Wednesday, August 7, 2013

MINGGU BIASA KE-13 TAHUN A

Minggu Biasa ke-13 Thn.A1 31-10-’99

Mal.1,14b-2,2b.8-10. 1Tes.2,7b-9.13 Mat.23,1-12

Stasi Babarsari, Baciro, Yogyakarta



Buka

Kalu kita mau mencari tahu nama Nenek moyang segala macam kejahatan di dunia ini, maka kita akan dan namanya adalah Curiga. Anak pertama dari curiga itu adalah kesombongan. Kesombongan ini kemudian menjadi nenek moyang bagi segala kejahatan lainnya. Semua kita manusia terjangkit oleh penyakit keturunan kesombongan itu. Selanjutnya manusia akan berusaha menyembunyikan penyakitnya itu dengan segala macam cara dan umumnya cara yang melahirkan penyakit baru seperti kepura-puraan dan berusaha mengaburkan identitas. Usaha untuk mengaburkan atau menyembunyikan identitas umumnya dilakukan untuk menghindar dari tantangan dan risiko yang dihadapi dalam hidup. Orang tidak mau bersaksi dengan identitas yang jelas. Marilah kita akui segala kelemahan kita. Mungkin kita telah mengaburkan identitas kita untuk mendapatkan keuntungan bagi diri kita.



Renungan

Binatang apakah yang biasanya terbang mencari makan pada malam hari? Kalong atau Kelalawar. Mengapa Kalong itu terbang dan mencari makan justru pada malam hari? Menurut cerita orang binatang Kalong itu mencari makan pada malam hari karena ada latar belakang sejarahnya. Ceritanya begini. Pada zaman dulu binatang itu dibagi menjadi tiga kelompok besar. Kelompok pertama menguasai angkasa atau udara. Kelompok kedua menguasai daratan dan kelompok ketiga menguasai kawasan perairan. Pada saat dunia dilanda krisis dan muncul demo dan ancaman disintegrasi, binatang-binatang itu berusaha tampil mengatasi krisis itu. Pada saat itulah tejadi kesalahpahaman antara binantang udara yang bisa terbang dengan binantang darat yang hanya bisa berjalan. Permusuhan antara kedua angkatan itu semakin kuat. Pasukan binatang udara dipimpin oleh panglima mereka yang namanya Kalong atau kelalawar yang dapat terbang dengan sayapnya yang lincah. Sedangkan pasukan binantang angkatan darat dipimpin oleh harimau dengan taring dan kukunya yang tajam. Peperangan antara dua angkatan binatang itu berlangsung lama dan menelan ribuan korban dari dua kubu. Melihat itu binatang air yang dipimpin ikan lumba-lumba mengundang supaya sidang dan mengadakan gencatan senajata antara dua angkatan itu. Pada saat diadakan gencatan senjata palinglima pasukan udara yaitu kalong tewas tertembak. Angkatan udara berkabung dan melakukan upacara pemakaman kalong yang tewas. Pada saat itulah binatang udara lainnya tekejut karena melihat ternyata kalong itu memiliki gigi taring dan kuku yang panjang. Binatang udara menyerahkan bangkai kalong itu kepada binatang darat, karena kalong itu bergigi seperti binatang darat. Binatang darat menerima bangkai kalong itu. Tetapi mereka juga terkejut karena kalong itu memiliki sayap untuk terbang. Binatang darat menolak bertanggung jawab atas kematian kalong itu. Binatang kalong sulit ditentukan apakah termasuk binatang udara ataukah binatang darat. Sejak saat itulah binatang kalong bersumpah sepanjang hidupnya akan terbang malam biar tidak dicurigai sebagai binatang darat atau binatang udara.

Apa sebenarnya pesan atau inti cerita tentang kalong tadi? Cerita tadi sebenarnya mau mengatakan kepada kita tentang bagaimana identitas atau tanda-tanda khusus yang memungkinkan seseroang itu dibedakan dari orang lain dan bisa dimasukkan dalam kelompok tertentu. Kalong sulit dimasukkan dalam kelompok binatang udara atau binatang darat karena memang identitasnya tidak jelas. Lebih mengherankan lagi ia terlanjur diangkat menjadi pemimpin binatang udara. Dalam status yang meragukan dan serba tak jelas ia dipercayakan sebagai pemimpin. Dengan ciri fisiknya kalong itu bisa mendapat keuntungan ganda. Kalau kekuatan binatang darat lebih unggul dia akan berpihak kepada binatang darat. Buktinya ia punya taring. Kalau kekuatan binatang udara lebih dia bisa berpihak dengan alasan ia termasuk binatang udara karena bisa terbang.

Bacaan-bacaan kitab suci yang kita dengar tadi pada intinya berbicara soal mutu dan keutuhan, integritas kehidupan seseorang.

Mutu dan integritas hidup itu dalam konteks bacaan hari ini dapat dinyatakan dalam peran sebagai pemimpin atau anggota yang dipimpim dalam suatu komunitas kehidupan. Krisis kepemimpinan dan krisis kepercayaan terhadap pemimpin merupakan penyakit lama yang sulit disembuhkan. Penyakit itu beberapa tahun terkahir menyerang bangsa kita. Mereka yang diserahi tugas memimpin bangsa kita telah menjadi kolong, beridentitas ganda, dan mencari keuntungan dalam cara-cra yang gelap. KKN adalah tindakan gaya kalong. KKN adalah usaha mempertahankan hidup dalam kegelapan. Nabi Maleakhi dalam bacaan pertama tadi mencatat bahwa orang-orang yang dipercayakan untuk memimpin masa itu tidak menjalankan tugasnya secara baik dan bertanggungjawab. Yang dipercayakan untuk memimpin dan menjadi contoh telah kehilangan identitas. Mereka memiliki identitas ganda agar meluputkan diri dari segala situasi yang tidak menguntungkan. Para pemimpin masa nabi Maleakhi telah bertindak dan hidup seperti binatang kalong. Karena itulah para imam diberi tugas untuk mengembalikan kepercayaan umat kepada Yahwe. Imam yang dimaksudkan dalam perjanjian lama ini adalah semua orang yang diberi tugas untuk memberikan kesaksian tentang Allah. Semua orang diberi tugas dan tanggungjawab untuk memberi kesaksian tentang Yahwe. Semua orang yang mendapat tugas itulah yang disebut para imam. Yang diberi tugas memberi kesaksian dituntut memberikan kesaksian itu dalam hidup yang nyata.

Setiap tugas yang diberikan kepada seseorang bisa dilihat sebagai kepercayaan dan tanggungjawab. Dan kalimat seperti ini paling banyak kita dengar beberapa hari belakangan ini. Presiden dan wakil presiden kita yang baru atau para pemimpin yang baru tak segan-segan mengatakan bahwa jabatan (presiden dan wakil presiden atau apa saja) adalah bentuk kepercayaan dan tanggungjawab yang harus diemban. Jabatan yang mereka pangku adalah tanda kemenangan demokrasi. Tanda kemenangan rakyat. Dan mereka mau mengabdi kepada rakyat. Para anggota kabinet persatuan dan Kesatuan juga mengungkapkan hal yang sama. Kita para rakyat kecil tentu akan mencermati apakah bahasa yang indah itu bisa diwujudkan nanti dalam tugas mereka. Kita menunggu apakah mereka itu tidak bakal menjadi kalong yang beraktivitas dalam gelap. Apakah mereka mampu membutktikan bahwa mereka itu patut diteladani atau tidak. Kita tentu menantikan semua itu dengan sabar.

Kita semua sebagai orang beriman mendapat tugas yang sama untuk memberi kesaksian iman kita dalam kehidupan kita. Kita sebagai orang beriman dengan cara kita masing-masing ditugaskan untuk memberi kesaksian itu. Kita semua adalah imam yang diberi tugas dan tanggungjawab memberi kesaksian tentang iman kita. Dan kita mendapat tokoh yang menjadi model dalam memberikan kesaksian itu. Santu Paulus dalam bacaan kedua tadi menegaskan kepada kita bahwa kesaksiannya itu sifatnya total, bukan setengah-setengah. Komitmennya pada kesaksian itu tidak terbagi. Paulus mendasarkan pewartaannya dalam sikap yang ramah. Dia membiarkan Allah membantunya dalam pewartaan. Kerendahan hati Paulus menjadikan ia sukses dalam pewartaannya. Tindakan-tindakan yang bersifat demonstratif bukan menjadi andalan bagi keberhasilan Paulus.

Yesus termasuk manusia yang tidak suka pada tindakan yang sifatnya demonstratif. Yesus itu bukan seorang akademisi yang menguasai pelbagai teori dan kaidah ilmiah yang akan diajarkannya kepada pengikutNya. Ia tidak punya mimbar untuk memberikan kuliah. Yesus juga bukan teknokrat yang memiliki kemampuan teknis untuk menjelaskan sesuatu. Ia tidak punya bengkel untuk menerapkan kemampuan teknis. Yesus adalah praktisi kehidupan. Sebagai praktisi kehidupan Yesus memiliki tingkat kepekaannya sangat tinggi. Berhadapan dengan petani Ia berbicara sebagai petani. Berhadapan dengan nelayan ia berbicara sebagai nelayan. Kualitas adaptasinya luar biasa. Segala sesuatu coba dilihatnya dalam kerangka yang serba sederhana, mudah untuk diingat dan praktis untuk dilaksanakan. Di atas semuanya itu ia mengajar dengan berbuat bukan dengan kata-kata. Ia telah melaksanakan dan menunjukkan apa yng bisa dilakukan para pengikutNya. Melalui Injil tadi Yesus mengingatkan para murid dan semua pengikutNya agar tidak terjebak dalam gaya hidup ahli taurat yang serba domonstratif dan teoretis. Yesus memaparkan sederetan nilai merah yang telah dikumpulkan para ahli taurat itu. Tujuan pemaparan itu tidak lain supaya para pengikutnya tidak melakukan hal yang sama.

Nilai merah yang paling besar yang diraih ahli taurat adalah sikap mereka yang latah. Mereka memaksa orang agar memanggil mereka rabi yang harus dihormati. Mereka menjadikan diri mereka sebagai objek sembah banyak orang. Mereka mengambil alih posisi Allah. Mereka mau berkuasa atas orang lain. Mereka mengklaim diri sebagai pemimpin yang harus ditaati. Penyakit keturunan dari nenek moyang mereka berupa kesombongan mulai kambuh dan kumat. Dan bagi Yesus kesombongan seperti itu tidak akan bertahan karena setiap usaha meninggikan diri sendiri akan ditimpali dengan risiko diturunkan. Yang meninggikan diri akan direndahkan.

Kita semua adalah pengikut Kristus. Kita semua mendapat mandat dan tugas yang sama untuk memberi kesaksian tentang gaya dan pola hidup yang pernah dijalani dan diakrabi Yesus. Status kita sebagai orang beriman, sebagai pengikut Kristus mewajibkan kita tampil sebagai praktisi kehidupan. Itu artinya kita dituntut untuk mengisi kehidupan kita, mengsisi segala tugas kita dengan segala sesuatu yang sesuai dengan teladan Yesus sang guru kehidupan kita. Menjalani kehidupan sesuai dengan tuntutan iman berarti kita hidup dengan identitas yang jelas. Bukannya seperti kalong yang mendatangkan masalah karena identitas yang tidak jelas. Identitas kita jelas telah dipersatukan dengan Kristus. Kita semua adalah anak terang. Bukan anak-anak kegelapan. Yesus telah membayar lunas dan membuat kita menjadi anak-anak terang. Mudah-mudahan kita tidak menjadi kalong-kalong di tengah masyarakat yang meresahkan karena kita menyukai kehidupan yang serba gelap.



Pringwulung, 31 Oktober 1999

Rm. Bonefasius Rampung Pr

MINGGU BIASA KE-12 TAHUN A

MINGGU BIASA KE-12 THN.A1

Yer.20:10-13; Rom.5:12-15; Mat.10:26-33



KETAKUTAN YANG KREATIF

Buka

Katakutan bisa membuat orang tidak mau melakukan sesuatu atau sebaliknya ketakutan membuat orang bisa melakukan sesuatu. Setiap pilihan terhadap alternatif yang memungkinkan orang merasa takut selalu membawa konsekuensi atau akibat tertentu. Sebagai orang beriman kita sering berhadapan dengan pilihan atau kenyataan yang yang berbuntut ketakutan. Dan hal itu membuat orang tidak kreatif. Orang menjadi kerdil. Orang beriman dalam pandangan Yesus haruslah kreatif. Kretaivitas orang beriman harus bertumpu pada ketakutan akan Allah. Kita bertanya diri apakah kita lebih takut kepada Allah atau lebih takut kepada manusia? Saya mengaku….



Renungan

Siapa Takut? Pertanyaan ini bukan sekadar basa-basi yang diluncurkan dalam bentuk pariwara atau iklan tentang produk tebaru melalui media massa kita. Siapa takut? Pertanyaan ini sangat menantang dan mungkin lebih tepat dikatakan sebagai pertanyaan yang bernada provokatif. Pertanyaan ini dapat diinterpretasi ganda yaitu tidak ada lagi orang yang takut, tidak ada lagi sesuatu yang ditakuti dan jangan atau tidak perlu takut.



Katakutan dapat membuat orang tidak mau melakukan sesuatu atau sebaliknya ketakutan membuat orang bisa melakukan sesuatu. Setiap pilihan terhadap alternatif yang memungkinkan orang merasa takut selalu membawa konsekuensi atau akibat tertentu. Sebagai orang beriman, kita sering berhadapan dengan pilihan atau kenyataan yang yang berbuntut ketakutan. Dan hal itu membuat orang tidak kreatif. Orang menjadi kerdil.

Orang beriman dalam pandangan Yesus haruslah kreatif. Kretaivitas orang beriman harus bertumpu pada ketakutan akan Allah. Dalam masa reformasi seperti sekarang ini, tampaknya kata takut atau ketakutan mulai menjauh dari kehidupan kita. Era reformasi adalah era keberanian. Era penyingkiran rasa takut yang memungkinkan bahkan memberikan harapan baru bagi manusia untuk dapat hidup dan menjalankan kehidupan ini secara baik. Badai reformasi telah menafasi pelbagai aspek kehidupan kita. Saat ini pun telah muncul nabi-nabi baru yang menuntut kekebasan, keterbukaan, keadilan, dan kebenaran. Semua orang semakin berani menuntut haknya dengan pelbagai macam cara dan sarana.

Menempatkan teks-teks kitab suci yang dibacakan untuk kita pada hari Minggu ke-12 ini dalam konteks reformasi rasa-rasanya tidak relevan dan tidak aktual bagi kita. Mengapa? Karena saat ini hampir semua orang sudah mulai berani terhadap siapa saja dalam masalah apa saja. Dan bacaan-bacaan minggu ini mengingatkan kita supaya jangan takut. Apakah benar hidup kita telah sungguh-sungguh bebas dari rasa takut itu?

Sehebat apa pun keberanian manausia, sekuat apa pun tuntutan reformasi yang kita alami menurut hemat saya tidak akan membebaskan kita dari gangguan sahabat karib kita yang namanya Takut atau ketakutan itu. Kalau kita jujur dan mencoba melihat keseluruhan pengalaman hidup kita maka kita akan sampai pada satu titik kesimpulan bahwa hidup kita manusia dianyam dari ketakutan-ketakutan dan dibangun di atas ketakutan. Kalau boleh saya katakan hidup kita ini berarti di diberi arti justru karena adanya jalanan ketakutan dalam diri dan hidup kita. Saya boleh pastikan bahwa kalau ada dari antara kita ini merasa diri tidak memiliki ketakutan maka betapa kerdil hidup orang itu. Ketakutan memungkinkan orang kreatif dan dinamis. Rumah-rumah dipagar tembok dan digembok berlapis-lapis takut dijarah maling. Semua pengemudi kendaraan harus memperhatikan rambu-rambu lalu lintas, takut ditilang polisi. Barang-barang impor harus ditelititi takut tercemar atau terkontaminasi dioksin yang membayakan. Orang berlajar karena takut ketinggalan pengetahuan. Partai-partai politik menggunakan cara-cara yang kurang terpuji karena takut kalah dalam pemilu. Para pejabat menumpukkan harta ilegal karena takut tanpa harta menjelang usia senja. Orang-orang rajin berdoa karena takut masuk neraka. Singkatnya orang berbuat sesuatu entah itu sifat baik atau buruk selalu bermula dari adanya perasaan takut. Ketakutan mendahului keberanian untuk melakukan sesuatu.

Ketakutan dapat memposisikan manusia pada dua pilihan yang saling berseberangan. Karena merasa takut orang bisa melakukan kejahatan. Tetapi karena rasa takut juga orang bisa melakukan sesuatu yang baik. Dalam konteks seperti ini maka menurut hemat saya ada dua jenis ketakutan. Jenis yang pertama adalah ketakutan Primitif (status quo). Dan ketakutan jenis kedua adalah ketakutan Modern. Katakutan primitif adalah ketakutan yang mendorong orang melakukan segala yang jahat. Sebaliknya ketakutan modern adalah ketakutan yang memungkinkan orang terlibat dalam pelbagai tindakan yang baik, yang membawa kemajuan bagi dunia dan kehidupan manusia. Dalam kehidupan manusia, ketakutan primitif cenderung menguasai manusia. Katakutan primitif itu ada sejak manusia pertama Adam dan Hawa terlibat dalam satu rekayasa karena takut. Mereka takut tidak sama seperti Allah membuat pasangan itu berani makan sesuatu yang dilarang. Adam dan Hawa mewariskan model ketakutan primitif, ketakutan status quo. Surat Paulus kepada jemaat Roma dalam bacaan kedua tadi memberikan penjelasan tentang hal ini. Dan konsekuensi atau akibat dari pewarisan ketakutan primitif itu tidak tanggung-tanggung. Maut dan kematian adalah konsekuensi dari pewarisan ketakutan primitif sejak Adam, sampai masa kepemimpinan Musa.

Yesus adalah tokoh atau figur yang paling radikal dalam menuntut perombakan atau proses reformasi terhadap kehidupan manusia. Yesus di utus ke dunia untuk melakukan reformasi total terhadap dunia. Yesus diutus ke dunia untuk mengalahkan ketakutan primitif yang memperbudak manusia. Yesus datang mau mewariskan kepada dunia sebuah ketakutan bercorak modern, ketakutan yang bernada reformis, ketakutan yang mendorong manusia menghindarkan diri dari segala tindakan dan perbuatan yang tercela. Yesus datang dan menuntut manusia untuk takut kepada Allah yang memungkinkan manusia mengharapkan kehidupan. Ketakutan primitif yang diwariskan sejak Adam ditaklukan dengan ketakutan reformis, ketakutan yang menghidupkan di tangan Yesus.

Reformasi yang tengah kita banggakan saat ini belumlah reformasi seperti yang diharapkan Yesus. Kita semua masih dikelompokkan sebagai orang yang dikuasai ketakutan primitif. Karena itu, ajakan Yesus “janganlah kamu takut” masih aktual, masih relevan untuk kehidupan kita. Yesus menuntut para pengikut-Nya agar tidak takut menghadapi manusia yang dikuasai ketakutan primitif. Yesus membekali umat beriman dengan ketakutan modern, ketakutan reformis. Dan Tuhan sejak zaman para nabi seperti Yeremia dalam bacaan pertama telah mencanangkan proses reformasi itu. Yeremia diutus dan dikenal sebagai nabi yang paling takut kepada Tuhan sehingga ia berani menentang para pejabat dan penguasa yang lalim saat itu. Yeremia berhasil membongkar kelaliman dan pelbagai tindakan rekayasa politik pada masa itu. Ia berani mempertaruhkan hidupnya di tangan Tuhan dalam rangka memerangi manusia-manusia yang enggan melepaskan warisan ketakutan primitifnya.

Tuntutan Yesus dalam injil hari ini sungguh menantang kita. Pernyataan Yesus pada dasarnya mengharapkan kita sebagai pengikut-Nya untuk tampil sebagai nabi yang memiliki ketakutan akan Allah untuk mengalahkan ketakutan-ketakutan yang memperpanjang staus quo kedosaan manusia. Menyangkal Allah dan hidup berlawanan dengan kehendak Allah sama artinya kita melilih ketakut primitif. Risikonya adalah maut dan kematian. Mengakui Allah dan melakukan kehendak-Nya akan menjadikan kita sebagai kelompok reformis. Yesus menantang kita entahkah kita pilih mengakui Allah atau menyangkalnya. Kekuatan-kekuatan jahat yang lahir dari ketakutan primitif akan terus kita hadapi, tetapi Tuhan memberi jaminan kemenanagan buat kita yang membela dan berpihak kepada kebenaran. Karena itu, kita boleh mengibarkan panji bertulisakna “Kalau Allah di pihak kita siapakah yang berani melawan dan mengalahkan kita?” Mudah-mudahan kita lebih takut kepada Allah dari pada takut kepada manausia. Amin



Pringwulung, 19 Juni 1999

Rm.Bonefasius Rampung Pr

MINGGU BIASA KE-10 TAHUN A

HARI MINGGU BIASA X TH.A2

Hosea 6: 3b-6; Rom. 4:18-25; Mat. 9: 9-13

Seminari Pius XII Kisol



Buka

Orang biasanya membandingkan pola perilaku kehidupan orang barat dengan pola perilaku kehdupan kita orang Timur. Ada banyak variabel yang dapat dipakai untuk membandingkan dua pola perilaku masyarakat tersebut. Berbeda dalam sikap terhadap waktu. Berbeda dalam mental kerja atau etos kerja berbeda dalam aspek kerumitan berbahasa. Dari sekian banyak variabel itu ada satu variabel yang penting yang membedakan orang barat dan orang timur. Orang barat biasanya mampu membuat distingsi atau pembedaan yang jelas antara perbuatan seseorang dengan kepribadiannya. Orang timur tidak membedakan hal itu. Hal ini sangat menentukan cara dan sikap orang barat dan orang timur terhadap seseorang. Orang barat biasanya lebih rasional karena orang boleh membenci pendapat seseroang tetapi tidak membenci diri orangnya. Kita orang timur biasanya lebih emosional sehingga kita pakai sistem sapu bersih artinya kalau gagasan seseorang ditolak sama dengan kepribadiannya ditolak. Sikap seperti ini tampaknya mendekati sikap ahli taurat dan orang farisi. Kelemahan kita orang timur adalah mencampuradukan segala hal tidak pada tempatnya. Marilah kita akui kelamhan dan dosa kita



Renungan

Seperti biasa, saya akan memulai renungan ini dengan cerita. Judul cerita ini adalah: Tragedi Si benjol” Benjol adalah nama seorang pemuda desa. Pada suatu waktu Benjol mengunjungi familinya di sebuah kota kecil. Pagi-pagi sebelum semua orang bangun, Benjol bangun lebih dahulu dengan perhitungan agar segala kebiasaan dari kampungnya bisa dilaksankan dengan baik. Benjol ingin membereskan segala urusan pribadinya pagi-pagi buta karena kebiasaan di kampungnya ia biasa membereskan urusan membuang-buang barang yang tidak perlu itu hanya mengandalkan kegelapan pagi atau kalau agak terpaksa kesiangan biasanya barang yang tidak perlu itu dibuang dibalik pohon besar atau di balik batu besar, biar tidak terpantau. Ia bermaksud menuju rumpun pohon pisang demi keamanan. Malang benar nasib si Benjol pagi itu. Sebelum sampai rumpun pisang Benjol terjerembab ke dalam lubang wc yang baru digali milik tetangga. Lubang wc itu sangat dalam dan ukurannya kecil. Dari dalam lubang itu si Benjol berteriak histeris. Selama beberapa jam ia berjuang tetapi gagal. Menjelang waktu kerja pagi orang mulai sibuk. Benjol terus berteriak. Kebetulan lewat seorang guru matematika. Ia melihat ke dalam lubang lalu berkata: dahulu Anda pasti tidak mengikuti pelajaran matematika dengan baik. Inilah akibatnya. Jalan tidak pakai hitungan matematis yang cermat. Saya belum bisa menolong Anda karena takut telat masuk kelas. Lalu datanglah seorang guru fisika. Dia melihat ke dalam lubang, lalu bertanya: Apakah Anda tidak pernah belajar tentang hukum gravitasi yang diajarkan Isac Newton. Benjol menjawab saya tidak pernah bertemu orang yang nama gravitasi itu. Karena jengkel guru fisika itu lalu pergi. Lalu muncul seorang guru sosiologi. Ia melihat ke dalam dan bertanya: apakah anda tidak pernah belajar sosiologi yang menjelaskan di sekitar rumah warga masyarakat harus ada lubang wc. Benjol menjawab. Di kampung saya tidak ada lubang seperti ini. Lalu mucul seorang insinyur bangunan. Ia melihat keadaan lubang wc itu dan berkata. Saya akan menolong Anda, tetapi tunggulah dengan sabar karena saya harus kembali mengambil rol meteran untuk mengukur kedalaman dan lebar lubang wc ini. Sementara itu datanglah seorang bapak penjual pisang. Tanpa omong banyak ia mengambil kayu pemikul pisangnya, dan langsung melompat masuk ke dalam lubang. Ia meminta si Bendol naik ke atas bahunya sampai berhasil keluar dari lubang itu. Si benjol menarik penjual pisang itu keluar dengan bantuan kayu pemikul yang sama.

Nasib si Benjol adalah nasib umum manusia. Semenjak manusia pertama terjebak dalam ketidaksetiaan, manusia bagaikan jatuh ke dalam lubang yang tidak terjembatani. Situasi dosa adalah kondisi, keberadaan manusia di dalam lubang yang dalam dan mematikan. Dalam kondisi seperti itu manusia mengharapkan datangnya bantuan dan pertolongan. Bantuan dan pertolongan artinya adanya unsur yang menjembatani kembali keterpisahan manusia dari Tuhan. Kejatuhan itulah dosa dan dosa adalah sesuatu yang dibenci oleh manusia, sebab dosa itu mengancam kehidupan manusia. Dosa yang bersengatkan maut tak henti hentinya mengancam manusia menuju kebinasaan dan kehancuran. Inilah alasan mengapa dosa itu dibenci oleh manusia. Yang pantas menjadi musuh kita semua hanyalah dosa, dan bukan pelakunya. Namun ini kelihatannya hanya sebuah teori. Dalam praktiknya manusia sulit sekali memisahkan dosa dari pelakunya. Dosa masih sering diidentikkan atau disatukan dengan pelakunya.

Inilah sikap dasar orang Farisi terhadap orang berdosa. Sebab itu ketika Tuhan Yesus memanggil Matius untuk mengikuti Dia, dan ketika Dia mendatangi rumahnya serta makan dan minum bersamanya, orang Farisi langsung merasa "jijik" dan bertanya kepada murid murid Nya: "Mengapa gurumu makan bersama sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa". Orang orang Farisi tidak setuju dan tidak senang kalau Yesus mendekati orang orang berdosa dan makan dan minum bersama sama dengan mereka, sebab bagi mereka dosa dan pelakunya tetap menjadi satu. Maka kalau dosa dibenci, pelakunya juga dengan sendirinya mesti dijauhi dan ditolak.

Bagaimanakah sikap Yesus? Dengan tegas Tuhan Yesus berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kuke¬hendaki ialah belaskasihan dan bukan persembahan karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdo¬sa". Orang sakit dan orang berdosa menjadi priori¬tas misi, perhatian dan pelayanan Tuhan, sebab yang diutamakan oleh Nya adalah belaskasihan. Belaskasihan mengalahkan kuasa maut dan dosa. Komitmen Yesus untuk menyelamatkan pendosa atau manusia yang terjerembab ke dalam lumpur dosa bukanlah teori semata. Komitmen Yesus adalah komitmen praktis. Dia tidak belajar perhitungan matematis saat orang jatuh ke dalam dosa. Dia tidak menggunakan argumentasi ilmiah dalam menolong orang. Dia tidak membutuhkan perhitungan seperti seorang ahli bangunan ketika berhadapan dengan manusia yang jatuh. Yesus bukan seorang ahli matematika, bukan juga ahli fisika. Meskipun anak tukang kayu Yesus tidak bergelar insinyur bangunan. Yesus tidak mau repot dengan semuanya itu. Kriteria yang digunakan Yesus terlampau pragmatis dan memang itulah yang praktis. Kriteria yang dia pakai adalah rasa belas kasih kepada manusia. Ia secara praktis mengajarkan sekaligus menunjukkan bagaimana harus bersikap terhadap para pendosa. Ia memanggil dan bahkan makan bersama orang berdosa. Ia tidak mau berteori banyak seperti orang farisi dan ahli taurat. Ia langsung terjun ke dalam lubang situasi pengalaman manusia seperti si penjual pisang yang menyelamatkan si Benjol itu. Yesus tidak berkata banyak tetapi berbuat banyak. Orang farisi dan ahli taurat selalu berkata banyak tetapi berbuat tidak banyak bahkan tidak berbuat apa-apa.

Kehadiran Yesus orang yang jatuh dalam dosa membawa nuansa tersendiri dan terbilang unik. Bagi orang berdosa, Tuhan dengan belaskasihan Nya tampil sebagai "Fajar matahari dan rintik hujan". Sebagai fajar matahari, Tuhan yang berbelas kasihan membakar segala "semak dan sarang" dosa dalam diri kita, dan sekaligus, menumbuhkan benih benih kehidupan baru dalam diri kita. Sebagai rintik air hujan yang deras, Tuhan yang berbelaskasihan mengguyur habis segala dosa dari dalam diri kita. Dengan itu, kita menjadi bersih, suci dan murni sebagai anak anak Nya. Kita terangkat dari jurang yang dalam. Manusia jatuh ke dalam dosa, kadang-kadang menyerupai pengalaman si Benjol tadi. Jatuh dan berdosa memang tidak pernah kita kehendaki tetapi oleh godaan setan dosa itu datang seperti pencuri ke dalam "rumah hati" kita.

Tuhan sudah berupaya maksimal untuk menyelamatkan kita dengan darah dan kehidupan Putra-Nya. Lalu, apa balasan dan tanggapan kita terhadap upaya Tuhan itu? Tuhan tidak menuntut banyak. Nubuat Hosea dalam bacaan pertama memberikan jawaban. Tuhan hanya meminta kita untuk tetap setia kepada-Nya dan tetap mengenal Dia dalam kelemahan dan kerapuhan kita. Hosea mencatat: Inilah kehendak Tuhan sendiri kepada kita. "Aku menyukai kasih setia dan bukan korban sembelihan, dan menyu¬kai pengenalan Allah, lebih daripada korban korban bakaran" (Hos 6:6). Tuhan setia kepada kita dan mengenal kita dengan segala kelemahan dan dosa kita. Sebab itu, kita juga setia kepada Dia dan mengenal Dia dalam keadaan yang rapuh dan berdosa. Dengan bersi¬kap setia kepada Tuhan dan mengenal Dia dalam kerapuhan kita, kita akan terdorong untuk membenci dosa, menarik diri atau menjauhkan diri dari dosa itu untuk kembali menghayati hidup yang baik dan benar, sesuai dengan martabat diri kita yang luhur sebagai anak anak Allah.

Manusia harus mengabdi Tuhan dan melepaskan dosa. Mengapa? Karena Tuhan sendiri menegaskan: "Tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat men¬gabdi kepada Allah dan kepada iblis”. Dalam arti ini, kalau kita mengenal Tuhan dan mengasihi Dia, maka dengan sendir-inya kita menjauhi dan membenci dosa. Kalau kita dekat kepada Tuhan, maka pasti kita jauh dari dosa atau dosa jauh dari kita. Kalau kita mengabdi Tuhan, maka tentu kita juga akan menolak dan menghindari dosa, sebab kita tidak mungkin mengabdi kedua duanya. Kalau kita mengabdi kedua duanya, kita sendiri akan kacau balau, Tuhan dan setan juga akan berperang terus menerus dalam upaya merebut kita. Kita manusia adalah wilayah persengketaan atau perebutan dari dua kekuatan antara Tuhan dan setan. Karena itu, supaya kita menang dan aman, serahkanlah saja diri kita kepada Tuhan, dan cintailah hanya Dia dalam kesetiaan yang penuh terhadap Nya, sehingga setan dan dosa tidak berdaya atas diri kita.

Abraham seperti disebut oleh Santo Paulus dalam bacaan kedua dapat menjadi contoh kita dalam hal ini. "Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya. Imannya tidak menjadi lemah tetapi ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah dengan penuh keyakinan bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.

Karena dosa, kita sering menjadi lemah dan tak berdaya. Atau juga karena kita lemah dan tak berdaya, maka kita sering berdosa. Seperti Abraham hendaknya kita yakin bahwa "Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan" kepada kita. Janganlah takut, sebab Aku menyertai kamu untuk menyelamatkan kamu dan untuk melepaskan kamu dari tangan setan, dari jaringan dosa dan "jerat maut".

Tentu kita semua tidak mau terus berada dalam jurang yang gelap dan karena itu kita dituntut untuk selalu mencari pertolongan. Dan pertolongan kita adalah Tuhan. Yesus telah memberikan petunjuk untuk kita para pengikut-Nya dalam melakukan tindakan yang praktis, membeci dosa tetapi tetap mencintai manusia. Ibarat kita diberi kacang sukro, kita membuang kulit pembungkusnya agar menikmati enaknya kacang sukro. Membuang dan meninggalkan dosa seseroang tetapi tetap mencintai diri orangnya. Kalau pakaian kita kotor kita mencucinya agar kotornya hilang, dan bukan pakaiannya yang dibuang. Pakaian itu lebih penting dari kotorannya, manusia lebih penting dari dosanya. Dan itulah argumentasi utama Yesus berhadapan dengan orang farisi dan ahli Taurat. Argumentasi itulah yang harus kita gunakan. Jika tidak, kelak kita akan menghadap Tuhan dengan benjolan-benjolan dosa kita. Kita boleh mengalami nasib seperti si Benjol tetapi bukan bermaksud menghiasi diri dengan benjolan dosa. Amin.

Rm.Bone Rampung, Pr

MINGGU BIASA KE-7 TAHUN A

Minggu Biasa Ketujuh Tahun A/1

Im.19,1-2.17-18; 1Kor.3,16-23; Mat.5,38-48

Buka

Mengampuni dan memaafkan orang yang menyakiti hati kita rasa-rasanya merupakan pekerjaaan yang sulit. Deretan maslaah dalam hidup manusia semaukin panjang dan menumpuk justru karena orang merasa bahwa mengampuni dan memaafkan itu mustahil dijalankan secara utuh dan sempurna. Kita manusia sering terlalu cepat menganggap bahwa yang sulit itu sama dengan yang mustahil. Padahal, sulit itu tidak harus sama dengan mustahil. Hal yang dituntut dari manusia untuk menghilangkan sikap seperti itu adalah kemauannya untuk belajar dari pengalaman orang lain yang menjadi pahlwan dalam mengampuni dan memaafkan. Yesus adalah tokoh pengampun dan pemaaf anutan dan yang menjadi tempat kita berguru dan belajar mengampuni. Marilah kita awali perayaan ini dengan mengakui segala sikap kita yang sering enggan memberi pengampunan kepada yang bersalah tehadap kita.



Renungan

Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama kita dapat membaca apa yang dinamakan dan dikenal orang sebagai ‘hukum balas dendam’. Bunyi hukum balasdendam itu: “Nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak.” (Kel. 21:23-25). Mendengar segala apa yang disampaikan kepada kita melalui kitab keluaran ini, mungkin secara spontan kita berkata, “Alangkah kejam dan biadabnya hukum yang tertulis dalam Perjanjian Lama itu! Mungkin juga kita mengumpat: “Dasar manusia primitif!”

Penilaian kita yang demikian tidak seluruhnya benar. Kalau kita memperhatikan secara lebih cermat, manusia modern sekarang ini yang kadang-kadang kelihatannya jauh lebih primitif dan buas daripada manusia yang hidup pada zaman dulu atau manusia zaman Perjanjian Lama itu. Bandingkan saja dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi beberapa tahun terakhir ini di tanah air kita sendiri. Juga perlu diinsyafi bahwa bila dibandingkan dengan hukum bangsa-bangsa lain sezamannya, hukum yang dirumuskan dalam Taurat Musa itu jauh lebih berperikemanusiaan. Dia membatasi balas dendam pada hukuman yang setimpal saja. Mata ganti mata. Bukannya: mata ganti nyawa. Gigi ganti gigi. Bukannya: gigi ganti leher. Dengan adanya hukum ini, maka berkuranglah jumlah pertikaian berdarah antarkeluarga, antarmarga, antarkampung, antarkelompok yang biasanya bermula dari perasaan tersinggung dalam diri salah seorang warganya. Dan juga, di dalam kenyataan hidup harian kalangan bangsa Israel, hukum Musa ini jarang dilaksanakan secara hurufiah. Biasanya kalau si Anu merontokkan gigi si Beta, maka gigi milik Si Anu tidak harus dirubuhkan. Keselamatan gigi-gigi ini biasanya ditebus dengan sejumlah uang. Kasus perontokan gigi seperti itu dapat diatasi dengan kompensasi atau tebusan dengan barang yang lain. Tidak mesti barang sejenis.

Jadi, hukum ‘gigi ganti gigi’ itu sesungguhnya juga berasaskan kasih. Namun, meskipun demikian, Yesus tetap menolak hukum Musa itu. Lalu muncul pertanyaan, mengapa Yesus menolak penerapan hukum yang sebenarnya masih berunsur kasih dan kemanusiaan seperti itu?

Apa yang diinginkan Yesus dari setiap pengikutnya adalah seperti yang kita dengar melalui bacaan Injil tadi: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu. Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu. Berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Bila orang menampar pipi kananmu, berikanlah juga pipi kirimu. Bila orang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.

Jadi, konsep keadilan Yesus jauh lebih mulia daripada konsep keadilan dalam hukum Musa. Menurut konsep Musa, adil kalau satu-satu gigi yang jatuh. Sedangkan Yesus mengajarkan, itu adil, itu berkenan kepada Tuhan, kalau kita tidak membalas ketidakadilan yang kita rasakan. Bahkan lebih dari itu. Kita mesti mengasihi, meminta berkat dan berdoa bagi orang yang merontokkan gigi kita.

Ini sesuatu yang sangat sulit, tapi bukannya mustahil. Yesus sendiri telah memberikan contoh atau menerapkan prinsip itu. Di jalan salib-Nya, Dia ditampar, dipukuli, dilucuti pakaiannya, akhirnya dipaku pada palang salib. Dalam sederetan pengalaman dan kasus tersebut Dia tetap memperlihatkan kasih-Nya kepada mereka yang berlaku kasar dan jahat itu. Dia malahan mendoakan mereka karena mereka bagi Dia segala apa yang mereka lakukan terhadap diri-Nya merupakan akibat kurangnya pengetahuan mereka akan rencana Allah. Bagi Yesus, semua yang menganiaya-Nya, tidak tahu apa yang mereka perbuat. Ya Bapa ampunlah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

Banyak orang, entah sadar entah tidak, telah meniru teladan Yesus itu. Konon dikisahkan bahwa seorang ibu muda Israel suatu hari tiba-tiba seperti kehilangan segalanya, karena suaminya ditembak mati oleh seorang Palestina musuh bebuyutan Israel. Berdasarkan berita-berita yang beredar kemudian, ibu itu tahu bahwa istri sang penembak suaminya lagi di rumah sakit menunggu operasi pencangkokan jantung. Sambil menyingkirkan rasa sakit hati dan keinginan balas dendam, yang sebetulnya sangat membara dalam dadanya, dia menawarkan jantung suami kepada istri si pembunuh itu. Tidak lama kemudian, berdetaklah jantung sang suaminya itu di dalam dada istri musuhnya.

Contoh lain kita saksikan pengalaman Paus Yoh Paulus II yang nyaris mati ditembak oleh penjahat Ali Aqca. Tetapi, kita semua tahu bahwa kemudian Paus memberi pegampunan bahkan mengunjungi penjahat itu yang terpaksa harus meringkuk di penjara. Daud dalam bacaan pertama tadi dikejar-kejar oleh Raja Saul untuk dimusnahkan. Beberapa kali tombak Raja Saul nyaris tertancap di dada dan pelipisnya. Kita mendengarkan sebuah kisah yang sungguh dramatis ketika Daud mendapat kesempatan emas untuk membalas dendam terhadap aneka kejahatan yang dilakukan Saul itu, Daud tidak mau menggunakan kesempatan untuk melakukan tindakan balas dendam terhadap Saul itu. Yang diberikan Daud kepada Saul hanyalah sikap mengampuni. Barangkali kita sendiri pernah bertemu dengan orang-orang seperti itu, yang rela mengampuni orang lain, bahkan mengampuni diri kita sendiri.

Mari kita bertanya diri, “Mengapa orang-orang itu bisa mengampuni sesamanya dan saya tidak bisa?” Jawabannya, “Kita sendiri pun sangat bisa, hanya kadang-kadang kita tidak mau mencobanya. Kita terlalu cepat menyerah pada kecenderungan balas dendam yang memang sudah ada dalam diri kita masing-masing. Ssikap balas dendam yang diwariskan dalam tragedi taman firdaus itu lebih menguasai diri dan hidup kita daripada harus berjuang memupuk dan menumbuhkan sikap untuk mengampuni. Barangkali ada yang berkata dalam hatinya, “Saya tidak setuju dengan ajaran Yesus itu. Masa kita membiarkan saja diri kita diperlakukan sewenang-wenang?”

Bukanlah maksud Yesus untuk menyuruh kita menyerah saja pada kekerasan, ketidakadilan, dalam arti menerimanya sebagai sesuatu yang boleh terjadi atau berlangsung di bumi ini. Saat seorang serdadu menampar Yesus, Yesus tidak berdiam diri, tetapi Dia menantang serdadu itu dengan mengajukan pertanyaan reflektif, “Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?” Pertanyaan Yesus ini, bukanlah untuk menyakiti hati orang itu tetapi untuk menyadarkannya, untuk menolongnya menemukan bukan saja apa yang baik tetapi juga menemukan apa yang benar.

Itulah juga yang mesti kita lakukan. Bila kita diperlakukan secara kasar, maka kita perlu membela diri dengan mengingatkan orang itu akan kekeliruannya sehingga dengan demikian, dia menghentikan perbuatan jahat itu. Kalau toh dia tidak sadar, tetapi terus menyakiti kita, Yesus katakan, ‘Tidak apa-apa, lebih baik kehilangan satu mata, satu tangan atau satu kaki, tapi masuk surga, daripada memiliki tubuh yang utuh dan sehat tetapi diceburkan ke api neraka,’ kalau kita balas melakukan ketidakadilan.

Ada yang membenarkan aksi balas dendam dengan mengagungkan tujuannya yang mulia yaitu untuk mengubah situasi, mengubah orang lain. Dari pengalaman sehari-hari kita mengetahui, bahwa bila seseorang berlaku kasar atas kita dan melakukan hal yang sama terhadapnya, maka hampir pasti bahwa keretakan hubungan kita akan bertambah lebar. Tetapi, bila kita coba menerima perlakukan kasar itu dengan hati yang damai, tanpa usaha untuk membalas dendam, orang itu akan kaget, tercengang, malu dan kemudian datang meminta maaf. Kita pun akan keluar sebagai pemenang pertikaian itu. Kita berhasil menjadikan orang itu sebagai teman kita, kita juga mendapatkan kedamaian dalam hidup.

Mungkin baik kalau kita mengingat kembali cerita bijak tentang bagaimana caranya memenangkan hati orang dengan kelembutan:

“Pada suatu ketika, angin dan matahari bersengketa. Angin membanggakan diri bahwa dialah yang lebih kuat. Katanya, “Saya akan tunjukkan kepadamu bahwa sayalah yang lebih kuat. Lihat orang tua yang mengenakan mantol di sana. Saya bertaruh bahwa saya akan membuat dia segera mencopot mantolnya itu.” Matahari menjawab, “Silahkan, kita akan lihat nanti.” Lalu dia bersembunyi di balik awan.

Angin pun mulai bertiup dan bertiup sederas-derasnya sehingga terjadi topan. Namun sederas-derasnya ia bertiup, orang tua itu tetap mengencangkan matolnya dan membungkus dirinya semakin ketat. Sesekali dia terjatuh, tetapi segera bangun lagi tanpa sedikitpun melonggarkan cengkraman pada mantolnya. Akhirnya angin itu jadi tenang dan menyerah.

Bersamaan dengan itu, sang matahari muncul pelan-pelan dari balik awan sambil mengumbar senyum dengan sinarnya kepada orang tua itu. Sesudah beberapa saat orang tua itu mulai mengusap keningnya, kemudian mencopot mantolnya dengan sukarela. Demikianlah matahari mengalahkan angin yang sombong itu dan menjalin persahabatan dengan orang tua tadi.

Kalau kita mau memenangkan hati orang, kalau kita mau mengubah suasana yang mendung jadi cerah kembali, belajarlah dari cara kerja matahari yang kita lihat sehari-hari. Lalu apa yang akan kita peroleh: Matahari akan bersinar cerah dalam hidup kita. Seperti Yesus rela menanggung sengsara, tetapi kemudian dimuliakan oleh Bapa-Nya di Surga, kitapun akan dimuliakan bersama Dia. Mari kita berdoa dalam hati masing-masing: “Tuhan, saya percaya Engkau telah menciptakan hati yang suka berdamai dalam diriku. Bantulah aku untuk meniru teladan pengampunan-Mu. Amin.

MI NGGU BIASA KE-6 TAHUN A

Minggu Biasa ke-6 Th.A1 14 Pebruari 1999

Sir.15,15-20 1Kor.2,6-10 Ma.5,17-37

Tamansari Yogyakarta



Buka



Para penjual biasanya selalu berkata bahwa barang yang dijualnya bermutu baik dan barang yang asli. Bukan tiruan. Barang asli sama dengan barang yang sebenarnya tanpa dicampur dengan unsur lain. Semua orang memang ingin mendapatkan sesuatu yang asli. Tetapi, dalam kehidupan orang justru banyak menampilkan hal yang tidak asli. Alasannya karena manusia cenderung merasa dirinya lebih baik, lebih benar dari orang lain. Akibat selanjutnya orang akan berusaha membenarkan diri sendiri dengan pelbagai alasan. Dari sini, lahirlah diri pribadi yang tidak asli lagi. Dalam perayaan ini kita mohonkan rahmat Tuhan bagi kita semua agar kita mampu menampilkan cara hidup kita yang sebenarnya bersama orang lain. Kita mohon semangat kejujuran, keterbukaan, dan kerendahan hati. Untuk itu kita akui segala kelemahan dan dosa kita yang membawa kita pada kesombongan dan ketertutupan diri terhadap sesama kita dan terhadap Tuhan… Saya mengaku…



Renungan



Hidup kita manusia penuh dengan pelbagai kemungkinan. Hal yang mebuat hidup kita terasa bagus menyenangkan justru karena kapada kita diberikan sekian banyak kemungkinan. Berbagai kemungkinan itu menuntut manusia untuk menentukan pilihan yang membantunya mengembangkan diri dalam hidup yang konkret. Semua kemungkinan itu adalah tawaran bebas untuk manusia. Apa yang disampaiakn dalam bacaan hari ini pada dasarnya bekaitan dengan masalah sikap dan pilihan manusia terhadp sekian banyak kemungkinan yang disiapkan Allah. Dalam bacaan pertama Kitab Putra Sirakh menampilkan dua pilihan yang berlawanan. Materi yang disiapkan adalah air dan api. Manusia tinggal pilih. Tentu dengan risikonya masing-masing. Pilih air ya mungkin membuat orang basah, pilih api ya mungkin membuat orang terbakar dan kering. Lebih jauh lagi Tuhan menawarkan pilihan antara hidup dan dan mati. Manusia bebas menentukan pilihan. Dan Tuhan, hanya akan menilai pilihan manusia. Tuhan akan memperhatikan orang yang takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan artinya orang melakukan sesuatu dan memutuskan sesuatu berdasarkan kehendak dan petunjuk Tuhan. Bukan membuat pilihan dan membuat keputusan atas pertimbangan dan kepentingan pribadi atau sentimen tertentu. Dan justru manusia terkadang mengalami perbenturan satu sama lain ketika orang membuat pilihan dan menentukan keputusan atas kehendak manusia sendiri. Keputusan yang berdasarkan pertimbangan pribadi itu terkadang pula muncul dalam sikap dan tindakan yang tidak konsisten, Kejujuran dan keterbukaan adalah ciri-ciri orang yang membuat pilihan dan keputusan dalam dan karena kehendak Tuhan. Tetapi, ketika pilihan dan keputusan itu dibuat karena ada pertimbangan tertentu di situlah muncul sikap manusia yang tidak lagi konsisisten. Manusia akan berusaha membolak-balikkan apa yang sebenarnya. Kehendak manusia dan pertimbangan yang sangat pribadi dari manusia akan dianggap sebagai kendak Allah. Dan orang mulai meng-ya-kan yang sebenarnya tidak dan menidakkan yang sebenarnya ya. Orang akan mengangguk kalau ia tidak setuju dan menggeleng kalau ia setuju. Dan justru itu yang terbalik dari kenyataan yang konkret.

Sikap manusia yang selalu berlawanan dengan sikap Allah menguasai kehidupan masyarakat Korintus. Paulus memberikan awasan seperti dalam bacaan kedua bahwa manusia seharusnya membagikan hikmat dan kebijaksanaan Allah. Manusia justru menutup hatinya untuk mendengar hikmat dan kebenaran Allah. Manusia cenderung menganggap dirinya menjadi manusia yang paling benar dari orang lain. Orang lupa bahwa dalam diri setiap orang Allah telah mengaruniakan hikmat dan kebenaran. Hanya orang yang rendah hati dan jujur mampu melihat bahwa kebenaran Allah ada dalam diri setiap orang. Kalau hal itu sungguh diyakini, maka orang pasti tidak dengan mudah mengganggap orang lain salah dan diri sendiri yang paling benar. Penyakit menganggap diri paling benar itu menjadi penyakit terbesar yang menimpa semua manusia. Sikap itulah awal segala bentuk tragedi dalam pelbagai model dan bentuk kehidupan.

Penggalan Injil yang kita baca mengingatkan kita semua bahwa kita sebagai orang beriman telah mendengar dan mendapat firman untuk tidak melakukan segala sesuatu yang berlawanan dengn kehendak Allah. Bagian terakhir dari injil tadi kiranya menjadi bahan permenungan sepanjang hidup kita. Jika ya hendaklah kamu katakan ya dan jika tidak hendak kamu katakan tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Yesus menuntut konsistensi dalam pilihan dan sikap hidup. Pilihan dan keputusan yang kita lakukan harus tegas dan selalu dalam kehendak Tuhan. Bukan dalam kehendak dan pertimbangan pribadi kita. Kalau pilihan dan keputusan itu hanya mengandalkan diri, karena merasa yang paling benar maka itulah hal yang lebih. Dan yang lebih itu datangnya dari si jahat menurut Injil tadi. Bagi Yesus pilihan dan keputusan itu harus tegas dan jelas. Tidak ada pilihan ya dan tidak sekaligus seperti dalam Kuis siapa Dia. Di hadapan sesama manusia mungkin manusia bisa membolak balikkan ya menjadi tidak atau tidak menjadi ya. Untuk itu, orang umumnya dengan mudah mengucapkan sumpah bahwa apa yang dikatkannya benar. Tentu saja itu namanya sumpah palsu. Injil justru menolak pelbagai bentuk sumpah palsu untuk membenarkan diri.

Sabda Tuhan itu memang tajam dan terdengar pahit, namun sabda yang tajam dan pahit itu bertujuan menyempurnakan cara hidup kita dari waktu ke waktu. Sabda Tuhan hari ini mungkin banyak mengkritik pilhan dan setiap model keputusan yang kita lakukan dari saat ke saat dalam pelbagai situasi kehidupan kita. Hidup kita itu dibentuk dan berjalan dalam proses memilih dan memutuskan. Bacaan hari ini memberikan pedoman bagi kita agar kita tidak terjebak dalam pilihan dan keputusan yang hanya menguntungkan diri kita. Tuhan menuntut kita untuk jujur dan terbuka dalam perjalan hidup dan karya kita. Api, air, hidup, mati tawarkan kepada semua manusia. Manusia tinggal memilih dan harus dapat menerima risiko pilihan dan keputusannya. Mudah-mudahkan kita menjadi penerus kehendak Allah dan bukan memanipulasi kehendak Allah dalam kehendak diri pribadi kita. Amin



Rm.Bone Rampung Pr

MINGGU BIASA KE-5 TAHUN A

Minggu Biasa ke-5 Thn. A/1 7 Pebruari 1999

Yes. 58,7-10 1Kor.2,1-5 Mat.5,13-16 Baciro



Buka



Cahaya dan terang itu didambakan semua orang. Ketika kegelapan menimpa kehidupan, ketika mendung menimpa kehidupan, saat itulah manusia mengharapkan terbitnya matahari dan bersinarnya cahaya. Orang merindukan terang. Orang merindukan cahaya. Dan semua orang beriman dipanggil untuk membawa terang dan juga menjadi terang itu sendiri. Pada awal perayaan ini kita bertanya diri sejauh mana kita telah menjalankan peran kita sebagai pembawa terang atau sebagai terang. Kita mohon ampun bila kita belum berfungsi secara maksimal sebagai terang.



Renungan

Saya mengajak kita semua merenungkan pesan firman Tuhan hari ini dengan satu cerita, ilustrasi berikut ini.Tiga orang anak berjuang memperebutkan harta kekayaan orangtua mereka. Ketika sang Bapak memasuki usia senja ketiga putranya mulai berusaha untuk merebut harta kekayaan orangtua mereka. Setiap mereka berjuang untuk mendapatkan harta warisan yang terbanyak dan terbaik. Melihat gelagat ketiga putranya itu maka Bapak mereka berusaha membagikah harta itu seadil-adilnya. Tetapi, anak-anaknya tetap merasa tidak puas. Untuk itu, Bapak mereka mendapat akal dengan mengadakan perlombaan. Perlombaannya sederhana. Setiap anak itu diminta untuk mengisi ruangan tamu dengan barang-barang apa saja, sampai tidak ada lagi bagian ruangan itu yang kosong. Yang berhasil akan mendapatkan warisan paling banyak dan berharga. Perlombaan dilaksanakan. Anak sulung langsung membeli dan mengumpulkan segala barang lalu memasukkan semuanya ke ruang tamu. Menjelang malam sang Bapak memasuki rungan untuk memberi nilai terhadap setiap anaknya. Ruangan itu memang penuh dengan segala barang, tetapi di antara barang yang disusunnya itu masih ada ruangan, cela-cela kecil yang kosong. Menyusul anak kedua. Ia membeli beberapa botol parfum yang mahal lalu menyemprotkan semuanya di ruangan tamu itu. Bapaknya diundang masuk. Silakan Bapak rasakan keharuman ruangan ini. Ruangan ini penuh dengan keharuman parfum merek terkenal di dunia. Bapaknya mengangguk-anggukkan kepala lalu mencatat nilai. Tibalah giliran anak yang ketiga. Pada malam itu ia mengundang bapaknya untuk menyaksikan hasil lombanya. Mereka memasuki ruangan itu dalam keadaan gelap. Ruangan itu tidak diisi apa-apa. Lalu anaknya mengambil sebatang lilin dan membakarnya. Lilin itu ditempatkan di tengah ruangan dan anak itu bertanya kepda bapaknya. Silakan Bapak mencari dan melihat bagian mana dari ruangan ini yang tidak disinari cahaya. Bapaknya bingung karena memang ruangan itu semuanya terkena sinar lilin kecil, sambil mencatat nilai.

Sehari kemudian diumumkan hasil perlombaan itu. Anak pertama mendapat nilai 50, anak kedua mendapat nilai 75 dan anak ketiga mendapat nilai 100. Yang pertama hanya dapat 50 karena bapaknya tidak bisa masuk ruangan untuk melihat secara keseluruhan, dan memang tampak ada lubang dan cela-cela yng tidak terisi dengan barang. Anak kedua hanya dapat 75 karena bapaknya hanya bisa mencium keharuman parfum dalam ruangan tetapi tidak melihat apakah keharuman itu memang mengisi seluruh ruangan. Sementara anak ketiga mendapat 100 karena memang ia menggunakan hal yang murah sederhana namun mampu mengisi seluruh ruangan. Anak ketiga menang karena mengandalkan terang, mengandalkan cahaya sebuah lilin untuk sebuah ruangan yang gelap. Ia mendapat harta yang paling berlimpah dan berharga.

Kalau kita coba menghubungkan cerita tadi dengan apa yang disampaikan dalam ketiga bacaan yang kita baca dan dengar tadi maka di sana kita bisa menemukan benang merah dan pesan yang penting untuk kehidupan kita sebagai orang beriman. Inti cerita di atas tadi mempersoalkan perjuangan kita manusia dalam merebut seuatu yang berharga. Dan, cara merebut kemenangan itu memang macam-macam. Bervariasi untuk setiap orang. Ada orang yang mengisi dan merebut harta berharga itu dengan mengumpulkan atau mengandalkan barang sebanyak mungkin. Ada pula yang mengandalkan kehebatan dan nama merek, keharuman nama untuk merebut harta itu. Ada pula yang merebutnya dengan mengandalkan kesederhanaan namun sangat manjur. Kehidupan kita sebagai umat beriman di dunia ini yang tengah berjuang merebut harta surgawi dapat dibandingkan dengan ketiga anak dalam cerita tadi.

Dan yang menjadi bahan permenungan kita hari ini adalah apa yang dilakukan oleh anak yang ketiga tadi berkaitan dengan penting dan kuatnya pengaruh terang atau cahaya dalam kehidupan. Pentingnya cahaya dalam situasi yang gelap. Nubuat Yesaya dalam bacaan pertama secara sangat jelas berbicara tentang cahaya itu. Judul bacaan tadi berbunyi Cahayamu akan merekah laksana fajar. Dan, efektivitas peran cahaya dalam konteks Yesaya ini harus dinyatakan dalam kehidupan konkret terhadap orang lain yang tidak memiliki apa-apa. Pelbagai macam kekurangan, kesulitan, tantangan, krisis yang dihadapi manusia, bagi Yesaya adalah bentuk kegelapan hidup yang harus disinari. Manusia dipanggil untuk menjadi terang yang dapat mengisi ruangan dunia dan kehidupan yang gelap. Orang seperti itulah yang akan dibentengi Allah dalam kebenaran dan kemuliaan. Orang yang mau menjadi terang bagi orang lain akan mendapatkan kemenangan dalam pertandingan hidup.

Menjadi pembawa terang bagi orang lain memang bukan hal yang gampang. Menjadi terang dengan membantu sesama terkadang menjadi redup ketika setiap bantuan disertai dengan perhitungan tertentu. Mengejar prestise, menacari nama, popularitas diri dan sejenisnya meruapakan hambatan terbesar bagi manusia untuk berperan sebagai cahaya. Santu Paulus memberikan resep ampuh bagi orang yang mau menjadi terang. Kesederhanaan dan kerendahan itulah kunci kesuksesan pewartaan Paulus. Apa yang dilakukan Paulus sesungguhnya merupakan kelanjutan cara yang ditunjukkan Yesus dalam pewartaan-Nya.

Figur seperti Yesaya, dan Paulus telah tiada namun bukan berarti aktivitas membawa terang, membagi terang serta memberikan kesaksian telah berakhir. Yesus melalui Injil Mateus telah menjadikan kita semua sebagai garam dan terang. Tuntutan Yesus dari kita adalah mengisi ruangan hidup kita, mengisi cela-lela kehidupan kita dengan terang. Menjadi garam dan terang artinya kita dipanggil untuk memberdayakan dan memaksimalkan peran garam dan terang itu. Memaksimalkan peran sebagai garam dan terang artinya manusia harus menentukan porsi yang pas serta menentukan tempat yang strategis. Garam baru berfungsi kalau ditempatkan pada sesuatu yang tawar. Cahaya baru berfungsi maksimal hanya di tempat yang gelap. Dan, kita ditugaskan untuk mengasinkan yang tawar dan menyinari yang gelap dalam kehidupan kita. Mudah-mudahan cerita awal tadi membantu kita untuk semakin menjadi cahaya dan terang dalam kehidupan kita di masa yang akan datang, sehingga kelak kita semua keluar sebagai pemenang meraih kebahagiaan bersama Allah. Amin.

Rm.Bone Rampung, Pr

MINGGU BIASA KE-4 TAHUN A

Minggu Biasa ke-4 Thn.A1

Zef.2;3. 3;12-13 1Kor.1,26-31 Mat.5,1-12a

Buka

Salah satu ‘penyakit’ yang menyerang setiap kita manusia adalah kecenderungan untuk menilai diri lebih dari orang lain. Akibatnya orang berjuang sekuat tenaga bahkan dalam persaingan yang ketat untuk mengalahkan orang lain. Persaingan seperti ini bisa mencakup segala bidang kehidupan. Kebanyakan orang berpikir bahwa dengan kelebihan atau keunggulan itu bisa menjadi jaminan keselamatan. Manusia kadang-kadang memaksakan jalan pikirannya pada Allah dan bukan sebaliknya menempatkan pikirannya dalam cara Allah dengan segala rencana-Nya. Karena itu, tidaklah mengherankan hari ini lewat sabda-Nya Allah mau menyadarkan manusia, menyadarkan kita bahwa Allah memiliki cara tersendiri dalam menilai kehidupan manusia. Marilah kita mohon ampun karena sering kita membanggakan diri sendiri dan meremehkan sesama.

Renungan

Sebagian besar masyarakat kita saat ini lagi bingung. Ada setumpuk alasan yang membingungkan kita. Dari tumpukan kebingunan itu orang mendambakan munculnya tokoh, figur yang membebaskan. Tokoh yang memberikan kekuatan, membangkitkan harapan. Masyarakat kita tengah menantikan lahirnya raja adil yang mempunyai hati untuk mencintai seperti Allah mencintai diri manusia. Karena itu, untuk merenungkan pesan sabda Tuhan yang disampaikan kepada kita hari ini saya mau bercerita seputar kebingungan. Suatu kerajaan -kita sebut saja namanya ‘kerajaan bingung’- hendak menyelenggarakan pemilihan raja yang baru. Raja lama telah tua. Yang membuat warga kerajaan itu bingung karena sang raja tidak berputra yang mewarisi tahta kerajaan. Masalah suksesi kepemimpinan menjadi agenda utama dalam setiap pertemuan pejabat tinggi kerajaan. Mereka kesulitan menemukan figur yang tepat menggantikan sang raja. Jalan keluar yang ditempuh adalah mengumumkan penjaringan calon dengan memasang iklan pada surat kabar milik kerajaan itu. Iklan itu berbunyi demikian. Dicari seorang yang akan menggantikan raja. Syaratnya: pencinta Tuhan dan Pencinta manusia. Yang memenuhi syarat silakan datang langsung menjumpai sang raja untuk diwawancarai. Dalam waktu singkat istana dibanjiri ribuan orang yang mau menjadi raja. Tempat parkir penuh sesak dengan pelbagai kendaraan. Ratusan orang berpenampilan eksekutif memenuhi pelataran istana. Di pintu gerbang masuk kerajaan itu semua mereka yang datang itu menyaksikan seorang pengemis tua, duduk dengan pakaian compang camping, tangan terulur meminta sesuatu kepada semua calon raja yang lewat. Semua mereka yang datang berusaha menghindari sang pengemis itu karena takut pakaian mereka dikotori dan juga takut terlambat menjumpai sang raja. Dari antara ratusan orang yang datang itu ada seorang bernama Pak Lepot yang datang dari pedalaman. Ia satu-satunya calon yang datang terakhir. Ia menjadi utusan dari kampungnya. Pak Lepot itu dikenal sederhana dan disenangi orang sekampungnya. Semua biaya perjalanan termasuk pakaian yang dikenakan Pak Lepot ditanggung warga sekampungnya hasil pengumpulan uang warga secara spontan. Ketika mendakati gerbang istana ia menyaksikan pengemis tua duduk kedinginan meminta sesuatu. Pak Lepot prihatin terhadap pengemis tua itu. Ia langsung melepaskan jaketnya yang lusuh sumbangan warga yang mengutusnya, ia membuka dompetnya dan memberikan jaket dan semua sisa uangnya kepada pengemis itu. Ia masuk istana mengenakan pakaian yang biasa dipakainya setiap hari. Tiga jam kemudian tiba saatnya wawancara langsung dengan sang raja. Pintu istana dihiasi antrian panjang. Semua yang berpenampilan eksekutif masuk satu-satu. Yang mengherankan begitu mereka membuka pintu masuk langsung keluar dan wajah kerut dan tampak kurang menggembirakan. Rasa malu dan takut tergambar pada raut wajah-wajah mereka. Lalu tibalah giliran terkahir. Pak Lepot masuk dengan wajah tertunduk karena takut memandang wajah sang raja. Ketika Pak Lepot masuk dan duduk tanpa memandang wajah sang raja, ia diminta untuk mengangkat wajahnya memandang sang raja. Ketika Pak Lepot mengangkat mukanya ia sangat terkejut. Mengapa? Ia terkejut karena teryata yang ada di hadapannya adalah pengemis yang dijumpainya di gerbang tiga jam lalu. Pengemis yang menerima jaket dan uangnya ternyata raja yang menyamar. Tanpa banyak bicara sang raja langsung menyerahkan mahkota dan tongkat kerajaan kepada Pak Lepot karena ia memenuhi syarat sebagai pencinta Tuhan dan sesama. Ia terpilih sebagai seorang yang memiliki komitmen pada manusia. Ia memberi dari kekeurangannya untuk mendapatkan mahkota dan tongkat kekuasaan. Ia tidak dipermalukan.

Hidup ini menyenangkan. Menggembirakan. Bukan karena kita memiliki segalanya. Bukan karena kita merasakan segalanya. Hidup ini menyenangkan karena tersedianya pelbagai alternatif yang membuat kita senang. Pelbagai macam hal, situasi, dan pelbagai pengalaman hidup manusia itulah yang membuat hidup kita menyenangkan. Hidup kita berada bahkan teraduk dalam pelbagai situasi, dalam pelbagai kontradiksi, dalam pelbagai pertentangan. Fenomena kemiskinan, ketiadaan di satu sisi dengan fenomena kelimpahan di sisi lain adalah kontradiksi yang menghiasi kehidupan manusia. Sederetan situasi dan kondisi ekstrem dalam kehidupan manusia terpapar jelas dalam semua bacaan suci yang kita dengar dan baca hari ini. Dalam bacaan pertama Nabi Zefanya dalam nubuatnya menggambarkan pertentangan antara kelompok yang mempunyai kuasa dan mereka yang lemah, tidak berdaya. Pertentangan antara mereka yang tingi hati dengan mereka yang rendah hati. Dalam pertentangan seperti itu Tuhan tampil sebagai pihak ketiga dan Tuhan berpihak kepada yang lemah. Keberpihakan pada yang lemah dan yang rendah hati adalah opsi utama Allah dalam keseluruhan sejarah keselamatan. Tuhan memelihara dan melindungi bangsa yang berpredikat lemah dan rendah hati. Orientasi keberpihakan Allah pada yang lemah berujung pada satu tindakan Allah memanggil manusia untuk menjalankan misi tertentu. Dan, justru sikap Allah yang demikian menimbulkan diskusi tidak berujung dan berkepanjangan antarmanusia. Logika berpikir manusia sulit dirujuk apalagi damaikan dengan logikanya Allah. Ketidaksesuaian logika ini tampak jelas dalam surat Santo Paulus dan Injil Mateus tadi. Orang yang lemah di mata manusia, yang tidak berdaya di mata manusia, dipilih untuk diberdayakan Tuhan. Tuhan memilih yang lemah sebagai senjata pamungkas untuk mempermalukan mereka yang kuat dan memegahkan diri. Orang yang lemah tidak berdaya menjadi ‘laboratorium penelitian Allah’ tentang cinta, perhatian, dan kebaikan yang terjadilin atarmanusia.

Mencermati bacaan-bacaan tadi, secara sepintas muncul kesan dalam diri kita bahwa kerajaan Allah itu tampaknya kerdil, tidak berdaya, rapuh, dipenuhi manusia miskin, manusia yang menderita. Semua bacaan tadi bagi yang lemah dan menderita bisa dijadikan sebagai berita besar, berita penghiburan, berita yang membangkitkan harapan. Tetapi, bagi orang yang kaya dan yang berkuasa bacaan tadi adalah duri bahkan peluru yang merobek jantung perasaan mereka. Jika kerajaan Allah sesungguh seperti itu maka tentu kita akan menghindari jalan itu. Tetapi, kalau kita manusia mau melihat dan mencari makna terdalam dan inti ketiga bacaan tadi maka kita berhadapan dengan dua cara pandang yang berbeda. Dua alur pikir yang berbeda. Logika Allah memang berlawanan dengan logika manusia. Logika manusia arahnya selalu ke atas. Logika naik. Logika tinggi menjulang. Manusia dengan logika naiknya mau dan berusaha merebut posisi teratas dalam pelbagai hal. Logika manusia adalah logika mengumpulkan sebanyak-banyaknya. Logika manusia hanya menyentuh hal lahiriah. Logika manusia cenderung abstrak dan teoretis. Logika manusia adalah kekuasaan dan kekerasan.

Yesus lewat penginjil Mateus memberi antesis terhadap logika manusia itu. Yesus menggambarkan logika Allah dengan arah selalu ke bawah. Logika Allah itu logika yang selalu mau turun dan logika mencari tempat yang rendah. Logika Allah adalah berbagi dan membagi. Logika menyentuh inti diri manusia. Logika Allah lebih praktis dan pragmatis. Logika Allah adalah kesabaran dan kelemah-lembutan.

Rasa-rasanya sulit kita mengerti apa yang mau dikatakan dalam semua bacaan tadi. Untuk memahami semuanya kita mau tidak mau harus melepaskan tafsiran harfiah terhadap apa yang dikatakan itu. Untuk itu kita perlu mengikuti cara Yesus sendiri. Yesus dalam Injil menyampaikan ucapan bahagia itu setelah melewati satu tindakan yang penting. Ada satu kalimat kunci yang memungkinkan kita dapat memahami pernyataan Yesus. Kalimat kunci itu ada dalam ayat pertama injil tadi. Naiklah Ia ke atas Bukit. Bukit menjadi kata kunci. Bukit di sini lebih dari satu gambaran, lukisan topografis suatu tempat. Bukit dalam konteks kitab suci mempunyai makna simbolis yang kaya. Bukit itu kaya arti dan syarat makna. Pelbagai peristiwa penting dalam kitab suci selalu terjadi di atas bukit. Mungkin itulah alasannya mengapa sampai saat ini banyak orang senang mendaki ke bukit-bukit dan senang mencari bukit-bukit.

Yesus ke Bukit adalah satu tindakan untuk mengambil jarak yang pas, fokus yang tepat sebelum mengamati situasi manusia. Yesus ke atas bukit untuk mencari titik bidik yang efektif tehadap kiprah manusia. Dari atas bukit Ia menyaksikan sandiwara dan pentas kehidupan manusia. Dari bukit Yesus menilai kehidupan manusia. Bukit menjadi tempat membedakan dan memisahkan cara hidup yang berkenan pada Tuhan atau yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Yesus ke bukit pada dasarnya adalah tindakan untuk merenungkan kehidupan manusia dengan segala suka-dukanya. Dan hasil akhir pengamatan dari bukit itu menyimpulkan bahwa yang berbahagia adalah mereka yang betul mencintai Tuhan dan sesama. Yang pantas menjadi raja adalah mereka yang mencintai Tuhan dalam diri sesamanya. Yang menjadi raja adalah orang seperti Pak Lepot dalam cerita awal tadi. Mudah-mudahan kita semua selalu menyiapkan waktu untuk meninggalkan segala kesibukan, seperti Yesus mendaki ke bukit untuk melihat, merenungkan hidup kita yang sesungguhnya. Hanya di atas bukit permenungan itu kita bisa memastikan posisi diri dan hidup kita yang sebenarnya. Kita memerlukan titik bidik efektif dalam meneropong diri dan kehidupan kita dengan segala atributnya. Mudah-mudahan. Amin.

Rm. Bonefasius Rampung Pr