Minggu Biasa ke 17 thn.A.2 28 Juli 1996
1Raj.3,5.7 12; Rom.8,28 30; Mat.13,44 52
Paroki Santa Anna Jakarta
Buka
Pilihan kita untuk mengimani dan mengikuti Kristus membawa tuntutan yang besar. Iman kita menuntut kita agar menjadikan kehidupan kita sesuai dengan pola Yesus yang kita imani. Yesus adalah satu satunya pola dasar dan forma utama yang membentuk keseluruhan pola tindak kehidupan kita. Lebih jauh dari itu mengimani Kristus berarti pula telah menjadikan Yesus sebagai harta berharga yang tidak dapat diperjualbelikan atau ditukar dengan barang apa saja. Semuanya itu menuntut manusia untuk mendarasari hidupnyapada satu pengertian yang benar tentang iman dan kehidupannya sebagai orang beriman. Kurang lebih hal hal serupa inilah yang menjadi inti pewartaan dan permenungan kita melalui firman Tuhan hari ini. Kita berdoa memohon kekuatan dalam penghayatan iman kita di tengah masyarakat. Agar doa dan harapan kita berkenan kepada Yuhan marilah terlebih dahulu kita berpantas diri di hadapan tuhan dan sesama dengan mengakui segala kelemahan dan dosa kita.
Renungan
Harian Pos Kota Edisi Minggu 21 Juli 1996 pada halaman 8 memuat sebuah artikel berupa ulasan singkat perihal suatu paket acara yang akan ditayangkan TVRI pada awal Agustus 1996. Ulasan itu berkaitan dengan sebuah drama Komedi berjudul "Pengertian". Ulasan Pos Kota itu menarik untuk dikaji dan disimak lebih menda¬lam karena ulasannya dikemas dalam judul yang simpatik yaitu: Drama Komedi pengertian, Suami Lepas dari kekangan Istri". Menurut pengulas drama itu menampilkan kemelut yang menimpa sebuah rumah tangga. Pak Kabul adalah nama sang suami yang selalu mendapat tekanan dari sang istri bernama Bu Lulu. Bu Lulu ini mengekang suaminya dengan pelbagai macam tuntutan berupa sejumlah uang, perhiasan, dan harta lainnya. Pak Kabul yang berlatar bela¬kang tidak punya pekerjaan tetap jelas tidak dapat mengabulkan semua tuntutan sang istri. Badai topan seakan bertiup kencang menerpa pelayaran bahtera keluarga Pak Kabul. Pak Kabul telah berjuang maksimal sekadar mendongkrak pendapatan keluarga sekadar menghidupi istri dan keluarganya. Jalan cerita Drama itu memang belum diketahui pasti namun Harian Pos Kota telah membuat prediksi dan estimasi bahwa Drama itu akan berakhir dengan menyenangkan atau bercorak Happy Ending. Akhirnya yang bernada Happy Ending itu terjadi ketika dengan PENGERTIAN sang suami lepas dari kekan¬gan sang istri. Kemelut yang mengacam kerukunan keluarga Pak Kabul teratasi ketika Pengertian dijadikan andalan. Bahtera rumah tangga itu terhindar dari karam ketika pengertian terjadi antara Bu Lulu dan Pak Kabul. Pengertian berhasil mengatasi terpaan taupan kehidupan keluarga.
Tantangan dan kesulitan itu merupakan bagaian dari kehidupan manusia. Tidak seorangpun di dunia ini yang hidupnya bebas dari kesulitan dan tantangan meski sekecil apa pun. Tantangan untuk mempertahankan hidup umumnya mendatangkan pelbagai kecemasan dalam diri manusia. Semua kita berjuang agar terhindar dari pelbagai kesulitan namun suatu kehidupan tanpa tantangan adalah suatu kehidupan tidak berisi. Tantangan dalam arti tertentu sangat diper¬lukan karena dalam dan melalui tantangan itu orang dipicu dan dipacu untuk berjuang. Tantangan memungkinkan manusia mengalami dinamika dalam kehidupan. Tantang memungkinkan orang lebih aktif dan kreatif. Kehidupan manusia zaman sekarang ini juga tidak luput dari tantangan. Kemajuan dunia yang kian menggelobal telah menjadikan manusia dan kehidupannya sebgai tempat bertumpuknya pelbagai macam masalah. Tantangan itu bisa datangnya dari diri sendiri, dari orang lain dan juga dari pelbagai jenis kebutuhan yang memang sulit dipenuhi. Tentu kita akan bersyukur jika kita tidak mengalami kemelut seperti yang dialami keluarga Pak Kabul yang hidupnya bercorak Senin Kamis dalam ilustrasi awal tadi. Dalam tantangan itu kebijaksanaan seorang juga teruji. Kebi¬jaksanaan itu akan tampak dalam apa yang disebut Pengertian. Hanya lewat pengertian orang bakal terbebas dari tantangan hidup.
Pengertian itu tidak sama dengan pengetahuan. Orang boleh saja berpengetahuan namun belum tentu orang itu berpengertian. Hampir semua manusia berpengetahuan namun tidak semuanya berpengertian. Pengetahuan adalah ukuran kualitas intelek akal budi. Sedangkan Pengertian adalah ukuran kualitas manusia dalam hubungan dengan kemampuannya untuk mengintegrasikan, menjaga keharmonisan, antara akal dan perasaan, antara akal dan hati. Berpengertian berarti hati sebagai pusat monitor dan stasiun pengendali kehidupan mendapat tempat dan peranan utama dalam mengendalikan kehidupan. Berpengertian berarti adanya keharmonisan dalam menata keseluru¬han pola perilaku yang melibatkan akal tetapi dikendalikan hati. Banyak masalah, persoalan, pergesekan, percekcokkan dalam kehi¬dupan kita muncul bukan karena orang tidak memiliki pengetahuan tetapi justru karena orang kurang berpengertian. Orang yang dilengkapi pengertian umumnya mudah menghadapi pelbagai realitas kehidupan dan akan secara bijaksana menyikapi realitas.
Firman Tuhan yang menyapa kita lewat ketiga bacaan yang kita dengar hari ini pada dasarnya mau menggarisbawahi peran sentral Pengertian dalam mengatasi pelbagai probelematika kehidupan. Dalam bacaan pertama kitab Pertama Raja Raja coba menampil profil manusia yang menjadikan Pengertian sebagai titik pijak dalam mengantisipasi dan mengatasi tantangan. Pilihan yang dibuat Salomo terhadap pelbagai kemungkinan yang ditawarkan Allah meru¬pakan contoh yang patut diteladani. Kepada Raja Salomo ditawarkan untuk meminta apa saja termasuk harta, kekuasaan, umur yang panjang, nyawa para musuh dan lain lain. Tetapi, apa yang terjadi justru sebaliknya karena Salomo tidak memilih apa apa dari ke¬mungkinan yang ditawarkan itu. Ia meminta sesuatu yang lain sama sekali namun yang diyakininya lebih berharaga dari semua kemung¬kinan yang ditawarkan itu. Ia hanya meminta sebutir Mutiara yaitu HATI yang mampu memahami dengan penuh pengertian berhadapan dengan bangsa yang dipimpinnya.Sebagai pemimpim Salomo semestin¬ya meminta harta kekayaan untuk memenuhi segala kebutuhan pokok rakyatnya. Sebagai orang berkuasa Salomo semestinya meminta umur yang panjang biar harta kekayaan yang telah terkumpul tidak beralih kepada bangsa lain dan biar berkuasa sampai mati. Sebagai penguasa boleh saja Salomo mengorbankan nyawa dan kehidupan mereka yang dianggapanya sebagai pengacau dan perebut kekuasaan. Sebagai penguasa ia boleh menghukum mereka yang beraksi mendekati predikat tindakan makar dan yang berjuang menumpas dan membungkam setiap mulut yang mengganggu stabilitas dan coba mengkritik sekelompok elite penguasa. Semua itu tidak dipilihnya. Baginya semua hal itu akan datang dengan sendirinya jika orang memiliki Hati dan Pengertian dalam memahami bangsanya.
Pilihan dan sikap Salomo adalah pilihan dan sikap yang tepat. Pilihannya sekaligus mengkritik praktik kehidupan manusia sepanjang zaman yang cenderung mengutamakan harta kekayaan, kuasa dan jabatan dengan cara yang halus mendepak bisikan Hati Nuraninya yang mendengungkan nilai kemanusiaan dan keadilan. Pilihan Salomo adalah kritikan tajam terhadap setiap praktik hidup yang menjaga kemapanan dengan dalih yang selalu mulia demi stabilitas dan loyalitas yang pada dasarnya menghasilkan loyolitas. Pilihan Salomo mengkritik pola hidup manusia yang tidak mau membiarkan orang lain berkembang dengan memberikan kesempatan untuk bermain dalam percaturan kehidupan dengan dalih bahwa orang lain itu belum berpengalaman. Salomo mengkritik sikap memvonis kalah pihak lain sebelum bertanding. Kemenangan bukan lagi hasil suatu pertan¬dingan melainkan hasil perumusan pihak yang mau memancing kepen¬tingan dirinya.
Salomo telah memberikan contoh memilih yang tepat dan meminta yang tepat kepada Allah. Dia hanya membutuhkan Hati yang mampu mengerti dan memahami kebutuhkan bangsanya. Kita semua adalah orang yang mengimani Kristus karena itu pilihan kita hendaknya berpedoman pada kehendak Kristus. Santo Pulus dalam bacaan kedua tadi mengimbau semua jemaat yang ada di kota Roma agar hidup seturut kehendak Kristus. Paulus sudah melihat adanya gejala dalam kehi¬dupan jemaat Roma yang cenderung mengutamakan harta kekayaan dan kuasa yang persis berlawanan dengan kehendaki Kristus. Mereka semua lupa bahwa mereka juga dipanggil dalam persekutuan dengan Putra untuk serupa dengan Putra. Paulus menyadarkan mereka bahwa Yesus adalah Pola utama sehingga manusia beriman harus menyesuai¬kan dirinya untuk ditempatkan secara pas pada pola utamanya. Mereka hidup menyimpang dan tidak bisa ditempatkan lagi dalam forma dan cetakan biru yaitu Kistus. Mereka banyak yang hanya mengandalkan kepalanya dalam kehidupan dan mengabaikan hatinya. Tangan mereka tidak lagi berfungsi sepeti yang diharapkan karena banyak yang dipakai untuk menyempurnakan kejahatan mereka. Mereka sudah mencari jalannya dan polanya sendiri.
Memiliki Hati yang mampu memahami dan menegerti seperti Salomo atau hidup menyerupai Kristus seperti harapan Paulus memang bukan¬lah perkara yang gampang. Perikope Injil Mateus tadi paling kurang memberikan gambaran kepada kita betapa sulitnya kita menjadi orang yang memiliki Hati dan Pengertian dalam menghadapi problem dalam kehidupan ini. Walaupun demikian orang beriman tetap didorong untuk mendapatkannya. Hati dan pengertian itu adalah bagaikan harta dan Mutiara yang berharga. Injil mengisahkan kebiasaan orang semasa Yesus yang tidak mau harta kekayaannya menjadi incaran perampok dan pencuri. Itulah sebabnya mereka berusha menyembunyikannya dalam tanah. Di mana mereka menyembun¬yikannya haruslah dilengkapi dengan tanda sebab jika tidak maka harta itu akan hilang. Yesus coba mengangkat dan membanding¬kan Kerajaan Allah itu seumpama Harta yang terpendam yang pada akhirnya ditemukan para pembajak ladang.
Harta yang berhasil ditemukan pembajak membuat ia tidak segan segan menjual segala harta kekayaannya karena ia tahu bahwa harta yang di dapatinya akan jauh lebih besar deri segala yang telah dimili¬kinya. Ia berperinsip mengorbankan sedikit untuk mendapatkan seban¬yak banyaknya. Cerita Yesus ini masih dijelaskan lagi dengan kisah tentang kehidupan para nelayan dengan tugas mereka sebagai penjala ikan, Dalam menjalan ikan sang nelayanpun diberikan kesempatan memilih ikan yang layak konsumsi atau tidak. Hal ini mengaskan kebenaran bahwa dalam kehidupannya manusia tidak bebas dari penentuan sikap dalam memilih sesuatu. Ikan yang baik, harta dan mutiara yang dikatakan dalam Injil tidak lain aadalah pilihan akan harta surgawi yang menjamin masa depan manusia. Diri dan kehidupan Yesus adalah mutiara dan Harta berharga yang nyata untuk manusia. Ketika berhadapan dengan Kristus sebagai Mutiara dan harta berharga orng dituntut untuk segera menentukan sikap dan pilihannya entah memilih Yesus atau memilih harta kekayaan dan kuasa.
Pertanyaan refleksi yang perlu direnungkan adalah: Apakah saya mampu memilih secara tepat dan memilih yang terpenting? Manakah yang terpenting bagi diri saya? Apakah saya berani melepaskan yang lain demi Kristus atau sebaliknya saya menukarkan Yesus dengan segala hal yang lain? Yesus yang kita imani hendaknya tidak diperlakukan sebagai barang yang mudah diperjualbelikan apalagi digadaikan untuk hal yang spele. Kita sendiri bisa mera¬sakan dan mungkin juga melihat bahwa pada zaman ini Yesus mudah dipertukarkan dan dilelangkan. Demi harta kekayaan dan Kuasa Yesus dijual pengikutnya dengan mengabaikan ajaran dan tuntutan imannya. Di zaman ini terkadang Yeus digadaikan dan dilelang para remaja dengan sepenggal cinta antara manusia. Orang melepaskan imanya hanya karena terpaut pada seseorang. Semuanya itu merupa¬kan kemelut yang melanda kehidupan kita. Untuk mengatasi semuanya itu maka kita hanya membutuhkan Hati yang bening dan dan pengertian yang polos dalam bersikap dan memilih. Semoga Drama kehidupan kita dapat berkahir dengan Happy Ending seperti penga¬laman Keluarga Pak Kabul karena kita juga memiliki Pengertian dan Hati. Semoga....
Wednesday, August 7, 2013
MINGGU BIASA KE-16 TAHUN A
Minggu Biasa ke-16 Th.A. 18 Juli 1999
Keb.12,13.16-19; Rom.8, 26-27; Mat.13,24-30
Untuk para Suster FRPR Yogyakarta
Buka
Ada bersama, hidup bersama di antara orang yang memiliki pandangan berbeda bahkan yang berlawanan rasa-rasanya tidak gampang. Hidup bersama dengan orang yang kita benci atau yang membenci kita rasa-rasanya tidak mungkin. Tetapi tuntutan seperti itu justru menjadi keharusan bagi setiap orang yang menamakan dirinya sebagai pengikut Kristus. Untuk itu diperlukan satu semangat khusus. Situasi seperti itu terkadang membuat manusia untuk secepatnya mencari jalan pintas. Dan apa yang ditempuh dengan jalan pintas umumnya tidak bijaksana bahkan melahirkan kekecewaan. Kita berdoa semoga kita belajar dari Yesus sang guru kita untuk bersabar dalam segala tindakan dan keputusan kita. Untuk itu mari kita akui kelmahan dan dosa kita.
Renungan
Pada satu kesempatan saya bersama satu keluarga dari Jakarta sempat pesiar ke pusat kerajianan pembuatan keramik di Kasongan ke arah selatan Yogyakarta tepatnya ke arah Bantul. Sewaktu kembali pada salah satu perempatatan jalan ketika lampu merah menyala mobil kami berhenti. Pada saat itu sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi tidak memperhatikan lagi lampu merah terus meluncur. Tidak disangkanya seorang bapa yang mengayuh sepeda sedang melintas. Bapak itu terseret dan kakinya terjerat di antara rantai sepeda motor. Darah tercecer di sana. Si pemuda baru tahu bahwa ia melakukan pelanggaran. Suatu hari di kampus saya harus membayar uang kuliah semesteran. Petugas Bank seperti biasanya selalu datang terlambat. Saya termasuk orang urutan ketiga yang menunggu. Tidak lama kemudian loket pembayaran dibuka dan langsung diserbu puluhan mahasiswa yang baru bayar. Saya terjepit di antara banyak orang dan napas saya sesak. Slip pembayaran saya yang semula pada urutan ketiga ternyata sudah menempati urutan ke-65. Saya memang agak kecewa.
Dari dua penggalan pengalaman kecil yang saya ceritakan tadi tampaknya mau menampilkan satu fenomena yang perlu kita cermati dalam kehidupan kita manusia saat ini. Seorang bapa diseret sepeda motor dan saya terjepit di antara sekian banyak orang itu adalah akibat salah satu sikap yang menguasai manusia. Sikap dan fenomena apa sebenarnya yang terjadi pada dua cerita tadi? Yang mau ditampilkan tidak lain adalah soal Kesabaran. Fenomena Kesabaran rupa-rupa semakin terpinggirkan ketika orang harus bersaing dan berpacu bukan dalam melodi yang harmonis melainkan berpacu dalam waktu secara acak-acakan. Orientasi dan pemusatan kepentingan pada diri sendiri membuat orang tidak bersabar. Dan setiap bentuk ketidaksabaran hampir pasti akan membawa orang pada pelbagai bentuk kejahatan dan pelanggaran. Ketidaksabaran sering membuat orang berpikir dan bahkan bertindak serba spekulatif, untung-untungan. Ketidaksabaran membuat orang mencari jalan pintas. Dan ketika ia mengambil jalan pintas yang dipentingkan hanyalah dirinya. Orang lain berada di luar perhitungan dan petimbangannya. Ketidaksabaran cenderung membuat orang menghalalkan segala cara.
Menarik sekali apa yang dikedepankan ketiga bacaan hari ini. Ketiga bacaan tadi pada dasarnya mau memaparkan kepada kita tentang wacana kesabaran yang seharusnya dan semestinya dimiliki manusia. Sastra kebijaksanaan melihat kesabaran itu sebagai langkah yang menawarkan pertobatan. Kebijaksanaan seseorang menurut sastra kebijaksanaan tadi diukur berdasarkan berapa lama ia bersabar terhadap orang yang berdosa. Kesabaran terhadap orang yang bersalah adalah ‘byclin’ yang memungkinkan orang itu bisa bersih dari dosanya. Santo Paulus melihat dampak kesabaran manusia ke taraf yang paling tinggi. Kesabaran dalam konteks Paulus tadi menjangkau alam transenden yang melibatkan Roh Allah sendiri. Kesabaran bagi Paulus boleh dikatakan sebagai spiritualitas yang mendekatkan Allah dan manusia. Kesabaran manusia memungkinkan Allah terlibat dalam kehidupan manusia. Roh Allah mendatangi manusia yang menanti dan berharap dengan penuh kesabaran.
Yesus itu manusia yang paling praktis. Pikiran dan perkataan-Nya selalu aktual dan kontekstual. Dia tidak mempunyai teori yang luas atau mendalam tentang hakikat kesabaran itu. Sabar bagi Yesus itu tidak akan diperoleh di ruang kuliah. Belum ada di dunia ini Universitas kesabaran. Tidak ada mata kuliah yang namanya mata kuliah kesabaran. Lalu di mana orang bisa belajar tentang kesabaran itu? Menurut kita sekolah kesabaran menurut Yesus itu ada di mana? Sekolah itu ada di kebun. Dosennya adalah para petani. Lulusannya bukan bergelar S1 atau S2 melainkan S3 yaitu Sebar, Sabar dan Subur.
Tiga kata Sebar, Sabar dan Subur adalah kata kunci bahkan menjadi spiritualitas kehidupan para petani. Seorang petani yang baik harus tahu kapan ia sebarkan benih di sawah atau ladangnya. Seorang petani harus sabar menanti hasil benih yang ia sebarkan itu. Ia tak bisa memaksa padi atau jagung yang ditanamnya dalam tempo seminggu harus bisa dipanen. Ia harus sabar menunggu. Seorang petani yang baik juga harus tahu cara pemupukan yang baik agar benih yang disebarkan itu bisa bertumbuh dengan subur. Semangat petani seperti inilah yang diharapkan Yesus dari para pengikutnya. Semangat tiga S tadi belum menjadi jaminan karena orang harus berhadapan dengan seribu satu macam tantangan dan hambatan. Petani berhadapan dengan rumput liar, ilalang yang menghimpit benih yang disebarkannya. Petani yang normal pasti akan mencabut rumput liar itu sejak awal dan tidak menunggunya sampai berkembang. Itu logikanya petani kita. Tetapi logika pertanian gaya Yesus justru terbalik. Biarkan ilalang atau rumput liar itu berkembang karena pada waktunya petani bisa membedakan dengan jelas mana rumput dan mana tanaman. Yesus sebenarnya mau menegaskan sekali lagi bahwa kesabaran itu penting. Kesabaran membuat orang bisa berpikir kritis. Dalam kesabaran orang bisa membedakan yang baik dan yang salah. Dalam kesabaran orang bisa membuat pilihan keputusan yang matang. Banyak masalah dalam hidup terjadi karena bermula dari sikap yang gegabah, sikap yang kurang sabar. Banyak keputusan atau kebijaksanaan yang dibuat terburu-buru akan menghasilkan ketakatan dan kecemasan baru.
Bagi petani Yesus mengajarkan kesabaran berdasarkan konteks kerja mereka. Andaikan saat ini Yesus mau berbicara tentang kesabaran dalam kehidupan dengan konteks kita mungkin ia membadingkan kerajaan Allah itu seumpama sebuah biara yang penuh dengan calon-calon malaikat tetapi ada pula malaikat gadungannya. Menurut Yesus tidak perlu langsung mengusir malaikat gadungan itu. Biarlah ia hidup bersama kita karena pada waktunya akan jelaslah kegadungannya. Mari kita belajar semakin bersabar dalam segala tantangan hidup kita. Amin.
Pringwulung 18 Juli 1999
Rm.Bone Rampung Pr
Minggu Biasa ke-16 Th.A. 18 Juli 1999
Keb.12,13.16-19; Rom.8, 26-27; Mat.13,24-30
Buka
Salah satu sifat manusia yang bertolak belakang dengan sifat Allah sendiri adalah sikap kurang bersbar. Manusia itu cenderung segalanya berlangsung secepatnya. Terasuk pula dalam menghadapi pelbagai tantangan. Manusia terkadang tidak bersabar dalam berhadapan dengan segala kesulitan dalam hidupnya. Akibat sikap tidak mau bersabar itu orang bisa saja terjebak dalam tindakan yang tidan bijaksana. Orang bertindak gegabah dalam menghadapi kesulitan. Akibatnya orang buaknnya keluar dari masalah tetapi justru menciptakan masalah yang baru. Dalam perayaan ini kita mohonkan rahmat kesabaran itu bagi kehidupan kita masing-masing, terutama kesabaran dalam berhadapan dengan segala kesulitan hidup sehingga kita bisa menemukan jalan yang terbaik bagi kehidupan kita. Agar doa serta harapan ini berkenan pada Tuhan marilah kita akui segala kelemahan dan dosa kita.
Renungan
Apa saja pekerjaan yang bisa dilakukan oleh seorang bapak atau ibu tani? Mereka menyiapkan lahan, menyiapkan bibit, menanam, memupuk, membersihkan, menuai atau memetik. Dalam rangkaian kegiatan itu para bapak ibu tani biasanya berhadapan dengan segala macam kendala. Mereka sepertinya punya musuh dalam usaha mereka. Musuh para petani adalah hama penyakit seperti hama tikus, hama wereng, hama belalang dan sebagainya. Dan musuh petani yang paling besar itu apa? Itu adalah rumput-rumput liar yang tumbuh di lahan pertanian. Rumput liar itu bersaing ketat dengan tanaman yang ditanam para petani. Rumput liar itu merebut kesuburan pupuk yang disebarkan petani. Rumput liar itu akan menghalangi pertumbuhan tanaman secara baik. Rumput liar bisa saja menggagalkan segala usaha para petani. Rumput liar adalah musuh para petani
Corak atau bentuk kehidupan sebagai petani dapat diaktakan sebagai salah satu bentuk pekerjaan yang sungguh melambangkan perjuangan hidup manusia di dunia. Hal itu memang beralasan karena tanpa usaha dan kerja para petani semua manusia akana kelaparan. Hampir semua jenis makanan berasal dari para petani. Demikian pentingnya usaha para petani itu maka dalam pewartaanNya Yesus tak segan-segan menggunakan perumpamaan yang berkaitan dengan dunia pertanian. Ia berbicara atentang para pembajak. Ia berbicara tentang para penabur. Ia berbicara tentang penggarap kebun anggur. Ia berbicara tentang para penuai. Dan hari ini lewat penggalan Injil Mateus Yesus berbicara soal cara, taktik, strategi petani berhadapan dengan lahan pertaniannya yang ditumbuhi rumpur-rumput liar. Petani yang telah menam padi dihadapkan pada masalah karena sawahnya telah ditumbuhi pelbagai rumput yang mengganggu tanaman padinya.
Seorang petani yang baik seharusnya dan hampir pasti akan memberisihkan sawahnya ketika rumput liar itu mulai bertumbuh. Dicabut langsung pada saat rumput liar itu belum besar. Tujuannya supaya rumput itu tidak menyebar ke mana-mana. Dicabut secepatnya agar tanaman padi bisa lebih leluasa hidup dan memberikan hasil yang masimal kepada petani. Tetapi anehnya dalam injil tadi Yesus meminta lain. Rumput ilalang yang mengganggu tanaman padi itu tak perlu secepatnya dicabut. Mengapa Yesus justru melarang mencabut ilalang yang mengganggu tanaman gandum itu? Tentu ada banyak alasan. Ada alasan yang praktis dan sederhana. Dan saya teringat dua tahun lalu ketika saya berlibur, saya berjalan-jalan membawa keponakan saya yang belum sekolah ke kebun kelapa. Kebun kelapa kami ditumbuhi alang-alang dan beberapa ekor sapi dibiarkan memakan rumput alang-alang itu. Saya terkejut ketika keponakan saya itu bertanya kepada saya. Mengapa padi itu dibiarkan di makan sapi? Ia tidak bisa membedakan padi dan alang-alang yang memang daun dan modelnya hampir sama. Tetapi kalau padi mulai berbulir maka dapat diketahui perbedaannya amat jelas. Mungkin itulah alasan praktis mengapa Yesus melarang mencabut ilalang dari gandum itu secepatnya.
Ada alasan lebih penting yang mau dikatakan Yesus dalam larangan tadi. Yesus melarang mencabut rumput ilalang itu karena Yesus mau mewartakan nilai kesabaran dalam kehidupan manusia. Kehidupan para petani pada dasarnya adalah kehidupan yang penuh dengan kesabaran. Ada tiga kata kunci, kata keramat yang hanya dimiliki para petani. Tiga kata itu adalah Sebar, Sabar dan Subur. Petani yang mau berhasil harus bisa sebarkan benih di ladang atau sawahnya. Sebar, menyebarkan benih itulah awal perjuangan seorang petani. Seorang petani yang menyebarkan benih itu harus bersabar. Ia tidak mungkin memaksa padi atau jagungnya dalam waktu satu minggu setelah tanam langsung berbunga. Ia harus bersabar menanti pada waktunya. Untuk sampai pada hasil yang memuaskan petani harus bekerja keras memberikan pupuk agar tanamannya bertumbuh subur. Sebarkan benih, sabar menanti dan suburkan tanaman itulah kunci keberhasilan seorang petani.
Yesus menuntut orang beriman untuk bersikap seperti seorang petani yang giat menabur, menyebarkan benih yang baik, menyuburkannya dengan cara hidup yang pantas dan menantikan hasilnya dengan kesabaran. Dan rumput liar, rumput ilalang yang digambarkan injil tadi adalah simbol kejahatan yang akan menghalang manusia dalam memajukan membagikan kebaikan. Hidup manusia dituntut untuk menghasilkan sesuatu yang baik. Namun hal itu bisa terhalang karena dalam diri manusia itu sudah ada bibit-bibit rumput liar. Kejahatan yang ada dalam diri manusia itulah rumput liar, itulah rumput ilalalng yang mengganggu kehidupan kita. Kalau kita kebetulan bertemu atau hidup dengan orang-orang yang tidak berdamai tetapi saling bermusuhan itulah wujud nyata dari rumput liar yang mengganggu kehidupan kita. Demikian pula sebaliknya, Kalau kita sulit berdamai, bekerjasama dengan orang lain berarti kita telah menjadi rumput liar atau ilalang untuk orang lain. Dan kejahatan-kejahatan itu mungkin pada awalnya sulit diketahui, tetapi lama kelamaan akan bisa dibedakan dengan jelas. Yesus meminta pengikutNya untuk bersabar dalam menghadapi kejahatan dan tantangan seperti kesabaran seorang petani menanti panen. Hanya orang yang bersabar bisa membedakan yang jahat dari yang baik. Hanya orang yang sabar yang bisa mengatasi kesulitan dengan cermat dan teliti. Tantangan yang kita hadapi akan bisa kita atasi kalau kita bersabar. Dan Paulus menguatkan kita dalam bacaan kedua tadi bahwa Roh Kudus akan mendengarkan doa dan keluhan kita yang tak terucapkan. Mudah-mudahan kita menjadi orang yang bisa belajar untuk bersabar. Bersabar itu pangkal kesuburan. Amin.
Pringwulung, 17 Juli 1999
Rm.Bone Rampung Pr
Keb.12,13.16-19; Rom.8, 26-27; Mat.13,24-30
Untuk para Suster FRPR Yogyakarta
Buka
Ada bersama, hidup bersama di antara orang yang memiliki pandangan berbeda bahkan yang berlawanan rasa-rasanya tidak gampang. Hidup bersama dengan orang yang kita benci atau yang membenci kita rasa-rasanya tidak mungkin. Tetapi tuntutan seperti itu justru menjadi keharusan bagi setiap orang yang menamakan dirinya sebagai pengikut Kristus. Untuk itu diperlukan satu semangat khusus. Situasi seperti itu terkadang membuat manusia untuk secepatnya mencari jalan pintas. Dan apa yang ditempuh dengan jalan pintas umumnya tidak bijaksana bahkan melahirkan kekecewaan. Kita berdoa semoga kita belajar dari Yesus sang guru kita untuk bersabar dalam segala tindakan dan keputusan kita. Untuk itu mari kita akui kelmahan dan dosa kita.
Renungan
Pada satu kesempatan saya bersama satu keluarga dari Jakarta sempat pesiar ke pusat kerajianan pembuatan keramik di Kasongan ke arah selatan Yogyakarta tepatnya ke arah Bantul. Sewaktu kembali pada salah satu perempatatan jalan ketika lampu merah menyala mobil kami berhenti. Pada saat itu sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi tidak memperhatikan lagi lampu merah terus meluncur. Tidak disangkanya seorang bapa yang mengayuh sepeda sedang melintas. Bapak itu terseret dan kakinya terjerat di antara rantai sepeda motor. Darah tercecer di sana. Si pemuda baru tahu bahwa ia melakukan pelanggaran. Suatu hari di kampus saya harus membayar uang kuliah semesteran. Petugas Bank seperti biasanya selalu datang terlambat. Saya termasuk orang urutan ketiga yang menunggu. Tidak lama kemudian loket pembayaran dibuka dan langsung diserbu puluhan mahasiswa yang baru bayar. Saya terjepit di antara banyak orang dan napas saya sesak. Slip pembayaran saya yang semula pada urutan ketiga ternyata sudah menempati urutan ke-65. Saya memang agak kecewa.
Dari dua penggalan pengalaman kecil yang saya ceritakan tadi tampaknya mau menampilkan satu fenomena yang perlu kita cermati dalam kehidupan kita manusia saat ini. Seorang bapa diseret sepeda motor dan saya terjepit di antara sekian banyak orang itu adalah akibat salah satu sikap yang menguasai manusia. Sikap dan fenomena apa sebenarnya yang terjadi pada dua cerita tadi? Yang mau ditampilkan tidak lain adalah soal Kesabaran. Fenomena Kesabaran rupa-rupa semakin terpinggirkan ketika orang harus bersaing dan berpacu bukan dalam melodi yang harmonis melainkan berpacu dalam waktu secara acak-acakan. Orientasi dan pemusatan kepentingan pada diri sendiri membuat orang tidak bersabar. Dan setiap bentuk ketidaksabaran hampir pasti akan membawa orang pada pelbagai bentuk kejahatan dan pelanggaran. Ketidaksabaran sering membuat orang berpikir dan bahkan bertindak serba spekulatif, untung-untungan. Ketidaksabaran membuat orang mencari jalan pintas. Dan ketika ia mengambil jalan pintas yang dipentingkan hanyalah dirinya. Orang lain berada di luar perhitungan dan petimbangannya. Ketidaksabaran cenderung membuat orang menghalalkan segala cara.
Menarik sekali apa yang dikedepankan ketiga bacaan hari ini. Ketiga bacaan tadi pada dasarnya mau memaparkan kepada kita tentang wacana kesabaran yang seharusnya dan semestinya dimiliki manusia. Sastra kebijaksanaan melihat kesabaran itu sebagai langkah yang menawarkan pertobatan. Kebijaksanaan seseorang menurut sastra kebijaksanaan tadi diukur berdasarkan berapa lama ia bersabar terhadap orang yang berdosa. Kesabaran terhadap orang yang bersalah adalah ‘byclin’ yang memungkinkan orang itu bisa bersih dari dosanya. Santo Paulus melihat dampak kesabaran manusia ke taraf yang paling tinggi. Kesabaran dalam konteks Paulus tadi menjangkau alam transenden yang melibatkan Roh Allah sendiri. Kesabaran bagi Paulus boleh dikatakan sebagai spiritualitas yang mendekatkan Allah dan manusia. Kesabaran manusia memungkinkan Allah terlibat dalam kehidupan manusia. Roh Allah mendatangi manusia yang menanti dan berharap dengan penuh kesabaran.
Yesus itu manusia yang paling praktis. Pikiran dan perkataan-Nya selalu aktual dan kontekstual. Dia tidak mempunyai teori yang luas atau mendalam tentang hakikat kesabaran itu. Sabar bagi Yesus itu tidak akan diperoleh di ruang kuliah. Belum ada di dunia ini Universitas kesabaran. Tidak ada mata kuliah yang namanya mata kuliah kesabaran. Lalu di mana orang bisa belajar tentang kesabaran itu? Menurut kita sekolah kesabaran menurut Yesus itu ada di mana? Sekolah itu ada di kebun. Dosennya adalah para petani. Lulusannya bukan bergelar S1 atau S2 melainkan S3 yaitu Sebar, Sabar dan Subur.
Tiga kata Sebar, Sabar dan Subur adalah kata kunci bahkan menjadi spiritualitas kehidupan para petani. Seorang petani yang baik harus tahu kapan ia sebarkan benih di sawah atau ladangnya. Seorang petani harus sabar menanti hasil benih yang ia sebarkan itu. Ia tak bisa memaksa padi atau jagung yang ditanamnya dalam tempo seminggu harus bisa dipanen. Ia harus sabar menunggu. Seorang petani yang baik juga harus tahu cara pemupukan yang baik agar benih yang disebarkan itu bisa bertumbuh dengan subur. Semangat petani seperti inilah yang diharapkan Yesus dari para pengikutnya. Semangat tiga S tadi belum menjadi jaminan karena orang harus berhadapan dengan seribu satu macam tantangan dan hambatan. Petani berhadapan dengan rumput liar, ilalang yang menghimpit benih yang disebarkannya. Petani yang normal pasti akan mencabut rumput liar itu sejak awal dan tidak menunggunya sampai berkembang. Itu logikanya petani kita. Tetapi logika pertanian gaya Yesus justru terbalik. Biarkan ilalang atau rumput liar itu berkembang karena pada waktunya petani bisa membedakan dengan jelas mana rumput dan mana tanaman. Yesus sebenarnya mau menegaskan sekali lagi bahwa kesabaran itu penting. Kesabaran membuat orang bisa berpikir kritis. Dalam kesabaran orang bisa membedakan yang baik dan yang salah. Dalam kesabaran orang bisa membuat pilihan keputusan yang matang. Banyak masalah dalam hidup terjadi karena bermula dari sikap yang gegabah, sikap yang kurang sabar. Banyak keputusan atau kebijaksanaan yang dibuat terburu-buru akan menghasilkan ketakatan dan kecemasan baru.
Bagi petani Yesus mengajarkan kesabaran berdasarkan konteks kerja mereka. Andaikan saat ini Yesus mau berbicara tentang kesabaran dalam kehidupan dengan konteks kita mungkin ia membadingkan kerajaan Allah itu seumpama sebuah biara yang penuh dengan calon-calon malaikat tetapi ada pula malaikat gadungannya. Menurut Yesus tidak perlu langsung mengusir malaikat gadungan itu. Biarlah ia hidup bersama kita karena pada waktunya akan jelaslah kegadungannya. Mari kita belajar semakin bersabar dalam segala tantangan hidup kita. Amin.
Pringwulung 18 Juli 1999
Rm.Bone Rampung Pr
Minggu Biasa ke-16 Th.A. 18 Juli 1999
Keb.12,13.16-19; Rom.8, 26-27; Mat.13,24-30
Buka
Salah satu sifat manusia yang bertolak belakang dengan sifat Allah sendiri adalah sikap kurang bersbar. Manusia itu cenderung segalanya berlangsung secepatnya. Terasuk pula dalam menghadapi pelbagai tantangan. Manusia terkadang tidak bersabar dalam berhadapan dengan segala kesulitan dalam hidupnya. Akibat sikap tidak mau bersabar itu orang bisa saja terjebak dalam tindakan yang tidan bijaksana. Orang bertindak gegabah dalam menghadapi kesulitan. Akibatnya orang buaknnya keluar dari masalah tetapi justru menciptakan masalah yang baru. Dalam perayaan ini kita mohonkan rahmat kesabaran itu bagi kehidupan kita masing-masing, terutama kesabaran dalam berhadapan dengan segala kesulitan hidup sehingga kita bisa menemukan jalan yang terbaik bagi kehidupan kita. Agar doa serta harapan ini berkenan pada Tuhan marilah kita akui segala kelemahan dan dosa kita.
Renungan
Apa saja pekerjaan yang bisa dilakukan oleh seorang bapak atau ibu tani? Mereka menyiapkan lahan, menyiapkan bibit, menanam, memupuk, membersihkan, menuai atau memetik. Dalam rangkaian kegiatan itu para bapak ibu tani biasanya berhadapan dengan segala macam kendala. Mereka sepertinya punya musuh dalam usaha mereka. Musuh para petani adalah hama penyakit seperti hama tikus, hama wereng, hama belalang dan sebagainya. Dan musuh petani yang paling besar itu apa? Itu adalah rumput-rumput liar yang tumbuh di lahan pertanian. Rumput liar itu bersaing ketat dengan tanaman yang ditanam para petani. Rumput liar itu merebut kesuburan pupuk yang disebarkan petani. Rumput liar itu akan menghalangi pertumbuhan tanaman secara baik. Rumput liar bisa saja menggagalkan segala usaha para petani. Rumput liar adalah musuh para petani
Corak atau bentuk kehidupan sebagai petani dapat diaktakan sebagai salah satu bentuk pekerjaan yang sungguh melambangkan perjuangan hidup manusia di dunia. Hal itu memang beralasan karena tanpa usaha dan kerja para petani semua manusia akana kelaparan. Hampir semua jenis makanan berasal dari para petani. Demikian pentingnya usaha para petani itu maka dalam pewartaanNya Yesus tak segan-segan menggunakan perumpamaan yang berkaitan dengan dunia pertanian. Ia berbicara atentang para pembajak. Ia berbicara tentang para penabur. Ia berbicara tentang penggarap kebun anggur. Ia berbicara tentang para penuai. Dan hari ini lewat penggalan Injil Mateus Yesus berbicara soal cara, taktik, strategi petani berhadapan dengan lahan pertaniannya yang ditumbuhi rumpur-rumput liar. Petani yang telah menam padi dihadapkan pada masalah karena sawahnya telah ditumbuhi pelbagai rumput yang mengganggu tanaman padinya.
Seorang petani yang baik seharusnya dan hampir pasti akan memberisihkan sawahnya ketika rumput liar itu mulai bertumbuh. Dicabut langsung pada saat rumput liar itu belum besar. Tujuannya supaya rumput itu tidak menyebar ke mana-mana. Dicabut secepatnya agar tanaman padi bisa lebih leluasa hidup dan memberikan hasil yang masimal kepada petani. Tetapi anehnya dalam injil tadi Yesus meminta lain. Rumput ilalang yang mengganggu tanaman padi itu tak perlu secepatnya dicabut. Mengapa Yesus justru melarang mencabut ilalang yang mengganggu tanaman gandum itu? Tentu ada banyak alasan. Ada alasan yang praktis dan sederhana. Dan saya teringat dua tahun lalu ketika saya berlibur, saya berjalan-jalan membawa keponakan saya yang belum sekolah ke kebun kelapa. Kebun kelapa kami ditumbuhi alang-alang dan beberapa ekor sapi dibiarkan memakan rumput alang-alang itu. Saya terkejut ketika keponakan saya itu bertanya kepada saya. Mengapa padi itu dibiarkan di makan sapi? Ia tidak bisa membedakan padi dan alang-alang yang memang daun dan modelnya hampir sama. Tetapi kalau padi mulai berbulir maka dapat diketahui perbedaannya amat jelas. Mungkin itulah alasan praktis mengapa Yesus melarang mencabut ilalang dari gandum itu secepatnya.
Ada alasan lebih penting yang mau dikatakan Yesus dalam larangan tadi. Yesus melarang mencabut rumput ilalang itu karena Yesus mau mewartakan nilai kesabaran dalam kehidupan manusia. Kehidupan para petani pada dasarnya adalah kehidupan yang penuh dengan kesabaran. Ada tiga kata kunci, kata keramat yang hanya dimiliki para petani. Tiga kata itu adalah Sebar, Sabar dan Subur. Petani yang mau berhasil harus bisa sebarkan benih di ladang atau sawahnya. Sebar, menyebarkan benih itulah awal perjuangan seorang petani. Seorang petani yang menyebarkan benih itu harus bersabar. Ia tidak mungkin memaksa padi atau jagungnya dalam waktu satu minggu setelah tanam langsung berbunga. Ia harus bersabar menanti pada waktunya. Untuk sampai pada hasil yang memuaskan petani harus bekerja keras memberikan pupuk agar tanamannya bertumbuh subur. Sebarkan benih, sabar menanti dan suburkan tanaman itulah kunci keberhasilan seorang petani.
Yesus menuntut orang beriman untuk bersikap seperti seorang petani yang giat menabur, menyebarkan benih yang baik, menyuburkannya dengan cara hidup yang pantas dan menantikan hasilnya dengan kesabaran. Dan rumput liar, rumput ilalang yang digambarkan injil tadi adalah simbol kejahatan yang akan menghalang manusia dalam memajukan membagikan kebaikan. Hidup manusia dituntut untuk menghasilkan sesuatu yang baik. Namun hal itu bisa terhalang karena dalam diri manusia itu sudah ada bibit-bibit rumput liar. Kejahatan yang ada dalam diri manusia itulah rumput liar, itulah rumput ilalalng yang mengganggu kehidupan kita. Kalau kita kebetulan bertemu atau hidup dengan orang-orang yang tidak berdamai tetapi saling bermusuhan itulah wujud nyata dari rumput liar yang mengganggu kehidupan kita. Demikian pula sebaliknya, Kalau kita sulit berdamai, bekerjasama dengan orang lain berarti kita telah menjadi rumput liar atau ilalang untuk orang lain. Dan kejahatan-kejahatan itu mungkin pada awalnya sulit diketahui, tetapi lama kelamaan akan bisa dibedakan dengan jelas. Yesus meminta pengikutNya untuk bersabar dalam menghadapi kejahatan dan tantangan seperti kesabaran seorang petani menanti panen. Hanya orang yang bersabar bisa membedakan yang jahat dari yang baik. Hanya orang yang sabar yang bisa mengatasi kesulitan dengan cermat dan teliti. Tantangan yang kita hadapi akan bisa kita atasi kalau kita bersabar. Dan Paulus menguatkan kita dalam bacaan kedua tadi bahwa Roh Kudus akan mendengarkan doa dan keluhan kita yang tak terucapkan. Mudah-mudahan kita menjadi orang yang bisa belajar untuk bersabar. Bersabar itu pangkal kesuburan. Amin.
Pringwulung, 17 Juli 1999
Rm.Bone Rampung Pr
MINGGU BIASA KE-13 TAHUN A
Minggu Biasa ke-13 Thn.A1 31-10-’99
Mal.1,14b-2,2b.8-10. 1Tes.2,7b-9.13 Mat.23,1-12
Stasi Babarsari, Baciro, Yogyakarta
Buka
Kalu kita mau mencari tahu nama Nenek moyang segala macam kejahatan di dunia ini, maka kita akan dan namanya adalah Curiga. Anak pertama dari curiga itu adalah kesombongan. Kesombongan ini kemudian menjadi nenek moyang bagi segala kejahatan lainnya. Semua kita manusia terjangkit oleh penyakit keturunan kesombongan itu. Selanjutnya manusia akan berusaha menyembunyikan penyakitnya itu dengan segala macam cara dan umumnya cara yang melahirkan penyakit baru seperti kepura-puraan dan berusaha mengaburkan identitas. Usaha untuk mengaburkan atau menyembunyikan identitas umumnya dilakukan untuk menghindar dari tantangan dan risiko yang dihadapi dalam hidup. Orang tidak mau bersaksi dengan identitas yang jelas. Marilah kita akui segala kelemahan kita. Mungkin kita telah mengaburkan identitas kita untuk mendapatkan keuntungan bagi diri kita.
Renungan
Binatang apakah yang biasanya terbang mencari makan pada malam hari? Kalong atau Kelalawar. Mengapa Kalong itu terbang dan mencari makan justru pada malam hari? Menurut cerita orang binatang Kalong itu mencari makan pada malam hari karena ada latar belakang sejarahnya. Ceritanya begini. Pada zaman dulu binatang itu dibagi menjadi tiga kelompok besar. Kelompok pertama menguasai angkasa atau udara. Kelompok kedua menguasai daratan dan kelompok ketiga menguasai kawasan perairan. Pada saat dunia dilanda krisis dan muncul demo dan ancaman disintegrasi, binatang-binatang itu berusaha tampil mengatasi krisis itu. Pada saat itulah tejadi kesalahpahaman antara binantang udara yang bisa terbang dengan binantang darat yang hanya bisa berjalan. Permusuhan antara kedua angkatan itu semakin kuat. Pasukan binatang udara dipimpin oleh panglima mereka yang namanya Kalong atau kelalawar yang dapat terbang dengan sayapnya yang lincah. Sedangkan pasukan binantang angkatan darat dipimpin oleh harimau dengan taring dan kukunya yang tajam. Peperangan antara dua angkatan binatang itu berlangsung lama dan menelan ribuan korban dari dua kubu. Melihat itu binatang air yang dipimpin ikan lumba-lumba mengundang supaya sidang dan mengadakan gencatan senajata antara dua angkatan itu. Pada saat diadakan gencatan senjata palinglima pasukan udara yaitu kalong tewas tertembak. Angkatan udara berkabung dan melakukan upacara pemakaman kalong yang tewas. Pada saat itulah binatang udara lainnya tekejut karena melihat ternyata kalong itu memiliki gigi taring dan kuku yang panjang. Binatang udara menyerahkan bangkai kalong itu kepada binatang darat, karena kalong itu bergigi seperti binatang darat. Binatang darat menerima bangkai kalong itu. Tetapi mereka juga terkejut karena kalong itu memiliki sayap untuk terbang. Binatang darat menolak bertanggung jawab atas kematian kalong itu. Binatang kalong sulit ditentukan apakah termasuk binatang udara ataukah binatang darat. Sejak saat itulah binatang kalong bersumpah sepanjang hidupnya akan terbang malam biar tidak dicurigai sebagai binatang darat atau binatang udara.
Apa sebenarnya pesan atau inti cerita tentang kalong tadi? Cerita tadi sebenarnya mau mengatakan kepada kita tentang bagaimana identitas atau tanda-tanda khusus yang memungkinkan seseroang itu dibedakan dari orang lain dan bisa dimasukkan dalam kelompok tertentu. Kalong sulit dimasukkan dalam kelompok binatang udara atau binatang darat karena memang identitasnya tidak jelas. Lebih mengherankan lagi ia terlanjur diangkat menjadi pemimpin binatang udara. Dalam status yang meragukan dan serba tak jelas ia dipercayakan sebagai pemimpin. Dengan ciri fisiknya kalong itu bisa mendapat keuntungan ganda. Kalau kekuatan binatang darat lebih unggul dia akan berpihak kepada binatang darat. Buktinya ia punya taring. Kalau kekuatan binatang udara lebih dia bisa berpihak dengan alasan ia termasuk binatang udara karena bisa terbang.
Bacaan-bacaan kitab suci yang kita dengar tadi pada intinya berbicara soal mutu dan keutuhan, integritas kehidupan seseorang.
Mutu dan integritas hidup itu dalam konteks bacaan hari ini dapat dinyatakan dalam peran sebagai pemimpin atau anggota yang dipimpim dalam suatu komunitas kehidupan. Krisis kepemimpinan dan krisis kepercayaan terhadap pemimpin merupakan penyakit lama yang sulit disembuhkan. Penyakit itu beberapa tahun terkahir menyerang bangsa kita. Mereka yang diserahi tugas memimpin bangsa kita telah menjadi kolong, beridentitas ganda, dan mencari keuntungan dalam cara-cra yang gelap. KKN adalah tindakan gaya kalong. KKN adalah usaha mempertahankan hidup dalam kegelapan. Nabi Maleakhi dalam bacaan pertama tadi mencatat bahwa orang-orang yang dipercayakan untuk memimpin masa itu tidak menjalankan tugasnya secara baik dan bertanggungjawab. Yang dipercayakan untuk memimpin dan menjadi contoh telah kehilangan identitas. Mereka memiliki identitas ganda agar meluputkan diri dari segala situasi yang tidak menguntungkan. Para pemimpin masa nabi Maleakhi telah bertindak dan hidup seperti binatang kalong. Karena itulah para imam diberi tugas untuk mengembalikan kepercayaan umat kepada Yahwe. Imam yang dimaksudkan dalam perjanjian lama ini adalah semua orang yang diberi tugas untuk memberikan kesaksian tentang Allah. Semua orang diberi tugas dan tanggungjawab untuk memberi kesaksian tentang Yahwe. Semua orang yang mendapat tugas itulah yang disebut para imam. Yang diberi tugas memberi kesaksian dituntut memberikan kesaksian itu dalam hidup yang nyata.
Setiap tugas yang diberikan kepada seseorang bisa dilihat sebagai kepercayaan dan tanggungjawab. Dan kalimat seperti ini paling banyak kita dengar beberapa hari belakangan ini. Presiden dan wakil presiden kita yang baru atau para pemimpin yang baru tak segan-segan mengatakan bahwa jabatan (presiden dan wakil presiden atau apa saja) adalah bentuk kepercayaan dan tanggungjawab yang harus diemban. Jabatan yang mereka pangku adalah tanda kemenangan demokrasi. Tanda kemenangan rakyat. Dan mereka mau mengabdi kepada rakyat. Para anggota kabinet persatuan dan Kesatuan juga mengungkapkan hal yang sama. Kita para rakyat kecil tentu akan mencermati apakah bahasa yang indah itu bisa diwujudkan nanti dalam tugas mereka. Kita menunggu apakah mereka itu tidak bakal menjadi kalong yang beraktivitas dalam gelap. Apakah mereka mampu membutktikan bahwa mereka itu patut diteladani atau tidak. Kita tentu menantikan semua itu dengan sabar.
Kita semua sebagai orang beriman mendapat tugas yang sama untuk memberi kesaksian iman kita dalam kehidupan kita. Kita sebagai orang beriman dengan cara kita masing-masing ditugaskan untuk memberi kesaksian itu. Kita semua adalah imam yang diberi tugas dan tanggungjawab memberi kesaksian tentang iman kita. Dan kita mendapat tokoh yang menjadi model dalam memberikan kesaksian itu. Santu Paulus dalam bacaan kedua tadi menegaskan kepada kita bahwa kesaksiannya itu sifatnya total, bukan setengah-setengah. Komitmennya pada kesaksian itu tidak terbagi. Paulus mendasarkan pewartaannya dalam sikap yang ramah. Dia membiarkan Allah membantunya dalam pewartaan. Kerendahan hati Paulus menjadikan ia sukses dalam pewartaannya. Tindakan-tindakan yang bersifat demonstratif bukan menjadi andalan bagi keberhasilan Paulus.
Yesus termasuk manusia yang tidak suka pada tindakan yang sifatnya demonstratif. Yesus itu bukan seorang akademisi yang menguasai pelbagai teori dan kaidah ilmiah yang akan diajarkannya kepada pengikutNya. Ia tidak punya mimbar untuk memberikan kuliah. Yesus juga bukan teknokrat yang memiliki kemampuan teknis untuk menjelaskan sesuatu. Ia tidak punya bengkel untuk menerapkan kemampuan teknis. Yesus adalah praktisi kehidupan. Sebagai praktisi kehidupan Yesus memiliki tingkat kepekaannya sangat tinggi. Berhadapan dengan petani Ia berbicara sebagai petani. Berhadapan dengan nelayan ia berbicara sebagai nelayan. Kualitas adaptasinya luar biasa. Segala sesuatu coba dilihatnya dalam kerangka yang serba sederhana, mudah untuk diingat dan praktis untuk dilaksanakan. Di atas semuanya itu ia mengajar dengan berbuat bukan dengan kata-kata. Ia telah melaksanakan dan menunjukkan apa yng bisa dilakukan para pengikutNya. Melalui Injil tadi Yesus mengingatkan para murid dan semua pengikutNya agar tidak terjebak dalam gaya hidup ahli taurat yang serba domonstratif dan teoretis. Yesus memaparkan sederetan nilai merah yang telah dikumpulkan para ahli taurat itu. Tujuan pemaparan itu tidak lain supaya para pengikutnya tidak melakukan hal yang sama.
Nilai merah yang paling besar yang diraih ahli taurat adalah sikap mereka yang latah. Mereka memaksa orang agar memanggil mereka rabi yang harus dihormati. Mereka menjadikan diri mereka sebagai objek sembah banyak orang. Mereka mengambil alih posisi Allah. Mereka mau berkuasa atas orang lain. Mereka mengklaim diri sebagai pemimpin yang harus ditaati. Penyakit keturunan dari nenek moyang mereka berupa kesombongan mulai kambuh dan kumat. Dan bagi Yesus kesombongan seperti itu tidak akan bertahan karena setiap usaha meninggikan diri sendiri akan ditimpali dengan risiko diturunkan. Yang meninggikan diri akan direndahkan.
Kita semua adalah pengikut Kristus. Kita semua mendapat mandat dan tugas yang sama untuk memberi kesaksian tentang gaya dan pola hidup yang pernah dijalani dan diakrabi Yesus. Status kita sebagai orang beriman, sebagai pengikut Kristus mewajibkan kita tampil sebagai praktisi kehidupan. Itu artinya kita dituntut untuk mengisi kehidupan kita, mengsisi segala tugas kita dengan segala sesuatu yang sesuai dengan teladan Yesus sang guru kehidupan kita. Menjalani kehidupan sesuai dengan tuntutan iman berarti kita hidup dengan identitas yang jelas. Bukannya seperti kalong yang mendatangkan masalah karena identitas yang tidak jelas. Identitas kita jelas telah dipersatukan dengan Kristus. Kita semua adalah anak terang. Bukan anak-anak kegelapan. Yesus telah membayar lunas dan membuat kita menjadi anak-anak terang. Mudah-mudahan kita tidak menjadi kalong-kalong di tengah masyarakat yang meresahkan karena kita menyukai kehidupan yang serba gelap.
Pringwulung, 31 Oktober 1999
Rm. Bonefasius Rampung Pr
Mal.1,14b-2,2b.8-10. 1Tes.2,7b-9.13 Mat.23,1-12
Stasi Babarsari, Baciro, Yogyakarta
Buka
Kalu kita mau mencari tahu nama Nenek moyang segala macam kejahatan di dunia ini, maka kita akan dan namanya adalah Curiga. Anak pertama dari curiga itu adalah kesombongan. Kesombongan ini kemudian menjadi nenek moyang bagi segala kejahatan lainnya. Semua kita manusia terjangkit oleh penyakit keturunan kesombongan itu. Selanjutnya manusia akan berusaha menyembunyikan penyakitnya itu dengan segala macam cara dan umumnya cara yang melahirkan penyakit baru seperti kepura-puraan dan berusaha mengaburkan identitas. Usaha untuk mengaburkan atau menyembunyikan identitas umumnya dilakukan untuk menghindar dari tantangan dan risiko yang dihadapi dalam hidup. Orang tidak mau bersaksi dengan identitas yang jelas. Marilah kita akui segala kelemahan kita. Mungkin kita telah mengaburkan identitas kita untuk mendapatkan keuntungan bagi diri kita.
Renungan
Binatang apakah yang biasanya terbang mencari makan pada malam hari? Kalong atau Kelalawar. Mengapa Kalong itu terbang dan mencari makan justru pada malam hari? Menurut cerita orang binatang Kalong itu mencari makan pada malam hari karena ada latar belakang sejarahnya. Ceritanya begini. Pada zaman dulu binatang itu dibagi menjadi tiga kelompok besar. Kelompok pertama menguasai angkasa atau udara. Kelompok kedua menguasai daratan dan kelompok ketiga menguasai kawasan perairan. Pada saat dunia dilanda krisis dan muncul demo dan ancaman disintegrasi, binatang-binatang itu berusaha tampil mengatasi krisis itu. Pada saat itulah tejadi kesalahpahaman antara binantang udara yang bisa terbang dengan binantang darat yang hanya bisa berjalan. Permusuhan antara kedua angkatan itu semakin kuat. Pasukan binatang udara dipimpin oleh panglima mereka yang namanya Kalong atau kelalawar yang dapat terbang dengan sayapnya yang lincah. Sedangkan pasukan binantang angkatan darat dipimpin oleh harimau dengan taring dan kukunya yang tajam. Peperangan antara dua angkatan binatang itu berlangsung lama dan menelan ribuan korban dari dua kubu. Melihat itu binatang air yang dipimpin ikan lumba-lumba mengundang supaya sidang dan mengadakan gencatan senajata antara dua angkatan itu. Pada saat diadakan gencatan senjata palinglima pasukan udara yaitu kalong tewas tertembak. Angkatan udara berkabung dan melakukan upacara pemakaman kalong yang tewas. Pada saat itulah binatang udara lainnya tekejut karena melihat ternyata kalong itu memiliki gigi taring dan kuku yang panjang. Binatang udara menyerahkan bangkai kalong itu kepada binatang darat, karena kalong itu bergigi seperti binatang darat. Binatang darat menerima bangkai kalong itu. Tetapi mereka juga terkejut karena kalong itu memiliki sayap untuk terbang. Binatang darat menolak bertanggung jawab atas kematian kalong itu. Binatang kalong sulit ditentukan apakah termasuk binatang udara ataukah binatang darat. Sejak saat itulah binatang kalong bersumpah sepanjang hidupnya akan terbang malam biar tidak dicurigai sebagai binatang darat atau binatang udara.
Apa sebenarnya pesan atau inti cerita tentang kalong tadi? Cerita tadi sebenarnya mau mengatakan kepada kita tentang bagaimana identitas atau tanda-tanda khusus yang memungkinkan seseroang itu dibedakan dari orang lain dan bisa dimasukkan dalam kelompok tertentu. Kalong sulit dimasukkan dalam kelompok binatang udara atau binatang darat karena memang identitasnya tidak jelas. Lebih mengherankan lagi ia terlanjur diangkat menjadi pemimpin binatang udara. Dalam status yang meragukan dan serba tak jelas ia dipercayakan sebagai pemimpin. Dengan ciri fisiknya kalong itu bisa mendapat keuntungan ganda. Kalau kekuatan binatang darat lebih unggul dia akan berpihak kepada binatang darat. Buktinya ia punya taring. Kalau kekuatan binatang udara lebih dia bisa berpihak dengan alasan ia termasuk binatang udara karena bisa terbang.
Bacaan-bacaan kitab suci yang kita dengar tadi pada intinya berbicara soal mutu dan keutuhan, integritas kehidupan seseorang.
Mutu dan integritas hidup itu dalam konteks bacaan hari ini dapat dinyatakan dalam peran sebagai pemimpin atau anggota yang dipimpim dalam suatu komunitas kehidupan. Krisis kepemimpinan dan krisis kepercayaan terhadap pemimpin merupakan penyakit lama yang sulit disembuhkan. Penyakit itu beberapa tahun terkahir menyerang bangsa kita. Mereka yang diserahi tugas memimpin bangsa kita telah menjadi kolong, beridentitas ganda, dan mencari keuntungan dalam cara-cra yang gelap. KKN adalah tindakan gaya kalong. KKN adalah usaha mempertahankan hidup dalam kegelapan. Nabi Maleakhi dalam bacaan pertama tadi mencatat bahwa orang-orang yang dipercayakan untuk memimpin masa itu tidak menjalankan tugasnya secara baik dan bertanggungjawab. Yang dipercayakan untuk memimpin dan menjadi contoh telah kehilangan identitas. Mereka memiliki identitas ganda agar meluputkan diri dari segala situasi yang tidak menguntungkan. Para pemimpin masa nabi Maleakhi telah bertindak dan hidup seperti binatang kalong. Karena itulah para imam diberi tugas untuk mengembalikan kepercayaan umat kepada Yahwe. Imam yang dimaksudkan dalam perjanjian lama ini adalah semua orang yang diberi tugas untuk memberikan kesaksian tentang Allah. Semua orang diberi tugas dan tanggungjawab untuk memberi kesaksian tentang Yahwe. Semua orang yang mendapat tugas itulah yang disebut para imam. Yang diberi tugas memberi kesaksian dituntut memberikan kesaksian itu dalam hidup yang nyata.
Setiap tugas yang diberikan kepada seseorang bisa dilihat sebagai kepercayaan dan tanggungjawab. Dan kalimat seperti ini paling banyak kita dengar beberapa hari belakangan ini. Presiden dan wakil presiden kita yang baru atau para pemimpin yang baru tak segan-segan mengatakan bahwa jabatan (presiden dan wakil presiden atau apa saja) adalah bentuk kepercayaan dan tanggungjawab yang harus diemban. Jabatan yang mereka pangku adalah tanda kemenangan demokrasi. Tanda kemenangan rakyat. Dan mereka mau mengabdi kepada rakyat. Para anggota kabinet persatuan dan Kesatuan juga mengungkapkan hal yang sama. Kita para rakyat kecil tentu akan mencermati apakah bahasa yang indah itu bisa diwujudkan nanti dalam tugas mereka. Kita menunggu apakah mereka itu tidak bakal menjadi kalong yang beraktivitas dalam gelap. Apakah mereka mampu membutktikan bahwa mereka itu patut diteladani atau tidak. Kita tentu menantikan semua itu dengan sabar.
Kita semua sebagai orang beriman mendapat tugas yang sama untuk memberi kesaksian iman kita dalam kehidupan kita. Kita sebagai orang beriman dengan cara kita masing-masing ditugaskan untuk memberi kesaksian itu. Kita semua adalah imam yang diberi tugas dan tanggungjawab memberi kesaksian tentang iman kita. Dan kita mendapat tokoh yang menjadi model dalam memberikan kesaksian itu. Santu Paulus dalam bacaan kedua tadi menegaskan kepada kita bahwa kesaksiannya itu sifatnya total, bukan setengah-setengah. Komitmennya pada kesaksian itu tidak terbagi. Paulus mendasarkan pewartaannya dalam sikap yang ramah. Dia membiarkan Allah membantunya dalam pewartaan. Kerendahan hati Paulus menjadikan ia sukses dalam pewartaannya. Tindakan-tindakan yang bersifat demonstratif bukan menjadi andalan bagi keberhasilan Paulus.
Yesus termasuk manusia yang tidak suka pada tindakan yang sifatnya demonstratif. Yesus itu bukan seorang akademisi yang menguasai pelbagai teori dan kaidah ilmiah yang akan diajarkannya kepada pengikutNya. Ia tidak punya mimbar untuk memberikan kuliah. Yesus juga bukan teknokrat yang memiliki kemampuan teknis untuk menjelaskan sesuatu. Ia tidak punya bengkel untuk menerapkan kemampuan teknis. Yesus adalah praktisi kehidupan. Sebagai praktisi kehidupan Yesus memiliki tingkat kepekaannya sangat tinggi. Berhadapan dengan petani Ia berbicara sebagai petani. Berhadapan dengan nelayan ia berbicara sebagai nelayan. Kualitas adaptasinya luar biasa. Segala sesuatu coba dilihatnya dalam kerangka yang serba sederhana, mudah untuk diingat dan praktis untuk dilaksanakan. Di atas semuanya itu ia mengajar dengan berbuat bukan dengan kata-kata. Ia telah melaksanakan dan menunjukkan apa yng bisa dilakukan para pengikutNya. Melalui Injil tadi Yesus mengingatkan para murid dan semua pengikutNya agar tidak terjebak dalam gaya hidup ahli taurat yang serba domonstratif dan teoretis. Yesus memaparkan sederetan nilai merah yang telah dikumpulkan para ahli taurat itu. Tujuan pemaparan itu tidak lain supaya para pengikutnya tidak melakukan hal yang sama.
Nilai merah yang paling besar yang diraih ahli taurat adalah sikap mereka yang latah. Mereka memaksa orang agar memanggil mereka rabi yang harus dihormati. Mereka menjadikan diri mereka sebagai objek sembah banyak orang. Mereka mengambil alih posisi Allah. Mereka mau berkuasa atas orang lain. Mereka mengklaim diri sebagai pemimpin yang harus ditaati. Penyakit keturunan dari nenek moyang mereka berupa kesombongan mulai kambuh dan kumat. Dan bagi Yesus kesombongan seperti itu tidak akan bertahan karena setiap usaha meninggikan diri sendiri akan ditimpali dengan risiko diturunkan. Yang meninggikan diri akan direndahkan.
Kita semua adalah pengikut Kristus. Kita semua mendapat mandat dan tugas yang sama untuk memberi kesaksian tentang gaya dan pola hidup yang pernah dijalani dan diakrabi Yesus. Status kita sebagai orang beriman, sebagai pengikut Kristus mewajibkan kita tampil sebagai praktisi kehidupan. Itu artinya kita dituntut untuk mengisi kehidupan kita, mengsisi segala tugas kita dengan segala sesuatu yang sesuai dengan teladan Yesus sang guru kehidupan kita. Menjalani kehidupan sesuai dengan tuntutan iman berarti kita hidup dengan identitas yang jelas. Bukannya seperti kalong yang mendatangkan masalah karena identitas yang tidak jelas. Identitas kita jelas telah dipersatukan dengan Kristus. Kita semua adalah anak terang. Bukan anak-anak kegelapan. Yesus telah membayar lunas dan membuat kita menjadi anak-anak terang. Mudah-mudahan kita tidak menjadi kalong-kalong di tengah masyarakat yang meresahkan karena kita menyukai kehidupan yang serba gelap.
Pringwulung, 31 Oktober 1999
Rm. Bonefasius Rampung Pr
MINGGU BIASA KE-12 TAHUN A
MINGGU BIASA KE-12 THN.A1
Yer.20:10-13; Rom.5:12-15; Mat.10:26-33
KETAKUTAN YANG KREATIF
Buka
Katakutan bisa membuat orang tidak mau melakukan sesuatu atau sebaliknya ketakutan membuat orang bisa melakukan sesuatu. Setiap pilihan terhadap alternatif yang memungkinkan orang merasa takut selalu membawa konsekuensi atau akibat tertentu. Sebagai orang beriman kita sering berhadapan dengan pilihan atau kenyataan yang yang berbuntut ketakutan. Dan hal itu membuat orang tidak kreatif. Orang menjadi kerdil. Orang beriman dalam pandangan Yesus haruslah kreatif. Kretaivitas orang beriman harus bertumpu pada ketakutan akan Allah. Kita bertanya diri apakah kita lebih takut kepada Allah atau lebih takut kepada manusia? Saya mengaku….
Renungan
Siapa Takut? Pertanyaan ini bukan sekadar basa-basi yang diluncurkan dalam bentuk pariwara atau iklan tentang produk tebaru melalui media massa kita. Siapa takut? Pertanyaan ini sangat menantang dan mungkin lebih tepat dikatakan sebagai pertanyaan yang bernada provokatif. Pertanyaan ini dapat diinterpretasi ganda yaitu tidak ada lagi orang yang takut, tidak ada lagi sesuatu yang ditakuti dan jangan atau tidak perlu takut.
Katakutan dapat membuat orang tidak mau melakukan sesuatu atau sebaliknya ketakutan membuat orang bisa melakukan sesuatu. Setiap pilihan terhadap alternatif yang memungkinkan orang merasa takut selalu membawa konsekuensi atau akibat tertentu. Sebagai orang beriman, kita sering berhadapan dengan pilihan atau kenyataan yang yang berbuntut ketakutan. Dan hal itu membuat orang tidak kreatif. Orang menjadi kerdil.
Orang beriman dalam pandangan Yesus haruslah kreatif. Kretaivitas orang beriman harus bertumpu pada ketakutan akan Allah. Dalam masa reformasi seperti sekarang ini, tampaknya kata takut atau ketakutan mulai menjauh dari kehidupan kita. Era reformasi adalah era keberanian. Era penyingkiran rasa takut yang memungkinkan bahkan memberikan harapan baru bagi manusia untuk dapat hidup dan menjalankan kehidupan ini secara baik. Badai reformasi telah menafasi pelbagai aspek kehidupan kita. Saat ini pun telah muncul nabi-nabi baru yang menuntut kekebasan, keterbukaan, keadilan, dan kebenaran. Semua orang semakin berani menuntut haknya dengan pelbagai macam cara dan sarana.
Menempatkan teks-teks kitab suci yang dibacakan untuk kita pada hari Minggu ke-12 ini dalam konteks reformasi rasa-rasanya tidak relevan dan tidak aktual bagi kita. Mengapa? Karena saat ini hampir semua orang sudah mulai berani terhadap siapa saja dalam masalah apa saja. Dan bacaan-bacaan minggu ini mengingatkan kita supaya jangan takut. Apakah benar hidup kita telah sungguh-sungguh bebas dari rasa takut itu?
Sehebat apa pun keberanian manausia, sekuat apa pun tuntutan reformasi yang kita alami menurut hemat saya tidak akan membebaskan kita dari gangguan sahabat karib kita yang namanya Takut atau ketakutan itu. Kalau kita jujur dan mencoba melihat keseluruhan pengalaman hidup kita maka kita akan sampai pada satu titik kesimpulan bahwa hidup kita manusia dianyam dari ketakutan-ketakutan dan dibangun di atas ketakutan. Kalau boleh saya katakan hidup kita ini berarti di diberi arti justru karena adanya jalanan ketakutan dalam diri dan hidup kita. Saya boleh pastikan bahwa kalau ada dari antara kita ini merasa diri tidak memiliki ketakutan maka betapa kerdil hidup orang itu. Ketakutan memungkinkan orang kreatif dan dinamis. Rumah-rumah dipagar tembok dan digembok berlapis-lapis takut dijarah maling. Semua pengemudi kendaraan harus memperhatikan rambu-rambu lalu lintas, takut ditilang polisi. Barang-barang impor harus ditelititi takut tercemar atau terkontaminasi dioksin yang membayakan. Orang berlajar karena takut ketinggalan pengetahuan. Partai-partai politik menggunakan cara-cara yang kurang terpuji karena takut kalah dalam pemilu. Para pejabat menumpukkan harta ilegal karena takut tanpa harta menjelang usia senja. Orang-orang rajin berdoa karena takut masuk neraka. Singkatnya orang berbuat sesuatu entah itu sifat baik atau buruk selalu bermula dari adanya perasaan takut. Ketakutan mendahului keberanian untuk melakukan sesuatu.
Ketakutan dapat memposisikan manusia pada dua pilihan yang saling berseberangan. Karena merasa takut orang bisa melakukan kejahatan. Tetapi karena rasa takut juga orang bisa melakukan sesuatu yang baik. Dalam konteks seperti ini maka menurut hemat saya ada dua jenis ketakutan. Jenis yang pertama adalah ketakutan Primitif (status quo). Dan ketakutan jenis kedua adalah ketakutan Modern. Katakutan primitif adalah ketakutan yang mendorong orang melakukan segala yang jahat. Sebaliknya ketakutan modern adalah ketakutan yang memungkinkan orang terlibat dalam pelbagai tindakan yang baik, yang membawa kemajuan bagi dunia dan kehidupan manusia. Dalam kehidupan manusia, ketakutan primitif cenderung menguasai manusia. Katakutan primitif itu ada sejak manusia pertama Adam dan Hawa terlibat dalam satu rekayasa karena takut. Mereka takut tidak sama seperti Allah membuat pasangan itu berani makan sesuatu yang dilarang. Adam dan Hawa mewariskan model ketakutan primitif, ketakutan status quo. Surat Paulus kepada jemaat Roma dalam bacaan kedua tadi memberikan penjelasan tentang hal ini. Dan konsekuensi atau akibat dari pewarisan ketakutan primitif itu tidak tanggung-tanggung. Maut dan kematian adalah konsekuensi dari pewarisan ketakutan primitif sejak Adam, sampai masa kepemimpinan Musa.
Yesus adalah tokoh atau figur yang paling radikal dalam menuntut perombakan atau proses reformasi terhadap kehidupan manusia. Yesus di utus ke dunia untuk melakukan reformasi total terhadap dunia. Yesus diutus ke dunia untuk mengalahkan ketakutan primitif yang memperbudak manusia. Yesus datang mau mewariskan kepada dunia sebuah ketakutan bercorak modern, ketakutan yang bernada reformis, ketakutan yang mendorong manusia menghindarkan diri dari segala tindakan dan perbuatan yang tercela. Yesus datang dan menuntut manusia untuk takut kepada Allah yang memungkinkan manusia mengharapkan kehidupan. Ketakutan primitif yang diwariskan sejak Adam ditaklukan dengan ketakutan reformis, ketakutan yang menghidupkan di tangan Yesus.
Reformasi yang tengah kita banggakan saat ini belumlah reformasi seperti yang diharapkan Yesus. Kita semua masih dikelompokkan sebagai orang yang dikuasai ketakutan primitif. Karena itu, ajakan Yesus “janganlah kamu takut” masih aktual, masih relevan untuk kehidupan kita. Yesus menuntut para pengikut-Nya agar tidak takut menghadapi manusia yang dikuasai ketakutan primitif. Yesus membekali umat beriman dengan ketakutan modern, ketakutan reformis. Dan Tuhan sejak zaman para nabi seperti Yeremia dalam bacaan pertama telah mencanangkan proses reformasi itu. Yeremia diutus dan dikenal sebagai nabi yang paling takut kepada Tuhan sehingga ia berani menentang para pejabat dan penguasa yang lalim saat itu. Yeremia berhasil membongkar kelaliman dan pelbagai tindakan rekayasa politik pada masa itu. Ia berani mempertaruhkan hidupnya di tangan Tuhan dalam rangka memerangi manusia-manusia yang enggan melepaskan warisan ketakutan primitifnya.
Tuntutan Yesus dalam injil hari ini sungguh menantang kita. Pernyataan Yesus pada dasarnya mengharapkan kita sebagai pengikut-Nya untuk tampil sebagai nabi yang memiliki ketakutan akan Allah untuk mengalahkan ketakutan-ketakutan yang memperpanjang staus quo kedosaan manusia. Menyangkal Allah dan hidup berlawanan dengan kehendak Allah sama artinya kita melilih ketakut primitif. Risikonya adalah maut dan kematian. Mengakui Allah dan melakukan kehendak-Nya akan menjadikan kita sebagai kelompok reformis. Yesus menantang kita entahkah kita pilih mengakui Allah atau menyangkalnya. Kekuatan-kekuatan jahat yang lahir dari ketakutan primitif akan terus kita hadapi, tetapi Tuhan memberi jaminan kemenanagan buat kita yang membela dan berpihak kepada kebenaran. Karena itu, kita boleh mengibarkan panji bertulisakna “Kalau Allah di pihak kita siapakah yang berani melawan dan mengalahkan kita?” Mudah-mudahan kita lebih takut kepada Allah dari pada takut kepada manausia. Amin
Pringwulung, 19 Juni 1999
Rm.Bonefasius Rampung Pr
Yer.20:10-13; Rom.5:12-15; Mat.10:26-33
KETAKUTAN YANG KREATIF
Buka
Katakutan bisa membuat orang tidak mau melakukan sesuatu atau sebaliknya ketakutan membuat orang bisa melakukan sesuatu. Setiap pilihan terhadap alternatif yang memungkinkan orang merasa takut selalu membawa konsekuensi atau akibat tertentu. Sebagai orang beriman kita sering berhadapan dengan pilihan atau kenyataan yang yang berbuntut ketakutan. Dan hal itu membuat orang tidak kreatif. Orang menjadi kerdil. Orang beriman dalam pandangan Yesus haruslah kreatif. Kretaivitas orang beriman harus bertumpu pada ketakutan akan Allah. Kita bertanya diri apakah kita lebih takut kepada Allah atau lebih takut kepada manusia? Saya mengaku….
Renungan
Siapa Takut? Pertanyaan ini bukan sekadar basa-basi yang diluncurkan dalam bentuk pariwara atau iklan tentang produk tebaru melalui media massa kita. Siapa takut? Pertanyaan ini sangat menantang dan mungkin lebih tepat dikatakan sebagai pertanyaan yang bernada provokatif. Pertanyaan ini dapat diinterpretasi ganda yaitu tidak ada lagi orang yang takut, tidak ada lagi sesuatu yang ditakuti dan jangan atau tidak perlu takut.
Katakutan dapat membuat orang tidak mau melakukan sesuatu atau sebaliknya ketakutan membuat orang bisa melakukan sesuatu. Setiap pilihan terhadap alternatif yang memungkinkan orang merasa takut selalu membawa konsekuensi atau akibat tertentu. Sebagai orang beriman, kita sering berhadapan dengan pilihan atau kenyataan yang yang berbuntut ketakutan. Dan hal itu membuat orang tidak kreatif. Orang menjadi kerdil.
Orang beriman dalam pandangan Yesus haruslah kreatif. Kretaivitas orang beriman harus bertumpu pada ketakutan akan Allah. Dalam masa reformasi seperti sekarang ini, tampaknya kata takut atau ketakutan mulai menjauh dari kehidupan kita. Era reformasi adalah era keberanian. Era penyingkiran rasa takut yang memungkinkan bahkan memberikan harapan baru bagi manusia untuk dapat hidup dan menjalankan kehidupan ini secara baik. Badai reformasi telah menafasi pelbagai aspek kehidupan kita. Saat ini pun telah muncul nabi-nabi baru yang menuntut kekebasan, keterbukaan, keadilan, dan kebenaran. Semua orang semakin berani menuntut haknya dengan pelbagai macam cara dan sarana.
Menempatkan teks-teks kitab suci yang dibacakan untuk kita pada hari Minggu ke-12 ini dalam konteks reformasi rasa-rasanya tidak relevan dan tidak aktual bagi kita. Mengapa? Karena saat ini hampir semua orang sudah mulai berani terhadap siapa saja dalam masalah apa saja. Dan bacaan-bacaan minggu ini mengingatkan kita supaya jangan takut. Apakah benar hidup kita telah sungguh-sungguh bebas dari rasa takut itu?
Sehebat apa pun keberanian manausia, sekuat apa pun tuntutan reformasi yang kita alami menurut hemat saya tidak akan membebaskan kita dari gangguan sahabat karib kita yang namanya Takut atau ketakutan itu. Kalau kita jujur dan mencoba melihat keseluruhan pengalaman hidup kita maka kita akan sampai pada satu titik kesimpulan bahwa hidup kita manusia dianyam dari ketakutan-ketakutan dan dibangun di atas ketakutan. Kalau boleh saya katakan hidup kita ini berarti di diberi arti justru karena adanya jalanan ketakutan dalam diri dan hidup kita. Saya boleh pastikan bahwa kalau ada dari antara kita ini merasa diri tidak memiliki ketakutan maka betapa kerdil hidup orang itu. Ketakutan memungkinkan orang kreatif dan dinamis. Rumah-rumah dipagar tembok dan digembok berlapis-lapis takut dijarah maling. Semua pengemudi kendaraan harus memperhatikan rambu-rambu lalu lintas, takut ditilang polisi. Barang-barang impor harus ditelititi takut tercemar atau terkontaminasi dioksin yang membayakan. Orang berlajar karena takut ketinggalan pengetahuan. Partai-partai politik menggunakan cara-cara yang kurang terpuji karena takut kalah dalam pemilu. Para pejabat menumpukkan harta ilegal karena takut tanpa harta menjelang usia senja. Orang-orang rajin berdoa karena takut masuk neraka. Singkatnya orang berbuat sesuatu entah itu sifat baik atau buruk selalu bermula dari adanya perasaan takut. Ketakutan mendahului keberanian untuk melakukan sesuatu.
Ketakutan dapat memposisikan manusia pada dua pilihan yang saling berseberangan. Karena merasa takut orang bisa melakukan kejahatan. Tetapi karena rasa takut juga orang bisa melakukan sesuatu yang baik. Dalam konteks seperti ini maka menurut hemat saya ada dua jenis ketakutan. Jenis yang pertama adalah ketakutan Primitif (status quo). Dan ketakutan jenis kedua adalah ketakutan Modern. Katakutan primitif adalah ketakutan yang mendorong orang melakukan segala yang jahat. Sebaliknya ketakutan modern adalah ketakutan yang memungkinkan orang terlibat dalam pelbagai tindakan yang baik, yang membawa kemajuan bagi dunia dan kehidupan manusia. Dalam kehidupan manusia, ketakutan primitif cenderung menguasai manusia. Katakutan primitif itu ada sejak manusia pertama Adam dan Hawa terlibat dalam satu rekayasa karena takut. Mereka takut tidak sama seperti Allah membuat pasangan itu berani makan sesuatu yang dilarang. Adam dan Hawa mewariskan model ketakutan primitif, ketakutan status quo. Surat Paulus kepada jemaat Roma dalam bacaan kedua tadi memberikan penjelasan tentang hal ini. Dan konsekuensi atau akibat dari pewarisan ketakutan primitif itu tidak tanggung-tanggung. Maut dan kematian adalah konsekuensi dari pewarisan ketakutan primitif sejak Adam, sampai masa kepemimpinan Musa.
Yesus adalah tokoh atau figur yang paling radikal dalam menuntut perombakan atau proses reformasi terhadap kehidupan manusia. Yesus di utus ke dunia untuk melakukan reformasi total terhadap dunia. Yesus diutus ke dunia untuk mengalahkan ketakutan primitif yang memperbudak manusia. Yesus datang mau mewariskan kepada dunia sebuah ketakutan bercorak modern, ketakutan yang bernada reformis, ketakutan yang mendorong manusia menghindarkan diri dari segala tindakan dan perbuatan yang tercela. Yesus datang dan menuntut manusia untuk takut kepada Allah yang memungkinkan manusia mengharapkan kehidupan. Ketakutan primitif yang diwariskan sejak Adam ditaklukan dengan ketakutan reformis, ketakutan yang menghidupkan di tangan Yesus.
Reformasi yang tengah kita banggakan saat ini belumlah reformasi seperti yang diharapkan Yesus. Kita semua masih dikelompokkan sebagai orang yang dikuasai ketakutan primitif. Karena itu, ajakan Yesus “janganlah kamu takut” masih aktual, masih relevan untuk kehidupan kita. Yesus menuntut para pengikut-Nya agar tidak takut menghadapi manusia yang dikuasai ketakutan primitif. Yesus membekali umat beriman dengan ketakutan modern, ketakutan reformis. Dan Tuhan sejak zaman para nabi seperti Yeremia dalam bacaan pertama telah mencanangkan proses reformasi itu. Yeremia diutus dan dikenal sebagai nabi yang paling takut kepada Tuhan sehingga ia berani menentang para pejabat dan penguasa yang lalim saat itu. Yeremia berhasil membongkar kelaliman dan pelbagai tindakan rekayasa politik pada masa itu. Ia berani mempertaruhkan hidupnya di tangan Tuhan dalam rangka memerangi manusia-manusia yang enggan melepaskan warisan ketakutan primitifnya.
Tuntutan Yesus dalam injil hari ini sungguh menantang kita. Pernyataan Yesus pada dasarnya mengharapkan kita sebagai pengikut-Nya untuk tampil sebagai nabi yang memiliki ketakutan akan Allah untuk mengalahkan ketakutan-ketakutan yang memperpanjang staus quo kedosaan manusia. Menyangkal Allah dan hidup berlawanan dengan kehendak Allah sama artinya kita melilih ketakut primitif. Risikonya adalah maut dan kematian. Mengakui Allah dan melakukan kehendak-Nya akan menjadikan kita sebagai kelompok reformis. Yesus menantang kita entahkah kita pilih mengakui Allah atau menyangkalnya. Kekuatan-kekuatan jahat yang lahir dari ketakutan primitif akan terus kita hadapi, tetapi Tuhan memberi jaminan kemenanagan buat kita yang membela dan berpihak kepada kebenaran. Karena itu, kita boleh mengibarkan panji bertulisakna “Kalau Allah di pihak kita siapakah yang berani melawan dan mengalahkan kita?” Mudah-mudahan kita lebih takut kepada Allah dari pada takut kepada manausia. Amin
Pringwulung, 19 Juni 1999
Rm.Bonefasius Rampung Pr
MINGGU BIASA KE-10 TAHUN A
HARI MINGGU BIASA X TH.A2
Hosea 6: 3b-6; Rom. 4:18-25; Mat. 9: 9-13
Seminari Pius XII Kisol
Buka
Orang biasanya membandingkan pola perilaku kehidupan orang barat dengan pola perilaku kehdupan kita orang Timur. Ada banyak variabel yang dapat dipakai untuk membandingkan dua pola perilaku masyarakat tersebut. Berbeda dalam sikap terhadap waktu. Berbeda dalam mental kerja atau etos kerja berbeda dalam aspek kerumitan berbahasa. Dari sekian banyak variabel itu ada satu variabel yang penting yang membedakan orang barat dan orang timur. Orang barat biasanya mampu membuat distingsi atau pembedaan yang jelas antara perbuatan seseorang dengan kepribadiannya. Orang timur tidak membedakan hal itu. Hal ini sangat menentukan cara dan sikap orang barat dan orang timur terhadap seseorang. Orang barat biasanya lebih rasional karena orang boleh membenci pendapat seseroang tetapi tidak membenci diri orangnya. Kita orang timur biasanya lebih emosional sehingga kita pakai sistem sapu bersih artinya kalau gagasan seseorang ditolak sama dengan kepribadiannya ditolak. Sikap seperti ini tampaknya mendekati sikap ahli taurat dan orang farisi. Kelemahan kita orang timur adalah mencampuradukan segala hal tidak pada tempatnya. Marilah kita akui kelamhan dan dosa kita
Renungan
Seperti biasa, saya akan memulai renungan ini dengan cerita. Judul cerita ini adalah: Tragedi Si benjol” Benjol adalah nama seorang pemuda desa. Pada suatu waktu Benjol mengunjungi familinya di sebuah kota kecil. Pagi-pagi sebelum semua orang bangun, Benjol bangun lebih dahulu dengan perhitungan agar segala kebiasaan dari kampungnya bisa dilaksankan dengan baik. Benjol ingin membereskan segala urusan pribadinya pagi-pagi buta karena kebiasaan di kampungnya ia biasa membereskan urusan membuang-buang barang yang tidak perlu itu hanya mengandalkan kegelapan pagi atau kalau agak terpaksa kesiangan biasanya barang yang tidak perlu itu dibuang dibalik pohon besar atau di balik batu besar, biar tidak terpantau. Ia bermaksud menuju rumpun pohon pisang demi keamanan. Malang benar nasib si Benjol pagi itu. Sebelum sampai rumpun pisang Benjol terjerembab ke dalam lubang wc yang baru digali milik tetangga. Lubang wc itu sangat dalam dan ukurannya kecil. Dari dalam lubang itu si Benjol berteriak histeris. Selama beberapa jam ia berjuang tetapi gagal. Menjelang waktu kerja pagi orang mulai sibuk. Benjol terus berteriak. Kebetulan lewat seorang guru matematika. Ia melihat ke dalam lubang lalu berkata: dahulu Anda pasti tidak mengikuti pelajaran matematika dengan baik. Inilah akibatnya. Jalan tidak pakai hitungan matematis yang cermat. Saya belum bisa menolong Anda karena takut telat masuk kelas. Lalu datanglah seorang guru fisika. Dia melihat ke dalam lubang, lalu bertanya: Apakah Anda tidak pernah belajar tentang hukum gravitasi yang diajarkan Isac Newton. Benjol menjawab saya tidak pernah bertemu orang yang nama gravitasi itu. Karena jengkel guru fisika itu lalu pergi. Lalu muncul seorang guru sosiologi. Ia melihat ke dalam dan bertanya: apakah anda tidak pernah belajar sosiologi yang menjelaskan di sekitar rumah warga masyarakat harus ada lubang wc. Benjol menjawab. Di kampung saya tidak ada lubang seperti ini. Lalu mucul seorang insinyur bangunan. Ia melihat keadaan lubang wc itu dan berkata. Saya akan menolong Anda, tetapi tunggulah dengan sabar karena saya harus kembali mengambil rol meteran untuk mengukur kedalaman dan lebar lubang wc ini. Sementara itu datanglah seorang bapak penjual pisang. Tanpa omong banyak ia mengambil kayu pemikul pisangnya, dan langsung melompat masuk ke dalam lubang. Ia meminta si Bendol naik ke atas bahunya sampai berhasil keluar dari lubang itu. Si benjol menarik penjual pisang itu keluar dengan bantuan kayu pemikul yang sama.
Nasib si Benjol adalah nasib umum manusia. Semenjak manusia pertama terjebak dalam ketidaksetiaan, manusia bagaikan jatuh ke dalam lubang yang tidak terjembatani. Situasi dosa adalah kondisi, keberadaan manusia di dalam lubang yang dalam dan mematikan. Dalam kondisi seperti itu manusia mengharapkan datangnya bantuan dan pertolongan. Bantuan dan pertolongan artinya adanya unsur yang menjembatani kembali keterpisahan manusia dari Tuhan. Kejatuhan itulah dosa dan dosa adalah sesuatu yang dibenci oleh manusia, sebab dosa itu mengancam kehidupan manusia. Dosa yang bersengatkan maut tak henti hentinya mengancam manusia menuju kebinasaan dan kehancuran. Inilah alasan mengapa dosa itu dibenci oleh manusia. Yang pantas menjadi musuh kita semua hanyalah dosa, dan bukan pelakunya. Namun ini kelihatannya hanya sebuah teori. Dalam praktiknya manusia sulit sekali memisahkan dosa dari pelakunya. Dosa masih sering diidentikkan atau disatukan dengan pelakunya.
Inilah sikap dasar orang Farisi terhadap orang berdosa. Sebab itu ketika Tuhan Yesus memanggil Matius untuk mengikuti Dia, dan ketika Dia mendatangi rumahnya serta makan dan minum bersamanya, orang Farisi langsung merasa "jijik" dan bertanya kepada murid murid Nya: "Mengapa gurumu makan bersama sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa". Orang orang Farisi tidak setuju dan tidak senang kalau Yesus mendekati orang orang berdosa dan makan dan minum bersama sama dengan mereka, sebab bagi mereka dosa dan pelakunya tetap menjadi satu. Maka kalau dosa dibenci, pelakunya juga dengan sendirinya mesti dijauhi dan ditolak.
Bagaimanakah sikap Yesus? Dengan tegas Tuhan Yesus berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kuke¬hendaki ialah belaskasihan dan bukan persembahan karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdo¬sa". Orang sakit dan orang berdosa menjadi priori¬tas misi, perhatian dan pelayanan Tuhan, sebab yang diutamakan oleh Nya adalah belaskasihan. Belaskasihan mengalahkan kuasa maut dan dosa. Komitmen Yesus untuk menyelamatkan pendosa atau manusia yang terjerembab ke dalam lumpur dosa bukanlah teori semata. Komitmen Yesus adalah komitmen praktis. Dia tidak belajar perhitungan matematis saat orang jatuh ke dalam dosa. Dia tidak menggunakan argumentasi ilmiah dalam menolong orang. Dia tidak membutuhkan perhitungan seperti seorang ahli bangunan ketika berhadapan dengan manusia yang jatuh. Yesus bukan seorang ahli matematika, bukan juga ahli fisika. Meskipun anak tukang kayu Yesus tidak bergelar insinyur bangunan. Yesus tidak mau repot dengan semuanya itu. Kriteria yang digunakan Yesus terlampau pragmatis dan memang itulah yang praktis. Kriteria yang dia pakai adalah rasa belas kasih kepada manusia. Ia secara praktis mengajarkan sekaligus menunjukkan bagaimana harus bersikap terhadap para pendosa. Ia memanggil dan bahkan makan bersama orang berdosa. Ia tidak mau berteori banyak seperti orang farisi dan ahli taurat. Ia langsung terjun ke dalam lubang situasi pengalaman manusia seperti si penjual pisang yang menyelamatkan si Benjol itu. Yesus tidak berkata banyak tetapi berbuat banyak. Orang farisi dan ahli taurat selalu berkata banyak tetapi berbuat tidak banyak bahkan tidak berbuat apa-apa.
Kehadiran Yesus orang yang jatuh dalam dosa membawa nuansa tersendiri dan terbilang unik. Bagi orang berdosa, Tuhan dengan belaskasihan Nya tampil sebagai "Fajar matahari dan rintik hujan". Sebagai fajar matahari, Tuhan yang berbelas kasihan membakar segala "semak dan sarang" dosa dalam diri kita, dan sekaligus, menumbuhkan benih benih kehidupan baru dalam diri kita. Sebagai rintik air hujan yang deras, Tuhan yang berbelaskasihan mengguyur habis segala dosa dari dalam diri kita. Dengan itu, kita menjadi bersih, suci dan murni sebagai anak anak Nya. Kita terangkat dari jurang yang dalam. Manusia jatuh ke dalam dosa, kadang-kadang menyerupai pengalaman si Benjol tadi. Jatuh dan berdosa memang tidak pernah kita kehendaki tetapi oleh godaan setan dosa itu datang seperti pencuri ke dalam "rumah hati" kita.
Tuhan sudah berupaya maksimal untuk menyelamatkan kita dengan darah dan kehidupan Putra-Nya. Lalu, apa balasan dan tanggapan kita terhadap upaya Tuhan itu? Tuhan tidak menuntut banyak. Nubuat Hosea dalam bacaan pertama memberikan jawaban. Tuhan hanya meminta kita untuk tetap setia kepada-Nya dan tetap mengenal Dia dalam kelemahan dan kerapuhan kita. Hosea mencatat: Inilah kehendak Tuhan sendiri kepada kita. "Aku menyukai kasih setia dan bukan korban sembelihan, dan menyu¬kai pengenalan Allah, lebih daripada korban korban bakaran" (Hos 6:6). Tuhan setia kepada kita dan mengenal kita dengan segala kelemahan dan dosa kita. Sebab itu, kita juga setia kepada Dia dan mengenal Dia dalam keadaan yang rapuh dan berdosa. Dengan bersi¬kap setia kepada Tuhan dan mengenal Dia dalam kerapuhan kita, kita akan terdorong untuk membenci dosa, menarik diri atau menjauhkan diri dari dosa itu untuk kembali menghayati hidup yang baik dan benar, sesuai dengan martabat diri kita yang luhur sebagai anak anak Allah.
Manusia harus mengabdi Tuhan dan melepaskan dosa. Mengapa? Karena Tuhan sendiri menegaskan: "Tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat men¬gabdi kepada Allah dan kepada iblis”. Dalam arti ini, kalau kita mengenal Tuhan dan mengasihi Dia, maka dengan sendir-inya kita menjauhi dan membenci dosa. Kalau kita dekat kepada Tuhan, maka pasti kita jauh dari dosa atau dosa jauh dari kita. Kalau kita mengabdi Tuhan, maka tentu kita juga akan menolak dan menghindari dosa, sebab kita tidak mungkin mengabdi kedua duanya. Kalau kita mengabdi kedua duanya, kita sendiri akan kacau balau, Tuhan dan setan juga akan berperang terus menerus dalam upaya merebut kita. Kita manusia adalah wilayah persengketaan atau perebutan dari dua kekuatan antara Tuhan dan setan. Karena itu, supaya kita menang dan aman, serahkanlah saja diri kita kepada Tuhan, dan cintailah hanya Dia dalam kesetiaan yang penuh terhadap Nya, sehingga setan dan dosa tidak berdaya atas diri kita.
Abraham seperti disebut oleh Santo Paulus dalam bacaan kedua dapat menjadi contoh kita dalam hal ini. "Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya. Imannya tidak menjadi lemah tetapi ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah dengan penuh keyakinan bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
Karena dosa, kita sering menjadi lemah dan tak berdaya. Atau juga karena kita lemah dan tak berdaya, maka kita sering berdosa. Seperti Abraham hendaknya kita yakin bahwa "Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan" kepada kita. Janganlah takut, sebab Aku menyertai kamu untuk menyelamatkan kamu dan untuk melepaskan kamu dari tangan setan, dari jaringan dosa dan "jerat maut".
Tentu kita semua tidak mau terus berada dalam jurang yang gelap dan karena itu kita dituntut untuk selalu mencari pertolongan. Dan pertolongan kita adalah Tuhan. Yesus telah memberikan petunjuk untuk kita para pengikut-Nya dalam melakukan tindakan yang praktis, membeci dosa tetapi tetap mencintai manusia. Ibarat kita diberi kacang sukro, kita membuang kulit pembungkusnya agar menikmati enaknya kacang sukro. Membuang dan meninggalkan dosa seseroang tetapi tetap mencintai diri orangnya. Kalau pakaian kita kotor kita mencucinya agar kotornya hilang, dan bukan pakaiannya yang dibuang. Pakaian itu lebih penting dari kotorannya, manusia lebih penting dari dosanya. Dan itulah argumentasi utama Yesus berhadapan dengan orang farisi dan ahli Taurat. Argumentasi itulah yang harus kita gunakan. Jika tidak, kelak kita akan menghadap Tuhan dengan benjolan-benjolan dosa kita. Kita boleh mengalami nasib seperti si Benjol tetapi bukan bermaksud menghiasi diri dengan benjolan dosa. Amin.
Rm.Bone Rampung, Pr
Hosea 6: 3b-6; Rom. 4:18-25; Mat. 9: 9-13
Seminari Pius XII Kisol
Buka
Orang biasanya membandingkan pola perilaku kehidupan orang barat dengan pola perilaku kehdupan kita orang Timur. Ada banyak variabel yang dapat dipakai untuk membandingkan dua pola perilaku masyarakat tersebut. Berbeda dalam sikap terhadap waktu. Berbeda dalam mental kerja atau etos kerja berbeda dalam aspek kerumitan berbahasa. Dari sekian banyak variabel itu ada satu variabel yang penting yang membedakan orang barat dan orang timur. Orang barat biasanya mampu membuat distingsi atau pembedaan yang jelas antara perbuatan seseorang dengan kepribadiannya. Orang timur tidak membedakan hal itu. Hal ini sangat menentukan cara dan sikap orang barat dan orang timur terhadap seseorang. Orang barat biasanya lebih rasional karena orang boleh membenci pendapat seseroang tetapi tidak membenci diri orangnya. Kita orang timur biasanya lebih emosional sehingga kita pakai sistem sapu bersih artinya kalau gagasan seseorang ditolak sama dengan kepribadiannya ditolak. Sikap seperti ini tampaknya mendekati sikap ahli taurat dan orang farisi. Kelemahan kita orang timur adalah mencampuradukan segala hal tidak pada tempatnya. Marilah kita akui kelamhan dan dosa kita
Renungan
Seperti biasa, saya akan memulai renungan ini dengan cerita. Judul cerita ini adalah: Tragedi Si benjol” Benjol adalah nama seorang pemuda desa. Pada suatu waktu Benjol mengunjungi familinya di sebuah kota kecil. Pagi-pagi sebelum semua orang bangun, Benjol bangun lebih dahulu dengan perhitungan agar segala kebiasaan dari kampungnya bisa dilaksankan dengan baik. Benjol ingin membereskan segala urusan pribadinya pagi-pagi buta karena kebiasaan di kampungnya ia biasa membereskan urusan membuang-buang barang yang tidak perlu itu hanya mengandalkan kegelapan pagi atau kalau agak terpaksa kesiangan biasanya barang yang tidak perlu itu dibuang dibalik pohon besar atau di balik batu besar, biar tidak terpantau. Ia bermaksud menuju rumpun pohon pisang demi keamanan. Malang benar nasib si Benjol pagi itu. Sebelum sampai rumpun pisang Benjol terjerembab ke dalam lubang wc yang baru digali milik tetangga. Lubang wc itu sangat dalam dan ukurannya kecil. Dari dalam lubang itu si Benjol berteriak histeris. Selama beberapa jam ia berjuang tetapi gagal. Menjelang waktu kerja pagi orang mulai sibuk. Benjol terus berteriak. Kebetulan lewat seorang guru matematika. Ia melihat ke dalam lubang lalu berkata: dahulu Anda pasti tidak mengikuti pelajaran matematika dengan baik. Inilah akibatnya. Jalan tidak pakai hitungan matematis yang cermat. Saya belum bisa menolong Anda karena takut telat masuk kelas. Lalu datanglah seorang guru fisika. Dia melihat ke dalam lubang, lalu bertanya: Apakah Anda tidak pernah belajar tentang hukum gravitasi yang diajarkan Isac Newton. Benjol menjawab saya tidak pernah bertemu orang yang nama gravitasi itu. Karena jengkel guru fisika itu lalu pergi. Lalu muncul seorang guru sosiologi. Ia melihat ke dalam dan bertanya: apakah anda tidak pernah belajar sosiologi yang menjelaskan di sekitar rumah warga masyarakat harus ada lubang wc. Benjol menjawab. Di kampung saya tidak ada lubang seperti ini. Lalu mucul seorang insinyur bangunan. Ia melihat keadaan lubang wc itu dan berkata. Saya akan menolong Anda, tetapi tunggulah dengan sabar karena saya harus kembali mengambil rol meteran untuk mengukur kedalaman dan lebar lubang wc ini. Sementara itu datanglah seorang bapak penjual pisang. Tanpa omong banyak ia mengambil kayu pemikul pisangnya, dan langsung melompat masuk ke dalam lubang. Ia meminta si Bendol naik ke atas bahunya sampai berhasil keluar dari lubang itu. Si benjol menarik penjual pisang itu keluar dengan bantuan kayu pemikul yang sama.
Nasib si Benjol adalah nasib umum manusia. Semenjak manusia pertama terjebak dalam ketidaksetiaan, manusia bagaikan jatuh ke dalam lubang yang tidak terjembatani. Situasi dosa adalah kondisi, keberadaan manusia di dalam lubang yang dalam dan mematikan. Dalam kondisi seperti itu manusia mengharapkan datangnya bantuan dan pertolongan. Bantuan dan pertolongan artinya adanya unsur yang menjembatani kembali keterpisahan manusia dari Tuhan. Kejatuhan itulah dosa dan dosa adalah sesuatu yang dibenci oleh manusia, sebab dosa itu mengancam kehidupan manusia. Dosa yang bersengatkan maut tak henti hentinya mengancam manusia menuju kebinasaan dan kehancuran. Inilah alasan mengapa dosa itu dibenci oleh manusia. Yang pantas menjadi musuh kita semua hanyalah dosa, dan bukan pelakunya. Namun ini kelihatannya hanya sebuah teori. Dalam praktiknya manusia sulit sekali memisahkan dosa dari pelakunya. Dosa masih sering diidentikkan atau disatukan dengan pelakunya.
Inilah sikap dasar orang Farisi terhadap orang berdosa. Sebab itu ketika Tuhan Yesus memanggil Matius untuk mengikuti Dia, dan ketika Dia mendatangi rumahnya serta makan dan minum bersamanya, orang Farisi langsung merasa "jijik" dan bertanya kepada murid murid Nya: "Mengapa gurumu makan bersama sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa". Orang orang Farisi tidak setuju dan tidak senang kalau Yesus mendekati orang orang berdosa dan makan dan minum bersama sama dengan mereka, sebab bagi mereka dosa dan pelakunya tetap menjadi satu. Maka kalau dosa dibenci, pelakunya juga dengan sendirinya mesti dijauhi dan ditolak.
Bagaimanakah sikap Yesus? Dengan tegas Tuhan Yesus berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kuke¬hendaki ialah belaskasihan dan bukan persembahan karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdo¬sa". Orang sakit dan orang berdosa menjadi priori¬tas misi, perhatian dan pelayanan Tuhan, sebab yang diutamakan oleh Nya adalah belaskasihan. Belaskasihan mengalahkan kuasa maut dan dosa. Komitmen Yesus untuk menyelamatkan pendosa atau manusia yang terjerembab ke dalam lumpur dosa bukanlah teori semata. Komitmen Yesus adalah komitmen praktis. Dia tidak belajar perhitungan matematis saat orang jatuh ke dalam dosa. Dia tidak menggunakan argumentasi ilmiah dalam menolong orang. Dia tidak membutuhkan perhitungan seperti seorang ahli bangunan ketika berhadapan dengan manusia yang jatuh. Yesus bukan seorang ahli matematika, bukan juga ahli fisika. Meskipun anak tukang kayu Yesus tidak bergelar insinyur bangunan. Yesus tidak mau repot dengan semuanya itu. Kriteria yang digunakan Yesus terlampau pragmatis dan memang itulah yang praktis. Kriteria yang dia pakai adalah rasa belas kasih kepada manusia. Ia secara praktis mengajarkan sekaligus menunjukkan bagaimana harus bersikap terhadap para pendosa. Ia memanggil dan bahkan makan bersama orang berdosa. Ia tidak mau berteori banyak seperti orang farisi dan ahli taurat. Ia langsung terjun ke dalam lubang situasi pengalaman manusia seperti si penjual pisang yang menyelamatkan si Benjol itu. Yesus tidak berkata banyak tetapi berbuat banyak. Orang farisi dan ahli taurat selalu berkata banyak tetapi berbuat tidak banyak bahkan tidak berbuat apa-apa.
Kehadiran Yesus orang yang jatuh dalam dosa membawa nuansa tersendiri dan terbilang unik. Bagi orang berdosa, Tuhan dengan belaskasihan Nya tampil sebagai "Fajar matahari dan rintik hujan". Sebagai fajar matahari, Tuhan yang berbelas kasihan membakar segala "semak dan sarang" dosa dalam diri kita, dan sekaligus, menumbuhkan benih benih kehidupan baru dalam diri kita. Sebagai rintik air hujan yang deras, Tuhan yang berbelaskasihan mengguyur habis segala dosa dari dalam diri kita. Dengan itu, kita menjadi bersih, suci dan murni sebagai anak anak Nya. Kita terangkat dari jurang yang dalam. Manusia jatuh ke dalam dosa, kadang-kadang menyerupai pengalaman si Benjol tadi. Jatuh dan berdosa memang tidak pernah kita kehendaki tetapi oleh godaan setan dosa itu datang seperti pencuri ke dalam "rumah hati" kita.
Tuhan sudah berupaya maksimal untuk menyelamatkan kita dengan darah dan kehidupan Putra-Nya. Lalu, apa balasan dan tanggapan kita terhadap upaya Tuhan itu? Tuhan tidak menuntut banyak. Nubuat Hosea dalam bacaan pertama memberikan jawaban. Tuhan hanya meminta kita untuk tetap setia kepada-Nya dan tetap mengenal Dia dalam kelemahan dan kerapuhan kita. Hosea mencatat: Inilah kehendak Tuhan sendiri kepada kita. "Aku menyukai kasih setia dan bukan korban sembelihan, dan menyu¬kai pengenalan Allah, lebih daripada korban korban bakaran" (Hos 6:6). Tuhan setia kepada kita dan mengenal kita dengan segala kelemahan dan dosa kita. Sebab itu, kita juga setia kepada Dia dan mengenal Dia dalam keadaan yang rapuh dan berdosa. Dengan bersi¬kap setia kepada Tuhan dan mengenal Dia dalam kerapuhan kita, kita akan terdorong untuk membenci dosa, menarik diri atau menjauhkan diri dari dosa itu untuk kembali menghayati hidup yang baik dan benar, sesuai dengan martabat diri kita yang luhur sebagai anak anak Allah.
Manusia harus mengabdi Tuhan dan melepaskan dosa. Mengapa? Karena Tuhan sendiri menegaskan: "Tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat men¬gabdi kepada Allah dan kepada iblis”. Dalam arti ini, kalau kita mengenal Tuhan dan mengasihi Dia, maka dengan sendir-inya kita menjauhi dan membenci dosa. Kalau kita dekat kepada Tuhan, maka pasti kita jauh dari dosa atau dosa jauh dari kita. Kalau kita mengabdi Tuhan, maka tentu kita juga akan menolak dan menghindari dosa, sebab kita tidak mungkin mengabdi kedua duanya. Kalau kita mengabdi kedua duanya, kita sendiri akan kacau balau, Tuhan dan setan juga akan berperang terus menerus dalam upaya merebut kita. Kita manusia adalah wilayah persengketaan atau perebutan dari dua kekuatan antara Tuhan dan setan. Karena itu, supaya kita menang dan aman, serahkanlah saja diri kita kepada Tuhan, dan cintailah hanya Dia dalam kesetiaan yang penuh terhadap Nya, sehingga setan dan dosa tidak berdaya atas diri kita.
Abraham seperti disebut oleh Santo Paulus dalam bacaan kedua dapat menjadi contoh kita dalam hal ini. "Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya. Imannya tidak menjadi lemah tetapi ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah dengan penuh keyakinan bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
Karena dosa, kita sering menjadi lemah dan tak berdaya. Atau juga karena kita lemah dan tak berdaya, maka kita sering berdosa. Seperti Abraham hendaknya kita yakin bahwa "Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan" kepada kita. Janganlah takut, sebab Aku menyertai kamu untuk menyelamatkan kamu dan untuk melepaskan kamu dari tangan setan, dari jaringan dosa dan "jerat maut".
Tentu kita semua tidak mau terus berada dalam jurang yang gelap dan karena itu kita dituntut untuk selalu mencari pertolongan. Dan pertolongan kita adalah Tuhan. Yesus telah memberikan petunjuk untuk kita para pengikut-Nya dalam melakukan tindakan yang praktis, membeci dosa tetapi tetap mencintai manusia. Ibarat kita diberi kacang sukro, kita membuang kulit pembungkusnya agar menikmati enaknya kacang sukro. Membuang dan meninggalkan dosa seseroang tetapi tetap mencintai diri orangnya. Kalau pakaian kita kotor kita mencucinya agar kotornya hilang, dan bukan pakaiannya yang dibuang. Pakaian itu lebih penting dari kotorannya, manusia lebih penting dari dosanya. Dan itulah argumentasi utama Yesus berhadapan dengan orang farisi dan ahli Taurat. Argumentasi itulah yang harus kita gunakan. Jika tidak, kelak kita akan menghadap Tuhan dengan benjolan-benjolan dosa kita. Kita boleh mengalami nasib seperti si Benjol tetapi bukan bermaksud menghiasi diri dengan benjolan dosa. Amin.
Rm.Bone Rampung, Pr
MINGGU BIASA KE-7 TAHUN A
Minggu Biasa Ketujuh Tahun A/1
Im.19,1-2.17-18; 1Kor.3,16-23; Mat.5,38-48
Buka
Mengampuni dan memaafkan orang yang menyakiti hati kita rasa-rasanya merupakan pekerjaaan yang sulit. Deretan maslaah dalam hidup manusia semaukin panjang dan menumpuk justru karena orang merasa bahwa mengampuni dan memaafkan itu mustahil dijalankan secara utuh dan sempurna. Kita manusia sering terlalu cepat menganggap bahwa yang sulit itu sama dengan yang mustahil. Padahal, sulit itu tidak harus sama dengan mustahil. Hal yang dituntut dari manusia untuk menghilangkan sikap seperti itu adalah kemauannya untuk belajar dari pengalaman orang lain yang menjadi pahlwan dalam mengampuni dan memaafkan. Yesus adalah tokoh pengampun dan pemaaf anutan dan yang menjadi tempat kita berguru dan belajar mengampuni. Marilah kita awali perayaan ini dengan mengakui segala sikap kita yang sering enggan memberi pengampunan kepada yang bersalah tehadap kita.
Renungan
Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama kita dapat membaca apa yang dinamakan dan dikenal orang sebagai ‘hukum balas dendam’. Bunyi hukum balasdendam itu: “Nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak.” (Kel. 21:23-25). Mendengar segala apa yang disampaikan kepada kita melalui kitab keluaran ini, mungkin secara spontan kita berkata, “Alangkah kejam dan biadabnya hukum yang tertulis dalam Perjanjian Lama itu! Mungkin juga kita mengumpat: “Dasar manusia primitif!”
Penilaian kita yang demikian tidak seluruhnya benar. Kalau kita memperhatikan secara lebih cermat, manusia modern sekarang ini yang kadang-kadang kelihatannya jauh lebih primitif dan buas daripada manusia yang hidup pada zaman dulu atau manusia zaman Perjanjian Lama itu. Bandingkan saja dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi beberapa tahun terakhir ini di tanah air kita sendiri. Juga perlu diinsyafi bahwa bila dibandingkan dengan hukum bangsa-bangsa lain sezamannya, hukum yang dirumuskan dalam Taurat Musa itu jauh lebih berperikemanusiaan. Dia membatasi balas dendam pada hukuman yang setimpal saja. Mata ganti mata. Bukannya: mata ganti nyawa. Gigi ganti gigi. Bukannya: gigi ganti leher. Dengan adanya hukum ini, maka berkuranglah jumlah pertikaian berdarah antarkeluarga, antarmarga, antarkampung, antarkelompok yang biasanya bermula dari perasaan tersinggung dalam diri salah seorang warganya. Dan juga, di dalam kenyataan hidup harian kalangan bangsa Israel, hukum Musa ini jarang dilaksanakan secara hurufiah. Biasanya kalau si Anu merontokkan gigi si Beta, maka gigi milik Si Anu tidak harus dirubuhkan. Keselamatan gigi-gigi ini biasanya ditebus dengan sejumlah uang. Kasus perontokan gigi seperti itu dapat diatasi dengan kompensasi atau tebusan dengan barang yang lain. Tidak mesti barang sejenis.
Jadi, hukum ‘gigi ganti gigi’ itu sesungguhnya juga berasaskan kasih. Namun, meskipun demikian, Yesus tetap menolak hukum Musa itu. Lalu muncul pertanyaan, mengapa Yesus menolak penerapan hukum yang sebenarnya masih berunsur kasih dan kemanusiaan seperti itu?
Apa yang diinginkan Yesus dari setiap pengikutnya adalah seperti yang kita dengar melalui bacaan Injil tadi: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu. Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu. Berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Bila orang menampar pipi kananmu, berikanlah juga pipi kirimu. Bila orang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
Jadi, konsep keadilan Yesus jauh lebih mulia daripada konsep keadilan dalam hukum Musa. Menurut konsep Musa, adil kalau satu-satu gigi yang jatuh. Sedangkan Yesus mengajarkan, itu adil, itu berkenan kepada Tuhan, kalau kita tidak membalas ketidakadilan yang kita rasakan. Bahkan lebih dari itu. Kita mesti mengasihi, meminta berkat dan berdoa bagi orang yang merontokkan gigi kita.
Ini sesuatu yang sangat sulit, tapi bukannya mustahil. Yesus sendiri telah memberikan contoh atau menerapkan prinsip itu. Di jalan salib-Nya, Dia ditampar, dipukuli, dilucuti pakaiannya, akhirnya dipaku pada palang salib. Dalam sederetan pengalaman dan kasus tersebut Dia tetap memperlihatkan kasih-Nya kepada mereka yang berlaku kasar dan jahat itu. Dia malahan mendoakan mereka karena mereka bagi Dia segala apa yang mereka lakukan terhadap diri-Nya merupakan akibat kurangnya pengetahuan mereka akan rencana Allah. Bagi Yesus, semua yang menganiaya-Nya, tidak tahu apa yang mereka perbuat. Ya Bapa ampunlah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.
Banyak orang, entah sadar entah tidak, telah meniru teladan Yesus itu. Konon dikisahkan bahwa seorang ibu muda Israel suatu hari tiba-tiba seperti kehilangan segalanya, karena suaminya ditembak mati oleh seorang Palestina musuh bebuyutan Israel. Berdasarkan berita-berita yang beredar kemudian, ibu itu tahu bahwa istri sang penembak suaminya lagi di rumah sakit menunggu operasi pencangkokan jantung. Sambil menyingkirkan rasa sakit hati dan keinginan balas dendam, yang sebetulnya sangat membara dalam dadanya, dia menawarkan jantung suami kepada istri si pembunuh itu. Tidak lama kemudian, berdetaklah jantung sang suaminya itu di dalam dada istri musuhnya.
Contoh lain kita saksikan pengalaman Paus Yoh Paulus II yang nyaris mati ditembak oleh penjahat Ali Aqca. Tetapi, kita semua tahu bahwa kemudian Paus memberi pegampunan bahkan mengunjungi penjahat itu yang terpaksa harus meringkuk di penjara. Daud dalam bacaan pertama tadi dikejar-kejar oleh Raja Saul untuk dimusnahkan. Beberapa kali tombak Raja Saul nyaris tertancap di dada dan pelipisnya. Kita mendengarkan sebuah kisah yang sungguh dramatis ketika Daud mendapat kesempatan emas untuk membalas dendam terhadap aneka kejahatan yang dilakukan Saul itu, Daud tidak mau menggunakan kesempatan untuk melakukan tindakan balas dendam terhadap Saul itu. Yang diberikan Daud kepada Saul hanyalah sikap mengampuni. Barangkali kita sendiri pernah bertemu dengan orang-orang seperti itu, yang rela mengampuni orang lain, bahkan mengampuni diri kita sendiri.
Mari kita bertanya diri, “Mengapa orang-orang itu bisa mengampuni sesamanya dan saya tidak bisa?” Jawabannya, “Kita sendiri pun sangat bisa, hanya kadang-kadang kita tidak mau mencobanya. Kita terlalu cepat menyerah pada kecenderungan balas dendam yang memang sudah ada dalam diri kita masing-masing. Ssikap balas dendam yang diwariskan dalam tragedi taman firdaus itu lebih menguasai diri dan hidup kita daripada harus berjuang memupuk dan menumbuhkan sikap untuk mengampuni. Barangkali ada yang berkata dalam hatinya, “Saya tidak setuju dengan ajaran Yesus itu. Masa kita membiarkan saja diri kita diperlakukan sewenang-wenang?”
Bukanlah maksud Yesus untuk menyuruh kita menyerah saja pada kekerasan, ketidakadilan, dalam arti menerimanya sebagai sesuatu yang boleh terjadi atau berlangsung di bumi ini. Saat seorang serdadu menampar Yesus, Yesus tidak berdiam diri, tetapi Dia menantang serdadu itu dengan mengajukan pertanyaan reflektif, “Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?” Pertanyaan Yesus ini, bukanlah untuk menyakiti hati orang itu tetapi untuk menyadarkannya, untuk menolongnya menemukan bukan saja apa yang baik tetapi juga menemukan apa yang benar.
Itulah juga yang mesti kita lakukan. Bila kita diperlakukan secara kasar, maka kita perlu membela diri dengan mengingatkan orang itu akan kekeliruannya sehingga dengan demikian, dia menghentikan perbuatan jahat itu. Kalau toh dia tidak sadar, tetapi terus menyakiti kita, Yesus katakan, ‘Tidak apa-apa, lebih baik kehilangan satu mata, satu tangan atau satu kaki, tapi masuk surga, daripada memiliki tubuh yang utuh dan sehat tetapi diceburkan ke api neraka,’ kalau kita balas melakukan ketidakadilan.
Ada yang membenarkan aksi balas dendam dengan mengagungkan tujuannya yang mulia yaitu untuk mengubah situasi, mengubah orang lain. Dari pengalaman sehari-hari kita mengetahui, bahwa bila seseorang berlaku kasar atas kita dan melakukan hal yang sama terhadapnya, maka hampir pasti bahwa keretakan hubungan kita akan bertambah lebar. Tetapi, bila kita coba menerima perlakukan kasar itu dengan hati yang damai, tanpa usaha untuk membalas dendam, orang itu akan kaget, tercengang, malu dan kemudian datang meminta maaf. Kita pun akan keluar sebagai pemenang pertikaian itu. Kita berhasil menjadikan orang itu sebagai teman kita, kita juga mendapatkan kedamaian dalam hidup.
Mungkin baik kalau kita mengingat kembali cerita bijak tentang bagaimana caranya memenangkan hati orang dengan kelembutan:
“Pada suatu ketika, angin dan matahari bersengketa. Angin membanggakan diri bahwa dialah yang lebih kuat. Katanya, “Saya akan tunjukkan kepadamu bahwa sayalah yang lebih kuat. Lihat orang tua yang mengenakan mantol di sana. Saya bertaruh bahwa saya akan membuat dia segera mencopot mantolnya itu.” Matahari menjawab, “Silahkan, kita akan lihat nanti.” Lalu dia bersembunyi di balik awan.
Angin pun mulai bertiup dan bertiup sederas-derasnya sehingga terjadi topan. Namun sederas-derasnya ia bertiup, orang tua itu tetap mengencangkan matolnya dan membungkus dirinya semakin ketat. Sesekali dia terjatuh, tetapi segera bangun lagi tanpa sedikitpun melonggarkan cengkraman pada mantolnya. Akhirnya angin itu jadi tenang dan menyerah.
Bersamaan dengan itu, sang matahari muncul pelan-pelan dari balik awan sambil mengumbar senyum dengan sinarnya kepada orang tua itu. Sesudah beberapa saat orang tua itu mulai mengusap keningnya, kemudian mencopot mantolnya dengan sukarela. Demikianlah matahari mengalahkan angin yang sombong itu dan menjalin persahabatan dengan orang tua tadi.
Kalau kita mau memenangkan hati orang, kalau kita mau mengubah suasana yang mendung jadi cerah kembali, belajarlah dari cara kerja matahari yang kita lihat sehari-hari. Lalu apa yang akan kita peroleh: Matahari akan bersinar cerah dalam hidup kita. Seperti Yesus rela menanggung sengsara, tetapi kemudian dimuliakan oleh Bapa-Nya di Surga, kitapun akan dimuliakan bersama Dia. Mari kita berdoa dalam hati masing-masing: “Tuhan, saya percaya Engkau telah menciptakan hati yang suka berdamai dalam diriku. Bantulah aku untuk meniru teladan pengampunan-Mu. Amin.
Im.19,1-2.17-18; 1Kor.3,16-23; Mat.5,38-48
Buka
Mengampuni dan memaafkan orang yang menyakiti hati kita rasa-rasanya merupakan pekerjaaan yang sulit. Deretan maslaah dalam hidup manusia semaukin panjang dan menumpuk justru karena orang merasa bahwa mengampuni dan memaafkan itu mustahil dijalankan secara utuh dan sempurna. Kita manusia sering terlalu cepat menganggap bahwa yang sulit itu sama dengan yang mustahil. Padahal, sulit itu tidak harus sama dengan mustahil. Hal yang dituntut dari manusia untuk menghilangkan sikap seperti itu adalah kemauannya untuk belajar dari pengalaman orang lain yang menjadi pahlwan dalam mengampuni dan memaafkan. Yesus adalah tokoh pengampun dan pemaaf anutan dan yang menjadi tempat kita berguru dan belajar mengampuni. Marilah kita awali perayaan ini dengan mengakui segala sikap kita yang sering enggan memberi pengampunan kepada yang bersalah tehadap kita.
Renungan
Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama kita dapat membaca apa yang dinamakan dan dikenal orang sebagai ‘hukum balas dendam’. Bunyi hukum balasdendam itu: “Nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak.” (Kel. 21:23-25). Mendengar segala apa yang disampaikan kepada kita melalui kitab keluaran ini, mungkin secara spontan kita berkata, “Alangkah kejam dan biadabnya hukum yang tertulis dalam Perjanjian Lama itu! Mungkin juga kita mengumpat: “Dasar manusia primitif!”
Penilaian kita yang demikian tidak seluruhnya benar. Kalau kita memperhatikan secara lebih cermat, manusia modern sekarang ini yang kadang-kadang kelihatannya jauh lebih primitif dan buas daripada manusia yang hidup pada zaman dulu atau manusia zaman Perjanjian Lama itu. Bandingkan saja dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi beberapa tahun terakhir ini di tanah air kita sendiri. Juga perlu diinsyafi bahwa bila dibandingkan dengan hukum bangsa-bangsa lain sezamannya, hukum yang dirumuskan dalam Taurat Musa itu jauh lebih berperikemanusiaan. Dia membatasi balas dendam pada hukuman yang setimpal saja. Mata ganti mata. Bukannya: mata ganti nyawa. Gigi ganti gigi. Bukannya: gigi ganti leher. Dengan adanya hukum ini, maka berkuranglah jumlah pertikaian berdarah antarkeluarga, antarmarga, antarkampung, antarkelompok yang biasanya bermula dari perasaan tersinggung dalam diri salah seorang warganya. Dan juga, di dalam kenyataan hidup harian kalangan bangsa Israel, hukum Musa ini jarang dilaksanakan secara hurufiah. Biasanya kalau si Anu merontokkan gigi si Beta, maka gigi milik Si Anu tidak harus dirubuhkan. Keselamatan gigi-gigi ini biasanya ditebus dengan sejumlah uang. Kasus perontokan gigi seperti itu dapat diatasi dengan kompensasi atau tebusan dengan barang yang lain. Tidak mesti barang sejenis.
Jadi, hukum ‘gigi ganti gigi’ itu sesungguhnya juga berasaskan kasih. Namun, meskipun demikian, Yesus tetap menolak hukum Musa itu. Lalu muncul pertanyaan, mengapa Yesus menolak penerapan hukum yang sebenarnya masih berunsur kasih dan kemanusiaan seperti itu?
Apa yang diinginkan Yesus dari setiap pengikutnya adalah seperti yang kita dengar melalui bacaan Injil tadi: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu. Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu. Berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Bila orang menampar pipi kananmu, berikanlah juga pipi kirimu. Bila orang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
Jadi, konsep keadilan Yesus jauh lebih mulia daripada konsep keadilan dalam hukum Musa. Menurut konsep Musa, adil kalau satu-satu gigi yang jatuh. Sedangkan Yesus mengajarkan, itu adil, itu berkenan kepada Tuhan, kalau kita tidak membalas ketidakadilan yang kita rasakan. Bahkan lebih dari itu. Kita mesti mengasihi, meminta berkat dan berdoa bagi orang yang merontokkan gigi kita.
Ini sesuatu yang sangat sulit, tapi bukannya mustahil. Yesus sendiri telah memberikan contoh atau menerapkan prinsip itu. Di jalan salib-Nya, Dia ditampar, dipukuli, dilucuti pakaiannya, akhirnya dipaku pada palang salib. Dalam sederetan pengalaman dan kasus tersebut Dia tetap memperlihatkan kasih-Nya kepada mereka yang berlaku kasar dan jahat itu. Dia malahan mendoakan mereka karena mereka bagi Dia segala apa yang mereka lakukan terhadap diri-Nya merupakan akibat kurangnya pengetahuan mereka akan rencana Allah. Bagi Yesus, semua yang menganiaya-Nya, tidak tahu apa yang mereka perbuat. Ya Bapa ampunlah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.
Banyak orang, entah sadar entah tidak, telah meniru teladan Yesus itu. Konon dikisahkan bahwa seorang ibu muda Israel suatu hari tiba-tiba seperti kehilangan segalanya, karena suaminya ditembak mati oleh seorang Palestina musuh bebuyutan Israel. Berdasarkan berita-berita yang beredar kemudian, ibu itu tahu bahwa istri sang penembak suaminya lagi di rumah sakit menunggu operasi pencangkokan jantung. Sambil menyingkirkan rasa sakit hati dan keinginan balas dendam, yang sebetulnya sangat membara dalam dadanya, dia menawarkan jantung suami kepada istri si pembunuh itu. Tidak lama kemudian, berdetaklah jantung sang suaminya itu di dalam dada istri musuhnya.
Contoh lain kita saksikan pengalaman Paus Yoh Paulus II yang nyaris mati ditembak oleh penjahat Ali Aqca. Tetapi, kita semua tahu bahwa kemudian Paus memberi pegampunan bahkan mengunjungi penjahat itu yang terpaksa harus meringkuk di penjara. Daud dalam bacaan pertama tadi dikejar-kejar oleh Raja Saul untuk dimusnahkan. Beberapa kali tombak Raja Saul nyaris tertancap di dada dan pelipisnya. Kita mendengarkan sebuah kisah yang sungguh dramatis ketika Daud mendapat kesempatan emas untuk membalas dendam terhadap aneka kejahatan yang dilakukan Saul itu, Daud tidak mau menggunakan kesempatan untuk melakukan tindakan balas dendam terhadap Saul itu. Yang diberikan Daud kepada Saul hanyalah sikap mengampuni. Barangkali kita sendiri pernah bertemu dengan orang-orang seperti itu, yang rela mengampuni orang lain, bahkan mengampuni diri kita sendiri.
Mari kita bertanya diri, “Mengapa orang-orang itu bisa mengampuni sesamanya dan saya tidak bisa?” Jawabannya, “Kita sendiri pun sangat bisa, hanya kadang-kadang kita tidak mau mencobanya. Kita terlalu cepat menyerah pada kecenderungan balas dendam yang memang sudah ada dalam diri kita masing-masing. Ssikap balas dendam yang diwariskan dalam tragedi taman firdaus itu lebih menguasai diri dan hidup kita daripada harus berjuang memupuk dan menumbuhkan sikap untuk mengampuni. Barangkali ada yang berkata dalam hatinya, “Saya tidak setuju dengan ajaran Yesus itu. Masa kita membiarkan saja diri kita diperlakukan sewenang-wenang?”
Bukanlah maksud Yesus untuk menyuruh kita menyerah saja pada kekerasan, ketidakadilan, dalam arti menerimanya sebagai sesuatu yang boleh terjadi atau berlangsung di bumi ini. Saat seorang serdadu menampar Yesus, Yesus tidak berdiam diri, tetapi Dia menantang serdadu itu dengan mengajukan pertanyaan reflektif, “Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?” Pertanyaan Yesus ini, bukanlah untuk menyakiti hati orang itu tetapi untuk menyadarkannya, untuk menolongnya menemukan bukan saja apa yang baik tetapi juga menemukan apa yang benar.
Itulah juga yang mesti kita lakukan. Bila kita diperlakukan secara kasar, maka kita perlu membela diri dengan mengingatkan orang itu akan kekeliruannya sehingga dengan demikian, dia menghentikan perbuatan jahat itu. Kalau toh dia tidak sadar, tetapi terus menyakiti kita, Yesus katakan, ‘Tidak apa-apa, lebih baik kehilangan satu mata, satu tangan atau satu kaki, tapi masuk surga, daripada memiliki tubuh yang utuh dan sehat tetapi diceburkan ke api neraka,’ kalau kita balas melakukan ketidakadilan.
Ada yang membenarkan aksi balas dendam dengan mengagungkan tujuannya yang mulia yaitu untuk mengubah situasi, mengubah orang lain. Dari pengalaman sehari-hari kita mengetahui, bahwa bila seseorang berlaku kasar atas kita dan melakukan hal yang sama terhadapnya, maka hampir pasti bahwa keretakan hubungan kita akan bertambah lebar. Tetapi, bila kita coba menerima perlakukan kasar itu dengan hati yang damai, tanpa usaha untuk membalas dendam, orang itu akan kaget, tercengang, malu dan kemudian datang meminta maaf. Kita pun akan keluar sebagai pemenang pertikaian itu. Kita berhasil menjadikan orang itu sebagai teman kita, kita juga mendapatkan kedamaian dalam hidup.
Mungkin baik kalau kita mengingat kembali cerita bijak tentang bagaimana caranya memenangkan hati orang dengan kelembutan:
“Pada suatu ketika, angin dan matahari bersengketa. Angin membanggakan diri bahwa dialah yang lebih kuat. Katanya, “Saya akan tunjukkan kepadamu bahwa sayalah yang lebih kuat. Lihat orang tua yang mengenakan mantol di sana. Saya bertaruh bahwa saya akan membuat dia segera mencopot mantolnya itu.” Matahari menjawab, “Silahkan, kita akan lihat nanti.” Lalu dia bersembunyi di balik awan.
Angin pun mulai bertiup dan bertiup sederas-derasnya sehingga terjadi topan. Namun sederas-derasnya ia bertiup, orang tua itu tetap mengencangkan matolnya dan membungkus dirinya semakin ketat. Sesekali dia terjatuh, tetapi segera bangun lagi tanpa sedikitpun melonggarkan cengkraman pada mantolnya. Akhirnya angin itu jadi tenang dan menyerah.
Bersamaan dengan itu, sang matahari muncul pelan-pelan dari balik awan sambil mengumbar senyum dengan sinarnya kepada orang tua itu. Sesudah beberapa saat orang tua itu mulai mengusap keningnya, kemudian mencopot mantolnya dengan sukarela. Demikianlah matahari mengalahkan angin yang sombong itu dan menjalin persahabatan dengan orang tua tadi.
Kalau kita mau memenangkan hati orang, kalau kita mau mengubah suasana yang mendung jadi cerah kembali, belajarlah dari cara kerja matahari yang kita lihat sehari-hari. Lalu apa yang akan kita peroleh: Matahari akan bersinar cerah dalam hidup kita. Seperti Yesus rela menanggung sengsara, tetapi kemudian dimuliakan oleh Bapa-Nya di Surga, kitapun akan dimuliakan bersama Dia. Mari kita berdoa dalam hati masing-masing: “Tuhan, saya percaya Engkau telah menciptakan hati yang suka berdamai dalam diriku. Bantulah aku untuk meniru teladan pengampunan-Mu. Amin.
MI NGGU BIASA KE-6 TAHUN A
Minggu Biasa ke-6 Th.A1 14 Pebruari 1999
Sir.15,15-20 1Kor.2,6-10 Ma.5,17-37
Tamansari Yogyakarta
Buka
Para penjual biasanya selalu berkata bahwa barang yang dijualnya bermutu baik dan barang yang asli. Bukan tiruan. Barang asli sama dengan barang yang sebenarnya tanpa dicampur dengan unsur lain. Semua orang memang ingin mendapatkan sesuatu yang asli. Tetapi, dalam kehidupan orang justru banyak menampilkan hal yang tidak asli. Alasannya karena manusia cenderung merasa dirinya lebih baik, lebih benar dari orang lain. Akibat selanjutnya orang akan berusaha membenarkan diri sendiri dengan pelbagai alasan. Dari sini, lahirlah diri pribadi yang tidak asli lagi. Dalam perayaan ini kita mohonkan rahmat Tuhan bagi kita semua agar kita mampu menampilkan cara hidup kita yang sebenarnya bersama orang lain. Kita mohon semangat kejujuran, keterbukaan, dan kerendahan hati. Untuk itu kita akui segala kelemahan dan dosa kita yang membawa kita pada kesombongan dan ketertutupan diri terhadap sesama kita dan terhadap Tuhan… Saya mengaku…
Renungan
Hidup kita manusia penuh dengan pelbagai kemungkinan. Hal yang mebuat hidup kita terasa bagus menyenangkan justru karena kapada kita diberikan sekian banyak kemungkinan. Berbagai kemungkinan itu menuntut manusia untuk menentukan pilihan yang membantunya mengembangkan diri dalam hidup yang konkret. Semua kemungkinan itu adalah tawaran bebas untuk manusia. Apa yang disampaiakn dalam bacaan hari ini pada dasarnya bekaitan dengan masalah sikap dan pilihan manusia terhadp sekian banyak kemungkinan yang disiapkan Allah. Dalam bacaan pertama Kitab Putra Sirakh menampilkan dua pilihan yang berlawanan. Materi yang disiapkan adalah air dan api. Manusia tinggal pilih. Tentu dengan risikonya masing-masing. Pilih air ya mungkin membuat orang basah, pilih api ya mungkin membuat orang terbakar dan kering. Lebih jauh lagi Tuhan menawarkan pilihan antara hidup dan dan mati. Manusia bebas menentukan pilihan. Dan Tuhan, hanya akan menilai pilihan manusia. Tuhan akan memperhatikan orang yang takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan artinya orang melakukan sesuatu dan memutuskan sesuatu berdasarkan kehendak dan petunjuk Tuhan. Bukan membuat pilihan dan membuat keputusan atas pertimbangan dan kepentingan pribadi atau sentimen tertentu. Dan justru manusia terkadang mengalami perbenturan satu sama lain ketika orang membuat pilihan dan menentukan keputusan atas kehendak manusia sendiri. Keputusan yang berdasarkan pertimbangan pribadi itu terkadang pula muncul dalam sikap dan tindakan yang tidak konsisten, Kejujuran dan keterbukaan adalah ciri-ciri orang yang membuat pilihan dan keputusan dalam dan karena kehendak Tuhan. Tetapi, ketika pilihan dan keputusan itu dibuat karena ada pertimbangan tertentu di situlah muncul sikap manusia yang tidak lagi konsisisten. Manusia akan berusaha membolak-balikkan apa yang sebenarnya. Kehendak manusia dan pertimbangan yang sangat pribadi dari manusia akan dianggap sebagai kendak Allah. Dan orang mulai meng-ya-kan yang sebenarnya tidak dan menidakkan yang sebenarnya ya. Orang akan mengangguk kalau ia tidak setuju dan menggeleng kalau ia setuju. Dan justru itu yang terbalik dari kenyataan yang konkret.
Sikap manusia yang selalu berlawanan dengan sikap Allah menguasai kehidupan masyarakat Korintus. Paulus memberikan awasan seperti dalam bacaan kedua bahwa manusia seharusnya membagikan hikmat dan kebijaksanaan Allah. Manusia justru menutup hatinya untuk mendengar hikmat dan kebenaran Allah. Manusia cenderung menganggap dirinya menjadi manusia yang paling benar dari orang lain. Orang lupa bahwa dalam diri setiap orang Allah telah mengaruniakan hikmat dan kebenaran. Hanya orang yang rendah hati dan jujur mampu melihat bahwa kebenaran Allah ada dalam diri setiap orang. Kalau hal itu sungguh diyakini, maka orang pasti tidak dengan mudah mengganggap orang lain salah dan diri sendiri yang paling benar. Penyakit menganggap diri paling benar itu menjadi penyakit terbesar yang menimpa semua manusia. Sikap itulah awal segala bentuk tragedi dalam pelbagai model dan bentuk kehidupan.
Penggalan Injil yang kita baca mengingatkan kita semua bahwa kita sebagai orang beriman telah mendengar dan mendapat firman untuk tidak melakukan segala sesuatu yang berlawanan dengn kehendak Allah. Bagian terakhir dari injil tadi kiranya menjadi bahan permenungan sepanjang hidup kita. Jika ya hendaklah kamu katakan ya dan jika tidak hendak kamu katakan tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Yesus menuntut konsistensi dalam pilihan dan sikap hidup. Pilihan dan keputusan yang kita lakukan harus tegas dan selalu dalam kehendak Tuhan. Bukan dalam kehendak dan pertimbangan pribadi kita. Kalau pilihan dan keputusan itu hanya mengandalkan diri, karena merasa yang paling benar maka itulah hal yang lebih. Dan yang lebih itu datangnya dari si jahat menurut Injil tadi. Bagi Yesus pilihan dan keputusan itu harus tegas dan jelas. Tidak ada pilihan ya dan tidak sekaligus seperti dalam Kuis siapa Dia. Di hadapan sesama manusia mungkin manusia bisa membolak balikkan ya menjadi tidak atau tidak menjadi ya. Untuk itu, orang umumnya dengan mudah mengucapkan sumpah bahwa apa yang dikatkannya benar. Tentu saja itu namanya sumpah palsu. Injil justru menolak pelbagai bentuk sumpah palsu untuk membenarkan diri.
Sabda Tuhan itu memang tajam dan terdengar pahit, namun sabda yang tajam dan pahit itu bertujuan menyempurnakan cara hidup kita dari waktu ke waktu. Sabda Tuhan hari ini mungkin banyak mengkritik pilhan dan setiap model keputusan yang kita lakukan dari saat ke saat dalam pelbagai situasi kehidupan kita. Hidup kita itu dibentuk dan berjalan dalam proses memilih dan memutuskan. Bacaan hari ini memberikan pedoman bagi kita agar kita tidak terjebak dalam pilihan dan keputusan yang hanya menguntungkan diri kita. Tuhan menuntut kita untuk jujur dan terbuka dalam perjalan hidup dan karya kita. Api, air, hidup, mati tawarkan kepada semua manusia. Manusia tinggal memilih dan harus dapat menerima risiko pilihan dan keputusannya. Mudah-mudahkan kita menjadi penerus kehendak Allah dan bukan memanipulasi kehendak Allah dalam kehendak diri pribadi kita. Amin
Rm.Bone Rampung Pr
Sir.15,15-20 1Kor.2,6-10 Ma.5,17-37
Tamansari Yogyakarta
Buka
Para penjual biasanya selalu berkata bahwa barang yang dijualnya bermutu baik dan barang yang asli. Bukan tiruan. Barang asli sama dengan barang yang sebenarnya tanpa dicampur dengan unsur lain. Semua orang memang ingin mendapatkan sesuatu yang asli. Tetapi, dalam kehidupan orang justru banyak menampilkan hal yang tidak asli. Alasannya karena manusia cenderung merasa dirinya lebih baik, lebih benar dari orang lain. Akibat selanjutnya orang akan berusaha membenarkan diri sendiri dengan pelbagai alasan. Dari sini, lahirlah diri pribadi yang tidak asli lagi. Dalam perayaan ini kita mohonkan rahmat Tuhan bagi kita semua agar kita mampu menampilkan cara hidup kita yang sebenarnya bersama orang lain. Kita mohon semangat kejujuran, keterbukaan, dan kerendahan hati. Untuk itu kita akui segala kelemahan dan dosa kita yang membawa kita pada kesombongan dan ketertutupan diri terhadap sesama kita dan terhadap Tuhan… Saya mengaku…
Renungan
Hidup kita manusia penuh dengan pelbagai kemungkinan. Hal yang mebuat hidup kita terasa bagus menyenangkan justru karena kapada kita diberikan sekian banyak kemungkinan. Berbagai kemungkinan itu menuntut manusia untuk menentukan pilihan yang membantunya mengembangkan diri dalam hidup yang konkret. Semua kemungkinan itu adalah tawaran bebas untuk manusia. Apa yang disampaiakn dalam bacaan hari ini pada dasarnya bekaitan dengan masalah sikap dan pilihan manusia terhadp sekian banyak kemungkinan yang disiapkan Allah. Dalam bacaan pertama Kitab Putra Sirakh menampilkan dua pilihan yang berlawanan. Materi yang disiapkan adalah air dan api. Manusia tinggal pilih. Tentu dengan risikonya masing-masing. Pilih air ya mungkin membuat orang basah, pilih api ya mungkin membuat orang terbakar dan kering. Lebih jauh lagi Tuhan menawarkan pilihan antara hidup dan dan mati. Manusia bebas menentukan pilihan. Dan Tuhan, hanya akan menilai pilihan manusia. Tuhan akan memperhatikan orang yang takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan artinya orang melakukan sesuatu dan memutuskan sesuatu berdasarkan kehendak dan petunjuk Tuhan. Bukan membuat pilihan dan membuat keputusan atas pertimbangan dan kepentingan pribadi atau sentimen tertentu. Dan justru manusia terkadang mengalami perbenturan satu sama lain ketika orang membuat pilihan dan menentukan keputusan atas kehendak manusia sendiri. Keputusan yang berdasarkan pertimbangan pribadi itu terkadang pula muncul dalam sikap dan tindakan yang tidak konsisten, Kejujuran dan keterbukaan adalah ciri-ciri orang yang membuat pilihan dan keputusan dalam dan karena kehendak Tuhan. Tetapi, ketika pilihan dan keputusan itu dibuat karena ada pertimbangan tertentu di situlah muncul sikap manusia yang tidak lagi konsisisten. Manusia akan berusaha membolak-balikkan apa yang sebenarnya. Kehendak manusia dan pertimbangan yang sangat pribadi dari manusia akan dianggap sebagai kendak Allah. Dan orang mulai meng-ya-kan yang sebenarnya tidak dan menidakkan yang sebenarnya ya. Orang akan mengangguk kalau ia tidak setuju dan menggeleng kalau ia setuju. Dan justru itu yang terbalik dari kenyataan yang konkret.
Sikap manusia yang selalu berlawanan dengan sikap Allah menguasai kehidupan masyarakat Korintus. Paulus memberikan awasan seperti dalam bacaan kedua bahwa manusia seharusnya membagikan hikmat dan kebijaksanaan Allah. Manusia justru menutup hatinya untuk mendengar hikmat dan kebenaran Allah. Manusia cenderung menganggap dirinya menjadi manusia yang paling benar dari orang lain. Orang lupa bahwa dalam diri setiap orang Allah telah mengaruniakan hikmat dan kebenaran. Hanya orang yang rendah hati dan jujur mampu melihat bahwa kebenaran Allah ada dalam diri setiap orang. Kalau hal itu sungguh diyakini, maka orang pasti tidak dengan mudah mengganggap orang lain salah dan diri sendiri yang paling benar. Penyakit menganggap diri paling benar itu menjadi penyakit terbesar yang menimpa semua manusia. Sikap itulah awal segala bentuk tragedi dalam pelbagai model dan bentuk kehidupan.
Penggalan Injil yang kita baca mengingatkan kita semua bahwa kita sebagai orang beriman telah mendengar dan mendapat firman untuk tidak melakukan segala sesuatu yang berlawanan dengn kehendak Allah. Bagian terakhir dari injil tadi kiranya menjadi bahan permenungan sepanjang hidup kita. Jika ya hendaklah kamu katakan ya dan jika tidak hendak kamu katakan tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Yesus menuntut konsistensi dalam pilihan dan sikap hidup. Pilihan dan keputusan yang kita lakukan harus tegas dan selalu dalam kehendak Tuhan. Bukan dalam kehendak dan pertimbangan pribadi kita. Kalau pilihan dan keputusan itu hanya mengandalkan diri, karena merasa yang paling benar maka itulah hal yang lebih. Dan yang lebih itu datangnya dari si jahat menurut Injil tadi. Bagi Yesus pilihan dan keputusan itu harus tegas dan jelas. Tidak ada pilihan ya dan tidak sekaligus seperti dalam Kuis siapa Dia. Di hadapan sesama manusia mungkin manusia bisa membolak balikkan ya menjadi tidak atau tidak menjadi ya. Untuk itu, orang umumnya dengan mudah mengucapkan sumpah bahwa apa yang dikatkannya benar. Tentu saja itu namanya sumpah palsu. Injil justru menolak pelbagai bentuk sumpah palsu untuk membenarkan diri.
Sabda Tuhan itu memang tajam dan terdengar pahit, namun sabda yang tajam dan pahit itu bertujuan menyempurnakan cara hidup kita dari waktu ke waktu. Sabda Tuhan hari ini mungkin banyak mengkritik pilhan dan setiap model keputusan yang kita lakukan dari saat ke saat dalam pelbagai situasi kehidupan kita. Hidup kita itu dibentuk dan berjalan dalam proses memilih dan memutuskan. Bacaan hari ini memberikan pedoman bagi kita agar kita tidak terjebak dalam pilihan dan keputusan yang hanya menguntungkan diri kita. Tuhan menuntut kita untuk jujur dan terbuka dalam perjalan hidup dan karya kita. Api, air, hidup, mati tawarkan kepada semua manusia. Manusia tinggal memilih dan harus dapat menerima risiko pilihan dan keputusannya. Mudah-mudahkan kita menjadi penerus kehendak Allah dan bukan memanipulasi kehendak Allah dalam kehendak diri pribadi kita. Amin
Rm.Bone Rampung Pr
Subscribe to:
Posts (Atom)