Sabtu Biasa Pekan –17 Thn.C13 Agustus 2013
Im. 25:1,8-17; Mat 14:1-12.
Renungan
Judul penggalan kitab Imamat dalam bacaan pertama hari ini berbunyi: Dalam tahun suci semua pulang ke tanah miliknya. Tahun suci yang digambarkan dalam kitab imamat ini adalah kesempatan bagi Israel untuk mengevaluasi kembali keseluruhan perjalanan hidup mereka. Tahun suci itu adalah tahun yang ke-50. Tahun itu adalah tahun pendamaian, artinya setelah 49 tahun Israel mengembara, mereka harus berdamai lagi dengan Allah karena mereka sering tidak setia pada perjanjian dengan Yahwe itu. Tahun perdamaian itu ditandai dengan perubahan sikap dan penataan kembali hak dan kepemilikan akan segala sesuatu termasuk tanah. Tanah adalah simbol harta manusia yang harus dipertahankan karena dari tanahlah manusia memperoleh sumber kehidupannya. Tanah itu kemudian menjadi identik dengan diri manusia sebagai pemiliknya.
Mengapa kitab Imamat mengisyaratkan tahun ke-50 itu sebagai tahun perdamaian? Jawabannya karena dalam perjalanan sejarah Israel telah terjadi banyak penyimpangan. Penyimpangan itu adalah penguasaan, penjajahan, dan penindasan di antara bangsa. Perang dalam rangka perebutan tanah terus berlangsung selama perjalanan bangsa terpilih. Perang merebut wilayah adalah usaha penguasaan atas diri dan kehidupan orang lain. Kitab Imamat hari ini ingin meluruskan kembali kehidupan bangsa terpilih dengan mengkhususkan satu waktu bagi pemulihan hubungan atau rekonsiliasi dengan Yahwe.
Penguasaan atas tanah yang dikemukakan dalam bacaan pertama merupakan ungkapan simbolis untuk menggambarkan keserakahan manusia yang bertindak tidak adil terhadap orang lain. Tindakan tidak adil biasanya lahir dari kebencian dan iri hati serta keinginan untuk memuaskan selera dan ambisi pribadi. Pemuasan selera dan ambisi pribadi itu sangat jelas diungkapan dalam perikop injil tadi. Kita mendengar sendiri bagaimana Yohanes Pemandi menjadi korban selera Herodes yang lagi mabuk asmara. Kenikmatan yang diperoleh herodes dipertaruhkan dengan kepala Yohanes Pembaptis. Sungguh suatu keserakahan dan pelampiasan dendam kesumat yang tidak pada tempatnya. Herodes tampaknya kehabisan akal untuk menghadapi Yohanes Pembaptis yang pernah mengecam Herodes karena berselingku dengan Herodias. Herodes yang sudah keenakan itu dengan mudahnya membualkan kata-kata gombal dan janji-janji dihadapan orang banyak.
Bagi Herodes goyangan putri Herodias telah menggelapkan pikirannya. Goyangan putri Herodias mematikan dan membutakan suara hati dan rasa kemanusiaannya. Rasa dendam Herodias terhadap Yohanes mendapat kesempatan ketika Herode mabuk dan terpukau oleh kelincahan putri Herodias saat menari. Konspirasi kejahatan antara Herodes dengan Herodias membawa akbat fatal yaitu terpenggalnya akepala Yohanes. Niat baik Yohanes pembaptis untuk membebaskan Herodes dan Herodias dari hgubungan perselingkuhan justru harus dibayar dengtan nyawa. Bagi orang yang menyimpan dendam seperti Herodias selalu mencari kesempatan untuk membalasnya. Di sini jelas bagi kita bahwa ternyata tidak semua niat baik orang lain itu dimaknai sebagai sesuatu yang baik.
Kematian Yohanes adalah akibat keserakahan, ketamakan, nafsu, dendam Herodes atas perjuangan Yohanes yang menyuarakan kebanaran dan keadilan. Dari kisah injil kita belajar tentang dampak terburuk dari sikap menyimpan dendam. Semoga kisah injil hari ini membantu kita untuk beripikir dan bersikap jernih dalam memaknai setiap usaha dan niat baik sesama
Friday, August 2, 2013
Thursday, August 1, 2013
MISA PEMBUKAAN TAHUN PEMBELAJARAN
MISA PEMBUKAAN TAHUN SEKOLAH
Amsal 2,1-11 Mateus.25,1-13
SMAK Frateran BHK Malang Jumat, 2 Agustus 2013
Buka
Pagi hari ini kita semua, segenap civitas akademika SMAK Frateran Malang berkumpul untuk merayakan Ekaristi dalam rangka membuka Tahun pembelajaran yang baru. Kita mengingikan agar apa yang hendak kita lakukan, kita lakukan dalam nama Tuhan. Sebagai orang beriman, yang percaya kepada kekuatan Tuhan, perayaan seperti ini tidak saja perlu tetapi sudah semestinya dan seharusnya dilaksanakan. Perayaan seperti ini menjadi penting dan relevan hanya kalau perayaan ini memungkinkan kita sebagai pendidik, peserta didik mempertanyakan atau menggugat segala apa yang akan kita laksanakan proses berlangsungnya pembelajaran yang kita masuki. Kita memulai sesuatu yang baru sambil bercermin pada apa yang telah kita lalui. Perayaan seperti ini akan berarti dan bermakna kalau kita jadikan sebagai titik pijak sekaligus penentu arah perjalanan kita dalam pergulatan dan pergelutan kita mencari dan menemukan kebijaksanaan dalam proses belajar yang akan berlangsung. Kita semua, baik sebagai pendidik maupun peserta didik, mau membangun niat dan tekad untuk menjalankan tugas kita secara baik dan penuh tanggung jawab sebagai orang beriman. Kita mau berjalan dalam harapan bahwa Tuhan membimbing perjalanan kita. Agar harapan kita ini berkenan kepada Tuhan kita akui kelemahan dan dosa kita.
Renungan
Sokrates, seorang bijak pernah berkata: "Suatu kehidupan yang tidak dipertanyakan tidak pantas dijalani" Bagi Sokrates hidup dan kehidupan harus dijadikan masalah yang terus dipertanyakan. Kalau hidup menjadi masalah dan menjadi pertanyaan manusia didorong untuk mencari jalan keluar dan jawabannya. Segala sesuatu yang dihadapi, dijalankan harus selalu dipertanyakan. Pernyataan Sokrates ini mengisyaratkan dan mengharuskan kita untuk selalu sadar dalam segala hal yang kita lakukan. Jika kita bertindak tanpa mengetahui apa dan bagaimananya maka kita akan hidup ibarat robot serba mekanistis. Apa yang dikatakan Sokrates tadi kalau kita sederhanakan berarti kita harus bertanya: saat ini kita berada di mana, sedang melakukan apa, hendak ke mana dan apa yang harus dilakukan? Dengan kata lain kita harus bertolak dari satu motivasi dan bergerak menuju Orientasi. Hidup kita harus berjalan di antara Motivasi dan Orientasi. Motivasi menjadi kekuatan yang mengerakkan dan Orientasi menjadi arah tujuan hidup kita. Manusia yang mau berjalan menuju kesempurnaan dan kebijaksanaan haruslah memiliki motivasi dan tujuan.
Saya kira kalau semua tindakan, aksi, aktivitas kita didasarkan pada pertanyaan yang dirumuskan dengan baik, memungkinkan kita bertindak lebih bijaksana. Kita akan mengetahui secara pasti dari mana kita akan mulai, ke mana kita akan berjalan dan di mana kita akan berhenti. Pada saat ini, kita semua sebagai keluarga besar lembaga pendidikan SMAK Frateran, berkumpul karena kita semua menyadari bahwa kita akan memulai suatu proses belajar bersama. Kita semua tepah menjadi pemenang tender proyek pencerdasan manusia yang harus menyentuh semua dimensi kemanusiaannya. Setiap kita dalam kapasitas kita masing-masing, ditugaskan dan terpanggil untuk mempertajam kecerdasaran intelektual kita, mengembangkan kecerdasan emosional kita, memurnikan kecerdasan spiritual kita, dan memperluas kecerdasan sosial kita. Kita berkumpul dalam doa untuk membuka tahun sekolah baru. Kita mau menjawab pertanyaan yang menyertai keberadaan dan keterpanggilan kita ke lembaga SMAK Frateran Malang ini. Kita mau menjawab pertanyaan mengapa kita berkumpul dan berada dengan cara seperti ini di SMAK Frateran Malang. Kita semua bersepakat bahwa kita mau berada dan terlibat dalam suatu perjalanan bersama untuk mengeksplorasi pelbagai ilmu dan kebijaksanaan dalam rimba ilmu pengetahuan. Para pendidik dan peserta didik, kita semua ingin berjalan bersama mencari dan menemukan kebijaksanaan melalui pelbagai ilmu dan keterampilan yang akan kita berikan dan dapatkan di lembaga pendidikan SMAK Frateran Malang. Keinginan untuk menerapkan pelbagai prinsip pendidikan, penciptaan suasana, lingkungan belajar yang kondusif serta ketersediaan berbagai sarana belajar menjadi prakondisi yang menjamin terjawabnya pelbagai harapan dan tujuan kita. Tujuan pendidikan, tujuan kita tidak lain membentuk manusia yang berkebijaksanaan. Dalam konteks penerapan kurikulum Nasional, kita berada bersama, dalam rangka menata dan membentuk pola berlaku, pola bertindak, pola berbahasa yang melahirkan diri pribadi yang berkarakter. Manusia yang berkarakter adalah manusia yang perilaku dan periberhasanya mengekspresikan keluasan pengetahuan dan kematangan mental. Pendidikan berkarakter mengharuskan semua pemangku kepentingan atau stake holdernya untuk berkebijaksanaan. Berkebijaksanaan sebagai ekspresi karakter harus dapat dijabarkan ke dalam pelbagai tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan secara etis, moral, sosial. Pendidikan yang mengondisikan sekaligus membentuk seseorang untuk tampil secara integral, utuh, seimbang dalam aneka kecerdasan tentu menjadi tekad lembaga SMAK Frateran.
Kalau kita kembali pada gagasan bijak Sokrates tadi maka keberadaan kita dalam lembaga pendidikan asuhan para Frater BHK ini harus kita pertanyakan. Pertanyaannya: mengapa, untuk apa dan bagaimana kita berada di sini dan memilih bergabung dalam komunitas SMAK Frateran. Pertanyaan seperti ini terkait dan terikat erat pada dua hal pokok yaitu (1) tujuan proses yang ingin kita jalani, dan serangkaian kiat kita untuk mencapai tujuan itu. Kita semua sebagai pendidik dan peserta didik bergabung dalam keluarga besar yayasan Mardy Wiyata dalam rangka membekali diri dengan segala macam pengetahuan dan keterampilan. Itu artinya kita harus memilki strategi dan kiat meraih tujuan itu. Jawaban dan penjabaran kita boleh saja berbeda tetapi intinya sama yaitu mau menjadi orang yang berkebijaksanaan sebelum menjadi orang bijaksana. Penulis Kitab Amsal dalam bacaan pertamal memberikan kita gambaran tentang proses hidup dan kehidupan dalam deretan ungkapan yang indah. Hidup yang baik dan benar atau hidup yang berkarakter dalam konteks Amsal tidak lain adalah hidup yang terarah pada pengetahuan tentang kebijaksanaan. Pengetahuan yang baik dan benar adalah pengetahuan yang melahirkan diri pribadi atau manusia yang berhikmat dan berkebijaksanaan. Manusia yang berhikmat dan berkebijaksanaan yang dimaksudkan Amsal adalah manusia yang hidup dan bertindak berdasarkan HATI. Manusia berkarakter yang diidealkan bangsa ini sesungguhnya bukan hal yang baru bagi para frater BHK. Tarekat BHK yang dikenal dan terkenal terdepan dalam misi edukatif sudah jauh sebelum kemerdekaan telah menerapkan pendidikan karakter itu. Pendidikan karakter hakikatnya adalah pendidikan yang berkaitan dengan HATI. Bukan kebetulan, bukan juga baru bagi tarekat BHK karena tarekat telah menjadikan HATI sebagai motor penggerak pelayanannya dalam pendidikan. Pendidikan berspiritualitas HATI yang menjadi kekahasan frateran BHK adalah pendidikan yang mengarahkan orang untuk mendapatkan hikmat. Judul penggalan kitab Amsal tadi berbunyi: Faedah menuntut Hikmat. Ada sekian banyak faedah, kegunaan menuntut hikmat dan pengetahuan itu antara lain: memungkinkan orang bertumbuh dalam kebenaran (tahu mana benar, mana salah), berkembang dalam keadilan, mekar dalam kejujuran, kaya dalam pengetahuan, dan akhirnya memungkinkan orang menaruh hormat kepada Tuhan. Akhir dari pengetahuan yang benar harus mampu membawa orang pada sikap hormat dan mencintai Tuhan. Mengahargai orang dan mencinbtai Tuhan adalah perkara sikap HATI.
Untuk sampai pada diri yang berhikmat, yang berkebijaksanaan, yang berkebenaran, berkejujuran serta berkeadilan itu tidak mudah. Tuhan memberikan kita sarana pembantu. Tuhan memberikan kita suara hati sebagai pusat pengendali, pusat monitor hidup dan tindakan kita. Tuhan memberikan kita telinga untuk mendengarkan hal-hal yang menuntun kita pada kebijaksanaan. Tuhan memberikan kita mulut untuk menyatakan kebenaran dan kejujuran. Dan Tuhan memberikan kita kemampuan akal yang memungkinkan kita menjadi pribadi yang kreatif, dinamis dalam mencari, menggali, menemukan pengetahuan dan kebijaksanaan. Pengertian tentang panggilan kehidupan adalah sikap Hati. Amsal menegaskan: "Jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak dan mengejarnya seperti harta terpendam maka engkau akan beroleh pengertian tentang hidup”. Tuhan menolong orang jujur, membela orang benar, memelihara orang adil dan mengganjari orang yang setia karena Tuhan sendiri setia.
Keberadaan kita di SMAK Frateran tentu karena kerinduan kita mencari pengetahuan yang memungkinkan kita berjalan menuju kebijaksanaan yang dituntun HATI. Untuk itu kita dituntut lebih kreatif memanfaatkan pelbagai peluang yang ada. Untuk menjadi pribadi yang berkebijaksanaan dan berpengetahuan perlu perjungan. Kebijaksanaan dan pengetahuan tidak datang sebagai mukjizat. Cita-cita dan harapan kita dalam menggeluti pengetahuan harus memaksa kita untuk lebih tekun, kreatif, dinamis, dan kompetitif. Karena itu Penggalan Injil Mateus mau menggarisbawahi aneka kiat dan strategi manusia dalam menimba kebijaksanaan dan pengetahuan itu. Kisah lima gadis yang bodoh dan lima gadis yang bijaksana tadi mau mengungkapkan kenyataan bahwa di dunia ada dua jenis, model, kelompok manusia. Dua kelompok itu dibedakan berdasarkan strategi menantikan sang pengantin. Itulah gambaran citra manusia termasuk kita semua
Dari Injil kita menemukan dua strategi yang berbeda. Kelompok pertama itu berpredikat bijaksana karena mereka menggunakan strategi yang cermat, tahan uji, ketat, teliti, kreatif, dan berpikir antisipatif. Semuanya itu diibaratkan dengan persiapan minyak yang cukup. Hasilnya memuaskan. Mereka senang dan bergembira mendapat bonus masuk ke ruang pesta. Kehebatan mereka terletak pada strategi. Kelompok kedua disebut bodoh karena menggunakan strategi yang sebaliknya. Mereka berpredikat bodoh karena strateginya sangat longgar, penuh spekulasi, main untung-untungan, santai-santai, tidak mau bertahan, tidak mau bersusah-susah, tidak merasa malu, bermental pengemis, bergantung pada orang lain, bermental enak, lebih suka memilih tidur. Hasilnya hanya kekecewaan yang berlipat-lipat. Bukan saja tidak melihat pengantin datang tetapi lebih lagi mereka dipermalukan pintu ruangan perjamuan. Singkatnya mereka gagal mencari dan menemukan pengetahuan dan kebenaran karena menerapkan strategi main gampang-gampangan. Mereka tidak akan menjadi orang bijak yang punya Hati. Mereka menjadi orang kalah yang tergeser, tergusur dan terelimiasi dari lintasan kehidupan yang dirindukan.
Kehadiran kita di SMAK Frateran adalah kehadiran untuk mendapatkan sesuatu yang penting bagi masa depan kita. Kita semua adalah para gadis yang ingin menyaksikan sang pengantin yang mengundang kita ke ruangan pesta. Pengantin kita adalah kesuksesan yang kita nantikan. Sukses akan datang dan hanya untuk mereka yang terjaga bykan untuk yang tertidur, malas, dan ngantuk. Kita ingin sukses sebagai pendidik. Kita ingin sukses sebagai peserta didik. Kita ingin sukses sebagai sebuah lembaga pendidikan. Kita mau menjadi seperti lima gadis yang bijaksana. Untuk itu tidak ada cara yang lebih tepat selain kita menggunakan strategi yang kreatif, dinamis, antisipatif. Untuk menjadi manusia bijaksana dan sukses hanya satu kunci ajaibnya. Kunci itu harus menjadi milik setiap kita karena dengan kunci itu kita dapat membuka pintu gudang perbedaharaan hikmat dan kebijaksaan. Ruang harta hikmat kebijaksaan tidak bisa dibuka dengan kunci T (TIDUR) tetapi harus dibuka dengan kunci terbaru yaitu kunci D(DISIPLIN). Disiplin di sini dapat dijabarkan sesuai konteks dan peran kita masing-masing. Para pendidik baik tenaga edukatif maupun nonedukatif akan sukses kalau menjalankan perannya secara kreatif sambil mempertimbangkan pelbagai tindakan edukatif dan prinsip-prinsip pedagogis yang bercorak humanis. Para pendidik akan sukses kalau menyadari perannya sebagai pendidik dan memilki komitman total berdasarkan kesadaran etis dan kejernihan nurani. Sebagai siswa kita dituntut untuk menyadari peran dan tanggungjawab kita sebagai gadis-gadis yang menantikan pengantin kesuksesan kita. Dalam mencari kebijaksaaan perserta didik difasilitasi baik tenaga pendidik maupun fasilitas lainnya. Semuanya akan sia-sia kalau sebagai siswa kita tidak mengindahkan aturan, tata tertib dan disiplin yang diberlakukan di lembaga ini. Disiplin dalam konteks siswa adalah disipilin belajar, disiplin bergaul, disiplin berkata-kata, disiplin berpikir. Lima gadis bijaksana dalam kisah injil tadi adalah figur tipikal yang unggul dalam disiplin. Sebaliknya kelima gadis bodoh adalah contoh orang yang tidak disiplin. Kita tidak mau dikelompokkan sebagai orang bodoh hanya karena tidak Disiplin. Disiplin secara sederhana berarti melakukan apa yang benar secara benar di tempat yang benar pada waktu yang benar.
Saya akhiri renungan awal tahun sekolah ini dengan cerita kecil. Suatu siang saat istihat Asty dan Berty duduk di emperan tempat parkir di sekolah mereka. Keduanya tertawa karena tampaknya sedang menyaksikan sesuatu yang lucu. Mendengar itu, seorang pagawai skolah dan seornag guru mendekati mereka dan menyaksikan apa yang terjadi. Pegawai dan guru itu juga ikut tertawa karena mereka menyaksikan seekor binatang lucu. Binatang itu lucu, menarik bagi mereka karena kepalanya ada di depan tetapi sayangnya selalu berjalan ke belakang. Kita bisa menebak nama binatang itu. Itu namanya Undur-Undur.
Beberapa hari kemudian Undur-Undur itu enggan bergerak meski diusili para siswa lain. Penelitian pakar Undur-Undur melaporkan bahwa binatang itu dilanda depresi berat karena pernah ditertawakan dan dipermainkan, dipermalukan dua siswa pegawai dan guru. Menurut pengamatnya, binatang itu berencana mengantungkan diri tetapi sayangnya ia tidak bisa mundur ke atas ke tempat yang tinggi. Undur-Undur lalu mencari tim pembela membawa kasus pencemaran nama baik itu ke tingkat mahkama konstitusi para binatang. MK dunia binatang tak bisa memutuskan perkara itu. Jalan terakhir Undur-Undur berunjuk rasa di seputar istana Surga. Tuntutan mereka tidak tanggung-tanggung. Tuhan harus menghukum siswa, guru dan pegawai yang menertawakan mereka. Melalui juru bicara dan penasehat Undur-Undur itu membacakan nota protesnya di hadapan Parlemen surga. Isi nota protes undur-undur itu demikian: Tuhan kami tidak senang dengan cara manusia itu. Mereka mempermalukan kami tanpa alasan. Mereka menertawakan kami karena kami hanya bisa berjalan mundur. Padahal, keadaan ini bukan atas permintaan kami tetapi karena Tuhan menetapkan hal itu bagi kami. Kami tidak pantas ditertawakan karena itu sama artinya manusia menertawakan Tuhan. Seharusnya, kamilah yang menertawakan manusia karena mereka disebut manusia tetapi cara hidup manusia sering berjalan mundur seperti kami. Manusia sering mengulur-ulur segala hal. Mereka selalu menunda segala sesuatu. Mereka selalu bertindak tidak tepat waktu. Karena itu, kami menuntut dan meminta Tuhan untuk meninjau kembali nama-nama ciptaan. Gantikan saja nama manusia yang suka mengulur-ulur itu dengan nama kami. Biar mereka itu jadi Undur-Undur.
Tentu kita tidak mau disebut undur-undur. Lima gadis bodoh adalah manusia bermental undur-undur. Kita membuka tahun sekolah ini dalam nama Tuhan. Kesuksesan akan terus mendekat dan mendatangi kita. Akankah kita sebagai guru dan siswa di sekolah ini menjadi kelompok gadis bijaksana atau kelompok gadis bodoh? Hanya kita yang bisa menjawab dan membutikannya…Semoga !!
Rm.Bone Rampung, Pr
Amsal 2,1-11 Mateus.25,1-13
SMAK Frateran BHK Malang Jumat, 2 Agustus 2013
Buka
Pagi hari ini kita semua, segenap civitas akademika SMAK Frateran Malang berkumpul untuk merayakan Ekaristi dalam rangka membuka Tahun pembelajaran yang baru. Kita mengingikan agar apa yang hendak kita lakukan, kita lakukan dalam nama Tuhan. Sebagai orang beriman, yang percaya kepada kekuatan Tuhan, perayaan seperti ini tidak saja perlu tetapi sudah semestinya dan seharusnya dilaksanakan. Perayaan seperti ini menjadi penting dan relevan hanya kalau perayaan ini memungkinkan kita sebagai pendidik, peserta didik mempertanyakan atau menggugat segala apa yang akan kita laksanakan proses berlangsungnya pembelajaran yang kita masuki. Kita memulai sesuatu yang baru sambil bercermin pada apa yang telah kita lalui. Perayaan seperti ini akan berarti dan bermakna kalau kita jadikan sebagai titik pijak sekaligus penentu arah perjalanan kita dalam pergulatan dan pergelutan kita mencari dan menemukan kebijaksanaan dalam proses belajar yang akan berlangsung. Kita semua, baik sebagai pendidik maupun peserta didik, mau membangun niat dan tekad untuk menjalankan tugas kita secara baik dan penuh tanggung jawab sebagai orang beriman. Kita mau berjalan dalam harapan bahwa Tuhan membimbing perjalanan kita. Agar harapan kita ini berkenan kepada Tuhan kita akui kelemahan dan dosa kita.
Renungan
Sokrates, seorang bijak pernah berkata: "Suatu kehidupan yang tidak dipertanyakan tidak pantas dijalani" Bagi Sokrates hidup dan kehidupan harus dijadikan masalah yang terus dipertanyakan. Kalau hidup menjadi masalah dan menjadi pertanyaan manusia didorong untuk mencari jalan keluar dan jawabannya. Segala sesuatu yang dihadapi, dijalankan harus selalu dipertanyakan. Pernyataan Sokrates ini mengisyaratkan dan mengharuskan kita untuk selalu sadar dalam segala hal yang kita lakukan. Jika kita bertindak tanpa mengetahui apa dan bagaimananya maka kita akan hidup ibarat robot serba mekanistis. Apa yang dikatakan Sokrates tadi kalau kita sederhanakan berarti kita harus bertanya: saat ini kita berada di mana, sedang melakukan apa, hendak ke mana dan apa yang harus dilakukan? Dengan kata lain kita harus bertolak dari satu motivasi dan bergerak menuju Orientasi. Hidup kita harus berjalan di antara Motivasi dan Orientasi. Motivasi menjadi kekuatan yang mengerakkan dan Orientasi menjadi arah tujuan hidup kita. Manusia yang mau berjalan menuju kesempurnaan dan kebijaksanaan haruslah memiliki motivasi dan tujuan.
Saya kira kalau semua tindakan, aksi, aktivitas kita didasarkan pada pertanyaan yang dirumuskan dengan baik, memungkinkan kita bertindak lebih bijaksana. Kita akan mengetahui secara pasti dari mana kita akan mulai, ke mana kita akan berjalan dan di mana kita akan berhenti. Pada saat ini, kita semua sebagai keluarga besar lembaga pendidikan SMAK Frateran, berkumpul karena kita semua menyadari bahwa kita akan memulai suatu proses belajar bersama. Kita semua tepah menjadi pemenang tender proyek pencerdasan manusia yang harus menyentuh semua dimensi kemanusiaannya. Setiap kita dalam kapasitas kita masing-masing, ditugaskan dan terpanggil untuk mempertajam kecerdasaran intelektual kita, mengembangkan kecerdasan emosional kita, memurnikan kecerdasan spiritual kita, dan memperluas kecerdasan sosial kita. Kita berkumpul dalam doa untuk membuka tahun sekolah baru. Kita mau menjawab pertanyaan yang menyertai keberadaan dan keterpanggilan kita ke lembaga SMAK Frateran Malang ini. Kita mau menjawab pertanyaan mengapa kita berkumpul dan berada dengan cara seperti ini di SMAK Frateran Malang. Kita semua bersepakat bahwa kita mau berada dan terlibat dalam suatu perjalanan bersama untuk mengeksplorasi pelbagai ilmu dan kebijaksanaan dalam rimba ilmu pengetahuan. Para pendidik dan peserta didik, kita semua ingin berjalan bersama mencari dan menemukan kebijaksanaan melalui pelbagai ilmu dan keterampilan yang akan kita berikan dan dapatkan di lembaga pendidikan SMAK Frateran Malang. Keinginan untuk menerapkan pelbagai prinsip pendidikan, penciptaan suasana, lingkungan belajar yang kondusif serta ketersediaan berbagai sarana belajar menjadi prakondisi yang menjamin terjawabnya pelbagai harapan dan tujuan kita. Tujuan pendidikan, tujuan kita tidak lain membentuk manusia yang berkebijaksanaan. Dalam konteks penerapan kurikulum Nasional, kita berada bersama, dalam rangka menata dan membentuk pola berlaku, pola bertindak, pola berbahasa yang melahirkan diri pribadi yang berkarakter. Manusia yang berkarakter adalah manusia yang perilaku dan periberhasanya mengekspresikan keluasan pengetahuan dan kematangan mental. Pendidikan berkarakter mengharuskan semua pemangku kepentingan atau stake holdernya untuk berkebijaksanaan. Berkebijaksanaan sebagai ekspresi karakter harus dapat dijabarkan ke dalam pelbagai tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan secara etis, moral, sosial. Pendidikan yang mengondisikan sekaligus membentuk seseorang untuk tampil secara integral, utuh, seimbang dalam aneka kecerdasan tentu menjadi tekad lembaga SMAK Frateran.
Kalau kita kembali pada gagasan bijak Sokrates tadi maka keberadaan kita dalam lembaga pendidikan asuhan para Frater BHK ini harus kita pertanyakan. Pertanyaannya: mengapa, untuk apa dan bagaimana kita berada di sini dan memilih bergabung dalam komunitas SMAK Frateran. Pertanyaan seperti ini terkait dan terikat erat pada dua hal pokok yaitu (1) tujuan proses yang ingin kita jalani, dan serangkaian kiat kita untuk mencapai tujuan itu. Kita semua sebagai pendidik dan peserta didik bergabung dalam keluarga besar yayasan Mardy Wiyata dalam rangka membekali diri dengan segala macam pengetahuan dan keterampilan. Itu artinya kita harus memilki strategi dan kiat meraih tujuan itu. Jawaban dan penjabaran kita boleh saja berbeda tetapi intinya sama yaitu mau menjadi orang yang berkebijaksanaan sebelum menjadi orang bijaksana. Penulis Kitab Amsal dalam bacaan pertamal memberikan kita gambaran tentang proses hidup dan kehidupan dalam deretan ungkapan yang indah. Hidup yang baik dan benar atau hidup yang berkarakter dalam konteks Amsal tidak lain adalah hidup yang terarah pada pengetahuan tentang kebijaksanaan. Pengetahuan yang baik dan benar adalah pengetahuan yang melahirkan diri pribadi atau manusia yang berhikmat dan berkebijaksanaan. Manusia yang berhikmat dan berkebijaksanaan yang dimaksudkan Amsal adalah manusia yang hidup dan bertindak berdasarkan HATI. Manusia berkarakter yang diidealkan bangsa ini sesungguhnya bukan hal yang baru bagi para frater BHK. Tarekat BHK yang dikenal dan terkenal terdepan dalam misi edukatif sudah jauh sebelum kemerdekaan telah menerapkan pendidikan karakter itu. Pendidikan karakter hakikatnya adalah pendidikan yang berkaitan dengan HATI. Bukan kebetulan, bukan juga baru bagi tarekat BHK karena tarekat telah menjadikan HATI sebagai motor penggerak pelayanannya dalam pendidikan. Pendidikan berspiritualitas HATI yang menjadi kekahasan frateran BHK adalah pendidikan yang mengarahkan orang untuk mendapatkan hikmat. Judul penggalan kitab Amsal tadi berbunyi: Faedah menuntut Hikmat. Ada sekian banyak faedah, kegunaan menuntut hikmat dan pengetahuan itu antara lain: memungkinkan orang bertumbuh dalam kebenaran (tahu mana benar, mana salah), berkembang dalam keadilan, mekar dalam kejujuran, kaya dalam pengetahuan, dan akhirnya memungkinkan orang menaruh hormat kepada Tuhan. Akhir dari pengetahuan yang benar harus mampu membawa orang pada sikap hormat dan mencintai Tuhan. Mengahargai orang dan mencinbtai Tuhan adalah perkara sikap HATI.
Untuk sampai pada diri yang berhikmat, yang berkebijaksanaan, yang berkebenaran, berkejujuran serta berkeadilan itu tidak mudah. Tuhan memberikan kita sarana pembantu. Tuhan memberikan kita suara hati sebagai pusat pengendali, pusat monitor hidup dan tindakan kita. Tuhan memberikan kita telinga untuk mendengarkan hal-hal yang menuntun kita pada kebijaksanaan. Tuhan memberikan kita mulut untuk menyatakan kebenaran dan kejujuran. Dan Tuhan memberikan kita kemampuan akal yang memungkinkan kita menjadi pribadi yang kreatif, dinamis dalam mencari, menggali, menemukan pengetahuan dan kebijaksanaan. Pengertian tentang panggilan kehidupan adalah sikap Hati. Amsal menegaskan: "Jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak dan mengejarnya seperti harta terpendam maka engkau akan beroleh pengertian tentang hidup”. Tuhan menolong orang jujur, membela orang benar, memelihara orang adil dan mengganjari orang yang setia karena Tuhan sendiri setia.
Keberadaan kita di SMAK Frateran tentu karena kerinduan kita mencari pengetahuan yang memungkinkan kita berjalan menuju kebijaksanaan yang dituntun HATI. Untuk itu kita dituntut lebih kreatif memanfaatkan pelbagai peluang yang ada. Untuk menjadi pribadi yang berkebijaksanaan dan berpengetahuan perlu perjungan. Kebijaksanaan dan pengetahuan tidak datang sebagai mukjizat. Cita-cita dan harapan kita dalam menggeluti pengetahuan harus memaksa kita untuk lebih tekun, kreatif, dinamis, dan kompetitif. Karena itu Penggalan Injil Mateus mau menggarisbawahi aneka kiat dan strategi manusia dalam menimba kebijaksanaan dan pengetahuan itu. Kisah lima gadis yang bodoh dan lima gadis yang bijaksana tadi mau mengungkapkan kenyataan bahwa di dunia ada dua jenis, model, kelompok manusia. Dua kelompok itu dibedakan berdasarkan strategi menantikan sang pengantin. Itulah gambaran citra manusia termasuk kita semua
Dari Injil kita menemukan dua strategi yang berbeda. Kelompok pertama itu berpredikat bijaksana karena mereka menggunakan strategi yang cermat, tahan uji, ketat, teliti, kreatif, dan berpikir antisipatif. Semuanya itu diibaratkan dengan persiapan minyak yang cukup. Hasilnya memuaskan. Mereka senang dan bergembira mendapat bonus masuk ke ruang pesta. Kehebatan mereka terletak pada strategi. Kelompok kedua disebut bodoh karena menggunakan strategi yang sebaliknya. Mereka berpredikat bodoh karena strateginya sangat longgar, penuh spekulasi, main untung-untungan, santai-santai, tidak mau bertahan, tidak mau bersusah-susah, tidak merasa malu, bermental pengemis, bergantung pada orang lain, bermental enak, lebih suka memilih tidur. Hasilnya hanya kekecewaan yang berlipat-lipat. Bukan saja tidak melihat pengantin datang tetapi lebih lagi mereka dipermalukan pintu ruangan perjamuan. Singkatnya mereka gagal mencari dan menemukan pengetahuan dan kebenaran karena menerapkan strategi main gampang-gampangan. Mereka tidak akan menjadi orang bijak yang punya Hati. Mereka menjadi orang kalah yang tergeser, tergusur dan terelimiasi dari lintasan kehidupan yang dirindukan.
Kehadiran kita di SMAK Frateran adalah kehadiran untuk mendapatkan sesuatu yang penting bagi masa depan kita. Kita semua adalah para gadis yang ingin menyaksikan sang pengantin yang mengundang kita ke ruangan pesta. Pengantin kita adalah kesuksesan yang kita nantikan. Sukses akan datang dan hanya untuk mereka yang terjaga bykan untuk yang tertidur, malas, dan ngantuk. Kita ingin sukses sebagai pendidik. Kita ingin sukses sebagai peserta didik. Kita ingin sukses sebagai sebuah lembaga pendidikan. Kita mau menjadi seperti lima gadis yang bijaksana. Untuk itu tidak ada cara yang lebih tepat selain kita menggunakan strategi yang kreatif, dinamis, antisipatif. Untuk menjadi manusia bijaksana dan sukses hanya satu kunci ajaibnya. Kunci itu harus menjadi milik setiap kita karena dengan kunci itu kita dapat membuka pintu gudang perbedaharaan hikmat dan kebijaksaan. Ruang harta hikmat kebijaksaan tidak bisa dibuka dengan kunci T (TIDUR) tetapi harus dibuka dengan kunci terbaru yaitu kunci D(DISIPLIN). Disiplin di sini dapat dijabarkan sesuai konteks dan peran kita masing-masing. Para pendidik baik tenaga edukatif maupun nonedukatif akan sukses kalau menjalankan perannya secara kreatif sambil mempertimbangkan pelbagai tindakan edukatif dan prinsip-prinsip pedagogis yang bercorak humanis. Para pendidik akan sukses kalau menyadari perannya sebagai pendidik dan memilki komitman total berdasarkan kesadaran etis dan kejernihan nurani. Sebagai siswa kita dituntut untuk menyadari peran dan tanggungjawab kita sebagai gadis-gadis yang menantikan pengantin kesuksesan kita. Dalam mencari kebijaksaaan perserta didik difasilitasi baik tenaga pendidik maupun fasilitas lainnya. Semuanya akan sia-sia kalau sebagai siswa kita tidak mengindahkan aturan, tata tertib dan disiplin yang diberlakukan di lembaga ini. Disiplin dalam konteks siswa adalah disipilin belajar, disiplin bergaul, disiplin berkata-kata, disiplin berpikir. Lima gadis bijaksana dalam kisah injil tadi adalah figur tipikal yang unggul dalam disiplin. Sebaliknya kelima gadis bodoh adalah contoh orang yang tidak disiplin. Kita tidak mau dikelompokkan sebagai orang bodoh hanya karena tidak Disiplin. Disiplin secara sederhana berarti melakukan apa yang benar secara benar di tempat yang benar pada waktu yang benar.
Saya akhiri renungan awal tahun sekolah ini dengan cerita kecil. Suatu siang saat istihat Asty dan Berty duduk di emperan tempat parkir di sekolah mereka. Keduanya tertawa karena tampaknya sedang menyaksikan sesuatu yang lucu. Mendengar itu, seorang pagawai skolah dan seornag guru mendekati mereka dan menyaksikan apa yang terjadi. Pegawai dan guru itu juga ikut tertawa karena mereka menyaksikan seekor binatang lucu. Binatang itu lucu, menarik bagi mereka karena kepalanya ada di depan tetapi sayangnya selalu berjalan ke belakang. Kita bisa menebak nama binatang itu. Itu namanya Undur-Undur.
Beberapa hari kemudian Undur-Undur itu enggan bergerak meski diusili para siswa lain. Penelitian pakar Undur-Undur melaporkan bahwa binatang itu dilanda depresi berat karena pernah ditertawakan dan dipermainkan, dipermalukan dua siswa pegawai dan guru. Menurut pengamatnya, binatang itu berencana mengantungkan diri tetapi sayangnya ia tidak bisa mundur ke atas ke tempat yang tinggi. Undur-Undur lalu mencari tim pembela membawa kasus pencemaran nama baik itu ke tingkat mahkama konstitusi para binatang. MK dunia binatang tak bisa memutuskan perkara itu. Jalan terakhir Undur-Undur berunjuk rasa di seputar istana Surga. Tuntutan mereka tidak tanggung-tanggung. Tuhan harus menghukum siswa, guru dan pegawai yang menertawakan mereka. Melalui juru bicara dan penasehat Undur-Undur itu membacakan nota protesnya di hadapan Parlemen surga. Isi nota protes undur-undur itu demikian: Tuhan kami tidak senang dengan cara manusia itu. Mereka mempermalukan kami tanpa alasan. Mereka menertawakan kami karena kami hanya bisa berjalan mundur. Padahal, keadaan ini bukan atas permintaan kami tetapi karena Tuhan menetapkan hal itu bagi kami. Kami tidak pantas ditertawakan karena itu sama artinya manusia menertawakan Tuhan. Seharusnya, kamilah yang menertawakan manusia karena mereka disebut manusia tetapi cara hidup manusia sering berjalan mundur seperti kami. Manusia sering mengulur-ulur segala hal. Mereka selalu menunda segala sesuatu. Mereka selalu bertindak tidak tepat waktu. Karena itu, kami menuntut dan meminta Tuhan untuk meninjau kembali nama-nama ciptaan. Gantikan saja nama manusia yang suka mengulur-ulur itu dengan nama kami. Biar mereka itu jadi Undur-Undur.
Tentu kita tidak mau disebut undur-undur. Lima gadis bodoh adalah manusia bermental undur-undur. Kita membuka tahun sekolah ini dalam nama Tuhan. Kesuksesan akan terus mendekat dan mendatangi kita. Akankah kita sebagai guru dan siswa di sekolah ini menjadi kelompok gadis bijaksana atau kelompok gadis bodoh? Hanya kita yang bisa menjawab dan membutikannya…Semoga !!
Rm.Bone Rampung, Pr
Wednesday, July 31, 2013
MISA PERPISAHAN DI SEMINARI KISOL
Renungan Misa Perutusan
Rm.Bone, Rm.Don, Fr.Kristian, Fr.Redy
Kis.3,1-10; Mrk.10,46-52
Seminari Kisol Kamis, 14 Juni 2012
Emas dan Perak tidak ada pada kami….
Bukanlah hal yang baru bagi Komunitas ini untuk menjadikan moment perpisahan sebagai moment perutusan. Karena itu kita lebih suka menggunakan rumusan misa perutusan daripada menggunakan rumusan misa perpisahan. Perpisahan itu konotasinya pasif negatif sedangkan perutusan konotasinya aktif dan positif. Aktif dan positif karena perutusan itu identik dengan tugas yang diterima untuk dilaksanakan sesuatu. Pertanyaan pokoknya satu saja: diutus untuk apa? Pertanyaan lainnya akan mengarah pada pertanyaan pokok ini. Pertanyaan itu, hari ini diarahkan kepada kami berempat dan jawaban kami tentu berbeda-beda sesuai konteks kami. Meskipun demikian sebagai orang beriman tentu kita menyatukan semuanya dalam makna perutusan yang lebih luas lagi. Kami berempat yang telah menjejakkan kaki di tempat ini akan pergi. Kami pergi kamu tinggal, kamu punya harapan atas kami dan kami punya perjuangan untuk harapan kamu. Saat ini kita berada dalam konteks perutusan sebagai orang beriman. Karena itulah, moment ini jangan dilihat sebagai hal istimewa hanya buat kami yang akan pergi tetapi sebagai saat istimewa buat kita semua. Keistimewaan moment ini bagi kita bisa ditemukan melalui pesan firman Tuhan yang diperdengarkan untuk kita saat ini.
Dua kisah tadi terjadi di tempat yang berbeda. Pertama terjadi di Gerbang indah Yerusalem yang merupakan salah satu dari delapan gerbang masuk ke kota Yerusalem. Gerbang indah merupakan gerbang yang paling banyak dilalui para peziarah. Saya pertama kali masuk kota Yerusalem tahun lalu justru melalui gerbang indah ini meski berdesakan dengan ribuan peziarah dari seluruh dunia. Di sana pemandu menunjukkan kami tempat Petrus dan Yohanes menyembuhkan orang lumpuh yang dikisahkan dalam bacaan pertama tadi. Bacaan injil menampilkan kisah yang mirip tetapi lokasinya ada di gerbang kota Yerikho. Pemandu juga telah menunjukkan kami tempat itu setelah melintasi pohon Zakeus dan bukit pencobaan. Sepintas dua kisah tadi memang berkaitan dengan dunia medis karena berbicara tentang penyembuhan orang lumpuh dan orang buta, tetapi bagi saya sebenarnya dua teks ini juga mewacanakan perutusan orang beriman yang berkaitan dengan proses belajar.
Setiap perutusan dapat dikatakan sebagai saat untuk belajar dalam konteks yang seluas-luasnya. Setiap orang yang diutus untuk suatu tugas tertentu dengan sendirinya dan bahkan tanpa disadari ditempatkan ke dalam kerangka prilaku dan peritindak belajar. Mengapa? Karena untuk menjalankan misi perutusan secara benar orang dituntut untuk mempelajari banyak hal. Untuk dapat mempelajari banyak hal orang yang diutus itu harus mampu mendisposisikan dri sebagai orang yang membutuhkan bantuan dan pertolongan orang lain. Orang yang diutus itu harus dan mesti menempatkan diri dan seluruh sikapnya dalam spirit perjuangan seorang lumpuh atau seorang yang buta. Proses perutusan, proses belajar bermula dan terjadi ketika seseorang merasakan adanya keterbatasan pada dirinya. Perutusan juga membahasakan keterbatasan. Orang lumpuh diusung ke gerbang Yerusalem karena keterbatasan fisik. Orang buta ke gerbang Yerikho juga karena keterbatasan fisik.
Dua bacaan tadi menampilkan tokoh-tokoh yang memiliki keterbatasan. Dua bacaan ini tampaknya mirip karena tokoh yang ditampilkan relatif sama-sama berada dalam keterbatasan fisik. Dalam bacaan pertama kita mendengarkan kisah seorang tokoh yang lumpuh secara fisik berhadapan dengan Petrus dan Yohanes. Injil menanmpilkan kisah orang yang buta berhadapan dengan Yesus. Alur kisah dua bacaan yang melibatkan dua tokoh yang sama-sama cacat fisik dengan seting tempat yang berbeda; Gerbang Indah Yerusalem dan Gerbang Yeriko. Yerusalem itu terletak sembilan kilo meter sebelah Timur kota Yerikho. Apa yang terjadi di Gerbang Indah Yerusalem itu? Dan apa yang bisa kita dapatkan dari peristiwa itu? Pesan pokok dari kisah orang lumpuh di Gerbang Yerusalem itu berkaitan dengan adanya empat model manusia berhadapan dengan tawaran Keselamatan Tuhan untuk manusia. Baiklah kita lihat ayat demi ayat bacaan pertama tadi.
Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu pukul tiga petang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait . Di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung. Tiap-tiap hari orang itu diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah, yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam Bait Allah. (ay.1-2). Ayat ini mau menegaskan kepada kita bahwa Tidak semua orang yang pergi ke Bait Allah memiliki motivasi untuk menyembah Allah. Dari teks tadi kita mengenal beberapa golongan orang yang datang ke Bait ALLAH. Golongan pertama diwakili Petrus dan Yohanes. Keduanya "naik" ke Bait ALLAH untuk berkomunikasi dengan Allah, mendekatkan diri kepada Allah. Kata "naik" memiliki arti mencari perkara-perkara yang di atas. Petrus dan Yohanes mewakili manusia yang sungguh-sungguh beribadah. Ayat ini sejalan dengan bagian lain penginjil Markus yang menulis bahwa Yesus mengutus murid-murid-Nya berdua-dua dan melengkapi mereka dengan Firman dan Kuasa Roh Kudus sebagai senjata dalam melawan kuasa roh-roh jahat(Mrk. 6,7)
Model kedua yaitu orang lumpuh. Nama orang lumpuh itu tidak dinyatakan; hanya disebutkan "seorang laki-laki". Orang lumpuh ini mewakili orang-orang yang belum memiliki "nama", artinya orang yang belum menerima keselamatan. Posisi orang lumpuh ini baru berada di dekat pintu gerbang Bait Allah, belum masuk melalui pintu gerbang. Hanya tinggal selangkah lagi baginya untuk memasuki Bait Allah, namun langkah yang menentukan ini belum ditempuhnya. Dia hanya meminta para pengusung meletakkan dirinya di gerbang karena targetnya memintah sedekah. Kita ingat apa yang ditulis Yohanes tentang kata-kata Yesus: Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui AKU, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput (Yoh.10,9)
Orang yang belum diantar, masuk lewat pintu gerbang Bait Allah sebenarnya belum dapat disebut orang Kristen sejati. Sebab pintu gerbang itu adalah Kristus sendiri. Sebagai seorang yang belum melangkahkan kakinya melewati pintu gerbang, orang lumpuh ini belum menerima Kristus sebagai Juruselamat.
Dinamika perjumpaan kedua murid dengan orang lumpuh itu berlanjut. Ketika orang lumpuh itu melihat, bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah. Mereka menatap dia dan Petrus berkata: "Lihatlah kepada kami." Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka. (ay.3-5) Kata-kata Petrus ini seolah-olah orang lumpuh itu tidak bisa melihat Petrus dan Yohnaes. Padahal sebelumnya si lumpuh melihat keduanya sebab dia bermaksud meminta sedekah. Pasti dan jelas ada makna khusus yang terkandung dalam kata-kata Petrus kepada si pengemis lumpuh ini, "Lihatlah kepada kami!" Bukan sekadar memandang wajah Petrus dan Yohanes. Yang dimaksudkan Petrus adalah mengubah cara pandang. "Ubahlah cara engkau memandang." Bagi Petrus orang lumpuh itu hanya mata fisiknya yang terbuka melihat tetapi mata hatinya buta tertutup. Berbeda dengan Bartimeus yang mata fisik buta tetapi mata hatinya terbuka. Cara pandang Petrus dan Yohanes sangat bertolak belakang dengan cara pandang si pengemis lumpuh itu.
Petrus dan Yohanes sebagai murid Kristus menegaskan bahwa mereka dapat meminta kepada Allah, tetapi bukan mengemis seperti si lumpuh itu. Orang lumpuh itu justru tidak meminta dan berharap kepada Allah; dia hanya berharap menerima belas kasihan dari manusia yang hanya memberi sedekah sekadarnya. Mengarapkan menerima karena rasa belas kasih sesama manusia adalah mental seorang pengemis. Tidak terbersit kerinduan dan keinginan dalam dirinya untuk mendapatkan kesembuhan melalui para imam dan rasul yang setiap hari lewat di hadapannya menunju Bait Allah. Yang ada dalam pikiran si lumpuh itu hanyalah uang. Pola pikir seperti ini mau diubah Petrus dan Yohanes.
Harapan orang lumpuh untuk menerima banyak uang dari Petrus dan Yohanes adalah harapan yang sia-sia. Sebab Yesus mengutus para murid dengan pesan agar tidak membawa bekal atau pun uang. Hanya tongkat -gambaran salib TUHAN- yang boleh mereka bawa dan menjadi andalan mereka dalam perutusan. Perkataan Petrus, "Lihatlah kepada kami" mengingatkan si lumpuh itu, bahwa Petrus juga tidak memiliki uang, namun tidak membuat Petrus menjadi pengemis. "Lihatlah kami" merupakan ajakan Petrus kepada si lumpuh untuk memikirkan perkara-perkara di atas, untuk melangkahkan kaki masuk ke dalam Bait Allah. Setelah langkah yang terpenting itu dijalani, maka orang akan menerima segala berkat Allah yang mencukupkan segala kebutuhan hidupnya.
Di samping kedua rasul dan orang lumpuh itu, ada kelompok ketiga yaitu orang-orang yang meletakkan si pengemis lumpuh di depan pintu gerbang Bait Allah Kelompok ini menggambarkan orang yang penuh semangat bersaksi dan menolong agar orang lain mau datang kepada Tuhan. Namun sayangnya, niatnya tidak tuntas, kesaksiannya tidak membawa berkat keselamatan bagi orang lain, sebab mereka memberi kesaksian yang salah. Mereka hanya menggembar-gemborkan kesembuhan, berkat kekayaan dan berkat-berkat jasmani lainnya, tetapi tidak menceritakan kasih Allah yang rela mati menyelamatkan orang berdosa. Kesaksian yang tidak memberitakan salib Tuhan tidak akan membawa perubahan pada si pengemis lumpuh itu: orang lumpuh selamanya akan tetap lumpuh!
Salib adalah kuasa kematian dan kebangkitan yang membawa kesembuhan bagi si lumpuh seperti yang dinyatakan Petrus sendiri. Itulah modal perutusan Petrus dan kawan-kawannya. Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!(Kis.3,6). Petrus dan Yohanes hanya memiliki modal Nama Yesus. Di sini jelas bagi kita bahwa pertolongan materi tidak akan mengubah profesi orang lumpuh itu sebagai pengemis. Hanya Nama Yesuslah yang telah mengubahnya secara rohani menjadi pengikut Kristus yang sanggup berjalan dan tidak lagi meminta-minta. Hal ini jelas terlihat dalam ayat berikutnya:
Lalu Petrus memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu. Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah (ay.7-8). Petrus membantu si lumpuh itu berdiri merupakan gambaran orang-orang yang telah mengenal kuasa kebangkitan TUHAN memiliki kerelaan membantu orang-orang yang imannya masih lemah. Orang lumpuh ini baru mendengar Nama YESUS dan masih perlu dibantu dan didorong pertumbuhan imannya. Petrus dan Yohanes yang dikuasai Roh Kristus yang bangkit dengan ringan tangan membimbing dan mendoakan orang yang baru mengenal TUHAN agar tetap teguh dalam iman. Lazimnya orang lumpuh sejak lahir tidak akan langsung berdiri, apalagi berjalan. Pasti membutuhkan waktu untuk belajar berjalan. Namun orang lumpuh ini dapat segera berdiri, berjalan, bahkan melompat! Jamahan TUHAN atas orang lumpuh ini membuktikan kuasa Nama Tuhan yang tidak terbatas.
Pertolongan Tuhan yang dialami si lumpuh ini membawanya ke Bait Allah mengikuti Yohanes dan Petrus. Tanpa dikomando, orang yang disembuhkan ini memuji Tuhan sambil melompat-lompat untuk mengekspresikan rasa syukur dan sukacita yang luar biasa. Dan bersama pemazmur berdoa "berbahagialah orang-orang yang diam di rumah Tuhan" (mzr.84,5) Diam di rumah Tuhan berarti sudah masuk melewati pintu gerbang keselamatan, seperti yang dialami si pengemis lumpuh itu.
Golongan keempat adalah orang banyak atau rakyat kebanyakan. Seluruh rakyat itu melihat dia berjalan sambil memuji Allah, lalu mereka mengenal dia sebagai orang yang biasanya duduk meminta sedekah di Gerbang Indah Bait Allah, sehingga mereka takjub dan tercengang tentang apa yang telah terjadi padanya (ay.9-10). Ayat ini jelas menampilkan satu model sikap manusia berhadapan dengan karya Tuhan. Rakyat yang menyaksikan peristiwa kesembuhan si lumpuh di gerbang Indah Yerusalem itu hanya takjub, tidak lebih dari itu. Hati mereka tidak tergerak memuji TUHAN seperti si lumpuh yang disembuhkan. Mereka hanya menjadi penonton yang pasif. Bila sikap seperti ini dipertahankan, sudah pasti selamanya golongan ini hanya akan "menonton" dan menjadi penonton mujizat, bukan mengalami dan menjadi penikmat mujizat.
Tanpa berniat menyamakan diri dengan Petrus dan Yohanes, kami berempat yang diutus hari ini juga tidak punya emas dan perak untuk siapa saja yang selama ini kami jumpai dan kami layani. Frater Redy, dan Frater Kristian, Rm.Don dan saya juga datang ke Seminari ini bukan membawa emas atau perak untuk dibagikan. Kami datang hanya membawa keyakinan bahwa Tuhan sendiri bisa memakai kami untuk sesuatu yang kiranya baik untuk dibagikan. Karena itu kalau memang ada hal baik yang dirasakan sudah kami berikan, janganlah memuji kami. Pujilah Tuhan yang memakai kami untuk meneruskan kebaikan-Nya kepada kita dan siapa saja yang memerlukan keterlibatan kami. Saya berharap ketiga saudara saya yang diutus hari ini juga sepakat bahwa kita datang dan hidup di sini untuk memperkenalkan Kristus yang telah memanggil kita tanpa emas dan perak. Semangat yang sama kiranya terus kami bawa dalam tugas perutusan yang baru. Harapannya semakin banyak orang yang diantar masuk ke rumah Tuhan untuk mengenal dan memuji Tuhan.
Sebagai pengikut Kristus kami berempat kemungkinan masih bertemu dengan banyak orang lumpuh dan orang buta yang membutuhkan setuhan, perhatian Tuhan, jamahan Kasih Tuhan dan menggunakan kami sebagai alat di tangan-Nya untuk melaksanakan karya sebersar dan seagung itu. Kalau Petrus dan Yohanes dihadapkan dengan orang lumpuh di gerbang kota Yerusalem, maka mungkin kami akan menghadapi orang lumpuh yang lain dalam perutusan kami. Kalau Yesus yang mengutus kami dahulu berhadapan dengan Bartimeus yang meminta matanya dicelikkan maka kemungkin kami berempat akan bertemu dengan model kebutaan manusia zaman ini dalam tugas perutsuan yang baru. Terus terang dari kami berempat belum ada yang bisa membuat mujizat membuat orang lumpuh bisa berjalan dan membuat orang buta bisa melihat. Meskipun demikian kami yakin Tuhan telah memakai kami dalam cara Tuhan sendiri untuk membebaskan orang dari model kelumpuhan dan kebutaan dalam bentuk yang lain melalui tugas, pekerjaan kami. Semua itu jelas kami tidak tahu tetapi Tuhan mengetahui semuanya dan tentu orang lain yang bisa mengatakan itu kalau memang mereka merasa mendapatkan kebaikan Tuhan melalui diri kami.
Perutusan itu, sore ini memang difokuskan kepada kami berempat tetapi sesungguhnya semua kita adalah utusan Tuhan karean kita telah menjadi murid Tuhan. Zaman sekarang amat kurang jumlah orang yang lumpuh secara fisik tetapi tetapi di mana-mana kita temukan orang yang lumpuh mentalnya, lumpuh nuraninya, lumpuh karakternya. Zaman sekarang amat kurang orang buta fisik seperti Bartimeus tetapi tidak berkurang manusia yang buta nuraninya, buta mata hatinya, buta mata kehendaknya. Ketika praktik ketidakjujuran, ketidakadilan, kurupsi, menyontek ambisi berkuasa dibiarkan tumbuh dan ditoleransi di sana kelumpuhan demi kelumpuhan, kebutaan demi kebutaan akan bertumbuh. Kalau semua itu dibiarkan, termasuk dibiarkan terjadi di lembaga terhormat lembaga calon imam ini maka hapuslah slogan dan jargon pendidikan karakter dari silabus pendidikan kita. Menyembuhkan orang lumpuh dan buta fisik jauh lebih mudah daripada menyembuhkan orang yang lumpuh dan buta secara mental, kejiwaan dan rohani. Keadilan, kejujuran, kebenaran tidak bisa dibeli dan dinilai dengan uang. Karena itu, sungguh merupakan penghinaan kepada Tuhan yang adil, Tuhan yang benar ketika orang beriman mengukur kejujran, kebenaran, dan keadilan itu dengan uang. Uang bukanlah alat yang pas untuk dipakai sebagai kompensasi sebuah kebenaran dan keadilan. Saya percaya kita semua mau disembuhkan dari lumpuh dan buta metal. Saya percaya kita semua ingin masuk ke dalam rumah Tuhan dan mau berjalan bersama Tuhan membawa kebenaran. Semua kita bisa mengambil kata-kata Petrus: Emas dan Perak tidak ada pada kami tetapi kebenaran tentang Kristus yang bangkit itulah yang kami bawa dan wartakan. Dalam semangat ini kita akan selalu berkata dalam harapan seperti Bartimeus: Tuhan, semoga aku melihat. Kata-kata Bartimeus inilah menjadi semangat perutsan kami berempat di tempat yang baru. Doakan kami berempat agar dalam perutusan kami, kami membawa semangat Petrus dan Yohanes kerinduan Bartimeus. Semoga
Rm.Bone, Rm.Don, Fr.Kristian, Fr.Redy
Kis.3,1-10; Mrk.10,46-52
Seminari Kisol Kamis, 14 Juni 2012
Emas dan Perak tidak ada pada kami….
Bukanlah hal yang baru bagi Komunitas ini untuk menjadikan moment perpisahan sebagai moment perutusan. Karena itu kita lebih suka menggunakan rumusan misa perutusan daripada menggunakan rumusan misa perpisahan. Perpisahan itu konotasinya pasif negatif sedangkan perutusan konotasinya aktif dan positif. Aktif dan positif karena perutusan itu identik dengan tugas yang diterima untuk dilaksanakan sesuatu. Pertanyaan pokoknya satu saja: diutus untuk apa? Pertanyaan lainnya akan mengarah pada pertanyaan pokok ini. Pertanyaan itu, hari ini diarahkan kepada kami berempat dan jawaban kami tentu berbeda-beda sesuai konteks kami. Meskipun demikian sebagai orang beriman tentu kita menyatukan semuanya dalam makna perutusan yang lebih luas lagi. Kami berempat yang telah menjejakkan kaki di tempat ini akan pergi. Kami pergi kamu tinggal, kamu punya harapan atas kami dan kami punya perjuangan untuk harapan kamu. Saat ini kita berada dalam konteks perutusan sebagai orang beriman. Karena itulah, moment ini jangan dilihat sebagai hal istimewa hanya buat kami yang akan pergi tetapi sebagai saat istimewa buat kita semua. Keistimewaan moment ini bagi kita bisa ditemukan melalui pesan firman Tuhan yang diperdengarkan untuk kita saat ini.
Dua kisah tadi terjadi di tempat yang berbeda. Pertama terjadi di Gerbang indah Yerusalem yang merupakan salah satu dari delapan gerbang masuk ke kota Yerusalem. Gerbang indah merupakan gerbang yang paling banyak dilalui para peziarah. Saya pertama kali masuk kota Yerusalem tahun lalu justru melalui gerbang indah ini meski berdesakan dengan ribuan peziarah dari seluruh dunia. Di sana pemandu menunjukkan kami tempat Petrus dan Yohanes menyembuhkan orang lumpuh yang dikisahkan dalam bacaan pertama tadi. Bacaan injil menampilkan kisah yang mirip tetapi lokasinya ada di gerbang kota Yerikho. Pemandu juga telah menunjukkan kami tempat itu setelah melintasi pohon Zakeus dan bukit pencobaan. Sepintas dua kisah tadi memang berkaitan dengan dunia medis karena berbicara tentang penyembuhan orang lumpuh dan orang buta, tetapi bagi saya sebenarnya dua teks ini juga mewacanakan perutusan orang beriman yang berkaitan dengan proses belajar.
Setiap perutusan dapat dikatakan sebagai saat untuk belajar dalam konteks yang seluas-luasnya. Setiap orang yang diutus untuk suatu tugas tertentu dengan sendirinya dan bahkan tanpa disadari ditempatkan ke dalam kerangka prilaku dan peritindak belajar. Mengapa? Karena untuk menjalankan misi perutusan secara benar orang dituntut untuk mempelajari banyak hal. Untuk dapat mempelajari banyak hal orang yang diutus itu harus mampu mendisposisikan dri sebagai orang yang membutuhkan bantuan dan pertolongan orang lain. Orang yang diutus itu harus dan mesti menempatkan diri dan seluruh sikapnya dalam spirit perjuangan seorang lumpuh atau seorang yang buta. Proses perutusan, proses belajar bermula dan terjadi ketika seseorang merasakan adanya keterbatasan pada dirinya. Perutusan juga membahasakan keterbatasan. Orang lumpuh diusung ke gerbang Yerusalem karena keterbatasan fisik. Orang buta ke gerbang Yerikho juga karena keterbatasan fisik.
Dua bacaan tadi menampilkan tokoh-tokoh yang memiliki keterbatasan. Dua bacaan ini tampaknya mirip karena tokoh yang ditampilkan relatif sama-sama berada dalam keterbatasan fisik. Dalam bacaan pertama kita mendengarkan kisah seorang tokoh yang lumpuh secara fisik berhadapan dengan Petrus dan Yohanes. Injil menanmpilkan kisah orang yang buta berhadapan dengan Yesus. Alur kisah dua bacaan yang melibatkan dua tokoh yang sama-sama cacat fisik dengan seting tempat yang berbeda; Gerbang Indah Yerusalem dan Gerbang Yeriko. Yerusalem itu terletak sembilan kilo meter sebelah Timur kota Yerikho. Apa yang terjadi di Gerbang Indah Yerusalem itu? Dan apa yang bisa kita dapatkan dari peristiwa itu? Pesan pokok dari kisah orang lumpuh di Gerbang Yerusalem itu berkaitan dengan adanya empat model manusia berhadapan dengan tawaran Keselamatan Tuhan untuk manusia. Baiklah kita lihat ayat demi ayat bacaan pertama tadi.
Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu pukul tiga petang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait . Di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung. Tiap-tiap hari orang itu diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah, yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam Bait Allah. (ay.1-2). Ayat ini mau menegaskan kepada kita bahwa Tidak semua orang yang pergi ke Bait Allah memiliki motivasi untuk menyembah Allah. Dari teks tadi kita mengenal beberapa golongan orang yang datang ke Bait ALLAH. Golongan pertama diwakili Petrus dan Yohanes. Keduanya "naik" ke Bait ALLAH untuk berkomunikasi dengan Allah, mendekatkan diri kepada Allah. Kata "naik" memiliki arti mencari perkara-perkara yang di atas. Petrus dan Yohanes mewakili manusia yang sungguh-sungguh beribadah. Ayat ini sejalan dengan bagian lain penginjil Markus yang menulis bahwa Yesus mengutus murid-murid-Nya berdua-dua dan melengkapi mereka dengan Firman dan Kuasa Roh Kudus sebagai senjata dalam melawan kuasa roh-roh jahat(Mrk. 6,7)
Model kedua yaitu orang lumpuh. Nama orang lumpuh itu tidak dinyatakan; hanya disebutkan "seorang laki-laki". Orang lumpuh ini mewakili orang-orang yang belum memiliki "nama", artinya orang yang belum menerima keselamatan. Posisi orang lumpuh ini baru berada di dekat pintu gerbang Bait Allah, belum masuk melalui pintu gerbang. Hanya tinggal selangkah lagi baginya untuk memasuki Bait Allah, namun langkah yang menentukan ini belum ditempuhnya. Dia hanya meminta para pengusung meletakkan dirinya di gerbang karena targetnya memintah sedekah. Kita ingat apa yang ditulis Yohanes tentang kata-kata Yesus: Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui AKU, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput (Yoh.10,9)
Orang yang belum diantar, masuk lewat pintu gerbang Bait Allah sebenarnya belum dapat disebut orang Kristen sejati. Sebab pintu gerbang itu adalah Kristus sendiri. Sebagai seorang yang belum melangkahkan kakinya melewati pintu gerbang, orang lumpuh ini belum menerima Kristus sebagai Juruselamat.
Dinamika perjumpaan kedua murid dengan orang lumpuh itu berlanjut. Ketika orang lumpuh itu melihat, bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah. Mereka menatap dia dan Petrus berkata: "Lihatlah kepada kami." Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka. (ay.3-5) Kata-kata Petrus ini seolah-olah orang lumpuh itu tidak bisa melihat Petrus dan Yohnaes. Padahal sebelumnya si lumpuh melihat keduanya sebab dia bermaksud meminta sedekah. Pasti dan jelas ada makna khusus yang terkandung dalam kata-kata Petrus kepada si pengemis lumpuh ini, "Lihatlah kepada kami!" Bukan sekadar memandang wajah Petrus dan Yohanes. Yang dimaksudkan Petrus adalah mengubah cara pandang. "Ubahlah cara engkau memandang." Bagi Petrus orang lumpuh itu hanya mata fisiknya yang terbuka melihat tetapi mata hatinya buta tertutup. Berbeda dengan Bartimeus yang mata fisik buta tetapi mata hatinya terbuka. Cara pandang Petrus dan Yohanes sangat bertolak belakang dengan cara pandang si pengemis lumpuh itu.
Petrus dan Yohanes sebagai murid Kristus menegaskan bahwa mereka dapat meminta kepada Allah, tetapi bukan mengemis seperti si lumpuh itu. Orang lumpuh itu justru tidak meminta dan berharap kepada Allah; dia hanya berharap menerima belas kasihan dari manusia yang hanya memberi sedekah sekadarnya. Mengarapkan menerima karena rasa belas kasih sesama manusia adalah mental seorang pengemis. Tidak terbersit kerinduan dan keinginan dalam dirinya untuk mendapatkan kesembuhan melalui para imam dan rasul yang setiap hari lewat di hadapannya menunju Bait Allah. Yang ada dalam pikiran si lumpuh itu hanyalah uang. Pola pikir seperti ini mau diubah Petrus dan Yohanes.
Harapan orang lumpuh untuk menerima banyak uang dari Petrus dan Yohanes adalah harapan yang sia-sia. Sebab Yesus mengutus para murid dengan pesan agar tidak membawa bekal atau pun uang. Hanya tongkat -gambaran salib TUHAN- yang boleh mereka bawa dan menjadi andalan mereka dalam perutusan. Perkataan Petrus, "Lihatlah kepada kami" mengingatkan si lumpuh itu, bahwa Petrus juga tidak memiliki uang, namun tidak membuat Petrus menjadi pengemis. "Lihatlah kami" merupakan ajakan Petrus kepada si lumpuh untuk memikirkan perkara-perkara di atas, untuk melangkahkan kaki masuk ke dalam Bait Allah. Setelah langkah yang terpenting itu dijalani, maka orang akan menerima segala berkat Allah yang mencukupkan segala kebutuhan hidupnya.
Di samping kedua rasul dan orang lumpuh itu, ada kelompok ketiga yaitu orang-orang yang meletakkan si pengemis lumpuh di depan pintu gerbang Bait Allah Kelompok ini menggambarkan orang yang penuh semangat bersaksi dan menolong agar orang lain mau datang kepada Tuhan. Namun sayangnya, niatnya tidak tuntas, kesaksiannya tidak membawa berkat keselamatan bagi orang lain, sebab mereka memberi kesaksian yang salah. Mereka hanya menggembar-gemborkan kesembuhan, berkat kekayaan dan berkat-berkat jasmani lainnya, tetapi tidak menceritakan kasih Allah yang rela mati menyelamatkan orang berdosa. Kesaksian yang tidak memberitakan salib Tuhan tidak akan membawa perubahan pada si pengemis lumpuh itu: orang lumpuh selamanya akan tetap lumpuh!
Salib adalah kuasa kematian dan kebangkitan yang membawa kesembuhan bagi si lumpuh seperti yang dinyatakan Petrus sendiri. Itulah modal perutusan Petrus dan kawan-kawannya. Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!(Kis.3,6). Petrus dan Yohanes hanya memiliki modal Nama Yesus. Di sini jelas bagi kita bahwa pertolongan materi tidak akan mengubah profesi orang lumpuh itu sebagai pengemis. Hanya Nama Yesuslah yang telah mengubahnya secara rohani menjadi pengikut Kristus yang sanggup berjalan dan tidak lagi meminta-minta. Hal ini jelas terlihat dalam ayat berikutnya:
Lalu Petrus memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu. Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah (ay.7-8). Petrus membantu si lumpuh itu berdiri merupakan gambaran orang-orang yang telah mengenal kuasa kebangkitan TUHAN memiliki kerelaan membantu orang-orang yang imannya masih lemah. Orang lumpuh ini baru mendengar Nama YESUS dan masih perlu dibantu dan didorong pertumbuhan imannya. Petrus dan Yohanes yang dikuasai Roh Kristus yang bangkit dengan ringan tangan membimbing dan mendoakan orang yang baru mengenal TUHAN agar tetap teguh dalam iman. Lazimnya orang lumpuh sejak lahir tidak akan langsung berdiri, apalagi berjalan. Pasti membutuhkan waktu untuk belajar berjalan. Namun orang lumpuh ini dapat segera berdiri, berjalan, bahkan melompat! Jamahan TUHAN atas orang lumpuh ini membuktikan kuasa Nama Tuhan yang tidak terbatas.
Pertolongan Tuhan yang dialami si lumpuh ini membawanya ke Bait Allah mengikuti Yohanes dan Petrus. Tanpa dikomando, orang yang disembuhkan ini memuji Tuhan sambil melompat-lompat untuk mengekspresikan rasa syukur dan sukacita yang luar biasa. Dan bersama pemazmur berdoa "berbahagialah orang-orang yang diam di rumah Tuhan" (mzr.84,5) Diam di rumah Tuhan berarti sudah masuk melewati pintu gerbang keselamatan, seperti yang dialami si pengemis lumpuh itu.
Golongan keempat adalah orang banyak atau rakyat kebanyakan. Seluruh rakyat itu melihat dia berjalan sambil memuji Allah, lalu mereka mengenal dia sebagai orang yang biasanya duduk meminta sedekah di Gerbang Indah Bait Allah, sehingga mereka takjub dan tercengang tentang apa yang telah terjadi padanya (ay.9-10). Ayat ini jelas menampilkan satu model sikap manusia berhadapan dengan karya Tuhan. Rakyat yang menyaksikan peristiwa kesembuhan si lumpuh di gerbang Indah Yerusalem itu hanya takjub, tidak lebih dari itu. Hati mereka tidak tergerak memuji TUHAN seperti si lumpuh yang disembuhkan. Mereka hanya menjadi penonton yang pasif. Bila sikap seperti ini dipertahankan, sudah pasti selamanya golongan ini hanya akan "menonton" dan menjadi penonton mujizat, bukan mengalami dan menjadi penikmat mujizat.
Tanpa berniat menyamakan diri dengan Petrus dan Yohanes, kami berempat yang diutus hari ini juga tidak punya emas dan perak untuk siapa saja yang selama ini kami jumpai dan kami layani. Frater Redy, dan Frater Kristian, Rm.Don dan saya juga datang ke Seminari ini bukan membawa emas atau perak untuk dibagikan. Kami datang hanya membawa keyakinan bahwa Tuhan sendiri bisa memakai kami untuk sesuatu yang kiranya baik untuk dibagikan. Karena itu kalau memang ada hal baik yang dirasakan sudah kami berikan, janganlah memuji kami. Pujilah Tuhan yang memakai kami untuk meneruskan kebaikan-Nya kepada kita dan siapa saja yang memerlukan keterlibatan kami. Saya berharap ketiga saudara saya yang diutus hari ini juga sepakat bahwa kita datang dan hidup di sini untuk memperkenalkan Kristus yang telah memanggil kita tanpa emas dan perak. Semangat yang sama kiranya terus kami bawa dalam tugas perutusan yang baru. Harapannya semakin banyak orang yang diantar masuk ke rumah Tuhan untuk mengenal dan memuji Tuhan.
Sebagai pengikut Kristus kami berempat kemungkinan masih bertemu dengan banyak orang lumpuh dan orang buta yang membutuhkan setuhan, perhatian Tuhan, jamahan Kasih Tuhan dan menggunakan kami sebagai alat di tangan-Nya untuk melaksanakan karya sebersar dan seagung itu. Kalau Petrus dan Yohanes dihadapkan dengan orang lumpuh di gerbang kota Yerusalem, maka mungkin kami akan menghadapi orang lumpuh yang lain dalam perutusan kami. Kalau Yesus yang mengutus kami dahulu berhadapan dengan Bartimeus yang meminta matanya dicelikkan maka kemungkin kami berempat akan bertemu dengan model kebutaan manusia zaman ini dalam tugas perutsuan yang baru. Terus terang dari kami berempat belum ada yang bisa membuat mujizat membuat orang lumpuh bisa berjalan dan membuat orang buta bisa melihat. Meskipun demikian kami yakin Tuhan telah memakai kami dalam cara Tuhan sendiri untuk membebaskan orang dari model kelumpuhan dan kebutaan dalam bentuk yang lain melalui tugas, pekerjaan kami. Semua itu jelas kami tidak tahu tetapi Tuhan mengetahui semuanya dan tentu orang lain yang bisa mengatakan itu kalau memang mereka merasa mendapatkan kebaikan Tuhan melalui diri kami.
Perutusan itu, sore ini memang difokuskan kepada kami berempat tetapi sesungguhnya semua kita adalah utusan Tuhan karean kita telah menjadi murid Tuhan. Zaman sekarang amat kurang jumlah orang yang lumpuh secara fisik tetapi tetapi di mana-mana kita temukan orang yang lumpuh mentalnya, lumpuh nuraninya, lumpuh karakternya. Zaman sekarang amat kurang orang buta fisik seperti Bartimeus tetapi tidak berkurang manusia yang buta nuraninya, buta mata hatinya, buta mata kehendaknya. Ketika praktik ketidakjujuran, ketidakadilan, kurupsi, menyontek ambisi berkuasa dibiarkan tumbuh dan ditoleransi di sana kelumpuhan demi kelumpuhan, kebutaan demi kebutaan akan bertumbuh. Kalau semua itu dibiarkan, termasuk dibiarkan terjadi di lembaga terhormat lembaga calon imam ini maka hapuslah slogan dan jargon pendidikan karakter dari silabus pendidikan kita. Menyembuhkan orang lumpuh dan buta fisik jauh lebih mudah daripada menyembuhkan orang yang lumpuh dan buta secara mental, kejiwaan dan rohani. Keadilan, kejujuran, kebenaran tidak bisa dibeli dan dinilai dengan uang. Karena itu, sungguh merupakan penghinaan kepada Tuhan yang adil, Tuhan yang benar ketika orang beriman mengukur kejujran, kebenaran, dan keadilan itu dengan uang. Uang bukanlah alat yang pas untuk dipakai sebagai kompensasi sebuah kebenaran dan keadilan. Saya percaya kita semua mau disembuhkan dari lumpuh dan buta metal. Saya percaya kita semua ingin masuk ke dalam rumah Tuhan dan mau berjalan bersama Tuhan membawa kebenaran. Semua kita bisa mengambil kata-kata Petrus: Emas dan Perak tidak ada pada kami tetapi kebenaran tentang Kristus yang bangkit itulah yang kami bawa dan wartakan. Dalam semangat ini kita akan selalu berkata dalam harapan seperti Bartimeus: Tuhan, semoga aku melihat. Kata-kata Bartimeus inilah menjadi semangat perutsan kami berempat di tempat yang baru. Doakan kami berempat agar dalam perutusan kami, kami membawa semangat Petrus dan Yohanes kerinduan Bartimeus. Semoga
Tuesday, July 30, 2013
KHOTBAH PAUS
HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PENUTUPAN HARI ORANG MUDA SEDUNIA KE-28 DI RIO DE JANEIRO, BRASIL, 28 JULI 2013
Saudara para uskup dan para imam,
Para sahabat muda terkasih,
"Pergilah dan jadikan semua bangsa murid-Ku". Dengan kata-kata ini, Yesus sedang berbicara kepada kita masing-masing, dengan mengatakan: "Hal menakjubkan ambil bagian dalam Hari Orang Muda Sedunia, menghidupi iman bersama-sama dengan orang-orang muda dari empat penjuru bumi, tetapi sekarang Anda harus pergi, sekarang Anda harus meneruskan pengalaman ini kepada orang lain". Yesus sedang memanggil Anda untuk menjadi seorang murid dengan sebuah perutusan! Hari ini, dalam terang sabda Allah yang telah kita dengar, apa yang Tuhan katakan kepada kita? Tiga gagasan sederhana: Pergilah, janganlah takut, dan layanilah.
1. Pergilah. Selama hari-hari ini di sini di Rio, Anda telah dapat menikmati pengalaman menakjubkan bertemu Yesus, bertemu Dia bersama-sama dengan orang lain, dan Anda telah merasakan sukacita iman. Tetapi pengalaman perjumpaan ini tidak harus tetap terkurung dalam hidup Anda atau dalam kelompok kecil paroki Anda, gerakan Anda, atau komunitas Anda. Itu akan menjadi seperti pemotongan oksigen dari api yang sedang membakar kuat. Iman adalah api yang tumbuh lebih kuat semakin iman itu dibagikan dan disalurkan, sehingga setiap orang dapat mengenal, mengasihi dan mengakui Yesus Kristus, Tuhan atas kehidupan dan sejarah (bdk. Rm 10:9).
Bagaimana pun juga, berhati-hatilah! Yesus tidak mengatakan: "jika Anda ingin, jika Anda punya waktu", tetapi: "pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku". Berbagi pengalaman iman, memberi kesaksian bagi iman, memberitakan Injil: ini adalah suatu perintah yang Tuhan percayakan kepada seluruh Gereja, dan itu termasuk Anda; tetapi ini adalah suatu perintah yang lahir bukan dari kehendak untuk menguasai atau kekuasaan, tetapi dari kekuatan kasih, dari fakta bahwa Yesus pertama-tama datang ke tengah-tengah kita dan memberi kita, bukan sebuah bagian dari diri-Nya, tetapi seluruh diri-Nya, Ia memberikan nyawa-Nya untuk menyelamatkan kita dan untuk menunjukkan kepada kita kasih dan belas kasih Allah. Yesus tidak memperlakukan kita sebagai budak, tetapi sebagai orang bebas, sebagai sahabat, sebagai saudara dan saudari; dan Ia tidak hanya mengutus kita, Ia menemani kita, Ia selalu berada di samping kita dalam perutusan kasih kita.
Ke mana Yesus mengutus kita? Tidak ada garis batas, tanpa batas: Ia mengutus kita kepada semua orang. Injil untuk semua orang, bukan hanya untuk beberapa orang. Tidak hanya bagi mereka yang tampaknya dekat dengan kita, lebih mau menerima, lebih ramah. Injil untuk semua orang. Jangan takut untuk pergi dan membawa Kristus ke dalam setiap bidang kehidupan, ke masyarakat pinggiran, bahkan kepada mereka yang tampaknya paling jauh, paling acuh tak acuh. Tuhan mencari semua orang, Ia ingin semua orang merasakan kehangatan belas kasih-Nya dan kasih-Nya.
Secara khusus, saya menginginkan perintah Kristus: "Pergilah" bergetar di dalam Anda orang-orang muda dari Gereja di Amerika Latin, terlibat dalam perutusan benua yang dipromosikan oleh para Uskup. Brasil, Amerika Latin, seluruh dunia membutuhkan Kristus! Santo Paulus mengatakan: "Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!" (1 Kor 9:16). Benua ini telah menerima pemberitaan Injil yang telah menandai sejarahnya dan menyimpan banyak buah. Sekarang pemberitaan ini dipercayakan juga kepada Anda, sehingga memungkinkan berkumandang dengan kekuatan yang menyegarkan. Gereja membutuhkan Anda, antusiasme Anda, kreativitas Anda dan sukacita Anda yang begitu khas. Seorang rasul besar Brazil, Beato José de Anchieta, memulai perutusan ketika ia baru berusia sembilan belas tahun. Apakah Anda tahu apa alat terbaik untuk menginjili kaum muda? Orang muda lainnya. Inilah cara untuk diikuti!
2. Janganlah takut. Beberapa orang mungkin berpikir: "Saya tidak memiliki persiapan khusus, bagaimana saya bisa pergi dan memberitakan Injil". Sahabatku terkasih, ketakutan Anda tidak begitu sangat berbeda dari ketakutan Yeremia, seorang muda seperti Anda, ketika ia dipanggil oleh Allah menjadi seorang nabi. Kita baru saja mendengar kata-katanya: "Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda" (Yer 1:6). Allah mengatakan hal yang sama kepada Anda sebagaimana Ia berkata kepada Yeremia: "Janganlah takut... sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau" (Yer 1:8). Ia bersama kita!
"Janganlah takut!". Ketika kita pergi untuk memberitakan Kristus, adalah Ia sendiri yang pergi mendahului kita dan menuntun kita. Ketika Ia mengutus murid-murid-Nya dalam perutusan, Ia berjanji: "Aku menyertai kamu senantiasa" (Mat 28:20). Dan ini juga berlaku bagi kita! Yesus tidak meninggalkan kita sendirian, Ia tidak pernah meninggalkan Anda sendirian! Ia selalu menemani Anda.
Dan kemudian, Yesus tidak mengatakan: "Salah satu dari Anda pergilah", tetapi "Anda semua pergilah": kita diutus bersama-sama. Sahabat-sahabat muda terkasih, sadarilah persahabatan seluruh Gereja dan juga persekutuan para kudus dalam perutusan ini. Ketika kita menghadapi tantangan bersama-sama, maka kita kuat, kita menemukan sumber yang kita tidak ketahui yang kita miliki. Yesus tidak memanggil para Rasul untuk hidup dalam keterasingan, Ia memanggil mereka untuk membentuk sebuah kelompok, sebuah komunitas. Saya ingin berpesan kepada Anda, para imam terkasih yang berkonselebrasi dengan saya pada Ekaristi ini: Anda telah datang untuk menemani orang-orang muda Anda, dan ini menakjubkan, untuk berbagi pengalaman iman ini bersama mereka! Tetapi itu adalah sebuah tahap pada perjalanan. Silakan lanjutkan untuk menemani mereka dengan kemurahan hati dan sukacita, bantulah mereka untuk menjadi secara aktif terlibat dalam Gereja; jangan pernah membiarkan mereka merasa sendirian! Dan pada titik ini saya ingin menyampaikan terima kasih saya yang tulus kepada kelompok-kelompok pelayanan kaum muda, kepada gerakan-gerakan dan komunitas-komunitas baru yang mendampingi orang-orang muda dalam pengalaman mereka menjadi Gereja. Mereka begitu kreatif, begitu berani. Lanjutkan dan jangan takut!
3. Kata terakhir : layanilah. Kata-kata pembukaan mazmur yang kita serukan adalah: "Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN" (Mzm 96:1). Apa lagu baru ini? Lagu tersebut tidak terdiri dari kata-kata, bukan suatu melodi, lagu tersebut adalah lagu kehidupan Anda, lagu tersebut sedang memungkinkan hidup kita untuk diperkenalkan dengan hidup Yesus, sedang berbagi perasaan-Nya, pikiran-Nya, perbuatan-Nya. Dan kehidupan Yesus adalah suatu kehidupan bagi orang lain. Itulah suatu kehidupan pelayanan.
Dalam Bacaan Kedua kita hari ini, Santo Paulus berkata: "Aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang" (1 Kor 9:19). Dalam rangka memberitakan Yesus, Paulus menjadikan dirinya "hamba bagi semua orang". Penginjilan berarti bersaksi secara pribadi bagi kasih Allah, mengatasi keegoisan kita, melayani dengan membungkuk untuk membasuh kaki saudara-saudara kita, seperti yang dilakukan Yesus.
Tiga kata: Pergilah, jangan takut, dan layanilah. Ikutilah tiga kata ini: Pergilah, jangan takut, dan layanilah. Jika Anda mengikuti tiga gagasan ini, Anda akan mengalami bahwa seseorang yang memberitakan Injil diinjili, seseorang yang meneruskan sukacita iman menerima sukacita. Sahabat-sahabat muda terkasih, saat Anda kembali ke rumah Anda, jangan takut untuk bermurah hati bersama Kristus, menjadi saksi bagi Injil-Nya. Dalam Bacaan Pertama, ketika Allah mengutus nabi Yeremia, Ia memberinya kekuatan untuk "mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam" (1:10). Ini sama untuk Anda. Membawa Injil adalah membawa kuasa Allah untuk mencabut dan merobohkan kejahatan dan kekerasan, untuk membinasakan dan meruntuhkan hambatan keegoisan, intoleransi dan kebencian, sehingga membangun sebuah dunia baru. Yesus Kristus sedang mengandalkan Anda! Gereja mengandalkan Anda! Paus mengandalkan Anda! Semoga Maria, Bunda Yesus dan Bunda kita, selalu menemani Anda dengan kelembutannya: "Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku". Amin.
Saudara para uskup dan para imam,
Para sahabat muda terkasih,
"Pergilah dan jadikan semua bangsa murid-Ku". Dengan kata-kata ini, Yesus sedang berbicara kepada kita masing-masing, dengan mengatakan: "Hal menakjubkan ambil bagian dalam Hari Orang Muda Sedunia, menghidupi iman bersama-sama dengan orang-orang muda dari empat penjuru bumi, tetapi sekarang Anda harus pergi, sekarang Anda harus meneruskan pengalaman ini kepada orang lain". Yesus sedang memanggil Anda untuk menjadi seorang murid dengan sebuah perutusan! Hari ini, dalam terang sabda Allah yang telah kita dengar, apa yang Tuhan katakan kepada kita? Tiga gagasan sederhana: Pergilah, janganlah takut, dan layanilah.
1. Pergilah. Selama hari-hari ini di sini di Rio, Anda telah dapat menikmati pengalaman menakjubkan bertemu Yesus, bertemu Dia bersama-sama dengan orang lain, dan Anda telah merasakan sukacita iman. Tetapi pengalaman perjumpaan ini tidak harus tetap terkurung dalam hidup Anda atau dalam kelompok kecil paroki Anda, gerakan Anda, atau komunitas Anda. Itu akan menjadi seperti pemotongan oksigen dari api yang sedang membakar kuat. Iman adalah api yang tumbuh lebih kuat semakin iman itu dibagikan dan disalurkan, sehingga setiap orang dapat mengenal, mengasihi dan mengakui Yesus Kristus, Tuhan atas kehidupan dan sejarah (bdk. Rm 10:9).
Bagaimana pun juga, berhati-hatilah! Yesus tidak mengatakan: "jika Anda ingin, jika Anda punya waktu", tetapi: "pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku". Berbagi pengalaman iman, memberi kesaksian bagi iman, memberitakan Injil: ini adalah suatu perintah yang Tuhan percayakan kepada seluruh Gereja, dan itu termasuk Anda; tetapi ini adalah suatu perintah yang lahir bukan dari kehendak untuk menguasai atau kekuasaan, tetapi dari kekuatan kasih, dari fakta bahwa Yesus pertama-tama datang ke tengah-tengah kita dan memberi kita, bukan sebuah bagian dari diri-Nya, tetapi seluruh diri-Nya, Ia memberikan nyawa-Nya untuk menyelamatkan kita dan untuk menunjukkan kepada kita kasih dan belas kasih Allah. Yesus tidak memperlakukan kita sebagai budak, tetapi sebagai orang bebas, sebagai sahabat, sebagai saudara dan saudari; dan Ia tidak hanya mengutus kita, Ia menemani kita, Ia selalu berada di samping kita dalam perutusan kasih kita.
Ke mana Yesus mengutus kita? Tidak ada garis batas, tanpa batas: Ia mengutus kita kepada semua orang. Injil untuk semua orang, bukan hanya untuk beberapa orang. Tidak hanya bagi mereka yang tampaknya dekat dengan kita, lebih mau menerima, lebih ramah. Injil untuk semua orang. Jangan takut untuk pergi dan membawa Kristus ke dalam setiap bidang kehidupan, ke masyarakat pinggiran, bahkan kepada mereka yang tampaknya paling jauh, paling acuh tak acuh. Tuhan mencari semua orang, Ia ingin semua orang merasakan kehangatan belas kasih-Nya dan kasih-Nya.
Secara khusus, saya menginginkan perintah Kristus: "Pergilah" bergetar di dalam Anda orang-orang muda dari Gereja di Amerika Latin, terlibat dalam perutusan benua yang dipromosikan oleh para Uskup. Brasil, Amerika Latin, seluruh dunia membutuhkan Kristus! Santo Paulus mengatakan: "Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!" (1 Kor 9:16). Benua ini telah menerima pemberitaan Injil yang telah menandai sejarahnya dan menyimpan banyak buah. Sekarang pemberitaan ini dipercayakan juga kepada Anda, sehingga memungkinkan berkumandang dengan kekuatan yang menyegarkan. Gereja membutuhkan Anda, antusiasme Anda, kreativitas Anda dan sukacita Anda yang begitu khas. Seorang rasul besar Brazil, Beato José de Anchieta, memulai perutusan ketika ia baru berusia sembilan belas tahun. Apakah Anda tahu apa alat terbaik untuk menginjili kaum muda? Orang muda lainnya. Inilah cara untuk diikuti!
2. Janganlah takut. Beberapa orang mungkin berpikir: "Saya tidak memiliki persiapan khusus, bagaimana saya bisa pergi dan memberitakan Injil". Sahabatku terkasih, ketakutan Anda tidak begitu sangat berbeda dari ketakutan Yeremia, seorang muda seperti Anda, ketika ia dipanggil oleh Allah menjadi seorang nabi. Kita baru saja mendengar kata-katanya: "Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda" (Yer 1:6). Allah mengatakan hal yang sama kepada Anda sebagaimana Ia berkata kepada Yeremia: "Janganlah takut... sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau" (Yer 1:8). Ia bersama kita!
"Janganlah takut!". Ketika kita pergi untuk memberitakan Kristus, adalah Ia sendiri yang pergi mendahului kita dan menuntun kita. Ketika Ia mengutus murid-murid-Nya dalam perutusan, Ia berjanji: "Aku menyertai kamu senantiasa" (Mat 28:20). Dan ini juga berlaku bagi kita! Yesus tidak meninggalkan kita sendirian, Ia tidak pernah meninggalkan Anda sendirian! Ia selalu menemani Anda.
Dan kemudian, Yesus tidak mengatakan: "Salah satu dari Anda pergilah", tetapi "Anda semua pergilah": kita diutus bersama-sama. Sahabat-sahabat muda terkasih, sadarilah persahabatan seluruh Gereja dan juga persekutuan para kudus dalam perutusan ini. Ketika kita menghadapi tantangan bersama-sama, maka kita kuat, kita menemukan sumber yang kita tidak ketahui yang kita miliki. Yesus tidak memanggil para Rasul untuk hidup dalam keterasingan, Ia memanggil mereka untuk membentuk sebuah kelompok, sebuah komunitas. Saya ingin berpesan kepada Anda, para imam terkasih yang berkonselebrasi dengan saya pada Ekaristi ini: Anda telah datang untuk menemani orang-orang muda Anda, dan ini menakjubkan, untuk berbagi pengalaman iman ini bersama mereka! Tetapi itu adalah sebuah tahap pada perjalanan. Silakan lanjutkan untuk menemani mereka dengan kemurahan hati dan sukacita, bantulah mereka untuk menjadi secara aktif terlibat dalam Gereja; jangan pernah membiarkan mereka merasa sendirian! Dan pada titik ini saya ingin menyampaikan terima kasih saya yang tulus kepada kelompok-kelompok pelayanan kaum muda, kepada gerakan-gerakan dan komunitas-komunitas baru yang mendampingi orang-orang muda dalam pengalaman mereka menjadi Gereja. Mereka begitu kreatif, begitu berani. Lanjutkan dan jangan takut!
3. Kata terakhir : layanilah. Kata-kata pembukaan mazmur yang kita serukan adalah: "Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN" (Mzm 96:1). Apa lagu baru ini? Lagu tersebut tidak terdiri dari kata-kata, bukan suatu melodi, lagu tersebut adalah lagu kehidupan Anda, lagu tersebut sedang memungkinkan hidup kita untuk diperkenalkan dengan hidup Yesus, sedang berbagi perasaan-Nya, pikiran-Nya, perbuatan-Nya. Dan kehidupan Yesus adalah suatu kehidupan bagi orang lain. Itulah suatu kehidupan pelayanan.
Dalam Bacaan Kedua kita hari ini, Santo Paulus berkata: "Aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang" (1 Kor 9:19). Dalam rangka memberitakan Yesus, Paulus menjadikan dirinya "hamba bagi semua orang". Penginjilan berarti bersaksi secara pribadi bagi kasih Allah, mengatasi keegoisan kita, melayani dengan membungkuk untuk membasuh kaki saudara-saudara kita, seperti yang dilakukan Yesus.
Tiga kata: Pergilah, jangan takut, dan layanilah. Ikutilah tiga kata ini: Pergilah, jangan takut, dan layanilah. Jika Anda mengikuti tiga gagasan ini, Anda akan mengalami bahwa seseorang yang memberitakan Injil diinjili, seseorang yang meneruskan sukacita iman menerima sukacita. Sahabat-sahabat muda terkasih, saat Anda kembali ke rumah Anda, jangan takut untuk bermurah hati bersama Kristus, menjadi saksi bagi Injil-Nya. Dalam Bacaan Pertama, ketika Allah mengutus nabi Yeremia, Ia memberinya kekuatan untuk "mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam" (1:10). Ini sama untuk Anda. Membawa Injil adalah membawa kuasa Allah untuk mencabut dan merobohkan kejahatan dan kekerasan, untuk membinasakan dan meruntuhkan hambatan keegoisan, intoleransi dan kebencian, sehingga membangun sebuah dunia baru. Yesus Kristus sedang mengandalkan Anda! Gereja mengandalkan Anda! Paus mengandalkan Anda! Semoga Maria, Bunda Yesus dan Bunda kita, selalu menemani Anda dengan kelembutannya: "Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku". Amin.
Monday, July 29, 2013
Hati dan Kehendak yang Terjaga
Renungan Pekan I Thn B.2
Samuel 3:1-10.19-20; Markus 1:29-39
Efata, Rabu 11 Januari 2012 (Sidang Pastoral)
Buka
Bacaan yang ditawarkan gereja untuk kita renungkan hari ini pada intinya berbiacara tentang panggilan. Dan, kalau kita berbicara tentang pangggilan maka umumnya kita berbicara tentang pihak yang memanggil dan pihak yang menjawab. Kita sering berpikir tidak proporsional ketika panggilan itu kita maknai masalah bagaimana Tuhan memanggil lalu meremehkan manusia yang menerima panggilan. Dalam konteks bacaan hari ini panggilan itu sesungguhnya berbicara tentang manusia dan sikap serta tanggapannya atas panggilan. Persoalannya bukan karena Tuhan berhenti atau tidak memanggil tetapi teruatama karena manusia tidak mau memberikan jawaban. Tidak mau memberikan jawaban juga terjadi karena kita manusia tidak mau mendengarkan. Samuel terpanggil untuk mendengarkan apa kehendak Tuhan. Kita bersukur telah men jadi orang teranggil. Pertanyaannya apakah kita terus memberikan jawaban dengan terus mendengarkan Tuhan atau sebaliknya kita menilai Tuhan tidal lagi memanggil. Kesetiaan Tuhan tidak bergantung pada jawaban manusia. Lampu rumah Allah belum juga padam dan suara panggilan-Nya terus berkumandang. Kita bedoa semoga kita menjadi orang yang setia mendengarkan Dia bersabda. Kita akuis kesalahan dan dosa kita...
Renungan
Saya tidak tahu apakah ada dari antara kita ini, semalam terjaga beberapa kali hanya karena ada panggilan seperti yang dinarasikan dalam kitab Samuel pagi ini? Yang bisa saya duga semalam mungkin dan bisa saja ada yang terbangun lebih dari tiga kali karena gangguan pencernaan atau karena deringan atau getaran telepon genggamnya. Bacaan pertama hari ini terkesan menarik dan dramatis karena ada dua aksi atau tindakan yang ditampilkan secara seimbang yang akhirnya membingkai sebuah kisah yang bermuatan pesan yang aktual dan relevan bagi kehidupan manusia.
Membaca judul bacaan pertama amat jelas bagi kita berkaitan dengan Panggilan Samuel. Kata panggilan ini mendapat tekanan dan intesitas maknanya sedemikian mendalam justru karena kata panggilan dihubungkan dengan dua model reaksi dalam bentuk aksi Samuel. Dua aksi yang dominan dan relatif ditampilkan seimbang ada dalam kata ”tidur” dan ”bangun”. Tidur dalam teks tadi menjadi sangat penting. Samuel dipanggil dalam keadaan tidur. Tidur adalah gambaran yang menampilkan nuansa pasif. Yang mengherankan kita justru Tuhan memanggil Samuel dalam kondisi yang terkesan pasif seperti itu. Bagi saya cara seperti ini jelas mau menekankan bahwa inisiatif memanggil itu datang dari Allah.
Tiga kali Samuel dipanggil dalam keadaan tidur artinya Allah tak henti-hentinya memanggil. Karena itu, bagi saya kalau ada orang mengatakan bahwa dirinya tidak dipanggil, itu tidak benar. Tuhan selalu memanggil dan panggillan selalu ada dan terjadi. Yang tidak ada adalah jawaban atas panggilan itu. Mengapa tidak ada jawaban? Alasannya karena orang hanya sampai pada tingkat mendengar dan belum sampai pada tingkat mendengarkan. Sepintas kata mendengar dan mendengarkan itu sama karena berkaitan dengan perkara berfungsi tidaknya daun telinga kita, tetapi sesungguhnya ada perbedaan yang amat mendasar antara kata mendengar dan mendengarkan. Mendengar adalah gambaran berfungsinya telinga menangkap bunyi dan suara apa saja. Kita bisa mendengar bunyi sepeda motor yang lalu lalang di jalan. Mendengarkan menggambarkan berfungsinya telinga menangkap bunyi-bunyi dengan tujuan tertentu. Kalau telinga saya menangkap bunyi sepeda motor dan mengatakan bunyi sepeda motor seperti itu adalah bunyi sepeda motornya rm Dion Labur, maka saya bukan sekadar mendengar bunyi sepeda motor tetapi saya telah mendengarkan bunyi sepeda motor.
Imam Eli memberi petunjuk dan kalimat yang benar untuk Samuel: Bersabdalah ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan. Rumusan itu, tidak diubah sedikitpun oleh Samuel. Di sini jelas bagi kita bahwa ada tingkatan dalam respon manusia terhadap panggilan Tuhan. Jawaban Panggilan yang benar harus sampai pada tingkat mendengarkan. Itulah yang terjadi dalam kisah panggilan Samuel. Kita semua juga merupakan orang yang setiap saat dipanggil Tuhan karena Tuhan setia memanggil. Panggilan itu bukan soalnya pada Tuhan, tetapi soalnya ada pada jawaban manusia. Jawaban itu terukur dalam kualitasnya apakah hanya sekadar mendengar atau sudah sampai pada pilihan mendengarkan.
Dalam konteks panggilan Sameul mendengarkan bukan lagi perkara telinga tetapi sudah menyentuh ranah hati untuk menentukan keputusan dan pilihan. Samuel dipanggil dalam kondisi tidur tetapi ia mendengarkan. Itu artinya ada model tidur yang memberi peluang untuk dipanggil Tuhan. Dan itu tidur yang model apa? Tidur sungguhan atau tidur-tiduran? Mata tertutup tidak selalu berarti tidur, mata terbuka tidak selalu berarti terjaga karena ada yang matanya tertutup tetapi hatinya tetap bangun dan ada yang mata terbuka tetapi sesungguhnya ia tidur.
Dalam ungkapan populer ada perbedaan makna antara ungkapan toko wela wa dan wela eta toko wa. Samuel tergolong penganut aliran toko wela wa. Secara fisik tubuhnya melintang mata tertutup tapi telinga dan hati terus terbuka. Lain halnya dengan mereka yang menganut filosofi wela eta toko wa, fisiknya berdiri tegak mata terbuka tetapi telinga dan hatinya tertidur. Para pendukung filosofi wela eta toko wa biasanya mengatakan dirinya tidak pernah dipanggil. Dia mempersoalkan Tuhan yang memanggil dan bukan dirinya yang harus memberi jawaban setelah mendengarkan.
Semauel mendengarkan Panggilan Tuhan dalam keheningan Bait Allah di Yerusalem. Untuk teman yang sudah pulang dari tanah Suci tentu tahu persis berapa lamanya kita berjalan dari Yerusalem ke Kafernaum yang menjadi seting tempat terjadinya kisah injil tadi. Kisah penyembuhan dalam injil tadi terjadi di Kafernaum yang telah menjadi kampung kerja Yesus setelah ditolak dari Nasareth. Injil hari ini sesungguhnya menampilkan siklus hidup Yesus secara lengkap karena disebutkan: Rumah ibadat sebagai gambaran tentang pentingnya doa bersama, pelayanan orang sakit, berdoa di tempat yang sunyi untuk menggambarkan pentingnya doa pribadi, meditasi dan kontemplasi, dan tugas memberitakan Injil.
Kisah injil memang tidak eksplisit berbicara tentang panggilan dan sikap mendengarkan tetapi masalah panggilan dan sikap mendengarkan itu implisit dinyatakan dalam beberapa hal tekait penyembuhan. Saya sudah melihat beberapa tempat di Kafernaum termasuk rentuhan rumah ibadat dan reruntuhan rumah Simon Petrus dan murid lainnya yang disebutkan dalam injil tadi. Kafernaum yang menjadi seting peristiwa injil hari ini sesungguhnya mau menegaskan kepada kita bahwa dalam arti tertentu sebenarnya Kafernaum menjadi awal aktivitas penginjian, evangelisasi, dan tempat strategis bagi orang yang mendengarkan panggilan Tuhan melalui pewartaan Yesus. Ini terbukti, karena banyak murid pertama Yesus berasal dari Kafernaum dan bukan dari Yerusalem.
Kalau dalam injil tadi ada begitu banyak orang mencari Yesus dengan pelbagai macam alasan, sesungguhnya mereka itulah orang yang telah mendengarkan panggilan Tuhan. Kalau di Yerusalem yang mendengarkan itu Samule, di Kafernaum yang mendengarkan itu adalah para murid dan semua saja mereka yang datang mendnegarkan dan mau mengikuti Yesus. Lalu, apa sebenarnya yang perlu kita maknai dari injil terkait tugas panggilan kita?
Injil hari ini pada da¬sarnya menampilkan sikap solidaritas Allah kepada manusia. Simpa¬ti dan perhatian Allah secara nyata digambarkan dalam episode penyembuhan orang-orang sakit. Orang banyak yang disembuhkan Yesus itu diharapkan bisa menjadi tabib bagi orang lain. Kita semua dalam arti terntu juga dipanggil untuk menjadi tabib memerangi pelbagai penyakit yang mendera kehidupan mereka yang kita jumpai dan layani dalam tugas kita. Kehadiran yang menyembuhkan adalah kehadiran yang bermakna bagi orang lain. Kehadiran yang menyem¬buhkan adalah kehadiran manusia yang dirasuki semnagat dan cinta Allah sendiri. Yesus yang digambarkan Injil tadi merupakan sosok cinta Allah yang membutuhkan daya tanggap manusia. Kisah penyembuhan Ibu Mertua Petrus mengisyaratkan dua kebenaran penting ini. Pertama, peristiwa penyembuhan itu merupakan simbol pembebasan dan pemerdekaan yang dibawakan Kristus yang secara sempurna dilaksanakan pada akhir zaman. Kesembuhan dari penyakit adalah simbol pembebasan.
Kedua, proses dan rahmat penyembuhan yang diperoleh haruslah mendorong manusia untuk aktif dan kreatif dalam kehidupan. Wanita yang disembuhkan dalam Injil tadi pada akhirnya bangkit dan langsung melayani. Ia mengalami penyembuhan dan mendorongnya untuk terlibat aktif dalam pelayanan baik itu bagi Allah maupun bagi sesama. Dengan kata lain pengalaman pernah disembuhkan harus membuat seseorang untuk membuktikannya dalam kehidupan nyata. Sebagai manusia jelas kita semua pernah mengala¬mi sakit. Pengalaman rasa sakit kita tidak saja terbatas pada pengertian sakit fisik serangan penyakit, tetapi sebenarnya dalam pelbagai situasi di mana kita merasa tidak aman, tidak tenang, merasakan kekurangan di sana sebenarnya kita juga merasa sakit. Penyembuhan yang dibuat Yesus dalam Injil adalah simbol penyembu¬han situasi dunia. Dunia kita sekarang inipun lagi sakit. Sebagai orang yang dipanggil kita telah disembuhkan untuk dapat menyembuhkan sesama dalam wujud karya bakti dan pelayanan kita masing-masing. Mari kita berusaha bukan hanya agar bisa mendengar suara panggilan Tuhan tetapi lebih dari itu mau mendengarkan Tuhan yang terus memanggil. Semoga
Samuel 3:1-10.19-20; Markus 1:29-39
Efata, Rabu 11 Januari 2012 (Sidang Pastoral)
Buka
Bacaan yang ditawarkan gereja untuk kita renungkan hari ini pada intinya berbiacara tentang panggilan. Dan, kalau kita berbicara tentang pangggilan maka umumnya kita berbicara tentang pihak yang memanggil dan pihak yang menjawab. Kita sering berpikir tidak proporsional ketika panggilan itu kita maknai masalah bagaimana Tuhan memanggil lalu meremehkan manusia yang menerima panggilan. Dalam konteks bacaan hari ini panggilan itu sesungguhnya berbicara tentang manusia dan sikap serta tanggapannya atas panggilan. Persoalannya bukan karena Tuhan berhenti atau tidak memanggil tetapi teruatama karena manusia tidak mau memberikan jawaban. Tidak mau memberikan jawaban juga terjadi karena kita manusia tidak mau mendengarkan. Samuel terpanggil untuk mendengarkan apa kehendak Tuhan. Kita bersukur telah men jadi orang teranggil. Pertanyaannya apakah kita terus memberikan jawaban dengan terus mendengarkan Tuhan atau sebaliknya kita menilai Tuhan tidal lagi memanggil. Kesetiaan Tuhan tidak bergantung pada jawaban manusia. Lampu rumah Allah belum juga padam dan suara panggilan-Nya terus berkumandang. Kita bedoa semoga kita menjadi orang yang setia mendengarkan Dia bersabda. Kita akuis kesalahan dan dosa kita...
Renungan
Saya tidak tahu apakah ada dari antara kita ini, semalam terjaga beberapa kali hanya karena ada panggilan seperti yang dinarasikan dalam kitab Samuel pagi ini? Yang bisa saya duga semalam mungkin dan bisa saja ada yang terbangun lebih dari tiga kali karena gangguan pencernaan atau karena deringan atau getaran telepon genggamnya. Bacaan pertama hari ini terkesan menarik dan dramatis karena ada dua aksi atau tindakan yang ditampilkan secara seimbang yang akhirnya membingkai sebuah kisah yang bermuatan pesan yang aktual dan relevan bagi kehidupan manusia.
Membaca judul bacaan pertama amat jelas bagi kita berkaitan dengan Panggilan Samuel. Kata panggilan ini mendapat tekanan dan intesitas maknanya sedemikian mendalam justru karena kata panggilan dihubungkan dengan dua model reaksi dalam bentuk aksi Samuel. Dua aksi yang dominan dan relatif ditampilkan seimbang ada dalam kata ”tidur” dan ”bangun”. Tidur dalam teks tadi menjadi sangat penting. Samuel dipanggil dalam keadaan tidur. Tidur adalah gambaran yang menampilkan nuansa pasif. Yang mengherankan kita justru Tuhan memanggil Samuel dalam kondisi yang terkesan pasif seperti itu. Bagi saya cara seperti ini jelas mau menekankan bahwa inisiatif memanggil itu datang dari Allah.
Tiga kali Samuel dipanggil dalam keadaan tidur artinya Allah tak henti-hentinya memanggil. Karena itu, bagi saya kalau ada orang mengatakan bahwa dirinya tidak dipanggil, itu tidak benar. Tuhan selalu memanggil dan panggillan selalu ada dan terjadi. Yang tidak ada adalah jawaban atas panggilan itu. Mengapa tidak ada jawaban? Alasannya karena orang hanya sampai pada tingkat mendengar dan belum sampai pada tingkat mendengarkan. Sepintas kata mendengar dan mendengarkan itu sama karena berkaitan dengan perkara berfungsi tidaknya daun telinga kita, tetapi sesungguhnya ada perbedaan yang amat mendasar antara kata mendengar dan mendengarkan. Mendengar adalah gambaran berfungsinya telinga menangkap bunyi dan suara apa saja. Kita bisa mendengar bunyi sepeda motor yang lalu lalang di jalan. Mendengarkan menggambarkan berfungsinya telinga menangkap bunyi-bunyi dengan tujuan tertentu. Kalau telinga saya menangkap bunyi sepeda motor dan mengatakan bunyi sepeda motor seperti itu adalah bunyi sepeda motornya rm Dion Labur, maka saya bukan sekadar mendengar bunyi sepeda motor tetapi saya telah mendengarkan bunyi sepeda motor.
Imam Eli memberi petunjuk dan kalimat yang benar untuk Samuel: Bersabdalah ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan. Rumusan itu, tidak diubah sedikitpun oleh Samuel. Di sini jelas bagi kita bahwa ada tingkatan dalam respon manusia terhadap panggilan Tuhan. Jawaban Panggilan yang benar harus sampai pada tingkat mendengarkan. Itulah yang terjadi dalam kisah panggilan Samuel. Kita semua juga merupakan orang yang setiap saat dipanggil Tuhan karena Tuhan setia memanggil. Panggilan itu bukan soalnya pada Tuhan, tetapi soalnya ada pada jawaban manusia. Jawaban itu terukur dalam kualitasnya apakah hanya sekadar mendengar atau sudah sampai pada pilihan mendengarkan.
Dalam konteks panggilan Sameul mendengarkan bukan lagi perkara telinga tetapi sudah menyentuh ranah hati untuk menentukan keputusan dan pilihan. Samuel dipanggil dalam kondisi tidur tetapi ia mendengarkan. Itu artinya ada model tidur yang memberi peluang untuk dipanggil Tuhan. Dan itu tidur yang model apa? Tidur sungguhan atau tidur-tiduran? Mata tertutup tidak selalu berarti tidur, mata terbuka tidak selalu berarti terjaga karena ada yang matanya tertutup tetapi hatinya tetap bangun dan ada yang mata terbuka tetapi sesungguhnya ia tidur.
Dalam ungkapan populer ada perbedaan makna antara ungkapan toko wela wa dan wela eta toko wa. Samuel tergolong penganut aliran toko wela wa. Secara fisik tubuhnya melintang mata tertutup tapi telinga dan hati terus terbuka. Lain halnya dengan mereka yang menganut filosofi wela eta toko wa, fisiknya berdiri tegak mata terbuka tetapi telinga dan hatinya tertidur. Para pendukung filosofi wela eta toko wa biasanya mengatakan dirinya tidak pernah dipanggil. Dia mempersoalkan Tuhan yang memanggil dan bukan dirinya yang harus memberi jawaban setelah mendengarkan.
Semauel mendengarkan Panggilan Tuhan dalam keheningan Bait Allah di Yerusalem. Untuk teman yang sudah pulang dari tanah Suci tentu tahu persis berapa lamanya kita berjalan dari Yerusalem ke Kafernaum yang menjadi seting tempat terjadinya kisah injil tadi. Kisah penyembuhan dalam injil tadi terjadi di Kafernaum yang telah menjadi kampung kerja Yesus setelah ditolak dari Nasareth. Injil hari ini sesungguhnya menampilkan siklus hidup Yesus secara lengkap karena disebutkan: Rumah ibadat sebagai gambaran tentang pentingnya doa bersama, pelayanan orang sakit, berdoa di tempat yang sunyi untuk menggambarkan pentingnya doa pribadi, meditasi dan kontemplasi, dan tugas memberitakan Injil.
Kisah injil memang tidak eksplisit berbicara tentang panggilan dan sikap mendengarkan tetapi masalah panggilan dan sikap mendengarkan itu implisit dinyatakan dalam beberapa hal tekait penyembuhan. Saya sudah melihat beberapa tempat di Kafernaum termasuk rentuhan rumah ibadat dan reruntuhan rumah Simon Petrus dan murid lainnya yang disebutkan dalam injil tadi. Kafernaum yang menjadi seting peristiwa injil hari ini sesungguhnya mau menegaskan kepada kita bahwa dalam arti tertentu sebenarnya Kafernaum menjadi awal aktivitas penginjian, evangelisasi, dan tempat strategis bagi orang yang mendengarkan panggilan Tuhan melalui pewartaan Yesus. Ini terbukti, karena banyak murid pertama Yesus berasal dari Kafernaum dan bukan dari Yerusalem.
Kalau dalam injil tadi ada begitu banyak orang mencari Yesus dengan pelbagai macam alasan, sesungguhnya mereka itulah orang yang telah mendengarkan panggilan Tuhan. Kalau di Yerusalem yang mendengarkan itu Samule, di Kafernaum yang mendengarkan itu adalah para murid dan semua saja mereka yang datang mendnegarkan dan mau mengikuti Yesus. Lalu, apa sebenarnya yang perlu kita maknai dari injil terkait tugas panggilan kita?
Injil hari ini pada da¬sarnya menampilkan sikap solidaritas Allah kepada manusia. Simpa¬ti dan perhatian Allah secara nyata digambarkan dalam episode penyembuhan orang-orang sakit. Orang banyak yang disembuhkan Yesus itu diharapkan bisa menjadi tabib bagi orang lain. Kita semua dalam arti terntu juga dipanggil untuk menjadi tabib memerangi pelbagai penyakit yang mendera kehidupan mereka yang kita jumpai dan layani dalam tugas kita. Kehadiran yang menyembuhkan adalah kehadiran yang bermakna bagi orang lain. Kehadiran yang menyem¬buhkan adalah kehadiran manusia yang dirasuki semnagat dan cinta Allah sendiri. Yesus yang digambarkan Injil tadi merupakan sosok cinta Allah yang membutuhkan daya tanggap manusia. Kisah penyembuhan Ibu Mertua Petrus mengisyaratkan dua kebenaran penting ini. Pertama, peristiwa penyembuhan itu merupakan simbol pembebasan dan pemerdekaan yang dibawakan Kristus yang secara sempurna dilaksanakan pada akhir zaman. Kesembuhan dari penyakit adalah simbol pembebasan.
Kedua, proses dan rahmat penyembuhan yang diperoleh haruslah mendorong manusia untuk aktif dan kreatif dalam kehidupan. Wanita yang disembuhkan dalam Injil tadi pada akhirnya bangkit dan langsung melayani. Ia mengalami penyembuhan dan mendorongnya untuk terlibat aktif dalam pelayanan baik itu bagi Allah maupun bagi sesama. Dengan kata lain pengalaman pernah disembuhkan harus membuat seseorang untuk membuktikannya dalam kehidupan nyata. Sebagai manusia jelas kita semua pernah mengala¬mi sakit. Pengalaman rasa sakit kita tidak saja terbatas pada pengertian sakit fisik serangan penyakit, tetapi sebenarnya dalam pelbagai situasi di mana kita merasa tidak aman, tidak tenang, merasakan kekurangan di sana sebenarnya kita juga merasa sakit. Penyembuhan yang dibuat Yesus dalam Injil adalah simbol penyembu¬han situasi dunia. Dunia kita sekarang inipun lagi sakit. Sebagai orang yang dipanggil kita telah disembuhkan untuk dapat menyembuhkan sesama dalam wujud karya bakti dan pelayanan kita masing-masing. Mari kita berusaha bukan hanya agar bisa mendengar suara panggilan Tuhan tetapi lebih dari itu mau mendengarkan Tuhan yang terus memanggil. Semoga
Saturday, July 27, 2013
MINGGU BIASA XVII C/1
MINGGU BIASA KE-17 THN C/1
Kej.18,20-32; Kol.2,12-14; Luk.11,1-13
Komunitas Frateran BHK Malang
Renungan
Dalam beberapa aksi perburuan terhadap kelompok teroris yang dilakukan pasukan densus 88 kita menyaksikan betapa pasukan itu amat hati-hati. Sebelum mengepung biasanya pasukan densun 88 antiteror melakukan pengintaian yang cermat. Tujuannya untuk memastikan sasaran yang tepat dan menghindari terjadinya kesalahan yang membawa korban pada masyarakat sipil di lokasi persembunyian orang yang diduga teroris. Dalam kenyataannya, meskipun sudah diupayakan pengintaian tetap saja ada warga sipil yang tidak bersalah menjadi korban.
Suatu ketika, sorang guru menghukum semua warga sekelas ketika didapati ruangan kelas yang kotor. Semua warga kelas harus mengikuti pelajaran dalam posisi berlutut. Ada sebagian siswa yang protes atas keputusan sang guru karena sesungguhnya hari itu yang bertugas membersihkan kelas adalah Andre dan Bernadet. Warga kelas mendapat hukuman hanya karena dua teman mereka lalai menjalankan tugas membersihkan rungan kelas.
Suatu ketika seorang pemimpin asrama terkejut karena Televisi yang ditempatkan di ruangan rekreasi sebuah asrama mengalami kerusakan dan tidak berfungsi. Pemimpin asrama itu dengan itikat yang baik mengumpulkan semua warga asrama untuk menanyakan dan memastikan warga yang merusakkan televisi itu. Ketika ditanya tidak seorang pun warga asrama yang mengaku sebagai pelakunya. Karena tidak ada yang mengaku, pemimpin asrama itu memberikan mereka hukuman massal. Semua mereka diharuskan mengumpulkan sejumlah uang untuk menggantikan televisi yang rusak.
Dari tiga contoh kasus di atas tampak jelas bahwa manusia cenderung mengorbankan yang lebih besar, lebih banyak hanya karena ada sebagaian kecil yang bersalah. Tampak hukuman terhadap sejumlah besar yang berbenar dilaksanakan hanya karena sejumlah kecil yang bersalah. Ini dan beginilah model dan cara manusia memberikan hukuman yang terkesan tidak seimbang, tidak proporsional.
Sungguh berbeda dengan cara Allah memberi hukuman. Kalau manusia menghukum banyak yang berbenar hanya karena ada sebagaian kecil yang bersalah sedangkan Tuhan justru membebaskan sejumlah besar yang bersalah hanya karena ada sejumlah kecil orang yang berbenar. Dalam bacaan pertama dikatakan, bahwa meskipun hanya 5 orang yang berbenar di kota Sodom dan Gomorah, seluruh warga kota itu tetap diluputkan. Saya kira, kalau Musa meneruskan pertanyaannya, maka meskipun hanya seorang yang berbenar, seluruh warga kota itu tetap diluputkan demi yang satu orang itu.
Betapa besarnya perbedaan antara sikap dan cara bertindak Allah dibandingkan dengan manusia. Kalau manusia bisa tega mengorbankan 99 orang benar demi menghukum satu orang bersalah sedangkan Allah, rela membebaskan 99 orang bersalah demi satu orang yang berbenar. Manusia lebih suka mengamankan 99 domba yang ada di dalam kandang dari pada harus meninggalkan 99 ekor itu hanya demi menemukan seekor yang hilang. Sebaliknya, Allah justru lebih menaruh perhatian pada seekor domba yang tidak ada dalam kandang untuk tetap memiliki 100 ekor domba.
Yang paling inti di sini adalah penghargaan terhadap orang-orang jujur. Allah begitu menghargai seorang yang jujur. Contoh yang paling jelas adalah karena pengorbanan satu orang yang jujur, Yesus Kristus, di kayu salib, maka seluruh dunia yang berdosa diselamatkan. Sebaliknya, manusia sangat sering mengabaikan orang jujur. Betapa sering rakyat suatu negara patuh-tunduk kepada seorang pemimpin yang korup, jahat dan tidak menghiraukan orang yang baik dan hidup dalam kebenaran.
Apakah memang harus demikian? Orang yang tidak mengenal penciptanya mungkin akan berkata: “Ya, begitu memang sikap manusia. Tidak mungkin sama seperti Allah”. Namun, kita yang telah mengenal Allah hendaklah tidak demikian. Kita percaya bahwa kita diciptakan menurut gambaran Allah. Kita adalah citra Allah. Jadi, sifat-sifat Allah yang mahabaik sebetulnya juga ada dalam diri kita, meski tidak sesempurna pada diri Allah. Karena itu, seperti Allah sendiri, kita pun sebetulnya bisa menghargai setiap orang yang benar dan jujur, dan tidak rela mengorbankannya hanya karena kesalahan orang lain.
Injil berbicara tentang doa. Dalam hal berdoa, kita manusia kadang-kadang tidak sadar atau tidak memahami betul apa yang kita minta dalam doa kita sehingga bisa jadi, hari ini kita minta satu hal, dan besoknya kita minta hal lain yang justru bertentangan dengan permintaan kemarin.
Seorang bapa berdoa kepada Allah dengan mendesak-desak. Karena merasa agak terganggu Allah lalu berjanji untuk mengabulkan tiga permintaan yang pertama sang bapa. Mendengar itu, tanpa pikir panjang langsung saja bapa itu meminta supaya istrinya yang sekarang dipanggil pulang ke surga supaya dia bisa kawin dengan wanita yang lebih berkenan di hatinya. Permohonan itu langsung dikabulkan.
Tetapi, pada saat pemakaman, dia begitu terharu melihat begitu banyak yang datang dan hampir semuanya memuji-muji istrinya yang sudah meninggal itu. Waktu itu baru dia sadar bahwa istrinya ternyata memiliki banyak sekali sifat-sifat yang mengagumkan. Maka, pada saat itu juga dia meminta kepada Allah untuk menghidupkan kembali istrinya itu. Istrinya itu pun hidup kembali.
Tinggal satu permintaan lagi. Dia sangat bingung; apakah dia meminta umur panjang, atau uang yang banyak atau kesehatan yang prima. Dia takut melakukan kesalahan lagi. Dia memutuskan untuk meminta nasihat Allah sendiri. Sambil tertawa Allah berkata, “Mintalah saja, supaya kamu puas dengan hidupmu apa pun adanya”.
Injil tadi mengisahkan pemberian doa ‘Bapa Kami’, doa Yesus sendiri. Inilah doa yang selalu cocok untuk segala waktu dan setiap kesempatan. Dalam kalimat-kalimatnya yang pendek dan sederhana, terkandung setiap aspek relasi kita dengan Bapa di Surga. Itulah doa yang paling sederhana, tetapi mengagumkan. Kalau seseorang sungguh menghidupinya, mempraktekkan setiap frase yang terkandung di dalamnya dalam kehidupannya sehari-hari, maka hampir pasti dia akan menjadi sempurna seperti yang dikehendaki Bapa di Surga.
Dalam doa ini Yesus juga mengajarkan kita apa-apa yang paling penting untuk kehidupan kita, yang perlu kita minta kepada Allah, yaitu: (1) Roti, pertama-tama untuk hari ini. Jangan dulu mencemaskan makanan untuk besok, kalau untuk hari ini belum ada, (2) Sikap mengampuni sesama agar kita pun diampuni Tuhan, (3) Kesanggupuan untuk mengatasi godaan dalam berbagai macam bentuknya, dan (4) Pembebasan dari yang jahat. Marilah kita memupuk sikap doa yang benar, dengan mencontohi doa Yesus sendiri. Amin
Kej.18,20-32; Kol.2,12-14; Luk.11,1-13
Komunitas Frateran BHK Malang
Renungan
Dalam beberapa aksi perburuan terhadap kelompok teroris yang dilakukan pasukan densus 88 kita menyaksikan betapa pasukan itu amat hati-hati. Sebelum mengepung biasanya pasukan densun 88 antiteror melakukan pengintaian yang cermat. Tujuannya untuk memastikan sasaran yang tepat dan menghindari terjadinya kesalahan yang membawa korban pada masyarakat sipil di lokasi persembunyian orang yang diduga teroris. Dalam kenyataannya, meskipun sudah diupayakan pengintaian tetap saja ada warga sipil yang tidak bersalah menjadi korban.
Suatu ketika, sorang guru menghukum semua warga sekelas ketika didapati ruangan kelas yang kotor. Semua warga kelas harus mengikuti pelajaran dalam posisi berlutut. Ada sebagian siswa yang protes atas keputusan sang guru karena sesungguhnya hari itu yang bertugas membersihkan kelas adalah Andre dan Bernadet. Warga kelas mendapat hukuman hanya karena dua teman mereka lalai menjalankan tugas membersihkan rungan kelas.
Suatu ketika seorang pemimpin asrama terkejut karena Televisi yang ditempatkan di ruangan rekreasi sebuah asrama mengalami kerusakan dan tidak berfungsi. Pemimpin asrama itu dengan itikat yang baik mengumpulkan semua warga asrama untuk menanyakan dan memastikan warga yang merusakkan televisi itu. Ketika ditanya tidak seorang pun warga asrama yang mengaku sebagai pelakunya. Karena tidak ada yang mengaku, pemimpin asrama itu memberikan mereka hukuman massal. Semua mereka diharuskan mengumpulkan sejumlah uang untuk menggantikan televisi yang rusak.
Dari tiga contoh kasus di atas tampak jelas bahwa manusia cenderung mengorbankan yang lebih besar, lebih banyak hanya karena ada sebagaian kecil yang bersalah. Tampak hukuman terhadap sejumlah besar yang berbenar dilaksanakan hanya karena sejumlah kecil yang bersalah. Ini dan beginilah model dan cara manusia memberikan hukuman yang terkesan tidak seimbang, tidak proporsional.
Sungguh berbeda dengan cara Allah memberi hukuman. Kalau manusia menghukum banyak yang berbenar hanya karena ada sebagaian kecil yang bersalah sedangkan Tuhan justru membebaskan sejumlah besar yang bersalah hanya karena ada sejumlah kecil orang yang berbenar. Dalam bacaan pertama dikatakan, bahwa meskipun hanya 5 orang yang berbenar di kota Sodom dan Gomorah, seluruh warga kota itu tetap diluputkan. Saya kira, kalau Musa meneruskan pertanyaannya, maka meskipun hanya seorang yang berbenar, seluruh warga kota itu tetap diluputkan demi yang satu orang itu.
Betapa besarnya perbedaan antara sikap dan cara bertindak Allah dibandingkan dengan manusia. Kalau manusia bisa tega mengorbankan 99 orang benar demi menghukum satu orang bersalah sedangkan Allah, rela membebaskan 99 orang bersalah demi satu orang yang berbenar. Manusia lebih suka mengamankan 99 domba yang ada di dalam kandang dari pada harus meninggalkan 99 ekor itu hanya demi menemukan seekor yang hilang. Sebaliknya, Allah justru lebih menaruh perhatian pada seekor domba yang tidak ada dalam kandang untuk tetap memiliki 100 ekor domba.
Yang paling inti di sini adalah penghargaan terhadap orang-orang jujur. Allah begitu menghargai seorang yang jujur. Contoh yang paling jelas adalah karena pengorbanan satu orang yang jujur, Yesus Kristus, di kayu salib, maka seluruh dunia yang berdosa diselamatkan. Sebaliknya, manusia sangat sering mengabaikan orang jujur. Betapa sering rakyat suatu negara patuh-tunduk kepada seorang pemimpin yang korup, jahat dan tidak menghiraukan orang yang baik dan hidup dalam kebenaran.
Apakah memang harus demikian? Orang yang tidak mengenal penciptanya mungkin akan berkata: “Ya, begitu memang sikap manusia. Tidak mungkin sama seperti Allah”. Namun, kita yang telah mengenal Allah hendaklah tidak demikian. Kita percaya bahwa kita diciptakan menurut gambaran Allah. Kita adalah citra Allah. Jadi, sifat-sifat Allah yang mahabaik sebetulnya juga ada dalam diri kita, meski tidak sesempurna pada diri Allah. Karena itu, seperti Allah sendiri, kita pun sebetulnya bisa menghargai setiap orang yang benar dan jujur, dan tidak rela mengorbankannya hanya karena kesalahan orang lain.
Injil berbicara tentang doa. Dalam hal berdoa, kita manusia kadang-kadang tidak sadar atau tidak memahami betul apa yang kita minta dalam doa kita sehingga bisa jadi, hari ini kita minta satu hal, dan besoknya kita minta hal lain yang justru bertentangan dengan permintaan kemarin.
Seorang bapa berdoa kepada Allah dengan mendesak-desak. Karena merasa agak terganggu Allah lalu berjanji untuk mengabulkan tiga permintaan yang pertama sang bapa. Mendengar itu, tanpa pikir panjang langsung saja bapa itu meminta supaya istrinya yang sekarang dipanggil pulang ke surga supaya dia bisa kawin dengan wanita yang lebih berkenan di hatinya. Permohonan itu langsung dikabulkan.
Tetapi, pada saat pemakaman, dia begitu terharu melihat begitu banyak yang datang dan hampir semuanya memuji-muji istrinya yang sudah meninggal itu. Waktu itu baru dia sadar bahwa istrinya ternyata memiliki banyak sekali sifat-sifat yang mengagumkan. Maka, pada saat itu juga dia meminta kepada Allah untuk menghidupkan kembali istrinya itu. Istrinya itu pun hidup kembali.
Tinggal satu permintaan lagi. Dia sangat bingung; apakah dia meminta umur panjang, atau uang yang banyak atau kesehatan yang prima. Dia takut melakukan kesalahan lagi. Dia memutuskan untuk meminta nasihat Allah sendiri. Sambil tertawa Allah berkata, “Mintalah saja, supaya kamu puas dengan hidupmu apa pun adanya”.
Injil tadi mengisahkan pemberian doa ‘Bapa Kami’, doa Yesus sendiri. Inilah doa yang selalu cocok untuk segala waktu dan setiap kesempatan. Dalam kalimat-kalimatnya yang pendek dan sederhana, terkandung setiap aspek relasi kita dengan Bapa di Surga. Itulah doa yang paling sederhana, tetapi mengagumkan. Kalau seseorang sungguh menghidupinya, mempraktekkan setiap frase yang terkandung di dalamnya dalam kehidupannya sehari-hari, maka hampir pasti dia akan menjadi sempurna seperti yang dikehendaki Bapa di Surga.
Dalam doa ini Yesus juga mengajarkan kita apa-apa yang paling penting untuk kehidupan kita, yang perlu kita minta kepada Allah, yaitu: (1) Roti, pertama-tama untuk hari ini. Jangan dulu mencemaskan makanan untuk besok, kalau untuk hari ini belum ada, (2) Sikap mengampuni sesama agar kita pun diampuni Tuhan, (3) Kesanggupuan untuk mengatasi godaan dalam berbagai macam bentuknya, dan (4) Pembebasan dari yang jahat. Marilah kita memupuk sikap doa yang benar, dengan mencontohi doa Yesus sendiri. Amin
Friday, July 26, 2013
SABTU BIASA PEKAN XVI THN C/1
Sabtu Pekan Biasa ke-16 thn C/1, 27 Juli 2013
Kel.24,3-8; Mat.13,24-30
Komunitas Frateran BHK Malang
Renungan
Melalui bacaan pertama hari ini kita mendengarkan pernyataan komitmen bangsa Israel untuk setia kepada Yahwe. Komitmen kesetiaan kepada Yahwe itu disampaikan kepada Musa sebagai pemimpin bangsa Israel untuk seterusnya disampaikan kepada Yahwe. Inti komitmen bangsa terpilih itu tidak lain adalah janji untuk setia mendengarkan dan melaksanakan kehendak, perintah, dan Firman Tuhan. Hal yang menarik dalam komitmen bangsa Israel ini adalah penggunaan darah sebagai unsur yang mengikat dan memeteraikan perjanjian mereka. Penggunaan darah dalam meneguhkan perjanjian merupakan bentuk perjanjian dengan tingkat risiko yang besar. Mengapa? Karena darah adalah gambaran kehidupan dan kematian. Jika sebuah janji yang diikat dengan darah berarti janji itu berkaitan dengan perkara hidup dan mati. Artinya, jika orang setia pada janji itu, maka dia akan hidup. Demikian juga sebaliknya, jika orang mengingkarinya maka maut dan kematian akan menantinya.
Israel telah membuat janji dan komitmen untuk setia mendengarkan dan melaksanakan firman Tuhan. Bangsa itu sudah merasa diri sebagai bangsa terpilih sehingga mereka mengikrarkan kaul, janji kesetiaan itu secara terbuka. Dalam arti tertentu kita juga dalam cara yang lain telah merasa diri sebagai orang terpanggil dan secara pribadi kita telah mengikrarkan janji kesetiaan kita pada pilihan dan panggilan kita. Janji dan komitmen kita memang tidak dengan darah tetapi risikonya tetap sama jika kita mengingkarinya.
Pengingkaran manusia terhadap janji dan komitmen itu bisa muncul dalam praktik hidup yang berlawanan dan bahkan mungkin mengancam panggilan kita. Tuhan sudah menabur, menanam dan memelihara benih panggilan itu dalam diri setiap kita dan kita menyadarinya sebagai panggilan kita. Dalam kehidupan kita berjuang agar benih pangggilan itu terus bertumbuh menuju kematangan yang mengeratkan relasi kita dengan diri sendiri, sesama, dan dengan Tuhan yang memanggil kita.
Yesus melalui penginjil Matius hari ini menegaskan kepada kita tentang inisiatif Allah menaburkan benih panggilan itu dalam diri setiap kita. Hal yang perlu untuk kita adalah berusaha untuk tetap terjaga agar tidak ada benih ilalang yang bertumbuh menghimpit dan mematikan panggilan kita. Kisah Injil menyadarkan kita bahwa panggilan kita berpeluang dan berpotensi dirusak oleh pelbagai hal dari lular atau dari dalam diri kita. Kekuatan yang merusak itulah yang dimaksudkan benih ilalang yang harus dicabut dari panggilan kita. Kita diminta untuk terus waspada dan berjaga-jaga jangan sampai benih ilalang itu menyerbu ladang panggilan kita.
Kalalu Tuhan meminta kita membiarkan benih ilalang itu sampai besar tidak berarti kita membiarkan diri dan panggilan kita dikuasai kekuatan yang merusak. Tuhan meminta menunda mencabutnya hanya mau mengatakan agar kita sungguh mempunyai waktu untuk bisa membedakan kekuatan perusak itu dari hidup dan panggilan kita. Bagi Tuhan pembendaan yang cermat dan tepat memungkinkan pilihan tindakan yang tepat pula. Dalam memaknai panggilan, kita diminta untuk selalu dan sepajang hidup bisa membuat pembedaan antara apa yang baik dari yang buruk, apa yang pantas dari yang tidak pantas. Hanya dengan itu kita bisa bertindak tepat dan benar. Semoga Tuhan membantu kita dalam menepati janji panggilan kita sehingga pada waktunya kita terbebas dari himpitan ilalalang kehidupan panggilan kita. Amin
Kel.24,3-8; Mat.13,24-30
Komunitas Frateran BHK Malang
Renungan
Melalui bacaan pertama hari ini kita mendengarkan pernyataan komitmen bangsa Israel untuk setia kepada Yahwe. Komitmen kesetiaan kepada Yahwe itu disampaikan kepada Musa sebagai pemimpin bangsa Israel untuk seterusnya disampaikan kepada Yahwe. Inti komitmen bangsa terpilih itu tidak lain adalah janji untuk setia mendengarkan dan melaksanakan kehendak, perintah, dan Firman Tuhan. Hal yang menarik dalam komitmen bangsa Israel ini adalah penggunaan darah sebagai unsur yang mengikat dan memeteraikan perjanjian mereka. Penggunaan darah dalam meneguhkan perjanjian merupakan bentuk perjanjian dengan tingkat risiko yang besar. Mengapa? Karena darah adalah gambaran kehidupan dan kematian. Jika sebuah janji yang diikat dengan darah berarti janji itu berkaitan dengan perkara hidup dan mati. Artinya, jika orang setia pada janji itu, maka dia akan hidup. Demikian juga sebaliknya, jika orang mengingkarinya maka maut dan kematian akan menantinya.
Israel telah membuat janji dan komitmen untuk setia mendengarkan dan melaksanakan firman Tuhan. Bangsa itu sudah merasa diri sebagai bangsa terpilih sehingga mereka mengikrarkan kaul, janji kesetiaan itu secara terbuka. Dalam arti tertentu kita juga dalam cara yang lain telah merasa diri sebagai orang terpanggil dan secara pribadi kita telah mengikrarkan janji kesetiaan kita pada pilihan dan panggilan kita. Janji dan komitmen kita memang tidak dengan darah tetapi risikonya tetap sama jika kita mengingkarinya.
Pengingkaran manusia terhadap janji dan komitmen itu bisa muncul dalam praktik hidup yang berlawanan dan bahkan mungkin mengancam panggilan kita. Tuhan sudah menabur, menanam dan memelihara benih panggilan itu dalam diri setiap kita dan kita menyadarinya sebagai panggilan kita. Dalam kehidupan kita berjuang agar benih pangggilan itu terus bertumbuh menuju kematangan yang mengeratkan relasi kita dengan diri sendiri, sesama, dan dengan Tuhan yang memanggil kita.
Yesus melalui penginjil Matius hari ini menegaskan kepada kita tentang inisiatif Allah menaburkan benih panggilan itu dalam diri setiap kita. Hal yang perlu untuk kita adalah berusaha untuk tetap terjaga agar tidak ada benih ilalang yang bertumbuh menghimpit dan mematikan panggilan kita. Kisah Injil menyadarkan kita bahwa panggilan kita berpeluang dan berpotensi dirusak oleh pelbagai hal dari lular atau dari dalam diri kita. Kekuatan yang merusak itulah yang dimaksudkan benih ilalang yang harus dicabut dari panggilan kita. Kita diminta untuk terus waspada dan berjaga-jaga jangan sampai benih ilalang itu menyerbu ladang panggilan kita.
Kalalu Tuhan meminta kita membiarkan benih ilalang itu sampai besar tidak berarti kita membiarkan diri dan panggilan kita dikuasai kekuatan yang merusak. Tuhan meminta menunda mencabutnya hanya mau mengatakan agar kita sungguh mempunyai waktu untuk bisa membedakan kekuatan perusak itu dari hidup dan panggilan kita. Bagi Tuhan pembendaan yang cermat dan tepat memungkinkan pilihan tindakan yang tepat pula. Dalam memaknai panggilan, kita diminta untuk selalu dan sepajang hidup bisa membuat pembedaan antara apa yang baik dari yang buruk, apa yang pantas dari yang tidak pantas. Hanya dengan itu kita bisa bertindak tepat dan benar. Semoga Tuhan membantu kita dalam menepati janji panggilan kita sehingga pada waktunya kita terbebas dari himpitan ilalalang kehidupan panggilan kita. Amin
Subscribe to:
Posts (Atom)