Wednesday, August 7, 2013

MINGGU PENTAKOSTA TAHUN A

Hari Raya Minggu Pentakosta (Th.A1)

Kis.2,1-11; 1Kor.12,3b-7.12-13; Yoh.20,19-23



Buka

Hari ini kita merayakan pesta keberanian sebagai orang beriman karena Roh Tuhan mendampingi kita. Pelbagai macam kebingungan dan ketakutan yang menghantui diri dihalau olkeh kekuatan Roh kudus yang kita terima hari ini. Dalam perayaan ini kita sebagai orang beriman yang menerima Roh dituntut untuk hidup dan bertindak dalam roh itu. Kita berdoa semoga kita dikuatkan Roh Tuhan sendiri dalam menjalankan tugas panggilan kita masing. Sekaligus kita mohonkan agar Roh Tuhan menerangi dan menuntun kita pada jalan yang membebaskan kita dari ketakutan dan kebingungan. Kita mohon ampun atas segala dosa dan kesalahan kita. Mungkin kita kurang menghadirkan Roh Allah dalam perjuangan hidup kita. Mungkin kitalebih banyak mencari kedamaian dari pada membawa dan membagikan kedamaian itu kepada orang lain.



Renungan

Ilustrasi: Sejumlah anak tuna netra atau buta yang diasuh di sebuah Sekolah Luar Biasa pada suatu hari diminta untuk melatih berjalan di jalan raya yang ramai dengan lalulintas. Ketakutan dan kecemasan menghantui mereka. Mereka takut keluar dari gerbang karena mereka membayangkan akan menginjak ular, mungkin menabrak pohon, mungkin terperosok ke dalam lobang, atau malah tak bisa kembali. Setiap kali diminta berjalan keluar gerbang mereka hanya sampai di sebuah pohon cemara yang rindang. Semua mereka berkumpul dan bercerita di bawah naungan pohon itu dan tak seorangpun yang berani menuju jalan raya. Semua mereka ketakutan. Pada dahan pohon cemara di mana mereka berteduh itu terdapat sarang burung pipit dan di dalam sarang itu terdapat 3 ekor pipit kecil yang baru menetas. Salah seekor pipit kecil itu cacat karena matanya buta. Induk pipit itu menghadap rajawali sebagai penghulu para burung. Rajawali itu memberikan sejenis biji tanaman kepada pipit itu intuk disentuhkan pada mata anaknya yang buta. Ketika pipit itu kembali kesarangnya dengan menggigit biji yang diberikan rajawali, tiba-tiba ia terkejut karena ada segerombolan orang di bawah pohon cemara. Karena itu biji yang ada pada mulutnya jatuh dan persis menyentuh mata seorang yang buta. Mata anak itu menjadi melek dan kemudian ia mengambil biji itu dan disentuhkannya pada mata temannya. Suatu keajaiban terjadi karena mata mereka menjadi melek semuanya. Karena merasa sangat senang mereka semua ramai-ramai keluar gerbang dan menuju pusat kota untuk membuktikan bahwa mereka telah mengalami kesembuhan. Ketakutan menjadi lenyap dan mereka menjadi pemberani untuk menceritakan apa yang telah mereka alami.

Takut, bingung adalah perasaan ada pada semua manusia. Ketakutan dan kebingungan biasanya muncul saat orang berhadapan dengan satu situasi, keadaan tertentu. Saya yakin saat ini kita semua sebagai warga negara lagi takut dan bingung karena situasi politik yang sulit kita prediksi secara tepat. Permainan politik memang tidak bisa dijelaskan dengan logika kehiduapan yang biasa. Semua logika dan jalan pikiran yang logis rational seakan lumpuh ketika harus berhadapan dengan barang yang disebut politik itu. Kebingungan politik bisa dikatakan sebagai kebingungan berskala makro, berskala besar untuk kita semua. Namun dalam skala yang lebih kecil kita bisa berhadapan dengan kebingungan yang lain. Seorang pemuda atau pemudi bisa bingung karena mungkin belum mendapat teman dekat. Bisa juga bingung karena sulit memilih teman yang cocok. Bisa bingung karena ada yang mengkinatai janji. Bisa bingung karena karena putus cinta. Bisa bingung karena belum adanya kepastian masa depan. Bisa bingung karena sulit memilih jalan hidup. Orangtua bisa-bisa bingung ketika berhadapan dengan anak mereka yang mau memasuki masa remaja. Bisa bingung ketika putra putri mereka dihadapkan dengan banyak pilihan dalam hidupnya entah pilihan panggilan hidup maupun pilihan pasangan hidup. Singkatnya di mana-mana ada kebingungan. Siapa-siapa saja kebingungan. Zaman ini memang zaman kebingungan. Dan ketika orang terperangkap dalam kebingungan orang bertindak seperti orang yang buta yang tidak mampu melihat jalan yang baik dan benar.

Rupa-rupanya ketakutan dan kebingungan itu menjadi penyakit keturunan untuk manusia. Kalau saudara/i tidak percaya silahkan renungkan perikope Injil tadi. Yohanes dengan jelas sekali menggambarkan penyakit takut dan bingung itu menimpa komunitas para murid Yesus. Ketika Yesus disalibkan kemudian harus transit ke rumah Bapa saat itulah intensitas ketakutan dan kebingungan para murid mulai meningkat. Tetapi satu hal yang mengejutkan sekaligus menjadi berita sukacita untuk kita hari adalah bahwa Yesus senantiasa datang mengunjungi kita. Ia akan menembus pintu hati manusia yang tertutup. Kekuatan rohnya tak terbendung oleh sikap manusia. Para murid yang takut akan manusia menutup pintu rumah mereka namun Yesus mendatangi mereka menawarkan suatu kepastian dalam hidup. Kepastian yang ditunjukkan Yesus bukan kepastian pilihan jalan hidup untuk memilih tarekat biara-biara tertentu melainkan kepastian tentang keadaan hidup yang sebenarnya. Kepastian tentang keadaan Hidup yang dibawa Yesus adalah kedamaian dan kesentosaan. Kedamaian dan kesentosaan yang ditinggalkan Yesus adalah modal dasar bagi manusia untuk menjalankan panggilan hidupnya. Yesus meberikan damai dan kesentosaan bagi semua orang untuk hidup seturut kehendak Allah. Kalau kita semua mau masuk dan memilih cara hidup tertentu misalnya mau menjadi biarawan dan biarawati dengan tujuan menjadi kedamaian atau keamanan bagi diri sendiri maka saya boleh katakan bahwa kita keliru besar. Rumah-rumah biara jangan dianggap sebagai surga di bumi karena apa? Karena dalam kenyataannya banyak orang yang kecewa dan stres berat ketika masuk biara dan mengalami segala hal di sana yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Para calon misalnya stres karena harus menerima keputusan pimpinan. Segala dalil dan alasan suci biasanya dipakai untuk meyakinkan bahwa keputusan yang diambil menjadi sebuah kebijakan yang dipimpin oleh kehendak Allah. Dan mungkin itulah dalil atau senjata pamungkas para pemimpin yang sulit dilawan. Kedamaian itu sudah kita dapat secara pribadi dari Tuhan untuk memberikan arti dan makna pada pilihan hidup kita. Orang kadang tidak sadar akan hal ini sehingga dimana-mana orang berusaha mencari kedamaian. Dan ironisnya untuk mencapai perdamian tidak ada cara lain selain harus berperang. Saya yakin kalau orang sadar bahwa kedamaian itu sudah ada dalam diri kita maka kita pasti dengan mudah memberikan penilaian atas kehidupan kita. Itulah sebabnya injil tadi mengatakan bahwa damai diberikan Bapa kepada Yesus dan diteruskan kepada manusia bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk orang lain. Yesus mengutus manusia bukan untuk mencari kedamaian melainkan untuk membawanya. Panggilan hidup apa saja tujuannya bukan untuk mencari dan menemukan kedamiaan melainkan terutama bertujuan membawa dan membagi kedamaian.

Hari raya pentakosta sebagai hari pencurahan roh kudus kepada gereja yang kita rayakan hari ini adalah hari perutsan bagi kita semua untuk membagikan kedamaian seperti Yesus sendiri. Paulus dalam bacaan kedua tadi memberikan gambaran kepada kita tentang daya kekuatan roh kudus itu yang bekerja secara berbeda dalam diri orang yang berbeda tetapi untuk tujuan yang sama. Bukti keterlibatan roh kudus dalam kehidupan sesorang menurut Pulus tadi harus nyata dalam usaha manusia untuk mengutamakan kepentingan orang lain. Kehadiran Roh Kudus dijadikan nyata dalam setiap orang untuk kepentingan orang lain. Roh kudus adalah roh untuk orang lain. Bukan roh untuk diri sendiri. Yesus menerimanya untuk kita dan kita menerimanya untuk orang lain. Hal ini juga terbukti dalam pengalaman para murid saat pentakosta pertama. Roh Allah turun menyerupai lidah api yang membinungkan. Kekuatan Roh itu bukan saja menguasai para murid melainkan menembus hati dan budi bangsa lain. Tak mengherankan kalau dalam kisah para rasul tadi muncul mujizat besar tentang bahasa Roh. Para murid berbicara dalam bahasa Galiea tetapi dimengerti dalam pelbagai bahasa menurut para pendengarnya. Saya kira sampai saat ini orang belum dapat menyaingi Roh kudus itu dalam membuat alat agar kita bisa mengerti semua bahasa. Kalau hal bisa terjadi maka tak perlu lagi orang mencetak kamus. Tak perlu kita bingung kalau turis berbahasa Inggris tetapi yang masuk telinga kita adalah bahasa daerah kita. Sekali lagi hanya Roh Kudus yang bisa mengubah segalanya itu.

Ketakutan dan kebingungan tak mungkin hilang dari pengalaman hidup kita. Dalam cerita ilustari tentang sekelompok anak buta tadi kita mendengar tentang ketakutan orang buta untuk berjalan jauh. Namun di sana telah terjadi satu mujizat karena mereka semua mendapat kesempuhan sehingga dapat memberikan kesaksian tentang pengalaman kebahagiaan yang mereka terima. Para rasul dalam semua bacaan tadi seumpama orang buta karena harus menutup diri dari dunia luar. Yang ada cuma ketakutan. Di sanapun terjadi mujizat besar. Roh Tuhan turun membakar semangat mereka sekaligus menembus benteng ketakutan mereka. Mereka menjadi orang yang berani memberikan kesaksian tentang pengalaman mereka akan Allah. Kitapun tengah berada dalam kebingungan dan ketakutan. Mungkin kita takut memberikan kesaksian tentang iman kita. Mungkin kita kut keluar dari gerbang rumah kita karena mau aman. Mungkin kita takut menentukan pilihan kita. Mungkin kita bingung dengan masa depan kita. Tetapi satu yang pasti dan harus kita yakini bahwa dalam kebingungan itu Tuhan datang menawarkan kesejukan dan kedamian. Tuhan ada dan akan datang ke tengah kebingungan kita seperti dahulu ia datang di tengah kebingan para murid. Setiap kita memiliki kebingan dan ketakutan masing-masing. Tetapi pada hari pentakosta ini marilahnkita lepaskan kebingan dan ketakutan kita dengan menyerahkan semuanya pada kuasa Roh Allah. Mudah-mudahan Roh yang kita terima hari ini membantu dan menuntun kita menembus tembok dan benteng ketakutan dalam kebingan kita. Amin.





Pringwulung, 23-5-1999

Rm.Bone Rampung Pr

MINGGU KOMUNIKASI

Minggu Paska ke-7 Th.A1 Hari Komunikasi Dunia

Kis.1,12-14; 1Petr.4,13-16 Stasi Godean



Buka

Hari ini kita memasuki Minggu ketujuh masa Paska. Dan bebarapa hari lalu kita merayakan kemenangan Yesus sebagai tokoh dan pejuang kebenaran melalui penderitaan berhadapan dengan politik dunia manusia. Yesus telah naik ke surga untuk menjadi media alat, sarana yang mengantarai kita dengan Allah. Karena itu tepat sekali kalau pada hari Minggu ini gereja sedunia merayakan hari Komunikasi sedunia. Paus dalam surat gembalanya untuk hari kumunikasi Dunia ke 33 tahun ini menegeraisbawahi peran Yesus sebagai pengantara yang bersikap ramah yang membawa semua manusia ke ke rumah Bapa. Marilah dalam perayaan ini kita berdoa semoga kita semua sebagai pengikut Kristus dapat juga menjadi alat dan media yang ramah yang bisa menghantar orang lain agar semakin dekat pada Allah. Kita berdoa secara khusus untuk kepentingan negara kita menjelang pesta demokrasi yang saat ini dibayangh-bayangi hal yang suram. Mudah-mudahkan Tuhan memberikan jalan terbaik bagi bangsa kita sekaligus menjauhkan dari kita segala hal yang tidak kita inginkan. Untuk itu mari kita awali perayaan ini dengan mengakui kelemahan dan dosa kita.



Renungan

Umat beriman sekalian yang terkasih

Hari Rabu yang lalu saya bersama semua team pendidikan dari Forum Rektor berangkat dari kampus Universitas Islam Indonesia menuju Kaliurang untuk mengadakan traning/latihan pendidikan bagi para pemilih. Sopir yang membawa kami kebetulan belum tahu persis tempat atau Wiswa di mana latihan itu dilaksanakan. Karena itu kernek bus turun dan bertanya kepada beberapa orang. Dua orang pertama yang ditanyai mengaku tidak tahu wisma yang kami tujui. Ketika ditanya mereka hanya menjawab tidak tahu. Kemudian sopir bertanya pada pengawai pos retribusi. Dan mereka memberikan pebjelasan yang rumit. Nanti dari sini Lurus terus, sampai di bundaran belok ke kiri, terus ke uatara sedikit ambil kanan dan jalan mentok ambil ke selelatan. Setelah berputar sekian lama sopir belum berhasil membawa kami ke tempat tujuan. Sopir bingung dengan petunjuk orang yang ditanyai. Kami semua yang berada di dalam bus juga turut bingung. Lalu ditanyakan kepada seorang anak muda. Anak muda itu lansung naik ke bus karena mau menunjukkan secara langsung tempat itu sehingga kami sampai di tempat bersangkutan.

Umat beriman terkasih

Apa yang saya alami dalam cerita tadi sebenranya adalah pengalaman berkaitan dengan masalah komunikasi. Mereka yang hanya menjawab tidak tahu adalah orang yang tidak dapat diajak untuk memberikan petunjuk yang baik bagi orang lain. Petugas pos retribusi memberikan jawaban yang rmah namun sayang informasinya terlalu berbelit-belit dan tak jelas. Penjelasannya membingungkan. Sedangkan pemuda yang terakhir dia bukan saja seorang yang ramah tetapi menjadi orang yang patut dipercayai dan diandalkan karena ia langsung berjalan bersama kami yang bingung menemukan tempat yang sebenarnya. Di sana ada kebingungan dan ada orang yang sebenarnya dapat membantu membebaskan orang lain dari kebingungan itu.

Umat beriman terkasih

Saya kira kebingungan yang paling dekat dengan kita saat ini adalah kebingungan menghadapi pesta demokrasi atau pemilu. Kita semua seakan berada dalam sebuah bus yang akan membawa kita ke sebuah puncak yang menjanjikan segala yang baik. Sayangnya kita bingung karena ada banyak jalan dan tikungan yang harus kita lewat. Kita juga mungkin bertemu dengan orang-orang yang tidak memberikan petunjuk yang pas untuk kita. Kita mungkin berhadapan dengan orang yang berpura-pura ramah tetapi tetap membuat kita bingung. Kita semua mau merayakan pesta demokrasi dan di hadapan kita terdapat 48 partai yang tentu saja membuat kita bingung. 48 partai itu yang tercatat di lembaga Pemilihan Umum namun ada satu yang tidak tercatat di LPU. Yang tidak tercatat itu adalah partai pilihan bebas semua rakyat berdasarkan bisikan nurani yaitu memilih untuk tidak memilih. Memilih untuk tidak memilih itu juga satu pilihan kalau memang kita tak dapat menemukan penunjukjalan yang ramah dan jujur.

Umat beriman terkasih

Saat ini adalah saat di mana orang mau mengangkat dirinya sebagai petujuk jalan. Para pemimpin partai dan simpatisan partai tertentu berjuang untuk menjadi petunjuk jalan bagi warga yang lagi bingung. Dan kita tidak bisa menghindarkan diri dari hal itu. Namun satu hal penting untuk kita adalah bersikap kritis dan bila perlu ‘mencurigai’ mereka yang berpura pura ramah namun menyesatkan. Dalam konteks seperti itu maka tentulah sangat tepat kalau tahun ini Paus kita menekankan adanya komunikasi yang ramah dan benar. Untuk itu tema hari Komunikasi Dunia tahun ini yang dituangkan dalam Surat Gembala Paus adalah Media Masa: Sahabat Ramah bagi Semua Orang yang Mencari Bapa. Tema ini sangat menarik karena media harus menjadi sahabat yang ramah untuk semua dalam rangka menuju Bapa. Dalam konteks yang lebih luas media diartikan setiap orang yang dapat menyampaikan pesan yang bisa menghantar sesamanya pada jalan yang benar. Gambaran tentang diri manusia sebagai media tampak dalam bacaan-bacaan tadi. Dalam bacaan pertama kita mendengar bagaimana para murid bersatu dengan tekun dalam doa bersama. Kebersamaan yang mereka ciptakan itu terjadi karena mereka telah mendapat petunjuk yang benar yaitu Yesus Kristus sendiri. Meski demikian menjadi pengikut Kristus harus berhadapan dengan tantangan. Bacaan kedua memberikan gambaran tentang tatangan itu. Penderitaan meru-pakan bagian lain dari pilihan mengikuti Kristus. Dan dalam situasi negara kita saat ini yang semakin tidak menentu kita dingatkan oleh Petrus dalam bacaan kedua tadi. Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh, pencuri penjahat atau pengacau. Kalau kita mau pakai istilah yang sekarang sebenarnya bacaan kedua melarang kita untuk menjadi provokator. Dan kemungkinan untuk muncul provokator saat ini memang sangat besar.

Yesus adalah alat media yang paling ramah yang menghantar manusia kepada Bapa. Penggalan Injil Yohanes tadi sangat jelas menyampaikan bahwa Yesus telah datang untuk menjadi pengantara, media, alat yang menghubungkan antara yang insani dan yang ilahi. Yesus datang untuk memberitakan tentang Bapa kepada dunia manusia sekaligus berusaha untuk secara ramah membawa manusia menuju bapa. Dalam doa Yesus tadi kita mendengar perkataan yesus ini: Aku telah menyatakan namuMu kepada semua orang yang engkau berikan kepadaKu dan mereka telah menuruti FirmanMu. Sekarang mereka tahu bahwa semua yang Engkau berikan kepadaKu betasal dari padaMu. Keramahan Allah telah dikabarkan Yesus kepada Dunia manusia melalui cara hidupNya. Dan keramahan Allah itulah yang menuntut manusia berjalan di jalan benar menuju Allah di mana Yesus telah mendahului kita semua. Yesus tetap menjamin keselamatan bagi kita sang pengikutNya sebagaimana Ia ungkapkan dalam Doa melalui Injil tadi. Aku berdoa untuk mereka yang telah Engkau berikan kepadaKu.

Kita bisa membaca, mendengar, melihat pelbagai hal yang baik dan hal buruk melalui pelbagai jenis media masa. Kita baca di surat kabar, kita dengar di radio, kita saksikan di televisi segala peristiwa yang dialami manusia. Ada yang menggembirakan ada pula yang menyedihkan. Yesus sebagai surat kabar Allah, Yesus sebagai radio Allah, Yesus sebagai televisi Allah. Yesus sebagai media komunikasi dari Allah telah memberitakan, memperdengarkan dan merlihatkan gambaran kehidupan yang menyenangkan. Ia menjanjikan kehidupan yang membahagiakan setelah melewati tahap penderitaan. Dan Ia sudah pergi mendahului kita, tetapi RohNya masih menyertai kita agar kita semua juga menjadi alat, media yang membawa kegembiraan bagi orang lain. Dan dalam situasi negara dengan kondisi politik seperti ini kita ditantang untuk menampilkan diri sebagai alat, media dari Tuhan untuk membawa hal yang menyejukkan. Karena itu Pesta demokrasi pemilu yang akan kita ikuti hendaknya membuat kita sadar bahwa itulah jalan bagi kita mempertontonkan hal yang baik dan bukan kerusuhan atau keonaran. Kita memperjuangkan demokrasi bukan berarti kita bertindak sesuka hati kita. Kita memperjuangkan demokrasi artinya kita harus mampu mendengarkan orang lain, mendengarkan diri serta bisikan nurani. Akhirnya saya mau sampaikan bahwa hendaknya kita lebih cermat menerima pelbagai macam janji yang digelar dalam kampanye partai yang akan segera kita masuki. Yesus dalam ajaran dan cara hidupNya sebenarnya telah memperjuangkan demokrasi itu. Namun kita semua tahu justru penguasa masa itu tidak menerima Dia. Mungkin dalam sejarah politik (partai) di negara kita ini ada yang mengalami nasib seperti Yesus. Dan saya pikir mungkin partai yang banyak kesulitan dalam perjuangannya itu lebih banyak muatan kebenarannya. Yesus lebih banyak diam, Yesus lebih banyak dikhianati namun kedia ia diakui sebagai orang yang dibenarkan Allah. Marilah kita berjuang untuk dibenarkan Allah dan bukan semata mata mau dibenarkan oleh manusia. Amin.

MINGGU II ADVENT TAHUN A

Hari Minggu Pertama Masa Adventus Tahun A.

Yes.2,1-5; Rom.13,11-14; Mat. 24,37-44





Seturut aturan liturgi Gereja, mulai hari ini kita memasuki masa penantian / masa adventus. Kata adventus ini sering kita dengar. Adventus ini berasal dari kata Latin artinya kedatangan. Kita menantikan kedatangan. Kedatangan yang dimaksudkan itu adalah kedatangan Tuhan. Jadi kita menantikan kedatangan Tuhan.

Ada tiga makna Adventus Pertama, Makna masa lampau. Kita mau memperingati kelahiran Yesus Kristus pada masa lampau di Betlehem. Kita mau memperingatinya kembali, seperti kita memperingati hari ulang tahun kelahiran kita masing-masing. Supaya Kelahiran Kristus sebagai Juru selamat, mempunyai makna untuk iman kita maka perlu waktu-waktu khusus untuk mempersiapkan diri.

Makna yang kedua, Makna masa kini, yakni kita mau disadarkan kembali bahwa sebenarnya kedatangan Tuhan tidak hanya sekali terjadi.Secara historis memang terjadi 2000 tahun yang lampau di Betlehem negeri Palestina , tetapi sebenarnya setiap waktu, Tuhan datang kepada kita, hanya kita kurang menyadarinya, mungkin karena kita terlalu sibuk, terlena dengan kegiatan kita ; cari duit, cari hidup, cari kekayaan, cari kekuasaan, cari kesenangan sendiri lalu lupa memberi tempat kepada Tuhan, Tuhan seolah-olah berada jauh dan sibuk dengan diriNya sendiri dan kitapun sibuk dengan diri kita sendiri dan masing-masing kita tidak menghiraukan satu-sama lain. Karena itu dalam masa khusus ini kita mau menyadarinya kembali bahwa Tuhan itu senantiasa emmanuel “selalu beserta kita” Hanya kita yang tidak beserta Dia.

Makna yang ketiga dari adventus adalah Makna masa depan dimana di masa depan Tuhan datang kembali untuk membawa kita ke dalam kerajaanNya seperti yang kita dengar dalam bacaan pertama tadi, di mana Tuhan akan mengumpulkan segala bangsa dalam damai abadi dalam kerajaanNya.

Dan waktu kedatangan kembali itu kita tidak tahu, kita tidak tahu kapan dan saatnya, apakah sudah dekat atau masih lama. Kitab Suci tidak menyebutnya secara pasti kapan waktunya terjadi. Kitab Suci hanya menyebutkan supaya berjaga-jaga dan bersiap-siap. Karena itu hakekat atau inti dari masa adventus adalah masa berjaga-jaga. Berjaga-jaga dan bersiap-siap ini penting, karena menyangkut nasib, masa depan kita sendiri. Kalau tidak berjaga-jaga maka akan merugikan diri kita sendiri dan kita akibatnya ditanggung sendiri. (Saya membaca di surat khabar dan saya dengar banyak cerita dari orang bahwa di Kota Yogya ini banyak terjadi kasus kehilangan sepeda motor atau mobil. Karena itu polisi maupun teman-teman kita selalu memperingatkan supaya hati-hati, selalu waspada dan berjaga-jaga. Apabila lengah tentu resikonya ditanggung sendiri.) Jadi betapa pentingnya makna berjaga-jaga.

Dalam hal keselamatan pun demikian, kepada kita selalu diingatkan supaya berjaga-jaga. Masa Adventus pun adalah masa kita diingatkan supaya berjaga-jaga menantikan kedatangan Tuhan, sebab kedatangan Tuhan itu, menurut kitab suci seperti kedatangan maling motor, berlangsung begitu cepat dan terjadi pada waktu yang tidak disangkakan. Bila tidak berjaga-jaga maka kita akan kecolongan. Tentu kita tidak mau kecolongan dalam hal keselamatan.

Apa yang dimaksudkan dengan berjaga-jaga?. Apakah tidak boleh tidur, apakah tidak boleh istirahat? Apakah sepanjang malam kita harus berada di pos ronda? untuk menantikan kedatangan Tuhan itu?. Saya kira tidak demikian. Berjaga-jaga yang dimaksudkan Yesus dalam Injil tadi adalah sikap mawas diri, sikap tidak lupa diri, sikap tidak terlena. Sikap-sikap ini (mawas diri, sikap tidak lupa diri, sikap tidak terlena) ini penting dalam menyambut kedatangan Tuhan? Sebab sikap-sikap seperti ini adalah sikap-sikap anak Allah. Dan menurut iman kita, kita adalah anak Allah. Karena kita anak Allah maka menurut St. Paulus dalam bacaan kedua, harus hidup seperti siang hari, maksudnya menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan. Dalam bacaan kedua tadi, disebutkan bebebarapa perbuatan kegelapan seperti mencari kesenangan jasmani, hidup dalam perselisihan, dan iri hati dll. (kita bisa tambahkan sendiri). Dan st. Paulus meminta untuk meninggalkan semuanya itu dan mengenakan senjata terang. Itu berarti seruan adventus/ seruan berjaga-jaga, tidak lain suatu seruan atau ajakan untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Hal kedua yang perlu kita sadari bahwa berjaga-jaga itu sifatnya aktif. Aktif menunggu, aktif menanti bukan pasif, diam menunggu, diam menanti. Aktif menunggu, aktif menanti maksudnya dalam menantikan kedatangan Tuhan, kita tidak menanti tok, tidak menunggu tok tetapi mengisinya dengan kegiatan atau perbuatan, aktivitas yang bermakna, aktivitas yang sarat makna. Bukan diam tanpa aktivitas, diam tidur-tiduran sambil menunggu akhir zaman ( Dulu pernah ada satu sekte dalam agama kristen, yang mengajarkan: akhir jaman sudah dekat, kita tidak pelu kerja lagi, kita diam menunggu di rumah masing-masing dan berdoa., bukan itu yang dimaksudkan berjaga-jaga, ). Berjaga-jaga yang dimaksudkan Yesus adalah kita tetap aktif dengan kegiatan-kegitatan kita asalkan kegiatan itu bermakna, mengarahkan kita untuk lebih dekat dengan Tuhan dan dengan sesama. Kalau demikian sebenarnya tidak ada persiapan khusus terhadap kedatangan Tuhan, asalkan kita setia dan mawas diri mengisi hari-hari hidup kita. Itulah persiapan kita dalam menantikan kedatangan Tuhan.

Selamat memasuki masa adventus, semoga dalam mempersiapkan kedatangan Tuhan ini kita tidak hanya menekankan perayaan kedatangan Kristus pada masa lampau tetapi terutama menyadari kedatangan Kristus masa kini dalam keseharian hidaup kita dan mempersiapkan hidup kita menyongsong kedatang Kristus masa depan. Dalam hal menantikan kedatangan Kristus masa depan kita menantikan kedatangan-Nya dalam keadaan berjaga-jaga, mawas diri, tidak lupa diri, tidak terlena tetapi mengisinya dengan hidup yang bermakna, menjauhkan perbuatan kegelapan, menciptakan hidup yang damai , tempat tidak ada lagi yang mengangkat tombak dan pedang untuk berperang melawan sesama sebab barang-barang itu telah dilebur menjadi pisau bajak. Mari kita berjalan dalam terang Tuhan.

MINGGU I ADVENT TAHUN A

Hari Minggu Pertama Masa Adventus Tahun A.

Yes.2,1-5; Rom.13,11-14; Mat. 24,37-44





Seturut aturan liturgi Gereja, mulai hari ini kita memasuki masa penantian / masa adventus. Kata adventus ini sering kita dengar. Adventus ini berasal dari kata Latin artinya kedatangan. Kita menantikan kedatangan. Kedatangan yang dimaksudkan itu adalah kedatangan Tuhan. Jadi kita menantikan kedatangan Tuhan.

Ada tiga makna Adventus Pertama, Makna masa lampau. Kita mau memperingati kelahiran Yesus Kristus pada masa lampau di Betlehem. Kita mau memperingatinya kembali, seperti kita memperingati hari ulang tahun kelahiran kita masing-masing. Supaya Kelahiran Kristus sebagai Juru selamat, mempunyai makna untuk iman kita maka perlu waktu-waktu khusus untuk mempersiapkan diri.

Makna yang kedua, Makna masa kini, yakni kita mau disadarkan kembali bahwa sebenarnya kedatangan Tuhan tidak hanya sekali terjadi.Secara historis memang terjadi 2000 tahun yang lampau di Betlehem negeri Palestina , tetapi sebenarnya setiap waktu, Tuhan datang kepada kita, hanya kita kurang menyadarinya, mungkin karena kita terlalu sibuk, terlena dengan kegiatan kita ; cari duit, cari hidup, cari kekayaan, cari kekuasaan, cari kesenangan sendiri lalu lupa memberi tempat kepada Tuhan, Tuhan seolah-olah berada jauh dan sibuk dengan diriNya sendiri dan kitapun sibuk dengan diri kita sendiri dan masing-masing kita tidak menghiraukan satu-sama lain. Karena itu dalam masa khusus ini kita mau menyadarinya kembali bahwa Tuhan itu senantiasa emmanuel “selalu beserta kita” Hanya kita yang tidak beserta Dia.

Makna yang ketiga dari adventus adalah Makna masa depan dimana di masa depan Tuhan datang kembali untuk membawa kita ke dalam kerajaanNya seperti yang kita dengar dalam bacaan pertama tadi, di mana Tuhan akan mengumpulkan segala bangsa dalam damai abadi dalam kerajaanNya.

Dan waktu kedatangan kembali itu kita tidak tahu, kita tidak tahu kapan dan saatnya, apakah sudah dekat atau masih lama. Kitab Suci tidak menyebutnya secara pasti kapan waktunya terjadi. Kitab Suci hanya menyebutkan supaya berjaga-jaga dan bersiap-siap. Karena itu hakekat atau inti dari masa adventus adalah masa berjaga-jaga. Berjaga-jaga dan bersiap-siap ini penting, karena menyangkut nasib, masa depan kita sendiri. Kalau tidak berjaga-jaga maka akan merugikan diri kita sendiri dan kita akibatnya ditanggung sendiri. (Saya membaca di surat khabar dan saya dengar banyak cerita dari orang bahwa di Kota Yogya ini banyak terjadi kasus kehilangan sepeda motor atau mobil. Karena itu polisi maupun teman-teman kita selalu memperingatkan supaya hati-hati, selalu waspada dan berjaga-jaga. Apabila lengah tentu resikonya ditanggung sendiri.) Jadi betapa pentingnya makna berjaga-jaga.

Dalam hal keselamatan pun demikian, kepada kita selalu diingatkan supaya berjaga-jaga. Masa Adventus pun adalah masa kita diingatkan supaya berjaga-jaga menantikan kedatangan Tuhan, sebab kedatangan Tuhan itu, menurut kitab suci seperti kedatangan maling motor, berlangsung begitu cepat dan terjadi pada waktu yang tidak disangkakan. Bila tidak berjaga-jaga maka kita akan kecolongan. Tentu kita tidak mau kecolongan dalam hal keselamatan.

Apa yang dimaksudkan dengan berjaga-jaga?. Apakah tidak boleh tidur, apakah tidak boleh istirahat? Apakah sepanjang malam kita harus berada di pos ronda? untuk menantikan kedatangan Tuhan itu?. Saya kira tidak demikian. Berjaga-jaga yang dimaksudkan Yesus dalam Injil tadi adalah sikap mawas diri, sikap tidak lupa diri, sikap tidak terlena. Sikap-sikap ini (mawas diri, sikap tidak lupa diri, sikap tidak terlena) ini penting dalam menyambut kedatangan Tuhan? Sebab sikap-sikap seperti ini adalah sikap-sikap anak Allah. Dan menurut iman kita, kita adalah anak Allah. Karena kita anak Allah maka menurut St. Paulus dalam bacaan kedua, harus hidup seperti siang hari, maksudnya menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan. Dalam bacaan kedua tadi, disebutkan bebebarapa perbuatan kegelapan seperti mencari kesenangan jasmani, hidup dalam perselisihan, dan iri hati dll. (kita bisa tambahkan sendiri). Dan st. Paulus meminta untuk meninggalkan semuanya itu dan mengenakan senjata terang. Itu berarti seruan adventus/ seruan berjaga-jaga, tidak lain suatu seruan atau ajakan untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Hal kedua yang perlu kita sadari bahwa berjaga-jaga itu sifatnya aktif. Aktif menunggu, aktif menanti bukan pasif, diam menunggu, diam menanti. Aktif menunggu, aktif menanti maksudnya dalam menantikan kedatangan Tuhan, kita tidak menanti tok, tidak menunggu tok tetapi mengisinya dengan kegiatan atau perbuatan, aktivitas yang bermakna, aktivitas yang sarat makna. Bukan diam tanpa aktivitas, diam tidur-tiduran sambil menunggu akhir zaman ( Dulu pernah ada satu sekte dalam agama kristen, yang mengajarkan: akhir jaman sudah dekat, kita tidak pelu kerja lagi, kita diam menunggu di rumah masing-masing dan berdoa., bukan itu yang dimaksudkan berjaga-jaga, ). Berjaga-jaga yang dimaksudkan Yesus adalah kita tetap aktif dengan kegiatan-kegitatan kita asalkan kegiatan itu bermakna, mengarahkan kita untuk lebih dekat dengan Tuhan dan dengan sesama. Kalau demikian sebenarnya tidak ada persiapan khusus terhadap kedatangan Tuhan, asalkan kita setia dan mawas diri mengisi hari-hari hidup kita. Itulah persiapan kita dalam menantikan kedatangan Tuhan.

Selamat memasuki masa adventus, semoga dalam mempersiapkan kedatangan Tuhan ini kita tidak hanya menekankan perayaan kedatangan Kristus pada masa lampau tetapi terutama menyadari kedatangan Kristus masa kini dalam keseharian hidaup kita dan mempersiapkan hidup kita menyongsong kedatang Kristus masa depan. Dalam hal menantikan kedatangan Kristus masa depan kita menantikan kedatangan-Nya dalam keadaan berjaga-jaga, mawas diri, tidak lupa diri, tidak terlena tetapi mengisinya dengan hidup yang bermakna, menjauhkan perbuatan kegelapan, menciptakan hidup yang damai , tempat tidak ada lagi yang mengangkat tombak dan pedang untuk berperang melawan sesama sebab barang-barang itu telah dilebur menjadi pisau bajak. Mari kita berjalan dalam terang Tuhan.

MINGGU PASKA II TAHUN B

HARI MINGGU PASKA II Thn. B2. 23 April 2006

Kis 4:32 35; 1Yoh 5:1 6; Yoh 20:19 31

Paroki Santu Yosef Kisol



Antara Percaya dan Kebohongan

Buka

Cara hidup yang memisahkan diri dari kebersamaan biasanya menimbulkan sikap saling tidak percaya. Hidup tanpa sikap saling percaya seperti itu lebih banyak menimbulkan konflik kepentingan. Kisah dan cerita yang ditawarkan dalam bacaan-bacaan hari ini memberikan tekanan pada dimensi kebersamaan sebagai dasar untuk sikap saling percaya. Kesehatian dan kesejiwaan memungkinkan orang hidup dalam suasana damai dan penuh kasih. Yesus datang menghembuskan nafas kasih dan persaudaraan untuk melenyapkan kepalsuan dan kebohongan di antara manusia. Darahnya menjadi saksi atas cara hidup kita dan juga menuntut kita untuk memberikan kesaksian secara tepat dan benar. Kita telah dibangunkan dan dibangkitkan setelah merayakan paska. Dan kita sudah menjadi orang yang percaya. Itu artinya kita mau hidup secara benar. Kita mohonkan kekuatan Allah agar kita mampu membuktikan kemenangan kita dalam praktik hidup kita. Untuk itu kita akui kelemahan dan dosa kita..



Renungan

Dalam setiap perkara biasanya selalu ada orang yang berperan sebagai saksi. Orang yang berperan sebagai saksi dalam perkara biasanya diambil sumpahnya sebelum memberi kesaksian. Sumpah yang diucakpan saksi itu dimaksudkan agar ia memberi kesaksian yang benar dan jujur. Kesaksian yang jujur dan benar akan menjamin kemenangan dalam perkara apa saja. Beberapa hari lalu saya sempat menonton vcd tentang proses pengadilan terhadap Fabianus Tibo, Cs yang terjadi di pengadilan negeri Sulawesi., terkait Kasus Poso III. Seperti kita ketahui bersama Fabianus Tibo bersama dua temannya dijatuhi hukuman mati karena dinyatakan bersalah melakukan tindakan pembunuhan terhadap sejumlah warga dalam kerusuhan Poso. Dalam rekaman itu jelas terlihat beberapa orang yang tampil sebagai saksi bersumpah sebelum memberikan kesaksian. Dari kasus itu atau dari semua perkara orang menuntut keadilan yang harus dilahirkan dari kejujuran, ketulusan, keterbukaan. Dalam setiap perkara ada yang kalah ada yang memang. Yang menang belum tentu karena kesaksiannya benar dan jujur. Demikian juga sebaliknya. Pelbagai protes terhadap lembaga pengadilan di negeri kita muncul justru karena keputusan banyak yang berlawanan dengan nilai kebenaran dan kejujuran. Dunia kitapun telah menjadi tempat pertarungan kebohongan dengan kebohongan.

Kisah, cerita, wacana penipuan, manipulasi, kebohongan saat ini sudah menjadi makanan utama masyarakat di negara kita termasuk di wilayah kita. Banyak macam kebohongan yang menimpa masyakarakat kita saat. Minggu lalu, ketika pengadilan Negeri Ruteng memutuskan bahwa KPUD Manggarai kalah dalam kaitannya dengan gugatan perkara pilkada, spontan orang merasa ditipu dan dibohongi. Keputusan itu telah membuat ribuan warga gelisah dan cemas. Pelbagai pernyataan bernada cemas dan gelisah mulai bermunculan. Para pendukung dan tim sukses pun mulai menggalang kekuatan menggelar demonstrasi yang dibalas dengan aksi serupa. Orang sederhana biasanya selalu cepat menarik kesimpulan bahwa politik itu adik atau sadara dekatnya penipuan dan kebohongan. Politik sering disamkan saja dengan penipuan. Hasil akhirnya terjadi permusuhan dan saling sikut antarsesama dalam satu wilayah bahkan dalam satu keluarga. Penipuan dan pembohongan itu terus ditiup agar orang tidak lagi percaya kepada orang-orang tertentu. Di mana-mana orang menyebarkan kebohongan, penipuan dan manipulasi untuk kepentingan diri sendiri. Dan tentu kita semua tahu bagaimana reaksi kita kalau berhadapan dengan orang yang suka menipu, suka berbohong. Reaksi kita yang normal adalah tidak mau percaya, menolak untuk percaya. Ketidakpercayaan atau sikap tidak mau percaya adalah lawan untuk setiap kebohongan dan penipuan. Kita harus dan sepantasnya jangan percaya pada aneka bentuk pembohongan, penipuan atau maniplasi dalam segala bentuknya.

Firman Tuhan yang diperdengarkan kepada kita pada hari ini menuntut kita untuk percaya kepada apa yang benar dan menolak setiap kebohongan hasil olahan tangan-tangan gatal, hasil permainan lidah-lidah yang bercabang, hasil spekulasi pikiran dan otak yang menyesatkan manusia. Tuntutan untuk percaya dalam bacaan hari adalah tuntutan untuk mencari kebenaran dan mengatasi dusta dan kebohongan. Memperjuangkan kebenaran dan menolak kebohongan menuntut kita untuk menyamakan, mempersatukan pikiran dan kehendak. Sikap percaya hanya akan ada kalau orang memiliki kesamaan pandangan, kesamaan rasa, kesamaan semangat. Selama kita manusia merasa diri lebih dari orang lain; selama kita merasa diri harus berbeda dengan orang lain maka rasa saling percaya tidak mungkin terbangun dan bertumbuh dalam kehidupan kita. Saling percaya itu lahir dalam kebersamaan. Bukan muncul dalam kesendirian atau dalam keterpisahan dengan orang lain. Aspek kebersamaan atau dimensi kebersamaan merupakan syarat bagi sikap percaya.

Kisah para rasul dalam bacaan pertama tadi secara sangat jelas menekankan sikap saling percaya itu lahir dalam kebersamaan. Konsep sehati sejiwa yang disampaikan dalam bacaan percaya pada dasarnya adalah konsep yang menuntut manusia untuk hidup, ada bersama dalam kesetaraan. Kesehatian dan kesejiwaan di antara orang beriman menjadi identitas yang menentukan kita sebagai orang yang percaya. Dimensi kebersamaan yang menjadi jiwa dari sikap hidup orang percaya juga menjadi tanda bahwa manusia mampu memberikan kesaksian tentang Tuhan yang bangkit. Konsep yang sama sudah dikenal dalam masyarakat kita yang dirumuskan dalam ungkapan filosofis: muku ca puu neka woleng curup, nakeng ca wae neka woleng tae, ipung ca tiwu neka woleng wintuk. Kisah para rasul menggambarkan pola hidup jemaat perdana yang hidup dalam persekutuan dan dalam kebersamaan. Persekutuan dan kebersamaan yang terbentuk bagi jemaat perdana itu didasarkan pada kasih dan solidaritas. Kasih dan solidaritas itulah nilai yang mereka dapatkan dari Yesus yang hidup, mati lalu bangkit. Kebersamaan dan solidaritas dalam kasih sudah menjadi indentitas pengikut Kristus.

Membentuk hidup bersama dalam semangat solidaritas sebagai bukti kemuridan kita pada Yesus bukanlah hal mudah. Hidup bersama dalam kasih dan dalam semangat solidaritas membutuhkan perjuangan. Tidak mudah lagi bagi kita dan manusia zaman ini untuk membentuk suatu kebersamaan atau persekutuan seperti jemaat perdana. Untuk dapat hidup dalam persatuan dengan suasana kasih manusia atau kita harus mampu mengalahkan dunia. Dan dunia yang paling kecil, paling dekat tetapi paling sulit dikuasaiadalam diri kita sendiri. Diri kita dengan segala macam ambisi, cita-cita dan harapannya yang tinggi membuat kita sulit menguasai diri kita. Manusia yang tidak mampu menguasi dunia dirinya sendiri adalah manusia yang tidak datang dari Allah. Bacaan kedua tadi mengisyaratkan hal itu kepada kita. Setiap orang yang lahir dari Allah harus mengalahkan dunia dirinya. Dunia yang paling dekat dengan kita adalah diri kita sendiri. Dunia yang paling sulit dikalahkan adalah diri kita sendiri. Dunia yang paling sulit dibersihkan adalah dunia diri kita sendiri. Yohanes mencatat bahwa manusia yang lahir dari Allah dan mampu mengalahkan dunia adalah manusia yang percaya kepada Kristus. Itu artinya apa? Itu artinya kalau orang percaya kepada Kristus maka orang itu telah mengisi hidupnya dengan semangat Kristus. Begitu orang percaya kepada Kristus maka saat itulah manusia mengsongkan dirinya dan menerima Yesus dalam diri dan hidupnya. Dengan kata lain begitu manusia percaya akan Kristus maka segala segala unsur yang menguasai diri manusia ditaklukkan.

Percaya kepada Kristus itu tidak semudah yang kita ucapkan ketika kita membaharui janji baptis kita. Percaya kepada Kristus secara lebih rohani dan secara lebih konkret operasional berarti kita mau mematuhi segala perintah-Nya. Mau meneladani segala kebajikan yang pernah digelar Yesus. Mau hidup dalam kasih persaudaraan. Kemanagan manusia yang paling gemilang menurut bacaan kedua hari adalah hidup menurut perintah Tuhan. Dan hidup menuru perintah Tuhan merupakan buah dari iman. Yohanes menulis dan menunjukkan kepada kita: Inilah kemenangan yang mengalahkan dunia adalah iman kita. Iman akan Tuhan melalui kepatuhan manusia akan perintah Tuhan memungkinkan manusia hidup dalam kebenaran dan senantiasa berkemenangan. Percaya kepada Kristus melalui praktik hidup yang nyata berarti memberi kesaksian tentang kebenaran. Kita semua adalah manusia yang berkebenaran dan berkemenangan. Kita berkebenaran dan berkemenangan karena darah dan korban Kristus. Roh Kristus sebagai kebenaran abadi telah membantu kita untuk bersaksi tentang kebenaran, tentang kejujuran. Roh Kristus yang kita terima akan mengalahkan segala bentuk kepalsuan, penipuan, kebohongan yang menguasai hidup manusia saat ini.

Mencari orang yang mudah percaya zaman ini sangatlah sulit. Mengapa? Ya karena dunia kita memang sudah dikuasai narasi dan bahasa penuh kebohongan. Sikap tidak mudah percaya ini menjadi penyakit keturunan yang kita wariskan dari seorang yang bernama Thomas. Injil menampilkan kisah kehadiran Yesus di tengah-tengah kerumuman para murid. Yesus datang dalam kebersamaaan para murid yang masih ketakutan. Dalam kebersamaan seperti itu Yesus hadir dan memberi Damai kepada mereka yang ada bersama. Kebersamaan mereka itu mendamaikan. Mereka diberi damai untuk dibagikan kepada orang lain. Yesus berkata kepada mereka : Sama seperti bapa telah mengutus Aku membawa damia kepadamu, demikian juga hendaknya kami pergi membagikan damai untuk orang lain. Semua mereka yang berkumpul itu menerima damai dan mendapat tugas perutusan. Hanya Thomas yang tidak menerima damai itu. Ia tidak menerima, tidak mengalami, tidak menyaksikan Tuhan yang menampakkan diri setelah bangkit, karena memang dia memisahkan diri dari kebersamaan. Ia memisahkan diri dari persekutuan. Thomas membuat sesuatu yang lain. Artinya dia tidak lagi sehati dan sejiwa dengan kelompok murid lainnya.

Ketidakhadiran, keberpisahan Thomas dari persekutuan para murid ternyata melahirkan sikap yang baru dan berlawanan dengan kehidupan sebelumnya. Tohmas menjadi manusia yang tidak percaya akan kehadiran Tuhan. Thomas menjadi manusia yang tidak percaya lagi akan penyertaan Tuhan atas kehidupan para murid. Sebelumnya mereka semua termasuk Thomas percaya sungguh-sungguh akan Yesus yang mereka ikuti. Sebelumnya mereka semua mengakui Yesus sebagai putra Allah setelah mengalami pelbagai tanda dan mukjizat. Thomas percaya hanya ketika ia berada dalam persekutuan. Begitu ia memisahkan diri, menjauhkan diri, mengambil jarak dari persekutuan itu, ia menjadi orang tidak percaya. Ia menganggap apa yang disampaikan murid lainnya sebagai kebohongan, penipuan. Ia menuntut bukti fisik. Tangannya harus masuk ke dalam luka dan lambung Yesus. Suatu bentuk ketidakpercayaan yang paling besar.

Apa yang dapat kita renungkan dari sikap tidak percaya rasul Thomas ini? Mungkin tiga hal ini yang bisa kita petik dari kisah Thomas hari ini. Pertama ketidakhadiran seseorang dalam satu peristiwa yang penting bisa melahirkan masalah untuk kemudian hari. Banyak masalah dalam hidup kita dan dalam masyarakat muncul kalau orang yang dulu tidak hadir atau belum lahir dalam peristiwa atau kesepakatan tertentu kemudian bertindak seolah-olah hadir atau sudah lahir. Dalam situasi seperti itu yang dikatakan hanyalah kebohongan dan tipu daya. Di san akan lahir para saksi dusta yang memberi keterangan dan kesaksian yang palsu.

Kedua, ketidakhadiran atau pemisahan diri dari kebersamaan membuat orang tidak percaya. Para murid lain memberikan kesaksian dan melaporkan secara jujur tentang apa yang mereka lihat, mereka saksikan, mereka alami, mereka terima ketika Yesus menampakkan diri. Mereka adalah saksi yang benar karena melihat dan hadir tetapi Thomas tetap tidak mau percaya. Dalam pengalaman hidup kita, dewasa ini banyak saksi sejarah yang sungguh hadir, yang terlibat dalam satu peristiwa, kesepakatan, perjanjian, pernyataan suaranya tidak lagi didengar apalagi untuk dipercaya. Mereka memberikan kesaksian secara lisan seperti para murid tetapi manusia pintar dewasa ini memutar lidahnya, memperpanjang lidah mereka dengan menuntut bukti tertulis seperti Thomas yang menuntut supaya tangannya dimasukkan ke dalam luka-luka Yesus. Ketidakpercayaan kepada saksi sejarah adalah sumber segala masalah dalam kehidupan kita. Zaman kita saat ini hanya percaya dan menerima kesaksian yang tertulis hitan atas putih meskipun banyak juga penipuan dokumen.

Ketiga, Kisah Injil hari ini terjadi seminggu setelah kebangkitan, setelah darah Yesus ditumpahkan untuk mengutuhkan, meneguhkan perjanjian baru antara Allah dan manusia. Itu artinya darah menjadi saksi perjanjian. Dalam perjanjian lama perjanjian antara manusia dengan Yahwe diteguhkan dalam darah binatang seperti kambing, atau domba, dalam perjanjian baru itu diteguhkan oleh darah Yesus sendiri. Darah Kristus adalah darah perjanjian yang mahal. Darah itu menuntut semua kita untuk hidup dalam kepercayaan dan dalam kebenaran. Bukan hidup dalam kebohongan, penipuan dan kepalsuan. Perjanjian dengan mengorban binatang lebih besar tuntutan moral daripada perjanjian dengan kata-kata yang tertulis. Apa konsekuensinya? Kalau orang membuat perjanjian/kesepakatan dengan darah binatang (ayam, kambing, babi) itu artinya kalau orang kemudian mengingkari, mengangkangi perjanjian itu maka darah binatang itu akan menuntutnya dan akan mendapat nasib seperti binatang perjanjian itu. Perjanjian dengan darah binatang adalah sumpah yang memilki sangsi moral paling tinggi. Dan kita, Darah Yesus telah meneguhkan kita.

Darah Yesus tertumpah untuk kita. Darahnya adalah darah perjanjian yang menuntut kita untuk hidup dalam kebenaran. Memberikan kesaksian secara benar. Hidup dan bersaksi secara benar berarti kita sunguh-sunguh percaya akan Kristus yang bangkit, yang senantiasa menawarkan damai untuk kita. Marilah kita belajar untuk berkata benar, untuk hidup secara benar sambil melepaskan kepalsuan, kebohongan, pengingkaran kita. Amin



Kisol, 22 April 2006

Rm. Bone Rampung, Pr

MINGGU KITAB SUCI

1Sam.15,1-3,7-23; Rom.12,17-21; Mat.5,38-48

Minggu Kitab Suci Nasional, 3 September 2006

Stasi Jawang dan Longko Paroki Borong



Buka

Saudara-saudara terkasih dalam Kristus, dunia sekitar kita te¬lah membuat kita sering kali merasa ketakutan. Takut karena kita tidak merasa aman, sekalipun kita berada di tempat kita sendiri, di negeri kita sendiri. Rasa tidak aman ini timbul akibat makin banyaknya praktik-praktik kekerasan. Setiap hari kita disuguhi sajian kekerasan, entah lewat media massa, maupun lewat percakapan. Mungkin kita sendiri menjadi saksi mata atau bahkan menjadi korbannya. Orang merusak dan menghancurkan bangunan hanya untuk mengungkapkan ketidak setujuannya. Orang membuat kekacauan berdarah hanya untuk menyembunyikan kesalahannya sendiri. Orang membunuh karena ingin memiliki harta atau hanya karena tidak senang dengan orang lain. Pada Bulan Kitab Suci Nasional tahun ini kita akan merenung¬kan bagaimana menghadapi praktik kekerasan yang terjadi di du¬nia ini menurut kehendak Tuhan dan bagaimana kita dapat terli bat secara aktif untuk menghentikan praktik-praktik kekerasan di negeri ini.



Renungan

Mengawali renungan pada hari Minggu Kitab Suci Nasional hari ini, izinkanlah saya menyampaikan beberapa cerita nyata yang saya alami dan saksikan sendiri:

1. Beberapa bulan lalu saat liburan saya sempat menghadiri sebuah pesta Sekolah. Menjelang pagi hari terjadi keributan karena sekelompok pemuda dari kampung tetangga masih merasa dendam terhadap peristiwa beberapa tahun sebelumnya yang terjadi dalam suatu pesta di tempat lain. Kekacauan menjelang pagi hari itu terjadi ketika seorang pemuda menari sambil mengisap rokok. Percikan bunga apinya mengenai pakaian seorang pemudi dari kampung tetangga. Peristiwa itu membangkitkan dendam lama pada kelompok kampung tetangga (kekerasan tingkah laku)

2. Bulan lalu di salah satu ruas jalan kota Kupang saya menyaksikan sebuah bemo kota terbalik ketika harus menghindari tukang ojek yang lari memotong jalan. Tukang ojek itu dihajar sampai babak belum oleh semua penumpang bemo kota yang terbalik itu.

3. Minggu lalu dalam perjalanan dari Maumere ke Kisol, saya sempat mampir di tempat pengisian bahan bakar di Ndao Ende. Ketika mobil kami berhenti untuk mengisi solar dua orang anak berusia 6 dan 7 tahun mendekati jendela mobil sambil menawarkan banyak barang jualan seperti biskuit, telur rebus, kacang goreng, aqua, manisan dan lain-lain. Saya bertanya kepada dua anak yang kebetulan kaka beradik itu perihal alasan mereka berjualan seperti itu. Mereka menceritakan bahwa orangtua mereka memaksa dua anak itu untuk menjual barang sehingga menambah pendapatan keluarga. Dalam hati saya berpikir, anak kecil seperti ini, seharusnya masih menikmati masa senangnya sebagai anak tetapi tepaksa harus mencari nafkah untuk keluarga.

4. Beberapa hari lalu ketika turun dari Ruteng menuju Kisol, begitu lewat Sok saya melihat seorang ibu yang memikul tiga jerigen di punggungnya sambil menggendong anaknya yang kecil dan tangannya menyeret seekor sapi. Di belakang sapi itu ada seorang Bapak yang saya duga sebagai suaminya. Bapa itu hanya mengenakan parang (selek kope wa awkn) dan handuknya melilit di leher. Ia hanya menuntun seorang anaknya yang berusia 4 tahun.

5. Suatu ketika seorang ibu keluarga mendatangi saya dan menceritakan penderitaan yang dialminya di dalam keluarga. Dia menyampaikan bahwa di dalam keluarga ia diperlakukan secara kasar oleh suaminya. Rumah tangganya dirasakannya sebagai ring tinju tempat pertarungan. Dan sang istri selalu kalah karena sang suami bertindak sekaligus sebagai petinju dan wasitnya.

6. Suatu ketika seorang suster mengisahkan tentang seorang gadis yang lari dari rumahnya dan berlindung di sebuah biara. Gadis itu lari karena sering dimarah oleh orangtuanya dengan kata-kata kasar.

7. Beberapa hari lalu, seorang Bapa di Kisol mengeluh karena sumur air mereka mendadak kering menyusul musim kering beberapa bulan belakangan ini. Sumur yang berada di lereng poco Lando itu kering karena memang semua pohon di Poco Lando telah ditebang oleh manusia yang serakah terhadap lingkungan.

8. Dua Minggu lalu di salah satu panti asuhan di Maumere, seorang anak pingsan di tendang temannya. Ketika ditanya apa sebabnya ia menendang temannya sampai pingsan, si anak menjawab bahwa mereka mau praktikan jurus-jurus perkelahian yang ditayangkan di televisi.



Bacaan-bacaan yang dipakai pada hari Minggu Kitab Suci Nasional, hari ini berbicara tentang KEKERASAN. Tema Bulan Kitab Suci tahun ini berisi perintah yang tegas dan jelas bagi kita yaitu Hentikan Kekerasan! Dan Kalahkanlah kejahatan dengan Kebaikan. Kekerasan yang dimaksudkan dalam Tema bulan Kitab suci tahun itu dapat dipahami secara luas. Kekerasan itu tidak selalu berarti tindakan membunuh secara langsung seperti yang terjadi dalam aneka perang tanding. Tanpa kita sadari kekrasan itu menyertai perjalanan hidup manusia sejak zaman dulu hingga zaman kita sekarang ini. Kisah yang digambarkan dalam kitab pertama Samuel hari ini memberikan kita gambaran betapa kekerasan itu telah berlangsung sejak perjanjian lama atau zaman kehidupan para nabi. Samuel yang ditentukan Allah untuk mengurapi Saul sebagai raja merasa agak kecewa karena raja Saul berjuang melawan bangsa yang menolak Tuhan dengan cara kekerasan. Sikap seperti ini jelas berlawanan dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Saul yang telah mengalahkan banyak bangsa dengan kekerasan itu kemudaian melupakan pesan Samuel agar sang raja tetap patuh dan taat bersembah kepada Tuhan. Yang terjadi justru sebaliknya, sang raja tergoda untuk mengikuti perilaku kehidupan bangsa yang ditaklukan. Saul melepaskan Yahwe lalu melakukan praktik tidak terpuji karena ia mempersembahkan kambing dan domba hasil jarahan dari bangsa Amalekh.

Bacaan pertama memberi gambaran tentang kekerasan melawan kekerasan, kejahatan melawan kejahatan. Dalam bacaan pertama kita menemukan prinsip gigi ganti gigi dan mata ganti mata. Dalam konteks perjanjian Baru prinsip seperti itu harus ditinggalkan. Para pengikuti Kristus harus meninggalkan vcara dan sikap hidup lama yang penuh kekerasan dan balas dendam dengan pola perilaku yang baru saling memaafkan. Gagasan baru itulah yang ditegaskanm Paulus dalam bacaan kedua tadi. Jemaat kota Roma yang terpancing melakukan tindaka kekerasan, diingatkan Paulus untuk menggunakan cara yang lebih mulia, lebih santun dan lebih sesuai dengan ajaran Kristus. Nasihat Santu Paulus tadi jelas namun sulit untuk kita praktikkan dalam hidup. Ada kalimat penting yang harus kita ingat dari bacaan kedua tadi dan itu adalah pesan paulus untuk kita semua yang berbunyi: Lawanlan Kejahatan dengan kebaikan. Perintah Paulus ini memang amat mulia tetapi pasti sukar untuk dipraktikkan.

Kata-kata Paulus ini sebenarnya mau memberikan ciri dan citra rasa kehidupan orang yang beriman kepada Kristus. Para pengikut Kristus dalam pandangan Paulus haruslah orang yang selalu mendahulu kebaikan berhadapan dengan kejahatan. Itu artinya, tindakan anarkhis, brutal dan yang merusakan, bukanlah panggilan dan ciri-ciri orang Kristen. Para pengikut Kristus yang sama juga harus bebas dari aneka bentuk kekerasan. Dengan kaata lain, kalau orang beriman akan Kristus itu berlaku kasar, kejam, dendam terhadap sesaamanya berarti orang itu tidak menendengarkan nasihat Paulus untuk melawan kejahatan dengan kebaikan. Perintah itu kedengarannya mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan.

Prinsip mata ganti mata dan gigi ganti gigi juga dilarang Yesus sendiri. Hal inilah yang menjadi inti pesan injil Matius hari ini. Kekerasan melawan hanya akan melahirkan kekeran baru. Oleh krena itu, untuk menghindari kekerasan yang lebih besar Yesus menawarkan resep mujarab untuk kita. Yesus menawarkan jalan terbaru yang sulit dipahami tetapi harus dilalui setiap orang, setiap kita yang menjadi pengikut Kristus. Membenci musuh itu biasa tetapi mencintai dan mendoakan musuh itu hal yang luas biasa. Mengasihi diri sendiri dan orang yang kita sayangi itu biasa, tetapi kalau mengashi musuh dan lawan itu menjadi sesuatu yang luar biasa. Kita yang mau mengikuti Yesus harus memilih jalan yang luar biasa itu. Mengapa kita harus memilih jalan yang luas biasa itu? Alasannya disampaikan di dalam injil tadi. Mengasihi, mencintai, memaaf, serta mendoakan musuh itu nilai jaminan atau garansi untuk masuk surga sangat besar.

Semua cerita kecil yang saya sampaikan pada awal renungan ini membahasakan satu hal yang ada dan sering terjadi di dalam masyarakat kita. Semua cerita tadi mau mengatkan bahwa TINDAK KEKERASAN menguasai dan mewarnai semua kehidupan manusia. Dunia kita sekarang menjadi dunia yang lebih banyak menawarkan kekerasan. Kekeran itu nyata atau muncul dalam aneka wajah atau bentuk. Kekerasan yang dimaksudkan tidak selamanya berarti membunuh sesama seperti yang terjadi dalam perang tanding. Bunuh membunuh secara langsung jarang kita temui tetapi pembunuhan dalam bentuk yang lain selalu ada bahkan paling banyak kita lakukan dalam kehidupan harian kita. Hanya sedikit kita mendengar cerita tentang suami bunuh istri secara langsung. Kita kadang-kadang mengartikan kekerasan itu berarti membunuh. Kekerasan dan membunuh yang paling keji dan paling banyak justru yang dilakukan secara tidak langsung terhadap anggota keluarga kita, terhadap sesama anggota masyarakat, dan juga terhadap lingkungan kita.

Dalam hidup kita yang biasa, musuh kita sebenarnaya tidak berada jauh dari kehidupan kita. Kita sering tidak sadar bahwa bahwa dalam hidup ini kita sering menjadikan diri kita sebagai musuh sesama dan sebaliknya menjadikan sesama sebagai musuh. Dari cerita-cerita tadi nyata sekali bagi kita bahwa kekerasan atau suasana permusuhan itu bisa terjadi di dalam keluarga ketika istri diperlakukan sebagai hamba yang harus dibenani dengan segala macam pekerjaan. Sekian sering kita juga menjadikan anak-anak kita sebagai musuh kita yang paling dekat ketika kita memaksa mereka mengiktui kehendak kita atau kita sebagai orangtua kurang memperhatikan masa depan anak-anak kita. Juga bukan tidak mungkin kita memusuhi diri kita sendiri ketika kita merusakkan alam lingkungan ini secara tidak bertanggung jawab. Tanpa kita sadari bahwa hidup kita manusia masa ini banyak yang memushi dirinya sendiri. Lihat saja, ketika bencana banjir terjadi manusia tidak menyadari bahwa banjit terjadi karena hutan penyangga dan persapan air hujat telah ditebang. Sumur-sumur air minum kering karena ulah manusia sendiri yang menggundulkan bukit dan gunung.

Kalau Yesus menuntut kita untuk mencintai musuh maka itu dengan sendirinya Yesus yang sama menuntut kita untuk mencintai diri kita, keluarga kita, anak-anak kita dan lingkungan alam kita. Kalau Paulus meminta kita untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan itu artinya kita harus lebih banyak berbuat baik mulai dari orang yang paling dekat dengan kita, lingkungan kita. Tema bulan kitab suci yang kita buka hari ini sungguh menjadi ajakan buat kita semua untuk menghentikan pelbagai perbauatan dan tindakan yang bercorak kekerasan mulai dari keluarga kita dan masyakat kita.Tema bulan kitab suci tahun ini mengajak kita untuk membongkar ring-ring tinju yang kita bangun di dalam keluarga kita, yang memungkinkan anggota keluarganya berlaku sebagai petinju yang melakukan kerasan. Kalau kisah-kisah yang saya angkat tadi masih kita temukan dalam hidup kita, itu artinya kita masih mempertahankan ring-ring tinju di kelarga kita.

Semut biasanya lari menghindar ketika mencium bau racun yang keras dan tajam, tetapi semut yang sama akan mendekati madu yang manis. Kekerasan kita akan membuat kita ditinggalkan orang tetapi kalau kita menjadikan diri kita sebagai tetesan manus yang manis maka semut yang ganas pun akan mendekat dan mencintai kita.marilah kita maknai pesan bulan kitab suci ini dengan menjadikan hidup kita semanis madu untuk orang lain termasuk untuk orang yang membenci kita. Hanya dengan inilah kita akan memaafkan orang yang membenci kita. Semoga.



Rm. Bonefasius Rampung, Pr

HATI TERKUDUS YESUS

PESTA AHATI YESUS MAHA KUDUS

Ul.7,6-11 1Yoh.4,7-16 Mat.11,25-30

Jumat, 11 Juni 1999 Th.A1

Paroki St.Yoh.Rasul Pringwulung



Buka

Hari ini kita rayakan pesta Hati Yesus yang mahaku¬dus. Kesadaran akan kebaikan hati Allah, yang tam¬pak dalam hidup Yesus, telah menjadi latar belakang munculnya pesta ini. Sebagai manusia Yesus hidup di antara kita dan mengalami suka duka kehidupan dunia manusia. Dalam kemanusiaan-Nya itu Ia menjadi perantara dan penebus semua orang. Hati-Nya menunjuk kepada cinta kasih, keakraban, keramahtamahan, keter¬bukaan orang. Kita takkan memahami se¬penuhnya arti karya Tuhan terhadap kita masing¬masing tanpa adanya figur yang memiliki hati.. Pada hari raya ini kita mau bersyukur guna menanggapi cinta kasih Allah, yang telah menaruh cinta kasih kepada kita.



Renungan

Kalau saja kita meluangkan waktu untuk mencermati pelbagai pembicaraan berkaiatan dengan kehidupan keagamaan maka kita selalu dihadapkan dengan satu topik yang membosankan. Topik yang membosankan itu lagi-lagi dikedepankan pada hari ini bagi kita semua. Topik itu tidak lain adalah masalah Kasih. Ada pelbagai cara orang menjelaskan hakekat kasih itu dalam kehidupan keagamaan. Namun penjelasan yang paling sempurna disampaikan dalam bacaan hari ini. Surat santo Yohanes tadi membeberkan lukisan, deskripsi perihal hakikat Kasih itu. Yohanes telah merumuskan dengan tepat pengertian tentang kasih itu. Ia menulis kalimat yang kaya arti dan sarat makna “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah melainkan Allah yang telah mengasihi kita dengan mengutus putraNya demi pendamaian dosa-dosa kita” Yang ditekankan bukan soal manusia melainkan dorongan dan inisiatif Allah.

Inisiatif Allah menghadirkan kasih tampak dalam sikap yang lemah lembut dan rendah hati. Yesus adalah penghadiran, representasi kelemahlembutan dan kerendahan hati Ilahi. Dan Kasih atau cinta itu dekat sekali dengan hati. Karena itu tak menegehrankan kalau orang ditinggal pergi sang Kekasih yang sakit bukan kepala tetapi hati. Kalau cinta ditolak yang gelap bukannya mata tetapi hati menjadi gelap. Kalau Cinta dikianati yang hancur bukannya badan tepai hati. Cinta atau kasih adalah soal Hati. Kasih dan cinta bukannya turun dari langit melainkan bersemi dari hati untuk kembali ke hati. Karena itu kebaikan hati itu tak bisa diperintahkan lewat peraturan dan hukum; belaskasihan tidak bisa direkaya, cinta tidak bisa dijual atau dibeli di supermarket.

Hati yang lemah lembut dan rendah adalah permata yang memantulkan cahaya dalam kehgelapan. Dan Hati Yesus adalah permata Allah yang menerangi kegelapan perjalanan manusia. Hati Yesus menjadi barang paling berharga untuk keselamatan jiwa, tidak dapat dibeli dengan uang; tidak bisa dibayar dengan emas. Manusia hanya bisa menerimanya sat Yesus bersabda: "Marilah kepadaku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu". Ini adalah Sabda Injil yang sangat berharga. Pada Hati Yesus, kita menemukan sumber kebaikan, perhatian, pengertian, belaskasih, harapan dan cinta. Itulah janji Agung dan berita pelepasan buat orang percaya. Yesus satu-satunya orang yang tidak memiliki rasa benci. Hanya ada seorang manusia yang baik, yaitu Dia yang disalibkan!" Dia adalah sumber belaskasih yang tak habis¬-habisnya; Dia adalah sumber cinta ilahi dan harapan yang abadi; dari hatiNya yang ditikam terpancarlah Kasih Allah.

Hari ini kita secara pribadi dan secara abersama mendapat sebuah surat Undangan dari Yesus untuk datang belajar, menerima, menimba mengetahuan tentang cinta, tentang kasih pada sumbernya yaitu pada HatiNya yang Mahakudus. Diundang untuk belajar bersikap lemah lembut dan semakin rendah hati. Hati yang lemah lembut dan rendah adalah tempat subur bagi Kasih Allah. Kita diundang dengan segala situasi kita. Beban kehidupan apapun bentuk dan modelnya boleh kita bawa untuk mendapat keringanan dan pelepasan. Mudah-mudahan