Jumat,Pekan Biasa ke-16 thn C/1, 26 Juli 2013
Sir.44. 1,10-15; Mat.13,16-17
Pesta Santo Santa Yoakim dan Ana
Komunitas Suster Misericordia RKZ Malang
Buka
Hari ini Gereja memperingati Yoakim dan Anna, orangtua dari SP Maria. Memang tidak ada catatan mendetil, baik historis maupun alkitabiah, yang diketahui tentang kehidupan dua orang kudus ini, namun banyak umat beriman dalam suasana doa melakukan permenungan atas kehidupan mereka dan bagaimana mereka sebagai orangtua membesarkan anak mereka yang kelak dipilih untuk menjadi Bunda Allah. Gereja memilih bacaan pertama hari ini dari Kitab Putra Sirakh untuk menyampaikan pujian dan hormat yang pantas diberikan kepada kedua orangtua saleh seperti Yoakim dan Anna yang kita peringati.
Yoakim dan Anna ini memiliki rasa tanggungjawab yang besar untuk melakukan karya suci mendidik dan melatih anak perempuan mereka. Kita dapat mengandaikan bahwa mereka melakukan tugas panggilan mereka setelah didahului dengan banyak doa, yang menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Allah yang menjanjikan segala hikmat-kebijaksanaan dan kekuatan yang mereka perlukan. Buah ketaatan mereka kepada Allah terlihat jelas dalam tanggapan Maria ketika dia didatangi malaikat Gabriel bahwa Roh Kudus akan turun atas dirinya dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi dirinya; sebab itu anak yang akan dilahirkannya itu disebut kudus, Anak Allah.
Kita berdoa semoga semangat orangtua Maria, Yoakim dan Anna memberi inspirasi dan semangat bagi semua keluarga Kristiani dalam mendidik dan membesarkan anak-anak mereka. Baiklah jika kita akui salah dan dosa kita mengawali perayaan kudus ini.
Renungan
Kita tentu pernah mendengarkan sebuah ungkapan atau pribahasa klasik yang menggambarkan kualitas relasi orangtua dan anak. Ungkpan klasik itu berbunyi: Buah Jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ungkapan ini bermakna bahwa pola perilaku dan pola tindak seorang anak, sebaian besar mewarisi pola prilaku dan pola tindak orangtua mereka. Kebiasaan baik atau kebiasaan buruk yang dilakukan seorang anak dalam keluarga biasanya selalu dikait-kaitkan dengan orangtua mereka.
Yoakim dan Anna, orang tua St.Perawan Maria yang kita rayakan hari ini adalah dua tokoh yang berasal dari keturunan raja Daud, dan dikenal karena kesetiaan mereka dalam menjalankan kewajiban keagamaan serta mengabdi dan mengasihi Allah dan sesama dengan ikhlas. Dan karena itu keduanya dianggap layak untuk ikut ambil bagian dalam rencana keselamatan Allah atas dunia. Yoakim dan Anna menjadi penting justru karena keterpilihan Maria menjadi Bunda Allah.
Keterpilihan Maria tidak dapat dipisahkan dari peran kedua orangtuanya. Dikatakan bahwa sejak perkawinannya dengan Yoakim, Anna tidak henti-hentinya mengharapkan karunia Tuhan berupa seorang anak. Kerinduan pasangan Yoakim dan Anna untuk mendaptkan anak terkait dengan tuntutan budaya Yahudi. Bagi orang Yahudi, perempuan yang tidak dapt melahirkan anak dianggap sebagai kutukan Tuhan. Dalam konteks itulah pasangan Yoakim dan Anna berkanjang dan tanpa putus asa berdoa kepada Allah agar kenyataan pahit yang dialami bisa terhindarkan.
Berkanjang dalam doa, berdoa tak mengenal lelah selalu membahasa hasil. Kesetianan pasangan Yoakim dan Anna dalam doa membuat mereka dikaurinia seorang anak yang dikandung tanpa noda yaitu Maria yang pada akhirnya dipilih menjadi bunda Allah. Bagi Yoakim dan Anna kelahiran Maria pada usia senja mereka merupakan bukti betapa Allah mendengarkan doa orang yang tabah, tekun, dan setia dalam pengharapan. Bagi mereka kelahiran Maria, apalagi disaat usia mereka yang sudah tua itu, merupakan buah rahmat Allah, hasil campur tangan Allah sendiri, daripada sesuatu yang kodrati-manusiawi.
Selama bertahun-tahun, Anna memohon kepada Tuhan untuk memberinya anak. Ia berjanji untuk mempersembahkan anaknya itu kelak kepada Tuhan. Ketika sudah lanjut umurnya, Tuhan menjawab doa Anna dengan cara yang amat luar biasa, yang bahkan tidak pernah terbayangkan olehnya. Anak yang lahir bagi St. Yoakim dan St. Anna adalah Santa Perawan Maria Immaculata (yang Dikandung Tanpa Dosa). Perempuan yang paling kudus di antara semua perempuan ini telah menjadi Bunda Allah. Anna merawat, membesarkan dan mendidik Maria dengan penuh kasih sayang selama beberapa tahun. Kemudian mempersembahkan puterinya itu kepada Tuhan, seperti yang telah dijanjikannya. Maria tinggal di Bait Allah di Yerusalem. Di tempat tinggal pasangan Yoakim dan Anna ini saat ini telah didirikan sebuah gereja besar dengan nama gereja Yoakim dan Anna. Tahun 2011 saat berziarah ke Israel saya sempat masuk ke gereja itu dan pelataran gereja tersebut menjadi perhentian pertama rute jalan salib menuju makam kudus.
Apa yang perlu kita petik dari kisah kehidupan kedua tokoh ini untuk kehidupan keluarga zaman ini. Menurut saya ada dua hal penting yang perlu yaitu:
Pertama: keluarga zaman ini perlu belajar pada pasangan Yoakim dan Anna tentang kesabaran dan ketekunan dalam mengharapkan bantuan Allah. Bagi pasangan Yoakim dan Anna anggapan orang dan usia lanjut TIDAK MENGHALANGI ALLAH untuk menunjukkan kuasa-Nya. Kesabaran, ketekunan untuk berkanjang dalam doa selalu mendatangkan rahmat. Pasangan itu hidup dalam prinsi bahwa Tidak ada usaha yang tidak ada hasilnya, tidak ada doa yang tidak terkabulkan, sejauh manusia berkesabaran dan bertekunan.
Kedua: manusia dan keluarga Kristinai zaman ini perlu belajar untuk mengenal diri agar dikuduskan. Pasangan Yoakim dan Anna mengajarkan bahwa segala yang mereka peroleh itu adalah pertama-tama karena campur tangan Allah, bukan semata usaha mereka sendiri. Kehidupan orangtua kristiani harus dikuduskan bagi Allah dan pelayanan kepada-Nya. Dikuduskan berarti dipisahkan secara khusus, untuk mengabdikan diri kepada Allah. Orangtua yang dikuduskan adalah seorang pribadi saleh yang memenuhi perannya dalam kehidupan dengan komitmen untuk melakukan apa yang menyenangkan Allah, bukan dunia. Komitmen ini menciptakan atmosfir spiritual yang memungkinkan seorang anak akan subur dan bertumbuh dalam kasih dan pelayanan bagi Allah. Orangtua yang dikuduskan bagi Allah mengajarkan anak-anak mereka melalui kata-kata dan contoh, bahwa mereka harus percaya dan diselamatkan dan bahwa mereka juga dipanggil untuk melayani.
Para orangtua yang dikuduskan dan saleh akan memperoleh pujian; keturunan mereka akan mewarisi kebenaran mereka dan tetap setia kepada Allah karena teladan baik mereka ; dan keturunan mereka akan tetapi tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus dan gereja di atas bumi akan menghormati mereka. Marilah kita belajar untuk sabar dan tekun dalam menantikan janji Allah sambil melakukan segala yang baik sebagai warisan yang tetap abadi. Tuhan memberkati.
Thursday, July 25, 2013
RENUNGAN SANTO YAKOBUS RASUL
Kamis, Pekan Biasa ke-16 thn C/1, 25 Juli 2013
2Kor.4,7-15; Mat.20,20-28
Pesta Santo Yakobus, Rasul
Komunitas Suster Misericordia RKZ Malang
Buka
Hari ini kita dan gereja sejagat memperingati pesta Santo Yakobus Rasul. Santo Yakobus, yang kita peringati hari ini adalah seorang Rasul, yang berasal dari Betsaida di Galilea. Santo Yakobus, Rasul ini berbeda dengan Yakobus, penulis surat dalam Kitab suci yang ayat-ayatnya kita kenal: iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2 : 26). Ia seorang nelayan yang dipanggil Yesus bersama saudaranya, Yohanes. Kedua orang bersaudara anak Zebedeus ini sering disebut "anak-anak guntur" atau "Putera-putera Halilintar".karena sifatnya yang keras dan semangatnya yang berapi-api. Dialah yang meminta Yesus agar menjatuhkan api dari langit untuk memusnahkan orang-orang Samaria yang tidak mau menerima Yesus dan murid-murid-Nya. Yesus amat menyukai mereka dan mengistimewakannya bersama Petrus, sehingga selalu diajak pada saat-saat penting di mana Yesus berada; misalnya yang tercatat dalam Kitab Suci : Saat Yesus menghidupkan kembali putri Yairus (Mat 9:18 -26), Saat Yesus dimuliakan di Gunung Tabor (Mat 17:1 -13) dan saat Yesus berdoa di taman Zaitun ( Mat 26 : 30)
Dalam injil Ibu Rasul Yakobus ini meminta kepada Yesus agar diberi kedudukan terhormat dalam Kerajaan Kristus. Terhadap permintaan ini, Yesus menantang mereka dengan pertanyaan perihal kemampuan dan kesanggupan meminum piala penderitaan. Pernyataan kesanggupan seperti ini membawa risiko bahwa mereka akan mengalami apa yang dialami Yesus. Yakobus tercatat sebagai Rasul yang pertama minum piala kemartiran karena atas perintah Herodes Agripa I, ia dijatuhi hukuman pancung pada tahun 43/44. Kita berdoa sambil memohon agar semangat Santo Yakobus Rasul memberi inspirasi dalam tugas dana karya kita. Kita sesali segala kelemahan dan dosa kita
Renungan
Panggilan untuk melayani merupakan panggilan yang memberi garansi dan jaminan untuk keselamtan jiwa. Hal inilah yang mau ditegaskan Paulus melalui bacaan pertama hari ini. Panggilan pelayanan itu hanya akan terlaksana ketika manausia mengandalkan kekuatan Tuhan dan bukan kekeuatan manusia sendiri. Paulus mengingatkan kita bahwa harta pelayanan sebagai rasul itu berada dalam bejana tanah liat yang rapuh. Kedasaran akan keterbatasan dan ketidakmampuan dalam pelayanan memungkinkan manusia menandalkan Tuhan. Paulus menegaskan bahwa , kekuatan yang berlimpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri manusia sendiri. Paulus mencatat “ Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terhimpit, kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian; kami dihempaskan, namun tidak binasa. Dengan pernyataan seperti ini jelas bahwa Paulus mengajak kita untuk mengandalkan Tuhan dalam perjuangan dan dalam karya pelayanan. Menjadi pelayanan yang benar menurut Paulus harus dinyatakan dalam kemampuan manusia untuk mencontohi pelayanan Kristus. Hanya dengan mencontohi model pelayanan Kristus akan semakin banyak orang mengnelan, percaya, dan akhirnya mencintai Tuhan.
Buah pelayanan adalah jaminan keselamatan jiwa dan semua manusia yang percaya kepada Tuhan merindukan keselamatan jiwa seperti itu. Keselamatan jiwa seperti itulah yang diminta Ibu Yakobus dan Yohanes dalam injil tadi. Ibu Yakobus dan Yohanes meminta supaya Yesus menempatkan kedua anaknya di sisi kiri dan kanan Yesus kelak dalam kerajaan-Nya. Namun Yesus menegaskan bahwa hanya Bapalah yang akan menempatkan siapa yang mempunyai hak untuk itu. Murid yang sesungguhnya harus menjadi seorang hamba dari semuanya, sebagaimana halnya Yesus sendiri telah menjadi hamba. Bagi Yesus posisi atau tempat seseorang dalam kerajaan sorga tidak bisa diminta begitu saja oleh siapa saja melainkan akan ditentukan Allah berdasarkan kualitas pelayanan yang dilakukan manusia dalam dan selama hidup. Pelayanan yang paling berkualitas dalam konteks injil tadi adalah pelayanan untuk mengambil bagian dalam peyalanan Kristus yang selalu ditandai dengan tantangan dan derita.
Untuk para suster dan saudara/I yang berkarya dalam bidang medis kata derita, penderitaan sudah seharusnya telah ,menyatu dengan seluruh dinamika pelayanan mereka karena setiap hari selalu berhadapan dengan orang sakit, orang yang menderita. Melayani para pasien dengan baik, dengan cinta, dengan kesabaran, dengan ketulusan,dan sejenisnya adalah model pelayanan yang diharapan Yesus karena semua itu telah dilakukan Yesus selama hidup-Nya. Kata-kata Yesus yang penting untuk kita maknai dan renungkan dalam tugas kita adalah: Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia: Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."
Yesus telah mendapatkan tempat dan posisi yang penting dalam kerajaan sorga bukan karena Ia memintanya seperti ibu Yakobus dan Yohnaes tetapi terlebih dan terutama karena Yesus telah menjalankan misi pelaynan kasih itu secara sempurna. Injil hari ini mau menegaskan kepada kita bahwa dimana tempat dan posisi kita kelak ditentukan model dan kualitas pelayanan kita selama hidup. Marilah kita merebut posisi bukan dengan meminta begitu saja kepada Tuhan melainkan dengan melayani Tuhan dan sesama dalam tugas dan karya kita. Tugas kita, kerja kita, karya pelayanan kita apa pun nama dan jenisnya adalah posisi kita dan menentukan posisi kita kelak. Mari kita merebutnya dengan kualitas kerja dan pelayanan kita sambil memohon agar semangat Rasul yakobus menjiwai pelayanan kita. Semoga
2Kor.4,7-15; Mat.20,20-28
Pesta Santo Yakobus, Rasul
Komunitas Suster Misericordia RKZ Malang
Buka
Hari ini kita dan gereja sejagat memperingati pesta Santo Yakobus Rasul. Santo Yakobus, yang kita peringati hari ini adalah seorang Rasul, yang berasal dari Betsaida di Galilea. Santo Yakobus, Rasul ini berbeda dengan Yakobus, penulis surat dalam Kitab suci yang ayat-ayatnya kita kenal: iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2 : 26). Ia seorang nelayan yang dipanggil Yesus bersama saudaranya, Yohanes. Kedua orang bersaudara anak Zebedeus ini sering disebut "anak-anak guntur" atau "Putera-putera Halilintar".karena sifatnya yang keras dan semangatnya yang berapi-api. Dialah yang meminta Yesus agar menjatuhkan api dari langit untuk memusnahkan orang-orang Samaria yang tidak mau menerima Yesus dan murid-murid-Nya. Yesus amat menyukai mereka dan mengistimewakannya bersama Petrus, sehingga selalu diajak pada saat-saat penting di mana Yesus berada; misalnya yang tercatat dalam Kitab Suci : Saat Yesus menghidupkan kembali putri Yairus (Mat 9:18 -26), Saat Yesus dimuliakan di Gunung Tabor (Mat 17:1 -13) dan saat Yesus berdoa di taman Zaitun ( Mat 26 : 30)
Dalam injil Ibu Rasul Yakobus ini meminta kepada Yesus agar diberi kedudukan terhormat dalam Kerajaan Kristus. Terhadap permintaan ini, Yesus menantang mereka dengan pertanyaan perihal kemampuan dan kesanggupan meminum piala penderitaan. Pernyataan kesanggupan seperti ini membawa risiko bahwa mereka akan mengalami apa yang dialami Yesus. Yakobus tercatat sebagai Rasul yang pertama minum piala kemartiran karena atas perintah Herodes Agripa I, ia dijatuhi hukuman pancung pada tahun 43/44. Kita berdoa sambil memohon agar semangat Santo Yakobus Rasul memberi inspirasi dalam tugas dana karya kita. Kita sesali segala kelemahan dan dosa kita
Renungan
Panggilan untuk melayani merupakan panggilan yang memberi garansi dan jaminan untuk keselamtan jiwa. Hal inilah yang mau ditegaskan Paulus melalui bacaan pertama hari ini. Panggilan pelayanan itu hanya akan terlaksana ketika manausia mengandalkan kekuatan Tuhan dan bukan kekeuatan manusia sendiri. Paulus mengingatkan kita bahwa harta pelayanan sebagai rasul itu berada dalam bejana tanah liat yang rapuh. Kedasaran akan keterbatasan dan ketidakmampuan dalam pelayanan memungkinkan manusia menandalkan Tuhan. Paulus menegaskan bahwa , kekuatan yang berlimpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri manusia sendiri. Paulus mencatat “ Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terhimpit, kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian; kami dihempaskan, namun tidak binasa. Dengan pernyataan seperti ini jelas bahwa Paulus mengajak kita untuk mengandalkan Tuhan dalam perjuangan dan dalam karya pelayanan. Menjadi pelayanan yang benar menurut Paulus harus dinyatakan dalam kemampuan manusia untuk mencontohi pelayanan Kristus. Hanya dengan mencontohi model pelayanan Kristus akan semakin banyak orang mengnelan, percaya, dan akhirnya mencintai Tuhan.
Buah pelayanan adalah jaminan keselamatan jiwa dan semua manusia yang percaya kepada Tuhan merindukan keselamatan jiwa seperti itu. Keselamatan jiwa seperti itulah yang diminta Ibu Yakobus dan Yohanes dalam injil tadi. Ibu Yakobus dan Yohanes meminta supaya Yesus menempatkan kedua anaknya di sisi kiri dan kanan Yesus kelak dalam kerajaan-Nya. Namun Yesus menegaskan bahwa hanya Bapalah yang akan menempatkan siapa yang mempunyai hak untuk itu. Murid yang sesungguhnya harus menjadi seorang hamba dari semuanya, sebagaimana halnya Yesus sendiri telah menjadi hamba. Bagi Yesus posisi atau tempat seseorang dalam kerajaan sorga tidak bisa diminta begitu saja oleh siapa saja melainkan akan ditentukan Allah berdasarkan kualitas pelayanan yang dilakukan manusia dalam dan selama hidup. Pelayanan yang paling berkualitas dalam konteks injil tadi adalah pelayanan untuk mengambil bagian dalam peyalanan Kristus yang selalu ditandai dengan tantangan dan derita.
Untuk para suster dan saudara/I yang berkarya dalam bidang medis kata derita, penderitaan sudah seharusnya telah ,menyatu dengan seluruh dinamika pelayanan mereka karena setiap hari selalu berhadapan dengan orang sakit, orang yang menderita. Melayani para pasien dengan baik, dengan cinta, dengan kesabaran, dengan ketulusan,dan sejenisnya adalah model pelayanan yang diharapan Yesus karena semua itu telah dilakukan Yesus selama hidup-Nya. Kata-kata Yesus yang penting untuk kita maknai dan renungkan dalam tugas kita adalah: Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia: Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."
Yesus telah mendapatkan tempat dan posisi yang penting dalam kerajaan sorga bukan karena Ia memintanya seperti ibu Yakobus dan Yohnaes tetapi terlebih dan terutama karena Yesus telah menjalankan misi pelaynan kasih itu secara sempurna. Injil hari ini mau menegaskan kepada kita bahwa dimana tempat dan posisi kita kelak ditentukan model dan kualitas pelayanan kita selama hidup. Marilah kita merebut posisi bukan dengan meminta begitu saja kepada Tuhan melainkan dengan melayani Tuhan dan sesama dalam tugas dan karya kita. Tugas kita, kerja kita, karya pelayanan kita apa pun nama dan jenisnya adalah posisi kita dan menentukan posisi kita kelak. Mari kita merebutnya dengan kualitas kerja dan pelayanan kita sambil memohon agar semangat Rasul yakobus menjiwai pelayanan kita. Semoga
Friday, June 21, 2013
RENUNGAN PERNIKAHAN
Renungan Pemberkatan Nikah
JOEL SINAGA & VIRGINIA R PASKALIANA
Efesus 5,1-2,22-33; Matius 19,1-9
Paroki Maria Diangkat ke Surga Malang Minggu, 23 Juni 2013
Buka
Hari ini kita datang ke hadapan Tuhan untuk mengucapkan syukur karena Tuhan, dari saat ke saat, terus mengalirkan cinta-Nya dalam seluruh perjalanan kehidupan kita. Secara lebih istemewa kita bersyukur sekaligus memohon kelimpahan rahmat Tuhan bagi pasangan Joel dan Irin yang akan mengukuhkan niat dan komitmen cinta mereka dalam ikatan perkawinan. Hari ini Joel dan Irin menjadi pemenang Tender Proyek Pembangunan jembatan Cinta yang menghubungkan Joel dan Irin; menghubungkan dua rumpun keluarga besar. Kita berdoa semoga Joel dan Irin menjadi pelaksana proyek pembangunan jembatan cinta yang kuat, cinta yang berkualitas sebagai keluarga Kristiani yang ditandai Kasih dan kesetiaan satu sama lain. Sambil mengakui kelemahan dan segala dosa kita di hadapan Tuhan dan sesama, kita memohonkan rahmat Kasih dan Kesetiaan bagi kedua mempelai agar jembatan cinta, keluarga yang dibentuk hari ini sungguh menjadi lambang cinta Tuhan terhadap umat-Nya.
Renungan
Masih segar dalam ingatan kita, sebulan lalu warga Malang Kota mengikuti pesta demokrasi pemilihan Wali Kota. Di tempat lain ada pemilihan Bupati dan Gubernur. Tahun depan kita akan memilih Presiden yang baru. Fenomena yang menarik perhatian kita dalam setiap pesta politik seperti itu berkaitan pasangan calon yang kita sebut paket-paket Calon Walikota dengan paket wakil mereka. Lebih menarik lagi, biasanya nama Paket itu ditentukan secara cermat, menarik, dan memiliki nilai politik, nilai jual artinya harus mampu meyakinkan pemilih untuk memilih paket itu. Pada umumnya nama paket itu diampbil dari nama calon walikota atau bupati dengan nama calon wakil mereka.
Jika pasangan pengantin Joel dan Irin ini kita analogikan dengan paket politik seperti dalam pemilihan bupati atau walikota maka tentu tidak salah kalau saat ini saya boleh bertanya kepada pasangan suami istri yang hadir dalam pemberkatan pernikahan ini. Pertanyaan yang sama tentu harus dijawab juga oleh pasangan mempelai Joel dan Irin. Pertanyaannya: Kalau pasangan suami istri dan pasangan mempelai ini diberi nama sebagai paket maka apa nama paket Anda? Saya meminta satu paket yang mewakili umat, satu paket untuk Bapa mama saksi, dan paket yang terakhir adalah paket untuk pengantin ini. Saya beri waktu bagi Anda berunding menentukan nama paket Anda. Bagi keluarga yang belum bisa merumuskan paketnya bisa nanti dikerjakan di rumah sebagai pr saja. Kita ingin dengarkan nama paket dari pasangan yang menjadi saksi dalam pernikanan ini. Bapak Alo dan Mama Maria menamakan paket mereka adalah ALMA. Alma itu kata bahasa Latin yang berarti yang memberi makan, yang menghidupi, yang membesarkan, yang memberi berkat, yang melimpahkan karunia, yang lemah lembut, yang menyegarkan, yang terhormat. Dari kata ini terbentuk ungkapan alma mater artinya ibu yang memberi makan, yang memelihara. Dari arti kata Alma sebagai nama paket untuk Bapa mama saksi ini kita bisa lihat bahwa lebih 90 persen makna kata itu mereka wujudkan dalam perjalanan hidup berkeluarga.
Saya kira sungguh sangatlah tepat jika Joel dan Irin telah memilih paket Alma itu sebagai saksi ikatan pernikahan Anda berdua. Karena itu, kita dengarkan apa nama Paket calon keluarga baru ini yang akan mereka umumkan saat ini. Jika pasangan ini belum bisa menemukan nama paketnya maka saya tawarkan nama paket mereka adalah paket JOIN (JOel-irIN). Join itu berarti bergabung, bersatu, bekerja sama. Paket JOIN adalah paket yang Indah karena dibentuk dari kata Joel dan Irin. Joel adalah satu kata dengan empat aksara. Irin adalah satu kata juga dengan empat aksara. JOIN itu menjadi satu kata, dan menjadi nama paket pengantin ini. JOIN lahir dan terbentuk hanya karena Joel melepaskan sebagian dari nama dirinya untuk diisi dengan setengah dari nama diri Irin. JOIN juga lahir dan terbentuk karena Irin melepaskan sebagian dari nama dirinya juga untuk diisi dengan sebagain diri Joel. Nama paket JOIN yang saya tawarkan ini adalah nama yang kaya arti dan sarat makna. Keyakaan arti dan kesaratan makna tentu harus bisa dibuktikan dalam usaha Joel dan Irin menjalani kehidupan berumah tangga yang mengutamakan Kesatuan dalam Kasih dan kesetiaan.
Menemukan pasangan ideal untuk menentukan satu Paket dalam konteks politik pemilihan bupati, walikota, dll. bukanlah perkara mudah. Ada begitu banyak faktor dipertimbangkan dan diperhitungkan ketika dua orang dicalonkan menjadi satu paket politik. Pemilihinan dan penentuan PAKET calon bupati dan wakilnya biasanya didasarkan atas berbagai pertimbangan. Ada pertimbangan geografis, ada pertimbanhgan sosiologis, ada pertimbangan agama, ada pertimbangan kekerabatan, ada pertimbangan kesamaan visi dan misi. Karena dasar pertimbangan begitu banyak maka kita bisa katakan bahwa Paket itu berarti Pasangan Ketat. Paket yang ideal pada akhirnya harus dideklarasikan kepada seluruh masyarakat calon pemilih. Paket itu kemudian diverifikasi sebelum dinyatakan sebagai pasangan yang sah. Regulasi, main untuk itu dibuat dengan harapan dipatuhi sehingga pada akhirnya muncul paket jadi yang diusung dalam kebenaran, karena kebenaran, dan untuk memperjuangkan kebenaran.
Joel dan Irin hari ini telah menjadi paket jadi dan sudah dinyatakan lolos dalam tahap verifikasi. Nama mereka telah diumumkan kepada publik tentang kelayakandan kepatutan mereka untuk membentuk paket yang tadi saya namakan paket JOIN. Joel dan Irin adalah paket jadi yang hari ini dilantik bukan menjadi walikota dan wakil wali kota melainkan menjadi Keluarga Kristiani yang baru. Proses pengukuhan mereka bukan oleh KPU tetapi Komisi Penyebaran Cinta (KPC). Keduanya lolos verifikasi karena Tuhan memberi kemampuan saling mencinta di antara mereka. Joel dan Irin adalah Paket (pasangan Ketat) yang akan menjalankan visi dan misi cinta secara bersama selama dan sepanjang hidup mereka dalam sebuah institusi yaitu keluarga.
Upacara pemberkatan nikah seperti ini sudah biasa kita saksikan dari tempat ke tempat, dari waktu ke waktu. Sudah banyak kita ikuti dan saksikan pasangan pengantin yang dengan gagah berani mengikrarkan sumpah setia sehidup semati. Meskipun peristiwa seperti ini terkesan biasa, tetapi untuk Joel dan Irin peristiwa seperti ini merupakan peristiwa bersejarah, peristiwa penting. Mengapa? Karena pengalaman ini merupakan peristiwa pernyataan kebesaran Allah. Misteri Allah ditampakkan, dinyatakan, dibahasakan kepada manusia lewat kerinduan membagi cinta, keingin untuk membangun serta mengembangkan cinta antara dua pribadi. Persatuan dua pribadi yang berbeda bukanlah hal sederhana. Hal besar serupa ini hanya terjadi karena rahmat dan cinta Allah telah merasuki dan menjiwai kedua mempelai sehingga memutuskan untuk hidup bersama dan bersatu sebagai paket abadi. Persatuan yang telah, sedang dan terus dibangun kedua mempelai dalam paket JOIN adalah persatuan cinta dalam Allah dan karena Allah yang merupakan sumber cinta. Hal sebesar ini terjadi karena manusia termasuk kedua mempelai telah menjadi orang pilihan Allah.
Dari segi cakupan dan luas wilayah dukungan paket Joel Irin (JOIN) ini termasuk ideal dan bisa diandalkan karena satunya dari pulau Sumatra, satunya dari Pulau Flores lalu hidup di pulau Jawa. Sebagai paket jadi tentu saja Joel dan Irin sudah merundingkan bersama tentang strategi masa depan berkaitan dengan pengukuhan paket mereka hari ini di sini. Pasti banyak pertimbangan yang digunakan Joel untuk menentukan pasangan paket hidupnya. Juga tentu banyak alasan dan pertimbangan yang Irin pakai untuk menerima tawaran Joel bersama keluarga besarnya untuk menjadi pasangan paket ini. Kami semua yakin bahwa kedua rumpun keluarga telah melihat visi dan misi pasangan ini sehingga pada akhirnya merestui paket ini untuk disahkan hari ini.
Sebagai paket jadi, paket JOIN ini tentu menginginkan dan merindukan agar paket ini langgeng hingga ajal menjemput. Kerinduan seperti ini membutuhkan alat perekat yang menjamin kelangggengan persatuan itu. Apa sesungguhnya alat perekat yang melanggengkan paket JOIN ini ke depan? Tuhan dalam sabda dan Firman-Nya yang Kudus yang diperdengarkan kepada kita melalui dua bacaan tadi memberikan jawaban yang pasti. Alat perekat yang menjamin kelanggeng hidup berkuarga itu adalah KASIH dan KESETIAAN. Kasih dan Kesetiaan adalah dua tiang utama yang menopang bangunan keluarga Kristiani termasuk penopang keluarga baru yang dibentuk paket JOIN ini. Logika kehidupan suami istri menurut santo Paulus harus selalu berjalan dalam Kasih. Model kasih itu telah Yesus tunjukkan dalam misi menyelamatkan manusia. Itulah sebabnya Paulus dalam bacaan pertama menegaskan: hiduplah dalam Kasih, sebagaimana Kristus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan dirinya bagi manusia sebagai korban yang harum dan berkenan kepada Allah. Penyerahan diri Yesus merupakan bukti kesetiaan-Nya pada kehendak Bapa. Kasih dan kesetiaan seperti itulah yang hendaknya memberi warna, cintra, nuansa pada kehidupan umat dan keluarga-keluarga Kristiani. Kalau kehidupan berkeluarga telah ditopang oleh Kasih dan Kesetiaan maka di sana akan ada saling mengerti, saling melayani, saling memahami, saling mendengarkan, saling menguduskan, saling melengkapi. Hidup sebagai suami istri Kristiani dalam konteks bacaan pertama mengharuskan pasangan suami istri untuk mewujudkan kewajiban terhadap pasangannya, sebagai kewajiban yang ditunjukkan kepada Kristus. Tuntutan agar Istri tunduk kepada Suami, bukan berarti istri berada pada posisi lemah atau harus selalu kalah terhadap sang suami. Tunduk kepada suami lebih diartikan sebagai keataan karena kasih bukan bukan pepatuhan dalam ketakutan. Itulah sebabnya pada ayat lain dalam bacaan pertama Paulus menegaskan kewajiban suami untuk mengasihi istri seperti dia mengasihi dirinya sendiri. Siapa yang mengashi istrinya ia mengasihi dirinya sendiri. Dengan ini mau dikatakan kepada kita bahwa Kasih dan Kesetiaan suami istri merupakan wujud nyata dari Kasih Kristus terhadap gereja-Nya. Kita semua adalah gereja yang dikasihi, dicintai, ditebus, diselamatkan Kristus melalui korbannya di kayu salib. Kasih dan kesetiaan suami terhadap istri dan kasih istri terhadap suami menjadi tanda dan bentuk pengambibagianan, partisipasi manusia terhadap Kasih dan kesetiaan Kristus yang diwariskannya sebagai rahasia agung bagi manusia. Misteri, rahasia kasih dan kesetiaan Kristus secara konkret hidup dan berlangsung dalam persekutuan hidup berkeluarga.
Kasih dan kesetiaan yang menopang dan membentengi kehidupan keluarga Kristiani dari masa ke masa selalu menghadapi aneka tantangan dan kesulitan. Penggalan Injil Matius tadi memberikan kita gambaran betapa usaha mewujudkan kasih itu menghadapi tantangan. Yesus berkeliling di Galilea untuk menyatakan kasih Allah dalam bentuk menyembuhkan orang sakit. Yesus dihadang sekelompok orang farisi yang bertanya bukan karena mereka tidak tahu tetapi sekadar mencobai Yesus. Pertanyaan mereka: bolehkah orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja? Rumusan pertayaan seperti ini menunjukkan bahwa bagi mereka para suami bisa menceraikan istri dengan segala macam alasan termasuk alasan yang dibuat-buat, dicari-cari. Yesus mematahkan pikiran sesat orang farisi itu dengan bertanya: apakah kamu tidak membaca kitab suci yang menegaskan bahwa persekutuan suami istri itu terjadi atas rencana dan kehendak Allah. Yang telah diperstuan Allah jangan diceraikan manusia. Untuk membela diri, orang farisi itu mencoba berdalih dan merujuk nabi Musa yang memberi surat cerai. Argmentasi inipun dipatahkan Yesus. Jawaban Yesus tidak lagi merujuk pengalaman pasangan suami istri perjajanjian Lama tetapi langsung ditujukan kepada orang farisi itu. Bagi Yesus orang farisi itu bertanya, karena mereka ingin menceraikan istri mereka tetapi dengan cara mencari-cari dan mencuri-curi alasan. Kepada mereka pun Yesus menegaskan bahwa Perceraian adalah gambaran ketegaran hati manusia. Kata Yesus berkata kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu, Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian”. Pesan injil ini tegas dan jelas bagi kita, bagi kelaurga Kristiani, dan terutama bagi paket JOIN bahwa keinginan, niat, rencana untuk meninggalkan pasangan dengan mencari-cari, apalagi mencuri-ciri, merekayasa alasan seperti orang farisi tidak akan pernah dibenarkan di hadapan Tuhan. Niat-niat seperti itu adalah gambaran Ketegaran hati, gambaran ketidaktaan, bentuk ketidaksetiaan, model pengkhianatan terhadap janji yang telah diucapkan. Mungkin pernyataan saya ini penting untk diinga: Sebuah janji, ikrar, sumpah yang diucapkan atas nama Tuhan melahirkan seribu mata pedang. Sekali orang mengingkarinya, seribu mata pedang itu akan mengiris jiwanya, tetapi selama orang setia pada janjinya ia akan dikawal seribu pasukan berpedang untuk melawan musuh yang membongkar semangat kasih dan kesetiaan itu.
Kedua mempelai Joel dan Irin, Paket JOIN milik Anda berdua diresmikan hari ini dan didukung oleh dua rumpun keluarga besar. Paket Anda bukanlah paket jabatan politik yang hanya bertahan sejauh rakyat mempercayai Anda. Paket Anda bukan paket politik, bukan paket bupati/walikota hasil pilkada. Paket Anda diverifikasi bukan oleh partai politik. Paket Anda didukung oleh partai Tunggal yakni partai Kasih. Apa konsekuensinya? Paket Anda bukan untuk masa dan periode lima tahun saja tetapi paket yang kekal sampai mati. Anda berdua memasuki jabatan Kehidupan, bukan jabatan politik. Karena itu cara kerja, cara hidup, cara pandang yang bernuansa politis harus dijauhkan dari kehidupan suami istri. Suami bukanlah lawan politik istri atau sebaliknya istri bukanlah lawan politiknya suami. Kalau keluarga dijadikan sebagai arena politik maka setiap hari orang akan berbenturan dengan kepentingannya. Hari ini Anda berdua menjadi satu paket Abadi yang dikukuhkan Allah sendiri dan Anda telah menjadi Satu dan Cuma Satu. Joel yang satu dan Cuma satu hanya untuk Irin yang Satu dan Cuma satu. Irin yang satu dan Cuma satu hanya untuk Joel yang satu dan Cuma satu. Mengakhiri renungan ini saya bacakan sepenggal puisi yang kutulis khusus buat paket JOIN.
“JOIN CUMA SATU”
Jika JOIN ingin melepas rindumu
angkatlah matamu ke langit biru
Di sanalah JOIN akan bertemu
karena angkasamu cuma satu
padanya JOIN gantungkan cita dan cinta yang satu
Kalau JOIN ingin memekarkan kenanganmu
tataptlah bulan purnama di jagat raya
karena bulanmu tunggal adanya
dialah saksimu yang satu dan setia
tatkala JOIN menjalin mimpi bersama
Kalau JOIN ingin membaca kisah-kisahmu
rangkullah bumi di bawah kakimu
karena pada bumi yang satu
awetlah rekaman kebersamaanmu
tetapi
bila JOIN ingin menulis sejarah bersama
pandanglah tapak-tapak Tuhan dalam semesta
karena seluruh hidupmu terpahat abadi di sana
Proficiat dan selamat berbahagia semoga Paket JOIN satu untuk selamanya. Tuhan memberkati. Amin
Sunday, June 9, 2013
MINGGU BIASA X THN C2
HARI MINGGU BIASA X Th.C/2 9 Juni 2013
1Raj 17:17 24; Gal 1:11 19; Luk 7:11 17
Paroki Lawang
Buka
Hari ini Tuhan melalui Firman-Nya menampilkan sederetan kisah kebaikan Tuhan untuk manusia. Mukjizat yang digambarkan dalam bacaan hari ini mau menengaskan kepada kita betapa Tuhan peduli terhadap nasih hidup dan kehidupan manusia. Kalau Tuhan sudah peduli terhadap nasib hidup dan kehodupan kita, maka sebagai pengikut Kristus kita dituntut untuk peduli terhadap masalah dan kebutuhan sesama kita. Dalam kenyataan munkgin kita sering menutup mata, menutup telinga, menutup hati, terhadap masalah sesama bahkan menjauh dari sesama yang bermasalah. Kita memohon pengampunan Tuhan seraya memohon kekuatan agar kita belajar pada Yesus yang memiliki Hati yang berbelas kasih.
Renungan
Gerak, bergerak, gerakan adalah bahasa kehidupan. Makhluk dikatakan hidup kalau dia bisa bergerak. Mati, kematian adalah gambaran kondisi atau keadaan tanpa gerakan. Tidak bisa bergerak adalah tanda kematian. Firman Tuhan dalam tiga bacaan hari ini berkaitan dengan dua dimensi pokok kehidupan kita. Hidup dan mati, merupakan dua kenyataan yang mewarnai ziarah hidup kita manusia. Ketika menyadari bahwa kita hidup, sesungguhnya kita mengamini kematian kita. Sebaliknya, ketika kita membayangkan kematian kita sesungguhnya kita menyadari diri sebagai sesuatu yang hidup. Hidup dan mati merupakan dua titik yang dilalui setiap makhluk hidup. Meskipun manusia mengalami nasib seperti hewan dan tumbuhan kehidupan dan kematian kita manusia jelas berbeda dengan hidup dan kematian hewan dan tumbuhan. Kehidupan dan kematian manusia sebagai cintra Allah adalah kehidupan dan kematian yang pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan sebagai asal dan sekaligus tujuan hidup manusia.
Tuntutan akan adanya pertanggungjawaban kita akan hidup dan kehidupan sebagai citra Allah pada titik akhir mengharuskan kita memaknai dan memberi arti pada kehidupan kita. Ketiga bacaan hari ini mau menyadarkan sekaligus mengingatkan kita bahwa kehidupan kita akan berakhir, kehidupan kita ini hanyalah sementara. Kesadaran akan kesementaraan hidup seperti ini, harus ada dan mewarnai cara hidup kita. Bahwa kematian akan menjemput itu pasti tetapi yang kita inginkan adalah kematian secara baik. Kerinduan dan dambaan setiap orang akan kematian secara baik hanya bisa dicapai melalui cara hidup yang baik. Kematian yang baik adalah buah dari kehidupan yang baik. Santu Agustinus pernah berkata: Barang siapa yang hidup baik akan mengalami kematian yang baik tetapi siapa yang menjalani kehidupan secara buruk jangan pernah mengharapkan kematian yang baik.
Kesadaran akan cara hidup yang buruk seperti ini diungkapkan seorang ibu kost tempat Elia menumpang dalam bacaan pertama. Ibu kost itu menyadari bahwa Elia adalah utusan Allah yang singgah dan menginap di rumahnya. Saat Elia menetap di sana putri sang ibu kost sakit lalu mati. Kematian sang putri itu menyadarkan sang ibu akan kesalahannya dalam hidup. Kesadaran itu muncul dalam pertanyaannya untuk Elia: Apakah engkau menumpang di rumahku untuk mengingatkan kesalahanku dan menyebabkan kematian putriku? Elia meneruskan pertanyaan itu kepada Yahwe yang mengutusnya sekaligus berdoa agar Tuhan menunjukkan kuasa membangkitkan putri yang meninggal itu. Doa dan harapan sang Ibu yang diteruskan Elia mendapat jawaban dari Yahwe sehingga sang putri hidup kembali. Peristiwa dramatis itu berakhir dengan pengakuan sang ibu akan kuasa dan kebenaran Firman Tuhan yang disampaikan nabi.
Mukjizat yang dilakukan Elia dalam bacaan pertama dimaksudkan agar orang yang mendengarkan dan menyaksikan peristiwa itu termasuk sang ibu yang menyadari kesalahan yang dialkukan sebelumnya yakin bahwa Tuhan berkuasa atas kehidupan dan kematian. Kesadaran itu harus diwartakan terutama kebenaran bahwa Allah itu bukan Allah orang Mati melainkan Allah orang hidup. Pewartaaan tentang kuasa Tuhan seperti ini secara nyata terjadi dalam pewartaan Paulus. Dalam suratnya kepada Jemaat Galatia hari ini Paulus menegaskan kepada kita tentang bagaimana Allah menjadikan Paulus sebagai pewarta Firman Tuhan kepada segala bangsa. Paulus sungguh yakin bahwa Allah telah menyatakan sang Putra kepadanya dan sang Putra itulah yang diwartakannya kepada segala bangsa.
Bagi Paulus apa yang diwartakannya adalah benar. Baginya berita gembira yang disebarkannya bukanlah berita bohong. “Injil yang kuberitakan bukanlan injil manusia dan ajaran buatan manusia melainkan injil dan ajaran yang diterima dari Yesus sendiri”. Dengan kata lain, kata-kata dan tindakan Paulus adalah kata-kata dan tindakan atas nama Tuhan yang menggunakan dirinya. Pengalaman pertobatan diri Paulus telah menjadi pemicu dan pemacu semangat pewartaannya kepada segala bangsa. Dalam bacaan pertama mukjizat yang dilakukan Elia membangkitkan iman seorang ibu, dan dalam bacaan kedua Mukjizat yang dialami Paulus telah menggerakkan dan menjiwai seluruh dinamika pewartaannya di berbagai tempat dengan segala situasinya.
Kalau kita mencermati pelbagai kisah tentang mukjizat di dalam kitab suci baik yang terjadi dalam perjanjian lama maupun yang terjadi dalam perjanjilan baru seperti yang dikisahkan dalam bacaan-bacaan hari ini pada dasarnya mau menegaskan kepada kita tentang peran, keterlibatan, intervensi Allah terhadap situasi manusia. Mukjizat dihadirkan Allah dalam situasi kekinian dan kesinian (kini dan di sini) yang dialami manusia. Itu artinya, setiap mukjizat selalu terikat pada konteks situasi dan kehidupan manusia. Karena itu logis dan masuk akal setiap mukjizat itu membawa makna dan pesan bagi kehidupan manusia. Dalam bimbingan kuasa Roh Kudus kisah mukjizat yang telah tertulis dalam konteks tertentu itu tetap memberi inspirasi dan pesan bagi kehidupan manusia sepanjang zaman. Sebagai orang beriman kita sungguh yakin bahwa Firman Tuhan yang telah ditulis ribuan tahun lalu itu bukan sekadar kisah sejarah masa lampau. Lebih dari itu Firman Tuhan itu senantiasa terjelma secara baru dalam kehidupan orang beriman, dalam kehidupan kita. Firman Tuhan itu tidak pernah kedaluwarsa, tidak mengenal masa expire. Mengapa? Karena Roh Kudus senantiasa menyertai setiap orang untuk memaknai Firman itu sesuai dengan tingkat pemahaman dan kebutuhannya dalam hidup. Bagi setiap orang Firman Tuhan itu berbicara dan memberi pesan secara baru.
Keyakinan kita akan kuasa Roh Kudus yang menyertai setiap Firman Tuhan membuat kita sadar bahwa setiap kali kita membaca, merenungkan Firman Tuhan, di sana kita akan mendapatkan pesan untuk kehidupan kita. Penggalan Injil Lukas hari ini juga hadir dengan pelbagai pesan bermakna untuk kita. Teks injil ini termasuk teks yang unik dan spesial karena hanya Lukas yang mencatat peristiwa menghidupkan orang mati dan mencatan lokasinya di kota Nain. Kalau kita membaca peta tanah suci kita akan temukan kota Nain itu terletak di Wilayah Galiea Selatan dekat dengan perbatasan Samaria. Dua tahun lalu setelah saya merayakan misa di Gereja Kana bersama rombongan peziarah kami bergerak arah selatan ke kota Nasareth dan masuk ke Basilika Kabar Gembira tempat Maria menerima Kabar Malaikat dan dari sana terus ke selatan agak ke timur kami tiba di tempat yang nama Nain persis di lokasi Yesus menghidupan Purta Nain dalam injil tadi. Nain berada di bagian paling selatan Galilea dan untuk ke sana Yesus datang dari Kafernaum yang terletak bagian utara danau Galiea. Kafernaum menjadi kampung Yesus dan di Kafernaum itu ada gereja delapan Sabda Bahagia, gereja pengangkatn Petrus, dan Gereja Perbanyakan Roti.
Nama Nain menurut pemandu yang membawa kami ke sana berarti “padang rumput hijau” atau tempat yang “menyenangkan”. Kisah yang disuguhkan injil menggambarkan bahwa di dekat pintu gerbang Nain ditampilkan situasi yang sungguh berlawanan dengan arti nama itu. Saat YESUS berada di dekat pintu gerbang kota Nain, terjadi sesuatu yang menyedihkan karena putra tungal seorang janda mati dan diusung ke luar. Dilihat dari banyaknya orang yang mengiringi janda, dapat disimpulkan janda ini adalah seorang yang baik hati dan disayangi tetangga maupun penduduk kota Nain. Di dekat gerbang kota Nain itu terjadi pertemuan dua rombongan besar manusia. Rombongan pertama yang keluar dari kota mengusung orang mati dan rombongan kedua yaitu rombongan yang menyertai Yesus yang bergerak hendak memasuki kota.
Perjumpaan dua rombongan manusia dengan arah tujuan yang berlawanan itu telah menjadikan gerbang kota itu menjadi tempat penting. Gerbang Nain menjadi monumen peringatan pernyataan kasih Allah untuk manusia. Gerbang Nain menjadi tugu peringatan Kasih Allah yang menyelematkan. Di gerbang Nain ada perjumpaan aneka rasa yang membaur. Yang mau masuk kota ingin mendapatkan kegembiraan dan kesenangan sedangkan yang keluar kota justru mengusung duka karena sedang mengusung jenazah. Di antara benturan rasa yang bertentangan itu Yesus menyatakan perasaan-Nya. Untuk itu Yesus melakukan serentetan tindakan yang penting untuk kita maknai dan renungkan. Tindakan penting itu terlihat pada ayat yang berbunyi: Dan ketika TUHAN melihat janda itu, tergeraklah hati-NYA oleh belas kasihan, lalu IA berkata kepadanya: "Jangan menangis!" Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya dan berkata: Hai Anak Muda bangkitlah!”. Dalam ayat ini kita temukan tujuh kata kerja penting yaitu melihat, tergerak, berkata, menangis, menghampiri, menyentuh, bangkit.
Melihat. Hal yang pertama dilakukan Yesus adalah melihat sang janda. Melihat di sini berarti mengamati dalam rangka memahami perasaan sang janda. Ketepatan pengamatan dan pengelihatan Yesus terhadap janda itu menentukan reaksi dan sikap Yesus. Pengelihatan dan pengamatan Yesus adalah memahami secara benar perasaan sang janda. Tanggapan yang tepat dan sesuai terhadap sesuatu masalah sangat ditentukan kualitas pengamatan dan pemahaman akan masalah. Di sini Yesus mau mengajarkan kita bahwa untuk dapat memberikan tanggapan yang tepat terhadap setiap persoalan kita harus bisa melihat secara tepat dan jernih.
Gerak dan Ketergerakan Hati. Setelah Yesus memahami masalah yang menimpa sang janda yang dilihat dan diamati-Nya hati Yesus tergerak oleh peraaan belas kasihan. Tergerak di sini merujuk pada sikap yang spontan memberikan tanggapan terhadap masalah yang dihadapi. Hati Yesus tergerak melihat keadaan janda itu, mau mengajarkan kita secepatnya memberikan tanggapan terhadap masalah yang dihadapi sesama. Dengan kata lain Yesus mengajak kita untuk tanggap dan peka terhadap kebutuhan orang lain. Dasar sikap tanggap itu bukan karena ada pertimbangan lain selain rasa belas kasih. Hati Yesus tergerak karena belas kasihan terhadap sang janda Nain. Berbelaskasihan bukan sekadar simpati tetapi harus sampai pada sikap empati tanpa syarat.
Berkata berkomunikasi. Bagi Yesus masalah Janda Nain itu tidak cukup hanya dengan melihatnya lalu bersikap empati. Bagi Yesus komunikasi verbal dengan kata-kata menjadi penting dalam mengatasi masalah dalam kehidupan. Berkomunikasi untuk mengatasi masalah mengharuskan orang memilih kata yang tepat. Pilihan kata Yesus untuk sang janda sangat tepat yaitu Jangan menangis.
Menangis adalah bahasa universal pengungkap rasa. Janda Nain menangis kesedihan atas kematian putra tunggalnya. Yesus melarang janda itu menangis bukan karena menangis itu buruk, Buktinya Yesus sendiri juga menangisi kematian Lazarus. Lalu mengapa Yesus melarang janda itu menangis? Jawabannya karena air mata membuat pandangan seseorang menjadi kabur, tidak jernih melihat objek. Yesus melarang janda itu menangis dengan tujuan agar dia bisa melihat orang di hadapannya secara benar. Tangisan dan air mata, bisa mengaburkan mata orang untuk melihat Tuhan. Kita, baca pengalaman Maria Magdalena yang menangis di makam Yesus setelah kebangkitan. Ketika dia menangis dia tidak mengenal Yesus yang bangkit, tetapi begitu Yesus meintanya jangan menangis Maria Magdalena mengenal Yesus. Kata-kata larangan menangis ini disampaikan Yesus untuk mengingatkan setiap orang beriman agar dalam menghadapi persoalan hidup kita harus memandang Tuhan dalam pandangan jernih.
Menghampiri, usaha untuk semakin dekat. Yesus yang berpapasan dengan rombongan pengusung jenazah setelah memahami perasaan sang janda berusha untuk mendkati pengusung jenazah. Peti jenazah itu menjadi bagi sang janda. Yesus yang berbelaskasih berusaha mendekati masalah sebelum mengatasi malasah. Tindakan Yesus ini juga menjadi ajakan bagi kita pengikutnya untuk melihat masalah dari dekat sehingga pemcahannya tepat. Hanya orang yang tahu masalah akam mampu mengatasi masalah.
Menyentuhnya melibatkan diri dengan risiko. Yesus bukan hanya mendekati masalah menghampir usungan tetapi lebih dari itu Ia menyentuh peti jenazah. Niat hati Yesus untuk mengatasi masalah sang janda tidak cukup dengan melihat, dengan kata-kata tetapi harus diwujudkan dalam tindakan. Yesus menyentuh berarti Yesus sungguh melibatkan diri dalam masalah itu saebelum mengatasinya. Yesus menyentuh peti jenazah adalah tindakan dengan risiko besar. Dalam adat Yahudi yang menyntuh jenazah dianggap najis selama tujuh hari. Niat dan belaskasih Yesus mengalahkan hukum adat itu dan justru sentuhan Yesus yang diserati dengan kata-kata yang penuh kuasa membangkitkan pemuda Nain itu. Bangkitlah Rentetan tindakan Yesus menghasilkan mukjizat besar sekaligus mengatasi masalah sang janda Nain.
Sebagai pengikut Kristus kita bisa menjadi kelompok yang bergabung dengan Janda Nain keluar kota sambil menangis mengusung masalah kehidupan kita. Kita juga kita menjadi kelompok yang tergabung dengan Yesus yang memaski kota. Jika saat ini kita masuk kelompok janda Nain yang keluar kota dengan masalah kita apa beban hidup yang kita usung supaya bisa ditasai Yesus yang kita jumpai dalam hidup kita? Seandainya saat ini kita menjadi salah seorang yang mamasuki kota Nain boleh jadi kita akan menjumpai begitu banyak orang yang mengalami nasib seperti janda Nain menghadapi masalah kematian anaknya. Untuk zaman kita ada banyak janda Nain dan ada banyak kematian yang dihadapi. Keluarga-keluarga Kristen yang terbelit dan terlilit dalam pelbagai macam masalah adalah janda-Janda Nain zaman kita. Kehidupan yang jauh dari hukum Tuhan adalah jenis kematian zaman kita. Semoga kita belajar meringankan penderitaan sesama seperti yang ditunjukkan Yesus kepada Janda di Kota Nain. Tuhan memberkati kita. Amin
Claket, 9 Juni 2013
1Raj 17:17 24; Gal 1:11 19; Luk 7:11 17
Paroki Lawang
Buka
Hari ini Tuhan melalui Firman-Nya menampilkan sederetan kisah kebaikan Tuhan untuk manusia. Mukjizat yang digambarkan dalam bacaan hari ini mau menengaskan kepada kita betapa Tuhan peduli terhadap nasih hidup dan kehidupan manusia. Kalau Tuhan sudah peduli terhadap nasib hidup dan kehodupan kita, maka sebagai pengikut Kristus kita dituntut untuk peduli terhadap masalah dan kebutuhan sesama kita. Dalam kenyataan munkgin kita sering menutup mata, menutup telinga, menutup hati, terhadap masalah sesama bahkan menjauh dari sesama yang bermasalah. Kita memohon pengampunan Tuhan seraya memohon kekuatan agar kita belajar pada Yesus yang memiliki Hati yang berbelas kasih.
Renungan
Gerak, bergerak, gerakan adalah bahasa kehidupan. Makhluk dikatakan hidup kalau dia bisa bergerak. Mati, kematian adalah gambaran kondisi atau keadaan tanpa gerakan. Tidak bisa bergerak adalah tanda kematian. Firman Tuhan dalam tiga bacaan hari ini berkaitan dengan dua dimensi pokok kehidupan kita. Hidup dan mati, merupakan dua kenyataan yang mewarnai ziarah hidup kita manusia. Ketika menyadari bahwa kita hidup, sesungguhnya kita mengamini kematian kita. Sebaliknya, ketika kita membayangkan kematian kita sesungguhnya kita menyadari diri sebagai sesuatu yang hidup. Hidup dan mati merupakan dua titik yang dilalui setiap makhluk hidup. Meskipun manusia mengalami nasib seperti hewan dan tumbuhan kehidupan dan kematian kita manusia jelas berbeda dengan hidup dan kematian hewan dan tumbuhan. Kehidupan dan kematian manusia sebagai cintra Allah adalah kehidupan dan kematian yang pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan sebagai asal dan sekaligus tujuan hidup manusia.
Tuntutan akan adanya pertanggungjawaban kita akan hidup dan kehidupan sebagai citra Allah pada titik akhir mengharuskan kita memaknai dan memberi arti pada kehidupan kita. Ketiga bacaan hari ini mau menyadarkan sekaligus mengingatkan kita bahwa kehidupan kita akan berakhir, kehidupan kita ini hanyalah sementara. Kesadaran akan kesementaraan hidup seperti ini, harus ada dan mewarnai cara hidup kita. Bahwa kematian akan menjemput itu pasti tetapi yang kita inginkan adalah kematian secara baik. Kerinduan dan dambaan setiap orang akan kematian secara baik hanya bisa dicapai melalui cara hidup yang baik. Kematian yang baik adalah buah dari kehidupan yang baik. Santu Agustinus pernah berkata: Barang siapa yang hidup baik akan mengalami kematian yang baik tetapi siapa yang menjalani kehidupan secara buruk jangan pernah mengharapkan kematian yang baik.
Kesadaran akan cara hidup yang buruk seperti ini diungkapkan seorang ibu kost tempat Elia menumpang dalam bacaan pertama. Ibu kost itu menyadari bahwa Elia adalah utusan Allah yang singgah dan menginap di rumahnya. Saat Elia menetap di sana putri sang ibu kost sakit lalu mati. Kematian sang putri itu menyadarkan sang ibu akan kesalahannya dalam hidup. Kesadaran itu muncul dalam pertanyaannya untuk Elia: Apakah engkau menumpang di rumahku untuk mengingatkan kesalahanku dan menyebabkan kematian putriku? Elia meneruskan pertanyaan itu kepada Yahwe yang mengutusnya sekaligus berdoa agar Tuhan menunjukkan kuasa membangkitkan putri yang meninggal itu. Doa dan harapan sang Ibu yang diteruskan Elia mendapat jawaban dari Yahwe sehingga sang putri hidup kembali. Peristiwa dramatis itu berakhir dengan pengakuan sang ibu akan kuasa dan kebenaran Firman Tuhan yang disampaikan nabi.
Mukjizat yang dilakukan Elia dalam bacaan pertama dimaksudkan agar orang yang mendengarkan dan menyaksikan peristiwa itu termasuk sang ibu yang menyadari kesalahan yang dialkukan sebelumnya yakin bahwa Tuhan berkuasa atas kehidupan dan kematian. Kesadaran itu harus diwartakan terutama kebenaran bahwa Allah itu bukan Allah orang Mati melainkan Allah orang hidup. Pewartaaan tentang kuasa Tuhan seperti ini secara nyata terjadi dalam pewartaan Paulus. Dalam suratnya kepada Jemaat Galatia hari ini Paulus menegaskan kepada kita tentang bagaimana Allah menjadikan Paulus sebagai pewarta Firman Tuhan kepada segala bangsa. Paulus sungguh yakin bahwa Allah telah menyatakan sang Putra kepadanya dan sang Putra itulah yang diwartakannya kepada segala bangsa.
Bagi Paulus apa yang diwartakannya adalah benar. Baginya berita gembira yang disebarkannya bukanlah berita bohong. “Injil yang kuberitakan bukanlan injil manusia dan ajaran buatan manusia melainkan injil dan ajaran yang diterima dari Yesus sendiri”. Dengan kata lain, kata-kata dan tindakan Paulus adalah kata-kata dan tindakan atas nama Tuhan yang menggunakan dirinya. Pengalaman pertobatan diri Paulus telah menjadi pemicu dan pemacu semangat pewartaannya kepada segala bangsa. Dalam bacaan pertama mukjizat yang dilakukan Elia membangkitkan iman seorang ibu, dan dalam bacaan kedua Mukjizat yang dialami Paulus telah menggerakkan dan menjiwai seluruh dinamika pewartaannya di berbagai tempat dengan segala situasinya.
Kalau kita mencermati pelbagai kisah tentang mukjizat di dalam kitab suci baik yang terjadi dalam perjanjian lama maupun yang terjadi dalam perjanjilan baru seperti yang dikisahkan dalam bacaan-bacaan hari ini pada dasarnya mau menegaskan kepada kita tentang peran, keterlibatan, intervensi Allah terhadap situasi manusia. Mukjizat dihadirkan Allah dalam situasi kekinian dan kesinian (kini dan di sini) yang dialami manusia. Itu artinya, setiap mukjizat selalu terikat pada konteks situasi dan kehidupan manusia. Karena itu logis dan masuk akal setiap mukjizat itu membawa makna dan pesan bagi kehidupan manusia. Dalam bimbingan kuasa Roh Kudus kisah mukjizat yang telah tertulis dalam konteks tertentu itu tetap memberi inspirasi dan pesan bagi kehidupan manusia sepanjang zaman. Sebagai orang beriman kita sungguh yakin bahwa Firman Tuhan yang telah ditulis ribuan tahun lalu itu bukan sekadar kisah sejarah masa lampau. Lebih dari itu Firman Tuhan itu senantiasa terjelma secara baru dalam kehidupan orang beriman, dalam kehidupan kita. Firman Tuhan itu tidak pernah kedaluwarsa, tidak mengenal masa expire. Mengapa? Karena Roh Kudus senantiasa menyertai setiap orang untuk memaknai Firman itu sesuai dengan tingkat pemahaman dan kebutuhannya dalam hidup. Bagi setiap orang Firman Tuhan itu berbicara dan memberi pesan secara baru.
Keyakinan kita akan kuasa Roh Kudus yang menyertai setiap Firman Tuhan membuat kita sadar bahwa setiap kali kita membaca, merenungkan Firman Tuhan, di sana kita akan mendapatkan pesan untuk kehidupan kita. Penggalan Injil Lukas hari ini juga hadir dengan pelbagai pesan bermakna untuk kita. Teks injil ini termasuk teks yang unik dan spesial karena hanya Lukas yang mencatat peristiwa menghidupkan orang mati dan mencatan lokasinya di kota Nain. Kalau kita membaca peta tanah suci kita akan temukan kota Nain itu terletak di Wilayah Galiea Selatan dekat dengan perbatasan Samaria. Dua tahun lalu setelah saya merayakan misa di Gereja Kana bersama rombongan peziarah kami bergerak arah selatan ke kota Nasareth dan masuk ke Basilika Kabar Gembira tempat Maria menerima Kabar Malaikat dan dari sana terus ke selatan agak ke timur kami tiba di tempat yang nama Nain persis di lokasi Yesus menghidupan Purta Nain dalam injil tadi. Nain berada di bagian paling selatan Galilea dan untuk ke sana Yesus datang dari Kafernaum yang terletak bagian utara danau Galiea. Kafernaum menjadi kampung Yesus dan di Kafernaum itu ada gereja delapan Sabda Bahagia, gereja pengangkatn Petrus, dan Gereja Perbanyakan Roti.
Nama Nain menurut pemandu yang membawa kami ke sana berarti “padang rumput hijau” atau tempat yang “menyenangkan”. Kisah yang disuguhkan injil menggambarkan bahwa di dekat pintu gerbang Nain ditampilkan situasi yang sungguh berlawanan dengan arti nama itu. Saat YESUS berada di dekat pintu gerbang kota Nain, terjadi sesuatu yang menyedihkan karena putra tungal seorang janda mati dan diusung ke luar. Dilihat dari banyaknya orang yang mengiringi janda, dapat disimpulkan janda ini adalah seorang yang baik hati dan disayangi tetangga maupun penduduk kota Nain. Di dekat gerbang kota Nain itu terjadi pertemuan dua rombongan besar manusia. Rombongan pertama yang keluar dari kota mengusung orang mati dan rombongan kedua yaitu rombongan yang menyertai Yesus yang bergerak hendak memasuki kota.
Perjumpaan dua rombongan manusia dengan arah tujuan yang berlawanan itu telah menjadikan gerbang kota itu menjadi tempat penting. Gerbang Nain menjadi monumen peringatan pernyataan kasih Allah untuk manusia. Gerbang Nain menjadi tugu peringatan Kasih Allah yang menyelematkan. Di gerbang Nain ada perjumpaan aneka rasa yang membaur. Yang mau masuk kota ingin mendapatkan kegembiraan dan kesenangan sedangkan yang keluar kota justru mengusung duka karena sedang mengusung jenazah. Di antara benturan rasa yang bertentangan itu Yesus menyatakan perasaan-Nya. Untuk itu Yesus melakukan serentetan tindakan yang penting untuk kita maknai dan renungkan. Tindakan penting itu terlihat pada ayat yang berbunyi: Dan ketika TUHAN melihat janda itu, tergeraklah hati-NYA oleh belas kasihan, lalu IA berkata kepadanya: "Jangan menangis!" Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya dan berkata: Hai Anak Muda bangkitlah!”. Dalam ayat ini kita temukan tujuh kata kerja penting yaitu melihat, tergerak, berkata, menangis, menghampiri, menyentuh, bangkit.
Melihat. Hal yang pertama dilakukan Yesus adalah melihat sang janda. Melihat di sini berarti mengamati dalam rangka memahami perasaan sang janda. Ketepatan pengamatan dan pengelihatan Yesus terhadap janda itu menentukan reaksi dan sikap Yesus. Pengelihatan dan pengamatan Yesus adalah memahami secara benar perasaan sang janda. Tanggapan yang tepat dan sesuai terhadap sesuatu masalah sangat ditentukan kualitas pengamatan dan pemahaman akan masalah. Di sini Yesus mau mengajarkan kita bahwa untuk dapat memberikan tanggapan yang tepat terhadap setiap persoalan kita harus bisa melihat secara tepat dan jernih.
Gerak dan Ketergerakan Hati. Setelah Yesus memahami masalah yang menimpa sang janda yang dilihat dan diamati-Nya hati Yesus tergerak oleh peraaan belas kasihan. Tergerak di sini merujuk pada sikap yang spontan memberikan tanggapan terhadap masalah yang dihadapi. Hati Yesus tergerak melihat keadaan janda itu, mau mengajarkan kita secepatnya memberikan tanggapan terhadap masalah yang dihadapi sesama. Dengan kata lain Yesus mengajak kita untuk tanggap dan peka terhadap kebutuhan orang lain. Dasar sikap tanggap itu bukan karena ada pertimbangan lain selain rasa belas kasih. Hati Yesus tergerak karena belas kasihan terhadap sang janda Nain. Berbelaskasihan bukan sekadar simpati tetapi harus sampai pada sikap empati tanpa syarat.
Berkata berkomunikasi. Bagi Yesus masalah Janda Nain itu tidak cukup hanya dengan melihatnya lalu bersikap empati. Bagi Yesus komunikasi verbal dengan kata-kata menjadi penting dalam mengatasi masalah dalam kehidupan. Berkomunikasi untuk mengatasi masalah mengharuskan orang memilih kata yang tepat. Pilihan kata Yesus untuk sang janda sangat tepat yaitu Jangan menangis.
Menangis adalah bahasa universal pengungkap rasa. Janda Nain menangis kesedihan atas kematian putra tunggalnya. Yesus melarang janda itu menangis bukan karena menangis itu buruk, Buktinya Yesus sendiri juga menangisi kematian Lazarus. Lalu mengapa Yesus melarang janda itu menangis? Jawabannya karena air mata membuat pandangan seseorang menjadi kabur, tidak jernih melihat objek. Yesus melarang janda itu menangis dengan tujuan agar dia bisa melihat orang di hadapannya secara benar. Tangisan dan air mata, bisa mengaburkan mata orang untuk melihat Tuhan. Kita, baca pengalaman Maria Magdalena yang menangis di makam Yesus setelah kebangkitan. Ketika dia menangis dia tidak mengenal Yesus yang bangkit, tetapi begitu Yesus meintanya jangan menangis Maria Magdalena mengenal Yesus. Kata-kata larangan menangis ini disampaikan Yesus untuk mengingatkan setiap orang beriman agar dalam menghadapi persoalan hidup kita harus memandang Tuhan dalam pandangan jernih.
Menghampiri, usaha untuk semakin dekat. Yesus yang berpapasan dengan rombongan pengusung jenazah setelah memahami perasaan sang janda berusha untuk mendkati pengusung jenazah. Peti jenazah itu menjadi bagi sang janda. Yesus yang berbelaskasih berusaha mendekati masalah sebelum mengatasi malasah. Tindakan Yesus ini juga menjadi ajakan bagi kita pengikutnya untuk melihat masalah dari dekat sehingga pemcahannya tepat. Hanya orang yang tahu masalah akam mampu mengatasi masalah.
Menyentuhnya melibatkan diri dengan risiko. Yesus bukan hanya mendekati masalah menghampir usungan tetapi lebih dari itu Ia menyentuh peti jenazah. Niat hati Yesus untuk mengatasi masalah sang janda tidak cukup dengan melihat, dengan kata-kata tetapi harus diwujudkan dalam tindakan. Yesus menyentuh berarti Yesus sungguh melibatkan diri dalam masalah itu saebelum mengatasinya. Yesus menyentuh peti jenazah adalah tindakan dengan risiko besar. Dalam adat Yahudi yang menyntuh jenazah dianggap najis selama tujuh hari. Niat dan belaskasih Yesus mengalahkan hukum adat itu dan justru sentuhan Yesus yang diserati dengan kata-kata yang penuh kuasa membangkitkan pemuda Nain itu. Bangkitlah Rentetan tindakan Yesus menghasilkan mukjizat besar sekaligus mengatasi masalah sang janda Nain.
Sebagai pengikut Kristus kita bisa menjadi kelompok yang bergabung dengan Janda Nain keluar kota sambil menangis mengusung masalah kehidupan kita. Kita juga kita menjadi kelompok yang tergabung dengan Yesus yang memaski kota. Jika saat ini kita masuk kelompok janda Nain yang keluar kota dengan masalah kita apa beban hidup yang kita usung supaya bisa ditasai Yesus yang kita jumpai dalam hidup kita? Seandainya saat ini kita menjadi salah seorang yang mamasuki kota Nain boleh jadi kita akan menjumpai begitu banyak orang yang mengalami nasib seperti janda Nain menghadapi masalah kematian anaknya. Untuk zaman kita ada banyak janda Nain dan ada banyak kematian yang dihadapi. Keluarga-keluarga Kristen yang terbelit dan terlilit dalam pelbagai macam masalah adalah janda-Janda Nain zaman kita. Kehidupan yang jauh dari hukum Tuhan adalah jenis kematian zaman kita. Semoga kita belajar meringankan penderitaan sesama seperti yang ditunjukkan Yesus kepada Janda di Kota Nain. Tuhan memberkati kita. Amin
Claket, 9 Juni 2013
Saturday, June 1, 2013
PESTA TUBUH DAN DARAH KRISTUS
Pesta Tubuh dan Darah Kristus 2 Juni 2013
Kej.14,18-20; 1Kor.11,23-26; Luk.9,11b-17
Gereja Paroki Maria Diangkat ke Surga Leli, Malang
Buka
Perayaan Ekaristi itu adalah perayaan perjumpaan kita dengan Tuhan yang telah memberikan diri dan hidup-Nya untuk kita. Perayaan Ekaristi adalah perayaan kerelaan Tuhan untuk berbagi kepada kita manusia. Yesus memberi tubuh dan darah-Nya agar kita belajar memberikan diri kita untuk kepentingan banyak orang. Panggilan kemuridan kita dalam konteks injil hari ini boleh dikatakan sebagai panggilan untuk menjadi sepotong roti atau seekor ikan yang siap digandakan dan dibagikan kepada orang lain. Kita bersoa memohonkan rahmat Tuhan agar kekuatan Tubuh dan Darah-Nya yang diberikan kepada kita dan yang kita terima membantu kita untuk belajar memberi. Sekian sering kita lebih banyak menunggu menerima dan enggan untuk berinisiatif meberi dan berbagi. Itulah kelemahan yang harus kita akui pada awal perayaan misa hari raya Tubuh dan Darah Kristus ini.
Renungan
Kalau kita mencermati kehidupan kita, maka tampak jelas bagi kita bahwa dari dahulu sampai sekarang, bahkan sampai kapun pun manusia selalu sibuk melakukan segala sesuatu. Kesibukan itulah yang membuat ruas-ruas jalan macet, pasar-pasar ramai, supermaket dan pusat-pusat perbelanjaan penuh dengan manusia. Manusia tampaknya selalu bergerak di mana-mana dan bergerak ke mana-mana. Andaikan kita renungan sejenak segala macam kesibukan itu, maka kita akan menemukan alasan yang paling utama dari segala macam kesibukan manusia. Tampaknya ada bagian tubuh kita manusia yang memaksa kita untuk terus sibuk dan sibuk terus. Bagian mana dari tubuh manusia yang membuat kita harus sibuk dari waktu ke waktu bahkan sepanjang waktu? Tanpa kita sadari ternyata pikiran dan otak kita bukan lagi yang mengendalikan kesibukan kita. Bagian tubuh manusia yang mengendalikan kesibukan adalah perut kita. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan akan makan minum tampaknya menjadi asalan utama dan pertama untuk setiap model kesibukan kita manusia.
Orang sibuk di mana-mana dan sibuk ke mana-mana pada akhirnya kalau ditanya mengapa sibuk jawabannya adalah untuk mempertahankan hidup. Upaya mempertahankan hidup untuk manusia pasti merujuk pada pemenuhan kebutuhan perut berkaitan dengan makan minum. Dengan ini jelaslah bagi kita bahwa orang sibuk untuk mendapatkan makan minum, juga jelas bagi kita orang tidak mungkin bisa sibuk tanpa makan minum. Jadi, logika kehidupan manusia bisa dirumuksan demikian: sibuk untuk mendapatkan makan minum dan makan minim untuk menjalankan kesibukan. Sederhananya, orang bisa bekerja supaya mendapatkan makanan dan dengan makanan orang bisa bekerja dengan baik. Dari jalan pikiran seperti ini juga menjadi jelas bagi kita bahwa makanan adalah kehidupan. Tanda orang hidup adalah membutuhkan makanan. Kehidupan ditentukan oleh jenis makanan. Lama atau singkatnya kehidupan seseorang juga ditentukan oleh jenis makanan dan minuman. Diet dan menu makanan itu hanya untuk orang yang masih hidup dan ditentukan dalam rangka mempertahankan dan memperpanjang kehidupan. Dan, kenyataan hidup setiap hari membuktikan kepada kita bahwa dalam pelbagai jenis kegiatan biaya yang paling besar biasanya berkaitan dengan perkara makan minim.
Firman Tuhan yang diperdengarkan untuk kita dalam bacaan hari ini memang tidak secara langsung berbicara tentang pesta yang dilengkapi acara makan minum. Bacaan hari ini mempersoalkan makan minum bukan dalam konteks pesta melainkan makan minum dalam konteks misi perutusan atau misi pewartaan tentang keterlibatan Allah pada dimensi yang paling hakiki dari kehidupan manusia. Perbedaaan konteks inilah yang memungkinkan wacana makan minum itu dibahasakan secara metaforik dalam simbol makan minum yang biasa Dalam konteks kehidupan masyarakat Yahudi. Roti dan anggur yang diwacanakan dalam bacaan-bacaan hari ini mengacu pada konsep makan minum. Melalui bacaan pertama, kita mendengarkan kisah bagaimana Imam Melkisedekh mempersembahkan roti dan anggur sekaligus memberkati Abram. Kisah itu membuktikan secara meyakinkan bahwa Abram dihidupi, dibekali, disemangati, ditenagai kembali oleh kekuatan makanan yang dipersembahkan imam agung Melkisedekh. Tindakan imam Melkisedekh ini membawa konsekuensi yang luar biasa pada dan kehidupan diri Abram. Abram yang dihidupi dan dijamin Allah harus membalas kebaikan keramahtamahan serta kemurahan hati Imam Melkisedekh itu dengan menyerahkan sebagian rampasan dan jarahan kepada imam agung itu.
Perkara makan minum dalam pengertian yang metaforik seperti ini dipertegas lagi dalam pewartaan Santu Paulus dalam Suratnya kepada jemaat Korintus tadi. Paulus mengangkat salah satu segmen kisah perihal aneka peruabahan dan pengalaman pribadinya. Paulus secara pribadi telah mengalami betapa Tuhan telah menghidupinya secara spiritual dalam episode pertobatannya. Pengalaman pribadi itulah yang Paulus teruskan kepada para pengikut Kristus. Karena itu, secara amat drmatis Paulus berkata: Saudara-saudara, apa yang telah kuterima dari Tuhan, kuteruskan kepadamu. Apa yang mau diteruskan Paulus itu? Hal yang mau diteruskan Paulus adalah pengalaman puncak perutusan Putra manusia yang memberi kehidupannya untuk manusia. Memberikan kehidupan bukan lagi dalam pengertian metaforik tetapi memberikan dirinya, tubuh dan darahnya untuk menjamin kelangsungan hidup dan perjuangan manusia. Paulus melandaskan pewartaannya itu dengan menukil episode puncak penyerahan diri Yesus. Ia mengangkat dan mewacanakan kembali segmen kisah perjamuan malam terakhir. Bagi Paulus, segmen puncak penyerahan diri Yesus haruslah menjadi kenangan abadi untuk semua orang yang percaya. Logika berpikir Paulus sederhana saja. Mau mengingat Tuhan berarti harus melaksanakan semua pesannya. Dimensi memorial atau dimensi peringatan akan Tuhan harus dan mesti mewarnai praktik hidup manusia yang rela berbagi tanpa merasa cemas akan kekurangan, rela memberi tanpa merasa cemas akan kehabisan. Memberi tanpa takut akan merasa kurang dan berbagi tanpa takut akan kehabisan adalah cara berbagi dan cara memberi yang harus menjiwai tindakan pemberian manusia. Model berbagi dan model memberi yang Yesus tunjukanadalah model yang mesti dan harus dilanjutkan para pengikut-Nya.
Kerelaan berbagi tanpa merasa kekurangan atau memberi tanpa merasa kehabisan adalah berita besar sekaligus menjadi tugas mulia untuk semua orang yang percaya. Santo Lukas dalam penggalan injil hari ini pada dasarnya mewacanakan suatu konsep yang berkaitan dengan urusan bagi membagi makanan. Perikop injil hari ini secara tegas menyatakan efek yang luar biasa dari tindakan berbagi itu. Ada kondisi yang menyenangkan atau menggembirakan sebagai puncak yang menggambarkan buah dari tindakan memberi dan bergai itu. Merasa kenyang adalah kondisi yang secara analogis mengacu pada keadaan kehidupan seseroang yang berkelimpahan dan berkecukupan. Kenyang adalah bahasa kehidupan karena dalam kondisi kenyang orang bergembira dan memungkinkannya untuk melakukan sesuatu.
Kondisi kenyang sebagai tanda kelimpahan dan kecukupan adalah keadaan yang dibangun atau dirajut oleh aneka tindakan sebelumnya. Kenyang itu adalah keadaan atau kondisi sesaat yang didahului dengan aneka hal sebagai prakondisi. Ribuan orang kenyang seperti yang dinarasikan Lukas dalam injil hari ini, hanyalah satu titik yang dihasilkan dari sederetan aktivitas dan sikap Yesus yang berinteraksi dengan para murid-Nya serta bersama ribuan orang yang mau mendengarkan pewartaan-Nya. Pewartaaan Yesus tergolong sukses luar biasa. Buktinya dalam tempo singkat ribuan orang telah mengikuti Dia. Andaikan waktu itu ada isu tentang pemilihan bupati atau walikota dan Yesus ikut sebagai calon independen, tentu Yesus akan keluar sebagai pemenang tunggal karena lima ribu orang pasti memilih-Nya.
Merasa kenyang biasanya terjadi kalau orang telah mendapat banyak dan makan banyak. Logislah rasanya kalau banyak orang yang kenyang itu artinya persediaaan makanan itu pasti banyak. kalau persediaaanya banyak maka logis pula kalau orang berpikir pasti seksi konsumsi itu banyak orang. Apa yang digambarkan dalam penggalan injil hari ini justru bertolak belakang dengan logika kehidupan biasa. Banyak orang kenyang dalam logika Yesus bukan terutama karena banyaknya persediaan makanan yang membuat orang kenyang. Jumlah atau takaran kuantitatif bagi Yesus bukanlah hal paling penting yang memungkinkan orang kenyang. Hal pokok yang membuat orang merasa kenyang dalam konteks pewartaan Yesus adalah sikap yang rela memberi untuk berbagi dengan orang lain. Sikap yang rela memberi dan mau berbagi dengan orang lain akan membawa dampak yang luar biasa kepada orang yang menerimanya. Kerelaaan berbagi dengan senang hati itulah yang menjadi resep atau kata kunci yang membuat ribuan orang merasa kenyang setelah menerima pembagian roti.
Mukjizat perbanyakan roti dalam injil tadi diajalin dari sederetan sikap rela memberi. Ketika hari sudah malam para murid meminta Yesus supaya segera menyuruh ribuan orang itu pergi mencari penginapan dan makan masing-masing. Mendengar itu, dalam hati Yesus muncul rasa dan keinginan untuk memberi tumpangan dan makanan kepada ribuan orang itu. Hal itu nyata dalam jawaban Yesus katanya: Tidak, tidak perlu mereka disuruh pergi karena kamu harus memberi mereka makan. Yesus menekankan aspek dan kata memberi. Pada saat seperti itu, pikiran dan hati para murid justru tertutup rapat karena mereka membayangkan kesulitan memberi makanan kepada ribuan orang. Dalam kondisi serba terbatas dan kekurangan manusia biasanya cenderung ingat diri. Saat itu kerelaan memberi itu hilang dari para murid.karena mereka masih terikat pada perhitungan matematis, tentang jumlah orang yang harus diberi makanan. Dalam proses itu terjadi kejutan pada diri para murid. Dalam nada datar dan pesimis para murid berkata: yang ada pada kami paling-paling 5 roti dan 2 ekor ikan. Kata-kata para murid itu adalah bahasa putus asa dan sering terjadi dalam hidup kita manusia. Dalam kondisi seperti itu hendak mengajarkan dan menunjukkan kepada mereka cara memberi yang membuat pemberian tidak akan kehabisan. Hal itu memang terbukti luar biasa. Lima roti dan dua ekor ikan yang dalam pandangan manusia itu tidak ada artinya justru bagi Yesus sangat berarti. Roti dan ikan yang terbatas itu dilipagandakan hanya kalau orang membaginya secara tulus dan dalam kerelaaan. Pertama Yesus memberikan roti itu dengan senang hati tanpa merasa kurang kepada para murid. Pengalaman menerima pemberian Yesus yang demikian simpatik itu memberi inspirasi kepada para murid untuk berlaku dan bertindak secara sama kepada siapa saja mereka memberikan roti itu. Semua murid membagi dengan rela tanpa merasa kurang. Situasi seperti itulah yang menguasai ribuan orang untuk membagi, memberi roti itu kepada satu sama lain. Sikap itulah yang menjadikan roti dan ikan itu selalu cukup bahkan berkelebihan. Telapak dan genggaman tangan Yesus yang terbuka secara penuh saat memberi roti kepada para murid untuk dibagikan mengjarkan para murid untuk memberi dengan cara yang sama. Telapak tangan dan para murid yang terbuka saat membagikan roti kepada orang lain memungkinkan mereka menerima lebih banyak lagi dari Tuhan. Saat berziarah ke Israel tahun lalu saya juga sempat berdoa di gereja perbanyakan Roti tadi. Di dalam gereja itu ada tempat yang dipagar dan Tulisan Mensa Christi (Meja Kristus). Tempat itu merupakan tempat lima roti dan dua ikan diletakan sebelum dibagikan. Gereja ituberdekatan dengan gereja delapan Sabda bahagia dan gereja Pengangkatan Petrus menjadi gembali. Tempat itu berada di sebelah utara danau Galiea dan jaraknya 3 km dari kota Kafernaum.
Hari ini kita merayakan Pesta Tubuh dan Darah Kristus. Mengapa harus ada pesta seperti ini? Jawabannya, karena jiwa manusia membutuhkan makanan sebagaimana halnya badan dan fisik kita. Kalau kebutuhan fisk, tubuh jasmani kita dihidupi oleh makanan jasmani, maka jiwa kita membutuhkan makanan rohani yang secara simbolik hadir dalam ekaristi dalamnya kita menyambut tubuh dan darah Kristus. Yesus membagi dan memberi bukan sebatas kebutuhan fisik jasmani kita, melainkan memberi dan membagikan diri-Nya sendiri yang diimani hadir secara sakramental. Kalau dalam kisah perbanyakan Roti Yesus memberi roti dan ikan untuk kebutuhan fisik maka dalam pesta tubuh dan Darahnya hari ini atau dalam Ekaristi Yesus memberi dirinya secara penuh kepada kita yang mengimani dan mengamini-Nya.
Apa balasan kita, balasan Anda semua dan balasan saya terhadap kasih dan kebaikan Tuhan yang memberi hidup dan diri-Nya untuk kita? Jawabannya yang mungkin tepat untuk kita adalah belajar untuk memberi dalam kerelaan dan ketulusan. Tuhan sudah membekali kita semua dengan roti dan ikan dalam pelbagai bentuk talenta dan karunia dengan harapan agar kita bisa membagikannya kepada orang lain. Roti dan ikan kita adalah bakat-bakat kita, ilmu-ilmu kita, kebaikan-kebaikan kita, kelebihan kita. Semuanya itu akan terasa kurang jika kita gunakannya untuk diri kita sendiri. Semuanaya tidak akan berkembang kalau tetap berada dalam kepalan dan gengaman tangan kita.
Seorang Bapa namanya Pak Pelit. Suatu pagi ia melintas di bagian belakang rumah tetangganya. Pak Pelit tiba-tiba menghilang dan ternyata ia jatuh terjerumus ke dalam lubang sampah milik tetangga. Lubang sampah itu cukup dalam. Beberapa orang yang lewat di sana ingin menolong Pak Pelit. Tiga orang pertama meminta Pak Pelit untuk memberikan tangannya agar bisa ditarik keluar. Ayo, Pak BERI tanganmu biar kami menarikmu keluar. Pak Pelit tidak menanggapinya. Kemudian datang orang keempat. Ayo, Pak TERIMA tanganku biar aku manrikmu keluar. Pak Pelit menerima tangan orang itu dan ia berhasil ditarik dari lubang sampah. Ketiga orang sebelumnya heran mengapa Pak Pelit baru bereaksi kepada orang terakhir. Orang keempat itu menjalaskan. Anda bertiga salah memberi perintah kepada Pak Pelit. Anda meminta dia MEMBERI TANGAN KEPADAMU. Anda mesti tahu Pak Pelit itu seorang yang sulit MEMBERI. Karena itu dia tidak rela memberikan tangannya. Saya berhasil karena saya meminta Pak Pelit untuk MENERIMA dan itu cocok dengan sifatnya yang hanya mau MENERIMA.
Mukjizat perbanyakan Roti dalam injil tadi adalah mukjizat berkaitan dengan cara memberi. Bukan soal cara menerima. Yesus telah memberikan seluruh diri dan hidupnya untuk kita sebagai mukjizat tergaung dan termulia yang kita imani. Dia telah memberikan Tubuh dan Darah-Nya dalam ekaristi yang kita rayakan. Tujuannya agar kita belajar untuk memberi dari apa yang Tuhan berikan kepada kita melalui tugas panggilan kita. Sebagai pengikut Kristus hari ini dan di sini kita mendapat perintah dan amanat dari Yesus. Perintah Yesus singkat dan jelas: “KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN”. Sebagai orang beriman yang telah menerima Tubuh dan Darah Tuhan kita dipanggil untuk belajar dan menjadikan diri dan hidup kita sebagai pemberian kepada orang lain. Jika semangat itu ada dalam diri dan hidup kita… maka yakinlah hari ini, besok ,dan sepanjang hidup kita akan menjadi rentetan mukjizat memungkinkan semakin banyak orang mengenal dan mencintai Tuhan. Marilah kita terus belajar untuk memberi dan Tuhan memberkati kita… Amin
cLaKeT, 21 Malang 2 Juni 2013
Rm. Bone Rampung, Pr
Kej.14,18-20; 1Kor.11,23-26; Luk.9,11b-17
Gereja Paroki Maria Diangkat ke Surga Leli, Malang
Buka
Perayaan Ekaristi itu adalah perayaan perjumpaan kita dengan Tuhan yang telah memberikan diri dan hidup-Nya untuk kita. Perayaan Ekaristi adalah perayaan kerelaan Tuhan untuk berbagi kepada kita manusia. Yesus memberi tubuh dan darah-Nya agar kita belajar memberikan diri kita untuk kepentingan banyak orang. Panggilan kemuridan kita dalam konteks injil hari ini boleh dikatakan sebagai panggilan untuk menjadi sepotong roti atau seekor ikan yang siap digandakan dan dibagikan kepada orang lain. Kita bersoa memohonkan rahmat Tuhan agar kekuatan Tubuh dan Darah-Nya yang diberikan kepada kita dan yang kita terima membantu kita untuk belajar memberi. Sekian sering kita lebih banyak menunggu menerima dan enggan untuk berinisiatif meberi dan berbagi. Itulah kelemahan yang harus kita akui pada awal perayaan misa hari raya Tubuh dan Darah Kristus ini.
Renungan
Kalau kita mencermati kehidupan kita, maka tampak jelas bagi kita bahwa dari dahulu sampai sekarang, bahkan sampai kapun pun manusia selalu sibuk melakukan segala sesuatu. Kesibukan itulah yang membuat ruas-ruas jalan macet, pasar-pasar ramai, supermaket dan pusat-pusat perbelanjaan penuh dengan manusia. Manusia tampaknya selalu bergerak di mana-mana dan bergerak ke mana-mana. Andaikan kita renungan sejenak segala macam kesibukan itu, maka kita akan menemukan alasan yang paling utama dari segala macam kesibukan manusia. Tampaknya ada bagian tubuh kita manusia yang memaksa kita untuk terus sibuk dan sibuk terus. Bagian mana dari tubuh manusia yang membuat kita harus sibuk dari waktu ke waktu bahkan sepanjang waktu? Tanpa kita sadari ternyata pikiran dan otak kita bukan lagi yang mengendalikan kesibukan kita. Bagian tubuh manusia yang mengendalikan kesibukan adalah perut kita. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan akan makan minum tampaknya menjadi asalan utama dan pertama untuk setiap model kesibukan kita manusia.
Orang sibuk di mana-mana dan sibuk ke mana-mana pada akhirnya kalau ditanya mengapa sibuk jawabannya adalah untuk mempertahankan hidup. Upaya mempertahankan hidup untuk manusia pasti merujuk pada pemenuhan kebutuhan perut berkaitan dengan makan minum. Dengan ini jelaslah bagi kita bahwa orang sibuk untuk mendapatkan makan minum, juga jelas bagi kita orang tidak mungkin bisa sibuk tanpa makan minum. Jadi, logika kehidupan manusia bisa dirumuksan demikian: sibuk untuk mendapatkan makan minum dan makan minim untuk menjalankan kesibukan. Sederhananya, orang bisa bekerja supaya mendapatkan makanan dan dengan makanan orang bisa bekerja dengan baik. Dari jalan pikiran seperti ini juga menjadi jelas bagi kita bahwa makanan adalah kehidupan. Tanda orang hidup adalah membutuhkan makanan. Kehidupan ditentukan oleh jenis makanan. Lama atau singkatnya kehidupan seseorang juga ditentukan oleh jenis makanan dan minuman. Diet dan menu makanan itu hanya untuk orang yang masih hidup dan ditentukan dalam rangka mempertahankan dan memperpanjang kehidupan. Dan, kenyataan hidup setiap hari membuktikan kepada kita bahwa dalam pelbagai jenis kegiatan biaya yang paling besar biasanya berkaitan dengan perkara makan minim.
Firman Tuhan yang diperdengarkan untuk kita dalam bacaan hari ini memang tidak secara langsung berbicara tentang pesta yang dilengkapi acara makan minum. Bacaan hari ini mempersoalkan makan minum bukan dalam konteks pesta melainkan makan minum dalam konteks misi perutusan atau misi pewartaan tentang keterlibatan Allah pada dimensi yang paling hakiki dari kehidupan manusia. Perbedaaan konteks inilah yang memungkinkan wacana makan minum itu dibahasakan secara metaforik dalam simbol makan minum yang biasa Dalam konteks kehidupan masyarakat Yahudi. Roti dan anggur yang diwacanakan dalam bacaan-bacaan hari ini mengacu pada konsep makan minum. Melalui bacaan pertama, kita mendengarkan kisah bagaimana Imam Melkisedekh mempersembahkan roti dan anggur sekaligus memberkati Abram. Kisah itu membuktikan secara meyakinkan bahwa Abram dihidupi, dibekali, disemangati, ditenagai kembali oleh kekuatan makanan yang dipersembahkan imam agung Melkisedekh. Tindakan imam Melkisedekh ini membawa konsekuensi yang luar biasa pada dan kehidupan diri Abram. Abram yang dihidupi dan dijamin Allah harus membalas kebaikan keramahtamahan serta kemurahan hati Imam Melkisedekh itu dengan menyerahkan sebagian rampasan dan jarahan kepada imam agung itu.
Perkara makan minum dalam pengertian yang metaforik seperti ini dipertegas lagi dalam pewartaan Santu Paulus dalam Suratnya kepada jemaat Korintus tadi. Paulus mengangkat salah satu segmen kisah perihal aneka peruabahan dan pengalaman pribadinya. Paulus secara pribadi telah mengalami betapa Tuhan telah menghidupinya secara spiritual dalam episode pertobatannya. Pengalaman pribadi itulah yang Paulus teruskan kepada para pengikut Kristus. Karena itu, secara amat drmatis Paulus berkata: Saudara-saudara, apa yang telah kuterima dari Tuhan, kuteruskan kepadamu. Apa yang mau diteruskan Paulus itu? Hal yang mau diteruskan Paulus adalah pengalaman puncak perutusan Putra manusia yang memberi kehidupannya untuk manusia. Memberikan kehidupan bukan lagi dalam pengertian metaforik tetapi memberikan dirinya, tubuh dan darahnya untuk menjamin kelangsungan hidup dan perjuangan manusia. Paulus melandaskan pewartaannya itu dengan menukil episode puncak penyerahan diri Yesus. Ia mengangkat dan mewacanakan kembali segmen kisah perjamuan malam terakhir. Bagi Paulus, segmen puncak penyerahan diri Yesus haruslah menjadi kenangan abadi untuk semua orang yang percaya. Logika berpikir Paulus sederhana saja. Mau mengingat Tuhan berarti harus melaksanakan semua pesannya. Dimensi memorial atau dimensi peringatan akan Tuhan harus dan mesti mewarnai praktik hidup manusia yang rela berbagi tanpa merasa cemas akan kekurangan, rela memberi tanpa merasa cemas akan kehabisan. Memberi tanpa takut akan merasa kurang dan berbagi tanpa takut akan kehabisan adalah cara berbagi dan cara memberi yang harus menjiwai tindakan pemberian manusia. Model berbagi dan model memberi yang Yesus tunjukanadalah model yang mesti dan harus dilanjutkan para pengikut-Nya.
Kerelaan berbagi tanpa merasa kekurangan atau memberi tanpa merasa kehabisan adalah berita besar sekaligus menjadi tugas mulia untuk semua orang yang percaya. Santo Lukas dalam penggalan injil hari ini pada dasarnya mewacanakan suatu konsep yang berkaitan dengan urusan bagi membagi makanan. Perikop injil hari ini secara tegas menyatakan efek yang luar biasa dari tindakan berbagi itu. Ada kondisi yang menyenangkan atau menggembirakan sebagai puncak yang menggambarkan buah dari tindakan memberi dan bergai itu. Merasa kenyang adalah kondisi yang secara analogis mengacu pada keadaan kehidupan seseroang yang berkelimpahan dan berkecukupan. Kenyang adalah bahasa kehidupan karena dalam kondisi kenyang orang bergembira dan memungkinkannya untuk melakukan sesuatu.
Kondisi kenyang sebagai tanda kelimpahan dan kecukupan adalah keadaan yang dibangun atau dirajut oleh aneka tindakan sebelumnya. Kenyang itu adalah keadaan atau kondisi sesaat yang didahului dengan aneka hal sebagai prakondisi. Ribuan orang kenyang seperti yang dinarasikan Lukas dalam injil hari ini, hanyalah satu titik yang dihasilkan dari sederetan aktivitas dan sikap Yesus yang berinteraksi dengan para murid-Nya serta bersama ribuan orang yang mau mendengarkan pewartaan-Nya. Pewartaaan Yesus tergolong sukses luar biasa. Buktinya dalam tempo singkat ribuan orang telah mengikuti Dia. Andaikan waktu itu ada isu tentang pemilihan bupati atau walikota dan Yesus ikut sebagai calon independen, tentu Yesus akan keluar sebagai pemenang tunggal karena lima ribu orang pasti memilih-Nya.
Merasa kenyang biasanya terjadi kalau orang telah mendapat banyak dan makan banyak. Logislah rasanya kalau banyak orang yang kenyang itu artinya persediaaan makanan itu pasti banyak. kalau persediaaanya banyak maka logis pula kalau orang berpikir pasti seksi konsumsi itu banyak orang. Apa yang digambarkan dalam penggalan injil hari ini justru bertolak belakang dengan logika kehidupan biasa. Banyak orang kenyang dalam logika Yesus bukan terutama karena banyaknya persediaan makanan yang membuat orang kenyang. Jumlah atau takaran kuantitatif bagi Yesus bukanlah hal paling penting yang memungkinkan orang kenyang. Hal pokok yang membuat orang merasa kenyang dalam konteks pewartaan Yesus adalah sikap yang rela memberi untuk berbagi dengan orang lain. Sikap yang rela memberi dan mau berbagi dengan orang lain akan membawa dampak yang luar biasa kepada orang yang menerimanya. Kerelaaan berbagi dengan senang hati itulah yang menjadi resep atau kata kunci yang membuat ribuan orang merasa kenyang setelah menerima pembagian roti.
Mukjizat perbanyakan roti dalam injil tadi diajalin dari sederetan sikap rela memberi. Ketika hari sudah malam para murid meminta Yesus supaya segera menyuruh ribuan orang itu pergi mencari penginapan dan makan masing-masing. Mendengar itu, dalam hati Yesus muncul rasa dan keinginan untuk memberi tumpangan dan makanan kepada ribuan orang itu. Hal itu nyata dalam jawaban Yesus katanya: Tidak, tidak perlu mereka disuruh pergi karena kamu harus memberi mereka makan. Yesus menekankan aspek dan kata memberi. Pada saat seperti itu, pikiran dan hati para murid justru tertutup rapat karena mereka membayangkan kesulitan memberi makanan kepada ribuan orang. Dalam kondisi serba terbatas dan kekurangan manusia biasanya cenderung ingat diri. Saat itu kerelaan memberi itu hilang dari para murid.karena mereka masih terikat pada perhitungan matematis, tentang jumlah orang yang harus diberi makanan. Dalam proses itu terjadi kejutan pada diri para murid. Dalam nada datar dan pesimis para murid berkata: yang ada pada kami paling-paling 5 roti dan 2 ekor ikan. Kata-kata para murid itu adalah bahasa putus asa dan sering terjadi dalam hidup kita manusia. Dalam kondisi seperti itu hendak mengajarkan dan menunjukkan kepada mereka cara memberi yang membuat pemberian tidak akan kehabisan. Hal itu memang terbukti luar biasa. Lima roti dan dua ekor ikan yang dalam pandangan manusia itu tidak ada artinya justru bagi Yesus sangat berarti. Roti dan ikan yang terbatas itu dilipagandakan hanya kalau orang membaginya secara tulus dan dalam kerelaaan. Pertama Yesus memberikan roti itu dengan senang hati tanpa merasa kurang kepada para murid. Pengalaman menerima pemberian Yesus yang demikian simpatik itu memberi inspirasi kepada para murid untuk berlaku dan bertindak secara sama kepada siapa saja mereka memberikan roti itu. Semua murid membagi dengan rela tanpa merasa kurang. Situasi seperti itulah yang menguasai ribuan orang untuk membagi, memberi roti itu kepada satu sama lain. Sikap itulah yang menjadikan roti dan ikan itu selalu cukup bahkan berkelebihan. Telapak dan genggaman tangan Yesus yang terbuka secara penuh saat memberi roti kepada para murid untuk dibagikan mengjarkan para murid untuk memberi dengan cara yang sama. Telapak tangan dan para murid yang terbuka saat membagikan roti kepada orang lain memungkinkan mereka menerima lebih banyak lagi dari Tuhan. Saat berziarah ke Israel tahun lalu saya juga sempat berdoa di gereja perbanyakan Roti tadi. Di dalam gereja itu ada tempat yang dipagar dan Tulisan Mensa Christi (Meja Kristus). Tempat itu merupakan tempat lima roti dan dua ikan diletakan sebelum dibagikan. Gereja ituberdekatan dengan gereja delapan Sabda bahagia dan gereja Pengangkatan Petrus menjadi gembali. Tempat itu berada di sebelah utara danau Galiea dan jaraknya 3 km dari kota Kafernaum.
Hari ini kita merayakan Pesta Tubuh dan Darah Kristus. Mengapa harus ada pesta seperti ini? Jawabannya, karena jiwa manusia membutuhkan makanan sebagaimana halnya badan dan fisik kita. Kalau kebutuhan fisk, tubuh jasmani kita dihidupi oleh makanan jasmani, maka jiwa kita membutuhkan makanan rohani yang secara simbolik hadir dalam ekaristi dalamnya kita menyambut tubuh dan darah Kristus. Yesus membagi dan memberi bukan sebatas kebutuhan fisik jasmani kita, melainkan memberi dan membagikan diri-Nya sendiri yang diimani hadir secara sakramental. Kalau dalam kisah perbanyakan Roti Yesus memberi roti dan ikan untuk kebutuhan fisik maka dalam pesta tubuh dan Darahnya hari ini atau dalam Ekaristi Yesus memberi dirinya secara penuh kepada kita yang mengimani dan mengamini-Nya.
Apa balasan kita, balasan Anda semua dan balasan saya terhadap kasih dan kebaikan Tuhan yang memberi hidup dan diri-Nya untuk kita? Jawabannya yang mungkin tepat untuk kita adalah belajar untuk memberi dalam kerelaan dan ketulusan. Tuhan sudah membekali kita semua dengan roti dan ikan dalam pelbagai bentuk talenta dan karunia dengan harapan agar kita bisa membagikannya kepada orang lain. Roti dan ikan kita adalah bakat-bakat kita, ilmu-ilmu kita, kebaikan-kebaikan kita, kelebihan kita. Semuanya itu akan terasa kurang jika kita gunakannya untuk diri kita sendiri. Semuanaya tidak akan berkembang kalau tetap berada dalam kepalan dan gengaman tangan kita.
Seorang Bapa namanya Pak Pelit. Suatu pagi ia melintas di bagian belakang rumah tetangganya. Pak Pelit tiba-tiba menghilang dan ternyata ia jatuh terjerumus ke dalam lubang sampah milik tetangga. Lubang sampah itu cukup dalam. Beberapa orang yang lewat di sana ingin menolong Pak Pelit. Tiga orang pertama meminta Pak Pelit untuk memberikan tangannya agar bisa ditarik keluar. Ayo, Pak BERI tanganmu biar kami menarikmu keluar. Pak Pelit tidak menanggapinya. Kemudian datang orang keempat. Ayo, Pak TERIMA tanganku biar aku manrikmu keluar. Pak Pelit menerima tangan orang itu dan ia berhasil ditarik dari lubang sampah. Ketiga orang sebelumnya heran mengapa Pak Pelit baru bereaksi kepada orang terakhir. Orang keempat itu menjalaskan. Anda bertiga salah memberi perintah kepada Pak Pelit. Anda meminta dia MEMBERI TANGAN KEPADAMU. Anda mesti tahu Pak Pelit itu seorang yang sulit MEMBERI. Karena itu dia tidak rela memberikan tangannya. Saya berhasil karena saya meminta Pak Pelit untuk MENERIMA dan itu cocok dengan sifatnya yang hanya mau MENERIMA.
Mukjizat perbanyakan Roti dalam injil tadi adalah mukjizat berkaitan dengan cara memberi. Bukan soal cara menerima. Yesus telah memberikan seluruh diri dan hidupnya untuk kita sebagai mukjizat tergaung dan termulia yang kita imani. Dia telah memberikan Tubuh dan Darah-Nya dalam ekaristi yang kita rayakan. Tujuannya agar kita belajar untuk memberi dari apa yang Tuhan berikan kepada kita melalui tugas panggilan kita. Sebagai pengikut Kristus hari ini dan di sini kita mendapat perintah dan amanat dari Yesus. Perintah Yesus singkat dan jelas: “KAMU HARUS MEMBERI MEREKA MAKAN”. Sebagai orang beriman yang telah menerima Tubuh dan Darah Tuhan kita dipanggil untuk belajar dan menjadikan diri dan hidup kita sebagai pemberian kepada orang lain. Jika semangat itu ada dalam diri dan hidup kita… maka yakinlah hari ini, besok ,dan sepanjang hidup kita akan menjadi rentetan mukjizat memungkinkan semakin banyak orang mengenal dan mencintai Tuhan. Marilah kita terus belajar untuk memberi dan Tuhan memberkati kita… Amin
cLaKeT, 21 Malang 2 Juni 2013
Rm. Bone Rampung, Pr
Friday, May 31, 2013
MISA SULUNG RM.ALO J & FERDI T
Renungan Misa Pertama
Rm.Aloyisus Jonson, Pr & Rm.Ferdinandus Tahul Pr
Paroki Fransiskus Asisi Karot, Minggu, 15-8-2004
Catatan Awal:
Motto tahbisan dua imam baru yang tercetak pada kartu Undangan perlu dicermati karena ada kesalahan penulisan. Romo Ferdi mengambil motto tahbisan :Rancangan-Ku bukanlah rancangan-MU (Yes.55,8). Huruf M pada rancangan-Mu menggunakan huruf besar. Seharusnya, dan sesuai dengan teks asli menggunakan huruf m kecil karena mengacu kepada manusia. Romo Alo mengambil motto: Bertolaklah ke tempat yang dalam (tertulis: Mat.4,5). Ada dua kesalahan pada kutipan motto ini yaitu penulisan kata depan ke yang salah dan Teks injil yang tertulis salah baik pengarangnya maupun bab dan ayatnya. Kalau kita melihat Mat.4,5 maka kita akan jumpai kalimat yang berbunyi: Kemudian Iblis membawanya ke tempat suci dan menempatkannya di atas bubungan bait Allah. Teks yang pas untuk motto justru dari injil Lukas bab 5 ayat 4. Koreksi ini perlu saya sampaikan agar kita yang membaca teks berdasarkan surat Undangan tidak merasa bahwa apa yang akan saya sampaikan dalam renungan sebenatar tidak sesuai dengan teks.
Renungan
Semalam setelah pulang pentahbisan di Pateng saya bermimpi. Mimpi ini tidak bermaksud membantu para pencandu kupon putih untuk membuat analisis dan interpretasi. Dalam mimpi itu saya sepertinya sedang berjalan ke satu tempat yang ramai. Saya menyaksikan ada begitu banyak orang yang berwajah gembira berjalan ke arah yang sama. Sepertinya ada pesta besar yang hendak mereka ikuti. Masih dalam mimpi saya melintasi sebuah jembatan kecil seebelum ke tempat keramian itu. Pada tembok jembatan yang saya lewati itu saya membaca satu tulisan yang berbunyi: HARI INI, HANYA KATA PENDAHULUAN. Setelah terjaga dari mimpi, saya membayangkan kalimat itu pasti tertulis di jembatan Wae Ces sebelum ke Paroki Karot ini. Saat melintasi jembatan Wae Ces tadi, tulisan HARI INI, HANYA KATA PENDAHULUAN itu tidak saya temukan. Juga tidak saya temukan pada dekorasi misa sulung kedua imam baru kita ini. Meskipun demikian saya merasa amat tertarik untuk mamaknai, menafsir, dan menginterpretasi kalimat: HARI INI, HANYA KATA PENDAHULUAN itu dalam konteks motto tahbisan kedua imam baru ini yang diambil berdasarkan teks Yesaya (55,8) dan Teks Lukas (5,4).
Kalimat” HARI INI, HANYA KATA PENDAHULUAN” bagi saya sungguh menjadi sebuah teks atau wacana yang sarat arti dan kaya makna. Kalimat itu memang terkesan ilmiah,amat teknis bahkan sangat akademis. Tentu saja kalimat itu pas untuk dua imam baru kita yang sudah banyak makan es karena es satu mereka makan dan ada es dua mungkin sedang mereka cari. Kata pendahuluan dalam konteks akademik berkaitan dengan buku, karya tulis ilmiah (skripsi/Tesis). Bagian Pendahuluan sebuah buku, skripsi, tesis biasanya memuat secara singkat pelbagai unsur penting yang harus dijabarkan dalam bab-bab selanjutnya. Apa yang akan dijabarkan dalam bab-bab lanjutan sebagai bab inti atau bab isi tidak boleh menyimpang dari apa yang digambarkan dalam pendahuluan. Isi keseluruhan sebuah karya ilmiah secara singkat dan padat bisa dibaca pada bagaian pendahuluan. Lalu bagaimana kalau kalimat pada tembok jembatan tadi dikaitkan dengan peristiwa pentahbisan dan misa sulung dua imam kita ini? Apakah tahbisan menjadi imam bisa diibaratkan dengan sebuah karya ilmiah? Menurut saya keduanya bisa saja dibandingkan tetapi perbandingannya harus terbalik. Dalam karya ilmiah isi uraian sudah ada bahkan harus jelas, ekspilisit pada bagian pendahuluan sedang dalam penghayatan hidup sebagai seorang imam isinya tidak bisa dilihat langsung pada saat seorang ditahbiskan. Tahbisan itu barulah pendahuluan tetapi isi imamatnya akan terlihat dalam penghayatan lebih kemudian. Kiranya kita semua sepakat bahwa tahbisan hanyalah saat seseorang membuka kemungkinan untuk mengisi, memaknai peristiwa pentahbisan itu. Tahbisan menjadi imam itu hanya berlangsung dua jam tetapi hidup dalam status sebagai imam tidak lagi ada batas waktunya. Sampai di sini kita disadarkan bahwa yang paling penting itu bukan pesta tahbisan tetapi justru bagaimana hidup sebagai imam yang tertahbis. Pendahuluan karya tulis terbatas tetapi penghayatan hidup sebagai imam terjadi dari hari ke hari sepajang hidup. Setiap hari yang baru adalah pendahuluan yang baru dalam memaknai imamat itu. Kalau skripsi jelas tidak mungkin setiap hari kita membuat pendahuluan yang baru. Dalam menghayati hidup sebagai imam kita harus selalu diperbaharui dalam semangat, dalam pola kerja dan pelayanan kita.
Pentahbisan itu bagi saya hanyalah kata pendahuluan untuk seorang imam atau pastor. Mengapa? Karena kualifikasi keimaman dan kepastoran seseorang tidak secara otomatis dan komplit, sempurna terjadi saat ditahbiskan. Tahbisan hanyalah satu titik simpul atau satu titik perhentian sejenak untuk suatu perjalanan yang panjang. Kita sering mendengar ucapan salah kaprah yang mengatakan bahwa Tahbisan adalah puncak dari panggilan menjadi imam. Bagi saya tahbisan hanyalah titik star bagi seseorang untuk membuktikan apakah ia mampu berlari dalam statusnya sebagai seorang imam. Jika tidak, maka tahbisan hanyalah kenangan yang boleh dilupakan dan imamnya akan terkena peraturan eliminasi dari pertarungan kehidupan. Tahbisan adalah ritus yang mengesahkan peralihan status. Bukan isi imamat itu sendiri. Tahbisan itu ibarat proses klarifikasi dan legitimasi publik. Saat seorang ditahbiskan atau caleg dilantik kita tidak dapat membuktikan bahwa mereka sungguh imam atau sungguh wakil rakyat. Kualitas dan integritas keimaman atau status dan jabatan apa saja baru diukur ketika status itu diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan. Ini sudah sangat jelas terbaca dan terdengar dalam aneka harapan banyak orang saat seseorang ditahbiskan atau dilantik. Peristiwa pentahbisan menurut hemat saya justru menjadi saat perang antara harapan dan kecemasan. Ketika seseorang ditahbiskan ribuan umat bahkan seluruh gereja menaruh harapan akan apa yang dapat kita lakukan sebagai imam/pastor. Juga bersamaan muncul ribuan kecemasan yang membayang-bayangi pola tingkah seorang imam/pastor. Imamat kita, di hadapan banyak orang ibarat permen halia yang kadang-kadang terasa manis tetapi kadang-kadang terasa pedis. Manis dan pedis itulah hakikat permen halia; Keindahan puncak tabor dan kekejian golgota itulah gambaran kehidupan imam.
Tahbisan hanyalah kata pendahuluan. Kalimat ini, bagi saya sungguh tepat untuk dikaitkan dengan motto tahbisan dua imam baru ini. Kalau melihat tampang dua imam baru ini mungkin kita keliru karena Rm.Ferdi bertampang seperti insinyur jebolan fakultas teknik sementara Romo Alo kulit mukanya seperti kapten kapal penangkap ikan jebolan sekolah tinggi pelayaran. Tampang mereka yang unik ini mereka kaitkan dengan motto tahbisannya. RangcanganKu bukanlah rancangmu dipilih Rm. Ferdi sebagai titik pijak perziarahan keimaman dan kepastorannya.
Motto seperti ini jelas diambil dari dunia teknik rancang bangun. Motto ini mengisyaratkan kepada kita bahwa Rm.Ferdi melihat Tuhan sebagai arsitek yang merancang bangunan imamatnya. Hari Kamis lalu secara publik ia menerima sebuah gambar/denah bangunan imamat dari Tuhan sebagai arsitek andalannya. Romo Ferdi menerima rancangan/gambar bangunan imamat dari sang arsitek agung untuk dijadikan patokan dan pedoman pembangunan rumah imamatnya. Romo Ferdi ditahbiskan ibarat seorang tukang bangunan yang mendapat tender proyek imamat yang harus ia bangun. Ia menjadi pelaksana sekaligus pemilik proyek itu sementara Tuhan insinyur dan konsultannya. Tahbisannya, barulah awal atau pendahuluan untuk menerima rancangan yang Tuhan kehendaki. Sebagai pelaksana lapangan, Romo Ferdi tentu menyadari sungguh bahwa Anda mau mengabdi kepada Tuhan yang memberi rancangan bangunan imamat itu kepadamu. Yang hendak Anda bangun bukanlah rancangan Anda sendiri melainkan rancangan Tuhan. Mottomu memang bernada pernyataan tetapi berisi perintah. Mottomu bermodus deklaratif tetapi bermakna imperatif. Kalau Tuhan sendiri menegaskan bahwa Rancangan-Nya bukan rancangmu, itu secara implisit mau mengatakan kepadamu bahwa janganlah Anda membuat rancangan tandingan di hadapan Tuhan. Mottomu amat menarik tetapi ingatlah, motto itu mengharuskan Anda untuk mengalah di hadapan Tuhan. Manusia, zaman ini termasuk kita para imam, cenderung mengatur Tuhan menurut format dan rancangan kita. Mottomu mengingatkan saya pada rumusan doa yang diucapkan Uskup pentahbis saat pengenaan stola dan kasula. Di sana di katakan: pada umur mudamu engkau sendiri mengikat pinggangmu dan pergi ke mana saja engkau kehendaki, Tetapi kini engkau mengulurkan tangan dan orang lain mengikat pinggangmu lalu menuntun engkau ke tempat yang tidak kau kehendaki. Doa seperti ini jelas mempertegas identitas dan keterikatan kita setelah kita menjadi imam. Kita tidaklah muda lagi karena sudah terikat. Prinsip tua di rumah muda di jalan atau tuang di rumah om dan pak di jalanan hendaknya dihindari. Tuhan sudah membuat rancangan bagimu. Itu artinya Tuhan telah mengikatmu untuk melakukan apa yang memang dikehendaki Tuhan. Pengabdian dan pelayanan terhadap manusia itulah proyek raksasa yang dirancang Tuhan dan proyek itu diberikan kepadamu. Anda menerima rancangan itu dengan konsekuensi bahwa Anda harus setia dalam pengabdian dan pelayanan terhadap manusia dan kemanusiaan. Norma, ukuran dan patokan pelayanan telah Anda terima dari Tuhan.
Kalau Romo Ferdi menerima gambar bangunan imamatnya seperti yang Tuhan rancang, Romo Alo calon penangkap ikan ini mau menjalankan perintah Tuhan untuk berlayar ke tempat yang lebih dalam. Motto imamatnya: tegas dan jelas. Bertolaklah ke tempat yang dalam. Motto ini bermodus impratif, bernada perintah langsung. Saya sendiri heran mengapa dia memilih motto seperti ini. Alasannya karena saya tahu ia tidak bisa berenang apalagi selama berada di Kisol sebagai Frater TOP dan sebagai Dikon ia tidak pernah bercerita tentang bagaimana ia minum lumpur saat melatih berenang di parit Wae Ces. Berenang di parit saja belum pernah apalagi mau berenang di laut dan nekat mau mencari tempat yang dalam. Ya, bagi saya kalau seorang yang tidak pernah melihat laut tetapi begitu melihat laut langsung mau berenang ke tempat yang dalam, itu adalah tindakan mengusir nyawa tanpa alasan. Sejauh yang saya kenal Alo ini memang tipe manusia yang suka mencari, mengamati segala hal sampai sekecil-kecilnya. Kita bisa bertanya ke Romo Alo berapa jumlah kutu seekor anjing betina di Seminari Kisol.
Romo Alo memposisikan atau mengidentifikasikan diri sebagai seorang nelayan yang siap melakukan sesuatu sesuai dengan perintah yang diterima. Motto yang dipilih merupakan potongan kalimat panjang dan lengkap: Bertolaklah ke tempat yang dalam, dan terbarkanlah jalamu untuk menangkap ikan. Potongan motto itu memang bernada imperatif, perintah untuk bertolak ke tempat yang dalam. Perintah untuk bertolak ke tempat yang dalam saja terkesan belum bertenaga untuk melakukan dan menghasilkan sesuatu. Kita harus melihat keseluruhan konteks perikope injil itu. Kutipan teks yang lengkap sangat membantu kita memahami teks itu secara utuh. Kutipan teks yang seperti tadi akan memberikan banyak informasi untuk kita dan terutama untuk Romo Alo.
Teks Lukas memaparkan sepenggal narasi perihal pengalaman buruk yang menimpa sekelompok nelayan. Narasi versi Lukas ini amat menarik karena narasi itu dirajut dari dua sisi kehidupan antara kegagalan dan kesuksesan manusia yang berprofesi nelayan. Dari teks yang sama kita mendapatkan informasi perihal dinamika, mentalitas, cara kerja, para nelayan. Diceritakan bahwa Yesus datang ke pantai menjumpai nelayan yang tidak lagi melaut. Perahu mereka sudah dihela ke darat. Mereka semua kelihatan kecewa karena semalaman gagal menangkap ikan. Dalam kondisi demikian seorang anak tukang kayu datang dan meminta Simon untuk menghela perahunya ke laut disertai dengan perintah yang tegas: bertolaklah ke tempat yang dalam, dan tebarkanlah jala untuk menangkap ikan. Simon yang merasa diri berpengalaman sebagai nelayan dengan berat hati menerima perintah Yesus itu.
Kalau sampai seorang anak tukang kayu yang tidak pernah melihat laut, memerintah nelayan untuk bertolak ke tempat yang dalam, menebarkan jala dan menangkap ikan itu sungguh memalukan. Perintah seperti itu untuk seorang nelayan yang profesional jelas tidak perlu. Sebagai nelayan Simon sudah harus tahu bahwa kalau mau menangkap ikan maka perahunya harus diapungkan di laut. Kalau mau menangkap ikan jalanya ditebarkan di laut yang dalam. Kalau perahu hanya dibiarkan di darat itu artinya perahunya akan berubah menjadi palungan tempat makanan babi. Kalau jalanya dibentangkan saja di tepi pantai maka jala itu lebih tepat dijadikan net untuk pertandingan bola volly pantai menjelang 17 Agustus. Kalau orang mencari ikan di tempat yang dangkal itu lebih tepat disebut sebagai orang yang mandi bukan mencari ikan. Profesionalitas seorang nelayan diukur berdasarkan kemampuannya untuk menentukan cara, waktu, tempat, dan tujuan setiap kali ia melaut sesuai dengan etika profesi nelayan. Di mata Yesus Simon yang berprofesi nelayan itu, tergolong sebagai nelayan karbitan, nelayan amatiran. Bukan nelayan profesional. Mengapa? Karena ia tidak menjalankan profesinya sebagai seorang yang profesional. Perahunya ia tambat di darat. Jalanya tidak ia tebarkan. Ia takut basah dan tenggelam lalu berada di tempat yang dangkal dan kering. Kalau perahunya dan jalanya diikat di darat dan hanya mau mencari di tempat yang dangkal maka biar orang menunggu sampai kumis bercabang (dangka gipi) atau sampai rambut beruban (muwang sai) tidak mungkin ia mendapatkan ikan. Profesi dan profesinalitas seorang nelayan justru ditandai dengan suatu dinamika yang terlihat pada perahu yang selalu terpung dihempas gelombang, ditandai dengan jala yang yang selalu tertebar di laut yang dalam. Profesionlitas adalah aktivitas, dinamika, gerakan yang selalu menghadapi tantangan. Desakan dan perintah Yesus untuk Simon adalah desakan/perintah demi profesionalitas yang ditandai dinamika perjuangan penuh tantangan. Tidak ada profesi tanpa aktivitas dan tidak ada profesionlitas tanpa tantangan. Yesus sungguh memahami psikologi kehidupan nelayan. Ukuran atau takaran kualifikasi profesionalitas seorang nelayan ada dalam dinamika tantangan hempasan gelombang. Bukan dalam kesantaian bercanda di bibir pantai. Hidup seorang nelayan tidak sekadar menikmati pemandangan pantai yang indah, deburan ombak yang memukau tetapi justru harus berani menceburkan diri ke tempat yang dalam dengan risiko basah, dan mungkin juga sampai minum air garam. Dan inilah obsesi Romo Alo yang harus kita dukung dalam mengisi lembaran imamatnya.
Kita semua berbangga karena seorang manusia yang tidak pernah membuat perahu atas nama Rm.Alo ingin menjadi Simon yang akan menghela perahu imamatnya ke tengah hempasan laut yang dalam. Sebuah pilihan yang berani sekaligus menjanjikan harapan bagi kita bahwa Romo Alo mau menjadi nelayan profesional yang selalu mau mencari tempat yang dalam.
Kedua imam baru ini telah dinyatakan menang, mendapat tender untuk menjadi pelaksana proyek imamat mereka. Satunya akan menjadi pelaksana proyek di darat, dan satunya mau menjalankan proyek di laut. Romo Ferdi telah menerima rancangan dari Tuhan sendiri dan Romo Alo telah mendengar perintah Yesus untuk bertolak terus ke tempat yang dalam. Rm.Ferdi mau membawa rancangan imamatnya ke Paroki Mamba dan Rm.Alo ingin bersama kami berenang dan bertolak ke lautan yang dalam di lembaga pendidikan calon imam seminari Kisol. Itu artinya Romo Ferdi menjadi Pastor di Paroki Mamba bukan pastor Mamba saja. Dan Romo Alo menjadi imam di seminari Kisol bukan imam seminari Kisol saja. Mengapa harus ada rumusan Pastor di Mamba dan bukan Pastor Mamba saja? Imam di Seminari dan bukan Imam seminari saja? Mengapa satunya disebut pastor dan satunya di sebut imam. Saya sengaja menegaskan hal ini, supaya tidak dikritik Pater Flori yang pendek fisik tetapi selalu panjang akal itu. Menurut Pater Flori Pastor adalah sebutan bagi imam yang mempunyai umat di paroki sedangkan imam yang tidak ada umat/paroki atau sudah pensiun seperti Pater Flori harus dipanggil imam Flori dan bukan Pastor Flori. Lalu antara istilah pastor di paroki dan pastor paroki berbeda besar. Kalau pastor paroki itu artinya secara hukum ia ditempatkan di paroki tetapi de facto ia bisa berada di luar paroki lebih banyak atau menjadi pastor pengembara; pastor turis. Alasan mengapa lebih banyak di luar mungkin karena memang merasa diri sebagai pastor yang luar biasa sehingga antara pastor yang luar biasa dan pastor yang biasa di luar dianggap sama saja. Pastor Paroki bisa saja ia lebih banyak di luar parokinya karena ia merasa memang di luar banyak lebihnya untuk dia dibandingkan kalau dia menjadi pastor di parokinya dan di tempat tugasnya. Kalau pastor di paroki itu artinya baik secara de jure maupun secara de facto ia berada di paroki bersama umat yang dipercayakan kepadanya. Begitu juga istilah imam di seminari dan imam seminari. Kami tentu senang kalau Romo Ferdi menjadi pastor di Mamba dan Romo Alo imam di seminari.
Hari ini Anda berdua mulai mengisi lembaran awal ziarah imamatmu. Hari ini hanyalah kata Pendahuluan. Saya tidak berani memberikan banyak nasihat kepada Anda berdua karena takut nanti saya sendiri tidak melaksanakannya. Karena itu mungkin baik saya akhiri renungan ini dengan beberapa butir refleksi atas perjalanan imamat saya selama hampir 10 tahun. Ini sharing persaudaraan karena kebetulan saya menjadi kakakmu dalam imamat.
Anda berdua mempunyai motto tahbisan yang bagus. Motto tahbisan bagi saya sungguh menjadi nafas yang menghidupi ziarah imamat saya dengan segala tantangannya. Motto itu menjadi motor penggerak bagi saya dalam memaknai panggilan dan mengisi panggilan saya. Anda berdua memilih motto yang bagus. Jadikanlah itu sebagai nafas imamat kita.
Banyak orang menaruh harapan pada status kita sebagai imam/pastor. Harapan itu turut membentuk cara hidup kita. Ziarah imamat saya turut dibentuk oleh cara pikir dan cara pandang orang lain berupa nasihat bijak yang tidak perlu saya beli. Saya harus mendengarkan apa kata mereka karena menurut saya orang bijak yang sukses pasti memilki prinsip dalam menjalani kehidupan dengan tantangannya. Tantangan adalah bagian hidup dan panggilan kita. Orang bijak berkata bahwa di dunia ini hanya ada dua kelompok manusia yang bebas tantangan yaitu mereka yang sudah mati dan mereka yang belum lahir. Ziarah imamat kita adalah ziarah kehidupan dengan tantangannya. Yang dperlukan adalah kesabaran dan bukan kepasrahan. Tantangan pasti berlalu.
Imamat itu Prestasi bukan Prestise. Pemahaman saya akan Imamat adalah prestasi karena ternyata tidak semua orang bisa meraihnya. Imamat bagiku mahal harganya, lama proses pencapaiannya, rumit proses mewujudkannya, susah memakanainya. Saya kira bukan hanya saya yang berbangga tetapi banyak orang berbangga atas prestasi seperti ini. Tentu bukan karena saya hebat. Bagiku mau mencapai imamat bagaikan usaha memetik mawar yang ada di antara duri-duri. Mau memetik mawar harus mampu menghindari duri-duri yang menantang. Itu risiko pilihan. Kadang saya menggerutu dan bertanya mengapa Tuhan memekarkan mawar di antara duri? Mengapa imamat selalu ada tantangannya? Pertanyaanku tidak menghilangkan duri kehidupan karena itu tidak ada cara lain bagiku untuk bersyukur karena Tuhan masih memekarkan mawar indah di tengah duri-duri. Konsentarsiku cukup pada mawarnya karena toh tidak ada mawar tanpa duri. Tidak ada panggilan dan pilihan hidup tanpa tantangan.
Hari ini kita bergembira karena dua imam baru mengajak kita semua untuk hidup dalam rancangan Tuhan dan terus bertolak ke tempat yang lebih dalam. Ajakan yang sama hendaknya kita bawa ke dalam tugas dan karya kita di mana dan ke mana saja kita pergi. Kita diajak untuk selalu bercermin kepada Maria yang selalu hidup dalam rancangan Tuhan dan selalu bertolak ke tempat yang dalam. Pesta Maria diangkat ke surga dan dimuliakan Allah adalah bukti betapa Maria telah secara sempurna melaksanakan kehendak Tuhan dalam misi dan tugas panggilannya. Hari ini hanyalah Kata Pendahuluan buat dua imam dan buat kita semua. Bunda Maria doakanlah kami agar mampu mengisi lembaran kehidupan panggilan kami secara baik. Amin
Kisol, 14 Agustus 2004
Rm.Aloyisus Jonson, Pr & Rm.Ferdinandus Tahul Pr
Paroki Fransiskus Asisi Karot, Minggu, 15-8-2004
Catatan Awal:
Motto tahbisan dua imam baru yang tercetak pada kartu Undangan perlu dicermati karena ada kesalahan penulisan. Romo Ferdi mengambil motto tahbisan :Rancangan-Ku bukanlah rancangan-MU (Yes.55,8). Huruf M pada rancangan-Mu menggunakan huruf besar. Seharusnya, dan sesuai dengan teks asli menggunakan huruf m kecil karena mengacu kepada manusia. Romo Alo mengambil motto: Bertolaklah ke tempat yang dalam (tertulis: Mat.4,5). Ada dua kesalahan pada kutipan motto ini yaitu penulisan kata depan ke yang salah dan Teks injil yang tertulis salah baik pengarangnya maupun bab dan ayatnya. Kalau kita melihat Mat.4,5 maka kita akan jumpai kalimat yang berbunyi: Kemudian Iblis membawanya ke tempat suci dan menempatkannya di atas bubungan bait Allah. Teks yang pas untuk motto justru dari injil Lukas bab 5 ayat 4. Koreksi ini perlu saya sampaikan agar kita yang membaca teks berdasarkan surat Undangan tidak merasa bahwa apa yang akan saya sampaikan dalam renungan sebenatar tidak sesuai dengan teks.
Renungan
Semalam setelah pulang pentahbisan di Pateng saya bermimpi. Mimpi ini tidak bermaksud membantu para pencandu kupon putih untuk membuat analisis dan interpretasi. Dalam mimpi itu saya sepertinya sedang berjalan ke satu tempat yang ramai. Saya menyaksikan ada begitu banyak orang yang berwajah gembira berjalan ke arah yang sama. Sepertinya ada pesta besar yang hendak mereka ikuti. Masih dalam mimpi saya melintasi sebuah jembatan kecil seebelum ke tempat keramian itu. Pada tembok jembatan yang saya lewati itu saya membaca satu tulisan yang berbunyi: HARI INI, HANYA KATA PENDAHULUAN. Setelah terjaga dari mimpi, saya membayangkan kalimat itu pasti tertulis di jembatan Wae Ces sebelum ke Paroki Karot ini. Saat melintasi jembatan Wae Ces tadi, tulisan HARI INI, HANYA KATA PENDAHULUAN itu tidak saya temukan. Juga tidak saya temukan pada dekorasi misa sulung kedua imam baru kita ini. Meskipun demikian saya merasa amat tertarik untuk mamaknai, menafsir, dan menginterpretasi kalimat: HARI INI, HANYA KATA PENDAHULUAN itu dalam konteks motto tahbisan kedua imam baru ini yang diambil berdasarkan teks Yesaya (55,8) dan Teks Lukas (5,4).
Kalimat” HARI INI, HANYA KATA PENDAHULUAN” bagi saya sungguh menjadi sebuah teks atau wacana yang sarat arti dan kaya makna. Kalimat itu memang terkesan ilmiah,amat teknis bahkan sangat akademis. Tentu saja kalimat itu pas untuk dua imam baru kita yang sudah banyak makan es karena es satu mereka makan dan ada es dua mungkin sedang mereka cari. Kata pendahuluan dalam konteks akademik berkaitan dengan buku, karya tulis ilmiah (skripsi/Tesis). Bagian Pendahuluan sebuah buku, skripsi, tesis biasanya memuat secara singkat pelbagai unsur penting yang harus dijabarkan dalam bab-bab selanjutnya. Apa yang akan dijabarkan dalam bab-bab lanjutan sebagai bab inti atau bab isi tidak boleh menyimpang dari apa yang digambarkan dalam pendahuluan. Isi keseluruhan sebuah karya ilmiah secara singkat dan padat bisa dibaca pada bagaian pendahuluan. Lalu bagaimana kalau kalimat pada tembok jembatan tadi dikaitkan dengan peristiwa pentahbisan dan misa sulung dua imam kita ini? Apakah tahbisan menjadi imam bisa diibaratkan dengan sebuah karya ilmiah? Menurut saya keduanya bisa saja dibandingkan tetapi perbandingannya harus terbalik. Dalam karya ilmiah isi uraian sudah ada bahkan harus jelas, ekspilisit pada bagian pendahuluan sedang dalam penghayatan hidup sebagai seorang imam isinya tidak bisa dilihat langsung pada saat seorang ditahbiskan. Tahbisan itu barulah pendahuluan tetapi isi imamatnya akan terlihat dalam penghayatan lebih kemudian. Kiranya kita semua sepakat bahwa tahbisan hanyalah saat seseorang membuka kemungkinan untuk mengisi, memaknai peristiwa pentahbisan itu. Tahbisan menjadi imam itu hanya berlangsung dua jam tetapi hidup dalam status sebagai imam tidak lagi ada batas waktunya. Sampai di sini kita disadarkan bahwa yang paling penting itu bukan pesta tahbisan tetapi justru bagaimana hidup sebagai imam yang tertahbis. Pendahuluan karya tulis terbatas tetapi penghayatan hidup sebagai imam terjadi dari hari ke hari sepajang hidup. Setiap hari yang baru adalah pendahuluan yang baru dalam memaknai imamat itu. Kalau skripsi jelas tidak mungkin setiap hari kita membuat pendahuluan yang baru. Dalam menghayati hidup sebagai imam kita harus selalu diperbaharui dalam semangat, dalam pola kerja dan pelayanan kita.
Pentahbisan itu bagi saya hanyalah kata pendahuluan untuk seorang imam atau pastor. Mengapa? Karena kualifikasi keimaman dan kepastoran seseorang tidak secara otomatis dan komplit, sempurna terjadi saat ditahbiskan. Tahbisan hanyalah satu titik simpul atau satu titik perhentian sejenak untuk suatu perjalanan yang panjang. Kita sering mendengar ucapan salah kaprah yang mengatakan bahwa Tahbisan adalah puncak dari panggilan menjadi imam. Bagi saya tahbisan hanyalah titik star bagi seseorang untuk membuktikan apakah ia mampu berlari dalam statusnya sebagai seorang imam. Jika tidak, maka tahbisan hanyalah kenangan yang boleh dilupakan dan imamnya akan terkena peraturan eliminasi dari pertarungan kehidupan. Tahbisan adalah ritus yang mengesahkan peralihan status. Bukan isi imamat itu sendiri. Tahbisan itu ibarat proses klarifikasi dan legitimasi publik. Saat seorang ditahbiskan atau caleg dilantik kita tidak dapat membuktikan bahwa mereka sungguh imam atau sungguh wakil rakyat. Kualitas dan integritas keimaman atau status dan jabatan apa saja baru diukur ketika status itu diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan. Ini sudah sangat jelas terbaca dan terdengar dalam aneka harapan banyak orang saat seseorang ditahbiskan atau dilantik. Peristiwa pentahbisan menurut hemat saya justru menjadi saat perang antara harapan dan kecemasan. Ketika seseorang ditahbiskan ribuan umat bahkan seluruh gereja menaruh harapan akan apa yang dapat kita lakukan sebagai imam/pastor. Juga bersamaan muncul ribuan kecemasan yang membayang-bayangi pola tingkah seorang imam/pastor. Imamat kita, di hadapan banyak orang ibarat permen halia yang kadang-kadang terasa manis tetapi kadang-kadang terasa pedis. Manis dan pedis itulah hakikat permen halia; Keindahan puncak tabor dan kekejian golgota itulah gambaran kehidupan imam.
Tahbisan hanyalah kata pendahuluan. Kalimat ini, bagi saya sungguh tepat untuk dikaitkan dengan motto tahbisan dua imam baru ini. Kalau melihat tampang dua imam baru ini mungkin kita keliru karena Rm.Ferdi bertampang seperti insinyur jebolan fakultas teknik sementara Romo Alo kulit mukanya seperti kapten kapal penangkap ikan jebolan sekolah tinggi pelayaran. Tampang mereka yang unik ini mereka kaitkan dengan motto tahbisannya. RangcanganKu bukanlah rancangmu dipilih Rm. Ferdi sebagai titik pijak perziarahan keimaman dan kepastorannya.
Motto seperti ini jelas diambil dari dunia teknik rancang bangun. Motto ini mengisyaratkan kepada kita bahwa Rm.Ferdi melihat Tuhan sebagai arsitek yang merancang bangunan imamatnya. Hari Kamis lalu secara publik ia menerima sebuah gambar/denah bangunan imamat dari Tuhan sebagai arsitek andalannya. Romo Ferdi menerima rancangan/gambar bangunan imamat dari sang arsitek agung untuk dijadikan patokan dan pedoman pembangunan rumah imamatnya. Romo Ferdi ditahbiskan ibarat seorang tukang bangunan yang mendapat tender proyek imamat yang harus ia bangun. Ia menjadi pelaksana sekaligus pemilik proyek itu sementara Tuhan insinyur dan konsultannya. Tahbisannya, barulah awal atau pendahuluan untuk menerima rancangan yang Tuhan kehendaki. Sebagai pelaksana lapangan, Romo Ferdi tentu menyadari sungguh bahwa Anda mau mengabdi kepada Tuhan yang memberi rancangan bangunan imamat itu kepadamu. Yang hendak Anda bangun bukanlah rancangan Anda sendiri melainkan rancangan Tuhan. Mottomu memang bernada pernyataan tetapi berisi perintah. Mottomu bermodus deklaratif tetapi bermakna imperatif. Kalau Tuhan sendiri menegaskan bahwa Rancangan-Nya bukan rancangmu, itu secara implisit mau mengatakan kepadamu bahwa janganlah Anda membuat rancangan tandingan di hadapan Tuhan. Mottomu amat menarik tetapi ingatlah, motto itu mengharuskan Anda untuk mengalah di hadapan Tuhan. Manusia, zaman ini termasuk kita para imam, cenderung mengatur Tuhan menurut format dan rancangan kita. Mottomu mengingatkan saya pada rumusan doa yang diucapkan Uskup pentahbis saat pengenaan stola dan kasula. Di sana di katakan: pada umur mudamu engkau sendiri mengikat pinggangmu dan pergi ke mana saja engkau kehendaki, Tetapi kini engkau mengulurkan tangan dan orang lain mengikat pinggangmu lalu menuntun engkau ke tempat yang tidak kau kehendaki. Doa seperti ini jelas mempertegas identitas dan keterikatan kita setelah kita menjadi imam. Kita tidaklah muda lagi karena sudah terikat. Prinsip tua di rumah muda di jalan atau tuang di rumah om dan pak di jalanan hendaknya dihindari. Tuhan sudah membuat rancangan bagimu. Itu artinya Tuhan telah mengikatmu untuk melakukan apa yang memang dikehendaki Tuhan. Pengabdian dan pelayanan terhadap manusia itulah proyek raksasa yang dirancang Tuhan dan proyek itu diberikan kepadamu. Anda menerima rancangan itu dengan konsekuensi bahwa Anda harus setia dalam pengabdian dan pelayanan terhadap manusia dan kemanusiaan. Norma, ukuran dan patokan pelayanan telah Anda terima dari Tuhan.
Kalau Romo Ferdi menerima gambar bangunan imamatnya seperti yang Tuhan rancang, Romo Alo calon penangkap ikan ini mau menjalankan perintah Tuhan untuk berlayar ke tempat yang lebih dalam. Motto imamatnya: tegas dan jelas. Bertolaklah ke tempat yang dalam. Motto ini bermodus impratif, bernada perintah langsung. Saya sendiri heran mengapa dia memilih motto seperti ini. Alasannya karena saya tahu ia tidak bisa berenang apalagi selama berada di Kisol sebagai Frater TOP dan sebagai Dikon ia tidak pernah bercerita tentang bagaimana ia minum lumpur saat melatih berenang di parit Wae Ces. Berenang di parit saja belum pernah apalagi mau berenang di laut dan nekat mau mencari tempat yang dalam. Ya, bagi saya kalau seorang yang tidak pernah melihat laut tetapi begitu melihat laut langsung mau berenang ke tempat yang dalam, itu adalah tindakan mengusir nyawa tanpa alasan. Sejauh yang saya kenal Alo ini memang tipe manusia yang suka mencari, mengamati segala hal sampai sekecil-kecilnya. Kita bisa bertanya ke Romo Alo berapa jumlah kutu seekor anjing betina di Seminari Kisol.
Romo Alo memposisikan atau mengidentifikasikan diri sebagai seorang nelayan yang siap melakukan sesuatu sesuai dengan perintah yang diterima. Motto yang dipilih merupakan potongan kalimat panjang dan lengkap: Bertolaklah ke tempat yang dalam, dan terbarkanlah jalamu untuk menangkap ikan. Potongan motto itu memang bernada imperatif, perintah untuk bertolak ke tempat yang dalam. Perintah untuk bertolak ke tempat yang dalam saja terkesan belum bertenaga untuk melakukan dan menghasilkan sesuatu. Kita harus melihat keseluruhan konteks perikope injil itu. Kutipan teks yang lengkap sangat membantu kita memahami teks itu secara utuh. Kutipan teks yang seperti tadi akan memberikan banyak informasi untuk kita dan terutama untuk Romo Alo.
Teks Lukas memaparkan sepenggal narasi perihal pengalaman buruk yang menimpa sekelompok nelayan. Narasi versi Lukas ini amat menarik karena narasi itu dirajut dari dua sisi kehidupan antara kegagalan dan kesuksesan manusia yang berprofesi nelayan. Dari teks yang sama kita mendapatkan informasi perihal dinamika, mentalitas, cara kerja, para nelayan. Diceritakan bahwa Yesus datang ke pantai menjumpai nelayan yang tidak lagi melaut. Perahu mereka sudah dihela ke darat. Mereka semua kelihatan kecewa karena semalaman gagal menangkap ikan. Dalam kondisi demikian seorang anak tukang kayu datang dan meminta Simon untuk menghela perahunya ke laut disertai dengan perintah yang tegas: bertolaklah ke tempat yang dalam, dan tebarkanlah jala untuk menangkap ikan. Simon yang merasa diri berpengalaman sebagai nelayan dengan berat hati menerima perintah Yesus itu.
Kalau sampai seorang anak tukang kayu yang tidak pernah melihat laut, memerintah nelayan untuk bertolak ke tempat yang dalam, menebarkan jala dan menangkap ikan itu sungguh memalukan. Perintah seperti itu untuk seorang nelayan yang profesional jelas tidak perlu. Sebagai nelayan Simon sudah harus tahu bahwa kalau mau menangkap ikan maka perahunya harus diapungkan di laut. Kalau mau menangkap ikan jalanya ditebarkan di laut yang dalam. Kalau perahu hanya dibiarkan di darat itu artinya perahunya akan berubah menjadi palungan tempat makanan babi. Kalau jalanya dibentangkan saja di tepi pantai maka jala itu lebih tepat dijadikan net untuk pertandingan bola volly pantai menjelang 17 Agustus. Kalau orang mencari ikan di tempat yang dangkal itu lebih tepat disebut sebagai orang yang mandi bukan mencari ikan. Profesionalitas seorang nelayan diukur berdasarkan kemampuannya untuk menentukan cara, waktu, tempat, dan tujuan setiap kali ia melaut sesuai dengan etika profesi nelayan. Di mata Yesus Simon yang berprofesi nelayan itu, tergolong sebagai nelayan karbitan, nelayan amatiran. Bukan nelayan profesional. Mengapa? Karena ia tidak menjalankan profesinya sebagai seorang yang profesional. Perahunya ia tambat di darat. Jalanya tidak ia tebarkan. Ia takut basah dan tenggelam lalu berada di tempat yang dangkal dan kering. Kalau perahunya dan jalanya diikat di darat dan hanya mau mencari di tempat yang dangkal maka biar orang menunggu sampai kumis bercabang (dangka gipi) atau sampai rambut beruban (muwang sai) tidak mungkin ia mendapatkan ikan. Profesi dan profesinalitas seorang nelayan justru ditandai dengan suatu dinamika yang terlihat pada perahu yang selalu terpung dihempas gelombang, ditandai dengan jala yang yang selalu tertebar di laut yang dalam. Profesionlitas adalah aktivitas, dinamika, gerakan yang selalu menghadapi tantangan. Desakan dan perintah Yesus untuk Simon adalah desakan/perintah demi profesionalitas yang ditandai dinamika perjuangan penuh tantangan. Tidak ada profesi tanpa aktivitas dan tidak ada profesionlitas tanpa tantangan. Yesus sungguh memahami psikologi kehidupan nelayan. Ukuran atau takaran kualifikasi profesionalitas seorang nelayan ada dalam dinamika tantangan hempasan gelombang. Bukan dalam kesantaian bercanda di bibir pantai. Hidup seorang nelayan tidak sekadar menikmati pemandangan pantai yang indah, deburan ombak yang memukau tetapi justru harus berani menceburkan diri ke tempat yang dalam dengan risiko basah, dan mungkin juga sampai minum air garam. Dan inilah obsesi Romo Alo yang harus kita dukung dalam mengisi lembaran imamatnya.
Kita semua berbangga karena seorang manusia yang tidak pernah membuat perahu atas nama Rm.Alo ingin menjadi Simon yang akan menghela perahu imamatnya ke tengah hempasan laut yang dalam. Sebuah pilihan yang berani sekaligus menjanjikan harapan bagi kita bahwa Romo Alo mau menjadi nelayan profesional yang selalu mau mencari tempat yang dalam.
Kedua imam baru ini telah dinyatakan menang, mendapat tender untuk menjadi pelaksana proyek imamat mereka. Satunya akan menjadi pelaksana proyek di darat, dan satunya mau menjalankan proyek di laut. Romo Ferdi telah menerima rancangan dari Tuhan sendiri dan Romo Alo telah mendengar perintah Yesus untuk bertolak terus ke tempat yang dalam. Rm.Ferdi mau membawa rancangan imamatnya ke Paroki Mamba dan Rm.Alo ingin bersama kami berenang dan bertolak ke lautan yang dalam di lembaga pendidikan calon imam seminari Kisol. Itu artinya Romo Ferdi menjadi Pastor di Paroki Mamba bukan pastor Mamba saja. Dan Romo Alo menjadi imam di seminari Kisol bukan imam seminari Kisol saja. Mengapa harus ada rumusan Pastor di Mamba dan bukan Pastor Mamba saja? Imam di Seminari dan bukan Imam seminari saja? Mengapa satunya disebut pastor dan satunya di sebut imam. Saya sengaja menegaskan hal ini, supaya tidak dikritik Pater Flori yang pendek fisik tetapi selalu panjang akal itu. Menurut Pater Flori Pastor adalah sebutan bagi imam yang mempunyai umat di paroki sedangkan imam yang tidak ada umat/paroki atau sudah pensiun seperti Pater Flori harus dipanggil imam Flori dan bukan Pastor Flori. Lalu antara istilah pastor di paroki dan pastor paroki berbeda besar. Kalau pastor paroki itu artinya secara hukum ia ditempatkan di paroki tetapi de facto ia bisa berada di luar paroki lebih banyak atau menjadi pastor pengembara; pastor turis. Alasan mengapa lebih banyak di luar mungkin karena memang merasa diri sebagai pastor yang luar biasa sehingga antara pastor yang luar biasa dan pastor yang biasa di luar dianggap sama saja. Pastor Paroki bisa saja ia lebih banyak di luar parokinya karena ia merasa memang di luar banyak lebihnya untuk dia dibandingkan kalau dia menjadi pastor di parokinya dan di tempat tugasnya. Kalau pastor di paroki itu artinya baik secara de jure maupun secara de facto ia berada di paroki bersama umat yang dipercayakan kepadanya. Begitu juga istilah imam di seminari dan imam seminari. Kami tentu senang kalau Romo Ferdi menjadi pastor di Mamba dan Romo Alo imam di seminari.
Hari ini Anda berdua mulai mengisi lembaran awal ziarah imamatmu. Hari ini hanyalah kata Pendahuluan. Saya tidak berani memberikan banyak nasihat kepada Anda berdua karena takut nanti saya sendiri tidak melaksanakannya. Karena itu mungkin baik saya akhiri renungan ini dengan beberapa butir refleksi atas perjalanan imamat saya selama hampir 10 tahun. Ini sharing persaudaraan karena kebetulan saya menjadi kakakmu dalam imamat.
Anda berdua mempunyai motto tahbisan yang bagus. Motto tahbisan bagi saya sungguh menjadi nafas yang menghidupi ziarah imamat saya dengan segala tantangannya. Motto itu menjadi motor penggerak bagi saya dalam memaknai panggilan dan mengisi panggilan saya. Anda berdua memilih motto yang bagus. Jadikanlah itu sebagai nafas imamat kita.
Banyak orang menaruh harapan pada status kita sebagai imam/pastor. Harapan itu turut membentuk cara hidup kita. Ziarah imamat saya turut dibentuk oleh cara pikir dan cara pandang orang lain berupa nasihat bijak yang tidak perlu saya beli. Saya harus mendengarkan apa kata mereka karena menurut saya orang bijak yang sukses pasti memilki prinsip dalam menjalani kehidupan dengan tantangannya. Tantangan adalah bagian hidup dan panggilan kita. Orang bijak berkata bahwa di dunia ini hanya ada dua kelompok manusia yang bebas tantangan yaitu mereka yang sudah mati dan mereka yang belum lahir. Ziarah imamat kita adalah ziarah kehidupan dengan tantangannya. Yang dperlukan adalah kesabaran dan bukan kepasrahan. Tantangan pasti berlalu.
Imamat itu Prestasi bukan Prestise. Pemahaman saya akan Imamat adalah prestasi karena ternyata tidak semua orang bisa meraihnya. Imamat bagiku mahal harganya, lama proses pencapaiannya, rumit proses mewujudkannya, susah memakanainya. Saya kira bukan hanya saya yang berbangga tetapi banyak orang berbangga atas prestasi seperti ini. Tentu bukan karena saya hebat. Bagiku mau mencapai imamat bagaikan usaha memetik mawar yang ada di antara duri-duri. Mau memetik mawar harus mampu menghindari duri-duri yang menantang. Itu risiko pilihan. Kadang saya menggerutu dan bertanya mengapa Tuhan memekarkan mawar di antara duri? Mengapa imamat selalu ada tantangannya? Pertanyaanku tidak menghilangkan duri kehidupan karena itu tidak ada cara lain bagiku untuk bersyukur karena Tuhan masih memekarkan mawar indah di tengah duri-duri. Konsentarsiku cukup pada mawarnya karena toh tidak ada mawar tanpa duri. Tidak ada panggilan dan pilihan hidup tanpa tantangan.
Hari ini kita bergembira karena dua imam baru mengajak kita semua untuk hidup dalam rancangan Tuhan dan terus bertolak ke tempat yang lebih dalam. Ajakan yang sama hendaknya kita bawa ke dalam tugas dan karya kita di mana dan ke mana saja kita pergi. Kita diajak untuk selalu bercermin kepada Maria yang selalu hidup dalam rancangan Tuhan dan selalu bertolak ke tempat yang dalam. Pesta Maria diangkat ke surga dan dimuliakan Allah adalah bukti betapa Maria telah secara sempurna melaksanakan kehendak Tuhan dalam misi dan tugas panggilannya. Hari ini hanyalah Kata Pendahuluan buat dua imam dan buat kita semua. Bunda Maria doakanlah kami agar mampu mengisi lembaran kehidupan panggilan kami secara baik. Amin
Kisol, 14 Agustus 2004
Wednesday, May 15, 2013
HARI MINGGU PASKA VII
ROH KUDUS PEMERSATU
Kis 7:55 60; Why 22:12 14.16 17.20; Yoh 17:20 26
Paroki Blimbing, Malang Sabtu, 11 Mei 2013
GEREJA TEMPAT MENGENAL ROH KUDUS
Buka
Tema perayaan kita sore ini “Gereja Tempat Mengenal Roh Kudus” mengajak kita semua untuk menyadari kembali citra diri kita sebagai sebagai orang tertebus sekaligus terpanggil untuk meneruskan misi cinta Allah yang telah diwariskan Kristus. Gereja yang dimaksudkan dalam tema ini tentu lebih dari sekadar sebuah institusi, apalagi dimaknai sebagai gedung, bangunan fisik. Gereja yang dimaksudkan dalam tema ini tidak lain adalah diri kita. Kalau kita bersetuju dan bersepakat bahwa diri dan hidup kita adalah gereja maka betapa besarnya, betapa agung, dan betapa mulianya diri dan hidup kita. Kalau gereja itu adalah diri dan hidup kita lalu menjadi tempat kita dan orang lain mengenal Roh Kudus itu artinya diri kita memang menjadi kenisah Roh Kudus yang akan memancarkan buah-buah Roh dalam seluruh dinamika hidup kita. Kita berdoa dan menyerahkan diri kita ke dalam tuntunan kuasa Roh Kudus agar diri dan kehidupan kita mampu menumbuh kembangkan dan menumbuh suburkan buah Roh yang Tuhan tanamkan dalam diri kita. Mengawali perayaan ini baiklah kita akui kelamahan kita. Mungkin hidup kita bergerak di luar kuasa Roh Kudus karena kelemahan manusiawi kita.
Renungan
Semoga Mereka Bersatu dengan Sempurna
Kalau kita rajian membaca alkitab maka kita akan termukan berbagai kisah yang menggambarkan tentang aktivitas Yesus berkaitan dengan doa. Kita ambil saja mislanya ketika para murid tidak dapat berdoa dan meminta kepada Yesuscara berdoa yang benar, Yesus mengari mereka doa Bapa Kami. Doa Bapa Kami diajarkan kepada para murid karena mereka sering salah berdoa dan juga tidak tahu berdoa. Ketidaktahuan para murid berdoa menjadi alasan bagi Yesus untuk mengajarkan dan mewariskan doa Bapa Kami yang menjadi doa yang setiap hari kita gunakan.
Hari ini Yesus berdoa bukan karena adanya desakan atau permintaan dari siapa-siapa. Meskipun tanpa desakan siapa-sia, doa Yesus hari ini bukanlah doa tanpa konteks. Hari ini Yesus berdoa karena Ia mengetahui persis apa yang akan terjadi pada diri para murid dan pengikutnya. Yesus sungguh menyadari peluang dan potensi keretakan, perpecahan yang akan dialami para pengikut-Nya kalau Dia kembali kepada Bapa setelah menjalankan ekspedisi penyelamatan umat manusia. Doa Yesus yang dinarasikan penginjil Yohanes sore ini adalah doa yang selalu dan senantiasa relevan sepanjang kehidupan manusia. Mengapa doa Yesus ini relevan sepanjang hidup- manusia? Jawabannya karena sampai kapan pun manusia itu berbeda satu sama lain dalam pelbagai aspeknya. Perbdaan-perbedaan di antara manusia itulah yang berpeluang menjadi amunisi yang akan meluluhlantakkan dimensi pesatuan dan kesatuan manusia. Yesus jelas tidak menghendaki misi penyelamatan yang telah dilaksankan-Nya secara sempurna ternoda oleh perpecahan di antara manusia.
Yesus berdoa kepada Bapa Nya dengan intensi yang satu, tunggal yaitu agar manusia, satu dan bersatu. Intensi dan kerinduan Yesus agar manusia bersatu itu harus sampai pada tingakatan kuliatas prima. Dia berdoa adagarpersatuan dan kesatuan itu dalam kondisi yang sempurna. Semoga mereka bersatu dengan sempurna. Bersatu dengan sempurna berarti pula persatuan dan kesatuan yang didasarkan kasih, kasih yang dilandasi ketulusan dan keterbukaan. Persatuan dan kesatuan dalam kualifikasi sempurna yang dikehendaki berarti pula mengharuskan dan mewajibkan manusia, kita pra pengikutnya berada dalam proses komunikasi yang utuh. Bukan bersatu dalam komunikasi yang pincang karena pertimbangan untung rugi. Model komunikasi yang utuh itu diungkap secara jelas dalam doa Yesus tadi. Yesus berdoa agar para murid Nya bersatu. Kesatuan yang dirindukan dan diharapkan Yesus adalah kesatuan dalam arti luas. Doa Yesus seperti dinarasikan penginjil tadi adalah doa persatuan dan kesatuan yang ditumpukan pada tiga pilar penting yang berkaitan dengan diri sendiri, berkaitan dengan sesama, dan akhirnya berkaitan dengan Tuhan. Tiga sasaran kerinduan Yesus tidak lain agar manusia bisa bersatu dengan dirinya sendiri, bersatu dengan sesamanya, dan bersatu dengan Tuhannya. Tiga matra ini berada dalam tangga hierarkis artinya. Manusia tidak mungkin menjalin persatuan dengan orang lain kalau belum bisa bersatu dan berdamai dengan dirinya sendiri. Lebih dari itu manusia sebagai pribadi tidak mungkin berdamai dengan Tuhan jika tidak bisa berdamai dan bersatu dengan sesamannya. Tiga tiang topangan ini harus berada dalam posisi yang seimbang agar kita bisa berdiri tegak dihadapan Tuhan ketika menghadapi takhta pengadilan terakhir.
Kita bersyukur karena kita memunyai orang pendoa sepanjang masa dengan intensi yang satu yaitu untuk persatuan di antara manusia. Doa Yesus sungguh meneguhkan sekaligus menuntut kita untuk bersatu ke dalam diri sendiri, bersatu keluar terhadap sesama dan bersatu ke atas terhadap Tuhan. Yesus berdoa untuk para murid agar mereka tidak hanya bersatu ke dalam di antara mereka sen¬diri, tetapi juga mereka bersatu ke luar, dengan orang orang lain, simpatisan Kristus sendiri, dan akhirnya bersatu dengan Tuhan sendiri. "Bapa yang kudus, Aku berdoa bukan untuk mereka saja, melainkan juga untuk orang orang yang percaya kepada Ku oleh pemberitaan mereka, supaya mereka semua menjadi satu sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan AKu di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita." Inilah tiga dimensi persatuan dan kesatuan yang menjadi intesi utama doa Yesus sendiri. Persatuan dan kesatuan di antara para murid sendiri, persatuan dengan orang orang lain dan persatuan, dan kesatuan dengan Tuhan sendiri.
Persatuan dan kesatuan yang utuh seperti yang didoakan dan dihar¬apkan Yesus ini tidak terlalu mudah untuk dicapai. Persatuan ke dalam saja di antara para murid sering sering sulit terpenuhi, karena perbedaan watak, pandangan, pikiran. Ingat saja misalnya Yudas Iskariot, murid yang mengkhianati Yesus, ia keluar dari kelompok keduabelasan para rasul, hanya karena kepentingan uang dan egoisme. Itu persatuan dan kesatuan ke dalam. Belum lagi persatuan ke luar dengan orang orang lain, yang tidak mempunyai dasar hubungan apa pun.
Sejak awal, Gereja yang satu dan sama "memiliki kemajemukan yang luar biasa. Pada satu sisi kemajemukan itu disebabkan perbe¬daan anugerah anugerah Allah, tetapi pada sisi lain kemajemukan itu terjadi karena keanekaan orang yang menerima anugerah Tuhan. Kita sungguh menyadari bahwa dalam gereja Tuhan menganugerahkan pelbagai karunia Roh Kudus dengan buah-buahnya. Perbedaan dalam karunia ini juga berpeluang menjadi pemicu terkikisnya persatuan. Dalam kesatuan umat Allah semua perbedaan itu bukanlah untuk dipertentangkan tetapi untuk diberdayakan dalam rangka menegakkan kerajaan Allah di dunia dan dalam kehidupan kita.
Tentu kita bersyukur kepada Tuhan karena Yesus tetap menjadi pendoa bagi persekutuan dan persatuan di antara kita yang masih hidup di dunia. Yesus yang kembali kepada Bapa tetap menyertai kita dengan kekuatan kuasanya yang tidak dapat dilawan dengan kekuatan apa pun. Yesus membentengi kita dan siapa saja yang percaya kepada-Nya dengan kekuatan Roh Kudus yang dijanjikan-Nya dan kini tengah kita nantikan sampai kita diurapi kuasa Roh Kudus itu pada hari pentakosta. Roh Kudus yang dijanjikan dan yang akan kita terima akan menjadikan kita berada dalam kuasa dan tuntunan Roh dengan harapan untuk menumbuhkembangkan benih-benih Roh yang memungkinkan semakin banyak orang mengenal dan mencintai Tuhan.
Bagimana caranya supaya persatuan dan kesatuan yang Tuhan harapan itu terjadi dalam kehidupan kita? Jawabannya ada dalam kata-kata Yesus tadi. Kalau mau agar persatuan dan kesatuan itu terjadi dan berbuah dalam kehidupan kita maka kita harus berani membuat pilihan kata yang baru. Pilihan kata yang baru seperti dirumuskan Yesu dalam doa-Nya tadi. Yesus mengubah kata aku menjadi kita. Itu artinya, Yesus menghendaki jika kita ingin mewujudkan perstuan dan eksatian dalam kuasa Roh Kudus maka kita harus mengurang bahkan harus menghilangkan kata “AKU” dan menggantinmya dengan kata “KITA”. Sama seperti Engkau ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereja juga di dalam KITA. Rumusan ini merupakan kalimat kunci untuk terbinanya persatuan dalam Roh. Ketika AKU menjadi pusat, orang cenderung ingat diri dan bertindak untuk diri sendiri dan itulah awal perpecahan. Tetapi, ketika semua orang menggunakan kata “KITA” di sana ada tenggang rasa, di sana ada simpati, di sana ada empati. Ketika kata KITA menjadi corak bahasa dan corak perilaku kita maka yang ada adalah damai. Damai adalah tanda adanya komunikasi dan kominikasi dalam arti sebenarnya itu adalah pilihan bahasa untuk menggunkan kata KITA.
Marilah kita mengedepankan pilihan Bahasa dan kata “KITA” dan bukan kata dan bahasa “AKU” agar doa Yesus untuk pesatuan dan kesatuan kita hari ini bermakna bagi perjalanan kita. Ingatlah, kata AKU adalah bahasa pemisahan diri tetapi kata KITA adalah bahasa yang mempersatuan karena dalam kata KITA aku dan Kau melebur untuk bertumbuhnya buah-buah Roh yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, dan kesetiaan. Tuhan memberkati kita….
Subscribe to:
Posts (Atom)