Wednesday, August 7, 2013

MINGGU BIASA KE-5 TAHUN A

Minggu Biasa ke-5 Thn. A/1 7 Pebruari 1999

Yes. 58,7-10 1Kor.2,1-5 Mat.5,13-16 Baciro



Buka



Cahaya dan terang itu didambakan semua orang. Ketika kegelapan menimpa kehidupan, ketika mendung menimpa kehidupan, saat itulah manusia mengharapkan terbitnya matahari dan bersinarnya cahaya. Orang merindukan terang. Orang merindukan cahaya. Dan semua orang beriman dipanggil untuk membawa terang dan juga menjadi terang itu sendiri. Pada awal perayaan ini kita bertanya diri sejauh mana kita telah menjalankan peran kita sebagai pembawa terang atau sebagai terang. Kita mohon ampun bila kita belum berfungsi secara maksimal sebagai terang.



Renungan

Saya mengajak kita semua merenungkan pesan firman Tuhan hari ini dengan satu cerita, ilustrasi berikut ini.Tiga orang anak berjuang memperebutkan harta kekayaan orangtua mereka. Ketika sang Bapak memasuki usia senja ketiga putranya mulai berusaha untuk merebut harta kekayaan orangtua mereka. Setiap mereka berjuang untuk mendapatkan harta warisan yang terbanyak dan terbaik. Melihat gelagat ketiga putranya itu maka Bapak mereka berusaha membagikah harta itu seadil-adilnya. Tetapi, anak-anaknya tetap merasa tidak puas. Untuk itu, Bapak mereka mendapat akal dengan mengadakan perlombaan. Perlombaannya sederhana. Setiap anak itu diminta untuk mengisi ruangan tamu dengan barang-barang apa saja, sampai tidak ada lagi bagian ruangan itu yang kosong. Yang berhasil akan mendapatkan warisan paling banyak dan berharga. Perlombaan dilaksanakan. Anak sulung langsung membeli dan mengumpulkan segala barang lalu memasukkan semuanya ke ruang tamu. Menjelang malam sang Bapak memasuki rungan untuk memberi nilai terhadap setiap anaknya. Ruangan itu memang penuh dengan segala barang, tetapi di antara barang yang disusunnya itu masih ada ruangan, cela-cela kecil yang kosong. Menyusul anak kedua. Ia membeli beberapa botol parfum yang mahal lalu menyemprotkan semuanya di ruangan tamu itu. Bapaknya diundang masuk. Silakan Bapak rasakan keharuman ruangan ini. Ruangan ini penuh dengan keharuman parfum merek terkenal di dunia. Bapaknya mengangguk-anggukkan kepala lalu mencatat nilai. Tibalah giliran anak yang ketiga. Pada malam itu ia mengundang bapaknya untuk menyaksikan hasil lombanya. Mereka memasuki ruangan itu dalam keadaan gelap. Ruangan itu tidak diisi apa-apa. Lalu anaknya mengambil sebatang lilin dan membakarnya. Lilin itu ditempatkan di tengah ruangan dan anak itu bertanya kepda bapaknya. Silakan Bapak mencari dan melihat bagian mana dari ruangan ini yang tidak disinari cahaya. Bapaknya bingung karena memang ruangan itu semuanya terkena sinar lilin kecil, sambil mencatat nilai.

Sehari kemudian diumumkan hasil perlombaan itu. Anak pertama mendapat nilai 50, anak kedua mendapat nilai 75 dan anak ketiga mendapat nilai 100. Yang pertama hanya dapat 50 karena bapaknya tidak bisa masuk ruangan untuk melihat secara keseluruhan, dan memang tampak ada lubang dan cela-cela yng tidak terisi dengan barang. Anak kedua hanya dapat 75 karena bapaknya hanya bisa mencium keharuman parfum dalam ruangan tetapi tidak melihat apakah keharuman itu memang mengisi seluruh ruangan. Sementara anak ketiga mendapat 100 karena memang ia menggunakan hal yang murah sederhana namun mampu mengisi seluruh ruangan. Anak ketiga menang karena mengandalkan terang, mengandalkan cahaya sebuah lilin untuk sebuah ruangan yang gelap. Ia mendapat harta yang paling berlimpah dan berharga.

Kalau kita coba menghubungkan cerita tadi dengan apa yang disampaikan dalam ketiga bacaan yang kita baca dan dengar tadi maka di sana kita bisa menemukan benang merah dan pesan yang penting untuk kehidupan kita sebagai orang beriman. Inti cerita di atas tadi mempersoalkan perjuangan kita manusia dalam merebut seuatu yang berharga. Dan, cara merebut kemenangan itu memang macam-macam. Bervariasi untuk setiap orang. Ada orang yang mengisi dan merebut harta berharga itu dengan mengumpulkan atau mengandalkan barang sebanyak mungkin. Ada pula yang mengandalkan kehebatan dan nama merek, keharuman nama untuk merebut harta itu. Ada pula yang merebutnya dengan mengandalkan kesederhanaan namun sangat manjur. Kehidupan kita sebagai umat beriman di dunia ini yang tengah berjuang merebut harta surgawi dapat dibandingkan dengan ketiga anak dalam cerita tadi.

Dan yang menjadi bahan permenungan kita hari ini adalah apa yang dilakukan oleh anak yang ketiga tadi berkaitan dengan penting dan kuatnya pengaruh terang atau cahaya dalam kehidupan. Pentingnya cahaya dalam situasi yang gelap. Nubuat Yesaya dalam bacaan pertama secara sangat jelas berbicara tentang cahaya itu. Judul bacaan tadi berbunyi Cahayamu akan merekah laksana fajar. Dan, efektivitas peran cahaya dalam konteks Yesaya ini harus dinyatakan dalam kehidupan konkret terhadap orang lain yang tidak memiliki apa-apa. Pelbagai macam kekurangan, kesulitan, tantangan, krisis yang dihadapi manusia, bagi Yesaya adalah bentuk kegelapan hidup yang harus disinari. Manusia dipanggil untuk menjadi terang yang dapat mengisi ruangan dunia dan kehidupan yang gelap. Orang seperti itulah yang akan dibentengi Allah dalam kebenaran dan kemuliaan. Orang yang mau menjadi terang bagi orang lain akan mendapatkan kemenangan dalam pertandingan hidup.

Menjadi pembawa terang bagi orang lain memang bukan hal yang gampang. Menjadi terang dengan membantu sesama terkadang menjadi redup ketika setiap bantuan disertai dengan perhitungan tertentu. Mengejar prestise, menacari nama, popularitas diri dan sejenisnya meruapakan hambatan terbesar bagi manusia untuk berperan sebagai cahaya. Santu Paulus memberikan resep ampuh bagi orang yang mau menjadi terang. Kesederhanaan dan kerendahan itulah kunci kesuksesan pewartaan Paulus. Apa yang dilakukan Paulus sesungguhnya merupakan kelanjutan cara yang ditunjukkan Yesus dalam pewartaan-Nya.

Figur seperti Yesaya, dan Paulus telah tiada namun bukan berarti aktivitas membawa terang, membagi terang serta memberikan kesaksian telah berakhir. Yesus melalui Injil Mateus telah menjadikan kita semua sebagai garam dan terang. Tuntutan Yesus dari kita adalah mengisi ruangan hidup kita, mengisi cela-lela kehidupan kita dengan terang. Menjadi garam dan terang artinya kita dipanggil untuk memberdayakan dan memaksimalkan peran garam dan terang itu. Memaksimalkan peran sebagai garam dan terang artinya manusia harus menentukan porsi yang pas serta menentukan tempat yang strategis. Garam baru berfungsi kalau ditempatkan pada sesuatu yang tawar. Cahaya baru berfungsi maksimal hanya di tempat yang gelap. Dan, kita ditugaskan untuk mengasinkan yang tawar dan menyinari yang gelap dalam kehidupan kita. Mudah-mudahan cerita awal tadi membantu kita untuk semakin menjadi cahaya dan terang dalam kehidupan kita di masa yang akan datang, sehingga kelak kita semua keluar sebagai pemenang meraih kebahagiaan bersama Allah. Amin.

Rm.Bone Rampung, Pr

MINGGU BIASA KE-4 TAHUN A

Minggu Biasa ke-4 Thn.A1

Zef.2;3. 3;12-13 1Kor.1,26-31 Mat.5,1-12a

Buka

Salah satu ‘penyakit’ yang menyerang setiap kita manusia adalah kecenderungan untuk menilai diri lebih dari orang lain. Akibatnya orang berjuang sekuat tenaga bahkan dalam persaingan yang ketat untuk mengalahkan orang lain. Persaingan seperti ini bisa mencakup segala bidang kehidupan. Kebanyakan orang berpikir bahwa dengan kelebihan atau keunggulan itu bisa menjadi jaminan keselamatan. Manusia kadang-kadang memaksakan jalan pikirannya pada Allah dan bukan sebaliknya menempatkan pikirannya dalam cara Allah dengan segala rencana-Nya. Karena itu, tidaklah mengherankan hari ini lewat sabda-Nya Allah mau menyadarkan manusia, menyadarkan kita bahwa Allah memiliki cara tersendiri dalam menilai kehidupan manusia. Marilah kita mohon ampun karena sering kita membanggakan diri sendiri dan meremehkan sesama.

Renungan

Sebagian besar masyarakat kita saat ini lagi bingung. Ada setumpuk alasan yang membingungkan kita. Dari tumpukan kebingunan itu orang mendambakan munculnya tokoh, figur yang membebaskan. Tokoh yang memberikan kekuatan, membangkitkan harapan. Masyarakat kita tengah menantikan lahirnya raja adil yang mempunyai hati untuk mencintai seperti Allah mencintai diri manusia. Karena itu, untuk merenungkan pesan sabda Tuhan yang disampaikan kepada kita hari ini saya mau bercerita seputar kebingungan. Suatu kerajaan -kita sebut saja namanya ‘kerajaan bingung’- hendak menyelenggarakan pemilihan raja yang baru. Raja lama telah tua. Yang membuat warga kerajaan itu bingung karena sang raja tidak berputra yang mewarisi tahta kerajaan. Masalah suksesi kepemimpinan menjadi agenda utama dalam setiap pertemuan pejabat tinggi kerajaan. Mereka kesulitan menemukan figur yang tepat menggantikan sang raja. Jalan keluar yang ditempuh adalah mengumumkan penjaringan calon dengan memasang iklan pada surat kabar milik kerajaan itu. Iklan itu berbunyi demikian. Dicari seorang yang akan menggantikan raja. Syaratnya: pencinta Tuhan dan Pencinta manusia. Yang memenuhi syarat silakan datang langsung menjumpai sang raja untuk diwawancarai. Dalam waktu singkat istana dibanjiri ribuan orang yang mau menjadi raja. Tempat parkir penuh sesak dengan pelbagai kendaraan. Ratusan orang berpenampilan eksekutif memenuhi pelataran istana. Di pintu gerbang masuk kerajaan itu semua mereka yang datang itu menyaksikan seorang pengemis tua, duduk dengan pakaian compang camping, tangan terulur meminta sesuatu kepada semua calon raja yang lewat. Semua mereka yang datang berusaha menghindari sang pengemis itu karena takut pakaian mereka dikotori dan juga takut terlambat menjumpai sang raja. Dari antara ratusan orang yang datang itu ada seorang bernama Pak Lepot yang datang dari pedalaman. Ia satu-satunya calon yang datang terakhir. Ia menjadi utusan dari kampungnya. Pak Lepot itu dikenal sederhana dan disenangi orang sekampungnya. Semua biaya perjalanan termasuk pakaian yang dikenakan Pak Lepot ditanggung warga sekampungnya hasil pengumpulan uang warga secara spontan. Ketika mendakati gerbang istana ia menyaksikan pengemis tua duduk kedinginan meminta sesuatu. Pak Lepot prihatin terhadap pengemis tua itu. Ia langsung melepaskan jaketnya yang lusuh sumbangan warga yang mengutusnya, ia membuka dompetnya dan memberikan jaket dan semua sisa uangnya kepada pengemis itu. Ia masuk istana mengenakan pakaian yang biasa dipakainya setiap hari. Tiga jam kemudian tiba saatnya wawancara langsung dengan sang raja. Pintu istana dihiasi antrian panjang. Semua yang berpenampilan eksekutif masuk satu-satu. Yang mengherankan begitu mereka membuka pintu masuk langsung keluar dan wajah kerut dan tampak kurang menggembirakan. Rasa malu dan takut tergambar pada raut wajah-wajah mereka. Lalu tibalah giliran terkahir. Pak Lepot masuk dengan wajah tertunduk karena takut memandang wajah sang raja. Ketika Pak Lepot masuk dan duduk tanpa memandang wajah sang raja, ia diminta untuk mengangkat wajahnya memandang sang raja. Ketika Pak Lepot mengangkat mukanya ia sangat terkejut. Mengapa? Ia terkejut karena teryata yang ada di hadapannya adalah pengemis yang dijumpainya di gerbang tiga jam lalu. Pengemis yang menerima jaket dan uangnya ternyata raja yang menyamar. Tanpa banyak bicara sang raja langsung menyerahkan mahkota dan tongkat kerajaan kepada Pak Lepot karena ia memenuhi syarat sebagai pencinta Tuhan dan sesama. Ia terpilih sebagai seorang yang memiliki komitmen pada manusia. Ia memberi dari kekeurangannya untuk mendapatkan mahkota dan tongkat kekuasaan. Ia tidak dipermalukan.

Hidup ini menyenangkan. Menggembirakan. Bukan karena kita memiliki segalanya. Bukan karena kita merasakan segalanya. Hidup ini menyenangkan karena tersedianya pelbagai alternatif yang membuat kita senang. Pelbagai macam hal, situasi, dan pelbagai pengalaman hidup manusia itulah yang membuat hidup kita menyenangkan. Hidup kita berada bahkan teraduk dalam pelbagai situasi, dalam pelbagai kontradiksi, dalam pelbagai pertentangan. Fenomena kemiskinan, ketiadaan di satu sisi dengan fenomena kelimpahan di sisi lain adalah kontradiksi yang menghiasi kehidupan manusia. Sederetan situasi dan kondisi ekstrem dalam kehidupan manusia terpapar jelas dalam semua bacaan suci yang kita dengar dan baca hari ini. Dalam bacaan pertama Nabi Zefanya dalam nubuatnya menggambarkan pertentangan antara kelompok yang mempunyai kuasa dan mereka yang lemah, tidak berdaya. Pertentangan antara mereka yang tingi hati dengan mereka yang rendah hati. Dalam pertentangan seperti itu Tuhan tampil sebagai pihak ketiga dan Tuhan berpihak kepada yang lemah. Keberpihakan pada yang lemah dan yang rendah hati adalah opsi utama Allah dalam keseluruhan sejarah keselamatan. Tuhan memelihara dan melindungi bangsa yang berpredikat lemah dan rendah hati. Orientasi keberpihakan Allah pada yang lemah berujung pada satu tindakan Allah memanggil manusia untuk menjalankan misi tertentu. Dan, justru sikap Allah yang demikian menimbulkan diskusi tidak berujung dan berkepanjangan antarmanusia. Logika berpikir manusia sulit dirujuk apalagi damaikan dengan logikanya Allah. Ketidaksesuaian logika ini tampak jelas dalam surat Santo Paulus dan Injil Mateus tadi. Orang yang lemah di mata manusia, yang tidak berdaya di mata manusia, dipilih untuk diberdayakan Tuhan. Tuhan memilih yang lemah sebagai senjata pamungkas untuk mempermalukan mereka yang kuat dan memegahkan diri. Orang yang lemah tidak berdaya menjadi ‘laboratorium penelitian Allah’ tentang cinta, perhatian, dan kebaikan yang terjadilin atarmanusia.

Mencermati bacaan-bacaan tadi, secara sepintas muncul kesan dalam diri kita bahwa kerajaan Allah itu tampaknya kerdil, tidak berdaya, rapuh, dipenuhi manusia miskin, manusia yang menderita. Semua bacaan tadi bagi yang lemah dan menderita bisa dijadikan sebagai berita besar, berita penghiburan, berita yang membangkitkan harapan. Tetapi, bagi orang yang kaya dan yang berkuasa bacaan tadi adalah duri bahkan peluru yang merobek jantung perasaan mereka. Jika kerajaan Allah sesungguh seperti itu maka tentu kita akan menghindari jalan itu. Tetapi, kalau kita manusia mau melihat dan mencari makna terdalam dan inti ketiga bacaan tadi maka kita berhadapan dengan dua cara pandang yang berbeda. Dua alur pikir yang berbeda. Logika Allah memang berlawanan dengan logika manusia. Logika manusia arahnya selalu ke atas. Logika naik. Logika tinggi menjulang. Manusia dengan logika naiknya mau dan berusaha merebut posisi teratas dalam pelbagai hal. Logika manusia adalah logika mengumpulkan sebanyak-banyaknya. Logika manusia hanya menyentuh hal lahiriah. Logika manusia cenderung abstrak dan teoretis. Logika manusia adalah kekuasaan dan kekerasan.

Yesus lewat penginjil Mateus memberi antesis terhadap logika manusia itu. Yesus menggambarkan logika Allah dengan arah selalu ke bawah. Logika Allah itu logika yang selalu mau turun dan logika mencari tempat yang rendah. Logika Allah adalah berbagi dan membagi. Logika menyentuh inti diri manusia. Logika Allah lebih praktis dan pragmatis. Logika Allah adalah kesabaran dan kelemah-lembutan.

Rasa-rasanya sulit kita mengerti apa yang mau dikatakan dalam semua bacaan tadi. Untuk memahami semuanya kita mau tidak mau harus melepaskan tafsiran harfiah terhadap apa yang dikatakan itu. Untuk itu kita perlu mengikuti cara Yesus sendiri. Yesus dalam Injil menyampaikan ucapan bahagia itu setelah melewati satu tindakan yang penting. Ada satu kalimat kunci yang memungkinkan kita dapat memahami pernyataan Yesus. Kalimat kunci itu ada dalam ayat pertama injil tadi. Naiklah Ia ke atas Bukit. Bukit menjadi kata kunci. Bukit di sini lebih dari satu gambaran, lukisan topografis suatu tempat. Bukit dalam konteks kitab suci mempunyai makna simbolis yang kaya. Bukit itu kaya arti dan syarat makna. Pelbagai peristiwa penting dalam kitab suci selalu terjadi di atas bukit. Mungkin itulah alasannya mengapa sampai saat ini banyak orang senang mendaki ke bukit-bukit dan senang mencari bukit-bukit.

Yesus ke Bukit adalah satu tindakan untuk mengambil jarak yang pas, fokus yang tepat sebelum mengamati situasi manusia. Yesus ke atas bukit untuk mencari titik bidik yang efektif tehadap kiprah manusia. Dari atas bukit Ia menyaksikan sandiwara dan pentas kehidupan manusia. Dari bukit Yesus menilai kehidupan manusia. Bukit menjadi tempat membedakan dan memisahkan cara hidup yang berkenan pada Tuhan atau yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Yesus ke bukit pada dasarnya adalah tindakan untuk merenungkan kehidupan manusia dengan segala suka-dukanya. Dan hasil akhir pengamatan dari bukit itu menyimpulkan bahwa yang berbahagia adalah mereka yang betul mencintai Tuhan dan sesama. Yang pantas menjadi raja adalah mereka yang mencintai Tuhan dalam diri sesamanya. Yang menjadi raja adalah orang seperti Pak Lepot dalam cerita awal tadi. Mudah-mudahan kita semua selalu menyiapkan waktu untuk meninggalkan segala kesibukan, seperti Yesus mendaki ke bukit untuk melihat, merenungkan hidup kita yang sesungguhnya. Hanya di atas bukit permenungan itu kita bisa memastikan posisi diri dan hidup kita yang sebenarnya. Kita memerlukan titik bidik efektif dalam meneropong diri dan kehidupan kita dengan segala atributnya. Mudah-mudahan. Amin.

Rm. Bonefasius Rampung Pr

MINGGU BIASA KE-3 TAHUN A

Minggu Biasa ke-3

Yes.8:23b,3 1Kor.1:10 17 Mat.4:12 22



HIDUP: MEMBERI LAMPU BERNYALA

Buka

Semua orang normal umumnya tidak suka berada dan hidup dalam kegelapan. Manusia berkecenderungan mencari terang. Mengapa orang tidak suka pada kegelapan. Alasannya karena: banyak kejahatan bisa terjadi dalam kegelapan. Banyak soal timbul bila kegelapan menimpa kita. Dalam kegelapan orang seakan lumpuh dari kegiatannya. Dalam kegelapan semua orang menjadi buta dan tersesat. Di sana bisa terjadi tabrakan dll. Saat-saat seperti itu orang bi¬asanya mendambakan kehadiran seberkas sinar cahaya.

Bacaan hari ini berbicara tentang kehadiran sebuah terang yang besar yang diarahkan kepada semua bangsa yang berjalan da¬lam kegelapan. Yesaya meramalkan hal itu yang terpenuhi dalam Kisah Mateus. Contoh konkret kegelapan itu ada¬lah cara hidup jemaat di kota Korintus yang dilukiskan da¬lam surat Paulus. Yesus adalah terang itu dan para murid telah dipilih untuk menjadi terang dalam peran¬nya sebagai penjala manusia. Kita bertanya diri mungkin kita jarang membawakan dan memberikan terang bagi sesama kita yang berada dalam banyak kegelapan. Untuk itu kita mohonkan belas kasih serta kerahiman Tuhan pada awal pe¬rayaan keselamatan ini.

Renungan

Konon seorang buta pada suatu malam ingin menghadiri pesta pernikahan temannya. Saudaranya sempat mendengar rencana perjalanan si buta itu. Untuk itu kepadanya diberikan seb¬uah lampu lentera bernyala. Ketika orang buta itu diberi lampu ia menolaknya dengan alasan untuk dia terang atau gelap itu sama saja. Baginya lampu yang bernyala itu tidak ada gunanya. Meski ia menolak untuk menerima lampu itu tetapi saudara¬nya berusaha meyakinkan dia, bahwa lampu itu memang tidak berguna untuk si buta sendiri, tetapi sangat berguna untuk orang lain yang akan melintasi jalan yang sama agar tidak terjadi tabrakan antara orang buta dengan orang orang itu. Dengan alasan dan penjelasan seperti itu orang buta terpaksa menerima lentera itu dan mulai berjalan pada malam yang gelap.

Di tengah jalan ia ditabrak oleh seseorang. Si buta itu naik pitam dan berkata: Tidakkah engkau lihat bahwa aku membawa lampu bernyala? Mengapa engkau dengan sengaja menabrak saya? Orang yang menabrak tadi balik bertanya: Tidakkah engkau tahu bahwa lampumu sudah padam? Siapa yang salah Anda atau saya?

Banyak hal yang terjadi dalam kegelapan. Banyak kesulitan dan kecelakaan terjadi dalam kegelapan. Dalam kegelapan kita semua seakan-akan tidak mempunyai mata untuk melihat. Dalam kondisi serupa itu kita membutuhkan terang. Ketiga bacaan Kitab Suci yang ditawarkan gereja kepada kita hari ini pada intinya berbicara tentang dua kenyataan itu. Ke¬nyataan terang dan gelap yang memang sulit untuk didamai¬kan. Yesaya, dalam bacaan pertama, melukiskan suatu kegela¬pan yang menimpa umat manusia. Namun, Yesaya sekaligus meramalkan akan datangnya seberkas sinar yang menerangi kegelapan itu. Kegelapan menimpa orang Galilea karena ha¬rus diangkut ke Asiria. Yesaya menyebutkan dua tempat yaitu Sebulon dan Naftali. Kedua tempat itu sebenarnya adalah daerah Nasaret dan Kapernaum.

Penghuni kedua kawasan itu sedang berjalan dalam kegelapan. Janji pembebasan dari kegelapan itu menjadi inti pewartaan Nabi Yesaya dalam ba¬caan pertama tadi. Kegelapan yang menimpa mereka itu tam¬pak dalam cara dan sikap hidup mereka yang menjauh dari Allah. Kehidupan mereka diwarnai dengan pelbagai macam pe-nindasan dan pemerasan. Mereka jatuh ke tangan musuh kare¬na tidak setia pada Allah.

Pengalaman para penghuni kota Galilea tadi ter¬jadi pula pada zaman Perjanjian Baru. Santo Paulus sebagai orang pilihan Allah juga harus berhadapan dengan sekelom¬pok orang yang juga berada dalam kegelapan. Dalam bacaan kedua kita mendengar bagaimana perasaan serta sikap Paulus berhadapan dengan cara hidup jemaatnya yang berada di kota Korintus. Kegelapan serta awan mendung juga menimpa masya¬rakat Korintus. Menurut catatan, surat kepada jemaat di Ko¬rintus itu merupakan surat kepada jemaat di Korintus itu merupakan surat yang pertama dari Paulus. Itu berarti je-maat yang berada di sana adalah jemaat yang sudah lama menerima pewartaan tentang Kristus. Namun, situasi yang mereka hadapi sungguh mencerminkan bahwa mereka sebenarnya belum dewasa dalam kehidupan iman dan keagamaan mereka. Santo Paulus merasa prihatin dengan kondisi yang sedang menggerogoti kehidupan orang Korintus.

Paulus menulis nota penting karena mendengar sendiri tentang situasi orang Korintus. Di sana sedang terjadi pertarungan sengit antara kelompok kelompok yang ada. Di sana seakan terjadi perebutan kekuasaan antara kelompok. Di sana terjadi per¬saingan yang tidak sehat. Di sana setiap kelompok merasa diri lebih penting dari kelompok lainnya. Jemaat Korintus terancam kehancuran, karena setiap mereka berusaha untuk menjadikan Yesus itu milik eksklusif kelompok mereka. Tidak mengherankan kau dalam nota yang disampaikan untuk orang Korintus tadi Pau¬lus memberikan nasihat yang bijaksana meski terasa sangat tajam. Ia menegur mereka dengan pelbagai pertanyaan pent¬ing: Adalah Kristus itu terbagi bagi sebanyak kelompok di Korintus? Dengan pertanyaan serupa ini sebenarnya Paulus mau menegaskan bahwa semua jemaat telah dibaptis dalam nama Kristus yang satu dan sama. Konsekwensinya jelas bah¬wa mereka harus menjalin kesatuan itu. Paulus menulis: Saudara saudara, aku menasihati kamu demi nama Tuhan kita Yesus Kristus supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu. Hendaklah kamu sehati sepikir dalam seluruh hidupmu.

Nota peringatan yang dikirim Paulus ini juga merupakan terang yang memancar dalam kegelapan pergolakan kelompok di Korintus. Paulus mengaku dirinya sebagai utu¬san Tuhan yang bertugas memberitakan Injil dan bukannya untuk membaptis. Itu artinya pembaptisan yang satu dan sama, hanya terjadi dalam dan melalui Yesus. Konsekuensi¬nya semua orang yang dibaptis dalam nama-Nya harus menam¬pilkan semangat persatuan dan kesatuan dan bukannya perpe¬cahan dan permusuhan. Jemaat Korintus diminta Paulus untuk menjadi terang. Tetapi kenyataannya, yang ada hanyalah kegela¬pan.

Penginjil Mateus dalam penggalan Injil yang kita baca hari ini melukiskan peranan Yesus sebagai Terang dalam Kegela¬pan. Apa yang dikatakan dalam bacaan pertama terpenuhi da¬lam kehidupan Yesus sendiri. Tanah Zebulon dan Naftali disebut kembali dalam Injil sebagai tempat yang dile¬wati Yesus saat ia menyingkir ke Galilea. Ia meninggalkan Nasaret dan menetap di Kapernaum. Saat itulah mereka yang berada dalam kemelut kegelapan cara hidupnya sempat me¬nyaksikan terang besar. Bangsa yang berdiam dalam kegela¬pan telah melihat terang dan yang dinaungi kegelapan Maut dibebaskan berkat terang besar yang bersinar. Melihat cara hidup mereka Yesus berkesempatan untuk mewartakan pertoba¬tan bangsa yang sering membelakangi Allah. Saat itulah Ye¬sus mau menyadarkan mereka yang degil seperti lembu degil itu. Selanjutnya dalam perjalanan itu Yesus bertemu dengan segala macam orang termasuk para nelayan. Mereka itu di¬panggil-Nya dan jabatan mereka diganti secara total. Gelar penjala ikan diganti menjadi penjala manusia.

Mengherankan sikap semua mereka yang dipanggil Yesus itu. Tidak ada tawar-menawar dan diskusi tentang besar gaji sebagai penjala manusia. Mereka langsung ikut tanpa diskusi. Mengapa hal itu terjadi? Tentu karena mereka te¬lah melihat terang yang dibawa dan mau dibagikan Yesus. Mereka mengikuti panggilan Yesus karena mereka sendiri juga mau membagikan terang yang mereka dapat dari Yesus. Mereka yang tadinya buta ketika bertemu dengan Yesus sea-kan diberi sebuah lampu bernyala untuk menerangi orang lain. Untuk menghindari tabrakan dan perselisihan. Mereka semua mendapat misi yang sama membagikan terang dimana ma¬sih terdapat kegelapan, dan dosa serta maut.

Apa yang dapat kita petik dari pewartaan Kitab Suci hari ini? Barangkali hal berikut ini yang perlu kita bawahi untuk kehidupan kita di lembaga ini.

Pertama: Kita diminta untuk memberikan sesuatu yang bergu¬na untuk orang lain. Dengan kata lain hidup dan keberadaan kita hendaknya berdampak positif bagi orang lain di lingkungan kita. Dan kalau kita kembali pada cerita awal tadi maka kita diminta untuk memberikan lampu/terang untuk orang yang memang merasa gelap dalam banyak hal. Ada banyak kegelapan dalam kehidupan kita seperti kendornya disiplin. Sejauh pemberian kita dirasa baik pasti akan berguna. Lam¬pu untuk seorang buta memang tidak berguna tetapi berguna untuk orang lain agar dapat melihat si buta dan menghind¬ari tabrakan.

Kedua: Kita hendaknya menyadari bahwa keberadaan kita di sini entah sebagai apa saja (siswa, pendidik, karyawan/ti) karena mau menjalankan tugas dan misi Yesus membawa terang, menjadi penjala manusia. Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk membuat kelompok kelompok yang eksklusif dan mendiskredit¬kan kelompok lain. Pengalaman Jemaat Korintus kiranya men¬jadi pelajaran untuk kita.

Kita berada di sini karena Yesus yang memanggil kita. Kepada kita telah diberikan terang untuk menghalau segala bentuk kegelapan yang ada dalam kehidupan kita, berupa sikap santai, acuh tidak acuh, masa bodoh, pura pura, dll. Betapa senangnya sesama kita yang tinggal dalam kege¬lapan melihat terang yang kita bawa dan kita berikan. Semoga diri kita menjadi sebuah lampu yang bernyala bagi orang lain, lewat cara dan teladan hidup kita... Amin...

PEKAN I ADVENT

HARI MINGGU PEKAN I ADVEN

Yes 2:1 5; Rm 13:11 14; Mat 24:37 44

Menanti: Kemarin, Kini, dan Esok

Buka

Menanti atau menunggu sering dirasakan sebagai sesuatu yang meletihkan, membosankan. Perasaan jemu, letih, membosankan dalam menantikan sesuatu muncul karena menanti sering dipAndang sebagai sesuatu yang pasif tanpa amelakukan sesuatu. Untuk mengurangi rasa letih, jemu, dan bosan seperti ini tidak ada cara lain selain orang harus melakukan sesuatu. Menanti menunggu kedatangan Tuhan dalam konteks kehidupan orang beriman adalah menanti yang aktif, menanti yang kreatif. Penantian yang bercorak aktif dan kreatif dalam konteks andventus adalah terlibat dalam usaha membenahi cara hidup. Aktif dan kreatif dalam adventus berarti peri orang terlibat dalam menemukan arah baru atau reorientasi hidup yang sesungguhnya sambil melakukan perbaikan pola hidup atau reformasi. Penantian yang berarti sebagai orang beriman adalah penantian untuk reorientasi dan reformasi cara hidup sehingga Tuhan yang datang itu mendapat tempat dalam hati dan kehidupan manusia. Kita sadari kelemahan kita, Andaikata penantian kita lebih bercorak pasif sehingga kita kehilangan arah hidup.



Renungan

Berdasarakan aturan dan penanggalan liturgi Gereja, mulai hari ini kita memasuki masa penantian yang dikenal dengan sebutan masa adventus. Kata adventus ini sering kita dengar. Adventus ini berasal dari kata Latin artinya kedatangan. Kita menantikan kedatangan. Kedatangan yang dimaksudkan itu adalah kedatangan Tuhan. Jadi kita menantikan kedatangan Tuhan. Konsep atau pengertian tentang menunggu, menantikan kedatangan seseorang atau sesuatu secara tanpa disadari membawa kita pada satu unit penggalan atau segmen waktu (indikasi temporal). Tanpa kita sadari pula, menanti kedatangan itu biasanya mengacu pada waktu yang akan datang. Menanti, menunggu selalu merujuk pada situasi dan keadaan pada waktu yang akan datang. Menanti berarti merujuk pada konsep futuris yang selalu berada dalam kemungkinan. Rujukan tentang waktu yang akan datang (temporal futuristik) tanpa kepastian seperti itu mengharuskan manusia untuk menyiapkan strategi penghampiran keadaan serba tidak pasti seperti itu. Berjaga-jaga atau Wasapada merupakan satu-satunya Strategipenghampiran terhadap gejala yang serba kemungkinan seperti itu.

Dalam konteks kehidupan orang Kristiani Adventus itu tidak dapat dipahami sebatas makna waktu yang akan datang. Sungguh disadari bahwa manusia beriman merupakan makhluk menyejarah yang terikat pada tiga modus penggalan waktu. Sebagai makhluk menyejarah manusia mengenal tiga dimensi waktu yaitu masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang. Kesadaran akan tiga segmen waktu seperti menyadarkan manusia bahwa situasi masa kini tidak dapat dipisahkan dari seluruh pengalaman masa lalu. Begitu juga apa yang akan terjadi pada masa mendatang tidak bisa dipisahkan dari masa lalu dan masa kini. Apa yang dilakukan manusia masa kini juga ditentukan oleh apa yang hendak dicapainya pada masa mendatang. Dengan demikian kita menempatkan Adventus ke dalam tiga konteks waktu seperti itu.

Ada tiga makna Adventus bagi orang beriman. Pertama, Makna adventus yang dikaitkan dengan sejarah masa lalu kehidupan orang terpanggil. Kita mau memperingati kelahiran Yesus Kristus pada masa lampau di Betlehem. Kita mau memperingatinya kembali, seperti kita memperingati hari ulang tahun kelahiran kita masing-masing. Supaya Kelahiran Kristus sebagai Juru selamat, mempunyai makna untuk kehidupan dan perkembangan iman kita maka disiapkan waktu khusus untuk mempersiapkan diri. Kedua, makna Adventus dikaitkan dengan situasi kehidupan kita masa kini. Makna dalam konteks masa kini agar kita disadarkan kembali bahwa sebenarnya kedatangan Tuhan tidak hanya sekali terjadi. Secara historis memang terjadi 2005 tahun yang lalu dan terjadi kAndang Betlehem negeri Palestina, tetapi sebenarnya peristiwa kelahiran dan kedatangan Tuhan itu terjadi setiap waktu, Tuhan datang kepada kita dalam seluruh dinamika dan pengalaman hidup harian kita. Hanya kita kurang menyadari kelhairan dan kehadiran-Nya, mungkin karena kita terlampau tenggelam dalam aneka kesibukan, kita terlena dengan pelbagai kegiatan kita; kita terlampau sibuk mengumpulkan uang, terlalu sibuk mencari barang kebutuhan hidup, kita sibuk mengumpulkan harta kekayaan, kiita sibuk mencari dan mempertahankan kekuasaan, sibuk mencari kesenangan sendiri. Dalam dan karena aneka kesibukan seperti itulah kita lalu lupa memberi tempat untuk Tuhan. Tuhan seolah-olah berada jauh dan sibuk dengan diri-Nya sendiri dan kita pun sibuk dengan diri kita sendiri dan masing-masing kita tidak menghiraukan satu-sama lain. Karena itulah, dalam masa khusus ini kita mau menyadarinya kembali bahwa Tuhan itu sungguh ‘Immanuel “ Tuhan yang selalu beserta kita” Hanya kita yang tidak beserta Dia. Ketiga, makna Adventus bagi kita adalah makna masa depan saat Tuhan datang untuk membawa kita ke dalam kerajaan-Nya seperti yang kita dengar dalam bacaan pertama tadi, di mana Tuhan akan mengumpulkan segala bangsa dalam damai abadi di dalam kerajaan-Nya.

Kedatangan Tuhan itu kita tidak tahu, kita tidak tahu kapan dan saatnya, apakah sudah dekat atau masih lama. Oleh karena itu, Yesus mengajak kita "Berjaga jagalah dan bersiap siagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang." Ketidakpastian akan apa yang terjadi tidak dapat dijadikan alasan untuk hidup santai hari ini. Menghadapi sesuatu yang tidak pasti pada hari esok menuntut kita: berjaga jaga dan bersiap siap. Artinya kita tetap berada dalam sikap bertanggung jawab atas hidup kita sekarang ini. Kitab Suci tidak menyebutnya secara pasti kapan waktunya terjadi. Kitab Suci hanya menyebutkan supaya berjaga-jaga dan bersiap-siap. Hakikat atau inti dari masa adventus adalah masa berjaga-jaga. Berjaga-jaga dan bersiap-siap ini penting, karena menyangkut nasib, masa depan kita sendiri. Kalau tidak berjaga-jaga maka akan merugikan diri kita sendiri dan kita akibatnya ditanggung sendiri. Kita sering membaca di surat khabar bahkan kita mendengarkan sendiri bahwa di mana-mana saat ini banyak terjadi kasus kehilangan barang seperti sepeda motor atau mobil, uang atau barang lainnya.. Karena itu polisi maupun teman-teman kita selalu mengingatkan kita supaya lebih berhati-hati, selalu waspada, dan berjaga-jaga. Apabila kita lengah dan tidak berhati-hati maka tentu risikonya kita tanggung sendiri. Jadi betapa pentingnya makna berjaga-jaga dalam keseluruhan dinamika kehidupan kita.

Dalam hal keselamatan pun demikian, kepada kita selalu diingatkan supaya berjaga-jaga. Masa Adventus pun menjadi masa bagi kita mendapatkan peringatan supaya berjaga-jaga menantikan kedatangan Tuhan, sebab kedatangan Tuhan itu, menurut kitab suci seperti kedatangan pencuri berlangsung begitu cepat dan terjadi pada waktu yang tidak diduga. Bila tidak berjaga-jaga maka kita akan kehilangan jiwa, spirit dan semangat hidup kita. Tentu kita tidak mau kecurian jiwa dan semangat kita dalam merebut keselamatan. Apa yang dimaksudkan dengan berjaga-jaga? Berjaga-jaga tidak berarti tidak tidur. Berjaga-jaga tidan berarti harus ikut ronda malam dan membangun pos ronda menyambut Tuhan yang datang.Berjaga-jaga yang dimaksudkan Yesus dalam Injil tadi tidak berarti tidak tidur dan tidak beristirahat tetapi lebih berarti adanya sikap mawas diri, sikap tidak lupa diri, sikap tidak terlena. Sikap-sikap mawas diri, sikap tidak lupa diri, sikap tidak terlena ini penting dalam menyambut kedatangan Tuhan. Mengapa? Karena sikap-sikap seperti ini adalah sikap-sikap anak Allah, anak terang. Status kita sebagai anak terang, anak Allah mengharuskan kita untuk hidup sebagai anak terang, memberi kesaksian tentang terang dan mau menjadi terang. Melalui bacaan kedua Santo. Paulus menuntut agar kita hidup seperti siang hari, maksudnya menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan. Gambaran tentang manusia gelap itu akan nyata dalam bentuk gaya hidup yang selalu mencari kesenangan jasmani, hidup dalam perselisihan, dan iri hati, penuh permusuhan, dan lain-lain. Paulus meminta orang beriman meninggalkan semuanya itu dan mengenakan senjata terang. Itu berarti seruan adventus, seruan berjaga-jaga, tidak lain menjadi suatu seruan atau ajakan untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Adventus sebagai penantian hendaknya tidak ditafsir sebagai kondisi pasif tanpa aktivitas. Perlulah kita menyadari bahwa berjaga-jaga itu sifatnya aktif. Aktif menunggu, aktif menanti bukan pasif, diam menunggu, diam menanti. Aktif menunggu, aktif menanti maksudnya dalam menantikan kedatangan Tuhan, kita tidak menanti saja, tidak menunggu saja tetapi mengisinya dengan kegiatan atau perbuatan, aktivitas yang bermakna. Bukan diam tanpa aktivitas, diam tidur-tiduran, bermalas-malasan sambil menunggu akhir zaman. Kita semua mendengar berita tentang satu sekte dalam agama kristen, yang mengajarkan: akhir zaman sudah dekat yang membuat orang tak bersemangat lagi untuk bekerja. Mereka diam menunggu di rumah masing-masing. Bukan dalam arti itulah yang dimaksudkan berjaga-jaga. Berjaga-jaga yang dimaksudkan Yesus adalah kita tetap aktif dengan kegiatan-kegitatan kita sejauh kegiatan itu bermakna, mengarahkan kita untuk lebih dekat dengan Tuhan dan dengan sesama. Kalau demikian sebenarnya tidak ada persiapan khusus terhadap kedatangan Tuhan, asalkan kita setia dan mawas diri mengisi hari-hari hidup kita. Itulah persiapan kita dalam menantikan kedatangan Tuhan.

Selamat memasuki masa adventus, selamat meninggalkan perbuatan gelap dan mengenakan senjata terang. Kiranya persiapan kita menjelang kedatangan Tuhan ini tetap mendrong kita untuk memaknai hari penantian saat ini dalam terang masa lalu dan juga dalam terang masa yan akan datang. Dalam hal menantikan kedatangan Kristus masa depan kita menantikan kedatangan-Nya dalam keadaan berjaga-jaga, mawas diri, tidak lupa diri, tidak tenggelam dalam sikap yang pasif tetapi mengisinya dengan aktivitas hidup yang bermakna, menjauhkan perbuatan gelap, menciptakan hidup yang damai, sehingga tidak ada lagi yang mengangkat tombak dan pedang untuk berperang melawan sesama sebab barang-barang itu telah dilebur menjadi pisau bajak. Mari kita berjalan dalam terang Tuhan karena terang itu sudah ada baik dahulu, kini, maupun yang akan datang. Semoga.





HARI SENIN PEKAN I ADVEN

Kor.9,16 19.22 23; Mrk.16,15 20



Buka



Pada hari ini kita dan seluruh gereja merayakan Pesta Santo Fransiskus Xaverius. Ia diangkat menjadi pelindung untuk Karya Misi di Indonesia karena keteladannnya sebagai misionaris yang ulung. Ia dengan rela melepaskan segalanya, kampung halamannya, orang tua, dan sanak keluarganya, untuk datang mewartakan kabar gembira bagi umat yang berada di Indonesia. Semangat misioner Santo Fransiskus itu sampai saat ini masih berlanjut dalam aneka bentuk pelayanan dalam gereja. Tarekat biara dan munculnya imam-imam pribumi di di Indonesia sampai saat ini adalah bukti nyata bahwa semangat Fransiskus Xaverius telah membumi dan menjadi nafas orang beirman di Indonesia. Kita bersyukur kepada Tuhan atas anugerah rahmat yang telah diber-ikan kepada Fransiskus ini sehingga kita dapat digabungkan dan dipersatukan dengan Kristus dalam pembaptisan. Santu Fransiskus telah berjuang secara maksimal dengan mengorbankan hidupnya sendiri dalam kesetiaannya pada tugas panggilannya. Kita berdoa semoga semangat Santo Fransiskus Xaverius ini membangkitkan semangat dalam diri kita untuk menjadi misionaris dalam bidang tugas dan kehidupan kita. Agar segala harapan dan doa kita berkenan kepada Tuhan marilah kita berpantas diri di hadapn-Nya dengan memohon ampun atas segala dosa dan kelemahan kita.



Renungan

Seorang misionaris setelah lama bekerja di daerah misi mendapat berkesempatan cuti ke kampung halamannya. Setiba di kampung halamannya sang misionaris berhadapan dengan pelbagai pertanyaan orang di kampungnya termasuk pertanyaan yang berkaitan dengan karya dan pelayanan pastoralnya di tanah misi. Seorang Bapak bernama Lamber bertanya kepada misionaris itu. ‘Di tempat Pastor bekerja berapa jumlah umatnya?’ Misionaris itu menyampaikan bahwa ia bertugas sebagai pastor paroki dan jumlah umatnya 15.000 orang. ‘Apakah Pater bisa menceritakan berapa jumlah misionaris dari paroki tempat pater bekerja?’ Pastor itu menjelaskan bahwa dari parokinya sudah ada 15.000 orang misionaris. Menedengar jawaban yang terakhir ini, Bapak Lamber tidak yakin dan berkata: "Mungkin Pastor keliru memberikan penjelasan kepada saya, karena maksud saya adalah jumlah orang yang sudah menjadi misionaris keluar dari wilayah kerja pastor". Bukan jumlah umat. Sekali lagi Pastor itu menjelaskan penuh sangat meyakinkan bahwa memang seluruh umatnya telah menjadi misionaris. Si Bapak Lamber tadi bingung mendengarkan penje¬lasan sang Pastor.

Memahami kebingunan Pak Lamber tadi, pastor lalu memberi penjelasan tamba¬han kepadanya. Ia berkata: "agar bapak ketahui semua orang yang saya baptis dalam nama Kristus mereka itu adalah para misionaris yang kapan saja bisa berangkat membagikan kegembiraan kepada orang yang belum mendengarkan berita keselamatan Allah. Kitab Suci sendiri menjadi sumber mengapa saya mengatakannya secara demikian. Menurut Kitab Suci semua orang yang dipersatukan dalam pembaptisan haruslah pergi dan memberitakan kabar gembira ke mana mana bahkan sampai ke ujung bumi". Setelah mendengarkan penjalasan mirip khotbah itu Pak Lamber tadi diam dan menganggukkan kepala tAnda bahwa ia menegerti apa yang dikatakan sang misionaris itu kepadanya.

Bacaan pertama tadi menyampaikan kepada kita tentang tugas dan misi perutusan Paulus untuk pergi mewartakan Injil. Paulus merasa dirinya berkewajiban untuk memberitakan injil. Satu hal yang menarik ialah bahwa ia mewartakan Injil bukan untuk dirinya sendiri melainkan demi kemuliaan Tuhan agar semakin banyak orang mengenal dan mencinta Allah. Mencintai Allah itu ditunjukkannya dalam pelayanan yang utuh, total, tidak terbagi. Paulus berpatok pada prinsip ini: segala pelayanan untuk kemuliaan Allah. Dalam perwartaan, Paulus san¬gat mementingkan rasa solidaritas terhadap mereka yang didatan¬ginya. Ia menegaskan: ‘ketika aku berhadapan dengan mereka yang lemah aku berlaku sebagai orang lemah’. Pewartaannya berhasil justru karena semangat solidaritasnya dan ia tahu persis apa dan kepada siapa ia mewartakan. Tingkat adaptasi Paulus terhadap lingkungan pelayanannya sangat bagus. Ia tidak suka mewartakan dirinya sen¬diri. Ia telah merasakan dirinya hanyalah sebagai alat di tangan Allah untuk meneruskan sukacita yang didapatnya.

Apa yang dilakukan Paulus ini sebenarnya merupakan pelaksanaan sebuah imperatif, perintah yang diberikan Kristus seperti dikedepankan dalam penggalan Injil Markus tadi. Markus dalam mengakhiri penggalan injilnya dengan sebuah imperatif atau perintah agar orang pergi mewartakaan kerajaan Allah dan Injil itu kepada segala bangsa. Keberanian Paulus mewartakan justru karena Injil sendiri telah memberi jaminan kepadanya. Allah sendiri mempersenjati dirinya dengan segala perlengkapan Allah. Segala kemungkinan bahaya selalu dijauhkan dari mereka yang berjalan dalam jalan Allah. Banyak setan bakal lari ketika melihat orang yang hendak mewartakan kebenaran Allah. Ular, simbol kelicikan dunia ini diremukkan. Allah dan manusia kepunyaan Allah selalu menang terhadap kelicikan dunia ini. Pewarta injil juga bakal disegani setan setan dan mereka akan lari menjauh. Orang yang mewartakan kebenaran dijamin tidak akan mati biar ia minum racun sekalipun. Bukan maksudnya supaya kita membuktikan apakah kita termasuk orang yang dilengakapi Allah lalu coba coba meminum racun. Itu namanya orang suka mencari masalah dan terkesan mau main-main dengan hidupnya. Injil tadi pada dasarnya hanya mau menegaskan bahwa orang yang berjalan bersama Allah keselamatannya dijamin dalam tangan Allah sendiri.

Pada hari ini kita dan seluruh gereja merayakan pesta Santo Fransiskus Xaverius. Riwayat hidup Santo Fransiskus ini memang panjang sekaligus menarik karena memang perjalan misionernya meliputi pelbagai kawasan benua mulai dari Eropa sampai ke Asia khususnya ke Indonesia. Fransiskus kelahiran Spanyol itu sebelum datang ke Indonesia ia telah menjadi misonaris di Eropa. Ia tak bedanya seperti pengalaman Paulus dalam bacaan pertama tadi. Ia telah melepasakan segalanya dan bertekad mewartakan injil. Ia ulet dalam berhadapan dengan segala tantangan dalam tugas misionernya. Karena keuletannya maka di Indonesia ia diangkat menjadi pelindung karya misi. Disamping itu, juga karena ia telah menjelajahi hampir semua pulau di Indonesia. Dalam buku sejarah gereja Indonesia ia bahkan sampai ke Pulau Flores. Hal itu dibuk¬tikan dengan adanya beberapa tempat bersejarah yang masih ada sampai sekarang berkaitan dengan Santo ini.

Di Maumere misalnya, masih ada sebuah sumur yang dikneal dengan nama sumur Padre Fransiskus. Juga di satu tempat perbatasan antara Maumere dan Larantuka (tepatnya di paroki Bola Maumere) ada sebuah tempat berupa batu karang di tengah laut telah dibangun satu salib dan menurut cerita di batu karang itulah dahulu Fransiskus pernah menimba air dan beristirahat ketika perahu yang dipakainya diterpa gelombang dalam pelayar¬annya menuju kota Ambon Maluku. Dan tempat yang telah dileng¬kapi sebuah salib itu sunguh mengingatkan orang akan kisah perja¬lanan misoner Santo Fransiskus. Banyak orang pergi berdoa di tempat ini dengan menggunakan perahu. Jika gelombang pasang yang muncul di tengah laut itu hanyalah sebuah tiang salib. Salib itu merupakan bahasa yang paling lengkap dan bukti yang paling nyata buat generasi kemudian bahwa Fransiskus telah menanamkan benih iman kristiani di sana.

Jika kita merenungkan dialog yang terjadi antara pak Lamber dengan salah seorang Misionaris dalam cerita awal tadi, maka kita bisa menangkap maksudnya sekaligus kita mendapat tugas, perutusan untuk menjadi misionaris dalam lingkup tugas dan pelayanan kita. Kita semua yang telah dipersatukan dengan Kristus dalam gereja berkat permandian dituntut untuk mewartakan Kristus dan Injil-Nya dengan cara kita masing masing. Kita pun yakin bahwa Allah sendiri akan melengkapi semua orang yang hendak ditugaskan-Nya mewartakan kebenaran kepada dunia. Marilah kita menanamkan salib kebenaran di hati banyak orang dalam kesaksian hidup kita. Semoga.









HARI SELASA PEKAN I ADVEN

Yes.11,1-10 Luk.10,21-24



Buka

Manusia yang sulit ditemukan atau langka dalam kehidupan dunia saat ini adalah manusia yang jujur. Manusia yang berani mengatakan secara terus terang apa dilihatnya dan menyampaikan apa yang didengarnya. Orang yang jujur, terbuka sulit ditemukan sekarang ini. Di mana-mana kita akan bertemu dengan manusia-manusia yang tidak jujur. Di komunitas-komunitas yang dihuni para calon orang kudus juga sulit kita temukan orang yang jujur, yang terbuka, yang berani menyatakan apa yang benar dan apa yang salah. Di lembaga-lembaga pendidikan, instansi pemerintah juga masih banyak orang yang tidak bahagia karena masih bermusuhan dengan dirinya sendiri. Orang bermusuhan dengan hati nuraninya sendiri karena tidak jujur dalam tindakan dan perbuatannya. Injil hari ini mengajak kita untuk menjadi orang yang berbahagia dengan usaha meningkatkan kejujuran dalah hidup. Kita akui segala kelemahan dan ketidakjujuran kita terhadap Tuhan, sesama, dan diri sendiri…



Renungan

Berbahagialah mata mereka yang melihat apa yang kamu lihat.

Pada suatu ketika kami menyaksikan sendiri suatu peristiwa yang unik. Seorang mahasiswa kerasukan roh. Selama beberapa hari ia berbicara dan berteriak tanpa alasan. Selama beberapa hari ia berjuang dan terus membanting dirinya bahkan membenturkan kepalanya ke dinding tempat kostnya. Pada saat-saat tertentu ia berteriak sambil bangun menuju pintu dan sepertinya mau mengejar sesuatu. Ketika ditanya siapa atau apa yang dikejarnya, dalam kondisi setengah sadar ia mengatan bahwa ia amengejar beberapa orang yang datang hendak menculiknya. Mahasiswa itu sering menyebut nama seseorang yang selalui dimintai pertolongannya. Orang yang disebutnya itu adalah kakeknya. Pada saat-saat tertentu mahasiswa tadi sepertinya berdialog dengan arwah neneknya. Hal itu sangat jelas dari variasi suara yang lkeluar dari mulutnya. Sebentar-sebentar anak itu berbicara dengan suaranya sendiri, tetapi kemudian kami mendengar suara seorang nenek. Wajah anak itu tampaknya berubah pada saat menyuarakan suara sang nenek. Naak itu juga selalu memaksa kami untuk usir roh jahat yang mengganggunya sambil menunjukkan jarinya ke sudut ruangan. Dia memaksa kami untuk mengsuir sesuatu yang tidak kami lihat. Ia melihat roh yang datang mengganggunya, tetapi kami tidak mampu melihat sepertia apa yang bisa ia lihat.

Penggalan injil Lukas yang kita baca dan dengar tadi memuat suatu pujian Yesus kepada Bapa-Nya. Digambarkan bahwa Yesus bergembira dalam Roh dan memuji serta bersyukur kepada Bapa-Nya. Yesus bersyukur serta memuji Allah Bapa karena kebijaksanaan Allah yang selalu mengutamakan, memprioritaskan orang yang kecil, sederhna dan kurang pAndai. Yesus juga berdoa mengucapkan syukur karena segala sesuatu telah diserahkan kepada-Nya. Yesus mendapat kuasa atas segala makhluk sesuatu. Dalam suasana yang penuh syukur dan kegembiraan itu Yesus menyampaikan sebuah pesan penting untuk para murid-Nya. Dalam kegembiraan itu Yesus masih mau berpaling, menaruh harapan, serta memperhatikan para pengikut-Nya. Perhatian Yesus terhadap para muridNya itu muncul dalam satu pernyataan yang penting ini. Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Kalimat ini sesungguhnya merupakan kalimat kuncil yang manakar atau mengukur kualitas kemuridan mereka. Panggilan untuk memenjadi murid dan pengikut Kristus pada intinya adalah panggilan untuk melihat. Kata melihat itu sendiri dapat mengandung makna yang sangat luas. Melihat itu dapat diartikan sebagai usaha mengerti, memahami, menanggapi, memberikan arti atau makna terhadap segala sesuatu. Melihat yang dimaksudkan Yesus dalam injil hari ini bukan sekadar melihat suatu objek secara fisik. Melihat dalam konteks injil ini tidak lain adalah kemampuan manusia, para pengikut Kristus untuk memaham, memaknai aneka situasi, peristiwa dan pengalaman dalam kehidupan yang konkret setiap hari.

Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Ungkapan ini juga mengandung dan menyembunykan suatu harapan besar bahwa orang lain dapat melihat, memahami, mengerti segala sesuatu melalui orang-orang yang mengimani kristus. Dengan ungkapan kalimat seperti itu Yesus mau menegaskan kepada kita bahwa orang yang menamakan diri sebagai pengikut Kristus haruslah menjadi alat yang memungkinkan orang lain melihat rencana dan kehendak Tuhan. Bagi Yesus orang lain hanya akan mampu melihat, merasakan, memahami rencana dan kebijaksanaan Allah hanya kalau para pengikut-Nya sudah berfungsi sebagai mata yang memungkinkan orang melihat seluruh kenyataan kebesaran Allah. Menurut Yesus mata para murid yang berarti seluruh hidup para pengikutnya haruslah berfungsi sebagai alat yang memungkinkan orang lain dapat melihat, merasakan dan mengalami kehadiran Allah dalam hidupnya.

Perkara dan soal kemampuan para murid Kristus, kemampuan kita orang beriman menjadi alat bagi orang lain bukanlah perkara yang gampang. Yesus menyadari bahwa tidaklah mudah orang melihat, memahami, dan measakan kehaidran Allah itu dalam hidupnya. Kesulitan itu justru muncul ketika para pengikut Kristus itu tidak mempynyai mata yang jernih dan teliga yang normal untuk mendengarkan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Karena itu Yesus menegaskan dalam injil tadi: Aku berkata kepadamu, banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat tetapi tidak dapat melihat, ingin mendengar apa yang kamu dengar tetapi tidak mendengarnya. Kalimat seperti ini mengungkapkan kenyataan bahwa orang ang sudah melihat, dan mendengar tentang Allah tidak dapat menejlankan perannya secara maksimal. Orang tidak mau memperlihatkan kebenaran yang sesungguhnya. Orang memanipulasi, mendiamkan apa yang dilihatnya. Orang menjadi seolah-olah buta terhadap aneka kenyataan. Orang juga tidak mau memperdengarkan apa yang pernah didengarnya. Orang pernah mendengar tetapi enggan untuk menceritakan, memperdengarkan apa yang sebenarnya ia dengar. Orang sering memanipulasi segala kenyataan yang didengarnya. Akibat lanjutnya banyak orang yang hanya melihat gejala permukaan atau fenomena yang dangkal. Orang mendengar hal atau informasi yang tidak akurat. Memanipulasi, membalikan kenyataan yang dilihat dan memanipulasi serta membalikan segala kenyataan yang didengar sering menjadi titik awal kehancuran dan tragedi yang menggerogoti jiwa manusia. Informasi yang salah karena tidak mengatakan secara sebenarnya apa yang dilihat dan didengar akan menimbulkan malapetaka dalam hidup manusia. Yesus sungguh menyadari bahwa para pengikut-Nya tidak dapat menjadi orang yang melihat dan mendengar secara sungguhan. Ia mengingatkan para murid-Nya untuk mengatakan secara benar apa yang dilihat dan apa yang didengar. Bukan sebaliknya mencari keselamatan sesaat dengan merahasiakan, menyembunyikan apa yang dilhat dan didengar tentang sesuatu hal. Lebih jelek lagi kalau yang disembunykan itu adalah kejahatan-kejahatan atau tindakan-tindakan yang tidak terpuji. Orang seperti itu tidak akan menjadi bahagia sepanjang hidupnya. Orang seperti itu dinilai buta dan tuli secara rohani, secara batiniah. Orang seperti itu tidak pantas menjadi pengikut Kristus.

Masa adventus adalah kesempatan bagi kita untuk membuka mata dan telinga kita melihat dan mendengarkan kembali segala ketidakberesan dalam diri kita. Mungkin kita sering berperan sebagai orang bermata buta, atau berteliga tuli secara batiniah karena ketidakmampuan kita untuk menyatakan segalanya secara jujur, terus terang. Mungkin kita sering menutup mata dan telinga batin terhadap aneka ketidakberesan, aneka kebusukan yang ada dalam kehidupan kita di lembaga pendidikan ini. Kalau demikian tentu kita menjadi orang tidak berbahagia karena bagai Yesus hal yang membahagiakan justru kalau kita menjadi sarana bagai orang lain untuk melihat dan mendengarkan segala sesuatu secara benar. Masa penantian adalah masa membersihkan mata dan telinga batin kita dari aneka penyimpangan yang mungkin kita lakukan. Usaha kita untuk menjadikan hidup kita sebagai mata yang jernih dan telinga yang peka akan memberikan peluang bagi orang lain untuk melihat, memahami, mdengar dan merasakan kebaikan Allah. Perdamaian yang digambarkan Yesaya hari ini dapat diartikan sebagai ajakan bagi manusia untuk berdamai dengan Allah. Berdamai dengan Allah berarti manusia mencari kebahagiaan. Dan kebahagiaan itu menurut injil hari ini tampaknya mudah didapat manusia. Syaratnya hanya menuntut manusia untuk memiliki mata dan telinga batin yang jernih. Dalam rumusan yang lebih singkat sebenarnya kebahagaan itu dapat dicapai dengan kualitas kejujuran manusia dalam hidup untuk melihat dan mendengarkan apa yang sebenarnya. Memanipulai penglihatan dan pendengaran adalah halangan bagi terwujudnya kebahagiaan itu. Mungkin baik kalau sepanjang hari ini kita merenungkan perkataan Yesus tadi. Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat dan telinga yang mendengar apa yang kamu dengar. Dengan katalain berbagilah saya kalau saya menghidupkan sikap yang penuh kejujuran. Amin.











HARI RABU PEKAN I ADVEN

Yes.25,6-10a Mat.15,29-37



Buka

Ada ungkapan bijak: ‘Orang menjadi berkelimpahan bukan karena ia banyak menerima melainkan karena ia lebih banyak memberi’. Ungkapan bijak ini dalam kenyataannya sulit dimaknai apalagi diaplikasikan secara praktis dalam kehidupan manusia. Manusia lebih suka menerima daripada harus memberi karena manusia mempunyai tendensi untuk lebih mementingkan dirinya sendiri. Yesus adalah satu-satunya pribadi yang lebih banyak memberi tanpa menuntut ntuk menerima. Bacaan-bacaan hari ini memberikan gambaran kepada kita bagaimana Yesus membuat mujizat perbanyakan roti dan memberikan makanan bagi ribuan orang secara berkelimpahan. Yesus melalui injil hari ini mengajak manusia, mengajak kita untuk senantiasa rela berbagi dan memberi daripada harus selalu meminta dan menuntut. Hidup yang bermakna dan yang selalu berkelimpahan adalah kehidupan Yesus yang selalu diwarnai tindakan dan aktivitas memberi. Filosofi kehidupan Yesus adalah mencari kelimpahan dengan memberi. Kita memohon rahmat Tuhan agar kita belajar menjadi orang yang lebih suka memberi daripada menjadi orang suka menuntut…



Renungan

SeAndainya kita ditanya, pekerjaan manakah yang akan mengurangi apa yang kita miliki? Andaikan jawabannya ada dua pilihan memberi atau menerima, kita memilih jawaban yang mana? Umumnya orang bahkan hampir pasti kita sepakat bahwa jika kita memberi sesuatu kepada orang lain, maka kita akan mengalami kekurangan. Pendek kata ketika orang atau kita terlibat dalam aktivitas memberi sesuatu, dalam benak kita langsung membayangkan bahwa orang, kita akan mengalami kekurangan bahkan kehabisan sesuatu itu. Dengan cara pikir dan pengAndaian seperti ini, sebenarnya mau membuktikan bahwa ketika orang atau kita terlibat dalam memberi sesuatu kepada orang lain, yang kita pikirkan adalah diri kita sendiri. Saat memberi yang kita pikirkan adalah berkurangnya sesuatu pada diri kita. Manusia, kita jarang memusatkan perhatian kepada orang yang menerima pemberian kita. Dengan latar belakang pemikiran bahwa tindakan memberi itu identik dengan mengurangi apa yang orang, kita miliki membuat orang, kita enggan, ragu-ragu, bahkan harus membuat perhitungan yang cermat sebelum memberi sesuatu kepada orang lain. Orang/kita, jarang memikirkan bahwa justru kita akan kekurangan karena orang lain menerima apa yang kita berikan. Jikalau pemberian kita tidak diterima, maka kita tidak akan mengalami kekurangan. Kekurangan sebenarnya bukan terjadi karena orang memberi, tetapi lebih-lebih justru karena orang menerima. Dan hal ini persis berlawanan dengan konsep kita yang normal. Normalnya dan logisnya bahwa kalau kita menerima kita akan memperoleh sesuatu yang ditambahkan kepada kita. Konsep menerima seperti ini juga terjadi karena orang yang menerima pemberian itu memusatkan perhatiannya pada dirinya sendiri sebagai penerima. Dia menerima tanpa memikirkan bahwa orang yang memberinya mengalami kekurangan.

Konsep memberi berati berkurangnya sesuatu dan konsep menerima berarti kelebihan sesuatu adalah konsep dalam logika kehidupan manusia yang umum dan biasa. Konsep seperti ini hampir pasti tidak mudah diubah. Mengapa tidak mudah? Alasannya karena manusia mempunyai kecenderungan untuk menghubungkan segala sesuatu, segala taindakan, aktivitasnya pertama-tama dihubungkan demi dirinya sendiri. Kalau saya memberi artinya saya akan kekurangan, tetapi kalau sayaa menerima saya pasti berkelebihan. Inilah sebenarnya wujud nyata dari adanya konsep egoisme gen dalam diri setiap manusia. Segala sesuatunya diarahkan kepada dirinya sendiri. Manusia-masia seperti ini adalah manusia yang berjiwa kerdil. Konsep yang mengerdilkan jiwa seperti ini menjerumuskan manusia pada sikap enggan memberi, tetapi bersemangat mengumpulkan sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri. Manusia dikuasai oleh gen-gen dalam dirinya yang memnag kodratnya bersifat egois.

Kehidupan Yesus dijalani-Nya berlawanan dengan logika kehidupan manusia seperti saya gambarkan tadi. Kehidupan Yesus persis berlawanan dengan kehidupan manusia karena apa? Karena bagi Yesus tindakan memberi itu bukannya membuat-Nya berkekurangan tetapi sebaliknya dengan memberi Ia senantiasa mendapatkan kelimpahan. Bagi Yesus, memberi itu sama artinya melipatgAndakan sesuatu. Bukan mengurangi sesuatu. Pertanyaannya. Mengapa tindakan memberi bagi Yesus itu justru melipatgAndakan sesuatu? Jawabannya hanya satu. Dia tidak dikuasai oleh gen-gen yang cenderung egoistis itu. Yesus memberi bukan untuk mengurangi melainkan untuk melipatgAndakan. Dan penggalan injil hari sungguh membuktikan kepada kita bahwa tindakan memberi itu justru melipakgAndakan sesuatu.

Keseluruhan ayat dalam injil yang dengar hari ini menggambarkan aktivitas Yesus dalam perkara memberi sesuatu kepada orang lain. Ia memberikan kesembuhan kepada banyak orang sakit yang menderita pelbagai jenis penyakit. Ia juga memberikan makanan sekian ribu manusia yang telah mengikuti Dia selama tiga hari. Yesus tidak perlu membuat perhitungan atau anggaran khusus berkaitan dengan masalah konsumsi bagi ribuan orang itu. Yesus tidak mempunyai kabinet yang mengurus makan minum seperti di negara kita ini saat menjelang Natal atau lebaran. Ke mana saja Yesus pergi ia tidak pernah menentukan adanya seksi konsumsi. Mengapa Yesus tidak membentuk kabinet yang mengurus makan minum? Jawabannya karena bagi Yesus kerelaan dan keinginan untuk memberi dan membuat orang lain berbahagia sudah menjadi modal untuk mendatangkan makanan secara berkelimpahan. Keingian dan niat baik serta tulus dalam diri Yesus yang memikirkan nasib orang lain membuat Ia tidak perlu merepotkan diri dengan hal makan minum. Itulah kunci utama mengapa dari tujuh potong Roti Yesus mampu mengenyangkan ribuan manusia bahkan masih berkelebihan. Mujizat perbanyakan roti yang digambarkan injil hari ini adalah mujizat yang lahir dari sikap mengutamakan, mementingkan orang lain. Ketika para murid membagikan roti itu kepada orang lain, konsentrasi mereka adalah orang yang diberi roti. Mereka tidak lagi memikirkan diri mereka sendiri. Pada saat semua orang merasa bahwa orang lain yang lebih penting dari diri mereka sendiri. Orang yang berpikir tentang kepentingan orang lain biasanya tidak akan merasa kekurangan atau marasa rugi kalau memberikan sesuatu. Orang yang memberi sesuatu secara tulus dan jujur tidak akan pernah menyesal karena memberi. Dan Yesus adalah satu-satunya manusia yang memberi bukan hanya kesembuhan dan makanan bagi tubuh tetapi lebih dari itu memberikan dirinya secara penuh menjadi santapan jiwa setiap orang percaya.

Gambaran tentang kegembiraan manuia beriman yang menikmati perjamuan bersama Tuhan digambarkan secara bagus dalam Nubuat Yesaya hari ini. Yesaya menubuatkan tentang sebuah perjamuan pesta bagi manusia yang percaya. Sebuah perjamuan yang menggembirakan. Di sana manusia tidak akan mengalami lagi pendeitaan karena berbagai penyakit atau merasa haus dan lapar. Yesus yang kita nantikan adalah figur menyedikan tempat perjamuan itu untuk kita. Marilah kita berlajar memberi tanpa merasa kehilangan. Kita memberi, menyumbangkan segala kemampuan kita untuk kepentingan orang lain dan bukan demi diri sendiri. Tuhan semoga kami belajar untuk tahu memberi daripada harus menuntut untuk selalu menerima…. Amin











HARI KAMIS PEKAN I ADVEN

Yes.26,1-6 Mat.7,21.24-27



Buka

Semua orang yang normal biasanya membenci para pembual, para pembohong, para penipu. Dan kalau kita berbicara tentang pembual, pembohong, penipu maka pikiran kita biasanya lansung dihubungkan dengan onderdil atau bagian tubuh manusia. Untuk pembual yang diperhatikan adalah lidahnya sementara yang mendengar adalah telinga. Kita juga sering membenci orang yang berbicara banyak, berteori banyak, berkonsep banyak, tetapi tidak pernah membuahkan tindakan nyata. Juga kita biasanya tidak akan puas pada orang yang senang mendengar banyak tetapi tidak pernah melakukan apa yang ia dengar. Hidup kita manusia pada hakikatnya adalah perbuatan, tindakan, aktus bukan hanya berkata-kata dan mendengar. Kata yang diucapkan dan didengar baru mempunyai arti dan makna kalau diwujudkan dalam tindakan. Ini perkara yang tidak mudah. Ini memerlukan kedewasaan hidup dan cara berpikir. Membutuhkan penguasan diri.



Renungan

Konon ada cerita seputar orang kudus. Pada sutau waktu seorang rahib tua berpesan kepada seorang rahib muda. Isi pesannya adalah jika rahib tua itu nanti mati, jenazahnya jangan cepat-cepat dikuburkan. Jenazahnya baru boleh dikuburkan setelah tiga hari ia meninggal. Memasuki HUT kelahirannya yang 65 tahun rahib tua itu meninggal. Sesuai pesan yang pernah ia sampaikan, jenazahnya tidak segera dikuburkan. Jiwa sang rahib itu terus meluncur ke gerbang surga. Di gerbang itu sudah banyak jiwa manusia yang sedang antre menanti giliran masuk. Petrus yang bertugas menjaga pintu di dampingi malaikat Mikhael yang tampak seram. Rahib itu menanti dengan sabar kapan namanya dipanggil masuk. Betapa senangnya rahib itu ketika namanya dipanggil. Petrus mempersilahkan rahib itu masuk. Seorang malaikat mengantar sang rahib itu. Betapa terkejutnya Sang rahib itu ketika ia memasuki sebuah taman yang indah lagi luas. Di tengah taman yang indah lagi luas itu terdapat dinding tembok yang tinggi. Sang rahib bertanya kepada malaikat yang mengantarnya itu perihal apa sebenarnya yang ada di dalam dinding tembok itu. Malaikat itu menjelaskan bahwa surga yang sesungguhnya ada di dalam pagar tembok itu. Di sana tamannya jauh lebih luas dan indah. Sang rahib berharap malaikat itu akan menghantarnya ke sana. Tetapi setelah dua hari berkeliling taman yang luas itu dari kejauhan sang rahib melihat satu kawasan sangat mengganggu keindahan pemAndangan taman itu.

Dari jauh ia melihat samar-samar (karena lupa membawa kacamata) seperti ada sebuah dataran luas yang penuh dengan cacing-caing yang bergerak. Dengan nada heran rahib itu bertanya kepada malaikat pengantarnya. Bagimana mungkin taman seindah ini dibiarkan dirusak oleh kolam yang penuh dengan cacing-cacing? Malaikat itu tersenyum lalu berkata. Saudara jangan keliru yang Anda lihat tu bukanlah cacing-cacing melainkan lidah-lidah manusia. Heran mendengar penjelasan seperti itu sang rahib bertanya. Lalu di manakah badan-manusia itu? Mengapa hanya lidah mereka yang ada di sini? Malaikat itu menjelaskan bahwa badan mereka ada di neraka. Hanya lidah-lidah mereka yang dibiarkan masuk ke tempat ini karena mereka banyak berbicara tentang Allah dengan segala ajara-Nya tetapi mereka sendiri tidak pernah melakukan apa yang mereka katakan dan ajarkan.

Kemudian mereka berjalan lagi. Dari kejauhkan mata sang rahib tertuju ke sebuah bukit. Di atas bukit yang luas itu ia melihat seperti ada gundukan bekicot yang begitu banyaknya. Lalu ia bertanya kepada malaikat pengantarnya. Bagaimana mungkin di taman yang indah ini bekicot-bekicot itu dibiarkan hidup? Bukankah bekicot–bekicot yang tertumpuk di bukit itu akan menghabiskan semua tamanan di taman ini? Sambil tersenyum sang malaikat menjelaskan bahwa yang bertumpuk di hamparan bukit yang luas itu bukalah bekicot-bekicot melainkan tumpukan daun-daun telinga manusia. Telinga mereka berada di sini tetapi badan mereka ada di neraka. Inilah telinga manusia-manusia yang sering mendengar tentang ajaran yang baik, mendengar tentang hukum-hukum Allah tetapi sering dilanggar manusia. Mendengar penjelasan malaikat itu sang rahib mulai marah-marah dan berkata. “Surga apa macam ini? Memisahkan dan memotong-motong tubuh manusia. Apakah surga ini sebuah rumah potong yang berisi daging-daging manusia? Kalau surga seperti ini biarkan saya kembali ke bumi”. Dalam situasi marah seperti itu malaikat menggiringnya keluar sambil berkata: “Surga bukanlah tempatnya ada marah-marah seperti ini. Lebih baik Anda pulang saja ke bumi”. Karena diusir dari surga rahib itu hidup lagi. Lalu apa yang terjadi? Ya semua orang heran bercampur takut karena rahib itu sudah menjadi jenazah selama dua hari lalu hidup lagi.

Setelah rahib itu hidup kembali, banyak teman rahin dan manusia lainnya datang bertanya kepadanya tentang segala pengalamannya selama ia mati dua hari. Dua hari kematian bagi rahib itu sebenarnya adalah dua hari ia berkeliling di taman surga. Untung ia marah sehingga diusir kembali ke bumi. Rahib itu pun menceritakan semua pengalaman dan penglihatannya selama berkeliling dua hari di surga itu. Ia bercerita tentang ribuan lidah dan tumpukan daun telinga manusia yang mengotori surga. Cerita pengalaman sang rahib ini membawa pengaruh yang luar biasa. Banyak orang yang bertobat dan mau memperbaiki diri dan kehdiupannya secara total. Manusia pembuat semakin berkurang karena mereka tidak hanya mau berkata-kata atau berteori melainkan melakukan apa yang mereka katakan. Orang yang hanya menjadi pendengar firman pasih berubah total menjadi orang yang aktif dan kreatif. Saya menganjurkan, nanti kalau ada dari antara kita ini mati dan masuk surga, silahkan marah-marah di sana biar diusir pulang ke bumi lalu hidup kembali.

Cerita yang kami sampaikan ini, kedengarannya lucu, aneh, tetapi kalau kita renungkan dalam konteks pesan firman Tuhan hari ini, maka cerita ini sangat tepat dipakai untuk membantu kita mengambil pesan dari injil hari ini. Yesus menegaskan dalam injil tadi bahwa partisipasi mansuai dalam kebahagiaan bersama Allah tidak hanya ditakar dengan berapa banyak orang berbicara dan mendengar tetapi ditentukan oleh berpa banyak manusia melakukan apa yang ia katakan dan yang ia dengarkan. Yesus tanpa diplomasi menyapaikan kepada kita hari bahwa bukan orang yang berkata: Tuhan, Tuhan yang akan masuk ke dalam kerajaan Allah melainkan mereka yang melakukan firman itu. Surga itu tempat hidup manusia yang berjiwa utuh. Bukan hanya untuk telinga dan lidah.

Kita tidak akan boleh berharap bahwa orang yang sudah mati datang menyampaikan nasihat untuk memperbaiki hidup kita. Kisah tentang Lazarus dan orang kaya jelas menjadi bukti bagi kita bahwa orang mati tidak akan datang memperbaiki hidup kita. Usaha kita untuk hidup meturut tuntutan norma yang ada adalah cara kita untuk mencapai kemenangan atas diri kita. Pujian yang digambarkan Yesaya dalam bacaan pertama tadi adalah pujian karena manusia dibebaskan, diselamatkan Tuhan. Tidak ada cara lain bagi kita untuk mendapatkan pelepasan dan keselamatan itu selain melaksanakan kehedak dan firman Tuhan. Tidak cukup menjadi pembicara dan pendengar. Lebih penting adalah tindakannya nyata dalah lingkungan hidup kita. Surga itu tidak jauh dari kita. Surga itu ada di mana-mana sejauh manusia hidup dalam terang sabda dan kehendak Tuhan. Semoga di sini pun di seminari ini kita mampu menciptakan surga bagi kita dengan melakukan segala apa yang baik untuk masa depan kita. Amin









HARI JUMAT PEKAN I ADVEN

Yes. 29,17-24 Mat.9,27-31

Peringatan Santo Ambrosius





Buka

Hari ini kita merayakan pesta Santo Ambrosius, Uskup dan pujangga gereja. Ambrosius lahir di Trier, Jerman Barat, sekitar tahun 340. Keluarganya berasal dari Roma sehingga ia belajar di Roma, dan menjadi pegawai negeri. Pada tahun 374 ia bertugas menjaga keamanan waktu pemilihan uskup baru di Milano. Tak disangka-sangka Ambrosiuslah yang dipilih, meskipun ia ma¬sih sebagai katekumen. Ia terpilih karena semua rakyat bersuara dan menghendaki dialah yang pantas menjadi uskup. Pada saat itulah muncul istilah/ungkapan yang kita kenal sampai saat ini. Vos Populi vox Dei. Suara rakyat adalah suara Allah. Ia lalu dibaptis dan pada tanggal 7 Desember ditahbiskan menjadi uskup. la seorang gembala umat yang giat membela hak dan ke¬bebasan Gereja terhadap campur tangan penguasa negara. la juga melin¬dungi orang miskin dan berjuang bagi rakyat yang tertindas. Dengan khot¬bah dan pengajarannya ia berhasil melenyapkan pengaruh ajaran bidaah Arius (Arianisme). Ia meninggal dunia pada hari Sabtu suci tanggal 4 April 397. Ambrosius berperanan besar dalam usaha pertobatan santu Agustinus. Dialah yang selalu menguatkan Santa Monika yang memohon pertobatan anaknya Agustinus. Kita berdoa semoga teladan dan kesucian Ambrosius ini membantu kita dalam mengejar kesucian hidup kita.



Renungan

Kehadiran teman atau sahabat yang paling dekat biasanya membuat seseorang merasa aman dan hidup lebih bersemangat. Sebaliknya kepergian apalagi kehilangan orang, teman, sahabat dekat biasanya memunculkan aneka bentu ketakutan, kecemasan, kekecewaan dan sejenisnya. Dalam situasi atau kondisi seperti itu orang biasanya larut dalam aneka kenangan atau nostalgia masala silam. Mengharapkan, merindukan kehadiran orang, teman, sahabat itu untuk memberikan dukungan, memberikan kekuatan dan peneguhan bahkan memberikan penyembuhan secara kejiwaan. Dengan kata lain dapat kita katakan bahwa kehadiran orang lain dalam hidup ini mutlak perlu. Hal itu juga sekaligus membahasakan kepada kita bahwa kehadiran orang lain selalu membawa pengaruh atau selalu berdampak untuk seseroang. Kehilangan orang yang dicintai, dan berikut kerinduaan untuk berada kembali bersamanya menunjukkan bahwa orang itu memberikan pengaruh penting atas hidup seseorang. Kahadiran dan kebersamaan seperti boleh dikatakan sebagai bentuk kehadiran yang berdampak. Kehadiran berdampak artinya kalau seseorang itu hadir orang sungguh merasakan bahwa ia hadir dan memberikan pengaruh yang positif. Begitu pula sebaliknya, kalau orang itu tidak hadir, orang merasa ditinggalkan. Kalau seseorang meninggalkan kita lalu kita menyesalatas kepergiannya itu artinya orang yang meninggalkan itu punya dampak untuk kita. Begitu juga kalau orang itu ada bersama kita dia memberikan pengaruh tertentu untuk kita maka orang itu memberikan dampak untuk kita. Itulah model kehidupan yang berdampak. Tetapi kalau seseorang itu ada atau tidak ada sama saja( tidak memberikan pengaruh apa-apa) itu artinya hidup orang itu tidak ada artinya bagi orang lain.

Bacaan-bacaan hari ini menampilkan model, corak kehidupan tokoh-tokoh yang mempunyai dampak bagi kehidupan manusia. Yesaya dalam bacaan pertama menggambar kedatangan Tuhan itu membawa pengaruh untuk membebaskan manusia dari perbudakan dan penindasan. Jemaat perjanjian lama sungguh menyadari bahwa kehadiran Tuhan menjadi Andalan bagi mereka dalam mengatasi aneka masalah dalam kehidupan. Dan apa yang diangkat Yesaya ini secara alebih konkret digambarkan melalui penggalan injil tadi. Yesus adalah figur utama yang dinantikan sebagai pembebas yang dinubuatkan dalam Kitab Yesaya hari ini. Peran yesus sebagai pembebas, penyelamat ini tampak jelas dalam episode penyembuhan orang buta dalam injil hari ini. Kehadiran Yesus adalah sebuah kehadiran yang berdampak bagi mereka yang beriman dan menaruh harapan sepenuh-penuhnya kepada Dia. Kehadiran seorang figur yang selalu berdampak diatAndai oleh kerinduan orang untuk senantiasa mencari dan mendekatkan diri kepadaNya. Orang-orang buta yang datang kepada Yesus tadi adalah orang yang memiliki kerinduan serta harapan akan dibebaskan dan disembuhkan.

Kesembuhan, kelepasan, pembebasan orang buta dalam konteks injil hari ini adalah buah dari suatu usaha besar. Kesembuhan itu lahir dari suatu perjuangan untuk terus mencari Yesus. Pelepasan dan pembebasan mengAndaikan aktivitas dan partispasi aktif manusia. Manusia dituntut untuk aktif, untuk kreatif mencari dan menjumpai Tuhan kalau mau disembuhkan. Kesembuhan orang buta yang diangkat injil tadi bukanlah sebuah proses kesembuhan yang pasif. Kesembuhan dan pembebasan orang sakit itu adalah kesembuhan dalam pengertian yang aktif dan kreatif. Mereka tidak hanya menunggu dengan tenang-tenang di rumah mereka. Orang yang buta itu berjuang berjalan mendekatkan diri kepada Yesus dan sambil berteriak meminta kesembuhan. Mereka disembuhkan terutama karena iman dan perjuangan mereka yang tekun dan setia. Dari sini jelaslah bagi kita bahwa keselamtan itu adalah sebuah aktivitas bukan sebuah pasivitas atau sebuah determinisme fatalistis menunggu nasib. Keselamatan itu bukan hasil dari sebuah sikap yang pasrah pada situasi dan keadaan. Keselamtan itu lahir dari usaha manusia mengatasi segala situasi dan keadaan yang kurang menguntungkan.

Bagi orang yang percaya kehadiran Yesus dalam hidup selalu membawa pembebasan dan kesembuhan. Bagi orang yang percaya kehadiran yesus dalam hidup mutlak diperlukan karena manusia saban hari dililit duka nesta. Manusia terjerat dan terjerembab dalam kubangan dosa. Manusia menjadi buta terhadap aneka kenyataan. Untuk itulah manusia mau tidak mau merindukan Tuhan yang memberikan jamian pembebasan. Santo Ambrosius yang kita rayakan pestanya hari ini adalah contoh praktis manusia yang selalu merindukan Tuhan agar hadir dalam hidupnya. Ambrosisu yakin sungguh bahwa Tuhan hadir dalam diri orang-orang kecil yang ia layani. Suara Tuhan didengarnya melalui suara orang yang ia layani. Mudah-mudahan kita dapat belajar sesuatu dari kisah injil hari ini dan dari cara hidup santo Ambrosius. Santo Ambrosisu doakanlah kami. Amin

















HARI SABTU PEKAN I ADVEN

Kej.3,9-15.20 Ef.1,3-6.11-12 Luk.1,26-38



Buka

Hari ini merayakan pesta maria dikandung tanpa Noda. Itu artinya kita merayakan pesta untuk Maria yang telah hidup tanpa cela, tanpa kesalahan. Ia hidup sederhana, taat dan setia pada aneka kebiasaan yang ada dalam lingkungan masyarakatnya. Maria terpilih karena ia berjuang hidup untuk selalu berkenan kepada Allah. Kita berdoa semoga semangat dan teladan kesucian Maria ini mampu meresapi hidup dan diri kita sehingga pada waktunya kita juga diberi kepercayaan yang lebih besar dalam membangun misi kerajaan Allah dalam tugas dan panggilan kita. Agar harpaan dan doa kita berkena kepada Tuhan mari kita berpantas diri dengan mengakui kelemahan dan dosa kita……

Renungan

Istilah kesepakatan, perjanjian, kontrak kerja, perundingan dan sebagainya adalah sitilah yang biasa kita dengar. Istilah-istilah ini biasanya bertalian dengan proses pelaksanaan suatu tugas yang dalam bahasa populer kita kenal dengan istilah proyek. Kesepakatan atau kontrak kerja biasanya berkaitan dengan dengan proses pelakasanaan pembangunan sebuah proyek. Orang yang menang tender terhadap proyek tertentu umumnya senang. Mereka senang karena dengan itu ia akan meraup keuntungan finansial sebanyak mungkin. Kalau ada proyek besar biasanya orang beramai-ramai merebut tender. Di balik perebutan seperti itu terkandung keinginan untuk mendapatkan keuntungan. Dapat tender lalu identik dengan dapat untung. Spiritualitas mendapat tender sama dengan dapat untung ini rupa-rupanya telah menjadi spirit pembangunan di negara kita. Kita sendiri dapat melihat mutu kerja dari proyek-proyek dengan spirit seperti ini. Dana menguap dan meluap ke sebarang tempat, sementara kualitas proyek yang dihasilkan jauh di bawah stAndar. Semua orang jelas tidak puas terhadap cara kerja seperti itu. Janganlah heran di mana-mana proyek-proyek terbengkalai. Orang lupa bahwa menang tender itu sama dengan menang untuk melaksanakan sebuah kesepakatan, sebuah persetujuan, sebuah kontrak yang memuat tuntutan moral untuk dilaksanakan secara tepat sesuai kesepakatan atau nota kontrak. Menerima proyek tanpa tanggungjawab moral jelas menghasilkan proyek berkualitas rendah, tidak memenuhi kualifikasi stAndar.

Bacaan-bacaan hari ini memberikan gambaran untuk kita tentang sebuah proyek raksasa. Proyek raksasa itu sudah direncanakan sejak manusia pertama terjebak dalam lautan kesombongan yang mau setara dengan Allah. Arsitek proyek raksasa itu adalah Allah sendiri. Dan proyek itu tidak lain adalah proyek pembangunan kerjaaan Allah. Dalam hitungan jutaan abad proyek itu belum dapat dilaksanakan karena belum ditemukan kontaktor yang pas dan mampu untuk itu. Allah dari zaman ke zaman menawarkan tender proyek keselamatan itu, tetapi tidak ada yang mampu untuk itu. Ratusan nabi bermunculan dalam sejarah kehidupan manusia tetapi semua mereka tidak mampu menerima melaksanakan proyek raksasa itu. Proyek raksasa itu tidak lain adalah sebuah jembatan layang yang menghubungkan kembali Allah dan manusia yang telah lama terpisah. Baru 2000 tahun silam proyek itu terlaksana ketika Tuhan berhasil mendapatkan seorang kontaktor yang tepat. Injil hari ini memberikan gambaran kepada kita bahwa tokoh pemenang tender pembangunan jembatan yang menghubungkan surga dan dunia itu ternyata jatuh kepada Missis X. Ia yang berinisial Misis X ini kemudian diketahui sebagai seorang gadis Desa yang tidak memiliki CV atau PT. Nama gadis itu diberitakan oleh surat kabar milik Santo Lukas dalam injil hari ini. Maria adalah gadis pemenang tender pembangunan jembatan layang menuju sorga itu. Hari (Sabtu, 8/12) diberikan Lukas, bahwa seorang konsultan dikirim Tuhan untuk melakukan penawaran tender itu kepada Maria. Nama konsultan itu adalah Malaikat Gabriel. Dan kita semua mendengar sendiri bagaimana proses tawar menawar itu berlangsung. Terjadi diskusi yang seru antara konsultan proyek itu dengan Maria. Masalahnya, bagi Maria tawaran itu diluar kemampuan nalarnya. Ia sadar ia tidak memiliki apa-apa dan juga belum pernah melakukan suatu aktivitas yang menunjukkan prestasi kerjanya. Karena itu, kalau Lukas memberitakan Maria mengalami kegoncangan berhadapan dengan konsultan proyek itu, tentu itu normal.

Satu hal yang amat menarik dari kisah injil hari adalah proses diskusi, tanya jawab antara Maria dan Malaikat Gabriel. Sulit kita bayangkan apa yang akan terjadi seAndainya Maria tidak mau berdiskusi dengan malaikat itu. Dari injil hari ini kita belajar bagaimana Maria bersikap kritis dan mau menggugat tawaran malaikat itu. Gugatan dan cara pikir kritis untuk mempertanyakan arti salam yang disampaikan kepadanya adalah suatu model gugatan dan berpikir kritis yang muncul dari pemhaman Maria akan kondisi dirinya sendiri. Maria menampilkan sebuah kesadaran kritis dari pemahamannya akan siapa dirinya. Kesadaran kritis Maria ini, mempunyai daya ungkit dan daya gugat yang kuat sampai sang malaikat menjelaskan keseluruhan, garis besar rencana pelaksanaan proyek keselamatan itu. Malaikat meberikan semacam rancangan atau master plannya sehingga pada akhirnya Maria hanya bisa berkata Ya.

Apa yang dapat kita petik dari cara dan sikap Maria berhadapan dengan tawaran Malaikat ini? Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari peristiwa ini. Pertama, dalam menghadapi sesuatu manusia, kita harus memiliki kesadaran kritis. Itu artinya manusia atau kita harus mempertanyakan segala sesuatu yang sifatnya membingungkan kita. Manusia yang berkesadaran kritis adalah manusia yang selalu mempertanyakan segala sesuatu setelah dikonfrontasikan, dihubungan dengan kondisi dirinya sendiri. Orang yang bersikpa kritis akan berkembang daya cara tindak dan pola pikirnya. Kedua, kesadaran kritis tidaklah cukup kalau kesadaran itu tidak sampai pada sikap mentukan komitmen dan mengambil keputusan yang bebas. Maria mampu mengambil keputusan setelah ia secara kritis mempersoalkan tawaran malaikat. Maria dalam kebebasan tanpa tekanan akahirnya harus menyatakan ya terhadap tawaran malaikat itu. Ketiga, komitmen verbal dalam bentuk jawaban ya untuk menerima tawaran baru mempunyai arti yang penuh kalau komitmen itu dikonkretkan dalam kondisi praktis. Maria bersikpa kritis terhadap sang malaikat sebelum ia menyatakan diri bersedia menerima tawaran itu, dan jawaban, keptusan untuk menerima itu membawa konsekuensi bahwa Maria harus menerima risiko mengandung, melahirkan, memelihara bahkan sampai harus menderita bersama Yesus.

Maria adalah seorang gadis desa. Ia mendapat tender membangun proyek kerajaan Allah. Ia berkenan kepada Allah justru karena aneka bentuk kebajikan yang dilakukannya sungguh sejalan dengan kehendak Allah. Ia menjadi ornag yang paling berkenan kepada Allah. Kita semua, Anda dan saya, juga tengah berjuang agar mendapat tender membangun jembatan keselamtan bagi dunia melalui tugas panggilan yang sedang kita jalankan di lembaga pendidikan ini. Panggilan kita haruslah disadari sebagai panggilan untuk semakin berkenan kepada Allah sehingga pada waktunya kita diserahi tugas untuk mengambil bagian dalam tugas pembangunan kerajaan Allah. Lembaga pendidikan ini haruslah menjadi sebuah Nasareth tempat kita melakukan aneka kebajikan. Kita akan menjadi seperti Maria berkenan kepada Allah kalau kita hidup seirama dengan apa yang menjadi kebiasaan-kebiasaan baik yang dihidupi di seminari ini. Mudah-mudahan kita semua pada waktunya akan mendapat tender seperti Maria. Untuk itu marilah kita berguru dan belajar kepadanya. Amin.

NATALAN BERSAMA

Misa Natal Bersama Orangtua Murid

Di Katedral Ruteng, Senin, 13 Januari 2002

1Kor.1,4-9; Luk.2,15-20

Buka

Hari ini kita berkumpul di sini untuk merayakan Pesta Natal dan Tahun baru bersama sebagai keluarga besar Sanpio. Sebagai anggota gereja kita sudah merayakan Natal itu dan kita juga sudah memasuki tahun yang baru. Saya yakin kita semua sudah mendengar banyak tentang pesan Natal bagi yang me-rayakannya. Karena itu kita bersyukur kepada Tuhan atas anugerah kelahiran putra-Nya sebagai wujud solidaritas Allah pada manusia. Kita bersyukur karena kita telah melampaui tahun 2002 dan masih diberi waktu tahun baru 2003. Tidak ada kata lain yang sepantasnya kita ucapkan selain ucapan syukur. Sebagai orangtua, kita bersyukur karena kita dianugerahi kehidupan yang memungkinkan kita mendukung anak-anak kita yang sedang mencari Tuhan melalu pendidikan. Sebagai siswa kita bersyukur karena Tuhan telah membimbing kita dalam derap perjuangan kita mengolah otak dan mengasah rasa dalam aneka ilmu yang kita pelajari. Sebagai guru/pendidik/pembina kita karena Tuhan tetap memberikan rahmat dan kebijaksanaan kepada kita untuk berperan sebagai pembawa dan pembagi pengetahuan. Sebagai satu keluarga besar Sanpio kita bersyukur karena Tuhan masih berkenan berkarya dan memanggil kita pada jalan kebenaran-Nya. Hari ini juga, kita semua diajak untuk merenungkan peristiwa kelahiran Tuhan di kandang Betlehem sebagai sebuah proses pendidikan. Kandang Betlehem adalah sebuah lingkungan pendidikan, sebuah Seminari pertama. Suasana kelahiran Tuhan di kandang Betlehem adalah situasi bernuasa mendidik atau suatu kondisi edukatif yang disiapkan Allah untuk kita. Kandang Betlehem adalah sekolah, seminari yang dibuka Allah untuk kita. Tempat kita belajar untuk mencari melihat, menjumpai, dan memuji Tuhan. Pada tahun yang baru ini kita semua baik orangtua, siswa, maupun para pembina seminari diajak untuk menjalankan proses pendidikan di seminari dengan mengacu pada kondisi kandang Betlehem dengan pelbagai indikatornya. Kita serahkan segala syukur, harapan, usaha kita untuk tahun yang baru dalam bimbingan penyelenggaraan Tuhan sendiri. Kita ingat dalam doa kita hari ini Romo Remi Asnabun, Pr yang merayakan HUT kelahirannya. Juga kita mohon keselamatan bagi Arwah Bapak Daniel Diwa yang telah berjasa bagi Seminari kita. Agar syukur ini berkenan kepada Tuhan marilah kita mengakui segala kelemahan dan dosa kita.



Renungan

“Mencari Tuhan di Kandang Betlehem sebagai Seminari Pertama”

Konon, suatu ketika seorang pertapa/rahib menunggang seekor kuda. la melarikan kudanya begitu cepat dan melintas di tengah kota yang ramai dan penuh dengan manusia yang sibuk. Orang banyak yang melihatnya merasa heran, lalu bertanya "Hai, pertapa! Ke mana engkau hendak pergi? Mengapa engkau melarikan kudamu secepat itu di tengah keramaian seperti ini?". Sambil tetap melarikan kudanya, sang pertapa itu berkata "Jangan Anda tanyakan ke-pada saya ke mana saya pergi, tetapi tanyakan kepada kuda ini yang membawa saya". Pertapa itu terus memacu kecepatan kudanya. Semua mereka heran atas perilaku rahib itu.

Tidak terasa, kita telah melepaskan Natal 19 hari yang lalu. Tidak terasa pula 13 hari yang lalu kita melepaskan penanggalan tahun 2002. Saya yakin semua kita merayakan natal, melepaskan tahun 2002 dan menerima tahun baru 2003 dalam kondisi yang sadar penuh. Bukan setengah sadar, atau sadar setengah. Kita merayakan Natal sebagai saat kelahiran manusia yang merupa-kan penjelmaan Allah. Natal itu merupakan penggenapan waktu yang dijanjikan Allah untuk menyelamatkan manusia. Natal adalah pelaksanaan agenda dan program kerja Allah untuk kita manusia. Natal yang kita rayakan adalah realisasi proyek Cinta yang diprogramkan Allah sendiri.Natal dalam arti ini menjadi sebuah kelahiran yang membebaskan dan menyatukan kembali manusia dengan Tuhan yang telah terpisah sejak kejatuhan manusia pertama. Natal sebagai suatu kelahiran pada dasarnya adalah suatu proses yang berkaitan dengan waktu. Natal sebagai kelahiran menempatkan kita manusia dalam suatu proses kehidupan yang panjang. Natal atau kelahiran seorang manusia sama artinya dengan pemberian waktu untuk hidup kepada seseroang. Natal sebagai kelahi-ran berarti juga sebagai suatu proses hidup dalam waktu. Kita juga sudah me-napaki tahun yang baru setelah melepaskan tahun yang lama. Pendek kata kita telah melepaskan dua hal penting yang berkaitan dengan waktu. Waktu diberikan kepada kita dan waktu menjadi milik kita. Waktu yang kita terima dan kita miliki tidak mampu kita kekang laju perjalanannya. Ia bagaikan kuda yang terus berlari cepat tanpa menghiraukan manusia. Dalam arti tertentu kita semua telah, sedang dan akan menjadi pengendara kuda seperti pertapa dalam ilustrasi tadi. Hanya yang kita kendalikan bukanlah kuda, tetapi waktu atau zaman kita. Kita adalah pengendara zaman. Kita adalah pengendara waktu, pengendara abad, pengendara millenium. Sebab itu, kita akan melintas terus dari waktu yang satu ke waktu yang lain, dari abad yang satu ke abad yang lain dari millenium yang satu ke millenium berikutnya. Kita akan berjalan dan berlari di atas waktu. Ke mana pun zaman/waktu ini terarah kita juga akan mengikutinya. Zaman ini berjalan, berkembang bahkan berlari demikian cepatnya. Kita sebagai pengendara zaman, sering tidak kuasa mengendalikan perkembangan itu. Ka-rena itu, kita seringkali terbawa atau terhanyut oleh arus perkembangan zaman ini. Kita sering kali terlena dalam perkembangan zaman, lalu tanpa kita sadari tahun terus berlalu. Lalu kita tampil sebagai orang yang merasa diri selalu ter-lambat melakukan sesuatu secara maksimal. Saat pergantian tahun, kita kadang-kadang menyesal karena ada hal yang seharusnya kita lakukan tetapi tidak kita lakukan.

Natal sebagai pesta kelahiran mengingatkan kita akan waktu yang diberikan kepada kita untuk hidup. Kelahiran Tuhan (natal) adalah peristiwa agung bahkan menjadi satu peristiwa pendidikan bagi manusia sejagat raya. Natal menjadi kesempatan bagi Tuhan untuk mengajarkan kepada manusia dan dunia betapa pentingnya usaha untuk memberikan arti, makna pada penggalan waktu dalam hidup kita. Kelahiran Yesus adalah kelahiran untuk mengajarkan manusia bagaimana seharusnya memberikan arti pada waktu, memberikan isi pada kehidupan. Persitiwa pergantian waktu dari tahun yang satu ke tahun yang lain, dari abad yang satu ke abad yang lain, dari milenium yang satu ke milenium yang lain, sudah sepantasnya dilihat sebagai peristiwa yang mengajak kita manusia, mengajak kita semua, untuk mengevaluasi cara kita memngisi waktu, memberi arti pada penggalan kehidupan kita.

Hari ini kita berkumpul bersama sebagai satu keluarga besar. Kita ber-kumpul untuk secara bersama mendengarkan bagaimana Tuhan memberikan kepada kita suatu model pendidikan yang menyelamatkan dan membebaskan. Kita berkumpul untuk merayakan Natal dan tahun baru bersama sebagai satu keluarga karena merasa diri terpanggil oleh Tuhan yang sama. Kita semua di-panggil untuk memberikan tanggapan terhadap panggilan Tuhan dalam tugas dan profesi kita sebagai orangtua, sebagai siswa, dan sebagai guru/pembina. Panggilan Tuhan yang menggema di dalam diri anak-anak kita (para siswa se-minari) menuntut kita orangtua dan para pmebina, pendidik untuk memberi tanggapan yang positif. Kegiatan seperti ini, kiranya bukan hanya sekadar memenuhi sebuah program atau agenda kerja. Kegiatan misa bersama seperti ini hendaknya dipandang sebagai wujud/bentuk komitmen dan tanggungjawab kita dalam pencerdasan manusia. Upaya pencerdasan ini diarahkan pada ter-bentuknya pribadi yang semakin bertanggungjawab terhadap Tuhan yang me-manggil kita. Pendidikan adalah inisiatif Allah yang harus kita pertanggungja-wabkan juga kepada Allah. Anak-anak kita (para siswa kita) adalah titipan ber-harga dari Allah untuk kita orangtua, untuk kita para pendidik dan pembina untuk diajar, dibina, dan didik secara benar. Dengan kata lain, merayakan natal dan tahun bersama seperti ini seharusnya dijadikan momen penyadaran diri, momen pemaknaan atas kelahiran kita sendiri yang akan kita maknai dan isi dengan segala sesuatu yang baik. Natal sebagai kelahiran yang membarui kehidupan dunia, direncanakan Allah hendaknya dipandang sebagai kesempatan bagi kita pribadi melihat model kerja dan kehidupan kita. Melihat prestasi kerja kita sebagai orangtua, melihat prestasi belajar kita sebagai siswa, dan melihat keberhasilan kita sebagai guru dan pendidik. Pergantian tahun yang sudah kita lewati hendaknya juga dilihat sebagai kesempatan untuk melihat mutu dan kua-litas penggunaan dan pemaknaan waktu yang dipercayakan kepada kita sesuai tugas dan profesi kita masing-masing. Pergantian waktu hendaknya menjadi momen pembaharuan panggilan dan komitmen kita pada dunia pendidikan. Tanggungjawab dan komitmen kita sesuai peran kita merupakan faktor penentu keberhasilan proses pendidikan, proses pemanusiaan dan pencerdasan.

Kalender tahun 2002 telah kita copot dari dinding rumah kita. Telah kita turunkan dari dinding ruangan kerja kita. Kita telah menggantinya dengan ka-lender yang baru. Tahun 2002 telah kita lepaskan dari dinding kehidupan kita. Tahun 2003 telah kita gantungkan pada dinding kehidupan kita. Apa artinya kalau kita, mencopot kalender tahun lama dan menggantinya dengan kalender tahun yang baru? Apakah yang dapat dan mesti kita pikirkan kalau orang memberikan kalender kepada kita? Apakah yang dapat kita bahasakan ketika kita berhadapan deretan angka pada kalender yang kita terima? Mungkin kita hanya sampai pada perasaan senang, apalagi kalau kalender itu dihiasi dengan gambar pemandangan yang indah atau artis dan bintang film yang cantik. Ja-rang sekali orang/kita merenungkan makna dari tindakan memberi atau menerima kalender. Pemazmur mengajak kita untuk memaknai sebuah penanggalan atau kalender. Ada satu ajakan penting dari pemazmur untuk kita. Ajakan itu berbunyi: Ajarilah kami menghitung hari-hari kami. Inilah doa Raja Daud kepada Tuhan untuk mengisi dan memberi arti pada waktu dan hari-hari hidupnya. Doa Raja daud ini menurut saya penting kita renungkan dalam konteks perayaan Natal dan tahun baru seperti ini.

Natal sebagai kelahiran, dan memasuki tahun baru sebagai kesempatan menerima kalender yang baru, tahun baru bagi kita orang beriman adalah me-nerima tugas dan tanggungjawab. Kita lahir dan hidup berarti kita bertugas dan bertanggung jawab memberikan makna pada hidup kita. Ajakan untuk menghi-tung hari-hari hidup seperti kata pemazmaur tadi sesungguhnya adalah ajakan agar manusia tahu memberikan arti dan mengisi waktu hidupnya. Agar manusia sadar akan tugas dan profesinya sebagai bentuk tanggung jawab. Angka 365 hari pada kalender tahunan kita adalah deretan beban dan tanggung jawab yang harus kita terima. Kita berkewajiban untuk mengisi sesuatu yang berguna dan baik pada setiap angka itu.

Ajakan untuk menghitung hari artinya menjadikan setiap hari itu berarti dan bermakna. Menghitung hari berarti berusaha menjadikan hidup itu semakin baik dari hari ke hari. Menghitung hari berarti tidak membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna. Menghitung hari berarti melihat waktu sebagai rahmat Tuhan yang diterima dan disyukuri. Mengitung hari berarti manusia menyadari makna keberadaan dan kelahirannya ke tengah dunia. Merayakan Natal dan Tahun baru bagi kita berarti kita mau membangun tekad, niat untuk mengisi hidup kita, menjalankan tugas profesi kita dengan penuh rasa tanggung jawab, setia pada tugas panggilan kita sebagai orangtua, sebagai siswa, sebagai guru dan pendidik.

Pergantian tahun sebagai perjalanan hidup kita semestinya membawa kita pada pemahaman dan pemaknaan waktu sebagai unsur yang membebaskan kita. Dalam bahasa Santu Paulus, waktu kehidupan kita merupakan saat-saat pelimpahan ramat dan berkat yang memperkaya hidup kita. Dalam waktu dan dalam hidup kita, kita diperkaya dalam segala hal. Aneka bentuk tugas, jabatan, profesi, bakat, kemampuan, kelebihan, keterampilan kita adalah kekayaan yang kita terima dari Tuhan. Setiap kita dapat mengukur mutu dan kualitas, intensitas pemkanaan waktu hidup kita selama tahun yang lalu. Hanya kita sendiri yang dapat menentukan apakah seluruh penggalan waktu yang telah lalu kita termasuk orang yang setia dan bertanggung jawab pada tugas dan profesi kita.

Kita patut bersyukur kepada Tuhan karena kita masih diberi waktu. Hidup kita tidak lain terjadi karena kita masih diberi waktu. Kalau waktu itu diambil dari kita maka itu artinya kita mati. Waktu itu adalah hidup kita. Karena itu kalau kita main-main dengan waktu berarti kita mempermainkan hidup kita. Kalau kita membuang waktu itu artinya kita membuang kehidupan kita, kalau kita kurang disiplin dengan waktu kita itu artinya kita tidak disiplin dengan hidup kita sendiri. Meril Douglas pernah menulis begini: manusia tidak dapat membeli waktu, tidak dapat menyewakan waktu, tidak dapat menyimpan waktu, tidak bisa membuat waktu, tidak bisa menabung waktu. Satu-satunya yang bisa manusia buat terhadap waktu adalah menghabiskannya. Pemimpin menghabiskannya untuk memimpin, pelajar menghabiskannya untuk belajar, pendidik menghabiskannya untuk mengajar dan mendidik, tentara dan polisi menghabisknannya untuk menjaga keamanan Masyarakat, petani menghabiskannya untuk bekerja di sawah dan ladang, penjudi menghabiskannya untuk berjudi dan seterusnya.

Manusia yang tidak dapat mengisi penggalan waktu hidupnya dengan hal yang baik sesuai bidang tugas profesinya biasanya tampil dalam penyesalan berkepanjangan. Menyesal karena waktu buang percuma, menyesal karena belum banyak berbuat yang terbaik. Menyesal karena sering melalaikan tugas dan tanggung jawab, menyesal karena salah menggunakan kuasa dan jabatan, menyesal karena tidak mematuhi kode etik profesi, menyesal karena lebih sibuk urus diri sendiri. Menyesal karena ini, menyesal karena itu. Akibatnya sebagian besar waktu hidup hanya berisi penyesalan.

Belajar bagi para siswa adalah salah satu cara memaknai waktu. Bekerja keras menjacari nafkah dan uang untuk orangtua adalah cara memaknai waktu, mengajar untuk seorang pendidik juga merupakan cara mengisi dan memaknai waktu. Peritiwa Natal dan pergantian tahun adalah cara/modus Allah untuk mendidik manusia. Kandang Betlehem adalah lokasi/tempat/lokus pendidikan yang diselenggarakan Allah. Kandang Betlehem adalah Seminari pertama yang dibuka Allah untuk semua manusia. Kandang Betlehem adalah sekolah panggi-lan pertama yang menjanjikan keselamatan. Kandang Betlehem adalah sekolah keselamatan yang dibuka Allah untuk semua manusia. Sekali lagi, Kandang Betlehem tempat Tuhan lahir adalah Seminari pertama.

Mengapa saya mengatakan bahwa Kandang Betlehem itu sebagai Seminari pertama? Jawabannya dapat kita temukan dalam penggalan Injil Lukas tadi. Peristiwa kelahiran Yesus yang dikisahkan Lukas pada dasarnya merupakan deskripsi/lukisan/gambaran tentang proses pendidikan yang sesungguhnya. Kelahiran Yesus di kandang adalah representasi kondisi edukatif yang paling asali. Indikator apa yang dapat kita pakai sehingga kandang Betlehem itu menjadi wacana, suasana bernuansa edukatif? Paling kurang ada 6 indikator penting yang membuktikan sekaligus menunjukkan suasana Betelehem sebagai sebuah seminari. Kandang Betlehem sebagai sebuah Seminari karena memiliki unsur sebagai berikut sebagai indikatornya

Pertama, Adanya interaksi dan pertemuan antara para gembala dengan Yosef bersama Maria, antara malaikat dan gembala, antara para gembala dan semua orang yang mereka jumpai. Pertemuan dan interkasi adalah ciri sebuah lembaga pendidikan. Tak ada sekolah dan tak ada seminari yang dibangun tanpa interaksi. Seminari adalah medan interaksi dan pertemuan seperti yang terjadi di kandang Betlehem. Pertemuan kita saat ini adalah sebuah interaksi sebagai salah satu indikator dunia pendidikan. Yang kita lakukan saat ini adalah interaksi edukatif.

Kedua, adanya komunikasi. Pertemuan dan interaksi tanpa komunikasi yang baik belum menunjukkan susana edukatif yang sebenarnya. Hal yang ter-jadi di kandang Betlehem bukan sekadar interaksi dan pertemuan yang bersifat spontan. Bukan sekadar berkumpul dalam satu kerumunan, melainkan suatu interaksi dan pertemuan untuk mengkomunikasikan sesuatu yang penting bagi manusia. Di sana, di kandang Betlehem Allah mengkomunikasikan pesan kese-lamatan kepada para gembala melalui malaikat. Malaikat mengkomunikasikan pesan dari Allah kepada para gembala, gembala mengkomunikasikan itu lebih lanjut. Seminari tempat kita belajar bagaikan kandang tempat kita berkomunikasi ide dan gagasan yang kreatif dan konstruktif. Pendidikan adalah sebuah aktus komunikasi.

Ketiga, Aktivitas dan kreativitas. Pendidikan mengandaikan aktivitas dan kreativitas. Aktivitas dan kreativitas ini nyata juga di kandang Betlehem. Para gembala berkata satu sama lain: Marilah kita pergi ke Betlehem untuk mencari, melihat apa yang terjadi di sana. Para gembala pergi, artinya mereka melakukan aktivitas yang terarah. Mereka pergi ke kandang Betlehem untuk membuktikan apa yang dikatakan kepada mereka. Seminari sebagai lembaga pendidikan adalah lembaga bercirikan aktivitas dan kreativitas. Para siswa yang masuk ke seminari seharusnya membawa semangat para gembala yang aktif dan kreatif untuk mencari, melihat dan menemukan Tuhan. Bukan ke seminari hanya mencari ilmu. Gembala ke kandang Betlehem bukan sekadar mencari ilmu melainkan lebih dari itu mereka pergi untuk mencari dan menjumpai Tuhan. Informasi, pengetahuan yang mereka dapat dari malaikat hanyalah sarana yang membantu mereka menjumpai Tuhan. Sekali lagi mereka masuk ke seminari kandang Betlehem untuk mencari Tuhan.

Keempat, adanya Refleksi dan Kontemplasi. Kesibukan para gembala ke kandang Betlehem untuk mencari Tuhan dimbangi pula dengan sikap Maria yang menyimpan segala perkara dalam hatinya. Hakikat pendidikan adalah menyelaraskan dimensi aksi dan refleksi. Menyeimbangkan dimensi sibuk dan diam, mendamaikan dimensi kebersamaan dan kesendirian. Sikap Maria yang diam menyimpan segala perkara dalam hatinya mau mengajarkan kepada kita bahwa mencari Tuhan tidak selamanya sibuk dengan otak dan pikiran. Mencari Tuhan perlu ketenangan, refleksi diam menyendiri. Perlu pengendapan agar pengetahuan itu menjadi bagain dari diri dan kehidupan. Seminari bukan hanya tempat kita sibuk mencari ilmu tetapi juga menjadi tempat kita hening mereflek-sikan perjalanan hidup kita. Seminari bukan hanya medan olah otak, tetapi juga mendan mengasah rasa. Seminari bukan hanya medan pencerdasan budi tetapi tempat pencerdasan rasa yang membantu kita untuk semakin mengenal Tuhan yang memanggil kita.

Kelima, Situasi dan Kondisi. Kandang adalah gambaran tentang situasi ter-tentu. Kandang Betlehem adalah gambaran tentang seting tempat dan situasi yang memungkinkan berlansungnya suatu peristiwa. Kandang Betlehem sebagai seminari pertama, memberikan kita gambaran perihal situasi hidup yang sangat sederhana dan dalam keterbatasan. Kandang adalah gambaran keterbatasan, kekurangan, ketidakenakan, dan kesederhanaan. Para gembala mencari Tuhan justru di kandang seperti itu. Mereka menjumpai Tuhan yang mereka cari itu di kandang, berbaring dalam palungan. Bukan mencarinya di kota, di sebuah hotel mewah dengan menu yang instant. Mereka ke kandang. Inilah suatu gambaran keterbatasan dan kesederhanaan yang tidak cocok dengan logika kehidupan masa kini. Lahir di kandang dan bertilam palungan adalah sebuah ajakan untuk menerima keterbatasan-keterbatasan. Yesus lahir dan dijumpai dalam keterbatasan sebuah kandang. Betlehem adalah seminari berspiritualitas kandang. Mencari Tuhan, mengharuskan orang untuk menghadapi pelbagai kekurangan dan keterbatasan. Seminari kita dengan segala kekurangannya adalah sebuah kandang Betlehem masa kini. Para siswa seminari yang sungguh-sungguh mencari Tuhan di Seminari pasti akan menerima keterbatasan yang ada. Orangtua yang mengirimkan anaknya ke seminari haruslah menerima semua keadaan Seminari yang mungkin seperti kondisi kandang Betlehem itu. Kalau orangtua mengharapkan anaknya hidup seperti di rumah dengan segala kelengkapan fasilitasnya maka kemungkinan besar anaknya sulit menerima keterbatasan yang ada di seminari. Siswa seminari sebagai calon gembala harus belajar dari para gembala dalam injil tadi menerima situasi sebuah kan-dang. Bukan menuntut situasi sebuah hotel dengan menu makanan yang enak dan kasur yang empuk. Mencari Tuhan mengharuskan seseorang bermental, berspiritualitas kandang, bukan bermental, berspiritualitas hotel. Menuntut ma-kanan enak, fasilitas mewah bukanlah semangat seorang gembala yang mencari Tuhan.

Keenam, Pendidikan mengarah pada pencapaian hasil akhir. Upaya pen-carian para gembala ke kandang mengasilkan satu sikap akhir yang luar biasa. Mereka telah pergi dan tiba di kandang Betlehem. Di sana mereka melihat, me-rasakan, mengetahui, mengenal segala sesuatu. Dari sana mereka berubah menjadi diri pribadi yang tahu memuji dan memuliakan Tuhan. Sikap tahu me-muji dan memuliakan Tuhan itu mereka dapatkan bukan di hotel dan restoran melainkan di kandang Betlehem. Seminari kita dalam visi dan misinya men-gemban tugas membentuk manusia utuh yang memiliki kecerdasan spiritual, kecerdasan emosinal, kecerdasan intelektual, dan kecerdasar sosial. Pendidi-kan di seminari mengarahkan kita semua pada sikap akhir yaitu memuji dan memuliakan Tuhan.

Tuhan telah lahir di sebuah sekolah yang sederhana. Tuhan lahir di sebuah kandang sebagai seminari pertama yang paling sederhana tempat para gembara sebagai orang sederhana belajar melihat, mencari, dan menjumpai Tuhan. Mudah-mudahan natal bersama ini memberikan kita nilai baru untuk tugas/karya kita pada tahun yang baru sebagai orangtua, siswa, dan pembi-na/pendidik. Marilah kita hidup dan belajar dari kandang Betlehem sebagai se-kolah keselamatan kita. Amin.



Kisol, Pesta Pembaptisan Tuhan

Rm. Bone Rampung, Pr