Friday, March 7, 2014

BERZIARAH: BELAJAR PADA MARIA



Renungan Ziarah
Keluarga Besar SMAK Frateran Malang
Sirakh 11,1-9; Lukas 1,39-56
Jumat, 7 Maret 2014 di Gua Puh Sarang Kediri
===========================================================================

Buka
Siang hari ini kita berada di tempat yang berbeda dengan sekolah kita. Di sini kita berada dalam suatu susana yang lain yang lebih bernuansa spiritual. Kita meninggalkan susana rutin untuk dalam rangka menimba kekuatan baru yang bakal mejelitkan seluruh perjuangan kita di sekolah kita sebagai siswa dan sebagai pendidik. Karena itu, tepat sekali jika perjumpaan dan perayaan ini kita memohonkan rahmat dan bimbingan Tuhan bagi segenap civitas akademika SMAK Frateran Malang secara istimewa untuk peserta didik kita kelas XII yang sedang menyiapkan diri menyambut UN 2014. Juga memohonkan rahmat Tuhan dalam proses penerimaan peserta didik yang baru agar berjalan aman dan lancar. Juga kita bawa semua saudara/i kita, rekan kerja kita, para guru yang sedang sakit. Kita bawa semua harapan itu kepada Tuhan dengan bantuan Maria yang kita hormati. Kita akui salah dan dosa kita

Renungan
Andaikan saat ini, setiap kita diminta untuk membuat daftar 3 orang yang paling kita takuti, maka siapakah orang yang menempati urutan pertama sebagai orang yang paling Anda takuti? Saya memberi waktu setengah menit untuk kita menjawab pertanyaan ini! Saya meminta beberapa orang untuk menjawab sesuai dengan isi hati kita. Kalau saya pribadi, orang yang paling saya takuti adalah IBU. Alasannya karena (1) Kasih ayah sepanjang jalan, kasih ibu sepanjang hidup (2) sorga itu ada di bawah telapak kaki IBU. Dua alasan ini mau menegaskan bahwa secara jasmani dan secara rohani kita bergantung sepenuhnya pada peran seorang Ibu. Jika berniat masuk surga kita harus merendah dan menaruh harapan pada seorang IBU.
Apa yang kita lakukan hari ini berkaitan dengan urusan jiwa kita. Berziarah, berdoa rosario, jalan salib yang kita lakukan merupakan bentuk devosi yang dianjurkan gereja dalam rangka menyuburkan iman kita. Sejak munculnya agama Kristen kehidupan dan praktik devosional sudah ada selain ajaran iman, pedoman hidup moral dan berbagai disiplin hidup keagamaan lainnya. Hidup devosional dengan pelbagai bentuknya tak terpisahkan dari hidup iman. Hidup devosi merupakan bagian utuh dari kehidupan iman. Karena itu kita perlu mengenalnya dengan baik agar kita semua dapat mencintai cara hidup devosional itu untuk kepentingan perkembangan rohani kita sendiri.
Apa sebenarnya Devosi itu? Devosi berasal  dari kata Latin: devotio = penghormatan yaitu sikap tetap berupa penyerahan pribadi kepada Allah dan kehendak-Nya sebagai perwujudan cinta kasih kepada Allah. Juga berarti kebaktian khusus dalam bentuk doa atau perilaku orang beriman terhadap rahasia kehidupan Yesus Bunda Maria dan orang kudus lainnya yang direstui pimpinan gereja.
Devosi diarahkan pada tujuan (1) untuk mengembangkan iman setiap orang beriman agar memiliki semangat hidup yang suci, terarah kepada kehendak Allah (2) agar setiap orang beriman memperoleh buah-buah rohani tertentu seperti yang dimiliki para kudus, (3) untuk memperkaya kehidupan iman gereja sebagai suatu kesaksian iman kita. Sasaran devosi itu amat beragam misalnya devosi kepada Bunda Maria, Sakramen Mahakudus, Hati Kudus Yesus, Devosi jalan Salib, Devosi Roh Kudus, Devosi Allah Tritunggal, Devosi kepada Para Kudus.
Buah-buah devosi antara lain mendekatkan kita kepada Tuhan, Iman kita dimurnikan, kita mengenal  dan mencintai Yesus, Maria, dan orang kudus, kehidupan rohani kita terpupuk, mampu memberi kesaksian iman secara nyata dalam perbuatan baik dan amal.
Untuk itu ada 4 unsur penting yang harus mendasari setiap devosi yang baik yaitu kesetiaan, ketekunan, pengharapan, ketaatan.  (1) Kesetiaan diperlukan karena setiap devosi umumnya dilakukan dengan mengulang-ulang hal yang sama dan terus menerus. Kalau kita tidak setia maka kita akan merasa bosan dan segera meninggalkannya (2) Ketekunan: Setiap usaha termasuk devosi akan berhasil bila kita tekun melakukannya. Ketekunan berarti berjuang yang pantang mundur menghadapi tantangan (3) Pengharapan akan mempercepat terkabulnya doa kita. Surat kepada orang Ibrani menulis “pengharapan merupakan sauh (jangkar) yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir” (Ibr 6:9). Harapan merupakan lompatan iman dari pasif ke aktif (4) Ketaatan: Dalam mengembangkan devosi biasanya kita berjanji, bernazar, berkaul tertentu. Semua niat dan janji dalam devosi harus ditepati.
Hari ini kita tinggalkan sekolah dan datang ke tempat ini untuk berziarah sebagai salah satu bentuk devosi kita. Kita melakukannya karena kita percaya bahwa kegiatan ini akan memberi kita nilai yang berkaitan dengan jiwa kita. Kita melakukannya dengan sungguh-sungguh karena kita juga percaya bahwa Maria yang kita hormati akan mewariskan kepada kita aneka kebajikan dan kebaikan yang akan mewarnai seluruh gerak dan dinamika kehidupan kita baik sebagai pendidik, orangtua, maupun sebagai peserta didik.
Injil berkisah tentang ziarah Maria berjalan ke rumah Elisabeth. Apakah ada dari antara kita yang hadir ini yang pernah ke Israel, Yerusalem? Siapa yang bisa menebak berapa jauh jarak tempuh Maria saat harus menjumpai Elisabeth? Dikatakan injil bahwa Maria berjalan ke daerah Yudea. Itu artinya Maria berjalan dari kota Nasareth yang berada di wilayah Galilea yang terletak jauh di utara Yerusalem. Untuk sampai ke Yudea Maria harus melintasi daerah Samaria. Nasareth itu terletak antara kota Kana di utara dan kota Nain di selatannya dan semuanya terletak di sebelah barat danau Galilea.
Kita semua tahu dari kitab suci bahwa suami Elisabeth adalah Zakaria yang bertugas sebagai pelayan di Kenisah Yerusalem. Pemberitahuan tentang kelahiran Yohanes pembaptis justru ketika Zakaria berada di kenisah Yerusalam. Kisah perjalanan Maria dalam injil tadi adalah kisah perjalanan yang sangat jauh. Dua tahun lalu saya dengan bus dari Yerusalem ke Nasareth berlawanan arah perjalanan Maria. Perjalanan kami membutuhkan waktu 6 jam melalui jalur bebas hambatan melintasi kota Tel Avif (pusat pemerintahan Israel) menuju pelabuhan Yope (Yafa) melintasi Caesarea, puncak gunung Karmel, pelabuhan Haifa baru sampai Nasareth. Kami menggunakan bus berkecepatan tinggi di jalur tol membutuhkan waktu tempuh 6 jam dan jaraknya 800-an km. Sulit kita bayangkan dahulu Maria membutuhkan waktu berapa lama berjalan dari Nasareth menuju Yerusalam di daerah Yudea. Dari jarak dan waktu tempuh ini saja tentu kita bisa menilai tentang ketahanan Maria, tekad Maria, Niat Maria untuk bertamu ke rumah saudaranya. Kita mungkin  bertanya dalam hati, apa sebenarnya yang mendorong Maria nekad berjalan kaki ratusan kilometer ke rumah Elisabeth. Apa pun yang kita pikiran dan kita bayangkan yang pasti itu kenyataannya. Maria melakukan itu dan itu telah terjadi.
Perkara bertamu dan bertemu bagi kita adalah hal biasa. Reuni keluarga juga hal yang biasa bagi kita. Konsep bertamu yang ideal memang sulit dirumuskan tetapi kalau kita cermati apa yang dilakukan Maria dan Elisabeth dalam injil tadi, kita dapati satu pola bertamu dan bertemu yang ideal. Bertamu dan bertemu gaya Maria hari ini memang unik untuk kita renungkan. Perjumpaan dua bersaudara ini lebih dari sekadar reuni keluarga. Apa keunikan kisah tentang Maria yang bertamu ke rumah Elisabeth ini? Ada beberapa hal penting yang menjadi kekhasan bertamu dan bertemu gaya dua bersaudara ini. Kekhasan dan keistimewaaan gaya pertamuan dan pertemuan Maria dan Elisabeth penting untuk kita renungkan dalam kaitannya dengan model pertemuan kita dengan orang lain dalam hidup kita.
Pertama, bertamu dan bertemu; pertamuan dan pertemuan adalah tindakan dan gerakan. Sebagai gerakan, bertamu dan bertemu menuntut pengorbanan. Karena Maria ingin bertamu dan bertemu dengan Elisabeth, Maria harus berkorban berjalan jauh dalam waktu lama dan melelahkan. Dari sini kita belajar bahwa setiap kebersamaan, setiap perjumpaan menuntut pengorbanan. Menggunakan waktu untuk bertemu orang lain dan membawa sesuatu yang berguna bagi orang lain tidaklah mudah. Maria memberikan kita contoh itu.
Kedua,  bertamu gaya Maria adalah tindakan berkomunikasi. Apa yang ia komunikasikan dalam pertemuan itu? Yang ia komunikasikan hanya pesan Tuhan  yang sudah diterima melalui Malaikat Gabriel.  Inti, esensi pesan malaikat itu hanya satu hal tetapi amat penting  bagi  kita yaitu  Salam.  Maria menjumpai Elisabeth bukan untuk membawa gosip-gosip murahan melainkan pesan surgawi, penjamin hidup manusia. Salam, damai yang dikomunikasikan malaikat kepada Maria itu berkekuatan amat dahsyat. Salam itu membuat Maria terkejut, bingung karena tidak tahu arti sebuah salam. Salam mengejutkan dan membingungkan yang diterimanya ia komunikasikan kepada Elisabeth. Salam yang dikomunikasikan Maria kepada Elisabeth berdaya ledak lebih dahsyat lagi. Bukan hanya Elisabeth yang terkejut tetapi lebih lagi bayi yang dikandungnya melonjak kegirangan. Kegirangan bayi dalam kandungan  merupakan bukti kekuatan sebuah salam, kekuatan sebuah gerakan damai. Damai selalu menggembirakan.
Ketiga, kegiatan bertamu gaya Maria merupakan pilihan dan tindakan berbagi dan pernyataan solidaritas. Kunjungan Maria tedorong dan terjadi karena adanya kehendak dan keinginan untuk berbagi. Maria mendapat salam, damai dari Tuhan. Damai dan kedamaian yang dibawa Malalikat tidak dinikmati seorang diri. Damai, dan kedamian dibagikan Maria dalam agenda kunjungannya dan kehadirannya. Kekuatan damai dan kedamaian yang dibagikan menembus batas kandungan. Damai dan kedamaian yang terus dibagikan dan ditularkan kepada orang lain merupakan kekuatan kegembiraan yang dahsyat.
Keempat, Kujungan Maria dan kehadirannya lebih dari sekadar reuni keluarga tetapi kehadiran Maria adalah kehadiran representatif. Artinya, Maria yang menerima kehadiran Allah dalam dirinya mau dan berusaha menghadirkan dan mempresentasikan kehadiran Allah. Kehadiran Allah di tengah kehidupan manusia selalu mendamaikan, meneguhkan, menggembirakan.  
Kelima, rasa damai dan gembira adalah pengalaman bersama yang harus disyukuri. Peristiwa perjumpaan Maria dan Elisabeth sekeluarga dalam bahasa yang lebih sederhana boleh dikatakan sebagai kegembiraan karena ada bersama. Itu artinya, kalau ada bersama orang lain harus ada salam, ada damai sebagai modal awal sebuah kegembiraan yang kita dambakan. Dan perjumpaan kedua bersaudara ini dapat menjadi contoh, pola dan model kebersamaan yang ideal. Kebersamaan yang diwarnai damai dan kegembiraan akan mendorong orang untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Puncak kegembiraan dua bersaudara itu diformulasikan dalam pujian mereka. Elisabeth mengangkat pujian dalam kuasa Roh Kudus ketika ia berseru: diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Hal yang sama diungkapkan Maria. Ia juga mengangkat pujian yang pada intinya memuji Tuhan yang berpihak kepadanya. Magnificat Maria adalah doa ucapan syukur dalam kegembiraan karena keberpihakan Allah atas dirinya. Sampai di sini kita semua disadarkan bahwa kebersamaan yang penuh damai dan kegembiraan mengharuskan orang untuk selalu memuji Tuhan. Pertemuan mereka menjadikan mereka sebagai sebuah komunitas sebuah kebersamaan yang ditandai damai. Kondisi yang damai merupakan kondisi yang memungkinkan manusia bisa berkomunikasi dan memuji TUhan. Orang yang tidak berdamai dengan dirinya, tidak berdamai dengan orang lain tidak mungkin bisa menjalin relasi yang baik dengan Tuhan.
SMAK Frateran Malang adalah  arena perjumpaan kita. Perjumpaan kita para guru dengan siswa, para siswa dengan siswa. Kita semua bergabung dan berteduh di bawa payung Yayasan Mardiwiyata. Spiritualitas hati yang menjadi spirit dasar pada lembaga pendidikan SMAK Frateran pada dasarnya mengarah pada upaya penciptaan iklim dan kondisi damai. Kita semua bergabung di SMAK Frateran sebagai sebuah komunitas damai, sebuah komunitas Salam. Karena itu model perjumpaan dan kebersamaan Maria dan Elisabeth harus menjadi model kebersamaan kita di semua unit kegiatan Yayasan Mardiwiyata termasuk di sekolah kita.
Di SMAK Frateran kita semua terlibat dalam komuinikasi belajar mengajar. Di sana kita terlibat dalam tindakan berbagi ilmu, pengalaman, dan keterampilan. Di sekolah kita sebagai pembawa keinginan baik Tuhan. Di sekolah kita membentuk kebersamaan yang mengharuskan kita untuk selalu memuliakan TUhan dalam tugas dan karya kita. Sekolah kita kiranya sungguh menjadi Yehuda baru tempat perjumpaan orang yang membagi damai, membawa kegembiraan dan mengucapkan syukur dan pujian seperti yang terjadi dalam perjumpaan Maria dan Elisabeth.
Untuk itu Kitab Putra Sirakh memberi nasehat untuk kita agar jangan mencela sebelum menyelidiki, jangan menegur sebelum berpikir, jangan menjawab sebelum mendengarkan, dan jangan mencampuri urusan orang lain.
Marilah kita buktikan komitmen kita untuk memaknai peristiwa perjumpaan Maria dan Elisabeth ini dengan menjadikan SMAK Frateran sebagai Yehuda baru yang penuh damai, sukacita dan pandai bersyukur kepada Tuhan. Tuhan memberkati. Amin

Kemuliaan Sejati 
Pembacaan dari Kitak Putra Sirakh 11,1-9;

Kebijaksanaan orang yang hina menegakkan kepalanya serta memberi dia tempat di tengah-tengah orang besar. Jangan memuji manusia karena keelokannya, dan jangan enggan terhadap seorangpun karena rupanya. Yang terkecil di antara segala binatang bersayap ialah si lebah, tetapi apa yang dihasilkannya adalah kemuncak kemanisan. Jangan membanggakan pakaian yang kaupakai, jangan pula bermegah-megah pada saat engkau dihormati. Sebab pekerjaan Tuhan adalah ajaib dan tersembunyi bagi manusia. Banyak raja mesti duduk di lantai, sedangkan yang tak dikirakan orang, telah bermahkota. Banyak orang kuasa sudah menjadi amat terhina, dan orang terhormat telah diserahkan ke dalam tangan orang lain. Jangan mencela sebelum kauselidiki, setelah berpikir dahulu barulah menegur. 11:8 Jangan menjawab sebelum kaudengarkan, dan jangan menyela pembicaraan. Tentang perkara yang dengannya engkau tak bersangkutan jangan bertikai, dan jangan mencampuri sengketa orang berdosa.
Demikianlah Sabda TUhan
Syukur kepada Allah

Maria Mengunjungi Elisabeth
Lukas 1,39-56

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.  Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.
Doa Pembukaan
Allah Bapa yang kekal dan kuasa, Engkau telah menyatakan kasih setia-Mu kepada kami melalui Yesus Putramu yang dilahirkan dari Perawan  Maria yang terpuji. Kami bersyukur atas semua peri hidupnya yang menjadi contoh dan teladan bagi kami. Kami mohon semoga Bunda Maria perawan meneruskan semua harapan dan doa kami kepada Yesus Putra-Mu secara khusus kami memohonkan rahmat dan penyertaanmu bagi semua peserta didik kami yang akan menempuh ujian akhir. Biarlah budi dan kehendak mereka tetap dalam tuntunan kebijaksnaa-Mu. Sertailah juga seluruh proses penerimaan peserta didik baru di sekolah kami. Kuatkalah semua saudara/I  kami yang tengah menderita sakit. Demi Kritus TUhan kami…

Persembahan
Tuhan kami membawa smua harapan, doa dan kerinduan kami bersama roti dan anggur lambang korban putra-Mu di altar yang kudus ini bersama. Semoga oleh rahmat dan berkat kuasa-Mu semunya Kau berkati dan Kaukuduskan untuk menguatkan kami dalam seluruh perjuangan kami di hari yang akan datang. Semoga Bunda Maria ibu gereja dan ibu kami dapat meneruskan persembahan ini ke hadapan Putramu Tuhan dan pengantara kami kini dan sepanjang masa….

Penutup
Allah Bapa yang maha kuasa dan kekal, teguhkanlah di dalam diri kami iman kepercayaan, yang kami akui dengan bangga, bahwa Putra-Mu yang dikandung dan dilahirkan Santa Prawan Maria  sungguh Allah dan sungguh manusia. Semoga oleh  daya kebangkitan Putra-Mu dan daya kekuatan tubuh dan darahnya yang telah kami terima menguatkan kami untuk meneladani Bunda Maria dalam kehidupan kami. Demi Kritus TUhan kami…

Tuesday, February 25, 2014

PEMINDAHAN KERANGKAN JENAZAH

Renungan

Ibadat Pemakaman Kerangka Jenazah 3 Fr.BHK

Selasa, 26 Februari 2014 di Karangwidoro Malang

Why.21,1-7; Yoh,6:37-40

 

Buka

Saudara/i terkasih, Tuhan Yesus Kristus telah bersabda: ”Biji gandum yang tidak ditanam dan mati, akan tetap tinggal sebiji; tetapi jika mati, akan berbuah banyak sekali”. Tiga biji gandum itu hadir dalam diri ketiga frater kita yang telah berpulang dan kerangka mereka kita  datangkan dan mau kuburkan di pemakaman ini. Kini kita mau menyerahkan kerangka tubuh fisik mereka kepada pangkuan ibu pertiwi. Kita semua percaya bahwa seperti Kristus turun ke alam maut, lalu bangkit dengan mulia, demikian pun saudara-saudara kita ini akan dibangkitkan untuk kehidupan kekal. Marilah kita saling meneguhkan dalam kepercayaan ini.

Doa Pembuka

Marilah berdoa

Allah Bapa yang maharahim, kehidupan dan kematian kami berada di tangan-Mu. Engkau telah memanggil saudara-saudara kami (…….NN) dari kehidupan di dunia ini menghadap hadirat-Mu. Dengan penuh harapan kami menantikan kebangkitan, sebab Kristus telah bangkit sebagai yang pertama dari antara orang-orang mati. Berikanlah mereka istirahat penuh terang dan damai dalam kerajaanMu. Ampunilah segala dosa dan kesalahannya agar mereka layak bersatu dengan para hamba-Mu untuk menikmati cahaya kebahagiaan kekal dan memuji kebaikan-Mu. Engkau mengubah maut yang gelap gulita menjadi fajar yang gilang-gemilang berkat kebangkitan mulia PuteraMu. Maka kami mohon kasihanilah mereka, ya Tuhan, kasihanilah mereka, dan terimalah mereka dalam rumah Bapa surgawi. Demi Yesus Kristus Putra-Mu, Tuhan dan pengantara kini dan sepanjang masa.  U : Amin 

Kitab Wahyu 21,1-7

Lihatlah, Aku menjadikan segala sestau baru

 Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar." Firman-Nya lagi kepadaku: "Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.

Injil Yohanes 6:37-40

Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang  kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk  melakukan kehedak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia  yang telah mengutus Aku. Dan inilah kehendak Dia yang  telah  mengutus Aku, yaitu supaya darisemua yang telah diberikanNya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak  BapaKu, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan  yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan  supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman. 
Renungan
Dua hari lalu ketika oversteh Claket 21 mengumumkan akan ada pemindahan kerangka konfrater dari pemakaman umum di Surabaya ke pemakaman para frater di Karangwidoro ini muncul dan terdengar beberapa komentar lepas yang terkesan ibarat canda. Frater Patris misalnya sempat berkomentar, mengapa mereka dipindahkan ke sini dan tidak dibiarkan tenang-tenang di pemakaman Surabaya. Kalalu mereka semua yang dimakamkan di tempat lain dibawa ke Malang, nanti kita yang lain tidak kebagian tempat. Frater lain menyambung, bahwa tempat masih cukup. Hanya memang tidak ada yang berani mengungkapkan keinginan untuk secepatnya mendapat tempat atau ingin merebut tempat di komunitas masa depan ini.
Secara praktis dan dalam pemikiran yang lebih pragmatis mungkin ada orang yang berpikir bahwa pemindahan kerangka seperti ini terkesan mencari kerja, mencari kerepotan, buang-buang waktu, tenaga dan biaya. Mencari kerja karena toh di mana saja orang dikuburkan pasti menjadi tanah karena hukum penciptaan mengharuskan itu terjadi. Diciptakan dari tanah kembali ke tanah, diciptakan dari debu kembali ke debu. Belum ada cerita yang menjelaskan bahwa jasad seseorang yang dikubur di tempat lain kemudian dipindahkan akan berubah menjadi emas atau batu permata. Sisa-sisa tubuh konfrater kita yang kita datangkan dari Surabaya dan dimakamkan hari ini di sini tidak akan menjadi emas dan batu permata. Kalau cara pikir seperti ini yang kita gunakan maka apa yang kita lakukan saat ini dianggap sebagai usaha mencari repot dan mau merepotkan diri.
Kita tentu tidak akan berpikir sepraktis dan sepragmatis seperti itu. Tentu ada niatan dan ada nilai yang mau kita wacanakan, yang mau kita tumbuhkan dalam aksi pemindahan kerangkan jenazah seperti ini. Tentu saja kegiatan dan tindakan pemindahan kerangka seperti ini menjadi saat permenungan sekaligus moment belajar untuk kita. Pemindahan kerangka ketiga konfrater ini jelas bukan atas rencana dan kehendak mereka bertiga tetapi atas rencana dan kehendak para frater yang hidup. Karena pemindahan ini terjadi atas rencana dan kehendak kita yang masih hidup maka satu pertanyaan pokok yang harus kita jawab adalah mengapa mereka dipindahkan ke sini? Kemungkinan setiap kita bisa memberi banyak alasan dan argumentasi tetapi saya kira dari semua alasan dan argumentasi yang ada dalam pikiran dan hati kita semunya bisa dirangkum dalam satu jawaban. Mereka dipindahkan ke sini demi sebuah kebersamaan.
Kita menginginkan bahkan bisa dikakatan kita memaksakan adanya kebersamaan bagi konfrater kita yang telah meninggal. Pemindahan yang kita lakukan dilandaskan pada pemikiran bahwa pemakamanan ini merupakan komunitas masa depan yang sungguh-sungguh menghadirkan nilai dan semangat kebersamaan dan persaudaraan. Kita semua dengan cara ini mau mengatakan dan mau mewartakan bahwa kebersamaan dan komunitas kita bukan hanya ada dan terjadi selama kita masih hidup tetapi justru harus nyata dalam komunitas masa depan. Pemakaman ini adalah komunitas masa depan para frater. Di pemakaman ini bahasa kebersamaan, bahasa persaudaraan itu menjadi nyata. Pemakaman ini sebagai komunitas masa depan yang membahasakan kebersamaan dan membahasakan persaudaraan kiranya menjadi komunitas yang tepat untuk kita belajar arti persaudaraan dan kebersamaan.
Kita menghendaki, merencanakan, dan menginginkan agar konfrater kita yang telah meninggal berada dalam satu komunitas masa  depan dalam kebersamaan. Itu artinya kebersamaan untuk mereka yang telah meninggal menjadi urusan penting bagi kita. Kita sibuk mengurus kebersamaan mereka yang telah meninggal jelas tujuannya baik dan mulia. Kita semua percaya sambil berharap dalam iman bahwa kalau semua konfrater kita yang sudah berada bersama dalam persaudaraan di komunitas masa depan ini berdoa dan menjadi pendoa bagi kita yang masih hidup maka para frater dan panggilan dalam tarekat akan terus maju dan berkembang. Maju dan berkembang karena nilai kebersamaan dan dimensi komununal itu kita tugaskan dan wajibkan kepada mereka dengan cara membiarkan mereka berada bersama.
Memang lebih mudah bagi kita untuk merencanakan kebersamaan mereka yang telah meninggal dengan cara seperti ini tetapi saya kira konfrater yang telah meninggal juga menghendaki adanya kebersamaan dan persaudaraan pada komunitas masa kini atau bagi kita yang masih hidup. Tentu menjadi tugas dan tanggungjawab bagi kita yang masih hidup untuk terus menghadirkan kebersamaan dan persaudaraan itu dalam hidup kita selama hidup. Saya kira konfrater yang telah kita satukan di kumunitas masa depan, di pemakaman ini akan merasa berbahagia jika nuansa kebersamaan, nuansa persaudaraan itu juga mewarnai komunitas-komunitas kita.
Kitab Wahyu memberi gambaran tentang langit dan bumi yang baru, Yerusalem baru. Lukisan sastra apokaliptik ini pada dasarnya mau mengatakan bahwa langit dan bumi yang baru adalah langit dan bumi yang diwarnai kebersamaan. Langit dan bumi baru yang didiami orang yang mengtamakan kebersamaan dan persaudaraan. Untuk meraih dan mengalami suasana Langit dan bumi diperlukan kebersamaan dan persaudaraan. Persadaraan dan kebersamaan bukan saja bagi yang telah meninggal tetapi terlebih bagi kita yang masih berada di komunitas-komunitas masa kini.
Kegiatan kita hari ini kiranya menyadarkan kita untuk menata kembali kebersamaan, nilai-nilai persaudaraan dan kehidupan komunal di komunitas-komunitas kita. Saya kira ketiga konfrater kita yang kita satukan di komunitas masa depan ini akan merasa bahagia melihat kita yang mengutamakan kebersamaan dan persaudaraan dalam hiudp dan karya kita. Jika itu yang terjadi maka janji Yesus dalam injil tadi juga menjadi janji yang akan digenapi untuk setiap kita.  Mari kita terus mengisi dan memaknai kebersamaan dan persaudaraan kita. Tuhan memberkati niat baik kita. Amin
Doa Penutup
Marilah berdoa:
Allah dan Bapa kami yang Maha baik, kami mempercayakan hamba-hamba-Mu (NN……) yang kami kasihi ini kepada kerahimanMu. Kami percaya, bahwa semua orang yang meninggal dalam Kristus akan hidup bersama Kristus. Kepercayaan ini memberi kami harapan dan menabahkan hati kami dalam kesusahan. Dengarkanlah doa umatMu ini dan bukalah pintu surga bagi mereka yang sudah Engkau panggil. Semoga kami yang masih berziarah di bumi ini saling membantu dalam segala tantangan hidup ini; dan tetap menaruh kepercayaan yang teguh akan sabda-Mu. Sebab Dialah Putera-Mu, Tuhan dan Pengantara kami kini dan sepanjang segala masa. Amin

Wednesday, February 5, 2014

PAULUS MIKI MARTIR JEPANG

Kamis Pekan Biasa ke-4 Thn. A2 6 Pebruari 2014
Pesta St. Paulus Miki, dkk. Kapela Cor Jesu
1Raj.2,1-4.10-12; Mrk.6,7-13
Buka
Kabar gembira tentang Yesus masuk Jepang berkat usaha Santo Fransiskus Xaverius pada abad ke-16. Lima puluh tahun setelah misi Fransiskus perkembangan umat Kristen di Jepang semakin besar. Bukan hanya jumlah besar tetapi kualitas iman mereka juga semakin kokoh. Perkembangan dan pertumbuhan jumlah umat Kristen itu dianggap mengancam pemerintahan Jepang. Ketika Jepang dipimpiin Hideyoshi, muncul penghasut yang membenturkan para pengikut Kritus  dengan pemimpin Jepang. Orang Kritsen yang dipimpin para misionaris Spanyol dan Portugis dianggap membahayakan keamanan negara dan akan menjadi pengkhianat. Itulah sebabnya banyak orang Kristen yang ditangkap dan dibunuh. Sebanyak 26 yang kita peringati hari ini sebagai martir Jepang adalah pengikut Kristus yang setia dan tegar berpegang teguh pada iman mereka. Paulus Miki  salah seorang dari tiga katekis Yesuit asal Jepang dibunuh bersama 6 biarawan Frasiskan asal Spanyol, Portugis, India dan 17 orang awam. Mereka dibunuh 5 Februari 1597 karena berpegang teguh pada iman akan Kristus. Tahun 1862 St. Paulus Miki dkk digelar  kudus oleh Paus Gregorius XVI.  Marilah kita berdoa, agar semangat para Martir Jepang , Paulus Miki, dkk ini meneguhkan iman kita akan Kristus. Kita berdoa dan bawa semua mereka yang menderita sakit dan penganiayaan karena iman.

Renungan
Dua bacaan suci hari ini mengusung satu persoalan pokok dan penting berkaitan dengan kualitas kehidupan manusia. Persolaan pokok penentu kehidupan itu adalah kebijaksanaan hidup. Kebijaksanaan hidup itu berarti kondisi dan peri kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Raja Salomo yang kemudian dikenal sebagai raja paling bijaksana sepajang sejarah peradaban manusia menjadi bijaksana karena dia mewarisi kebijaksanaan itu sesuai dengan harapan Daud Bapanya. Konsistensi sikap dan perilaku sesuai dengan kehendak Tuhan melahirkan manusia bijaksana, Yesus juga menghendaki agar para pengikut, para murid, ahli waris-Nya memperoleh kebijaksanaan hidup dalam menjalankan misi perutusan mereka. Kisah pengutusan para murid dalam injil dengan segala ketentuan normatifnya adalah kisah yang menggambarkan betapa Tuhan mengehendaki semua pengikut-Nya menjadi orang bijaksana. Dan kita bisa menjadi bijaksana dalam seluruh tugas, karya kita sejauh kita dikuasai Roh Tuhan   membawa orang agar mengalami Tuhan yang membebaskan dan menyembuhkan. Hari ini dalam cara yang berbeda Tuhan memilih, mengangkat dan mengutus kita, Anda dan Saya untuk menjadi murid-murid-Nya yang setia, bijaksana dan teguh dalam iman seperti Paulus Miki, dkk. Mari belajar menjadi bijaksana dan Tuhan memberkati kita semua.. Amin


Bacaan, 1Raj.2,1-4.10-12

 Ketika saat kematian Daud mendekat, ia berpesan kepada Salomo, anaknya: "Aku ini akan menempuh jalan segala yang fana, maka kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki. Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju, dan supaya TUHAN menepati janji yang diucapkan-Nya tentang aku, yakni: Jika anak-anakmu laki-laki tetap hidup di hadapan-Ku dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, maka keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel. Kemudian Daud mendapat perhentian bersama-sama nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di kota Daud. Dan Daud memerintah orang Israel selama empat puluh tahun; di Hebron ia memerintah tujuh tahun, dan di Yerusalem ia memerintah tiga puluh tiga tahun. Salomo duduk di atas takhta Daud, ayahnya, dan kerajaannya sangat kokoh.

Injil. Mrk.6,7-13

 Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: "Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka." Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.

Saturday, February 1, 2014

PERINGATAN: CARA MELAWAN LUPA

Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah,  2 Februari 2014
Mal.3,1-4; Ibr.2,14-18; Luk.2,22-32
Peringatan 86 Tahun Tarekat Frater BHK di Indonesia
Buka
Hari gereja memperingati pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah. Suatu peringatan yang mengingatkan kita bahwa kelahiran dan keharian Yesus merupakan berkat dari Allah untuk manusia. Berkat itu dipersembahkan kepada Allah. Hidup kita juga menjadi berkat dari Allah. Dalam iman yang melihat hidup kita sebagai berkat mendorong kita juga untuk menjadikan diri kita sebagai persembahan kepada Allah. Dan itu secara nyata kita tunjukan dalam jawaban kita menanggapi panggilan Allah. Persembahan diri dalam pelayanan memungkinkan kita melakukan hal-hal sederhana tetapi dengan cinta yang besar dan dengan hati penuh cinta. Persembahan diri kita kiranya menjadi terang bagi orang lain. Bersaman dengan peringatan Yesus dipersembahkan di Bait Allah kita juga bersyukur karena sejak 86 tahun silam para pendahlu kita dalam tarekat frater BHK telah membawa terang ke bumi Indonesia yang memungkinkan banyak orang mengalami kasih Tuhan. Kita berdoa semoga semangat dan cinta yang telah diperkenalkan sejak 86 tahun silam oleh perintis awal terus mewarnai karya para frater BHK ke depannya.
Renungan
Mengawali renungan ini, saya mengajak para frater sekalian untuk mencermati beberapa hal atau kenyataan berikut ini. (1) Di halaman depan rumah Induk ini ada sebuah monumen berupa patung Bunda Hati Kudus dan di bawahnya ada tulisan “Peringatan: Kapitel Umum Pertama di Indonesia. Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus-BHK, Malang, 9-21 Oktober 2000. Fr.MWilfied van der Poll, BHK Pemimpin Umum, Fr.Paulini B.C da Silva, BHK Wakil, Fr.Maria Leo Rultenberg, BHK Anggota/Sekertaris) (2) Di salah satu sudut lorong komunitas DPU Oro-oro Dowo ada prasasti berisi tentang perpindahan pusat generalat frater BHK dari Belanda ke Indonesia. (3) Dua tahun lalu saat mengikuti misa ulang tahun SMAK Frateran ada acara peresmian gua Maria di SMAK Frateran yang ditandai dengan penandatanganan prasasti yang ditempatkan dekat gua Maria. (4) Saat kita mengikuti rekoleksi di komunitas Novisiat, Frater Yasintus selalu menyisipkan ajakan untuk para frater agar bahan-bahan yang dipresentasikannya bisa dikumpulkan menjadi buku (5) Mengakhiri aneka kegiatan perlombaan di Yayasan Mardi Wiyata, para juara biasanya diberi piala dan piagam penghargaan. (6) Ketika saya menghadiri acara pernikahan seorang teman di Blitar, saya diberi sebuah cangkir yang bertuliskan kalimat indah tentang perkawinan, nama pasangan dan tanggal akad nikah mereka. (7) Hari ini kita merayakan ekaristi untuk satu ujud yaitu peringatan 86 tahun Tarekat Frater BHK masuk ke Indonesia.  
Deretan penggalan fakta ini melahirkan satu pertanyaan penting yang harus kita jawab. Pertanyaannya, mengapa harus ada monumen, prasasti, buku, piala, piagam, cangkir dan peringatan 86 tahun seperti ini? Atau kata apa sebenarnya yang memicu dan  mengharuskan adanya fakta-fakta seperti ini? Jawabannya hanya satu kata. Jawabannya adalah kata LUPA. Karena ada kata LUPA dan takut LUPA orang membuat monumen, prasasti, buku cacatan, piala penghargaan, membuat cangkir kenangan, dan hari peringatan. Kenyataan dan kisah sejarah peradaban manusia antara lain dapat dirunut melalui pelbagai cacatan dan peninggalan berupa prasasti. Semua hal itu dilakukan karena ada hal yang penting yang memang tidak boleh dilupakan atau harus selalu diingat. Singkat kata, tugu peringatan, monumen, prasasti, buku, harip-hari peringatan merupakan alat atau senjata melawan LUPA. Tanpa kita sadari, sesungguhnya setiap kali kita melihat meonumen atau prasasti sebenarnya kita dingatkan bahwa kita adalah PELUPA.
Beberapa hari yang lalu  dalam diskusi TVONE terkait keputusan MK tentang mekanisme Pemilu, Yuzril Isha Mahendra beberapa kali menegaskan bahwa masyarakat Indonesia, bangsa Indonesia memiliki ingatan yang pendek. Untung Yuzril tidak mengatakan bahwa bangsa Indonesia tergolong bangsa yang sering lupa ingatan. Ingatan pendek sama dengan cepat lupa apa yang pernah dilakukan, apa yang terjadi, dan apa yang dialami. Pernyataan Yuzril, itu ada benarnya juga meskipun lupa adalah pengalaman manusia universal. Banyak masalah di negara kita biasanya hilang dari ingatan kita atau dilupakan bersamaan dengan mengalirnya waktu. Kasus-kasus akan dilupakan bersamaan dengan berlalunya waktu dan akan diganti dengan kasus-kasus baru. Ketika kasus kematian Munir didiamkan, mendiang istrinya membuat gerakan perlawanan melawan Lupa dengan membangun menumen melawan Lupa untuk Munir.
Perayaan peringatan 86 tahun tarekat Frater BHK berkarya di Indonesia hari ini, boleh saja dikatakan sebagai peringatan dan perayaan melawan lupa. Melawan lupa yang boleh jadi akan dialami para frater generasi yang akan datang. Peringatan hari ini tanpa kita sadari mau menegaskan kepada kita bahwa kita juga berpeluang untuk lupa dan melupakan hal-hal penting dalam kehidupan kita sebagai sebuah persekutuan di bawah payung spirit hati sang pendiri. Momen peringatan 86 tahun Terekat frater BHK bermisi di Indonesia secara tidak langsung “memaksa” kita untuk mengingat segala sesuatu yang terjadi dan dialami sejak 86 tahun silam. Mengingat segala sesuatu yang penting yang terjadi masa lalu, merenungkan dan memaknainya pada saat ini untuk merencankan suatu perkembangan, progres masa depan misi tarekat. Sekali lagi perayaan peringatan ini, bagi kita adalah momen dan monumen pengingat melawan LUPA. Syukur karena pendahulu kita memilki tradisi untuk mencatat, menulis semua peristiwa penting yang terjadi sehingga kita sebagai pewaris tarekat dapat merunut suka duka perjalanan tarekat.
Tahun lalu di kapel ini kita merayakan misa peringatan 85 tahun tarekat masuk Indonesia. Saya yakin kita semua masih mengingat atau tidak lupa apa yang disampaikan romo yang memimpin misa waktu itu. Tahun lalu juga di kapel ini kita merayakan misa peringatan 140 tahun berdirinya tarekat frater BHK yang dimulai pendiri Ignas Andreas Schaepman di Belanda. Saya juga percaya bahwa apa yang saya sampaikan dalam renungan waktu itu masih melekat kuat dalam ingatan kita. Dari angka 140 tahun itu 86 tahun karya tarekat berada di Indonesia. Itu artinya apa? Artinya setelah 54 tahun tarekat Frater BHK berkarya di bumi Kincir Angin, tanah kelahiran tarekat, karisma pendiri semakin meluas ke Indonesia termasuk ke kota Malang ini. Usia 54 tahun bagi tarekat BHK saat itu dianggap usia matang menentukan pilihan atau opsi bermisi ke Indonesia untuk membumikan spirit Schaepman yang dikuasi gerakan hati. Keyakinan akan kematangan semangat bermisi itulah yang menginspirasi sekaligus menganimasi pelbagai bentuk karya yang dijalankan tarekat berkaitan dengan pembinaan kaum muda dalam jalur pendidikan. Aneka peristiwa penting dan aneka prestasi yang diraih dalam karya para frater BHK selama 86 tahun sebagai komunitas terpanggil harus dingat, dimaknai, dan diamini sebagai buah dari gerakan hati yang dikuasai kasih untuk mencintai. Keberadaan tarekat frater BHK selama 86 tahun di Indonesia adalah keberadaan dan kehadiran sebuah  hati. Spritualitas hati yang menjiwai karya dan perutusan para frater telah diwariskan dari sang pendiri harus dimaknai sebagai hati yang memenuhi kualifikasi unggul. Hati kita merupakan instansi penimbang dalam menentukan apakah yang kita lakukan itu baik atau buruk. Hati  kita menjadi institusi moral yang memungkinkan kita bisa membedakan apa yang baik dari yang buruk dan mengabaikan yang buruk untuk sesuatu yang yang  baik. Hati sebagai pengendali kehidupan, dalam konteks iman dan panggilan kita merupakan penentu kualitas hidup dan karya dalam panggilan kita. Berkarya dan menjalani panggilan dengan hati merupakan bentuk penyerahan dan persembahan diri kepada Allah.
Uskup Schaepman telah menyerahkan diri dan mempersembahkan diri kepada Tuhan. Ia telah memberi contoh penyerahan dan persembahan diri itu kepada semua pengikutnya. Panggilan adalah penyerahan dan persembahan diri. Semua kita menyebut diri sebagai orang terpanggil artinya kita tergolong orang yang telah menyerahan dan mempersembahkan diri dan kehidupan kita kepada rencana Tuhan.
Tentu bukan suatu kebetulan kalau peringatan 86 tahun karya frater BHK di Indonesia  ini bertepatan dengan pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah. Bacaan-bacaan hari ini juga memberi inspirasi sekaligus memberi wawasan baru untuk panggilan kita. Nubuat nabi Maleakhi dalam bacaan pertama menegaskan bahwa Tuhan yang dinantikan akan datang ke Kenisah-Nya. Dalam konteks perjanjian lama kenisah itu merujuk pada bangunan fisik di Yerusalem tetapi dalam konteks perjanjian baru kenisah itu dalam pengertian metafor merujuk pada diri dan pribadi manusia. Tubuh kita adalah Kenisah atau Bait Allah. Wawasan baru yang bisa kita kaitkan dengan peringatan 86 tahun karya frater BHK di Indonesia ini adalah melihat kehadiran para misionaris BHK 86 tahun silam itu sebagai utusan Tuhan yang mempersiapkan jalan sekaligus membawa Tuhan kepada manusia Indonesia sebagai Kenisah. Tentu kita berbangga karena 86 tahun lalu ada konfrater kita yang menghadirkan Tuhan dengan spirit pendiri. Dalam bahasa nabi Maleakhi para frater perintis itu ibarat  tukang permurni logam yang membawa api yang memurnikan dan ibarat tukang cuci yang membawa sabun dan deterjen  pembersih. Misionaris perintis itu telah membawa semangat pendiri yang berpusat pada hati untuk memurnihkan dan membersikan manusia Indonesia dari kebodohan. Bangsa Indonesia yang dimurnikan dan dibersihkan dari kebodohan melelaui karya para frater ibarat nabi yang diutus mentahirkan orang Lewi.  Hasil karya para misionaris perintis BHK memungkinkan begitu banyak orang mengenal Tuhan yang pada akhirnya mempersembahkan diri kepada Tuhan. Sejujurnya harus kita akui bahwa  kita mau bergabung dalam persaudaraan BHK karena ada pendahulu kita yang membawa dan memperkenalkan TUhan itu kepada kita. Dan itulah alasan mengapa ada peringatan seperti ini.
Pilihan menyerahkan dan mempersembahkan diri kepada TUhan yang diperkenalkan kepada kita melalui karya para pendahulu kita pada dasarnya adalah pilihan untuk berada dan hidup dalam kebersamaan, persaudaraan , dan solidaritas. Dimensi kerbersamaan, persaudaraan, dan solidaritas harus menjadi identitas kita  yang menyerahkan dan mempersembahkan diri kepada Tuhan. Mengapa ketiga hal itu penting? Surat kepada orang Ibrani tadi memberi pendasaran yang tidak terbantaahkan yaitu karena Yesus yang adalah Tuhan telah menyatakan  solidaritas dengan menjadi seperti manusia. Merasa diri sama seperti orang lain adalah bahasa sederhana untuk sebuah solidaritas. Hanya kalau kita merasa diri sama dengan orang lain kita akan menumbuhkan semangat kebersamaan dan persaudaraan. Kita tentu yakin bahwa keberadaan dan karya frater BHK selama 86 tahun di Indonesia berhasil karena mengedepankan dimensi kebersamaan, persaudaraan, dan solidaritas itu. Karena itu, pada momen peringatan seperti ini kita tidak boleh melupakan apa makna kebersamaan, persaudaraan, dan solidaritas itu di antara kita sebagai konfrater dan di antara kita dengan orang yang kita layani dalam karya pelayanan kita.
Kehadiran Yesus di bait Allah saat dipersembahkan kedua orangtuanya menurut tata cara adat Yahudi menciptakan suasana luar biasa. Penggalan injil Lukas tadi menggambarkan bagaimana suasana di kenisah saat seorang bernama Simeon menyaksikan Yesus datang. Simeon yang sepanjang hidupnya merindukan datangnya sang Mesias pada akhirnya meluapkan kegembiraannya dalam sebuah kidung yang Indah. Bagi Simeon kedatangan, kehadiran Yesus di kenisah adalah penuhan akan apa yang dirindukan dan dinantikan sepanjang hidupnya. Hidup Simeon hanya diarahkan pada cita-cita melihat dan memandang Allah. Karena itu, baginya kematian setelah mengalami sendiri, memandang, dan melihat Tuhan  adalah kematian dalam rahmat.”Sekarang Tuhan, perkenankanlah hamba-Mu berpulang dalam damai sejahtera, menurut sabda-Mu, sebab aku telah melihat keselamatan yang Kausediakan di hadapan segala bangsa”.
Apa relevansi perkataan Simeon ini dengan peringatan 86 tahun karya frater BHK di Indonesia. Menurut saya pernyataan Simeon ini menjadi sebuah prasasti dan menomen peringatan bagi kita untuk tidak melupakan semangat awal tarekat kita dalam menghadirkan Tuhan kepada orang yang meridukan dan menantikan keselamatan. Sejak 140 tahun yang lalu saat tarekat lahir di Belanda dan sejak 86 tahun tarekat berkarya di Indonesia masih banyak orang seperti Simeon yang menantikan kehadiran Tuhan melalui karya para frater. Saat ini, di mana-mana banyak Simeon yang ingin mengenal Tuhan dalam berbagai cara. Dan para frater BHK punya cara yang khas dalam spirit pendiri, membawa Tuhan yang sudah memenuhi hati kepada hati orang yang mendambakan Tuhan. Sebagai pengikut Kristus kita ada, hadir, dan hidup untuk menghadirkan Kristus. Betapa Tuhan diagungkan kalau setiap perjumpaan kita dengan orang lain melahirkan suana seperti perjumpaan Yesus dengan Simeon. Mari kita jadikan peringatan hari ini sebagai menumen pengingat atau senjata melawan LUPA akan apa yang telah dimulai pendiri dan para pendahulu kita. Semoga semakin banyak orang mengalami seperti yang dialami Simoen dalam perjumpaan dengan kita. Profiat, Hati Bunda Kudus terbuka untuk niat baik kita. Amin
Claket, 2 Februari 2014

Friday, January 31, 2014

BERTOLAK KE SEBERANG

Sabtu Biasa ke-3 Thn B1. 1 Februari 2014
2Sam.12,1-7a.10-17; Mrk.4,35-41
Marilah Kita Bertolak Ke Seberang (Mrk 4:35-41)
Melalui peristiwa angin ribut yang diredahkan, Yesus mau memperlihatkan kepada para murid, bahwa Ia akan selalu menyertai mereka dalam perjuangan mereka menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Melalu peristiwa ini juga Yesus mau memperlihatkan kepada para murid bahwa dalam pelbagai kesulitan hidup, Yesus tidak meninggalkan mereka, Yesus tetap berada bersama mereka. Karena itu, mereka tidak perlu ragu-ragu untuk menjalankan apa yang Yesus katakan kepada mereka.
Agar Yesus selalu menyertai para murid dalam setiap detik kehidupan mereka maka dua hal saja yang perlu dilakukan oleh para murid adalah pertama, mengikuti ajakan Yesus untuk bertolak ke seberang bersama-sama dengan Yesus. Kedua, percaya kepada Yesus yang telah mengajak mereka untuk sama-sama bertolak ke seberang.
Ajakan untuk bertolak ke seberang bersama Yesus adalah ajakan untuk melewati berbagai kesulitan dan masalah dalam kehidupan ini bersama dengan Yesus. Danau atau laut dalam bahasa kitab suci adalah wilayah kekuasaan roh-roh jahat. Roh-roh jahat tidak akan dengan begitu saja membiarkan orang melewati  tempat tinggalnya. Dia akan berusaha mengganggu, menghalangi orang-orang untuk seenaknya melewati tempat tinggal mereka. Karena itu, ketika para murid dengan Yesus melewati tempat mereka, mereka mengganggu dan menghalanginya dengan menurunkan angin taufan dasyat.
Dunia kita pun penuh dengan kekuatan kegelapan yang tidak dengan begitu saja kita bisa hidup dengan aman. Dengan berbagai cara mereka akan mengganggu, menantang, menggoda dan mencoba kita. Nah, untuk melewati ini semua kita perlu berjalan bersama Yesus. Kalau kita berjalan bersama Yesus, dia akan  membantu kita untuk mengalahkan taufan kehidupan dunia ini. Dan Yesus memang mengajak kita “mari kita bertolak bersama-sama”. Kiranya kita tidak menolak ajakan Yesus ini untuk bertolak bersama Dia melewati berbagai kesulitan hidup kita.
Hal kedua yang perlu dilakukan kalau ingin agar bisa melewati kesulitan dalam kehidupan dengan baik adalah percaya kepada Yesus yang telah mengajak kita betolak ke seberang. “Mengapa kamu tidak percaya” tegur Yesus kepada para murid. Percaya kepada Dia merupakan jalan bagi datangnya bantuan dan pertolongan dari Yesus. Yesus akan selalu siap menolong kita, kapan dan di mana saja. Yang terpenting kita mau mempercayainya. Persoalannya sekarang adalah: Apakah kita mau percaya sepenuhnya kepada Dia? Dan apakah kita mau mengikuti ajakan Yesus untuk bertolak melewati berbagai kesulitan hidup kita bersama Yesus?
Sering dalam kenyataan, kita kurang memiliki kepercayaan kepada Tuhan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan kita. Di tengah berbagai kesulitan, orang banyak kali lari ke kekuatan-kekuatan lain dan bukannya kepada Tuhan. Banyak kali kita lebih senang berjalan sendiri di tengah kesulitan kita. Akibatnya kita sering kali jatuh ke dalam berbagai taufan kehidupan ini. Hari ini kita diingatkan lagi bahwa di tengah taufan kehidupan ini, kita masih mempunyai harapan yaitu Yesus sendiri. Karena itu marilah kita mempercayakan kehidupan kita kepada-Nya dan mari kita mengikuti ajakan-Nya untuk berjalan bersama Dia melewati berbagai kesulitan kehidupan kita.

Thursday, January 30, 2014

TUHAN MENGAJARKAN KETEKUNAN

Jumat Biasa Pkn ke-3 Th.A2 31 Januari 2014
2Sam.11,1-4a.5-10a,13-17  Mrk.4,26-34
(St.Yoh Don Bosco)
=================================================
Buka
Misi keselamatan Allah untuk manusia bukanlah urusan Allah saja. Manusia yang percaya dan beriman kepadanya dituntut keterlibatannya. Allah menuntut ketekunan manusia dalam berpartisipasi demi keselamatan yang dijanjikan. Yohanes Don Bosko yang kita peringati pestanya hari ini telah menjadi contoh dalam hal ketekunan. Ia telah menjadi biji sesawi dan telah menjadi benih unggul di tangan Allah yang mampu menjadi tempat perlindungan banyak orang. Bacaan hari ini menuntut manusia unttuk menjadi penabur bahkan kalau boleh menjadi benih unggul di tangan Allah. Kita menyesali segala kelemahan kita mungkin kita belum berjuang maksimal sebagai pohon yang memberikan keteduhan dan buah untuk sesama kia...
Renungan
 Seorang insinyur pertanian pernah mendatangi seorang petani sederhana yang dapat dikatakan sebagai pertani teladan karena segala usaha berhasil dalam mengembangkan tanaman fanili. Ia diwawancarai dengan sekian banyak pertanyaan dari insinyur pertanian itu. Kepada petani itu ditanyakan tentang bagimana proses yang ditempuhnya dalam merawat tanaman faninlinya sampai mencapai hasil yang sangat membanggakan. Dia ditanya apakah ia menggunakan waktu ekstra dalam usahanya sampai ia termasuk petani berhasil. Kepada sang insinyur si petani itu dengan lugunya memberikan jawaban. Bapak insinyur jangan tanyakan kepada saya tentang proses bagaimana fanili itu berbuah karena urusan untuk berbuah atau tidak itu bukan urusan saya. Saya hanya bekerja dan merawatnya dalam posisi saya sebagai pertani. Tentang bagimana ia berbuah dan segala pertanyaan lainnya itu bukan urusan saya. bapak insinyur toh tahu semua tentang hal itu. Saya tidak pernah kerja ekstra selain waktu yang pantas saya pakai untuk bekerja sebagai petani. Saya bekerja dan merawat fanili itu karena memang karena saya tahu bahwa satu saat semuanya akan berbuah. Tetapi bagimana merekaberbuah itu saya tidak tahu.
 Menarik sekali kalau kita coba merenungkan kisah yang diangkat dalam kedua bacaan tadi dan coba menghubungkannya dengan dialog antara seorang petani dengan ahli pertanian tadi. Dalam penjelasan petani tadi terdapat satu keyakinan mendasar bahwa yang menentukan berbuah tidaknya tanaman itu bukanlah urusan manusia melainkan itu adalah urusan Allah. Manusia cuma berusaha dengan bekerja dengan tekun. Manusia dalam bekerja itu berpartisipasi dalam upaya penciptaan oleh Allah. Ketekunan dan kesetiaan dalam menjalankan tugas sebagai petani itulah yang paling penting untuk seorang petani. Untuk menentukan berbuah tidaknya bukan merupakan tugasnya namun mengharapkan akan mendapatkan buah jelas memacunya untuk tetap setia dan tekun dalam tugas panggilannya sebagai petani.
Ketekunan dan kesetiaan pada tugas panggilan itu telah menjadi fokus perhatian dan titik tekan yang disampaikan dalam bacaan pertama tadi. Ketekuan akan menghasilkan buah. Membuktikan ketekunan jelas bukan perkara mudah. Ketekunan itu adalah perjuangan. Dan ketekunan dalam konteks kitab suci adalah ketekunan dalam iman akan Allah yang menjanjikan keselamatan. Kita senantiasa diingatkan: ”janganlah kamu melepaskan kepercayaan, karena upah yang besar memanti kamu. Kamu memerlukan ketekunan supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah kamu akan memperoleh apa yang dijanjikan. Buah yang baik dijanjikan Allah bagi yang tekun dalam imannya meski harus menanggung banyak penderitaan.
 Ketekunan manusia seanntiasa menjerat kemurahan Allah karena Allah sendiri senantiasa menghadirkan ketekunan itu dalam pengalaman hidup manusia. Injil menampilkan dinamika keterlibatan Allah dalam kehidupan manusia. Perumpamaan tentang benih yang tumbuh serta biji sesawi sesungguhnya mengisahkan betapa Allah itu tetap dan selalu terlibat dalam kehidupan manusia. Manusia beriman diharapkan sebagai penabur benih firman. Manusia tak perlu waktu ekstra namun Allah selalu berkarya siang malam. Ketika sang petani tidur terlelap setelah kerja sepanjang hari Allah bekerja terus sehingga semua tanamannya berbuah. Allah hanya akan meberikan buah pada benih yan pernah ditanam. Benih yang disimpan tidak akan tumbuh dan menghasilkan buah. Itu berarti manusia harus aktif dan tekun. Dan keterlibatan Allah dalam kehidupan manusia itu memang mengagumkan. Gambaran besarnya keterlibatan Allah dinyatakan dalam kisah tentang biji sesawi yang kecil ditangan para penabur namun pada akhirnya akan menjadi pohon yang besar dan rindang ditangan Allah. sekali lahgi biji sesawi yang kecil tak bakal tumbuh jika tidak pernah ditaburkan. Dan manusia berimanlah yang diharapkan sebagai penaburnya. Malah Allah juga mengharapkan agar manusia dpat menjadi benih yang tumbuh dan menghasilkan buah yang menjamin kehidupan orang lain. Manusia beriman yang tekun diharapkan dpat menjadi sebatang pohon tempat perlindungan sesamanya sebagaimana burung mendapat sarang pada pohon yang diangkat dalam injil tadi.
 Hari ini kita memperingat Pesta Santo Yohanes Don Bosko. Riwayat hidup dan panggilan Yohanes Don Bosco ini bukan cuma panjang tetapi sangat unik. Dalam buku berjudul Aneka Cerita tentang Don Bosko kita bisa mengenal siapa sebenarnya Don Bosko ini. Kisah kehidupannya sudah membuktikan bahwa dia menjadi seorang yang tekun dalam iman dan kepercayaan kepada Allah sehinga tidak mengherankan banyak terjadi mujizat selama hidupnya. Don Bosko telah menjadi sebiji sesawi ditangan Allah dan telah bertumbuh menjadi pohon yang rimbun. Minat Yohanes Don Bosko pada pastoral kehidupan anak remaja telah membuktikan bahwa ia telah menjadi tempat berteduh para remaja. Dan bagian akhir bukunya Don Bosco memberikan pesan dan wasiat untuk para kaum muda. Ia menulis beberapa pesan berikut untuk orang-orang muda: Anank-anaku yang terkasih saya amat mencintai kalian dan meyakinkan kalian bahwa kalian mungkin akan menemukan buku yang ditulis oleh orang yang lebih kudus dan lebih pintar dari saya. Tetapi kalian akan sulit menemukan seorang yang lebih mencintai kalian dalam Tuhan dan memperhatikan kebahagiaan kalian yang sejati. Orang yang malas pada akhir hidunya akan menderita penyesalan karena menyia=nyiakan waktu. Bijaksanalah dalam kehidupan. dan pilihlah kehidupan itu secara tepat. Karena keliru memilih keadaan hidup akan membuat kehidupan itu menjadi kekeliruan. Aku menyampaikan pesanku dan aku tetap meantimu di Firdaus.
Kiranya firman Tuhan hari ini dan pengalaman hidup Yohanes Don Bosko mampu menguatkan kita dalam tugas dan pelayanan kita agar kita semakin tekun dan pada akhirnya dapat menjadi sebuah pohon yang bukan saja berbuah tetapi dapat memberikan perlindungan dan keteduhan buat sesama kita. Mudah-mudahan...

Rm.Bone Rampung Pr

Wednesday, January 29, 2014

MODAL MURID PENJALA MANUSIA

Renungan Rekoleksi Bulanan Frater BHK

Komunitas Claket, 21 Malang Kamis, 29 Jan. 2014

Teks Insipirasi: Mat 16:24; Luk.5,10b



MODAL SEORANG MURID PENJALA MANUSIA



Tema yang disampaikan Frater Vincent kepada saya adalah Kemuridan atau Menjadi Seorang Murid Kristus. Tema ini biasa dan selalu kita dengar dan renungkan. Terminologi murid itu sudah menjadi bagian dari kehidupan para frater yang bergulat dan bergelut dalam dunia pendidikan. Meskipun tema sebegini terkesan usang dan biasa tetapi saya kira tidak ada buruk juga kalau kita angkat dalam rekoleksi ini mungkin sekadar menyegarkan ingatkan kita tentang peran, status kita dalam kaitannya dengan panggilan kita kini dan di sini. Dalam dunia pendidikan masa kini kata murid tampaknya mengalami pergeseran frekuensi penggunaannya karena bersaiang dengan bentuk lain seperti siswa dan peserta didik.

Komprehensi atau pemahaman kita tentang pengertian kata murid dapat dirujuk dengan deskripsi antara lain: murid adalah orang yang lebih muda, orang masih banyak kurangnya, masih perlu bimbingan, masih harus belajar menerima lebih banyak, perlu mendnegarkan lebih banyak. Dengan kata lain, kata murid selalu mengindikasikan keberikatan dan kebergantungan pada orang lain yang diyakini dapat memenuhi harapan para murid. Dalam jagat pendidikan murid adalah orang yang mau belajar dan menimba berbagai ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Orang tua menyekolahkan anaknya dalam lembaga pendidikan yang berkualitas, tentu bukan untuk menyombongkan kemampuan akademik atau kehebatan anak mereka melainkan untuk meningkatkan mencerdaskan dan kualitas hidup anak di masa depan.

Pengertian murid yang hendak kita renungkan dalam rekoleksi ini merujuk pada konsep Alkitabiah artinya murid yang dimaksudkan di dalam kitab suci. Dalam konteks Alkitab, kata murid bukan hanya berarti orang yang belajar, tetapi lebih dari itu ia menjadi pengikut yang mengabdikan diri secara utuh pada guru, pembimbingnya. Pelbagai kisah tokoh penting dalam Alkitab baik dalam perjanjian lama maupun dalam perjanjian baru selalu menghadirkan dialektika status pemuridan dengan mereka yang disebut sebagai tempat murid belajar sesuatu. Sejarah hidup manusia dirajut dalam seretetan kisah waris mewarisi, meskipun tidak disebut sebagai penyerahan tongkat estafet dari guru (sebagai pendahulu) kepada murid (sebagai pengikut). Dari perjanjian lama kita bisa membaca dan mendengar contoh kisah pemuridan seperti ini. Yosua menggantikan Musa, Elisa menggantikan Elia. Hal sama kita temukan dalam Perjanjian Baru: Yohanes dengan murid-muridnya, Yesus Kristus dengan ke-12 murid-Nya, serta Paulus dengan Timotius, Titus. Dengan demikian pengertian murid Kristus adalah orang-orang yang percaya dan yang mau belajar tentang segala ajaran Kristus dan mengabdikan hidupnya untuk mengikuti Kristus.

Meskipun dikatakan bahwa murid Kristus adalah mereka yang percaya kepada Kristus tetapi tetap mesti disadari bahwa tidak semua orang yang percaya itu bersedia menjadi murid Kristus. Mengapa? Karena mereka hanya sampai pada batas percaya tetapi enggan untuk mempelajari dan melaksanakan setiap ajaran Kristus dalam hidup konkret. Menjadi murid Kristus tidak cukup dengan berkata-kata. Menjadi murid Kristus berarti aksi, tindakan. Bila kita telah mengaku diri sebagai murid Kristus, apakah kita sudah benar-benar mempelajari dan melaksanakan ajaran Kristus? Pertanyaan ini menjadi cermin tempat kita bercaca. Lalu pertanyaan selanjutnyal: Apakah tujuan kita belajar menjadi murid Kristus? Dan bagaimana kita bisa menjadi murid Kristus?

Maksud dan tujuan kita belajar menjadi murid Kristus tidak lain agar kita menjadi serupa dengan Kristus. Menjadi serupa dengan Kristus merupakan kehendak Allah atas orang-orang yang menjadi murid Kristus. Santo Paulus membahasakannya kepada kita secara tepat seperti yang disampaikannya dalam surat kepada jemaat di Roma “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara(Roma 8:29). Memilih untuk menjadi serupa dengan Kristus di sini tidak berarti kita memiliki keilahian Kristus, melainkan kita mengikuti jejak kemanusiaan-Nya. Dalam kemanusiaan-Nya, Kristus telah merendahkan diri, taat, dan setia kepada Allah Bapa dalam misi menyelamatkan manusia. Demikian juga kita perlu rendah hati, taat dan setia pada Kristus Yesus dalam mempertanggung jawabkan hidup dan panggilan kita sesuai dengan kehendak-Nya. Lalau bagaimana kita sebagai murid bisa belajar untuk menyerupai Kristus? Jawabannya, kita perlu memelihara persekutuan yang erat dengan Allah, senantiasa berpegang pada ajaran Kristus, serta memberi dan membiarkan diri hidup dalam tuntunan Roh Kudus.

Kalau di sekolah orang diterima menjadi murid harus memenuhi persyaratan administratif termasuk harus ada modal ntuk biaya, maka untuk menjadi murid Yesus apa syaratnya dan berapa kekuatan modal yang diperlukan? Penginjil Matius memberi jawaban bahwa untuk menjadi Murid Kristus kita harus memiliki modal 3M. Rinciannya 1M untuk kelengkapan administrasi penyangkalan diri, 1M modal untuk melatih kekuatan fisik menahan beban kehidupan, 1M untuk biaya perjalanan mengikuti Yesus. Matius merumuskan 3M itu dalam satu kalimat ini:”Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti Aku”(Mat 16:24). 3M ini sekaligus menjadi 3 langkah kemuridan kita.

Modal Menyangkal Diri

Menyangkal diri bukan berarti menghilangkan eksistensi dan makna diri dalam hidupnya. Menyangkal diri adalah tidak mendisposisikan atau menempatkan diri sebagai pusat hidupnya, tetapi menempatkan Kristus sebagai pusat dan tujuan hidupnya. Deskripsi perihal penyangkalan diri ini dalam versi Konstitusi para frater BHK dinyatakan Ingkar diri mengharapkan: Bahwa kita hidup tidak hanya untuk diri kita sendiri, Tidak menjadikan diri kita pusat perhatian, tetapi mencari harga diri dan pengembangan diri di dalam pengabdian diri kepada Allah dalam karya penciptaanNya; Di mana tak ada sesuatu atau seorangpun yang kita anggap remeh (Konst. Psl. 72)

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa orang yang memiliki modal untuk menyangkal diri akan memaknai dan memahami hidup dan panggilannya sebagai kasih karunia Kristus yang patut disyukuri dan dijalani dengan penuh tanggung jawab di hadapan-Nya. Orang yang menyangkal diri akan berkata: “Bukan kehendakku, ya Bapa, melainkan kehendak-Mulah yang jadi.” Contoh penyangkalan diri dapat kita lihat dari hidup rasul Paulus, yang dalam surat-suratnya menyatakan bahwa apa yang dia pikirkan, apa yang dia lakukan, semata-mata bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk Tuhan. Kita tentu kagum akan kata-kata Paulus ini:” Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup dan mati, kita adalah milik Tuhan (Rom.14:8).

Apabila kita senantiasa belajar menyangkal diri, kita akan dapat menjadi murid Kristus yang menempatkan kehendak Kristus sebagai dasar dan pedoman setiap rencana dan langkah hidup kita. Orang yang dapat menyangkal diri juga tidak menganggap diri dan kepentingannya sebagai yang utama, tetapi ia dapat bersikap rendah hati dan memperhatikan kepentingan orang lain. Inilah yang dimaksudkan Paulus kepada jemaat di Filipi :”Dengan demikian sebagai murid Kristus, kita tidak hanya menempatkan Kristus sebagai pusat dan tujuan hidupnya, tapi juga senantiasa rendah hati dan peduli pada kepentingan orang lain (Filipi 2:3). Inilah eksistensi dan makna hidup seorang murid Kristus di tengah kehidupan ini.

Modal Memikul Salib

Modal dan langkah berikutnya agar menjadi murid Kristus adalah bersedia memikul salib. Pada masa Yesus, salib merupakan hukuman yang paling hina dan membuat orang menderita. Salib diberikan pengadilan Romawi kepada orang yang terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pelanggaran dan dosa besar. Yesus jelas tidak pernah melakukan pelanggaran dan dosa apa pun, tetapi Ia memberi diri disalibkan untuk menggenapi misi Allah menyelamatkan umat manusia dari dosa dan maut. Karena itu makna salib bagi Yesus bukan lagi penderitaan melainkan pernyataaan dan bukti ketaatan Kristus pada Allah dan wujud nyata kasih-Nya pada umat manusia. Hal ini ditegaskan Paulus kebenaran ini kepada kita melalui suratnya kepada jemaat Filipi: “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:6-8).

Kosuke Koyama, seorang teolog Jepang pernah bertanya: “Kenapa orang Kristen harus memikul salib? Mengapa lambang orang Kristen adalah salib? Mengapa bukan rantang yang berisi makanan bergizi dan memiliki gagang sehingga mudah menentengnya?” Pertanyaan Kosuke Koyama ini membantu kita memahami salib bukan sebagai hal yang menyenangkan atau membanggakan, tetapi salib adalah harga yang harus kita bayar sebagai murid Kristus. Setiap orang pada dasarnya memiliki salibnya masing-masing, yang harus dipikul dengan sabar dan taat kepada Kristus. Dalam memikul salib sebenarnya kita tidak perlu menggembar-gemborkan kesulitan yang kita alami, tetapi justru kita perlu belajar tetap bersukacita dalam Kristus (1Petrus 4:12-14).

Modal Mengikut Kristus

Mengikut Kristus artinya setia menjejaki jalan-Nya dan taat melaksanakan segala firman-Nya. Ketika Yesus mengajak murid-murid yang pertama (Simon Petrus, Andreas, Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes) untuk menjadi murid Kristus, mereka meninggalkan jala, perahu, dan ayah mereka, dan mengikut Yesus (Matius 4:18-22). Dari peristiwa ini kita belajar tentang komitmen mengikuti panggilan Kristus, dan taat melaksanakan segala firman-Nya dalam praksis hidup kita.

Saat Yesus berada di antara kerumunan orang-orang, seorang ahli Taurat berkata kepada Yesus: “Guru, aku akan mengikuti Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Reaksi dan tanggapan Yesus singkat, tegas dan jelas: ”Serigala mempunyai liang dan burung memiliki sarang, tetapi Anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”(Matius 8:19-20). Jawaban Yesus ini menjadi suatu pernyataan penting dan mendasar sekaligus mau mengatakan bahwa sebenarnya Yesus tidak mendapat tempat di hati orang Farisi itu. Walaupun dia berkata akan mengikut Yesus, tetapi Yesus tahu keberatan hatinya. Mengapa? Karena ia adalah seorang Farisi yang pasti akan sangat sulit meninggalkan segala reputasi dan otoritasnya yang besar dalam sistem dan adat istiadat agama Yahudi. Hingga saai ini juga kita bisa merasakan bahwa pergumulan seperti orang Farisi itu cenderung dialami banyak orang Kristen.

Mengikut Kristus adalah mengutamakan Kristus di atas segalanya, menempatkan Yesus pada nomor topi, bukan menempatkan Kristus di bawah kepentingan yang lain atau pada nomor sepatu. Bila kita mau mengikut Kristus, kita perlu taat melaksanakan ajaran Kristus dan memberi kesaksian tentang kebenaran Kristus kepada sesama melalui olah kata dalam berbahasa, olah laku dalam tindakan, dan olah pikir saat menilai sesuatu dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal utama yang perlu kita laksanakan sebagai murid Kristus adalah meneladani gaya hidup Kristus untuk hidup saling mengasihi. Dengan hidup saling mengasihi, kita turut mewujudnyatakan misi Kristus dalam menghadirkan kasih dan damai sejahtera bagi dunia.

Menjadi murid Kristus bukan suatu prestasi untuk menunjukkan kehebatan dan kemampuan kita melaksanakan semua ajaran agama dan gereja. Menjadi murid Kristus adalah suatu pembelajaran bagi kita untuk terus menerus mengenal Kristus, memberi diri dituntun oleh Roh Kudus, serta taat melaksanakan setiap ajaran-Nya. Matius 16:24 (menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus) menjelaskan secara sederhana bagaimana kita dapat terus diproses dan diperlengkapi menjadi murid Kristus. Bila kita senantiasa berusaha menjadi murid Kristus, maka sebenarnya kita turut mewujudkan kehendak Allah agar kita hidup serupa dengan Kristus. Keserupaan kita dengan Kristus sebagai murid-Nya menuntut kita untuk membutikan bahwa kita telah memiliki modal 3M itu dalam tugas yang Tuhan berikan dan percayakan kepada kita. Apa tugas kita sebagai murid Tuhan?

Salah satu tujuan Yesus memanggil para murid adalah untuk menjadi “penjala manusia”. Ungkapan “menjala manusia” terdapat dalam kisah panggilan murid-murid pertama dalam ketiga injil sinoptik. Injil menampilkan daya tarik Yesus yang luar biasa sehingga para murid tanpa berpikir panjang dan tanpa persiapan langsung mengikuti Yesus. Panggilan untuk “menjala manusia” merupakan cara Yesus untuk menyatakan tugas baru yang akan diemban para murid-Nya. Tugas baru itu adalah mewartakan injil dan memperkenalkan Yesus agar semakin banyak orang mengenal dan percaya kepada-Nya. Para murid meninggalkan kebiasaan menangkap dan mengumpulkan ikan dan menggantinya dengan mengumpulkan dan membawa orang pada kehidupan bersama Yesus. Tugas para murid sebagai “penjala manusia” adalah mewartakan injil mulai dari lingkungan mereka (Yerusalem) sampai ke ujung bumi (Kis 1:8).

Meskipun sudah sejak panggilan pertama, para murid diberi tugas “menjala manusia”, tugas misi itu barulah sungguh-sungguh diaksanakan para murid setelah Yesus naik ke surga dan setelah Roh Kudus turun atas mereka. Para murid memulai karya misi mereka setelah Roh Kudus turun atas mereka, sebagaimana Yesus juga memulai perjalanan pewartaan-Nya dalam pimpinan Roh.

Menjadi “penjala manusia” merupakan tugas dan panggilan baru untuk Simon dan teman-temannya. Panggilan untuk menjala manusia inilah yang mendasari kebersamaan Yesus dan para murid-Nya. Yesus menginkan agar dalam kebersamaan dengan-Nya, para murid belajar menjadi “penjala manusia”. Apa arti “menjala manusia” di sini? Istilah “menjala manusia” hanya ada pada kisah panggilan versi injil Lukas. Istilah ini merupakan metafora yang digunakan Yesus untuk menyatakan maksud panggilan-Nya kepada para murid, terutama kepada Simon. Adakah makna yang tersirat dalam istilah “menjala manusia”?

Bagi masyarakat Timur Tengah, laut diyakini sebagai sumber kebijaksanaan hidup. Oleh karena itu, bagi mereka, “memancing atau menjala” merupakan simbol pencarian jiwa dan pencarian ke dalam jiwa yang menggambarkan harta kebijaksanaan dari lautan ketidaktahuan. Dalam pemahaman ini, panggilan “menjala manusia” memperoleh makna tersirat dari yang tertulis. “Menjala manusia” dapat dipahami sebagai pencarian jiwa manusia dan pencarian ke dalam jiwa manusia.

Dalam teks asli berbahasa Yunani, kata kerja yang dipakai untuk menerjemahkan istilah “menjala manusia” dalah “zōgrōn” yang dibentuk dari kata zōos (= hidup, bernyawa; alive) dan agrein (= menangkap, berburuh; catch, hunt). Kata ini berarti bekerja menangkap manusia-manusia untuk membawa mereka ke kehidupan. Dengan demikian, panggilan Simon dan teman-temannya adalah bekerja menangkap manusia-manusia untuk membawa mereka kepada kehidupan. Tugas baru Simon ini bertolak belakang dari tugasnya semula. Kalau semula mereka adalah penjala ikan yang menangkap ikan untuk dikonsumsi, (menyebabkan ikan mati), kini (“mulai sekarang”) mereka menjadi “penjala manusia” yang membawa manusia kepada kehidupan (menyelamatkan hidup mereka). Inilah tugas panggilan kemuridan Simon dan teman-temannya sepanjang hidup mereka.

Implikasi panggilan kemuridan Simon ini adalah ia akan menyelamatkan manusia dari kuasa maut dan memelihara kehidupan mereka dengan menjadikan mereka pengikut Kerajaan Allah. Dengan demikian, Simon dan teman-temannya dipanggil untuk melanjutkan misi Yesus, yakni mewartakan Injil Kerajaan Allah demi keselamatan manusia (agar manusia memperoleh kehidupan bersama Allah) serta mengumpulkan manusia untuk bergabung dalam Kerajaan itu. Tugas dan panggilan menjadi penjala manusia menjadi tahap baru dalam kehidupan seorang murid Tuhan. Yesus meneguhkan misi dan tugas itu dengan berkata: Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia (Luk.5,10b). Ayat ini mau menegaskan bahwa setiap saat dalam hidup orang terpanggil harus menjadi kesempatan membawa orang menuju kehidupan.

Perutusan para murid “menjala manusia” tidak hanya terjadi pada era gereja perdana, era para Rasul, tetapi pada saat ini pun perutusan itu masih dibutuhkan sesuai dengan konteks kekinian. Konsili Vatikan II menekankan tugas wajib umat Kristen sebagai pewarta injil (AG art. 6-7). Dengan pewartaan ini diharapkan cahaya Kristus dapat menyinari semua orang dari segala penjuru dunia (LG. 1). Semoga kita dapat membawa terang Tuhan, karena telah memutuskan menjadi murid Yesus. Tuhan memberkati kita.



Claket, 30 Januari 2014