Wednesday, August 7, 2013

MINGGU II ADVENT TAHUN A

Hari Minggu Pertama Masa Adventus Tahun A.

Yes.2,1-5; Rom.13,11-14; Mat. 24,37-44





Seturut aturan liturgi Gereja, mulai hari ini kita memasuki masa penantian / masa adventus. Kata adventus ini sering kita dengar. Adventus ini berasal dari kata Latin artinya kedatangan. Kita menantikan kedatangan. Kedatangan yang dimaksudkan itu adalah kedatangan Tuhan. Jadi kita menantikan kedatangan Tuhan.

Ada tiga makna Adventus Pertama, Makna masa lampau. Kita mau memperingati kelahiran Yesus Kristus pada masa lampau di Betlehem. Kita mau memperingatinya kembali, seperti kita memperingati hari ulang tahun kelahiran kita masing-masing. Supaya Kelahiran Kristus sebagai Juru selamat, mempunyai makna untuk iman kita maka perlu waktu-waktu khusus untuk mempersiapkan diri.

Makna yang kedua, Makna masa kini, yakni kita mau disadarkan kembali bahwa sebenarnya kedatangan Tuhan tidak hanya sekali terjadi.Secara historis memang terjadi 2000 tahun yang lampau di Betlehem negeri Palestina , tetapi sebenarnya setiap waktu, Tuhan datang kepada kita, hanya kita kurang menyadarinya, mungkin karena kita terlalu sibuk, terlena dengan kegiatan kita ; cari duit, cari hidup, cari kekayaan, cari kekuasaan, cari kesenangan sendiri lalu lupa memberi tempat kepada Tuhan, Tuhan seolah-olah berada jauh dan sibuk dengan diriNya sendiri dan kitapun sibuk dengan diri kita sendiri dan masing-masing kita tidak menghiraukan satu-sama lain. Karena itu dalam masa khusus ini kita mau menyadarinya kembali bahwa Tuhan itu senantiasa emmanuel “selalu beserta kita” Hanya kita yang tidak beserta Dia.

Makna yang ketiga dari adventus adalah Makna masa depan dimana di masa depan Tuhan datang kembali untuk membawa kita ke dalam kerajaanNya seperti yang kita dengar dalam bacaan pertama tadi, di mana Tuhan akan mengumpulkan segala bangsa dalam damai abadi dalam kerajaanNya.

Dan waktu kedatangan kembali itu kita tidak tahu, kita tidak tahu kapan dan saatnya, apakah sudah dekat atau masih lama. Kitab Suci tidak menyebutnya secara pasti kapan waktunya terjadi. Kitab Suci hanya menyebutkan supaya berjaga-jaga dan bersiap-siap. Karena itu hakekat atau inti dari masa adventus adalah masa berjaga-jaga. Berjaga-jaga dan bersiap-siap ini penting, karena menyangkut nasib, masa depan kita sendiri. Kalau tidak berjaga-jaga maka akan merugikan diri kita sendiri dan kita akibatnya ditanggung sendiri. (Saya membaca di surat khabar dan saya dengar banyak cerita dari orang bahwa di Kota Yogya ini banyak terjadi kasus kehilangan sepeda motor atau mobil. Karena itu polisi maupun teman-teman kita selalu memperingatkan supaya hati-hati, selalu waspada dan berjaga-jaga. Apabila lengah tentu resikonya ditanggung sendiri.) Jadi betapa pentingnya makna berjaga-jaga.

Dalam hal keselamatan pun demikian, kepada kita selalu diingatkan supaya berjaga-jaga. Masa Adventus pun adalah masa kita diingatkan supaya berjaga-jaga menantikan kedatangan Tuhan, sebab kedatangan Tuhan itu, menurut kitab suci seperti kedatangan maling motor, berlangsung begitu cepat dan terjadi pada waktu yang tidak disangkakan. Bila tidak berjaga-jaga maka kita akan kecolongan. Tentu kita tidak mau kecolongan dalam hal keselamatan.

Apa yang dimaksudkan dengan berjaga-jaga?. Apakah tidak boleh tidur, apakah tidak boleh istirahat? Apakah sepanjang malam kita harus berada di pos ronda? untuk menantikan kedatangan Tuhan itu?. Saya kira tidak demikian. Berjaga-jaga yang dimaksudkan Yesus dalam Injil tadi adalah sikap mawas diri, sikap tidak lupa diri, sikap tidak terlena. Sikap-sikap ini (mawas diri, sikap tidak lupa diri, sikap tidak terlena) ini penting dalam menyambut kedatangan Tuhan? Sebab sikap-sikap seperti ini adalah sikap-sikap anak Allah. Dan menurut iman kita, kita adalah anak Allah. Karena kita anak Allah maka menurut St. Paulus dalam bacaan kedua, harus hidup seperti siang hari, maksudnya menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan. Dalam bacaan kedua tadi, disebutkan bebebarapa perbuatan kegelapan seperti mencari kesenangan jasmani, hidup dalam perselisihan, dan iri hati dll. (kita bisa tambahkan sendiri). Dan st. Paulus meminta untuk meninggalkan semuanya itu dan mengenakan senjata terang. Itu berarti seruan adventus/ seruan berjaga-jaga, tidak lain suatu seruan atau ajakan untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Hal kedua yang perlu kita sadari bahwa berjaga-jaga itu sifatnya aktif. Aktif menunggu, aktif menanti bukan pasif, diam menunggu, diam menanti. Aktif menunggu, aktif menanti maksudnya dalam menantikan kedatangan Tuhan, kita tidak menanti tok, tidak menunggu tok tetapi mengisinya dengan kegiatan atau perbuatan, aktivitas yang bermakna, aktivitas yang sarat makna. Bukan diam tanpa aktivitas, diam tidur-tiduran sambil menunggu akhir zaman ( Dulu pernah ada satu sekte dalam agama kristen, yang mengajarkan: akhir jaman sudah dekat, kita tidak pelu kerja lagi, kita diam menunggu di rumah masing-masing dan berdoa., bukan itu yang dimaksudkan berjaga-jaga, ). Berjaga-jaga yang dimaksudkan Yesus adalah kita tetap aktif dengan kegiatan-kegitatan kita asalkan kegiatan itu bermakna, mengarahkan kita untuk lebih dekat dengan Tuhan dan dengan sesama. Kalau demikian sebenarnya tidak ada persiapan khusus terhadap kedatangan Tuhan, asalkan kita setia dan mawas diri mengisi hari-hari hidup kita. Itulah persiapan kita dalam menantikan kedatangan Tuhan.

Selamat memasuki masa adventus, semoga dalam mempersiapkan kedatangan Tuhan ini kita tidak hanya menekankan perayaan kedatangan Kristus pada masa lampau tetapi terutama menyadari kedatangan Kristus masa kini dalam keseharian hidaup kita dan mempersiapkan hidup kita menyongsong kedatang Kristus masa depan. Dalam hal menantikan kedatangan Kristus masa depan kita menantikan kedatangan-Nya dalam keadaan berjaga-jaga, mawas diri, tidak lupa diri, tidak terlena tetapi mengisinya dengan hidup yang bermakna, menjauhkan perbuatan kegelapan, menciptakan hidup yang damai , tempat tidak ada lagi yang mengangkat tombak dan pedang untuk berperang melawan sesama sebab barang-barang itu telah dilebur menjadi pisau bajak. Mari kita berjalan dalam terang Tuhan.

MINGGU I ADVENT TAHUN A

Hari Minggu Pertama Masa Adventus Tahun A.

Yes.2,1-5; Rom.13,11-14; Mat. 24,37-44





Seturut aturan liturgi Gereja, mulai hari ini kita memasuki masa penantian / masa adventus. Kata adventus ini sering kita dengar. Adventus ini berasal dari kata Latin artinya kedatangan. Kita menantikan kedatangan. Kedatangan yang dimaksudkan itu adalah kedatangan Tuhan. Jadi kita menantikan kedatangan Tuhan.

Ada tiga makna Adventus Pertama, Makna masa lampau. Kita mau memperingati kelahiran Yesus Kristus pada masa lampau di Betlehem. Kita mau memperingatinya kembali, seperti kita memperingati hari ulang tahun kelahiran kita masing-masing. Supaya Kelahiran Kristus sebagai Juru selamat, mempunyai makna untuk iman kita maka perlu waktu-waktu khusus untuk mempersiapkan diri.

Makna yang kedua, Makna masa kini, yakni kita mau disadarkan kembali bahwa sebenarnya kedatangan Tuhan tidak hanya sekali terjadi.Secara historis memang terjadi 2000 tahun yang lampau di Betlehem negeri Palestina , tetapi sebenarnya setiap waktu, Tuhan datang kepada kita, hanya kita kurang menyadarinya, mungkin karena kita terlalu sibuk, terlena dengan kegiatan kita ; cari duit, cari hidup, cari kekayaan, cari kekuasaan, cari kesenangan sendiri lalu lupa memberi tempat kepada Tuhan, Tuhan seolah-olah berada jauh dan sibuk dengan diriNya sendiri dan kitapun sibuk dengan diri kita sendiri dan masing-masing kita tidak menghiraukan satu-sama lain. Karena itu dalam masa khusus ini kita mau menyadarinya kembali bahwa Tuhan itu senantiasa emmanuel “selalu beserta kita” Hanya kita yang tidak beserta Dia.

Makna yang ketiga dari adventus adalah Makna masa depan dimana di masa depan Tuhan datang kembali untuk membawa kita ke dalam kerajaanNya seperti yang kita dengar dalam bacaan pertama tadi, di mana Tuhan akan mengumpulkan segala bangsa dalam damai abadi dalam kerajaanNya.

Dan waktu kedatangan kembali itu kita tidak tahu, kita tidak tahu kapan dan saatnya, apakah sudah dekat atau masih lama. Kitab Suci tidak menyebutnya secara pasti kapan waktunya terjadi. Kitab Suci hanya menyebutkan supaya berjaga-jaga dan bersiap-siap. Karena itu hakekat atau inti dari masa adventus adalah masa berjaga-jaga. Berjaga-jaga dan bersiap-siap ini penting, karena menyangkut nasib, masa depan kita sendiri. Kalau tidak berjaga-jaga maka akan merugikan diri kita sendiri dan kita akibatnya ditanggung sendiri. (Saya membaca di surat khabar dan saya dengar banyak cerita dari orang bahwa di Kota Yogya ini banyak terjadi kasus kehilangan sepeda motor atau mobil. Karena itu polisi maupun teman-teman kita selalu memperingatkan supaya hati-hati, selalu waspada dan berjaga-jaga. Apabila lengah tentu resikonya ditanggung sendiri.) Jadi betapa pentingnya makna berjaga-jaga.

Dalam hal keselamatan pun demikian, kepada kita selalu diingatkan supaya berjaga-jaga. Masa Adventus pun adalah masa kita diingatkan supaya berjaga-jaga menantikan kedatangan Tuhan, sebab kedatangan Tuhan itu, menurut kitab suci seperti kedatangan maling motor, berlangsung begitu cepat dan terjadi pada waktu yang tidak disangkakan. Bila tidak berjaga-jaga maka kita akan kecolongan. Tentu kita tidak mau kecolongan dalam hal keselamatan.

Apa yang dimaksudkan dengan berjaga-jaga?. Apakah tidak boleh tidur, apakah tidak boleh istirahat? Apakah sepanjang malam kita harus berada di pos ronda? untuk menantikan kedatangan Tuhan itu?. Saya kira tidak demikian. Berjaga-jaga yang dimaksudkan Yesus dalam Injil tadi adalah sikap mawas diri, sikap tidak lupa diri, sikap tidak terlena. Sikap-sikap ini (mawas diri, sikap tidak lupa diri, sikap tidak terlena) ini penting dalam menyambut kedatangan Tuhan? Sebab sikap-sikap seperti ini adalah sikap-sikap anak Allah. Dan menurut iman kita, kita adalah anak Allah. Karena kita anak Allah maka menurut St. Paulus dalam bacaan kedua, harus hidup seperti siang hari, maksudnya menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan. Dalam bacaan kedua tadi, disebutkan bebebarapa perbuatan kegelapan seperti mencari kesenangan jasmani, hidup dalam perselisihan, dan iri hati dll. (kita bisa tambahkan sendiri). Dan st. Paulus meminta untuk meninggalkan semuanya itu dan mengenakan senjata terang. Itu berarti seruan adventus/ seruan berjaga-jaga, tidak lain suatu seruan atau ajakan untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Hal kedua yang perlu kita sadari bahwa berjaga-jaga itu sifatnya aktif. Aktif menunggu, aktif menanti bukan pasif, diam menunggu, diam menanti. Aktif menunggu, aktif menanti maksudnya dalam menantikan kedatangan Tuhan, kita tidak menanti tok, tidak menunggu tok tetapi mengisinya dengan kegiatan atau perbuatan, aktivitas yang bermakna, aktivitas yang sarat makna. Bukan diam tanpa aktivitas, diam tidur-tiduran sambil menunggu akhir zaman ( Dulu pernah ada satu sekte dalam agama kristen, yang mengajarkan: akhir jaman sudah dekat, kita tidak pelu kerja lagi, kita diam menunggu di rumah masing-masing dan berdoa., bukan itu yang dimaksudkan berjaga-jaga, ). Berjaga-jaga yang dimaksudkan Yesus adalah kita tetap aktif dengan kegiatan-kegitatan kita asalkan kegiatan itu bermakna, mengarahkan kita untuk lebih dekat dengan Tuhan dan dengan sesama. Kalau demikian sebenarnya tidak ada persiapan khusus terhadap kedatangan Tuhan, asalkan kita setia dan mawas diri mengisi hari-hari hidup kita. Itulah persiapan kita dalam menantikan kedatangan Tuhan.

Selamat memasuki masa adventus, semoga dalam mempersiapkan kedatangan Tuhan ini kita tidak hanya menekankan perayaan kedatangan Kristus pada masa lampau tetapi terutama menyadari kedatangan Kristus masa kini dalam keseharian hidaup kita dan mempersiapkan hidup kita menyongsong kedatang Kristus masa depan. Dalam hal menantikan kedatangan Kristus masa depan kita menantikan kedatangan-Nya dalam keadaan berjaga-jaga, mawas diri, tidak lupa diri, tidak terlena tetapi mengisinya dengan hidup yang bermakna, menjauhkan perbuatan kegelapan, menciptakan hidup yang damai , tempat tidak ada lagi yang mengangkat tombak dan pedang untuk berperang melawan sesama sebab barang-barang itu telah dilebur menjadi pisau bajak. Mari kita berjalan dalam terang Tuhan.

MINGGU PASKA II TAHUN B

HARI MINGGU PASKA II Thn. B2. 23 April 2006

Kis 4:32 35; 1Yoh 5:1 6; Yoh 20:19 31

Paroki Santu Yosef Kisol



Antara Percaya dan Kebohongan

Buka

Cara hidup yang memisahkan diri dari kebersamaan biasanya menimbulkan sikap saling tidak percaya. Hidup tanpa sikap saling percaya seperti itu lebih banyak menimbulkan konflik kepentingan. Kisah dan cerita yang ditawarkan dalam bacaan-bacaan hari ini memberikan tekanan pada dimensi kebersamaan sebagai dasar untuk sikap saling percaya. Kesehatian dan kesejiwaan memungkinkan orang hidup dalam suasana damai dan penuh kasih. Yesus datang menghembuskan nafas kasih dan persaudaraan untuk melenyapkan kepalsuan dan kebohongan di antara manusia. Darahnya menjadi saksi atas cara hidup kita dan juga menuntut kita untuk memberikan kesaksian secara tepat dan benar. Kita telah dibangunkan dan dibangkitkan setelah merayakan paska. Dan kita sudah menjadi orang yang percaya. Itu artinya kita mau hidup secara benar. Kita mohonkan kekuatan Allah agar kita mampu membuktikan kemenangan kita dalam praktik hidup kita. Untuk itu kita akui kelemahan dan dosa kita..



Renungan

Dalam setiap perkara biasanya selalu ada orang yang berperan sebagai saksi. Orang yang berperan sebagai saksi dalam perkara biasanya diambil sumpahnya sebelum memberi kesaksian. Sumpah yang diucakpan saksi itu dimaksudkan agar ia memberi kesaksian yang benar dan jujur. Kesaksian yang jujur dan benar akan menjamin kemenangan dalam perkara apa saja. Beberapa hari lalu saya sempat menonton vcd tentang proses pengadilan terhadap Fabianus Tibo, Cs yang terjadi di pengadilan negeri Sulawesi., terkait Kasus Poso III. Seperti kita ketahui bersama Fabianus Tibo bersama dua temannya dijatuhi hukuman mati karena dinyatakan bersalah melakukan tindakan pembunuhan terhadap sejumlah warga dalam kerusuhan Poso. Dalam rekaman itu jelas terlihat beberapa orang yang tampil sebagai saksi bersumpah sebelum memberikan kesaksian. Dari kasus itu atau dari semua perkara orang menuntut keadilan yang harus dilahirkan dari kejujuran, ketulusan, keterbukaan. Dalam setiap perkara ada yang kalah ada yang memang. Yang menang belum tentu karena kesaksiannya benar dan jujur. Demikian juga sebaliknya. Pelbagai protes terhadap lembaga pengadilan di negeri kita muncul justru karena keputusan banyak yang berlawanan dengan nilai kebenaran dan kejujuran. Dunia kitapun telah menjadi tempat pertarungan kebohongan dengan kebohongan.

Kisah, cerita, wacana penipuan, manipulasi, kebohongan saat ini sudah menjadi makanan utama masyarakat di negara kita termasuk di wilayah kita. Banyak macam kebohongan yang menimpa masyakarakat kita saat. Minggu lalu, ketika pengadilan Negeri Ruteng memutuskan bahwa KPUD Manggarai kalah dalam kaitannya dengan gugatan perkara pilkada, spontan orang merasa ditipu dan dibohongi. Keputusan itu telah membuat ribuan warga gelisah dan cemas. Pelbagai pernyataan bernada cemas dan gelisah mulai bermunculan. Para pendukung dan tim sukses pun mulai menggalang kekuatan menggelar demonstrasi yang dibalas dengan aksi serupa. Orang sederhana biasanya selalu cepat menarik kesimpulan bahwa politik itu adik atau sadara dekatnya penipuan dan kebohongan. Politik sering disamkan saja dengan penipuan. Hasil akhirnya terjadi permusuhan dan saling sikut antarsesama dalam satu wilayah bahkan dalam satu keluarga. Penipuan dan pembohongan itu terus ditiup agar orang tidak lagi percaya kepada orang-orang tertentu. Di mana-mana orang menyebarkan kebohongan, penipuan dan manipulasi untuk kepentingan diri sendiri. Dan tentu kita semua tahu bagaimana reaksi kita kalau berhadapan dengan orang yang suka menipu, suka berbohong. Reaksi kita yang normal adalah tidak mau percaya, menolak untuk percaya. Ketidakpercayaan atau sikap tidak mau percaya adalah lawan untuk setiap kebohongan dan penipuan. Kita harus dan sepantasnya jangan percaya pada aneka bentuk pembohongan, penipuan atau maniplasi dalam segala bentuknya.

Firman Tuhan yang diperdengarkan kepada kita pada hari ini menuntut kita untuk percaya kepada apa yang benar dan menolak setiap kebohongan hasil olahan tangan-tangan gatal, hasil permainan lidah-lidah yang bercabang, hasil spekulasi pikiran dan otak yang menyesatkan manusia. Tuntutan untuk percaya dalam bacaan hari adalah tuntutan untuk mencari kebenaran dan mengatasi dusta dan kebohongan. Memperjuangkan kebenaran dan menolak kebohongan menuntut kita untuk menyamakan, mempersatukan pikiran dan kehendak. Sikap percaya hanya akan ada kalau orang memiliki kesamaan pandangan, kesamaan rasa, kesamaan semangat. Selama kita manusia merasa diri lebih dari orang lain; selama kita merasa diri harus berbeda dengan orang lain maka rasa saling percaya tidak mungkin terbangun dan bertumbuh dalam kehidupan kita. Saling percaya itu lahir dalam kebersamaan. Bukan muncul dalam kesendirian atau dalam keterpisahan dengan orang lain. Aspek kebersamaan atau dimensi kebersamaan merupakan syarat bagi sikap percaya.

Kisah para rasul dalam bacaan pertama tadi secara sangat jelas menekankan sikap saling percaya itu lahir dalam kebersamaan. Konsep sehati sejiwa yang disampaikan dalam bacaan percaya pada dasarnya adalah konsep yang menuntut manusia untuk hidup, ada bersama dalam kesetaraan. Kesehatian dan kesejiwaan di antara orang beriman menjadi identitas yang menentukan kita sebagai orang yang percaya. Dimensi kebersamaan yang menjadi jiwa dari sikap hidup orang percaya juga menjadi tanda bahwa manusia mampu memberikan kesaksian tentang Tuhan yang bangkit. Konsep yang sama sudah dikenal dalam masyarakat kita yang dirumuskan dalam ungkapan filosofis: muku ca puu neka woleng curup, nakeng ca wae neka woleng tae, ipung ca tiwu neka woleng wintuk. Kisah para rasul menggambarkan pola hidup jemaat perdana yang hidup dalam persekutuan dan dalam kebersamaan. Persekutuan dan kebersamaan yang terbentuk bagi jemaat perdana itu didasarkan pada kasih dan solidaritas. Kasih dan solidaritas itulah nilai yang mereka dapatkan dari Yesus yang hidup, mati lalu bangkit. Kebersamaan dan solidaritas dalam kasih sudah menjadi indentitas pengikut Kristus.

Membentuk hidup bersama dalam semangat solidaritas sebagai bukti kemuridan kita pada Yesus bukanlah hal mudah. Hidup bersama dalam kasih dan dalam semangat solidaritas membutuhkan perjuangan. Tidak mudah lagi bagi kita dan manusia zaman ini untuk membentuk suatu kebersamaan atau persekutuan seperti jemaat perdana. Untuk dapat hidup dalam persatuan dengan suasana kasih manusia atau kita harus mampu mengalahkan dunia. Dan dunia yang paling kecil, paling dekat tetapi paling sulit dikuasaiadalam diri kita sendiri. Diri kita dengan segala macam ambisi, cita-cita dan harapannya yang tinggi membuat kita sulit menguasai diri kita. Manusia yang tidak mampu menguasi dunia dirinya sendiri adalah manusia yang tidak datang dari Allah. Bacaan kedua tadi mengisyaratkan hal itu kepada kita. Setiap orang yang lahir dari Allah harus mengalahkan dunia dirinya. Dunia yang paling dekat dengan kita adalah diri kita sendiri. Dunia yang paling sulit dikalahkan adalah diri kita sendiri. Dunia yang paling sulit dibersihkan adalah dunia diri kita sendiri. Yohanes mencatat bahwa manusia yang lahir dari Allah dan mampu mengalahkan dunia adalah manusia yang percaya kepada Kristus. Itu artinya apa? Itu artinya kalau orang percaya kepada Kristus maka orang itu telah mengisi hidupnya dengan semangat Kristus. Begitu orang percaya kepada Kristus maka saat itulah manusia mengsongkan dirinya dan menerima Yesus dalam diri dan hidupnya. Dengan kata lain begitu manusia percaya akan Kristus maka segala segala unsur yang menguasai diri manusia ditaklukkan.

Percaya kepada Kristus itu tidak semudah yang kita ucapkan ketika kita membaharui janji baptis kita. Percaya kepada Kristus secara lebih rohani dan secara lebih konkret operasional berarti kita mau mematuhi segala perintah-Nya. Mau meneladani segala kebajikan yang pernah digelar Yesus. Mau hidup dalam kasih persaudaraan. Kemanagan manusia yang paling gemilang menurut bacaan kedua hari adalah hidup menurut perintah Tuhan. Dan hidup menuru perintah Tuhan merupakan buah dari iman. Yohanes menulis dan menunjukkan kepada kita: Inilah kemenangan yang mengalahkan dunia adalah iman kita. Iman akan Tuhan melalui kepatuhan manusia akan perintah Tuhan memungkinkan manusia hidup dalam kebenaran dan senantiasa berkemenangan. Percaya kepada Kristus melalui praktik hidup yang nyata berarti memberi kesaksian tentang kebenaran. Kita semua adalah manusia yang berkebenaran dan berkemenangan. Kita berkebenaran dan berkemenangan karena darah dan korban Kristus. Roh Kristus sebagai kebenaran abadi telah membantu kita untuk bersaksi tentang kebenaran, tentang kejujuran. Roh Kristus yang kita terima akan mengalahkan segala bentuk kepalsuan, penipuan, kebohongan yang menguasai hidup manusia saat ini.

Mencari orang yang mudah percaya zaman ini sangatlah sulit. Mengapa? Ya karena dunia kita memang sudah dikuasai narasi dan bahasa penuh kebohongan. Sikap tidak mudah percaya ini menjadi penyakit keturunan yang kita wariskan dari seorang yang bernama Thomas. Injil menampilkan kisah kehadiran Yesus di tengah-tengah kerumuman para murid. Yesus datang dalam kebersamaaan para murid yang masih ketakutan. Dalam kebersamaan seperti itu Yesus hadir dan memberi Damai kepada mereka yang ada bersama. Kebersamaan mereka itu mendamaikan. Mereka diberi damai untuk dibagikan kepada orang lain. Yesus berkata kepada mereka : Sama seperti bapa telah mengutus Aku membawa damia kepadamu, demikian juga hendaknya kami pergi membagikan damai untuk orang lain. Semua mereka yang berkumpul itu menerima damai dan mendapat tugas perutusan. Hanya Thomas yang tidak menerima damai itu. Ia tidak menerima, tidak mengalami, tidak menyaksikan Tuhan yang menampakkan diri setelah bangkit, karena memang dia memisahkan diri dari kebersamaan. Ia memisahkan diri dari persekutuan. Thomas membuat sesuatu yang lain. Artinya dia tidak lagi sehati dan sejiwa dengan kelompok murid lainnya.

Ketidakhadiran, keberpisahan Thomas dari persekutuan para murid ternyata melahirkan sikap yang baru dan berlawanan dengan kehidupan sebelumnya. Tohmas menjadi manusia yang tidak percaya akan kehadiran Tuhan. Thomas menjadi manusia yang tidak percaya lagi akan penyertaan Tuhan atas kehidupan para murid. Sebelumnya mereka semua termasuk Thomas percaya sungguh-sungguh akan Yesus yang mereka ikuti. Sebelumnya mereka semua mengakui Yesus sebagai putra Allah setelah mengalami pelbagai tanda dan mukjizat. Thomas percaya hanya ketika ia berada dalam persekutuan. Begitu ia memisahkan diri, menjauhkan diri, mengambil jarak dari persekutuan itu, ia menjadi orang tidak percaya. Ia menganggap apa yang disampaikan murid lainnya sebagai kebohongan, penipuan. Ia menuntut bukti fisik. Tangannya harus masuk ke dalam luka dan lambung Yesus. Suatu bentuk ketidakpercayaan yang paling besar.

Apa yang dapat kita renungkan dari sikap tidak percaya rasul Thomas ini? Mungkin tiga hal ini yang bisa kita petik dari kisah Thomas hari ini. Pertama ketidakhadiran seseorang dalam satu peristiwa yang penting bisa melahirkan masalah untuk kemudian hari. Banyak masalah dalam hidup kita dan dalam masyarakat muncul kalau orang yang dulu tidak hadir atau belum lahir dalam peristiwa atau kesepakatan tertentu kemudian bertindak seolah-olah hadir atau sudah lahir. Dalam situasi seperti itu yang dikatakan hanyalah kebohongan dan tipu daya. Di san akan lahir para saksi dusta yang memberi keterangan dan kesaksian yang palsu.

Kedua, ketidakhadiran atau pemisahan diri dari kebersamaan membuat orang tidak percaya. Para murid lain memberikan kesaksian dan melaporkan secara jujur tentang apa yang mereka lihat, mereka saksikan, mereka alami, mereka terima ketika Yesus menampakkan diri. Mereka adalah saksi yang benar karena melihat dan hadir tetapi Thomas tetap tidak mau percaya. Dalam pengalaman hidup kita, dewasa ini banyak saksi sejarah yang sungguh hadir, yang terlibat dalam satu peristiwa, kesepakatan, perjanjian, pernyataan suaranya tidak lagi didengar apalagi untuk dipercaya. Mereka memberikan kesaksian secara lisan seperti para murid tetapi manusia pintar dewasa ini memutar lidahnya, memperpanjang lidah mereka dengan menuntut bukti tertulis seperti Thomas yang menuntut supaya tangannya dimasukkan ke dalam luka-luka Yesus. Ketidakpercayaan kepada saksi sejarah adalah sumber segala masalah dalam kehidupan kita. Zaman kita saat ini hanya percaya dan menerima kesaksian yang tertulis hitan atas putih meskipun banyak juga penipuan dokumen.

Ketiga, Kisah Injil hari ini terjadi seminggu setelah kebangkitan, setelah darah Yesus ditumpahkan untuk mengutuhkan, meneguhkan perjanjian baru antara Allah dan manusia. Itu artinya darah menjadi saksi perjanjian. Dalam perjanjian lama perjanjian antara manusia dengan Yahwe diteguhkan dalam darah binatang seperti kambing, atau domba, dalam perjanjian baru itu diteguhkan oleh darah Yesus sendiri. Darah Kristus adalah darah perjanjian yang mahal. Darah itu menuntut semua kita untuk hidup dalam kepercayaan dan dalam kebenaran. Bukan hidup dalam kebohongan, penipuan dan kepalsuan. Perjanjian dengan mengorban binatang lebih besar tuntutan moral daripada perjanjian dengan kata-kata yang tertulis. Apa konsekuensinya? Kalau orang membuat perjanjian/kesepakatan dengan darah binatang (ayam, kambing, babi) itu artinya kalau orang kemudian mengingkari, mengangkangi perjanjian itu maka darah binatang itu akan menuntutnya dan akan mendapat nasib seperti binatang perjanjian itu. Perjanjian dengan darah binatang adalah sumpah yang memilki sangsi moral paling tinggi. Dan kita, Darah Yesus telah meneguhkan kita.

Darah Yesus tertumpah untuk kita. Darahnya adalah darah perjanjian yang menuntut kita untuk hidup dalam kebenaran. Memberikan kesaksian secara benar. Hidup dan bersaksi secara benar berarti kita sunguh-sunguh percaya akan Kristus yang bangkit, yang senantiasa menawarkan damai untuk kita. Marilah kita belajar untuk berkata benar, untuk hidup secara benar sambil melepaskan kepalsuan, kebohongan, pengingkaran kita. Amin



Kisol, 22 April 2006

Rm. Bone Rampung, Pr

MINGGU KITAB SUCI

1Sam.15,1-3,7-23; Rom.12,17-21; Mat.5,38-48

Minggu Kitab Suci Nasional, 3 September 2006

Stasi Jawang dan Longko Paroki Borong



Buka

Saudara-saudara terkasih dalam Kristus, dunia sekitar kita te¬lah membuat kita sering kali merasa ketakutan. Takut karena kita tidak merasa aman, sekalipun kita berada di tempat kita sendiri, di negeri kita sendiri. Rasa tidak aman ini timbul akibat makin banyaknya praktik-praktik kekerasan. Setiap hari kita disuguhi sajian kekerasan, entah lewat media massa, maupun lewat percakapan. Mungkin kita sendiri menjadi saksi mata atau bahkan menjadi korbannya. Orang merusak dan menghancurkan bangunan hanya untuk mengungkapkan ketidak setujuannya. Orang membuat kekacauan berdarah hanya untuk menyembunyikan kesalahannya sendiri. Orang membunuh karena ingin memiliki harta atau hanya karena tidak senang dengan orang lain. Pada Bulan Kitab Suci Nasional tahun ini kita akan merenung¬kan bagaimana menghadapi praktik kekerasan yang terjadi di du¬nia ini menurut kehendak Tuhan dan bagaimana kita dapat terli bat secara aktif untuk menghentikan praktik-praktik kekerasan di negeri ini.



Renungan

Mengawali renungan pada hari Minggu Kitab Suci Nasional hari ini, izinkanlah saya menyampaikan beberapa cerita nyata yang saya alami dan saksikan sendiri:

1. Beberapa bulan lalu saat liburan saya sempat menghadiri sebuah pesta Sekolah. Menjelang pagi hari terjadi keributan karena sekelompok pemuda dari kampung tetangga masih merasa dendam terhadap peristiwa beberapa tahun sebelumnya yang terjadi dalam suatu pesta di tempat lain. Kekacauan menjelang pagi hari itu terjadi ketika seorang pemuda menari sambil mengisap rokok. Percikan bunga apinya mengenai pakaian seorang pemudi dari kampung tetangga. Peristiwa itu membangkitkan dendam lama pada kelompok kampung tetangga (kekerasan tingkah laku)

2. Bulan lalu di salah satu ruas jalan kota Kupang saya menyaksikan sebuah bemo kota terbalik ketika harus menghindari tukang ojek yang lari memotong jalan. Tukang ojek itu dihajar sampai babak belum oleh semua penumpang bemo kota yang terbalik itu.

3. Minggu lalu dalam perjalanan dari Maumere ke Kisol, saya sempat mampir di tempat pengisian bahan bakar di Ndao Ende. Ketika mobil kami berhenti untuk mengisi solar dua orang anak berusia 6 dan 7 tahun mendekati jendela mobil sambil menawarkan banyak barang jualan seperti biskuit, telur rebus, kacang goreng, aqua, manisan dan lain-lain. Saya bertanya kepada dua anak yang kebetulan kaka beradik itu perihal alasan mereka berjualan seperti itu. Mereka menceritakan bahwa orangtua mereka memaksa dua anak itu untuk menjual barang sehingga menambah pendapatan keluarga. Dalam hati saya berpikir, anak kecil seperti ini, seharusnya masih menikmati masa senangnya sebagai anak tetapi tepaksa harus mencari nafkah untuk keluarga.

4. Beberapa hari lalu ketika turun dari Ruteng menuju Kisol, begitu lewat Sok saya melihat seorang ibu yang memikul tiga jerigen di punggungnya sambil menggendong anaknya yang kecil dan tangannya menyeret seekor sapi. Di belakang sapi itu ada seorang Bapak yang saya duga sebagai suaminya. Bapa itu hanya mengenakan parang (selek kope wa awkn) dan handuknya melilit di leher. Ia hanya menuntun seorang anaknya yang berusia 4 tahun.

5. Suatu ketika seorang ibu keluarga mendatangi saya dan menceritakan penderitaan yang dialminya di dalam keluarga. Dia menyampaikan bahwa di dalam keluarga ia diperlakukan secara kasar oleh suaminya. Rumah tangganya dirasakannya sebagai ring tinju tempat pertarungan. Dan sang istri selalu kalah karena sang suami bertindak sekaligus sebagai petinju dan wasitnya.

6. Suatu ketika seorang suster mengisahkan tentang seorang gadis yang lari dari rumahnya dan berlindung di sebuah biara. Gadis itu lari karena sering dimarah oleh orangtuanya dengan kata-kata kasar.

7. Beberapa hari lalu, seorang Bapa di Kisol mengeluh karena sumur air mereka mendadak kering menyusul musim kering beberapa bulan belakangan ini. Sumur yang berada di lereng poco Lando itu kering karena memang semua pohon di Poco Lando telah ditebang oleh manusia yang serakah terhadap lingkungan.

8. Dua Minggu lalu di salah satu panti asuhan di Maumere, seorang anak pingsan di tendang temannya. Ketika ditanya apa sebabnya ia menendang temannya sampai pingsan, si anak menjawab bahwa mereka mau praktikan jurus-jurus perkelahian yang ditayangkan di televisi.



Bacaan-bacaan yang dipakai pada hari Minggu Kitab Suci Nasional, hari ini berbicara tentang KEKERASAN. Tema Bulan Kitab Suci tahun ini berisi perintah yang tegas dan jelas bagi kita yaitu Hentikan Kekerasan! Dan Kalahkanlah kejahatan dengan Kebaikan. Kekerasan yang dimaksudkan dalam Tema bulan Kitab suci tahun itu dapat dipahami secara luas. Kekerasan itu tidak selalu berarti tindakan membunuh secara langsung seperti yang terjadi dalam aneka perang tanding. Tanpa kita sadari kekrasan itu menyertai perjalanan hidup manusia sejak zaman dulu hingga zaman kita sekarang ini. Kisah yang digambarkan dalam kitab pertama Samuel hari ini memberikan kita gambaran betapa kekerasan itu telah berlangsung sejak perjanjian lama atau zaman kehidupan para nabi. Samuel yang ditentukan Allah untuk mengurapi Saul sebagai raja merasa agak kecewa karena raja Saul berjuang melawan bangsa yang menolak Tuhan dengan cara kekerasan. Sikap seperti ini jelas berlawanan dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Saul yang telah mengalahkan banyak bangsa dengan kekerasan itu kemudaian melupakan pesan Samuel agar sang raja tetap patuh dan taat bersembah kepada Tuhan. Yang terjadi justru sebaliknya, sang raja tergoda untuk mengikuti perilaku kehidupan bangsa yang ditaklukan. Saul melepaskan Yahwe lalu melakukan praktik tidak terpuji karena ia mempersembahkan kambing dan domba hasil jarahan dari bangsa Amalekh.

Bacaan pertama memberi gambaran tentang kekerasan melawan kekerasan, kejahatan melawan kejahatan. Dalam bacaan pertama kita menemukan prinsip gigi ganti gigi dan mata ganti mata. Dalam konteks perjanjian Baru prinsip seperti itu harus ditinggalkan. Para pengikuti Kristus harus meninggalkan vcara dan sikap hidup lama yang penuh kekerasan dan balas dendam dengan pola perilaku yang baru saling memaafkan. Gagasan baru itulah yang ditegaskanm Paulus dalam bacaan kedua tadi. Jemaat kota Roma yang terpancing melakukan tindaka kekerasan, diingatkan Paulus untuk menggunakan cara yang lebih mulia, lebih santun dan lebih sesuai dengan ajaran Kristus. Nasihat Santu Paulus tadi jelas namun sulit untuk kita praktikkan dalam hidup. Ada kalimat penting yang harus kita ingat dari bacaan kedua tadi dan itu adalah pesan paulus untuk kita semua yang berbunyi: Lawanlan Kejahatan dengan kebaikan. Perintah Paulus ini memang amat mulia tetapi pasti sukar untuk dipraktikkan.

Kata-kata Paulus ini sebenarnya mau memberikan ciri dan citra rasa kehidupan orang yang beriman kepada Kristus. Para pengikut Kristus dalam pandangan Paulus haruslah orang yang selalu mendahulu kebaikan berhadapan dengan kejahatan. Itu artinya, tindakan anarkhis, brutal dan yang merusakan, bukanlah panggilan dan ciri-ciri orang Kristen. Para pengikut Kristus yang sama juga harus bebas dari aneka bentuk kekerasan. Dengan kaata lain, kalau orang beriman akan Kristus itu berlaku kasar, kejam, dendam terhadap sesaamanya berarti orang itu tidak menendengarkan nasihat Paulus untuk melawan kejahatan dengan kebaikan. Perintah itu kedengarannya mudah diucapkan tetapi sulit untuk dilaksanakan.

Prinsip mata ganti mata dan gigi ganti gigi juga dilarang Yesus sendiri. Hal inilah yang menjadi inti pesan injil Matius hari ini. Kekerasan melawan hanya akan melahirkan kekeran baru. Oleh krena itu, untuk menghindari kekerasan yang lebih besar Yesus menawarkan resep mujarab untuk kita. Yesus menawarkan jalan terbaru yang sulit dipahami tetapi harus dilalui setiap orang, setiap kita yang menjadi pengikut Kristus. Membenci musuh itu biasa tetapi mencintai dan mendoakan musuh itu hal yang luas biasa. Mengasihi diri sendiri dan orang yang kita sayangi itu biasa, tetapi kalau mengashi musuh dan lawan itu menjadi sesuatu yang luar biasa. Kita yang mau mengikuti Yesus harus memilih jalan yang luar biasa itu. Mengapa kita harus memilih jalan yang luas biasa itu? Alasannya disampaikan di dalam injil tadi. Mengasihi, mencintai, memaaf, serta mendoakan musuh itu nilai jaminan atau garansi untuk masuk surga sangat besar.

Semua cerita kecil yang saya sampaikan pada awal renungan ini membahasakan satu hal yang ada dan sering terjadi di dalam masyarakat kita. Semua cerita tadi mau mengatkan bahwa TINDAK KEKERASAN menguasai dan mewarnai semua kehidupan manusia. Dunia kita sekarang menjadi dunia yang lebih banyak menawarkan kekerasan. Kekeran itu nyata atau muncul dalam aneka wajah atau bentuk. Kekerasan yang dimaksudkan tidak selamanya berarti membunuh sesama seperti yang terjadi dalam perang tanding. Bunuh membunuh secara langsung jarang kita temui tetapi pembunuhan dalam bentuk yang lain selalu ada bahkan paling banyak kita lakukan dalam kehidupan harian kita. Hanya sedikit kita mendengar cerita tentang suami bunuh istri secara langsung. Kita kadang-kadang mengartikan kekerasan itu berarti membunuh. Kekerasan dan membunuh yang paling keji dan paling banyak justru yang dilakukan secara tidak langsung terhadap anggota keluarga kita, terhadap sesama anggota masyarakat, dan juga terhadap lingkungan kita.

Dalam hidup kita yang biasa, musuh kita sebenarnaya tidak berada jauh dari kehidupan kita. Kita sering tidak sadar bahwa bahwa dalam hidup ini kita sering menjadikan diri kita sebagai musuh sesama dan sebaliknya menjadikan sesama sebagai musuh. Dari cerita-cerita tadi nyata sekali bagi kita bahwa kekerasan atau suasana permusuhan itu bisa terjadi di dalam keluarga ketika istri diperlakukan sebagai hamba yang harus dibenani dengan segala macam pekerjaan. Sekian sering kita juga menjadikan anak-anak kita sebagai musuh kita yang paling dekat ketika kita memaksa mereka mengiktui kehendak kita atau kita sebagai orangtua kurang memperhatikan masa depan anak-anak kita. Juga bukan tidak mungkin kita memusuhi diri kita sendiri ketika kita merusakkan alam lingkungan ini secara tidak bertanggung jawab. Tanpa kita sadari bahwa hidup kita manusia masa ini banyak yang memushi dirinya sendiri. Lihat saja, ketika bencana banjir terjadi manusia tidak menyadari bahwa banjit terjadi karena hutan penyangga dan persapan air hujat telah ditebang. Sumur-sumur air minum kering karena ulah manusia sendiri yang menggundulkan bukit dan gunung.

Kalau Yesus menuntut kita untuk mencintai musuh maka itu dengan sendirinya Yesus yang sama menuntut kita untuk mencintai diri kita, keluarga kita, anak-anak kita dan lingkungan alam kita. Kalau Paulus meminta kita untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan itu artinya kita harus lebih banyak berbuat baik mulai dari orang yang paling dekat dengan kita, lingkungan kita. Tema bulan kitab suci yang kita buka hari ini sungguh menjadi ajakan buat kita semua untuk menghentikan pelbagai perbauatan dan tindakan yang bercorak kekerasan mulai dari keluarga kita dan masyakat kita.Tema bulan kitab suci tahun ini mengajak kita untuk membongkar ring-ring tinju yang kita bangun di dalam keluarga kita, yang memungkinkan anggota keluarganya berlaku sebagai petinju yang melakukan kerasan. Kalau kisah-kisah yang saya angkat tadi masih kita temukan dalam hidup kita, itu artinya kita masih mempertahankan ring-ring tinju di kelarga kita.

Semut biasanya lari menghindar ketika mencium bau racun yang keras dan tajam, tetapi semut yang sama akan mendekati madu yang manis. Kekerasan kita akan membuat kita ditinggalkan orang tetapi kalau kita menjadikan diri kita sebagai tetesan manus yang manis maka semut yang ganas pun akan mendekat dan mencintai kita.marilah kita maknai pesan bulan kitab suci ini dengan menjadikan hidup kita semanis madu untuk orang lain termasuk untuk orang yang membenci kita. Hanya dengan inilah kita akan memaafkan orang yang membenci kita. Semoga.



Rm. Bonefasius Rampung, Pr

HATI TERKUDUS YESUS

PESTA AHATI YESUS MAHA KUDUS

Ul.7,6-11 1Yoh.4,7-16 Mat.11,25-30

Jumat, 11 Juni 1999 Th.A1

Paroki St.Yoh.Rasul Pringwulung



Buka

Hari ini kita rayakan pesta Hati Yesus yang mahaku¬dus. Kesadaran akan kebaikan hati Allah, yang tam¬pak dalam hidup Yesus, telah menjadi latar belakang munculnya pesta ini. Sebagai manusia Yesus hidup di antara kita dan mengalami suka duka kehidupan dunia manusia. Dalam kemanusiaan-Nya itu Ia menjadi perantara dan penebus semua orang. Hati-Nya menunjuk kepada cinta kasih, keakraban, keramahtamahan, keter¬bukaan orang. Kita takkan memahami se¬penuhnya arti karya Tuhan terhadap kita masing¬masing tanpa adanya figur yang memiliki hati.. Pada hari raya ini kita mau bersyukur guna menanggapi cinta kasih Allah, yang telah menaruh cinta kasih kepada kita.



Renungan

Kalau saja kita meluangkan waktu untuk mencermati pelbagai pembicaraan berkaiatan dengan kehidupan keagamaan maka kita selalu dihadapkan dengan satu topik yang membosankan. Topik yang membosankan itu lagi-lagi dikedepankan pada hari ini bagi kita semua. Topik itu tidak lain adalah masalah Kasih. Ada pelbagai cara orang menjelaskan hakekat kasih itu dalam kehidupan keagamaan. Namun penjelasan yang paling sempurna disampaikan dalam bacaan hari ini. Surat santo Yohanes tadi membeberkan lukisan, deskripsi perihal hakikat Kasih itu. Yohanes telah merumuskan dengan tepat pengertian tentang kasih itu. Ia menulis kalimat yang kaya arti dan sarat makna “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah melainkan Allah yang telah mengasihi kita dengan mengutus putraNya demi pendamaian dosa-dosa kita” Yang ditekankan bukan soal manusia melainkan dorongan dan inisiatif Allah.

Inisiatif Allah menghadirkan kasih tampak dalam sikap yang lemah lembut dan rendah hati. Yesus adalah penghadiran, representasi kelemahlembutan dan kerendahan hati Ilahi. Dan Kasih atau cinta itu dekat sekali dengan hati. Karena itu tak menegehrankan kalau orang ditinggal pergi sang Kekasih yang sakit bukan kepala tetapi hati. Kalau cinta ditolak yang gelap bukannya mata tetapi hati menjadi gelap. Kalau Cinta dikianati yang hancur bukannya badan tepai hati. Cinta atau kasih adalah soal Hati. Kasih dan cinta bukannya turun dari langit melainkan bersemi dari hati untuk kembali ke hati. Karena itu kebaikan hati itu tak bisa diperintahkan lewat peraturan dan hukum; belaskasihan tidak bisa direkaya, cinta tidak bisa dijual atau dibeli di supermarket.

Hati yang lemah lembut dan rendah adalah permata yang memantulkan cahaya dalam kehgelapan. Dan Hati Yesus adalah permata Allah yang menerangi kegelapan perjalanan manusia. Hati Yesus menjadi barang paling berharga untuk keselamatan jiwa, tidak dapat dibeli dengan uang; tidak bisa dibayar dengan emas. Manusia hanya bisa menerimanya sat Yesus bersabda: "Marilah kepadaku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu". Ini adalah Sabda Injil yang sangat berharga. Pada Hati Yesus, kita menemukan sumber kebaikan, perhatian, pengertian, belaskasih, harapan dan cinta. Itulah janji Agung dan berita pelepasan buat orang percaya. Yesus satu-satunya orang yang tidak memiliki rasa benci. Hanya ada seorang manusia yang baik, yaitu Dia yang disalibkan!" Dia adalah sumber belaskasih yang tak habis¬-habisnya; Dia adalah sumber cinta ilahi dan harapan yang abadi; dari hatiNya yang ditikam terpancarlah Kasih Allah.

Hari ini kita secara pribadi dan secara abersama mendapat sebuah surat Undangan dari Yesus untuk datang belajar, menerima, menimba mengetahuan tentang cinta, tentang kasih pada sumbernya yaitu pada HatiNya yang Mahakudus. Diundang untuk belajar bersikap lemah lembut dan semakin rendah hati. Hati yang lemah lembut dan rendah adalah tempat subur bagi Kasih Allah. Kita diundang dengan segala situasi kita. Beban kehidupan apapun bentuk dan modelnya boleh kita bawa untuk mendapat keringanan dan pelepasan. Mudah-mudahan

MARIA DAN PENDIDIKAN

Renungan Rekoleksi Bulanan

Komunitas Seminari Pius XII Kisol

Di Kapela Seminari Kisol Sabtu, 29 Mei 2010





MENDISPOSISIKAN MARIA SEBAGAI PENDIDIK





1.Sekadar Pengantar

Tema rekoleksi yang ditawarkan kepada saya amat singkat “Maria dan Pendidikan”. Tema ini memang singkat tetapi terkait dengan dua isu raksasa perihal seorang tokoh iman dan perihal proses pemanusiaan manusia. Tema ini juga melahirkan sederetan pertanyaan antara lain: Maria itu sekolah di mana, tamat tahun berapa, berapa ijazah yang berhasil disandangnya, gelar akademik apa yang diberikan kepadanya? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini hampir pasti muncul dari kita-kita yang sering mengindentikkan pendidikan dengan sekolah. Kalau figur Maria digiring ke ranah pengertian pendidikan sebagai sesuatu yang identik dengan sekolah maka kita harus menutup rekoleksi ini sampai di sini karena kita tidak memilik referensi yang dijadikan titik pijakan untuk suatu pembicaraan yang meyakinkan. Kita tidak memiliki data tentang riwayat sekolah seorang perempuan yang bernama Maria. Karena itu agar tujuan rekoleksi ini mendarat secara tepat pada kesadaran rohani kita maka kita harus memaksa diri untuk membebaskan pikiran dan pemahaman kita yang sering mengidentikkan pendidikan dengan sekolah.

Membicarakan apalagi merenungkan figur Maria secara utuh membutuhkan waktu lama. Demikian pula membicarakan pendidikan tidak akan sempurna karena pendidikan itu terus berkembang seirama dengan kehidupan manusia. Oleh karena itu sebenarnya tidak mudah menguraikan wacana tentang Maria dan Pendidikan ini dalam satu jam rekoleksi.

Tema Rekoleksi kita yang singkat ini tentunya dipilih kemungkinan karena rekoleksi ini dibuat bulan Mei yang didaulat sebagai bulan berdevosi kepada Maria sekaligus bulan kita mengisi kegiatan bernuansa akademik. Lebih dari itu saya kira tema ini juga disinkronkan dengan Tahun Peduli Pendidikan yang digulati untuk digeluti gereja nasional (KWI) dan juga gereja lokal keuskupan Ruteng. Semua itu sudah kita maknai dalam bentuk yang katekese pendidikan, seminar pendidikan, novena pendidikan. Rasa-rasanya omong tentang Pendidikan sudah overload dan semakin banyak mengisi ruang nalar kita.

Menyadari keluasan dua isu tentang Maria dan tenang Pendidikan yang tersurat pada tema yang ditawarkan ini, saya hanya berniat menyoroti Pola tindak Maria yang bisa dimaknai sebagai tindakan bernuansa mendidik (edukatif) dan keterkaitannya dengan arah hidup kita sebagai orang terpanggil. Karena itu saya menawarkan satu rumusan yang menjuduli permenungan kita secara baru dalam kalimat ini: “INDIKASI EDUKATIF KEHIDUPAN MARIA DAN RELEVANSINYA BAGI KEHIDUPAN ORANG TERPANGGIL”.

Ada dua variabel penting dalam kalimat ini (1) Indikasi Edukatif kehiduapan Maria (2) Kehidupan orang-orang terpanggil. Dua variabel ini coba dihubungkan dengan dimensi saling pengaruh peri kehidupan Maria dan peri kehidupan orang-orang terpanggil. Dengan demikian sesungguhnya kita mau melihat bagaimana kita membahasakan kehidupan kita dalam terang bahasa kehidupan Maria. Untuk itu saya mengajak kita semua supaya memusatkan permenungan ini pada teks-teks kitab suci yang menampilkan figur Maria.



2. Rujukan Indikasi edukatif kehidupan Maria

Kita sungguh menyadari bahwa mencari rujukan yang tepat tentang figur Maria yang dihubungkan dengan isu dunia pendidikan amat sulit. Alasannya karena memang Maria tidak pernah ditampilkan sebagai figur yang menerima pendidikan formal. Sebatas pengetahuan saya tampaknya belum ada buku yang mengulas tentang pengalaman belajar yang diterima Maria. Itulah sebabnya mengapa saya merumuskannnya dengan kata indikasi yang artinya bisa diduga, bisa dipakai sebagai penunjuk arah saja. Indikasi edukatif artinya hal-hal yang tampak mengarahkan kita pada muatan pendidikan pada kehidupan Maria. Indikasi edukatif kehidupan Maria tentu bukan dalam konteks pendidikan formal seperti yang dipahami masa sekarang oleh mayoritas manusia. Hidup dan dinamika kehidupan Maria jelas sarat dengan muatan nilai edukatif.

Dalam konteks kehidupan Maria, kita bisa mengatakan bahwa orang berpendidikan ternyata bukan karena ia pernah bersekolah. Orang tidak bersekolah ternyata tetap hidup dengan format dan tatanan yang relatif mapan. Format dan tatanan kehidupan yang relatif mapan itu sengaja dihidupi dan dipertahankan sebagai nilai yang memungkinkan manusia tetap terbedakan dari makhluk lainnya. Nilai-nilai kehidupan itu tidak mesti dan tidak harus diperoleh melalui sekolah formal karena kehidupan manusia secara alamiah mendambakan nilai-nilai. Nilai-nilai itulah yang dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan dan nilai-nilai akhirnya menjadi patokan dalam menakar dan mengukur kualitas hidup seseorang. Pada sisi lain juga kita harus menerima pandangan bahwa orang yang bersekolah tidak otomatis, belum pasti berpola perilaku dan berpola tutur dalam format dan tutunan nilai sebagai orang terdidik. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau ada orang yang bersekolah tinggi berpola perilaku seolah-olah tidak bersekolah. Nilai-nilai yang dihidupi dan menjamin kehidupan manusia umumnya lahir mendahului aktivitas bersekolah. Bahkan lebih ekstrem nilai-nilai kehidupan ada sejalan dengan keberadaan manusia, tanpa bersekolah pun orang tetap memiliki dan hidup dalam nilai-nilai. Dan kenyataan itulah yang bisa kita runut, temukan dari figur Maria.

Kalau kita ingin merunut jejak-jejak kehidupan Maria dalam kaitannya dengan isu pendidikan dalam konteks yang luas maka rujukan utamanya tidak lain adalah Kitab Suci perjanjian baru khususnya injil. Acuan pada injil itu juga tampaknya bervariasi karena setiap penginjil menggunakan sudut pandang dan sisi bidik yang berbeda tentang kehidupan Yesus yang dipertalikan dengan tokoh Maria. Rujukan pada injil itu juga tampaknya bervariasi sehingga saya memutuskan untuk menjadikan Injil Lukas sebagai rujukan refleksi ini. Pertimbangannya sederhana. Ketika saya mencoba membandingkan tingkat interese penginjil berkaitan dengan frekuensi penampilan figur Maria dalam injil mereka, tampaknya penginjil Lukaslah yang lebih banyak menarasikan kehidupan Maria. Penampilan citra diri Maria dalam narasi Lukas terkesan lebih dinamis dan searah dengan pola perkembangan hidup manusia. Pola narasi Lukas tentang tokoh Maria yang penuh dinamika ini menurut hemat kami cukup representatif untuk digunakan dalam rangka mengais kecenderungan akan adanya nuansa pendidikan atau indikasi edukatif kehidupan Maria.

3. Teks Injil Lukas yang Relevan.

Aneka Nuansa dan indikasi edukatif kehidupan Maria itu dapat kita temukan di dalam beberapa teks berikut ini. Untuk memudahkan pemahaman kita akan indikasi edukatif kehidupan Maria ini, baiklah kita merefleksikan 12 kutipan teks injil Lukas



1. Lukas 1:27 Malaikat diutus…kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.



Ayat ini menyebutkan nama Maria dengan seluruh konteks relasi dan kehidupannya sebagai manusia. Citra dan kualitas diri Maria digambarkan secara jelas dalam teks ini. Maria namanya, Yusuf keturunan Daud calon “Genok”nya. Perawan statusnya. Dan menarik bahwa Lukas menggunakan majas repetitif dengan mengulang kata “perawan”. Kalau dinilai berdasarkan efektivitas kalimat, pada ayat ini Lukas menggunakan kalimat kurang efektif. Kalau mau efektif harus ditulis saja malaikat diutus kepada Maria, seorang perawan yang bertungan dengan Yusuf. Penggunaan gaya repetisi pada ayat ini tentu mau menekankan kualitas diri dan kehidupan Maria yang menjadi prasyarat dan prakondisi keberkenanan Allah untuk memilih Maria. Semua orang secara apriori perpendapat perawan itu identik dengan kesucian, kemurnian, kejujuran. Nilai-nilai ini tampaknya memiliki daya tarik dan daya pikat yang mengikat perhatian Allah. Teks ini boleh jadi mau mengatakan kepada kita bahwa menjawab panggilan Allah dan cara untuk berkenan kepada Allah menuntut manusia berada dalam kualitas yang menjnjung tinggi kesucian, kemurnian, dan kejujuran dalam hidup. Panggilan dan keterpilihan menuntut kemurnian, kesucian, kekudusan. Maria tidak mengatakan sendiri hal itu kepada kita tetapi narasi injil memberikan kita tuntunan bahwa teks ini berindikasi edukatif buat kita.



2. Lukas 1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."

Ayat ini menggambarkan sisi lain dari kualitas kehidupan Maria sebagai tokoh yang dikaruniai. Karunia itu diterima dari malaikat berupa Salam, aslam, Islam yang semuanya berarti Damai. Menarik bahwa Lukas mencatat Lokus penyampaian damai itu ketika Maria berada di rumah, bukan di jalan, bukan di pasar, bukan di tempat yang lain. Kalau sampai Tuhan mengirimkan damai ke rumah Maria, maka ada satu kesimpulan logis bisa ditarik yaitu di rumah Maria pasti hidup dalam Salam, damai. Karena di sana, di rumah itu ada damai maka Tuhan menjamin penyertaan agar damai itu tetap menguasai rumah dan kehidupan Maria. Ayat ini bisa jadi merupakan satu indikasi edukatif kehidupan Maria yang mengedepankan situasi damai, hidup dalam aslam, salam,islam, damai.



3. Lukas 1:29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.

Terkejut sebagai ekspresi dari satu proses yang normal dan wajar seperti pengalaman Maria ini akan membawa makna lebih besar hanya jika ekspresi itu bermuara pada aktus atau tindakan lain yang relevan dengan seluruh proses itu. Tindakan lanjutan Maria dalam teks tadi jelas dinyatakan karena pada akhirnya Maria menindaklanjuti reaksi keterkejutannya itu dengan melontarkan pertanyaan paling pertama dan utama di arahkan ke dalam diri, pribadi, hati, inti diri sendiri. Maria memeprtanyakan inti, esensi, substasi masalah yang memang relevan dengan situasi saat itu.

Ayat ini saya anggap berindikasi edukatif karena ada muatan dan niatan nilai yang mau diprolamasikan kepada kita. Bagi saya teks ini mau mengatakan bahwa hidup manusia, hidup kita harus selalu berada dalam koordinasi yang baik antara keinginan fisik kita dengan tanggapan mental kita. Terkejut itulah bahasa perasaan yang termediasi pada gerakan fisik dan harus membuahkan aksi praktis yang konstruktif.

Kalau satu ketika prefek tiba-tiba melintasi kelas dan sekelompok siswa ribut karena berebutan makan kue saat belajar, tiba-tiba terdiam gigit gigi biar kue di mulut tidak kelihatan, itu tandanya koordinasi fisik dan mental siswa itu masih baik. Mereka diam dan terkejut itu baik meskipun salah. Baik reaksinya tetapi salah tindakannya. Kalau sampai orang diam mendadak bisa ditanyakan mengapa? Jawabannya karena mereka ribut saat yang seharusnya tenang. Mestinya dari kasus ini para pelaku perlu bertanya dalam hati mengapa saya berlaku seperti itu? Jawaban pertanyaan itu semestinya dan sunguh diharapkan mendapatkan jawaban berupa perbaikan dalam hidup selanjutnya.

Tentu patut di sayangkan kalau ada dan memang ada di antara kita yang koordinasi fisik dan mentalnya bukan saja kurang sejalan tetapi lebih dari itu sudah memisahkan antara respon fisik dan mental itu. Pelanggaran adalah bentuk sederhana dari kurang adanya kerjasama antara unsur pembetuk diri seseorang. Mari bekaca pada Maria yang menampilkan keutuhan diri melalui ayat ini.



4. Lukas 1:30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.

Di sini Maria ditampilkan sebagai tokoh yang memiliki rasa takut. Takut biasanya dianggap sebagai sesuatu yang negatif. Menurut saya takut adalah suatu kondisi yang masih netral, termasuk kata berkategori ayun artinya bisa positif, bisa negatif tergantung pada konteks dan masalahnya. Perasaan takut Maria dalam teks ini bertalian dengan keterpilihannya untuk menjadi mempelai Roh Kudus. Ketakutan Maria ini sangat positif karena reaksi takut yang membahasakan keterbatasannya sebagai manusia biasa memungkinkan ia mendapatkan jawaban dan jalan keluar yang pasti. Ketakutan yang membahasakan kerendahan hati adalah ketakutan positif. Janji kuasa karunia diberikan kepada Maria lahir dari bahasa takutnya berhadapan dengan berita sang malaikat. Dalam kehidupan manusia, dalam kehidupan kita harus ada rasa memiliki ketakutaan seperti Maria. Kita harus memiliki rasa takut dijauhkan teman supaya kita terdorong hidup rukun dengan sesama.

Kita harus punya rasa takut tidak lulus ujian supaya kita terdorong lebih tekun belajar. Kita harus punya rasa takut keluar dari Seminari karena kurang disiplin harus mendorong kita untuk hidup lebih disiplin. Kita harus pnya rasa takut sakit yang mendorng kita untuk menjaga stamina. Begitulah seterusnya alam hidup kita harus membawa rasa takut sebagai titik star kita ke hal-hal positif. Rasa takut positif inilah yang dapat saya anggap sebagai indikasi edukatif kehidupan Maria dalam teks ini. Mari kita berjuang memiliki rasa takut sebanyak-banyak sebagai peluang untuk melecutkan citra diri sebagai orang yang berkembang ke arah yang lebih baik.



5. Lukas 1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"

Dalam sambutan pembukaan kegiatan seminar Ilmiah menyambut Hardiknas awal bulan ini saya menegaskan perihal hakikat proses pendidikan yang benar. Hakikat pendidikan yang benar adalah Bertanya Pertanyaan-pertanyaan yang menggugat, mengkritisi aneka persoalan kehidupan harus menjadi muara akhir dari suatu proses pendidikan yang benar. Bagi saya mengukur keberhasilan proses pendidikan sama dan sebagun dengan mengukur seberapa banyak dan seberapa berkualitasnya pertanyaan-pertanyaan yang dihasilkan dari proses pendidikan. Orang cerdas tidak diukur oleh kemampuan menjawab pertanyaan tetapi harus diukur dengan kemampuan mempertanyakan segala hal dalam kehidupan.

Maria memang lahir dan hidup sebelum adanya Hardiknas. Maria memang tidak mengikuti seminar ilmiah tetapi inti, esensi, subtansi, hakikat pendidikan yang kita wacanakan ini sudah dihidupnya 21 abad yang silam. Pertanyaan Maria dalam ayat ini, mengarah pada kepastian jawaban. Kepastian jawaban yang di dapat sangat bergantung pada cara orang bertanya. Bergantung pada 5w dan 1h yang dilontarkan. Maria bertanya dengan 1H tentang bagaimana. Jawaban yang dapatkan itu sungguh memenuhi rasa ingin tahu Maria. Maria bertanya pada waktunya yang pas (dimensi timing). Dia bertanya juga pada orang yang tepat. Referensi Maria jelas dan memang patut diandalkan. Teks ini bagi saya juga bernuansa edukatif karena melalui teks ini Maria mau mengatakan tentang penting bertanya tentang apa yang penting menyangkut pilihan hidup dan jalan hidup. Juga mau mengajarkan agar bertanya pada waktunya tepat tentang masalah dan juga kepada orangnya yang benar. Salah merumuskan pertanyaan, menunda bertanya, dan bertanya pada pihak yang kurang diandalkan akan menjerumuskan manusia pada kesesatan daya nalar, daya tanggap dan daya juang. Kalau orang tersesat daya nalar, daya tanggap, dan daya juangnya maka orang itu hanya bisa berkata seperti Chairil Anwar: Hidup, hanyalah menunda kekalahan. Pendidikan harus menghantar orang menjadi pemenang atas perjuangan hidup dan bukannya membawa orang yang kalah terlindas oleh kesesatan daya pikir. Pernyaaannya: kalau Maria yang tidak bersekolah saja bisa bertanya secara benar, pada waktu yang benar dan pada nara sumber yang benar apakah hal itu sulit bagi kita yang bersekolah….???



6. Lukas 1:38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.



Mengidentifikasikan diri sebagai hamba dalam wacana Maria tampaknya tidak sinkron lagi untuk zaman kita yang konon lebih merindukan sapaan sebagai boss, pimpinan, atasan, majikan. Mengindetifikasikan diri sebagai hamba dan menyebut diri sebagai hamba mungkin memerlukan asupan gizi makanan tambahan karena mau menjadi hamba dan disebut hamba itu harus menghilangkan perasaan. Menyebut diri hamba dan berlaku sebagai hamba boleh jadi menjadi pilihan yang tka pupuler karena memang rawan perasaan. Diksi dan pilihan kata hamba oleh Maria merupakan ungkapan kejujuran tentang kerendahan hatinya berhadapan dengan proyek mulia yang ditawarkan kepadanya. Kebenaran ungkapan kerendahan hati Maria terbukti dalam ekspresi verbal yang mewacanakan pola penyerahan diri kepada Tuhan yang hendak menggunakan diri dan hidupnya. Melalui teks ini mungkin juga kita temukan indikasi edukatif Maria terkait pengungkapan identitas diri yang benar dan penyerahan diri yang tulus.Maria boleh jadi mau mengatakan hal ini kepada kita: hiduplah dalam keadaan senyatannya dan jangan hidup serba seoralh-olah. Berbaskan diri dari hidup seolah-olah karena karena seolah-olah yang diolah akan membawa orang pada sikap sombong dan angkuh.



7. Lukas 1:39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.

Pendidikan sebagai salah satu jenis pergulatan hidup manusia sudah dengan sendirinya berada dalam satu rentetan aksi dan gerakan. Konsekuansi dari pemahaman kita tentang pendidikan sebagai gerakan harus takluk pada hukum dinamika yang sifat serba probabale alias berada dalam serba kemungkinan. Mengapa? Karena pergulatan itu hampir pasti mengalami fluktuasi karena adanya benturan kondisi dan konteks baik yang sifatnya internal maupun yang becorak eksternal,

Ayat ini secara implisit menghadirkan wacana tentang pendidikan yang dipandang sebagai suatu proses yang berlangsung dalam tindakan. Kalau Lukas menampilkan Maria yang berangkat ke daerah Yehuda melintasi kawasan pegunungan, itu artinya Maria berada dalam satu dinamika pendidikan. Mengapa? Karena Maria berangkat ke sana setelah yang mendaptkan pengetahuan dalam bentuk berita dari malaikat. Bocoran informasi narasumber dari surga, malaikat Gabriel tentang Elisabeth mendisposisikan Maria dalam satu alur yang mengarahkan pilihannya kepada Elisabeth. Maria mendapatkan pengetahuan tentang dirinya dan tentang Elisabeth Saudaranya dalam satu dialog yang kritis, metodis, ilmiah dengan malaikat. Maria tahu, dan berpengetahuan tentang dirinya dan tentang Elisabeth tetapi juga ia tahu pengetahuan itu belum sepenuhnya diketahui Elisabeth. Kondisi kepemilikan dan tingkat kauntas pengetahuan yang berbeda inlah yang memungkinkan terjadinya dinamika, gerakan berjalannya Maria menuju Yehuda.

Teks ini bagi saja juga bermuatan indikasi edukatif kedipan Maria dan bisa dimaknai sebagai ajakan bagi kita untuk membagikan pengetahuan yang kita miliki kepada orang yang memang diketahui masih kurang pengetahuannya. Maria menyadari ia telah mendapatkan yang lebih sehingga dia harus pergi membaginya kepada saudaranya. Kita semua berketerbatasan dalam aneka hal termask dalam ilmu dan pengetahuan. Karena itu tidak ada cara yang lebih pas bagi kita selain membagikannya kepada orang lain. Mengapa kita lakukan itu? Karena kita menyebut diri Putra Maria. Kalau sang bunda sudah lakkan itu, tegakah kita melalaikan kebajikan mulia sang bunda itu?



8. Lukas 1:41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus,

Ayat ini menampilkan Maria dalam relasinya dengan Elisabeth yang menjadi titik tuju perjalanannya membawa pengetahuan. Hal unik yang ditampilkan dalam ayat ini terkait dampak kehadiran Maria terhadap Elisabeth. Terkesan terjadi efek domino ketika Maria bersama Elisabeth. Saat Malaikat menjumpai Maria, reaksi Maria terkejut dan ketika Maria menjumpai Elisabeth, yang terjadi dua peristiwa besar yaitu bayi dalam kandungan Elisabeth Melonjak dan Elisabeth sendiri penuh dengan Roh Kudus. Dalam konteks pendidikan dua peristiwa ini bisa dikatakan sebagai bukti bahwa pendidikan yang benar harus sampai pada perubahan yang signifikan dalam kehidupan. Kalau seorang gadis melonjak karena mendapat titipan salam dari genoknya lewat ojok itu biasa, tetapai kalau sampai bayi melonjak karena salam itu luar biasa. Indikasi edukatif apa sebenarnya yang bisa kita temkan dalam ayat ini. Bagi saya peristiwa yang dialami Saudara Mia dan Sebeth sungguh merupakan gambaran dan contoh ideal yang harus ada dalam proses pendidikan kita. Dua peristiwa unik ini dapat ditafsir sebagai bentuk pendidikan yang memengalami mbawa transformasi. Kekuatan kata-kata Maria mengalami perubahan wujud, bentuk, format (transformasi). Kata-kata berkekuatan menggerakan. Itu bisa juga ditafsir rumusan pengetahuan harus bisa diaplikasikan dalam aksi yang nyata.

Kalau kita membidik sedikit saja dunia pendidikan kita, maka yang terjadi selama ini sebenarnya lebih pada masalah transinformasi, dan transposisi belum sampai pada transformasi. Penddikan masih terbelenggu pada tataran transinformasi jelas ketika proses pendidikan direduksi sebagai cara memindahkan informasi dari guru ke siswa atau sebaliknya. Juga masih terbelenggu pada konsep transposisi artinya apa yang ada di buku-buku dan catatan guru dipindahkan ke buku cacatan siswa. Pendidikan sekarang harus mengacu pada pola dan gaya kata-kata Maria yang berkekuatan luar biasa membangkitan semangat demontratif dalam diri bayi sekalipun. Pendidikan harus sampai pada penerapan praktis dalam kehidupan. Kata-kata kita baik sebagai guru maupun sebagai siswa harus memiliki daya lonjak maksimal. Artinya sampai pada pilihan mengubah wujud dan bentuk suatu hal.



9. Lukas 1:46 Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,

Dalam lomba pidato Hardikanas, tema pokok yang diwacanakan para retor terkait pendidikan yang bisa membentuk karakter generasi masa depan. Dan kehidupan beragama selalu menjadi salah satu hal yang ditekankan. Itu artinya semua mereka sepakat bahwa pendidikan dan seluruh proses dan dinamikanya pada akhirnya harus bermuara pada sikap takut akan Allah. Sikap ini dalam bahasa Maria adalah sikap memuliakan Allah. Dinamika keterpilihan Maria dari teks-teks tadi sungguh menggambarkan bahwa sebenarnya secara analogis Maria telah melewati proses dan dinamika pendidikan. Akhir dari semunuanya itu harus mengabdi kepada kemuliaan Tuhan. Pendidikan gaya Maria harus memabwa orang untuk bersikap seperti Ignatius Loyola yang selalu berkarya demi kebesaran dan kemuliaan Tuhan. Ad mayorem Dei Gloriam. Pendidikan harus menjamin karakter pemuliaan Tuhan. Kalau itu terjadi maka pelbagai malapraktik dan penyimpangan dalam dunia pendidikan tidak akan terjadi. Kalau orang mau lulus dan nilai baik dengan cara menyontek itu bukan indikasi mau memuliakan Tuhan karena cara kerja itu berseberangan dengan tuntutan Tuhan yang maha mengetahui. Kalau sampai orang bisa memuliakan Tuhan maka aneka kebajikan lainnya sudah diandaikan telah dimiliki secara lengkap.



10. Lukas 1:56 Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.



Kerberadaan Maria bersama Elisabeth selama tiga bulan menunjukkan intesitas keterlibatan Maria yang membawa perubahan pada diri Elisabeth. Menurut saya inilah pola pendidikan bergaya terlibat langsung untuk merasakan suka duka kehidupan Elisabeth. Dalam konteks pendidikan kita, inilah pola live in gaya Maria. Mengapa Maria harus tinggal tiga bulan? Bagi saya itu tandanya memang apa yang dia bawa untuk Elisabeth itu penting untuk didalami secara bersama-sama.

Dari teks ini kita bisa dapat menemukan indikasi edukatifnya yaitu pendidikan dengan pola pelibatan diri. Dengan cara ini boleh jadi Maria mau mengajarkan kepada kita bahwa kalau mau pendidikan kita membawa transformasi sikap dan perilaku maka intensitas pelibatan diri harus lebih banyak dan intensif.

Bagi Maria ada bersama Elisabeh berarti itu untuk memaknai atau memberi arti pada kebersamaan itu. Pada zaman sekarang berada bersama tidak otomatis orang menghayati kebersamaan. Juga dalam kebersamaan belum tentu orang merasa ada bersama. Saya pernah mampir di salah satu warung makan. Di salah satu pojok ada satu meja dan 6 kursinya sudah ditempat sekelompok orang. Dari antara ada dua orang yang tampaknya sibuk dengan hpnya sementara yang lain asyik bercerita. Dua orang yang sibuk dengan barangnya itu sesekali tampak tertawa sendiri rupanya lagi asyik sms dengan orang di tempat yang jauh. Ketika asyik menikmati bakso tiba-tiba hpnya berdering dan tanpa sadar ia mengangkat sendok bakso dan pentolahnya mengarahkannya ke telinga. Semua temannya tertawa menyaksikan bola bakso menggelinding tanpa aturan. Ini contoh dari kondisi manusia zaman kita yang ada bersama tanpa kebersamaan dan dalam kebersamaan tanpa perasaan ada bersama. Alat Hp yang dulu hanya mendekatkan yang jauh kini justru menjauhkan yang dekat. Badan di warung makan tapi jiwa dan semangat di luar dan keluar dari warung makan. Hasil akhir bakso terguling. Belum lagi orang tanpa sadar Hp dikiranya sendok lalu dipakai untuk menggenjot bulatan bakso. Maria mengajarkan cara ada bersama untuk kebersamaan dan dalam kebersamaan tetap merasa ada bersama. Bukannya menyendiri dalam kebersamaan atau tampak ada bersama tetapi sesungguhnya tak ada bernegara.



11. Lukas 2:5 supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung.

Teks ini membahasakan kualitas diri Maria dalam kaitannya dengan aturan kehidupan sebagai warga. Maria tidak merasa lebih dari yang lain. Ia tergolong orang yang patuh dan taat pada tatanan dan norma kehidupan bersyarakat. Pilihan Maria ini mau mennjukkan bahwa kepatuhan pada norma kehidupan bersama itu penting. Ketaatan adalah karakter yang harus diperjuangkan dalam pendidikan. Keutamaan dan kebajikan ketaatan itulah indikasi edukatif, pesan pendikan dari Maria untuk kita melalui teks ini.



12. Lukas 2:19 Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.

Menjaga rahasia juga merupakan keutamaan yang harus menjadi produk dari sauatu proses pendidikan. Maria yang terpilih menjadi Bunda Allah dengan serentetan peristiwa lain yang mengikutinya secara teliti dan cermat menyimpan itu di dalam hatinya. Inilah buah dari penddiikan yang bernar harus mampu mengajarjar orang hanya berbicara tentang yang pntas dibicarakan. Inilah pendidikan untuk menjadikan mulut manusia supaya hemat berkata-kata.



Demikian beberapa hal yang bisa kita temukan dari pribadi Maria semoga berguna dalam perjalanan panggilan hidup kita.



Rm.Bone Rampung, Pr

MINGGU PRAPASKA V TAHUN B

HARI MINGGU PRAPASKA V

Yer 31:31 34; Ibr 5:7 9; Yoh 12:20 33



Kalau Allah Menulis di Hati Kita



Buka

Hati dan batin manusia menjadi pos komando bagi seluruh dinamika dan gerak hidup manusia. Hati dirahmati firman Tuhan adalah hati yang selalu berniat dan berkehendak untuk melakukan sesuatu yang baik. Hati yang berlimpahkan rahmat senantiasa memancarkan segala yang baik. Sebaliknya, hati yang telah dikuasai pelbagai hal yang jahat akan memancar dalam peri kehidupan yang terpuji. Hati kita manusia adalah tempat Allah meletakkan firman-Nya yang menjadi pedoman langkah hidup kita. Pertanyaan untuk kita, apakah hati kita sungguh penuh kehendak Tuhan atau penuh dengan kehendak kita sendiri? Hari ini, Tuhan menegaskan dan mau memilih hati dan batin kita sebagai tempat ia menaruh dan menuliskan firman-Nya. Kita akui salah dan dosa kita andaikan hati kita penuh dengan hal yang tidak berkenan pada Tuhan dan sesama kita.



Renungan

Sehari setelah tiga biji jagung ditanam dalam satu lubang oleh seorang petani, ketiga biji jagung terlibat dalam satu percakapan yang seru. Berkatalah biji jagung yang pertama. “Aku akan berjuang untuk tumbuh secepatnya untuk menyatakan bahwa aku dibtuhkan dan pasti berguna untuk tuanku yang telah menempatkan aku di sini”. Biji itupun secepatnya bertumbuh mengeluarkan akar dan daunnya mulai menembusi permukaan tanah. Beberapa hari kemudian seekor ayam milik petani mecotot jauh jagung pertama itu hingga habis. Ayam merasa puas karena telah menikmati daun dan pucuk jagung yang baru tumbuh. Biji jagung kedua juga tidak mau kalah. Ia berkata: “Aku juga akan segera tumbuh biar tuanku secepatnya menikmati bagaimana enaknya memakan jagung muda”. Biji jagung ketiga berpendirian lain. Ia berkata: “Aku akan berjuang untuk tetap tinggal di sini dan bertahan. Aku tidak mau bertumbuh dan harus menghadapi nasib dicotok ayam atau dipotong manusia. Aku takut untuk bertumbuh. Aku mau bertahan di sini”. Biji jagung kedua terus bertumbuh dan menghasilkan jagung muda yang menyenangkan tuannya. Pada suatu kesempatan ayam kembali mengais-ngais di bawah pohon jagung yang telah berisi. Di sana ayam itu mendapatkan sebiji jagung yang masih utuh. Dalam tempo sekejap saja biji jagung yang masih utuh itu langsung ditelan ayam itu. Biji jagung itu takut dan tidak mau bertumbuh dan akhirnya hilang tanpa bekas yang berarti.

Kalau seorang petani menanamkan suatu jenis tanaman pada lahan entah sawah etah ladangnya, di dalam hati si petani ada harapan bahwa bibit yang ditanam akan menghasilkan lebih banyak. Ayat ini, sengaja disampaikan Yesus ketika berhadapan dengan kelompok petani sebagai pendengar atau audiens pewartaan-Nya. Logika dan cara pandang yang berlaku sebagai hukum dalam kehidupan petani ini coba dimanfaatkan dalam upaya menjelaskan misi kedatangan Yesus ke dunia. Ayat ini sengaja diangkat menjelang hari-hari puncak pelaksanaan misi Yesus menebus dunia dalam jalan salib agar semakin banyak orang memahami sikap dan pilihan Yesus. Perumpamaan yang disampaikan Yesus dengan latar belakang dunia kehidupan yang familier dengan petani sungguh menantang mereka yang mengikuti Dia. Kalimat seperti ini memuat satu pertanyaan pokok terkait dengan tanggapan dan reaksi para pengikut Yesus. Apakah mereka sungguh mau berkorban ibarat benih yang bersedia hancur untuk suatu masa depan yang lebih baik dan menjanjikan.

Pernyataan Yesus untuk mengindentikkan diri dan pilihan menjadi benih gandum yang ditanam mengisyaratkan ketaatan-Nya pada rencana Bapa. Pilihan untuk menjadi benih gandum adalah pilihan yang mengisyaratkan dan membangkitkan kisah awal perjalanan bangsa terpilih. Pernyataan Yesus membangkitkan kenangan masa silam ketika Allah terasa dekat dengan bangsa terpilih yang dibuktikan dalam perjanjian yang menyatakan kesetiaan manusia kepada Allah. Dua keping batu yang berisikan pedoman Allah, hukum Allah dalam mengatur pola perilaku manusia merupakan bukti betapa Allah menginginkan manusia tetap setia pada rencana dan kehendak Allah. Hukum Allah itu tertulis pada kepingan batu dan ditempatkan di dalam bait Allah atau kenisah. Dalam perjalanan bangsa manusia tampaknya tidak lagi hidup sesuai rencana Allah. Banyak perjanjian tidak ditepati dan pengingkaran terhadap janji semakin semarak.

Pengingkaran terhadap perjanjian itu oleh manusia menjadikan hidup manusia tidak berpengharapan lagi. Untuk itulah Allah berinisiatif merajut kembali relasi Allah-manusia dengan pelbagai cara dan dalam proses yang lama. Allah mengutus para nabi yang mewartakan pertobatan terhadap bangsa yang mengingkari janji. Allah melakukan pembaharuan terhadap perjanjian yang dikhianati dalam pelbagai bentuk pengingkaran manusia termasuk sikap menolak nabi-nabi utusan Allah. Inisiatif Allah untuk membaharui perjanjian itu digambarkan dalam kitab Yeremia. Di sana dikatakan bahwa Tuhan akan datang untuk membarui perjanjian dengan manusia. Nuansa perjanjian yang diperbarui itu tampaknya mengikat manusia tidak lagi dalam pengertian masal melainkan sudah menyentuh diri pribadi manusia. Perjanjian yang diperbarui itu, bukan lagi secara lisan atau tertulis pada kepingan batu tetapi sudah menyentuh inti diri manusia. Allah menuliskan perjanjian itu, menempatkan perjanjian itu pada posisi sentral hidup manusia. Hukum dan perjanjian yang diperbarui menempati dan terpahat pada kepingan hati manusia.

Apa yang terjadi dan bagaimana jadinya kalau Allah akhirnya memilih menulis dan menempatkan perjanjian itu pada hati atau batin manusia? Apa konsekuensi praktisnya kalau Allah menjadikan hati sebagai tempat perbedaharaan hukum Tuhan? Hati atau batin manusia adalah pusat komando sekaligus pusat pengendali arah hidup dan tindakan setiap orang. Apa yang dikatakan dan dilakukan seorang manusia datang dan bermula dari niatan hati atau batin. Kalau Allah menjadikan hati manusia sebagai perbedaharaan dan gudang hukum, itu artinya hidup manusia tidak bisa berjalan di luar kendali hukum Allah yang tertulis pada hati manusia. Pendek kata, kalau hati kita manusia telah menjadi institusi hukum kehidupan, maka kehidupan harus mencerminkan penghayatan atas hukum itu. Kalau hukum dan perjanjian Tuhan sudah menempati inti hidup kita manusia maka hidup manusia harus membahasakan Allah yang ada dalah hatinya.

Kesetiaan pada janji, usaha untuk hidup sesuai dengan hukum yang tertulis dalam inti diri atau hati mansia, membahasakan ketaatan manusia. Demikian pula pengingkaran dan ketidaksetiaan kita manusia pada hukum yang menempati hati kita membahasakan ketidaktaatan kita manusia pada Allah. Ketaatan adalah salah satu kebajikan yang selalu dipertautkan dengan perjanjian. Allah telah menyatakan diri sebagai milik manusia dan manusia diharapakan juga memiliki Allah sebagai perjanjian menuntut kesetiaan dan ketaatan. Yesus yang datang ke dunia adalah isi, wujud, bukti kesetiaan Allah akan janji-Nya untuk tetap memilki manusia. Allah tidak mengingkari janji-Nya untuk terus memiliki manusia dan kesetiaan atau ketaatan pada janji itu hadir dalam sikap Yesus yang taat.

Kesetiaan dan ketaatan Allah menyata dalam diri Yesus. Hal itulah yang menjadi inti dari surat untuk orang Ibrani tadi. Ia telah belajar menjadi taat dan menjadi pokok keselamatan yang abadi. Ketaatan dan kesetiaan Yesus adalah ketaatan dan kesetiaan Tuhan untuk manusia. Ketaatan dan kesetiaan seperti ini berdampak keselamatan dan berlangsung kekal abadi. Kekal abadilah kasih setia Tuhan. Puncak pernyataan kesetian Tuhan itu menyata dalam pilihan Yesus untuk menjadi benih gandum yang mau ditanam, diubah dan menghasilkan gandum secara berkelimpahan. Pilihan Yesus untuk menderita adalah pilihan karena ketaatan dan kesetiaan. Pilihan itu lahir dari inti diri-Nya karena Ia sendiri menyadari apa yang menjadi tujuan kedatangan-Nya. Korban Yesus adalah buah dan isi dari pernyataan kesetiaan Allah untuk manusia.

Hukum yang sama Tuhan telah tuliskan pada hati setiap orang. Hukum Tuhan yang menempati inti diri manusia, menempati hati manusia hendaknya menggerakan dan mendorong manusia untuk selalu dekat pada Tuhan. Mau berada dekat pada Tuhan berarti ada dorongan dalam hati manusia untuk mencari Tuhan. Menarik sekali bagi kita untuk memaknai kerindauan orang Yunani yang datang kepada Filipus untuk mencari jalan agar bisa bertemu Yesus seperti yang dikatakan melalui injil tadi. Kerinduan untuk mencari Tuhan itu muncul dari hati, disampaikan secara berantai kepada Filipus dan Andreas. Maksud dan niat orang yang mencari Yesus diteruskan kepada Yesus. Inilah suatu kisah pencarian yang bermula dari gerakan dan dorongan hati. Pencarian sekelompok orang dalam injil ini adalah ungkapan kerinduan untuk selalu dekat pada Tuhan.

Kerindauan dan pencarian dalam konteks injil tadi mendatangkan kemuliaan. Dan Yesus sendiri, menegaskan bahwa mereka yang mencari-Nya akan segera menyaksikan kemuliaan. Di sana juga Yesus mengajak siapa saja yang mencari Dia untuk mengikuti teladan-Nya dalam kesetiaaan dan ketaatan. Kemuliaan adalah buah dari derita. Kehidupan kekal adalah buah dari derita yang dialami dan itulah yang dilaksanakan Yesus. Inilah ajakan buat semua orang beriman untuk taat kepada kehendak Tuhan yang telah menuliskan sabda dan kehendak-Nya dalam dan pada hati setiap manusia. Diri kita orang beriman adalah kenisah kediaman Allah sehingga yang dituntut dari kita adalah kesaksian dan cara hidup yang membuktikan Allah ada dalam hati kita. Mau bertumbuh, berkembang untuk menjadi semakin berguna bagi orang lain adalah kemauan untuk mendapatkan kemuliaan. Kita semua tentu tidak rela hidup dan berada ibarat sebiji jagung yang takut mengambil risiko untuk bertumbuh. Kalau kita takut bertumbuh dan berkembang sama artinya kita tidak mau agar diri dan hidup kita menjadi lebih berguna. Marilah kita bertumbuh dalam segala hal yang baik agar kelak kita mendapat bagian dalam kemuliaan bersama Kristus yang bangkit dalam kemuliaan itu. Kalau Allah telah menulis di hati kita, apa tanggapan kita? Amin.



Rm.Bone Rampung, Pr