Pesta Kritus Raja Alam Semesta Thn.A/2 21 November1999
Yeh.34,11-12.15-17; 1Kor.15,20-26.28; Mat.25,31-46
Buka
Hari ini Gereja merayakan Pesta Kristus Raja Semesta Alam. Pesta Yesus Kristus Raja juga menandakan berakhirnya tahun liturgi dalam Gereja. Mulai minggu besok kita akan memasuki tahun liturgi yang baru. Pada pesta Kristus Raja Semesta alam ini, kita semua diajak untuk menjadikan Kristus Raja semesta alam sebagai satu-satunya raja atas diri dan hidup kita. Kita diajak untuk menyerahkan diri kita untuk dipimpin dan dikuasai hanya oleh Kristus Raja semesta alam. Kita diajak untuk hanya menyembah Raja semesta Alam dan tidak menyembah raja-raja lainnya.
Dengan membiarkan diri dipimpin, dikuasai dan diatur oleh Raja semesta alam, maka dapat diharapkan Hidup kita akan mencapai tujuan hidup kita. Menyadari bahwa belum semua kita sudah menyerahkan dirinya untuk dikuasai, dipimpin dan diatur oleh Allah tetapi sebaliknya menyerahkan diri, dikuasai, dipimpin dan diatur oleh allah-allah yang lain maka marilah kita mohon ampun pada Tuhan. Dengan demikian kita menjadi layak untuk mengikuti perayaan ekaristsi pada pesta Kristus Raja Semesta Alam ini.
Renungan
Kristus Meyerahkan Kerajaan Kepada Bapa Supaya Allah Menjadi Segalanya Bagi Semua Orang
Firman Tuhan pada hari ini mengajak kita semua untuk menyembah hanya kepada Allah saja; untuk tidak membiarkan diri kita dikuasai oleh kekuatan-kekuatan duniawi, melainkan membiarkan diri kita dipmpin dan dikuasai oleh Allah raja semesta alam. Hari ini kita diajak untuk menempatkan Allah sebagai yang paling penting dan utama dalam hidup kita.
Mengapa Kitab Suci mengajak kita untuk menyembah hanya kepada Allah? Mengapa kita diajak untuk membiarkan diri kita hanya boleh dipimpin dan dikuasai oleh raja semesta alam? Mengapa kita diajak untuk menjadikan Allah raja semesta alam sebagai yang paling utama dan paling penting dalam kehidupan kita?
Jawabannya adalah karena raja semesta alam adalah raja yang dapat menjamin hidup kita, raja semesta alam adalah raja yang akan membantu kita untuk mencapai tujuan hidup kita. Raja semesta alam adalah raja yang selalu terlibat dalam seluruh kehidupan kita. Kita harus menyerahkan diri hanya kepada raja semesta alam karena Ia adalah raja yang dapat dipercayai. Raja yang dapat diandalkan. Ia adalah raja yang berbeda dengan raja-raja dari kerajaan dunia.
Kalau raja-raja dari kerajaan dunia bisa dan biasa mengharapkan kesetiaan rakyatnya untuk mati demi kepentingan rajanya dan bangsanya, tidak demikianlah dengan raja semesta alam. Raja semesta alam adalah raja yang rela mengorbankan diri dan menderita sengsara untuk kepentingan orang-orang lain; untuk kepentingan orang-orang yang dipimpinnya. Kalau raja-raja dunia bisa dan biasa menyesatkan dan menghilangkan rakyatnya sendiri demi kepentingan kekuasaan, maka raja semesta alam adalah raja yang berusaha menemukan domba yang hilang, raja semesta alam adalah raja yang berusaha membawa pulang domba yang tersesat. Kalau raja dunia sering mengadili rakyatnya secara tidak adil dengan kriteria yang samar-samar dan hanya ditafsir secara benar oleh raja sendiri, maka Raja semesta alam akan mengadili setiap orang secara adil dengan kriteria hukum yang sudah jelas dan diketahui oleh semua orang. Dalam pengadilan terakhir Ia tidak akan memisahkan kita berdasarkan ukuran agama yang kita anut, tetapi ia akan mengadili kita berdasarkan ukuran “apakah kita melaksanakan perintah cintakasih atau tidak”.
Kitab Suci hari ini melukiskan dengan sangat baik tentang pemerintahan raja semesta alam itu. Yehesekiel dalam bacaan pertama melukiskan bahwa raja semesta alam adalah raja yang memerintah dengan sangat bijaksana. Ia sangat konsern dan penuh perhatian terhadap domba-dombanya. Ia mengenal mereka satu persatu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ia tahu suka duka mereka. Ia tahu untung malang, bahagia dan derita umatNya. Ia memperhatikan semua dombanya baik yang gemuk maupun yang kurus. Ia akan mencari dan menyelamatkan mereka. Yang hilang dicari. Yang tersesat dibawa pulang. Yang luka dibalut. Yang sakit disembuhkan. Ia akan memimpin sendiri kawanannya sebagaimana seharusnya.
Oleh karena raja semesta alam adalah raja yang dapat diandalkan, raja yang dapat dipercayai, raja yang dapat menjamin kehidupan manusia, maka semua orang diajak untuk membiarkan/membuka diri untuk diperintah dan diatur oleh Raja Semesta alam seperti itu.
Saudara-saudara, yang menjadi dasar pemerintahan raja semesta alam adalah cintakasih. Ia memerintah dalam terang cintakasih. Maka kalau kita membiarkan Allah memerintah atas diri kita, membiarkan Allah memerintah atas keluarga dan masyarakat kita maka itu berarti kita membiarkan diri kita diperintah dan dikuasi oleh cintakasih, kita membiarkan keluarga dan masyarkat kita diperintah dan dikuasai oleh cintakasih. Kalau cintakasih yang memerintah dan menguasai kita, kalau cintakasih yang memerintah dan menguasai keluarga dan masyarakat kita maka orang lapar tentu akan diberi makan, orang asing akan diberi tumpangan, orang sakit tentu dibesuk, orang dalam penjara akan dikunjungi, orang telanjang diberi pakaian. Kalau cintakasih yang menguasai kita maka tentu kekerasan dalam masyarakat berkurang, penyakit-penyakit sosial kemasyarakatan juga pelan-pelan hilang. Ketidakadilan akan hilang dan keadilan akan tumbuh. Kekacauan akan meredah sedangkan kedamaian akan menampakkan diri. Lalu, apakah hal seperti itulah yang terjadi selama ini?
Kalau kita memperhatikan dengan teliti berbagai gejala yang terjadi dalam kehidupan manusia zaman ini, maka kita akan menemukan banyak tanda yang menunjukkan bahwa tidak semua orang telah menyerahkan dirinya kepada raja semesta alam. Tidak semua orang telah dikuasai oleh cintakasih dalam hidupnya. Tidak semua orang telah mengutamakan Allah dalam hidupnya. Tidak semua orang yang merasa perlu untuk menyembah hanya kepada Allah. Masih ada banyak orang lain yang tidak dikuasai oleh raja semesta alam. Tetapi dikuasai oleh raja-raja lain. Masih ada banyak orang lain yang hidupnya tidak kuasai oleh cintakasih, keadilan, perdamaian yang merupakan kekasan gaya pemerintahan Allah.
Ada manusia yang seluruh hidupnya dikuasi oleh kesibukan. Orang macam ini telah menyerahkan diri untuk dikuasai dan dipimpin oleh raja kesibukan. Ada yang telah menyerahkan dirinya kepada raja kekerasan sehingga seluruh tindakannya diwarnai oleh kekerasan. Akhir-akhir ini banyak orang yang mulai dikuasai dan menyerahkan diri kepada raja narkoba sehingga kasus penjualan dan pemakaian narkoba menjadi begitu mewabah di tanah air kita dan menjadi begitu sulit untuk diberantas; ada lagi yang hidupnya lebih dikuasai oleh raja perampokan, raja pembunuhan, raja ketidaksetiaan, raja ketidakjujuran, raja cinta diri raja raja lainnya yang tidak menguntungkan.. Dan sering kali raja-raja baru ini begitu kuat pengaruhnya bagi manusia sehingga banyak orang tidak kuasa untuk menolaknya. Banyak orang dengan begitu tekun dan taat melayani keinginan raja-raja baru itu. Akibatnya dunia kita jadi begitu memprihatinkan. Dunia kita jadi tempat yang kurang nyaman untuk didiami.
Hari ini kita diingatkan bahwa menyerahkan diri di bawah kekuasaan raja semesta alam adalah sesuatu yang sungguh mendesak bagi manusia zaman ini, agar segala bentuk kejahatan, segala bentuk ketidakberesan bisa teratasi. Kalau kita menyerahkan diri kepada kuasa raja semesta alam, maka diri kita akan diliputi dan dikuasai oleh cintakasih, sehingga kita mampu mengasihi orang-orang lain di sekitar kita terutama orang-orang kecil dan menderita. Hanya dengan demikian, kita akan mendapat kesempatan untuk berada di sebelah kanan Yesus dan dinyatakan sebagai orang-orang yang tidak berguna dan dicampakkan ke dalam tempat siksaan kekal.
Wednesday, August 7, 2013
MINGGU TRINITAS
HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS
Kel.4b-6-6.8-9 2Kor.13,11-13 Yoh.3,16-18
Paroki Yoh. Rasul Pringwulung - Yogya, 30-5-‘99
Buka
Umat beriman sekalian yang terkasih
Hari ini kita sebagai gereja merayakan pesta tiga kekuatan yang menghancurkan kekuatan status quo yang dibangun manusia sejak kejatuhannya ke dalam dosa. Hari raya Tritunggal Maha Kudus adalah kesempatan berahmat untuk kita dalam rangka belajar untuk menciptakan kerja sama dan perlunya persekutuan dalam menghadapi pelbagai kekuatan yang mengancam keselamatan kita. Allah yang berperan dalam tiga pribadi telah secara bersama menyelamatkan manusia dari perbudakan dosa. Kita berdoa semoga semangat Tritunggal menafasi kehidupan kita dalam kehidupan berbangsa bernegara dan bergereja. Agar doa dan harapan ini berkenan pada Tuhan marilah kita akui kelamhan dan dosa kita..
Renungan
Saya kira kita semua sepakat bahwa hidup kita seluruhnya diarahkan pada usaha mencari kebaikan. Kebaikan demi kebaikan yang kita cari untuk ditata menjadikan kehidupan ini menyenangkan. Karena itu, konsekuensinya kita akan merasa terganggu dan terusik kalau kebaikan yang mau dicapai itu dirusak oleh hal lain. Gangguan terhadap usaha mencapai kebaikan itu dalam bahasa reformasinya adalah keabikan yang terprovokasi. Dan provokatornya bisa bermacam-macam tetapi yang pasti itu adalah manusia-manusia. Kita manusia beriman diciptakan oleh kebaikan dan dalam kebaikan Allah yang menjadi sumber kebaikan itu. Ketika Allah memberadakan manusia, manusia dilengkapi dengan yaitu kebaikan dan cinta Allah sendiri. Kebaikan yang meliputi dunia manusia dari semula terprovokasi ketika manusia pertama terlibat dalam suatu rekayasa dan melakukan koalisi dengan kekuatan setan. Iblis itulah sang provokator pertama yang tercatat dalam sejarah agama-agama. Ular menjadi provokator buat Hawa dan Hawa menjadi provokator untuk Adam. Jadi boleh dibilang tindakan merekayasa dan aktivitas bernuansa provokatif adalah tindakan yang telah menyatu dengan kehidupan manusia, meskipun tidak disebut provokasi dan provokator seperti sekarang.
Kalau kita membaca kisah-kisah dalam perjanjian lama dan selanjutnya perjanjian Baru maka di sana terbentang deretan kisah di mana manusia bertindak sebagai dalang dalam pelbagai tindakan provokatif terhadap platform atau agenda kerja Allah. Ketika manusia membelot dari rencana Allah, saat itulah manusia terdorong untuk mencari pelbagai peluang untuk membenarkan dirinya. Dan manusia semakin jauh dari kebaikan yang menjadi napas kehidupannya. Allah yang pengasih dan penyayang hilang perhatian manusia. Gambaran pembelotan manusia itu dikatakan Musa dalam kitab keluaran tadi. Musa sebagai pemimpim Partai Keselamatan Manusia (PKM) mengakui dengan terus terang bahwa masa pendukung dan para simpatisannya menjadi orang yang bertegar tengkuk. Tengkuk yang tegar adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan manusia yang sulit untuk kembali ke jalan yang benar dan baik. Musa sebagi pemimpim jelas bertanggung jawab terhadap keselamatan bangsanya. Tuntutan reformasi pimpinan Musa bertujuan agar Israel sebagai bangsa yang bertegar tengkuk dapat kembali ke jalan yang benar. Dalam konteks kita sekarang ini kelompok reformis harus berhadapan dengan pendukung status quo yang bukan cuma bertegar tengkuk tetapi bertegar hati.
Sikap manusia yang digambarkan dalam bacaan pertama tadi adalah gambaran tentang situasi status quo yang mau dipertahankan manusia. Dan Allah sejak kejatuhan manusia pertama memang telah merancang suatu proyek raksasa yang diarahkan untuk meruntuhkan keuatan status quo manusia. Kondisi keberdosaan yang melahirkan pelbagai tindakan kejahatan lainnya adalah musuh Allah. Allah membangun kekuatan dengan melakukan konsolidasi dan koalisi yang menjamin adanya pembagian peran melawan status quo itu. Maka Allah membentuk tiga komisi independen yang bisa memantau pelbagai tindakan provokasi yang dilakukan manusia. Komisi pertama dipimpin sendiri oleh Allah Bapa dengan nama Komisi Penyelamatan Universal (KPU). Komisi kedua namanya Komisi Pembebasan Manusia (KPM) di bawah pimpinan Yesus, dan komisi ketiga adalah Komisi Pencerahan (PK) yang diketuai oleh Roh Kudus. Ketiga komisi ini ternyata memiliki platform, program, visi dan misi yang sama sehingga membentuk satu koalisi yang solid dalam rangka menghancurkan status quonya manusia. Dan Koalisi yang solid Antara Bapa, Putra dan Roh Kudus itulah yang kita rayakan hari ini sebagai hari raya Tritunggal Mahakudus. Menguraikan misteri Tritunggal memang tidak mudah meskipun muncul pelbagai ulasan teologis tentang hakikat misteri Tritunggal Mahakudus itu. Sebagai misteri tentu sulit sekali mendapatkan rumusan yang pasti dan tetap. Kita tidak bisa membuktikannya secara indrewi namun daya kerjnya tampak dalam kehidupan kita. Karena itu, saya coba menganalogikan prinsip kerja tiga pribadi Allah seperti dalam negara kita. Allah Bapa kira-kira menjalankan fungsi legislatif yang merencanakan konsep keselamatan, Allah Putra menjalankan fungsi eksekutif dengan menjabarkan rencana keselamatan, dan Roh Kudus menjalankan fungsi Yudikatif yang memantau proses pelaksanaan proyek keselamatan itu. Dan Yesus sebagai pelaksana telah menjalankan peranNya dalam menyelamatkan manusia dari kehidupan status quonya yang penuh dosa.
Tuntutan adanya reformasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini terus menggema. Pelbagai partai politik berusaha membeberkan segala bentuk program mereka sekadar mendulang suara rakyat. Dan musuh bersama para paratai politik saat ini cuma satu hal yaitu menghancurkan kekuatan status quo dengan sederetan embel-embelnya. Dan status quo yang dimaksudkan tidak lain adalah pelbagai bentuk cara kerja dan cara tindak manusia yang telah menjauhkan manusia dari itu dari jalan yang benar. Kalau kita mencermati pelbagai program yang dipaparkan dalam pelbagai kesempatan kampanye para partai politik melalui televisi maka di sana jelas sekali bahwa orang mau melakukan perbaikan pola kehidupan berbangsa dan bernegara. Mendambakan suatu tatanan baru yang memberikan peluang bagi setiap warga untuk mencari dan mendapatkan kebaikan itu dalam kehidupanya. Cita-cita manusia mirip dengan apa yang diharapkan St. Paulus dalam bacaan kedua tadi. Paulus menghendaki suatu bentuk tatanan kemasyarakatan yang baru yang diwarnai kasih dan kedamaian. Kasih dan kedamian itu hanya bisa diwujudkan dalam semangat kebersamaan. Paulus menghimbau: hendaklah kamu bersalam-salaman dalam cinta kasih persaudaraan yang tulus. Paulus menghendaki kita untuk membentuk koalisi dalam memperjuangkan cinta, dan kedamaian. Tuhan sudah memberikan contoh suatu persekutuan dan kebersamaan yang solid dalam merombak cara hidup manusia yang lama yang membelakangi Allah dan segala kebenarannya.
Sebagai warga negara dan gereja kita juga punya tanggung jawab dalam menciptakan kedamaian berlandaskan kasih. Tuhan dalam persekutuan Tritunggal Mahakudus mampu memulihkan kehidupan dunia manusia. Persekutuan tritunggal adalah persekutuan kasih, persatuan cinta. Kasih dan cinta mampu meruntuhkan pelbagai tindakan yang menghalangi rencana Allah. Tuhan sudah sejak semula mencanangkan satu gerakan reformasi untuk kehidupan kita umat manusia. Dalam konteks politik negara kita yang lagi hangat menyongsong pemilu tentu saja kita punya cita-cita yang sama menghapus pelbagai bentuk ketidakadilan dan penindasan dari kehidupan kita yang dilakukan oleh orang yang senang dengan rekayasa demi kepentingan kelompok tertentu. Tuhan memberikan kita kekuatan untuk melumpuhkan pelbagai tindakan manusia lama yang mau tinggal dalam kegelapan. Masa menjelang pemilu adalah saat yang tepat buat kita menentukan pilihan yang kiranya bisa membawa banyak orang pada suatu persekutuan dan kebersamaan yang menyegarkan. Kalau kita bersukut, bersatu dalam kebenaran untuk memperjuangkan kebenaran maka kebenaran itu akan tampil cemerlang dan tak mungkin terbendungkan. Tuhan sudah membuktikan telah melakukan reformasi total kepada dunia dengan perutusan Putranya yang dilengkapi dengan kekuatan Roh Kudus. PutraNya telah mendatangi kita dan rohnya telah menafasi kita karena itu tentu tak ada alasan bagi kita untuk membolak balikkan kebenaran. Tak ada lagi alasan bagi kita untuk melakukan rekayasa untuk membenarkan diri dan tindakan kita. Mudah-mudahan pesta Tritunggal Mahakudus hari ini sungguh menguatkan kita semua dalam memperjuangkan kebenaran dalam pelbagai dimensi kehidupan kita. Pilihan politik yang selaras dengan nurani demi kebenaran yang diarahkan pada terwujudnya pedarmaian dan cinta adalah pilihan tepat. Marilah kita amelakukan reformasi mulai dari diri kita dengan menyatukan pelbagai kekuatan yang ada dalam diri kita. Tuhan selalu berpihak kepada yang mencari dan memperjuangkan kebenaran. Perjuangan itu adalah bahasa kebenaran dan kalau kita berjuang bersama Tuhan pasti kemenangan ada ditangan kita. Kalau Tuhan di pihak kita siapakah yang bisa melawan kita? Amin..
Pringwulung, 30 Mei 1999
Rm.Bone Rampung Pr
Kel.4b-6-6.8-9 2Kor.13,11-13 Yoh.3,16-18
Paroki Yoh. Rasul Pringwulung - Yogya, 30-5-‘99
Buka
Umat beriman sekalian yang terkasih
Hari ini kita sebagai gereja merayakan pesta tiga kekuatan yang menghancurkan kekuatan status quo yang dibangun manusia sejak kejatuhannya ke dalam dosa. Hari raya Tritunggal Maha Kudus adalah kesempatan berahmat untuk kita dalam rangka belajar untuk menciptakan kerja sama dan perlunya persekutuan dalam menghadapi pelbagai kekuatan yang mengancam keselamatan kita. Allah yang berperan dalam tiga pribadi telah secara bersama menyelamatkan manusia dari perbudakan dosa. Kita berdoa semoga semangat Tritunggal menafasi kehidupan kita dalam kehidupan berbangsa bernegara dan bergereja. Agar doa dan harapan ini berkenan pada Tuhan marilah kita akui kelamhan dan dosa kita..
Renungan
Saya kira kita semua sepakat bahwa hidup kita seluruhnya diarahkan pada usaha mencari kebaikan. Kebaikan demi kebaikan yang kita cari untuk ditata menjadikan kehidupan ini menyenangkan. Karena itu, konsekuensinya kita akan merasa terganggu dan terusik kalau kebaikan yang mau dicapai itu dirusak oleh hal lain. Gangguan terhadap usaha mencapai kebaikan itu dalam bahasa reformasinya adalah keabikan yang terprovokasi. Dan provokatornya bisa bermacam-macam tetapi yang pasti itu adalah manusia-manusia. Kita manusia beriman diciptakan oleh kebaikan dan dalam kebaikan Allah yang menjadi sumber kebaikan itu. Ketika Allah memberadakan manusia, manusia dilengkapi dengan yaitu kebaikan dan cinta Allah sendiri. Kebaikan yang meliputi dunia manusia dari semula terprovokasi ketika manusia pertama terlibat dalam suatu rekayasa dan melakukan koalisi dengan kekuatan setan. Iblis itulah sang provokator pertama yang tercatat dalam sejarah agama-agama. Ular menjadi provokator buat Hawa dan Hawa menjadi provokator untuk Adam. Jadi boleh dibilang tindakan merekayasa dan aktivitas bernuansa provokatif adalah tindakan yang telah menyatu dengan kehidupan manusia, meskipun tidak disebut provokasi dan provokator seperti sekarang.
Kalau kita membaca kisah-kisah dalam perjanjian lama dan selanjutnya perjanjian Baru maka di sana terbentang deretan kisah di mana manusia bertindak sebagai dalang dalam pelbagai tindakan provokatif terhadap platform atau agenda kerja Allah. Ketika manusia membelot dari rencana Allah, saat itulah manusia terdorong untuk mencari pelbagai peluang untuk membenarkan dirinya. Dan manusia semakin jauh dari kebaikan yang menjadi napas kehidupannya. Allah yang pengasih dan penyayang hilang perhatian manusia. Gambaran pembelotan manusia itu dikatakan Musa dalam kitab keluaran tadi. Musa sebagai pemimpim Partai Keselamatan Manusia (PKM) mengakui dengan terus terang bahwa masa pendukung dan para simpatisannya menjadi orang yang bertegar tengkuk. Tengkuk yang tegar adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan manusia yang sulit untuk kembali ke jalan yang benar dan baik. Musa sebagi pemimpim jelas bertanggung jawab terhadap keselamatan bangsanya. Tuntutan reformasi pimpinan Musa bertujuan agar Israel sebagai bangsa yang bertegar tengkuk dapat kembali ke jalan yang benar. Dalam konteks kita sekarang ini kelompok reformis harus berhadapan dengan pendukung status quo yang bukan cuma bertegar tengkuk tetapi bertegar hati.
Sikap manusia yang digambarkan dalam bacaan pertama tadi adalah gambaran tentang situasi status quo yang mau dipertahankan manusia. Dan Allah sejak kejatuhan manusia pertama memang telah merancang suatu proyek raksasa yang diarahkan untuk meruntuhkan keuatan status quo manusia. Kondisi keberdosaan yang melahirkan pelbagai tindakan kejahatan lainnya adalah musuh Allah. Allah membangun kekuatan dengan melakukan konsolidasi dan koalisi yang menjamin adanya pembagian peran melawan status quo itu. Maka Allah membentuk tiga komisi independen yang bisa memantau pelbagai tindakan provokasi yang dilakukan manusia. Komisi pertama dipimpin sendiri oleh Allah Bapa dengan nama Komisi Penyelamatan Universal (KPU). Komisi kedua namanya Komisi Pembebasan Manusia (KPM) di bawah pimpinan Yesus, dan komisi ketiga adalah Komisi Pencerahan (PK) yang diketuai oleh Roh Kudus. Ketiga komisi ini ternyata memiliki platform, program, visi dan misi yang sama sehingga membentuk satu koalisi yang solid dalam rangka menghancurkan status quonya manusia. Dan Koalisi yang solid Antara Bapa, Putra dan Roh Kudus itulah yang kita rayakan hari ini sebagai hari raya Tritunggal Mahakudus. Menguraikan misteri Tritunggal memang tidak mudah meskipun muncul pelbagai ulasan teologis tentang hakikat misteri Tritunggal Mahakudus itu. Sebagai misteri tentu sulit sekali mendapatkan rumusan yang pasti dan tetap. Kita tidak bisa membuktikannya secara indrewi namun daya kerjnya tampak dalam kehidupan kita. Karena itu, saya coba menganalogikan prinsip kerja tiga pribadi Allah seperti dalam negara kita. Allah Bapa kira-kira menjalankan fungsi legislatif yang merencanakan konsep keselamatan, Allah Putra menjalankan fungsi eksekutif dengan menjabarkan rencana keselamatan, dan Roh Kudus menjalankan fungsi Yudikatif yang memantau proses pelaksanaan proyek keselamatan itu. Dan Yesus sebagai pelaksana telah menjalankan peranNya dalam menyelamatkan manusia dari kehidupan status quonya yang penuh dosa.
Tuntutan adanya reformasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini terus menggema. Pelbagai partai politik berusaha membeberkan segala bentuk program mereka sekadar mendulang suara rakyat. Dan musuh bersama para paratai politik saat ini cuma satu hal yaitu menghancurkan kekuatan status quo dengan sederetan embel-embelnya. Dan status quo yang dimaksudkan tidak lain adalah pelbagai bentuk cara kerja dan cara tindak manusia yang telah menjauhkan manusia dari itu dari jalan yang benar. Kalau kita mencermati pelbagai program yang dipaparkan dalam pelbagai kesempatan kampanye para partai politik melalui televisi maka di sana jelas sekali bahwa orang mau melakukan perbaikan pola kehidupan berbangsa dan bernegara. Mendambakan suatu tatanan baru yang memberikan peluang bagi setiap warga untuk mencari dan mendapatkan kebaikan itu dalam kehidupanya. Cita-cita manusia mirip dengan apa yang diharapkan St. Paulus dalam bacaan kedua tadi. Paulus menghendaki suatu bentuk tatanan kemasyarakatan yang baru yang diwarnai kasih dan kedamaian. Kasih dan kedamian itu hanya bisa diwujudkan dalam semangat kebersamaan. Paulus menghimbau: hendaklah kamu bersalam-salaman dalam cinta kasih persaudaraan yang tulus. Paulus menghendaki kita untuk membentuk koalisi dalam memperjuangkan cinta, dan kedamaian. Tuhan sudah memberikan contoh suatu persekutuan dan kebersamaan yang solid dalam merombak cara hidup manusia yang lama yang membelakangi Allah dan segala kebenarannya.
Sebagai warga negara dan gereja kita juga punya tanggung jawab dalam menciptakan kedamaian berlandaskan kasih. Tuhan dalam persekutuan Tritunggal Mahakudus mampu memulihkan kehidupan dunia manusia. Persekutuan tritunggal adalah persekutuan kasih, persatuan cinta. Kasih dan cinta mampu meruntuhkan pelbagai tindakan yang menghalangi rencana Allah. Tuhan sudah sejak semula mencanangkan satu gerakan reformasi untuk kehidupan kita umat manusia. Dalam konteks politik negara kita yang lagi hangat menyongsong pemilu tentu saja kita punya cita-cita yang sama menghapus pelbagai bentuk ketidakadilan dan penindasan dari kehidupan kita yang dilakukan oleh orang yang senang dengan rekayasa demi kepentingan kelompok tertentu. Tuhan memberikan kita kekuatan untuk melumpuhkan pelbagai tindakan manusia lama yang mau tinggal dalam kegelapan. Masa menjelang pemilu adalah saat yang tepat buat kita menentukan pilihan yang kiranya bisa membawa banyak orang pada suatu persekutuan dan kebersamaan yang menyegarkan. Kalau kita bersukut, bersatu dalam kebenaran untuk memperjuangkan kebenaran maka kebenaran itu akan tampil cemerlang dan tak mungkin terbendungkan. Tuhan sudah membuktikan telah melakukan reformasi total kepada dunia dengan perutusan Putranya yang dilengkapi dengan kekuatan Roh Kudus. PutraNya telah mendatangi kita dan rohnya telah menafasi kita karena itu tentu tak ada alasan bagi kita untuk membolak balikkan kebenaran. Tak ada lagi alasan bagi kita untuk melakukan rekayasa untuk membenarkan diri dan tindakan kita. Mudah-mudahan pesta Tritunggal Mahakudus hari ini sungguh menguatkan kita semua dalam memperjuangkan kebenaran dalam pelbagai dimensi kehidupan kita. Pilihan politik yang selaras dengan nurani demi kebenaran yang diarahkan pada terwujudnya pedarmaian dan cinta adalah pilihan tepat. Marilah kita amelakukan reformasi mulai dari diri kita dengan menyatukan pelbagai kekuatan yang ada dalam diri kita. Tuhan selalu berpihak kepada yang mencari dan memperjuangkan kebenaran. Perjuangan itu adalah bahasa kebenaran dan kalau kita berjuang bersama Tuhan pasti kemenangan ada ditangan kita. Kalau Tuhan di pihak kita siapakah yang bisa melawan kita? Amin..
Pringwulung, 30 Mei 1999
Rm.Bone Rampung Pr
MINGGU KITAB SUCI NASIONAL
Minggu Biasa ke-23 Th.A1 5 September 1999
Yeh 33:7-9; Rm 13:8-10; Mt. 18:15-20
Minggu Kitab Suci Nasional
Buka
Hari Minggu ini oleh gereja ditetapkan sebagai hari Minggu Kitab Suci Nasional. Gereja sengaja menetapkan sepanjang bulan September sebagai bulan Kitab Suci agar umat beriman menggali dan mendalami makna Kitab Suci. Lebih dari itu, umat beriman diharapkan dapat menjabarkan sabda Kitab Suci itu dalam kehidupan yang nyata. Diharapkan waktu sebulan ini menjadi kesempatan bagi kita membaca surat cinta Allah yang membahasakan kehidupan kita secara penuh melalui Kitab Suci. Kita berdoa semoga kita dilengkapi semngat untuk mencintai sabda Allah bukan hanya dengan mendengar tetapi membaca, merenungkan dan berusaha menjabarkannya dalam hidup. Untuk itu marilah kita akui segala dosa dan salah kita. Mungkin kita kurang akrab dengan Tuhan dalam pergumulan kita dengan Kitab Suci. Mungkin kita hanya terlibat sebagai pendengar firman dan bukan menjadi pencari dan pelaku firman. Mungkin telinga kita tertutup mendengarkan apa yang dibisikan Tuhan melalui sabda-Nya.
Renungan
Tono dan Tini adalah nama pasangan suami istri yang paling rukun di sebuah perkampungan. Banyak orang iri menyaksikan keserasian pasangan Tono dan Tini itu. Kehidupan mereka dengan tetangga dan masyarakat sekitarnya berjalan baik dan menyenangkan. Keluarga itu boleh dianggap sebagai model untuk pasangan-pasangan yang baru. Para wartawan mencari kesempatan untuk melakukan investigasi atau wawancara terhadap pasangan itu. Dari wawancara itu terungkap rahasia yang membuat pasangan itu hidup rukun. Rahasianya terletak pada dua lembar surat yang berbingkai rapi dan digantungkan di dinding rumah mereka. Surat pada bingkai pertama adalah surat cinta yang ditulis Tono untuk Tini. Surat itu penuh dengan kata yang indah, serta pelbagai janji yang harus Tono tepati bila Tini menerima cinta Tono. Surat pada bingkai kedua adalah tulisan Tini dengan kata yang indah berisi jawaban serta niatnya terhadap tawaran cinta Tono. Setiap tamu yang datang ke rumah itu, mereka membacakan dua surat dalam bingkai itu. Setiap kali mengalami benturan dan perselisihan dalam kehidupan berumah tangga, Tono dan Tini selalu kembali membaca isi surat cinta mereka. Surat cinta itu mereka baca dan terus membacanya. Sebelum menjalankan kegiatan setiap hari mereka selalu meluangkan waktu untuk membaca surat itu. Demikian pula sepulang melaksanakan pekerjaan pada sore hari mereka membaca surat itu. Mereka membaca kembali sekadar mencocokan apa yang tertulis di sana dengan apa yang akan dan telah mereka lakukan. Surat cinta itu tidak mereka sembunyikan di dasar peti melainkan dibiarkan dibaca oleh banyak orang agar orang bisa mendapatkan sesuatu dari cara yang mereka lakukan.
Apakah bapak ibu yang sudah berkeluarga masih menyimpan surat cinta yang penuh dengan kata-kata indah dan janji-janji yang dulu itu? Adakah surat cinta yang pernah ditulis itu terus dibaca dalam menjalani kehidupan berumah tangga? Kalau ada yang telah membuang surat cinta itu memang perlu disayangkan. Tetapi, untuk saudara/i yang masih muda saya anjurkan kalau nanti membuat atau menerima surat cinta dari calon pasangan Anda, silakan menyimpan surat itu dan terus membacanya dalam kehidupan setiap hari. Siapa tahu isi surat itu akan membuat hidup itu rukun dan harmonis.
Surat cinta yang paling lama bertahan dalam kehidupan manusia tidak lain adalah Kitab Suci yang berisi pernyataan cinta Allah yang total untuk dunia dan manusia. Kitab Suci sebagai surat cinta Allah untuk manusia memuat pelbagai situasi dan pengalaman keseharian manusia. Kitab Suci sebagai surat cinta Allah untuk manusia memuat sederetan suka duka kehidupan. Apa yang dikatakana dan tertulis di sana itulah hakikat hidup manusia. Kitab Suci merekam dan mencatat semuanya, segalanya dan seluruhnya dari hidup manusia dan untuk hidup manusia. Segala sesuatu yang dialami, dihadapi manusia sampai hari ini bahkan sampai kapan pun telah termuat dalam surat cinta Allah itu. Karena Kitab Suci berisi situasi dan pengalaman manusia maka semestinya dan seharusnya Kitab Suci itu terus dibaca untuk merintis jalan yang lurus menuju pusat cinta itu sendiri. Untuk memahami dan menangkap isi hati seorang yang jatuh cinta, orang mau tidak mau harus berusaha membaca dan menafsirkan kata-kata yang ada dalam surat cinta itu. Allah telah jatuh cinta kepada manusia. Ia menyatakan cinta-Nya kepada manusia lewat sabda-Nya dan tentu saja manusia diminta memberikan jawaban atas tawaran cinta itu. Dan, jawaban yang benar dan pasti akan muncul kalau orang berusaha memahami bahasa cinta Allah itu dalam kehidupan nyata sehari-hari. Isi surat cinta telah dijabarkan melalui perutusan Yesus untuk membebaskan manusia dari segala pengalaman yang menjauhkan dia dari Allah. Yesus sebagai isi surat cinta Allah untuk manusia telah merukunkan dan mendamaikan kembali relasi antara Allah sebagai asal dan sumber cinta dengan manusia yang telah meninggalkan cinta itu ketika manusia tersesat dan terbenam dalam jalan yang dibangunnya sendiri.
Penggalan surat cinta Allah untuk kita semua disampaikan melalui ketiga bacaan hari ini. Apa yang disampikan dalam ketiga bacaan tadi jelas merupakan situasi gambaran pengalaman dan hidup manusia yang konkret. Kekerasan, penindasan, peperangan, pelbagi kejahatan yang dialami Yehezkiel adalah situasi hidup manusia yang nyata. Hal itu pun masih terus berlangsung sampai saat ini. Ketidakadilan, permusuhan, pemerasan dialami Paulus ketika berhadapan dengan Jemaat di Roma. Hal serupa juga merupakan gambaran hidup manusia yang berlangsung sampai saat ini. Yehezkiel dan Paulus berhadapan dengan kondisi kehidupan yang tidak menguntungkan. Pada masa itu terjadi krisis besar. Pelbagai penyimpangan dan kehajatan merebak pada semua tataran kehidupan masyarakat. Dalam situasi seperti itulah manusia menemui jalan buntu. Apa yang bisa dan harus manusia lakukan kalau situasinya sudah seperti itu?
Dalam menghadapi pelbagai situasi kehidupan yang sulit, yang dibutuhkan manusia hanyalah bahasa dan ungkapan cinta. Ungkapan dan bahasa cinta itu merupakan penjabaran atau perpanjangan cinta Allah. Bahasa dan ungkapn cinta adalah bahasa dan ungkapan yang terkadang jelas; tetapi terkadang tidak jelas. Bahasa dan ungkapan cinta menuntut adanya kepekaan yang tinggi. Menafsir dan menangkap bahasa cinta memang tidak mudah. Mengungkap bahasa cinta menuntut manusia untuk keluar dari dirinya sendiri. Keluar dari batas dan tembok yang dibangun untuk keselamatan dirinya sendiri. Melepaskan keamanan diri demi mereka yang sepantasnya dicintai. Yehezkiel harus berhadapan dengan pelbagai kejahatan dan di dituntut untuk menyatakan yang benar, yang baik. Yehezkiel diangkat untuk membawa dan menerjemahkan cinta Yahwe kepada mereka yang terperangkap dalam tindak kejahatan. Tugas Yehezkiel adalah mengarahkan para penjahat supaya bila penjahat mati Yehezkiel tidak dipersalahkan. Yehezkiel memulis: orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut petanggunganjawab atas nyawanya dari padamu. Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu (Yeh.33:9).
Dalam konteks Paulus mengarahkan penjahat itu sama dengan membagikan kasih. Kalau orang berani membantu membebaskan orang dari kejahatan maka orang itu telah melakukan hukum yang utama yaitu kasih. Kasih itu adalah kepekaan terhadap apa yang dialami orang lain. Kasih itu adalah kerelaan untuk membantu. Kasih itu harus tumbuh dan mengalir pertama dan terutama untuk orang lain sebelum ditakarkan untuk diri sendiri. Dan bagi Yesus kasih itu terjabar dalam sikap kerelaan berjalan bersama orang lain dalam situasi orang itu. Kepekaan dan kesabaran adalah kunci kesuksesan membawa kembali orang yang tersesat ke jalan yang benar. Kasih adalah tindakan dan perbuatan yang tidak gegabah. Yesus adalah tokoh yang berjuang selalu menghargai proses. Ia tidak mementingkan hasil yang cepat. Ia tidak senang dengan segala yang serba instan. Memulihkan orang jahat ke jalan yang benar harus melalu tahap-tahap yang teliti dan harus dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu kerelaan mendengar, melihat menjadi sangat penting. Batu karang yang keras membutuhkan tetesan hujan bertahun-tahun untuk menghancurkannya. Menghadapi orang bermasalah memang perlu proses.
Hidup kita sampai kapan pun tidak akan bebas dari masalah. Hidup kita diuji dan diasah dalam pelbagai tantangan. Namun, kita semua mendambakan hidup yang baik, tenang, damai, dan harmonis seperti pengalaman pasangan Tini dan Tono dalam cerita awal tadi. Surat cinta yang selalu mereka baca itulah kunci kedamian dan keharmonisan keluarga mereka. Kita memiliki surat Cinta yang tidak bisa tersaingi oleh surat cinta mana pun yang pernah dibuat oleh para penyair dan pujangga. Allah adalah penyair kehidupan kita. Allah adalah pujangga yang menulis sejarah cinta dan kehidupan manusia. Bumi tidak mampu memuat sejarah cinta Allah untuk manusia. Laut tidak mampu menampung aliran cinta Tuhan untuk manusia. Cakrawala tidak mampu mengukir bertapa agungnya cinta Tuhan untuk kita. Hidup kita pun tidak mampu mengungkapkan secara lengkap cinta Allah itu. Kita hanya dituntut untuk mengenal dan memahami cinta Tuhan dalam langkah dan penggalan hidup kita.
Bulan Kitab Suci mengajak kita untuk membaca dan merenungkan Cinta Allah, mengambil manfaatnya untuk hidup kita, menyelaraskan hidup kita dengan Sabda Allah itu, dan hidup menurut Sabda Allah. Mudah-mudahan sabda Tuhan dan pernyataan cinta-Nya yang tertulis dalam Kitab Suci menguatkan kita setelah, selama dan sebelum kita berlangkah dalam hidup kita. Amin.
Pringwulung, 5 September 1999
Rm.Bonefasius Rampung Pr
Yeh 33:7-9; Rm 13:8-10; Mt. 18:15-20
Minggu Kitab Suci Nasional
Buka
Hari Minggu ini oleh gereja ditetapkan sebagai hari Minggu Kitab Suci Nasional. Gereja sengaja menetapkan sepanjang bulan September sebagai bulan Kitab Suci agar umat beriman menggali dan mendalami makna Kitab Suci. Lebih dari itu, umat beriman diharapkan dapat menjabarkan sabda Kitab Suci itu dalam kehidupan yang nyata. Diharapkan waktu sebulan ini menjadi kesempatan bagi kita membaca surat cinta Allah yang membahasakan kehidupan kita secara penuh melalui Kitab Suci. Kita berdoa semoga kita dilengkapi semngat untuk mencintai sabda Allah bukan hanya dengan mendengar tetapi membaca, merenungkan dan berusaha menjabarkannya dalam hidup. Untuk itu marilah kita akui segala dosa dan salah kita. Mungkin kita kurang akrab dengan Tuhan dalam pergumulan kita dengan Kitab Suci. Mungkin kita hanya terlibat sebagai pendengar firman dan bukan menjadi pencari dan pelaku firman. Mungkin telinga kita tertutup mendengarkan apa yang dibisikan Tuhan melalui sabda-Nya.
Renungan
Tono dan Tini adalah nama pasangan suami istri yang paling rukun di sebuah perkampungan. Banyak orang iri menyaksikan keserasian pasangan Tono dan Tini itu. Kehidupan mereka dengan tetangga dan masyarakat sekitarnya berjalan baik dan menyenangkan. Keluarga itu boleh dianggap sebagai model untuk pasangan-pasangan yang baru. Para wartawan mencari kesempatan untuk melakukan investigasi atau wawancara terhadap pasangan itu. Dari wawancara itu terungkap rahasia yang membuat pasangan itu hidup rukun. Rahasianya terletak pada dua lembar surat yang berbingkai rapi dan digantungkan di dinding rumah mereka. Surat pada bingkai pertama adalah surat cinta yang ditulis Tono untuk Tini. Surat itu penuh dengan kata yang indah, serta pelbagai janji yang harus Tono tepati bila Tini menerima cinta Tono. Surat pada bingkai kedua adalah tulisan Tini dengan kata yang indah berisi jawaban serta niatnya terhadap tawaran cinta Tono. Setiap tamu yang datang ke rumah itu, mereka membacakan dua surat dalam bingkai itu. Setiap kali mengalami benturan dan perselisihan dalam kehidupan berumah tangga, Tono dan Tini selalu kembali membaca isi surat cinta mereka. Surat cinta itu mereka baca dan terus membacanya. Sebelum menjalankan kegiatan setiap hari mereka selalu meluangkan waktu untuk membaca surat itu. Demikian pula sepulang melaksanakan pekerjaan pada sore hari mereka membaca surat itu. Mereka membaca kembali sekadar mencocokan apa yang tertulis di sana dengan apa yang akan dan telah mereka lakukan. Surat cinta itu tidak mereka sembunyikan di dasar peti melainkan dibiarkan dibaca oleh banyak orang agar orang bisa mendapatkan sesuatu dari cara yang mereka lakukan.
Apakah bapak ibu yang sudah berkeluarga masih menyimpan surat cinta yang penuh dengan kata-kata indah dan janji-janji yang dulu itu? Adakah surat cinta yang pernah ditulis itu terus dibaca dalam menjalani kehidupan berumah tangga? Kalau ada yang telah membuang surat cinta itu memang perlu disayangkan. Tetapi, untuk saudara/i yang masih muda saya anjurkan kalau nanti membuat atau menerima surat cinta dari calon pasangan Anda, silakan menyimpan surat itu dan terus membacanya dalam kehidupan setiap hari. Siapa tahu isi surat itu akan membuat hidup itu rukun dan harmonis.
Surat cinta yang paling lama bertahan dalam kehidupan manusia tidak lain adalah Kitab Suci yang berisi pernyataan cinta Allah yang total untuk dunia dan manusia. Kitab Suci sebagai surat cinta Allah untuk manusia memuat pelbagai situasi dan pengalaman keseharian manusia. Kitab Suci sebagai surat cinta Allah untuk manusia memuat sederetan suka duka kehidupan. Apa yang dikatakana dan tertulis di sana itulah hakikat hidup manusia. Kitab Suci merekam dan mencatat semuanya, segalanya dan seluruhnya dari hidup manusia dan untuk hidup manusia. Segala sesuatu yang dialami, dihadapi manusia sampai hari ini bahkan sampai kapan pun telah termuat dalam surat cinta Allah itu. Karena Kitab Suci berisi situasi dan pengalaman manusia maka semestinya dan seharusnya Kitab Suci itu terus dibaca untuk merintis jalan yang lurus menuju pusat cinta itu sendiri. Untuk memahami dan menangkap isi hati seorang yang jatuh cinta, orang mau tidak mau harus berusaha membaca dan menafsirkan kata-kata yang ada dalam surat cinta itu. Allah telah jatuh cinta kepada manusia. Ia menyatakan cinta-Nya kepada manusia lewat sabda-Nya dan tentu saja manusia diminta memberikan jawaban atas tawaran cinta itu. Dan, jawaban yang benar dan pasti akan muncul kalau orang berusaha memahami bahasa cinta Allah itu dalam kehidupan nyata sehari-hari. Isi surat cinta telah dijabarkan melalui perutusan Yesus untuk membebaskan manusia dari segala pengalaman yang menjauhkan dia dari Allah. Yesus sebagai isi surat cinta Allah untuk manusia telah merukunkan dan mendamaikan kembali relasi antara Allah sebagai asal dan sumber cinta dengan manusia yang telah meninggalkan cinta itu ketika manusia tersesat dan terbenam dalam jalan yang dibangunnya sendiri.
Penggalan surat cinta Allah untuk kita semua disampaikan melalui ketiga bacaan hari ini. Apa yang disampikan dalam ketiga bacaan tadi jelas merupakan situasi gambaran pengalaman dan hidup manusia yang konkret. Kekerasan, penindasan, peperangan, pelbagi kejahatan yang dialami Yehezkiel adalah situasi hidup manusia yang nyata. Hal itu pun masih terus berlangsung sampai saat ini. Ketidakadilan, permusuhan, pemerasan dialami Paulus ketika berhadapan dengan Jemaat di Roma. Hal serupa juga merupakan gambaran hidup manusia yang berlangsung sampai saat ini. Yehezkiel dan Paulus berhadapan dengan kondisi kehidupan yang tidak menguntungkan. Pada masa itu terjadi krisis besar. Pelbagai penyimpangan dan kehajatan merebak pada semua tataran kehidupan masyarakat. Dalam situasi seperti itulah manusia menemui jalan buntu. Apa yang bisa dan harus manusia lakukan kalau situasinya sudah seperti itu?
Dalam menghadapi pelbagai situasi kehidupan yang sulit, yang dibutuhkan manusia hanyalah bahasa dan ungkapan cinta. Ungkapan dan bahasa cinta itu merupakan penjabaran atau perpanjangan cinta Allah. Bahasa dan ungkapn cinta adalah bahasa dan ungkapan yang terkadang jelas; tetapi terkadang tidak jelas. Bahasa dan ungkapan cinta menuntut adanya kepekaan yang tinggi. Menafsir dan menangkap bahasa cinta memang tidak mudah. Mengungkap bahasa cinta menuntut manusia untuk keluar dari dirinya sendiri. Keluar dari batas dan tembok yang dibangun untuk keselamatan dirinya sendiri. Melepaskan keamanan diri demi mereka yang sepantasnya dicintai. Yehezkiel harus berhadapan dengan pelbagai kejahatan dan di dituntut untuk menyatakan yang benar, yang baik. Yehezkiel diangkat untuk membawa dan menerjemahkan cinta Yahwe kepada mereka yang terperangkap dalam tindak kejahatan. Tugas Yehezkiel adalah mengarahkan para penjahat supaya bila penjahat mati Yehezkiel tidak dipersalahkan. Yehezkiel memulis: orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut petanggunganjawab atas nyawanya dari padamu. Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu (Yeh.33:9).
Dalam konteks Paulus mengarahkan penjahat itu sama dengan membagikan kasih. Kalau orang berani membantu membebaskan orang dari kejahatan maka orang itu telah melakukan hukum yang utama yaitu kasih. Kasih itu adalah kepekaan terhadap apa yang dialami orang lain. Kasih itu adalah kerelaan untuk membantu. Kasih itu harus tumbuh dan mengalir pertama dan terutama untuk orang lain sebelum ditakarkan untuk diri sendiri. Dan bagi Yesus kasih itu terjabar dalam sikap kerelaan berjalan bersama orang lain dalam situasi orang itu. Kepekaan dan kesabaran adalah kunci kesuksesan membawa kembali orang yang tersesat ke jalan yang benar. Kasih adalah tindakan dan perbuatan yang tidak gegabah. Yesus adalah tokoh yang berjuang selalu menghargai proses. Ia tidak mementingkan hasil yang cepat. Ia tidak senang dengan segala yang serba instan. Memulihkan orang jahat ke jalan yang benar harus melalu tahap-tahap yang teliti dan harus dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu kerelaan mendengar, melihat menjadi sangat penting. Batu karang yang keras membutuhkan tetesan hujan bertahun-tahun untuk menghancurkannya. Menghadapi orang bermasalah memang perlu proses.
Hidup kita sampai kapan pun tidak akan bebas dari masalah. Hidup kita diuji dan diasah dalam pelbagai tantangan. Namun, kita semua mendambakan hidup yang baik, tenang, damai, dan harmonis seperti pengalaman pasangan Tini dan Tono dalam cerita awal tadi. Surat cinta yang selalu mereka baca itulah kunci kedamian dan keharmonisan keluarga mereka. Kita memiliki surat Cinta yang tidak bisa tersaingi oleh surat cinta mana pun yang pernah dibuat oleh para penyair dan pujangga. Allah adalah penyair kehidupan kita. Allah adalah pujangga yang menulis sejarah cinta dan kehidupan manusia. Bumi tidak mampu memuat sejarah cinta Allah untuk manusia. Laut tidak mampu menampung aliran cinta Tuhan untuk manusia. Cakrawala tidak mampu mengukir bertapa agungnya cinta Tuhan untuk kita. Hidup kita pun tidak mampu mengungkapkan secara lengkap cinta Allah itu. Kita hanya dituntut untuk mengenal dan memahami cinta Tuhan dalam langkah dan penggalan hidup kita.
Bulan Kitab Suci mengajak kita untuk membaca dan merenungkan Cinta Allah, mengambil manfaatnya untuk hidup kita, menyelaraskan hidup kita dengan Sabda Allah itu, dan hidup menurut Sabda Allah. Mudah-mudahan sabda Tuhan dan pernyataan cinta-Nya yang tertulis dalam Kitab Suci menguatkan kita setelah, selama dan sebelum kita berlangkah dalam hidup kita. Amin.
Pringwulung, 5 September 1999
Rm.Bonefasius Rampung Pr
MINGGU BIASA KE-28 TAHUN A
Minggu Biasa ke 28 Tahun A/2
Yes.25,6 10a Fil.4,12 14,19 20 Mat.22,1 14
Buka
Allah dari semula sampai kekal tetap memang¬gil dan mengundang manusia untuk menikmati kebahagiaan kekal bersama Nya. Suara-Nya terus menggema mengundang semua manusia. Reaksi dan tanggapan manusia sendiri yang menentukan apakah ia layak diterima atau tidak. Undangan Allah memang terbuka untuk semua manusia namun untuk menjawabi panggilan itu manusia dituntut untuk memenuhi syarat yang minimal berupa iman akan Allah. Segala perbuatan baik yang digelar manusia dalam kehidupannya untuk Tuhan dan sesama merupakan pakaian pesta yang memungkinkan ia layak masuk perjamuan bersama Tuhan.
Pelbagai bidang tugas dan pelayanan manusia itulah tempat yang tepat baginya mendandani diri dengan pakaian yang pantas. Marilah kita bertanya diri kita apa¬kah kita sungguh menjadikan tugas pelayanan kita sebagai kesempatan kita menyiapkan diri masuk perjamuan kekal bersama Tuhan? Kita hening sejenak menyadari segala kelemahan dan dosa kita biar kita dilayakkan menerima Tuhan dalam perja¬muan keselamatan ini....
Renungan
Saya yakin dan percaya bahwa hampir semua kita yang hadir dalam perayaan hari ini, pernah menghadiri salah satu pesta entah itu pesta nikah atau pesta apa saja. Kalau kita mencoba mencermati setiap pesta yang kita ikuti dan saksikan maka kita akan sampai pada penilaian bahwa menyelenggara¬kan pesta itu bernyata tidak mudah. Setiap pesta yang besar harus ada panitia dan kepengurusan yang lengkap dengan semua seksinya. Setiap perencanaan pesta sejak awal kepanitiaannya akan bertekad agar pestanya sukses dan memuaskan. Karena itu, strategi juga perlu diterapkan demi keberhasilan pesta itu.
Penerapan pelbagai cara dan strategi, menjadikan pesta itu sebagai suatu seni tersendiri. Dan jika kita berbicara soal pesta maka perkara makan minum mau tidak mau harus mendapat perhatiaan karena biasanya keberhasilan sebuah pesta ditentukan dan diukur dengan berapa banyak jenis menu maka¬nan, hidangan serta jenis minuman yang disu-guhkan kepada para undangan. Kepuasan para undangan akan makanan dan minuman itulah timbangan yang menentukan apakah pesta itu berhasil atau tidak. Jika sampai terjadi bahwa ada sebagian kecil orang tidak mendapat makanan dan minuman maka pesta itu akan dinilai kurang berhasil. Lebih bagus lagi jika sebuah pesta dengan makanan minum yang cukup ditambah lagi dengan suguhan acara yang menarik dan memikat. Orang akan pulang dengan pembicaraan utama tentang bagaimana makanannya enak atau tidak. Hal yang lain tidak dibicarakan dan sengaja dilupakan.
Tak ada satu pesta yang bebas dari kecemasan dan ketakutan akan mengalami kegagalan. Masalah cukup tidak persediaan makanan dan minuman selalu menjadi masalah yang perlu dicemaskan. Hal itu bukan hanya berlaku pada zaman kita dewasa ini. Paling kurang setelah kita mendengarkan apa yang disampai¬kan ketiga bacaan hari ini kita bisa mengenal bahwa hal yang sama juga berlaku pada masa kehidupan para nabi Perjanjian Lama. Penggalan Nubuat Yesaya yang kita dengar dalam bacaan pertama memberikan kita satu gambaran tentang sebuah perjamuan akbar dan sungguh sukses.
Pelukisan Yesaya yang amat menarik dan mengesankan itu membuat kita membayangkan betapa menyenangkan perjamuan itu. Perjamuan akbar yang dikisah¬kan Yesaya itu terbuka untuk umum. Menu masakannnya juga sangat khas. Jika di setiap daerah itu ada makanan khasnya maka dalam perja¬muan yang diangkat Yesaya ada menu yang khas yaitu daging berlemak dan bersum sum. Lokasi perayaan menyenangkan karena dibuat di atas puncak gunung Sion. Minumannya juga cocok untuk suasana gunung berupa anggur paling enak. Wajah wajah yang hadir dalam pesta itu menampakkan kegembiraan yang sempurna. Dalam pesta itu mereka amat merasakan adanya pembe¬basan dan merasa selalu aman. Mereka merasa aman karena tangan Tuhan sendiri yang melin¬dungi tempat itu yaitu Gunung Sion. Tentu kita bisa bayangkan bagaimana orang berebutan untuk bisa diperkenankan masuk dalam perja¬muan demikian.
Betapa senangnya kalau orang berhasil masuk ke dalam perjamuan yang digam¬barkan Yesaya ini. Tetapi kekecualian itu selalu ada. Dalam bacaan kedua kita menden¬garkan satu kisah yang persis berlawanan dengan apa yang diangkat Yesaya. Surat Santo Paulus yang ditujukan kepada jemaat Filipi dalam bacaaan kedua tadi mengggambarkan kesulitan yang dialami Paulus sebagai orang yang dipilih dan diutus Allah untuk mewarta¬kan kebenaran tentang Kristus. Paulus menga¬lami kekurangan setelah sebelumnya ia menga¬lami kelimpahan. Keluhan Paulus sekaligus meminta bantuan pada jemaatnya. Meski Paaulus muncul yang nyata dalam kalimatnya yang berbunyi: Dalam segala hal dan dalam segala perkara dan kesulitan akan kutanggung dalam Dia, yang telah memberikan kekuatan kepadaku.
Ketergantungan Paulus sepenuhnya pada Allah sungguh luar biasa. Ia yakin sepe¬nuhnya bahwa Allah sungguh luar biasa. Ia yakin sepenuhnya bahwa Allah akan memenuhi segala keperluannya dalam kelimpahan. Kebi¬jaksanaan yang terungkap lewat perkataan Paulus lahir dari rasa solidaritasnya pada pengalaman Kristus yang sedang diwartakannya. Paulus sebenarnya mau menegaskan bahwa maka¬nan dan minuman itu telah disediakan Allah bagi mereka yang membela kebenaran dan mewartakan kebe naran tentang Allah. Paulus yakin bahwa ia pun akan diperkenankan menik¬mati perjamuan akbar sebagaimana dilukiskan Yesaya dalam bacaan pertama tadi. Iman dan harapan Paulus sudah menjadi jaminan bagi semua yang diharapkannya.
Selanjutnya, Santo Matius lewat penggalan Injil tadi mengisahkan perihal penyelenggaraan sebuah pesta perkawinan yang dilakukan sang raja. Pesta yang digambarkan Matius mirip pula dengan apa yang diangkat Yesaya tadi. Kedua perjamuan itu memiliki kesamaan antara lain: sama sama terbuka untuk semua orang; menu yang disiapkan juga pasti enak karena ini dibuat seorang raja. Namun, ada perbedaan yang mendasar antara pesta akbar yang diangkat Yesaya dan perjamuan sang Raja yang diangkat Yesus dalam Injil tadi. Perbedaan itu terjadi berkaitan dengan kese¬luruhan situasi dan suasana yang meliputi pesta itu.
Dalam kisah Yesaya pesta itu tidak terlalu banyak mengalami ke sulitan tetapi dalam Injil justru terjadi kesulitan. Kesuli¬tannya adalah ketidakhadiran mereka mereka yang telah diundang. Situasi itu mencemaskan si tuan pesta atau sang raja. Semua makanan dan minuman telah tersedia tetapi tidak ada orang yang mau menghabiskan semuanya itu. Si tuan pesta coba dengan cara lain yaitu dengan undangan lisan dengan mengutus para hamban¬ya. Undangan lisan ini pun ditepis oleh orang yang harus sibuk dengan ladangnya, ditepis oleh orang yang lagi sibuk dengan bisnisnya. Lebih dari itu mereka yang diundang untuk makan itu malah menangkap para hamba itu dan membunuh mereka. Dan tentu saja hal itu menyulut murka dan raja.
Raja yang lagi kecewa karena undangannya tidak diindahkan kini harus berhadapan dengan masalah kematian para hambanya. Dan mereka yang membunuh hamba hamba itu dibinasakan dengan kota mereka yang dihancurkan dan dibakar habis habisan. Dan langkah yang terakhir masih ditempun sang Raja itu dengan sekali lagi mengutus para hambanya untuk berlaku sebagai Polantas di persimpangan jalan yang mencegat sekaligus mengajak semua yang lewat untuk segera datang menikmati perjamuan bersama sang Raja. Tern¬yata cara ini paling tepat karena dalam waktu singkat banyak orang memenuhi ruangan pesta.
Pada saat itu tidak terduga terjaring pula seorang yang rupanya lapar dan sempat mempir ke ruang pesta. Kehadirannya dilihat meng¬ganggu situasi pesta karena ia tidak mengenakan pakaian pantas untuk berpesta. Nasib malang menimpa orang itu, karena ia terpaksa harus diikat dan dibuang ke tempat paling gelap. Orang ini dikatakan tidak terpilih dalam proses panggilan. Memang banyak yang dipang¬gil dari persimpangan jalan namun cuma sedi¬kit yang dipilih.
Kisah Injil yang ditampilkan tadi itu memang cukup sulit untuk dipahami. Kita sulit mema¬hami bahwa orang yang semua dipanggil mau tidak mau harus diusir. Tetapi jika kita melihat apa yang menjadi sasaran penulis Injil ini maka kita bisa mengerti mengapa yang tidak berpakaian pesta diusir dan dibuang. Dan kisah Injil ini jelas menggambarkan tentang perjamuan kerajaan Allah itu bersifat terbuka untuk semua orang dari segala bangsa. Semua diundang.
Namun, untuk masuk dan tidak itu sangat bergantung pada pertimbangan pribadi orang. Tak ada unsur paksaan dan kepada manusia bebas memberikan alasan untuk menolak undangan Allah. Undangan Allah yang bercorak universal dan terbuka itu tidak juga berarti bahwa orang bisa masuk tanpa memperhatikan tuntutan dasar yang harus dipatuhi. Orang yang diusir dari ruangan pesta tadi adalah seorang pribadi yang tidak mampu memenuhi tuntutan dasar bagi kelayakan untuk masuk pesta. Tuntutan minimal tidak ia patuhi apalagi tuntutan yang lainnya.
Lalu akhirnya kita perlu bertanya tentang aktualitas dan relevansi ketiga bacaan hari ini dengan kehidupan kita. Untuk menjawabi pertanyaan itu maka kita perlu menyadari dua hal pokok ini yaitu : Pertama undangan Allah dan tanggapan manusia; kedua apa yang ditun¬tut untuk dipenuhi manusia? Undangan Allah untuk manusia itu setiap saat. Perjamuannya terbuka terus. Tinggal saja tanggapan manu¬sia. Apakah manusia berusahan menjauhkan ddiri dari pelbagai alasan hanya demi diri sendiri atau tidak. Dan kalu kita sudah merelakan waktu untuk memberikan tanggapan maka langkah berikutnya adalah apa syarat yang harus ditaati? Masuk tanpa aturan itu jelas mencelakakan diri kita.
Orang yang mau masuk itu harus berpakaian pesta artinya orang memenuhi kriteria kelayakan. Dan seba¬gai orang beriman kita hendaknya berpakaian¬kan kebajikan iman kita. Perbu atan baik yang kita tunjukkan adalah pakaian yang melayakkan kita masuk dalam pesta Allah. Kita bisa berdandan de ngan pakaian pesta untuk dapat masuk ruangan pesta abadi dalam dan melalui bidang tugas pelayanan kita. Semua kita sebagai orang beriman berkemampuan untuk mendandani diri kita dengan segala yang pantas untuk Allah.
Singkatnya, apa pun kita dan bagaimana pun kita, kita harus mampu tampil dengan pakaian pesta sebagai orang beriman. Kita sebagai orang tua, dikatakan berpakaian pesta jika kita sungguh memperha¬tikan kebutuhan hidup keluarga dan anak anak kita. Kita sebagai pendidik akan berpakaian pesta jika kita mampu membagikan ilmu kita kepada pada peserta didik kita. Kita sebagai perawat juga dapat berpakaian pesta dengan segala bentuk pelayanan kita yang penuh pengorbanan dan ketulusan kepada mereka yang sakit dan menderita.
Kita sebagai remaja dikatakan berpakaian pesta jika kita sungguh patuh pada tata tertib pergaulan yang layak sebagai orang beriman, kita sebagai biarawan/wati dikatakan berpakaian pesta jika kita setia pada tugas dan panggilan kita, dan akhirnya kita sebagai orang beriman dikatakan berpakaian pesta hanya jika kita hidup berda¬sarkan iman, pengharapan dan kasih akan Tuhan dari hari ke hari yang sampai saat ini masih memanggil kita untuk masuk dalam perja¬muannya. Semoga kita masuk sebagai orang yang berpakaian pantas karena iman pengharapan dan kasih.. SEMOGA
Yes.25,6 10a Fil.4,12 14,19 20 Mat.22,1 14
Buka
Allah dari semula sampai kekal tetap memang¬gil dan mengundang manusia untuk menikmati kebahagiaan kekal bersama Nya. Suara-Nya terus menggema mengundang semua manusia. Reaksi dan tanggapan manusia sendiri yang menentukan apakah ia layak diterima atau tidak. Undangan Allah memang terbuka untuk semua manusia namun untuk menjawabi panggilan itu manusia dituntut untuk memenuhi syarat yang minimal berupa iman akan Allah. Segala perbuatan baik yang digelar manusia dalam kehidupannya untuk Tuhan dan sesama merupakan pakaian pesta yang memungkinkan ia layak masuk perjamuan bersama Tuhan.
Pelbagai bidang tugas dan pelayanan manusia itulah tempat yang tepat baginya mendandani diri dengan pakaian yang pantas. Marilah kita bertanya diri kita apa¬kah kita sungguh menjadikan tugas pelayanan kita sebagai kesempatan kita menyiapkan diri masuk perjamuan kekal bersama Tuhan? Kita hening sejenak menyadari segala kelemahan dan dosa kita biar kita dilayakkan menerima Tuhan dalam perja¬muan keselamatan ini....
Renungan
Saya yakin dan percaya bahwa hampir semua kita yang hadir dalam perayaan hari ini, pernah menghadiri salah satu pesta entah itu pesta nikah atau pesta apa saja. Kalau kita mencoba mencermati setiap pesta yang kita ikuti dan saksikan maka kita akan sampai pada penilaian bahwa menyelenggara¬kan pesta itu bernyata tidak mudah. Setiap pesta yang besar harus ada panitia dan kepengurusan yang lengkap dengan semua seksinya. Setiap perencanaan pesta sejak awal kepanitiaannya akan bertekad agar pestanya sukses dan memuaskan. Karena itu, strategi juga perlu diterapkan demi keberhasilan pesta itu.
Penerapan pelbagai cara dan strategi, menjadikan pesta itu sebagai suatu seni tersendiri. Dan jika kita berbicara soal pesta maka perkara makan minum mau tidak mau harus mendapat perhatiaan karena biasanya keberhasilan sebuah pesta ditentukan dan diukur dengan berapa banyak jenis menu maka¬nan, hidangan serta jenis minuman yang disu-guhkan kepada para undangan. Kepuasan para undangan akan makanan dan minuman itulah timbangan yang menentukan apakah pesta itu berhasil atau tidak. Jika sampai terjadi bahwa ada sebagian kecil orang tidak mendapat makanan dan minuman maka pesta itu akan dinilai kurang berhasil. Lebih bagus lagi jika sebuah pesta dengan makanan minum yang cukup ditambah lagi dengan suguhan acara yang menarik dan memikat. Orang akan pulang dengan pembicaraan utama tentang bagaimana makanannya enak atau tidak. Hal yang lain tidak dibicarakan dan sengaja dilupakan.
Tak ada satu pesta yang bebas dari kecemasan dan ketakutan akan mengalami kegagalan. Masalah cukup tidak persediaan makanan dan minuman selalu menjadi masalah yang perlu dicemaskan. Hal itu bukan hanya berlaku pada zaman kita dewasa ini. Paling kurang setelah kita mendengarkan apa yang disampai¬kan ketiga bacaan hari ini kita bisa mengenal bahwa hal yang sama juga berlaku pada masa kehidupan para nabi Perjanjian Lama. Penggalan Nubuat Yesaya yang kita dengar dalam bacaan pertama memberikan kita satu gambaran tentang sebuah perjamuan akbar dan sungguh sukses.
Pelukisan Yesaya yang amat menarik dan mengesankan itu membuat kita membayangkan betapa menyenangkan perjamuan itu. Perjamuan akbar yang dikisah¬kan Yesaya itu terbuka untuk umum. Menu masakannnya juga sangat khas. Jika di setiap daerah itu ada makanan khasnya maka dalam perja¬muan yang diangkat Yesaya ada menu yang khas yaitu daging berlemak dan bersum sum. Lokasi perayaan menyenangkan karena dibuat di atas puncak gunung Sion. Minumannya juga cocok untuk suasana gunung berupa anggur paling enak. Wajah wajah yang hadir dalam pesta itu menampakkan kegembiraan yang sempurna. Dalam pesta itu mereka amat merasakan adanya pembe¬basan dan merasa selalu aman. Mereka merasa aman karena tangan Tuhan sendiri yang melin¬dungi tempat itu yaitu Gunung Sion. Tentu kita bisa bayangkan bagaimana orang berebutan untuk bisa diperkenankan masuk dalam perja¬muan demikian.
Betapa senangnya kalau orang berhasil masuk ke dalam perjamuan yang digam¬barkan Yesaya ini. Tetapi kekecualian itu selalu ada. Dalam bacaan kedua kita menden¬garkan satu kisah yang persis berlawanan dengan apa yang diangkat Yesaya. Surat Santo Paulus yang ditujukan kepada jemaat Filipi dalam bacaaan kedua tadi mengggambarkan kesulitan yang dialami Paulus sebagai orang yang dipilih dan diutus Allah untuk mewarta¬kan kebenaran tentang Kristus. Paulus menga¬lami kekurangan setelah sebelumnya ia menga¬lami kelimpahan. Keluhan Paulus sekaligus meminta bantuan pada jemaatnya. Meski Paaulus muncul yang nyata dalam kalimatnya yang berbunyi: Dalam segala hal dan dalam segala perkara dan kesulitan akan kutanggung dalam Dia, yang telah memberikan kekuatan kepadaku.
Ketergantungan Paulus sepenuhnya pada Allah sungguh luar biasa. Ia yakin sepe¬nuhnya bahwa Allah sungguh luar biasa. Ia yakin sepenuhnya bahwa Allah akan memenuhi segala keperluannya dalam kelimpahan. Kebi¬jaksanaan yang terungkap lewat perkataan Paulus lahir dari rasa solidaritasnya pada pengalaman Kristus yang sedang diwartakannya. Paulus sebenarnya mau menegaskan bahwa maka¬nan dan minuman itu telah disediakan Allah bagi mereka yang membela kebenaran dan mewartakan kebe naran tentang Allah. Paulus yakin bahwa ia pun akan diperkenankan menik¬mati perjamuan akbar sebagaimana dilukiskan Yesaya dalam bacaan pertama tadi. Iman dan harapan Paulus sudah menjadi jaminan bagi semua yang diharapkannya.
Selanjutnya, Santo Matius lewat penggalan Injil tadi mengisahkan perihal penyelenggaraan sebuah pesta perkawinan yang dilakukan sang raja. Pesta yang digambarkan Matius mirip pula dengan apa yang diangkat Yesaya tadi. Kedua perjamuan itu memiliki kesamaan antara lain: sama sama terbuka untuk semua orang; menu yang disiapkan juga pasti enak karena ini dibuat seorang raja. Namun, ada perbedaan yang mendasar antara pesta akbar yang diangkat Yesaya dan perjamuan sang Raja yang diangkat Yesus dalam Injil tadi. Perbedaan itu terjadi berkaitan dengan kese¬luruhan situasi dan suasana yang meliputi pesta itu.
Dalam kisah Yesaya pesta itu tidak terlalu banyak mengalami ke sulitan tetapi dalam Injil justru terjadi kesulitan. Kesuli¬tannya adalah ketidakhadiran mereka mereka yang telah diundang. Situasi itu mencemaskan si tuan pesta atau sang raja. Semua makanan dan minuman telah tersedia tetapi tidak ada orang yang mau menghabiskan semuanya itu. Si tuan pesta coba dengan cara lain yaitu dengan undangan lisan dengan mengutus para hamban¬ya. Undangan lisan ini pun ditepis oleh orang yang harus sibuk dengan ladangnya, ditepis oleh orang yang lagi sibuk dengan bisnisnya. Lebih dari itu mereka yang diundang untuk makan itu malah menangkap para hamba itu dan membunuh mereka. Dan tentu saja hal itu menyulut murka dan raja.
Raja yang lagi kecewa karena undangannya tidak diindahkan kini harus berhadapan dengan masalah kematian para hambanya. Dan mereka yang membunuh hamba hamba itu dibinasakan dengan kota mereka yang dihancurkan dan dibakar habis habisan. Dan langkah yang terakhir masih ditempun sang Raja itu dengan sekali lagi mengutus para hambanya untuk berlaku sebagai Polantas di persimpangan jalan yang mencegat sekaligus mengajak semua yang lewat untuk segera datang menikmati perjamuan bersama sang Raja. Tern¬yata cara ini paling tepat karena dalam waktu singkat banyak orang memenuhi ruangan pesta.
Pada saat itu tidak terduga terjaring pula seorang yang rupanya lapar dan sempat mempir ke ruang pesta. Kehadirannya dilihat meng¬ganggu situasi pesta karena ia tidak mengenakan pakaian pantas untuk berpesta. Nasib malang menimpa orang itu, karena ia terpaksa harus diikat dan dibuang ke tempat paling gelap. Orang ini dikatakan tidak terpilih dalam proses panggilan. Memang banyak yang dipang¬gil dari persimpangan jalan namun cuma sedi¬kit yang dipilih.
Kisah Injil yang ditampilkan tadi itu memang cukup sulit untuk dipahami. Kita sulit mema¬hami bahwa orang yang semua dipanggil mau tidak mau harus diusir. Tetapi jika kita melihat apa yang menjadi sasaran penulis Injil ini maka kita bisa mengerti mengapa yang tidak berpakaian pesta diusir dan dibuang. Dan kisah Injil ini jelas menggambarkan tentang perjamuan kerajaan Allah itu bersifat terbuka untuk semua orang dari segala bangsa. Semua diundang.
Namun, untuk masuk dan tidak itu sangat bergantung pada pertimbangan pribadi orang. Tak ada unsur paksaan dan kepada manusia bebas memberikan alasan untuk menolak undangan Allah. Undangan Allah yang bercorak universal dan terbuka itu tidak juga berarti bahwa orang bisa masuk tanpa memperhatikan tuntutan dasar yang harus dipatuhi. Orang yang diusir dari ruangan pesta tadi adalah seorang pribadi yang tidak mampu memenuhi tuntutan dasar bagi kelayakan untuk masuk pesta. Tuntutan minimal tidak ia patuhi apalagi tuntutan yang lainnya.
Lalu akhirnya kita perlu bertanya tentang aktualitas dan relevansi ketiga bacaan hari ini dengan kehidupan kita. Untuk menjawabi pertanyaan itu maka kita perlu menyadari dua hal pokok ini yaitu : Pertama undangan Allah dan tanggapan manusia; kedua apa yang ditun¬tut untuk dipenuhi manusia? Undangan Allah untuk manusia itu setiap saat. Perjamuannya terbuka terus. Tinggal saja tanggapan manu¬sia. Apakah manusia berusahan menjauhkan ddiri dari pelbagai alasan hanya demi diri sendiri atau tidak. Dan kalu kita sudah merelakan waktu untuk memberikan tanggapan maka langkah berikutnya adalah apa syarat yang harus ditaati? Masuk tanpa aturan itu jelas mencelakakan diri kita.
Orang yang mau masuk itu harus berpakaian pesta artinya orang memenuhi kriteria kelayakan. Dan seba¬gai orang beriman kita hendaknya berpakaian¬kan kebajikan iman kita. Perbu atan baik yang kita tunjukkan adalah pakaian yang melayakkan kita masuk dalam pesta Allah. Kita bisa berdandan de ngan pakaian pesta untuk dapat masuk ruangan pesta abadi dalam dan melalui bidang tugas pelayanan kita. Semua kita sebagai orang beriman berkemampuan untuk mendandani diri kita dengan segala yang pantas untuk Allah.
Singkatnya, apa pun kita dan bagaimana pun kita, kita harus mampu tampil dengan pakaian pesta sebagai orang beriman. Kita sebagai orang tua, dikatakan berpakaian pesta jika kita sungguh memperha¬tikan kebutuhan hidup keluarga dan anak anak kita. Kita sebagai pendidik akan berpakaian pesta jika kita mampu membagikan ilmu kita kepada pada peserta didik kita. Kita sebagai perawat juga dapat berpakaian pesta dengan segala bentuk pelayanan kita yang penuh pengorbanan dan ketulusan kepada mereka yang sakit dan menderita.
Kita sebagai remaja dikatakan berpakaian pesta jika kita sungguh patuh pada tata tertib pergaulan yang layak sebagai orang beriman, kita sebagai biarawan/wati dikatakan berpakaian pesta jika kita setia pada tugas dan panggilan kita, dan akhirnya kita sebagai orang beriman dikatakan berpakaian pesta hanya jika kita hidup berda¬sarkan iman, pengharapan dan kasih akan Tuhan dari hari ke hari yang sampai saat ini masih memanggil kita untuk masuk dalam perja¬muannya. Semoga kita masuk sebagai orang yang berpakaian pantas karena iman pengharapan dan kasih.. SEMOGA
MINGGU BIASA KE-25 TAHUN A
Minggu Biasa ke 25 Tahun A/2
Yes.55,6-9; Flp.1,20c-24.27a; Mat.20,1-16a
Renungan:
Menurut cerita orang setan setan juga mengenal pendidikan akademis. Katanya ada juga uni¬versitas negeri swasta yang dipimpin setan setan dan maha¬siswanya juga jelas setan setan. Pada satu kesempatan Rek¬tor Perguruan Tinggi Setan itu memanggil beberapa mahasis¬wanya yang hendak mengadakan KKN. Lokasi KKN mereka adalah dunia. Semua peserta KKN itu dibagi menjadi tiga kelom¬pok. Dan semua mereka dari FKIP dan sasaran KKN-nya mengajar manu¬sia. Tujuan pengajaran adalah berusaha untuk merusak semua manusia. Pembantu Rektor Perguruan Tinggi Setan itu membekali mere¬ka sebelum berangkat dengan pelbagai strategi yang andal untuk bisa mencapai tujuan. Karena itu, ia bertanya kepada setiap kelompok perihal kiat dan strategi mereka itu da¬lam merusakkan kehidupan manusia di bumi. Kelompok perta¬ma menjawab: kami akan berusaha mengajar dan meyakinkan manusia bahwa Allah itu tidak ada. Rektornya menggelengkan kepala karena ia yakin bahwa manusia di dunia sudah ber¬keyakinan kuat bahwa Allah ada. Kelompok kedua menje¬laskan strateginya: Kami akan mengajar dan meyakinkan manusia bahwa neraka itu tidak ada. Rektor kembali mengge¬lengkan kepalanya karena tahu bahwa banyak manusia yakin kepada Allah karena takut masuk neraka. Kelompok keti¬ga menjelaskan strategi mereka katanya: Kami akan meyakin¬kan semua manusia di dunia untuk tidak perlu tergesa gesa dengan segala urusan kehidupan di dunia. Hidup yang pent¬ing dan sebenarnya adalah hidup santai dan bila perlu me¬nunda semua kegiatan biar hidup lebih santai. Mendengar cara kelompok ketiga ini sang Rektor menganggukkan kepala karena ia yakin bahwa kelompok ketiga ini akan berhasil menghancurkan kehidupan manusia di dunia. Mereka lalu diter¬junkan ke dunia untuk menjalankan program KKN. Ternyata ke¬lompok ketiga yang berhasil menghancurkan kehidupan manu¬sia karena orang lebih suka memilih hidup santai dan me¬nunda segala sesuatunya.
Tentu saja kita bisa membayangkan mengapa kelompok ketiga dari mahasiswa setan itu berhasil menghancurkan kehidupan manusia. Alasannya karena memang semangat hidup yang san¬tai dan suka menunda itu paling menyenangkan manusia. Apa yang menyenangkan ternyata tidak semuanya menjamin keselamatan hidup manusia. Malahan mungkin sebaliknya yang terjadi berupa kehancuran. Kalau kita coba membanding¬kan kisah tadi dengan apa yang diangkat Nabi Yesaya dalam bacaan pertama tadi persis terbalik. Nabi Yesaya mendesak agar manusia bertindak secepatnya. Semangat hidup yang santai dan menunda nunda telah menjadi bagian utama kehid¬upan bangsa Israel. Pada saat Tuhan mendatangi Israel mereka tidak mencarinya dan ketika Tuhan mencari mereka, mereka tidak memanggilnya. Sikap ini terjadi karena mereka masih terpaku pada jalan mereka sendiri. Mereka maunya yang enak dan hura-hura dan happy-happy saja. Nabi Yesaya prihatin dan meramalkan ke¬hancuran hidup bangsa Israel itu. Itulah sebabnya dalam bacaan pertama tadi Yesaya menegaskan kepada mereka: Cari¬lah Tuhan selama ia masih bisa ditemui dan berserulah kepadanya selama ia dekat. Itu artinya segera. Itu artinya tidak boleh menunda nunda. Yesaya sekaligus memberikan syarat menemui dan menyerukan nama Tuhan yaitu harus mele¬paskan kebiasaan lama berupa kefasikan dan kejahatan. Orang fasik hendaknya meninggalkan jalannya dan orang ja¬hat harus meninggalkan rancangannya. Yesaya mendesak agar Israel harus setia pada rancangan dan jalan yang ditentu¬kan Allah. Rancangan manusia harus taat di bawah rancan¬gan Allah. Pikiran Allah harus menguasai dan menjiwai pi¬kiran dan jalan manusia.
Melepaskan kebiasaan lama yang terasa mengenakan itu me-mang bukanlah perkara yang mudah. Namun, jika kita melihat pengalaman Paulus dalam bacaan kedua tadi maka jelaslah bagi kita bahwa Paulus telah mengisi hidupnya dengan suatu hal yang paling penting. Paulus tidak mau menunda nunda. Setelah pertobatannya ia menjadikan dirinya sebagai milik Kristus. Baginya hidup itu adalah Kristus dan kematian dilihat sebagai keuntungan. Paulus berjuang agar hidupnya yang sisa yang singkat haruslah hidup yang menghasilkan buah. Pernyataan Paulus tadi muncul karena ia berhadapan dengan jemaat yang berada di Filipi yang dirasuki hidup yang santai. Mereka menerima dan mengimani Kristus tetapi hidup mereka persis bertentangan dengan kehidupan Kristus sendiri. Itulah alasannya mengapa Paulus menulis: hendak¬lah hidupmu itu selalu sepadan dengan Injil Kristus.
Dan gagasan Paulus ini sejalan dengan gagasan Yesus sen¬diri seperti yang kita dengar dalam penggalan Injil tadi. Yesus mengangkat satu perumpamaan yang umumnya orang taf¬sirkan sebagai teks yang berbicara soal keadilan dan sikap iri manusia. Pada kesempatan ini saya coba melihat dan me¬nafsirkan teks ini dari pespektif yang lain. Yesus mengangkat kisah tentang para hamba yang bekerja dalam waktu yang lamanya berbeda. Upahnya sama baik untuk yang bekerja menjelang petang maupun bagi mereka yang bekerja sejak pagi hari.. Kalau menurut pikiran manusia (kita) memang sepatutnya yang bekerja mulai pagi hari itu upahnya harus lebih besar daripada mereka yang bekerja menje¬lang sore. Protes atau sikap bersungut yang muncul dari mereka yang masuk pagi itu memang terdengar wajar saja kalau menurut ukuran manusia. Tetapi, menurut Yesus orang yang bersungut itu dinilai sebagai orang yang tidak tahu diri dan bahkan orang yang coba menggugat kebaikan Allah. Lalu mungkin kita bertanya mengapa upah mereka itu sama saja. Memang Injil tadi secara ekspilisit mengatakan bahwa upah itu memang sudah disepakati sebelumnya. Tetapi saya lebih cendrung melihat sesuatu yang implisit berkai¬tan dengan jangka waktu kerja mereka. Yang ditonjolkan di sana cumalah masalah waktu dan bukannya masalah mutu hasil kerja. Hemat saya Yesus mengukur bukan dari soal lamanya bekerja tetapi bagaimana mutu, kualitas kerja itu. Yang penting bukan berapa lama orang bekerja tetapi bagaimana hasil kerja itu bermutu atau tidak. Allah berpikir dari segi mutu kualitas sementara manusia berpikir dari segi jumlah jam atau kuantitas waktu. Jelas tidak akan ada titik temu. Jika kita berpikir praktis saja, maka kemungkinan besar mereka yang mulai kerja sejak pagi hari barangkali lebih santai, dan mau menunda nunda waktu sebab jika tidak mereka tidak akan bisa bertahan sampai sore. Lalu mereka yang masuk pada sore mereka tidak mau menunda dan bersikap santai karena memang waktunya sudah terlalu singkat. Saya pikir ini pun dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam pemberian upah meski sebelumnya sudah disepakati. Pikiran Allah memang lain dari pikiran kita manusia.
Zaman kita sekarang penuh dengan tuntu¬tan akan mutu atau kualitas hidup. Di mana mana ukuran mutu menjadi prioritas dalam pelbagai dimensi kehidupan. Kehidupan yang bermutu adalah kehidupan yang selalu diisi dengan hal yang sesuai dengan panggilan kita. Bukan berapa lama kita berbuat sesuatu yang menjadi ukuran teta¬pi bagaimana kita melakukan sesuatu itulah yang paling penting dalam menentukan kualitas kehidupan kita. Untuk kita, rupanya sulit untuk diyakinkan bahwa Allah itu tidak Ada. Setan akan gagal jika mau mengajak kita untuk menga¬takan bahwa Allah tidak Ada. Untuk kita juga sulit diyakin¬kan kalau dikatakan bahwa neraka itu tak ada karena segala perbuatan baik kita diarahkan agar terhindar dari neraka. Namun setan yang KKN ke dunia kita sekarang ini adalah setan mahasiswa yang mau meyakinkan kita bahwa hidup ini tidak perlu dijalankan dengan tergesa gesa. Kita akan mudah diyakinkan kalau kita diajak untuk hidup lebih santai dan bisa menunda nunda.
Kalau kita sudah terpengaruh dengan bujukan setan dari kelompok ketiga dalam cerita tadi maka benih kehan¬curan akan mulai muncul dalam kehidupan kita. Sikap hidup yang santai dan suka menunda nunda bakal merusak keharmonisan dan akan merusak keseluruhan sistem kehidu¬pan. Semoga kita terhindar dari bujukan setan yang meng¬goda kita untuk menunda segala sesuatunya. Kiranya firman Tuhan hari ini sungguh membuat hidup kita semakin berisi dan bermakna karena selalu diisi dengan segala hal yang bermutu yang sesuai dengan kehendak Allah. Semoga
Yes.55,6-9; Flp.1,20c-24.27a; Mat.20,1-16a
Renungan:
Menurut cerita orang setan setan juga mengenal pendidikan akademis. Katanya ada juga uni¬versitas negeri swasta yang dipimpin setan setan dan maha¬siswanya juga jelas setan setan. Pada satu kesempatan Rek¬tor Perguruan Tinggi Setan itu memanggil beberapa mahasis¬wanya yang hendak mengadakan KKN. Lokasi KKN mereka adalah dunia. Semua peserta KKN itu dibagi menjadi tiga kelom¬pok. Dan semua mereka dari FKIP dan sasaran KKN-nya mengajar manu¬sia. Tujuan pengajaran adalah berusaha untuk merusak semua manusia. Pembantu Rektor Perguruan Tinggi Setan itu membekali mere¬ka sebelum berangkat dengan pelbagai strategi yang andal untuk bisa mencapai tujuan. Karena itu, ia bertanya kepada setiap kelompok perihal kiat dan strategi mereka itu da¬lam merusakkan kehidupan manusia di bumi. Kelompok perta¬ma menjawab: kami akan berusaha mengajar dan meyakinkan manusia bahwa Allah itu tidak ada. Rektornya menggelengkan kepala karena ia yakin bahwa manusia di dunia sudah ber¬keyakinan kuat bahwa Allah ada. Kelompok kedua menje¬laskan strateginya: Kami akan mengajar dan meyakinkan manusia bahwa neraka itu tidak ada. Rektor kembali mengge¬lengkan kepalanya karena tahu bahwa banyak manusia yakin kepada Allah karena takut masuk neraka. Kelompok keti¬ga menjelaskan strategi mereka katanya: Kami akan meyakin¬kan semua manusia di dunia untuk tidak perlu tergesa gesa dengan segala urusan kehidupan di dunia. Hidup yang pent¬ing dan sebenarnya adalah hidup santai dan bila perlu me¬nunda semua kegiatan biar hidup lebih santai. Mendengar cara kelompok ketiga ini sang Rektor menganggukkan kepala karena ia yakin bahwa kelompok ketiga ini akan berhasil menghancurkan kehidupan manusia di dunia. Mereka lalu diter¬junkan ke dunia untuk menjalankan program KKN. Ternyata ke¬lompok ketiga yang berhasil menghancurkan kehidupan manu¬sia karena orang lebih suka memilih hidup santai dan me¬nunda segala sesuatunya.
Tentu saja kita bisa membayangkan mengapa kelompok ketiga dari mahasiswa setan itu berhasil menghancurkan kehidupan manusia. Alasannya karena memang semangat hidup yang san¬tai dan suka menunda itu paling menyenangkan manusia. Apa yang menyenangkan ternyata tidak semuanya menjamin keselamatan hidup manusia. Malahan mungkin sebaliknya yang terjadi berupa kehancuran. Kalau kita coba membanding¬kan kisah tadi dengan apa yang diangkat Nabi Yesaya dalam bacaan pertama tadi persis terbalik. Nabi Yesaya mendesak agar manusia bertindak secepatnya. Semangat hidup yang santai dan menunda nunda telah menjadi bagian utama kehid¬upan bangsa Israel. Pada saat Tuhan mendatangi Israel mereka tidak mencarinya dan ketika Tuhan mencari mereka, mereka tidak memanggilnya. Sikap ini terjadi karena mereka masih terpaku pada jalan mereka sendiri. Mereka maunya yang enak dan hura-hura dan happy-happy saja. Nabi Yesaya prihatin dan meramalkan ke¬hancuran hidup bangsa Israel itu. Itulah sebabnya dalam bacaan pertama tadi Yesaya menegaskan kepada mereka: Cari¬lah Tuhan selama ia masih bisa ditemui dan berserulah kepadanya selama ia dekat. Itu artinya segera. Itu artinya tidak boleh menunda nunda. Yesaya sekaligus memberikan syarat menemui dan menyerukan nama Tuhan yaitu harus mele¬paskan kebiasaan lama berupa kefasikan dan kejahatan. Orang fasik hendaknya meninggalkan jalannya dan orang ja¬hat harus meninggalkan rancangannya. Yesaya mendesak agar Israel harus setia pada rancangan dan jalan yang ditentu¬kan Allah. Rancangan manusia harus taat di bawah rancan¬gan Allah. Pikiran Allah harus menguasai dan menjiwai pi¬kiran dan jalan manusia.
Melepaskan kebiasaan lama yang terasa mengenakan itu me-mang bukanlah perkara yang mudah. Namun, jika kita melihat pengalaman Paulus dalam bacaan kedua tadi maka jelaslah bagi kita bahwa Paulus telah mengisi hidupnya dengan suatu hal yang paling penting. Paulus tidak mau menunda nunda. Setelah pertobatannya ia menjadikan dirinya sebagai milik Kristus. Baginya hidup itu adalah Kristus dan kematian dilihat sebagai keuntungan. Paulus berjuang agar hidupnya yang sisa yang singkat haruslah hidup yang menghasilkan buah. Pernyataan Paulus tadi muncul karena ia berhadapan dengan jemaat yang berada di Filipi yang dirasuki hidup yang santai. Mereka menerima dan mengimani Kristus tetapi hidup mereka persis bertentangan dengan kehidupan Kristus sendiri. Itulah alasannya mengapa Paulus menulis: hendak¬lah hidupmu itu selalu sepadan dengan Injil Kristus.
Dan gagasan Paulus ini sejalan dengan gagasan Yesus sen¬diri seperti yang kita dengar dalam penggalan Injil tadi. Yesus mengangkat satu perumpamaan yang umumnya orang taf¬sirkan sebagai teks yang berbicara soal keadilan dan sikap iri manusia. Pada kesempatan ini saya coba melihat dan me¬nafsirkan teks ini dari pespektif yang lain. Yesus mengangkat kisah tentang para hamba yang bekerja dalam waktu yang lamanya berbeda. Upahnya sama baik untuk yang bekerja menjelang petang maupun bagi mereka yang bekerja sejak pagi hari.. Kalau menurut pikiran manusia (kita) memang sepatutnya yang bekerja mulai pagi hari itu upahnya harus lebih besar daripada mereka yang bekerja menje¬lang sore. Protes atau sikap bersungut yang muncul dari mereka yang masuk pagi itu memang terdengar wajar saja kalau menurut ukuran manusia. Tetapi, menurut Yesus orang yang bersungut itu dinilai sebagai orang yang tidak tahu diri dan bahkan orang yang coba menggugat kebaikan Allah. Lalu mungkin kita bertanya mengapa upah mereka itu sama saja. Memang Injil tadi secara ekspilisit mengatakan bahwa upah itu memang sudah disepakati sebelumnya. Tetapi saya lebih cendrung melihat sesuatu yang implisit berkai¬tan dengan jangka waktu kerja mereka. Yang ditonjolkan di sana cumalah masalah waktu dan bukannya masalah mutu hasil kerja. Hemat saya Yesus mengukur bukan dari soal lamanya bekerja tetapi bagaimana mutu, kualitas kerja itu. Yang penting bukan berapa lama orang bekerja tetapi bagaimana hasil kerja itu bermutu atau tidak. Allah berpikir dari segi mutu kualitas sementara manusia berpikir dari segi jumlah jam atau kuantitas waktu. Jelas tidak akan ada titik temu. Jika kita berpikir praktis saja, maka kemungkinan besar mereka yang mulai kerja sejak pagi hari barangkali lebih santai, dan mau menunda nunda waktu sebab jika tidak mereka tidak akan bisa bertahan sampai sore. Lalu mereka yang masuk pada sore mereka tidak mau menunda dan bersikap santai karena memang waktunya sudah terlalu singkat. Saya pikir ini pun dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam pemberian upah meski sebelumnya sudah disepakati. Pikiran Allah memang lain dari pikiran kita manusia.
Zaman kita sekarang penuh dengan tuntu¬tan akan mutu atau kualitas hidup. Di mana mana ukuran mutu menjadi prioritas dalam pelbagai dimensi kehidupan. Kehidupan yang bermutu adalah kehidupan yang selalu diisi dengan hal yang sesuai dengan panggilan kita. Bukan berapa lama kita berbuat sesuatu yang menjadi ukuran teta¬pi bagaimana kita melakukan sesuatu itulah yang paling penting dalam menentukan kualitas kehidupan kita. Untuk kita, rupanya sulit untuk diyakinkan bahwa Allah itu tidak Ada. Setan akan gagal jika mau mengajak kita untuk menga¬takan bahwa Allah tidak Ada. Untuk kita juga sulit diyakin¬kan kalau dikatakan bahwa neraka itu tak ada karena segala perbuatan baik kita diarahkan agar terhindar dari neraka. Namun setan yang KKN ke dunia kita sekarang ini adalah setan mahasiswa yang mau meyakinkan kita bahwa hidup ini tidak perlu dijalankan dengan tergesa gesa. Kita akan mudah diyakinkan kalau kita diajak untuk hidup lebih santai dan bisa menunda nunda.
Kalau kita sudah terpengaruh dengan bujukan setan dari kelompok ketiga dalam cerita tadi maka benih kehan¬curan akan mulai muncul dalam kehidupan kita. Sikap hidup yang santai dan suka menunda nunda bakal merusak keharmonisan dan akan merusak keseluruhan sistem kehidu¬pan. Semoga kita terhindar dari bujukan setan yang meng¬goda kita untuk menunda segala sesuatunya. Kiranya firman Tuhan hari ini sungguh membuat hidup kita semakin berisi dan bermakna karena selalu diisi dengan segala hal yang bermutu yang sesuai dengan kehendak Allah. Semoga
MINGGU BIASA KE-22 TAHUN A
Minggu Biasa ke-22 Thn.A1 29 Agustus 1999
Yer.20,7-9 Rom.12,1-2 Mat.16,21-27
Paroki st.Yoh Rasul Pringwulung Yogyakarta
Buka
Salah satu usaha dan kebiasaan manusia yang tidak mungkin dilepaskan selama ia hidup adalah menemukan cara dan teknik tertentu untuk menggampangkan atau memudahkan terlakasanakannya suatu aktivitas. Kebiasaan inilah yang membuahkan pelbagai kemajuan dan teknologi. Teknologi memungkinkan bola bumi seakan ada dalam genggaman manusia. Saat ini hampir tidak ada lagi bagian kegiatan yang bebas dari sentuhan jasa dan pengaruh teknologi. Satu sisi teknologi membanggkan. Di sisi lain teknologi memanjakan manusia. Hidup tidak lagi dilihat sebagai perjuangan yang membutuhkan tetesan keringat. Semuanya dan segalanya terformat dalam bentuk yang serba instan. Banyak nilai melebur di balik kemudahan karena teknologi. Kita sebagai orang percaya ditantang lewat bacaan-bacan sebentar yang melihat perjuangan hidup sebagai salib yang harus kita terima. Kita akui kelemahan dan dosa kita. Mungkin kita menurunkan mutu salib hidup kita ketika kita terjebak dalam kemewahan dan hidup yang serba mudah dan gampang…
Renungan
Kimi ingin mengajak kita semua untuk merenungkan dan mencari pesan-pesan bacaan kitab suci tadi untuk kehidupan kita dengan bantuan cerita kecil berikut ini: Sekelompok pemuda yang tergabung dalam tim pencinta alam ingin membuktikan kemampuan mereka menaklukkan puncak gunung tertinggi di negara mereka. Tim pencinta alam ini bertekad hendak mengibarkan tiga bendera yaitu (1) bendera kelompok pemenang dalam sebuah jajak pendapat tentang satu kawasan yang bersengketa, (2) bendera partai pemenang pemilu (3) bendera kebangsaan mereka. Ekspedisi itu di beri nama ekspedisi Gado-gado. Seperti biasa sebelum berangkat ekspedisi Gado-gado ini harus menyiapkan segala perlengkapan. Salah satu perlengkapan yang harus disipakan adalah perelengkapan untuk membangun kemah atau tenda. Seksi perlengkapan sudah menyiapkan semuanya. Setiap anggota diminta membawa salah satu perlengkapan tenda itu. Terjadi perebutan di antara mereka. Yang direbut pertama adalah spons untuk tidur. Yang lain langsung merebut gulungan tali. Yang lain lagi mengambil potongan besi yang kecil dan pendek. Yang tidak dipilih adalah sebuah besi yang paling besar dan panjang yang akan digunakan sebagai tiang penyangga utama sebuah tenda. Karena tidak ada orang yang membawa besi besar dan panjang itu maka Kristo pemimpin ekspedisi terpaksa membawanya. Dalam perjalanan menuju puncak ekspedisi Gado-gado ini harus menyeberang sungai yang curam dan arusnya deras. Mereka yang membawa spons coba menyeberang. Mereka hampir tenggelam dan diseret arus air karena beratnya spons terendam air. Yang membawa tali coba menggunakana tali tetapi mereka juga basa ketika tali mereka putus. Demikian juga yang memilih membawa perlengkapan lainnya. Kristo yang membawa besi besar dan panjang dengan mudahnya menyeberang karena besi itu dijadikan jembantan baginya. Melihat pengalaman itu Simon dengan sukarela membantu Kristo membawa besi berat itu berganatian. Perjalanan ekspedisi ini makin mendekati puncak. Medannya semakin berat dan menantang. Mereka yang lain sudah lelah dan semuanya menggigil kedinginan. Mereka kehabisan tenaga. Tak ada harapan bagi mereka untuk sampai ke puncak. Kristo dan Simon sekali lagi menggunakan tiang besi itu sebagai tangga sehingga mereka berhasil mengibarkan bendera di puncak gunung.
Satu ungkapan klasik yang biasa kita dengar mengatakan bahwa hidup ini adalah perjuangan. Tentu itu benar karena hidup manusia dirajut dalam segala suka duka yang dihadapi. Hidup sebagai suatu perjuangan baru berarti ketika hidup itu diarahkan, disasarkan ke suatu tujuan yang pas dan pasti. Hidup manusia adalah suatu perjalanan menuju puncak. Hidup kita yang seumpama rombongan ekspedisi ke puncak mengibarkan panji kemenangan diukur, diuji, diaduk dan ditantang dalam pelbagai lembah, jurang dan derasnya arus kehidupan. Manusia yang bertahan dalam ujian, adukan dunia kehidupan mengandaikan adanya kekuatan ekstra dalam dirinya. Kekuatan ekstra itulah yang memungkinkan seseorang dapat melihat kemungkinan alternatif untuk memilihnya dengan pasti. Segala kemungkinan ditawarkan kepada manusia untuk memilihnya dengan bebas. Pilihan yang dibuat manusia menentukan pula konsekuensi yang akan diterima dan dialaminya dalam perjuangan hidupnya.
Bacaan-bacaan yang diperdengarkan untuk kita hari ini menampilkan figur-figur yang telah menentukan pilihan yang pasti mengarahkan mereka ke puncak dan tujuan hidup mereka. Nabi Yeremia dalam bacaan pertama muncul sebagai seorang yang harus menerima konsekuensi pilihannya sebagai seorang nabi. Ketika dihadapkan dengan situasi kehidupan masyarakat penuh kelaliman, kekerasan, penganiayaan dan kejahatan lainnya, Yeremia merasa diri telah diperdaya oleh Allah. Yeremia yang menyuarakan kebenaran dan kejujuran dalam hidup telah menjadi sasaran ejekan dan cemoohan banyak orang. Yeremia sebenarnya mau melepaskan beban kenabiannya, namun Yeremia sadar bahwa ejekan dan cemoohan yang diterimanya itu menjadi jembatan yang menyeberangkan dia ke tempat yang memerdekakan. Ia merasa dirinya seakan-akan terbakar kalau ia tidak menyurakan kehendak Allah dalam masyarakat yang dilanda pelbagai krisis dan skandal. Beban yang paling berat bagi Yeremia karena harus membongkar dan memutuskan jaringan kejahatan dan skandal yang menjadi mode pemimpin masa itu. Kalau boleh dibandingkan peran Yeremia saat itu sama seperti peran ICW yang membongkar skandal demi skandal yang menjadi mode sekelompok pejabat dan elite politik di negara kita saat ini. Kebenaran itulah yang membakar semangat Yeremia.
Pengalaman Yeremia dialami pula oleh Paulus ketika berhadapan dengan masyarakat kota Roma. Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan agar masyarakat kota Roma segera melalukan reformasi total terhadap pola berpikir yang memungkinkan mereka membuat pembedaan-pembedaan sebelum membuat pilihan dalam hidup. Reformasi atau pembaharuan budi dinilai Paulus menjadi sesuatu yang sangat mendesak karena jika tidak maka bahaya gaya hidup materialistik akan segera menggerogoti mereka. Paulus telah menangkap gejala jemaat Roma yang mengukur relasinya dengan Allah dengan barang-barang. Dalam bahasa Santo Paulus, Jemaat Roma telah hidup serupa dengan dunia. Hidup yang dikuasai kemauan dan naluri bagi Paulus akan membawa manusia pada situasi terbelenggu oleh segala kemauann itu. Hidup yang dikuasi dengan kecenderungan semata bagi Paulus membuat manusia kehilanagan arah atau mengalami disorientasi dalam hidupnya. Disorientasi dalam hidup akan membuahkan kejahatan. Untuk itu, diperlukan pembaharuan, rehabilitasi terhadap cara pikir yang cenderung sempit dan picik. Manusia dituntut untuk melakukan reorientasi dalam hidupnya.
Hidup manusia sejak jatuh dalam dosa telah mengalami disorentasi. Segala penyelewengan dan penyimpangan yang dilakukan manusia adalah bentuk disorientasi dalam hidupnya. Yesus dengan misi-Nya datang meluruskan arah hidup manusia. Yesus melakukan pembaharuan, reformasi dan reorientasi bagi kehidupan manusia dengan cara dan gayanya yang spektakular dan mengagumkan. Yesus kembali mengarahkan dan membawa manusia ke arah yang benar menuju Allah. Reformasi dan Reorientasi yang dilakukan Yesus bukan dengan membuat pernyataan politik yang membingungan, bukan dengan pidato politik yang memukau, Ia tidak membentuk kelompok poros tengah, tidak perlu membuat kesepakatan politik. Contoh hidup-Nya sudah menjadi rumusan baku untuk sebuah reformasi kehidupan manusia. Derita dan Salib itu adalah kata reformasi yang paling tepat dalam konteks Yesus. Salib adalah bahasa dan simbol reformasi. Salib adalah bahasa dan simbol reorientasi hidup manusia untuk kembali ke jalan yang benar. Salib adalah panji kemenangan yang akan dibawa setiap orang yang percaya menuju puncak kemerdekaan dalam Allah.
Kita semua, Anda dan saya telah menerima bahasa reformasi dan reorinetasi hidup itu ketika kita ditandai dengan salib. Hari ini Yesus mengingatkan kita semua bahwa kita telah diselamatkan karena derita dan salib-Nya. Kita dituntut untuk berpartisipasi dalam salib dan pengalaman-Nya. Hidup kita tidak bebas dari salib. Lingkungan kerja, lingkungan hidup, jabatan, status kita selalu menawarkan pelbagai model salib. Di kebun, di kantor, di sekolah, di kampus, di jalan, di dapur, di rumah, dalam keluarga kita bisa berhadapan dengan salib-salib kehidupan. Setiap kita wajib hukumnya untuk mengambil dan senang membawa salib itu.
Kita semua adalah anggota tim ekspedisi “Gado-gado” yang hendak mengibarkan kemenangan dan kemerdekaan di atas puncak. Ada banyak perlengkapan untuk membangun tenda kita di puncak kemangan itu. Masalahnya: beranikah kita memilih yang terberat dan terbesar seperti pilihan Kristo dalam cerita awal tadi? Jangan-jangan kita hanya memilih yang halus dan ringan seperti spons yang akhirnya memberatkan kita? Tetapi yang pasti Yesus berbisik untuk kita pribadi: yang hendak mengikuti Aku harus menyangkal diri dan memikul salibya. Amin.
Yer.20,7-9 Rom.12,1-2 Mat.16,21-27
Paroki st.Yoh Rasul Pringwulung Yogyakarta
Buka
Salah satu usaha dan kebiasaan manusia yang tidak mungkin dilepaskan selama ia hidup adalah menemukan cara dan teknik tertentu untuk menggampangkan atau memudahkan terlakasanakannya suatu aktivitas. Kebiasaan inilah yang membuahkan pelbagai kemajuan dan teknologi. Teknologi memungkinkan bola bumi seakan ada dalam genggaman manusia. Saat ini hampir tidak ada lagi bagian kegiatan yang bebas dari sentuhan jasa dan pengaruh teknologi. Satu sisi teknologi membanggkan. Di sisi lain teknologi memanjakan manusia. Hidup tidak lagi dilihat sebagai perjuangan yang membutuhkan tetesan keringat. Semuanya dan segalanya terformat dalam bentuk yang serba instan. Banyak nilai melebur di balik kemudahan karena teknologi. Kita sebagai orang percaya ditantang lewat bacaan-bacan sebentar yang melihat perjuangan hidup sebagai salib yang harus kita terima. Kita akui kelemahan dan dosa kita. Mungkin kita menurunkan mutu salib hidup kita ketika kita terjebak dalam kemewahan dan hidup yang serba mudah dan gampang…
Renungan
Kimi ingin mengajak kita semua untuk merenungkan dan mencari pesan-pesan bacaan kitab suci tadi untuk kehidupan kita dengan bantuan cerita kecil berikut ini: Sekelompok pemuda yang tergabung dalam tim pencinta alam ingin membuktikan kemampuan mereka menaklukkan puncak gunung tertinggi di negara mereka. Tim pencinta alam ini bertekad hendak mengibarkan tiga bendera yaitu (1) bendera kelompok pemenang dalam sebuah jajak pendapat tentang satu kawasan yang bersengketa, (2) bendera partai pemenang pemilu (3) bendera kebangsaan mereka. Ekspedisi itu di beri nama ekspedisi Gado-gado. Seperti biasa sebelum berangkat ekspedisi Gado-gado ini harus menyiapkan segala perlengkapan. Salah satu perlengkapan yang harus disipakan adalah perelengkapan untuk membangun kemah atau tenda. Seksi perlengkapan sudah menyiapkan semuanya. Setiap anggota diminta membawa salah satu perlengkapan tenda itu. Terjadi perebutan di antara mereka. Yang direbut pertama adalah spons untuk tidur. Yang lain langsung merebut gulungan tali. Yang lain lagi mengambil potongan besi yang kecil dan pendek. Yang tidak dipilih adalah sebuah besi yang paling besar dan panjang yang akan digunakan sebagai tiang penyangga utama sebuah tenda. Karena tidak ada orang yang membawa besi besar dan panjang itu maka Kristo pemimpin ekspedisi terpaksa membawanya. Dalam perjalanan menuju puncak ekspedisi Gado-gado ini harus menyeberang sungai yang curam dan arusnya deras. Mereka yang membawa spons coba menyeberang. Mereka hampir tenggelam dan diseret arus air karena beratnya spons terendam air. Yang membawa tali coba menggunakana tali tetapi mereka juga basa ketika tali mereka putus. Demikian juga yang memilih membawa perlengkapan lainnya. Kristo yang membawa besi besar dan panjang dengan mudahnya menyeberang karena besi itu dijadikan jembantan baginya. Melihat pengalaman itu Simon dengan sukarela membantu Kristo membawa besi berat itu berganatian. Perjalanan ekspedisi ini makin mendekati puncak. Medannya semakin berat dan menantang. Mereka yang lain sudah lelah dan semuanya menggigil kedinginan. Mereka kehabisan tenaga. Tak ada harapan bagi mereka untuk sampai ke puncak. Kristo dan Simon sekali lagi menggunakan tiang besi itu sebagai tangga sehingga mereka berhasil mengibarkan bendera di puncak gunung.
Satu ungkapan klasik yang biasa kita dengar mengatakan bahwa hidup ini adalah perjuangan. Tentu itu benar karena hidup manusia dirajut dalam segala suka duka yang dihadapi. Hidup sebagai suatu perjuangan baru berarti ketika hidup itu diarahkan, disasarkan ke suatu tujuan yang pas dan pasti. Hidup manusia adalah suatu perjalanan menuju puncak. Hidup kita yang seumpama rombongan ekspedisi ke puncak mengibarkan panji kemenangan diukur, diuji, diaduk dan ditantang dalam pelbagai lembah, jurang dan derasnya arus kehidupan. Manusia yang bertahan dalam ujian, adukan dunia kehidupan mengandaikan adanya kekuatan ekstra dalam dirinya. Kekuatan ekstra itulah yang memungkinkan seseorang dapat melihat kemungkinan alternatif untuk memilihnya dengan pasti. Segala kemungkinan ditawarkan kepada manusia untuk memilihnya dengan bebas. Pilihan yang dibuat manusia menentukan pula konsekuensi yang akan diterima dan dialaminya dalam perjuangan hidupnya.
Bacaan-bacaan yang diperdengarkan untuk kita hari ini menampilkan figur-figur yang telah menentukan pilihan yang pasti mengarahkan mereka ke puncak dan tujuan hidup mereka. Nabi Yeremia dalam bacaan pertama muncul sebagai seorang yang harus menerima konsekuensi pilihannya sebagai seorang nabi. Ketika dihadapkan dengan situasi kehidupan masyarakat penuh kelaliman, kekerasan, penganiayaan dan kejahatan lainnya, Yeremia merasa diri telah diperdaya oleh Allah. Yeremia yang menyuarakan kebenaran dan kejujuran dalam hidup telah menjadi sasaran ejekan dan cemoohan banyak orang. Yeremia sebenarnya mau melepaskan beban kenabiannya, namun Yeremia sadar bahwa ejekan dan cemoohan yang diterimanya itu menjadi jembatan yang menyeberangkan dia ke tempat yang memerdekakan. Ia merasa dirinya seakan-akan terbakar kalau ia tidak menyurakan kehendak Allah dalam masyarakat yang dilanda pelbagai krisis dan skandal. Beban yang paling berat bagi Yeremia karena harus membongkar dan memutuskan jaringan kejahatan dan skandal yang menjadi mode pemimpin masa itu. Kalau boleh dibandingkan peran Yeremia saat itu sama seperti peran ICW yang membongkar skandal demi skandal yang menjadi mode sekelompok pejabat dan elite politik di negara kita saat ini. Kebenaran itulah yang membakar semangat Yeremia.
Pengalaman Yeremia dialami pula oleh Paulus ketika berhadapan dengan masyarakat kota Roma. Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan agar masyarakat kota Roma segera melalukan reformasi total terhadap pola berpikir yang memungkinkan mereka membuat pembedaan-pembedaan sebelum membuat pilihan dalam hidup. Reformasi atau pembaharuan budi dinilai Paulus menjadi sesuatu yang sangat mendesak karena jika tidak maka bahaya gaya hidup materialistik akan segera menggerogoti mereka. Paulus telah menangkap gejala jemaat Roma yang mengukur relasinya dengan Allah dengan barang-barang. Dalam bahasa Santo Paulus, Jemaat Roma telah hidup serupa dengan dunia. Hidup yang dikuasai kemauan dan naluri bagi Paulus akan membawa manusia pada situasi terbelenggu oleh segala kemauann itu. Hidup yang dikuasi dengan kecenderungan semata bagi Paulus membuat manusia kehilanagan arah atau mengalami disorientasi dalam hidupnya. Disorientasi dalam hidup akan membuahkan kejahatan. Untuk itu, diperlukan pembaharuan, rehabilitasi terhadap cara pikir yang cenderung sempit dan picik. Manusia dituntut untuk melakukan reorientasi dalam hidupnya.
Hidup manusia sejak jatuh dalam dosa telah mengalami disorentasi. Segala penyelewengan dan penyimpangan yang dilakukan manusia adalah bentuk disorientasi dalam hidupnya. Yesus dengan misi-Nya datang meluruskan arah hidup manusia. Yesus melakukan pembaharuan, reformasi dan reorientasi bagi kehidupan manusia dengan cara dan gayanya yang spektakular dan mengagumkan. Yesus kembali mengarahkan dan membawa manusia ke arah yang benar menuju Allah. Reformasi dan Reorientasi yang dilakukan Yesus bukan dengan membuat pernyataan politik yang membingungan, bukan dengan pidato politik yang memukau, Ia tidak membentuk kelompok poros tengah, tidak perlu membuat kesepakatan politik. Contoh hidup-Nya sudah menjadi rumusan baku untuk sebuah reformasi kehidupan manusia. Derita dan Salib itu adalah kata reformasi yang paling tepat dalam konteks Yesus. Salib adalah bahasa dan simbol reformasi. Salib adalah bahasa dan simbol reorientasi hidup manusia untuk kembali ke jalan yang benar. Salib adalah panji kemenangan yang akan dibawa setiap orang yang percaya menuju puncak kemerdekaan dalam Allah.
Kita semua, Anda dan saya telah menerima bahasa reformasi dan reorinetasi hidup itu ketika kita ditandai dengan salib. Hari ini Yesus mengingatkan kita semua bahwa kita telah diselamatkan karena derita dan salib-Nya. Kita dituntut untuk berpartisipasi dalam salib dan pengalaman-Nya. Hidup kita tidak bebas dari salib. Lingkungan kerja, lingkungan hidup, jabatan, status kita selalu menawarkan pelbagai model salib. Di kebun, di kantor, di sekolah, di kampus, di jalan, di dapur, di rumah, dalam keluarga kita bisa berhadapan dengan salib-salib kehidupan. Setiap kita wajib hukumnya untuk mengambil dan senang membawa salib itu.
Kita semua adalah anggota tim ekspedisi “Gado-gado” yang hendak mengibarkan kemenangan dan kemerdekaan di atas puncak. Ada banyak perlengkapan untuk membangun tenda kita di puncak kemangan itu. Masalahnya: beranikah kita memilih yang terberat dan terbesar seperti pilihan Kristo dalam cerita awal tadi? Jangan-jangan kita hanya memilih yang halus dan ringan seperti spons yang akhirnya memberatkan kita? Tetapi yang pasti Yesus berbisik untuk kita pribadi: yang hendak mengikuti Aku harus menyangkal diri dan memikul salibya. Amin.
MINGGU BIASA KE-21 TAHUN A
Minggu Biasa ke-21 Thn. A1
Yes.22,19-23; Rom.11,33-36; Mat.16,13-20
Stasi Babarsari Yogyakarta, 22 Agustus 1999
Buka
Pengenalan manusia akan Tuhan sangat bergantung pada corak kehidupan yang manusia tunjukkan selama hidupnya. Manusia dapat memberikan jawaban yang tepat sejauh manusia itu hidup secara tepat sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita semua telah diangkat sebagai pengikut Kristus. Kita semua telah menjadi kunci ditangan Allah untuk membuka jalan bagi orang yang mencari Allah. Teladan hidup yang kita terima dari kehidupan Yesus mewajibkan kita untuk menjabarkannya dalam kehidupan kita. Yesus hari ini bertanya kepada kita sejauh mana kita telah mengenal-Nya dengan meneruskan teladan hidup-Nya dalam kehidupan kita. Kita akui kelemahan kita. Mungkin kita belum mengenal Yesus secara tepat karena kehidupan kita masih jauh dari contoh kehidupan Yesus sendiri.
Renungan
Kita semua sudah datang dari rumah tempat tinggal kita. Andaikan kita datang dan rumah kita tidak ada yang menungguinya, apakah yang kita lakukan terakhir sebelum kita meninggalkan rumah kita? Andaikan kita datang dengan kendaraan sepeda, sepeda motor atau mobil, apa yanag kita lakukan sebelum melepaskan kendaraan kita di tempat parkir? Yang kita lakukan adalah mengunci pintu rumah kita, mengunci gerbang rumah kita, mengunci kendaraan kita. Tujuannya agar rumah, kendaraan kita tidak kemalingan. Kunci rumah kita memungkinkan rumah kita bisa ditutup dan bisa dibuka. Tanpa kunci kita tidak bisa keluar atau masuk rumah kita. Tanpa kunci kita tidak bisa menggunakan kendaraan kita.
Suatu ketika ketika masih menjadi mahasiswa saya dijemput ke salah satu gereja untuk memimpin perayaan ekaristi peringatan HUT kemerdekaan 17 Agustus. Karena tidak ada orang yang menunggu di rumah kost, semua pintu termasuk garasi saya kunci.. Biasanya setiap kami memiliki kunci duplikat tetapi karena teman Romo yang lain sedang berlibur maka semua kunci saya simpan. Tidak kusangka salah seorang Romo tiba pada sore itu. Dia tidak mempunyai kunci. Ia terpaksa duduk saja di depan rumah selama beberapa jam sampai saya kembali. Dia juga tidak tahu kalau saya titipkan kunci kepada keluarga yang biasa mengantar makanan untuk kami. Dia baru bisa masuk ketika keluarga itu menghantar makanan ke rumah kost kami. Untung kunci saya serahkan kepada orang lain.
Bacaan-bacaan suci yang diperdengarkan untuk kita hari ini pada dasarnya berbicara tentang pentingnya sebuah kunci. Karena itu, masalah penyerahan kunci menjadi masalah yang paling pokok dan mendasar yang perlu kita renungan. Dalam bacaan pertama Nabi Yesaya menggambarkan masalah suksesi kepemimpinan yang dilakukan kurang normal. Sebna adalah seorang kepala istana terancam turun pangkat bahkan akan dipecat dari jabatannya. Alasan pemecatannya memang tidak dikatakan dengan jelas. Tidak disebutkan apakah karena ia terlibat dalam penyakit KKN atau karena terlibat sebagai sutradara yang berhasil membobol sebuah bank besar seperti yang terjadi dengan kasus, skandal pembobolan Bank. Juga tidak disebutkan Sebna dipecat karena terlibat dalam praktik money politics menjelang pemilu. Juga tidak disebutkan dia dipecat mungkin karena terlibat dalam jaringan atau sindikat penjualan narkotika. Informasi yang kita dapat dari bacaan pertama hanya sebatas memberitahukan kepada kita bahwa Sebna akan dipecat. Itu artinya jelas ada ketidakberesan dalam perannya sebagai pemimpin istana. Yesaya menggambarkan proses suksesi kepemimpinan yang bercorak darurat. Atau kalau kita mau gunakan istilah yang bernuasa reformasi adalah terjadinya proses pemerintahan yang bercorak transisi. Terjadi krisis kepemimpinan. Untuk menggantikan posisi Sebna bukannya orang dari kelompok poros tengah melainkan Elyakim yang pantas di mata Tuhan dan yang diyakaini oleh mayoritas rakyat akan mampu memenuhi harapan mereka. Elyakim adalah putra Hilkia yang merupakan tokoh penting masa itu. Suksesi kepemimpinan itu ditandai dengan pelbagai tindakan simbolis dan seremonial. Elyakim menerima jabatan itu dalam tindakan simbolis mengenakan jubah, ikat pinggang dan menerima kunci rumah Daud. Ia menjadi bapa bagi penduduk Yerusalem dan bagi kaum Yehuda. Ia menjadi bapa dan bukan sebagai penguasa Ia menjadi milik semua orang dan bukan menjadi milik kelompok tertentu. Kepemimpinannya jauh dari sikap eksklusif dan primordialisme yang sempit. Ia menjadi tumpuan dan harapan banyak orang. Elyakim mendapat mandat dari Tuhan sendiri untuk menjadi petunjuk jalan bagi rakyat yang dilayaninya. Elyakim sungguh menyadari bahwa ia mendapat kehormatan dari Tuhan sendiri. Konsekuensinya ia harus menjadi pelayan dan mengabdi total kepada rakyatnya. Kepemimpinan yang berkenan kepada Tuhan adalah kepemimpinan yanag diarahkan pada kehendak dan rencana Tuhan sendiri. Karena itu dalam bacaan kedua tadi Paulus menegaskan bahwa segala sesuatu yang ada dan terjadi bersumber dari Allah, tercipta karena Allah dan harus tertuju kepada Allah. Kepada manusia memang Tuhan memberikan segalanya, memberikan sebuah kunci. Menerima kunci dari Tuhan sendiri tujuannya jelas agar setiap orang yang menerima kunci itu dapat membuka pintu yang pasti, pintu yang pas, pintu yang pantas, pintu yang terang bagi mereka yang ingin memasuki rumah kediaman Allah dengan segala kemuliaaNya.
Kitab Perjanjian Lama seperti kitab Yesaya tadi berbicara soal suksesi kepemimpinan. Proses pergantian pemimpin itu terjadi sepanjang manusia hidup bersama orang lain. Proses pergantian pemimpin dalam kisah kitab suci memang agak unik. Tidak perlu ada demonstrasi, tidak perlu membentuk KPU yang mengatur pemilu, tidak perlu ada paduan suara para anggota MPR/DPR. Tidak menuntut adanya debat para calon atau harus tampil membawakan pidato politik. Mengapa kitab suci tidak memerlukan semuanya itu? Alasannya karena makin banyak hal yang dilakukan dan dikatakan maka makin banyak pula kepalsuan dan penipuan di dalamnya. Semakin orang banyak berbicara semakin sedikit ia akan melakukan apa yang ia bicarakan. Dan proses suksesi kepemimpinan yang ditunjukkan Yesus dalam Injil tadi adalah proses suksesi tanpa basa basi. Pemilihan dan penyerahan kunci kepada Simon Petrus tidak perlu menyusun Rancangan Undang-Undang khusus. Yesus cukup alergiterhadap konsep konstitusi dan legitimasi. Yesus termasuk orang yang pragmatis dalam sikap dan tindakan pewartaannya. Bagi Yesus kalau orang melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak Tuhan maka orang itu dinilai bertindak konstitutional dan memiliki legitimasi atas tindakannya.
Pengangkatan Petrus oleh Yesus dalam injil tadi berlangsung dalam suasana yang tidak formal. Pengangkatan itu bukan di gedung MPR melainkan di jalan. Pengangkatan itu terjadi dalam perjalanan melakukan pewartaan. Itu artinya pengangkatan itu harus dijabarkan dalam proses melaksanakan tugas pewartaan. Pengangkatan Petrus adalah pengangkatan untuk membawa kegembiraan. Yesus sengaja tidak mengangkat Petrus ketika duduk di rumah supaya Petrus tidak hanya duduk melainkan harus selalu berada di tengah orang yang mungkin tidak menemukan jalan. Petrus harus menjadi pembawa kunci yanag memungkinkan orang masuk ke alam yang dikehendaki Allah. Pengangkatan Petrus tidak dilakukan dalam upacara dengan perjamuan supaya Petrus jangan merasa keenakan lalu lupa peran dan tugasnya sebagai pemegang kunci.
Petrus menerima kunci dari Yesus setelah ia menjawab secara tepat pertanyaan Yesus. Para rasul yang lain tidak dapat memberikan jawaban yang tepat seperti Petrus. Para rasul yang lain hidup bersama Yesus tetapi belum mengenal secara pasti siapakah Yesus itu. Jawaban mereka dangkal dan datar padahal mereka semua menjadi orang dekat Yesus. Dari situ jelas bagi kita bahwa kemuridan mereka tidak menjadi jaminan bahwa mereka sungguh mengenal Yesus. Pada hari ini Yesus juga mengajukan pertanyaan yang sama untuk kita masing-masing. Jawaban saya, jawaban Anda, jawaban kita tentu macam-macam bergantung pada kadar dan kualitas, mutu relasi kita secara pribadi dengan Yesus. Corak hidup kita, corak tindakan kita, corak tutur kata kita akan mewarnai model jawaban kita. Jawaban yang kita berikan adalah cerminan hidup kita. Kalau hidup saya jujur, lurus seperti yang diteladankan Yesus maka kalau hari Yesus bertanya kepada kepada saya tentang siapakah Dia maka jawaban saya adalah Yesus itu guruku dalam kejujuran. Kalau saya selalu mau membantu dan selalu mau berdamai dengana orang lain maka kalau saya ditanya siapakah Yesus itu maka jawaban saya Yesus adalah penolong dan pendamai.
Status kita sebagai orang beriman, sebagai pengikut Kristus mewajibkan kita untuk memberikan jawaban yang pasti seperti Petrus. Sebagai pengikut Kristus, kita juga diberi kunci untuk orang lain. Semangat hidup Yesus, contoh tindakan Yesus adalah kunci-kunci yang ia wariskan untuk kita. Contoh hidup Yesus itulah yang kiranya menjadikan kita sebagai kunci untuk orang lain yang tidak bisa membuka rahasia kebenaran. Yang sulit mendapatkan ketenangan dan kejujuran, yang sulit mewujudkan kedamaian. Hidup dan teladan Yesus adalah kunci yang telah kita terima. Mudah-mudahan kita menjadi sebuah kunci yang membawa orang semakin banyak dan semakin dekat pada Tuhan. Amin
Rm.Bone Rampung Pr
Pringwulung, 22 Agust.’99
Yes.22,19-23; Rom.11,33-36; Mat.16,13-20
Stasi Babarsari Yogyakarta, 22 Agustus 1999
Buka
Pengenalan manusia akan Tuhan sangat bergantung pada corak kehidupan yang manusia tunjukkan selama hidupnya. Manusia dapat memberikan jawaban yang tepat sejauh manusia itu hidup secara tepat sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita semua telah diangkat sebagai pengikut Kristus. Kita semua telah menjadi kunci ditangan Allah untuk membuka jalan bagi orang yang mencari Allah. Teladan hidup yang kita terima dari kehidupan Yesus mewajibkan kita untuk menjabarkannya dalam kehidupan kita. Yesus hari ini bertanya kepada kita sejauh mana kita telah mengenal-Nya dengan meneruskan teladan hidup-Nya dalam kehidupan kita. Kita akui kelemahan kita. Mungkin kita belum mengenal Yesus secara tepat karena kehidupan kita masih jauh dari contoh kehidupan Yesus sendiri.
Renungan
Kita semua sudah datang dari rumah tempat tinggal kita. Andaikan kita datang dan rumah kita tidak ada yang menungguinya, apakah yang kita lakukan terakhir sebelum kita meninggalkan rumah kita? Andaikan kita datang dengan kendaraan sepeda, sepeda motor atau mobil, apa yanag kita lakukan sebelum melepaskan kendaraan kita di tempat parkir? Yang kita lakukan adalah mengunci pintu rumah kita, mengunci gerbang rumah kita, mengunci kendaraan kita. Tujuannya agar rumah, kendaraan kita tidak kemalingan. Kunci rumah kita memungkinkan rumah kita bisa ditutup dan bisa dibuka. Tanpa kunci kita tidak bisa keluar atau masuk rumah kita. Tanpa kunci kita tidak bisa menggunakan kendaraan kita.
Suatu ketika ketika masih menjadi mahasiswa saya dijemput ke salah satu gereja untuk memimpin perayaan ekaristi peringatan HUT kemerdekaan 17 Agustus. Karena tidak ada orang yang menunggu di rumah kost, semua pintu termasuk garasi saya kunci.. Biasanya setiap kami memiliki kunci duplikat tetapi karena teman Romo yang lain sedang berlibur maka semua kunci saya simpan. Tidak kusangka salah seorang Romo tiba pada sore itu. Dia tidak mempunyai kunci. Ia terpaksa duduk saja di depan rumah selama beberapa jam sampai saya kembali. Dia juga tidak tahu kalau saya titipkan kunci kepada keluarga yang biasa mengantar makanan untuk kami. Dia baru bisa masuk ketika keluarga itu menghantar makanan ke rumah kost kami. Untung kunci saya serahkan kepada orang lain.
Bacaan-bacaan suci yang diperdengarkan untuk kita hari ini pada dasarnya berbicara tentang pentingnya sebuah kunci. Karena itu, masalah penyerahan kunci menjadi masalah yang paling pokok dan mendasar yang perlu kita renungan. Dalam bacaan pertama Nabi Yesaya menggambarkan masalah suksesi kepemimpinan yang dilakukan kurang normal. Sebna adalah seorang kepala istana terancam turun pangkat bahkan akan dipecat dari jabatannya. Alasan pemecatannya memang tidak dikatakan dengan jelas. Tidak disebutkan apakah karena ia terlibat dalam penyakit KKN atau karena terlibat sebagai sutradara yang berhasil membobol sebuah bank besar seperti yang terjadi dengan kasus, skandal pembobolan Bank. Juga tidak disebutkan Sebna dipecat karena terlibat dalam praktik money politics menjelang pemilu. Juga tidak disebutkan dia dipecat mungkin karena terlibat dalam jaringan atau sindikat penjualan narkotika. Informasi yang kita dapat dari bacaan pertama hanya sebatas memberitahukan kepada kita bahwa Sebna akan dipecat. Itu artinya jelas ada ketidakberesan dalam perannya sebagai pemimpin istana. Yesaya menggambarkan proses suksesi kepemimpinan yang bercorak darurat. Atau kalau kita mau gunakan istilah yang bernuasa reformasi adalah terjadinya proses pemerintahan yang bercorak transisi. Terjadi krisis kepemimpinan. Untuk menggantikan posisi Sebna bukannya orang dari kelompok poros tengah melainkan Elyakim yang pantas di mata Tuhan dan yang diyakaini oleh mayoritas rakyat akan mampu memenuhi harapan mereka. Elyakim adalah putra Hilkia yang merupakan tokoh penting masa itu. Suksesi kepemimpinan itu ditandai dengan pelbagai tindakan simbolis dan seremonial. Elyakim menerima jabatan itu dalam tindakan simbolis mengenakan jubah, ikat pinggang dan menerima kunci rumah Daud. Ia menjadi bapa bagi penduduk Yerusalem dan bagi kaum Yehuda. Ia menjadi bapa dan bukan sebagai penguasa Ia menjadi milik semua orang dan bukan menjadi milik kelompok tertentu. Kepemimpinannya jauh dari sikap eksklusif dan primordialisme yang sempit. Ia menjadi tumpuan dan harapan banyak orang. Elyakim mendapat mandat dari Tuhan sendiri untuk menjadi petunjuk jalan bagi rakyat yang dilayaninya. Elyakim sungguh menyadari bahwa ia mendapat kehormatan dari Tuhan sendiri. Konsekuensinya ia harus menjadi pelayan dan mengabdi total kepada rakyatnya. Kepemimpinan yang berkenan kepada Tuhan adalah kepemimpinan yanag diarahkan pada kehendak dan rencana Tuhan sendiri. Karena itu dalam bacaan kedua tadi Paulus menegaskan bahwa segala sesuatu yang ada dan terjadi bersumber dari Allah, tercipta karena Allah dan harus tertuju kepada Allah. Kepada manusia memang Tuhan memberikan segalanya, memberikan sebuah kunci. Menerima kunci dari Tuhan sendiri tujuannya jelas agar setiap orang yang menerima kunci itu dapat membuka pintu yang pasti, pintu yang pas, pintu yang pantas, pintu yang terang bagi mereka yang ingin memasuki rumah kediaman Allah dengan segala kemuliaaNya.
Kitab Perjanjian Lama seperti kitab Yesaya tadi berbicara soal suksesi kepemimpinan. Proses pergantian pemimpin itu terjadi sepanjang manusia hidup bersama orang lain. Proses pergantian pemimpin dalam kisah kitab suci memang agak unik. Tidak perlu ada demonstrasi, tidak perlu membentuk KPU yang mengatur pemilu, tidak perlu ada paduan suara para anggota MPR/DPR. Tidak menuntut adanya debat para calon atau harus tampil membawakan pidato politik. Mengapa kitab suci tidak memerlukan semuanya itu? Alasannya karena makin banyak hal yang dilakukan dan dikatakan maka makin banyak pula kepalsuan dan penipuan di dalamnya. Semakin orang banyak berbicara semakin sedikit ia akan melakukan apa yang ia bicarakan. Dan proses suksesi kepemimpinan yang ditunjukkan Yesus dalam Injil tadi adalah proses suksesi tanpa basa basi. Pemilihan dan penyerahan kunci kepada Simon Petrus tidak perlu menyusun Rancangan Undang-Undang khusus. Yesus cukup alergiterhadap konsep konstitusi dan legitimasi. Yesus termasuk orang yang pragmatis dalam sikap dan tindakan pewartaannya. Bagi Yesus kalau orang melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak Tuhan maka orang itu dinilai bertindak konstitutional dan memiliki legitimasi atas tindakannya.
Pengangkatan Petrus oleh Yesus dalam injil tadi berlangsung dalam suasana yang tidak formal. Pengangkatan itu bukan di gedung MPR melainkan di jalan. Pengangkatan itu terjadi dalam perjalanan melakukan pewartaan. Itu artinya pengangkatan itu harus dijabarkan dalam proses melaksanakan tugas pewartaan. Pengangkatan Petrus adalah pengangkatan untuk membawa kegembiraan. Yesus sengaja tidak mengangkat Petrus ketika duduk di rumah supaya Petrus tidak hanya duduk melainkan harus selalu berada di tengah orang yang mungkin tidak menemukan jalan. Petrus harus menjadi pembawa kunci yanag memungkinkan orang masuk ke alam yang dikehendaki Allah. Pengangkatan Petrus tidak dilakukan dalam upacara dengan perjamuan supaya Petrus jangan merasa keenakan lalu lupa peran dan tugasnya sebagai pemegang kunci.
Petrus menerima kunci dari Yesus setelah ia menjawab secara tepat pertanyaan Yesus. Para rasul yang lain tidak dapat memberikan jawaban yang tepat seperti Petrus. Para rasul yang lain hidup bersama Yesus tetapi belum mengenal secara pasti siapakah Yesus itu. Jawaban mereka dangkal dan datar padahal mereka semua menjadi orang dekat Yesus. Dari situ jelas bagi kita bahwa kemuridan mereka tidak menjadi jaminan bahwa mereka sungguh mengenal Yesus. Pada hari ini Yesus juga mengajukan pertanyaan yang sama untuk kita masing-masing. Jawaban saya, jawaban Anda, jawaban kita tentu macam-macam bergantung pada kadar dan kualitas, mutu relasi kita secara pribadi dengan Yesus. Corak hidup kita, corak tindakan kita, corak tutur kata kita akan mewarnai model jawaban kita. Jawaban yang kita berikan adalah cerminan hidup kita. Kalau hidup saya jujur, lurus seperti yang diteladankan Yesus maka kalau hari Yesus bertanya kepada kepada saya tentang siapakah Dia maka jawaban saya adalah Yesus itu guruku dalam kejujuran. Kalau saya selalu mau membantu dan selalu mau berdamai dengana orang lain maka kalau saya ditanya siapakah Yesus itu maka jawaban saya Yesus adalah penolong dan pendamai.
Status kita sebagai orang beriman, sebagai pengikut Kristus mewajibkan kita untuk memberikan jawaban yang pasti seperti Petrus. Sebagai pengikut Kristus, kita juga diberi kunci untuk orang lain. Semangat hidup Yesus, contoh tindakan Yesus adalah kunci-kunci yang ia wariskan untuk kita. Contoh hidup Yesus itulah yang kiranya menjadikan kita sebagai kunci untuk orang lain yang tidak bisa membuka rahasia kebenaran. Yang sulit mendapatkan ketenangan dan kejujuran, yang sulit mewujudkan kedamaian. Hidup dan teladan Yesus adalah kunci yang telah kita terima. Mudah-mudahan kita menjadi sebuah kunci yang membawa orang semakin banyak dan semakin dekat pada Tuhan. Amin
Rm.Bone Rampung Pr
Pringwulung, 22 Agust.’99
Subscribe to:
Posts (Atom)