Tuesday, March 25, 2014

KETELADANAN IBARAT MATA AIR

HARI MINGGU PRAPASKA III
Kel 17:3-7; Rm 5:1-2.5-8; Yoh 4:5-42
Gereja Cor Jesu Malang, 23 Maret 2014
Keteladanan: Mata Air yang Senantiasa Menghidupkan
==================================================

Buka
Firman Tuhan hari ini mengingatkan dan menyadarkan kita bahwa air yang menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan fisik kita secara rohani dimaknai sebagai kebutuhan yang menjamin keselamatan jiwa kita. Karena itu kitab suci berbicara tentang air lebih dari sekadar penjamin kesegeran fisik melepaskan rasa haus kita tetapi air menjadi simbol dan sarana rohani yang menyegarkan jiwa kita. Kita membutuhkan sumber dan Mata air rohani yang menjamin sampai kehidupan kekal. Kita datang ke hadapan Tuhan pagi ini dalam semangat dan spirit perempuan Samaria untuk memohon agar kita diberi air dan rahmat dalam perayaan. Untuk itu kita menyadari kelemahan dan kedosaan kita.

Renungan
Hari Jumat (21/3) kemarin  bertempat di Gedung Nusantara IV, Kompleks MPR/DPR, Jakarta  berkumpul beberapa tokoh penting yaitu Ketua MPR Sidarto Danusubroto, Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar, Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan Ketua DPD RI Irman Gusman. Mereka berkumpul di Kompleks MPR/DPR bukan untuk konvensi  menjadi cawapres. Mereka berada di sana untuk suatu hal yang tidak ada kaitannya dengan politik, apalagi persoalan kampenye. Mereka berkumpul untuk mengikuti acara peluncuran sebuah buku penting karya  Yudi Latif.
Judul buku setebal 650 halaman itu amat relevan untuk dikaitkan dengan Firman Tuhan yang diperdengarkan kepada kita pada Minggu ke-3 Prapaska ini. Judul buku karya pimpinan Pusat Studi Pancasila Universitas Pancasila itu penting dan menarik yaitu “Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan”. Melalui berita  yang dirilis berbagai media online  tentang peluncuran buku itu, kita dapat membaca  berita  dan komentar bahwa buku Mata Air Keteladanan itu dianggap paling efektif dalam rangka menjamin keselamatan bangsa. Baik judul buku maupun aneka komentar tentang peluncuran buku itu semuanya memberi tekanan pada satu masalah pokok. Persoalan pokok penentu arah hidup dan gerak bangsa ini yakni Pancasila. Penulis buku itu mengakui bahwa dasar dan titik star kelahiran dan kehadiran buku itu tidak lain karena bangsa ini telah sarat dengan keluhan karena adanya krisis keteladanan.
Yudi Latif, dalam keterangan persnya, secara gamblang menyampaikan sekaligus mengingatkan warga bangsa untuk senantiasa meneladani tokoh-tokoh anutan untuk para penganut agama. Menurut Latif tokoh-tokoh seperti Yesus, Nabi Muhammad, Sidharta Gautama, telah memberikan keteladanan itu. Dan, keteladanan tokoh-tokoh itu dikisahkan secara berkesinambungan sehingga mendorong orang untuk mengikutinya. Sebagai  bangsa kita memiliki banyak keteladanan untuk berbagai bidang namun kita tidak hanya  gagal menceritakan, mengisahkan  tetapi lebih dari itu kita  gagal meneladani keteladanan itu,” Kegagalan dalam hal keteladanan yang menggelisahkan hidup manusia terjadi karena kerakusan dan keserakahan telah menjadikan kehidupan kita tandus dan gersang ibarat padang gurun tanpa harapan. Keteladanan itu ibarat mata air yang dirindukan setiap orang tetapi begitu keteladanan dikalahkan oleh kepentingan diri, kerakusan, keserakahan, korupsi, budaya suap, sikap intolerasi, mau menang sendiri, dan sejenisnya maka mata air itu hilang dan berganti rupa menjadi air mata. Kurang lebih itulah yang telah melanda bangsa kita hingga saat ini.
Pada tataran nasional, dalam konteks kehidupan berbangsa dan negara yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila buku Yudi Latif “Mata Air Keteladanan : Pancasila dalam Perbuatan” dapat dijadikan sebagai rujukan dalam memaknai dan memperjuangkan nilai-nilai kehidupan yang bercorak universal. “Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan” ini merekam bagaimana nilai-nilai Pancasila dipraktikkan dalam keseharian perilaku para tokoh bangsa, penyelenggara negara, para politisi, dan aktivis kemasyarakatan serta masyarakat umum.
“Keteladanan adalah nilai yang operasional, bukan sekadar kata-kata mutiara. Artinya, selain bersifat inspiratif (memperluas wawasan) keteladanan juga harus aplikatif (artinya dipraktikkan dan dihayati). Begitulah Pancasila harus berfungsi sebagai sumber dan pedoman keteladanan bagi kita semua sebagai warga bangsa dan negara.
Apa relevansi gagasan Yudi Latif yang berbicara tentang Mata Air Keteladanan terkait Pancasila dengan  pesan Firman Tuhan untuk kita hari ini?  Pertanyaan ini dapat kita runut dan temukan jawabannya dalam tiga teks bacaan  hari ini.  Yudi Latif berbicara tentang Mata Air Keteladanan sebagai sebuah perbandingan, sekadar metafora tentang betapa pentingnya pemaknaan nilai-nilai Pancasila secara benar dalam praktik hidup warga negara. Keteladanan yang dimaksudkannya berkaitan dengan para pemimpin yang diberi mandat dan amanat untuk membawa warga pada suatu kondisi kehidupan yang lebih manusiawi dan bermartabat. Pemimpin diharapkan menjadi sumber mata air yang selalu menyegarkan, menghidupkan, tempat orang mempertaruhkan hidup dan matinya.
Firman Tuhan hari ini juga berbicara tentang keteladanan tokoh kitab Suci yang diberi mandat dan amanat sebagai pemimpin untuk menuntun umat manusia selama ziarah di bumi dan sebelum berziarah ke alam baka. Dua sisi dan dua arah keteladanan pemimpin dalam konteks kitab suci digambarkan dalam bacaan pertama dan injil hari ini. Bacaan pertama menampilkan dimensi masa kini dan dimensi fisik keteladanan seorang pemimpin yang diberi mandat untuk memberi jaminan fisik bagi bangsa yang dipimpinnya. Tokoh Musa ditampilkan sebagai orang yang dimandati dan diamanati untuk menjamin perjalanan bangsa Israel menuju tanah terjanji. Injil menampilkan Yesus (Musa Baru) pemimpin juga diamanati dan diutus untuk menuntun jiwa manusia menuju kemuliaan kekal. Tokoh Musa dalam bacaan pertama memberi gambaran tentang pemenuhan fisik masa kini dan Tokoh Yesus dalam injil memberi gambaran tentang pemenuhan tuntutan jiwa pada masa mendatang.
Baik Kitab Keluaran maupun bacaan injil Yohanes  hari ini berbicara tentang kebutuhan pokok untuk kehidupan manusia yaitu air. Kekurangan air dan terlebih lagi ketiadaan air selalu menjadi masalah untuk kehidupan manusia. Kita bisa mengerti kalau orang cekcok hanya karena berebut air karena memang air menentukan hidup mati manusia. Bagi Saudara/i yang pernah ke Israel dan mengambil paket Ziarah Israel Mesir atau sebaliknya, tentu akan melihat dan merasakan betapa panasnya padang gurun Mesir dan Sinai itu.  Dua tahun lalu saat berziarah ke Israel, setelah dua hari di Mesir kami harus ke gunung (Horeb) Sinai. Dari mesir ke Gunung Sinai ditempuh selama 6 jam dengan bus melintasi di bawah laut di terusan Zues. Sekitar 20-an kilometer dari terusan Zues kami berhenti di sebuah sumur namanya sumur Mara seperti yang ditulis dalam (Kel.15,23). Di namakan sumur Mara karena airnya terasa pahit. Dari Sumur Mara sekitar dua jam perjalanan kami berhenti di Elim dan di situ ada 12 sumur dan 70 pohon kurma selanjutnya 2 jam tiba di kaki gunung Horeb atau gunung Sinai tempat Musa menerima 2 loh batu. Dalam perjalanan menuju Horeb itulah bangsa yang dipimpin Musa itu bertengkar karena mereka terancam kematian. Mereka bertengkar karena kehausan lalu meragukan kepemimpinan Musa bahkan meragukan kehadiran Yahwe.  Musa sebagai tokoh pemimpin yang ditentukan Yahwe dilengkapi kuasa untuk memenuhi harapan bangsa yang dipimpinnya. Sebagai pemimpin Musa berada di depan dan diberi tongkat sebagai lambang kuasa dan otoritas yang diterimanya. Musa terbukti bisa mengatasi rasa haus bangsa yang dipimpinnya menuju puncak untuk menerima hukum Tuhan yang menjadi pedoman kehidupan. Di mata bangsa Israel tongkat yang diterima Musa sebagai simbol kekuasaan bukan untuk menelantarkan bangsanya tetapi justru untuk membebaskan bangsanya dari aneka ancaman yang mematikan.
Yesus yang dikisahkan injil hari ini lebih dari Musa karena Yesus sendiri adalah inkarnasi Allah yang dahulu memberikan Musa Tongkat untuk memimpin dan menyelamatkan Israel. Musa menyelamatkan dan membebaskan bangsa Israel dari rasa haus fisik yang bercorak sementara sedangkan Yesus memberi jaminan melampaui jaminan fisik dan bersifat kekal. Yesus memberi kepenuhan akan harapan dan kerinduan manusia baik secara fisik maupun secara rohani. Yesus memberi kesegaran dan kehidupan bukan saja kehidupan fisik yang sementara tetapi menjanjikan jaminan jiwa yang bersifat kekal. Dialog dan kisah perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria hari ini menjadi bukti betapa Yesus melebihi Musa. Kehadiran Yesus sebagai Mata Air menggaransi manusia secara utuh jiwa dan raganya. Jaminan utuh untuk keselamatan manusia dilakukan Yesus dengan meruntuhkan sekat-sekat pembatas antara laki-laki dan perempuan, antara orang Samaria dan Orang Yahudi. Isi dan materi dialog antara Yesus dan perempuan Samaria tadi sungguh meyakinkan kita betapa Tuhan itu bermurah hati dan berbelas kasih terhadap semua orang tanpa memandang perbedaan. Yesus mengajarkan kita bagaimana menjadi pemimpin yang baik, yang senang mendengarkan aneka kisah tentang kegelisahan hidup orang lain, menawarkan solusi yang tetap bukan hanya untuk jangka pendek lahiriah melainkan juga untuk jangka panjang kehidupan jiwa yang abadi.
Yesus sebagai Musa Baru telah menjadi sumber Mata Air yang menanti menghidupkan  dan menyegarkan. Darahnya yang tercurah di kayu salib adalah jaminan keselamatan orang yang percaya.  Tuhan telah memberikan semuanya dan segalanya untuk kita. Dalam bahasa santu Paulus hari ini dikatakan bahwa Air kehidupan itu adalah cinta kasih Allah yang telah dicurahkan ke dalam hati kita. Dan kuasa itu disalurkan bukan oleh kuasa manusia melainkan oleh kuasa Roh Kudus. Paulus mengingatkan kita bahwa hanya dalam iman akan Kristus kita akan senantiasa kuat dan berdiri megah dalam pengharapan untuk menerima kemuliaan dari Allah.
Mata air dan sumber air pada hakikatnya mengalir untuk memberi kehidupan, memancarkan harapan, menjamin kesegaran, dan memungkinkan kehidupan. Mata air akan selalu mengalir untuk memberi. Kalau para pemimpin dikatakan sebagai Mata air atau menjadi sumber air, itu artinya pemimpin diamanatkan untuk menjamin keberlangsungan hidup orang yang dipimpinnya secara utuh. Musa telah mengatasi pertengakran bangsa yang dipimpinnya dengan bahasa air yang menyejukkan. Yesus sebagai mata air telah membersihkan noda dosa manusia dengan darahnya dan menguatkan setiap yang goyah dengan kekuatan kuasa Roh Kudus. Bahasa Air adalah bahasa memberi, bahasa mengalir untuk menghidupkan dan membersihkan.  Kita merindukan orang yang memiliki semangat dan spirit ibarat Mata air yang hanya mau memberi tanpa menuntut untuk menerima.
Saat ini kita tengah disibukkan dan dihiruk-pikukkan oleh begitu banyak orang yang mau mencalonkan diri menjadi pemimpin. Kita tentu bersyukur karena ada begitu banyak orang yang mau menjadi pemimpin, pejuang. Telinga kita tengah dikuasai slogan dan janji politik dari mereka yang mau menjadi calon pemimpin. Hal yang perlu kita cermati adalah ungkapan ini, kekuasaan yang diperebutkan cenderung disalahgunakan. Sebaliknya kekuasaan yang diamanatkan, dimandatkan akan dimaknai sebagai tanggungjawab yang harus dipertanggungjawabkan. Yesus tidak tidak pernah berkampanye memaparkan visi dan misinya sekadar menaikkan elektibilitas, tidak pernah mencetak baliho sekadar promosi prestasi, tidak pernah memasang semua gelar, dan riwayat hidup tetapi anehnya Yesus tetap menjadi Mata Air Keteladanan. Kuncinya karena Ia telah menjadi Mata Air  yang memberi harapan masa kini dan masa depan bagi umat manusia yang beriman kepada-Nya.
Suatu pagi Pak Kir terperosok ke dalam lubang sampah milik tetangga. Pak Kir tidak bisa keluar karena lubang cukup dalam. Beberapa orang datang menolongnya. Mereka pak Kir untuk memberikan tangannya biar bisa ditarik keluar. Ayo Pak Kir BERIKAN TANGANMU biar kami menarikmu keluar. Pak Kir tidak bereaksi. Diam tak menanggapi. Banyak orang akhirnya biarkan pak Kir terjebak di lubang sampah itu. Kemudian datang teman dekat pak Kir. Temannya berkata: Ayo Pak Kir TERIMALAH TANGANKU biar aku menarikmu keluar. Tanpa pikir panjang Pak Kir menerima tangan temannya dan dia ditarik keluar. 
Ketika ditanya mengapa saat temannya datang pak Kir bereaksi, temannya menjelaskan. Anda rupanya belum tahu sejarah nama untuk Pak Kir itu. Dia dipanggil pak Kir karena ia terkenal karena Kikirnya.  Kamu meminta dia untuk MEMBERI tangannya kepadamu sedangkan saya memintanya MENERIMA tanganku. Untuk pak Kikir kata MEMBERI  hampir tidak dipakainya yang digunakan hanya kata MENERIMA. Kata MENERIMA merupakan kata penting untuk seorang yang kikir.

Mari kita belajar untuk menjadi Mata Air yang memberi teladan dengan tindakan dan bukan dengan kata-kata. Orang Roma bilang: Verba Movent, Exempla Trahunt, kata-kata hanya mengajak tetapi teladan senantiasa lebih menarik. Kita perlu kehadiran orang yang pantas diteladani dan semua kita dipanggil untuk menjadi teladan dan Mata air bagi sesama kita. Tuhan memberkati kita! Amin

Monday, March 10, 2014

PESTA PERAK NOVISIAT BHK

Renungan Misa HUT 25 Tahun Komunitas Novisiat
Frater Bunda Hati Kudus, Malang, 14 November 2013
Keb.7,22-8,1; Luk.17,20-25
============================================================
Buka
Kalau bukan Tuhan yang membangun ru¬mah maka sia sialah para tukang membangunnya, dan jika bu¬kan Tuhan yang menjaga kota sia sialah para pengawal ber¬jaga. Saya sengaja mengutip ayat mazmur ini untuk meringkas semua kesadaran dan keyakinan kita bersama tentang kasih dan kesetiaan Tuhan menyertai Novisiat ini dengan segala program formasinya sepanjang 25 tahun silam. Sebagai orang beriman kita yakin karya agung TUhan telah dinyatakan melalui semua saja yang terlibat dan melibatkan diri dalam proses formasi di tempat ini. Hanya satu kata yang pantas kitalambungkan yakni SYUKUR. Syukur untuk semua pengalaman suka dan duka yang mewarnai dinamika yang terjadi selama 25 tahun silam. Sambil bersyukur kita juga memohonkan agar karya agung dan kemuliaan Tuhan terus hadir di tempat ini dan terus mengalir dari tempat ini. Kita akui segala kelapaan kita agar syukur ini berkanan kepada Tuhan dan membawa berkat bagi kita.

Renungan
Hari Selasa malam saat masuk kamar makan, saya lihat ada satu buku dan satu teks ditempatkan samping piring saya. Buku itu ditempatkan Frater Vincen yang setelah siangnya beliau meminta saya untuk memimpin ekaristi HUT ke-25 atau pesta Perak. Saya menafsirkan bahwa kehadiran buku dan teks itu mengharuskan saya untuk membaca dan memakanainya untuk dikorelasikan atau dikontekskan dengan kehadiran Komunitas Novisiat ini selama 25 tahun. Jujur saya akui bahwa memahami buku setebal itu dan mencari intinya untuk diangkat dalam permenungan seperti ini bukanlah hal mudah. Sebagai orang luar, tentu saja sisi tilik dan jangkauan pemahaman saya, tidak secermat para frater memaknai aneka pesan yang impilisit dan eksplisit yang ditemukan dalam buku kenangan itu.

Dalam konteks peringatan 25 tahun keberadaan komunitas novisiat ini tentu yang paling relevan untuk kita adalah melihat kembali hakikat, fungsi, dan pentingnya novisiat. Kita tidak tidak mempersoalkan 25 tahun novisiat berkaitan gedung secara fisik. Gedung itu hanya nama dan hanya bermakna berkaitan dengan segala sesuatu yang terjadi dan dilakukan di dalam rumah/gedung ini. Fokus kita adalah melihat kembali hakikat novisiat sebagai salah satu simpul awal dan paling penting bagi kita yang memilih jalan khusus menjadi biarawan dan rohaniwan. Saya mengatakan bahwa tahap ini merupakan tahap awal yang penting karena dalam masa seperti inilah kita berusaha mencari kehendak Tuhan dan pentunjuk-Nya untuk masa depan panggilan kita.

Saya sendiri memang tidak pernah menjadi novis dalam masa novisiat tetapi tahun 1986-1987 selama setahun saya mengikuti Tahun Orientasi Rohani di bawah bimbingan Romo Vincent Sensy, Pr (kini Uskup Agung Ende). Waktu setahun itu menjadi waktu penuh refleksi untuk membangun fondasi panggilan selanjutnya. Kami menjalani itu hanya setahun sedangkan para frater BHK menjalaninya selama dua tahun. Membangun fondasi panggilan selama dua tahun saya kira dalam logika seorang ahli bangunan tentu akan menghasilkan sebuah bangunan yang kokoh, kuat, tak tergoyahkan. Para frater yang telah dan sedang menjalankan masa novisiat untuk dua tahun tentu harapanya tampil sebagai pribadi yang matang, seimbang, dan kokoh dalam semua aspeknya.

Kepribadian yang matang, seimbang, kokoh dalam multiaspek inilah yang menjadi inti dan sasaran pergulatan dan pergelutan dalam masa novisiat. Idealisme akan terbinanya dan lahirnya pribadi seperti inilah yang mendorong dibangunnya tempat yang dinilai lebih kondusif, atraktif, inspiratif. Tempat yang kondusif, atraktif, inspiratif ini diharapkan menjadi arena pembentukan citra diri yang kreatif sekaligus meditatif; yang aktif sekaligus reflektif. Selanjutnya, dari citra diri yang kreatif-meditatif; aktif-reflektif ini orang dapat menentukan langkah yang pasti ke masa depan. Sejarah perpindahan lokasi program novisat sebagaimana digambarkan di dalam buku kenangan yang saya baca pada dasarnya terjadi dan dilakukan karena mempertimbangkan aspek-aspek ini. Kalau komunitas ini sudah bertahan 25 tahun, maka ada pengandaian sekaligus harapan di balik kenyataan historis temporal ini bahwa memang di sinilah, di tempat inilah para frater menemukan sesuatu yang lebih kondusif, atraktif, dan inspiratif. Karena itu, tanpa keraguan dari tempat ini pasti lahir para frater dengan citra diri yang mampu menjaga keseimbangan antara kemandirian dan kebersamaan; antara kemampuan kreatif dan meditatif, antara kemampuan aktif dan reflektif.

Jika itu yang terjadi di tempat ini dari tahun ke tahun sampai usia perak ini maka bukan hanya para frater yang akan menilai tempat ini sebagai puncak tabor tetapi juga setiap orang yang menyaksikan dan mengalami buah-buah kebajikan yang dihayati setiap frater yang pernah diproses di tempat ini. Menurut hemat saya, tidaklah terlalu penting kita bereaksi seperti Petrus yang ingin tetap berada dan berkemah di puncak tabor karena merasakan sesuatu yang luar biasa. Peristiwa Tabor tidak akan bermakna bagi Petrus dan kedua murid lainnya jika pengalaman itu tidak memberi inspirasi, semangat, dan model kehidupan yang patut dianut dan diteladani oleh orang lain setelah mereka keluar dan turun dari Tabor. Puncak tabor memang terlampau indah dan saya sendiri rasakan itu selama hampir satu jam berada di gereja Tabor menikmati keindahan lembah Yizrel.

Pada halaman depan teks Syukur 25 tahun tepatnya di bawah foto gedung novisiat terkutup teks Lukas 9,23: Guru betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Para frater yang pernah dan yang sedang menjalankan novisiat di tempat ini tentu dan harus mengalami kemuliaan dan keindahan Tabor di tempat ini. Jika tidak, siapa pun yang menyelesaikan novisiat di sini tidak akan membawa pesan indah dan mulia secara maksimal kepada orang lain.

Kalau tempat ini atau novisiat ini menjadi Tabor tempat Tuhan menyatakan dan membahasakan kemulian-Nya maka itu berarti di tempat ini kita diproses dalam kondisi berkemuliaan maka pada waktunya kita menjadi output atau produk yang mampu menghadirkan kemuliaan itu dalam aneka kebaikan dan kebajikan sesuati dengan semangat dan spirit pendiri, frater BKH, uskup Schaepman. Dalam konteks ini, izinkan saya mengutip ungkapan hati frater Simon dalam buku kenangan 75 BHK halaman 8. Di sana ditulisnya: “novisiat harus merasakan diri sebagai DAPUR KONGREGASI”. Pernyataan singkat padat dan syarat makna ini coba saya rentanghubungkan dengan kalimat yang menjuduli sebuah data pada halaman 186 buku yang sama. Judul data itu tertulis: Hanyalah sebuah data” mengundang Tanya. Bagaimana konsep Novisiat sebagai sebuah Dapur dan mengapa sebuah data mengundang pertanyaan?

Dalam konteks mikro, pengalaman hidup sehari-hari kita semua mengetahui apa itu dapur, apa yang terjadi dan dilakukan di sana, barang apa yang diperlukan di sana. Dalam konteks makro yang lebih luas (dunia industry) kita bisa mengatakan bahwa dapur itu lokasi atau salah satu unit produksi yang utama sebuah perusahaan. Dapur kita menjadi tempat pengolahan dan produksi makanan yang mempertahankan kelangsungan hidup kita secara fisik. Di dapur akan diproses semua bahan makanan dengan keadaan dan kondisi materi yang kita beli atau dapatkan. Beruntung kalau kita mendapatkan bahan yang bagus, ikan, sayur, daging yang segar maka kita tidak kesulitan mengolahnya dan asupan gizi yang kita dapatkan dapat dipertanggung-jawabkan secara tata boga dunia kegizian. Tetapi, sekian sering juga kita dapatkan bahan yang sudah tak segar, lagu, beraroma tak sedap. Di sini diperlukan keahliah tukang masak untuk membumbi secara tepat agar menu masakan itu tetap diminati. Jika tidak, semua akan menjadi menu yang pas untuk binatang peliharaan kita. Dalam dunia industry juga berlaku hal yang sama. Bahan yang diproduksi untuk disebarluaskan kepada konsumen harus diolah dan diproses dalam standar yang pakem.

Apa yang bisa kita maknai dari konsep analogi Novisiat sebagai Dapur Kongregasi yang diwacanakan Fr.Simon ini? Saya kira jelas arah dan maksudnya, asasaran tembaknya, merujuk pada keseluruhan kebijakan, program formasi terhadap para calon sebagai formandi dan kualitas, kemampuan, keahlian formator. Kondisi formandi jelas menjadi bahan pertimbangan formatur dalam menentukan cara mengolahnya secara benar, ibarat tukang masak yang siap menyajikan menu yang bukan saja menarik dalam tampilannya, tetapi tetap berkualitas dalam kandungan gizinya. Dalam konteks mikro Novisiat menjadi dapur untuk Kongregasi BHK tetapi dalam konteks makro berkaitan dengan misi tarekat untuk gereja, novisiat harus menjadi unit produksi bagi lahirnya tenaga-tenaga yang andal. Karena itu, yang menjadi tantangan bagi formandi dan formatur adalah bagaimana proses produksi di dapur ini, di tempat ini dapat berjalan sesuai dengan harapan.

Ini penting untuk dimaknai dalam momen spesial 25 tahun seperti ini karena jika tidak dimaknai secara tepat maka kita akan terus dihantui dengan tampilan data yang selalu diakhir dengan sebuah tanda tanya. Logikanya, jika ada pertanyaan itu artinya ada masalah. Dan setiap pertanyaan bermasalah menuntut adanya jawaban. Tugas kita adalah menemukan masalah lalu mencari kemungkinan jalan terbaik memebaskan diri dari masalah. Data yang disuguhkan dalam buku kenangan itu bagi siapa pun yang membacanya pasti dan harus bertanya? Baiamana orang tidak bertanya kalau yang masuk novisiat sejak tahun 1986 sampai 2011 itu berjumlah 285 orang tetapi yang sampai kaul hanya 43 orang atau hanya 15,08%?Data seperti ini memang harus melahirkan pertanyaan. Ibarat tukang masak yang membeli 285 ekor dan menggorengnya lalu yang muncul di meja makan hanya 43 ekor sementara yang mau makan ikan itu lebih dari 285 orang. Logis kalau semua orang bertanya. Arah pertanyaan ditujukan kepada siapa? Tidak mudah memberikan jawaban karena dapur novisiat ini hanyalah sebuah subsistem dalam sistem besar tarekat BHK. Karena itu pertanyaan tadi bukan saja ditujukan kepada formandi, formatur tetapi ditujukan kepada tarekat secara keseluruhan.Saya sama sekali tidak bermaksud menggugat aneka kebijakan internal dan proses yang terjadi tetapi hanya sekadar menyentak kita berdasarkan data yang ada.

Satu-satunya jawaban yang paling mudah dan melepaskan kita dari pikiran lebih rumit adalah berlindung di balik ayat kitb suci: Banyak yang dipanggil sedikit yang dipilih. Menurut saya ayat ini tidak seluruhnya benar. Kita harus menempatkan teks itu pada konteksnya. Semasa Yesus orang-orang itu memang dipanggil (dipaksakan) lalu dipilih. Dalam konteks sekarang inisiatif itu bukan lagi dipaksakan tetapi orang harus melamar. Tarekat hanya menyebarkan brosur, melakukan promosi panggilan dan yang tertarik dan berminat, merasa terpanggil membuat lamaran. Kalau konteksnya orang sendiri yang melamar maka mestinya dia akan lebih bertahan. Yang terjadi justru sebaliknya orang ramai-ramai masukkan lamaran juga ramai-ramai pamit baik secara sopan maupun dalam cara yang kurang sopan.

Masa novisiat sebagai saat peletakkan dasar fondasi panggilan harus disadari para calon bahwa panggilan itu sifatnya pribadi. Formator hanyalah sarana yang juga tidak sempurna karena dia sendiri juga masih berusaha memberi makna pada panggilannya. Karena itu, tentu keliru kalau orang sering memperslahkan para formatur ketika setelah masa novisiat ada para frater menunjukkan perilaku anomali (hidup tidak tertur). Jika itu terjadi maka jelas sebagai indikasi para frater bukannya mau menjawab panggilan Tuhan tetapi mau memenuhi keinginan formator. Kita dipanggil Tuhan dan mau menjawab panggilan Tuhan bukan dipanggil formator dan menjawab keingian formator. Jika rasa dan sikap ini ada dalam diri para calon maka baginya formator itu hanya sebagai teman, socius perjalanan dan bukan polisi lalulitas dalam perjalan panggilan kita. Dengan ini tidak berarti, formator tidak penting karena bagaimana pun Tuhan dapat berkarya secara ajaib melalui orang lain dalam segala peristiwa kehidupan.

Novisiat sebagai Dapur Kongregasi akan menjadi lebih bermakna kalau di tempat ini kita belajar makna kebijaksanaan menjadi orang yang berkebijaksanaan. Bacaan pertama tadi mengingatkan sekaligus meneguhkan kita untuk menyadari intervensi Allah dalam hiudp dan panggilan kita. Raja Salomo mengingatkan kita untuk senantiasa memiliki kebijaksanaan karena kebijaksaan menjadi jaminan penyertaaan Tuhan. Tiada sesuatu pun yang dikasihi Allah kecuali orang yang berdiam bersama dengan kebijaksanaan. Ada sekian banyak bentuk kebijaksanaan itu antara lain:sikap arif, kudus, rajin, berpikir jernih, hidup tidak bernoda, menjadi terang, bertahan dalam kesulitan, suka akan yang baik, bermurah hati dan sayang akan manusia, teguh tidak tergoyangkan. Kebijaksaan adalah pernafasan kekuatan Allah, dan pancaran murni dari kemuliaan Yang Mahakuasa. Kebijaksanaan adalah pantulan cahaya kekal. Kebijaksanaan lebih indah dan lebih terang dari pada matahari. Masa Novisiat dan tempat novisaiat adalah masa dan tempat orang mengalami Allah secara telah mendalam. Di sini di tempat inilah sejak 25 tahun silam Kebijaksanaan itu ada dan hadir memberi inspirasi bagi para frater yang diproses di sini.

Dalam keyakinan seperti ini kita menyadari kehadiran Tuhan di sini sebelum novisiat ini dibangun selama novisaiat berjalan 25 tahun dan akan terus hadir dalam setiap kehendak baik yang akan terjadi di tempat ini. Sebagai orang beriman kita tentu menepis mental dan cara bertanya orang Farisi kepada Yesus dalam injil tadi tentang kapan dan tanda-tanda kehadiran kerajaan Allah. Tuhan sudah hadir dan akan terus hadir di sini dalam setiap usaha dan kehendak yang baik, dalam ketekunan dan kesitiaan kita menjawabi panggilannya dan memaknainya dalam praktik kehidupan.

Semoga rahmat kebijaksaaan Tuhan terus melingkupi tempat ini agar segala masalah yang ditemukan selama 25 tahun silam secara perlahan mendpatkan titik terang. Mari kita jadikan Novisiat ini sebagai DAPUR tempat mengolah kehidupan panggilan kita sehingga hidup dan karya kita menjadi menu yang berguna bagi Tuhan dan sesama. Profiat, Selamat berpesta, Ad Multos Annos.

ME: KOMUNIKASI BERKUALITAS

HARI MINGGU PRAPASKA I
Misa Tematis bagi Pasutri ME Distrik Malang
Kej 2:7‑3:17; Rm 5:12‑19; Mat 4:1‑11
Paroki Tumpang, Malang

Buka

Pagi hari ini kita datang dari berbagai tempat ke gereja ini untuk suatu perjumpaan yang khusus dengan Tuhan karena kita memilki cinta persaudaraan. Sebagai keluarga dan kelauga besar umat beriman kita datang untuk menimba rahmat dan berkat Tuhan yang mengalir setiap saat dalam semua peristiwa dalam kehidupan keluarga-kleuarga kita. Kita bersyukur karena Tuhan telah menyatakan cinta-Nya melalui keluarga beriman. Seraya mengucap syukur kita juga memohonkan  kerahiman dan belaskasihnya atas dosa dan kesalahan kita dalam menghatai pangggilan hidup kita. Kita bawa semua keluarga umat beriman baik yang mengamai sukacita maupun yang dicobai dalam duka cita. Secara khusus kita doakan paman dari pasutri Veve-Hong yang meninggal kemarin di Lombok. Kita akui salah dan dosa kita.

Renungan
Setelah saya mengikuti Week End ME sebagai angkatan 69 kemudian dilanjutkan dengan beberapa pertemuan lanjutan akhirnya saya bisa meringkas inti dari kegiatan ME menjadi dua kata yaitu Mulut dan Telinga. Mulut dan telinga merupakan dua organ fisik manusia yang memungkinkan munculnya dua keterampilan atau aktivitas penting manusia yaitu Berbicara dan Mendengarkan.  Mulut dan telinga sedemikian pentingnya bagi kita manusia sehingga orang yang tidak bisa berbicara dan tidak bisa mendengarkan kita sebaut sebagi orang cacat. Komunikasi yang paling awal dan mendasar adalah berbicara dan mendengarkan sebelum orang menulis dan membaca.
Mendengar adalah masuknya bunyi ke organ pendengaran tanpa mengharapkan respon atau tanggapan  dari pendengar. Lain halnya dengan mendengarkan, lebih dari sekadar masuknya bunyi ke organ pendengaran karena mendengarkan itu menuntut adanya respon pendengar. Ketika saya duduk membaca di kamar ada bunyi teriakan seseorang. Bunyi teriakan itu tidak membuat saya berhenti membaca, Lima menit kemudian teriakan yang sama mengganggu pendengaran saya yang membuat saya harus melepaskan buku bacaan, lalu mencari siapa sebenar yang berteriak, mengapa orang berteriak, dan dari mana sumber teriakan itu. Setelah saya membuka jendela kamar saya mengetahui bahwa orang yang berteiak itu seorang yang baru dimasukkan ke sel tahanan yang ada sebelah kamar saya  Dalam contoh ini terlihat bahwa pertama saya hanya mendengar teriakan, sedangkan yang kedua saya mendengarkankan karena teriakan itu menuntut tanggapan dan respon.  
Persoalan komunikasi atau dialog merupakan inti pergulatan dan pergelutan manusia ketika kenyataan menghadapkan manusia untuk hidup, ada dan berkembang bersama orang lain. Komunikasi dan dialog selalu berdimensi sosial karena menuntut kehadiran orang lain. Dalam konteks lebih khusus lagi persoalan mendengar dan mendengarkan itu menjadi bagian dari sejarah perjalinan dan perjalanan  pasangan hidup suami istri. Dalam kenyataan, banyak orang yang hanya bisa mendengar tetapi sulit untuk mendengarkan.  Dalam kehidupan pasutri hal yang sama juga bisa bahkan sering terjadi.  Dan semua hal itu kita temukan selama mengikuti kegiatan ME.
Komunikasi atau dialog pasutri dalam konteks ME diharapkan menjadi komunikasi  bermutu dan berkualitas. Komunikasi atau dialog pasutri yang bermutu, berkualitas hanya akan terpenuhi jika yang berbicara, berbicara secara terukur baik dari segai kualitas, kauantitas dan caranya penyampaiannya. Hal yang sama juga dituntut ketika pasutri berperan sebagai pendengtar maka yang diperlukan adalah mendengarkan secara tepat, saksama. Mengapa berbicara dan mendengarkan itu harus berlualitas? Alasannya karena tingkah laku, respon,  tindakan, perilaku, perbuatan, amat ditentukan oleh cara orang berbicara dan cara orang mendengarkan. Ketidaktepatan cara berbicara dan mendengarkan baik itu berkaitan dengan gaya maupun pilihan katanya  akan melahirkan miskomunikasi.
Menarik sekali kalau kita tempatkan dan kaitkan seluruh dinamika yang terjadi dalam pergulatan dan pergelutan kehidupan keluaraga dengan pesan dasar firman Tuhan  hari ini. Ketiga bacaan hari ini tampaknya menampilkan persoalan komunikasi, cara berbicara dan cara mendengarkan yang tidak berkualitas. Gambaran komunikasi tidak bermutu yang diwacanakan ketiga bacaan hari ini menjadi awasan bagi kita semua, bagi keluarga-kelurag pada  umumnya dan teritimewa bagi keluarga, pasutri kristiani.
Kekacauan yang digambarkan dalam bacaan pertama menjadikan manusia merasa terasing dari sang pencipta. Pasutri pertama akhirnya terasing dari Tuhan karena cara mereka berbicara dan cara mereka mendengarkan terkesan tidak berkualitas. Ini ditunjukkan dalam dialog mereka berhadapan dengan ular. Ular berusaha menggiring pasutri adam dan hawa itu untuk menggunakan kata. Ular menyatakan atau berbicara dengan rumusan general, umum.  Ular mengubah rumusan yang disampaikan Tuhan kepada adam dan hawa  untuk mengecoh pasutri. Ular berkata: semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya bukan? Sesungguhnya kalau adam dan hawa ingat kata-kata Tuhan mereka sebenarnya tidak perlu menanggapi apa yang ditanyakan ular.
Pernyataan dan kata-kata yang dipakai ular itujelas-jelas salah tetapi justru adam dan hawa memberi penjelasan. Dengan itu terbuka peluang bagi ular untuk menyempurnakan jurus menaklukkan pasutri primitif itu. Pasutri itu lebih mendengarkan kata-kata ular daripada mendengarkan apa yang Tuhan katakan. Efek dari cara berbicara dan cara mendengarkan yang salah menjadikan pasutri adam dan hawa itu merasa diri sebagai pasangan yang tak pantas berada di hadapan Tuhan. Kesalahan pasutri Ha-Dam terkait cara bicara dan cara mendengarkan yang salah.  
Gambaran tentang cara bicara dan cara mendengarkan yang salah oleh pasutri Ha-Dam disadari sebagai sesuatu yang berdampak luas hingga perjanjian baru. Surat Paulus  kepada jemaat di Roma mengingatkan kita akan tragedi miskomunikasi paling primitif yang dirumuskan sebagai dosa yang mendatangkan maut. Kejatuhan pasutri taman Eden gambaran cara bicara dan cara mendengarkan yang salah.
Tragedi taman eden itu terus berlanjut hingga masa Yesus dalam wujud dan bentuk yang berbeda. Ular taman eden telah berubah rupa menjadi iblis, setan yang membaca peluang kondisi Yesus yang sedang berpuasa. Setan juga berbicara dan mendengarkan yang salah. Setan berkomunikasi dengan Yesus dalam niat menggoda Yesus pada saat Yesus berpuasa.Kalau ada dari anra kita yang sudah ke Israel tentu tahu persis tempat itu. Dua tahun lalu saat saya berziarah ke Israel  saya sempat berada di kaki tiga bukit tempat Yesus berpuasa dan dicobai iblis yang dikisahkan injil tadi. Di sana orang menyebutnya bukit 40. Salah satu bukit yang paling tinggi berada dekat kota Yeriko. Pemandang bukit pencobaan itu lebih indah dilihat dari pohon ara Zakeus yang tumbuh di pertigaan ke Yeriko, Gua Qumran dan laut mati. Kalau kita baca kisah pencobaan Yesus tulisan Matius hari ini dan yang ditulis Lukas ada sedikit perbedaan mengenai urutan tempat pencobaan itu. Matius menulis tempat pencobaan kedua itu terjadi di Kenisah Yerusalem sedangkan Lukas menyebutnya sebagai pencobaan ketiga. Dalam injil tadi cobaan pertama di bukit 40 coban kedua di kenisah dan cobaan ketiga terjadi lagi  bukit 40 dekat kota Yeriko. Kota yang ditawarkan kepada Yesus adalah kota Yeriko yang berada 135 meter di bawah permukaan laut dan merupakan kota tertua di dunia.
Setan menggunakan tiga jebakan bagi Yesus. Jebakan pertama berkaitan dengan urusan kesejahteraan fisik, biologis berupaka kebutuhan akan makanan.  Setan mempersolakan roti sebagai jaminan tetapi Yesus menawarkan Firman melebih roti buatan manusia. Jebakan kedua berkaitan dengan kuasa. Setan meminta Yesus menunjukkan kuasa atas para malaikat tetapi Yesus menawarkan adanya firman yang menegaskan Tuhan jangan dicobai. Jebakan ketiga adalah tawaran harta kekayaan. Iblis memperlihatkan segalanya kepada Yesus dengan iming-iming ingin disembah Yesus dan Yesus meresponnya dengan mengusir setan itu.
Gaya dan model jebakan iblis semasa Yesus ini tentu menjadio bahan permenungan kita semua pada zaman ini. Zaman ini juga masih banyak orang yang menyembah kenikmatan fisik mau memuaskan keinginan fisiknya termasuk dengan cara yang tidak pantas.Praktik hidup yang tidak terpuji seperti korupsi, kasus suap, pencucian uang dan sejenisnya boleh dikatakan sebagai metamorfosisi atau hasil daur ulang atau yang menjadi jebakan setan pada masa Yesus. Jika kita cermati, tidak kurang juga orang kristen, keluarga keluarga yang menghadapi masalah justru karena berusan dengan tiga perkara ini. Tidak jarang ada pasangan entah suami, entah istri yang mewarisi semangat penggoda untuk pasangannya dengan jidup dalam rumusan serba jika.seperti setan yang menggoinda Yesus. Keluarga Kristiani umumnya dan pasutri ME khusunya tentu sudah membebaskan diri, sudah bersih dari rumusanrumusan jika-jika seperti itu. JIka adalah kata dan bahasa bersyarat dan berpontensi menjebak.
Suatu pagi Pak Kikir terperosok ke dalam lubang untuk pembuangan sampat di milik tetangga. Pak Kikir tidak bisa keluar karena lubang cukup dalam. Beberapa orang membawa tali untuk menolongnya. Mereka meminta Pak Kikir mengulurkan dan memberikan tangannya sekadar memegang tali sehingga dia ditarik ke atas. Tiga orang bergantian dengan cara yang sama dan dengan perintah supaya pak Kikir memberikan tangannya. Pak kikir tidak mau mengangkat dan memberikan tanganya. Tetangga dekanya datang juga dengan perlatan yang sama. Pak Kikir diminta menerima tali yang diulurkan untuk menarinya keluar. Saat itu ia mengangkat tangannya dan berhasil ditarik keluar.
Tiga orang sebelumnya heran mengapa dia mau memegang tali menunggu orang keempat. Ketika ditanykan kepada tetangga yang berhasil menolong pak Kikir tetangga menjelaskan bahwa perintah dan pilihan kata mereka menentukan tanggapan Pak Kikir sesuai dengan karakternya. Pak Kikir tidak akan bereaksi jika diperintahkan untuk MEMBERIKAN tangannya. Dia hanya beraksi jika orang menggunakan kata TERIMALAH. Dia di sebut Pak Kikir karena memang dia hanya mengenal kata TERIMA dan tidakmengenal kata MEMBERI.
Komunikasi dalam konteks kehidupan keluarga kristiani berarti menciptakan keseimbangan antara memberi dan menerima.  Tuhan memberkati! Amin



Friday, March 7, 2014

BERZIARAH: BELAJAR PADA MARIA



Renungan Ziarah
Keluarga Besar SMAK Frateran Malang
Sirakh 11,1-9; Lukas 1,39-56
Jumat, 7 Maret 2014 di Gua Puh Sarang Kediri
===========================================================================

Buka
Siang hari ini kita berada di tempat yang berbeda dengan sekolah kita. Di sini kita berada dalam suatu susana yang lain yang lebih bernuansa spiritual. Kita meninggalkan susana rutin untuk dalam rangka menimba kekuatan baru yang bakal mejelitkan seluruh perjuangan kita di sekolah kita sebagai siswa dan sebagai pendidik. Karena itu, tepat sekali jika perjumpaan dan perayaan ini kita memohonkan rahmat dan bimbingan Tuhan bagi segenap civitas akademika SMAK Frateran Malang secara istimewa untuk peserta didik kita kelas XII yang sedang menyiapkan diri menyambut UN 2014. Juga memohonkan rahmat Tuhan dalam proses penerimaan peserta didik yang baru agar berjalan aman dan lancar. Juga kita bawa semua saudara/i kita, rekan kerja kita, para guru yang sedang sakit. Kita bawa semua harapan itu kepada Tuhan dengan bantuan Maria yang kita hormati. Kita akui salah dan dosa kita

Renungan
Andaikan saat ini, setiap kita diminta untuk membuat daftar 3 orang yang paling kita takuti, maka siapakah orang yang menempati urutan pertama sebagai orang yang paling Anda takuti? Saya memberi waktu setengah menit untuk kita menjawab pertanyaan ini! Saya meminta beberapa orang untuk menjawab sesuai dengan isi hati kita. Kalau saya pribadi, orang yang paling saya takuti adalah IBU. Alasannya karena (1) Kasih ayah sepanjang jalan, kasih ibu sepanjang hidup (2) sorga itu ada di bawah telapak kaki IBU. Dua alasan ini mau menegaskan bahwa secara jasmani dan secara rohani kita bergantung sepenuhnya pada peran seorang Ibu. Jika berniat masuk surga kita harus merendah dan menaruh harapan pada seorang IBU.
Apa yang kita lakukan hari ini berkaitan dengan urusan jiwa kita. Berziarah, berdoa rosario, jalan salib yang kita lakukan merupakan bentuk devosi yang dianjurkan gereja dalam rangka menyuburkan iman kita. Sejak munculnya agama Kristen kehidupan dan praktik devosional sudah ada selain ajaran iman, pedoman hidup moral dan berbagai disiplin hidup keagamaan lainnya. Hidup devosional dengan pelbagai bentuknya tak terpisahkan dari hidup iman. Hidup devosi merupakan bagian utuh dari kehidupan iman. Karena itu kita perlu mengenalnya dengan baik agar kita semua dapat mencintai cara hidup devosional itu untuk kepentingan perkembangan rohani kita sendiri.
Apa sebenarnya Devosi itu? Devosi berasal  dari kata Latin: devotio = penghormatan yaitu sikap tetap berupa penyerahan pribadi kepada Allah dan kehendak-Nya sebagai perwujudan cinta kasih kepada Allah. Juga berarti kebaktian khusus dalam bentuk doa atau perilaku orang beriman terhadap rahasia kehidupan Yesus Bunda Maria dan orang kudus lainnya yang direstui pimpinan gereja.
Devosi diarahkan pada tujuan (1) untuk mengembangkan iman setiap orang beriman agar memiliki semangat hidup yang suci, terarah kepada kehendak Allah (2) agar setiap orang beriman memperoleh buah-buah rohani tertentu seperti yang dimiliki para kudus, (3) untuk memperkaya kehidupan iman gereja sebagai suatu kesaksian iman kita. Sasaran devosi itu amat beragam misalnya devosi kepada Bunda Maria, Sakramen Mahakudus, Hati Kudus Yesus, Devosi jalan Salib, Devosi Roh Kudus, Devosi Allah Tritunggal, Devosi kepada Para Kudus.
Buah-buah devosi antara lain mendekatkan kita kepada Tuhan, Iman kita dimurnikan, kita mengenal  dan mencintai Yesus, Maria, dan orang kudus, kehidupan rohani kita terpupuk, mampu memberi kesaksian iman secara nyata dalam perbuatan baik dan amal.
Untuk itu ada 4 unsur penting yang harus mendasari setiap devosi yang baik yaitu kesetiaan, ketekunan, pengharapan, ketaatan.  (1) Kesetiaan diperlukan karena setiap devosi umumnya dilakukan dengan mengulang-ulang hal yang sama dan terus menerus. Kalau kita tidak setia maka kita akan merasa bosan dan segera meninggalkannya (2) Ketekunan: Setiap usaha termasuk devosi akan berhasil bila kita tekun melakukannya. Ketekunan berarti berjuang yang pantang mundur menghadapi tantangan (3) Pengharapan akan mempercepat terkabulnya doa kita. Surat kepada orang Ibrani menulis “pengharapan merupakan sauh (jangkar) yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir” (Ibr 6:9). Harapan merupakan lompatan iman dari pasif ke aktif (4) Ketaatan: Dalam mengembangkan devosi biasanya kita berjanji, bernazar, berkaul tertentu. Semua niat dan janji dalam devosi harus ditepati.
Hari ini kita tinggalkan sekolah dan datang ke tempat ini untuk berziarah sebagai salah satu bentuk devosi kita. Kita melakukannya karena kita percaya bahwa kegiatan ini akan memberi kita nilai yang berkaitan dengan jiwa kita. Kita melakukannya dengan sungguh-sungguh karena kita juga percaya bahwa Maria yang kita hormati akan mewariskan kepada kita aneka kebajikan dan kebaikan yang akan mewarnai seluruh gerak dan dinamika kehidupan kita baik sebagai pendidik, orangtua, maupun sebagai peserta didik.
Injil berkisah tentang ziarah Maria berjalan ke rumah Elisabeth. Apakah ada dari antara kita yang hadir ini yang pernah ke Israel, Yerusalem? Siapa yang bisa menebak berapa jauh jarak tempuh Maria saat harus menjumpai Elisabeth? Dikatakan injil bahwa Maria berjalan ke daerah Yudea. Itu artinya Maria berjalan dari kota Nasareth yang berada di wilayah Galilea yang terletak jauh di utara Yerusalem. Untuk sampai ke Yudea Maria harus melintasi daerah Samaria. Nasareth itu terletak antara kota Kana di utara dan kota Nain di selatannya dan semuanya terletak di sebelah barat danau Galilea.
Kita semua tahu dari kitab suci bahwa suami Elisabeth adalah Zakaria yang bertugas sebagai pelayan di Kenisah Yerusalem. Pemberitahuan tentang kelahiran Yohanes pembaptis justru ketika Zakaria berada di kenisah Yerusalam. Kisah perjalanan Maria dalam injil tadi adalah kisah perjalanan yang sangat jauh. Dua tahun lalu saya dengan bus dari Yerusalem ke Nasareth berlawanan arah perjalanan Maria. Perjalanan kami membutuhkan waktu 6 jam melalui jalur bebas hambatan melintasi kota Tel Avif (pusat pemerintahan Israel) menuju pelabuhan Yope (Yafa) melintasi Caesarea, puncak gunung Karmel, pelabuhan Haifa baru sampai Nasareth. Kami menggunakan bus berkecepatan tinggi di jalur tol membutuhkan waktu tempuh 6 jam dan jaraknya 800-an km. Sulit kita bayangkan dahulu Maria membutuhkan waktu berapa lama berjalan dari Nasareth menuju Yerusalam di daerah Yudea. Dari jarak dan waktu tempuh ini saja tentu kita bisa menilai tentang ketahanan Maria, tekad Maria, Niat Maria untuk bertamu ke rumah saudaranya. Kita mungkin  bertanya dalam hati, apa sebenarnya yang mendorong Maria nekad berjalan kaki ratusan kilometer ke rumah Elisabeth. Apa pun yang kita pikiran dan kita bayangkan yang pasti itu kenyataannya. Maria melakukan itu dan itu telah terjadi.
Perkara bertamu dan bertemu bagi kita adalah hal biasa. Reuni keluarga juga hal yang biasa bagi kita. Konsep bertamu yang ideal memang sulit dirumuskan tetapi kalau kita cermati apa yang dilakukan Maria dan Elisabeth dalam injil tadi, kita dapati satu pola bertamu dan bertemu yang ideal. Bertamu dan bertemu gaya Maria hari ini memang unik untuk kita renungkan. Perjumpaan dua bersaudara ini lebih dari sekadar reuni keluarga. Apa keunikan kisah tentang Maria yang bertamu ke rumah Elisabeth ini? Ada beberapa hal penting yang menjadi kekhasan bertamu dan bertemu gaya dua bersaudara ini. Kekhasan dan keistimewaaan gaya pertamuan dan pertemuan Maria dan Elisabeth penting untuk kita renungkan dalam kaitannya dengan model pertemuan kita dengan orang lain dalam hidup kita.
Pertama, bertamu dan bertemu; pertamuan dan pertemuan adalah tindakan dan gerakan. Sebagai gerakan, bertamu dan bertemu menuntut pengorbanan. Karena Maria ingin bertamu dan bertemu dengan Elisabeth, Maria harus berkorban berjalan jauh dalam waktu lama dan melelahkan. Dari sini kita belajar bahwa setiap kebersamaan, setiap perjumpaan menuntut pengorbanan. Menggunakan waktu untuk bertemu orang lain dan membawa sesuatu yang berguna bagi orang lain tidaklah mudah. Maria memberikan kita contoh itu.
Kedua,  bertamu gaya Maria adalah tindakan berkomunikasi. Apa yang ia komunikasikan dalam pertemuan itu? Yang ia komunikasikan hanya pesan Tuhan  yang sudah diterima melalui Malaikat Gabriel.  Inti, esensi pesan malaikat itu hanya satu hal tetapi amat penting  bagi  kita yaitu  Salam.  Maria menjumpai Elisabeth bukan untuk membawa gosip-gosip murahan melainkan pesan surgawi, penjamin hidup manusia. Salam, damai yang dikomunikasikan malaikat kepada Maria itu berkekuatan amat dahsyat. Salam itu membuat Maria terkejut, bingung karena tidak tahu arti sebuah salam. Salam mengejutkan dan membingungkan yang diterimanya ia komunikasikan kepada Elisabeth. Salam yang dikomunikasikan Maria kepada Elisabeth berdaya ledak lebih dahsyat lagi. Bukan hanya Elisabeth yang terkejut tetapi lebih lagi bayi yang dikandungnya melonjak kegirangan. Kegirangan bayi dalam kandungan  merupakan bukti kekuatan sebuah salam, kekuatan sebuah gerakan damai. Damai selalu menggembirakan.
Ketiga, kegiatan bertamu gaya Maria merupakan pilihan dan tindakan berbagi dan pernyataan solidaritas. Kunjungan Maria tedorong dan terjadi karena adanya kehendak dan keinginan untuk berbagi. Maria mendapat salam, damai dari Tuhan. Damai dan kedamaian yang dibawa Malalikat tidak dinikmati seorang diri. Damai, dan kedamian dibagikan Maria dalam agenda kunjungannya dan kehadirannya. Kekuatan damai dan kedamaian yang dibagikan menembus batas kandungan. Damai dan kedamaian yang terus dibagikan dan ditularkan kepada orang lain merupakan kekuatan kegembiraan yang dahsyat.
Keempat, Kujungan Maria dan kehadirannya lebih dari sekadar reuni keluarga tetapi kehadiran Maria adalah kehadiran representatif. Artinya, Maria yang menerima kehadiran Allah dalam dirinya mau dan berusaha menghadirkan dan mempresentasikan kehadiran Allah. Kehadiran Allah di tengah kehidupan manusia selalu mendamaikan, meneguhkan, menggembirakan.  
Kelima, rasa damai dan gembira adalah pengalaman bersama yang harus disyukuri. Peristiwa perjumpaan Maria dan Elisabeth sekeluarga dalam bahasa yang lebih sederhana boleh dikatakan sebagai kegembiraan karena ada bersama. Itu artinya, kalau ada bersama orang lain harus ada salam, ada damai sebagai modal awal sebuah kegembiraan yang kita dambakan. Dan perjumpaan kedua bersaudara ini dapat menjadi contoh, pola dan model kebersamaan yang ideal. Kebersamaan yang diwarnai damai dan kegembiraan akan mendorong orang untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Puncak kegembiraan dua bersaudara itu diformulasikan dalam pujian mereka. Elisabeth mengangkat pujian dalam kuasa Roh Kudus ketika ia berseru: diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Hal yang sama diungkapkan Maria. Ia juga mengangkat pujian yang pada intinya memuji Tuhan yang berpihak kepadanya. Magnificat Maria adalah doa ucapan syukur dalam kegembiraan karena keberpihakan Allah atas dirinya. Sampai di sini kita semua disadarkan bahwa kebersamaan yang penuh damai dan kegembiraan mengharuskan orang untuk selalu memuji Tuhan. Pertemuan mereka menjadikan mereka sebagai sebuah komunitas sebuah kebersamaan yang ditandai damai. Kondisi yang damai merupakan kondisi yang memungkinkan manusia bisa berkomunikasi dan memuji TUhan. Orang yang tidak berdamai dengan dirinya, tidak berdamai dengan orang lain tidak mungkin bisa menjalin relasi yang baik dengan Tuhan.
SMAK Frateran Malang adalah  arena perjumpaan kita. Perjumpaan kita para guru dengan siswa, para siswa dengan siswa. Kita semua bergabung dan berteduh di bawa payung Yayasan Mardiwiyata. Spiritualitas hati yang menjadi spirit dasar pada lembaga pendidikan SMAK Frateran pada dasarnya mengarah pada upaya penciptaan iklim dan kondisi damai. Kita semua bergabung di SMAK Frateran sebagai sebuah komunitas damai, sebuah komunitas Salam. Karena itu model perjumpaan dan kebersamaan Maria dan Elisabeth harus menjadi model kebersamaan kita di semua unit kegiatan Yayasan Mardiwiyata termasuk di sekolah kita.
Di SMAK Frateran kita semua terlibat dalam komuinikasi belajar mengajar. Di sana kita terlibat dalam tindakan berbagi ilmu, pengalaman, dan keterampilan. Di sekolah kita sebagai pembawa keinginan baik Tuhan. Di sekolah kita membentuk kebersamaan yang mengharuskan kita untuk selalu memuliakan TUhan dalam tugas dan karya kita. Sekolah kita kiranya sungguh menjadi Yehuda baru tempat perjumpaan orang yang membagi damai, membawa kegembiraan dan mengucapkan syukur dan pujian seperti yang terjadi dalam perjumpaan Maria dan Elisabeth.
Untuk itu Kitab Putra Sirakh memberi nasehat untuk kita agar jangan mencela sebelum menyelidiki, jangan menegur sebelum berpikir, jangan menjawab sebelum mendengarkan, dan jangan mencampuri urusan orang lain.
Marilah kita buktikan komitmen kita untuk memaknai peristiwa perjumpaan Maria dan Elisabeth ini dengan menjadikan SMAK Frateran sebagai Yehuda baru yang penuh damai, sukacita dan pandai bersyukur kepada Tuhan. Tuhan memberkati. Amin

Kemuliaan Sejati 
Pembacaan dari Kitak Putra Sirakh 11,1-9;

Kebijaksanaan orang yang hina menegakkan kepalanya serta memberi dia tempat di tengah-tengah orang besar. Jangan memuji manusia karena keelokannya, dan jangan enggan terhadap seorangpun karena rupanya. Yang terkecil di antara segala binatang bersayap ialah si lebah, tetapi apa yang dihasilkannya adalah kemuncak kemanisan. Jangan membanggakan pakaian yang kaupakai, jangan pula bermegah-megah pada saat engkau dihormati. Sebab pekerjaan Tuhan adalah ajaib dan tersembunyi bagi manusia. Banyak raja mesti duduk di lantai, sedangkan yang tak dikirakan orang, telah bermahkota. Banyak orang kuasa sudah menjadi amat terhina, dan orang terhormat telah diserahkan ke dalam tangan orang lain. Jangan mencela sebelum kauselidiki, setelah berpikir dahulu barulah menegur. 11:8 Jangan menjawab sebelum kaudengarkan, dan jangan menyela pembicaraan. Tentang perkara yang dengannya engkau tak bersangkutan jangan bertikai, dan jangan mencampuri sengketa orang berdosa.
Demikianlah Sabda TUhan
Syukur kepada Allah

Maria Mengunjungi Elisabeth
Lukas 1,39-56

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.  Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.
Doa Pembukaan
Allah Bapa yang kekal dan kuasa, Engkau telah menyatakan kasih setia-Mu kepada kami melalui Yesus Putramu yang dilahirkan dari Perawan  Maria yang terpuji. Kami bersyukur atas semua peri hidupnya yang menjadi contoh dan teladan bagi kami. Kami mohon semoga Bunda Maria perawan meneruskan semua harapan dan doa kami kepada Yesus Putra-Mu secara khusus kami memohonkan rahmat dan penyertaanmu bagi semua peserta didik kami yang akan menempuh ujian akhir. Biarlah budi dan kehendak mereka tetap dalam tuntunan kebijaksnaa-Mu. Sertailah juga seluruh proses penerimaan peserta didik baru di sekolah kami. Kuatkalah semua saudara/I  kami yang tengah menderita sakit. Demi Kritus TUhan kami…

Persembahan
Tuhan kami membawa smua harapan, doa dan kerinduan kami bersama roti dan anggur lambang korban putra-Mu di altar yang kudus ini bersama. Semoga oleh rahmat dan berkat kuasa-Mu semunya Kau berkati dan Kaukuduskan untuk menguatkan kami dalam seluruh perjuangan kami di hari yang akan datang. Semoga Bunda Maria ibu gereja dan ibu kami dapat meneruskan persembahan ini ke hadapan Putramu Tuhan dan pengantara kami kini dan sepanjang masa….

Penutup
Allah Bapa yang maha kuasa dan kekal, teguhkanlah di dalam diri kami iman kepercayaan, yang kami akui dengan bangga, bahwa Putra-Mu yang dikandung dan dilahirkan Santa Prawan Maria  sungguh Allah dan sungguh manusia. Semoga oleh  daya kebangkitan Putra-Mu dan daya kekuatan tubuh dan darahnya yang telah kami terima menguatkan kami untuk meneladani Bunda Maria dalam kehidupan kami. Demi Kritus TUhan kami…