya untuk melihat hal-hal itu secara berbeda.

3. Yesus hidup sesuai dengan apa yang Ia ajarkan dan sampaikan. Tujuannya untuk membawa perubahan dan pembaharuan pada diri para pendengar-Nya. Yesus mengajar bukan hanya dengan kata-kata yang manis seperti rabi Yahudi, tetapi juga disertai oleh perbuatan-perbuatan-Nya yang sesuai dengan ajaran-Nya.

4. Yesus berpusat pada Allah sebagai sumber otoritas-Nya. Walaupun Ia adalah Anak Allah yang diutus oleh Bapa dengan penuh kuasa dan kehendak-Nya sendiri, Yesus selama di dunia tidak pernah mencari hormat dan kemuliaan bagi diri-Nya sendiri, melainkan senantiasa bergantung dan memuliakan Bapa dalam menyelesaikan tugas Bapa. Ketergantungan-Nya kepada Bapa dinyatakan oleh tindakan-Nya yang senantiasa bersekutu dan berkomunikasi dengan Bapa melalui doa-doa-Nya. Komunikasi-Nya dengan Bapa membuat Ia dapat senantiasa fokus pada tugas Bapa yang harus Ia laksanakan dan selesaikan.

Dalam mengajar sebagai guru Yesus menggunakan beberapa metode yaitu (1) menggunakan perumpamaan (2) menggunakan dialog-dialog dan tanya jawab yang memungkinkan terjadinya interaksi secara langsung; Yesus dapat memperkenankan diri-Nya dan karya-Nya; dapat mengetahui sejauh mana pengertian para pendengar-Nya (3) banyak menggunakan simbol atau metafor dalam menyampaikan kebenaran rohani menyangkut identitas dan karya misi-Nya sebagai Mesias, Anak Allah (4) Ia menggunakan wacana (discourse). Isi wacana Yesus baik berkaitan dengan penyataan diri-Nya tentang Bapa, identitas dan karya misi-Nya menyangkut keselamatan dan hidup kekal bagi orangorang yang percaya, kedatangan Roh Kudus, dan misi Yesus melalui murid-murid yang akan datang.

6. Penutup

Pada suatu hari Kamis Mulla Nasrudin berpakaian lengkap. Ia mengenakan topi, sorban, baju koko, dan kain sarung. Ia menunggang seekor keledai. Semua orang keluar dari rumah menyaksikan Nasrudin yang berpakaian lengkap menunggang keledai. Yang menggemparkan warga adaalah: nasrudin menunggang keledai dengan posisi muka ke kebelakang. Mengapa tuan menunggang keledai dengan wajah ke belakang? Tanya seorang yang berpasan dengan Nasrudin. Ya supaya saya bias melihat apa yang telah saya lalui. Apakah tuan ke tempat pesta? Apakah nanti tuan tidak tersesat? Tidak, keledai ini sudah tahu jalan dan kemana saya diantarnya? Apakah tuan hendak menghadiri pesta? Tidak, saya mau pergi Sholat Jumad di masjid, jawab Nasrudin. Apakah tuan lupa bahwa hari ini baru hari Kamis? Saya ingat hari ini hari Kamis, jawab Nasrudin. Lalu mengapa tuan berangkat hari Kamis? Apakah Anda tidak pernah berpikir bahwa keledaiku berjalan pelan. Syukur-syukur kalau hari Jumad saya tiba di Mesjid, jawab Nasrudin mengakhiri dialog itu.

Kita memperingati hari kematian pendiri berarti kita dipaksa untuk mengambil posisi ke belakang sambil berjalan ke depan untuk melihat kembali semua yang pernah dikatakan dan semua yang pernah dilakukan pendiri dan pendahulu kita. Identitas kita sudah jelas sebagai Frater, Biarawan, dan Guru dan setiap kita ingin member makna pada semua identitas itu.Yang diperlukan adalah rencana dan target kita. Kita tentu ingin menjadi keledai yang membawa Yesus sampai ke Yerusalem atau keledai yang membawa Nasrudin ke Masjid. Semoga harapan dan keinduan Bapak Pendiri terus berbuah dalam karya para Frater. Sekian dan terima kasih. Tuhan memberkati!



Claket Malang Jumat, 20/9/2013 pkl.13.00





KELUARGA: PINTU PANGGILAN

Renungan Misa Minggu Panggilan (ME.Distrik Malang)

Kis. 2:14a,36-41; 1Ptr. 2:20b-25; Yoh. 10:1-10

Paroki Lohdalem Malang

Buka

Kita sering melihat lukisan, poster yang menggambarkan Yesus menggendong domba. Gambaran melukiskan kebaikan Tuhan yang menjaga dan melindungi setiap kita seperti halnya gembala kepada domba peliharaanya. Gambaran inilah yang sering juga disampaikan di Perjanjian Lama, yaitu Tuhan adalah Gembala dan umat-Nya adalah kawanan dombanya (Mzm 23). Para raja dan imam juga disebut sebagai gembala, yang ditugaskan Allah untuk menjaga dan memimpin umat-Nya. Namun, Nabi Yeremia memperingatkan umat akan adanya gembala-gembala yang tidak memperhatikan domba-dombanya, yang mengakibatkan domba tercerai berai.

Pada hari minggu panggilan ini kita semua sebagai keluarga-keluarga katolik diharapkan terpanggil menjadi gembala yang baik dan sekaligus menjadi pintu pintu menuju kawanan domba. Kita berdoa semoga semakin banyak keluarga yang menjalankan tugas sebagai gembala terutama dalam kaitannya dengan pendidikan anak-anak di dalam keluarga.



Renungan

Sebelum saya menyampaikan renungan izinkan saya bertanya kepada semua umat, keluarga yang hadir dalam perayaan ini. Apakah ada dari antara umat, bapak dan ibu yang hadir ini, keluarga yang mempunyai putra/inya atau anggota keluarga dekat yang menjadi romo, frater, bruder, atau suster? Jika ada, bagaimana perasaan Bapa, ibu jika salah seorang putra/inya terpanggil menjadi imam, biarawan/ti? Jika tidak ada, coba bayangkan kalau saya dan romo-romo ini menjadi anak bapa/i. Bagaimana perasaan bapa dan ibu menyaksikan kami sebagai putramu tampil memimpin kita dalam ekaristi ini? Senang, bangga, bahagia?

Setiap kali saya mengikuti upacara pentahbisan imam atau pengikraran kaul kekal biarawan/ti umumnya banyak orangtua yang menangis. Mereka menangis bukan karena sedih tetapi sebaliknya karena berbangga, terharu, berbahagia. Hal yang sama saya juga kami alami ketika ditahbiskan menjadi imam tahun 1995. Sejak itu sampai saat ini kami menyadari bahwa siapa pun yang menjadi imam, biarawan/ti tidak bisa menyangkal adanya peran keluarga, peran orangtua.

Hari Minggu ini ditetapkan gereja sebagai hari Minggu Panggilan seluruh dunia. Paus Fransiskus dalam pesannya untuk hari Minggu Panggilan hari ini menegaskan tentang pentingnya Panggilan untuk Bersaksi Bagi Kebenaran, yang dirumuskan sebagai tema Minggu Panggilan yang kita rayakan hari ini. Karena itu di mana-mana di seluruh gereja hari ini ada berbagai kegiatan berkaitan dengan promosi panggilan. Kemarin siang beberapa frater BHK di Komunitas Claket 21 Malang sibuk menyiapkan brosur dan bahan-bahan yang akan disampaikan dalam kegiatan aksi panggilan yang akan dilaksanakan di Semarang. Hampir semua komunitas biara di kota Malang kemarin mengutus anggotanya mengadakan promosi panggilan untuk orang muda agar tertarik menjadi biarawan, biara wati, imam, bruder dan suster. Sasaran promosi panggilan seperti itu diarahkan kepada orang muda.

Dalam konteks Minggu Panggilan itu, kelompok ME Keuskupan Malang hari dan di sini juga mengadakan promosi panggilan. Jika dibandingkan dengan kelompok sasarannya, promosi panggilan dalam pengertian umum sering disamakan dengan promosi untuk orang muda kita yang terpanggil menjadi imam, biarawan/ti. Kita sering dan sudah menjadi salah kaprah jika berbicara tentang panggilan artinya yang mau menjadi imam, frater, bruder, suster. Lebih tidak adil lagi kalau ada sikap dan pandangan bahwa menjadi panggilan menjadi imam, biarawan/ti itu lebih muliah dari panggilan hidup berkeluarga. Pandangan seperti ini perlu diluruskan. Hemat saya promosi gaya ME hari ini merupakan promosi panggilan yang paling utama dan pertama. Menagpa? Karena tidak ada panggilan tanpa peran keluarga. Tidak ada panggilan tanpa melibatkan orangtua. Tidak imam, biarawan/ti, bahkan uskup dan paus sekaligun yang dikirim langsung dari langit, tanpa peran keluarga. Yesus saja, meskipun Tuhan diutus dan dihadirkan Bapa melalui keluarga Nasareth. Karena itu, promosi panggilan yang paling mendasar seharus dan semestinya pertama-tama dirahkan kepada keluarga. Diarahkan kepafa keluarga karena keluarga merupakan seminari (tempat persemaian) pertama benih-benih panggilan baik panggilan khusus maupun panggilan umum.

Benih-benih iman, dan benih-benih panggilan itu ada dan lahir di tengah keluarga. Keluaraga adalah lahan panggilan karena itu kesuburan banggilan untuk menjalani panggilan khusus menjadi imam biarawan/ti sangat mengandaikan dan sekaligus menggambarkan kesuburan hidup beriman keluarga-keluarga Kristiani. Prinsip alam meyakinkan kita bahwa buah yang baik datang dari pohon yang baik.

Bacaan-bacaan hari Minggu Panggilan ini mengajak kita untuk merenungkan panggilan kita masing-masing sebagai pengikut Kristus. Sebagai pengikut kristus semua kita mencontohi cara hidup dan cara kerja-Nya. Cara hidup dan cara kerja Yesus yang dibahasakan dalam bacaan hari ini diringkas dalam dua kata kunci yaitu kata “Pintu” dan kata “Gembala”

Rumah selalu ditandai pintu. Semua rumah tempat tinggal kita mungkin tanpa jendela tetapi tidak mungkin tanpa pintu. Setiap rumah minimal memiliki satu pintu. Dan pintu biasanya menjadi penentu bagian terpenting dan terdepan rumah kita. Semua kita tahu apa itu pintu, di mana biasanya letak pintu sebuah rumah, apa fungsi pintu, apa syarat sebuah pintu yang baik dan lain lain. Yesus dengan sengaja menyebut dirinya sebagai sebuah pintu karena semua orang tahu apa itu pintu dan apa fungsinya. Yesus bertolak dari dan menggunakan penga¬laman biasa agar pewartaan-Nya mudah diterjemahkan dan dipahami dan diikuti.

Apa maknanya jika Yesus menjadikan dirinya sebagai sebuah pintu. Ketika Yesus menjadikan dirinya sebagai sebuah pintu, maka pintu akhrinya tidak lagi sekadar jalur yang dilalui saat keluar dari rumah atau datang memasuki rumah. Pintu rumah membahasakan kehidupan karena pintu rumah bisa memberi informasi tentang keadaan penghuni rumah. Pintu membahasakan kondisi mental Hal itu dijelaskan juga oleh Yesus dalam Injil. Cara memperlakukan pintu menentukan wa¬tak orang tersebut. Rumah dengan pintu terbuka membahasakan penghuninya bersifat terbuka dan menerima siapa saja. Rumah dengan pintu yang selalu terbuka mencerminkan keadaan lingkungan yang aman, tertib, tanpa kecurigaan satu sama lain. Sebaliknya rumah yang pintunya selalu tertutup dibentengi pagar, tembok, kawat berduri tanpa sadar mau mengatakan orang lain semuanya dicurigai sebagai pencuri.

Yesus menegaskan bahwa cara seseorang memperlakukan pintu menentukan identitas dan kualitas diri orang itu. Orang yang keluar masuk lewat pintu itu biasa dan baik karena memang pintu dibuat untuk itu. Sebaliknya, ketika seseorang mengabaikan pintu lalu keluar masuk melalui lobang yang lain termasuk melalui jendela maka orang itu diberi gelar pencuri. Dengan kata lain setiap bentuk, pola, corak hidup yang tidak sesuai dengan tuntutan Yesus sebagai pintu merupakan bentuk,corak dan pola para pencuri. Setiap usaha untuk menjauhkan diri atau meninggalkan teladan Yesus sebagai pintu boleh dikatakan sebagai gelagat seorang pencuri.

Yesus menyebutkan dirinya sebagai pintu kepada domba-dombanya. Karena Yesus berperan sebagai pintu untuk kawanan domba maka Dia mengenal semua domba-Nya dan domba-domba yang selalu melewati pintu itu mengenal suara gembala mereka. Dengan menampilkan diri sebagai pintu Yesus mengharapkan semua yang mengikuti Kristus itu dapat menemukan keselamatan. Gelar pintu bagai kawanan domba mengukuhkan peran Yesus sebagai Gembala. Peran Yesus sebagai pintu kepada Domba berarti Ye¬suslah jaminan domba ke tanah lapang yang hijau, ke sumber air yang segar. Sebagai pintu Yesus berada di depan dan untuk kawanan Domba Ia menjadi Gembala utama. Sebagai gembala Dia berada di depan dan semua domba-Nya akan mengikuti Dia ke mana Dia akan pergi.

Menjadikan Yesus sebagai pintu dan gembala yang menghantar kita kepada keselamatan diba¬hasakan dalam bacaan kedua sebagai upaya kita untuk kembali kepada gembala dan pengasuh kita. Surat Petrus menegaskan bahwa pengalaman manusia yang mengambil bagian dalam pengalaman Yesus sama artinya manusia sudah kembali kepada Bapa dan pengasuh kita. Yesus menderita bu¬kan karena kejahatannya melainkan karena kebaikan. Inilah logika Allah yang terkadang berlawanan dengan logika kita manusia. Ia menderita bukan karena kejahatan.

Apa pesan yang bisa kita ambil dari kisah tentang Yesus sebagai pintu dan gembala dalam konteks panggilan kita sebagai orangtua pada hari minggu panggilan ini. Pesan yang kiranya kita bawa adalah belajar untuk menjadikan keluarga-keluarga kita sebagai sebuah rumah yang aman. Kita belajar untuk menjadi orangtua yang menjalankan peran seperti Yesus yang telah menjadi pintu bagai kawanan domba (umat manusia). Tugas menjadi pintu dan gembala bukan hanya tugas para imam, biarawan/ti. Keluarga-keluarga kita harus menjadi rumah terbaik, harus menjadi pintu ternyaman bagi putra-putri kita. Hanya kalau keluarga-kelaurga kita menjadi rumah dan pintu nyaman maka panggilan untuk menjadi imam, biaraan/ti akan bertumbuh. Keluarga menjadi rumah terbaik dan pintu ternyaman adalah keluarga yang bisa menunjukkan teladan dan cara hidup yang baik kepada anak-anak.

Kalau keluarga-keluarga kita tidak lagi menjadi rumah terbaik dan pintu ternyaman bagi anak-anak kita kemungkinan besar mereka menacari jalan sendiri di luar rumah, di luar pengawasan orangtua. Jika pintu komunikasi suami istri tertutup rapat jangan pernah mengahrapkan anak bisa belajar terbuka dan mendengarkan orang lain. Kalau benang-benang kasih yang terajut antara suami istri mulai kusut karena saling curiga dan tidak setia, maka anak-akan sulit belajar tentang arti sebuah kesetiaan, kalau kalau jembatan saling memaafkan dan mengampuni terputus antara suami istri maka sulitlah anak untuk belajar memaafkan orang lain.

Saya bersyukur karena di Malang saya bisa mengikuti kegiatan ME yang memungkinkan saya belajar bagaimana memaknai pangggilan, memaknai relasi saya dengan Tuhan, memaknai relasi saya dengan rekan-rekan kerja saya dalam pangggilan. Semunya itu saya dapatkan dari berbagai sharing pengalaman hidup para pasutri yang selama ini bersama dalam berbagai pertemuan ME. Saya sadari melalui kegiatan ME, saya belajar untuk menjadi sebuah pintu yang pantas dilalalui dan belajar menjadi gembala yang baik. Saya punya harapan jika sebagaian besar keluarga mengikuti ME maka aneka masalah kehidupan suami istri dapat diatasi.

Saya akhir renungan ini dengan cerita. Pasutri Yo-Yo (Yohana-Yohanes dikarunia seorang 2 orang putri dan seorang putra. Selain memelihara ketiga anak mereka Yohana juga harus memelihara mama mertua yang berusia 80 tahun lebih yang tampak pikun dan terserang parkinson. Karena parkinson yang diderita sang mertua, hampir setiap hari ada gelas dan piring yang pecah. Yohana sering marah-marah kepada suaminya karena banyak gelas yang pecah. Kalau sang suami sedang di kantor Yohana biasanya memberi air minum kepada ibu mertua dengan menggunakan batok kelapa yang memang sulit dipecahkan. Satu bulan kemudian putra mereka membawa dua batok kelapa. Yohana sangat senang karena dikiranya untuk sang nenek. Saat diminta ibunya, sang putra menolak dengan alasan dua batok kelapa itu dia siapkan untuk Yohana dan Yohanes kalau nanti menjadi seperti nenek.

Anak belajar dari apa yang orangtua tunjukkan.



Claket, 21 Malang 10 Mei 2014

Rm.Bone Rampung, Pr