Wednesday, August 7, 2013

MINGGU PRAPASKA IV TAHUN B

MINNGU IV PRAPASKA

2Taw,36:14-16; 19-23, Ef.2,4-10 Yoh 3:14-21



Berpuasa: Ajakan ‘Coming Home’



Buka

Hari ini kita memasuki hari minggu ke IV masa prapaska. Firman Tuhan hari ini mengajak kita semua untuk percaya kepada Putera Allah yang telah diutus oleh Allah ke dunia. Sebab, Puteranya diutus ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia dari segala kemalangan, dari akar segala kemalangan hidup manusia. Dalam bacaan-bacaan suci hari ini, kita diingatkan tentang dua sisi kehidupan kita antara murka atau belas kasih, dosa atau rahmat, kegelapan atau terang, yang seringkali mewarnai hidup kita manusia. Hari-hari pertobatan kita dari dosa-dosa hampir mendekati puncak pengurbanan diri Putra Allah. Kita sekalian sudah siap menyambut kebangkitan Tuhan dan Juru Selamat kita. Kisah pembuangan dan pembebasan umat Israel menjadi konsekuensi dari pilihan mereka sendiri. Peringatan St. Paulus kepada umat Efesus yang menekankan bahwa “karena kita manusia ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan yang baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Dan lebih lanjut, dalam injil Yesus mengeluh: “Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.” Kita berdoa semoga Tuhan tetap bersabar melihat sikap dan tindakan kita yang cenderung memilih kehendak sendiri daripada kehendak Allah yang menyelamatkan.



Renungan

Kalimat yang dipakai sebagai judul renungan ini diambil dari bagian terakhir dari kalimat yang ada dalam bacaan pertama pekan keempat masa prapaska ini. Kalimat yang singkat ini mengungkapkan suatu situasi dan pesan penting untuk kita. Kalimat yang pendek ini memberikan kita informasi tentang seseorang yang tersesat dan hendak pulang. Tentu saja ada banyak alasan yang membuat orang tersesat dan kesulitan untuk pulang. Situasi bencana alam atau situasi perang bisa saja membuat orang kehilangan arah untuk menemukan jalan yang membawanya kembali ke tempat asalnya. Kalimat yang pendek ini mengingatkan kita akan kisah dan pengalaman seorang veteran tentara perang asal Amerika yang mengalami nasib naas semasa perang berkecamuk di kawasan Vietnam.

Kisah pengalaman tokoh veteran perang itu kemudian diabadikan secara dokumenter dalam sebuah film berjudul “Coming Home” yang dapat diterjemahkan menjadi ‘pulang ke rumah’. Film dokumenter itu memuat kisah tentang seorang veteran yang pincang dan cacat seumur hidup akibat perang Vietnam. Film ini melukiskan dengan begitu baik dan teliti mengenai penderitaan, tekanan fisik, mental seorang veteran yang harus menerima keadaan dirinya sebagai orang cacat. Dengan keadaan fisik seperti yang dialaminya, sang Veteran perang merasa dirinya tidak berguna. Ia merasa kehilangan masa depan. Ia sungguh merasa mengalami kehancuran baik kehancuran fisik maupun kehancuran mental, kehancuran semangat. Dalam kondisi penuh tekanan seperti itu, seorang perempuan berupaya menolong dia agar menerima keadaannya. Perempuan itu meyakinkan dia bahwa dengan keadaan fisik yang ada sang veteran perang itu masih dapat menciptakan suatu masa depan yang menjnajikan. Tokoh perempuan itu meneguhkannya bahwa si cacat masih bisa membangun sesuatu yang indah dari puing-puing kehancuran yang dideritanya. Perang telah menggoreskan duka dan kepedihan bagi siapa saja yang mengalaminya.Kehancuran adalah kata akhir dari peperangan yang terjadi karena ambisi berkuasa pada diri manusia.

Situasi veteran perang Vietnam yang ditampilkan melalui film ‘Coming Home’ ini tampaknya mirip dengan situasi bangsa Yahudi seperti yang digambarkan Kitab Tawarikh dalam bacaan pertama tadi. Dari kisah itu kita mendapatkan gambaran bahwa sebagai suatu bangsa, bangsa Yahudi pernah mengalami pembuangan, mengalami keruntuhan, dan kehancuran karena perang. Dalam situasi pembuangan, dalam situasi keruntuhan, dalam situasi kehancuran, mereka merasa tidak bisa berbuat banyak. Kekuatan musuh yang tidak dapat dipatahkan membuat mereka ibarat orang cacat yang tidak berdaya menolong diri mereka sendiri. Mereka hanya bisa bermimpi dan mendambakan suatu keadaan yang baik dan menyenangkan. Kehancuran bangsa yang diangkat dalam bacaan pertama bermula dan berakar dari sikap hidup bangsa itu yang selalu berubah setia. Berubah-ubah setia itu sama artinya murtad atau tidak setia lagi kepada Yahwe. Berhadapan dengan sikap bangsa yang tidak setia seperti ini Yahwe memanfaatkan jasa Raja Koresy dari Persia untuk mengembalikan mereka dari pembuangan. Bukan hanya itu, tetapi juga membangun kembali kenisah mereka yang telah hancur. Dengan itu, rasa percaya diri mereka sebagai bangsa ditumbuhkan lagi. Keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan mereka mekar lagi. Allah tetap menyatakan kesetiaan-Nya terhadap manusia yang tidak setia.

Pengalaman bangsa terpilih ini memberi gambaran kepada kita tentang Allah yang setia. Allah memang sering kirim orang-orang atau utusan-Nya kepada kita manusia kalau kita sedang dalam kesulitan. Ada begitu banyak orang yang berperan sebagai nabi dikirim Tuhan kepada manusia agar bebas dari masalah dan kesulitan hidup tetapi sekian sering manusia menolak mereka bahkan membunuh mereka. Manusia tidak dibiarkan berjuang sendirian dalam menghadapi pelbagai kesulitan dalam hidupnya. Pada saat orang merasa haknya direbut, kebebasannya dipasung, keamanan dan keselamatannya terganggu, selalu saja muncul orang-orang yang akan membela, yang akan membantu, yang akan berjuang demi mereka. Allah memang selalu memperhatikan kita melalui orang-orang yang penuh perhatian kepada kebutuhan dan penderitaan sesama. Orang-orang yang berjuang membela kepentingan kita, tentu saja kita hargai dan hormati. Terlalu banyak jumlah orang yang berjuang demi kemanusiaan yang kita kenal dalam sejarah hidup manusia di berbagai belahan dunia ini.

Dari sekian banyak orang yang berjuang untuk nasib manusia itu, tidak ada orang yang jauh lebih berarti, lebih mulia, lebih agung yang bisa menyelamatkan kita manusia selain Yesus kristus Putera Allah sendiri. Yesus sungguh mulia, agung dan terpuji tidak saja karena membebaskan manusia dari berbagai masalah, tetapi lebih dari itu membebaskan manusia dari akar segala permasalahan yaitu dosa. Yesus membabaskan manusia dari dosa berarti Yesus membebaskan manusia dari maut karena upah dosa adalah maut. Perikope Injil Yohanes tadi menegaskan bahwa Allah begitu mencintai dunia sehingga Dia mengutus Putera-Nya yang tunggal, supaya siapa saja yang percaya kepada-Nya tidak akan mati, tetapi memperoleh hidup yang kekal.

Tentu ada banyak hal yang dapat kita petik dan renungkan berdasarkan pesan firman Tuhan hari ini untuk kita. Dari apa yang disampaikan Yesus melalui injil tadi paling kurang kita dapat mengambil tiga hal penting yang bisa kita renungkan. Ketiga hal penting itu tidak dapat dipisahkan yaitu Tindakan Allah, Maksud tindakan Allah, dan Sikap dan tanggapan manusia terhadap Tindakan Allah itu. Hal penting pertama adalah Tindakan Allah. Manusia yang menghadapi masalah dalam hidupnya tak dapat menolong dirinya sendiri. Dalam situasi seperti itu dari semula Allah berinisiatif untuk melakukan sesuatu tindakan demi manusia. Puncak dari semua tindakan serta inisiatif Allah untuk manusia itu diwujudkan dalam bentuk memberikan bhkan menyerahkan Putra-Nya yang tunggal. Inisiatif dan tindakan Allah ini kemudian tampak dalam misi yang diemban dan dilakukan Yesus Putera-Nya menyelamatkan umat manusia dari sakit, penyakit, rasa takut, rasa lapar, rasa ditinggalkan, rasa dikucilkan, melepaskan manusia dari segala kemalangan, dari kekuasaan dosa, dari pengaruh kuasa kegelapan, dan membebaskan manusia dari kematian.

Berdasarkan misi dan tindakan Yesus tampak jelas bagi manusia apa yang maksud atau tujuan tindakan Allah sebagai hal penting yang kedua. Maksud dan tujuan tindakan Allah itutidak lain supaya manusia beroleh hidup yang kekal. Supaya manusia beroleh hidup yang sebenarnya, hidup yang berkualitas, hidup yang berkelimpahan bukan hidup yang gersang, bukan hidup yang kering, bukan hidup yang dangkal. Hidup yang berkelimpahan adalah hidup yang memungkinkan orang dapat berbagi kepada orang lain, artinya hidup yang bisa membaktikan diri bagi sesama, hidup yang melahirkan semangat suka menolong, hidup yang membuat orang lain senang, hidup yang membantu orang lain untuk berkembang dan berhasil, hidup yang mengangkat orang lain untuk maju. Tujuan tindakan Allah adalah untuk kehidupan manusia yang memberi dapat ikutan bagi kehidupan manusia lain atau sesamanya. Hidup yang bisa menjadi berkat bagi orang lain. Hidup yang mampu menciptakan persaudaraan di mana saja kita berada. Allah mengirim Putera-Nya agar manusia memiliki hidup ideal seperti itu.

Sampai di sini inisitaif tindakan Allah yang disertai dengan tujuan tindakan-Nya menuntut tanggapan manusia. Agar tujuan tindakan Allah untuk menyelamatkan manusia dan untuk menjadikan manusia memiliki hidup yang berkelimpahan itu bisa tercapai, manusia dituntut untuk segera memberikan respon atau segera menanggapi tindakan Allah itu. Tanggapan manusia merupakan hal penting ketiga menurut injil hari ini. Manusia perlu merespon secara tepat tindakan Allah. Manusia perlu mengambil sikap terhadap tindakan Allah. Inisiatif dan tindakan Allah tidak bermaksud menghilangkan partisipasi dan tanggapan manusia. Inisiatif Allah tidak bermaksud menjadikan manusia bermental pasif tanpa perjuangan. Tanggapan manusia haruslah sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dan maksud Allah. Sikap yang diambil manusia akan menentukan apakah dia akan memperoleh keselamatan, apakah ia akan memperoleh hidup yang berkelimpahan ataukah sebaliknya mengalami kehancuran, mengalami hukuman sebagai ganjaran atas ketidaksetiaannya.

Berkaitan dengan sikap apa yang harus diambil, Yohanes mengajak kita untuk menanggapi tindakan Allah itu secara positif, Yohanes mengajak kita untuk mengambil sikap kooperatif terhadap rencana keselamatan Allah itu. Sikap kooperatif itu ditunjukkan dalam kepercayaan kita kepada Yesus Kristus, sang Putra Tunggal Allah itu. Kalau kita percaya kepada Dia kita tidak akan mati, tetapi hidup. Dengan menaruh kepercayaan kepada Putera-Nya, manusia, kita memperoleh kekuatan dan menemukan jalan untuk berjuang atau bertahan; dengan percaya kepada Dia, kita tidak akan dikalahkan, dikuasai oleh kesulitan-kesulitan, oleh kesukaran-kesukaran hidup, tetapi kita akan menemukan jalan untuk mengatasinya. Kalau kita sungguh menaruh kepercayaan kepada-Nya, maka walaupun malapetaka menimpa kita suatu saat Allah memberikan kita jalan mengatasinya. Walau kesalahan, kelalaian menghancurkan cita-cita dan masa depan kita, Allah bersama kita dan menginspirasikan kita untuk memulai lagi semuanya.

Kenyataan membuktikan bahwa ternyata manusia tidak menanggapi cinta dan tindakan Allah secara tepat. Manusia kurang menunjukkan kepercayaannya kepada Tuhan. Sikap dan model tanggapan manusia yang tidak tepat itu ibarat manusia yang ingin tinggal dalam kegelapan dan menolak terang. Yohanes mengatakan bahwa manusia menolak terang dan lebih menyukai kegelapan. Sungguh tidak mengherankan lagi, kalau situasi hidup manusia berada di ambang kehancuran. Kita temukan gejala-gejala kehancuran itu pada seluruh lini kehidupan manusia. Gejala kehancuran itu sudah mulai tampak dalam diri kaum muda yang terlibat dalam pelbagai praktik kehidupan yang kurang sehat dan kurang terpuji, dalam diri keluarga-keluarga kristiani yang tidak rukun, dalam diri gereja yang tidak mengamalkan ajaran-Nya, dalam negara yang diancam pelbagai persoalan. Ini semua karena orang menolak terang dan memilih kegelapan.

Masa puasa adalah masa untuk membangun kembali kepercayaan kita kepada Tuhan. Karena itu, marilah kita memanfaatkan masa prapaska ini untuk membangun kembali kepercayaan itu, agar kita mendapatkan hidup yang berkelimpahan. Dengan hidup yang berkelimpahan itu, kita akan mampu memberikan sumbangan yang berarti bagi persaudaraan kita bagi paroki, bagi sesama, bagi gereja dan bagi bangsa kita, bagi lingkungan kerja dan pelayanan kita. Yakinlah kita bahwa Allah, karena sangat mengasihi dan sangat mencinitai dunia tidak menginginkan dunia ini hancur, tidak menginginkan dunia ini hidup dalam penderitaan yang berkepanjangan. Untuk itu dia mengutus Putera-Nya yang tunggal. Putera-Nyalah yang membebaskan manusia dari akar segala kemalangan yang menimpa umat manusia. Semua kita diharapkan untuk percaya kepada Putera-Nya itu. Karena kalau percaya, akan memperoleh hidup yang berkelimpahan, sebaliknya kalau tidak percaya tidak akan memperoleh hidup yang kekal bahkan mendapatkan penghakiman dari Allah. Kalau kita menyadari bahwa kita telah tersesat Tuhan mengajak kita dalam masa puasa ini untuk ‘coming home’ kembali ke rumah Tuhan. Semoga.



Rm.Bone Rampung, Pr

MINGGU PRAPASKA III TAHUN B

HARI MINGGU PRAPASKA III

Kel 20:1 17; 1Kor 1:22 25; Yoh 2:13 25



MENGUSIR KESERAKAHAN DARI BAIT ALLAH



Buka

Para pedagang dengan naluri bisnisnya akan mencari tempat yang ramai dan strategis untuk menjajakan barang dagangannya. Di samping tempat yang trategis dan ramai, pedagang biasanya menggunakan pelbagai kesempatan untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Yang ada dalam pikiran pedagang hanyalah faktor keuntungan. Pertimbangan lain biasanya ditempatkan pada urutan belakang. Sikap seperti ini berpeluang besar bagi si pedagang untuk bertindak salah tempat dan salah waktu. Bertindak salah tempat dan salah situasi inilah yang mau ditampilkan bacaan pada hari minggu ketiga prapaska ini. Keserakahan dan kerakusan menguasai pikiran para pedagang sehingga kenisah sebagai pusat aktivitas spiritual telah dialihfungsikan sebagai pasar hewan. Dalam situasi seperti itu norma dan aturan menjadi sangat brelatif bahkan diabaikan.

Sekian sering manusia telah menjadikan diri, hidup, dan hatinya sebagai sebuah pasar hewan yang penuh dengan pelbagai hal yang bertentangan dengan prinsip, norma, dan hukum baik hukum positif maupun hukum Tuhan. Masa pesiapan, masa tobat, bagi kita adalah masa untuk membesihkan kenisah diri dan hidup kita dari pelbagai kotoran dan noda karena mental dan cara hiduo kita. Kita akui semuanya di hadapan Tuhan dan sesama kita…



Renungan

Sepuluh hukum atau perintah Tuhan yang diterima Musa sebagai pemimpin dalam perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir merupakan norma yang mengatur pola perilaku hidup manusia. Hukum pola perilaku itu diarahkan pada dua sasaran yaitu Allah dan sesama. Karena itu, kesepuluh perintah itu dapat diringkas menjadi dua hukum utama yang mengatur relasi manusia dengan Allah, dan manusia dengan manusia lainnya. Tempat pagelaran atau penerapan dua hukum itu secara konkret dinyatakan dalam praktik hidup keagamaan yang mengatur relasi manusia dengan Allah dan dalam praktik hidup sosial kemasyarakatan sebagai wujud relasi antarmanusia. Lebih kurang seperti itulah yang menjadi inti dari sederetan hukum yang digambar dalam Kitab Keluaran yang dipakai dalam bacaan pertama hari Minggu Prapaska ketiga ini.

Dua arah sasar pola perilaku manusia dalam batasan kesepuluh hukum Allah ini dapat kita temukan dalam penggalan injil Yohanes hari ini. Yohanes mengangkat kisah pengalaman Yesus ketika datang ke Bait Allah. Bait Allah merupan represntasi (tanda kehadiran) relasi manusia dengan Allah karena manusia menyadari bahwa Allah hadir di dalam Bait Allah. Karena itulah, Bait Allah atau Kenisah sungguh menjadi tempat yang istimewa untuk manusia dan juga untuk Allah. Bait Allah menjadi tempat perjumpaan secara spiritual antara manusia dengan Allah. Bait Allah menjadi sarana spiritual, sarana rohani yang mesti dijaga dan dipelihara. Menjaga dan memelihara bait Allah tidak saja dalam pengetian pemeliharaan fisik bangunannya tetapi lebih dari itu memerilahara Bait Allah artinya menjadikan dan memfungsikan sarana spiritual itu sesuai dengan tujuan dan fungsinya. Pemanfaatan sarana rohani sesuai tujuan dan fungsinya berarti pula menuntut manusia untuk mendisposisikan hati dan seluruh sikap dan perilakunya sesuai tuntutan tempat dan lingkungan itu. Bait Allah sebagai sarana spiritual, tempat perjumpaan manusia dengan Allah mengharuskan manusia untuk manaruh hormat pada tempat itu dengan cara menggunakannya secara tepat.

Kisah tentang pengusiran para pedagang atau penjual dari Bait Allah oleh Yesus seperti dinarasikan dalam Injil Yohanes secara amat jelas menggambarkan pemanfaatan sarana spiritual di luar tujuan dan konteksnya. Di sana ada penjungkirbalikan nilai spiritual kehadiran bait Allah sehingga para pedagang mengalihfungsikan sarana spiritual itu menjadi lahan bisnis yang memberi jaminan keuntungan secara matelial. Peristiwa dan kasus yang terjadi di Bait Allah menggambarkan adanya gejala dominasi metal materialistis atas dimensi spiritual. Peristiwa dan kasus di Bait Allah itu telah menampilkan citra dan gambaran mental manusia yang serakah dan rakus untuk menjadikan semua tempat sebagai lahan mengeruk keuntung material. Keserakahan dan kesombongan manusia telah menodai kesakralan Bait Allah. Keserakahan manusia telah mengotori pusat spiritual. Di sana relasi spirtual antara manusia dangan Allah tidak mendapat tempat lagi. Bait Allah telah menjadi pasar yang sering diidentikan dengan praktik yang tidak terpuji.

Penyalahgunaan bait Allah seperti digambarkan ditampilkan Yohanes dalam kaitannya dengan misi kedatangan dan perutusan Yesus. Yohanes mengangkat kisah ini untuk mempertajam misi dan kedatangan Yesus. Kisah tentang ‘tragedi’ di bait Allah ini juga dikaitkan dengan perayaan Paska sebagai salah satu peritiwa penting dalam konteks kehidupan orang Yahudi. Paska sebagai peringatan akan pembebasan bangsa Israel dari kekuasaan Mesir. Pembebasan bangsa Israel atau orang Yahudi dari kekuasaan Mesir mendorong bangsa itu untuk merayakannya setiap tahun di pusat spiritual mereka yaitu Kenisah atau bait Allah di Yerusalem. Itu artinya, semua mereka yang tergolong orang Yahudi tanpa kecuali, paling kurang setahun sekali harus ke Yerusalem. Itu artinya, menjelang Paska kota Yerusalem dipadati jutaan manusia. Keadaan demikian mendorong mereka yang bernaluri bisnis untuk menjadikan peristiwa itu sebagai peluang mencari untung dengan berdagang. Melihat peluang bisnis seperti itu orang lalu mencari tempat yang paling strategis untuk menjajakan barang dagangannya. Tidak luput, pelataran Bait Allah pun dipakai untuk berdagang. Keadaan ini menyulut kemarahan Yesus.

Mengapa Yesus marah dan mencambuki para saudagar hewan itu? Ada beberapa alasan yang bisa kita temukan. Pertama, jelas sekali karena mereka telah menjadikan Bait Allah itu sebagai pasar hewan.Kita dapat membayangkan keadaan sebuah pasar hewan. Mereka menjadikan Kenisah tidak sesuai lagi dengan tujuan dan fungsinya. Kedua, Yesus mencambuki mereka karena dengan berdagang di Bait Allah mereka berlaku tidak adil terhadap mereka yang datang dari jauh ke Yeusalem untuk menjali relasi pribadi dengan Allah di bait Allah. Para pedagang hewan menghalangi orang Yahudi yang datang dari tempat jauh berkomunikasi dengan Allah. Dalam tradisi Yahudi bait Allah dibagi menjadi beberpa bagian. Salah satu bagiannya yaitu pelataran biasanya diperuntuk bagi mereka yang datang dari jauh untuk merayakan paska. Dalam kenyataannya mereka yang datang dari tempat jauh tidak mendapat tempat karena tempat bagi mereka telah dikuasai para saudagar hewan yang serakah mencari keuntungan. Keserakahan mereka telah menghalangi orang lain menjumpai Allah yang diyakini hadir di bait Allah dalam dua loh batu berisi sepuluh perintah Allah. Ketiga, Yesus mencambuki mereka karena tidak lagi menyiapkan diri untuk merayakan Paska tetapi sibuk dengan berdagang demi keuntungan material. Tradisi menghormati Allah menjelang paska telah mengalami kemunduran dan dikalahkan oleh pertimbangan bisnis.

Tindakan Yesus terhadap para saudagar hewan itu jelas menunjukkan sikap respek Yesus terhadap kesakralan Bait Allah itu dan juga menunjukkan apresiasinya yang tinggi terhadap tradisi masyarakat Yahudi yang menghormati Allah di Kenisah Yerusalem. Di sana Yesus berhadapan dengann sekelompok orang yang telah menggadaikan kesakralan bait Allah dengan keuntungan bisnis. Yesus berhadapan dengan sekelompok manusia yang tidak lagi menaruh terhadap kehadiran Allah di Kenisah. Keserakahan telah menguasai sikap hati dan mental orang seputar bait Allah itu. Apakah dengan itu dapat dikaakan bahwa Yesus membenci profesi berdagang? Tentu saja tidak. Kalau sampai Yesus mengusir, memporak porandakan aktivitas berdagang itu pasti bukan karena Ia membenci urusan dagang dan membenci para pedagang.

Yesus mengusir mereka bukan karena memebenci profesi itu melainkan karena mereka berdagang pada tempat yang salah dan dalam situasio yang salah. Yesus sendiri sungguh menaruh respek dan memiliki apresiasi yang tinggi terhadap profesi pedagang. Hal ini dapat kita telusuri beberapa teks yang membuktikan Yesus menghargai aktivitas berdagang. Yesus sendiri pernah mengangkat kisah kehidupan para pedagang yang mencari mutiara yang indah untuk menjelaskan hakikat kerajaan Kerajaan Allah ysng diwartakannya (Mat.13:45).Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali (Luk.19:13). Dan terjadilah, ketika ia kembali, setelah ia dinobatkan menjadi raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya, yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing (Luk. 19:15). Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung (Yak.4:13). Lebih dari itu kitab suci juga mengisyaratkan bahwa harta dan hasil usaha dagang dapat dipakai untuk memuliakan Allah. "Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya" (Ams.3:9 10). Karena itu, sikap Tuhan yang keras dan tegas terhadap para peda¬gang di kanisah punya maksud yang sangat positif. Yaitu mau menunjukkan kepada mereka arti dan nilai dari kanisah yang sebe-narnya.

Jelaslah bagi kita bahwa tindakan Yesus bukan indikasi kebencian terhadap kegiatan berdagang melainkan suatu tindakan penyadaran dan pemurnian mental manusia yang bertindak tidak tepat waktu dan tidak tepat tempat. Yesus mau mengembalikan supremasi Bait Allah sebagai pusat aktivitas spiritual ketika keserakahan untuk mendapatkan harta mendominasi sikap dan cara pikir manusia. Yesus ingin mengembalikan tradisi penghormatan tehadap Allah di Kenisah Yerusalem dari sikap mengabaikan tradisi karena pertimbangan bisnis ekonomis semata. Tindakan Yesus adalah upaya membersihkan Bait Allah dari Kersakahan dan kerakusan manusia akan harta. Kalau Yesus mengusir para pedagang dari bait Allah itu sama artinya Ia ingin mengusir Kersakahan, kerakusan, ketidakadilan dari pusat hidup spiritual manusia.

Kalau Yesus mengingatkan para pedagang untuk mengembalikan supremasi bait Allah terhadap keserakahan para pedagang, membersihkan Bait Allah maka Santu Paulus dalam cara yang hampir sama mengingatkan orang beriman bahwa diri atau tubuh orang beriman itu merupakan bait atau kenisah Roh Kudus. Dalam suratnya yang pertama kepada umat Korintus Paulus menggambarkan aneka sikap dan perilaku manusia yang berlawanan dengan hukum Tuhan. Ada banyak sikap dan perilaku manusia yangmenjadi indikasi dirinya sebagai bait Roh Kudus telah dikotori dan ternoda. Perselisihan, ketidakadilan, percabulan, peneyembahan berhala,perzinahan, pencurian, pemabukan, pemfitnahan, penipuan, hawa nafsu, kesekarahan, kerakusan, dan perilaku tak terpuji lainnya (1Kor.6:1-19). Ada dua pertanyaan penting yang diajukan Paulus untuk kita renungkan dalam masa persiapan paska ini. Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus? (1Kor.6:15) Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? (1Kor.6:19)

Semoga kita dapat memberikan jawaban yang tepat atas pertenyaan ini dalam masa persiapan ini agar kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Pasa prapaska adalah amsa tobat masa pembersihan, pengusiran, dan penyingkiran aneka keserakahan yang ada dalam bait suci, diri kita sendiri. Diri, hidup, dan hati kita adalah kenisah Allah yang harus selalu kita bersihkan dari aneka keserakahan kita. Kalau Yesus mengusir keserakahan manusia yahudi dari bait dan Kenisah Allah maka kita secara pribadi harus mampu mengusir keserkahan yang menguasai diri, hidup, dan hati kita. Janganlah kita mengotori dan menjadikan hati dan hidup kita sebagai pasar hewan yang penuh kebusuikan. Ingatlah, taruhannya terlampau pesar. Diri dan hidup kita telah dibeli dengan harga termahal. Anda dan saya telah dibeli dengan harga paling mahal. Paulus mengingatkan kita, Anda dan saya’ dalam kalimat ini: Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu (1Kor.6:20)! Semoga!





MINGGU PRAPASKA II TAHUN B

MINGGU PRAPASKA II

Kej.22,1-2.9a.10-13.15-18; Rom.8,31b-34; Mrk.9,2-10



Berpuasa: Mau Berjalan Turun

Buka

Mengorbankan, merelakan, melepaskan sesuatu yang paling disukai, paling disayangi, paling disenangi menuntut perjuangan yang sungguh-sungguh. Manusia cenderung bertahan dan bahkan ingin terus bertahan di dalam situasi yang membuatnya selalu senang dan gembira. Kecenderungan seperti itu membuat seseorang melupakan prinsip bahwa ada orang lain yang belum sempat merasakan kegembiraan dan kebahgiaan seperti itu. Ketiga bacaan yang ditawarkan gereja pada pekan kedua masa pertobatan ini menjelaskan kepada kita tentang bagaimana seharusnya manusia belajar berkorban baik untuk Tuhan maupun untuk sesamanya. Belajar bagaimana berjuang berhadapan dengan segala cobaan rintangan dalam kehidupan. Tantangan adalah ciri khas kehidupan karena selama hiudp manusia tidak akan bebas dari cobaan dan tantangan. Kita akui kelehaman kita..



Renungan

Setiap tahun almanak atau penanggalan, kalender yang kita dapatkan selalu mencantumkan hari-hari liburan. Biasanya tanggal liburan dikaitkan dengan peristiwa keagamaan. Angka penanggalan untuk hari libur umumnya berwarna merah. Hampir semua penganut agama dan kepercayaan di Republik Indonesia mempunyai jatah untuk berlibur berkaitan dengan agama dan kepercayaan yang dianut. Sebagai contoh, untuk umat Muslim menetapakan adanya Hari Kurban yang dikenal dengan sebutan Hari Idul Adha yang umumnya jatuh pada hari Jumad. Dalam tradisi Islam perayaan itu merupakan peringatan akan satu peristiwa penting ketika nabi Ibrahim harus mengurbankan anak tunggalnya Ismail. Untuk orang Kristen, kisah seperti itu dapat dibaca dalam kitab Kejadian seperti dikisahkan dalam bacaan pertama hari ini. Memang ada perbedaan soal nama anak yang dikurbankan. Dalam tradisi Islam nama anak Ibrahim itu Ismail (putra yang dilahirkan Hagar perempuan yang menjadi selir Ibrahim) sedangkan dalam tradisi Kristen nama anak Abraham itu Ishak (putra yang dialhirkan dari Sara istri sah Abraham). Nama Ibrahim dan Abraham itu orang yang sama, tetapi Ishak dan Ismail itu berbeda. Ishak adalah anak Abraham dari istrinya yang sah yaitu Sara. Sedangkan Ismail adalah anak yang dilahirkan dari seorang perempuan berstatus hamba. Dan kalau kita membaca kitab Kejadian khususnya bab ke-21 maka kita akan melihat bagaimana Sara meminta Abraham agar mengusir Hagar dan Anaknya Ismail. Hagar dan Ismail memang tidak akan mewarisi harta kekayaan karena status mereka sebagai budak. Yang berhak mewarisi kekayaan adalah Ishak dan semua keturunnya.

Bacaan pertama tadi memberikan kita gambaran tentang Idul Adhanya atau hari kurbannya kita orang beriman Kristiani. Iman Abraham diuji dengan tuntutan Yahwe agar mempersembahkan Ishak sebagai kurban. Abraham harus menyatakaan ketaatan dan kesetiaannya kepada Yahwe dengan mempersembahkan anak tunggalnya. Tentunya amat sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana pergolakan batin Abraham saat itu. Bagaimana ia harus mengajak Ishak untuk bersama-sama berangkat ke gunung Moria. Bagaimana Ishak sendiri menyiapkan segala perlengkapan untuk kurban tanpa ia tahu bahwa dirinya sendiri justru yang akan dikurbankan. Tidak terbayangkan bagaimana Abraham harus bergulat dengan dirinya sendiri. Abraham mendaki ke gunung Tuhan untuk membawakan persembahan yang paling berharga. Persembahan dengan nilai pengorbanan yang luar biasa. Abraham harus naik ke puncak gunung Moria. Abraham harus mempersembahkan Ishak sebagai domba kurban. Abraham harus mengurbankan rasa cintanya kepada Ishak. Cinta Abraham kepada Yahwe nilainya lebih tinggi dibandingkan cintanya kepada Ishak. Abraham yakin bahwa Yahwe merencanakan yang terbaik baginya. Dan memang hal itulah yang terjadi. Yahwe memberi jalan bagi Abraham karena Abraham sungguh mencintai Yahwe. Ishak diselamatkan Yahwe hanya karena Abraham taat dan rela berkorban. Ishak sebagai anak kesayangan Abraham diselamatkankan Yahwe karena kesetiaan Abraham. Bagi Yahwe siapa saja yang taat dan melakukan firman-Nya maka segala yang berharga akan diberikan kepada orang itu. Perjuangan dan pergulatan Abraham diperhitungkan Yahwe. Setiap usaha dan perjuangan yang baik, yang sesuai dengan kehendak Yahwe akan membawa berkat bagi orang itu.

Yahwe telah menguji iman Abraham dan Abraham terbukti tetap setia kepada Yahwe. Melalui bacaan kedua tadi Paulus mengingatkan kita bahwa Yahwe (dalam perjanjian lama) atau Tuhan (dalam perjanjian baru) sungguh mencintai manusia. Kalau kisah Abraham menyatakan cinta manusia kepada Yahwe maka Paulus sebaliknya menyatakan kepada kita bagaimana Tuhan sungguh mencintai manusia. Tuhan yang mencintai manusia itu rela mengutus putra-Nya yang Tunggal Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah putra kesayangan, putra Tunggal Allah yang dikurbankan untuk kepentingan seluruh umat manusia. Perutusan Yesus Kristus sebagai Putra Tunggal Allah merupakan perisai bagi hidup orang beriman. Perutusan Yesus adalah bukti bahwa Tuhan membela kita, Tuhan berada pada pihak kita. Dan menurut Paulus tadi kalau Tuhan sudah pada pihak kita maka kita pasti akan hidup dan bertahan dalam perjuangan hidup kita. Hari Kurban (Idul Adha) yang dibuat Abraham dalam perjanjian lama menekankan aktivitas dan tanggapan manusia terhadap permintaan Yahwe. Kisah perjanjian baru justru mengambil titik star yang berlawanan karena kurban itu lebih menekankan inisiatif Allah yang mau menyelamatkan manusia dengan mengutus Kristus sebagai domba sejati yang harus dikurbankan untuk menghapus utang dan dosa umat manusia. Oleh kurban Yesus manusia beriman dipersenjatai untuk berjuang menuju kemenangan abadi.

Yesus adalah senjata orang beriman dalam menghadapi segala tantangan. Itu artinya hidup dan teladan hidup Yesus hendaknya menjadi contoh dan model setiap perjuangan hidup manusia beriman. Mengikuti Yesus sebagai perisai dan senjata dalam kehidupan kita menuntut kita untuk selalu berjalan bersama Dia. Mengikuti Yesus sebagai orang beriman menuntut kita untuk bersama dia mendaki ke puncak gunung dan juga turun ke lembah untuk menjalankan misi perutusan-Nya. Perikope Injil Markus hari ini sungguh menarik untuk kita renungkan. Injil mengisahkan bagaimana Yesus mengajak para murid-Nya yang diwakili tiga orang yaitu Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Mereka diajak untuk mendaki ke puncak gunung. Ajakan Yesus untuk ke puncak gunung sama dengan ajakan Tuhan kepada Abraham dalam bacaan pertama tadi. Ajakan itu adalah ajakan yang penuh perjuangan dan pergolakan. Para murid yang diajak Yesus berhasil sampai ke puncak. Setelah berjuang dengan susah payah mereka tiba di puncak dan mereka menyaksikan satu peristiwa luar biasa. Terjadi pristiwa trasnfigurasi atau perubahan wajah Yesus dan mereka melihat pemandanagan yang menakjubkan. Mereka melihat wajah Musa dan nabi Elia.

Bagaimana reaksi para murid ketika menyaksikan peristiwa yang mengejutkan itu? Para murid terkejut dan bahkan Petrus bergumam seperti bermimpi. Tuhan biarlah kami mendirikan tiga pondok di tempat ini. Satu untuk Elia, satu untuk Musa dan satu untuk Yesus. Sebelum keinginan mereka ditanggapi keadaan segera berubah. Wajah Musa dan Elia menghilang dan mereka hanya mendengar suara dari balik awan: Inilah Putra kesayanganku, dengarkanlah Dia.

Para murid memang mengehndaki untuk mendirikan pondok di puncak gunung tetapi Yesus tetap mengajak mereka untuk turun dari puncak. Mereka harus segera turun ke Yesusalem karena di sana Yesus akan menjalankan misi perutusan-Nya. Mereka diajak Yesus untuk segera ke Yerusalem karena di sanalah Yesus akan menjalankan misi-Nya sebagai Ishak baru yang dikurbankan Tuhan untuk manusia. Dari kisah tadi tampak jelas ada perbedaan kehendak antara Yesus dengan para murid. Para murid menghendaki agar mereka membangun kemah dan terus tinggal di puncak gunung mdenikmati keindahan puncak gunung. Para murid mau supaya peristiwa yang indah, yang menyenangkan, peristiwa yang mengejutkan terus mereka alami di atas puncak gunung. Tetapi, Yesus meminta mereka untuk segera turun menjalankan sesuatu yang paling penting dan utama. Menjalankan misi perutusan membela manusia.

Sikap para murid yang mau membangun pondok di puncak gunung adalah gambaran dan simbol sikap hidup manusia sampai zaman kita saat ini. Para murid itu enggan untuk turun dan berjuang karena sudah merasa keenakan di atas puncak gunung. Sikap para murid tadi masih merasuki para pejabat dan elite politik di negara kita saat ini. Orang yang sudah menduduki jabatan tertinggi, jabatan empuk, jabatan basah, jabatan yang mengenakkan biasanya enggan untuk melepaskannya. Mereka akan berjuang untuk tetap bertahan. Mereka akan berjuang dengan segala cara untuk mempertahankannya dan tidak mau turun. Orang seperti itu adalah seperti para murid yang mau terus berada di puncak gunung.

Masa puasa yang sedang kita jalankan adalah masa dan kesempatan bagi kita semua untuk meninggalkan suasana puncak gunung yang mungkin membuat kita terpesona dan lupa diri. Mungkin kita sudah berada terlalu lama di puncak gunung dengan segala keingian dan kehendak kita sendiri. Mungkin kita sudah membangun kemah di puncak kegembiraan kita lalu lupa untuk turun menjalankan misi kita sebagai pengikut Kristus. Ajakan Yesus bagi ketiga murid-Nya yang mau bertahan di puncak gunung untuk segera turun juga menjadi ajakan bagi kita semua dalam masa persiapan ini. Masa puasa adalah masa mengorbankan apa yang paling kita kita senangi, yang paling kita nikmati, yang paling kita sayangi seperti Abrham yang mengurbankan Ishak. Ambisi kita, keinginan kita, kencenderungan kita adalah barang-barang yang harus kita persembahkan pada masa puasa ini. Mudah-mudahan kita semua menjadi orang-orang yang mau berjalan bersama Yesus ke Yerusalem kehidupan kita dengan segala tantangannya. Berpuasa adalah perjalanan turun ke dalam diri dan realitas hidup bukan mempertahankan sesuatu yang menyenangkan dan memberikan kita kenikmatan. Memang tak mudah bagi kita yang sudah berada di puncak untuk turun tetapi kalau kita menyadari bahwa pada kedalam lembah kita dapat menemukan endapan emas apa salahnya kita harus turun? Kita mau berpuasa berarti mau berjalan turun. Amin.



Rm. Bone Rampung Pr

MINGGU PRAPASKA 1 TAHUN B

MINGGU I PRAPASKA

Kej. 9:8 15; 1Ptr 3:18 22; Mrk 1:12 15



Kasih Terulur: Tanggapan Diulur



Buka

Kasih dan kesetiaan Allah kepada manusia tidak bakal berakhir dengan cara dan sikap hidup manusia. Simpati dan cinta Allah tidak ditaklukkan oleh kelemahan manusia. Allah senantiasa mendekati manusia agar manusia kembali pada jalan yang dirintis Allah, agar dapat kembali ke rumah bapa. Tuhan menyapa kita dan sekaligus mengajak kita melalui firman-Nya pada hari ini agar kita memberi tanggapan secepatnya terhadap tawaran kasih Allah dalam situasi kehidupan kita. Setiap saat Allah mengulurkan kasih pertolongannya untuk membebaskan manusia dari kegelapan hidupnya. Dan dalam masa puasa ini Allah memberikan pe1uang bagi kita untuk semakin mengenal diri dan kehidupan kita. Dalam perayaan ini kita memohonkan kekuatan biar kita semua dimampukan untuk memberi¬kan jawaban pribadi terhadap tawaran keselamatan Allah. Marilah kita menyadari kele¬mahan dan dosa kita terutama dosa kecurigaan dan keraguan kita akan kasih Allah yang setiap saat mendatangi kita.



Renungan

Perkenankanlah kami mengajak Saudara/i sekalian untuk merenungkan firman Tuhan yang menyapa kita hari ini dengan bantuan sebuah cerita kecil berikut ini: Konon seekor kera tambun tergoda untuk masuk ke dalam kebun salah seorang petani. Dari atas pohon kera melihat setandan pisang yang sebagiannya telah matang. Kera berniat untuk menikmati buah pisang itu namun sayang kebun itu dipagar agak tinggi. Kera merasa kesulitan untuk masuk memetik pisang itu. Setelah bersusah payah kera itu berhasil memanjat pagar yang tinggi dengan bantuan sebatang pohon yang tumbuh dekat pagar itu. Kini ia berada di atas pagar dan ingin melompat ke pohon pisang. Kera melompat ke arah pelepah pisang yang berdekatan dengan pagar. Ketika kera melompat pada pelepah pisang itu, pelepah itu tidak mampu menahan tubuh kera yang tambun itu. Pelepah pisang itu patah sehingga si kera terlempar masuk ke dalam sebuah lobang. Lobang yang dalam itu dibuat si pemilik kebun pisang sebagai ranjau untuk babi hutan yang sering merusak tanamannya. Malang nasib si kera itu, ia terpental ke dalam lobang yang dalam dan tidak dapat keluar dari lobang itu.

Seekor kanci1 menyaksikan peristiwa itu. Dengan itikad hendak menolong si kancil mencoba melepaskan seutas tali dan meminta si kera memegang pada ujung tali sebelum ditarik si kancil. Menyaksikan tindakan si kancil itu kera menaruh curiga terhadap gelagat kancil itu. Karena itu, dari dalam lobang kera bertanya kepada kancil tentang maksud si kancil menolongnya. ‘Apa maksud Saudara Kancil mau menolong saya?’ Kancil menjawab kera itu katanya: ‘Aku akan menjelaskan dan menjawab pertanyaanmu setelah engkau keluar dari lobang ini’. Kera tetap pada pendiriannya dan mencurigai tindakan kancil. Kera berkata lagi: ‘Saya baru mau pegang pada ujung tali ini dan keluar hanya jika kamu memberi¬kan jawaban atas pertanyaanku’. Kancil mengalah lalu berkata: ‘Kalau demikian saya harus ke perpustakaan dahulu untuk mencari pada buku ensiklopedi jawaban atas pertanyaanmu itu’. Kera berkata lagi: ‘Bagaimana bisa engkau mencari jawabannya di perpustakaan saya toh tahu bahwa kamu itu buta huruf’. Kancil menjawab: ’Kalau begitu saya harus pergi daftar dan bersekolah dahulu’. Kancil pun pergi, meninggalkan kera itu sendirian berjuang di dalam lobang yang gelap. Setelah sekian lama kera menggerutu karena kancil itu tidak datang-datang untuk menolongnya keluar dari lobang kegelapan yang mengancam keselamatannya nyawanya itu.

Jika kita mendengarkan dengan teliti apa yang dikisahkan dalam bacaan pertama tadi kita boleh menyimpulkan bahwa kisah air bah itu sebenarnya kisah yang menggambarkan kondisi kehidupan manusia di hadapan Allah. Kisah yang digambarkan dalam kitab Kejadian tadi menggambarkan bahwa mayoritas manusia telah bertindak dan hidup dalam kehendaknya sendiri. Kejatuhan manusia pertama yang bermula dari rasa curiga terhadap kebaikan Allah membawa dampak yang luas dalam kehidupan manusia. Nuh yang diluputkan dari kisah dan malapetaka air bah merupakan gambaran jumlah minoritas manusia yang masih mendengarkan dan mengarahkan kehidupannya sesuai dengan kehendak Allah. Kecurigaan manusia akan kebaikan Allah dapat dibandingakan dengan kecurigaan si kera terhadap niat baik si kancil. Dalam sejarah perjalanan manusia, Allah senantiasa menawarkan kasih-Nya untuk membe¬baskan manusia dari kegelapan karena ulahnya sendiri yang mau melompat pagar yang ditetapkan Allah. Manusia yang telah terjerumus ke dalam kegelapan dosa tetap dicari dan didekati Allah. Allah senantiasa berinisitif membangun titian yang menghubungkan kembali manusia yang telah terputus akibat dosa.

Bacaan pertama sangat jelas disampaikan kepada kita tentang Allah yang berinisitif membuat satu perjanjian dengan manusia. Kita sendiri mendengar Allah berkata: ‘Sesungguhnya Aku akan mengadakan perjanjian dengan kamu dengan segala keturunanmu dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu yang diselamatkan dari bahaya air bah’. Keselamatan ciptaan merupakan isi utama perjanjian Allah yang disampaikan-Nya kepada Nuh. Allah menjamin perjanjian itu dengan menaruh busur anak panah-Nya di langit yang jauh. Busur dan panah adalah simbol kemurkaan Allah namun karena cinta-Nya kepada manusia dan ciptaan kemurkan itu ditempatkannya jauh di langit. Itulah gambaran simpati dan cinta Allah buat manusia yang terjerumus ke dalam jurang kegelapan dosa.

Kisah malapetaka yang menimpa manusia dalam air bah adalah kisah pemusnah dosa manusia. Itulah kisah pemurnian hidup manusia yang inisitifnya datang dari Allah. Gagasan demikian kemudian berkembang dalam perjanjian baru di mana air bah merupakan simbol pembaptisan. Bacaan kedua tadi menegaskan bahwa manusia diselamatkan oleh pembaptisan. Dengan pembapisan, manusia telah dijadikan manusia baru. Dan pembaptisan itu tidak lain berarti kita ikut mati dan bangkit bersama Kristus. Surat Petrus tadi coba menarik satu benang merah yang menghubungkan kembali peristiwa air bah yang di alami Nuh dengan keselamatan yang dibawakan Kristus sendiri. Di sana kita membaca: ‘Juga kamu sekarang diselamatakan oleh kiasan air bah yaitu baptisan yang bertu¬juan bukan untuk membersihkan kanajisan jasmani melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah’. Dan semuanya terlaksana dalam korban dan kebangkitan Kristus. Dalam bacaan pertama Allah menawarkan keselamatan itu dengan perantaraan para nabi tetapi dalam bacaan kedua Allah mnyelamatkan manusia dengan mengutus PutraNya sendiri. Cinta, simpati dan perha¬tian Allah atas manusia belum lagi berakhir.

Penggalan injil Markus yang dipakai dalam pekan ini memang sangat singkat. Kita lalu bertanya mengapa demikian sing¬kat. Ini bukan tanpa Alasan. Alasannya ada pada kalimat-kalimat terkahir dalam injil tadi. Hanya satu alasannya yaitu waktunya telah genap. Waktunya singkat. Karena itu yang di sampai¬kan hanyalah satu pesan yang penting yaitu Bertobat dan Percaya. Injil mengisahkan tentang Yesus yang diantar Roh ke padang gurun untuk tinggal selama 40 hari. Injil sinoptik lainnya menambahkan bahwa di sana Yesus berdoa dan berpuasa. Di sana Yesus dicobai Iblis. Gambaran tentang Yesus yang dicobai iblis ini mau megatakan kepada kita bahwa dalam usaha yang baik apa pun godaan selalu membayangi manusia. Untuk dapat mengatasi semuanya, tidak ada cara lain bagi kita se1ain selalu kembali ke dalam diri sendiri, Kembali ke dalam hati nurani sendiri. Meli¬hat, menilai diri dan kehidupan kita. Waktunya singkat karena itu tanggapan yang segera sangat di harapkan.

Masa Puasa yang tenyah kita jalankan adalah saat yang tepat bagi kita semua untuk kembali ke dalam diri kita melihat dan menilai jalan dan cara hidup kita. Masa puasa ini ada1ah masa Allah menawarkan kesempatan buat kita. Kita semua dalam arti tertentu telah mengalami nasib seperti kera yang terjerumus ke dalam jurang kegelapan. Namun, Allah masih memberi¬kan, mengulurkan, memebentangkan, dan menawarkan tali kasih yang akan membebaskan kita dari kegelapan itu. Masa puasa adalah masa Allah menawarkan seutas tali yang hendaknya segera dipegang manusia biar selamat. Tentu saja kita tidak mau mengalami nasib seperti kera yang terus meringkuk dalam kegelapan hanya karena menolak tawaran keselamatan dari Allah.

Lalu bagaimana konkretnya kita mau keluar dari kegelapan itu pada masa puasa ini? Kita dapat ke1uar dari kegelapan semasa puasa ini harus selalu dikaitkan dengan peranan kita masing di tengah keluarga dan masyarakat. Sebagai biarawan/ti mungkin kita masih dalam kegela¬pan ketika persaudaraan di antara kita mengalami gangguan, ketika arah perjalanan kita mulai menemukan jalan buntu, ketika kita menjadikan komunitas kita tidak lebih sebagai kelompok yang harus disegani lantaran kita mau aman sendiri di balik pagar dan tembok kehidupan kita. Sebagai orangtua mungkin saat ini kita masih berada da1am kegelapan ketika keharmonisan dalam keluarga mengalami ganguan, ketika anggota keluarga mau memperjuangkan kepentingannya sendiri, ketika angota-anggotanya merasa dirinya lebih panting dari yang lain. Sebagai pelajar mungkin saat ini kita masih dalam kegelapan ketika kita tidak memanfaatkan pelbagai peluang untuk belajar secara serius, ketika kita salah menygunakan tanggungjawab yang diberikan orangtua kepada kita. Sebagai anak di da1am keluarga mungkin saat ini juga kita masih dalam kegelapan ketika kita tidak lagi taat pada harapan orangtua kita. Sebagai remaja mungkin saat ini kita masih dalam kegelapan ketika kita menyalahgunakan kebebasan kita, ketika kita melalaikan pelbagai norma dalam pergaulan kita.

Sebagai apa saja kita, mungkin saat ini masih berada dalam kegela¬pan. Dan kita bersyukur kepada Tuhan karena kita masih diberi waktu untuk keluar dari kegela¬pan dan kejatuhan kita dengan menjadikan masa puasa ini sebagai kesempatan menempatkan diri kita pada posisinya yang tepat. Kisah tentang nasib malang yang menimpa kera dalam cerita hendaknya menjadi bahan refleksi dan renungan pribadi kita selama amsa puasa ini. Kera tadi tidak bisa diselamatkan bukan karena tidak ada yang menolong tetapi karena kera sendiri menaruh sikap curiga terhadap kebaikan yang ditawarkan kepadanya. Setiap saat dalam aneka kesempatan dan peristiwa kita bisa jatuh dalam dosa. Setiap saat dan dalam aneka kesempatan yang sama Tuhan menawarkan pertolongan asalkan kita terbuka dan membuka diri dengan menyingkirkan prasangka buruk terhadap orang lain yang mungkin datang sebagai tanda kehadiran Allah. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam aneka situasi kehidupan. Hanya persoalannya terletak pada sikap manusia apakah ia menyadari bahwa Allah terlibat dan dilibatkan dalam seluruh pengalaman hidup. Kasih Tuhan senantiasi Terulur dengan harapan manusia tidak mengulur-ulur memberi jawaban atas kasih itu. Amin,



Rm.Bone Rampung Pr

Friday, August 2, 2013

MINGGU BIASA KE-18 THN.C1

Minggu Biasa ke 18 Thn. C/I 4 Agustus 2013

Pkh.1:2; 2:21 23 Kol.3:1 5,9 11 Luk.12:13 21

_________________________________________________________

Buka:

Hari ini kita memasuki Minggu Biasa ke 18. Ketiga bacaan hari ini mengajak kita untuk hidup tidak asal hidup. Sibuk tidak asal sibuk tetapi hidup dan hidup yang berguna. Dan Injil menegaskan bahwa harta kekayaan yang dikumpulkan itu sama sekali tidak menjamin keselamatan bagi jiwa kita. Ki¬sah seorang yang mau mengumpulkan harta pada segala lum¬bungnya, namun tidak tahu bahwa pada malam itu maut telah merenggut nyawanya. Akhirnya apa yang diusahakannya itu tak ada gunanya. Semuanya itu sia sia tanpa guna. Kisah itu jelas mengajak kita semua untuk melihat kembali kehid¬upan kita selama ini. Barangkali selama ini kita menilai kehidupan dan keselamatan kita dengan apa yang kita kumpulkan dan apa yang kita miliki. Mungkin kita lupa bah¬wa itu semua cumalah sementara sifatnya. Satu satunya jaminan keselamatan kita adalah Kristus sendiri. Menaruh harapan kepada Dia, berarti kita mau selamat. Marilah kita mohon sesal kalau selama ini kita sibuk dengan segala hal dan melupakan Allah. Kita sibuk sampai lupa yang paling penting bagi jiwa kita...



Renungan

Raja Aleksander Agung adalah raja yang besar dan sangat berpengaruh. Harta kekayaannya melimpah. Pada saat ia sa¬kit menghadapi ajalnya ia memanggil para pengawalnya dan juga semua keluarganya untuk mendengarkan wasiat atau pe¬sannya yang terakhir. Raja berpesan supaya kalau nanti dia mati dan hendak diantar ke pekuburan biarkanlah kedua tan¬gannya terulur di luar peti supaya orang melihat bahwa saya pergi dengan tanpa membawa apa apa. Saya kembali den¬gan tangan kosong.

Membaca dan merenungkan ketiga bacaan yang kita dengar hari ini, rasa rasanya membuat kita memilih mati dari pada hidup. Dari Kitab Pengkotbah tadi kita dengar bahwa pada akhirnya segala sesuatu itu sia sia tanpa guna. Teks itu memang menantang kita apakah kita lebih suka pilih berpu¬tus asa atau tetap hidup. Dan Raja Aleksander Agung tadi menyadari sepenuhnya hal itu. Ia melihat kuasa dan ke¬kayaannya bukan sebagai barang yang perlu dipertahankan sampai ia mati. Ia menyadari bahwa jika ia mati ia tak akan membawa apa apa sebagai bekal. Merenungkan kisah Pengkotbah ini memang mendorong kita untuk berputus asa namun Pengkotbah sebenarnya mau mengungkapkan satu kebena¬ran dan kebijaksanaan yang besar. Pernyataan Pengkotbah itu merupakan wawasan bijaksana untuk meulis yang melupa¬kan apa yangpaling penting dan paling perlu. Kitab Peng¬kotbah itu bukannya membuat kita bersikap pasrah menyerah pada nasib melainkan menyadarkan kita untuk selalu memi¬kirkan yang lebih berguna dalam setiap kesibukan kita den¬gan hal hal yang bercorak sementara. Dengan itu kita sela¬lu didingatkan untuk tidak tenggelam dalam pelbagai urusan yang pada akhirnya itu semua tak berguna. Kita diminta Pengkotbah untuk memilih perkara yang lebih penting atau kalau sibuk dengan hal yang sementara hendaknya tidak lupa sama sekali pada apa yang lebih penting.

Apa yang dikatakan dalam bacaan pertama itu mendapat penjelasan yang bagus dalam bacaan kedua. Santo Paulus kepada Jemaat yang berada di Kolose tadi meminta kepada mereka untuk lebih mencari perkara yang di atas di mana Yesus Kristus ada. Carilah yang di atas di mana Kristus ada. Paulus menasihatkan dan mengingatkan mereka karena mereka, orang Kolose itu sudah sekian repotnya, sudah se¬kian sibuknya dengan urusannya masing masing sampai sampai tak ada lagi waktu untuk Tuhan. Manusia yang hidup di Ko¬lose itu sudah terikat dengan pelbagai nafsu duniawi: ke¬najisan, hawa nafsu, keserakahan dan penyembahan berhala. Mereka mengakui diri sebagai orang beriman namun cara hidup mereka masih dikuasai dengan kepercayaan yang sia sia. Dusta mendustai berkembang di antara mereka. Diskri¬minasi suku dan asal usul terjadi. Semua hal itu bagi Pau¬lus merupakan tindakan manusia lama. Manusia yang menerima Kristus haruslah manusia yang rela melepaskan manusia lama dengan perbuatan lamanya untuk mengenakan manusia baru da¬lam Kristus.

Jemaat Kolose menurut Paulus tadi dikuasai nafsu yang serakah, rakus akan barang dunia. Hal yang sama terjadi juga dalam jaman Yesus Penginjil Lukas dalam penggalan In¬jilnya yang kita baca tadi coba menampilkan kembali manu¬sia yang serakah, yang bangga dengan harta kekayaannya. Sangat menarik lukisan Lukas perihal dialog Yesus dengan orang kaya yang mempunyai segalanya dalam kelimpahan. Orang kaya yang ditampilkan itu cukup licik dan berusaha untuk menjerat Yesus. Dia coba membawa Yesus untuk kterli¬bat dalam perkara yang menjadi kesibukan si kaya itu. Si kaya memancing Yesus untuk membicarakan kekayaannya. Dari jawaban Yesus kita bisa tahu persis bahwa Yesus tak mau terlihat dan tak mau diajak bicara soal soal duniawi. Ia malahan mengajukan satu pertanyaan yang mematikan langkah si kaya. Katanya: Saudara, siapakah yang telah mengangkat saya untuk menjadi hakim pembagi warisanmu? Yesus sudah tahu maksud orang itu. Orang itu sebenarnya mau memamerkan kekayaannya kepada Yesus dan kalau Yesus bisa membaginya akan diberi komisi. Yesus membaca niat hati orang itu yang penuh dengan sikap yang serakah, rakus dan tamak. Itulah sebabnya Yesus langsung menyambung pertanyaanNya dengan satu wawasan kepada orang yang tamak itu. Berjaga jagalah dan waspadalah terhadap segala bentuk ketamakan, sebab bi¬arpun orang berlimpah dalam segala hal, kaya secara mate¬rial namun hidup yang sesungguhnya bukan terletak pada harta kekayaan. kepada yang kaya itu Yesus langsung mem¬berikan satu cerita supaya ia cepat menyadari dirinya dan juga kekayaannya. Dengan cerita itu Yesus sebenarnya men¬ceritakan kembali cara dan sikap orang yang datang berdia¬log dengan Yesus. Kalau saja orang yang berhadapan dengan Yesus itu punya perasaan yang halus dan tipis barangkali dia bisa pingsan di tempat mendengarkan cerita Yesus yang tidak lain merupakan satu ejekan, satu sinis, satu kritik yang tajam. Yesus dengan cerita itu mau menunjukkan kebo¬dohan orang kaya itu. Sungguh menarik cerita itu. Orang membangun dan merombak lumbungnya yang lemah. Ia mau sela¬lu sibuk mengumpulkan barang barang. Ia merencanakan ten¬tang apa yang bakal menjamin kehidupannya. Dia berpikir dengan itu dia bebas dari kesibukan karena kalau lumbung sudah penuh tinggal makan tidur, senang senang dan ber-foya foya. Rencananya bagus namun sayang dia sendiri tidak pernah berpikir bahwa kehidupannya ditentukan Tuhan. Dia tak pikirkan bahwa sebelum lumbungnya selesai dia keburu mati. Maut akan menghentikan angan dan perbuatannya yang sia sia itu. Di sini kita bisa bertanya: Apakah artinya dan harganya harta kekayaan itu dibandingkan dengan maut?

Dengan cerita ini tidak dimaksudkan supaya kita hidup tanpa barang. Yang mau dikatakan adalah sikap yang tidak ra-kus untuk diri sendiri tetapi berusaha membagikannya kepa¬da orang lain dalam sikap kejujuran dan keadilan. Lebih dari itu dengan cerita itu mau dikatakan bahwa kiranya manusia tidak melupakan tujuan akhir kehidupannya gara gara sibuk dengan barang dan hartanya. Yang dicela adalah salah menggunakan harta kekayaan itu. Seorang Kristen di¬panggil untuk mengumpulkan harta berupa perbuatan amal ke¬baikan bukan sekedar mengumpulkan harta kekayaan. Seorang Kristen dipanggil untuk berbakti kepada Allah dan bukan menindas sesama secara tidak adil. Kitapun secara pribadi bisa bertanya kepada diri kita sendiri. Apakah kita terma¬suk kelompok orang yang selalu sibuk dengan urusan dunia sampai tak tahu lagi bahwa kita perlu luangkan waktu juga untuk Tuhan? Apakah kesibukan kita tidak menutup jalan kita kepada Tuhan? Apakah kesibukan kita sekarang ini mer¬upakan usaha merintis jalan kita menuju Tuhan sendiri?

Saya menutup renungan ini dengan satu cerita: Seorang raja yang sangat berkuasa dengan istana yang megah, hendak men-gangkat seorang komandan bagi para kaum tolol (orang bo¬doh). Raja hendak menyerahkan tongkat komando kaum tolol. Untuk itu ia mengundang semua rakyatnya berkumpul di hala¬man istana. Dari singgasana kebesarannya sang raja mulai berpidato dan membanggakan segala harta kekayaan dan kua¬sanya. Seorang pelayan istana sempat mendengarkan bagaima¬na raja membanggakan harta kekayaannya. Si pelayan yang setiap harinya sibuk melayani raja sekeluarga maju ke de¬pan takhta menghantar minuman. Karena kurang hati hati minuman itu tertumpah. Saat itulah Raja langsung menyerah¬kan tongkat kepada pelayan itu sebagai pemimpin kaum tolol di kerajaan itu. Satu hari sang raja jatuh sakit dan kon¬disinya kritis. Pelayannya yang telah diangkat menjadi pe¬mimpin kaum tolol datang melayaninya. Pelayan itu bertanya kepada Raja: Tuanku, tahukah tuan nanti akan pergi ke mana? Saya tidak tahu. Yang saya tahu hanya satu yaitu bahwa saya akan mati. Jawab sang raja. Kemudian si pe¬layan melepaskan satu kancing bajunya dan diberikannya kepada raja katanya: Tuan terimalah kancing baju ini dan kembalikanlah kelak kepada saya kalau kita bertemu di da¬lam alam keabadian. Raja membentaknya: Kau dasar orang to¬lol, tidakkah kau tahu bahwa kalau saya mati saya tidak membawa sesuatu? Dengan gugup si pelayan itu mengambil tongkat yang diserahkannya kepadanya beberapa hari sebe¬lumnya. Ia berkata: Tuan, terimalah tongkat ini, dan saya mengangkat tuan untuk menjadi pemimpin kaum tolol. Tong¬kat komando kaum tolol saya kembalikan kepada tuan karena selama hidup tuan telah mendewakan harta kekayaan meskipun tuan tahu bahwa itu tidak akan dibawa saat tuan mati. Tuan lebih cocok menjadi pemimpin kaum tolol karena sudah bany¬ak waktu tuan pakai untuk kumpulkan harta kekayaan, sudah banyak orang yang dikorbankan karena tuan merampasa harta mereka, sudah banyak orang tak punya tanah karena tuan mengambil semuanya. Hamba mengucapkan selamat bertugas sebagai komandan kaum tolol. Lalu pelayan menghilang.

Semoga kita tidak terpilih dan mendapat tongkat sebagai pemimpin kaum tolol. Amin.

Sabtu Biasa ke-17

Sabtu Biasa Pekan –17 Thn.C13 Agustus 2013

Im. 25:1,8-17; Mat 14:1-12.



Renungan

Judul penggalan kitab Imamat dalam bacaan pertama hari ini berbunyi: Dalam tahun suci semua pulang ke tanah miliknya. Tahun suci yang digambarkan dalam kitab imamat ini adalah kesempatan bagi Israel untuk mengevaluasi kembali keseluruhan perjalanan hidup mereka. Tahun suci itu adalah tahun yang ke-50. Tahun itu adalah tahun pendamaian, artinya setelah 49 tahun Israel mengembara, mereka harus berdamai lagi dengan Allah karena mereka sering tidak setia pada perjanjian dengan Yahwe itu. Tahun perdamaian itu ditandai dengan perubahan sikap dan penataan kembali hak dan kepemilikan akan segala sesuatu termasuk tanah. Tanah adalah simbol harta manusia yang harus dipertahankan karena dari tanahlah manusia memperoleh sumber kehidupannya. Tanah itu kemudian menjadi identik dengan diri manusia sebagai pemiliknya.

Mengapa kitab Imamat mengisyaratkan tahun ke-50 itu sebagai tahun perdamaian? Jawabannya karena dalam perjalanan sejarah Israel telah terjadi banyak penyimpangan. Penyimpangan itu adalah penguasaan, penjajahan, dan penindasan di antara bangsa. Perang dalam rangka perebutan tanah terus berlangsung selama perjalanan bangsa terpilih. Perang merebut wilayah adalah usaha penguasaan atas diri dan kehidupan orang lain. Kitab Imamat hari ini ingin meluruskan kembali kehidupan bangsa terpilih dengan mengkhususkan satu waktu bagi pemulihan hubungan atau rekonsiliasi dengan Yahwe.

Penguasaan atas tanah yang dikemukakan dalam bacaan pertama merupakan ungkapan simbolis untuk menggambarkan keserakahan manusia yang bertindak tidak adil terhadap orang lain. Tindakan tidak adil biasanya lahir dari kebencian dan iri hati serta keinginan untuk memuaskan selera dan ambisi pribadi. Pemuasan selera dan ambisi pribadi itu sangat jelas diungkapan dalam perikop injil tadi. Kita mendengar sendiri bagaimana Yohanes Pemandi menjadi korban selera Herodes yang lagi mabuk asmara. Kenikmatan yang diperoleh herodes dipertaruhkan dengan kepala Yohanes Pembaptis. Sungguh suatu keserakahan dan pelampiasan dendam kesumat yang tidak pada tempatnya. Herodes tampaknya kehabisan akal untuk menghadapi Yohanes Pembaptis yang pernah mengecam Herodes karena berselingku dengan Herodias. Herodes yang sudah keenakan itu dengan mudahnya membualkan kata-kata gombal dan janji-janji dihadapan orang banyak.

Bagi Herodes goyangan putri Herodias telah menggelapkan pikirannya. Goyangan putri Herodias mematikan dan membutakan suara hati dan rasa kemanusiaannya. Rasa dendam Herodias terhadap Yohanes mendapat kesempatan ketika Herode mabuk dan terpukau oleh kelincahan putri Herodias saat menari. Konspirasi kejahatan antara Herodes dengan Herodias membawa akbat fatal yaitu terpenggalnya akepala Yohanes. Niat baik Yohanes pembaptis untuk membebaskan Herodes dan Herodias dari hgubungan perselingkuhan justru harus dibayar dengtan nyawa. Bagi orang yang menyimpan dendam seperti Herodias selalu mencari kesempatan untuk membalasnya. Di sini jelas bagi kita bahwa ternyata tidak semua niat baik orang lain itu dimaknai sebagai sesuatu yang baik.

Kematian Yohanes adalah akibat keserakahan, ketamakan, nafsu, dendam Herodes atas perjuangan Yohanes yang menyuarakan kebanaran dan keadilan. Dari kisah injil kita belajar tentang dampak terburuk dari sikap menyimpan dendam. Semoga kisah injil hari ini membantu kita untuk beripikir dan bersikap jernih dalam memaknai setiap usaha dan niat baik sesama

Thursday, August 1, 2013

MISA PEMBUKAAN TAHUN PEMBELAJARAN

MISA PEMBUKAAN TAHUN SEKOLAH

Amsal 2,1-11 Mateus.25,1-13

SMAK Frateran BHK Malang Jumat, 2 Agustus 2013



Buka

Pagi hari ini kita semua, segenap civitas akademika SMAK Frateran Malang berkumpul untuk merayakan Ekaristi dalam rangka membuka Tahun pembelajaran yang baru. Kita mengingikan agar apa yang hendak kita lakukan, kita lakukan dalam nama Tuhan. Sebagai orang beriman, yang percaya kepada kekuatan Tuhan, perayaan seperti ini tidak saja perlu tetapi sudah semestinya dan seharusnya dilaksanakan. Perayaan seperti ini menjadi penting dan relevan hanya kalau perayaan ini memungkinkan kita sebagai pendidik, peserta didik mempertanyakan atau menggugat segala apa yang akan kita laksanakan proses berlangsungnya pembelajaran yang kita masuki. Kita memulai sesuatu yang baru sambil bercermin pada apa yang telah kita lalui. Perayaan seperti ini akan berarti dan bermakna kalau kita jadikan sebagai titik pijak sekaligus penentu arah perjalanan kita dalam pergulatan dan pergelutan kita mencari dan menemukan kebijaksanaan dalam proses belajar yang akan berlangsung. Kita semua, baik sebagai pendidik maupun peserta didik, mau membangun niat dan tekad untuk menjalankan tugas kita secara baik dan penuh tanggung jawab sebagai orang beriman. Kita mau berjalan dalam harapan bahwa Tuhan membimbing perjalanan kita. Agar harapan kita ini berkenan kepada Tuhan kita akui kelemahan dan dosa kita.



Renungan

Sokrates, seorang bijak pernah berkata: "Suatu kehidupan yang tidak dipertanyakan tidak pantas dijalani" Bagi Sokrates hidup dan kehidupan harus dijadikan masalah yang terus dipertanyakan. Kalau hidup menjadi masalah dan menjadi pertanyaan manusia didorong untuk mencari jalan keluar dan jawabannya. Segala sesuatu yang dihadapi, dijalankan harus selalu dipertanyakan. Pernyataan Sokrates ini mengisyaratkan dan mengharuskan kita untuk selalu sadar dalam segala hal yang kita lakukan. Jika kita bertindak tanpa mengetahui apa dan bagaimananya maka kita akan hidup ibarat robot serba mekanistis. Apa yang dikatakan Sokrates tadi kalau kita sederhanakan berarti kita harus bertanya: saat ini kita berada di mana, sedang melakukan apa, hendak ke mana dan apa yang harus dilakukan? Dengan kata lain kita harus bertolak dari satu motivasi dan bergerak menuju Orientasi. Hidup kita harus berjalan di antara Motivasi dan Orientasi. Motivasi menjadi kekuatan yang mengerakkan dan Orientasi menjadi arah tujuan hidup kita. Manusia yang mau berjalan menuju kesempurnaan dan kebijaksanaan haruslah memiliki motivasi dan tujuan.

Saya kira kalau semua tindakan, aksi, aktivitas kita didasarkan pada pertanyaan yang dirumuskan dengan baik, memungkinkan kita bertindak lebih bijaksana. Kita akan mengetahui secara pasti dari mana kita akan mulai, ke mana kita akan berjalan dan di mana kita akan berhenti. Pada saat ini, kita semua sebagai keluarga besar lembaga pendidikan SMAK Frateran, berkumpul karena kita semua menyadari bahwa kita akan memulai suatu proses belajar bersama. Kita semua tepah menjadi pemenang tender proyek pencerdasan manusia yang harus menyentuh semua dimensi kemanusiaannya. Setiap kita dalam kapasitas kita masing-masing, ditugaskan dan terpanggil untuk mempertajam kecerdasaran intelektual kita, mengembangkan kecerdasan emosional kita, memurnikan kecerdasan spiritual kita, dan memperluas kecerdasan sosial kita. Kita berkumpul dalam doa untuk membuka tahun sekolah baru. Kita mau menjawab pertanyaan yang menyertai keberadaan dan keterpanggilan kita ke lembaga SMAK Frateran Malang ini. Kita mau menjawab pertanyaan mengapa kita berkumpul dan berada dengan cara seperti ini di SMAK Frateran Malang. Kita semua bersepakat bahwa kita mau berada dan terlibat dalam suatu perjalanan bersama untuk mengeksplorasi pelbagai ilmu dan kebijaksanaan dalam rimba ilmu pengetahuan. Para pendidik dan peserta didik, kita semua ingin berjalan bersama mencari dan menemukan kebijaksanaan melalui pelbagai ilmu dan keterampilan yang akan kita berikan dan dapatkan di lembaga pendidikan SMAK Frateran Malang. Keinginan untuk menerapkan pelbagai prinsip pendidikan, penciptaan suasana, lingkungan belajar yang kondusif serta ketersediaan berbagai sarana belajar menjadi prakondisi yang menjamin terjawabnya pelbagai harapan dan tujuan kita. Tujuan pendidikan, tujuan kita tidak lain membentuk manusia yang berkebijaksanaan. Dalam konteks penerapan kurikulum Nasional, kita berada bersama, dalam rangka menata dan membentuk pola berlaku, pola bertindak, pola berbahasa yang melahirkan diri pribadi yang berkarakter. Manusia yang berkarakter adalah manusia yang perilaku dan periberhasanya mengekspresikan keluasan pengetahuan dan kematangan mental. Pendidikan berkarakter mengharuskan semua pemangku kepentingan atau stake holdernya untuk berkebijaksanaan. Berkebijaksanaan sebagai ekspresi karakter harus dapat dijabarkan ke dalam pelbagai tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan secara etis, moral, sosial. Pendidikan yang mengondisikan sekaligus membentuk seseorang untuk tampil secara integral, utuh, seimbang dalam aneka kecerdasan tentu menjadi tekad lembaga SMAK Frateran.

Kalau kita kembali pada gagasan bijak Sokrates tadi maka keberadaan kita dalam lembaga pendidikan asuhan para Frater BHK ini harus kita pertanyakan. Pertanyaannya: mengapa, untuk apa dan bagaimana kita berada di sini dan memilih bergabung dalam komunitas SMAK Frateran. Pertanyaan seperti ini terkait dan terikat erat pada dua hal pokok yaitu (1) tujuan proses yang ingin kita jalani, dan serangkaian kiat kita untuk mencapai tujuan itu. Kita semua sebagai pendidik dan peserta didik bergabung dalam keluarga besar yayasan Mardy Wiyata dalam rangka membekali diri dengan segala macam pengetahuan dan keterampilan. Itu artinya kita harus memilki strategi dan kiat meraih tujuan itu. Jawaban dan penjabaran kita boleh saja berbeda tetapi intinya sama yaitu mau menjadi orang yang berkebijaksanaan sebelum menjadi orang bijaksana. Penulis Kitab Amsal dalam bacaan pertamal memberikan kita gambaran tentang proses hidup dan kehidupan dalam deretan ungkapan yang indah. Hidup yang baik dan benar atau hidup yang berkarakter dalam konteks Amsal tidak lain adalah hidup yang terarah pada pengetahuan tentang kebijaksanaan. Pengetahuan yang baik dan benar adalah pengetahuan yang melahirkan diri pribadi atau manusia yang berhikmat dan berkebijaksanaan. Manusia yang berhikmat dan berkebijaksanaan yang dimaksudkan Amsal adalah manusia yang hidup dan bertindak berdasarkan HATI. Manusia berkarakter yang diidealkan bangsa ini sesungguhnya bukan hal yang baru bagi para frater BHK. Tarekat BHK yang dikenal dan terkenal terdepan dalam misi edukatif sudah jauh sebelum kemerdekaan telah menerapkan pendidikan karakter itu. Pendidikan karakter hakikatnya adalah pendidikan yang berkaitan dengan HATI. Bukan kebetulan, bukan juga baru bagi tarekat BHK karena tarekat telah menjadikan HATI sebagai motor penggerak pelayanannya dalam pendidikan. Pendidikan berspiritualitas HATI yang menjadi kekahasan frateran BHK adalah pendidikan yang mengarahkan orang untuk mendapatkan hikmat. Judul penggalan kitab Amsal tadi berbunyi: Faedah menuntut Hikmat. Ada sekian banyak faedah, kegunaan menuntut hikmat dan pengetahuan itu antara lain: memungkinkan orang bertumbuh dalam kebenaran (tahu mana benar, mana salah), berkembang dalam keadilan, mekar dalam kejujuran, kaya dalam pengetahuan, dan akhirnya memungkinkan orang menaruh hormat kepada Tuhan. Akhir dari pengetahuan yang benar harus mampu membawa orang pada sikap hormat dan mencintai Tuhan. Mengahargai orang dan mencinbtai Tuhan adalah perkara sikap HATI.

Untuk sampai pada diri yang berhikmat, yang berkebijaksanaan, yang berkebenaran, berkejujuran serta berkeadilan itu tidak mudah. Tuhan memberikan kita sarana pembantu. Tuhan memberikan kita suara hati sebagai pusat pengendali, pusat monitor hidup dan tindakan kita. Tuhan memberikan kita telinga untuk mendengarkan hal-hal yang menuntun kita pada kebijaksanaan. Tuhan memberikan kita mulut untuk menyatakan kebenaran dan kejujuran. Dan Tuhan memberikan kita kemampuan akal yang memungkinkan kita menjadi pribadi yang kreatif, dinamis dalam mencari, menggali, menemukan pengetahuan dan kebijaksanaan. Pengertian tentang panggilan kehidupan adalah sikap Hati. Amsal menegaskan: "Jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak dan mengejarnya seperti harta terpendam maka engkau akan beroleh pengertian tentang hidup”. Tuhan menolong orang jujur, membela orang benar, memelihara orang adil dan mengganjari orang yang setia karena Tuhan sendiri setia.

Keberadaan kita di SMAK Frateran tentu karena kerinduan kita mencari pengetahuan yang memungkinkan kita berjalan menuju kebijaksanaan yang dituntun HATI. Untuk itu kita dituntut lebih kreatif memanfaatkan pelbagai peluang yang ada. Untuk menjadi pribadi yang berkebijaksanaan dan berpengetahuan perlu perjungan. Kebijaksanaan dan pengetahuan tidak datang sebagai mukjizat. Cita-cita dan harapan kita dalam menggeluti pengetahuan harus memaksa kita untuk lebih tekun, kreatif, dinamis, dan kompetitif. Karena itu Penggalan Injil Mateus mau menggarisbawahi aneka kiat dan strategi manusia dalam menimba kebijaksanaan dan pengetahuan itu. Kisah lima gadis yang bodoh dan lima gadis yang bijaksana tadi mau mengungkapkan kenyataan bahwa di dunia ada dua jenis, model, kelompok manusia. Dua kelompok itu dibedakan berdasarkan strategi menantikan sang pengantin. Itulah gambaran citra manusia termasuk kita semua

Dari Injil kita menemukan dua strategi yang berbeda. Kelompok pertama itu berpredikat bijaksana karena mereka menggunakan strategi yang cermat, tahan uji, ketat, teliti, kreatif, dan berpikir antisipatif. Semuanya itu diibaratkan dengan persiapan minyak yang cukup. Hasilnya memuaskan. Mereka senang dan bergembira mendapat bonus masuk ke ruang pesta. Kehebatan mereka terletak pada strategi. Kelompok kedua disebut bodoh karena menggunakan strategi yang sebaliknya. Mereka berpredikat bodoh karena strateginya sangat longgar, penuh spekulasi, main untung-untungan, santai-santai, tidak mau bertahan, tidak mau bersusah-susah, tidak merasa malu, bermental pengemis, bergantung pada orang lain, bermental enak, lebih suka memilih tidur. Hasilnya hanya kekecewaan yang berlipat-lipat. Bukan saja tidak melihat pengantin datang tetapi lebih lagi mereka dipermalukan pintu ruangan perjamuan. Singkatnya mereka gagal mencari dan menemukan pengetahuan dan kebenaran karena menerapkan strategi main gampang-gampangan. Mereka tidak akan menjadi orang bijak yang punya Hati. Mereka menjadi orang kalah yang tergeser, tergusur dan terelimiasi dari lintasan kehidupan yang dirindukan.

Kehadiran kita di SMAK Frateran adalah kehadiran untuk mendapatkan sesuatu yang penting bagi masa depan kita. Kita semua adalah para gadis yang ingin menyaksikan sang pengantin yang mengundang kita ke ruangan pesta. Pengantin kita adalah kesuksesan yang kita nantikan. Sukses akan datang dan hanya untuk mereka yang terjaga bykan untuk yang tertidur, malas, dan ngantuk. Kita ingin sukses sebagai pendidik. Kita ingin sukses sebagai peserta didik. Kita ingin sukses sebagai sebuah lembaga pendidikan. Kita mau menjadi seperti lima gadis yang bijaksana. Untuk itu tidak ada cara yang lebih tepat selain kita menggunakan strategi yang kreatif, dinamis, antisipatif. Untuk menjadi manusia bijaksana dan sukses hanya satu kunci ajaibnya. Kunci itu harus menjadi milik setiap kita karena dengan kunci itu kita dapat membuka pintu gudang perbedaharaan hikmat dan kebijaksaan. Ruang harta hikmat kebijaksaan tidak bisa dibuka dengan kunci T (TIDUR) tetapi harus dibuka dengan kunci terbaru yaitu kunci D(DISIPLIN). Disiplin di sini dapat dijabarkan sesuai konteks dan peran kita masing-masing. Para pendidik baik tenaga edukatif maupun nonedukatif akan sukses kalau menjalankan perannya secara kreatif sambil mempertimbangkan pelbagai tindakan edukatif dan prinsip-prinsip pedagogis yang bercorak humanis. Para pendidik akan sukses kalau menyadari perannya sebagai pendidik dan memilki komitman total berdasarkan kesadaran etis dan kejernihan nurani. Sebagai siswa kita dituntut untuk menyadari peran dan tanggungjawab kita sebagai gadis-gadis yang menantikan pengantin kesuksesan kita. Dalam mencari kebijaksaaan perserta didik difasilitasi baik tenaga pendidik maupun fasilitas lainnya. Semuanya akan sia-sia kalau sebagai siswa kita tidak mengindahkan aturan, tata tertib dan disiplin yang diberlakukan di lembaga ini. Disiplin dalam konteks siswa adalah disipilin belajar, disiplin bergaul, disiplin berkata-kata, disiplin berpikir. Lima gadis bijaksana dalam kisah injil tadi adalah figur tipikal yang unggul dalam disiplin. Sebaliknya kelima gadis bodoh adalah contoh orang yang tidak disiplin. Kita tidak mau dikelompokkan sebagai orang bodoh hanya karena tidak Disiplin. Disiplin secara sederhana berarti melakukan apa yang benar secara benar di tempat yang benar pada waktu yang benar.

Saya akhiri renungan awal tahun sekolah ini dengan cerita kecil. Suatu siang saat istihat Asty dan Berty duduk di emperan tempat parkir di sekolah mereka. Keduanya tertawa karena tampaknya sedang menyaksikan sesuatu yang lucu. Mendengar itu, seorang pagawai skolah dan seornag guru mendekati mereka dan menyaksikan apa yang terjadi. Pegawai dan guru itu juga ikut tertawa karena mereka menyaksikan seekor binatang lucu. Binatang itu lucu, menarik bagi mereka karena kepalanya ada di depan tetapi sayangnya selalu berjalan ke belakang. Kita bisa menebak nama binatang itu. Itu namanya Undur-Undur.

Beberapa hari kemudian Undur-Undur itu enggan bergerak meski diusili para siswa lain. Penelitian pakar Undur-Undur melaporkan bahwa binatang itu dilanda depresi berat karena pernah ditertawakan dan dipermainkan, dipermalukan dua siswa pegawai dan guru. Menurut pengamatnya, binatang itu berencana mengantungkan diri tetapi sayangnya ia tidak bisa mundur ke atas ke tempat yang tinggi. Undur-Undur lalu mencari tim pembela membawa kasus pencemaran nama baik itu ke tingkat mahkama konstitusi para binatang. MK dunia binatang tak bisa memutuskan perkara itu. Jalan terakhir Undur-Undur berunjuk rasa di seputar istana Surga. Tuntutan mereka tidak tanggung-tanggung. Tuhan harus menghukum siswa, guru dan pegawai yang menertawakan mereka. Melalui juru bicara dan penasehat Undur-Undur itu membacakan nota protesnya di hadapan Parlemen surga. Isi nota protes undur-undur itu demikian: Tuhan kami tidak senang dengan cara manusia itu. Mereka mempermalukan kami tanpa alasan. Mereka menertawakan kami karena kami hanya bisa berjalan mundur. Padahal, keadaan ini bukan atas permintaan kami tetapi karena Tuhan menetapkan hal itu bagi kami. Kami tidak pantas ditertawakan karena itu sama artinya manusia menertawakan Tuhan. Seharusnya, kamilah yang menertawakan manusia karena mereka disebut manusia tetapi cara hidup manusia sering berjalan mundur seperti kami. Manusia sering mengulur-ulur segala hal. Mereka selalu menunda segala sesuatu. Mereka selalu bertindak tidak tepat waktu. Karena itu, kami menuntut dan meminta Tuhan untuk meninjau kembali nama-nama ciptaan. Gantikan saja nama manusia yang suka mengulur-ulur itu dengan nama kami. Biar mereka itu jadi Undur-Undur.

Tentu kita tidak mau disebut undur-undur. Lima gadis bodoh adalah manusia bermental undur-undur. Kita membuka tahun sekolah ini dalam nama Tuhan. Kesuksesan akan terus mendekat dan mendatangi kita. Akankah kita sebagai guru dan siswa di sekolah ini menjadi kelompok gadis bijaksana atau kelompok gadis bodoh? Hanya kita yang bisa menjawab dan membutikannya…Semoga !!





Rm.Bone Rampung, Pr