Wednesday, August 7, 2013

MARIA DAN PENDIDIKAN

Renungan Rekoleksi Bulanan

Komunitas Seminari Pius XII Kisol

Di Kapela Seminari Kisol Sabtu, 29 Mei 2010





MENDISPOSISIKAN MARIA SEBAGAI PENDIDIK





1.Sekadar Pengantar

Tema rekoleksi yang ditawarkan kepada saya amat singkat “Maria dan Pendidikan”. Tema ini memang singkat tetapi terkait dengan dua isu raksasa perihal seorang tokoh iman dan perihal proses pemanusiaan manusia. Tema ini juga melahirkan sederetan pertanyaan antara lain: Maria itu sekolah di mana, tamat tahun berapa, berapa ijazah yang berhasil disandangnya, gelar akademik apa yang diberikan kepadanya? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini hampir pasti muncul dari kita-kita yang sering mengindentikkan pendidikan dengan sekolah. Kalau figur Maria digiring ke ranah pengertian pendidikan sebagai sesuatu yang identik dengan sekolah maka kita harus menutup rekoleksi ini sampai di sini karena kita tidak memilik referensi yang dijadikan titik pijakan untuk suatu pembicaraan yang meyakinkan. Kita tidak memiliki data tentang riwayat sekolah seorang perempuan yang bernama Maria. Karena itu agar tujuan rekoleksi ini mendarat secara tepat pada kesadaran rohani kita maka kita harus memaksa diri untuk membebaskan pikiran dan pemahaman kita yang sering mengidentikkan pendidikan dengan sekolah.

Membicarakan apalagi merenungkan figur Maria secara utuh membutuhkan waktu lama. Demikian pula membicarakan pendidikan tidak akan sempurna karena pendidikan itu terus berkembang seirama dengan kehidupan manusia. Oleh karena itu sebenarnya tidak mudah menguraikan wacana tentang Maria dan Pendidikan ini dalam satu jam rekoleksi.

Tema Rekoleksi kita yang singkat ini tentunya dipilih kemungkinan karena rekoleksi ini dibuat bulan Mei yang didaulat sebagai bulan berdevosi kepada Maria sekaligus bulan kita mengisi kegiatan bernuansa akademik. Lebih dari itu saya kira tema ini juga disinkronkan dengan Tahun Peduli Pendidikan yang digulati untuk digeluti gereja nasional (KWI) dan juga gereja lokal keuskupan Ruteng. Semua itu sudah kita maknai dalam bentuk yang katekese pendidikan, seminar pendidikan, novena pendidikan. Rasa-rasanya omong tentang Pendidikan sudah overload dan semakin banyak mengisi ruang nalar kita.

Menyadari keluasan dua isu tentang Maria dan tenang Pendidikan yang tersurat pada tema yang ditawarkan ini, saya hanya berniat menyoroti Pola tindak Maria yang bisa dimaknai sebagai tindakan bernuansa mendidik (edukatif) dan keterkaitannya dengan arah hidup kita sebagai orang terpanggil. Karena itu saya menawarkan satu rumusan yang menjuduli permenungan kita secara baru dalam kalimat ini: “INDIKASI EDUKATIF KEHIDUPAN MARIA DAN RELEVANSINYA BAGI KEHIDUPAN ORANG TERPANGGIL”.

Ada dua variabel penting dalam kalimat ini (1) Indikasi Edukatif kehiduapan Maria (2) Kehidupan orang-orang terpanggil. Dua variabel ini coba dihubungkan dengan dimensi saling pengaruh peri kehidupan Maria dan peri kehidupan orang-orang terpanggil. Dengan demikian sesungguhnya kita mau melihat bagaimana kita membahasakan kehidupan kita dalam terang bahasa kehidupan Maria. Untuk itu saya mengajak kita semua supaya memusatkan permenungan ini pada teks-teks kitab suci yang menampilkan figur Maria.



2. Rujukan Indikasi edukatif kehidupan Maria

Kita sungguh menyadari bahwa mencari rujukan yang tepat tentang figur Maria yang dihubungkan dengan isu dunia pendidikan amat sulit. Alasannya karena memang Maria tidak pernah ditampilkan sebagai figur yang menerima pendidikan formal. Sebatas pengetahuan saya tampaknya belum ada buku yang mengulas tentang pengalaman belajar yang diterima Maria. Itulah sebabnya mengapa saya merumuskannnya dengan kata indikasi yang artinya bisa diduga, bisa dipakai sebagai penunjuk arah saja. Indikasi edukatif artinya hal-hal yang tampak mengarahkan kita pada muatan pendidikan pada kehidupan Maria. Indikasi edukatif kehidupan Maria tentu bukan dalam konteks pendidikan formal seperti yang dipahami masa sekarang oleh mayoritas manusia. Hidup dan dinamika kehidupan Maria jelas sarat dengan muatan nilai edukatif.

Dalam konteks kehidupan Maria, kita bisa mengatakan bahwa orang berpendidikan ternyata bukan karena ia pernah bersekolah. Orang tidak bersekolah ternyata tetap hidup dengan format dan tatanan yang relatif mapan. Format dan tatanan kehidupan yang relatif mapan itu sengaja dihidupi dan dipertahankan sebagai nilai yang memungkinkan manusia tetap terbedakan dari makhluk lainnya. Nilai-nilai kehidupan itu tidak mesti dan tidak harus diperoleh melalui sekolah formal karena kehidupan manusia secara alamiah mendambakan nilai-nilai. Nilai-nilai itulah yang dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan dan nilai-nilai akhirnya menjadi patokan dalam menakar dan mengukur kualitas hidup seseorang. Pada sisi lain juga kita harus menerima pandangan bahwa orang yang bersekolah tidak otomatis, belum pasti berpola perilaku dan berpola tutur dalam format dan tutunan nilai sebagai orang terdidik. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau ada orang yang bersekolah tinggi berpola perilaku seolah-olah tidak bersekolah. Nilai-nilai yang dihidupi dan menjamin kehidupan manusia umumnya lahir mendahului aktivitas bersekolah. Bahkan lebih ekstrem nilai-nilai kehidupan ada sejalan dengan keberadaan manusia, tanpa bersekolah pun orang tetap memiliki dan hidup dalam nilai-nilai. Dan kenyataan itulah yang bisa kita runut, temukan dari figur Maria.

Kalau kita ingin merunut jejak-jejak kehidupan Maria dalam kaitannya dengan isu pendidikan dalam konteks yang luas maka rujukan utamanya tidak lain adalah Kitab Suci perjanjian baru khususnya injil. Acuan pada injil itu juga tampaknya bervariasi karena setiap penginjil menggunakan sudut pandang dan sisi bidik yang berbeda tentang kehidupan Yesus yang dipertalikan dengan tokoh Maria. Rujukan pada injil itu juga tampaknya bervariasi sehingga saya memutuskan untuk menjadikan Injil Lukas sebagai rujukan refleksi ini. Pertimbangannya sederhana. Ketika saya mencoba membandingkan tingkat interese penginjil berkaitan dengan frekuensi penampilan figur Maria dalam injil mereka, tampaknya penginjil Lukaslah yang lebih banyak menarasikan kehidupan Maria. Penampilan citra diri Maria dalam narasi Lukas terkesan lebih dinamis dan searah dengan pola perkembangan hidup manusia. Pola narasi Lukas tentang tokoh Maria yang penuh dinamika ini menurut hemat kami cukup representatif untuk digunakan dalam rangka mengais kecenderungan akan adanya nuansa pendidikan atau indikasi edukatif kehidupan Maria.

3. Teks Injil Lukas yang Relevan.

Aneka Nuansa dan indikasi edukatif kehidupan Maria itu dapat kita temukan di dalam beberapa teks berikut ini. Untuk memudahkan pemahaman kita akan indikasi edukatif kehidupan Maria ini, baiklah kita merefleksikan 12 kutipan teks injil Lukas



1. Lukas 1:27 Malaikat diutus…kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.



Ayat ini menyebutkan nama Maria dengan seluruh konteks relasi dan kehidupannya sebagai manusia. Citra dan kualitas diri Maria digambarkan secara jelas dalam teks ini. Maria namanya, Yusuf keturunan Daud calon “Genok”nya. Perawan statusnya. Dan menarik bahwa Lukas menggunakan majas repetitif dengan mengulang kata “perawan”. Kalau dinilai berdasarkan efektivitas kalimat, pada ayat ini Lukas menggunakan kalimat kurang efektif. Kalau mau efektif harus ditulis saja malaikat diutus kepada Maria, seorang perawan yang bertungan dengan Yusuf. Penggunaan gaya repetisi pada ayat ini tentu mau menekankan kualitas diri dan kehidupan Maria yang menjadi prasyarat dan prakondisi keberkenanan Allah untuk memilih Maria. Semua orang secara apriori perpendapat perawan itu identik dengan kesucian, kemurnian, kejujuran. Nilai-nilai ini tampaknya memiliki daya tarik dan daya pikat yang mengikat perhatian Allah. Teks ini boleh jadi mau mengatakan kepada kita bahwa menjawab panggilan Allah dan cara untuk berkenan kepada Allah menuntut manusia berada dalam kualitas yang menjnjung tinggi kesucian, kemurnian, dan kejujuran dalam hidup. Panggilan dan keterpilihan menuntut kemurnian, kesucian, kekudusan. Maria tidak mengatakan sendiri hal itu kepada kita tetapi narasi injil memberikan kita tuntunan bahwa teks ini berindikasi edukatif buat kita.



2. Lukas 1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."

Ayat ini menggambarkan sisi lain dari kualitas kehidupan Maria sebagai tokoh yang dikaruniai. Karunia itu diterima dari malaikat berupa Salam, aslam, Islam yang semuanya berarti Damai. Menarik bahwa Lukas mencatat Lokus penyampaian damai itu ketika Maria berada di rumah, bukan di jalan, bukan di pasar, bukan di tempat yang lain. Kalau sampai Tuhan mengirimkan damai ke rumah Maria, maka ada satu kesimpulan logis bisa ditarik yaitu di rumah Maria pasti hidup dalam Salam, damai. Karena di sana, di rumah itu ada damai maka Tuhan menjamin penyertaan agar damai itu tetap menguasai rumah dan kehidupan Maria. Ayat ini bisa jadi merupakan satu indikasi edukatif kehidupan Maria yang mengedepankan situasi damai, hidup dalam aslam, salam,islam, damai.



3. Lukas 1:29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.

Terkejut sebagai ekspresi dari satu proses yang normal dan wajar seperti pengalaman Maria ini akan membawa makna lebih besar hanya jika ekspresi itu bermuara pada aktus atau tindakan lain yang relevan dengan seluruh proses itu. Tindakan lanjutan Maria dalam teks tadi jelas dinyatakan karena pada akhirnya Maria menindaklanjuti reaksi keterkejutannya itu dengan melontarkan pertanyaan paling pertama dan utama di arahkan ke dalam diri, pribadi, hati, inti diri sendiri. Maria memeprtanyakan inti, esensi, substasi masalah yang memang relevan dengan situasi saat itu.

Ayat ini saya anggap berindikasi edukatif karena ada muatan dan niatan nilai yang mau diprolamasikan kepada kita. Bagi saya teks ini mau mengatakan bahwa hidup manusia, hidup kita harus selalu berada dalam koordinasi yang baik antara keinginan fisik kita dengan tanggapan mental kita. Terkejut itulah bahasa perasaan yang termediasi pada gerakan fisik dan harus membuahkan aksi praktis yang konstruktif.

Kalau satu ketika prefek tiba-tiba melintasi kelas dan sekelompok siswa ribut karena berebutan makan kue saat belajar, tiba-tiba terdiam gigit gigi biar kue di mulut tidak kelihatan, itu tandanya koordinasi fisik dan mental siswa itu masih baik. Mereka diam dan terkejut itu baik meskipun salah. Baik reaksinya tetapi salah tindakannya. Kalau sampai orang diam mendadak bisa ditanyakan mengapa? Jawabannya karena mereka ribut saat yang seharusnya tenang. Mestinya dari kasus ini para pelaku perlu bertanya dalam hati mengapa saya berlaku seperti itu? Jawaban pertanyaan itu semestinya dan sunguh diharapkan mendapatkan jawaban berupa perbaikan dalam hidup selanjutnya.

Tentu patut di sayangkan kalau ada dan memang ada di antara kita yang koordinasi fisik dan mentalnya bukan saja kurang sejalan tetapi lebih dari itu sudah memisahkan antara respon fisik dan mental itu. Pelanggaran adalah bentuk sederhana dari kurang adanya kerjasama antara unsur pembetuk diri seseorang. Mari bekaca pada Maria yang menampilkan keutuhan diri melalui ayat ini.



4. Lukas 1:30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.

Di sini Maria ditampilkan sebagai tokoh yang memiliki rasa takut. Takut biasanya dianggap sebagai sesuatu yang negatif. Menurut saya takut adalah suatu kondisi yang masih netral, termasuk kata berkategori ayun artinya bisa positif, bisa negatif tergantung pada konteks dan masalahnya. Perasaan takut Maria dalam teks ini bertalian dengan keterpilihannya untuk menjadi mempelai Roh Kudus. Ketakutan Maria ini sangat positif karena reaksi takut yang membahasakan keterbatasannya sebagai manusia biasa memungkinkan ia mendapatkan jawaban dan jalan keluar yang pasti. Ketakutan yang membahasakan kerendahan hati adalah ketakutan positif. Janji kuasa karunia diberikan kepada Maria lahir dari bahasa takutnya berhadapan dengan berita sang malaikat. Dalam kehidupan manusia, dalam kehidupan kita harus ada rasa memiliki ketakutaan seperti Maria. Kita harus memiliki rasa takut dijauhkan teman supaya kita terdorong hidup rukun dengan sesama.

Kita harus punya rasa takut tidak lulus ujian supaya kita terdorong lebih tekun belajar. Kita harus punya rasa takut keluar dari Seminari karena kurang disiplin harus mendorong kita untuk hidup lebih disiplin. Kita harus pnya rasa takut sakit yang mendorng kita untuk menjaga stamina. Begitulah seterusnya alam hidup kita harus membawa rasa takut sebagai titik star kita ke hal-hal positif. Rasa takut positif inilah yang dapat saya anggap sebagai indikasi edukatif kehidupan Maria dalam teks ini. Mari kita berjuang memiliki rasa takut sebanyak-banyak sebagai peluang untuk melecutkan citra diri sebagai orang yang berkembang ke arah yang lebih baik.



5. Lukas 1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"

Dalam sambutan pembukaan kegiatan seminar Ilmiah menyambut Hardiknas awal bulan ini saya menegaskan perihal hakikat proses pendidikan yang benar. Hakikat pendidikan yang benar adalah Bertanya Pertanyaan-pertanyaan yang menggugat, mengkritisi aneka persoalan kehidupan harus menjadi muara akhir dari suatu proses pendidikan yang benar. Bagi saya mengukur keberhasilan proses pendidikan sama dan sebagun dengan mengukur seberapa banyak dan seberapa berkualitasnya pertanyaan-pertanyaan yang dihasilkan dari proses pendidikan. Orang cerdas tidak diukur oleh kemampuan menjawab pertanyaan tetapi harus diukur dengan kemampuan mempertanyakan segala hal dalam kehidupan.

Maria memang lahir dan hidup sebelum adanya Hardiknas. Maria memang tidak mengikuti seminar ilmiah tetapi inti, esensi, subtansi, hakikat pendidikan yang kita wacanakan ini sudah dihidupnya 21 abad yang silam. Pertanyaan Maria dalam ayat ini, mengarah pada kepastian jawaban. Kepastian jawaban yang di dapat sangat bergantung pada cara orang bertanya. Bergantung pada 5w dan 1h yang dilontarkan. Maria bertanya dengan 1H tentang bagaimana. Jawaban yang dapatkan itu sungguh memenuhi rasa ingin tahu Maria. Maria bertanya pada waktunya yang pas (dimensi timing). Dia bertanya juga pada orang yang tepat. Referensi Maria jelas dan memang patut diandalkan. Teks ini bagi saya juga bernuansa edukatif karena melalui teks ini Maria mau mengatakan tentang penting bertanya tentang apa yang penting menyangkut pilihan hidup dan jalan hidup. Juga mau mengajarkan agar bertanya pada waktunya tepat tentang masalah dan juga kepada orangnya yang benar. Salah merumuskan pertanyaan, menunda bertanya, dan bertanya pada pihak yang kurang diandalkan akan menjerumuskan manusia pada kesesatan daya nalar, daya tanggap dan daya juang. Kalau orang tersesat daya nalar, daya tanggap, dan daya juangnya maka orang itu hanya bisa berkata seperti Chairil Anwar: Hidup, hanyalah menunda kekalahan. Pendidikan harus menghantar orang menjadi pemenang atas perjuangan hidup dan bukannya membawa orang yang kalah terlindas oleh kesesatan daya pikir. Pernyaaannya: kalau Maria yang tidak bersekolah saja bisa bertanya secara benar, pada waktu yang benar dan pada nara sumber yang benar apakah hal itu sulit bagi kita yang bersekolah….???



6. Lukas 1:38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.



Mengidentifikasikan diri sebagai hamba dalam wacana Maria tampaknya tidak sinkron lagi untuk zaman kita yang konon lebih merindukan sapaan sebagai boss, pimpinan, atasan, majikan. Mengindetifikasikan diri sebagai hamba dan menyebut diri sebagai hamba mungkin memerlukan asupan gizi makanan tambahan karena mau menjadi hamba dan disebut hamba itu harus menghilangkan perasaan. Menyebut diri hamba dan berlaku sebagai hamba boleh jadi menjadi pilihan yang tka pupuler karena memang rawan perasaan. Diksi dan pilihan kata hamba oleh Maria merupakan ungkapan kejujuran tentang kerendahan hatinya berhadapan dengan proyek mulia yang ditawarkan kepadanya. Kebenaran ungkapan kerendahan hati Maria terbukti dalam ekspresi verbal yang mewacanakan pola penyerahan diri kepada Tuhan yang hendak menggunakan diri dan hidupnya. Melalui teks ini mungkin juga kita temukan indikasi edukatif Maria terkait pengungkapan identitas diri yang benar dan penyerahan diri yang tulus.Maria boleh jadi mau mengatakan hal ini kepada kita: hiduplah dalam keadaan senyatannya dan jangan hidup serba seoralh-olah. Berbaskan diri dari hidup seolah-olah karena karena seolah-olah yang diolah akan membawa orang pada sikap sombong dan angkuh.



7. Lukas 1:39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.

Pendidikan sebagai salah satu jenis pergulatan hidup manusia sudah dengan sendirinya berada dalam satu rentetan aksi dan gerakan. Konsekuansi dari pemahaman kita tentang pendidikan sebagai gerakan harus takluk pada hukum dinamika yang sifat serba probabale alias berada dalam serba kemungkinan. Mengapa? Karena pergulatan itu hampir pasti mengalami fluktuasi karena adanya benturan kondisi dan konteks baik yang sifatnya internal maupun yang becorak eksternal,

Ayat ini secara implisit menghadirkan wacana tentang pendidikan yang dipandang sebagai suatu proses yang berlangsung dalam tindakan. Kalau Lukas menampilkan Maria yang berangkat ke daerah Yehuda melintasi kawasan pegunungan, itu artinya Maria berada dalam satu dinamika pendidikan. Mengapa? Karena Maria berangkat ke sana setelah yang mendaptkan pengetahuan dalam bentuk berita dari malaikat. Bocoran informasi narasumber dari surga, malaikat Gabriel tentang Elisabeth mendisposisikan Maria dalam satu alur yang mengarahkan pilihannya kepada Elisabeth. Maria mendapatkan pengetahuan tentang dirinya dan tentang Elisabeth Saudaranya dalam satu dialog yang kritis, metodis, ilmiah dengan malaikat. Maria tahu, dan berpengetahuan tentang dirinya dan tentang Elisabeth tetapi juga ia tahu pengetahuan itu belum sepenuhnya diketahui Elisabeth. Kondisi kepemilikan dan tingkat kauntas pengetahuan yang berbeda inlah yang memungkinkan terjadinya dinamika, gerakan berjalannya Maria menuju Yehuda.

Teks ini bagi saja juga bermuatan indikasi edukatif kedipan Maria dan bisa dimaknai sebagai ajakan bagi kita untuk membagikan pengetahuan yang kita miliki kepada orang yang memang diketahui masih kurang pengetahuannya. Maria menyadari ia telah mendapatkan yang lebih sehingga dia harus pergi membaginya kepada saudaranya. Kita semua berketerbatasan dalam aneka hal termask dalam ilmu dan pengetahuan. Karena itu tidak ada cara yang lebih pas bagi kita selain membagikannya kepada orang lain. Mengapa kita lakukan itu? Karena kita menyebut diri Putra Maria. Kalau sang bunda sudah lakkan itu, tegakah kita melalaikan kebajikan mulia sang bunda itu?



8. Lukas 1:41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus,

Ayat ini menampilkan Maria dalam relasinya dengan Elisabeth yang menjadi titik tuju perjalanannya membawa pengetahuan. Hal unik yang ditampilkan dalam ayat ini terkait dampak kehadiran Maria terhadap Elisabeth. Terkesan terjadi efek domino ketika Maria bersama Elisabeth. Saat Malaikat menjumpai Maria, reaksi Maria terkejut dan ketika Maria menjumpai Elisabeth, yang terjadi dua peristiwa besar yaitu bayi dalam kandungan Elisabeth Melonjak dan Elisabeth sendiri penuh dengan Roh Kudus. Dalam konteks pendidikan dua peristiwa ini bisa dikatakan sebagai bukti bahwa pendidikan yang benar harus sampai pada perubahan yang signifikan dalam kehidupan. Kalau seorang gadis melonjak karena mendapat titipan salam dari genoknya lewat ojok itu biasa, tetapai kalau sampai bayi melonjak karena salam itu luar biasa. Indikasi edukatif apa sebenarnya yang bisa kita temkan dalam ayat ini. Bagi saya peristiwa yang dialami Saudara Mia dan Sebeth sungguh merupakan gambaran dan contoh ideal yang harus ada dalam proses pendidikan kita. Dua peristiwa unik ini dapat ditafsir sebagai bentuk pendidikan yang memengalami mbawa transformasi. Kekuatan kata-kata Maria mengalami perubahan wujud, bentuk, format (transformasi). Kata-kata berkekuatan menggerakan. Itu bisa juga ditafsir rumusan pengetahuan harus bisa diaplikasikan dalam aksi yang nyata.

Kalau kita membidik sedikit saja dunia pendidikan kita, maka yang terjadi selama ini sebenarnya lebih pada masalah transinformasi, dan transposisi belum sampai pada transformasi. Penddikan masih terbelenggu pada tataran transinformasi jelas ketika proses pendidikan direduksi sebagai cara memindahkan informasi dari guru ke siswa atau sebaliknya. Juga masih terbelenggu pada konsep transposisi artinya apa yang ada di buku-buku dan catatan guru dipindahkan ke buku cacatan siswa. Pendidikan sekarang harus mengacu pada pola dan gaya kata-kata Maria yang berkekuatan luar biasa membangkitan semangat demontratif dalam diri bayi sekalipun. Pendidikan harus sampai pada penerapan praktis dalam kehidupan. Kata-kata kita baik sebagai guru maupun sebagai siswa harus memiliki daya lonjak maksimal. Artinya sampai pada pilihan mengubah wujud dan bentuk suatu hal.



9. Lukas 1:46 Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,

Dalam lomba pidato Hardikanas, tema pokok yang diwacanakan para retor terkait pendidikan yang bisa membentuk karakter generasi masa depan. Dan kehidupan beragama selalu menjadi salah satu hal yang ditekankan. Itu artinya semua mereka sepakat bahwa pendidikan dan seluruh proses dan dinamikanya pada akhirnya harus bermuara pada sikap takut akan Allah. Sikap ini dalam bahasa Maria adalah sikap memuliakan Allah. Dinamika keterpilihan Maria dari teks-teks tadi sungguh menggambarkan bahwa sebenarnya secara analogis Maria telah melewati proses dan dinamika pendidikan. Akhir dari semunuanya itu harus mengabdi kepada kemuliaan Tuhan. Pendidikan gaya Maria harus memabwa orang untuk bersikap seperti Ignatius Loyola yang selalu berkarya demi kebesaran dan kemuliaan Tuhan. Ad mayorem Dei Gloriam. Pendidikan harus menjamin karakter pemuliaan Tuhan. Kalau itu terjadi maka pelbagai malapraktik dan penyimpangan dalam dunia pendidikan tidak akan terjadi. Kalau orang mau lulus dan nilai baik dengan cara menyontek itu bukan indikasi mau memuliakan Tuhan karena cara kerja itu berseberangan dengan tuntutan Tuhan yang maha mengetahui. Kalau sampai orang bisa memuliakan Tuhan maka aneka kebajikan lainnya sudah diandaikan telah dimiliki secara lengkap.



10. Lukas 1:56 Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.



Kerberadaan Maria bersama Elisabeth selama tiga bulan menunjukkan intesitas keterlibatan Maria yang membawa perubahan pada diri Elisabeth. Menurut saya inilah pola pendidikan bergaya terlibat langsung untuk merasakan suka duka kehidupan Elisabeth. Dalam konteks pendidikan kita, inilah pola live in gaya Maria. Mengapa Maria harus tinggal tiga bulan? Bagi saya itu tandanya memang apa yang dia bawa untuk Elisabeth itu penting untuk didalami secara bersama-sama.

Dari teks ini kita bisa dapat menemukan indikasi edukatifnya yaitu pendidikan dengan pola pelibatan diri. Dengan cara ini boleh jadi Maria mau mengajarkan kepada kita bahwa kalau mau pendidikan kita membawa transformasi sikap dan perilaku maka intensitas pelibatan diri harus lebih banyak dan intensif.

Bagi Maria ada bersama Elisabeh berarti itu untuk memaknai atau memberi arti pada kebersamaan itu. Pada zaman sekarang berada bersama tidak otomatis orang menghayati kebersamaan. Juga dalam kebersamaan belum tentu orang merasa ada bersama. Saya pernah mampir di salah satu warung makan. Di salah satu pojok ada satu meja dan 6 kursinya sudah ditempat sekelompok orang. Dari antara ada dua orang yang tampaknya sibuk dengan hpnya sementara yang lain asyik bercerita. Dua orang yang sibuk dengan barangnya itu sesekali tampak tertawa sendiri rupanya lagi asyik sms dengan orang di tempat yang jauh. Ketika asyik menikmati bakso tiba-tiba hpnya berdering dan tanpa sadar ia mengangkat sendok bakso dan pentolahnya mengarahkannya ke telinga. Semua temannya tertawa menyaksikan bola bakso menggelinding tanpa aturan. Ini contoh dari kondisi manusia zaman kita yang ada bersama tanpa kebersamaan dan dalam kebersamaan tanpa perasaan ada bersama. Alat Hp yang dulu hanya mendekatkan yang jauh kini justru menjauhkan yang dekat. Badan di warung makan tapi jiwa dan semangat di luar dan keluar dari warung makan. Hasil akhir bakso terguling. Belum lagi orang tanpa sadar Hp dikiranya sendok lalu dipakai untuk menggenjot bulatan bakso. Maria mengajarkan cara ada bersama untuk kebersamaan dan dalam kebersamaan tetap merasa ada bersama. Bukannya menyendiri dalam kebersamaan atau tampak ada bersama tetapi sesungguhnya tak ada bernegara.



11. Lukas 2:5 supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung.

Teks ini membahasakan kualitas diri Maria dalam kaitannya dengan aturan kehidupan sebagai warga. Maria tidak merasa lebih dari yang lain. Ia tergolong orang yang patuh dan taat pada tatanan dan norma kehidupan bersyarakat. Pilihan Maria ini mau mennjukkan bahwa kepatuhan pada norma kehidupan bersama itu penting. Ketaatan adalah karakter yang harus diperjuangkan dalam pendidikan. Keutamaan dan kebajikan ketaatan itulah indikasi edukatif, pesan pendikan dari Maria untuk kita melalui teks ini.



12. Lukas 2:19 Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.

Menjaga rahasia juga merupakan keutamaan yang harus menjadi produk dari sauatu proses pendidikan. Maria yang terpilih menjadi Bunda Allah dengan serentetan peristiwa lain yang mengikutinya secara teliti dan cermat menyimpan itu di dalam hatinya. Inilah buah dari penddiikan yang bernar harus mampu mengajarjar orang hanya berbicara tentang yang pntas dibicarakan. Inilah pendidikan untuk menjadikan mulut manusia supaya hemat berkata-kata.



Demikian beberapa hal yang bisa kita temukan dari pribadi Maria semoga berguna dalam perjalanan panggilan hidup kita.



Rm.Bone Rampung, Pr

MINGGU PRAPASKA V TAHUN B

HARI MINGGU PRAPASKA V

Yer 31:31 34; Ibr 5:7 9; Yoh 12:20 33



Kalau Allah Menulis di Hati Kita



Buka

Hati dan batin manusia menjadi pos komando bagi seluruh dinamika dan gerak hidup manusia. Hati dirahmati firman Tuhan adalah hati yang selalu berniat dan berkehendak untuk melakukan sesuatu yang baik. Hati yang berlimpahkan rahmat senantiasa memancarkan segala yang baik. Sebaliknya, hati yang telah dikuasai pelbagai hal yang jahat akan memancar dalam peri kehidupan yang terpuji. Hati kita manusia adalah tempat Allah meletakkan firman-Nya yang menjadi pedoman langkah hidup kita. Pertanyaan untuk kita, apakah hati kita sungguh penuh kehendak Tuhan atau penuh dengan kehendak kita sendiri? Hari ini, Tuhan menegaskan dan mau memilih hati dan batin kita sebagai tempat ia menaruh dan menuliskan firman-Nya. Kita akui salah dan dosa kita andaikan hati kita penuh dengan hal yang tidak berkenan pada Tuhan dan sesama kita.



Renungan

Sehari setelah tiga biji jagung ditanam dalam satu lubang oleh seorang petani, ketiga biji jagung terlibat dalam satu percakapan yang seru. Berkatalah biji jagung yang pertama. “Aku akan berjuang untuk tumbuh secepatnya untuk menyatakan bahwa aku dibtuhkan dan pasti berguna untuk tuanku yang telah menempatkan aku di sini”. Biji itupun secepatnya bertumbuh mengeluarkan akar dan daunnya mulai menembusi permukaan tanah. Beberapa hari kemudian seekor ayam milik petani mecotot jauh jagung pertama itu hingga habis. Ayam merasa puas karena telah menikmati daun dan pucuk jagung yang baru tumbuh. Biji jagung kedua juga tidak mau kalah. Ia berkata: “Aku juga akan segera tumbuh biar tuanku secepatnya menikmati bagaimana enaknya memakan jagung muda”. Biji jagung ketiga berpendirian lain. Ia berkata: “Aku akan berjuang untuk tetap tinggal di sini dan bertahan. Aku tidak mau bertumbuh dan harus menghadapi nasib dicotok ayam atau dipotong manusia. Aku takut untuk bertumbuh. Aku mau bertahan di sini”. Biji jagung kedua terus bertumbuh dan menghasilkan jagung muda yang menyenangkan tuannya. Pada suatu kesempatan ayam kembali mengais-ngais di bawah pohon jagung yang telah berisi. Di sana ayam itu mendapatkan sebiji jagung yang masih utuh. Dalam tempo sekejap saja biji jagung yang masih utuh itu langsung ditelan ayam itu. Biji jagung itu takut dan tidak mau bertumbuh dan akhirnya hilang tanpa bekas yang berarti.

Kalau seorang petani menanamkan suatu jenis tanaman pada lahan entah sawah etah ladangnya, di dalam hati si petani ada harapan bahwa bibit yang ditanam akan menghasilkan lebih banyak. Ayat ini, sengaja disampaikan Yesus ketika berhadapan dengan kelompok petani sebagai pendengar atau audiens pewartaan-Nya. Logika dan cara pandang yang berlaku sebagai hukum dalam kehidupan petani ini coba dimanfaatkan dalam upaya menjelaskan misi kedatangan Yesus ke dunia. Ayat ini sengaja diangkat menjelang hari-hari puncak pelaksanaan misi Yesus menebus dunia dalam jalan salib agar semakin banyak orang memahami sikap dan pilihan Yesus. Perumpamaan yang disampaikan Yesus dengan latar belakang dunia kehidupan yang familier dengan petani sungguh menantang mereka yang mengikuti Dia. Kalimat seperti ini memuat satu pertanyaan pokok terkait dengan tanggapan dan reaksi para pengikut Yesus. Apakah mereka sungguh mau berkorban ibarat benih yang bersedia hancur untuk suatu masa depan yang lebih baik dan menjanjikan.

Pernyataan Yesus untuk mengindentikkan diri dan pilihan menjadi benih gandum yang ditanam mengisyaratkan ketaatan-Nya pada rencana Bapa. Pilihan untuk menjadi benih gandum adalah pilihan yang mengisyaratkan dan membangkitkan kisah awal perjalanan bangsa terpilih. Pernyataan Yesus membangkitkan kenangan masa silam ketika Allah terasa dekat dengan bangsa terpilih yang dibuktikan dalam perjanjian yang menyatakan kesetiaan manusia kepada Allah. Dua keping batu yang berisikan pedoman Allah, hukum Allah dalam mengatur pola perilaku manusia merupakan bukti betapa Allah menginginkan manusia tetap setia pada rencana dan kehendak Allah. Hukum Allah itu tertulis pada kepingan batu dan ditempatkan di dalam bait Allah atau kenisah. Dalam perjalanan bangsa manusia tampaknya tidak lagi hidup sesuai rencana Allah. Banyak perjanjian tidak ditepati dan pengingkaran terhadap janji semakin semarak.

Pengingkaran terhadap perjanjian itu oleh manusia menjadikan hidup manusia tidak berpengharapan lagi. Untuk itulah Allah berinisiatif merajut kembali relasi Allah-manusia dengan pelbagai cara dan dalam proses yang lama. Allah mengutus para nabi yang mewartakan pertobatan terhadap bangsa yang mengingkari janji. Allah melakukan pembaharuan terhadap perjanjian yang dikhianati dalam pelbagai bentuk pengingkaran manusia termasuk sikap menolak nabi-nabi utusan Allah. Inisiatif Allah untuk membaharui perjanjian itu digambarkan dalam kitab Yeremia. Di sana dikatakan bahwa Tuhan akan datang untuk membarui perjanjian dengan manusia. Nuansa perjanjian yang diperbarui itu tampaknya mengikat manusia tidak lagi dalam pengertian masal melainkan sudah menyentuh diri pribadi manusia. Perjanjian yang diperbarui itu, bukan lagi secara lisan atau tertulis pada kepingan batu tetapi sudah menyentuh inti diri manusia. Allah menuliskan perjanjian itu, menempatkan perjanjian itu pada posisi sentral hidup manusia. Hukum dan perjanjian yang diperbarui menempati dan terpahat pada kepingan hati manusia.

Apa yang terjadi dan bagaimana jadinya kalau Allah akhirnya memilih menulis dan menempatkan perjanjian itu pada hati atau batin manusia? Apa konsekuensi praktisnya kalau Allah menjadikan hati sebagai tempat perbedaharaan hukum Tuhan? Hati atau batin manusia adalah pusat komando sekaligus pusat pengendali arah hidup dan tindakan setiap orang. Apa yang dikatakan dan dilakukan seorang manusia datang dan bermula dari niatan hati atau batin. Kalau Allah menjadikan hati manusia sebagai perbedaharaan dan gudang hukum, itu artinya hidup manusia tidak bisa berjalan di luar kendali hukum Allah yang tertulis pada hati manusia. Pendek kata, kalau hati kita manusia telah menjadi institusi hukum kehidupan, maka kehidupan harus mencerminkan penghayatan atas hukum itu. Kalau hukum dan perjanjian Tuhan sudah menempati inti hidup kita manusia maka hidup manusia harus membahasakan Allah yang ada dalah hatinya.

Kesetiaan pada janji, usaha untuk hidup sesuai dengan hukum yang tertulis dalam inti diri atau hati mansia, membahasakan ketaatan manusia. Demikian pula pengingkaran dan ketidaksetiaan kita manusia pada hukum yang menempati hati kita membahasakan ketidaktaatan kita manusia pada Allah. Ketaatan adalah salah satu kebajikan yang selalu dipertautkan dengan perjanjian. Allah telah menyatakan diri sebagai milik manusia dan manusia diharapakan juga memiliki Allah sebagai perjanjian menuntut kesetiaan dan ketaatan. Yesus yang datang ke dunia adalah isi, wujud, bukti kesetiaan Allah akan janji-Nya untuk tetap memilki manusia. Allah tidak mengingkari janji-Nya untuk terus memiliki manusia dan kesetiaan atau ketaatan pada janji itu hadir dalam sikap Yesus yang taat.

Kesetiaan dan ketaatan Allah menyata dalam diri Yesus. Hal itulah yang menjadi inti dari surat untuk orang Ibrani tadi. Ia telah belajar menjadi taat dan menjadi pokok keselamatan yang abadi. Ketaatan dan kesetiaan Yesus adalah ketaatan dan kesetiaan Tuhan untuk manusia. Ketaatan dan kesetiaan seperti ini berdampak keselamatan dan berlangsung kekal abadi. Kekal abadilah kasih setia Tuhan. Puncak pernyataan kesetian Tuhan itu menyata dalam pilihan Yesus untuk menjadi benih gandum yang mau ditanam, diubah dan menghasilkan gandum secara berkelimpahan. Pilihan Yesus untuk menderita adalah pilihan karena ketaatan dan kesetiaan. Pilihan itu lahir dari inti diri-Nya karena Ia sendiri menyadari apa yang menjadi tujuan kedatangan-Nya. Korban Yesus adalah buah dan isi dari pernyataan kesetiaan Allah untuk manusia.

Hukum yang sama Tuhan telah tuliskan pada hati setiap orang. Hukum Tuhan yang menempati inti diri manusia, menempati hati manusia hendaknya menggerakan dan mendorong manusia untuk selalu dekat pada Tuhan. Mau berada dekat pada Tuhan berarti ada dorongan dalam hati manusia untuk mencari Tuhan. Menarik sekali bagi kita untuk memaknai kerindauan orang Yunani yang datang kepada Filipus untuk mencari jalan agar bisa bertemu Yesus seperti yang dikatakan melalui injil tadi. Kerinduan untuk mencari Tuhan itu muncul dari hati, disampaikan secara berantai kepada Filipus dan Andreas. Maksud dan niat orang yang mencari Yesus diteruskan kepada Yesus. Inilah suatu kisah pencarian yang bermula dari gerakan dan dorongan hati. Pencarian sekelompok orang dalam injil ini adalah ungkapan kerinduan untuk selalu dekat pada Tuhan.

Kerindauan dan pencarian dalam konteks injil tadi mendatangkan kemuliaan. Dan Yesus sendiri, menegaskan bahwa mereka yang mencari-Nya akan segera menyaksikan kemuliaan. Di sana juga Yesus mengajak siapa saja yang mencari Dia untuk mengikuti teladan-Nya dalam kesetiaaan dan ketaatan. Kemuliaan adalah buah dari derita. Kehidupan kekal adalah buah dari derita yang dialami dan itulah yang dilaksanakan Yesus. Inilah ajakan buat semua orang beriman untuk taat kepada kehendak Tuhan yang telah menuliskan sabda dan kehendak-Nya dalam dan pada hati setiap manusia. Diri kita orang beriman adalah kenisah kediaman Allah sehingga yang dituntut dari kita adalah kesaksian dan cara hidup yang membuktikan Allah ada dalam hati kita. Mau bertumbuh, berkembang untuk menjadi semakin berguna bagi orang lain adalah kemauan untuk mendapatkan kemuliaan. Kita semua tentu tidak rela hidup dan berada ibarat sebiji jagung yang takut mengambil risiko untuk bertumbuh. Kalau kita takut bertumbuh dan berkembang sama artinya kita tidak mau agar diri dan hidup kita menjadi lebih berguna. Marilah kita bertumbuh dalam segala hal yang baik agar kelak kita mendapat bagian dalam kemuliaan bersama Kristus yang bangkit dalam kemuliaan itu. Kalau Allah telah menulis di hati kita, apa tanggapan kita? Amin.



Rm.Bone Rampung, Pr

MINGGU PRAPASKA IV TAHUN B

MINNGU IV PRAPASKA

2Taw,36:14-16; 19-23, Ef.2,4-10 Yoh 3:14-21



Berpuasa: Ajakan ‘Coming Home’



Buka

Hari ini kita memasuki hari minggu ke IV masa prapaska. Firman Tuhan hari ini mengajak kita semua untuk percaya kepada Putera Allah yang telah diutus oleh Allah ke dunia. Sebab, Puteranya diutus ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia dari segala kemalangan, dari akar segala kemalangan hidup manusia. Dalam bacaan-bacaan suci hari ini, kita diingatkan tentang dua sisi kehidupan kita antara murka atau belas kasih, dosa atau rahmat, kegelapan atau terang, yang seringkali mewarnai hidup kita manusia. Hari-hari pertobatan kita dari dosa-dosa hampir mendekati puncak pengurbanan diri Putra Allah. Kita sekalian sudah siap menyambut kebangkitan Tuhan dan Juru Selamat kita. Kisah pembuangan dan pembebasan umat Israel menjadi konsekuensi dari pilihan mereka sendiri. Peringatan St. Paulus kepada umat Efesus yang menekankan bahwa “karena kita manusia ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan yang baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Dan lebih lanjut, dalam injil Yesus mengeluh: “Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.” Kita berdoa semoga Tuhan tetap bersabar melihat sikap dan tindakan kita yang cenderung memilih kehendak sendiri daripada kehendak Allah yang menyelamatkan.



Renungan

Kalimat yang dipakai sebagai judul renungan ini diambil dari bagian terakhir dari kalimat yang ada dalam bacaan pertama pekan keempat masa prapaska ini. Kalimat yang singkat ini mengungkapkan suatu situasi dan pesan penting untuk kita. Kalimat yang pendek ini memberikan kita informasi tentang seseorang yang tersesat dan hendak pulang. Tentu saja ada banyak alasan yang membuat orang tersesat dan kesulitan untuk pulang. Situasi bencana alam atau situasi perang bisa saja membuat orang kehilangan arah untuk menemukan jalan yang membawanya kembali ke tempat asalnya. Kalimat yang pendek ini mengingatkan kita akan kisah dan pengalaman seorang veteran tentara perang asal Amerika yang mengalami nasib naas semasa perang berkecamuk di kawasan Vietnam.

Kisah pengalaman tokoh veteran perang itu kemudian diabadikan secara dokumenter dalam sebuah film berjudul “Coming Home” yang dapat diterjemahkan menjadi ‘pulang ke rumah’. Film dokumenter itu memuat kisah tentang seorang veteran yang pincang dan cacat seumur hidup akibat perang Vietnam. Film ini melukiskan dengan begitu baik dan teliti mengenai penderitaan, tekanan fisik, mental seorang veteran yang harus menerima keadaan dirinya sebagai orang cacat. Dengan keadaan fisik seperti yang dialaminya, sang Veteran perang merasa dirinya tidak berguna. Ia merasa kehilangan masa depan. Ia sungguh merasa mengalami kehancuran baik kehancuran fisik maupun kehancuran mental, kehancuran semangat. Dalam kondisi penuh tekanan seperti itu, seorang perempuan berupaya menolong dia agar menerima keadaannya. Perempuan itu meyakinkan dia bahwa dengan keadaan fisik yang ada sang veteran perang itu masih dapat menciptakan suatu masa depan yang menjnajikan. Tokoh perempuan itu meneguhkannya bahwa si cacat masih bisa membangun sesuatu yang indah dari puing-puing kehancuran yang dideritanya. Perang telah menggoreskan duka dan kepedihan bagi siapa saja yang mengalaminya.Kehancuran adalah kata akhir dari peperangan yang terjadi karena ambisi berkuasa pada diri manusia.

Situasi veteran perang Vietnam yang ditampilkan melalui film ‘Coming Home’ ini tampaknya mirip dengan situasi bangsa Yahudi seperti yang digambarkan Kitab Tawarikh dalam bacaan pertama tadi. Dari kisah itu kita mendapatkan gambaran bahwa sebagai suatu bangsa, bangsa Yahudi pernah mengalami pembuangan, mengalami keruntuhan, dan kehancuran karena perang. Dalam situasi pembuangan, dalam situasi keruntuhan, dalam situasi kehancuran, mereka merasa tidak bisa berbuat banyak. Kekuatan musuh yang tidak dapat dipatahkan membuat mereka ibarat orang cacat yang tidak berdaya menolong diri mereka sendiri. Mereka hanya bisa bermimpi dan mendambakan suatu keadaan yang baik dan menyenangkan. Kehancuran bangsa yang diangkat dalam bacaan pertama bermula dan berakar dari sikap hidup bangsa itu yang selalu berubah setia. Berubah-ubah setia itu sama artinya murtad atau tidak setia lagi kepada Yahwe. Berhadapan dengan sikap bangsa yang tidak setia seperti ini Yahwe memanfaatkan jasa Raja Koresy dari Persia untuk mengembalikan mereka dari pembuangan. Bukan hanya itu, tetapi juga membangun kembali kenisah mereka yang telah hancur. Dengan itu, rasa percaya diri mereka sebagai bangsa ditumbuhkan lagi. Keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan mereka mekar lagi. Allah tetap menyatakan kesetiaan-Nya terhadap manusia yang tidak setia.

Pengalaman bangsa terpilih ini memberi gambaran kepada kita tentang Allah yang setia. Allah memang sering kirim orang-orang atau utusan-Nya kepada kita manusia kalau kita sedang dalam kesulitan. Ada begitu banyak orang yang berperan sebagai nabi dikirim Tuhan kepada manusia agar bebas dari masalah dan kesulitan hidup tetapi sekian sering manusia menolak mereka bahkan membunuh mereka. Manusia tidak dibiarkan berjuang sendirian dalam menghadapi pelbagai kesulitan dalam hidupnya. Pada saat orang merasa haknya direbut, kebebasannya dipasung, keamanan dan keselamatannya terganggu, selalu saja muncul orang-orang yang akan membela, yang akan membantu, yang akan berjuang demi mereka. Allah memang selalu memperhatikan kita melalui orang-orang yang penuh perhatian kepada kebutuhan dan penderitaan sesama. Orang-orang yang berjuang membela kepentingan kita, tentu saja kita hargai dan hormati. Terlalu banyak jumlah orang yang berjuang demi kemanusiaan yang kita kenal dalam sejarah hidup manusia di berbagai belahan dunia ini.

Dari sekian banyak orang yang berjuang untuk nasib manusia itu, tidak ada orang yang jauh lebih berarti, lebih mulia, lebih agung yang bisa menyelamatkan kita manusia selain Yesus kristus Putera Allah sendiri. Yesus sungguh mulia, agung dan terpuji tidak saja karena membebaskan manusia dari berbagai masalah, tetapi lebih dari itu membebaskan manusia dari akar segala permasalahan yaitu dosa. Yesus membabaskan manusia dari dosa berarti Yesus membebaskan manusia dari maut karena upah dosa adalah maut. Perikope Injil Yohanes tadi menegaskan bahwa Allah begitu mencintai dunia sehingga Dia mengutus Putera-Nya yang tunggal, supaya siapa saja yang percaya kepada-Nya tidak akan mati, tetapi memperoleh hidup yang kekal.

Tentu ada banyak hal yang dapat kita petik dan renungkan berdasarkan pesan firman Tuhan hari ini untuk kita. Dari apa yang disampaikan Yesus melalui injil tadi paling kurang kita dapat mengambil tiga hal penting yang bisa kita renungkan. Ketiga hal penting itu tidak dapat dipisahkan yaitu Tindakan Allah, Maksud tindakan Allah, dan Sikap dan tanggapan manusia terhadap Tindakan Allah itu. Hal penting pertama adalah Tindakan Allah. Manusia yang menghadapi masalah dalam hidupnya tak dapat menolong dirinya sendiri. Dalam situasi seperti itu dari semula Allah berinisiatif untuk melakukan sesuatu tindakan demi manusia. Puncak dari semua tindakan serta inisiatif Allah untuk manusia itu diwujudkan dalam bentuk memberikan bhkan menyerahkan Putra-Nya yang tunggal. Inisiatif dan tindakan Allah ini kemudian tampak dalam misi yang diemban dan dilakukan Yesus Putera-Nya menyelamatkan umat manusia dari sakit, penyakit, rasa takut, rasa lapar, rasa ditinggalkan, rasa dikucilkan, melepaskan manusia dari segala kemalangan, dari kekuasaan dosa, dari pengaruh kuasa kegelapan, dan membebaskan manusia dari kematian.

Berdasarkan misi dan tindakan Yesus tampak jelas bagi manusia apa yang maksud atau tujuan tindakan Allah sebagai hal penting yang kedua. Maksud dan tujuan tindakan Allah itutidak lain supaya manusia beroleh hidup yang kekal. Supaya manusia beroleh hidup yang sebenarnya, hidup yang berkualitas, hidup yang berkelimpahan bukan hidup yang gersang, bukan hidup yang kering, bukan hidup yang dangkal. Hidup yang berkelimpahan adalah hidup yang memungkinkan orang dapat berbagi kepada orang lain, artinya hidup yang bisa membaktikan diri bagi sesama, hidup yang melahirkan semangat suka menolong, hidup yang membuat orang lain senang, hidup yang membantu orang lain untuk berkembang dan berhasil, hidup yang mengangkat orang lain untuk maju. Tujuan tindakan Allah adalah untuk kehidupan manusia yang memberi dapat ikutan bagi kehidupan manusia lain atau sesamanya. Hidup yang bisa menjadi berkat bagi orang lain. Hidup yang mampu menciptakan persaudaraan di mana saja kita berada. Allah mengirim Putera-Nya agar manusia memiliki hidup ideal seperti itu.

Sampai di sini inisitaif tindakan Allah yang disertai dengan tujuan tindakan-Nya menuntut tanggapan manusia. Agar tujuan tindakan Allah untuk menyelamatkan manusia dan untuk menjadikan manusia memiliki hidup yang berkelimpahan itu bisa tercapai, manusia dituntut untuk segera memberikan respon atau segera menanggapi tindakan Allah itu. Tanggapan manusia merupakan hal penting ketiga menurut injil hari ini. Manusia perlu merespon secara tepat tindakan Allah. Manusia perlu mengambil sikap terhadap tindakan Allah. Inisiatif dan tindakan Allah tidak bermaksud menghilangkan partisipasi dan tanggapan manusia. Inisiatif Allah tidak bermaksud menjadikan manusia bermental pasif tanpa perjuangan. Tanggapan manusia haruslah sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dan maksud Allah. Sikap yang diambil manusia akan menentukan apakah dia akan memperoleh keselamatan, apakah ia akan memperoleh hidup yang berkelimpahan ataukah sebaliknya mengalami kehancuran, mengalami hukuman sebagai ganjaran atas ketidaksetiaannya.

Berkaitan dengan sikap apa yang harus diambil, Yohanes mengajak kita untuk menanggapi tindakan Allah itu secara positif, Yohanes mengajak kita untuk mengambil sikap kooperatif terhadap rencana keselamatan Allah itu. Sikap kooperatif itu ditunjukkan dalam kepercayaan kita kepada Yesus Kristus, sang Putra Tunggal Allah itu. Kalau kita percaya kepada Dia kita tidak akan mati, tetapi hidup. Dengan menaruh kepercayaan kepada Putera-Nya, manusia, kita memperoleh kekuatan dan menemukan jalan untuk berjuang atau bertahan; dengan percaya kepada Dia, kita tidak akan dikalahkan, dikuasai oleh kesulitan-kesulitan, oleh kesukaran-kesukaran hidup, tetapi kita akan menemukan jalan untuk mengatasinya. Kalau kita sungguh menaruh kepercayaan kepada-Nya, maka walaupun malapetaka menimpa kita suatu saat Allah memberikan kita jalan mengatasinya. Walau kesalahan, kelalaian menghancurkan cita-cita dan masa depan kita, Allah bersama kita dan menginspirasikan kita untuk memulai lagi semuanya.

Kenyataan membuktikan bahwa ternyata manusia tidak menanggapi cinta dan tindakan Allah secara tepat. Manusia kurang menunjukkan kepercayaannya kepada Tuhan. Sikap dan model tanggapan manusia yang tidak tepat itu ibarat manusia yang ingin tinggal dalam kegelapan dan menolak terang. Yohanes mengatakan bahwa manusia menolak terang dan lebih menyukai kegelapan. Sungguh tidak mengherankan lagi, kalau situasi hidup manusia berada di ambang kehancuran. Kita temukan gejala-gejala kehancuran itu pada seluruh lini kehidupan manusia. Gejala kehancuran itu sudah mulai tampak dalam diri kaum muda yang terlibat dalam pelbagai praktik kehidupan yang kurang sehat dan kurang terpuji, dalam diri keluarga-keluarga kristiani yang tidak rukun, dalam diri gereja yang tidak mengamalkan ajaran-Nya, dalam negara yang diancam pelbagai persoalan. Ini semua karena orang menolak terang dan memilih kegelapan.

Masa puasa adalah masa untuk membangun kembali kepercayaan kita kepada Tuhan. Karena itu, marilah kita memanfaatkan masa prapaska ini untuk membangun kembali kepercayaan itu, agar kita mendapatkan hidup yang berkelimpahan. Dengan hidup yang berkelimpahan itu, kita akan mampu memberikan sumbangan yang berarti bagi persaudaraan kita bagi paroki, bagi sesama, bagi gereja dan bagi bangsa kita, bagi lingkungan kerja dan pelayanan kita. Yakinlah kita bahwa Allah, karena sangat mengasihi dan sangat mencinitai dunia tidak menginginkan dunia ini hancur, tidak menginginkan dunia ini hidup dalam penderitaan yang berkepanjangan. Untuk itu dia mengutus Putera-Nya yang tunggal. Putera-Nyalah yang membebaskan manusia dari akar segala kemalangan yang menimpa umat manusia. Semua kita diharapkan untuk percaya kepada Putera-Nya itu. Karena kalau percaya, akan memperoleh hidup yang berkelimpahan, sebaliknya kalau tidak percaya tidak akan memperoleh hidup yang kekal bahkan mendapatkan penghakiman dari Allah. Kalau kita menyadari bahwa kita telah tersesat Tuhan mengajak kita dalam masa puasa ini untuk ‘coming home’ kembali ke rumah Tuhan. Semoga.



Rm.Bone Rampung, Pr

MINGGU PRAPASKA III TAHUN B

HARI MINGGU PRAPASKA III

Kel 20:1 17; 1Kor 1:22 25; Yoh 2:13 25



MENGUSIR KESERAKAHAN DARI BAIT ALLAH



Buka

Para pedagang dengan naluri bisnisnya akan mencari tempat yang ramai dan strategis untuk menjajakan barang dagangannya. Di samping tempat yang trategis dan ramai, pedagang biasanya menggunakan pelbagai kesempatan untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Yang ada dalam pikiran pedagang hanyalah faktor keuntungan. Pertimbangan lain biasanya ditempatkan pada urutan belakang. Sikap seperti ini berpeluang besar bagi si pedagang untuk bertindak salah tempat dan salah waktu. Bertindak salah tempat dan salah situasi inilah yang mau ditampilkan bacaan pada hari minggu ketiga prapaska ini. Keserakahan dan kerakusan menguasai pikiran para pedagang sehingga kenisah sebagai pusat aktivitas spiritual telah dialihfungsikan sebagai pasar hewan. Dalam situasi seperti itu norma dan aturan menjadi sangat brelatif bahkan diabaikan.

Sekian sering manusia telah menjadikan diri, hidup, dan hatinya sebagai sebuah pasar hewan yang penuh dengan pelbagai hal yang bertentangan dengan prinsip, norma, dan hukum baik hukum positif maupun hukum Tuhan. Masa pesiapan, masa tobat, bagi kita adalah masa untuk membesihkan kenisah diri dan hidup kita dari pelbagai kotoran dan noda karena mental dan cara hiduo kita. Kita akui semuanya di hadapan Tuhan dan sesama kita…



Renungan

Sepuluh hukum atau perintah Tuhan yang diterima Musa sebagai pemimpin dalam perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir merupakan norma yang mengatur pola perilaku hidup manusia. Hukum pola perilaku itu diarahkan pada dua sasaran yaitu Allah dan sesama. Karena itu, kesepuluh perintah itu dapat diringkas menjadi dua hukum utama yang mengatur relasi manusia dengan Allah, dan manusia dengan manusia lainnya. Tempat pagelaran atau penerapan dua hukum itu secara konkret dinyatakan dalam praktik hidup keagamaan yang mengatur relasi manusia dengan Allah dan dalam praktik hidup sosial kemasyarakatan sebagai wujud relasi antarmanusia. Lebih kurang seperti itulah yang menjadi inti dari sederetan hukum yang digambar dalam Kitab Keluaran yang dipakai dalam bacaan pertama hari Minggu Prapaska ketiga ini.

Dua arah sasar pola perilaku manusia dalam batasan kesepuluh hukum Allah ini dapat kita temukan dalam penggalan injil Yohanes hari ini. Yohanes mengangkat kisah pengalaman Yesus ketika datang ke Bait Allah. Bait Allah merupan represntasi (tanda kehadiran) relasi manusia dengan Allah karena manusia menyadari bahwa Allah hadir di dalam Bait Allah. Karena itulah, Bait Allah atau Kenisah sungguh menjadi tempat yang istimewa untuk manusia dan juga untuk Allah. Bait Allah menjadi tempat perjumpaan secara spiritual antara manusia dengan Allah. Bait Allah menjadi sarana spiritual, sarana rohani yang mesti dijaga dan dipelihara. Menjaga dan memelihara bait Allah tidak saja dalam pengetian pemeliharaan fisik bangunannya tetapi lebih dari itu memerilahara Bait Allah artinya menjadikan dan memfungsikan sarana spiritual itu sesuai dengan tujuan dan fungsinya. Pemanfaatan sarana rohani sesuai tujuan dan fungsinya berarti pula menuntut manusia untuk mendisposisikan hati dan seluruh sikap dan perilakunya sesuai tuntutan tempat dan lingkungan itu. Bait Allah sebagai sarana spiritual, tempat perjumpaan manusia dengan Allah mengharuskan manusia untuk manaruh hormat pada tempat itu dengan cara menggunakannya secara tepat.

Kisah tentang pengusiran para pedagang atau penjual dari Bait Allah oleh Yesus seperti dinarasikan dalam Injil Yohanes secara amat jelas menggambarkan pemanfaatan sarana spiritual di luar tujuan dan konteksnya. Di sana ada penjungkirbalikan nilai spiritual kehadiran bait Allah sehingga para pedagang mengalihfungsikan sarana spiritual itu menjadi lahan bisnis yang memberi jaminan keuntungan secara matelial. Peristiwa dan kasus yang terjadi di Bait Allah menggambarkan adanya gejala dominasi metal materialistis atas dimensi spiritual. Peristiwa dan kasus di Bait Allah itu telah menampilkan citra dan gambaran mental manusia yang serakah dan rakus untuk menjadikan semua tempat sebagai lahan mengeruk keuntung material. Keserakahan dan kesombongan manusia telah menodai kesakralan Bait Allah. Keserakahan manusia telah mengotori pusat spiritual. Di sana relasi spirtual antara manusia dangan Allah tidak mendapat tempat lagi. Bait Allah telah menjadi pasar yang sering diidentikan dengan praktik yang tidak terpuji.

Penyalahgunaan bait Allah seperti digambarkan ditampilkan Yohanes dalam kaitannya dengan misi kedatangan dan perutusan Yesus. Yohanes mengangkat kisah ini untuk mempertajam misi dan kedatangan Yesus. Kisah tentang ‘tragedi’ di bait Allah ini juga dikaitkan dengan perayaan Paska sebagai salah satu peritiwa penting dalam konteks kehidupan orang Yahudi. Paska sebagai peringatan akan pembebasan bangsa Israel dari kekuasaan Mesir. Pembebasan bangsa Israel atau orang Yahudi dari kekuasaan Mesir mendorong bangsa itu untuk merayakannya setiap tahun di pusat spiritual mereka yaitu Kenisah atau bait Allah di Yerusalem. Itu artinya, semua mereka yang tergolong orang Yahudi tanpa kecuali, paling kurang setahun sekali harus ke Yerusalem. Itu artinya, menjelang Paska kota Yerusalem dipadati jutaan manusia. Keadaan demikian mendorong mereka yang bernaluri bisnis untuk menjadikan peristiwa itu sebagai peluang mencari untung dengan berdagang. Melihat peluang bisnis seperti itu orang lalu mencari tempat yang paling strategis untuk menjajakan barang dagangannya. Tidak luput, pelataran Bait Allah pun dipakai untuk berdagang. Keadaan ini menyulut kemarahan Yesus.

Mengapa Yesus marah dan mencambuki para saudagar hewan itu? Ada beberapa alasan yang bisa kita temukan. Pertama, jelas sekali karena mereka telah menjadikan Bait Allah itu sebagai pasar hewan.Kita dapat membayangkan keadaan sebuah pasar hewan. Mereka menjadikan Kenisah tidak sesuai lagi dengan tujuan dan fungsinya. Kedua, Yesus mencambuki mereka karena dengan berdagang di Bait Allah mereka berlaku tidak adil terhadap mereka yang datang dari jauh ke Yeusalem untuk menjali relasi pribadi dengan Allah di bait Allah. Para pedagang hewan menghalangi orang Yahudi yang datang dari tempat jauh berkomunikasi dengan Allah. Dalam tradisi Yahudi bait Allah dibagi menjadi beberpa bagian. Salah satu bagiannya yaitu pelataran biasanya diperuntuk bagi mereka yang datang dari jauh untuk merayakan paska. Dalam kenyataannya mereka yang datang dari tempat jauh tidak mendapat tempat karena tempat bagi mereka telah dikuasai para saudagar hewan yang serakah mencari keuntungan. Keserakahan mereka telah menghalangi orang lain menjumpai Allah yang diyakini hadir di bait Allah dalam dua loh batu berisi sepuluh perintah Allah. Ketiga, Yesus mencambuki mereka karena tidak lagi menyiapkan diri untuk merayakan Paska tetapi sibuk dengan berdagang demi keuntungan material. Tradisi menghormati Allah menjelang paska telah mengalami kemunduran dan dikalahkan oleh pertimbangan bisnis.

Tindakan Yesus terhadap para saudagar hewan itu jelas menunjukkan sikap respek Yesus terhadap kesakralan Bait Allah itu dan juga menunjukkan apresiasinya yang tinggi terhadap tradisi masyarakat Yahudi yang menghormati Allah di Kenisah Yerusalem. Di sana Yesus berhadapan dengann sekelompok orang yang telah menggadaikan kesakralan bait Allah dengan keuntungan bisnis. Yesus berhadapan dengan sekelompok manusia yang tidak lagi menaruh terhadap kehadiran Allah di Kenisah. Keserakahan telah menguasai sikap hati dan mental orang seputar bait Allah itu. Apakah dengan itu dapat dikaakan bahwa Yesus membenci profesi berdagang? Tentu saja tidak. Kalau sampai Yesus mengusir, memporak porandakan aktivitas berdagang itu pasti bukan karena Ia membenci urusan dagang dan membenci para pedagang.

Yesus mengusir mereka bukan karena memebenci profesi itu melainkan karena mereka berdagang pada tempat yang salah dan dalam situasio yang salah. Yesus sendiri sungguh menaruh respek dan memiliki apresiasi yang tinggi terhadap profesi pedagang. Hal ini dapat kita telusuri beberapa teks yang membuktikan Yesus menghargai aktivitas berdagang. Yesus sendiri pernah mengangkat kisah kehidupan para pedagang yang mencari mutiara yang indah untuk menjelaskan hakikat kerajaan Kerajaan Allah ysng diwartakannya (Mat.13:45).Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali (Luk.19:13). Dan terjadilah, ketika ia kembali, setelah ia dinobatkan menjadi raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya, yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing (Luk. 19:15). Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung (Yak.4:13). Lebih dari itu kitab suci juga mengisyaratkan bahwa harta dan hasil usaha dagang dapat dipakai untuk memuliakan Allah. "Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya" (Ams.3:9 10). Karena itu, sikap Tuhan yang keras dan tegas terhadap para peda¬gang di kanisah punya maksud yang sangat positif. Yaitu mau menunjukkan kepada mereka arti dan nilai dari kanisah yang sebe-narnya.

Jelaslah bagi kita bahwa tindakan Yesus bukan indikasi kebencian terhadap kegiatan berdagang melainkan suatu tindakan penyadaran dan pemurnian mental manusia yang bertindak tidak tepat waktu dan tidak tepat tempat. Yesus mau mengembalikan supremasi Bait Allah sebagai pusat aktivitas spiritual ketika keserakahan untuk mendapatkan harta mendominasi sikap dan cara pikir manusia. Yesus ingin mengembalikan tradisi penghormatan tehadap Allah di Kenisah Yerusalem dari sikap mengabaikan tradisi karena pertimbangan bisnis ekonomis semata. Tindakan Yesus adalah upaya membersihkan Bait Allah dari Kersakahan dan kerakusan manusia akan harta. Kalau Yesus mengusir para pedagang dari bait Allah itu sama artinya Ia ingin mengusir Kersakahan, kerakusan, ketidakadilan dari pusat hidup spiritual manusia.

Kalau Yesus mengingatkan para pedagang untuk mengembalikan supremasi bait Allah terhadap keserakahan para pedagang, membersihkan Bait Allah maka Santu Paulus dalam cara yang hampir sama mengingatkan orang beriman bahwa diri atau tubuh orang beriman itu merupakan bait atau kenisah Roh Kudus. Dalam suratnya yang pertama kepada umat Korintus Paulus menggambarkan aneka sikap dan perilaku manusia yang berlawanan dengan hukum Tuhan. Ada banyak sikap dan perilaku manusia yangmenjadi indikasi dirinya sebagai bait Roh Kudus telah dikotori dan ternoda. Perselisihan, ketidakadilan, percabulan, peneyembahan berhala,perzinahan, pencurian, pemabukan, pemfitnahan, penipuan, hawa nafsu, kesekarahan, kerakusan, dan perilaku tak terpuji lainnya (1Kor.6:1-19). Ada dua pertanyaan penting yang diajukan Paulus untuk kita renungkan dalam masa persiapan paska ini. Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? (1Kor.6:15) Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? (1Kor.6:19)

Semoga kita dapat memberikan jawaban yang tepat atas pertenyaan ini dalam masa persiapan ini agar kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Pasa prapaska adalah amsa tobat masa pembersihan, pengusiran, dan penyingkiran aneka keserakahan yang ada dalam bait suci, diri kita sendiri. Diri, hidup, dan hati kita adalah kenisah Allah yang harus selalu kita bersihkan dari aneka keserakahan kita. Kalau Yesus mengusir keserakahan manusia yahudi dari bait dan Kenisah Allah maka kita secara pribadi harus mampu mengusir keserkahan yang menguasai diri, hidup, dan hati kita. Janganlah kita mengotori dan menjadikan hati dan hidup kita sebagai pasar hewan yang penuh kebusuikan. Ingatlah, taruhannya terlampau pesar. Diri dan hidup kita telah dibeli dengan harga termahal. Anda dan saya telah dibeli dengan harga paling mahal. Paulus mengingatkan kita, Anda dan saya’ dalam kalimat ini: Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu (1Kor.6:20)! Semoga!





MINGGU PRAPASKA II TAHUN B

MINGGU PRAPASKA II

Kej.22,1-2.9a.10-13.15-18; Rom.8,31b-34; Mrk.9,2-10



Berpuasa: Mau Berjalan Turun

Buka

Mengorbankan, merelakan, melepaskan sesuatu yang paling disukai, paling disayangi, paling disenangi menuntut perjuangan yang sungguh-sungguh. Manusia cenderung bertahan dan bahkan ingin terus bertahan di dalam situasi yang membuatnya selalu senang dan gembira. Kecenderungan seperti itu membuat seseorang melupakan prinsip bahwa ada orang lain yang belum sempat merasakan kegembiraan dan kebahgiaan seperti itu. Ketiga bacaan yang ditawarkan gereja pada pekan kedua masa pertobatan ini menjelaskan kepada kita tentang bagaimana seharusnya manusia belajar berkorban baik untuk Tuhan maupun untuk sesamanya. Belajar bagaimana berjuang berhadapan dengan segala cobaan rintangan dalam kehidupan. Tantangan adalah ciri khas kehidupan karena selama hiudp manusia tidak akan bebas dari cobaan dan tantangan. Kita akui kelehaman kita..



Renungan

Setiap tahun almanak atau penanggalan, kalender yang kita dapatkan selalu mencantumkan hari-hari liburan. Biasanya tanggal liburan dikaitkan dengan peristiwa keagamaan. Angka penanggalan untuk hari libur umumnya berwarna merah. Hampir semua penganut agama dan kepercayaan di Republik Indonesia mempunyai jatah untuk berlibur berkaitan dengan agama dan kepercayaan yang dianut. Sebagai contoh, untuk umat Muslim menetapakan adanya Hari Kurban yang dikenal dengan sebutan Hari Idul Adha yang umumnya jatuh pada hari Jumad. Dalam tradisi Islam perayaan itu merupakan peringatan akan satu peristiwa penting ketika nabi Ibrahim harus mengurbankan anak tunggalnya Ismail. Untuk orang Kristen, kisah seperti itu dapat dibaca dalam kitab Kejadian seperti dikisahkan dalam bacaan pertama hari ini. Memang ada perbedaan soal nama anak yang dikurbankan. Dalam tradisi Islam nama anak Ibrahim itu Ismail (putra yang dilahirkan Hagar perempuan yang menjadi selir Ibrahim) sedangkan dalam tradisi Kristen nama anak Abraham itu Ishak (putra yang dialhirkan dari Sara istri sah Abraham). Nama Ibrahim dan Abraham itu orang yang sama, tetapi Ishak dan Ismail itu berbeda. Ishak adalah anak Abraham dari istrinya yang sah yaitu Sara. Sedangkan Ismail adalah anak yang dilahirkan dari seorang perempuan berstatus hamba. Dan kalau kita membaca kitab Kejadian khususnya bab ke-21 maka kita akan melihat bagaimana Sara meminta Abraham agar mengusir Hagar dan Anaknya Ismail. Hagar dan Ismail memang tidak akan mewarisi harta kekayaan karena status mereka sebagai budak. Yang berhak mewarisi kekayaan adalah Ishak dan semua keturunnya.

Bacaan pertama tadi memberikan kita gambaran tentang Idul Adhanya atau hari kurbannya kita orang beriman Kristiani. Iman Abraham diuji dengan tuntutan Yahwe agar mempersembahkan Ishak sebagai kurban. Abraham harus menyatakaan ketaatan dan kesetiaannya kepada Yahwe dengan mempersembahkan anak tunggalnya. Tentunya amat sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana pergolakan batin Abraham saat itu. Bagaimana ia harus mengajak Ishak untuk bersama-sama berangkat ke gunung Moria. Bagaimana Ishak sendiri menyiapkan segala perlengkapan untuk kurban tanpa ia tahu bahwa dirinya sendiri justru yang akan dikurbankan. Tidak terbayangkan bagaimana Abraham harus bergulat dengan dirinya sendiri. Abraham mendaki ke gunung Tuhan untuk membawakan persembahan yang paling berharga. Persembahan dengan nilai pengorbanan yang luar biasa. Abraham harus naik ke puncak gunung Moria. Abraham harus mempersembahkan Ishak sebagai domba kurban. Abraham harus mengurbankan rasa cintanya kepada Ishak. Cinta Abraham kepada Yahwe nilainya lebih tinggi dibandingkan cintanya kepada Ishak. Abraham yakin bahwa Yahwe merencanakan yang terbaik baginya. Dan memang hal itulah yang terjadi. Yahwe memberi jalan bagi Abraham karena Abraham sungguh mencintai Yahwe. Ishak diselamatkan Yahwe hanya karena Abraham taat dan rela berkorban. Ishak sebagai anak kesayangan Abraham diselamatkankan Yahwe karena kesetiaan Abraham. Bagi Yahwe siapa saja yang taat dan melakukan firman-Nya maka segala yang berharga akan diberikan kepada orang itu. Perjuangan dan pergulatan Abraham diperhitungkan Yahwe. Setiap usaha dan perjuangan yang baik, yang sesuai dengan kehendak Yahwe akan membawa berkat bagi orang itu.

Yahwe telah menguji iman Abraham dan Abraham terbukti tetap setia kepada Yahwe. Melalui bacaan kedua tadi Paulus mengingatkan kita bahwa Yahwe (dalam perjanjian lama) atau Tuhan (dalam perjanjian baru) sungguh mencintai manusia. Kalau kisah Abraham menyatakan cinta manusia kepada Yahwe maka Paulus sebaliknya menyatakan kepada kita bagaimana Tuhan sungguh mencintai manusia. Tuhan yang mencintai manusia itu rela mengutus putra-Nya yang Tunggal Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah putra kesayangan, putra Tunggal Allah yang dikurbankan untuk kepentingan seluruh umat manusia. Perutusan Yesus Kristus sebagai Putra Tunggal Allah merupakan perisai bagi hidup orang beriman. Perutusan Yesus adalah bukti bahwa Tuhan membela kita, Tuhan berada pada pihak kita. Dan menurut Paulus tadi kalau Tuhan sudah pada pihak kita maka kita pasti akan hidup dan bertahan dalam perjuangan hidup kita. Hari Kurban (Idul Adha) yang dibuat Abraham dalam perjanjian lama menekankan aktivitas dan tanggapan manusia terhadap permintaan Yahwe. Kisah perjanjian baru justru mengambil titik star yang berlawanan karena kurban itu lebih menekankan inisiatif Allah yang mau menyelamatkan manusia dengan mengutus Kristus sebagai domba sejati yang harus dikurbankan untuk menghapus utang dan dosa umat manusia. Oleh kurban Yesus manusia beriman dipersenjatai untuk berjuang menuju kemenangan abadi.

Yesus adalah senjata orang beriman dalam menghadapi segala tantangan. Itu artinya hidup dan teladan hidup Yesus hendaknya menjadi contoh dan model setiap perjuangan hidup manusia beriman. Mengikuti Yesus sebagai perisai dan senjata dalam kehidupan kita menuntut kita untuk selalu berjalan bersama Dia. Mengikuti Yesus sebagai orang beriman menuntut kita untuk bersama dia mendaki ke puncak gunung dan juga turun ke lembah untuk menjalankan misi perutusan-Nya. Perikope Injil Markus hari ini sungguh menarik untuk kita renungkan. Injil mengisahkan bagaimana Yesus mengajak para murid-Nya yang diwakili tiga orang yaitu Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Mereka diajak untuk mendaki ke puncak gunung. Ajakan Yesus untuk ke puncak gunung sama dengan ajakan Tuhan kepada Abraham dalam bacaan pertama tadi. Ajakan itu adalah ajakan yang penuh perjuangan dan pergolakan. Para murid yang diajak Yesus berhasil sampai ke puncak. Setelah berjuang dengan susah payah mereka tiba di puncak dan mereka menyaksikan satu peristiwa luar biasa. Terjadi pristiwa trasnfigurasi atau perubahan wajah Yesus dan mereka melihat pemandanagan yang menakjubkan. Mereka melihat wajah Musa dan nabi Elia.

Bagaimana reaksi para murid ketika menyaksikan peristiwa yang mengejutkan itu? Para murid terkejut dan bahkan Petrus bergumam seperti bermimpi. Tuhan biarlah kami mendirikan tiga pondok di tempat ini. Satu untuk Elia, satu untuk Musa dan satu untuk Yesus. Sebelum keinginan mereka ditanggapi keadaan segera berubah. Wajah Musa dan Elia menghilang dan mereka hanya mendengar suara dari balik awan: Inilah Putra kesayanganku, dengarkanlah Dia.

Para murid memang mengehndaki untuk mendirikan pondok di puncak gunung tetapi Yesus tetap mengajak mereka untuk turun dari puncak. Mereka harus segera turun ke Yesusalem karena di sana Yesus akan menjalankan misi perutusan-Nya. Mereka diajak Yesus untuk segera ke Yerusalem karena di sanalah Yesus akan menjalankan misi-Nya sebagai Ishak baru yang dikurbankan Tuhan untuk manusia. Dari kisah tadi tampak jelas ada perbedaan kehendak antara Yesus dengan para murid. Para murid menghendaki agar mereka membangun kemah dan terus tinggal di puncak gunung mdenikmati keindahan puncak gunung. Para murid mau supaya peristiwa yang indah, yang menyenangkan, peristiwa yang mengejutkan terus mereka alami di atas puncak gunung. Tetapi, Yesus meminta mereka untuk segera turun menjalankan sesuatu yang paling penting dan utama. Menjalankan misi perutusan membela manusia.

Sikap para murid yang mau membangun pondok di puncak gunung adalah gambaran dan simbol sikap hidup manusia sampai zaman kita saat ini. Para murid itu enggan untuk turun dan berjuang karena sudah merasa keenakan di atas puncak gunung. Sikap para murid tadi masih merasuki para pejabat dan elite politik di negara kita saat ini. Orang yang sudah menduduki jabatan tertinggi, jabatan empuk, jabatan basah, jabatan yang mengenakkan biasanya enggan untuk melepaskannya. Mereka akan berjuang untuk tetap bertahan. Mereka akan berjuang dengan segala cara untuk mempertahankannya dan tidak mau turun. Orang seperti itu adalah seperti para murid yang mau terus berada di puncak gunung.

Masa puasa yang sedang kita jalankan adalah masa dan kesempatan bagi kita semua untuk meninggalkan suasana puncak gunung yang mungkin membuat kita terpesona dan lupa diri. Mungkin kita sudah berada terlalu lama di puncak gunung dengan segala keingian dan kehendak kita sendiri. Mungkin kita sudah membangun kemah di puncak kegembiraan kita lalu lupa untuk turun menjalankan misi kita sebagai pengikut Kristus. Ajakan Yesus bagi ketiga murid-Nya yang mau bertahan di puncak gunung untuk segera turun juga menjadi ajakan bagi kita semua dalam masa persiapan ini. Masa puasa adalah masa mengorbankan apa yang paling kita kita senangi, yang paling kita nikmati, yang paling kita sayangi seperti Abrham yang mengurbankan Ishak. Ambisi kita, keinginan kita, kencenderungan kita adalah barang-barang yang harus kita persembahkan pada masa puasa ini. Mudah-mudahan kita semua menjadi orang-orang yang mau berjalan bersama Yesus ke Yerusalem kehidupan kita dengan segala tantangannya. Berpuasa adalah perjalanan turun ke dalam diri dan realitas hidup bukan mempertahankan sesuatu yang menyenangkan dan memberikan kita kenikmatan. Memang tak mudah bagi kita yang sudah berada di puncak untuk turun tetapi kalau kita menyadari bahwa pada kedalam lembah kita dapat menemukan endapan emas apa salahnya kita harus turun? Kita mau berpuasa berarti mau berjalan turun. Amin.



Rm. Bone Rampung Pr

MINGGU PRAPASKA 1 TAHUN B

MINGGU I PRAPASKA

Kej. 9:8 15; 1Ptr 3:18 22; Mrk 1:12 15



Kasih Terulur: Tanggapan Diulur



Buka

Kasih dan kesetiaan Allah kepada manusia tidak bakal berakhir dengan cara dan sikap hidup manusia. Simpati dan cinta Allah tidak ditaklukkan oleh kelemahan manusia. Allah senantiasa mendekati manusia agar manusia kembali pada jalan yang dirintis Allah, agar dapat kembali ke rumah bapa. Tuhan menyapa kita dan sekaligus mengajak kita melalui firman-Nya pada hari ini agar kita memberi tanggapan secepatnya terhadap tawaran kasih Allah dalam situasi kehidupan kita. Setiap saat Allah mengulurkan kasih pertolongannya untuk membebaskan manusia dari kegelapan hidupnya. Dan dalam masa puasa ini Allah memberikan pe1uang bagi kita untuk semakin mengenal diri dan kehidupan kita. Dalam perayaan ini kita memohonkan kekuatan biar kita semua dimampukan untuk memberi¬kan jawaban pribadi terhadap tawaran keselamatan Allah. Marilah kita menyadari kele¬mahan dan dosa kita terutama dosa kecurigaan dan keraguan kita akan kasih Allah yang setiap saat mendatangi kita.



Renungan

Perkenankanlah kami mengajak Saudara/i sekalian untuk merenungkan firman Tuhan yang menyapa kita hari ini dengan bantuan sebuah cerita kecil berikut ini: Konon seekor kera tambun tergoda untuk masuk ke dalam kebun salah seorang petani. Dari atas pohon kera melihat setandan pisang yang sebagiannya telah matang. Kera berniat untuk menikmati buah pisang itu namun sayang kebun itu dipagar agak tinggi. Kera merasa kesulitan untuk masuk memetik pisang itu. Setelah bersusah payah kera itu berhasil memanjat pagar yang tinggi dengan bantuan sebatang pohon yang tumbuh dekat pagar itu. Kini ia berada di atas pagar dan ingin melompat ke pohon pisang. Kera melompat ke arah pelepah pisang yang berdekatan dengan pagar. Ketika kera melompat pada pelepah pisang itu, pelepah itu tidak mampu menahan tubuh kera yang tambun itu. Pelepah pisang itu patah sehingga si kera terlempar masuk ke dalam sebuah lobang. Lobang yang dalam itu dibuat si pemilik kebun pisang sebagai ranjau untuk babi hutan yang sering merusak tanamannya. Malang nasib si kera itu, ia terpental ke dalam lobang yang dalam dan tidak dapat keluar dari lobang itu.

Seekor kanci1 menyaksikan peristiwa itu. Dengan itikad hendak menolong si kancil mencoba melepaskan seutas tali dan meminta si kera memegang pada ujung tali sebelum ditarik si kancil. Menyaksikan tindakan si kancil itu kera menaruh curiga terhadap gelagat kancil itu. Karena itu, dari dalam lobang kera bertanya kepada kancil tentang maksud si kancil menolongnya. ‘Apa maksud Saudara Kancil mau menolong saya?’ Kancil menjawab kera itu katanya: ‘Aku akan menjelaskan dan menjawab pertanyaanmu setelah engkau keluar dari lobang ini’. Kera tetap pada pendiriannya dan mencurigai tindakan kancil. Kera berkata lagi: ‘Saya baru mau pegang pada ujung tali ini dan keluar hanya jika kamu memberi¬kan jawaban atas pertanyaanku’. Kancil mengalah lalu berkata: ‘Kalau demikian saya harus ke perpustakaan dahulu untuk mencari pada buku ensiklopedi jawaban atas pertanyaanmu itu’. Kera berkata lagi: ‘Bagaimana bisa engkau mencari jawabannya di perpustakaan saya toh tahu bahwa kamu itu buta huruf’. Kancil menjawab: ’Kalau begitu saya harus pergi daftar dan bersekolah dahulu’. Kancil pun pergi, meninggalkan kera itu sendirian berjuang di dalam lobang yang gelap. Setelah sekian lama kera menggerutu karena kancil itu tidak datang-datang untuk menolongnya keluar dari lobang kegelapan yang mengancam keselamatannya nyawanya itu.

Jika kita mendengarkan dengan teliti apa yang dikisahkan dalam bacaan pertama tadi kita boleh menyimpulkan bahwa kisah air bah itu sebenarnya kisah yang menggambarkan kondisi kehidupan manusia di hadapan Allah. Kisah yang digambarkan dalam kitab Kejadian tadi menggambarkan bahwa mayoritas manusia telah bertindak dan hidup dalam kehendaknya sendiri. Kejatuhan manusia pertama yang bermula dari rasa curiga terhadap kebaikan Allah membawa dampak yang luas dalam kehidupan manusia. Nuh yang diluputkan dari kisah dan malapetaka air bah merupakan gambaran jumlah minoritas manusia yang masih mendengarkan dan mengarahkan kehidupannya sesuai dengan kehendak Allah. Kecurigaan manusia akan kebaikan Allah dapat dibandingakan dengan kecurigaan si kera terhadap niat baik si kancil. Dalam sejarah perjalanan manusia, Allah senantiasa menawarkan kasih-Nya untuk membe¬baskan manusia dari kegelapan karena ulahnya sendiri yang mau melompat pagar yang ditetapkan Allah. Manusia yang telah terjerumus ke dalam kegelapan dosa tetap dicari dan didekati Allah. Allah senantiasa berinisitif membangun titian yang menghubungkan kembali manusia yang telah terputus akibat dosa.

Bacaan pertama sangat jelas disampaikan kepada kita tentang Allah yang berinisitif membuat satu perjanjian dengan manusia. Kita sendiri mendengar Allah berkata: ‘Sesungguhnya Aku akan mengadakan perjanjian dengan kamu dengan segala keturunanmu dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu yang diselamatkan dari bahaya air bah’. Keselamatan ciptaan merupakan isi utama perjanjian Allah yang disampaikan-Nya kepada Nuh. Allah menjamin perjanjian itu dengan menaruh busur anak panah-Nya di langit yang jauh. Busur dan panah adalah simbol kemurkaan Allah namun karena cinta-Nya kepada manusia dan ciptaan kemurkan itu ditempatkannya jauh di langit. Itulah gambaran simpati dan cinta Allah buat manusia yang terjerumus ke dalam jurang kegelapan dosa.

Kisah malapetaka yang menimpa manusia dalam air bah adalah kisah pemusnah dosa manusia. Itulah kisah pemurnian hidup manusia yang inisitifnya datang dari Allah. Gagasan demikian kemudian berkembang dalam perjanjian baru di mana air bah merupakan simbol pembaptisan. Bacaan kedua tadi menegaskan bahwa manusia diselamatkan oleh pembaptisan. Dengan pembapisan, manusia telah dijadikan manusia baru. Dan pembaptisan itu tidak lain berarti kita ikut mati dan bangkit bersama Kristus. Surat Petrus tadi coba menarik satu benang merah yang menghubungkan kembali peristiwa air bah yang di alami Nuh dengan keselamatan yang dibawakan Kristus sendiri. Di sana kita membaca: ‘Juga kamu sekarang diselamatakan oleh kiasan air bah yaitu baptisan yang bertu¬juan bukan untuk membersihkan kanajisan jasmani melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah’. Dan semuanya terlaksana dalam korban dan kebangkitan Kristus. Dalam bacaan pertama Allah menawarkan keselamatan itu dengan perantaraan para nabi tetapi dalam bacaan kedua Allah mnyelamatkan manusia dengan mengutus PutraNya sendiri. Cinta, simpati dan perha¬tian Allah atas manusia belum lagi berakhir.

Penggalan injil Markus yang dipakai dalam pekan ini memang sangat singkat. Kita lalu bertanya mengapa demikian sing¬kat. Ini bukan tanpa Alasan. Alasannya ada pada kalimat-kalimat terkahir dalam injil tadi. Hanya satu alasannya yaitu waktunya telah genap. Waktunya singkat. Karena itu yang di sampai¬kan hanyalah satu pesan yang penting yaitu Bertobat dan Percaya. Injil mengisahkan tentang Yesus yang diantar Roh ke padang gurun untuk tinggal selama 40 hari. Injil sinoptik lainnya menambahkan bahwa di sana Yesus berdoa dan berpuasa. Di sana Yesus dicobai Iblis. Gambaran tentang Yesus yang dicobai iblis ini mau megatakan kepada kita bahwa dalam usaha yang baik apa pun godaan selalu membayangi manusia. Untuk dapat mengatasi semuanya, tidak ada cara lain bagi kita se1ain selalu kembali ke dalam diri sendiri, Kembali ke dalam hati nurani sendiri. Meli¬hat, menilai diri dan kehidupan kita. Waktunya singkat karena itu tanggapan yang segera sangat di harapkan.

Masa Puasa yang tenyah kita jalankan adalah saat yang tepat bagi kita semua untuk kembali ke dalam diri kita melihat dan menilai jalan dan cara hidup kita. Masa puasa ini ada1ah masa Allah menawarkan kesempatan buat kita. Kita semua dalam arti tertentu telah mengalami nasib seperti kera yang terjerumus ke dalam jurang kegelapan. Namun, Allah masih memberi¬kan, mengulurkan, memebentangkan, dan menawarkan tali kasih yang akan membebaskan kita dari kegelapan itu. Masa puasa adalah masa Allah menawarkan seutas tali yang hendaknya segera dipegang manusia biar selamat. Tentu saja kita tidak mau mengalami nasib seperti kera yang terus meringkuk dalam kegelapan hanya karena menolak tawaran keselamatan dari Allah.

Lalu bagaimana konkretnya kita mau keluar dari kegelapan itu pada masa puasa ini? Kita dapat ke1uar dari kegelapan semasa puasa ini harus selalu dikaitkan dengan peranan kita masing di tengah keluarga dan masyarakat. Sebagai biarawan/ti mungkin kita masih dalam kegela¬pan ketika persaudaraan di antara kita mengalami gangguan, ketika arah perjalanan kita mulai menemukan jalan buntu, ketika kita menjadikan komunitas kita tidak lebih sebagai kelompok yang harus disegani lantaran kita mau aman sendiri di balik pagar dan tembok kehidupan kita. Sebagai orangtua mungkin saat ini kita masih berada da1am kegelapan ketika keharmonisan dalam keluarga mengalami ganguan, ketika anggota keluarga mau memperjuangkan kepentingannya sendiri, ketika angota-anggotanya merasa dirinya lebih panting dari yang lain. Sebagai pelajar mungkin saat ini kita masih dalam kegelapan ketika kita tidak memanfaatkan pelbagai peluang untuk belajar secara serius, ketika kita salah menygunakan tanggungjawab yang diberikan orangtua kepada kita. Sebagai anak di da1am keluarga mungkin saat ini juga kita masih dalam kegelapan ketika kita tidak lagi taat pada harapan orangtua kita. Sebagai remaja mungkin saat ini kita masih dalam kegelapan ketika kita menyalahgunakan kebebasan kita, ketika kita melalaikan pelbagai norma dalam pergaulan kita.

Sebagai apa saja kita, mungkin saat ini masih berada dalam kegela¬pan. Dan kita bersyukur kepada Tuhan karena kita masih diberi waktu untuk keluar dari kegela¬pan dan kejatuhan kita dengan menjadikan masa puasa ini sebagai kesempatan menempatkan diri kita pada posisinya yang tepat. Kisah tentang nasib malang yang menimpa kera dalam cerita hendaknya menjadi bahan refleksi dan renungan pribadi kita selama amsa puasa ini. Kera tadi tidak bisa diselamatkan bukan karena tidak ada yang menolong tetapi karena kera sendiri menaruh sikap curiga terhadap kebaikan yang ditawarkan kepadanya. Setiap saat dalam aneka kesempatan dan peristiwa kita bisa jatuh dalam dosa. Setiap saat dan dalam aneka kesempatan yang sama Tuhan menawarkan pertolongan asalkan kita terbuka dan membuka diri dengan menyingkirkan prasangka buruk terhadap orang lain yang mungkin datang sebagai tanda kehadiran Allah. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam aneka situasi kehidupan. Hanya persoalannya terletak pada sikap manusia apakah ia menyadari bahwa Allah terlibat dan dilibatkan dalam seluruh pengalaman hidup. Kasih Tuhan senantiasi Terulur dengan harapan manusia tidak mengulur-ulur memberi jawaban atas kasih itu. Amin,



Rm.Bone Rampung Pr

Friday, August 2, 2013

MINGGU BIASA KE-18 THN.C1

Minggu Biasa ke 18 Thn. C/I 4 Agustus 2013

Pkh.1:2; 2:21 23 Kol.3:1 5,9 11 Luk.12:13 21

_________________________________________________________

Buka:

Hari ini kita memasuki Minggu Biasa ke 18. Ketiga bacaan hari ini mengajak kita untuk hidup tidak asal hidup. Sibuk tidak asal sibuk tetapi hidup dan hidup yang berguna. Dan Injil menegaskan bahwa harta kekayaan yang dikumpulkan itu sama sekali tidak menjamin keselamatan bagi jiwa kita. Ki¬sah seorang yang mau mengumpulkan harta pada segala lum¬bungnya, namun tidak tahu bahwa pada malam itu maut telah merenggut nyawanya. Akhirnya apa yang diusahakannya itu tak ada gunanya. Semuanya itu sia sia tanpa guna. Kisah itu jelas mengajak kita semua untuk melihat kembali kehid¬upan kita selama ini. Barangkali selama ini kita menilai kehidupan dan keselamatan kita dengan apa yang kita kumpulkan dan apa yang kita miliki. Mungkin kita lupa bah¬wa itu semua cumalah sementara sifatnya. Satu satunya jaminan keselamatan kita adalah Kristus sendiri. Menaruh harapan kepada Dia, berarti kita mau selamat. Marilah kita mohon sesal kalau selama ini kita sibuk dengan segala hal dan melupakan Allah. Kita sibuk sampai lupa yang paling penting bagi jiwa kita...



Renungan

Raja Aleksander Agung adalah raja yang besar dan sangat berpengaruh. Harta kekayaannya melimpah. Pada saat ia sa¬kit menghadapi ajalnya ia memanggil para pengawalnya dan juga semua keluarganya untuk mendengarkan wasiat atau pe¬sannya yang terakhir. Raja berpesan supaya kalau nanti dia mati dan hendak diantar ke pekuburan biarkanlah kedua tan¬gannya terulur di luar peti supaya orang melihat bahwa saya pergi dengan tanpa membawa apa apa. Saya kembali den¬gan tangan kosong.

Membaca dan merenungkan ketiga bacaan yang kita dengar hari ini, rasa rasanya membuat kita memilih mati dari pada hidup. Dari Kitab Pengkotbah tadi kita dengar bahwa pada akhirnya segala sesuatu itu sia sia tanpa guna. Teks itu memang menantang kita apakah kita lebih suka pilih berpu¬tus asa atau tetap hidup. Dan Raja Aleksander Agung tadi menyadari sepenuhnya hal itu. Ia melihat kuasa dan ke¬kayaannya bukan sebagai barang yang perlu dipertahankan sampai ia mati. Ia menyadari bahwa jika ia mati ia tak akan membawa apa apa sebagai bekal. Merenungkan kisah Pengkotbah ini memang mendorong kita untuk berputus asa namun Pengkotbah sebenarnya mau mengungkapkan satu kebena¬ran dan kebijaksanaan yang besar. Pernyataan Pengkotbah itu merupakan wawasan bijaksana untuk meulis yang melupa¬kan apa yangpaling penting dan paling perlu. Kitab Peng¬kotbah itu bukannya membuat kita bersikap pasrah menyerah pada nasib melainkan menyadarkan kita untuk selalu memi¬kirkan yang lebih berguna dalam setiap kesibukan kita den¬gan hal hal yang bercorak sementara. Dengan itu kita sela¬lu didingatkan untuk tidak tenggelam dalam pelbagai urusan yang pada akhirnya itu semua tak berguna. Kita diminta Pengkotbah untuk memilih perkara yang lebih penting atau kalau sibuk dengan hal yang sementara hendaknya tidak lupa sama sekali pada apa yang lebih penting.

Apa yang dikatakan dalam bacaan pertama itu mendapat penjelasan yang bagus dalam bacaan kedua. Santo Paulus kepada Jemaat yang berada di Kolose tadi meminta kepada mereka untuk lebih mencari perkara yang di atas di mana Yesus Kristus ada. Carilah yang di atas di mana Kristus ada. Paulus menasihatkan dan mengingatkan mereka karena mereka, orang Kolose itu sudah sekian repotnya, sudah se¬kian sibuknya dengan urusannya masing masing sampai sampai tak ada lagi waktu untuk Tuhan. Manusia yang hidup di Ko¬lose itu sudah terikat dengan pelbagai nafsu duniawi: ke¬najisan, hawa nafsu, keserakahan dan penyembahan berhala. Mereka mengakui diri sebagai orang beriman namun cara hidup mereka masih dikuasai dengan kepercayaan yang sia sia. Dusta mendustai berkembang di antara mereka. Diskri¬minasi suku dan asal usul terjadi. Semua hal itu bagi Pau¬lus merupakan tindakan manusia lama. Manusia yang menerima Kristus haruslah manusia yang rela melepaskan manusia lama dengan perbuatan lamanya untuk mengenakan manusia baru da¬lam Kristus.

Jemaat Kolose menurut Paulus tadi dikuasai nafsu yang serakah, rakus akan barang dunia. Hal yang sama terjadi juga dalam jaman Yesus Penginjil Lukas dalam penggalan In¬jilnya yang kita baca tadi coba menampilkan kembali manu¬sia yang serakah, yang bangga dengan harta kekayaannya. Sangat menarik lukisan Lukas perihal dialog Yesus dengan orang kaya yang mempunyai segalanya dalam kelimpahan. Orang kaya yang ditampilkan itu cukup licik dan berusaha untuk menjerat Yesus. Dia coba membawa Yesus untuk kterli¬bat dalam perkara yang menjadi kesibukan si kaya itu. Si kaya memancing Yesus untuk membicarakan kekayaannya. Dari jawaban Yesus kita bisa tahu persis bahwa Yesus tak mau terlihat dan tak mau diajak bicara soal soal duniawi. Ia malahan mengajukan satu pertanyaan yang mematikan langkah si kaya. Katanya: Saudara, siapakah yang telah mengangkat saya untuk menjadi hakim pembagi warisanmu? Yesus sudah tahu maksud orang itu. Orang itu sebenarnya mau memamerkan kekayaannya kepada Yesus dan kalau Yesus bisa membaginya akan diberi komisi. Yesus membaca niat hati orang itu yang penuh dengan sikap yang serakah, rakus dan tamak. Itulah sebabnya Yesus langsung menyambung pertanyaanNya dengan satu wawasan kepada orang yang tamak itu. Berjaga jagalah dan waspadalah terhadap segala bentuk ketamakan, sebab bi¬arpun orang berlimpah dalam segala hal, kaya secara mate¬rial namun hidup yang sesungguhnya bukan terletak pada harta kekayaan. kepada yang kaya itu Yesus langsung mem¬berikan satu cerita supaya ia cepat menyadari dirinya dan juga kekayaannya. Dengan cerita itu Yesus sebenarnya men¬ceritakan kembali cara dan sikap orang yang datang berdia¬log dengan Yesus. Kalau saja orang yang berhadapan dengan Yesus itu punya perasaan yang halus dan tipis barangkali dia bisa pingsan di tempat mendengarkan cerita Yesus yang tidak lain merupakan satu ejekan, satu sinis, satu kritik yang tajam. Yesus dengan cerita itu mau menunjukkan kebo¬dohan orang kaya itu. Sungguh menarik cerita itu. Orang membangun dan merombak lumbungnya yang lemah. Ia mau sela¬lu sibuk mengumpulkan barang barang. Ia merencanakan ten¬tang apa yang bakal menjamin kehidupannya. Dia berpikir dengan itu dia bebas dari kesibukan karena kalau lumbung sudah penuh tinggal makan tidur, senang senang dan ber-foya foya. Rencananya bagus namun sayang dia sendiri tidak pernah berpikir bahwa kehidupannya ditentukan Tuhan. Dia tak pikirkan bahwa sebelum lumbungnya selesai dia keburu mati. Maut akan menghentikan angan dan perbuatannya yang sia sia itu. Di sini kita bisa bertanya: Apakah artinya dan harganya harta kekayaan itu dibandingkan dengan maut?

Dengan cerita ini tidak dimaksudkan supaya kita hidup tanpa barang. Yang mau dikatakan adalah sikap yang tidak ra-kus untuk diri sendiri tetapi berusaha membagikannya kepa¬da orang lain dalam sikap kejujuran dan keadilan. Lebih dari itu dengan cerita itu mau dikatakan bahwa kiranya manusia tidak melupakan tujuan akhir kehidupannya gara gara sibuk dengan barang dan hartanya. Yang dicela adalah salah menggunakan harta kekayaan itu. Seorang Kristen di¬panggil untuk mengumpulkan harta berupa perbuatan amal ke¬baikan bukan sekedar mengumpulkan harta kekayaan. Seorang Kristen dipanggil untuk berbakti kepada Allah dan bukan menindas sesama secara tidak adil. Kitapun secara pribadi bisa bertanya kepada diri kita sendiri. Apakah kita terma¬suk kelompok orang yang selalu sibuk dengan urusan dunia sampai tak tahu lagi bahwa kita perlu luangkan waktu juga untuk Tuhan? Apakah kesibukan kita tidak menutup jalan kita kepada Tuhan? Apakah kesibukan kita sekarang ini mer¬upakan usaha merintis jalan kita menuju Tuhan sendiri?

Saya menutup renungan ini dengan satu cerita: Seorang raja yang sangat berkuasa dengan istana yang megah, hendak men-gangkat seorang komandan bagi para kaum tolol (orang bo¬doh). Raja hendak menyerahkan tongkat komando kaum tolol. Untuk itu ia mengundang semua rakyatnya berkumpul di hala¬man istana. Dari singgasana kebesarannya sang raja mulai berpidato dan membanggakan segala harta kekayaan dan kua¬sanya. Seorang pelayan istana sempat mendengarkan bagaima¬na raja membanggakan harta kekayaannya. Si pelayan yang setiap harinya sibuk melayani raja sekeluarga maju ke de¬pan takhta menghantar minuman. Karena kurang hati hati minuman itu tertumpah. Saat itulah Raja langsung menyerah¬kan tongkat kepada pelayan itu sebagai pemimpin kaum tolol di kerajaan itu. Satu hari sang raja jatuh sakit dan kon¬disinya kritis. Pelayannya yang telah diangkat menjadi pe¬mimpin kaum tolol datang melayaninya. Pelayan itu bertanya kepada Raja: Tuanku, tahukah tuan nanti akan pergi ke mana? Saya tidak tahu. Yang saya tahu hanya satu yaitu bahwa saya akan mati. Jawab sang raja. Kemudian si pe¬layan melepaskan satu kancing bajunya dan diberikannya kepada raja katanya: Tuan terimalah kancing baju ini dan kembalikanlah kelak kepada saya kalau kita bertemu di da¬lam alam keabadian. Raja membentaknya: Kau dasar orang to¬lol, tidakkah kau tahu bahwa kalau saya mati saya tidak membawa sesuatu? Dengan gugup si pelayan itu mengambil tongkat yang diserahkannya kepadanya beberapa hari sebe¬lumnya. Ia berkata: Tuan, terimalah tongkat ini, dan saya mengangkat tuan untuk menjadi pemimpin kaum tolol. Tong¬kat komando kaum tolol saya kembalikan kepada tuan karena selama hidup tuan telah mendewakan harta kekayaan meskipun tuan tahu bahwa itu tidak akan dibawa saat tuan mati. Tuan lebih cocok menjadi pemimpin kaum tolol karena sudah bany¬ak waktu tuan pakai untuk kumpulkan harta kekayaan, sudah banyak orang yang dikorbankan karena tuan merampasa harta mereka, sudah banyak orang tak punya tanah karena tuan mengambil semuanya. Hamba mengucapkan selamat bertugas sebagai komandan kaum tolol. Lalu pelayan menghilang.

Semoga kita tidak terpilih dan mendapat tongkat sebagai pemimpin kaum tolol. Amin.