Tuesday, February 25, 2014

PEMINDAHAN KERANGKAN JENAZAH

Renungan

Ibadat Pemakaman Kerangka Jenazah 3 Fr.BHK

Selasa, 26 Februari 2014 di Karangwidoro Malang

Why.21,1-7; Yoh,6:37-40

 

Buka

Saudara/i terkasih, Tuhan Yesus Kristus telah bersabda: ”Biji gandum yang tidak ditanam dan mati, akan tetap tinggal sebiji; tetapi jika mati, akan berbuah banyak sekali”. Tiga biji gandum itu hadir dalam diri ketiga frater kita yang telah berpulang dan kerangka mereka kita  datangkan dan mau kuburkan di pemakaman ini. Kini kita mau menyerahkan kerangka tubuh fisik mereka kepada pangkuan ibu pertiwi. Kita semua percaya bahwa seperti Kristus turun ke alam maut, lalu bangkit dengan mulia, demikian pun saudara-saudara kita ini akan dibangkitkan untuk kehidupan kekal. Marilah kita saling meneguhkan dalam kepercayaan ini.

Doa Pembuka

Marilah berdoa

Allah Bapa yang maharahim, kehidupan dan kematian kami berada di tangan-Mu. Engkau telah memanggil saudara-saudara kami (…….NN) dari kehidupan di dunia ini menghadap hadirat-Mu. Dengan penuh harapan kami menantikan kebangkitan, sebab Kristus telah bangkit sebagai yang pertama dari antara orang-orang mati. Berikanlah mereka istirahat penuh terang dan damai dalam kerajaanMu. Ampunilah segala dosa dan kesalahannya agar mereka layak bersatu dengan para hamba-Mu untuk menikmati cahaya kebahagiaan kekal dan memuji kebaikan-Mu. Engkau mengubah maut yang gelap gulita menjadi fajar yang gilang-gemilang berkat kebangkitan mulia PuteraMu. Maka kami mohon kasihanilah mereka, ya Tuhan, kasihanilah mereka, dan terimalah mereka dalam rumah Bapa surgawi. Demi Yesus Kristus Putra-Mu, Tuhan dan pengantara kini dan sepanjang masa.  U : Amin 

Kitab Wahyu 21,1-7

Lihatlah, Aku menjadikan segala sestau baru

 Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: "Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: "Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!" Dan firman-Nya: "Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar." Firman-Nya lagi kepadaku: "Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.

Injil Yohanes 6:37-40

Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang  kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk  melakukan kehedak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia  yang telah mengutus Aku. Dan inilah kehendak Dia yang  telah  mengutus Aku, yaitu supaya darisemua yang telah diberikanNya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak  BapaKu, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan  yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan  supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman. 
Renungan
Dua hari lalu ketika oversteh Claket 21 mengumumkan akan ada pemindahan kerangka konfrater dari pemakaman umum di Surabaya ke pemakaman para frater di Karangwidoro ini muncul dan terdengar beberapa komentar lepas yang terkesan ibarat canda. Frater Patris misalnya sempat berkomentar, mengapa mereka dipindahkan ke sini dan tidak dibiarkan tenang-tenang di pemakaman Surabaya. Kalalu mereka semua yang dimakamkan di tempat lain dibawa ke Malang, nanti kita yang lain tidak kebagian tempat. Frater lain menyambung, bahwa tempat masih cukup. Hanya memang tidak ada yang berani mengungkapkan keinginan untuk secepatnya mendapat tempat atau ingin merebut tempat di komunitas masa depan ini.
Secara praktis dan dalam pemikiran yang lebih pragmatis mungkin ada orang yang berpikir bahwa pemindahan kerangka seperti ini terkesan mencari kerja, mencari kerepotan, buang-buang waktu, tenaga dan biaya. Mencari kerja karena toh di mana saja orang dikuburkan pasti menjadi tanah karena hukum penciptaan mengharuskan itu terjadi. Diciptakan dari tanah kembali ke tanah, diciptakan dari debu kembali ke debu. Belum ada cerita yang menjelaskan bahwa jasad seseorang yang dikubur di tempat lain kemudian dipindahkan akan berubah menjadi emas atau batu permata. Sisa-sisa tubuh konfrater kita yang kita datangkan dari Surabaya dan dimakamkan hari ini di sini tidak akan menjadi emas dan batu permata. Kalau cara pikir seperti ini yang kita gunakan maka apa yang kita lakukan saat ini dianggap sebagai usaha mencari repot dan mau merepotkan diri.
Kita tentu tidak akan berpikir sepraktis dan sepragmatis seperti itu. Tentu ada niatan dan ada nilai yang mau kita wacanakan, yang mau kita tumbuhkan dalam aksi pemindahan kerangkan jenazah seperti ini. Tentu saja kegiatan dan tindakan pemindahan kerangka seperti ini menjadi saat permenungan sekaligus moment belajar untuk kita. Pemindahan kerangka ketiga konfrater ini jelas bukan atas rencana dan kehendak mereka bertiga tetapi atas rencana dan kehendak para frater yang hidup. Karena pemindahan ini terjadi atas rencana dan kehendak kita yang masih hidup maka satu pertanyaan pokok yang harus kita jawab adalah mengapa mereka dipindahkan ke sini? Kemungkinan setiap kita bisa memberi banyak alasan dan argumentasi tetapi saya kira dari semua alasan dan argumentasi yang ada dalam pikiran dan hati kita semunya bisa dirangkum dalam satu jawaban. Mereka dipindahkan ke sini demi sebuah kebersamaan.
Kita menginginkan bahkan bisa dikakatan kita memaksakan adanya kebersamaan bagi konfrater kita yang telah meninggal. Pemindahan yang kita lakukan dilandaskan pada pemikiran bahwa pemakamanan ini merupakan komunitas masa depan yang sungguh-sungguh menghadirkan nilai dan semangat kebersamaan dan persaudaraan. Kita semua dengan cara ini mau mengatakan dan mau mewartakan bahwa kebersamaan dan komunitas kita bukan hanya ada dan terjadi selama kita masih hidup tetapi justru harus nyata dalam komunitas masa depan. Pemakaman ini adalah komunitas masa depan para frater. Di pemakaman ini bahasa kebersamaan, bahasa persaudaraan itu menjadi nyata. Pemakaman ini sebagai komunitas masa depan yang membahasakan kebersamaan dan membahasakan persaudaraan kiranya menjadi komunitas yang tepat untuk kita belajar arti persaudaraan dan kebersamaan.
Kita menghendaki, merencanakan, dan menginginkan agar konfrater kita yang telah meninggal berada dalam satu komunitas masa  depan dalam kebersamaan. Itu artinya kebersamaan untuk mereka yang telah meninggal menjadi urusan penting bagi kita. Kita sibuk mengurus kebersamaan mereka yang telah meninggal jelas tujuannya baik dan mulia. Kita semua percaya sambil berharap dalam iman bahwa kalau semua konfrater kita yang sudah berada bersama dalam persaudaraan di komunitas masa depan ini berdoa dan menjadi pendoa bagi kita yang masih hidup maka para frater dan panggilan dalam tarekat akan terus maju dan berkembang. Maju dan berkembang karena nilai kebersamaan dan dimensi komununal itu kita tugaskan dan wajibkan kepada mereka dengan cara membiarkan mereka berada bersama.
Memang lebih mudah bagi kita untuk merencanakan kebersamaan mereka yang telah meninggal dengan cara seperti ini tetapi saya kira konfrater yang telah meninggal juga menghendaki adanya kebersamaan dan persaudaraan pada komunitas masa kini atau bagi kita yang masih hidup. Tentu menjadi tugas dan tanggungjawab bagi kita yang masih hidup untuk terus menghadirkan kebersamaan dan persaudaraan itu dalam hidup kita selama hidup. Saya kira konfrater yang telah kita satukan di kumunitas masa depan, di pemakaman ini akan merasa berbahagia jika nuansa kebersamaan, nuansa persaudaraan itu juga mewarnai komunitas-komunitas kita.
Kitab Wahyu memberi gambaran tentang langit dan bumi yang baru, Yerusalem baru. Lukisan sastra apokaliptik ini pada dasarnya mau mengatakan bahwa langit dan bumi yang baru adalah langit dan bumi yang diwarnai kebersamaan. Langit dan bumi baru yang didiami orang yang mengtamakan kebersamaan dan persaudaraan. Untuk meraih dan mengalami suasana Langit dan bumi diperlukan kebersamaan dan persaudaraan. Persadaraan dan kebersamaan bukan saja bagi yang telah meninggal tetapi terlebih bagi kita yang masih berada di komunitas-komunitas masa kini.
Kegiatan kita hari ini kiranya menyadarkan kita untuk menata kembali kebersamaan, nilai-nilai persaudaraan dan kehidupan komunal di komunitas-komunitas kita. Saya kira ketiga konfrater kita yang kita satukan di komunitas masa depan ini akan merasa bahagia melihat kita yang mengutamakan kebersamaan dan persaudaraan dalam hiudp dan karya kita. Jika itu yang terjadi maka janji Yesus dalam injil tadi juga menjadi janji yang akan digenapi untuk setiap kita.  Mari kita terus mengisi dan memaknai kebersamaan dan persaudaraan kita. Tuhan memberkati niat baik kita. Amin
Doa Penutup
Marilah berdoa:
Allah dan Bapa kami yang Maha baik, kami mempercayakan hamba-hamba-Mu (NN……) yang kami kasihi ini kepada kerahimanMu. Kami percaya, bahwa semua orang yang meninggal dalam Kristus akan hidup bersama Kristus. Kepercayaan ini memberi kami harapan dan menabahkan hati kami dalam kesusahan. Dengarkanlah doa umatMu ini dan bukalah pintu surga bagi mereka yang sudah Engkau panggil. Semoga kami yang masih berziarah di bumi ini saling membantu dalam segala tantangan hidup ini; dan tetap menaruh kepercayaan yang teguh akan sabda-Mu. Sebab Dialah Putera-Mu, Tuhan dan Pengantara kami kini dan sepanjang segala masa. Amin

Wednesday, February 5, 2014

PAULUS MIKI MARTIR JEPANG

Kamis Pekan Biasa ke-4 Thn. A2 6 Pebruari 2014
Pesta St. Paulus Miki, dkk. Kapela Cor Jesu
1Raj.2,1-4.10-12; Mrk.6,7-13
Buka
Kabar gembira tentang Yesus masuk Jepang berkat usaha Santo Fransiskus Xaverius pada abad ke-16. Lima puluh tahun setelah misi Fransiskus perkembangan umat Kristen di Jepang semakin besar. Bukan hanya jumlah besar tetapi kualitas iman mereka juga semakin kokoh. Perkembangan dan pertumbuhan jumlah umat Kristen itu dianggap mengancam pemerintahan Jepang. Ketika Jepang dipimpiin Hideyoshi, muncul penghasut yang membenturkan para pengikut Kritus  dengan pemimpin Jepang. Orang Kritsen yang dipimpin para misionaris Spanyol dan Portugis dianggap membahayakan keamanan negara dan akan menjadi pengkhianat. Itulah sebabnya banyak orang Kristen yang ditangkap dan dibunuh. Sebanyak 26 yang kita peringati hari ini sebagai martir Jepang adalah pengikut Kristus yang setia dan tegar berpegang teguh pada iman mereka. Paulus Miki  salah seorang dari tiga katekis Yesuit asal Jepang dibunuh bersama 6 biarawan Frasiskan asal Spanyol, Portugis, India dan 17 orang awam. Mereka dibunuh 5 Februari 1597 karena berpegang teguh pada iman akan Kristus. Tahun 1862 St. Paulus Miki dkk digelar  kudus oleh Paus Gregorius XVI.  Marilah kita berdoa, agar semangat para Martir Jepang , Paulus Miki, dkk ini meneguhkan iman kita akan Kristus. Kita berdoa dan bawa semua mereka yang menderita sakit dan penganiayaan karena iman.

Renungan
Dua bacaan suci hari ini mengusung satu persoalan pokok dan penting berkaitan dengan kualitas kehidupan manusia. Persolaan pokok penentu kehidupan itu adalah kebijaksanaan hidup. Kebijaksanaan hidup itu berarti kondisi dan peri kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Raja Salomo yang kemudian dikenal sebagai raja paling bijaksana sepajang sejarah peradaban manusia menjadi bijaksana karena dia mewarisi kebijaksanaan itu sesuai dengan harapan Daud Bapanya. Konsistensi sikap dan perilaku sesuai dengan kehendak Tuhan melahirkan manusia bijaksana, Yesus juga menghendaki agar para pengikut, para murid, ahli waris-Nya memperoleh kebijaksanaan hidup dalam menjalankan misi perutusan mereka. Kisah pengutusan para murid dalam injil dengan segala ketentuan normatifnya adalah kisah yang menggambarkan betapa Tuhan mengehendaki semua pengikut-Nya menjadi orang bijaksana. Dan kita bisa menjadi bijaksana dalam seluruh tugas, karya kita sejauh kita dikuasai Roh Tuhan   membawa orang agar mengalami Tuhan yang membebaskan dan menyembuhkan. Hari ini dalam cara yang berbeda Tuhan memilih, mengangkat dan mengutus kita, Anda dan Saya untuk menjadi murid-murid-Nya yang setia, bijaksana dan teguh dalam iman seperti Paulus Miki, dkk. Mari belajar menjadi bijaksana dan Tuhan memberkati kita semua.. Amin


Bacaan, 1Raj.2,1-4.10-12

 Ketika saat kematian Daud mendekat, ia berpesan kepada Salomo, anaknya: "Aku ini akan menempuh jalan segala yang fana, maka kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki. Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju, dan supaya TUHAN menepati janji yang diucapkan-Nya tentang aku, yakni: Jika anak-anakmu laki-laki tetap hidup di hadapan-Ku dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, maka keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel. Kemudian Daud mendapat perhentian bersama-sama nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di kota Daud. Dan Daud memerintah orang Israel selama empat puluh tahun; di Hebron ia memerintah tujuh tahun, dan di Yerusalem ia memerintah tiga puluh tiga tahun. Salomo duduk di atas takhta Daud, ayahnya, dan kerajaannya sangat kokoh.

Injil. Mrk.6,7-13

 Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: "Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka." Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka.

Saturday, February 1, 2014

PERINGATAN: CARA MELAWAN LUPA

Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah,  2 Februari 2014
Mal.3,1-4; Ibr.2,14-18; Luk.2,22-32
Peringatan 86 Tahun Tarekat Frater BHK di Indonesia
Buka
Hari gereja memperingati pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah. Suatu peringatan yang mengingatkan kita bahwa kelahiran dan keharian Yesus merupakan berkat dari Allah untuk manusia. Berkat itu dipersembahkan kepada Allah. Hidup kita juga menjadi berkat dari Allah. Dalam iman yang melihat hidup kita sebagai berkat mendorong kita juga untuk menjadikan diri kita sebagai persembahan kepada Allah. Dan itu secara nyata kita tunjukan dalam jawaban kita menanggapi panggilan Allah. Persembahan diri dalam pelayanan memungkinkan kita melakukan hal-hal sederhana tetapi dengan cinta yang besar dan dengan hati penuh cinta. Persembahan diri kita kiranya menjadi terang bagi orang lain. Bersaman dengan peringatan Yesus dipersembahkan di Bait Allah kita juga bersyukur karena sejak 86 tahun silam para pendahlu kita dalam tarekat frater BHK telah membawa terang ke bumi Indonesia yang memungkinkan banyak orang mengalami kasih Tuhan. Kita berdoa semoga semangat dan cinta yang telah diperkenalkan sejak 86 tahun silam oleh perintis awal terus mewarnai karya para frater BHK ke depannya.
Renungan
Mengawali renungan ini, saya mengajak para frater sekalian untuk mencermati beberapa hal atau kenyataan berikut ini. (1) Di halaman depan rumah Induk ini ada sebuah monumen berupa patung Bunda Hati Kudus dan di bawahnya ada tulisan “Peringatan: Kapitel Umum Pertama di Indonesia. Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus-BHK, Malang, 9-21 Oktober 2000. Fr.MWilfied van der Poll, BHK Pemimpin Umum, Fr.Paulini B.C da Silva, BHK Wakil, Fr.Maria Leo Rultenberg, BHK Anggota/Sekertaris) (2) Di salah satu sudut lorong komunitas DPU Oro-oro Dowo ada prasasti berisi tentang perpindahan pusat generalat frater BHK dari Belanda ke Indonesia. (3) Dua tahun lalu saat mengikuti misa ulang tahun SMAK Frateran ada acara peresmian gua Maria di SMAK Frateran yang ditandai dengan penandatanganan prasasti yang ditempatkan dekat gua Maria. (4) Saat kita mengikuti rekoleksi di komunitas Novisiat, Frater Yasintus selalu menyisipkan ajakan untuk para frater agar bahan-bahan yang dipresentasikannya bisa dikumpulkan menjadi buku (5) Mengakhiri aneka kegiatan perlombaan di Yayasan Mardi Wiyata, para juara biasanya diberi piala dan piagam penghargaan. (6) Ketika saya menghadiri acara pernikahan seorang teman di Blitar, saya diberi sebuah cangkir yang bertuliskan kalimat indah tentang perkawinan, nama pasangan dan tanggal akad nikah mereka. (7) Hari ini kita merayakan ekaristi untuk satu ujud yaitu peringatan 86 tahun Tarekat Frater BHK masuk ke Indonesia.  
Deretan penggalan fakta ini melahirkan satu pertanyaan penting yang harus kita jawab. Pertanyaannya, mengapa harus ada monumen, prasasti, buku, piala, piagam, cangkir dan peringatan 86 tahun seperti ini? Atau kata apa sebenarnya yang memicu dan  mengharuskan adanya fakta-fakta seperti ini? Jawabannya hanya satu kata. Jawabannya adalah kata LUPA. Karena ada kata LUPA dan takut LUPA orang membuat monumen, prasasti, buku cacatan, piala penghargaan, membuat cangkir kenangan, dan hari peringatan. Kenyataan dan kisah sejarah peradaban manusia antara lain dapat dirunut melalui pelbagai cacatan dan peninggalan berupa prasasti. Semua hal itu dilakukan karena ada hal yang penting yang memang tidak boleh dilupakan atau harus selalu diingat. Singkat kata, tugu peringatan, monumen, prasasti, buku, harip-hari peringatan merupakan alat atau senjata melawan LUPA. Tanpa kita sadari, sesungguhnya setiap kali kita melihat meonumen atau prasasti sebenarnya kita dingatkan bahwa kita adalah PELUPA.
Beberapa hari yang lalu  dalam diskusi TVONE terkait keputusan MK tentang mekanisme Pemilu, Yuzril Isha Mahendra beberapa kali menegaskan bahwa masyarakat Indonesia, bangsa Indonesia memiliki ingatan yang pendek. Untung Yuzril tidak mengatakan bahwa bangsa Indonesia tergolong bangsa yang sering lupa ingatan. Ingatan pendek sama dengan cepat lupa apa yang pernah dilakukan, apa yang terjadi, dan apa yang dialami. Pernyataan Yuzril, itu ada benarnya juga meskipun lupa adalah pengalaman manusia universal. Banyak masalah di negara kita biasanya hilang dari ingatan kita atau dilupakan bersamaan dengan mengalirnya waktu. Kasus-kasus akan dilupakan bersamaan dengan berlalunya waktu dan akan diganti dengan kasus-kasus baru. Ketika kasus kematian Munir didiamkan, mendiang istrinya membuat gerakan perlawanan melawan Lupa dengan membangun menumen melawan Lupa untuk Munir.
Perayaan peringatan 86 tahun tarekat Frater BHK berkarya di Indonesia hari ini, boleh saja dikatakan sebagai peringatan dan perayaan melawan lupa. Melawan lupa yang boleh jadi akan dialami para frater generasi yang akan datang. Peringatan hari ini tanpa kita sadari mau menegaskan kepada kita bahwa kita juga berpeluang untuk lupa dan melupakan hal-hal penting dalam kehidupan kita sebagai sebuah persekutuan di bawah payung spirit hati sang pendiri. Momen peringatan 86 tahun Terekat frater BHK bermisi di Indonesia secara tidak langsung “memaksa” kita untuk mengingat segala sesuatu yang terjadi dan dialami sejak 86 tahun silam. Mengingat segala sesuatu yang penting yang terjadi masa lalu, merenungkan dan memaknainya pada saat ini untuk merencankan suatu perkembangan, progres masa depan misi tarekat. Sekali lagi perayaan peringatan ini, bagi kita adalah momen dan monumen pengingat melawan LUPA. Syukur karena pendahulu kita memilki tradisi untuk mencatat, menulis semua peristiwa penting yang terjadi sehingga kita sebagai pewaris tarekat dapat merunut suka duka perjalanan tarekat.
Tahun lalu di kapel ini kita merayakan misa peringatan 85 tahun tarekat masuk Indonesia. Saya yakin kita semua masih mengingat atau tidak lupa apa yang disampaikan romo yang memimpin misa waktu itu. Tahun lalu juga di kapel ini kita merayakan misa peringatan 140 tahun berdirinya tarekat frater BHK yang dimulai pendiri Ignas Andreas Schaepman di Belanda. Saya juga percaya bahwa apa yang saya sampaikan dalam renungan waktu itu masih melekat kuat dalam ingatan kita. Dari angka 140 tahun itu 86 tahun karya tarekat berada di Indonesia. Itu artinya apa? Artinya setelah 54 tahun tarekat Frater BHK berkarya di bumi Kincir Angin, tanah kelahiran tarekat, karisma pendiri semakin meluas ke Indonesia termasuk ke kota Malang ini. Usia 54 tahun bagi tarekat BHK saat itu dianggap usia matang menentukan pilihan atau opsi bermisi ke Indonesia untuk membumikan spirit Schaepman yang dikuasi gerakan hati. Keyakinan akan kematangan semangat bermisi itulah yang menginspirasi sekaligus menganimasi pelbagai bentuk karya yang dijalankan tarekat berkaitan dengan pembinaan kaum muda dalam jalur pendidikan. Aneka peristiwa penting dan aneka prestasi yang diraih dalam karya para frater BHK selama 86 tahun sebagai komunitas terpanggil harus dingat, dimaknai, dan diamini sebagai buah dari gerakan hati yang dikuasai kasih untuk mencintai. Keberadaan tarekat frater BHK selama 86 tahun di Indonesia adalah keberadaan dan kehadiran sebuah  hati. Spritualitas hati yang menjiwai karya dan perutusan para frater telah diwariskan dari sang pendiri harus dimaknai sebagai hati yang memenuhi kualifikasi unggul. Hati kita merupakan instansi penimbang dalam menentukan apakah yang kita lakukan itu baik atau buruk. Hati  kita menjadi institusi moral yang memungkinkan kita bisa membedakan apa yang baik dari yang buruk dan mengabaikan yang buruk untuk sesuatu yang yang  baik. Hati sebagai pengendali kehidupan, dalam konteks iman dan panggilan kita merupakan penentu kualitas hidup dan karya dalam panggilan kita. Berkarya dan menjalani panggilan dengan hati merupakan bentuk penyerahan dan persembahan diri kepada Allah.
Uskup Schaepman telah menyerahkan diri dan mempersembahkan diri kepada Tuhan. Ia telah memberi contoh penyerahan dan persembahan diri itu kepada semua pengikutnya. Panggilan adalah penyerahan dan persembahan diri. Semua kita menyebut diri sebagai orang terpanggil artinya kita tergolong orang yang telah menyerahan dan mempersembahkan diri dan kehidupan kita kepada rencana Tuhan.
Tentu bukan suatu kebetulan kalau peringatan 86 tahun karya frater BHK di Indonesia  ini bertepatan dengan pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah. Bacaan-bacaan hari ini juga memberi inspirasi sekaligus memberi wawasan baru untuk panggilan kita. Nubuat nabi Maleakhi dalam bacaan pertama menegaskan bahwa Tuhan yang dinantikan akan datang ke Kenisah-Nya. Dalam konteks perjanjian lama kenisah itu merujuk pada bangunan fisik di Yerusalem tetapi dalam konteks perjanjian baru kenisah itu dalam pengertian metafor merujuk pada diri dan pribadi manusia. Tubuh kita adalah Kenisah atau Bait Allah. Wawasan baru yang bisa kita kaitkan dengan peringatan 86 tahun karya frater BHK di Indonesia ini adalah melihat kehadiran para misionaris BHK 86 tahun silam itu sebagai utusan Tuhan yang mempersiapkan jalan sekaligus membawa Tuhan kepada manusia Indonesia sebagai Kenisah. Tentu kita berbangga karena 86 tahun lalu ada konfrater kita yang menghadirkan Tuhan dengan spirit pendiri. Dalam bahasa nabi Maleakhi para frater perintis itu ibarat  tukang permurni logam yang membawa api yang memurnikan dan ibarat tukang cuci yang membawa sabun dan deterjen  pembersih. Misionaris perintis itu telah membawa semangat pendiri yang berpusat pada hati untuk memurnihkan dan membersikan manusia Indonesia dari kebodohan. Bangsa Indonesia yang dimurnikan dan dibersihkan dari kebodohan melelaui karya para frater ibarat nabi yang diutus mentahirkan orang Lewi.  Hasil karya para misionaris perintis BHK memungkinkan begitu banyak orang mengenal Tuhan yang pada akhirnya mempersembahkan diri kepada Tuhan. Sejujurnya harus kita akui bahwa  kita mau bergabung dalam persaudaraan BHK karena ada pendahulu kita yang membawa dan memperkenalkan TUhan itu kepada kita. Dan itulah alasan mengapa ada peringatan seperti ini.
Pilihan menyerahkan dan mempersembahkan diri kepada TUhan yang diperkenalkan kepada kita melalui karya para pendahulu kita pada dasarnya adalah pilihan untuk berada dan hidup dalam kebersamaan, persaudaraan , dan solidaritas. Dimensi kerbersamaan, persaudaraan, dan solidaritas harus menjadi identitas kita  yang menyerahkan dan mempersembahkan diri kepada Tuhan. Mengapa ketiga hal itu penting? Surat kepada orang Ibrani tadi memberi pendasaran yang tidak terbantaahkan yaitu karena Yesus yang adalah Tuhan telah menyatakan  solidaritas dengan menjadi seperti manusia. Merasa diri sama seperti orang lain adalah bahasa sederhana untuk sebuah solidaritas. Hanya kalau kita merasa diri sama dengan orang lain kita akan menumbuhkan semangat kebersamaan dan persaudaraan. Kita tentu yakin bahwa keberadaan dan karya frater BHK selama 86 tahun di Indonesia berhasil karena mengedepankan dimensi kebersamaan, persaudaraan, dan solidaritas itu. Karena itu, pada momen peringatan seperti ini kita tidak boleh melupakan apa makna kebersamaan, persaudaraan, dan solidaritas itu di antara kita sebagai konfrater dan di antara kita dengan orang yang kita layani dalam karya pelayanan kita.
Kehadiran Yesus di bait Allah saat dipersembahkan kedua orangtuanya menurut tata cara adat Yahudi menciptakan suasana luar biasa. Penggalan injil Lukas tadi menggambarkan bagaimana suasana di kenisah saat seorang bernama Simeon menyaksikan Yesus datang. Simeon yang sepanjang hidupnya merindukan datangnya sang Mesias pada akhirnya meluapkan kegembiraannya dalam sebuah kidung yang Indah. Bagi Simeon kedatangan, kehadiran Yesus di kenisah adalah penuhan akan apa yang dirindukan dan dinantikan sepanjang hidupnya. Hidup Simeon hanya diarahkan pada cita-cita melihat dan memandang Allah. Karena itu, baginya kematian setelah mengalami sendiri, memandang, dan melihat Tuhan  adalah kematian dalam rahmat.”Sekarang Tuhan, perkenankanlah hamba-Mu berpulang dalam damai sejahtera, menurut sabda-Mu, sebab aku telah melihat keselamatan yang Kausediakan di hadapan segala bangsa”.
Apa relevansi perkataan Simeon ini dengan peringatan 86 tahun karya frater BHK di Indonesia. Menurut saya pernyataan Simeon ini menjadi sebuah prasasti dan menomen peringatan bagi kita untuk tidak melupakan semangat awal tarekat kita dalam menghadirkan Tuhan kepada orang yang meridukan dan menantikan keselamatan. Sejak 140 tahun yang lalu saat tarekat lahir di Belanda dan sejak 86 tahun tarekat berkarya di Indonesia masih banyak orang seperti Simeon yang menantikan kehadiran Tuhan melalui karya para frater. Saat ini, di mana-mana banyak Simeon yang ingin mengenal Tuhan dalam berbagai cara. Dan para frater BHK punya cara yang khas dalam spirit pendiri, membawa Tuhan yang sudah memenuhi hati kepada hati orang yang mendambakan Tuhan. Sebagai pengikut Kristus kita ada, hadir, dan hidup untuk menghadirkan Kristus. Betapa Tuhan diagungkan kalau setiap perjumpaan kita dengan orang lain melahirkan suana seperti perjumpaan Yesus dengan Simeon. Mari kita jadikan peringatan hari ini sebagai menumen pengingat atau senjata melawan LUPA akan apa yang telah dimulai pendiri dan para pendahulu kita. Semoga semakin banyak orang mengalami seperti yang dialami Simoen dalam perjumpaan dengan kita. Profiat, Hati Bunda Kudus terbuka untuk niat baik kita. Amin
Claket, 2 Februari 2014

Friday, January 31, 2014

BERTOLAK KE SEBERANG

Sabtu Biasa ke-3 Thn B1. 1 Februari 2014
2Sam.12,1-7a.10-17; Mrk.4,35-41
Marilah Kita Bertolak Ke Seberang (Mrk 4:35-41)
Melalui peristiwa angin ribut yang diredahkan, Yesus mau memperlihatkan kepada para murid, bahwa Ia akan selalu menyertai mereka dalam perjuangan mereka menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Melalu peristiwa ini juga Yesus mau memperlihatkan kepada para murid bahwa dalam pelbagai kesulitan hidup, Yesus tidak meninggalkan mereka, Yesus tetap berada bersama mereka. Karena itu, mereka tidak perlu ragu-ragu untuk menjalankan apa yang Yesus katakan kepada mereka.
Agar Yesus selalu menyertai para murid dalam setiap detik kehidupan mereka maka dua hal saja yang perlu dilakukan oleh para murid adalah pertama, mengikuti ajakan Yesus untuk bertolak ke seberang bersama-sama dengan Yesus. Kedua, percaya kepada Yesus yang telah mengajak mereka untuk sama-sama bertolak ke seberang.
Ajakan untuk bertolak ke seberang bersama Yesus adalah ajakan untuk melewati berbagai kesulitan dan masalah dalam kehidupan ini bersama dengan Yesus. Danau atau laut dalam bahasa kitab suci adalah wilayah kekuasaan roh-roh jahat. Roh-roh jahat tidak akan dengan begitu saja membiarkan orang melewati  tempat tinggalnya. Dia akan berusaha mengganggu, menghalangi orang-orang untuk seenaknya melewati tempat tinggal mereka. Karena itu, ketika para murid dengan Yesus melewati tempat mereka, mereka mengganggu dan menghalanginya dengan menurunkan angin taufan dasyat.
Dunia kita pun penuh dengan kekuatan kegelapan yang tidak dengan begitu saja kita bisa hidup dengan aman. Dengan berbagai cara mereka akan mengganggu, menantang, menggoda dan mencoba kita. Nah, untuk melewati ini semua kita perlu berjalan bersama Yesus. Kalau kita berjalan bersama Yesus, dia akan  membantu kita untuk mengalahkan taufan kehidupan dunia ini. Dan Yesus memang mengajak kita “mari kita bertolak bersama-sama”. Kiranya kita tidak menolak ajakan Yesus ini untuk bertolak bersama Dia melewati berbagai kesulitan hidup kita.
Hal kedua yang perlu dilakukan kalau ingin agar bisa melewati kesulitan dalam kehidupan dengan baik adalah percaya kepada Yesus yang telah mengajak kita betolak ke seberang. “Mengapa kamu tidak percaya” tegur Yesus kepada para murid. Percaya kepada Dia merupakan jalan bagi datangnya bantuan dan pertolongan dari Yesus. Yesus akan selalu siap menolong kita, kapan dan di mana saja. Yang terpenting kita mau mempercayainya. Persoalannya sekarang adalah: Apakah kita mau percaya sepenuhnya kepada Dia? Dan apakah kita mau mengikuti ajakan Yesus untuk bertolak melewati berbagai kesulitan hidup kita bersama Yesus?
Sering dalam kenyataan, kita kurang memiliki kepercayaan kepada Tuhan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan kita. Di tengah berbagai kesulitan, orang banyak kali lari ke kekuatan-kekuatan lain dan bukannya kepada Tuhan. Banyak kali kita lebih senang berjalan sendiri di tengah kesulitan kita. Akibatnya kita sering kali jatuh ke dalam berbagai taufan kehidupan ini. Hari ini kita diingatkan lagi bahwa di tengah taufan kehidupan ini, kita masih mempunyai harapan yaitu Yesus sendiri. Karena itu marilah kita mempercayakan kehidupan kita kepada-Nya dan mari kita mengikuti ajakan-Nya untuk berjalan bersama Dia melewati berbagai kesulitan kehidupan kita.

Thursday, January 30, 2014

TUHAN MENGAJARKAN KETEKUNAN

Jumat Biasa Pkn ke-3 Th.A2 31 Januari 2014
2Sam.11,1-4a.5-10a,13-17  Mrk.4,26-34
(St.Yoh Don Bosco)
=================================================
Buka
Misi keselamatan Allah untuk manusia bukanlah urusan Allah saja. Manusia yang percaya dan beriman kepadanya dituntut keterlibatannya. Allah menuntut ketekunan manusia dalam berpartisipasi demi keselamatan yang dijanjikan. Yohanes Don Bosko yang kita peringati pestanya hari ini telah menjadi contoh dalam hal ketekunan. Ia telah menjadi biji sesawi dan telah menjadi benih unggul di tangan Allah yang mampu menjadi tempat perlindungan banyak orang. Bacaan hari ini menuntut manusia unttuk menjadi penabur bahkan kalau boleh menjadi benih unggul di tangan Allah. Kita menyesali segala kelemahan kita mungkin kita belum berjuang maksimal sebagai pohon yang memberikan keteduhan dan buah untuk sesama kia...
Renungan
 Seorang insinyur pertanian pernah mendatangi seorang petani sederhana yang dapat dikatakan sebagai pertani teladan karena segala usaha berhasil dalam mengembangkan tanaman fanili. Ia diwawancarai dengan sekian banyak pertanyaan dari insinyur pertanian itu. Kepada petani itu ditanyakan tentang bagimana proses yang ditempuhnya dalam merawat tanaman faninlinya sampai mencapai hasil yang sangat membanggakan. Dia ditanya apakah ia menggunakan waktu ekstra dalam usahanya sampai ia termasuk petani berhasil. Kepada sang insinyur si petani itu dengan lugunya memberikan jawaban. Bapak insinyur jangan tanyakan kepada saya tentang proses bagaimana fanili itu berbuah karena urusan untuk berbuah atau tidak itu bukan urusan saya. Saya hanya bekerja dan merawatnya dalam posisi saya sebagai pertani. Tentang bagimana ia berbuah dan segala pertanyaan lainnya itu bukan urusan saya. bapak insinyur toh tahu semua tentang hal itu. Saya tidak pernah kerja ekstra selain waktu yang pantas saya pakai untuk bekerja sebagai petani. Saya bekerja dan merawat fanili itu karena memang karena saya tahu bahwa satu saat semuanya akan berbuah. Tetapi bagimana merekaberbuah itu saya tidak tahu.
 Menarik sekali kalau kita coba merenungkan kisah yang diangkat dalam kedua bacaan tadi dan coba menghubungkannya dengan dialog antara seorang petani dengan ahli pertanian tadi. Dalam penjelasan petani tadi terdapat satu keyakinan mendasar bahwa yang menentukan berbuah tidaknya tanaman itu bukanlah urusan manusia melainkan itu adalah urusan Allah. Manusia cuma berusaha dengan bekerja dengan tekun. Manusia dalam bekerja itu berpartisipasi dalam upaya penciptaan oleh Allah. Ketekunan dan kesetiaan dalam menjalankan tugas sebagai petani itulah yang paling penting untuk seorang petani. Untuk menentukan berbuah tidaknya bukan merupakan tugasnya namun mengharapkan akan mendapatkan buah jelas memacunya untuk tetap setia dan tekun dalam tugas panggilannya sebagai petani.
Ketekunan dan kesetiaan pada tugas panggilan itu telah menjadi fokus perhatian dan titik tekan yang disampaikan dalam bacaan pertama tadi. Ketekuan akan menghasilkan buah. Membuktikan ketekunan jelas bukan perkara mudah. Ketekunan itu adalah perjuangan. Dan ketekunan dalam konteks kitab suci adalah ketekunan dalam iman akan Allah yang menjanjikan keselamatan. Kita senantiasa diingatkan: ”janganlah kamu melepaskan kepercayaan, karena upah yang besar memanti kamu. Kamu memerlukan ketekunan supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah kamu akan memperoleh apa yang dijanjikan. Buah yang baik dijanjikan Allah bagi yang tekun dalam imannya meski harus menanggung banyak penderitaan.
 Ketekunan manusia seanntiasa menjerat kemurahan Allah karena Allah sendiri senantiasa menghadirkan ketekunan itu dalam pengalaman hidup manusia. Injil menampilkan dinamika keterlibatan Allah dalam kehidupan manusia. Perumpamaan tentang benih yang tumbuh serta biji sesawi sesungguhnya mengisahkan betapa Allah itu tetap dan selalu terlibat dalam kehidupan manusia. Manusia beriman diharapkan sebagai penabur benih firman. Manusia tak perlu waktu ekstra namun Allah selalu berkarya siang malam. Ketika sang petani tidur terlelap setelah kerja sepanjang hari Allah bekerja terus sehingga semua tanamannya berbuah. Allah hanya akan meberikan buah pada benih yan pernah ditanam. Benih yang disimpan tidak akan tumbuh dan menghasilkan buah. Itu berarti manusia harus aktif dan tekun. Dan keterlibatan Allah dalam kehidupan manusia itu memang mengagumkan. Gambaran besarnya keterlibatan Allah dinyatakan dalam kisah tentang biji sesawi yang kecil ditangan para penabur namun pada akhirnya akan menjadi pohon yang besar dan rindang ditangan Allah. sekali lahgi biji sesawi yang kecil tak bakal tumbuh jika tidak pernah ditaburkan. Dan manusia berimanlah yang diharapkan sebagai penaburnya. Malah Allah juga mengharapkan agar manusia dpat menjadi benih yang tumbuh dan menghasilkan buah yang menjamin kehidupan orang lain. Manusia beriman yang tekun diharapkan dpat menjadi sebatang pohon tempat perlindungan sesamanya sebagaimana burung mendapat sarang pada pohon yang diangkat dalam injil tadi.
 Hari ini kita memperingat Pesta Santo Yohanes Don Bosko. Riwayat hidup dan panggilan Yohanes Don Bosco ini bukan cuma panjang tetapi sangat unik. Dalam buku berjudul Aneka Cerita tentang Don Bosko kita bisa mengenal siapa sebenarnya Don Bosko ini. Kisah kehidupannya sudah membuktikan bahwa dia menjadi seorang yang tekun dalam iman dan kepercayaan kepada Allah sehinga tidak mengherankan banyak terjadi mujizat selama hidupnya. Don Bosko telah menjadi sebiji sesawi ditangan Allah dan telah bertumbuh menjadi pohon yang rimbun. Minat Yohanes Don Bosko pada pastoral kehidupan anak remaja telah membuktikan bahwa ia telah menjadi tempat berteduh para remaja. Dan bagian akhir bukunya Don Bosco memberikan pesan dan wasiat untuk para kaum muda. Ia menulis beberapa pesan berikut untuk orang-orang muda: Anank-anaku yang terkasih saya amat mencintai kalian dan meyakinkan kalian bahwa kalian mungkin akan menemukan buku yang ditulis oleh orang yang lebih kudus dan lebih pintar dari saya. Tetapi kalian akan sulit menemukan seorang yang lebih mencintai kalian dalam Tuhan dan memperhatikan kebahagiaan kalian yang sejati. Orang yang malas pada akhir hidunya akan menderita penyesalan karena menyia=nyiakan waktu. Bijaksanalah dalam kehidupan. dan pilihlah kehidupan itu secara tepat. Karena keliru memilih keadaan hidup akan membuat kehidupan itu menjadi kekeliruan. Aku menyampaikan pesanku dan aku tetap meantimu di Firdaus.
Kiranya firman Tuhan hari ini dan pengalaman hidup Yohanes Don Bosko mampu menguatkan kita dalam tugas dan pelayanan kita agar kita semakin tekun dan pada akhirnya dapat menjadi sebuah pohon yang bukan saja berbuah tetapi dapat memberikan perlindungan dan keteduhan buat sesama kita. Mudah-mudahan...

Rm.Bone Rampung Pr

Wednesday, January 29, 2014

MODAL MURID PENJALA MANUSIA

Renungan Rekoleksi Bulanan Frater BHK

Komunitas Claket, 21 Malang Kamis, 29 Jan. 2014

Teks Insipirasi: Mat 16:24; Luk.5,10b



MODAL SEORANG MURID PENJALA MANUSIA



Tema yang disampaikan Frater Vincent kepada saya adalah Kemuridan atau Menjadi Seorang Murid Kristus. Tema ini biasa dan selalu kita dengar dan renungkan. Terminologi murid itu sudah menjadi bagian dari kehidupan para frater yang bergulat dan bergelut dalam dunia pendidikan. Meskipun tema sebegini terkesan usang dan biasa tetapi saya kira tidak ada buruk juga kalau kita angkat dalam rekoleksi ini mungkin sekadar menyegarkan ingatkan kita tentang peran, status kita dalam kaitannya dengan panggilan kita kini dan di sini. Dalam dunia pendidikan masa kini kata murid tampaknya mengalami pergeseran frekuensi penggunaannya karena bersaiang dengan bentuk lain seperti siswa dan peserta didik.

Komprehensi atau pemahaman kita tentang pengertian kata murid dapat dirujuk dengan deskripsi antara lain: murid adalah orang yang lebih muda, orang masih banyak kurangnya, masih perlu bimbingan, masih harus belajar menerima lebih banyak, perlu mendnegarkan lebih banyak. Dengan kata lain, kata murid selalu mengindikasikan keberikatan dan kebergantungan pada orang lain yang diyakini dapat memenuhi harapan para murid. Dalam jagat pendidikan murid adalah orang yang mau belajar dan menimba berbagai ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Orang tua menyekolahkan anaknya dalam lembaga pendidikan yang berkualitas, tentu bukan untuk menyombongkan kemampuan akademik atau kehebatan anak mereka melainkan untuk meningkatkan mencerdaskan dan kualitas hidup anak di masa depan.

Pengertian murid yang hendak kita renungkan dalam rekoleksi ini merujuk pada konsep Alkitabiah artinya murid yang dimaksudkan di dalam kitab suci. Dalam konteks Alkitab, kata murid bukan hanya berarti orang yang belajar, tetapi lebih dari itu ia menjadi pengikut yang mengabdikan diri secara utuh pada guru, pembimbingnya. Pelbagai kisah tokoh penting dalam Alkitab baik dalam perjanjian lama maupun dalam perjanjian baru selalu menghadirkan dialektika status pemuridan dengan mereka yang disebut sebagai tempat murid belajar sesuatu. Sejarah hidup manusia dirajut dalam seretetan kisah waris mewarisi, meskipun tidak disebut sebagai penyerahan tongkat estafet dari guru (sebagai pendahulu) kepada murid (sebagai pengikut). Dari perjanjian lama kita bisa membaca dan mendengar contoh kisah pemuridan seperti ini. Yosua menggantikan Musa, Elisa menggantikan Elia. Hal sama kita temukan dalam Perjanjian Baru: Yohanes dengan murid-muridnya, Yesus Kristus dengan ke-12 murid-Nya, serta Paulus dengan Timotius, Titus. Dengan demikian pengertian murid Kristus adalah orang-orang yang percaya dan yang mau belajar tentang segala ajaran Kristus dan mengabdikan hidupnya untuk mengikuti Kristus.

Meskipun dikatakan bahwa murid Kristus adalah mereka yang percaya kepada Kristus tetapi tetap mesti disadari bahwa tidak semua orang yang percaya itu bersedia menjadi murid Kristus. Mengapa? Karena mereka hanya sampai pada batas percaya tetapi enggan untuk mempelajari dan melaksanakan setiap ajaran Kristus dalam hidup konkret. Menjadi murid Kristus tidak cukup dengan berkata-kata. Menjadi murid Kristus berarti aksi, tindakan. Bila kita telah mengaku diri sebagai murid Kristus, apakah kita sudah benar-benar mempelajari dan melaksanakan ajaran Kristus? Pertanyaan ini menjadi cermin tempat kita bercaca. Lalu pertanyaan selanjutnyal: Apakah tujuan kita belajar menjadi murid Kristus? Dan bagaimana kita bisa menjadi murid Kristus?

Maksud dan tujuan kita belajar menjadi murid Kristus tidak lain agar kita menjadi serupa dengan Kristus. Menjadi serupa dengan Kristus merupakan kehendak Allah atas orang-orang yang menjadi murid Kristus. Santo Paulus membahasakannya kepada kita secara tepat seperti yang disampaikannya dalam surat kepada jemaat di Roma “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara(Roma 8:29). Memilih untuk menjadi serupa dengan Kristus di sini tidak berarti kita memiliki keilahian Kristus, melainkan kita mengikuti jejak kemanusiaan-Nya. Dalam kemanusiaan-Nya, Kristus telah merendahkan diri, taat, dan setia kepada Allah Bapa dalam misi menyelamatkan manusia. Demikian juga kita perlu rendah hati, taat dan setia pada Kristus Yesus dalam mempertanggung jawabkan hidup dan panggilan kita sesuai dengan kehendak-Nya. Lalau bagaimana kita sebagai murid bisa belajar untuk menyerupai Kristus? Jawabannya, kita perlu memelihara persekutuan yang erat dengan Allah, senantiasa berpegang pada ajaran Kristus, serta memberi dan membiarkan diri hidup dalam tuntunan Roh Kudus.

Kalau di sekolah orang diterima menjadi murid harus memenuhi persyaratan administratif termasuk harus ada modal ntuk biaya, maka untuk menjadi murid Yesus apa syaratnya dan berapa kekuatan modal yang diperlukan? Penginjil Matius memberi jawaban bahwa untuk menjadi Murid Kristus kita harus memiliki modal 3M. Rinciannya 1M untuk kelengkapan administrasi penyangkalan diri, 1M modal untuk melatih kekuatan fisik menahan beban kehidupan, 1M untuk biaya perjalanan mengikuti Yesus. Matius merumuskan 3M itu dalam satu kalimat ini:”Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti Aku”(Mat 16:24). 3M ini sekaligus menjadi 3 langkah kemuridan kita.

Modal Menyangkal Diri

Menyangkal diri bukan berarti menghilangkan eksistensi dan makna diri dalam hidupnya. Menyangkal diri adalah tidak mendisposisikan atau menempatkan diri sebagai pusat hidupnya, tetapi menempatkan Kristus sebagai pusat dan tujuan hidupnya. Deskripsi perihal penyangkalan diri ini dalam versi Konstitusi para frater BHK dinyatakan Ingkar diri mengharapkan: Bahwa kita hidup tidak hanya untuk diri kita sendiri, Tidak menjadikan diri kita pusat perhatian, tetapi mencari harga diri dan pengembangan diri di dalam pengabdian diri kepada Allah dalam karya penciptaanNya; Di mana tak ada sesuatu atau seorangpun yang kita anggap remeh (Konst. Psl. 72)

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa orang yang memiliki modal untuk menyangkal diri akan memaknai dan memahami hidup dan panggilannya sebagai kasih karunia Kristus yang patut disyukuri dan dijalani dengan penuh tanggung jawab di hadapan-Nya. Orang yang menyangkal diri akan berkata: “Bukan kehendakku, ya Bapa, melainkan kehendak-Mulah yang jadi.” Contoh penyangkalan diri dapat kita lihat dari hidup rasul Paulus, yang dalam surat-suratnya menyatakan bahwa apa yang dia pikirkan, apa yang dia lakukan, semata-mata bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk Tuhan. Kita tentu kagum akan kata-kata Paulus ini:” Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup dan mati, kita adalah milik Tuhan (Rom.14:8).

Apabila kita senantiasa belajar menyangkal diri, kita akan dapat menjadi murid Kristus yang menempatkan kehendak Kristus sebagai dasar dan pedoman setiap rencana dan langkah hidup kita. Orang yang dapat menyangkal diri juga tidak menganggap diri dan kepentingannya sebagai yang utama, tetapi ia dapat bersikap rendah hati dan memperhatikan kepentingan orang lain. Inilah yang dimaksudkan Paulus kepada jemaat di Filipi :”Dengan demikian sebagai murid Kristus, kita tidak hanya menempatkan Kristus sebagai pusat dan tujuan hidupnya, tapi juga senantiasa rendah hati dan peduli pada kepentingan orang lain (Filipi 2:3). Inilah eksistensi dan makna hidup seorang murid Kristus di tengah kehidupan ini.

Modal Memikul Salib

Modal dan langkah berikutnya agar menjadi murid Kristus adalah bersedia memikul salib. Pada masa Yesus, salib merupakan hukuman yang paling hina dan membuat orang menderita. Salib diberikan pengadilan Romawi kepada orang yang terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pelanggaran dan dosa besar. Yesus jelas tidak pernah melakukan pelanggaran dan dosa apa pun, tetapi Ia memberi diri disalibkan untuk menggenapi misi Allah menyelamatkan umat manusia dari dosa dan maut. Karena itu makna salib bagi Yesus bukan lagi penderitaan melainkan pernyataaan dan bukti ketaatan Kristus pada Allah dan wujud nyata kasih-Nya pada umat manusia. Hal ini ditegaskan Paulus kebenaran ini kepada kita melalui suratnya kepada jemaat Filipi: “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:6-8).

Kosuke Koyama, seorang teolog Jepang pernah bertanya: “Kenapa orang Kristen harus memikul salib? Mengapa lambang orang Kristen adalah salib? Mengapa bukan rantang yang berisi makanan bergizi dan memiliki gagang sehingga mudah menentengnya?” Pertanyaan Kosuke Koyama ini membantu kita memahami salib bukan sebagai hal yang menyenangkan atau membanggakan, tetapi salib adalah harga yang harus kita bayar sebagai murid Kristus. Setiap orang pada dasarnya memiliki salibnya masing-masing, yang harus dipikul dengan sabar dan taat kepada Kristus. Dalam memikul salib sebenarnya kita tidak perlu menggembar-gemborkan kesulitan yang kita alami, tetapi justru kita perlu belajar tetap bersukacita dalam Kristus (1Petrus 4:12-14).

Modal Mengikut Kristus

Mengikut Kristus artinya setia menjejaki jalan-Nya dan taat melaksanakan segala firman-Nya. Ketika Yesus mengajak murid-murid yang pertama (Simon Petrus, Andreas, Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes) untuk menjadi murid Kristus, mereka meninggalkan jala, perahu, dan ayah mereka, dan mengikut Yesus (Matius 4:18-22). Dari peristiwa ini kita belajar tentang komitmen mengikuti panggilan Kristus, dan taat melaksanakan segala firman-Nya dalam praksis hidup kita.

Saat Yesus berada di antara kerumunan orang-orang, seorang ahli Taurat berkata kepada Yesus: “Guru, aku akan mengikuti Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Reaksi dan tanggapan Yesus singkat, tegas dan jelas: ”Serigala mempunyai liang dan burung memiliki sarang, tetapi Anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”(Matius 8:19-20). Jawaban Yesus ini menjadi suatu pernyataan penting dan mendasar sekaligus mau mengatakan bahwa sebenarnya Yesus tidak mendapat tempat di hati orang Farisi itu. Walaupun dia berkata akan mengikut Yesus, tetapi Yesus tahu keberatan hatinya. Mengapa? Karena ia adalah seorang Farisi yang pasti akan sangat sulit meninggalkan segala reputasi dan otoritasnya yang besar dalam sistem dan adat istiadat agama Yahudi. Hingga saai ini juga kita bisa merasakan bahwa pergumulan seperti orang Farisi itu cenderung dialami banyak orang Kristen.

Mengikut Kristus adalah mengutamakan Kristus di atas segalanya, menempatkan Yesus pada nomor topi, bukan menempatkan Kristus di bawah kepentingan yang lain atau pada nomor sepatu. Bila kita mau mengikut Kristus, kita perlu taat melaksanakan ajaran Kristus dan memberi kesaksian tentang kebenaran Kristus kepada sesama melalui olah kata dalam berbahasa, olah laku dalam tindakan, dan olah pikir saat menilai sesuatu dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal utama yang perlu kita laksanakan sebagai murid Kristus adalah meneladani gaya hidup Kristus untuk hidup saling mengasihi. Dengan hidup saling mengasihi, kita turut mewujudnyatakan misi Kristus dalam menghadirkan kasih dan damai sejahtera bagi dunia.

Menjadi murid Kristus bukan suatu prestasi untuk menunjukkan kehebatan dan kemampuan kita melaksanakan semua ajaran agama dan gereja. Menjadi murid Kristus adalah suatu pembelajaran bagi kita untuk terus menerus mengenal Kristus, memberi diri dituntun oleh Roh Kudus, serta taat melaksanakan setiap ajaran-Nya. Matius 16:24 (menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Kristus) menjelaskan secara sederhana bagaimana kita dapat terus diproses dan diperlengkapi menjadi murid Kristus. Bila kita senantiasa berusaha menjadi murid Kristus, maka sebenarnya kita turut mewujudkan kehendak Allah agar kita hidup serupa dengan Kristus. Keserupaan kita dengan Kristus sebagai murid-Nya menuntut kita untuk membutikan bahwa kita telah memiliki modal 3M itu dalam tugas yang Tuhan berikan dan percayakan kepada kita. Apa tugas kita sebagai murid Tuhan?

Salah satu tujuan Yesus memanggil para murid adalah untuk menjadi “penjala manusia”. Ungkapan “menjala manusia” terdapat dalam kisah panggilan murid-murid pertama dalam ketiga injil sinoptik. Injil menampilkan daya tarik Yesus yang luar biasa sehingga para murid tanpa berpikir panjang dan tanpa persiapan langsung mengikuti Yesus. Panggilan untuk “menjala manusia” merupakan cara Yesus untuk menyatakan tugas baru yang akan diemban para murid-Nya. Tugas baru itu adalah mewartakan injil dan memperkenalkan Yesus agar semakin banyak orang mengenal dan percaya kepada-Nya. Para murid meninggalkan kebiasaan menangkap dan mengumpulkan ikan dan menggantinya dengan mengumpulkan dan membawa orang pada kehidupan bersama Yesus. Tugas para murid sebagai “penjala manusia” adalah mewartakan injil mulai dari lingkungan mereka (Yerusalem) sampai ke ujung bumi (Kis 1:8).

Meskipun sudah sejak panggilan pertama, para murid diberi tugas “menjala manusia”, tugas misi itu barulah sungguh-sungguh diaksanakan para murid setelah Yesus naik ke surga dan setelah Roh Kudus turun atas mereka. Para murid memulai karya misi mereka setelah Roh Kudus turun atas mereka, sebagaimana Yesus juga memulai perjalanan pewartaan-Nya dalam pimpinan Roh.

Menjadi “penjala manusia” merupakan tugas dan panggilan baru untuk Simon dan teman-temannya. Panggilan untuk menjala manusia inilah yang mendasari kebersamaan Yesus dan para murid-Nya. Yesus menginkan agar dalam kebersamaan dengan-Nya, para murid belajar menjadi “penjala manusia”. Apa arti “menjala manusia” di sini? Istilah “menjala manusia” hanya ada pada kisah panggilan versi injil Lukas. Istilah ini merupakan metafora yang digunakan Yesus untuk menyatakan maksud panggilan-Nya kepada para murid, terutama kepada Simon. Adakah makna yang tersirat dalam istilah “menjala manusia”?

Bagi masyarakat Timur Tengah, laut diyakini sebagai sumber kebijaksanaan hidup. Oleh karena itu, bagi mereka, “memancing atau menjala” merupakan simbol pencarian jiwa dan pencarian ke dalam jiwa yang menggambarkan harta kebijaksanaan dari lautan ketidaktahuan. Dalam pemahaman ini, panggilan “menjala manusia” memperoleh makna tersirat dari yang tertulis. “Menjala manusia” dapat dipahami sebagai pencarian jiwa manusia dan pencarian ke dalam jiwa manusia.

Dalam teks asli berbahasa Yunani, kata kerja yang dipakai untuk menerjemahkan istilah “menjala manusia” dalah “zōgrōn” yang dibentuk dari kata zōos (= hidup, bernyawa; alive) dan agrein (= menangkap, berburuh; catch, hunt). Kata ini berarti bekerja menangkap manusia-manusia untuk membawa mereka ke kehidupan. Dengan demikian, panggilan Simon dan teman-temannya adalah bekerja menangkap manusia-manusia untuk membawa mereka kepada kehidupan. Tugas baru Simon ini bertolak belakang dari tugasnya semula. Kalau semula mereka adalah penjala ikan yang menangkap ikan untuk dikonsumsi, (menyebabkan ikan mati), kini (“mulai sekarang”) mereka menjadi “penjala manusia” yang membawa manusia kepada kehidupan (menyelamatkan hidup mereka). Inilah tugas panggilan kemuridan Simon dan teman-temannya sepanjang hidup mereka.

Implikasi panggilan kemuridan Simon ini adalah ia akan menyelamatkan manusia dari kuasa maut dan memelihara kehidupan mereka dengan menjadikan mereka pengikut Kerajaan Allah. Dengan demikian, Simon dan teman-temannya dipanggil untuk melanjutkan misi Yesus, yakni mewartakan Injil Kerajaan Allah demi keselamatan manusia (agar manusia memperoleh kehidupan bersama Allah) serta mengumpulkan manusia untuk bergabung dalam Kerajaan itu. Tugas dan panggilan menjadi penjala manusia menjadi tahap baru dalam kehidupan seorang murid Tuhan. Yesus meneguhkan misi dan tugas itu dengan berkata: Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia (Luk.5,10b). Ayat ini mau menegaskan bahwa setiap saat dalam hidup orang terpanggil harus menjadi kesempatan membawa orang menuju kehidupan.

Perutusan para murid “menjala manusia” tidak hanya terjadi pada era gereja perdana, era para Rasul, tetapi pada saat ini pun perutusan itu masih dibutuhkan sesuai dengan konteks kekinian. Konsili Vatikan II menekankan tugas wajib umat Kristen sebagai pewarta injil (AG art. 6-7). Dengan pewartaan ini diharapkan cahaya Kristus dapat menyinari semua orang dari segala penjuru dunia (LG. 1). Semoga kita dapat membawa terang Tuhan, karena telah memutuskan menjadi murid Yesus. Tuhan memberkati kita.



Claket, 30 Januari 2014

Thursday, December 12, 2013

SMAK FRATERAN: KEBERSAMAAN & KEPEDULIAN

Renungan
Misa Rekoleksi Siswa Kelas X SMAK Frateran Malang
Rumah Retret CP Loandeng Malang Jumat, 13 Des.2013
Flp.  2,1-7; Yoh.5, 1-9
 Buka
Hari ini kita bersyukur kepada Tuhan dalam perayaan ekaristi bersama. Kita mau bersyukur karena Tuhan menghadirkan kita di dunia ini melalui orang dan akahir juga kita hidup bersama orang lain. Kita bersyukur karena Tuhan hadir dan membantu kita dalam rekoleksi dan camping rohani ini melalui orang lain, melalui para guru dan para pendamping. Kita bersyukur karena kita hidup dalam kebersamaan dengan orang lain. Kita bersyukur karena kita mendapat kesempatan untuk merenungkan makna kebersamaan itu dalam rangka membangun tekad dan niat untuk menjadi diri pribadi yang tanggap, peka atau berkepedulian terhadap orang lain. Dalam keyakinan akan Tuhan sebagai sumber kekuatan dan rahmat, melalui perayaan ini kita serahkan semua kerinduan, harapan, keinginan, niat, dan tekad untuk mengisi kebersamaan hidup kita dengan semangat saling memperhatikan dan saling membantu. Juga kita berdoa bagi semua orang yang telah membantu kita dalam kehidupan kita: orangtua, pembina, guru, pendidik, dan teman-teman kita. Agar perayaan ini berkenan kepada Tuhan dan berdaya guna untuk kebersamaan kita membangun kepedulian di antara kita, marilah kita akui kelemahan dan dosa kita.

Renungan
Mengawali renungan ini, saya ingin memberikan Anda tiga pertanyaan tetapi jawabannya hanya satu untuk tiga pertanyaan itu. Mengapa Anda merasa malu? Mengapa di sekolah Anda ada aturan dan tata tertib? Mengapa di perempatan jalan kota ada lampu lalu lintas? Jawabannya: Karena ADA ORANG LAIN (SELAIN SAYA)
Orang akan merasa malu kalau ia menyadari bahwa ada orang lain selain dirinya. Malu adalah perasaan dan reaksi yang muncul karena menyadari kebersamaan. Saya kira kata malu tidak mungkin ada kalau di dunia ini ada hanya satu orang.  Sekolah menetapkan aturan karena yang ada di sekolah itu bukan hanya satu orang. Di sekolah ada banyak orang. Di sekolah, kita berada bersama orang lain.  Kalau di sekolah kita, ada hanya satu orang, tidak perlu ada aturan. Rambu-rambu lalu lintas di jalan yang kita lihat dibuat karena jalan itu bukan milik seorang saja. Jalan itu milik bersama banyak orang. Semua rambu lalulintas bisa dihilangkan, tak perlu ada kalau pemakai jalan tinggal satu orang.  Dalam konteks tema yang kita usung dalam perayaan ini: kehadiran perasaan malu, keberadaan aturan, dan keberadan rambu lalulitas merupakan bukti pengakuan kita akan adanya orang lain atau bentuk pengakuan bahwa kita berada bersama orang lain dalam kebersamaan. Malu, aturan dan rambu lalulintas boleh dikatakan sebagai   bahasa dan tanda kebersamaan.
Tema perayaan misa yang ditawarkan kepada saya untuk kegiatan rekoleksi para siswa kelas X SMAK Frateran Malang ini sangat singkat: Kebersamaan dalam Kepedulian. Tema ini  memang singkat tetapi sesungguhnya tema ini bermuatan pesan penting berkaitan dengan hakikat hidup kita sebagai makhluk sosial, makhluk yang ada dan hidup bersama orang lain. Tema ini menegaskan sekaligus mengafirmasi hakikat kita yang tidak hidup sendiri tetapi hidup dalam kebersamaan dengan orang lain.  Hidup bersama, ada bersama, kebersamaan yang bermakna adalah kebersamaan yang dintadai dengan pelbagai hal yang sifatnya menumbuhkan, mengembangkan setiap individu yang terikat dalam kebersamaan itu. Kebersamaan yang bermakna adalah kebersamaan yang memungkinkan setiap orang bisa bertumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik. Untuk itu, setiap individu harus memiliki kualitas diri, kualitas pribadi yang tidak saja unggul secara fisik, tetapi juga unggul secara mental. Keunggulan mental harus bisa diekspresikan dalam prilaku fisik yang tampak dan kelihatan.
Kualitas diri, kualitas kepribadian ini juga harus ada dalam kebersamaan di dalam komunitas-komunitas termasuk komunitas belajar yang kita sebut sekolah. Kualitas diri, kualitas kepribadiaan itu untuk konteks pendidikan sekarang ini diarahkan pada apa yang disebut sebagai karakter. Pendidikan bernuansa karakter yang merasuki  jiwa dunia pendidikan kita saat ini pada dasarnya diarahkan pada terbentuk dan lahirnya manusia berkepribadian unggul dalam pola perilaku, unggul dalam pola peribahasa. Manusia unggul, manusia berkarakter tidak lain adalah manusia yang menyadari dirinya sebagai bagian dari anggota komunitas, bagian dari kelompok, bagian dari sekolah, bagian dari kelas, bagian dari kebersamaan.
Kalau setiap orang, setiap kita menyadari bahwa kita hidup bersama orang lain, sadar sungguh dan sungguh sadar akan keberadaan orang lain maka kehadiran kita dengan segala model ekspresinya pada setiap saat dan di setiap tempat  dalam segala situasi akan menjadi ekspresi yang kaya makna, akan menjadi kehadiran yang berarti dan akan memberi inspirasi bagi orang lain. Hanya orang yang sadar bahwa ia hidup dengan orang lain yang bisa menempatkan dirinya secara tepat. Orang yang sadar akan kebersamaan  biasanya mampu membentuk dirinya dalam proses olah pikir, olah tindakan, dan olah rasa dalam suatu keseimbangan yang tidak tergoyahkan. Para siswa yang sedang dalam proses pembentukan diri melalui sekolah harus dan mesti menyadari dimensi kebersamaan itu. Camping Rohani dan kegiatan rekoleksi dengan tema Kebersamaan dalam Kepedulian seperti ini tentu tepat dan amat strategis bagi para siswa. Penting dan strategis karena ketika Anda, para siswa, dituntun untuk menyadari makna hidup dan makna berada bersama orang lain sesungguhnya Anda sedang diarahkan untuk suatu proses pertumbuhan menuju diri pribadi yang diharapkan  dapat mengasah nalar untuk berpikir benar, menata perikau untuk berbuat yang baik, dan mengolah rasa untuk hal yang menyenangkan.
Orang yang sadar bahwa ia hidup dengan orang lain biasanya berusaha untuk berpikir benar, bertindak baik, dan mengekspresikan perasaannya secara  menyenangkan. Berpikir benar, bertindak baik, mengungkapkan perasaan hati secara menyenangkan adalah gambaran tentang diri prinadi yang utuh dan seimbang. Tiga aspek inilah yang dirumuskan para pakar pendidikan sebagai titik sasar semua kegaiatan dan proses pendidikan yakni terbentuknya pribadi berkarakter. Pribadi berkarakter menurut  hemat saya adalah pribadi yang mampu berpikir benar, berbuat baik, dan hidup dalam susana hati yang menyenangkan. Secara lebih teknis ilmiah orang berkarakter adalah mereka yang mampu menjaga keseimbangan antara dimensi kognitif (berpikir, logika), dimesi psikomotorik (bertindak, etika), dan dimensi afektif (merasakan, estetika). Hanya orang yang berkarakterlah yang memiliki kepedulian terhadap orang lain.
Kesadaran akan  adanya orang lain dalam hidup, membuat kita berpikir benar tentang orang lain, menggerakan kita untuk berbuat baik demi orang lain, dan mendorong kita mengngkapkan perasaan hati yang menyenangkan orang lain. Tiga kekuatan: pikiran, perbuatan, dan perasaan jika dimanfaatkan secara maksimal, akan menjadikan  seseorang memiliki kepedulian terhadap orang lain. Kepedulian itu hakikatnya terarah untuk orang lain. Kepedudian berarti saya mempersoalkan tentang dia, kamu, dan mereka dan bukan tentang diri sendiri. Kepedulian adalah sikap dan tindakan untuk orang lain. Kepeduliaan adalah sikap hidup yang melihat orang lain lebih penting daripada diri sendiri. Dengan demikian tema Kebersamaan dalam Kepedulian dapat dibalik menjadi Kepedulian dalam Kebersamaan.
Dua teks kitab suci yang kita dengarkan tadi bukan saja berbicara tentang kebersamaan dalam kepedulian tetapi juga menekankan kepedulian dalam kebersamaan. Kepedulian dalam kebersamaan berarti sikap peduli itu harus pertama dan terutama ditjukan kepada orang lain. Bukan mengtamakan diri sendiri.  Modelnya adalah model kepedulian Yesus sendiri. Santu Paulus dalam surat untuk jemaat Filipi tadi menegaskan hal itu: “Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp.2,4-5).
Kata-kata Paulus ini diperjelas lagi oleh Yohanes dalam Injil yang menghadirkan Yesus sendiri sebagai tokoh, pribadi yang sungguh peduli terhadap orang lain. Yesus memaknai kepedulian itu dalam kebersamaan dengan orang yang cacat, sakit, dan menderita seperti yang dikisahkan Yohanes tadi. Lokasi kisah penyembuhan tadi terjadi di salah satu gerbang kota Yerusalem. Gerbang Domba merupakan salah satu dari delapan gerbang yang banyak dikunjungi peziarah selain gerbang Stefanus, gerbang Indah, gerbang emas. Tanggal 26 Juni 2011 sebelum melihat kubur Raja Daud saya menginjakkan kaki di kolam Betesda. Saat itu saya menyaksikan ada begitu banyak orang sakit dari pelbagai belahan dunia atau para peziarah yang diantar ke kolam itu dan mereka berdoa di sana. Ada yang digotong ada yang menggunakan kursi roda. Memang di sana masih terjadi mukjizat peyembuhan bagi mereka yang sungguh beriman. Air kolamnya memang tidak banyak dan tidak bersih tetapi banyak orang berusaha agar menyentuh air di kolam Betesda itu. Orang tidak bisa mandi seperti di sungai Yordan. Orang ke sana karena yakin Tuhan akan memberikan kesembuhan seperti yang terjadi atas diri orang lumpuh yang dikisahkan injil tadi.
Kisah penyembuhan di kolam Betesda adalah kisah tentang kepedilian dalam kebersamaan. Kepedulian manusia, dan kepedulian Yesus terhadap orang banyak. Di tempat itu ada sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang, dan orang-orang lumpuh. Mereka menantikan Tuhan yang datang menyembuhkan. Mereka semua berada dalam satu kebersamaan. Dari sekian banyak orang yang sakit itu ada seorang yang telah menderita lumpuh selama 38 tahun. Sulit kita bayangkan bagaimana menderitanya orang itu. Sudah bertahun-tahun ia berbaring di tempat itu berdoa merindukan kesembuhannya.
Ketika Yesus datang ke dalam kebersamaan sekian banyak orang sakit itu Yesus bertanya kepada orang lumpuh itu “Maukah engkau sembuh?”. Jawaban orang lumpuh itu untuk pertanyaan Yesus tampaknya tidak cocok dengan pertanyaan. Jawaban yang benar dan paling singkat sebenarnya: ya, mau atau ya saya mau. Jawaban orang itu aneh. Ia bukannya menjawab tetapi justru bercerita panjang lebar: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." Kalau ini soal ujian untuk siswa SMAK Frateran  jelas siswa yang menjawab seperti ini tidak lulus. Hal yang mengherankan, orang itu diperintahkan untuk bangun dan berjalan dan itu terjadi. Itu artinya orang itu sembuh meski ia salah memberi jawaban kepada Yesus.
Apakah benar orang itu salah menjawab. Saya pastikan dia tidak salah menjawab. Sesungguhnya bagi dia pertanyaan itu memang tidak perlu dijawab. Ia percaya bahwa penantiannya selama 38 tahun sudah ada dalam buku agenda Yesus. Karena itu baginya kehadiran Yesus saat itu merupakan kepastiannya untuk mendapatkan kesembuhan. Yang diceritakannya secara panjang lebar kepada Yesus  merupakan laporan pengalamannya tentang sikap orang lain, sikap sesamanya yang ada bersama-sama di seputar kolam itu. Ia melaporkan bahwa orang tidak mempedulikannya. Tidak menganggap dirinya penting untuk diperhatikan, ditolong untuk mendapatkan kesembuhan. Semua orang berjuang berebutan untuk mendapatkan kesembuhan diri sendiri. Orang yang telah disembuhkan juga tidak ada yang rela atau peduli terhadap nasib si lumpuh itu. Kebersamaan orang-orang sakit di kolam Betesda itu menjadi kebersamaan tanpa makna, kebersmaaan semu karena kebersamaan itu tanpa kepedulian terhadap satu sama lain. Itulah yang disampaikan orang lumpuh kepada Yesus. Yesus menangkap maksud cerita orang itu sebagai ungkapan tidak langsung bahwa bagi si lumpuh Yesus menjadi satu-satunya yang peduli terhadap nasibnya. Bagi orang lumpuh itu Yesuslah satu-satunya yang melihat dirinya penting sehingga pertanyaan dan perhatian ditujukan kepadanya.
Bagi orang lumpuh, kebersamaan mereka sebagai orang-orang sakit sebelum Yesus datang adalah kebersamaan tanpa makna, kebersamaan semu. Kebersamaan tanpa kepedulian seperti itu memang tidak membawa perubahan dan perbaikan bagi yang lainnya. Terbukti yang disembuhkan Yesus saat itu hanyalah orang lumpuh yang telah mengungkapkan pengalaman pribadinya kepada Yesus. Mereka yang lain tidak menerima kesembuhan saat itu. Cerita orang lumpuh itu adalah cerita tentang perlu dan pentingnya sikap peduli dalam kehidupan bersama.
Kisah tentang orang-orang dalam injil adalah kisah kehidupan manusia. Secara alegoris orang-orang yang menderita itu merujuk pada semua orang yang mengalami kesulitan, kekurangan dalam hidup. Mungkin kita jarang bertemu dengan orang buta, bisu, tuli, timpang, pincang, kecuali kalau kita ke panti asuhan untuk orang cacat. Di sekolah kita, di keluarga kita mungkin tidak ada yang buta, bisu, tuli, pincang secara fisik tetapi tentu kita tidak bisa menyangkal bahwa orang-orang yang sehat secara fisik belum tentu sehat secara rohani. Kalau kita sendiri melihat, mendengar, mengalami pelbagai cara hidup sesama yang tidak jujur, tidak adil di kelas atau di sekolah, tetapi kita berlaku seolah-olah tidak melihat, tidak mendengar, tidak merasakan maka kita tergolong orang yang sakit karena tidak memiliki kepedulian dalam kebersamaan kita. Di kelas, di sekolah, di rumah, kita mungkin secara fisik kelihatan ada bersama dan dalam kebersamaan tetapi apakah ada bersama itu bermakna atau sekadar ada bersama. Ada bersama tanpa kepedulian satu sama lain adalah penyakit yang menggerogoti kehidupan kita dari dalam. Kemajuan dunia komunikasi saat ini membuat kebersamaan itu semakin banyak yang semu. Orang yang dekat dengan kita terasa asing dan jauh sementara orang yang asing dan jauh terasa dekat dengan kita.
Kalau ada bersama kita dengan orang  tanpa kepedulian maka kebersamaan kita tidak lebih dari kerumunan massa anonim dan merasa asing satu sama lain. Kerumunan masaa anonim di tempat keramaian seperti pasar, tempat pertunjukan adalah bentuk kebersamaan tanpa kepedulian. Di tempat seperti itu setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri. Kalau itu terjadi di kelas kita, di sekolah kita maka kita tidak bisa mengharapkan akan berkembang menjadi pribadi unggul berkarakter. Semoga tema Kebersamaan dalam kepedulian dan saya tambahkan Kepedulian dalam kebersamaan yang kita renungkan hari ini sungguh-sungguh membantu kita untuk membuktikan diri sebagai pribadi unggul berkarakter yang mengharumkan gereja, bangsa dan tanah air. Berkat Tuhan untuk kita semua. Amin